Previous…

"bagai-…Bagaimana ibuku?"

"Maaf."

"Untuk apa?"

Luhan bertanya lagi, jujur pikirannya kosong. Dia tidak berani menebak apapun sampai Doojoon mengangkat pergelangan tangannya untuk melihat arloji "tidak…"

Luhan panik, dia tahu arti saat seorang dokter melihat ke arlojinya. Dia tahu apa yang akan dikatakan Doojoon adalah

"Waktu kematian Nyonya Xi pukul sebelas lewat lima menit." Katanya berujar tenang untuk kembali menatap Luhan "Aku turut berduka cita."

"mamatidakmungkin…Tidak-…."

"LUHAN APA KAU BELUM MENDENGAR BERITA?"

"Apa?"

Lagi-lagi pikirannya kosong, jika bukan karena bisikan Kai dan Chanyeol yang mengatakan dirinya baik-baik saja, mungkin Luhan sudah berniat mengakhiri hidupnya saat ini "Ada apa hyung?"

"AYAHMU DIBUNUH, KEJAKSAAN MENGUMUMKAN KEMATIANNYA MALAM INI!"

.

.

.

.

.

.

Je'Te Veux

.

.

.

.

.

Main cast : Sehun-Luhan

Rate : T-M

.

.

.

.

Pagi ini, tepat satu hari sebelum pernikahannya, Luhan merasa hidupnya direnggut dengan keji saat ini. Saat dimana dia harus menghadiri pemakaman dua orang yang begitu ia cintai dan begitu ia hormati dalam hidupnya.

Tak ada tangisan, sungguh, dia terlalu marah untuk menangis. Hatinya dipenuhi kemarahan hingga suara tangisnya terkubur dalam disela geraman kebenciannya sebagai seorang anak.

"Jasad mama papa akan segera dikuburkan Lu, kau siap?"

Saat Kai bertanya, dunia Luhan terasa gelap seutuhnya. Dia tidak menjawab tidak pula diam, yang dia lakukan hanya menatap kosong sementara tangannya melingkar sempurna di pinggang sahabatnya.

Sedikit mencengkram punggung kekasih Kyungsoo dengan tangan Chanyeol yang juga menggenggam jemarinya, menguatkan.

"Lu?"

Tak ada respon, sepenuhnya Luhan sadar namun dia terlalu mati untuk merespon, terlalu hancur untuk sekedar mengatakan Ya.

"Kau akan baik-baik saja Lu."

Tetap diam adalah hal yang terus Luhan lakukan, sungguh rasanya begitu sakit, tubuhnya seperti disayat dalam sementara bibirnya kelu tak bisa mengucapkan satu kalimat apapun.

Dia lelah berada di pemakaman ini, dia hanya ingin pulang. Tapi ketika jemari Chanyeol menggenggamnya erat maka dengan senang hati Luhan membiarkan dua teman kecilnya yang mengambil alih sementara matanya tak berkedip menatap dua peti mati berisikan jasad kedua orang tuanya yang akan segera dikebumikan, meninggalkannya.

"Lakukan."

Saat suara berat Chanyeol terdengar memberi perinta, Refleks, Luhan membawa wajahnya bersembunyi di pelukan Kai. Tangannya semakin mencengkram kuat punggung dan jemari Chanyeol sementara suara gesekan peti dengan tanah terdengar tanda bahwa kedua orang tuanya tengah dimasukkan ke dalam tanah saat ini.

"hkss…"

Itu adalah suara tangisan pertama Luhan pagi ini, membuat Kai dan Chanyeol bisa bernafas lega karena setidaknya Luhan memberikan respon pertama atas kehilangannya yang begitu besar dalam satau malam.

"sssh…Kau akan baik-baik saja sayang, kami menjagamu."

Tak ada kekuatan berarti dari ucapan Chanyeol. Tiba-tiba Luhan hanya ingin dijaga oleh papanya, hanya ingin diberikan cinta tak terhingga oleh mamanya. Dan hanya ingin pulang disambut bau khas tepung dari sang papa disusul bau khas rumah sakit jika mamanya pulang bekerja.

Proses pemakaman telah selesai dilakukan, kiranya untuk keluarga dan kerabaat bisa secara langsung memberikan doa dan serangkaian bunga perpisahan untuk mendiang Nyonya dan Tuan Xi

Saat suara pendeta terdengar, Luhan terisak pilu, terlalu pilu hingga membuat Kai dan Chanyeol ikut hancur bersama rapuhnya Luhan pagi ini. Keduanya hanya membiarkan Luhan bersembunyi di pelukan Kai sementara Chanyeol melepaskan genggamannya untuk berbisik lembut di telinga Luhan "Aku akan memberikan penghormatan terakhir untuk papa dan mama."

Tubuh Luhan menegang, Kai bisa merasakannya. Si mungil bahkan menggigit kencang bahunya untuk melampiaskan semua kehilangan yang dirasakannya dalam satu malam "Aku memelukmu Lu, sayangku." Kai menciumi pucuk kepala Luhan, berharap sahabat kecilnya merasa lebih baik namun rasanya percuma karena yang Luhan lakukan hanya memberikan respon dengan cara yang begitu mengkhawatirkan.

"Kau ingin memberi salam terakhir untuk mama dan papa?"

"….."

"rrh."

Saat gigitan dan cengkraman Luhan di dada dan punggungnya semakin kencang, Kai meringis. Namun detik berikutnya dia membiarkan Luhan melampiaskan rasa kehilangannya dengan melakukan apapun yang diingnkannya. "hksss…"

Isakannya sangat pelan namun terdengar sangat pilu, membuat secara refleks Kai memejamkan erat matanya, pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu pun menangis begitu tak tega dengan keadaan kecilnya "Dengarkan aku Lu, menangislah jika kau ingin. Menangislah sampai hatimu merasa lebih baik."

"rrgghhh…ma…pa…BANGUN!"

"sshhh….Luhan tenanglah sayang."

Luhan terus memukul kencang dada Kai, jemarinya terkepal kuat hingga warna merah jelas terlihat di telapak tangannya yang berwarna putih. "bangun…BANGUN MA! PA! BANGUN!" Luhan menjerit pilu berharap melihat satu keajaiban, keajaiban dimana dia tak harus melihat tubuh dua orangtuanya dikubur di dalam tanah.

"Lanjutkan."

"tidak…."

Saat Chanyeol memberi instruksi, maka dengan segenap tenaga yang dimiliknya Luhan berlari, dia tidak rela, sama sekali tidak rela jika tubuh orang tuanya dikuburkan begitu cepat. Kai kehilangan kendalinya atas Luhan dan saat dia berlari ke arah pemakaman maka dengan satu tangannya Chanyeol berhasil menangkap tubuh Luhan, memaksa si mungil berada di pelukannya agar tidak perlu melihat hal yang akan menyakiti hatinya.

"Jangan dilihat."

"Lepas Yeol."

Luhan terus meronta, namun beruntung kekuatan Chanyeol jauh lebih besar darinya. Karena alih-alih membiarkan Luhan melihat jasad kedua orang tuanya dimakamkan maka Chanyeol sengaja menahan tengkuk dan punggung Luhan dengan erat, menahan sekuat tenaga agar Luhan tak perlu melihat segala prosesi yang bisa menghancurkan hati seorang anak.

"Sebentar lagi selesai." Bisiknya di telinga Luhan, mata Chanyeol sendiri tak berkedip menyaksikan seluruh prosesi pemakaman. Hingga akhirnya dua nisa bertulis nama orang tua Luhan dipasang, maka dia sedikit berbaik hati membiarkan Luhan melihatnya "Selesai Lu. Orang tuamu sudah beristirahat saat ini."

Luhan kacau, matanya tak bisa fokus melihat. Semuanya berbayang, tapi ketika matanya membaca nama kedua orang tuanya di batu nisan. Maka disaat itu pula setengah nyawa Luhan terasa dicabut paksa dari tubuhnya.

Dadanya sesak, matanya seperti melihat senyum kedua orang tuanya yang kini tak dapat dijangkaunya, tapi dilihatnya lagi. Nafasnya nyaris tak berhembus jika Chanyeol tidak mengingatkan untuk tenang.

Detik berikutnya Luhan tertawa, namun tawanya terlihat sangat menyedihkan diiringi isak tangis yang begitu memilukan. "tidak…." Tangannya perlahan melepas cengkraman di lengan Chanyeol, berusaha untuk mendekati makam kedua orang tuanya namun berakhir jatuh dengan dua tangan Kai dan Chanyeol yang menangkap tubuhnya "Lepas."

Luhan menghempas kasar tangan Kai dan Chanyeol, kembali berjalan tertatih untuk berhadapan langsung dengan makam kedua orang tuanya "Ma..Pa, ayo kita pulang."

"…"

Semua kerabat yang menghadiri pemakaman terlihat sangat berduka atas kehilangan yang tiba-tiba harus Luhan terima. Tak ada yang mencoba menghentikan Luhan menyadari entah seberapa besar luka yang harus dipikulnya seorang diri "ayopulang. Ayo-…."

Sebagai perwakilan, Kai dan Chanyeol membungkuk berterimakasih atas simpati yang sudah diberikan seluruh kerabat. Membuat beberapa dari mereka mengerti dan beranjak pergi setelah memberi penghormatan terakhir, meninggalkan Luhan yang masih berdiri di tengah-tengah makam kedua orang tuanya seraya mengepalkan erat tangannya tak mau membuka sedikitpun. "Ayo kita pulang, aku sudah lelah Ma..Pa. Cepat bangun agar kita bisa pergi dari tempat mengerikan ini, ayo kita kembali ke Beijing, Papa bisa membuka toko roti disana. Mama bisa menjadi dokter di….kumohon…KUMOHON BUKA MATA KALIAN!"

.

.

.

.

.

.

.

"LUHAN!"

Di tempat berbeda, tepatnya di tempat yang sama saat dokter mengumumkan kematian ibu Luhan, Sehun terbangun. Jujur rasa sakit di kepalanya mengalahkan rasa sakit di hatinya. Dia bahkan tidak peduli pada sekelompok orang yang menyerangnya. Yang dia pedulikan hanya Luhan, Luhan dan ….

"Sehun? Kau sudah bangun? Syukurlah."

Matanya mencari cepat suara yang dia tebak adalah milik Baekhyun. Membuatnya tersenyum begitu senang melihat dua sahabatnya datang menemuinya. "Baek..Soo."

Buru-buru dia ingin bertanya pada Baekhyun dan Kyungsoo, tersenyum menenangkan dirinya sendiri sampai tatapannya berubah menjadi horor menyadari mata sembab Baekhyun dan Kyungsoo serta suara serak mereka seolah menandakan hal buruk memang telah terjadi "Apa yang terjadi?"

"SehunSehunnhkss…"

"Kenapa kau—arh.."

Kepala bagian belakangnya terasa sangat sakit. Dan saat Sehun mencoba meraba rasa sakitnya maka dia bisa menemukan perban yang dililitkan di sekitar dahinya "Jangan banyak bergerak, kepalamu mengalami keretakan kecil dan harus banyak beristirahat."

"Lalu bagaimana Luhan? Apa yang terjadi padanya?"

Saat nama Luhan ditanyakan maka baik Kyungsoo maupun Baekhyun bungkam seribu bahasa. Keduanya hanya tertunduk pilu sementara kepala Sehun menanyakan banyak hal yang dilewatkannya selagi dia tak sadarkan diri "Baek? Soo?"

"….."

"sial! KENAPA KALIAN HANYA DIAM?"

Sehun mencabut paksa slang infus di pergelangan tangan kirinya. Berjalan gontai meninggalkan tempat tidur sementara baik Kyungsoo maupun Baekhyun berusaha untuk menahan Sehun mengingat kondisi Sehun yang belum sepenuhnya pulih. "Sehun!"

"Lepas, biarkan aku pergi."

"Sehun tenanglah."

"AKU AKAN TENANG JIKA KALIAN BERITAHU DIMANA LUHAN PADAKU?"

"LUHAN SEDANG BERADA DI PEMAKAMAN SAAT INI!"

"huh?"

Seperti janjinya, Sehun tenang saat nama Luhan disebutkan, tapi ketika kalimat pemakaman terucap maka seketika pula tubuhnya lemas dan terjatuh dengan Kyungsoo dan Baekhyun yang terlihat kesulitan menahan berat tubuhnya.

"apa-Apa yang terjadi?"

"sehun—hkss…Sehunna."

Kyungsoo mulai kehilangan kendali dia menangis sejadinya sementara Baekhyun harus menjadi satu-satunya yang tegar diantara kesedihan dua temannya "Kenapa menagis Soo? Bee? Ada apa?"

Baekhyun terisak pelan, nyatanya dia juga mati-matian untuk tidak menangis. Tapi jika dua sahabat kecilmu terlihat begitu menyedihkan bukankah hal wajar jika pada akhirnya pertahananmu hancur dan ikut terisak merasakan sakit yang sama yang sedang dirasakan orang terdekatmu.

Ya, Baekhyun sedang berada dalam posisi menyulitkan ini, posisi dimana tak hanya Sehun yang harus dia tenangkan tapi juga Kyungsoo. Jadi ketika Sehun bertanya ada apa? matanya hanya bisa menatap sendu untuk memberitahu Sehun apa yang terjadi pada kekasihnya.

"Mama Xi meninggal bersamaan dengan kematian mengerikan yang dialami Papa Xi."

"mwo? Apa yang sedang kau bicarakan?"

"Sehunna tegarkan dirimu kumohon, aku tidak sanggup jika seorang diri."

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Kau mendengarnya! Seseorang membunuh ayah Luhan di dalam penjara."

DEG!

Hati Sehun mencelos sakit, rasanya benda tajam kini sedang menusuk tepat di jantungnya. Dia kesulitan bernafas, sangat, pikirannya kosong,lalu detik berikutnya terdengar tangisan Kyungsoo yang tak bisa lagi menahan diri. Kyungsoo menangis di pelukan Baekhyun sementara kekasih Chanyeol itu menatapnya terisak "Aku tidak tahu bagaimana Luhan saat ini, aku takut membayangkan betapa dalam luka dan dukanya saat ini Sehunna. Aku takuthkss.."

"tidak mungkin."

Sama seperti Luhan di pemakaman, maka Sehun juga kehilangan setengah jiwa –tidak- Sehun kehilangan seluruh jiwanya bersamaan dengan berita kematian dua orang tua Luhan dalam waktu bersamaan. Dia tidak bisa membayangkan akan sebenci apa Luhan pada dirinya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana luka kekasihnya akan menjadi mimpi buruk sepanjang hidupnya, dia takut, takut membayangkan Luhannya ketakutan dan membenci dirinya karena tidak mendampingi disaat si dipaksa merasakan dukanya yang begitu dalam.

"Luhan…"

Tak kuat melangkah, Sehun terjatuh lagi di lantai. Seluruh kakinya kram tak bisa digerakkan. Bukan karena dia tidak mau, tapi kenyataan yang baru saja dia dengar cukup untuk membuat dunianya dan Luhan runtuh dalam hitungan jam.

"LuhanLuhanLuhan…" katanya menjambak kasar rambutnya, berkali-kali juga Sehun memukul kencang dadanya. Berharap ini hanya mimpi buruk dan bisa bangun agar bisa kembali memeluk Luhannya tanpa perasaan bersalah yang begitu sesak seperti ini "hkss…." Dia terus memukul dadanya kencang, membiarkan seluruh sakit dia rasakan untuk menyadarkan dirinya, bahwa ini bukan mimpi, ini kenyataan dan dia harus menghadapinya jika ingin tetap bersama dengan Luhan, pria yang sudah dia cintai selama dua puluh tahun.

"LUHAN!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam hari, 20.00 KST

.

Walau kondisinya sendiri belum sepenuhnya pulih, tak ada yang bisa menghentikan Sehun agar bisa bertemu dengan kekasihnya, hidupnya, Luhan.

Dan karena kegigihannya pula, Sehun akhirnya bisa bertemu dengan pria yang esok –seharusnya- menjadi istrinya, miliknya sepenuhnya. Wajahnya terlihat pucat karena sakit, entah sakit di kepala atau sakit di hatinya, Sehun terlihat lebih terluka daripada semua orang yang berada di rumah Luhan saat ini, mungkin dia juga jauh terlihat menyedihkan dari Luhan mengingat sepanjang delapan jam ini bahkan disaat dia jatuh tak sadarkan diri, air mata terus membanjiri wajah tampannya yang kini terlihat menyedihkan.

Klik….

Saat Kyungsoo menekan bel, maka sang kekasihlah yang membuka pintu rumah Luhan. Dia dan Baekhyun masing-masing memegang lengan Sehun sementara yang berkulit tan menatap iba pada sahabat kekasihnya "Sehunna." Suara bas Kai tedengar sangat berat. Membuat Sehun mengangkat wajahya lalu menyunggingkan senyum untuk bertanya

"Hay Kai, dimana Luhan?"

Nyatanya melihat Kai memakai serangkaian pakaian berwarna hitam sudah membuat hati Sehun kembali mencelos sakit. Lalu kemudian sahabat kekasihnya mengambil alih tubuh lemasnya dari Baekhyun dan Kyungsoo untuk membawanya ke dalam rumah yang jelas dipenuhi duka dan luka saat ini "hkss…"

Refleks, Sehun terisak. Dia meminta agar tidak dipaksa masuk untuk menenangkan diri sejenak. Tangannya dia angkat untuk menutupi wajah sementara bahunya bergetar hebat tanda begitu kesakitan karena semua yang terasa di rumah kekasihnya hanya duka yang tak bisa dia jelaskan seperti apa rasanya.

"Kau baik-baik saja?"

Kai bertanya lagi, Sehun pun mengangguk lalu mengambil banyak nafasnya "haaah~…. Sejujurnya aku kacau." Katanya menghapus pilu air matanya untuk tersenyum sangat dipaksakan "Tapi aku tahu Luhanku lebih kacau. Dimana dia?"

"Aku tidak yakin kau bisa menemuinya."

Sehun menoleh, kali ini Chanyeol yang terlihat keluar dari pintu kamar yang Sehun ketahui adalah kamar orang tua Luhan. Bertanya-tanya mengapa pria berlesung pipi didepannya terlihat sangat cemas dengan suara khas seseorang yang baru saja terisak "Kenapa aku tidak bisa menemuinya?"

Sementara Sehun bertanya, maka Baekhyun melewatinya untuk menghampiri sang kekasih. Keduanya berpelukan diringi isakan pilu yang lagi-lagi membuat hati Sehun begitu hancur "Yeol?"

Dipelukan Baekhyun, Chanyeol menatap Sehun, dia kemudian tertawa kecil untuk kembali terisak "Entahlah Sehunna, Kondisi Luhan sangat mengkhawatirkan. Dia tidak menangis tidak pula menjerit. Yang dia lakukan hanya duduk tertunduk di tempat tidur papa dan mama."

Rasanya wajar jika Luhan merasakan duka yang dalam, wajar jika menangis atau bahkan menjerit menyalahkan siapapun. Tapi ketika Chanyeol mengatakan dia hanya diam tanpa tangisan, maka sebagai teman kecil, sebagai pria yang sangat mencintai Luhan, Sehun juga sangat mengetahui bahwa semua yang dilakukan Luhan adalah hal yang tak wajar dan begitu mencemaskan, sangat.

Refleks, kaki Sehun berjalan mendekati kamar mendiang dua orang tua Luhan. Meminta kekuatan pada empat sahabatnya dan Luhan agar setidaknya si pria mungil mengatakan satu kata, apapun itu meski nantinya akan hanya ada kebencian dan jeritan murka yang terdengar "Aku masuk."

"Sehun."

Suara Kai memperingatkan, Sehun pun menoleh lalu berusaha untuk mendengarkan pria yang statusnya kini berubah dari sahabat menjadi keluarga untuk Luhannya "Apa?"

"Jangan paksa Luhan jika dia tidak ingin bicara, hatinya sedang terluka parah. Jadi mengalah dan hanya pergi jika dia mengatakan seperti itu."

Sehun menghapus lagi air matanya, dia kemudian mengangguk untuk merasakan ketakutan yang untuk kali pertama baru dia rasakan dalam hidupnya "Baiklah." Katanya menguatkan diri dan tak lama

Klik…!

Gelap….

Dalam kegelapan kamar yang begitu menyesakan hatinya, Sehun perlahan masuk dan mencari sosok mungilnya. Berharap Luhan akan baik-baik saja walau nyatanya kata baik seolah sangat jauh untuk mereka saat ini. Sehun terus berjalan menyusuri kamar orang tua Luhan hingga tak lama kakinya berhenti, bibirnya juga sedikit tersenyum menemukan sosok mungil yang begitu ingin ia peluk saat ini "Lu?"

Dan disanalah Luhan berada, sedang duduk di sofa sementara matanya tak berkedip menatap tempat tidur dua orang tuanya. Entah apa yang dipikirkan kekasihnya, yang jelas tatapan Luhan kosong tanpa air mata atau jeritan seperti yang dikatakan Chanyeol padanya.

"Luhan?"

Sejenak Luhan menoleh, matanya menatap mata Sehun cukup lama namun segera dia abaikan. Luhan kembali diam dan tak bersuara, dia juga tidak memberikan respon atas kehadiran Sehun dan lebih memilih untuk menatap tempat tidur ayah dan ibunya dalam diam.

"Sayang."

"….."

"hkss…"

Sehun terisak sejenak, hatinya penuh sesak melihat diamnya Luhan hingga tak lama parau suaranya terdengar untuk kembali memanggil kekasihnya "Lu, ini aku."

"…"

Merasa diabaikan, Sehun menghapus cepat air matanya, dia kemudian berjalan gontai untuk mendekati sang kekasih, berlutut, memohon ampun atas semua yang terjadi pada hidup kekasihnya. "sayang."

Luhan tetap diam tak merespon, perlahan Sehun mengambil tangan Luhan untuk digenggamnya. Namun lagi-lagi hatinya tertohok menyadari bahwa tangan Luhan sangat dingin bahkan di suhu kamar yang dipasang hangat saat ini "Kau kedinginan ya? baiklah aku akan membuatmu hangat sayang."

Tak mendapat respon. Sehun tetap mengusap lembut tangan Luhan, sesekali meniupnya agar merasa hangat namun Luhan tetap tak memberikan respon, diam dan tak bersuara.

"Bicaralah sesuatu Lu, kumohon."

"…."

"Luhan, sayangku. KumohonBicaralah padaku hkss…"

Sehun meletakkan dahinya di jemari Luhan, detik berikutnya dia menangis pilu begitu tak tega melihat Luhannya terlihat begitu menyedihkan, tak ada yang bisa menggantikan rasa dukanya, tak akan ada yang mengerti bagaimana Luhan menerjemahkan rasa sakitnya, tak ada satupun termasuk dirinya.

Batin Sehun dikoyak hancur melihat keadaan Luhan, rasa sakit di kepalanya telah digantikan seribu tusukan jarum di hatinya. Yang dia inginkan hanya mendengar suara kekasihnya, entah itu tangisan, makian atau bahkan jeritan, Sehun tak peduli. Dia terlalu putus asa karena tak ada satupun kalimat yang diucapkan kekasihnya saat ini.

"kumohon Lu…rrrhhhh, maafkan aku."

"Kau tahu Sehunna?"

Walau nada suara Luhan terdengar sangat dingin serta dipenuhi kebencian, Sehun tidak peduli. Dia hanya terlalu bahagia karena bisa mendengar kekasihnya berbicara. Jadi ketika Luhan bertanya, refleks Sehun menatap mata Luhan untuk menemukan bahwa saat ini, saat dia menatap mata kekasihnya yang begitu cantik, Sehun harus menjerit menahan tangis, mengakui bahwa tak ada lagi tatapan cinta dimata Luhan.

"hmmhh?"

Bersamaan dengan air matanya yang membasahi tangan Luhan, Sehun bergumam, berusaha untuk membalas pertanyaan Luhan, mengabaikan tatapan kekasihnya yang hanya dipenuhi kemarahan serta kesedihan yang begitu dalam.

"Aku takut satu hal." Katanya menatap kosong mata Sehun, sedikit berkedip diiringi air mata yang juga membasahi jemari kekasihnya "Apa yang membuatmu takut?"

"Aku takut." Katanya tertawa lirih sementara tangannya menggenggam kuat jemari Sehun "Esok, saat aku terjaga." Tangan Luhan kini mencengkram kuat jemari Sehun, tak ada lagi genggaman lembut yang ada hanya kemarahan untuk mengatakan dengan sangat jelas bahwa mungkin, esok hari, semua akan berubah untuknya dan Sehun "Aku tidak mencintaimu lagi."

DEG!

Jika Tuhan memberikan pilihan untuk mati malam tadi, maka dengan senang hati Sehun lebih memilih mati. Ya, dia seribu kali lebih memilih mati daripada harus mendengar Luhan tidak mencintainya lagi.

Hatinya perih. Terlalu perih menyadari bahwa nyatanya dua puluh tahun bukanlah waktu yang cukup untuk mendapatkan Luhan seutuhnya, seluruhnya, tanpa kemarahan maupun kebencian yang kini memenuhi hati kekasihnya.

"Apa yang kau bicarakan Lu?"

Luhan melepas cengkramannya di jemari Sehun, dia menolak segala kontak fisik dengan kekasihnya, dengan putra dari penyebab kematian dua orang tuanya "ah-... Tidak perlu esok hari, malam ini perasaanku mati untukmu, hambar tak memiliki rasa."

"Bohong, kau bohong. Kau mencintaiku sama besar seperti aku mencintaimu. Jangan lakukan ini padaku Lu, kumohon jangan. Apa kau ingat? Besok adalah hari pernikahan kita. Aku sudah mempersiapkan segalanya untukmu."

Luhan tertawa mengejek, dia juga memalingkan wajahnya dan bersumpah mendedikasikan hidupnya untuk kemarahan hingga tak perlu lagi merasakan cinta yang menyesakan seperti ini lagi di hidupnya. "Dari awal kita bertemu, hanya kau yang merasakan cinta sialan ini, cinta yang membuatku harus merasakan neraka darimu."

"Luhan…Lu…jangan…kumohonjangansepertiini."

Lagi, Sehun terisak di pangkuan Luhan, namun tak seperti di awal maka kali ini pula Luhan menolaknya terlalu tegas. Membuat hanya udara kosong yang dijadikan Sehun sebagai sandaran sementara kekasihnya enggan untuk menatap "Pergilah. Dan jangan pernah bermimpi tentang pernikahan, kau harus tahu aku sangat membencimu dan sangat ingin menyakitimu beserta seluruh keluargamu. Aku benar-benar ingin menyakitimu dan tidak memiliki cinta lagi untukmu."

"tidaktidak…."

Buru-buru Sehun menghapus air matanya, dia tidak bisa membiarkan hubungannya dan Luhan berakhir seperti ini, benar-benar tidak bisa. Dia kemudian kembali berlutut di depan kekasihnya untuk memaksa menggenggam jemari Luhan yang kini terasa dingin sepenuhnya. "Kau tidak perlu mencintaiku lagi, sungguh. Kau bisa menyakitiku sebanyak yang kau mau sayang."

"Apa yang kau bicarakan?"

"Dengarkan aku, Xi Luhan-….Kumohon dengarkan aku."

Luhan tak lagi berpaling, selain membiarkan Sehun menggenggam tangannya dia juga membiarkan kedua mata mereka bertemu sesaat Luhan menatap lembut kekasihnya, seperti sebelumnya. Tapi menyadari Sehun tersenyum bahagia buru-buru Luhan merubah lagi caranya memandang Sehun, dingin dan penuh benci.

"Apa?"

"Jika esok pernikahan kita tetap dilangsungkan. Jika esok kau tetap menikah denganku. Kau bisa menyakitiku sesuka hatimu, sebanyak yang kau mau. Kau bisa melampiaskan marah dan bencimu padaku, Lu."

Sungguh tak ada lagi yang dipedulikan Sehun selain bisa bersama dengan Luhan, entah bagaimana caranya. Walau itu artinya dia harus merendahkan diri serendah-rendahnya, berlutut sebungkuk-bungkuknya, atau menangis sejadinya, Sehun sama sekali tidak peduli.

Dia bersedia dibenci oleh Luhan asalkan prianya berada di jangkaunnya, di dekapannya, tak berada seorang diri sementara hatinya dipenuhi kemarahan "Kau bebas melakukan apapun padaku."

Tertarik, Luhan menatap Sehun. Dia mencari kebenaran dari ucapan kekasihnya. Menatapnya cukup lama untuk menemukan kesungguhan dari apa yang diucapkan kekasihnya "Apapun?"

Sehun mengangguk tanpa ragu. Dia menciumi dua tangan Luhan lalu mengangguk lagi sebagai jawaban "Apapun. Kau bisa menyakitiku, kau bisa mencekikku, kau bisa membunuhku atau menyuruhku mati. Aku akan melakukan semua yang kau inginkan. Semua, kecuali satu."

"Apa?"

Dikecupnya lagi jemari Luhan lalu untuk mengatakan dengan yakin dan tak terbantahkan "Jika kau memintaku pergi, aku tidak akan melakukannya. Lebih baik kau memintaku mati daripada harus pergi meninggalkanmu."

Terdengar tawa meremehkan dari Luhan, dia juga ingin menarik tangannya namun sial tangan Sehun terlalu kencang untuk dilepas "Lalu bagaimana jika aku yang pergi?"

"Aku akan mencarimu kemanapun. Tidak peduli menghabiskan waktu sepanjang apapun, aku hanya akan pergi mencarimu dan menemukan dimana dirimu."

"idiot."

"Aku terlalu mencintaimu Luhan, menikah dan sakitilah aku sebanyak yang kau mau, kumohon."

"…"

"Luhan."

Luhan melepas paksa pegangan tangan Sehun, dia kembali menatap kosong ke tempat tidur orang tuanya. Terlalu kosong hingga akhirnya, Sehun bisa mendengar isakan Luhan yang terdengar sangat pilu "hkks…Aku ingin Mama dan Papa. AKU INGIN MATI BERSAMA MEREKA!"

"tidak, Kau tidak akan pergi, tidak boleh pergi. Aku akan menjagamu."

Sehun ketakutan, sekalinya dia melihat Luhan menangis untuk mendengar racauan gila kekasihnya, dia kemudian memeluk erat tubuh mungil Luhan yang terasa begitu dingin untuk terus berbisik "Menikahlah denganku dan aku akan melakukan apapun agar rasa sakitmu hilang, aku janji." Katanya mengecup tengkuk Luhan namun dibalas isakan penuh kemarahan dari kekasihnya.

"Maaf karena membentak Mama tanpa meminta maaf, tidak pernah berbakti pada kalian, maaf tidak pernah mendengarkan apa yang kalian inginkan, maaf….hkss."

Luhan menggigit kuat leher Sehun, tangannya mencakar punggung Sehun sementara kalimat yang akan dia ucapkan seolah mewakili penyesalan terdalam yang pernah terjadi di dalam hidupnya. "Maaf karena aku mencintai pria yang salah."

Tak hanya Luhan, kini Sehun ikut menitikkan air mata. Tangannya kaku mendekap sepenuh hati pria cantik yang hatinya telah dihancurkan, yang berubah menjadi mengerikan karena hidupnya ditiadakan, Sehun tersedu membiarkan semua rasa sakit Luhan dibagi bersamanya.

Namun ketika Luhan mengatakan maaf karena mencintai pria yang salah maka batin Sehun menjerit pilu, air matanya sama turun begitu cepat membasahi wajah, menjerit tertahan sementara hatinya bertekad untuk tidak kehilangan Luhan bagaimanapun caranya "Maaf membuatmu merasakan mimpi buruk ini sayang, maaf. Menikahlah denganku dan balas aku seribu kali menyakitkan dari milikmu. Kumohon."

"AAARGHHH!"

Dan saat Luhan berteriak, meraung di pelukan Sehun, saat hatinya diremuk-redamkan, saat kepalanya terasa begitu sakit, saat nafasnya sesak tak berhembus, saat hanya satu-satunya pelukan Sehun yang bisa membuatnya tenang, Luhan harus dikembalikan pada kenyataan. Kenyataan bahwa pria yang sedang mendekapnya adalah pria yang tak boleh dia cintai, pria yang harusnya dia benci sepanjang hidupnya, pria yang tanpa sengaja Luhan salahkan untuk hal yang tak pernah Sehun lakukan.

"AKU MEMBENCIMU OH SEHUN."

"ara…"

"AKU SANGAT MEMBENCIMU—AAARGGHH!"

"Menikahlah denganku agar kau bisa melakukan apapun untuk membalasku. Aku takut kehilanganmu Luhan, aku tidak bisa."

"rrrrhhhh…"

Bibir mungil Luhan membuka, mencari nafas selagi dia terisak. Dia bersumpah, hari ini adalah hari terakhir Sehun bisa memeluknya. Hari terakhir dimana kontak fisik terjadi di antara mereka.

"Lepas."

"Lu."

"Baiklah,"

Luhan melepas pelukan Sehun, ditatapnya penuh kebencian pria yang sudah mencintainya sejak kecil untuk mengangguk, memberi tanda bahwa dia menyetujui apa yang diinginkan Sehun dan mengatakan "Kita menikah."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sebab cintaku untukmu berputar pada dua kata saja, masih dan selalu.

Aku mencintaimu walau kau membenciku, bahkan di hari pernikahan kita

OSH-

.

.

.

.

.

.

.

.

Salah satu definisi dari pernikahan adalah dua pasangan yang saling mencintai, yang akan mengikat janji sehidup semati, menemani dalam suka maupun duka, hingga nanti akhirnya maut memisahkan.

Ya...Seperti itulah definisi pernikahan pada umumnya,bahagia dan penuh cinta

Hanya akan ada kebahagiaan diiringi canda tawa oleh dua pihak keluarga, tatapan cinta dari dua mempelai serta doa restu dari kerabat terdekat.

"Sehun, kau siap?"

Mempelai pria tersenyum, tapi tak ada raut kebahagiaan di wajahnya. Nanti, sesaat lagi dia akan mengikat janji dengan pujaan hatinya, pria yang sudah dicintainya sejak mereka kecil hingga kini dewasa adalah sebutan mereka.

"Sehunna?"

Dia menatap sahabat kecilnya dari pantulan cermin. Mengamati bagaimana tubuh Kyungsoo sudah mengalami banyak perubahan karena bayi kecilnya dan Kai. Sekilas Sehun tersenyum, tiba-tiba menginginkan Luhan mengalami perubahan seperti Kyungsoo, hingga akhirnya hanya ada kebahagiaan di keluarga kecil mereka.

"Soo, kau sangat sempurna."

Wajah Kyungsoo sama kacaunya dengan wajah Sehun, lebam dan terlihat menyedihkan.Tapi saat sahabat kecilnya yang akan segera menikah sedikit berujar menggoda, dia pun tersenyum untuk berjalan mendekati pria yang selalu menjaganya bahkan disaat mereka sudah dewasa seperti sekarang "Kau jauh lebih sempurna. Jujur, kau bahkan lebih tampan dari Kai, terkadang."

Masih menatap Kyungsoo dari cermin, Sehun tertawa kecil namun seluruh matanya terlihat kosong dan begitu sedih "Aku tahu." Katanya asal dibalas kekehan kecil dari Kyungsoo "Biar aku rapikan tuxedo mu." Kyungsoo memaksa Sehun menghadap arahnya, dengan cekatan dia merapikan dasi kupu-kupu yang digunakan Sehun lalu menepuk tiga kali jas hitam elegan sahabatnya, tersenyum bangga untuk mengatakan "Kau terlalu sempurna."

"Aku tahu."

Ketika Sehun tertawa kecil maka reaksi berbeda ditunjukkan Kyungsoo. Karena daripada ikut tertawa, kini Kyungsoo tertunduk, tangannya mencengkram kuat tuxedo putih Sehun lalu terisak sangat pilu

"Soo?"

Sebenarnya Sehun tidak perlu bertanya kenapa Kyungsoo menangis, semua yang hadir di pernikahan ini, yang merupakan kerabat dekat Sehun maupun Luhan cenderung menampakan wajah sedih daripada bahagia.

Duka yang Luhan rasakan, penyesalan yang sedang diperlihatkan Sehun, semuanya sudah menjadi alasan kuat mengapa raut bahagia hilang dari wajah seluruh kerabat serta sahabatnya, seperti Kyungsoo saat ini.

"Aku tidak seharusnya menangis Sehun, aku tahu. Tapi hatiku sesak. Akuhksss." Kyungsoo kemudian tersadar, dia melepas cengkraman tuxedo putih Sehun untuk tertawa dibuat bahagia "tidaktidak… Aku minta maaf karena bersikap seperti ini. Aku bahagia untukmu, sungguh."

Buru-buru Sehun menarik lengan Kyungsoo, mendekapnya erat seraya berkata "Terimakasih untuk segalanya Soo, tapi aku baik dan aku benar-benar bahagia."

"hksss…"

Daripada tenang, Kyungsoo justru semakin terisak. Menangis tersedu dipelukan Sehun sementara si mempelai pria tersenyum lega menyadari kedatangan dua saudara kandungnya ke acara pernikahannya dan Luhan hari ini "Soo, Jae dan Yunho hyung ada disini." Katanya berbisik memberitahu, dibalas anggukan Kyungsoo yang segera melepas pelukan Sehun untuk menyapa Yunho dan Jaehyun "Hyung."

Buru-buru Kyungsoo menghampiri Yunho, memeluk satu-satunya pria tertua di antara mereka untuk menyembunyikan fakta bahwa daripada bahagia, hatinya begitu tak tega melihat pernikahan Sehun yang dipenuhi duka dan luka "Kau baik-baik saja?" Kyungsoo hanya mengangguk namun enggan bersuara, yang dia lakukan hanya memeluk Yunho begitu erat mengabaikan Jaehyun yang kini terisak sedang menatap kakak kandungnya yang lain "hyung…"

Dan tak jauh berbeda dari Kyungsoo maka wajah tampan adiknya juga terlihat sendu diiringi air mata seorang remaja yang hatinya masih sangat polos "Jaehyunna."

"hyung."

Sehun berjalan menghampiri satu-satunya adik yang dia miliki. Merasa menyesal karena Jaehyun harus menerima imbas dari kemarahan dan kebencian Luhan karena kejadian mengerikan kemarin malam.

"Badanmu saja yang besar, hatimu benar-benar masih kecil adikku."

Jaehyun terlihat sangat terpukul, isakannya begitu pilu mengingat adik kecilnya begitu menyayangi Luhan bahkan melebihi rasa sayang untuknya dan Yunho. Jadi rasanya wajar jika Jaehyun juga merasa begitu sedih dan terluka, wajar jika jika remaja kecilnya menangis tersedu seolah memohon agar semua mimpi buruk ini berakhir.

"hksss—hyung…Hyung!"

"hmhhm?"

Ketika tangan Sehun mengusap lembut punggung Jaehyun, adiknya semakin terisak disana. Menangis tidak bisa menahan diri karena begitu mencemaskan Luhan yang mungkin tidak akan pernah mau bicara lagi dengannya setelah ini "Bagaimana –hks- bagaimana Luhan hyung? Apa dia baik-baik saja?"

Sehun tersenyum kecil, dibisikannya kata-kata menghibur agar adik kecilnya tidak perlu merasa bersalah dan tak harus memikul semua kebencian Luhan pada hal yang tidak dia lakukan sama sekali "Jaehyun dengarkan aku, kau harus berjanji satu hal pada hyung."

"hmmh?"

Si remaja berlesung pipi menatap Sehun hyungnya. Dilihatnya samar kebahagiaan dari wajah Sehun karena rasa bersalah dan menyesal lebih mendominasi dan terlihat di wajah kakak kandungnya "Apa hyung?"

"Nanti, jika Luhan sudah resmi menjadi istriku, berjanjilah kau juga akan menjaga Luhan. Berjanji agar kejadian mengerikan ini tidak akan terulang lagi di hidup Luhan, kau mau kan?"

Tanpa ragu Jaehyun mengangguk lalu mengatakan "Tentu hyung."

"Bagus adik kecil."

"Tapi Luhan hyung membenciku."

"huh?"

Jaehyun menatap sendu kakaknya, sedikit tertunduk untuk kemudian menatap Sehun "Lu hyung yang mengatakannya, dia membenciku dan seluruh keluarga kita hyung, bagaimana ini?"

Bohong jika Sehun tidak terkejut dengan ucapan Jaehyun –tidak- sebenarnya dia juga tahu akhirnya akan seperti ini. Kebencian Luhan pada seluruh keluarganya benar-benar tidak bisa dielakan. Yang membuatnya bertanya apakah tidak ada pengecualian untuk Jaehyun, adiknya? Adik yang juga Luhannya cintai.

"hyung?"

Yunho tahu Sehun sudah pada batasnya bersikap baik-baik saja. Dan sebagai tertua dari antara mereka bertiga, dia mulai mengambil langkah. Dilepasnya pelukan Kyungsoo lalu dia berbisik di telinga sahabat adiknya untuk memberi pesan "Bawa Jaehyun keluar."

Setelahnya, Yunho menghampiri dua adiknya yang sangat tertekan, dan sebagai yang paling tua di ruangan ini dia berdiri di tengah Jaehyun-Sehun untuk memberi jarak agar Sehun setidaknya bisa menyembunyikan wajahnya yang kacau dan tida terlihat menyedihkan di depan adik mereka "Jae, tunggulah di luar bersama Soo hyung."

"Tapi Sehun hyung…."

"Biarkan hyung bicara dengan Sehun hyung. Kau dengar?"

Matanya memberi pesan tersirat pada si bungsu, meminta Jaehyun untuk segera keluar dan meninggalkan Sehun seorang diri saat ini "baiklah."

Yang paling muda jelas enggan meninggalkan ruangan, dia hanya ingin bersama hyung kesayangannya, menemani Sehun yang sedang menunggu Luhan lalu berjalan bersama ke depan altar. Tapi saat yang tertua di antara mereka memberi perintah, maka si bungsu hanya bisa mengangguk, tak bisa menolak permintaan kakaknya yang lain "Aku tunggu diluar."

"Soo hyung?"

Kyungsoo mengangguk, dirangkulnya lengan Jaehyun untuk berpamitan pada Sehun "Sehun, aku tunggu di luar."

Tak ada jawaban, Sehun hanya menundukkan kepala. Dia terlalu bingung dengan situasinya saat ini, terlalu sedih bersikap tak ada yang terjadi, dan terlalu hancur tak berani membayangkan rasa benci Luhan untuk keluarganya.

"Sehunna?"

Tinggalah kini dia dengan satu-satunya kakak yang dia miliki.

Kakak yang selalu menjaga dan mengalah padanya untuk segala hal.

Kakak yang selalu bersikap menjadi seorang ayah, ibu dan teman yang begitu setia. Tempatnya mengadu, menangis, bahkan bercerita tentang semua hal yang tak pernah diketahui oleh siapapun termasuk Luhan.

Terkadang Sehun sangat bersyukur karena Tuhan memberikan Yunho di hidupnya, karena jika tak ada Yunho maka bisa dipastikan pula dia hanya seorang pria menyedihkan yang tak memiliki tempat untuk mengadu.

"hyung," lirihnya dibalas senyum yang begitu menenangkan dari sang kakak "Ada apa adik kecil?" kakaknya membalas, membiarkan bahu lebar Sehun bergetar tanda bahwa adik kecilnya memang sedang terisak pilu karena terlalu sesak "Sehun."

Yang memiliki dagu lancip itu mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca menatap mata elang kakaknya untuk bertanya sangat ketakutan "Aku harus bagaimana?"

Dengan sabar Yunho bertanya "Apa?"

"aku...Aku bingung hyung, kepalaku sakit. Aku takut."

"Kenapa?"

"Aku bersikeras tetap melangsungkan pernihakan ini karena kupikir bisa menyelamatkan Luhan. Tapi aku salah hyung, aku egois. Pernikahan ini bukan untuk menyelamatkan Luhan tapi diriku."

"Sehun.."

"Apakah janji yang aku ikat dengan Luhan bisa disebut pernikahan jika semuanya berdasarkan rasa benci, marah dan putus asa? Aku bahkan tidak bisa merasakan cinta dari Luhan, semuanya sudah hilang diganti duka dan rasa bersalah."

"Sehun."

"Harusnya aku membiarkan dia pergi, harusnya aku-…."

"hey hey tenanglah adik kecil." Buru-buru Yunho memeluk erat tubuh Sehun, menenangkan adiknya yang terlalu gugup diiringi isakan kecil Sehun dan rasa bersalahya yang begitu dalam.

"Aku takut hyung. Aku benar-benar takut."

Seumur hidup Yunho. Selama dia mengenal adik kecilnya, Sehun. Ini adalah kali pertama dia melihat adiknya begitu ketakutan, Sehun tidak pernah seperti ini sebelumnya, tak ada hal yang bisa membuatnya begitu ketakutan, bahkan ketika ayah mereka melarang hubungannya dengan Luhan, Sehun tak pernah menunjukkan rasa takut sedikitpun.

Berbeda dengan hari ini, saat dimana Sehun mengatakan tak bisa merasakan cinta Luhan untuknya, dia begitu ketakutan. Adiknya juga terus meracau hal gila, membuat hatinya sebagai seorang kakak meremat sakit tak tega melihat adiknya begitu menderita.

Detik berikutnya Yunho melepas pelukan Sehun, digenggamnya kuat punggung adiknya untuk bertanya dengan tegas "Lalu bagaimana denganmu? Apa rasa cintamu juga hilang?"

Sehun tertawa namun terlihat marah, dia memalingkan sejenak wajahnya untuk menjawab tak kalah tegas pertanyaan kakaknya "Tidak akan pernah hilang, cintaku tidak akan pernah hilang untuk Luhan."

"Kalau begitu selesai."

"Apa?"

Yunho merapikan tuxedo putih adiknya. Tersenyum sangat mantap lalu menguatkan adik kecil yang sebentar lagi benar-benar menjadi dewasa karena menanggung hidup seseorang "Asal salah satu dari kalian masih memiliki cinta yang kuat. Maka rasa marah dan benci itu akan hilang dimakan kebersamaan kalian, dimakan cinta kalian."

Ucapan Yunho seperti sihir yang begitu ajaib untuk Sehun. Karena saat hyungnya mengatakan semua kalimatnya, maka secara tiba-tiba pula rasanya Sehun bisa bernafas lega. Dia merasa memiliki kekuatan yang bisa membuatnya untuk melanjutkan semua kisah cinta rumit miliknya dan Luhan.

Dia menatap takjub hyungnya lalu bertanya, untuk memastikan "Benarkah hyung?"

Yunho bisa melihat senyum di wajah adiknya, jujur dia senang tapi hatinya kemudian menangis pilu, mengabaikan fakta mungkin ini senyum terakhir yang bisa dia lihat dari wajah adiknya mengingat jika janji suci itu diucapkan, maka bisa dipastikan pula Luhan akan membawa pergi senyum dari wajah adiknya untuk waktu yang lama

"Tentu saja. Sejatinya tidak ada yang benar-benar bisa membuat cinta kalah dari rasa benci. Cinta akan selalu datang di saa yang tepat, pada orang yang tepat, dengan caranya sendiri. Jadi bertahanlah selagi rasa benci itu mengusai. Lagipula kau sudah mencintai Luhan selama dua puluh tahun. Apa kau ingin menyerah sekarang?"

"tidak akan pernah terjadi."

"Jika ya, kau adalah orang yang merugi. Bagaimana bisa kau mencintai seseorang untuk waktu yang lama tanpa mendapat balasan cinta darinya? Bagaimana bisa kau menyebutnya cinta jika tidak bisa membahagiakan seseorang yang kau cintai? Itu tidak masuk akal Sehunna. Tidak ada alasan bagimu untuk melepaskan Luhan terlebih saat semua kejadian mengerikan ini terjadi di hidupnya."

Sehun mendengarkan dengan seksama, meresapai kata demi kata yang diucapkan kakaknya. Memakmanai segala pertanyaan tersirat disana, lalu saat Yunho berhenti berbicara, Sehun tersenyum.

Memberi ucapan terimakasih terdalamnya dengan memeluk hangat kakaknya lalu tak lama mengangguk tanpa ragu untuk mengatakan "Segala yang kau katakan adalah benar sepenuhnya hyung. Tak ada alasan untukku menyerah atas cinta Luhan, aku sudah menunggunya selama dua puluh tahun dan akan menunggu cintaku berbalas untuk dua puluh tahun lagi, dua puluh tahun setelahnya, atau walau artinya aku harus hidup menderita dan mati tanpa rasa cinta Luhan, aku akan tetap menunggu."

"Bagus, sekarang lakukan pernikahanmu."

"Aku akan melakukannya hyung. aku akan melakukannya."

"Sehun!"

Dua kakak-beradik itu menoleh, mencari ke arah yang memanggil untuk menemukan Baekhyun yang sedang berjalan dekat ke arahnya "Ada apa?"

Sehun bertanya seraya memeluk sahabatnya yang lain, dibalas pelukan singkat dari Baekhyun untuk mengatakan "Sebaiknya kau segera turun, pendeta sudah menunggu di altar."

"Lalu dimana Luhan?"

Yunho yang bertanya, dibalas senyum kecil dari Baekhyun untuk tak berkedip menatap Sehun seolah menyampaikan rasa bahagianya untuk teman kecilnya "Kai dan Chanyeol sedang dalam perjalanan untuk membawa Luhan kesini."

.

.

.

.

.

.

.

.

Sementara itu…

.

Di tempat yang berbeda namun menuju acara yang sama. Terlihat dua pria tampan ditemani pria cantik yang juga menggunakan tuxedo berwarna putih. Tuxedo senada dengan calon suaminya, Sehun.

Namun berbeda dengan calon suaminya yang terlihat tampan, maka segala kecantikan dan kesempurnaan ditunjukkan Luhan –sang mempelai pria- yang kini sedang menuju tempat acara pernikahannya ditemani dua sahabatnya.

"Aku tidak percaya kau benar-benar akan menikah Lu. Benar kan yeol?"

Yang sedang menyetir mobil melihat dari kaca spion. Memperhatikan Kai dan Luhan yang duduk di kursi belakang sementara dia hanya tersenyum seraya mengangguk dan menjawab pertanyaan Kai "Kau benar Kai. Aku bahkan sangat gugup."

Senyum memang terlihat di wajah dua pria tampan Luhan, tapi sama seperi Kyungsoo dan Baekhyun yang sedang menemani Sehun, maka Kai dan Chanyeol juga terlihat sedih dengan mata sembab yang terlihat. Mereka sedang menguatkan Luhan, berharap pernikahan sahabat kesayangan mereka tidak dipenuhi duka dan kesedihan yang begitu terasa seperti saat ini.

"Lu."

Selama perjalanan Kai terus menggenggam tangan Luhan, memberi kehangatan sementara yang terasa hanya dingin di seluruh tubuh Luhan. Luhan sendiri tak mengeluarkan satu kata apapun selama dua puluh menit perjalanan, yang dia lakukan hanya diam dengan mata yang melihat sisi jendela, menatap kosong entah memikirkan apa.

"Seharusnya kau bahagia Lu."

Itu adalah harapan terbesar yang sangat Kai inginkan terjadi pada Luhan, harapan dimana Luhan berteriak dan terus memekik karena pernikahannya, bukan diam dan cenderung menatap kosong seperti yang dia lakukan saat ini.

"Luhan…"

Bagaimana bisa kau menikahi putra dari pembunuh orang tuamu? Apa kau gila?

Sementara Kai terus berbicara padanya, maka pikiran Luhan tidak berada di tempatnya. Ya, Luhan benar-benar tidak bisa berfikir jernih saat ini. Saat dimana seluruh perkataan Doojoon memenuhi isi kepalanya.

Aku akan membalasnya dengan pernikahan.

Kau terlalu munafik Luhan, kau hanya menyelamatkan dirimu sendiri dengan pernikahanmu!

Malam tadi, tepat setelah dia mengangguk dan memberi persetujuan untuk menikah dengan Sehun, tanpa diduga Doojoon datang ke rumahnya. Awalnya dokter yang mengumumkan kematian sang mama hanya ingin memberi ucapan belasungkawa, tapi saat Luhan mengundangnya ke acara pernikahannya dan Sehun, saat itu juga pria yang pernah bertahan hidup dengannya berteriak murka dan entah mengapa terlihat sangat marah.

Batalkan pernikahanmu atau kau akan menyesal seumur hidupmu LUHAN!

Tak ada yang mengetahui kedatangan Doojoon, Kai dan Chanyeol sudah terlelap sementara Sehun dan dua sahabatnya sudah pulang untuk mempersiapkan hari ini.

Semua terjadi tiba-tiba.

Dengan caraku, aku akan membantumu membalaskan dendam orang tuamu

Caramu?

Entah mengapa Luhan memiliki firasat bahwa Doojoon mengetahui hal yang tidak diketahuinya. Hal yang membuat Luhan merasa harus mencari tahu tapi dia tak mengerti harus dimulai darimana.

Jadi ketika Doojoon menawarkan bantuan untuk membalas Jaksa Oh hingga merasakan sakit yang sama dengannya, Luhan tergoda.

Kita akan menyakiti mereka perlahan, menghancurkan mereka sampai hanya kematian yang mereka inginkan, bagaimana?

Jahat memang, tapi sungguh. Saat ini yang diinginkan Luhan hanya membalas kematian dua orang tuanya. Yang dia inginkan membalas jaksa agung yang bersembunyi di balik jubah kehormatannya, yang dia inginkan menyakiti Jaksa Oh meskipun itu harus melalui istri atau ketiga anaknya, dia bahkan sangat tergoda untuk membalas Jaksa Oh melalui pria yang sangat mencintainya, yang akan merelakan nyawanya jika dia meminta, yang akan hancur jika dia menyuruhnya, Sehun.

ya-….Luhan sudah dibutakan oleh dendam. Hal yang diinginkannya hanya membalas siapapun yang telah merenggut kebahagiannya, Alasan itu pula yang membuat Luhan terlihat sangat mengerikan. Karena malam tadi, Luhan menerima tawaran Doojoon, menyetujui hal gila yang direncanakan Doojoon untuk mengatakan Ya, aku ikut rencanamu

"Luhan."

Dan saat tangan Kai menyadarkan seluruh hatinya yang dingin dan beku, Luhan terkesiap. Sesaat dia merasa begitu nyaman, menyayangkan bahwa dari rencana balas dendamnya akan menyeret pula Kai dan Chanyeol menuju penderitaan.

"hmmh?"

Akhirnya dia merespon, ditatapnya Kai yang terlihat sangat tampan dengan jas hitamnya untuk tersenyum kecil namun seperti biasa, tatapannya kosong "Ada apa?"

"Apa kau bahagia?"

Luhan memalingkan lagi wajahnya, enggan membicarakan kebahagiaan sementara hancur adalah hal yang dirasakannya saat ini "Aku tidak bahagia."

"Luhan."

"Dan aku tidak ingin menikah."

Seiring dengan kalimat aku tidak ingin menikah yang dilontarkan Luhan, maka disaat yang sama pula suasana di dalam mobil menjadi mencekam dipenuhi rasa takut. Chanyeol bahkan sengaja melajukan lambat mobilnya sementara tangan Kai berkeringat menggenggam jemari Luhan. "Apa yang kau bicarakan sayang?"

"…"

"Luhan?"

Chanyeol yang memanggil, sahabat yang memiliki lesung di pipinya menoleh sekilas hanya untuk mendapat jawaban bungkam dari Luhannya "Lu, kumohon tenangkan pikiranmu, kita akan segera sampai dan pernikahan ini akan membuatmu bahagia."

Setiap kali mendengar kata bahagia, Luhan geram. Dia kemudia melepas genggaman Kai di jemarinya, membiarkan rasa dingin menghinggapi tangan hingga hatinya. Dia juga tidak peduli hati siapa yang akan dia sakiti karena keputusannya. Apakah hati Sehun, hati Kai, hati Chanyeol atau bahkan hatinya sendiri, dia tidak peduli. Dia hanya akan tetap pada keputusannya dan memberi rasa sakit pertamanya pada Sehun "Aku tidak akan menikah."

"Luhan."

Yang dipanggil namanya menoleh, tak ada lagi raut sedih di sorot mata cantiknya. Dia hanya menatap Kai dan Chanyeol bergantian untuk mengulang kalimatnya dengan jelas "Aku tidak akan menikah dengan bajingan itu. Jadi hentikan mobilnya, aku ingin kembali dirumah."

"Luhan apa yang kau bicarakan?"

Dengan sengit, Luhan menatap Kai untuk mengatakan "Kau dengar apa yang aku bicarakan."

"Tapi Sehun dan yang lain sedang menunggu."

"Pikirmu aku peduli?"

"Luhan."

"Chanyeol hentikan mobilnya."

"Luhan, sayangku. Tenangkan hatimu, kau akan menikah dalam beberapa menit. Kumohon-…."

"HENTIKAN MOBILNYA!"

"yeol!"

Saat Luhan berteriak, saat suara Kai putus asa meminta Chanyeol mengikuti keinginan Luhan, maka disaat yang sama kaki Chanyeol refleks menepikan mobil dan tak lama mobil yang akan membawa Luhan pada bahagianya terhenti di pinggir jalan dan terlihat sangat menyedihkan.

"Terimakasih."

Cklek!

BLAM!

Kai kembali menutup pintu mobil yang dibuka oleh Luhan, mencegah kepergian pria mungil mereka dengan meminta kunci otomatis pada Chanyeol

Klik!

"Apa yang kalian lakukan?"

"Kami yang harusnya bertanya!"

Suara Kai tak lagi lembut, tatapan Chanyeol juga terlihat sangat kecewa. Jadi ketika dua pria yang paling berharga untuknya juga menyatakan perang, Luhan semakin hancur.

Refleks, dia menghempas tangan Kai untuk memukul jendela mobil, berharap Chanyeol membuka pintunya agar dia bisa segera pergi.

"BUKA PINTUNYA YEOL!"

DOR…DOR….

"BUKA PINTUNYA!"

Pergelangan tangan Luhan sudah sangat berwarna merah, namun sepertinya dia tidak akan berhenti sampai tujuannya terpenuhi, tujuan untuk segera pergi dan membalas Jaksa Oh dengan segala cara yang mungkin bisa membuatnya lebih baik.

"Kai buka pintunya."

"….."

"Yeol, Kumohon."

"….."

"hksss….ARRGGHH!"

Saat kesalnya berada di puncak, Luhan merasakan tangan kasar Kai menarik lengannya. Detik berikutnya Luhan sudah berada di pelukan Kai dengan Chanyeol yang lagi-lagi menggenggam jemarinya. "Tenanglah."

"Aku ingin pulang."

Chanyeol mengecup jemari Luhan untuk mengatakan "Kita akan pulang."

"huh?"

Menyadari nada Kai dan Chanyeol sudah seperti dua prianya, Luhan menjadi sedikit lebih tenang. Dia pun melepas pelukan Kai untuk menatap bingung pada dua sahabatnya "Kita akan pulang?" katanya bertanya, sementara tangan kasar Kai sedang mengusap lembut air matanya

"Ya, kita akan pulang jika itu yang kau inginkan."

"Aku akan pulang sendiri."

"Tidak, mulai saat ini, apapun yang menjadi keputusanmu, kami akan disana menemanimu, mendukung keputusanmu."

"Apa maksud kalian?"

Luhan bisa merasakan dua prianya terlihat sangat sedih, mata mereka sendu berkaca-kaca namun bibir mereka tersenyum dan terus mengusap jemari serta punggungnya agar merasa lebih baik.

"Jika kau tidak akan menikah dengan Sehun, maka kami juga tidak bisa bersama Baekhyun dan Kyungsoo."

"Apa yang kalian bicarakan?"

"Kai."

Kai mengangguk, dirogohnya saku jas hitam yang ia kenakan lalu menyerahkan ponsel pada Chanyeol. "Ini." Chanyeol pun mengambil cepat ponsel miliknya di dashboard, membuka cepat jendela mobil lalu tak lama

BRAK!

"YEOL!"

Luhan memekik tatkala dengan santai Chanyeol membuang ponsel miliknya dan Kai. Bertanya-tanya apa maksud dua temannya untuk menemukan fakta bahwa selamanya, dari awal Luhan mengenal Kai dan Chanyeol, keuda prianya tidak pernah main-main dengan ucapan mereka "Kau lihat? Kami juga sudah kehilangan hidup kami." Katanya sendu menutup jendela mobil.

Sesaat Chanyeol tidak bisa menatap Luhan, dia menenangkan diri beberapa detik lalu kembali menoleh dan mengambil tangan Luhan "Kami juga sudah membuat keputusan."

"Apa?"

Kai yang terdengar menghela nafas, dan saat wajah Luhan terlihat cemas, raasnya tersenyum adalah hal yang Kai lakukan agar Luhan tak lagi merasa bersalah. Ini keputusan mereka, dan apapun yang terjadi Luhan tidak berhak menyalahkan diri "Jika bukan Sehun, kami tidak akan membiarkan pria lain mendekatimu."

"Atau memilikimu." Timpal Chanyeol

"Dan itu artinya," Kai kembali bersuara diikuti lagi-lagi suara berat Chanyeol ikut terdengar "Jika kau membatalkan pernikahanmu dengan Sehun, maka aku dan Kai…"

"Kami juga tidak akan menikah dengan Baekhyun dan Kyungsoo."

DEG!

Ini serangan balik dari dua prianya, Luhan tahu.

Mereka menggunakan nada lembut untuk mengancam, Luhan tahu.

Jadi ketika dua prianya lagi-lagi menatap lembut namun terus mengatakan hal gila yang mengancamnya, Luhan geram.

Dihempasnya kasar tangan Kai maupun tangan Chanyeol untuk terkepal begitu erat seraya mendesis "Bajingan. Apa kalian gila?"

"Kenapa?"

"Kenapa kau bilang?" Luhan berseru marah pada Kai. Tangannya mengusap kasar wajahnya untuk menatap geram pada dua prianya "Kau membicarakan tentang meninggalkan Baekhyun, kekasihmu." Katanya menggertak Chanyeol untuk beralih pada Kai "Dan Kau! Kau sedang berbicara tentang meninggalkan Kyungsoo dan calon bayi kalian. Apa kau gila HAH?!"

"tidak / kami tahu apa yang kami katakan."

"brengsek! Brengsek! ARRGHH!"

Lagi-lagi Luhan memukul jendela mobil, tapi kali ini Kai sedikit lebih cepat menarik lengan Luhan dan kembali mendekap paksa pria mungilnya "LEPAS! SIALAN LEPAS!" Kai pasrah saat tangan Luhan memukul kencang dadanya. Membiarkan si mungil melakukan apapun walau keadaannya juga jauh dari kata baik-baik saja, begitupula Chanyeol.

"Luhan,"

"Apa kalian sedang mengancamku. Kenapa jahat sekali."

"tidak / kami tidak mengacammu."

"hkss…Lalu kenapa Kai? Kenapa yeol? Kenapa?"

"Kalau begitu biarkan kami bertanya." Kai melepas pelukan Luhan, dihapusnya air mata yang sejak kemarin terus terlihat diwajah cantik Luhan untuk kemudian tersenyum dengan tangan yang mengusap lembut tangan Luhan "Apa kau akan tetap tidak akan menikah dengan Sehun?"

Luhan terisak begitu pilu, bahu kecilnya bergetar hebat sementara dia mengangguk seolah tak ingin namun tetap dia paksakan "Aku tidak mau menikah dengannya."

Baik Kai maupun Chanyeol memejamkan kuat mata mereka, mencoba memaklumi bahwa rasa benci Luhan yang tumbuh untuk Sehun semakin kuat, mencoba memaklumi segala kebencian Luhan untuk Sehun sementara perasaan dan cinta mereka ikut dikorbankan dalam hal ini.

"Baiklah." Buru-buru Chanyeol menghapus cepat air matanya, menggenggam jemari Luhan untuk kembali berujar "Begitupula dengan kami, kami juga tidak akan menikah dengan sahabat dari pria yang telah menyakiti pria kami."

"hkss…."

"Jangan menangis Luhan, kau bahkan tidak menangis saat pemakaman. Tapi kenapa sekarang menangis? hmm" Kai mengecup kepala Luhan hanya untuk menenangkan si pria mungil yang benar-benar dimakan rasa bersalah saat ini.

"hksss…"

"sssh….Ada aku dan Chanyeol, kau tidak sendiri lagi."

Luhan mengangkat wajahnya, menatap hancur dua prianya untuk bertanya pada Chanyeol "Lalu bagaimana dengan Baekhyun?" katanya terisak dibalas kesedihan yang begitu terlihat di wajah pria berlesung pipi di depannya "Sehun akan menjaganya. Aku yakin hal itu."

"Lalu Kyungsoo?"

Kai menangis, air matanya menetes. Bulan depan adalah tanggal pernikahannya dengan Kyungsoo, harusnya dia sudah menjadi suami dan akan segera menjadi ayah dalam beberapa bulan. Tapi keputusan tetap keputusan, meskipun dia sangat menyayangi Kyungsoo dan calon bayinya, meskipun harusnya dia berada saat persalinan Kyungsoo, Kai meyakini Kyungsoonya akan baik-baik saja dan tetap menjadi kuat walau tanpa dirinya, berbeda dengan pria mungil di depannya, rapuh dipenuhi dendam.

Kai tidak bisa membiarkan Luhan hidup seperti itu, terlepas dari kematian dua orang tuanya, Luhannya memang begitu rentan terhadap sesuatu, dan karena hal itu pula dia hanya akan menjadi Kai seperti dua puluh tahun lalu, Kai yang terus menjaga Luhan, namun kali ini bukan sebagai teman, tapi sebagai keluarganya.

"Kai?"

"hmhh?"

"Bagaimana dengan Kyungsoo?"

Si pria tampan menghapus air matanya, dia kemudian mengecup kening Luhan untuk berkata sangat lirih "Sama seperti kami yang akan selalu menjagamu, maka aku yakin Sehun juga akan melakukan hal yang sama. Dia akan menjaga Baekhyun, Kyungsoo dan bayiku dengan baik, dengan nyawanya, seperti kami melakukannya padamu. Aku yakin itu."

"Kai…"

"jja. Aku rasa kita harus kembali ke rumah Yeol. Tidak buruk memulai sesuatu bertiga dari awal, iya kan Lu?"

"…"

"ya! Baiklah kita pergi."

Luhan bisa melihat bagaimana Kai dan Chanyeol menghapus pilu air matanya. Bagaimana kedua prianya terlihat sangat sedih. Tapi alih-alih mengalah dan membiarkan pernikahannya dan Sehun tetap berlangsung, Luhan lebih memilih merenggut kebahagiaan kedua temannya.

Egois memang.

Tapi sejujurnya dia tidak bisa kehilangan semua yang dicintainya dalam satu waktu. Setelah kedua orang tuanya, Luhan tak bisa kehilangan dua teman kecilnya juga, tidak bisa.

"mianhae Kai, Yeol.."

.

.

.

.

.

.

.

.

Dari jarak beberapa ratus meter, tiga pria yang harusnya sudah tiba di gereja belum juga terlihat. Gereja yang akan menjadi tempat Sehun–Luhan mengikat janji suci terlihat sudah siap dan hanya tinggal menunggu satu mempelai prianya yang harusnya tiba satu jam yang lalu.

"Mengapa mempelai pria yang lain belum juga datang?"

Membuat beberapa tamu dan kerabat mulai cemas dan bertanya-tanya dimana Luhan. Berbeda dengan Sehun –sang mempelai pria- yangtetap tenang berdiri di depan altar di temani pendeta yang masih tetap tersenyum seolah menguatkannya. "Apa kau akan tetap menunggu?"

"Tentu saja bapak. Aku akan tetap menunggu."

"Baiklah."

"Baek bagaimana? Apa kau bisa menghubungi Chanyeol?"

Baekhyun sudah menangis karena cemas, dia menggeleng kuat untuk menunjukkan ponselnya yang tetap tidka bisa menghubungi kekasihnya sejak satu jam yang lalu "Belum Soo, Chanyeol tidak mengangkat ponselnya."

"Kai juga melakukan hal yang sama. Apa yang terjadi pada mereka?"

"entahlah Soo. Aku hanya takut Luhan merubah pikirannya."

Sehun menikmati bisik-bisik yang terdengar. Nyatanya sudah satu jam dia berdiri disana, menunggu untuk menggenggam jemari Luhan namun si pemilik jemari tak kunjung datang menggapai genggaman tangannya.

Pilu memang, Sehun bahkan sudah bisa menebak apa yang terjadi saat ini. Luhan mungkin berubah pikiran dan hanya berjalan pergi meninggalkan pernikahan mereka, meninggalkannya seorang diri di hari yang harusnya menjadi hari bahagia mereka.

"haaah…."

Sehun menundukkan kepalanya, memohon pada Tuhan untuk memberikan sedikit keajaiban padanya. Keajaiban agar dia tetap bisa mengikat janji dengan Luhan, keajaiban agar tebakannya salah dan Luhan tetap melangkah dan menemaninya di depan altar, semoga.

Tes!

Dan sepertinya Tuhan sedang mengabarkan kabar buruk untuknya, karena daripada memberikan keajaiban, Tuhan lebih memilih menurunkan hujan di pagi yang tadinya begitu cerah, lebih memilih memberikan kesedihan di pagi yang harusnya menjadi hari bahagianya dan Luhan.

Tes

Tes

Tes

Hujan turun semakin deras, dan tepat di halaman gereja yang disulap Sehun menjadi tempatnya mengikat janji, semua menjadi basah dan berlindung. Semua, kecuali Sehun dan bapak pendeta yang tetap berdiri disana walau pakaian masing-masing dari mereka telah basah karena hujan yang semakin deras.

Tes

Tes

Tes

"hkss…"

Setidaknya Sehun bisa berterimakasih pada hujan yang kini menetes. Karena dari derasnya hujan dia bisa sedikit menangis membaurkan air mata dengan air hujan. Menangis pilu tanpa harus membuat sahabat dan keluarganya bersedih karena air matanya "hkss…"

Bahunya bergetar pilu, lalu detik berikutnya Sehun terus menangis menyuarakan kehilangannya atas Luhan di hari bahagia mereka "Luhan, sayangku." Paraunya begitu pilu, membiarkan bapak pendeta melihat betapa menyedihkannya dia tanpa harus menjelaskan satu kalimat apapun padanya.

"Nanti, suatu saat nanti. Tuhan pasti mengembalikan belahan jiwamu nak, bertahanlah untuk menjadi kuat mulai hari ini."

Ditengah derasnya hujan terdengar nasihat bapak yang begitu menenangkan hati Sehun. Nasihat bapak yang mengatakan janji Tuhan untuk menyatukan dua belahan jiwa adalah benar tanpa kebohongan sedikit pun. Dia pun mengangguk lalu berujar sangat lirih "Aku akan terus bertahan dan menjadi kuat bapak, terimakasih."

"Sehun."

Bersamaan dengan rasa terimakasihnya, Sehun bisa merasakan masing-masing dari Baekhyun dan Jaehyun membawakan payung untuknya dan bapak pendeta. Meminta mereka untuk segera berteduh namun hanya diam yang diterima Jaehyun serta Baekhyun sebagai jawaban dari Sehun.

"hyung…Ayo berteduh. Kita akan menunggu lagi setelah hujan reda." Kali ini si bungsu yang membujuk kakaknya. Berharap Sehun merespon namun nyatanya hanya diam yang lagi-lagi diterima sebagai jawaban.

"hyung! Ayo berteduh dan ganti pakaian. Kau tidak bisa menikah dengan keadaan seperti ini!"

"Tidak perlu."

"huh?"

"Sehun? Ada apa?"

Wajahnya yang tertunduk kini terangkat, dia menatap Baekhyun di sampingnya untuk beralih menatap Jaehyun di depannya. Dia tersenyum, namun Jaehyun bersumpah bisa melihat air mata kakaknya menetes bersamaan dengan ucapannya yang mengatakan "Batalkan pernikahanku."

"Mwo? / Sehun apa yang kau bicarakan?"

Sontak jawaban Sehun membuat wajah Baekhyun dan Jaehyun begitu tegang. Keduanya juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat Sehun membalikan tubuhnya, bersiap melangkah pergi, untuk sekali lagi mengatakan "Batalkan pernikahanku. Luhan tidak akan datang, tidak akan pernah datang."

"Sehun…"

Sementara bisik-bisik kembali terdengar, maka sang calon pengantin kini berjalan menerobos hujan, berjalan gontai seperti kehilangan hidupnya untuk terus melangkah pergi, Sehun sempat berpapasan dengan Yunho dan Kyungsoo, tersenyum lirih menyapa dua pria yang begitu berarti di hidupnya untuk kembali berjalan, meninggalkan tempat yang harusnya menjadi tempat bahagianya bersama Luhan.

Meninggalkan tempat yang mulai hari ini, akan memberikan rasa trauma dan kepedihan yang begitu dalam untuk Sehun, selamanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku ada

Selalu ada

Kau hanya tidak melihatku

Atu memang tidak mau,

Entahlah….

Aku tidak akan beranjak kemanapun

Sebab cintaku, kau pemiliknya

Sebab hidupku, kau yang mengendalikan

Jadi jangan salahkan aku,

Salahkan hatiku, dia yang menginginkanmu.

-osh-

.

.

.

.

.

.

.

.

A year later…..

.

.

.

Pagi ini matahari bersinar sangat menghangatkan, terlalu hangat hingga membuat siapa saja tersenyum karena sapanya yang begitu indah pada seluruh insan ciptaan Tuhan.

Namun seolah tak mau kalah, semilir angin juga tetap menyejukkan, hingga hati siapapun yang merasakan akan tersenyum karena sepoinya begitu menggoda, seolah meminta kita untuk tidak melakukan apapun dan hanya bermalasan sepanjang hari.

"Andai kau datang bersamaku."

Yang bergumam sendu adalah seorang pria tampan yang ditinggalkan tepat di hari pernikahannya. Pria yang bahkan setelah ditinggalkan tidak menyerah sedikit pun pada cintanya yang kini bertepuk sebelah tangan sama seperti dirinya dulu sewaktu kecil.

"haah~"

Pertanyaannya? Apa dia baik-baik saja?

Ah~

Lebih baik jangan tanya bagaimana kabarnya hingga saat ini,

Kenapa?

Karena menyedihkan sudah menjadi jati dirinya selama satu tahun.

Dalam waktu satu tahun tak ada perubahan berarti yang dialami oleh seorang Oh Sehun, ya kecuali menjadi semakin tampan, selebihnya semua sama. Dia masih bernafas, masih hidup, masih memiliki segalanya kecuali cinta dan masih menjadi seorang pria yang begitu mencintai pria cantiknya, Luhan.

Cintanya tak berbalas, semua orang tahu itu.

Karena daripada cinta, Sehun cenderung mendapatkan caci dan hina dari sang dokter yang kini menetap dengan dua sahabatnya.

Kabarnya baik, tentu saja. Karena selain bekerja, hal yang selalu Sehun utamakan adalah kabar mengenai kabar dari prianya setiap waktu –tidak- terkadang di waktu luangnya, Sehun akan memastikan sendiri kabar Luhannya walau semua bisa menebak hanya caci hina yang akan diberikan Luhan untuknya, selalu seperti itu selama satu tahun.

"Sudah satu tahun ya?"

Pria tampan itu tersenyum rindu, sengaja memakai kacamata hitam untuk berjaga-jaga jika dia menangis setidaknya tak ada yang mengasihaninya lagi.

Sejujurnya dia bosan dikasihani, jadi rasanya pula, walau hatinya bergemuruh rindu, dia akan tetap menjadi pria yang bisa menangis tanpa harus dikasihani,

"Aku tidak sabar bertemu dengan kalian." Katanya parau dengan tangan yang menggenggam dua buket bunga untuk berjalan menyusuri taman yang ditata begitu indah dengan berbagai nama yang mengelilingi setiap tanah yang dicintai keluarga masing-masing.

Sehun terus berjalan menyusuri tempat yang disebut pemakaman, kadang langkahnya gontai, kadang dia berhenti sejenak, lalu tak lama kembali berjalan mencari dua nama pasangan yang harusnya menjadi ayah dan ibu mertuanya satu tahun yang lalu.

Tap!

Dia berhenti lagi, mengambil nafas banyak-banyak karena begitu sesak.

Selalu seperti ini selama satu tahun, tiap kali dia berkunjung ke pemakaman orang tua kekasihnya –begitulah Sehun menyebut Luhan hingga saat ini- maka rasanya dia kehilangan wajah dan selalu menjadi lemah karena rasa bersalahnya.

"haaah~…"

Dia mendongak sejenak, detik berikutnya menundukan kepala dengan cairan bening membasahi wajahnya. Hatinya bergetar pilu diiringi rasa duka dan lukanya yang semakin besar walau satu tahun telah berlalu.

"Ma...Pa..."

Sampailah kakinya berpijak tepat di depan makam kedua orang tua kekasihnya, begitu Sehun menyebut Luhan hingga saat ini. Walau nyatanya Luhan menganggap Sehun sebagai kesalahan terbesar dalam hidupnya, tapi Sehun tetap menganggap Luhan sebagai hidupnya. Terlepas dari rasa bencinya yang begitu hebat untuknya, Sehun tetap memiliki keyakinan bahwa nanti, suatu saat Luhan akan kembali padanya, entah bagaimana caranya.

"Aku datang." Paraunya terdengar begitu lirih, si pria tampan kemudian berjongkok tepat di makam kedua orang tua Luhan untuk meletakkan masing-masing buket bunga yang sengaja ia pesan khusus untuk hari ini.

Sehun terdiam sejenak, menikmati semilir angin yang menerpa wajah seraya membuka kacamata hitamnya, menikmati seluruh kenangan terburuk yang pernah terjadi di hidupnya "Maafkan aku belum bisa membawa Luhan bersama kalian. Dia masih terlalu marah padaku, terlalu benci hingga rasanya sangat sulit untukku menggapainya. Maaf."

Sebagai penyesalannya, Sehun tertunduk cukup lama. Mengulang semua kenangan buruknya hanya untuk mengingatkan bahwa sampai akhir nafasnya nanti, Luhan akan menjadi semua alasan dirinya untuk bertahan hidup, selamanya.

"Tapi aku janji."

Si pria tampan kini mengangkat wajahnya, membiarkan air mata jatuh membasahi wajah hanya untuk menunjukkan bahwa luka yang dialami Luhan masih sama membekas pada dirinya. Jadi ketika Luhan merasa terluka, dia akan lebih terluka. Ketika Luhan begitu murka, dia akan menerima. Semua sudah ia jalani selama satu tahun semata-mata hanya untuk rasa cinta serta rasa bersalah yang akan ia tanggung sepanjang hidupnya.

Sehun tersenyum pilu, diusapnya dua nisan kedua orang tua Luhan seraya mengucapkan janji untuk membawa Luhan bersamanya, secepat mungkin.

"Nanti, tidak akan lama lagi. Luhan akan mengunjungi kalian, aku janji."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sementara itu...

.

.

Cklek...!

Keadaan berbeda ditunjukkan oleh penghuni rumah sederhana yang ditempati oleh tiga pria dewasa. Dua diantaranya sangat tampan sementara yang satu berparas cantik namun dipenuhi dendam dan luka di seluruh tatapannya selama satu tahun ini.

"Luhan sayang. Kau sudah bangun?"

Yang bernama Luhan adalah yang berparas cantik. Rambutnya berwarna merah kecoklatan dengan style rambut diturunkan hingga membuat kesan imut padanya jelas terlihat. Jika dilihat dari caranya tersenyum dan parasnya yang begitu lembut, maka orang akan mengira bahwa dia adalah seseoang yang hatinya bagai malaikat, memang. Pada kenyataannya dia memang seorang pemuda yang baik hati, seorang dokter yang peduli pada pasiennya dan tak pernah sekalipun mengeluh dalam pekerjaan.

Ya, semuanya akan terasa sempurna jika pada beberapa orang dia tidak menyimpan kebencian. Kebencian yang membuatnya terlihat mengerikan hingga terkadang membuatnya tidak berbeda dengan seorang psikopat gila. Dan sialnya, semua itu hanya dia tunjukkan pada satu-satunya pria yang hingga saat ini masih terus berkeliaran di hidupnya, di pikirannya, terkadang bahakan dihatinya "Ya, sudah bangun." Katanya berujar malas disambut kekehan oleh dua prianya.

"Kau mau makan apa?"

"Roti strawberry." Katanya menjawab asal lalu menidurkan kepalanya di meja makan, kembali memejamkan mata.

"Aku lelah."

Seluruh pekerjaannya di rumah sakit benar-benar menguras tenaga, jadi wajar jika si pria cantik terlihat sangat kelelahan walau sifat manjanya tidak akan pernah hilang selelah apapun dia.

"Sangat lelah?" Chanyeol bertanya, tangan besarnya mengusak kepala Luhan sementara tangannya yang lain sedang mengaduk cereal untuk si pria cantik "Minum dulu cerealmu."

Tak berlama-lama Luhan mengangguk. Dia kemudian meminum rakus cereal yang disiapkan Chanyeol untuk melirik roti strawberry yang sedang diletakkan Kai di meja makan.

"Makan sarapanmu lebih dulu."

"Oke."

Hari ini hari liburnya, jadi wajar jika Luhan ingin bermalasan sepanjang hari. Berniat untuk kembali tidur setelah sarapan sebelum menemukan sesuatu yang berbeda dari dua temannya pagi ini.

Tampan

Itulah satu kata yang menggambarkan penampilan Kai dan Chanyeol pagi ini. Keduanya sama-sama menggunakan kemeja hitam dengan merk yang sama. Yang membedakan Kai melipat kemeja sampai ke lengan tangan sementara Chanyeol terlihat rapih lengkap dengan jas yang biasa dia gunakan ke kantor.

Ya, Awalnya Luhan mengira dua pengusaha muda yang tinggal satu atap dengannya ingin pergi bekerja. Tapi saat matanya menangkap dua buket bunga cukup besar diletakkan di meja tamu maka rasanya terlalu berlebihan jika mereka ke kantor dengan dua buket besar yang ada di rumah mereka.

"Kalian mau kemana? Kenapa ada buket dan karangan bunga?"

Luhan menangkap tatapan yang tak biasa dari Kai dan Chanyeol. Keduanya seolah menatap tak percaya padanya sementara yang sedang ditatap tetap bertahan pada kondisinya yang memang tidak mengingat apapun tentang hari ini.

"Ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?"

Chanyeol yang pertama memberi respon, dijauhkannya seluruh mangkuk sarapan Luhan untuk memberitahu pria cantiknya "Apa kau benar-benar lupa?"

"Apa?"

"Hari ini?"

"Ada apa hari ini?" Luhan masih bersikeras tidak mengetahui apapun hari ini. Membuat kali ini Kai yang merespon dan terlihat sama jengahnya dengan Chanyeol "Luhan, hari ini peringatan kematian Mama dan Papa."

Luhan berhenti mengunyah makanannya. Sungguh, tiap kali seseorang membicarakan tentang kematian kedua orang tuanya maka rasanya pula dia seolah diingatkan oleh seluruh penyebab kematian mengerikan dua orang tuanya.

Mual adalah hal yang paling sering dirasakan, lalu setelahnya dia akan mengalami sakit kepala hebat karena merasakan benda tajam menancap dalam di hatinya, membuat sebuah lubang besar hingga hanya kemarahan yang mengisinya. Terlalu besar hingga sesak adalah hal yang kerap dirasakan Luhan setiap diingatkan pada kedua orang tuanya.

"Peringatan kematian siapa?" Katanya mengulang lirih, berharap Kai ataupun Chanyeol berbaik hati membohonginya namun sayang, dua temannya justru semakin mendorong Luhan dan memaksanya masuk ke dalam kenangan terburuknya.

"Kedua orang tuamu. Hari ini tepat satu tahun kematian Papa dan Mama. Kau, aku dan Kai. Kita bertiga akan-..."

PRANG!

"CUKUP!"

"Luhan!"

Dan inilah Luhan yang terlihat seperti seorang psikopat gila. Jika dia sedang murka, maka seluruh benda di depannya akan menjadi pelampiasan, dia juga tidak segan untuk menyakiti siapapun yang memaksa atau menekannya terlalu kuat hingga hanya sakit yang dirasakan tubuhnya.

"KENAPA AKU HARUS MEMPERINGATI KEMATIAN PAPA MAMA? MEREKA BELUM MATI! KELUARGA OH YANG AKAN MATI! MEREKA YANG AKAN KUBUNUH!"

"Lu, tenang."

Hal gila yang bisa terjadi pada Luhan adalah cara berpikir dan cara berbicaranya. Beberapa kali Kai dan Chanyeol ingin mendaftarkan Luhan ke psikiater, berharap dengan bebrbicara seorang ahli akan membuat Luhan lebih menerima kenyataan dan tak selalu mengatakan ingin membunuh keluarga Oh sebagai pelampiasan rasa marahnya.

"BAGAIMANA BISA AKU TENANG! MEREKA MEMBUNUH KEDUA ORANG TUAKU! MEREKA-..."

"LUHAN!"

Kai gusar, dia tahu Luhan mencari sebilah pisau. Setelahnya dia akan mulai menggores nadinya seperti delapan bulan yang lalu.

Luhan harus disadarkan, dan satu-satunya cara adalah bersuara lebih keras dari racauan gila yang terus dia teriakan. Kai melakukannya.

Lalu detik kemudian Luhan menatap marah untuk tersenyum mengerikan melihat dua pria yang begitu bersabar menghadapinya selama satu tahun "Apa? Kenapa berteriak padaku? Ingin mengatakan aku gila? Atau ingin mengatakan aku sudah keterlaluan?!

"Kau gila dan Kau keterlaluan!"

"Kai..."

Chanyeol memperingatkan dibalas tatapan tak peduli dari Kai yang amarahnya sudah tersulut "Kapan kau akan memahami jika Sehun dan keluarganya sama sekali tidak terlibat? SAMPAI KAPAN KAU AKAN MEMBENCI MEREKA YANG PEDULI PADAMU!"

"brengsek! Jika kau bosan tinggal denganku, jika kau tidak bisa bertahan PERGI DAN JANGAN PERNAH KEMBALI!"

"Luhan, tenang hmm?"

"JANGAN BERPURA-PURA PEDULI PADAKU! AKU TAHU KALIAN JENGAH PADAKU! KALIAN MARAH! LALU KENAPA KALIAN MASIH ADA DISINI? CEPAT PERGI DAN JANGAN PERNAH-..."

"XI LUHAN!"

Luhan semakin menyeringai. Tangannya terkepal semakin erat sementara wajah Kai dan Chanyeol sangat merah, tanda bahwa mereka menahan marah "Wae? Ingin memukulku?"

"Kendalikan dirimu."

Yang berparas cantik kemudian menghela dalam nafasnya, berusaha setenang mungkin untuk menatap dua sahabatnya "Maafkan aku."

"Lu."

"Aku tahu kalian merindukan kekasih kalian." Katanya parau, mencoba untuk tidak menyerang Kai dan Chanyeol dengan mengatakan kebenaran yang dia ketahui. Dia kemudia mengusap kasar wajahnya untuk menatap sendu pada Kai "Aku tahu kau ingin bertemu dengan putramu Kai. Aku tahu, aku melihat kau memiliki banyak struk pembelanjaan mainan. Aku juga melihat kau membeli buku tentang bagaimana caranya menjadi ayah yang baik. Aku tahu kau merindukan Taeoh, putramu. Cepat kembali pada Kyungsoo, minta maaf padanya. Kembali pada keluarga kecilmu, Kai."

"Luhan kau salah paham. Aku tidak..."

"Dan kau." Katanya beralih pada Chanyeol untuk mengatakan hal menyakitkan bagi seorang pasangan jika akan ditinggal menikah oleh kekasihnya "Aku tahu kau hancur karena kabar pernikahan Baekhyun dengan pengusaha kaya raya. Lalu kenapa kau tidak datang dan berlutut untuk memohon cintanya, pergilah."

"..."

"Pergilah-...PERGILAH DAN BERHENTI MENGASIHANIKU!"

Dengan amarahnya, Luhan mengambil cepat kunci mobil. Hanya kunci mobil tanpa apapun yang bisa menunjang hidupnya di luar, dia kemudian berlari ke depan pintu lalu membukanya cepat.

Berniat untuk pergi sebelum langkahnya terhenti melihat siapa yang kini berada di depannya, sedang tersenyum lembut dan menatapnya penuh cinta.

"Pagi sayang."

Berkali-kali sudah dalam setahun Luhan memperingatkannya. Peringatan untuk tidak memanggilnya sayang mengingat status mereka kini adalah dua orang asing. Tapi semua peringatannya terasa sangat percuma. Karena seberapa banyak dia melarang pria yang menjadi penyebab hancur hidupnya maka sebanyak itu pula pria sialan di depannya akan terus datang dan akan membuat rasa bencinya semakin kuat setiap harinya.

Luhan enggan menebak darimana pria sialan ini datang. Tapi dilihat dari penampilannya yang mengenakan kemeja hitam, aroma khasnya yang bercampur wangi bunga khusus pemakaman, maka Luhan seolah dibuat mual menebak bahwa mantan kekasihnya baru saja mengunjungi makam dua orang tuanya, tidak, dia tidak mungkin berani.

Luhan menebak dalam hati, tapi ketika Sehun tersenyu, ketika pria yang begitu dia benci berjalan mendekat, maka disaat yang sama pula Sehun tanpa rasa bersalah mengatakan "Apa kau akan pergi ke pemakaman Papa dan Mama? Aku sudah lebih dulu kesana."

Berani sekali dia menemui orang tuaku

Tangan Luhan terkepal erat, matanya dipenuhi kemarahan. Terlalu marah hingga tanpa sadar air matanya menetes.

"Sayang? Kenapa kau menangis? Apa yang terjadi? Katakan padaku. Aku akan-..."

PLAK!

Seketika Sehun berhenti bertanya saat tamparan Luhan terasa begitu panas di wajahnya. Detik berikutnya dia menatap sendu pria yang masih begitu dia cintai untuk mendengar Luhan menghina dan berbicara kasar padanya, entah untuk ke berapa kalinya selama satu tahun.

"Berani sekali kau mengunjungi makam kedua orang tuaku. Berani sekali kau-...PEMBUNUH!"

Bersamaan dengan kalimat pembunuh yang dilontarkan Luhan, maka disaat yang pula air mata Sehun turun mengiringi. sungguh. Tak ada yang lebih menyakitkan dari kebencian seseorang yang begitu kau cintai, yang hidupnya begitu kau jaga.

Jadi ketika hanya rasa benci yang diterimanya, terkadang Sehun lelah, sangat lelah.

Lalu detik berikutnya dia mengangkat tangan,menyerah. Namun disaat yang sama pula Luhan akan menatapnya penuh luka, seolah memohon agar dirinya memiliki tempat pelampiasan, tempat untuk berteriak dan menyalahkan. Ya, Luhan melakukannya dengan satu tatapan sendu. Dan bodohnya Sehun terus tertipu, sejak saat itu tak pernah sekalipun Sehun merasa lelah, yang dia lakukan hanya terus menerus kembali, terus menerus bersedia untuk disakiti, tanpa pernah berfikir untuk berlari menjauh, tidak pernah sekalipun.

Dan karena alasan itu pula, hari ini, pagi ini, hingga detik ini Sehun masih berdiri disini, didepan Luhan, bukan untuk dicintai namun untuk dijadikan pelampiasan dari semua luka dan duka yang kekasihnya rasakan, untuk dihina tanpa bisa memberikan satu kata apapun selain menyatukan dua tangannya, memohon agar Luhan memaafkan dirinya yang hina "Luhan."

Jika Sehun merendah serendah-rendahnya seorang manusia. Maka tatapan Luhan akan menjadi keji, sekeji-kejinya seorang iblis. Tak ada lagi tatapan sendu yang biasa ditunjukkan jika Sehun akan menyerah, dia hanya terus menatap rendah pria sialan di depannya, untuk berteriak, terus berteriak dan selalu merendahkan pria yang cintanya telah dia kubur dalam-dalam untuk Luhan kunci di tempat tergelap dalam hatinya.

"PERGI KAU SIALAN!"

.

.


.

tobecontinued.

.


.

.

cuma ingetin, disini doang Luhan gesrek begini, jadi kalau mau nyumpah serapahin diinget lagi dari 16 cerita gue, tiga belas diantaranya inces nelangsa,

diinget! sankyouuu :*

.

.

Seeyou next chap