Jarum panjang jam berhenti di angka dua belas, bersamaan dengan bergeraknya jarum pendek di angka yang sama. Dentang pertama menggema, Cinderella panik. Ia segera melepaskan diri dari sang pangeran.

"Aku harus pergi," ia berkata seraya berbalik dan meninggalkan sang pangeran.

"Hey, tunggu!" Sang pangeran mengejarnya, namun Cinderella tak mau berhenti. Ia berlari dan berlari. Langkahnya cepat menuruni tangga, sementara sang pangeran tertinggal beberapa meter di belakangnya.

"Au!" Cinderella salah melangkah dan jatuh di anak tangga terbawah, sepatu kirinya terlepas. Namun, tak ada waktu untuk mengaduh atau pun memungut sepatu itu. Sang pangeran hampir mencapainya disertai dua pengawal. Ia pun segera berdiri, melanjutkan pelarian.

Kereta kuda muncul menjadi penyelamat. Ia segera naik, sementara jam sudah mengalunkan dentang ke sembilan. Sebentar lagi semua sihir ini akan hilang, dan Cinderella tak mau sang pangeran memergokinya kembali menjadi si Upik Abu.

.*.

Disclaimer ©Tite kubo

(Bleach bukan punya saya)

.*.

Not a Cinderella Story

by

Ann

.*.

Peringatan: AU, OOC (Sesuai kebutuhan cerita), Typo(s),

tidak suka? Mungkin bisa tekan tombol 'Back' atau 'Close'

Dan untuk kalian yang berniat meneruskan membaca ...

selamat menikmati!

.*.

Cinderella. Gadis itu bukan aku. Dia hanyalah gadis yang hidup dalam dongeng untuk anak-anak, sementara diriku gadis yang hidup dalam dunia nyata.

.*.

Jarum panjang jam sudah bertengger di angka sembilan, sementara jarum pendek hampir mencapai angka dua belas. Sebentar lagi tengah malam. Ichigo memerhatikan sekeliling, pada barisan gadis yang hendak mencoba sepatu kaca yang tinggal beberapa orang, lalu kumpulan gadis yang sudah mencoba sepatu dan terlihat kecewa, beralih pada tamu-tamu yang terlihat tertarik pada apa yang tengah terjadi, lalu pada tamu-tamu yang bosan yang lebih memilih menyibukkan diri dengan minuman atau obrolan ringan, kemudian matanya mengarah pada keluarganya.

Karin dan Yuzu, masih seantusias sebelumnya, tertarik pada setiap gadis yang mencoba sepatu. Mereka akan tersenyum senang saat gadis yang mencoba sepatu tidak cocok, jika tidak menyukai sang gadis. Tapi sebaliknya, jika mereka menyukai gadis itu maka raut kekecewaan yang akan muncul di wajah mereka. Berbeda dengan si kembar, ayahnya terlihat sedikit khawatir. Sesekali Isshin berbisik pada istrinya, yang akan menepuk pelan tangan ayahnya sambil membisikkan kata-kata menenangkan. Lalu, Ichigo menatap ibunya. Kurosaki Masaki terlihat tenang, bahkan wanita itu tersenyum padanya ketika memergoki Ichigo tengah mengamati. Masaki masih terlihat seyakin ketika wanita itu mengajukan ide gila ini tadi siang.

Ya, semua kehebohan ini disebabkan ide gila Masaki.

Sejak kepulangan Ichigo dari Amerika, ibunya terus menerus menanyakan tentang kekasihnya. Ibunya mendesak agar dipertemukan dengan wanita yang Ichigo pacari di Amerika. Sayangnya, Ichigo tak bisa memenuhi desakan itu. Karena sejujurnya, tidak ada kekasih, tak ada seorang wanita pun yang menemani hari-harinya di New York. Ia hanya mengarang cerita agar ibunya tidak terus-menerus merecokinya dengan rencana perjodohan atau mengatur kencan dengan wanita-wanita yang tak dikenalnya. Satu-satunya yang menjadi kekasih Ichigo adalah pekerjaan. Ia terlalu mencintai pekerjaan sehingga tak dapat membagi hati untuk seorang wanita, atau mungkin ia belum menemukan seorang wanita yang tepat. Entahlah. Apa pun itu, pada akhirnya ia terpaksa mengakui bahwa dirinya belum punya kekasih.

Jawaban itu tentu saja membuat ibunya berang. Setelah omelan panjang selama satu jam tentang Ichigo yang seharusnya tidak berbohong kepada orangtuanya, Masaki akhirnya memutuskan membuat sebuah pesta. Bukan sembarang pesta tentu saja, karena di pesta nanti Masaki akan mencarikan jodoh untuk Ichigo.

Ichigo menolak, mencoba berargumen. Namun, ia kalah telak. Tatapan tajam ibunya, dan kebohongan yang sudah ia lakukan sebelumnya menjadi senjata ampuh yang membuat Ichigo tak berkutik. Dengan pasrah ia mengikuti kata-kata ibunya, bahkan saat ibunya mengeluarkan sepasang sepatu antik dan mengatakan bahwa sepatu itu akan membantu Ichigo menemukan jodoh, ia hanya bisa mengernyit. Sebenarnya, ia ingin tertawa. Sepatu pencari jodoh? Yang benar saja! Mana ada hal seperti itu di abad 21. Namun, wajah serius ibunya membuat Ichigo menelan tawanya.

"Kau akan menemukan Cinderella-mu malam ini." Begitu kata ibunya. Tapi sudah hampir jam dua belas, sudah puluhan kaki yang mencoba sepatu itu, tak satu pun yang sesuai. Sepertinya, jodoh Ichigo tidak berada di dalam ruangan ini.

Pukul dua belas kurang sepuluh menit. Gadis terakhir sudah mencoba sepatu.

"Apakah Nona ini gadis yang terakhir? Apa tak ada lagi yang ingin mencoba?" Suara MC menggema.

Hening. Tak ada seorang pun yang bersuara. Orang-orang saling pandang, mencari kandidat yang tepat untuk mencoba sepatu kaca itu. Sepertinya, semua gadis lajang di pesta itu sudah mencoba sepatu kaca dan tak ada yang tersisa. Ichigo kembali mengamati sekitar. Tatapannya terkunci pada seorang gadis dengan seragam maid berwarna putih. Ia mengenali gadis itu.

"Para staf rumah tangga belum mencobanya," ia bersuara tanpa benar-benar memikirkannya.

MC mendekatinya dengan tergesa dan berbisik, "Kau yakin ingin menyuruh staf rumah tangga mencoba sepatunya. Mereka─"

Ichigo menoleh pada MC, dan berkata, "Aku yakin. Bisa jadi jodohku benar-benar seorang Upik Abu."

MC itu tak terlihat setuju, tapi tetap menuruti permintaan Ichigo.

"Sepertinya sekarang giliran para staf mencoba. Ayo maju, gadis-gadis. Siapa tahu salah satu dari kalian beruntung menjadi the next Cinderella." MC kembali bersuara di microfonnya.

Ichigo melirik jam besar yang menempel di dinding aula. Delapan menit lagi pukul dua belas malam.

Sang pangeran kehilangan Cinderellanya tepat jam dua belas malam, sedang aku jangankan kehilangan, sampai hampir jam dua belas malam tak ada Cinderella yang datang padaku, pikir Ichigo.

Para staf berbaris, ada sekitar sepuluh orang yang ada dalam barisan. Tapi gadis yang Ichigo lihat tadi tak termasuk di dalamnya. Dan, anehnya Ichigo sedikit kecewa gadis itu tak mengambil bagian. Bukannya ia berharap gadis itu yang akan menjadi Cinderellanya, hanya saja, adik-adiknya pasti akan senang jika gadis itu yang beruntung.

Tiga orang lagi yang tersisa. Satu sedang mencoba sepatu dan dua lagi masih di barisan. Ichigo tak lagi memerhatikan dengan semangat, begitupula orang-orang di sekitarnya. Tatapan mata mereka mulai bosan, dan sebagian besar pasti amat sangat berharap ini segera berakhir.

Ichigo mengeluarkan smartphone-nya, beberapa email tentang pekerjaan, pesan dari beberapa rekan, serta obrolan panjang dalam grup chat kawan-kawan SMA-nya. Ia membuka grup chat itu, penasaran apa yang menyebabkan grup yang biasanya sepi menjadi begitu ramai.

"Wedding Invitation" menjadi caption gambar yang membuat heboh itu. Ichigo mengklik gambar, tersenyum melihat nama-nama yang menjadi pasangan berbahagia. Ia mengetikkan ucapan selamat disertai janji untuk hadir di acara resepsi yang diadakan akhir minggu nanti.

"Wah, Nona kau begitu tergesa. Tidak sabar menjadi calon mempelai Kurosaki rupanya." Suara MC yang diikuti tawa tamu-tamu membuat Ichigo mengalihkan pandangan dari layar ponsel. Ia terkejut ketika menyadari bahwa yang menjadi bahan tertawaan adalah maid itu.

Gadis itu memejamkan mata menahan malu. Seketika kemarahan Ichigo naik, tak tahu mengapa begitu marah menyaksikan gadis itu diolok-olok. Ia hampir berdiri untuk menutup mulut MC yang tidak sopan itu, ketika si gadis menegakkan kepala. Dengan sisa-sisa kepercayaan diri gadis itu melepas sepatu dan mencoba sepatu kaca. Kini Ichigo bisa melihat alasan mengapa Karin dan Yuzu menyukai gadis itu bahkan memanggil gadis itu dengan sebutan nee-chan. Gadis itu kuat.

Semoga sepatunya pas. Tanpa sadar Ichigo membisikkan harapan itu.

Lalu, seolah ada ibu peri yang mendengar permohonannya, lalu menggoyangkan tongkat sihir dan membuat sebuah keajaiban, sepatu itu benar-benar pas di kaki si gadis.

"Tuan muda, sepertinya dia yang kau cari." Shuhei, staf yang ditugaskan membantu para gadis mencoba sepatu, menegaskan hal itu.

Tawa orang-orang seketika terhenti, berganti dengan tatapan tak percaya. Sama seperti tatapan gadis itu. Mata violet itu menatap kakinya sendiri seolah itu bukan miliknya. Lalu memindai sekeliling dengan bingung.

Ichigo berdiri. Dengan dua langkah lebar ia mendekati si gadis yang kebingungan.

"Jadi, kaulah Cinderella-ku, Rukia."

Rukia menatapnya, violet gadis itu melebar, napas gadis itu tercekat. Sesaat Ichigo pikir Rukia akan pingsan. Tapi tidak, Rukia sama sekali tidak pingsan. Gadis itu malah meluncurkan pertanyaan yang tak Ichigo sangka. "Kau mengingat namaku?"

Ichigo tersenyum. "Ya, entah mengapa aku mengingatnya."

Wajah gadis itu memerah, lalu tertunduk malu. Ah, gadis itu sangat manis.

Ichigo menoleh kepada MC seraya berkata, "Kau bisa mengumumkan bahwa sayembara ini sudah selesai, dan dimenangkan oleh gadis cantik ini. Dia adalah Cinderella-ku."

Profesionalitas membuat MC dengan sigap menangani situasi. Dengan tawa pria itu mengumumkan bahwa sang Cinderella sudah ditemukan. "Ini benar-benar seperti dongeng, bukan? Sang Upik Abu kini menjelma menjadi Cinderella."

Riuh tepuk tangan memenuhi ruangan. Ichigo mengarahkan mata ke arah adik-adiknya, kedua gadis itu terlihat senang, bahkan Yuzu terlihat ingin menghambur ke Rukia andai saja tidak ditahan Karin. Lalu orangtuanya, ayahnya terlihat lega, sama sekali tidak terlihat raut kecewa karena memiliki calon menantu seorang staf rumah tangga. Dan ibunya, wanita itu terlihat girang, bertepuk tangan dengan nyaring dan tersenyum lebar. Yah, keluarganya tidak terlihat mempermasalahkan gadis yang akan menjadi calonnya. Ia menoleh pada Rukia, gadis itu terlihat serba salah di antara perhatian orang-orang di sekitarnya. Ketika tatapan mata mereka bertemu, gadis itu mengirimkan sinyal meminta bantuan. Tanpa sempat berpikir, Ichigo mendekati Rukia dan berbisik di telinga gadis itu, "Kau ingin pergi dari sini?"

"Bisakah? Bolehkah?" tanya gadis itu dengan memelas.

"Tentu saja, boleh." Rukia terlihat lega mendengar jawabannya.

"Kalau begitu sepatu ini─"

"Tak boleh dilepas."

"Eh?" Mata violet itu kembali memandang Ichigo. "Kenapa?"

Ichigo menelengkan kepala, memikirkan jawaban yang tepat, sementara MC masih terus mengoceh tentang dongen Cinderella. "Karena belum saatnya."

"Tapi aku tidak bisa berjalan dengan sepatu ini," keluh Rukia.

Jemari Ichigo tertempel di dagu. Ia menatap kaki Rukia yang terbalut sepatu kaca. "Aku punya solusi untukmu."

"Katakan apa?" desak Rukia.

"Bilang dulu kalau kau mau," ujar Ichigo.

Mata Rukia menyipit curiga. "Kau mau menjebakku ya?"

Sebelah alis Ichigo terangkat. "Sama sekali tak ada niatan untuk itu. Aku benar-benar ingin menolongmu."

"Kalau begitu, katakan," sahut Rukia.

Ichigo menggeleng pelan. Rasanya menyenangkan mempermainkan Rukia. Dari luar gadis itu memang terlihat tenang, tapi ternyata ada emosi yang tersembunyi di balik permukaan.

"Kau─"

Tepat saat Rukia akan bicara lagi, MC bersuara lantang, "Bagaimana jika kita minta Cinderella naik ke panggung dan mengatakan sesuatu?"

Mata Rukia membelalak ngeri. Ichigo bisa merasakan kepanikan gadis itu. Tangan Rukia yang terbalut kaus tangan mencengkeram kepak jas Ichigo. "Apa pun itu cepat katakan, sebelum mereka menyuruhku naik ke panggung!"

"Itu tak bisa dikatakan, Rukia, tapi dilakukan."

"Eh?!"

Tanpa menunggu balasan Rukia, Ichigo mengaitkan tangan kanan di punggung gadis itu, lalu yang kiri di bawah lutut. Dengan gerakan cepat yang anehnya lembut, ia mengangkat tubuh Rukia, mendekap gadis itu di dadanya.

"Saatnya pergi, Tuan Putri."

Keriuhan kembali terjadi, kali ini diikuti desahan tertahan para gadis dan siulan bersekongkol dari para pria.

.*.

Rukia hanya bisa menyembunyikan wajahnya, ketika langkah-langkah panjang Ichigo membawanya membelah kerumunan. Ia sempat melihat Momo. Ekspresi temannya itu semula tercengang, namun kemudian mengacungkan kedua jempol memberikan dukungan. Sempat pula ia bertatapan dengan Sasakibe. Kepala staf rumah tangga itu mengangguk dan tersenyum padanya. Hati Rukia sedikit tenang. Setidaknya, dalam keadaan membingungkan ini masih ada orang-orang yang memberinya dukungan. Dan dukungan terbesar bisa jadi datang dari orang yang tengah menggendongnya ini.

Berada dalam pelukan Kurosaki Ichigo nyatanya terasa sangat nyaman. Dari dekat, pria itu sungguh amat sangat tampan. Badan Ichigo kuat dan kokoh, buktinya pria itu mengangkat Rukia dengan mudah, seolah Rukia seringan bulu bukannya memiliki berat puluhan kilogram. Dan yang terpenting adalah pria itu wangi. Beraroma citrus, perpaduan antara dark wood dan lemon. Aroma maskulin yang menenangkan.

Sungguh. Rukia benar-benar tak menyangka dirinya akan mengalami hal ini. Semula ia adalah bahan lawakan, lelucon yang ditertawakan para tamu. Tapi yang terjadi sekarang, orang-orang bertepuk tangan untuknya, bahkan ada yang bersiul, yang membuatnya berpikir ...

"Ke mana kau akan membawaku?" Rukia menyuarakan pikirannya.

"Kau mau kubawa ke mana?" Pertanyaan balasan dari Ichigo membuat Rukia bingung. Ia tak punya jawaban untuk pertanyaan itu, satu-satunya hal yang ada di pikirannya adalah pergi dari aula, dan ia benar-benar memberikan jawaban itu kepada Ichigo.

"Aku ingin pergi dari sini."

"Sesuai dengan keinginanmu, Tuan Putri," jawab Ichigo seraya membawanya melewati pintu kaca Prancis yang mengarah ke balkon.

"Aku bukan tuan putri," ralat Rukia.

"Kau lebih senang dipanggil Cinderella rupanya," sahut Ichigo.

"Tidak. Aku juga bukan Cinderella," protes Rukia.

"Upik abu?" Ichigo memberi alternatif.

"Bukan!" tegas Rukia. "Turunkan aku! Kita sudah di luar!" tambahnya dengan ketegasan yang sama.

Ichigo menurunkannya, Rukia segera melepaskan sepatu kaca dari kaki, lalu mengambil jarak dengan pria itu. Punggungnya menabrak pagar batu yang mengelilingi balkon. Dari dalam ruangan sayup-sayup terdengar musik kembali dimainkan, berbanding terbalik dengan kesunyian di balkon. Di langit rembulan bersinar dengan malu di balik awan yang menggantung, mengirim cahaya samar ke balkon yang kini hanya dihuni Rukia dan pangerannya─ralat! Tuan mudanya. Yang mengingatkan Rukia, bahwa sampai beberapa menit yang lalu ia lupa bersikap sopan.

"Saya benar-benar minta maaf, Tuan Muda."

Dalam pencahayaan yang remang, Rukia masih dapat melihat kernyitan muncul di dahi sang tuan muda. "Aku lebih suka kau membuang sikap formal itu. Sekarang kita bukan tuan dan karyawan─"

"Pelayan," ralat Rukia.

"Staf rumah tangga," Ichigo mengoreksi.

Cara Ichigo mengoreksi sebutan untuk pekerjaannya membuat hati Rukia senang, meski hanya hal kecil tapi pria itu menunjukkan penghormatan kepada pekerjaan yang seringkali dianggap orang sebagai pekerjaan rendahan.

"Untuk saat ini aku bukan tuan muda, dan kau bukan staf yang bekerja di rumahku," Ichigo melanjutkan kata-katanya.

"Dan aku bukan pula Upik Abu atau pun Cinderella," kata Rukia.

Senyuman terbit di bibir Ichigo. Senyuman yang menjungkirbalikkan jantung Rukia.

"Kalau begitu kau siapa?" tanya pria itu lambat-lambat.

"Ruki─Kuchiki Rukia," jawab Rukia, "itu namaku."

"Dan aku Kurosaki Ichigo." Ichigo mengulurkan tangan. Awalnya, Rukia enggan menyambut tangan itu, tapi kebiasaan bersikap sopan membuatnya mengulurkan tangan, menjabat tangan besar Ichigo. "Senang berkenalan denganmu, Rukia," pria itu menambahkan.

"Senang berkenalan denganmu," Rukia membeo sembari memerhatikan jemarinya yang tenggelam dalam genggam erat Ichigo. Saat tangannya terbebas, Rukia benar-benar merindukan genggam hangat yang sedetik lalu menjabatnya.

"Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?" Ichigo bertanya, lebih kepada diri sendiri. Pria itu bersandar di pagar balkon, sembari memerhatikan bulan di atas sana. "Biasanya, setelah perkenalan orang akan minum teh bersama."

"Anda ingin teh? Akan saya buatkan." Rukia bergegas pergi. Tapi baru dua langkah, geraknya terhenti. Jemari Ichigo melingkari lengannya, dan Rukia ditarik hingga berada di sisi pria itu.

"Ssh! Bukannya aku sudah bilang sekarang aku bukan tuan muda dan kau bukan stafku. Lagi pula, aku tidak sedang ingin minum teh," ujar Ichigo. "Aku," Ichigo menunjuk diri sendiri, "Ichigo, dan kau," pria itu mengarahkan telunjuk ke hidung Rukia, "Rukia. Mengerti?"

Rukia mengangguk setuju, tanpa bisa mengucapkan apa-apa. Berdekatan dengan pangeran─ralat! Tuan mudanya, membuat Rukia tak bisa berpikir jernih. Kurosaki Ichigo adalah entitas yang menarik perhatian. Magnet yang mampu membuat para gadis senang berada di dekatnya. Dan Rukia tak bisa memungkiri pesona itu. Ia tak dapat menampik bahwa ia pun seperti gadis lain, terpesona pada Kurosaki Ichigo. Tapi tidak tergila-gila atau pun mabuk kepayang. Sejak awal Rukia menyadari siapa dirinya, di mana posisinya. Bahkan sekalipun sepatu kaca itu pas di kakinya, Rukia sadar bahwa Kurosaki Ichigo bukan jodohnya.

"Hanya malam ini, ya kan? Besok, aku sudah harus kembali menjadi staf kebersihan yang membersihkan lantai rumahmu," kata Rukia.

Terdengar helaan napas dari Ichigo. Pria itu menatap Rukia sebentar sebelum meninggalkannya sesaat untuk memungut sepatu kaca yang Rukia tinggalkan di lantai.

Sepatu kaca itu tampak kebiruan ketika Ichigo letakkan di atas pagar batu. Terihat begitu cantik di bawah cahaya temaram sang rembulan. Perlahan jemari Rukia terulur mengelus hiasan pita di bagian depan sepatu itu.

"Cantik," ucapnya lirih.

"Seperti kau."

Kepala Rukia tertoleh. Ia ingin menyanggah, namun saat melihat tatapan Ichigo padanya, urung ia lakukan. Cara Ichigo menatapnya, membuat Rukia berpikir bahwa ia benar-benar cantik bahkan dalam seragam maid yang ia kenakan.

.*.

Rukia cantik. Ichigo baru menyadarinya, ketika gadis itu berdiri di balkon di bawah cahaya bulan yang temaram. Cantik mungkin tak cukup kuat untuk menggambarkan bagaimana Rukia saat ini. Rukia terlihat begitu anggun dengan tatapan sendu, bermandikan sinar sang rembulan. Gadis itu sempurna. Membuat Ichigo menahan napas ketika memandangi gadis itu.

Lalu degupan itu datang, perlahan kemudian berubah menjadi ritme kencang yang Ichigo pikir di luar batas normal. Ya, ini tidak normal. Jantungnya tak pernah berdetak secepat ini karena seorang gadis. Apalagi gadis yang baru dikenalinya hari ini. Tapi meski hal ini tidak normal, ia terlanjur merasakan, dan tak mampu menghentikan. Ia hanya bisa, dengan patuh mengikuti kata hati.

"Besok akan menjadi hari yang berbeda, Rukia."

"Maksudmu?" Rukia tampak bingung.

"Sepatu kaca ini sudah mengubah nasibmu ... juga nasibku."

Mata Rukia melebar, gadis itu sudah siap mengeluarkan sanggahan, tapi Ichigo mendahului. "Kau percaya takdir, Rukia? Garis nasib yang mempertemukan dan memisahkan manusia? Jodoh? Benang merah?"

Rukia menggeleng, bukan karena tak bisa menjawab lebih karena terlalu banyak pertanyaan untuk dijawab.

"Aku percaya." Ichigo menjawab sendiri pertanyaan itu. "Takdir tengah memainkan peranannya. Garis nasib yang mempertemukan kita. Benang merah yang menjodohkan kita dengan cara yang unik. Menggunakan sepatu sebagai perantaranya."

Rukia menggeleng pelan. Tak percaya.

"Terlalu klise, ya kan?"

Rukia mengangguk.

"Tapi itulah yang terjadi." Ichigo tersenyum. "Sulit dipercaya, tapi ...," ia mengedikkan bahu, "itulah yang terjadi."

"Tapi aku bukan Upik Abu maupun Cinderella," kata Rukia lemah.

"Dan aku juga bukan pangeran," sahut Rukia. Tapi melihat sebelah alis Rukia terangkat, ia segera mengoreksi, "tidak secara harfiah. Aku buka pangeran yang memakai mahkota."

"Tapi kau tetap saja pangeran," sahut Rukia tanpa tuduhan. Gadis itu hanya menyatakan kenyataan yang tampak di depan mata, dan Ichigo sendiri pun menyadari jika dirinya bisa dikatakan sebagai seorang pangeran. Ia pewaris Kurosaki grup, yang merupakan salah satu perusahaan korporasi terbesar di Jepang, berikut anak perusahaan yang berada di dalamnya. Ia memiliki harta yang jumlahnya tak sedikit, yang disertai kewajiban yang sama besarnya. Ia menjalani kehidupan mewah, meski mencoba lebih menyederhanakannya. Dan selain semua kelebihan finansial itu, ia juga dianugerahi fisik yang bisa dibanggakan. Wajah tampan dan tubuh tinggi berisi, ditunjang dengan olah raga yang membuat tubuhnya berbobot sempurna. Dilihat dari semua itu memang bisa saja orang menyebutnya pangeran, meski ia sendiri tak pernah mau mengakuinya. Yah, mungkin malam ini Ichigo terpaksa mengakui hal itu.

Ichigo memutar mata. "Ck! Baiklah, aku seorang pangeran tanpa mahkota," ujarnya mengalah. "Dan kau adalah Cinderella-ku."

Rukia membuka mulut untuk menyanggah, namun dengan cepat Ichigo mendahului gadis itu. "Aku sudah menerima diriku sebagai pangeran, artinya kau pun harus menerima perananmu sebagai Cinderella, Rukia. Supaya adil."

Ichigo pikir gadis itu akan mendebat lagi. Tapi nyatanya tak ada sanggahan. Rukia menerima perkataannya dengan helaan napas tanda menyerah.

"Lagi pula, sepatu ini sudah memilihmu. Kau tak punya pilihan selain menerimanya." Ichigo berusaha menambahkan argumen.

"Apa kau tidak merasa ini aneh?" tanya Rukia kemudian.

Ichigo hanya menelengkan kepala. "Sedikit."

"Ini benar-benar aneh." Rukia menegaskan. "Bagaimana bisa sepatu itu hanya muat di kakiku? Ukuran sepatuku dan Momo sama. Jika aku muat memakainya, seharusnya juga pas di kaki Momo," jelas Rukia. "Memangnya itu sepatu ajaib yang hanya muat di kaki satu orang saja?"

"Bisa jadi," sahut Ichigo asal.

Rukia memutar mata. "Aku tak percaya, kau memercayai hal-hal seperti itu?"

Ichigo memerhatikan sepasang sepatu kaca itu. "Aku juga tidak," gumamnya. "Tapi ibuku percaya."

Rukia terperangah. "Lalu?"

Ichigo hanya mengangkat bahu. "Aku menyayangi ibuku, jadi aku akan memercayainya," jawabnya tak acuh.

Ichigo mengira jawaban itu akan membuat Rukia kembali mendebat, karena begitu tak masuk akal. Ia sendiri bahkan bingung mengapa menjawab seperti itu. Tapi dugaannya lagi-lagi salah. Rukia hanya diam, lalu mendesah sambil memandangi sepatu kaca itu. "Ini tak masuk akal," ujar gadis itu.

"Memang." Ichigo mengiyakan.

Rukia menatapnya, lalu melontarkan pertanyaan, "Kenapa sepatu ini memilihku, bukan orang lain?"

Ichigo mengarahkan matanya pada sepatu kaca. Warna kebiruan berpendar, seolah ada serbuk sihir yang dibubuhkan ke atas sepasang sepatu itu. "Hum, itu mungkin karena aku," jawab Ichigo.

"Kau?"

"Ya, aku berharap sepatu itu pas di kakimu."

Rukia terperangah. "Tidak mungkin ...," bisik gadis itu.

"Mungkin saja," jawab Ichigo. "Jika sang pangeran bisa kehilangan Cinderella tepat di jam 12 malam, maka aku pun bisa menemukan Cinderella-ku tepat di jam yang sama."

"Tapi─"

Ichigo menutup mulut Rukia dengan telunjuk. Ia membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan gadis itu. Mata mereka saling bertemu, berjarak hanya beberapa centimeter. "Jangan membahas lagi! Terima saja, bahwa mulai sekarang kau terikat padaku."

.*.

bersambung ...

.*.

Yuhuuu! I'm back. Nggak kelamaan nunggu kan reader tercinta? Udah, bilang aja nggak ya, buat nyenengin saya. Hehe ...

Sebenarnya, saya juga mau cepet-cepet nyelesein fic ini. Sama seperti kalian saya pun nggak sabar dengan endingnya. Meski udah punya gambaran kasar tentang fanfik ini, kadang otak sama jemari saya suka ngelakuin hal berbeda saat proses pengetikan. Bisa saja hasilnya berbeda dengan rencana awal. Seringnya sih jalan cerita yang berubah, melenceng dari outline yang saya buat sebelumnya. Tapi kerjaan dan kesibukan di dunia nyata membuat proses pengetikan fanfik ini nggak secepat yang saya mau. Jadinya, harus bersabar dengan keadaan dan mencari-cari waktu senggang buat nulis.

Akhir kata, terima kasih banyak buat kalian yang udah baca, review, follow, dan nge-fav, fanfik ini. Dukungan kalian bikin saya nggak bosen ngetik fanfik IR, meski kapal kita ini sekarang sepi penumpang. Dan, maaf apabila masih banyak kekurangan di dalamnya.

See ya,

Ann *-*

.*.

Review's review:

(semua review saya balas di sini karena keterbatasan kuota)

Lucya Namikaze

Makasih dah mampir ya, Lucya. 😊
Udah apdet nih, maaf ya agak lama. Hehe ...

Naruzhea AiChi

Bersambung di saat yang tepat, Ai-san. Wkwkwk ...

Makasih dah mampir ya.

Udah apdet nih. Sorry lama. Maklum, saya masih belum bisa move on dari IchiRuki, makanya masih nulis tentang mereka.

Iya, keluarga Kurosaki emang nggak memandang status yang penting orangnya baik kayak Rukia.

Guest

Iya, fandom memang lebih sepi sekarang. Banyak author IR yang masih sakit hati dengan ending manga-nya sih.

Makasih dah RnR ya~

Deathberry Lover

Makasih ya. 😊

Damai

Makasih dah RnR, Damai. Amin ... Semoga terus dapat bertahan.

hikarishe

Eh? Berhasilkah kamu jadi mantunya raja Salman? *plak!*

Makasih dah RnR ya. Tenang, nanti saya bakal belajar bikin yang pait-pait juga. 😉

Azura Kuchiki

Wkwkwk ... Untung idenya nggak dibawa pulang ke Arab ya.

Tahu dums, kan udah kenalan.

Udah lanjut nih.

Makasih dah mampir. 😊

Guestguest

Udah lanjut nih. Makasih dah RnR ya.

N

Makasih dah mampir ya.

Iya, udah apdet nih.

Makasih. 😊

stefymayu yeniferangelina

Halo, Stefy. Makasih dah mampir ya.

Udah lanjut nih, Sayang.

Haha ... reader kesepian karena banyak author hiatus.

Saya udah kasih jawabannya bia BBM ya~

Rukichigo

Saya emang nggak suka yang berat-berat sih. Makanya adukannya segini duams. Hehe ...

Makasih dah RnR, juga buat dukungannya ya~

Yosh! Keep spirit!

Ryuuki

Makasih, Ryuuki. Selalu menyenangkan kalo ada yang berkenan baca fic sederhana dari saya.

Alurnya emang udah keduga ya. Hehe ... Semoga aja kelanjutannya nggak membosankan ya. Udah apdet nih. Makasih semangatnya.

anyaa

Makasih dah RnR ya.

Cerita bertema fairytale emang manis sih, apalagi kalau castnya favorit.

Udah lanjut nih.

Allen Walker

Makasih dah mampir ya.

Saya nggak tahu harus ngomong apa, rasanya ceritanya nggak sebagus itu deh. Hehe ...

Yupz. Masih bertahan selama ada pembaca yang mau baca tulisan saya, dan kalaupun nggak ada asal masih cinta sama IR akan tetap nulis saya. :3

saya orchestra

Nggak ada sangkut pautnya sih dalam segi cerita. Tapi inspirasinya emang datang dari kunjungan raja Salman dan para pangeran arab. Hehe ...

Thanks for RnR.

nayasant japaneze

Makasih dah RnR ya~

Guest

Makasih dah RnR, dan juga buat semangatnya.

Udah lanjut nih. Fighting!

Yuliita

Makasih dah mampir ya~

Sho

Makasih semangatnya, dan tentunya makasih karena udah mampir. Hehe ...

Saya berusaha menampilkan dengan cara berbeda, semoga saja berhasil hingga akhir. =D

wowwoh geegee

Harapanmu terkabul, Rukia diterima dengan baik oleh Ichigo. Tapi kayaknya Rukia yang sulit menerima nih. Ayo semangatin Rukia biar nerima Ichigo.

Makasih dah RnR ya~

annisa huang

Makasih dah mampir ya.

Udah saya lanjutin nih, moga nggak penasaran lagi.

aerkei

Makasih dah RnR ya.

Yup. Udah semangat 45 nih buat apdet. Hohoho ...