Previous…
Tak hanya kebahagiaan Kai dan Chanyeol, miliknya juga. Karena bersamaan dengan kalimat benci yang dilontarkan Sehun, maka rasanya kebahagiaan Luhan juga dibawa pergi bersama Sehun malam ini.
Malam menyiksa yang begitu panjang dan melelahkan.
Terlalu melelahkan
Sangat melelahkan untuk keenam dari mereka.
"Sehun…."
"Soo…"
"Baekhyunna…."
Jerit pilu Luhan, Kai dan Chanyeol seolah mewakili betapa lelahnya mereka karena pilihan yang sudah dibuat. Lelah karena telah memilih meninggalkan bahagia mereka, menyakiti bahagia mereka hingga nanti, kalimat bahagia akan benar-benar hilang dari hidup mereka, selamanya.
.
.
.
.
.
.
Je'Te Veux
.
.
.
.
.
Main cast : Sehun-Luhan
Rate : T-M
.
.
.
.
Seminggu sudah berlalu sejak insiden pertemuan Luhan, Kai dan Chanyeol dengan Sehun, Kyungsoo serta Bakehyun. Dan selama satu minggu pula masih terekam jelas diingatan keenam dari mereka bahwa semua kemarahan dan benci yang mereka rasakan hanya memberikan imbas yang begitu buruk untuk Taeoh, putra Kai dan Kyungsoo.
Karena dari pertengkaran kedua orang tua kandung serta dua orang tua angkatnya membuat trauma sendiri untuk bayi kecil yang belum lama ini merayakan ulang tahun pertamanya. Terbukti dari demam tinggi yang dialami Taeoh setelah pertemuan singkat dengan ayah kandungnya, dia mengalami infeksi kecil di saluran pernafasan yang mengharuskannya melakukan uap rutin setiap hari agar bisa bernafas lebih baik dan tak lagi sesak.
Mendengar putranya mengalami demam hebat membuat Kai begitu cemas pada awalnya, namun beruntung Taeoh memiliki ibu seorang dokter yang begitu tenang dan menguasai keadaan bahkan disaat terdesak sekalipun, membuat Taeoh bisa pulih dengan cepat walau tanpa kehadiran sang ayah mendampinginya.
"Kai?"
"hyung."
Saat satu-satunya kakak dari seorang Oh Sehun memanggil namanya, Kai segera berdiri untuk menyapa, tersenyum dengan wajahnya yang terlihat cemas untuk menanyakan langsung keadaan putranya "Taeoh?"
"Aku sudah bilang, putramu baik-baik saja Kai."
Adalah Oh Yunho yang menjawab kecemasan dari seorang ayah menyedihkan sepertinya, sungguh, Kai tidak tahu lagi harus bertanya pada siapa selain pada Yunho, berharap setidaknya kakak kandung Sehun mau berbaik hati memberi kabar terbaru tentang Kyungsoo dan juga putranya. Walau tak setiap hari, tapi nyatanya Yunho selalu memberitahu tentang keadaan yang terjadi pada Taeoh, seperti satu minggu lalu saat putranya mengalami demam tinggi.
"Lalu demamnya?"
Yunho tersenyum, dia memberi instruksi agar Kai mengikutinya masuk ke dalam ruangan, meminta sahabat adiknya dan Luhan itu untuk duduk dan bertanya apapun selama dia bisa menjawabnya "well, Jaejoong menjenguknya kemarin malam. Dan kau tak perlu khawatir dia sudah bisa bermain dengan baik. Dia bermain bersama Seungjae sampai keduanya tertidur saling memeluk."
Rasanya begitu menyenangkan bisa membayangkan Taeoh memiliki sepupu tak berbeda jauh usia darinya, putra pertama Yunho-Jaejoong adalah satu-satunya alasan Kai bisa bernafas lega dan tak perlu mencemaskan kehidupan sosial putranya, karena disaat dirinya jauh atau disaat Kyungsoo sibuk, Taeoh kecil mereka akan ditemani Seungjae yang sudah menempati tempat hyung pertama dan menjadi teman pertama untuknya.
Tatapan terimakasih pun sangat ditunjukkan Kai oleh untuk ayah Seungjae, tersenyum begitu tulus diiringi rasa terimakasih terdalamnya sebagai seorang ayah "gomawo hyung, Seungjae adalah sosok sempurna untuk putraku."
Yunho membalas tatapan Kai namun enggan menerima ucapan terimakasih dari ayah kandung Taeoh di depannya "Tidak perlu, lagipula putraku tidak memiliki teman bermain selama tiga tahun. Jadi terimakasih pada Taeoh karena telah lahir dan menemani Seungjae hyungnya."
Keduanya kini tertawa bersama, menatap dengan tatapan berbeda namun terlihat sama bahagia sebagai seorang ayah, Yunho kemudian menyadari raut cemas dari sahabat adiknya, perlahan menghentikan tawa bahagianya sebagai orang ayah untuk bertanya pada pria yang selama satu tahun ini hidup bersama Luhan dan terpaksa meninggalkan bahagia miliknya "Ada apa Kai?"
"huh?"
"Kau terlihat memikirkan sesuatu."
Kai tersenyum kecil , menatap kakak dari sahabatnya lalu bergumam sangat lirih "Aku hanya membayangkan betapa menyenangkan jika kita semua bisa hidup bersama. Kyungsoo, Luhan, Baekhyun, Jae hyung, aku, kau, Sehun, Chanyeol serta dua putra kita hyung, kita semua pasti akan sangat bahagia jika bersama." katanya terlihat sangat berharap lalu menghela dalam nafasnya "andai saja."
"Kau benar, andai saja." Yunho membenarkan harapan Kai dengan cepat, berharap setidaknya hari bahagia itu segera mereka rasakan. Bahagia tanpa kebencian serta kemarahan Luhan agar semua bisa berkumpul tanpa harus mengorbankan perasaan satu sama lain.
"Lalu bagaimana dengan Luhan?"
Tersenyum pahit adalah hal yang Kai lakukan untuk menjawab "Masih sama hyung, hatinya masih dipenuhi kebencian dan kemarahan. Hal itulah yang membuatku atau Chanyeol tidak pernah bisa meninggalkannya, kami begitu mengkhawatirkannya."
Buru-buru Yunho mengeluarkan berkas dari dokumen yang berada di mejanya, membukanya cepat lalu memberitahu Kai apa rencananya "Aku sedang mencari tahu, Sehun juga. Jadi tunggulah sebentar lagi Kai."
Kai memperhatikan dokumen yang ditunjukkan Yunho untuk mengangguk dan membalas ucapan kakak kandung dari sahabatnya "Aku dan Chanyeol juga mencari tahu tentang kejadian satu tahun lalu dan sampai kami menemukan bukti yang cukup kuat untuk diberikan pada Luhan, kami akan tetap bersamanya, apapun yang terjadi."
Yunho tersenyum lega lalu memuji persahabatan keenam adiknya yang begitu kuat, loyal dan begitu tulus seperti yang dilakukan Kai-Chanyeol untuk Luhan dan Sehun untuk Baekhyun-Kyungsoo "Bagus! Apapun yang terjadi, kau dan Chanyeol, kalian jangan pernah meninggalkan Luhan. Dia akan kehilangan arah tanpa ada yang menemani."
"Aku tahu hyung. Hanya terkadang sulit untukku bertahan saat aku merindukan putraku. Tapi kemudian aku sadar banyak yang mencintai Taeoh dan Kyungsoo, jadi rasanya begitu egois dan tidak adil untuk Luhan jika aku dan Chanyeol meninggalkannya, lagipula kami tak sanggup."
Drtt…drrtt…
Bersamaan dengan jawaban Kai sebagai seorang ayah dan seorang sahabat, ponsel Yunho bergetar. Menunjukkan nama My Boo di layar ponsel menandakan sang istri sedang menghubunginya saat ini "Sebentar." Katanya memberitahu Kai dan tak lama
Sret..
"Sayang?"
"Begitukah? Apa sudah dimulai?"
"Baiklah. Aku akan segera kesana, sampai nanti."
Singkat, Yunho kembali menutup ponselnya. Bergegas merapikan beberapa berkas miliknya hingga membuat Kai tak enak hati karena mengganggu "Hyung, jika kau sibuk aku akan segera pergi. Terimakasih sudah-…."
"Ikutlah denganku Kai."
"Ikut denganmu? Kemana?"
Terakhir Yunho mengambil ponselnya yang tergeletak di meja untuk menatap lagi sahabatnya adik "Ke rumah sakit."
"Rumah sakit? Apa yang terjadi hyung? Taeoh? Apa putraku-…."
"Bukan putramu tapi Kyungsoo…."
"Kyungsoo? Ada apa dengan Kyungsoo? Hyung!"
Kai kembali dibuat panik, pucat sepenuhnya sudah terlihat di wajah si pria berkulit tan tatkala kakak dari sahabatnya terus mengatakan hal-hal yang membuat jantungnya berdegup tak menentu.
"Kai tenanglah! Kekasih dan putramu baik-baik saja."
"b-benarkah?"
Yunho tertawa kecil seraya berjalan mendekati teman adiknya, menepuk pundak Kai lalu mengerling kekasih Kyungsoo serta ayah Taeoh di depannya "Kau bilang merindukan Taeoh, aku rasa kalian bisa bertemu siang ini."
"Benarkah? Bagaimana caranya?"
"Kyungsoo dan Baekhyun akan dilantik menjadi dokter tetap di Seoul hospital, Baekhyun memimpin spesialis bedah sementara Kyungsoo dipercayakan menjadi ketua tim untuk spesialis anak."
"Benarkah?"
"Tentu saja, hubungi Chanyeol mungkin dia akan senang bisa melihat Baekhyun hari ini. Ayo pergi!"
"Chanyeol? Aku rasa ini jadwalnya mengantar Luhan, mungkin dia sudah berada di rumah sakit."
"Bagus. Sehun juga akan berada disana. Ah, ya Kai, apa kau menyadari sesuatu?"
"Apa?"
"Aku rasa Tuhan menjawab doamu beberapa saat lalu."
"Doa?"
"Ya, kau menginginkan kita semua berkumpul bersama kan?"
"Lalu?"
"Waktunya memang tidak tepat, tapi setidaknya hari ini kita semua berkumpul bersama."
Diam-diam Kai tersenyum, hatinya bersorak bahagia mendengar penuturan pria yang paling dia segani dan hormati selama bertahun-tahun. Wajahnya juga bersemu merah membenarkan bahwa hari ini, sesaat lagi, di rumah sakit dia akan bertemu dengan putranya.
Terlebih lagi semua akan datang ke upacara pelantikan Baekhyun dan Kyungsoo, membuat Kai berani bertaruh bahwa nanti disana, untuk kali pertama setelah satu tahun, mereka semua bisa berkumpul sebagai keluarga. Harapnya. Kai pun bergegas meninggalkan ruangan Yunho dengan senyum di wajahnya, menyampaikan rasa bangganya untuk Kyungsoo sementara hatinya berdegup kencang karena tak sabar ingin bertemu dengan putra kecilnya "Taeoya, tunggu papa."
.
.
.
.
.
.
.
"Ini surat pengunduran dirimu, dan ini surat tugasmu yang baru. Lusa kau sudah bekerja untuk Hanyang Hospital, Dokter Xi."
Tak ada yang bisa membuat pria cantik yang mengenakan id card dokter Xi Luhan, selain dua dokumen yang kini berada di genggamannya. Dua dokumen yang sangat bertolak belakang, dimana yang satu berisikan ucapan selamat tinggal sementara yang satu bertuliskan selamat bergabung.
Ya, hari ini adalah hari yang begitu Luhan tunggu selama satu tahun. Hari dimana surat pengunduran dirinya di terima di Seoul Hospital lalu ucapan selamat bergabung dari Hanyang hospital, tempat mendiang ibunya mengabdi sebagai seorang dokter selama bertahun-tahun di dapatkan.
Matanya berkaca-kaca karena bahagia, sungguh. Dia bahkan ingin memekik bahagia jika tidak ingat bahwa tepat di depannya, sang komisaris tertinggi Seoul Hospital masih menatap tak rela padanya "Kau terlihat sangat bahagia dokter Xi."
"Tentu Professor Kim, ini impian saya."
"Impianmu? Jadi Seoul hospital bukan impianmu?" katanya terdengar kecewa dibalas cepat oleh Luhan "Bukan seperti itu Professor Kim, hanya saja…."
"Disaat yang lain sibuk mendapatkan promosi sebagai dokter tetap, kau berjuang terlalu keras untuk pergi dari kami. Sangat disayangkan dokter Xi, kau adalah dokter yang berbakat."
Luhan hanya bisa tersenyum kecil, membungkuk sebagai ucapan terimakasihnya lalu berpamitan untuk segera pergi "Saya berterimakasih untuk bimbingan anda selama hampir lima tahun pengabdian saya sebagai residen dan dokter percobaan di Seoul Hospital professor Kim. Awalnya saya juga berfikir untuk menghabiskan seluruh pengabdian saya di rumah sakit ini. Tapi….."
Luhan menundukkan sejenak kepalanya untuk berujar penuh rasa sakit di hatinya "Tapi semua berbeda semenjak kematian ibu saya. Saya hanya ingin menjadi lebih dekat dengan mendiang ibu saya di rumah sakit tempatnya mengabdi, terimakasih untuk segalanya Professor Kim."
"Apa kau ingin memberikan kalimat perpisahan di acara pelantikan hari ini?"
"Tidak! Maksud saya, Tidak perlu Professor Kim, saya akan melakukannya secara personal."
"Kau yakin?"
"y-Ya. Tentu saja."
Suara Luhan terbata, diantara kepalanya yang tertunduk sebulir air mata telah jatuh cepat membasahi air matanya. Luhan terdiam sejenak menikmati kenangan terakhirnya bersama rumah sakit yang sudah memberinya banyak pengalaman, menangis terlalu rindu membayangkan saat pertama ibunya datang berkunjung ke Seoul Hospital lalu berteriak pada seluruh pegawai dan pasien bahwa dia putranya.
KELAK KALIAN AKAN BANGGA MEMILIKI DOKTER XI SEBAGAI DOKTER KALIAN! PUTRAKU YANG TERBAIK
"rrh~"
Rasanya jantung Luhan tertusuk benda tajam tepat di indera sakitnya. Karena setiap dia mengingat ibunya, maka perasaan kelam terlalu rindu begitu membuat hancur hatinya. Kepalanya selalu kosong dan begitu kesakitan mengingat senyum manja ibunya, rengekan yang begitu dia rindukan dari sang ibu serta wajah cantiknya. Dia terlalu rindu namun tak bisa melampiaskannya dengan cara yang lebih baik.
"Ma,"
Tangannya terkepal di sela ucapan rindu, ingin sekali dia berteriak MAMA KITA BEKERJA DI SATU RUMAH SAKIT! Namun lagi-lagi hatinya tertohok begitu dalam, menyadari tak ada yang bisa dia beritahu mengingat kedua orang tuanya telah tiada, pergi meninggalkannya di dunia yang menyakitkan ini.
"Dokter Xi? Apa kau baik-baik saja?"
"…"
"Dokter Xi?"
"….."
"DOKTER XI?"
"huh?"
Barulah Luhan mengangkat wajah, mencari suara yang berteriak memanggilnya untuk menemukan Professor Kim sedang menatapnya antara cemas dan bingung karena dia tak kunjung merespon "Anda memanggil saya Prof?"
"Ya! Apa kau baik-baik saja?"
"tentu….Tentu saya baik, ah….kalau begitu saya permisi. Anda harus memberi kata sambutan untuk pelantikan hari ini Professor Kim."
"Kau benar."
Buru-buru Luhan membungkuk lalu bergegas pergi dari ruangan komisaris tertinggi di Seoul Hospital "Sekali lagi saya ucapkan terimakasih untuk bimbingan anda Professor Kim, saya permisi."
.
.
.
.
.
.
Sementara itu….
.
"MWO? MAMA YAKIN BELUM SAMPAI? TAPI AKU SUDAH MEMESAN DUA KARANGAN BUNGA UNTUK BAEKHYUN DAN KYUNGSOO!"
"jangan berteriak dan cepat datang! Yunho hyung sudah memesan bunga lain sebagai gantinya."
"TAPI MA!"
"Oh Sehun cepat datang! Acaranya akan segera dimulai, keluarga kita mewakili orang tua Baekhyun dan Kyungsoo yang berhalangan hadir."
"Baiklah, aku sudah berada di basement rumah sakit. Tunggu aku seben-…"
Ckit!
"Nak? Kau baik-baik saja?"
Melihat seorang pria tiba-tiba menyebrang di basement rumah sakit, membuat otomatis kaki Sehun menginjak kuat remnya. Nafasnya tersengal hebat, menenangkan diri sejenak untuk menutup panggilan ponsel dengan ibunya
"Aku baik ma. Sampai nanti….sial!"
Kini fokusnya ada pada pria yang belum lama terkena gesekan mobilnya. Membuka perlahan pintu mobil lalu berteriak dengan geram "y-YAK! APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP-…..kau?"
Jelas saja Sehun terkejut, matanya memicing seolah mengenali sosok yang sedang meringis kesakitan di depannya. Dia kemudian berjalan mendekat untuk menyadari bahwa pria yang baru saja bergesekan dengan mobilnya adalah pria yang sama yang membawanya ke rumah sakit saat dia mabuk satu minggu lalu "ish! Hidup disini benar-benar sial untukku!"
"Hey? Kau baik-baik saja?"
Sehun berjongkok di depan pria yang sering ditanyakan Kyungsoo dan Baekhyun beberapa hari yang lalu. Pria yang dikira adalah kekasihnya, konyol tentu saja. Tapi keduanya bilang, pria kecil di depannya terlihat kesulitan membawa dirinya ke rumah sakit saat itu.
Samar memang, tapi sepanjang perjalanan ke rumah sakit Sehun cukup mengenali sosok yang menolongnya. Enggan mengucapkan terimakasih karena pria yang sedang meringis memegang pergelangan kakinya ini memang terlihat sangat menyukai hal yang bukan menjadi urusannya,
"Bagaimana bisa aku baik-baik saja?! Kau tidak lihat? Kakiku terkilir—ssh."
Saat Sehun memegang pergelangan kakinya, disaat yang sama pria kecil itu mengangkat wajah, memperhatikan siapa yang menyenggolnya untuk memekik bahagia karena bisa bertemu dengan pria tampan yang terlihat seksi di matanya "whoa ahjussi. Kau ahjussi kan?"
"ahjussi? Aku?"
"Iya! Ahjussi yang menangis di club malam."
"Dari semua yang kau ingat tentang diriku kenapa harus menangis yang kau sebut?"
"Ya karena kau memang menangis."
"Sudahlah, mana yang sakit?"
"Namaku Wayo, kau bisa memanggilku Yo."
"Aku tidak bertanya namamu. Aku bertanya mana yang sakit?"
"Aku single."
"Lalu?"
Pria yang Sehun tebak berusia sama dengan adik bungsunya itu terlihat begitu percaya diri, dan entah mengapa daripada ingin menolong Sehun lebih tertarik untuk meninggalkan bocah mulut besar di depannya saat ini juga "Ya, hanya memberitahu. Siapa tahu kau tertarik padaku."
Sehun tertawa sarkas lalu melepas tangannya dari pergelangan kaki pria yang dia ketahui bernama Wayo untuk mengatakan "Sayangnya aku sudah menikah."
"MWO? Bohong! Kau mengejar jalang di club malam itu kan?"
"Siapa yang kau katakan jalang?"
"Pria cantik yang mencium pemilik club. Bukankah dia seorang ja-…"
"CUKUP!"
Wayo tersentak, Sehun terlihat begitu murka. Sebelumnya dia tidak pernah membiarkan siapapun menghina Luhan di depan kedua matanya, siapapun, termasuk ayahnya atau bahkan dirinya sendiri. Jadi ketika ada yang mengatakan Luhan seorang jalang, entah itu siapa, rasanya Sehun bisa membunuhnya dengan satu kali cekikan jika tidak mengingat bocah sialan di depannya itu hanya orang asing yang tidak mengetahui apapun tentang Luhannya.
"Kenapa kau berteriak? Apa aku salah bicara?"
"jangan pernah….Jangan pernah mengatakan hal buruk lagi tentang priaku. Kau dengar? Kau tidak mengetahui apapun tentangnya, jadi hanya diam dan TUTUP MULUTMU!"
"tsk! Kau terlihat sangat lemah hanya untuk pria yang membuangmu!"
"DIAM!"
Wajar jika Sehun terbawa emosi. Pertengkarannya dengan Luhan satu minggu lalu sudah membuatnya begitu merindukan pria mungilnya. Dia sudah tidak melihat wajah Luhan selama satu minggu, lalu tiba-tiba dia harus bertemu orang asing yang mengatakan hal gila tentang Luhan, dia benar-benar marah sampai rasanya ingin membunuh siapapun yang terus mengatakan hal buruk tentang kekasihnya, hidupnya, Luhannya.
"Jika kau baik-baik saja, aku akan pergi." Katanya memberitahu untuk mendengar suara ringisan dari pria yang baru saja dikenalnya "sshh…kakiku! Kakiku sakit. Harusnya aku bertemu dengan pamanku, bukan terduduk menyedihkan karena ditabrak oleh orang asing. Sssh…"
Sehun berhenti melangkah, diliriknya lagi pria yang sengaja sedang merengek untuk menarik perhatiannya. Dia pun kemudian menarik dalam nafasnya, mendekati bocah yang menurutnya sangat manja lalu kembali berjongkok di depannya "Kau datang menemui pamanmu disini?"
"Ya, dia seorang dokter di rumah sakit ini."
"Lantai berapa?"
"Apa?"
"Pamanmu berada di lantai berapa?"
"Lantai 53."
Kali ini Sehun membalikan tubuhnya, menawarkan punggung agar pertemuannya dengan si orang asing cepat berakhir. Mau bagaimanapun dia pernah ditolong oleh orang asing di depannya, dan untuk membuat semuanya impas, Sehun akan melakukan hal yang sama agar pria berperawakan kecil di depannya tidak terus merengek "Naiklah, aku akan mengantarmu ke lantai 53."
"b-Bernarkah?"
"Ya."
Tak perlu waktu lama, Pria berdarah Bangkok itu naik ke punggung Sehun, begitu senang karena mendapat tawaran dari pria yang menarik perhatiannya sejak pertama bertemu. Awalnya dia mengira Sehun juga menyukainya , tapi kemudian raut wajahnya berubah masam karena mendengar penuturan tak menyenangkan yang langsung dikatakan Sehun untuknya "Setelah ini kita impas. Jadi jangan datang menemuiku lagi, oke?"
"ish! Kau benar-benar memiliki harga diri yang tinggi ya?"
"Aku hanya tidak ingin seseorang salah paham."
"Siapa?"
Ting!
Bersamaan dengan pertanyaan Wayo, pintu lift terbuka, menampilkan sosok seseorang yang dirindukan Sehun selama satu minggu ini –tidak- Sehun sudah merindukan sosok cantik di depannya selama satu tahun.
Bibirnya bahkan refleks menjawab pertanyaan Wayo untuk mengatakan "Dia."
"Dia? Siapa?"
"Luhan."
Jadi sebenarnya Sehun mengutuk posisi ini. Posisi dimana dia menggendong seseorang di punggungnya sementara wajah Luhan yang tadinya tersenyum entah karena apa berubah menjadi tegang dan seperti biasa, penuh kebencian.
Dua mata mereka yang bertemu pandang diputusnya secara sepihak, Luhan lebih memilih menatap kosong kedepan sementara Sehun terpaksa harus masuk ke dalam lift dengan membawa pria lain di punggungnya "ahjussi. Kenapa kau hanya diam?"
Tak lama pintu lift tertutup, Sehun menekan tombol lantai lima puluh tiga sementara milik Luhan berada di lantai enam puluh. Itu artinya Luhan akan pergi ke lantai serbaguna, tempat pelantikan Baekhyun dan Kyungsoo di laksanakan.
Ingin rasanya Sehun menurunkan pria cerewet di punggungnya, berbeda dengan reaksi Luhan, Jujur saja dia terkejut melihat pria lain berada di gendongan Sehun. Sungguh, ini kali pertama hatinya dibuat gusar karena melihat interaksi yang begitu intim antara Sehun dengan orang lain.
Oleh karena itu dia memilih diam, berdoa kuat-kuat agar seseorang menekan tombol lift dan menghentikan keadaan canggung yang sedang dialaminya saat ini "ayolah, siapapun."
Namun sial lagi, sampai di lantai empat puluh tak ada satu orang pun yang menekan tombol lift. Membiarkan Luhan membusuk dengan keadaan canggung bersama Sehun dan mungkin kekasih barunya untuk merasakan hatinya terbakar karena rasa tak suka melihat interaksi berlebihan Sehun dengan pria lain.
"ahjussi, boleh aku bertanya?"
"Aku bukan ahjussi."
Terlebih pria yang usianya jauh lebih muda dari mereka berdua terlihat sangat aktif dan terus berbicara, walau Sehun hanya menanggapi seperlunya tapi menurut Luhan mereka terlalu akrab untuk dua orang yang baru mengenal satu sama lain, ya, karena bocah itu memanggil Sehun dengan sebutan ahjussi, jadi tidak salah jika dia menebak bahwa Sehun baru mengenal pria yang sedang berada di punggungnya.
"Baiklah kalau begitu, apa aku boleh memanggilmu Sehun?"
"Kau tahu namaku?"
"Tentu saja! Dua dokter berparas cantik yang memberitahuku namamu, mereka mengira aku kekasihmu, kkk~."
Sudah jelas dua dokter berparas cantik yang dimaksud pria cerewet itu adalah Baekhyun dan Kyungsoo, dan rasanya ini serangan baru untuk Luhan mengingat untuk kali pertama hatinya dibuat panas hanya karena orang asing yang bahkan dia tidak tahu siapa namanya.
"Lu."
Sehun sendiri tersenyum melihat bagaimana reaksi Luhan, tangannya terkepal begitu erat, awalnya dia bertanya-tanya, tapi kemudian Sehun beralih melihat wajah Luhan untuk memastikan keadaan Luhan. Prianya memang terlihat tenang, tapi Sehun sudah mencintai Luhan untuk dua puluh tahun, jadi bohong jika dia tidak mengetahui bahwa Luhannya sedang cemburu saat ini.
"Bukankah aku sudah bilang padamu, aku sudah menikah."
Luhan tertegun, diam-diam mendengarkan penuturan Sehun tentang status pernikahannya, bertanya-tanya apa maksud Sehun sampai si pria asing mewakili pertanyaannya.
"Benarkah? Dengan siapa?"
Ting!
Sekilas Sehun melangkah maju, diliriknya Luhan yang berada di sampingnya, lalu tanpa ragu memberitahu Wayo siapa istrinya "Pria yang berada satu lift bersama kita saat ini. Dia istriku."
"huh?"
Bersamaan dengan jawaban Sehun, pintu lift lantai lima puluh tiga terbuka. Refleks Wayo melihat ke arah Luhan, melihatnya dengan seksama untuk menyadari bahwa pria yang sedari tadi bersamanya di dalam lift adalah pria yang sama yang satu minggu lalu dia sebut jalang tanpa alasan.
"bukankah dia…."
Wayo tidak mengenalinya tentu saja, karena selain penampilan yang sangat berbeda. Pria yang Sehun katakan sebagai istrinya terlihat sangat sempurna dimatanya.
Dari jas putih yang terlihat menganggumkan saat dia kenakan, raut wajahnya yang begitu tenang namun tak menghilangkan aura cantiknya yang begitu luar biasa, lalu tak sengaja Wayo menatap mata Luhan untuk kemudian mengatakan "Whoa." Tanda dia begitu takjub dari kesempurnaan yang dimiliki seseorang untuk menyesali ucapannya tentang pria yang memakai name tag "Dokter Xi?"
"Dia dokter?"
Sementara Sehun membawanya keluar dari dalam lift, Wayo bertanya, Luhan bahkan bisa mendengar jawaban Sehun yang mengatakan "Dia dokter yang sangat hebat." Membuatnya terpaku sejenak dan membiarkan pintu lift terus terbuka tanpa menekan tombol apapun saat ini.
"berhenti berdebar sialan, hubungan kalian sudah berakhir."
Luhan tersadar, merutuk marah pada hatinya yang terus berdebar gila untuk menekan tombol tutup pada lift. Pintunya pun otomatis tertutup namun tangan seseorang kembali menahan pintu lift dan bergegas masuk ke dalamnya.
"Sehun."
Luhan bertanya-tanya lagi, tapi kemudian dia tidak peduli dan lebih memilih diam. Sehun juga diam, lalu kemudian Luhan mengutuk semua keadaan canggung ini sampai akhirnya lift mengantar mereka ke lantai enam puluh.
Ting…!
Luhan lebih dulu melangkah keluar, tapi langkahnya terhenti tatkala tangan Sehun menggenggam lengannya. Ingin dia langsung memaki, tapi kemudian Sehun lebih dulu melangkah keluar lalu berbisik tepat di telinganya "Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan pria tadi."
Setelahnya tubuh Luhan kembali terpaku, dia juga bisa melihat Sehun berteriak "Seungjaeyaa…" pada putra pertama Yunho dan Jaejoong yang juga berteriak memanggil "Samchoon." pada Sehun.
Dan entah karena alasan apa, Luhan tersenyum, matanya berkaca-kaca sementara hatinya meronta ingin dibuat bahagia. Mungkin hatinya lelah merasakan benci, tapi Luhan terus memenuhinya dengan kebencian terlebih saat sosok yang begitu dia benci terlihat sedang tersenyum ke arahnya.
Membuat Luhan begitu muak hingga menyadari bahwa jaksa Oh terlalu berani datang ke pelantikan Baekhyun dan Kyungsoo mengingat kemungkinan mereka bertemu sangatlah besar.
"tsk! Kau sengaja datang kesini ya?"
Luhan bergumam marah, dia kemudian melangkah keluar dari lift untuk mendapat tatapan penuh harap dari seluruh keluarga Oh "hyung."
Itu suara Jaehyun yang memanggilnya, Luhan melirik sekilas, lalu kemudian sosok yang sudah bertambah tinggi itu terlihat tak jauh darinya. Dia terdiam beberapa saat untuk mengagumi betapa sempurna Jaehyun sama seperti dua kakaknya, tampan dan begitu menawan.
Namun saat wajah yang begitu dia benci lagi-lagi terlihat, tatapannya berubah menakutkan. Dia tak menolak tatapan lembut yang diberikan Jaksa Oh. Sebaliknya, dia membalas tatapan itu namun penuh kebencian, tak lama dia memutus kontak mata mereka diiringi seringai yang tak bisa dijelaskan. Luhan kemudian melangkah pergi, segera duduk di tempat yang telah disediakan untuknya sementara seluruh wajah keluarga Oh menatap sendu padanya.
"Luhan."
Insung terutama, sepenuhnya tatapan menyesal dia berikan pada Luhan. Berharap suatu saat nanti Luhan sudi memaafkannya walau rasanya tidak mungkin mengingat hingga saat ini dia belum bisa membuktikan apapun pada Luhan.
Yang bisa dia lakukan hanya mengawasi Luhan dari jauh, memastikan bahwa putra Chen dan Baby akan hidup dengan layak walau kebencian akan sepenuhnya diberikan untuk keluarga kecilnya.
Langkahnya sudah berjalan mendekati Luhan tapi kemudian Sehun berdiri tepat di depannya, menghalangi. Keduanya bertatapan cukup lama sampai putra nomor duanya berujar seolah memperingatkan "Pa, jangan ganggu Luhan. Apapun yang ingin kau katakan padanya, jangan lakukan hari ini, dia belum siap bertemu denganmu."
Sehun berujar lirih, dengan Seungjae berada di gendongannya dia mengambil tempat duduk bertulis Do's family, sementara ibunya mengambil tempat Byun's family untuk mewakili keluarga Kyungsoo dan Baekhyun di acara pelantikan.
Mata Insung terkunci pada Luhan, memandangya tak berkedip untuk beberapa saat lalu bergumam menyesal bahwa dia tidak bisa menghindari Luhan lebih lama lagi "Maafkan papa nak, tapi papa harus bicara dengan Luhan, sebelum semuanya terlambat."
Kemudian pria paruh baya itu mengambil tempat tak jauh dari Luhan, terus memperhatikan putra tunggal Chen seraya menggumamkan janji yang dia buat bersama Chen satu tahun lalu, tepat di hari yang sama saat mereka membuat rencana untuk menangkap Donghon menggunakan perangkap.
Walau gagal, janji tetaplah janji. Insung pun tertunduk pilu lalu bergumam dengan mata yang tak lepas menatap sosok Luhan di depannya. "Seperti janjiku, aku akan menjaga Luhanmu, selalu."
.
.
.
.
.
.
.
.
"Bagaimana? Apa kau mendapatkan USB sialan itu?"
Seunghyun datang untuk memberikan laporan, dan dilihat dari wajahnya yang begitu geram maka bisa dipastikan bahwa dia kembali dengan tangan kosong. Tak ragu dia membungkuk pada si "mesin pembunuh" untuk mengatakan bahwa dia masih belum menemukan apapun tentang keberadaan usb yang dikatakan oleh Jaksa Oh "Belum, Luhan belum terbuka pada kami."
"SIALAN! APA AKU HARUS TURUN TANGAN?"
"Tidak perlu bos, kami hanya perlu sedikit menggertak Luhan agar dia mengatakan apa yang diketahuinya tentang usb yang diberikan kejaksaan padanya."
"BAJINGAN KECIL ITU PASTI MEMILIKINYA!"
"Aku tahu, Doojoon juga mengetahuinya. Tapi rasanya Doojoon bermain terlalu lembut, berbeda denganku. Aku akan membuat hati si bajingan kecil dipenuhi dendam hingga membunuh Jaksa Oh adalah hal yang begitu dia inginkan."
"Apa maksudmu?"
Seringai keji Seunghyun terlihat, pria yang kerap dipanggil TOP itu juga menunjukkan tatapan dingin khas miliknya saat sedang mencabut nyawa seseorang, begitu dingin diiringi suara yang bisa membunuh siapapun hanya dalam satu ucapan "Dia terlalu jinak untuk seseorang yang dipenuhi dendam. Jadi aku akan melakukan cara agar sisi jinaknya hilang digantikan sisi binatang yang begitu mengerikan, itu maksudku."
Tertarik, pria tua bermata pirates itu tersenyum keji, dia kemudian menatap bangga pada tangan kanannya untuk bertanya "Apa yang akan kau lakukan?"
Seunghyun membuat gerakan memakai sarung tangan hitam kebanggannya, melirik sekilas pria tua yang sudah menjadikannya keji hingga seperti ini lalu berujar penuh keyakinan "Aku mengenalnya selama berpuluh-puluh tahun, aku tahu dimana sisi lembut putra dari detektif Xi, yang perlu kulakukan hanya membakar kenangan palingan indah yang dia miliki agar kobarannya menjadi api kemarahan yang tak bisa dipadamkan."
"ayolah TOP, kau terlalu bertele-tele! Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku?" Seunghyun mengeluarkan pemantik dari jubah hitamnya. Sesekali menyalakan api lalu meniupnya, menyalakan lagi, lalu meniupnya. Sampai akhirnya dia tertawa lalu dengan keji mengatakan "Aku akan membakar toko roti detektif Xi."
"Toko roti?"
"Ya, Luhan memiliki kenangan terlalu banyak dengan toko roti ayahnya. Selama satu tahun ini dia bisa menghabiskan waktu seharian hanya untuk duduk di tempat favorit ayahnya sambil menyesap secangkir teh. Selalu seperti itu, setiap bulan selama satu tahun. Jadi kau tahu pada siapa dia akhirnya akan bergantung, pada kita."
"briliant!" Donghoon memuji lalu menemukan cacat dalam rencana Seunghyun "Tapi bukankah dia akan mencari tahu melalui hukum?"
"Tidak, dia akan sangat membenci hukum karena hukumlah yang membakar habis toko roti ayahnya."
"Apa maksudmu?"
Yang berparas tampan nan keji kini tersenyuk licik, matanya menatap tanpa ragu mata Donghoon dan tak lama suara kejinya kembali terdengar "Mengatasnamakan kantor kejaksaan, dibawah perintah palsu langsung dari Jaksa Oh, Luhan kecil kita akan merasakan dendam yang begitu hebat sampai terasa hingga ke tulang rusuknya, lalu hatinya dipenuhi benci hingga yang dia inginkan hanya membunuh Jaksa Oh, dan pada akhirnya meminta bantuan padaku, pada Doojoon. Bagaimana?"
Donghoon terlihat puas, dia bahkan tersenyum layaknya idiot untuk menepuk tangan, memberi penghargaan tertinggi pada Seunghyun yang sudah berjuta-juta kali lebih keji dalam waktu kurang dari satu tahun "well, Choi Seunghyun. Kau tak hanya pandai membunuh, tapi seluruh rencanamu tak memiliki cacat sedikitpun. Kita akan menggunakan orang dalam kejaksaan untuk membuat surat perintah palsu, ah-…aku tak sabar melihat bagaimana Luhan akhirnya menyerah untuk mencari tahu seorang diri dan hanya bergantung padamu, pada Doojoon, pada kita."
"Kau benar. Kita bahkan bisa menambah jumlah anggota dengan kemampuannya menghentikan pendarahan dengan cepat. Dia akan sangat berguna."
"Atau jika dia menolak, kau hanya perlu membuatnya menyusul kedua orang tuanya. Bagaimana?"
"Perkara mudah untukku."
"Aku benar-benar tidak sabar mendapatkan usb sialan itu! Kau tahu kenapa aku sangat menginginkannya."
"Database serta catatan kriminalmu berada di genggaman Detektif Xi selama berpuluh-puluh tahun, lalu kemudian pria tua itu meletakannya di sebuah usb yang kini berada di tangan putra kandungnya. Jadi rasanya wajar kau sangat menginginkan benda sialan itu." katanya menganalisa lalu melanjutkan analisa singkat mengenai ketertaarikan Donghoon pada benda yang dimiliki Luhan.
"Dan ketika seluruh catatan itu berhasil kita hapus, itu artinya, kau akan menjadi mafia terkuat di tiga negara mengingat jumlah kekayaanmu akan menjadi tak terbatas ditambah jumlah pembunuh yang bekerja untukmu akan semakin bertambah."
"Tepat! Karena selama mereka memiliki catatan kriminal tentang diriku, selama itu pula aku hanya akan bisa berada di Seoul dan menjadi buronan dari kejaksaan hukum di tiga negara. Beruntung aku memiliki beberapa pejabat tinggi sebagai anjing pelindungku, tanpa mereka, Jaksa Oh akan dengan mudah menangkapku bahkan tanpa bukti sekalipun. Jadi tugasmu, apapun yang terjadi, dapatkan usb sialan itu dan hancurkan segala data di dalamnya."
Seunghyun mengangguk tanpa ragu, kembali membungkuk sebagai tanda perpisahan lalu berujar penuh keyakinan "Kurang dari satu minggu kau akan mendapatkan kabar baik."
Donghoon mengepul asap cerutunya untuk tersenyum tak sabar menanti hari kemenangannya "Cepat bawa bajingan kecil itu padaku. Aku tak sabar."
.
.
.
.
.
Seoul hospital,
.
.
"Kepada Dokter Do, kami persilahkan untuk memberikan satu-dua kata atas pencapaian dan dedikasi tinggi yang telah diberikan untuk Seoul Hospital hingga hari ini."
Suara tepuk riuh terdengar bersamaan dengan berdirinya sang dokter. Semua bertepuk riang, tak terkecuali Luhan yang diam-diam menoleh ke samping kanan, menatap gemas pada Taeoh yang menangis saat Kyungsoo melepas pelukannya namun seketika diam saat Sehun mengambil alih dan membawa si kecil ke dalam gendongannya. Taeoya, Luhan bergumam kecil dan tak lama suara Kyungsoo terdengar memberi kata sambutan.
"Terimakasih untuk seluruh rekan sejawat di Seoul Hospital. Kepada Professor Kim, Professor Cho, dan tak lupa kepada Professor Yoon selaku pembimbing utama di tim bedah yang selalu memberikan pengalaman terbaik di ruang operasi."
Kali ini giliran Sehun yang menoleh ke samping kiri, memperhatikan Luhan sedang menatap si pria bernama Yoon Doojoon untuk bertepuk dengan senyum yang sudah lama sekali tak dia lihat.
Refleks, Sehun ikut tersenyum. Tapi saat Doojoon mulai membalas tatapan Luhan, saat itu pula dia merasa terganggu karena interaksi keduanya. Entah mengapa dia selalu merasa Doojoon adalah alasan terbesar Luhan membencinya, dan karena hal itu pula secara diam-diam, daripada mencari tahu tentang kematian dua orang tua Luhan, Sehun lebih memilih mencari tahu latar belakang Doojoon, memastikan bahwa pria yang memiliki usia sama dengan hyungnya bukanlah seseorang yang harus dia cemaskan saat berada di sekitar Luhan.
"Setelahnya aku akan mengabdi sepenuh hati di tempat yang telah membesarkan diriku. Terimakasih atas kepercayaan yang diberikan padaku, selamat siang."
Drrrt...ddrrtt
Bersamaan dengan berakhirnya kata sambutan yang diberikan Kyungsoo, ponsel Luhan bergetar. Buru-buru dia mengambil ponselnya di saku untuk membaca pesan yang begitu dia tunggu.
Mereka sudah berada di toilet khusus staff, sedang bercinta mungkin. Giliranmu
Begitulah pesan yang dia baca dari Myungsoo, membuat si dokter berparas cantik itu tersenyum penuh kemenangan untuk sekedar membalas oke.
Luhan lalu beralih mencari nomor kontak residen yang menjadi timnya, mengiriminya pesan kilat yang berisi perintah "sekarang!" Lalu tak lama terlihat satu orang pemuda yang memakai jas putih kini menghampiri Baekhyun, terlihat berbisik di telinga sahabatnya.
"Bagus!"
Luhan memekik senang tatkala Baekhyun berdiri dari kursinya, dan saat sang residen memberi tanda dengan ibu jari maka bergegas Luhan ikut berdiri dari kursi untuk menghampiri tempat dimana Kai dan Chanyeol berada.
"Kalian datang?"
Menatap terkejut pada kedatangan dua prianya adalah bagian dari sandiwara yang sedang Luhan lakoni. Dia memang sengaja meminta Chanyeol datang ke rumah sakit hari ini berbeda dengan Kai yang sedari awal dia ketahui pergi menemui Yunho dan pasti akan berakhir di rumah sakit tepat seperti dugaannya.
Luhan hanya ingin rencananya berjalan natural, dan terimakasih pada Yunho karena membuatnya benar-benar terlihat natural tanpa ada campur tangan darinya. Tebakan Luhan, kakak kandung Sehun itu membawa Kai ke rumah sakit menggunakan nama putranya. Dan benar saja, sedari tadi hal yang dilakukan Kai hanya menatap putra kecilnya sementara Chanyeol tak berkedip menatap Baekhyun.
"Kau tidak memberitahu apapun tentang pelantikan Baekhyun dan Kyungsoo."
Chanyeol bertanya menyelidik sementara kekehan kecil ditunjukkan Luhan untuknya "Tanpa kuberitahu kau juga ada disini." Katanya membalas diiringi tawa oleh si pria berlesung pipi "Araseo..araseo. Lalu kapan kau menyusul mereka?"
"Apa?"
"Diangkat menjadi dokter tetap tentu saja."
"ah..."
Luhan menggaruk asal tengkuknya. Dia lupa belum memberitahu Kai dan Chanyeol perihal kepindahannya dari rumah sakit, terus menunda hingga akhirnya benar-benar lupa jika lusa sudah tidak bekerja di Seoul Hospital.
"Kita bicarakan nanti di rumah."
"Tentang apa?"
Kai bertanya namun matanya tak beralih memandang Kyungsoo dan Taeoh, membuat Luhan terkekeh dan tak lama memukul asal lengan pria satu anak di depannya "arrrh! Kenapa dipukul?"
"Jangan bertanya padaku jika seluruh matamu melihat Kyungsoo dan Taeoh, aku cemburu!"
Kai tertawa kecil lalu membawa Luhan ke pelukannya, memeluknya antara gemas dan begitu rindu karena sudah lama tidak melihat Luhan bersikap manja seperti saat ini "Aigoo, lihat siapa yang merajuk?" katanya menciumi pucuk kepala Luhan lalu menyerahkan si mungil pada Chanyeol "Baiklah baiklah, aku bertanya apa yang ingin kau bicarakan di rumah?"
Berpura-pura kesal dengan bibir mengerucut serta tangan terlipat membuat tingkat menggemaskan Luhan melesat tinggi dari sebelumnya, Kai dan Chanyeol benar-benar dibuat tertawa karena terlalu merindukan Luhan yang bersikap manja, bukan Luhan yang sibuk memenuhi hatinya dengan kemarahan.
Keduanya juga memberi pelukan bertubi untuk si mungil, tentu saja mereka lakukan sepenuh hati untuk mendapat jawaban tegas dari Luhan "Nanti saja bicaranya. Yeol! Ikut aku sebentar."
"Kemana?"
"Ke toilet, sebentar saja."
Tangan Luhan sudah menggenggam erat jemari Chanyeol, dia kemudian menarik paksa tangan besar Chanyeol untuk membawanya ke tempat Baekhyun berada "Kai, sampai nanti di rumah."
"Aku mungkin pulang terlambat Lu, Kau tahu kan."
Luhan mengangkat ibu jarinya, tanda mengerti. Lagipula seluruh pandangan Kai hanya tertuju pada Taeoh, jadi saat prianya mengatakan pulang terlambat, itu artinya dia sedang berjuang agar bisa lebih dekat dengan putranya. "Aku tahu Kai, doaku selalu untukmu."
"gomawo, Lu."
Dan interaksi tiga sahabat itu tak luput dari penglihatan Sehun maupun Kyungsoo. Keduanya betah melihat apa yang dilakukan Luhan bersama dua sahabatnya, walau mereka tidak mendengar apa yang dibicarakan tapi itu cukup membuat keduanya merasakan rindu bisa berkumpul bersama
Ya, andai saja Luhan tidak mengerikan seperti saat ini.
Itu yang ada di pikiran Kyungsoo sementara Sehun bertanya-tanya kemana Luhan membawa Chanyeol pergi, pikiran gilanya mengatakan untuk membuntuti kekasih dan sahabatnya. Tapi kemudian tangan Kyungsoo menggenggamnya erat seolah meminta untuk tidak mempedulikan apapun yang Luhan lakukan mengingat kali terakhir mereka berinteraksi hubungan mereka semakin memanas.
"Tidak boleh ya?"
"Tahan dirimu. Jangan pergi kemanapun. Oke?"
Mencoba mengerti keadaan, Sehun terpaksa mengangguk, dia membiarkan Luhan hilang dari pengawasaannya sementara tangan Kyungsoo terus menggenggam kuat jemarinya "Baiklah, aku tidak akan pergi." Lirihnya dan setelah itu Kyungsoo melepas genggamannya di tangan Sehun "Bagus."
.
.
"Lu, sebenarnya ada apa? Kenapa tiba-tiba ingin ke toilet? Lagipula kau bisa sendiri, kenapa harus membawa-…."
PLAK!
"BRENGSEK! TEGA SEKALI KAU KIM JISOO!"
Tap!
Baik Luhan maupun Chanyeol berhenti melangkah, keduanya sama-sama terkejut melihat apa yang sedang terjadi di depan mereka. Untuk Luhan, dia pura-pura terkejut tentu saja.
Dia juga sengaja melepas genggaman tangan Chanyeol, mempersilahkan prianya jika ingin "hilang kendali" dan menyelamatkan belahan jiwanya yang sedang diambang kehancuran bersama calon suaminya.
"AKU BISA MENJELASKANNYA. AKU TIDAK MENGENAL WANITA JALANG INI!"
"TIDAK MENGENAL DAN KAU BERCINTA DENGANNYA? KAU BENAR-BENAR MENJIJIKAN!"
Luhan bisa melihat wanita bernama Soomi itu sedang mengerling ke arahnya, diam-diam dia juga memberikan ibu jari tanda bahwa dia melakukan pekerjaannya dengan sempurna sementara Baekhyun dan calon suaminya terlihat saling memaki hingga caci maki dan kalimat hina tak bisa dihindarkan.
"yeol?"
Namun yang membuat Luhan kecewa adalah saat tangan Chanyeol kembali menggenggam jemarinya, pria berlesung pipi itu memberikan tatapan tak wajar seraya berkata "Sudahlah Lu, lebih baik kita pergi, ini bukan urusan kita."
"Tapi yeol…Baekhyun-…."
"Dia akan baik-…."
"TIDAK AKAN ADA PERNIKAHAN! KAU DENGAR?"
"brengsek! BERANI SEKALI KAU MELAWANKU!"
Tangan Jisoo sudah terangkat, siap memukul Baekhyun, Luhan cemas pada awalnya tapi saat Chanyeol melepas genggaman di jemarinya maka disaat yang sama seringai kecil jelas terlihat di wajahnya "that's my boy." Ujarnya bangga lalu tak lama terdengar bunyi
BUGH!
Dan seketika, putra komisaris tertinggi di rumah sakit tempatnya bekerja tersungkur memalukan di lantai.
"Chanyeol?"
Luhan bisa melihat Baekhyun tercengang, namun yang membuat dirinya bahagia adalah saat tubuh mungil Baekhyun dibawa bersembunyi di balik tubuh raksasa yeolienya dengan dua jemari mereka yang saling bertautan.
"Kalian berdua, bahagialah!"
Luhan sedang berdoa kuat-kuat untuk melihat Jisoo yang murka dan hendak membalas pukulan Chanyeol "SIAPA KAU?"
BUGH!
Tak memberi kesempatan, Chanyeol kembali memukul wajah Jisoo, membuatnya lagi-lagi tersungkur untuk mengatakan "Jika ingin memiliki priaku, kau harus belajar caranya mengalahkanku."
"AARGH!"
Chanyeol sengaja menginjak jemari Jisoo lalu membawa Baekhyun pergi dan meninggalkan Luhan berdua dengan Jisoo dan Soomi. "tsk! Kenapa kau tidak bisa menahan diri? Harusnya kau bercinta di malam hari, bukan di siang hari seperti ini, Jisoo-ssi"
Jisoo masih meringis kesakitan, dia kemudian menatap Luhan yang sengaja berjalan mendekatinya untuk memberikan beberapa lembar uang pada jalang yang baru ditidurinya beberapa saat lalu "Kerjamu bagus Soomi-ya. Katakan pada Myungsoo aku akan membayar lebih untukmu."
Di depan mata Jisoo, wanita sialan bernama Soomi itu mengambil paksa uang dari Luhan "thanks Luhan!" dan setelah mengucapkan terimakasih, wanita itu pergi meninggalkan Luhan berdua dengan Jisoo.
"berani sekali kau Dokter Xi, aku bersumpah akan membalasmu!"
"Apa?"
Luhan berjongkok tepat di depan Jisoo untuk mengerlingnya penuh kemenangan "Lain kali kau harus mengalahkan priaku baru datang mengancamku." Katanya memperingatkan Jisoo untuk melenggang pergi merayakan keberhasilan rencananya "Bye, Jisoo."
"XI LUHAN!"
.
.
.
.
.
Alih-alih berlari karena dikecewakan tepat di hari pelantikannya, Baekhyun lebih memilih naik ke atas panggung, memberikan satu-dua kata saat namanya dipanggil dengan Chanyeol yang terus mengikuti, memastikan bahwa Baekhyun baik-baik saja.
"Selamat siang."
Suaranya parau, Sehun menyadari jika sesuatu telah terjadi, buru-buru dia menoleh ke belakang untuk menemukan Chanyeol sedang menatap cemas pada sahabatnya "Ada apa?" begitulah pertanyaan mengganggu yang mengusik benaknya. Tapi rasanya dia tidak akan menemukan jawaban kecuali dia bertanya pada Luhan.
Ya, tak lama sosok cantik yang begitu dia cintai datang dari arah yang sama dengan Baekhyun dan Chanyeol, tapi berbeda dari raut tegang kedua sahabatnya, Luhan lebih terlihat tenang, ida bahkan tersenyum membuat Sehun terpana karena senyum yang ditunjukkan Luhan saat ini.
Karena selain dia merindukan senyum kekasihnya, jujur saja ini kali pertama Sehun melihat Luhan tersenyum begitu senang, membuat seluruh hatinya menjadi hangat lalu menyadari bahwa dari semua hal buruk yang terjadi di antara mereka, senyum manis kekasihnya adalah yang paling dia rindukan. Terlalu rindu sampai rasanya Sehun enggan berkedip melihat senyum Luhan walau hanya dari kejauhan.
Di keramaian, tiba-tiba Sehun tersenyum sendu, menundukkan kepalanya dengan tangan terkepal, bertanya-tanya "Dari semua hal yang tak pernah berubah adalah kenangan. Lagipula aku terlalu merindukanmu, jadi kapan?"
Sehun menenangkan diri sejenak, mengambil banyak nafasnya untuk kembali menoleh ke sisi kiri, memperhatikan Luhan yang sedang tersenyum sangat cantik untuk bergumam sangat lirih "Kapan kau akan memaafkan aku? Kembali padaku? Kapan?"
"Lalu bagaimana dengan rencana pernikahan anda dokter Byun?"
Sehun mengangkat wajahnya, setidaknya dari semua kesulitan yang mereka lalui selama satu tahun ini, Baekhyun akan menemukan bahagianya. Dia kemudian melupakan sejenak kesedihannya untuk menyambut kabar baik yang akan diberitahukan sahabatnya hari ini.
"Maaf harus mengatakan ini, tapi tidak akan ada pernikahan yang terjadi. terimakasih."
"Bee? / Baekhyunna?"
Baik Kyungsoo maupun Sehun terlihat sangat terkejut, bertanya-tanya mengapa Baekhyun membatalkan rencana pernikahan yang sudah matang dibicarakan untuk turun dari podium. Sahabatnya juga berlari meninggalkan gedung diikuti Chanyeol yang terlihat begitu mencemaskan keadaan Baekhyun "Sehunna, ada apa?"
Kyungsoo bertanya, Sehun hanya diam sebagai jawaban. Tatapannya kini kembali pada Luhan, dan untuk satu hal, kini Sehun mengerti, alasan mengapa Luhan tersenyum adalah karena dia telah melakukan sesuatu pada Baekhyun, sesuatu yang menurutnya sudah sangat melewati batas dan tak pantas yang bisa dilakukan Luhan pada Baekhyun, sahabatnya,
"Kau sudah terlalu jauh, Luhan."
.
.
.
.
.
Siang berganti malam dan kita masih sama seperti ini, saling melukai
.
.
.
.
.
.
"Mungkin mereka akan mempromosikanmu tahun depan, bersemangatlah dokter Xi."
Sepanjang acara hanya ucapan semangat yang diterima Luhan, bahkan disaat jamuan makan malam oleh komisaris tertinggi diadakan, Luhan tetaplah menjadi sorotan untuk beberapa perawat dan dokter sejawat yang mengenalnya.
Mungkin jika dia mengatakan tidak akan bertugas lagi di Seoul hospital semua masalah akan selesai. Tak akan adalagi yang mengasihaninya, tapi sejujurnya dia lebih benci mengutarakan kalimat perpisahan atau melihat seseorang menangis karena perpisahan, jadi sekali lagi, dia lebih memilih dikasihani daripada harus pergi diiringi air mata oleh beberapa perawat serta dokter senior yang begitu menyayanginya.
"Hey kiddo. Bersemangatlah."
Luhan tertawa kecil. Rasanya dari semua orang di rumah sakit ini, perawat Lee adalah seseorang yang akan begitu dia rindukan. Karena selain memiliki usia yang sama dengan mendiang ibunya, wanita bernama Lee Hyorin itu juga memiliki sifat yang sama dengan ibunya, begitu bersemangat dan terkadang sangat cerewet.
"Aku bersemangat Perawat Lee."
"eyy… Kita hanya berdua, panggil noona."
"Noona?"
"Iya! Cepat lakukan."
"Tapi usiamu sama seperti ibuku."
"ish!"
"hahaha~ Baiklah noona, aku bersemangat."
"Begitu baru benar! Aku…."
"Perawat Lee, ruang operasi enam. Sekarang!"
"sssh…Mereka benar-benar tidak bisa melihatku bersantai."
Melihat si perawat menggerutu Luhan kemudian menyenggol bahunya untuk berbisik "Noona, bersemangatlah!"
"baiklah…baiklah. Kau hati-hati dijalan dokter Xi!"
Luhan mengangguk dan tanpa ragu mengatakan "Aku akan melakukannya. Sampai besok."
Tak lama Luhan berjalan seorang diri di basement rumah sakit. Entah mengapa hatinya merasa kosong lagi, dia menebak bahwa malam ini akan berada sendiri di rumah. Karena kenyataannya mungkin Kai sedang bersama Seungjae agar bisa melihat Taeoh lebih lama. Dan jangan katakan dimana Chanyeol, karena Baekhyun pastilah satu-satunya jawaban dimana si pria berlesung pipinya berada.
"haah~…Aku benar-benar bahagia untuk kalian."
Dia mengatakan bahagia tapi seluruh wajahnya terlihat kosong, mungkin bisa dikatakan hatinya yang kosong, terlalu kosong sampai dia lupa caranya bahagia. Luhan bahkan menyadari kondisinya yang begitu menyedihkan namun alih-alih mengobati rasa rindunya dia lebih memilih untuk mengabaikan, yang dia lakukan hanya berjalan lurus menuju mobilnya hingga sosok yang begitu familiar kini tengah berdiri tepat di samping mobilnya.
"Sehun?"
Tap!
Langkah Luhan terhenti, matanya kini bertatapan langsung dengan mata tajam pria di depannya. Bertanya-tanya sejak kapan Sehun berdiri disana hanya untuk mendapati tatapan dingin entah karena apa dari mantan kekasihnya.
Dan daripada peduli, Luhan lebih memilih terus berjalan menuju mobilnya, mengeluarkan kunci dari saku mantel jika tangan Sehun tak mencengkram kuat lengannya saat ini "sssh…"
Luhan meringis, namun yang diberikan Sehun hanya tatapan dingin. Ingin rasanya dia bertanya tapi kemudian sisi jahatnya lebih menyukai untuk bertengkar daripada mencari penjelasan "Lepas."
Sehun hanya diam, matanya tak berkedip menatap Luhan, sarat rindu namun juga kecewa. Lalu sejenak dia lupakan rasa rindunya untuk bertanya "Apa yang kau lakukan pada Baekhyun?"
"Baekhyun?"
"ayolah! Kau pasti tahu maksudku!"
Luhan melepas cengkraman tangan Sehun, menatapnya dengan marah lalu memutuskan untuk melayani seberapa jauh pria didepannya bisa marah dan membentak dirinya "Apa? ah, karena dia membatalkan pernikahannya? Biar kutebak, kau pikir aku melakukan sesuatu yang buruk pada Baekhyun dan kekasihnya?"
"Bukan tanpa alasan kau dan Chanyeol datang hari ini? Kalian pasti melakukan sesuatu untuk menghancurkan hubungan Baekhyun!"
"Jangan bawa Chanyeol dalam hal ini." Katanya memperingati Sehun dibalas tawa renyah oleh mantan kekasihnya "Jadi benar? Kau melakukannya?"
Tanpa ragu Luhan mengatakan "Ya, aku melakukannya. Aku menghancurkan rencana pernikahan Baekhyun, sahabatmu."
Tatkala Sehun menghimpitnya ke mobil, kaki Luhan refleks mundur sebagai respon. Luhan paling membenci posisi ini, posisi dimana Sehun terlihat sangat dominant sementara dirinya terlihat menyedihkan karena tak bisa melakukan sedikit perlawanan.
Sebenarnya dia sudah berkali-kali mendorong bahu lebar milik mantan kekasihnya, tapi berkali-kali pula Sehun menahannya dengan mudah hingga tubuh mereka benar-benar berada di jarak yang begitu dekat sementara Sehun sengaja mempersempit jarak agar geraknya terbatas.
Yang berparas cantik bahkan bisa merasakan deru nafas mantan kekasihnya serta aroma yang tak pernah berubah sejak kali pertama mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih , tidak, aroma Sehun sama sekali tidak berubah sejak mereka berada di usia delapan tahun, usia dimana yang mereka tahu hanya bahagia tanpa tahu harus menderita seperti saat ini.
"Minggir." Luhan memulai perangnya dibalas Sehun yang rasanya tidak memiliki kesabaran malam ini "Apa kau yakin memintaku menyingkir?"
"Apa yang kau inginkan?"
Sehun sengaja menunduk untuk menghirup aroma tengkuk Luhan, menyesapnya kuat-kuat lalu berbisik di antara tengkuk dan telinga Luhan "Aku ingin bertanya, bagaimana caramu membuat Baekhyun membatalkan rencana pernikahannya? Apa kau menggoda kekasihnya? Atau lebih buruk kalian bercinta? Ah, jika kau katakan bercinta dengannya. Mungkin aku bisa gila dan membunuh seseorang malam ini."
Tertarik, Luhan menampilkan senyum licik yang dia miliki, menanggapi Sehun dengan racauan gilanya untuk menantang pria yang diam-diam masih membuatnya begitu berdebar hingga saat ini "Benarkah?" katanya sengaja menyusuri dada bidang Sehun, menyentuhnya sensual dengan tatapan khas seorang penggoda yang tak memiliki harga diri "Jika aku katakan aku bercinta dengannya, kau akan membunuh pria itu?"
Tanpa ragu, dengan sorot mata yang mengerikan Sehun mengatakan "Ya, dengan keji."
"mmhhSehunna."
Suaranya dibuat manja, lalu terdengar menggoda dengan tangan yang masih menyusuri dada bidang Sehun, membuat pertahanan Sehun sebagai seorang pria benar-benar diuji mengingat pria cantik yang sedang memainkan jemari lentiknya adalah pria yang sama yang begitu dia inginkan hati dan tubuhnya, seutuhnya, seluruhnya
"Apa?"
Memprovokasi Sehun adalah hal yang sedang dilakukan Luhan saat ini, tujuannya hanya satu, dia ingin Sehun melakukan kejahatan lalu kemudian berakhir di dalam penjara. Dia sangat ingin melihat apa yang akan dilakukan Insung jika mengetahui anak kesayangannya membunuh seseorang untuk pria sepertinya, pria yang tak pernah dia restui sejak enam tahun lalu. Membuat Luhan benar-benar bersemangat lalu dengan sengaja berjinjit untuk menggigit bibir Sehun "Bunuh dia Sehunna, aku bercinta dengannya. Kami menghabiskan malam panas bersama."
"bohong."
Sehun terpancing amarahnya, tangannya dia gunakan untuk menghimpit Luhan semakin dalam sementara matanya terkunci menatap Luhan penuh kemarahan "Kau mungkin mencium pria lain, tapi untuk bercinta, aku bertaruh kau tidak akan berani melakukannya!"
"Benarkah? Kenapa kau sangat yakin sayang?"
Yang memiliki jemari lentik terlihat semakin menantang pria buas di depannya, tangannya bermain melingkar di dada Sehun sementara bibirnya sengaja menggigit secara sensual "Aku benar-benar bercumbu dengannya, aku mendesahkan namanya, kami bahkan melakukannya beberapa kali. Aku dan dia, kami-…..hmphh~"
Luhan terkejut, bukan ini yang ada di pikirannya, sungguh.
Dia tidak pernah menyangka Sehun akan memiliki keberanian untuk menyetuhnya lebih sekedar dari memeluk dan menggenggam tangan.
Selama satu tahun ini Sehun selalu memperlakukannya begitu lembut, tak pernah sekalipun dia berbuat kasar, berteriak, atau bahkan memaksa kontak fisik seperti yang dilakukannya saat ini.
Saat bibir mereka menyatu, saat nafas mereka menderu sama beratnya, saat semua hal yang mereka rindukan tiba-tiba dirasakan lagi. Bibir mereka memang bertautan, tapi tidak hati mereka. Jadi saat Sehun melakukan segala cara agar Luhan membuka bibirnya maka Luhan melakukan cara yang sama untuk mempertahankan dirinya. Dia terus menutup rapat bibirnya, tak mengizinkan lidah Sehun mengoyak harga dirinya sampai terpaksa Sehun harus melakukan cara kasar agar setidaknya bisa merasakan hangat bibir Luhan setelah satu tahun lamanya.
"arh~!"
Luhan mengerang, bibir bawahnya sudah terluka dan mengeluarkan darah, detik berikutnya dia merasakan anyir bersamaan dengan rasa asin, terpaksa dia membuka bibirnya, membiarkan lidah Sehun bermain di rongga mulutnya sementara dua tangannya dikepal erat oleh pria yang hingga detik ini masih memenuhi mimpi indahnya.
"Sehunlepas—rrrh~"
Tangannya berusaha memukul, tapi tenaga Sehun jauh lebih besar, kakinya juga sengaja menekan dalam area selangkangan Luhan agar si mungil tak bisa meronta walau hanya satu detik.
"hhhmhh~"
Bohong jika Luhan tidak merasa lemas di seluruh tubuhnya, bohong jika ciuman Sehun tidak memberikan dampak menginginkan lebih di seluruh area sensitifnya, bohong jika dia mengatakan benci jika yang dilakukannya saat ini terus membuka lebar bibirnya, meminta akses lebih banyak, lebih dalam, hingga kemudian Luhan bertanya-tanya merasakan rasa asin disela ciuman mereka.
Matanya yang terpejam perlahan membuka, mencari tahu sensasi lembab dan asin dari ciuman yang dilakukan Sehun untuk tertohok menyadari bahwa saat ini, entah karena alasan apa Sehun sedang terisak disela ciuman mereka. Awalnya hanya air mata, namun tak lama Sehun melepas kasar ciumannya, dia mundur nyaris terjatuh, tatapannya hancur lalu tiba-tiba memukul kencang dada, wajah serta menjambak kencang rambutnya.
"ARRRGGGH!"
Entah karena alasan apa, Sehun berteriak, terdengar sangat kesakitan. Dan entah mengapa pula dada Luhan dibuat sesak melihat wajah dan seluruh sikap Sehun yang terlihat begitu menderita.
Dia kemudian memalingkan wajah, tanpa sebab ikut meneteskan air mata dengan tangan yang mencengkram kuat dadanya, mencegah agar hatinya yang bodoh ikut menangisi hal yang tidak perlu dia tangisi. "tenang Luhan." Berkali-kali dia memaki dirinya, namun tiap kali matanya menangkap betapa pucat wajah Sehun, maka berkali-kali pula air matanya ikut menetes tanpa berniat melakukan apapun.
"KAU TIDAK PERNAH BERCINTA DENGAN PRIA LAIN! DENGAR?"
"jadi karena itu." batin Luhan meneriaki kebodohan Sehun. bisa-bisanya Sehun gusar hanya karena dia mengatakan bercumbu dengan pria lain, bukankah wajar? Jikalaupun benar aku bercumbu dengan pria lain, kau tidak seharusnya seperti ini! Kita sudah tidak memiliki hubungan? Ingin dia berteriak menyerang Sehun seperti itu, tapi lidahnya kelu tak bisa berucap, hatinya juga lelah berpura-pura tidak peduli tapi egoisnya masih begitu mengerikan.
Bibirnya tertawa, tapi air mata terus membasahi wajahnya. Dia cenderung memalingkan wajah dan enggan menatap Sehun, takut jika Sehun melihatnya menangis akan membuat hancur semua pertahanan benci yang sudah dia bangun setinggi kerajaan untuk Sehun.
Yang dia lakukan hanya diam sampai terlihat Sehun berjalan gontai, punggungnya menjauh untuk meninggalkannya. Luhan hanya diam memperhatikan, seluruh tubuhnya kelu tak bisa digerakkan.
Dia hanya tidak menyangka semua yang terjadi malam ini berbanding terbalik dengan rencana licik yang dia buat. Dia mengira bisa menyakiti Sehun sepenuhnya tanpa perlu ikut merasakan sakit seperti ini. Terlebih saat Sehun berjalan gontai meninggalkannya, hatinya semakin sesak.
BRRRM….!
Dan ketika Sehun benar-benar pergi meninggalkannya, Luhan terjatuh menyedihkan di basement. Tertunduk pilu membiarkan air matanya menetes tanpa mau berhenti "harusnya aku…."
Suaranya parau saat mencengkram kuat dadanya. Detik berikutnya Luhan memejamkan mata , berusaha menjernihkan pikirannya. Lalu tak lama dia tertawa menyadari satu hal yang begitu memalukan, satu hal yang begitu menyedihkan, kenyataannya malam ini, saat ini juga daripada Sehun, dirinyalah yang lebih hancur malam ini, berkeping tak bersisa.
"Kembali kau Sehunna." Luhan mengepal kuat tangannya. Terlalu marah karena merasakan rasa sakit yang tak pantas dirasakannya. Harusnya Sehun yang merasakan sakit, bukan dia. Harusnya dia yang meninggalkan Sehun, bukan Sehun yang beranjak pergi. Dia benci kalah, lalu Sehun melakukannya. Melakukan hal yang begitu membuatnya marah dan merasakan sakit di waktu yang sama.
"HARUSNYA AKU YANG MENINGGALKANMU OH SEHUN!"
.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
.
.
Yang katanya mau salto di depan kelas kalo chap ini ada kiseunya hunhan coba ditunggu TAG'an di IG kkk~
.
Ya walopun endingnya rada tragis tetep cipokan loh ya, ;p, besok nganu kali ah *kalo iya taruhan apalagi yok! Wkwkwk
.
Terus gue gatau asal mula hesteg tim sehun / luhan di JTV. Lucu masa wkkwkw, kita kan tim #hunhan. Gara2 chap ini labil pada #timsehun bsok gue apdet CH 14 ganti lagi #timluhan. Terus aja gtu sampe Luhan ngaku dia cantik ke' berbi :""
.
#timhunhanporepereperapter :*
.
C,u :***
