Previous…

Jadi ketika hanya rasa benci yang diterimanya, terkadang Sehun lelah, sangat lelah.

Lalu detik berikutnya dia mengangkat tangan,menyerah. Namun disaat yang sama pula Luhan akan menatapnya penuh luka, seolah memohon agar dirinya memiliki tempat pelampiasan, tempat untuk berteriak dan menyalahkan. Ya, Luhan melakukannya dengan satu tatapan sendu. Dan bodohnya Sehun terus tertipu, sejak saat itu tak pernah sekalipun Sehun merasa lelah, yang dia lakukan hanya terus menerus kembali, terus menerus bersedia untuk disakiti, tanpa pernah berfikir untuk berlari menjauh, tidak pernah sekalipun.

Dan karena alasan itu pula, hari ini, pagi ini, hingga detik ini Sehun masih berdiri disini, didepan Luhan, bukan untuk dicintai namun untuk dijadikan pelampiasan dari semua luka dan duka yang kekasihnya rasakan, untuk dihina tanpa bisa memberikan satu kata apapun selain menyatukan dua tangannya, memohon agar Luhan memaafkan dirinya yang hina "Luhan."

Jika Sehun merendah serendah-rendahnya seorang manusia. Maka tatapan Luhan akan menjadi keji, sekeji-kejinya seorang iblis. Tak ada lagi tatapan sendu yang biasa ditunjukkan jika Sehun akan menyerah, dia hanya terus menatap rendah pria sialan di depannya, untuk berteriak, terus berteriak dan selalu merendahkan pria yang cintanya telah dia kubur dalam-dalam untuk Luhan kunci di tempat tergelap dalam hatinya.

"PERGI KAU SIALAN!"

.

.

.

.

.

.

Je'Te Veux

.

.

.

.

.

Main cast : Sehun-Luhan

Rate : T-M

.

.

.

"Dokter Xi?"

Yang dipanggil sedang berjalan gontai menuju kamar istirahatnya di rumah sakit. Sungguh, mengingat apa yang baru terjadi pagi ini cukup membuatnya muak. Bukan karena kedatangan Sehun ke rumahnya, tapi lebih karena hari ini adalah hari satu tahun dia hidup tanpa kedua orang tuanya.

Hampa

Hilang

Kosong

Sakit

Hancur

Semua itu ternyata sudah menjadi asupan di hatinya selama dua belas bulan ini. Asupan yang dia konsumsi dengan baik di dalam hati hingga berwujud benci tanpa alasan yang cukup.

"Ada apa perawat Kim?"

Dia menyapa perawat senior yang kerap menjadi pasangan shift di rumah sakit. Menatap bingung wanita setengah baya yang mengenakan seragam putihnya untuk mendapati pertanyaan "Sedang apa kau disini dokter Xi? Bukankah ini hari liburmu?"

Luhan tertawa kecil lalu menjawab asal "Lebih seperti hari kematianku."

"huh? Ada apa dokter Xi?"

"bagaimana persiapannya?"

"baiklah, kita akan mengumumkan siapa saja yang akan bekerja dan menjadi doker tetap di Seoul hospital"

Dan alih-alih menjawab pertanyaan perawat Kim, Luhan lebih tertarik pada kerumunan petinggi rumah sakit yang sepertinya sedang menyiapkan sambutan untuk seseorang.

"Baek?"

Tak lama Baekhyun terlihat bersama dengan seorang pria, entah siapa. Yang jelas pria itu terus merangkul pinggangnya sesekali mencium kening pria yang hingga kini masih begitu dicintai Chanyeol.

"Perawat Kim?"

"Ada apa?"

Luhan mengangkat jari telunjuknya, menunjuk ke arah Baekhyun untuk bertanya "Siapa dia?" membuat perawat Kim ikut menoleh dan menebak siapa yang ditanyakan Luhan "Dokter Byun maksudmu?"

"Bukan, pria yang sedang memeluknya. Siapa dia?"

"ah…Apa kau tidak tahu?"

Mata Luhan kembali tertuju pada Perawat Kim, terlihat bingungn"Apa?"

"Dia putra dari Komisaris utama Seoul Hospital."

"Lalu ada hubungan apa dengan Dokter Byun?"

"Apa kau belum mendengarnya?"

"Mendengar apa?"

"Minggu depan Dokter Byun akan diangkat menjadi ketua tim bedah. Dari yang kudengar mereka akan mengumumkan tanggal pernikahan."

"Tanggal pernikahan?"

"Ya, Dokter Byun akan menikah dengan putra komisaris tertinggi di Seoul hospital, Kim Jisoo."

Hati Luhan mencelos sakit untuk sesaat, tiba-tiba teringat wajah Chanyeolnya lalu tersenyum pahit untuk mengatakan "ah….Jadi dia orangnya."

Entah mengapa pandangan Luhan terkunci pada reaksi intim Baekhyun dan kekasihnya. Bertanya-tanya apakah Baekhyun benar-benar bahagia atau hanya berpura-pura bahagia agar tidak dikasihani lagi.

Entahlah,

Karena semenjak hari itu, tepat satu tahun lalu saat dia melarikan diri dari rumah sakit. Hubungan Luhan dan Baekhyun hancur tak bersisa, tak ada lagi yang melindunginya di tempatnya bekerja, semua hanya tinggal kebencian dan kenangan manis untuk Luhan tapi tidak untuk Kyungsoo dan Baekhyun.

"Iya dia orangnya."

"Bagaimana menurutmu Dokter Xi? Bukankah dia sangat tampan."

"Tidak, Chanyeolku lebih tampan."

"Siapa-….Dokter Xi! apa yang kau lakukan?"

Yang Luhan lakukan saat ini adalah membuat teropong jauh dengan kedua tangannya. Satu mata dia tutup sementara mata yang lain melihat dari celah tangan yang dibuat seperti teropong, tersenyum entah karena apa lalu bergumam penuh rasa percaya diri.

"got you! Jisoo-ssi"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tak perlu waktu lama untuk Luhan mencari tahu siapa pria bernama Kim Jisoo, calon suami Baekhyun. Karena dari semua gosip yang dia dengar dari karyawan rumah sakit, pria dengan tinggi 186 centimeter itu gemar mendatangi club malam, Hell club, adalah salah satu club yang selalu didatanginya secara rutin. Membuat Luhan dan segala rencana di kepalanya bergegas menyusul untuk segera melakukan entah apa yang ingin dilakukannya. Dia juga ingin bersenang-senang mengingat Hell club juga tempat favoritnya untuk menghabiskan waktu.

"LUHAN!"

Suara dentum musik dimainkan dengan Volume tertinggi, jadi wajar jika Luhan tidak mendengar dengan baik. Yang dia lakukan hanya terus menyeruak di kerumunan pria-wanita yang sedang berdansa dan menggila untuk merasakan lengannya ditarik kencang oleh seseorang

"LU!"

Merasa sakit, Luhan nyaris memukul pria yang sedang mencengkram lengannya jika tidak mengingat bahwa pria bodoh di depannya adalah pria yang sama yang dia hubungi untuk mencari tahu tentang salah satu pelanggannya "L?"

"eoh! Ini aku. Kenapa kau terburu-buru?"

Keduanya saling berteriak karena memang suara musik terlalu kencang, dan mendapati pertanyaan bodoh teman malamnya itu, Luhan terlihat kesal "TENTU SAJA AKU MENCARIMU!"

"ah mian…Aku lupa memiliki janji denganmu. Ikut aku!"

Pria bernama lengkap Kim Myungsoo ini adalah seorang direktur muda yang membawahi pengembangan software game and technology di perusahaan milik keluarganya, tampan, single, kaya raya. Adalah tiga kriteria yang bisa membuat siapa saja jatuh hati padanya. Ya, siapa saja. Tapi semua tidak pernah berlaku untuk Luhan, karena selain fungsi hatinya sudah rusak untuk merasakan cinta, rasanya pria yang bisa dicintainya pula hanya satu, Sehun. Dan semua orang mengetahuinya.

"Duduklah."

Myungsoo menarik kursi untuk Luhan, memesan minuman pada bartender yang baru direkrutnya sementara Luhan bergerak tak sabar untuk bertanya

"Bagaimana? Apa kau sudah mencari tahu tentang pria itu?"

"SIAPA?" nada Myungsoo sedikit tinggi membuat lagi-lagi Luhan harus menutup kencang telinganya. "Jisoo, KIM JI-SOO!"

"ah, The King?"

"Siapa?"

"Jisoo yang kau cari, Dia VIP. Agak sulit mendekatinya jika tidak memberikan umpan dengan nilai beli di atas rata-rata."

"tsk! Aku kira kita teman!"

"Bisnis tetap bisnis Lu, tidak bisa disamakan."

Luhan mencibir kesal, dikeluarkannya beberapa lembar won di didompet lalu membuangnya kasar ke atas meja "APA INI CUKUP?" suaranya berteriak diikuti dentuman musik yang semakin menggila seiring malam menjemput.

Pria seusia Luhan itu mulai menghitung uang yang diberikan, lembar demi lembar dia hitung dengan semangat lalu mengerling Luhan sebagai jawaban "Tunggu dan lihat disini, aku akan memberikan umpan terbaik."

"Terserahmu saja."

Luhan kemudian melihat Myungsoo sedang mendekati wanita yang menurutnya sangat cantik dan...seksi. keduanya berbisik riang sampai si wanita mengangguk bersemangat lalu berjalan entah kemana "whoa...Bajingan itu benar-benar profesional di bidangnya." Katanya mengumpat kagum hingga tak menyadari seseorang sedang menarik kursi disampingnya.

"Pesan apa?"

"huh?"

"Kau tidak hanya akan duduk disini kan Lu?"

Buru-buru Luhan menoleh, mencari tahu siapa yang memanggil nama kecilnya hingga sosok Yifan, teman sekolah sekaligus pria yang begitu dibenci Sehun terlihat sedang mengerling padanya "hey cutie."

"Kau lagi."

Jujur Luhan selalu merasa risih jika berada satu tempat dengan Yifan. Bukan karena dia tidak suka pada Yifan atau karena sifat arogannya yang begitu menjengkelkan, tapi lebih karena dia tidak berguna dan tak bisa membuat Sehun menjauhinya.

Beberapa kali selama satu tahun dia mencoba untuk memanfaatkan Yifan, tapi semua itu sangat tidak berguna mengingat ucapan Sehun yang selalu mengatakan cari orang lain jika ingin membuatku panas, selalu seperti itu hingga rasanya Luhan jengah dan tak mengerti lagi harus melakukan apa agar Sehun menjauhinya.

"wae? Sudah bosan padaku?"

Dengan malas Luhan menjawab "Sangat."

Pria yang kerap dipanggil Kris itu pun menyeringai, sedikit menyenggol Luhan lalu berbisik tepat di telinganya "Tapi aku tidak. Aku semakin penasaran padamu, Luhan."

"Terserahmu saja. Aku-..."

Sret...!

Belum selesai Luhan menjawab Yifan, Myungsoo kembali datang padanya, dan dilihat dari caranya tersenyum maka sepertinya Myungsoo berhasil mendapatkan yang Luhan inginkan "Bagaimana?"

"Seperti dugaan kita, he's a pro player, mereka sedang bercinta di atas sana."

"bajingan! Pria seperti itu—Bagaimana bisa dia menikahi Baekhyun."

"Baekhyun? Teman kita?"

"Diam kau!" ketusnya pada Yifan dibalas kekehan oleh Myungsoo "Kau tidak turun?" Myungsoo bertanya dan Luhan segera menggeleng cepat "Kau saja. Aku ingin memastikan bahwa pria itu benar-benar masuk ke dalam perangkap."

"Kau tenang saja, gadis itu akan datang di hari yang kau inginkan. Aku bisa menjaminnya."

Luhan menyeringai kecil lalu bergumam sangat pelan "Setidaknya Yeolie belum kehilangan cintanya." Katanya tersenyum penuh bahagia untuk merasakan punggungnya ditepuk oleh Myungsoo "Jujur saja, kau terlihat menyedihkan. Turunlah dan bersenang-senang."

"Kau dulu, aku segera menyusul."

"Baiklah. Bye Lu."

Luhan mengangguk pelan, membiarkan Myungsoo hilang di kerumunan lantai dansa untuk kembali ditinggalkan berdua dengan Yifan "Ada apa?"

"Berapa kali kubilang? Ini bukan urusanmu Kris!"

"wow! Aku benar-benar bersemangat mendengar kau memanggil namaku yang lain"

"Diam dan tutup mulutmu!"

Kris hanya tersenyum licik, selebihnya dia mengeluarkan rokok serta pemantik lalu ditawarkannya pada Luhan "Mau?"

Ragu, Luhan sebenarnya sedikit tertarik, karena daripada mabuk dia mendengar sebatang rokok juga bisa me-refresh pikirannya yang dipenuhi dengan kemarahan "Aku ambil satu." Ujarnya mengambil satu batang diiringi suara sang bartender yang kini membawa dua tequila untuk Yifan dan Luhan. "Pesan dua bir lagi." pinta Kris lalu tak lama dua bir ukuran jumbo juga tersaji di depannya dan Luhan.

"Minumlah."

"Aku tidak minum, terimakasih."

"ayolah! Kau disini untuk bersenang-senang."

"Bukan merusak diriku!"

"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan memaksamu lagi setelah kau melakukan oneshoot dengan gelas kecil tequila di depanmu. Bagaimana?"

"Tidak tertarik."

"Rasanya akan membuatmu relax. Terlebih saat kau nyalakan pemantiknya, semua masalahmu akan dibawa pergi malam ini."

Sedari tadi yang Luhan lakukan hanya bermain dengan minuman ringan di depannya, tak tertarik pada apapun selain soft drink yang dipesankan Myungsoo lalu fokus pada bisnisnya. Berbeda saat kalimat relax diucapkan oleh Yifan saat ini, membuat Luhan dan seluruh bagian indera tubuhnya merespon cepat dan begitu mendamba, menginginkan kalimat relax benar-benar bisa dirasakannya.

"Baiklah, oneshoot!"

"Oneshoot!" timpal Yifan mengangkat gelas diikuti Luhan yang juga mengangkat gelas kecil tequila miliknya "Cheers!"

Keduanya ber-tos ria sebelum Yifan lebih dulu menenggak habis tequila nya. Terlihat sangat kesakitan mengingat seluruh organ tubuhnya terasa dibakar saat ini "Giliranmu."

Luhan menganggkuk, diarahkannya gelas mendekat di mulutnya, bersiap untuk menenggak minuman racun yang kini mengeluarkan aroma menyengat dengan bau alkohol yang pastilah bisa merobek langsung bagian vital tubuhmu. "Giliranku."

Sret!

"Sial! Apa yang kau-….."

Bersamaan dengan gerakan Luhan yang akan menenggak minumannya, maka disaat yang sama seseorang mengambil paksa gelas kecil yang akan membuatnya merasakan relax.

Refleks, Luhan menoleh ke arah belakang. Mencari tahu siapa yang mencuri minumannya untuk mendapati wajah yang pagi tadi membuatnya begitu murka kembali terlihat dan sedang menahan rasa panas di kerongkongan karena minuman yang sedang ditenggaknya "sshh…Kau tidak akan bisa meminumnya Lu, ini begitu keras."

"brengsek! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?"

Dan berbeda dengan pagi tadi, maka pria yang seharusnya menjadi suaminya satu tahun lalu itu tak lagi menampakan tatapan sendu, semua yang terlihat di matanya saat ini adalah kemarahan, namun lagi-lagi dia menutupinya dan hanya memberikan senyum pada pria yang hingga kini cintanya masih dia kejar "Aku? Tentu saja mengawasimu."

Luhan muak, sepenuhnya muak mendengar ucapan mantan kekasihnya. Dia pun berusaha mengabaikan keberadaan Sehun sementara pria itu sudah duduk ditengah-tengah antara dia dan Yifan. "Kau terlalu agresif Oh Sehun!"

"Diam dan tutup mulutmu!"

Yifan mendapatkan jawaban yang sama dengan jawaban yang Luhan berikan, meremehkan dua pria yang sedang duduk disampingnya untuk mendengar Luhan berteriak dan memesan lagi satu minuman yang ditenggak Sehun belum lama tadi "Berikan satu tequila untukku."

Pesanan datang, namun sebelum sampai di tangan Luhan, lagi-lagi Sehun mengambil paksa dan menenggaknya lagi hingga habis "ssshhh…."

"OH SEHUN!"

Sehun memijat sekilas kepalanya, sungguh kerongkongan dan seluruh bagian dalam tubuhnya terasa terbakar, ditambah teriakan Luhan maka lengkap sudah rasa sakit di kepalanya kini "Lu, berhentilah berteriak. Kepalaku sakit, Okay!"

Melihat bagaimana Sehun berujar dingin padanya adalah hal yang tak pernah Luhan dengar selama satu tahun ini, jadi ketika mantan kekasihnya mulai berujar gila dan terus memijat kepalanya, Luhan bisa menebak bahwa saat ini dia sudah setengah mabuk dan tak menyadari apa yang diucapkannya.

Kau mabuk?

Itu yang menjadi pertanyaan di benak Luhan, dalam diam dia memperhatikan wajah Sehun yang terlihat merah karena minuman untuk mendapati dua mata tajamnya sedang menatap tepat ke dalam matanya "sial!

Wajah Luhan terasa terbakar saat tiba-tiba bertemu pandang dengan mantan kekasihnya. Awalnya jantungnya berdebar tak tahu malu, lalu kemudian kemarahan Luhan mengambil alih hingga hanya umpatan dan rasa jijik yang diberikannya pada Sehun.

"Baiklah, terserahmu saja. Aku tidak peduli pada apa yang kau lakukan?" katanya menggeram lalu mengerling Yifan yang sedang menatap jengah padanya dan Sehun "Berikan aku pemantik."

Sehun bertanya-tanya pemantik apa yang dimaksud Luhan, jadi ketika Yifan memberikan pemantik api pada Luhan, refleks dirinya terkejut, memperhatikan apa yang akan dilakukan Luhan hingga terlihat tangan lentiknya membakar sebatang rokok yang sedang dinyalakan pemantiknya saat ini "Pastikan aku membunuhmu lain kali." Katanya menggeram pada Yifan lalu beralih cepat mengambil barang sialan yang akan dihisap oleh kekasihnya.

"Cukup Luhan! Kita pulang!"

Digenggamnya erat tangan Luhan, berusaha untuk membawa Luhan kemanapun asal tidak ke tempat kotor dan menjijikan seperti club malam. Dan jangan panggil namanya Luhan jika hanya diam tanpa memberontak sedikit pun, terlebih selama satu tahun ini, karena sebutan pemberontak sudah sangat cocok untuknya "Lepas."

"…."

"Sehun…"

"….."

"AKU BILANG LEPAS!"

"arhh…"

Menggunakan segala cara termasuk menggigit tangan Sehun hingga dia meringis adalah hal yang dilakukan Luhan, selebihnya dia kembali ke meja lalu merampas sebatang rokok lagi dari Yifan "Berikan padaku!"

"Santai Luhan."

Sehun melihatnya, kali ini Luhan meletakkan rokok langsung di dalam mulutnya, menyalakan pemantik sementara dirinya benar-benar tak berkedip menatap ke arah Luhan, kembali berjalan mendekati kekasihnya untuk kembali merampas benda sialan yang akan membuat Luhannya ketagihan dan terus masuk kedalam dunia gelap karena kemarahannya.

"Bagaimana? Kau menyukainya?"

Uhuk!

Dia terbatuk sesaat, menyesuaikan diri di hisapan pertama lalu tertawa menatap Yifan "Ini sangat menyenangkan Kris, dadaku seperti sesak namun rasanya begitu membuat relax."

"Kalau begitu hisaplah satu batang, nyalakan lagi kemudian. Kau akan benar-benar relax."

Luhan mengepul asap rokoknya dengan cara yang canggung, berusaha menjadi seperti Yifan sampai lagi-lagi tangan sialan milik Sehun merampas kasar rokonya dari mulut, kali ini tidak dia buang namun Sehun melakukan hal gila dengan…..

"SEHUN APA YANG KAU LAKUKAN?"

Dia mematikan satu batang rokok milik Luhan dengan telapak tangannya. Wajahnya jelas menahan sakit tapi tatapannya tegas tak bisa dibantahkan "Lakukan lagi dan kau akan melihat yang lebih mengerikan dari luka bakar ini."

Terlihat sudah luka bakar kecil namun terlihat dalam di telapak tangan Sehun, dia bahkan sengaja menunjukkannya untuk memperingatkan Luhan, sedetik Luhan ingin mengobati luka bakar di tangan Sehun, namun detik berikutnya dia tertunduk untuk tertawa sangat mengerikan, tawanya dipenuhi rasa marah dan putus asa lalu suaranya bertanya terdengar begitu marah "apa yang harus aku lakukan?"

"Luhan."

Luhan mengangkat wajahnya, mengunci tatapannya dengan tatapan Sehun untuk bertanya sekali lagi "Apa yang harus aku lakukan agar kau berhenti mencampuri urusanku? Apa yang harus aku lakukan agar berhenti berada di sekitarku? APA?"

Dengan santai Sehun menjawab "Katakan mati padaku, aku akan melakukannya tanpa ragu untukmu."

"KAU!"

"wae? Tidak bisa? Kenapa? Itu karena hatimu masih memiliki sedikit rasa untukku, benar? Kau tidak bisa benar-benar membuangnya dalam hidupmu hingga kau menjadi murka seperti ini? Jadi apapun akan aku lakukan selain pergi dari hidupmu, aku tidak bisa. Aku-…."

"DIAAAAAM!"

Luhan begitu frustasi, hatinya mencelos sakit menyadari bahwa apapun memang tidak akan bisa membuat Sehun pergi darinya, atau aku katakan saja? Aku katakan MATI KAU! batinnya yang lain menyuarakan hal itu, namun segera dibantah oleh hati kecil Luhan yang sampai kapan pun tidak akan pernah bisa membiarkan hal itu terjadi.

Dia tertunduk cukup lama, tangannya semakin terkepal, memikirkan bagaimana cara membuat Sehun pergi tanpa harus menyuarakan kata mati yang dibuangnya jauh-jauh dalam hati.

Sekali saja, sekali, dia berharap Sehun bisa menahan dirinya, bisa memberinya sedikit ruang untuk bernafas, bukan ruang yang akan terus dipenuhi kebencian bersamaan dengan kehadirannya. Dia ingin sekali memberitahu hal itu pada Sehun, tapi rasanya percuma mengingat tujuan hidup Sehun adalah terus mengikutinya dan tak melepaskannya walau sekejap dalam pandangan matanya.

"NAIKKAN VOLUMENYA!"

Luhan menoleh ke sisi kanan, memperhatikan Myungsoo yang larut dalam gemerlapnya musik dan terlihat bersenang-senang sambil meliukan badan aku iri ujarnya lirih namun tiba-tiba dia mendapatkan ide bagaimana cara membuat sialan di depannya pergi tanpa harus membuatnya terluka "Kim Myungsoo, let's fun." Katanya menyeringai diiringi senyum mengerikan untuk menatap Sehun yang masih menunggunya.

"Baiklah, kita pulang."

Wajah Sehun jelas tersenyum, detik berikutnya dia kembali mengerutkan dahi tatkala Luhan menunjukkan senyum yang paling Sehun hindari selama satu tahun ini, senyumnya yang terlihat sangat licik "Kau bisa membawaku pulang dengan satu syarat."

"Apa?"

"Jika kau tidak berkedip melihat hal gila yang akan kulakukan, aku akan pulang tanpa keributan denganmu. Satu menit, hanya satu menit." Katanya berjalan menjauhi Sehun diiringi pertanyaan dari mantan kekasihnya "Apa yang akan kau lakukan?"

"KIM MYUNGSOO!"

Luhan berteriak entah memanggil siapa, namun detik berikutnya Sehun bisa melihat seseorang menghampiri Luhan dan pastilah pria itu yang bernama….Myungsoo?

"Ada apa Lu?"

"Cium aku."

"Cium siapa?"

Tak memerlukan waktu lama Luhan menarik lengan Myungsoo, sedikit berjinjit untuk menyatukan bibir mereka.

Myungsoo terkejut, refleks dia ingin mendorong tubuh Luhan namun Luhan semakin menekan dalam tengkuknya, tatapannya seolah memperingatkan, membuat si pemilik club bertanya-tanya hingga tak sengaja Myungsoo melihat wajah pucat yang sedang menatapnya dan Luhan.

"ah…karena si pengacau itu."

Katanya menggeram marah mengingat pria yang kini sedang menatap tak berkedip dirinya dan Luhan adalah pria yang sama yang sering membuat kekacauan di club miliknya. Entah berkelahi dengan tim keamanan, menghancurkan barang atau yang paling buruk membuat seseorang yang mendekati Luhan harus berada di rumah sakit karena ulahnya.

Ya, Myungsookemudian menyadari bahwa ini adalah salah satu cara membuat si pengacau jera, lagipula Luhan itu sangat menggoda untuk seorang pria, jadi rasanya dia mendapat dobel keuntungan karena tanpa perlu terkena pukul dia bisa mencium bibir manis milik teman yang baru dikenalnya selama satu tahun.

"okay, let's play Lu." Ujarnya ikut menyeringai lalu tak lama melingkarkan tangannya di pinggang Luhan. Membalas lumatan-lumatan Luhan yang terlihat sangat dipaksakan agar terlihat lebih natural tanpa ada kecanggungan sedikit pun.

Detik pertama Sehun masih tak berkedip, tubuhnya kaku, hatinya sakit dan yang paling buruk dia ingin sekali membunuh pria yang sedang mengecup bibir kekasihnya.

"L—hmhh~"

tes

tes

Namun di detik berikutnya, bersamaan dengan bibir Luhan yang mendesahkan nama pria lain, air mata Sehun jatuh mengiringi kehancurannya. Matanya yang sedari tak berkedip kini berkaca-kaca penuh kemarahan, membiarkan air matanya terjatuh dan berharap satu menit segera terlewati.

"dua puluh detik."

Yifan memberitahu, teman sekolahnya dan Luhan yang membantunya melewati satu menit menyakitkan dalam hidup Sehun. "Menyerahlah Oh Sehun, mereka akan semakin menggila di depan kedua matamu."

Grep!

Tangan Sehun semakin terkepal seiring bisikan sialan dari Yifan, namun sial, apa yang dikatakan Yifan adalah benar adanya. Tak ada mata Luhan yang mengawasinya lagi saat ini, dia sudah larut dalam ciuman sialan bersama pria yang dia ketahui sebagai pemilik club. Keduanya terus berciuman sementara Sehun masih berdiri disana, tak berkedip dan hanya menikmati pembalasan Luhan dengan cara yang paling keji dan menyakitkan.

"Empat puluh lima detik."

"sedikit lagi Oh Sehun, kau pasti bisa, kau pasti—"

HUEK!

Sehun kalah, dia mengalihkan pandangannya dari Luhan bersamaan dengan muntahan yang keluar dari sudut bibirnya.

Dia tidak tahan, sungguh. Dia tidak bisa menahannya lebih dari tiga puluh detik dan Luhan mengetahuinya. Tapi seolah sengaja membuatnya terluka, Luhan menaikkan waktu menjadi satu menit hingga hanya mual yang dia rasakan.

Bukan mual karena dia mabuk, tapi karena dia tidak sanggup lagi melihat bagaimana kejinya Luhan menyakiti hatinya. Terlalu sakit hingga Sehun meresponnya dengan rasa mual yang begitu nyeri bahkan dirasakan hingga membuat pandangannya kabur.

"aku kalah…."

Marah, Sehun mulai berjalan gontai meninggalkan club. Seluruh tubuhnya lemas, pikirannya kosong, dan secara mengenaskan dia hanya bisa melewati Luhan dan prianya yang lain untuk berjalan keluar dari club.

"kenapa kau hanya diam Oh Sehun, kau harus membunuhnya."

"aku lemas. Hatiku sakit, tidak, aku seperti mati saat ini."

Dua suara di kepalanya sedang diteriakkan kuat-kuat, ingin rasanya dia membakar tempat sialan ini, tapi berakhir tidak bisa melakukan apapun untuk merebut Luhannya lagi. Lagipula dia tidak memiliki kekuatan tersisa untuk membunuh pria yang sedang mencium Luhan saat ini. Ah, jangankan membunuh, dia bahkan tidak memiliki kekuatan tersisa hanya untuk sekedar mengatakan aku kalah pada Luhan.

Membuatnya malam ini, entah sudah ke berapa kalinya, Sehun berjalan sebagai pecundang yang tidak bisa melakukan apapun untuk mendapatkan miliknya "kau menyedihkan Sehun, sangat."

"tsk…tsk! Si jalang terlihat menjengkelkan, sementara si malang terlihat sangat menyedihkan. Ya kan Max?"

"Asal kau tahu Yo, pria yang kau sebut jalang dia sebenarnya hanya mengalihkan perhatian si pria yang kau sebut malang. Apa kau tidak bisa melihat mereka hanya saling menyakiti satu sama lain?"

"Darimana kau tahu?"

"Mereka sudah melakukannya selama satu tahun dan aku mulai mengerti jalan ksisah cinta mereka."

Di tempat yang sama, ada beberapa mata yang melihat bagaimana Luhan serta Sehun bertaruh. Dan pertaruhan keduanya rupanya menarik minat seorang pendatang baru yang sedang melarikan diri dari rumahnya.

Tuan muda bertubuh kecil itu memiliki paras yang bisa dikatakan sama cantik dengan Luhan, namun jika Luhan terlihat seperti The God Of Beauty, maka pria cantik yang sedang mengumpat terlihat lebih cute bermodal parasnya yang memang sangat mini dan terkadang menggemaskan.

"Cinta? Bagaimana bisa itu disebut cinta? Mereka saling menyakiti!"

Max terkekeh, lalu mengusak gemas surai tuan mudanya "Sudahlah tuan muda, kau tidak perlu tahu lebih jauh. Ini urusan orang dewasa."

"MWO? Jadi kau mau mengatakan aku tidak dewasa?"

"Bukan seperti itu, aku hanya—YO! KAU MAU KEMANA?"

Pria mungil yang dipanggil Yo itu terlihat mengerling penjaganya, dia kemudian menunjukkan kunci mobil lalu bergegas meninggalkan club saat ini "Aku ingin mengejar si malang, kau perhatikan saja si jalang!"

Namanya Wayo, dia berasal dari Thailand, sangat membenci cinta bertepuk sebelah tangan yang menjadi alasannya melarikan diri dari pria yang disukainya. Dia pun sengaja berjalan ke arah Luhan dan Myungsoo, menabrak kuat tubuh mereka hingga pria yang dia sebut jalang bisa melihat jika pria malangnya sudah berjalan pergi meninggalkan club

"see? Aku menang lagi, Sehunna."

Terimakasih karena seseorang menabrak bahunya, terimakasih pula karena dia bisa melihat Sehun sedang berjalan pergi meninggalkan club, hancur dan begitu menyedihkan adalah dua kata yang bisa menggambarkan Sehun saat ini, tangannya bahkan terkepal erat menandakan bahwa tak ada yang bisa dilakukannya sementara hatinya terus disakiti tanpa henti.

"Menyerahlah, kau dengar?."

Luhan tersenyum lirih, entah senang atau sedih, dia tidak mengerti, yang jelas dia harus segera mengakhiri ciuman sialannya bersama Myungsoo. Detik berikutnya dia mendorong kuat-kuat pria yang memiliki tubuh sedikit besar dari miliknya. Menatap marah pada Myungsoo namun temannya bertanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"wae? Ini belum satu menit."

"brengsek! Air liurmu sangat menjijikan L!"

Luhan menghapus jijik bibirnya disambut kekehan oleh pria berlesung pipi di depannya "Tapi kau mendesah Lu, itu suatu kebanggaan untukku!"

"IDIOT! Aku terpaksa melakukannya!"

"Benarkah? Tapi kau menikmatinya, kau bahkan-…"

"KIM MYUNGSOO!"

"araseo! Araseo! Berhenti berteriak! Setidaknya pengacau itu tidak menghancurkan club ku malam ini. Cepat turun dan nikmati musik denganku."

Sret…!

Luhan mengambil paksa jaket merahnya lalu tak lama bergumam sangat marah "AKU PERGI!"

"LU! KENAPA KAU MARAH?"

BRAK…!

Menuju pintu keluar, Luhan bertabrakan dengan seorang pria, lagi-lagi badannya besar. Itulah umpatan yang dia keluarkan sebelum menyadari bahwa pria yang baru saja ditabraknya adalah pria yang sama yang menjadi tujuannya datang ke club malam ini.

Keduanya bertatapan sama terkejut, bukan karena mereka saling mengenal, tapi pria itu mengetahui Luhan sebagai salah satu dokter yang disegani di rumah sakit ayahnya, sementara Luhan mengetahui dia adalah calon suami Baekhyun yang sedang berciuman mesra dengan gadis yang dia tebak bernama Soomi?

"Kau…"

Pria bernama Jisoo itu sangat terkejut, diapun menyingkirkan si wanita seksi untuk bertatapan langsung dengan Luhan "omo! Bukankah anda Kim Jisoo-ssi? Putra Presdir Kim? Annyeonghaseyo, Luhan imnida." Kata Luhan sangat bertele-tele untuk mengerling calon suami Baekhyun dan memberikan senyum terkeji yang dia miliki

"Got you!"

.

.

"Hey, kau baik-baik saja?"

Tak jauh dari club malam yang baru didatanginya, terlihat Sehun sedang memuntahkan isi perut. Tak ada yang keluar, hanya alkohol yang baru saja ditenggaknya hingga bau tak sedap mungkin memenuhi tubuhnya saat ini.

Huweek~

"Minumlah ini, kau akan merasa lebih baik."

"LEPAS! SIAPA KAU?"

"Aku-…hey, apa penting bertanya sekarang? Wajahmu sangat pucat! Biar kuantar ke rumah sakit!"

Dengan keterbatasannya berbahasa Korea, pria mungil asal Bangkok itu terlihat kesulitan, dia mencari kata-kata yang mudah dipahami namun nyatanya sulit karena pria di depannya terlihat sangat marah dan kehilangan arah.

"Biar aku bantu!"

"AKU BILANG LEPAS!"

Terlalu kuat, Sehun mendorongnya hingga jatuh. Membuat pria yang entah darimana datangnya terlihat kesakitan namun dia abaikan "Jangan ganggu aku. Oke?"

Kepala Sehun tiba-tiba begitu sakit, samar dia bisa melihat Luhan berdiri tak jauh di depannya, dia ingin memastikan, tapi saat suara teriakan pria asing yang mengganggunya terdengar maka Sehun bersumpah kepalanya berkali-kali menjadi sangat sakit dengan pandangannya yang berubah menjadi gelap, seluruhnya.

"y-YAK! MATI SAJA KAU! DASAR PRIA MENYEDIHKAN! TIDAK BERGUNA DAN-…"

BRAK!

Tak perlu waktu lama pula, Sehun akhirnya tersungkur tak sadarkan diri, membuat pria bernama Wayo itu terlihat sangat terkejut untuk memakai kosakata Korea dengan mengatakan "omo! Kenapa dia pingsan, astaga….HEY SIAPAPUN TOLONG AKU!"

Dia berlari mendekati Sehun, mengecek suhu tubuhnya yang sangat dingin lalu mulai membantu sekuat tenaga pria asing menyedihkan ini kedalam mobil "sshh…Bahuku rasanya akan patah." Katanya mengeluh namun tetap memapah Sehun ke dalam mobil.

"Ayolah!"

Sebelum tak sadarkan diri, Sehun meyakini melihat Luhan, itu mimpi? Jawabannya bukan, Luhan memang berdiri disana, sedang menatapnya. Tapi alih-alih membantu Sehun yang tidak sadarkan diri dia lebih memilih untuk memperhatikan dari jauh, menimbang rasa sakit mereka sudah sama atau rasa sakit miliknya masih lebih besar.

BRRMM…!

Dan saat pria asing itu membawa Sehunnya pergi, tanpa disadari air matanya menetes. Bohong jika Luhan tidak mengkhawatirkannya, bohong jika hatinya tidak sakit, tapi kemudian dia membuang jauh-jauh rasa kemanusiaan di dalam dirinya untuk digantikan benci dan kemarahan yang dikuasai iblis dalam dirinya, selalu ada harga yang harus dibayar dari semua kejadian buruk. Dan menurut Luhan, Sehun sedang membayarnya, lalu detik berikutnya di tersenyum kecil dan….Luhan memutuskan untuk tidak peduli.

Drrt…drrtt..

Saat nama Prof Yoon tertera di layar ponsel, Luhan menghapus cepat air matanya. Menenangkan diri sejenak untuk menggeser slide ponsel miliknya

"hyung?"

"Aku butuh bertemu denganmu malam ini, sekarang!"

Tak menaruh sedikit pun kecurigaan Luhan menjawab "Baiklah."

.

.

.

.

.

.

.

BLAM…!

Disinilah Luhan, di salah satu gudang tua yang Doojoon sebut sebagai basecamp. Bertanya-tanya apa yang ingin dikatakan Doojoon di waktu selarut ini sebelum menyadari ada dua mobil yang terparkir di depan gedung tua milik hyung sekaligus professornya di rumah sakit.

"Kau datang Lu?"

Buru-buru Luhan menoleh ke samping. Memicingkan mata mencari siapa yang memanggilnya untuk mendapati pria yang keberadaannya sama sekali tidak dia duga malam ini "Seunghyun hyung?"

Entah mengapa penampilan Seunghyun terlihat mengerikan untuk Luhan, dia memakai jubah hitam panjang selutut sementara dua tangannya mengenakan sarung tangan hitam yang membuat Luhan sedikit sesak mengingat trauma pada semua yang memakai jubah hitam belum benar-benar hilang darinya "Ini aku adik kecil. Ayo masuk."

"huh?"

Luhan bergumam bingung, bertanya-tanya darimana Seunghyun bisa menemukan tempat ini sementara Doojoon selalu mengatakan tempat ini hanya mereka berdua yang mengetahuinya "Hyung? bagaimana bisa kau-…"

"Doojonna…"

Refleks, Doojoon menoleh. Begitu terkejut melihat Seunghyun merangkul Luhan sementara dirinya bergegas menarik Luhan dari pelukan iblis seperti Seunghyun "brengsek! APA YANG KAU LAKUKAN?"

"hyung?"

Doojoon merubah eksperi marahnya, berusaha untuk tenang sementara Seunghyun sedang menyeringai melihatnya "Wae? Aku hanya ingin melihat adik kecil dan temanku."

"Teman?" Luhan bergumam bingung untuk kembali bertanya "Sejak kapan?"

Doojoon terlihat panik sementara Seunghyun menyeringai puas, keduanya tak ada yang menjawab pertanyaan Luhan sampai Doojoon lebih dulu membawa pria yang diam-diam sangat ingin dia miliki untuk duduk di tempat yang sudah dia siapkan "Duduklah lebih dulu." Katanya menjelaskan diikuti Seunghyun yang juga menarik kursi di depan Luhan sementara Doojoon berada di sampingnya.

"Ada apa ini? Kenapa wajah kalian terlihat tegang."

"Hanya dia, aku tidak."

Seunghyun mengoreksi dibalas seringai kecil oleh Doojoon "Kami memang saling mengenal Lu."

"Sejak kapan?"

"Sejak usia kami…"

"Satu tahun yang lalu, tepat di pemakaman kedua orang tuamu. Kami bertemu."

"huh?"

Doojoon memotong ucapan Seunghyun. Diberi tatapan bertanya-tanya dari Luhan "Benarkah?" kini Luhan bertanya pada Seunghyun, memaksa pria yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun itu untuk menjawab jujur dengan Doojoon yang memberi tatapan memperingatkan padanya.

"Ya, Lu. Hyung bertemu dengan Professormu satu tahun lalu, di pemakaman ayahmu."

Jujur Luhan merasa takut berada di tengah-tengah Doojoon dan Seunghyun, tapi kemudian dia tersenyum, membuang jauh-jauh rasa takutnya mengingat hanya Doojoon dan Seunghyun yang tak pernah mengatakan gila padanya, yang membiarkannya melakukan segala hal selama itu membuatnya tenang.

Luhan memutuskan tidak mengambil pusing darimana dua hyungnya saling mengenal lalu hanya fokus bertanya pada Doojoon "Ada apa? kenapa memanggilku?"

Cemas, Doojoon terus menatap Seunghyun. Keduanya melempar tatapan yang sulit diartikan sementara Luhan terus bertanya "Hyung?"

"y-Ya?"

"Ada apa?"

"ah…."

Doojoon kemudian kembali pada tujuannya malam ini, mengeluarkan beberapa dokumen yang dibutuhkan Luhan lalu mengatakan "Aku rasa kita bisa menyingkirkan Jaksa Oh kali ini."

Luhan diam, antara tertarik dan ragu selalu mendominasi di dalam pikirannya. Bertanya-tanya apa yang dimaksud "Menyingkirkan Jaksa Oh" adalah membuatnya mengakui kesalahan atau menyingkirkan dalam artian melakukan sesuatu yang buruk padanya.

"Apa maksudmu hyung?"

"Maksudnya kita bisa membunuh Jaksa Oh di hari perayaan ulang tahun kejaksaan. Aku dengar mereka akan membuka acara untuk publik, disana kita bisa menyewa seseorang untuk melukainya tanpa harus berususan dengan kejaksaan."

"Membunuhnya? Membunuh Jaksa Oh?"

"Ya, Lu. Setelah semua kemarahanmu terbalas, kita bisa pergi meninggalkan Seoul. Kita bisa-…."

"tidak."

Baik Doojoon maupun Seunghyun tersentak. Nyatanya selama satu tahun ini Luhan terus berbicara ingin membunuh ayah dari mantan kekasihnya. Jadi ketika mereka memiliki rencana sempurna untuk menghancurkan Jaksa Oh, penolakan bukanlah hal yang tepat untuk Luhan suarakan saat ini.

"Luhan? Apa maksudmu?"

"Seunghyun benar, apa yang kau bicarakan?"

Luhan tertunduk, diam untuk beberapa saat untuk kemudian mengangkat wajahnya, menatap dua pria yang entah mengapa terus mempedulikannya dengan cara yang sedikit memaksa "Aku tidak akan membunuh Jaksa Oh, tidak terlintas sedikitpun di benakku."

"Tapi dia membunuh ayahmu, dia mengakibatkan kematian dari ibumu! Dia juga…"

"AKU TAHU! AKU MENYADARINYA! TAPI BUKAN KEMATIAN YANG AKU INGINKAN!"

"Luhan…"

"Sudahlah, aku tidak akan membahasnya lagi." katanya bergegas mendorong kursi untuk kembali memperingatkan dua pria yang sudah dia anggap seperti kakaknya "ah….Aku bertanya-tanya satu hal. Daripada aku, kenapa kalian lebih tertarik untuk menghabisi Jaksa Oh? Kalian mengenalnya?"

Tatapan keduanya jelas terkejut, tak menyangka Luhan akan melontarkan pertanyaan yang menurut mereka terlalu berani mengingat selama ini Luhan hanya cenderung berbicara kasar pada keluarga Oh, bukan pada mereka.

"a-..Apa yang kau bicarakan Lu?" Seunghyun bertanya gugup dibalas dua bahu Luhan yang terangkat "Hanya perasaanku saja, mungkin." Katanya menjawab asal lalu memberi peringatan terakhir pada dua pria yang kini sedang menatapnya tak percaya.

"Satu lagi, jangan pernah mencampuri urusanku dengan keluarga Oh, apapun itu, aku memiliki caraku sendiri, aku mencari tahu sendiri. Jadi jauhi urusanku karena aku tidak akan tinggal diam. Selamat malam, Aku pergi!"

Luhan secara tak langsung menyatakan perangnya pada dua pria yang merupakan pembunuh ayah dan ibunya. Perang lisan yang membuat dua dari mereka tercengang tak menyangka bahwa pendirian Luhan akan berubah secepat ini.

Dulu Luhan mengandalkan mereka, tapi saat ini, malam ini juga. Luhan seolah memiliki kekuatannya sendiri. Kekuatan yang tak bisa dijelaskan dan entah berasal darimana.

Hal itu membuat Doojoon bertanya-tanya, membiarkan Luhan untuk menolak bantuan yang sudah dia rencanakan untuk mendengar partner nya mengatakan hal gila tentang Luhan "Kau tahu joon-aa. Cepat atau lambat. Suka atau tidak, aku rasa pada akhirnya kita harus menghabisi Luhan!"

"brengsek!"

Saat kepal tangan Doojoon hampir mengenai wajahnya, Seunghyun kembali berteriak dan mengingatkan bahwa "Alasan Donghoon membiarkannya hidup hingga saat ini adalah karena usb milik ayahnya. KAU TAHU ITU!"

"KITA AKAN SEGERA MENEMUKANNYA!"

"YA! TAPI JIKA LUHAN MENGETAHUI HAL YANG TERSIMPAN DI DALAM USB ITU MAKA DONGHOON TANPA RAGU AKAN MEMBUNUHNYA!"

Doojoon terkesiap, terdiam untuk beberapa saat dan mengakui bahwa semua yang dikatakan Seunghyun adalah benar, selama Luhan hidup dengan USB yang ditinggalkan ayahnya, maka selama itu pula hidupnya tidak akan pernah lepas dari keparat yang sudah membuatnya menjadi pembunuh seperti saat ini.

"Aku akan mendapatkannya sebelum Luhan mengetahui apa yang berada dalam file tersebut. Aku akan mendapatkannya. Aku janji, hanya…..HANYA JAUHKAN TANGAN KALIAN DARI LUHAN!"

.

.

.

.

.

.

.

Jangan pernah mempercayai siapapun nak.

Jika bukan Sehun, jangan percaya pada siapapun. Ingat hal itu.

"haaaah~….."

Lagi-lagi mimpi buruk itu mendatanginya. Mimpi dimana sang ayah selalu berkata untuk tidak mempercayai siapapun kecuali Sehun, mimpi yang rasanya begitu nyata namun ketika Luhan membuka mata hanya ada malam sepi yang begitu mencekam, yang selalu menemani setiap malamnya.

"rrrhhh!"

Malam ini dia bermalam di asrama rumah sakit, asrama yang kini hanya dihuni oleh dirinya sendiri mengingat Baekhyun dan Kyungsoo bukanlah dokter emergency lagi sepertinya.

"Baek…"

Luhan menoleh ke samping, menatap rindu tempat tidur milik Baekhyun, dia juga merindukan barang-barang Baekhyun yang selalu memenuhi satu tempat tidur hingga membuat dirinya harus berbagi tempat tidur dengan kekasih Chanyeol, sahabatnya.

Tersenyum rindu, Lalu dia mengadah ke atas, kali ini hatinya mencelos sakit merindukan Kyungsoo. "Soo," dia terus melihat ke atas, berharap ada suara Kyungsoo yang menyapanya atau setidaknya dia bisa melihat Kyungsoo memberikan senyum terbaik setiap kali dia membuka mata.

Luhan kemudian beranjak dari tempat tidur, merogoh saku jaket miliknya untuk menggenggam USB yang diserahkan pihak kejaksaan tepat di hari kematian ayahnya. Matanya terus melihat benda kecil dengan letter L yang merupakan inisial namanya. Berharap bisa menemukan sesuatu namun selalu berakhir tidak menemukan apa-apa ketika menyambungkan USB tersebut ke dalam laptop.

"Terlalu banyak kode yang harus dipecahkan, kepalaku sakit Pa."

Detik berikutnya Luhan memutuskan untuk mencari udara segar, dikenakannya jas putih yang menandakan dia sedang bertugas bahkan di hari liburnya "Aku akan segera mencari tahu, hanya beri aku sedikit waktu." Katanya menatap cermin. Menguatkan dirinya sendiri untuk melangkah keluar dari asrama.

Langkahnya pelang menikmati pemandangan di taman rumah sakit, menikmati angin yang begitu membuat tubuhnya menggigil mengingat waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi.

Pria yang kerap dipanggil Dokter Xi itu terus mendongak ke atas, takut jika dia hanya menatap lurus bulir air mata akan jatuh tanpa alasan.

Sebenarnya banyak alasan Luhan untuk menangis.

Dia kesepian

Dia bingung

Dia rindu

Dia ketakutan

Dan yang paling parah, hatinya dipenuhi dendam

Tak ada yang bisa dilakukan seseorang jika hatinya dipenuhi kemarahan, karena sebanyak apapun kerabat terdekatnya mencoba menolong, semua itu akan berakhir tanpa bisa membuatnya sedikit tenang.

Luhan hanya ingin merasa tenang, sedikit saja.

Maka dari itu, dia kini menatap langit, matanya terpejam dengan suara khas jangkrik yang memenuhi indera pendengarannya "Bisa tidak kalian membawaku. Aku benar-benar lelah hidup seperti ini, benar-benar mengerikan melihat siapa aku sekarang. Kalian pasti kecewa dan tak ingin-…."

"TAEOH!"

"mamamamaa….."

Buru-buru Luhan menoleh, mencari suara yang begitu familiar sedang memanggil nama yang sosoknya sangat ingin dia lihat. Dia bahkan berlari mendekati asal suara untuk menemukan Kyungsoo yang kini sedang memeluk erat putra Kai, keponakannya.

"Maaf Bee merepotkan, tapi aku sangat merindukan jagoan kecilku."

"Bukan masalah, lagipula ini hari liburku, dia aman bersama Mommy Baek."

Dua sahabatnya sedang menunjukkan wajah yang terlihat sangat bahagia. Bahagia karena ada Taeoh di tengah-tengah mereka, berbeda dengan Luhan yang hanya bisa bersembunyi di balik dinding yang memisahkan antara dia, Taeoh dan dua sahabatnya.

"Taeo-yaa.."

Luhan menutup kencang mulutnya. Terlalu bahagia bahkan saat bibirnya menyebut nama putra dari Kai dan Kyungsoo. Satu tahun telah berlalu, tapi ini adalah pertama kalinya dia bisa melihat Taeoh dari dekat. Biasanya dia hanya mencari tahu dari beberapa perawat yang memiliki foto Taeoh bersama Kyungsoo.

Tapi malam ini berbeda, dia bisa melihatnya begitu dekat, sangat dekat hingga rasanya ingin dia memeluk serta membawa Taeoh bertemu dengan ayahnya, dengan Kai. Membuat isakannya terdengar sangat kencang namun dia hentikan dengan menggigit kuat lengan tangannya.

"Taeoh…Kim Taeoh, ini Lulu." Ujarnya parau, begitu ingin memeluk Taeoh namun berakhir harus melihatnya dari jauh. "Kai! Kai pasti senang melihat putranya."

Buru-buru Luhan mengeluarkan ponsel, berniat untuk mengambil Video Taeoh secara diam-diam agar Kai bisa melihat putra kecilnya.

"Taeoya, say hay to papa." Ujarnya kesulitan mengambil Video Taeoh mengingat tangannya begitu lemas dan tak lama

BRAK!

Secara bodoh Luhan menjatuhkan ponselnya, tangannya terlalu lemas untuk sekedar memegang ponsel, jadi ketika dia berjongkok untuk mengambil ponselnya yang terjatuh maka disaat yang sama seseorang dengan tangan kirinya dililit perban mengambil lebih dulu ponsel Luhan yang terjatuh.

"terimakasih sudah-…."

DEG!

Lagi-lagi tatapan itu,

Tatapan penuh cinta yang selalu diberikan untuknya. Tatapan tulus tanpa sedikitpun rasa benci yang terlihat walau satu tahun telah berlalu.

"Sehun?"

Tebakan Luhan, tangan kirinya diperban karena luka bakar dari puntung rokok yang dimatikan paksa olehnya. Dia merasa bersalah karena hal itu, tapi kemudian, entah keberanian darimana, Sehun sedang menggenggam kuat tangannya, menariknya paksa entah kemana, sampai Luhan menyadari bahwa saat ini, detik ini juga, Sehun sedang membawanya mendekat pada Baekhyun dan Kyungsoo, Pada Taeoh.

"KIM TAEOH!"

"Sehun apa kau sudah gila?"

Luhan menangis hebat saat ini, biasanya dia bisa melawan Sehun, tapi berbeda dengan saat ini, tubuhnya merespon terlalu bahagia hingga dia lupa bagaimana rasanya marah. Dia membiarkan Sehun membawanya pergi mendekati Taeoh sementara teriakan Kyungsoo membalas sama murkanya.

"AKU BILANG DIA BUKAN KIM, OH SHE—Apa yang dia lakukan disini?"

Baik Kyungsoo maupun Baekhyun sama-sama terkejut, dia tidak tahu apa yang dilakukan Sehun dengan membawa Luhan mendekat ke arah mereka. Dia tidak tahu apa yang dilakukan sahabat idiotnya yang belum lama ini tidak sadarkan diri karena pria yang sama yang sedang digenggamnya saat ini.

Sret..!

Sehun melepas genggamannya pada Luhan, membuat keadaan Luhan terlihat sangat menyedihkan karena berada di tengah-tengah keluarga yang kini membenci dirinya, karena ulahnya sendiri.

"Sehun! Apa yang dia lakukan disini?"

Dia?

Luhan tersenyum miris, menebak bahwa Baekhyun dan Kyungsoo enggan memanggil namanya lagi mengingat hal gila yang telah dia lakukan pada kisah cinta mereka "OH SEHUN!"

Kyungsoo berteriak, refleks, Taeoh kecil menangis ketakutan. Luhan pun diam-diam melihat sendu wajah keponakannya sementara Sehun mengambil alih tubuh Taeoh ke dalam pelukannya. "sst…Papa disini nak. Sshh…"

"Sehun! ayo pulang! Anakku sudah ketakutan."

Dan alih-alih mengiyakan permintaan Kyungsoo, Sehun lebih memilih berjalan mendekati Luhan. Membawa Taeoh ke hadapannya lalu mengenalkan secara langsung Taeoh pada Luhan "Taeoya…Ini Luhan, kelak kau juga harus memanggilnya Mama seperti kau memanggilku papa."

"Sehun hentikan."

Luhan bisa melihat kemarahan di wajah Kyungsoo dan Baekhyun, keduanya benar-benar terlihat murka bahkan melebihi rasa marahnya selama ini. "Lu, kau bisa memeluk Taeoh jika kau mau."

"OH SEHUN!"

Luhan tertunduk, sungguh dia tidak mengerti keadaan apa yang sedang dihadapinya. Biasanya dia akan menjadi pribadi yang kuat dan keji, tak pernah sekalipun dia menangis hanya karena sangat merindukan hidupnya dulu "Apa yang kau lakukan? Kau sedang membalasku?"

Luhan bertanya, menantang Sehun. Namun seperti biasa, Sehun hanya tersenyum sesekali mengusap air mata Luhan dengan tangannya yang lain "Aku hanya ingin mengenalkanmu pada Taeoh."

"Kau menyakitiku jika seperti ini."

"Luhan."

"Aku tidak peduli padanya. AKU TIDAK PEDULI PADA BOCAH YANG SEDANG KAU PELUK!"

Huwaaa…huwaaa…

Taeoh menangis di pelukan Sehun, dan sama seperti Taeoh yang terkejut, maka Sehun, Baekhyun dan Kyungsoo cukup terkejut dan mengagumi kejinya seorang Xi Luhan bahkan terhadap anak berusia satu tahun.

"Benarkah?"

Sehun tertawa kecil, dia kemudian memperlihatkan dengan jelas wajah Taeoh lalu berteriak "Katakan kau tidak peduli padanya. KATAKAN XI LUHAN!"

Sret…!

Disaat yang sama, seseorang mengambil paksa Taeoh dari pelukan Sehun, itu bukan Kyungsoo, bukan pula Baekhyun. Pria yang mengambil Taeoh dari pelukan Sehun memiliki tinggi yang sama dengannya. Membuat beberapa dari mereka tercengang menyadari bahwa saat ini, pertama kali dalam hidup Taeoh, dia berada di pelukan Kai, ayahnya.

"Kai?"

Luhan bergumam, detik berikutnya dia merasa seseorang memeluk tubuhnya dan Chanyeol adalah tebakan Luhan setelah menyadari keberadaan Kai malam ini.

"CUKUP! Kalian tidak berhak mempermaikan putraku!"

Kai mendekapnya erat, melihat jelas-jelas wajah Taeoh, untuk merelakan bahwa kali ini tangan yang lebih mungil kembali merampas putra kecilnya "DIA BUKAN PUTRAMU KAI! DIA TIDAK MEMILIKI AYAH YANG MENINGGALKANNYA!"

Mendengar jawaban Kyungsoo, Kai hanya bisa menatap rindu pada pria yang kini menjadi ibu dari anaknya. Berharap kemarahan Kyungsoo akan sedikit berkurang walau nyatanya, tatapan benci yang diberikan Kyungsoo sama seperti tatapan benci yang diberikan Luhan untuk Sehun "Aku bersalah meninggalkannya, maafkan aku Soo."

"SIMPAN MAAFMU DAN KEMBALILAH PADA LUHAN, JAGA PRIA SIALAN ITU DAN JANGAN PERNAH KEMBALI PADA KAMI!"

Luhan bisa merasakan air mata Chanyeol membasahi kepalanya, dia juga bisa melihat Kai sedang memohon agar tidak dipisahkan pada putranya. Ditambah tatapan Sehun yang begitu lembut seolah meminta agar semua hal menyakitkan yang membuat hancur hubungan mereka dihentikan, untuk Taeoh.

Luhan terlalu bingung dengan keadaan ini. Disatu sisi dia ingin tetap Kai dan Chanyeol menemaninya namun disisi lain dia menyadari kehancuran apa yang diberikan pada dua teman kecilnya. "aku rasa ini waktunya Kai, Yeol."

Luhan memeluk Chanyeol cukup lama, detik berikutnya dia mendekati Kai, menghapus air matanya. Matanya dan mata Sehun sempat bertatapan, kali ini tak ada kebencian dari Luhan yang membalas lembut tatapan Sehun "Aku akan mengakhirinya sekarang."

Niatnya untuk mengembalikan kebahagiaan Kai dan Chanyeol tak bisa dielakan lagi, Luhan ingin mengembalikan semua yang telah direnggutnya dari Kai dan Chanyeol. Dan karena alasan itu pula dia berjalan mendekati Baekhyun dan Kyungsoo untuk bertatapan langsung dengan dua kekasih sahabatnya.

"Apa yang harus aku lakukan?"

"Apa yang sedang kau bicarakan?"

"Aku bertanya, apa yang harus aku lakukan agar kalian bisa menerima Kai dan Chanyeol seperti dulu?"

"Luhan / Lu…"

Baik Kai dan Chanyeol terlihat begitu kecewa karena Luhan benar-benar melakukan apa yang diinginkannya tanpa mempertimbangkan perasaan mereka, selalu seperti itu.

"Hanya satu yang perlu mereka lakukan."

Baekhyun yang membalas, matanya terus menatap Chanyeol penuh rindu namun diiringi rasa benci yang sama seperti milik Kyungsoo untuk Kai. Keduanya bertatapan cukup lama sampai akhirnya Baekhyun mendengar jawaban dari Luhan "Katakan."

"Mereka harus meninggalkanmu. Mereka tak boleh lagi berhubungan denganmu. Kau dengar?"

Tangan Luhan terkepal, dia tahu ini jawaban yang akan diterimanya. Dia tidak terima harus dipisahkan dari dua sahabatnya. Tapi saat tangisan Taeoh terdengar sangat merindukan sosok ayahnya, maka tanpa sadar Luhan mengangguk untuk memberi jawaban "Mereka akan meninggalkan aku. Aku janji pada kalian."

Kyungsoo tertawa marah, lalu menantang Luhan "Buktikan."

"Aku akan…."

"Aku rasa tidak ada yang perlu dibuktikan."

Tiba-tiba Kai memotong ucapan Luhan, menatap langsung pada ibu dari putranya untuk melihat sekali lagi wajah putranya yang sangat ingin ia peluk. Keduanya bertatapan cukup lama lalu Kai memberi jawaban yang jelas dan menyakitkan untuk Kyungsoo "Aku tidak akan meninggalkan Luhan."

"Kai apa yang kau katakan?"

Luhan terkejut, berusaha menyadarkan Kai namun percuma karena sepenuhnya pandangan Kai hanya ditujukan untuk Kyungsoo saat ini.

"Jika kalian menerima kami, maka kalian juga harus menerima Luhan."

"yeol…"

Keduanya kini memeluk Luhan di masing-masing sisi. Tak hanya membuat Kyungsoo dan Baekhyun jengah, namun juga Sehun.

Membuat pria yang memiliki tatapan paling tajam diantara mereka melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Kai dan Chanyeol pada Luhan. Sehun mengambil alih Taeoh, berdiri di tengah-tengah Baekhyun dan Kyungsoo, untuk menjadi pelindung dari dua pria cantiknya tak peduli apapun yang terjadi.

"Aku rasa kita tahu kemana arah pembicaraan ini." Katanya terdengar marah, namun marahnya kali ini hanya ditujukan untuk Luhan yang sedang berdiri di tengah-tengah Kai dan Chanyeol "Dan untukmu."

Sehun menatap tajam Luhan, memastikan bahwa Luhan mendengarkan apa yang akan dikatakannya malam ini "Lain kali, jika kisah cintamu hancur. Jangan membuat orang lain merasakan hal yang sama dengan yang kau rasakan. Kau terlalu egois, Luhan."

"Sehun."

Ini adalah kali pertama Sehun terdengar membencinya, -tidak- ini adalah nada kebencian yang diucapkan Sehun setelah dua puluh tahun lebih mencintai Luhan.

Semua tertegun, tak terkecuali Luhan.

Jadi wajar jika air mata Luhan menetes, merasa begitu bahagia.

Bahagia, karena pada akhirnya Sehun membencinya –bohong- dia menangis karena hatinya tak rela. Tak merelakan kebencian Sehun lebih besar dari miliknya, Luhan takut, takut jika nantinya tak adalagi yang mencintai dirinya seperti yang selama dua puluh tahun ini Sehun berikan untuknya.

"Dan kau Kai, jangan khawatirkan Taeoh, dia memiliki aku sebagai ayahnya." Katanya memastikan agar Kai tidak mencemaskan Taeoh lalu beralih pada Chanyeol "Baekhyun akan segera menikah, lupakan dia. Biarkan Baek bahagia! Kau dengar?"

Chanyeol tersenyum lirih sementara Baekhyun terisak di pelukan Kyungsoo. Tak lama Sehun menggenggam Baekhyun serta Kyungsoo dengan tangannya yang lain, untuk membawa dua sahabatnya pergi dari mimpi buruk malam ini.

"Kai apa yang kau lakukan? Sehun membawa Taeoh pergi, dia anakmu Kai! Cepat kejar—KIM JONGIN!"

Jongin menatap pasrah pada Luhan, air matanya sudah kering untuk menangisi putranya, dia hanya diam sesekali menatap sendu pada Luhan "Sudahlah Lu, aku lelah."

"Yeol? Calon suami Baekhyun tidak mencintainya, aku sudah mencari tahu. Dia seorang player dan Baekhyun akan-…."

"Lu, sudahlah."

"huh?"

"….."

"KENAPA KALIAN SEPERTI INI?"

"Luhan sudahlah, ayo pulang."

"PULANG? RUMAH KALIAN BERADA DISANA, DENGAN BAEKHYUN DAN KYUNGSOO. BUKAN DENGANKU!"

"Lu…."

"PERI DAN KEMBALI PADA KEKASIH KALIAN! TINGGALKAN AKU DAN JANGAN MEMBUATKU TERLIHAT SANGAT MENYEDIHKAN. KALIAN DENGAR? JAWAB AKU-…."

"XI LUHAN!"

BRRRMM….!

Bunyi mesin mobil yang membelah sunyi rumah sakit seolah menadakan sesuatu yang menyakitkan untuk Kai dan Chanyeol.

Sesuatu harus keduanya terima bahwa malam ini, saat ini juga Sehun telah membawa pergi kebahagiaan Kai dan Chanyeol "Sehunna."

tidak

Tak hanya kebahagiaan Kai dan Chanyeol, miliknya juga. Karena bersamaan dengan kalimat benci yang dilontarkan Sehun, maka rasanya kebahagiaan Luhan juga dibawa pergi bersama Sehun malam ini.

Malam menyiksa yang begitu panjang dan melelahkan.

Terlalu melelahkan

Sangat melelahkan untuk keenam dari mereka.

"Sehun…."

"Soo…"

"Baekhyunna…."

Jerit pilu Luhan, Kai dan Chanyeol seolah mewakili betapa lelahnya mereka karena pilihan yang sudah dibuat. Lelah karena telah memilih meninggalkan bahagia mereka, menyakiti bahagia mereka hingga nanti, kalimat bahagia akan benar-benar hilang dari hidup mereka, selamanya.

.

.

.

.

.

.

.


.

tobecontinued

.


.

Please Welcome to Myungsoo anda Wayo (2moons) wkwkwkw

Mereka numpang liwat doang kok rencananya.

.

dan pertanyaannya? Dimanakah nyari temen sebego Kai dan Chanyeol :"

.

Seeyousoon :*