Previous

"Kembali kau Sehunna." Luhan mengepal kuat tangannya. Terlalu marah karena merasakan rasa sakit yang tak pantas dirasakannya. Harusnya Sehun yang merasakan sakit, bukan dia. Harusnya dia yang meninggalkan Sehun, bukan Sehun yang beranjak pergi. Dia benci kalah, lalu Sehun melakukannya. Melakukan hal yang begitu membuatnya marah dan merasakan sakit di waktu yang sama.

"HARUSNYA AKU YANG MENINGGALKANMU OH SEHUN!"

.

.

.

.

.

Je'Te Veux

.

.

.

Main cast : Sehun-Luhan

Rate : T-M

.

.

.

.

.

.

.

.

Tak perlu ditanya darimana luka di bibir Luhan, maka Sehun adalah jawabannya. Luka gores di bibir bawahnya yang begitu terlihat, nyatanya mengundang seribu tanya dari beberapa orang yang mengenalnya.

Luhan bahkan harus bersabar menghadapi berbagai pertanyaan mengenai luka gores di bibir bawahnya dengan memberikan jawaban aku terjatuh di kamar mandi pada setiap perawat, professor atau pasien yang bertanya padanya.

Sssh…

Dan sialnya dia semakin marah mengingat apa yang dilakukan Sehun malam tadi, karena gigitan Sehun di bibirnya sukses membuat Luhan tak bisa mengkonsumsi makanan secara normal, dia harus melakukannya secara perlahan jika tidak ingin luka di bibirnya kembali robek dan mengeluarkan darah

"brengsek! Dia menggigitnya terlalu dalam."

Luhan memegang bibir bawahnya, lagi-lagi darah, geramnya menahan kesal lalu mengusap kasar bibirnya agar tak menarik perhatian "Aku harus membunuhnya lain kali." Racaunya asal lalu dibalas jeritan hatinya yang mengatakan kau tidak akan pernah bisa melihatnya terluka yang terus diabaikan dan hanya terus ditutupi dengan marahnya seorang Xi Luhan.

"Baiklah, habiskan ramen sialan ini dan kembali bekerja." Luhan meniup kasar kepulan asap di ramen miliknya, berharap setidaknya rasa panasnya hilang agar kuah ramen tak lagi melukai bibirnya yang terluka "sshh—ARGH!"

Namun sayang, hanya rasa sakit yang dirasakannya, Luhan bahkan membuang kasar sumpit yang ada ditangannya lalu memukul kasar meja kantin, menyadari dia menjadi perhatian pengunjung lain, sang dokter bergegas pergi, menyerah untuk mengisi perut dan hanya membiarkan perutnya kelaparan di hari terakhirnya bekerja untuk Seoul Hospital "Sial!"

Sepanjang perjalanan hanya akan terdengar geraman marah dari dokter emergency yang akan menyelesaikan shift terakhirnya di Seoul hospital. Tak banyak yang mengetahui perihal kepindahannya hanya kepala perawat dan residen muda yang berada dibawah bimbingannya yang mengetahui.

Selebihnya tak ada yang tahu. Tidak Baekhyun, tidak Kyungsoo maupun Doojoon sekalipun, Luhan tidak ingin menjadi perhatian untuk tiga orang terdekatnya, yang dia inginkan hanya menyelesaikan hari terakhirnya bekerja tanpa keributan dan setelahnya dia bisa pergi tanpa penyesalan.

"Dokter Xi?"

Luhan berhenti melangkah, dilihatnya asisten perawat yang biasa menemani Doojoon untuk bertanya "Ada apa?"

"Professor Yoon ingin bertemu dengan anda sekarang juga."

Luhan bertanya-tanya sejenak lalu mengangguk mengerti "Baiklah, dimana?"

"Dia berada di ruangannya."

Luhan melihat arlojinya, setidaknya dia masih memiiki dua puluh menit tersisa sebelum jam istirahatnya berakhir "Baiklah aku akan segera kesana." Katanya bergegas pergi lalu berjalan menuju ruangan Doojoon.

Tebakan Luhan, Doojoon sudah mengetahui perihal kepindahannya ke Hanyang hospital. Jadi yang dia lakukan saat ini hanya mencari jawaban yang tepat tanpa harus membuat raut kecewa terlihat di wajah pria yang sudah dianggapnya seperti saudara.

Tok tok

Luhan mengetuk pintu dibalas "Masuk." Dari sang professor, dia pun membuka pintu untuk mendapati Doojoon sedang menghubungi seseorang dengan wajah seriusnya "Tunggu kabar dariku, aku akan membujuknya sekali lagi."

"oke!"

Pip!

"Apa aku mengganggumu?"

"Tidak, masuklah Lu."

Luhan mengangguk kecil lalu beranjak masuk ke ruangan Doojoon, menutup lagi pintunya perlahan dan mendekat ke tempat dimana Doojoon berada "Ada apa mencariku Professor?"

"Panggil hyung, kita hanya berdua."

Mengangguk, Luhan membenarkan sapaannya pada Doojoon "Baiklah hyung, ada apa?"

Entah mengapa raut wajah Doojoon begitu tegang dan serius, Luhan bisa merasakannya bahkan hanya dari tatapan cemas Doojoon yang kini melihatnya. Sebenarnya dia bertanya-tanya tapi saat suara Doojoon lebih dulu bertanya, dia memutuskan untuk mendengarkan sejenak "Luhan, aku akan langsung bertanya padamu."

"Tentang apa?"

"Begini, jawab aku sebagai kakakmu bukan sebagai Professor. Kau dengar?"

Lagi-lagi Doojoon seperti mendesaknya, sudah beberapa kali selama satu tahun nada dingin Doojoon terdengar mendesaknya, dan setiap kali sang professor melakukannya, pertengkaran tak bisa dihindari diantara mereka.

Harusnya Doojoon mengetahui itu, harusnya dia berhenti mendesak Luhan, tapi sepertinya dia terus mengabaikan hal yang begitu dibenci Luhan hingga posisi keduanya begitu canggung saat ini "Ada apa?"

Tatapan Doojoon menjadi lembut, dia juga menggenggam tangan Luhan lalu bertanya mengenai hal yang begitu sensitif untuk Luhan "Satu tahun yang lalu, apa kau yakin tidak menerima sesuatu dari kejaksaan?"

"Kejaksaan?"

"Ya Lu, apapun itu. Tidakkah mereka memberikan sesuatu padamu."

Biasanya yang dilakukan Doojoon adalah mendesak Luhan untuk menyakiti Jaksa Oh atau anggota keluarganya. Jadi ketika pertanyaan Doojoon jauh dari kata menyakiti keluarga Oh, Luhan bergumam lega. Setidaknya mereka tidak perlu bertengkar hingga refleks, Luhan memegang lehernya untuk menunjukkan USB peninggalan sang ayah yang selalu dibawanya seperti liontin selama satu tahun.

"ah, Apa maksud hyung benda ini-…." Katanya nyaris mengeluarkan usb peninggalan sang ayah sampai suara ayahnya tiba-tiba terdengar seperti mengingatkannya "Selain Sehun, jangan mempercayai siapapun nak,"

DEG!

Seketika gerakan Luhan terhenti, awalnya dia sudah memegang usb yang berada di lehernya. Berniat untuk menunjukkan pada Doojoon sebelum suara ayahnya tiba-tiba terdengar seolah mengingatkan Luhan untuk tidak mempercayai siapapun kecuali Sehun.

Luhan ragu, dia kemudian melepas tangannya dari usb untuk bergerak salah tingkah menatap Doojoon "Tidak ada hyung, mereka tidak memberikan apapun padaku. Ada apa?"

Menatap Luhan sedikit kecewa, Doojoon bertanya "Kau yakin?"

"y-Ya, tentu saja. Lagipula ayahku tidak meninggalkan apapun selain kesedihan untukku, jadi aku rasa tidak perlu ada yang dibicarakan lagi tentang kejaksaan atau bagaimana ayahku kehilangan nyawanya saat itu."

Doojoon kembali menggenggam tangan Luhan, membujuknya sekali lagi untuk memancing kemarahan Luhan "Tidak bisakah kau membenci mereka yang melukai ayahmu? Sekali saja Luhan? Kenapa kau tidak ingin membalas mereka? Hyung bisa membantumu."

Luhan melepas paksa genggaman tangan Doojoon untuk menyadari bahwa situasi sudah berbeda saat ini, Doojoon terus memaksanya untuk melakukan hal buruk sementara yang diinginkan Luhan hanya penyesalan dari keluarga Oh untuknya, hanya itu. Bukan dengan cara mengasihaninya, hanya tunjukkan jika mereka tidak bersalah tanpa harus memberikan omong kosong untuknya.

"Hyung! Ada apa denganmu? Kenapa kau begitu tertarik pada masalah keluargaku?"

Doojoon bergerak resah untuk menatap cemas pada Luhan "Aku mengkhwatirkanmu, menurutku kau bisa bahagia jika sudah membalaskan dendam kedua orang tuamu Lu."

Sret…!

Luhan berdiri dari kursinya untuk mengatakan hal yang diyakininya selama ini, hal yang mereka kira dendam sebenarnya hanya kemarahan agar dia tidak diusik lagi, tidak disakiti lagi, jadi terpaksa Luhan memasang tameng besar di seluruh tubuhnya. Dia enggan didekati apalagi dikasihani terlebih oleh keluarga Oh.

Namun jujur dia keberatan jika ada yang mengatakan ini dendam, Luhan hanya dipenuhi kemarahan dihatinya, tapi untuk membalas nyawa dengan nyawa? Ayolah, dia belum sejauh itu, membuatnya refleks menjauh untuk mengatakan "Kau salah hyung, setelah orang tuaku, aku tidak ingin melihat kematian lagi. Jadi jika kau menyebutnya dendam berarti kau belum mengenalku."

"Luhan."

"Aku rasa tidak perlu ada yang dibicarakan lagi, aku pergi."

BLAM!

Drrtt..drrtt…

Bersamaan dengan keluarnya Luhan dari ruangan Doojoon, ponselnya bergetar dan menampilkan nama TOP disana. Sang mafia kembali menggeram marah untuk menjawab panggilan yang terus menerornya selama beberapa hari ini.

"Bagaimana? Luhan sudah memberitahu dimana usb itu?"

"Belum."

"Lalu? Apa rencanamu? Kau tahu kan? Semakin kita mengulur waktu, Donghoon akan semakin mengincar Luhan, jadi rasanya menghancurkan tempat itu adalah satu-satunya cara."

"…"

"DJ-na~?"

"….."

"Aku memberimu tiga detik untuk menjawab."

"…."

"Satu."

"…."

"Dua."

"…."

"Tiga."

"Lakukan! Hancurkan tempat itu, tapi ingat! Jika orangmu menyentuh Luhan bahkan untuk sehelai rambutnya! Aku pastikan kau berhadapan denganku! KAU DENGAR?"

Lama tak terdengar suara, TOP menjawab tanpa ragu "got it!"

Pip!

"ARRRGGHHHH!"

Doojoon melempar marah ponselnya untuk kemudian berteriak menyadari bahwa rasanya begitu sulit memiliki Luhan jika pria bernama Oh Sehun masih hidup di dunia ini "Baiklah, sabarku habis! Daripada ayahmu, aku lebih tertarikMEMBUNUHMU OH SEHUN!—AAARGHH!"

.

.

Tap!

Tap!

Entah mengapa Luhan merasa begitu takut setelah keluar dari ruangan Doojoon, bukan karena Doojoon yang terus memintanya untuk menyakiti jaksa Oh, tapi lebih karena cara Doojoon masuk terlalu jauh dalam hidupnya terasa sangat mengerikan.

Salahnya membiarkan Doojoon terus mengambil tempat mengenai orang tuanya, hingga akhirnya dia merasa berhak melindungi tanpa tahu cara yang diinginkan Luhan dan hanya memaksakan kehendaknya pada Luhan.

Tap

Tap!

Dia terus berlari, mengabaikan siapapun yang bertanya-tanya melihat tingkahnya untuk mencari keramaian, dimanapun, asal tidak berada di dekat Doojoon, tidak untuk saat ini.

"DOKTER XI?"

"hah~ hah~."

Luhan membungkuk untuk menetralkan nafas, matanya terpejam cukup lama lalu kembali berdiri seraya membenarkan penampilan wajahnya "y-Ya? hah~"

Dia masih terengah namun tetap tersenyum melihat sang asisten berlari ke arahnya "Anda baik-baik saja?"

"y-Ya tentu. Ada apa?"

Tak tega, asistennya pun memberikan surat yang didapatkannya dari management, Luhan segera mengambilnya seraya bertanya "Apa ini?"

"Entahlah Dokter Xi. tapi rasanya itu surat penting."

Buru-buru Luhan merobek amplop bertuliskan rahasia di sudut kanan bawah, membaca apa yang tertera disana sampai senyum meremehkan jelas terlihat di wajahnya "Licik!" katanya bergumam marah mengundang pertanyaan dari asistennya di ruang operasi "Ada apa dokter Xi?"

Luhan tertawa jengah, dikembalikannya amplop cokelat pada si asisten untuk mengatakan "Panggilan resmi dari kejaksaan. Mereka ingin bicara denganku?"

"Untuk apa?"

Mengangkat asal bahunya adalah hal yang Luhan lakukan seraya menyeringai marah "Entahlah, mungkin ingin melanjutkan perang denganku."

"Perang?"

Sang asisten penasaran, dia kembali membuka amplop cokelat milik Luhan untuk mendapati kertas bertuliskan Surat panggilan resmi untuk dokternya sementara dipojok kiri bawah terdapat tanda tangan Oh Insung sebagai jaksa yang bertanggung jawab atas pemanggilan Luhan siang ini "Jaksa Oh? Bukankah dia ayah dari kekasih Dokter Xi? Ada apa sebenarnya?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Klik…

"Baek? Kau belum berangkat?"

Yang bertanya terlihat masih meringis karena sakit di kepalanya, dan jika kau mendekati dirinya saat ini maka bau alkohol menyengat akan tercium bersamaan nafasnya berhembus.

"Belum, aku mengkhawatirkan pemabuk sialan yang malam tadi membuat keributan di dalam bar."

Sehun terkekeh, dia menikmati sindiran Baekhyun hanya untuk menyandarkan kepalanya di meja. Jujur saja dia tidak bisa minum dalam jumlah banyak, tapi karena malam tadi dia dan Luhan bertengkar hebat, maka seluruh tentang Luhan memenuhi isi kepalanya bahkan hingga saat ini.

Ya, setelah malam tadi berbuat kasar pada Luhan dia menyesalinya. Merutuk segala jenis kecemburuan yang tak pernah beranjak dari hatinya hingga terus berakhir menyakiti hati Luhan.

Tidak sepenuhnya menyesal, karena memang jauh didalam hati Sehun dia masih menyimpan amarah yang begitu dalam, menebak entah sudah berapa banyak Luhan berhubungan intim dengan pria selain dirinya.

Hueeekk~

Dan setiap kali mengingatnya, Sehun akan memuntahkan seluruh isi perutnya, ini akibat kerja hatinya terlalu berat dan sulit menerima bahwa Luhan memiliki pria lain di hidupnya. Dia marah, dia cemburu. Tapi kemudian dia menjadi lemah menyadari bahwa tidak ada yang bisa dilakukannya selain memperhatikan Luhan dari jauh.

Huekkk~

"Ssshh..."

Sehun mencuci kasar wajah dan mulutnya di wastafel, membiarkan rasa mualnya hilang sementara tangan Baekhyun tengah memijat tengkuknya saat ini "Sangat mual?"

"Haaah~"

Sehun diam sejenak, menetralkan nafasnya seraya mematikan kran air di wastafel "Kepalaku sakit."

"Ish! Wajar kepalamu sakit! Apa kau tahu berapa banyak bir yang kau minum?"

Mengabaikan gerutuan Baekhyun, Sehun tertawa kecil untuk bertanya "Berapa botol yang kuhabiskan?"

"Delapan dengan satu botol yang kau hancurkan di bar."

"Wow.."

"Wow kepalamu!"

"Arh! Berhenti memukul kepalaku!"

"Kau memang harus dipukul sialan!"

Baekhyun mengumpat, tapi dia tetap membantu Sehun yang masih dalam keadaan mabuk. Dibawanya Sehun ke meja makan lalu tak lama dia menyajikan sup penghilang pengar untuk sahabatnya "Ini makanlah. Kau akan merasa lebih baik setelah memakan sup ini."

"Nanti saja."

Baekhyun melipat tangannya di atas dada seraya menghela dalam nafasnya "Sehun."

"Hmmm?"

"Cepat makan atau kuberitahu mama."

"Bee."

"Tidak ada negoisasi lagi, perutmu kosong dan kau harus segera makan!"

Dengan malas Sehun mengambil satu sendok sup buatan Baekhyun untuk menyesapnya perlahan "ssshh..."

"Bagaimana?"

"Pahit."

"Jangan banyak komentar! Cepat habiskan agar aku bisa kembali ke rumah sakit!"

Sehun berhenti menyesap sup buatan Baekhyun, meletakkan sendoknya perlahan lalu menatap tak enak hati pada sahabat kecilnya.

"Ada apa?" Baekhyun bertanya lebih dulu dibalas usapan lembut Sehun di wajahnya "Mianhae."

"Apa yang kau bicarakan? Kenapa meminta maaf?"

"Luhan."

"Luhan? Ada apa dengannya?"

"Aku tahu dia sangat keterlaluan. Tapi bisakah kau memaafkannya?"

Semakin tak mengerti Baekhyun menjauhkan tangan Sehun di wajahnya, dia bertanya-tanya apa yang dilakukan Luhan "Apa yang dilakukan Luhan?"

"Luhan menghancurkan rencana pernikahanmu dan Jisoo, aku minta maaf." Ujarnya lirih dibalas kerutan Baekhyun di dahinya "Apa kau masih mabuk?"

"Aku baik, aku hanya tidak bisa membayangkan betapa kau membenci Luhan saat ini."

Semakin tak mengerti apa yang dikatakan Sehun, Baekhyun menghela dalam nafasnya, dia lebih memilih bersiap daripada harus membawa topik yang begitu ia hindari saat ini "Kau salah."

"Apa?"

Baekhyun mengambil jas putihnya untuk menarik kursi di depan sahabatnya "Tentang Luhan, kau salah."

"Apa maksudmu?"

"haaah~. Satu-satunya alasan aku membenci si pria arogan itu hanya karena dia terus menyakitimu. Tapi untuk kasusku dan Jisoo? Aku rasa daripada menghancurkan justru Luhan menyelamatkan diriku."

Penasaran, Sehun menyingkirkan mangkuk supnya untuk bertanya langsung pada Baekhyun "Menyelamatkanmu dari apa?"

"Dari Jisoo tentu saja."

"Bagaimana bisa?"

Baekhyun tersenyum, jika kembali diingat, Luhan adalah satu-satunya pria yang menentang hubungannya dengan Jisoo bahkan dari awal Jisoo mendekatinya, awalnya Baekhyun berfikir sikap Luhan hanya untuk melindungi perasaan sahabat sekaligus mantan kekasihnya, Chanyeol.

Tapi kemudian Baekhyun salah mengira, semua yang dilakukan Luhan semata-mata hanya untuk menunjukkan bahwa Jisoo adalah kesalahan dalam hidupnya. Dan terimakasih pada Luhan, karena semua itu menjadi jelas sebelum rencana pernikahan diumumkan keduanya saat itu.

"Luhan, terkadang aku merasa dia masih Luhan kita."

"Luhan kita?"

"Ya, Luhanku mungkin. Aku masih bisa melihat Luhan kita yang dulu dari sorot mata cantiknya malam tadi. Dan jujur, aku sangat merindukan Luhanku, Sehunna."

"Baek."

Baekhyun menghapus air mata rindunya untuk menatap nanar pada Sehun "Jadi yang perlu kau tahu, Luhan tidak melakukan kesalahan apapun padaku atau pada rencana pernikahan sialan yang aku miliki. Sebaliknya, dia menyelamatkan hidupku."

"Tapi bagaimana caranya? Apa yang dia lakukan?"

"Dia membawa wanita jalang yang beberapa kali ditiduri Jisoo di club malam."

"Jadi Luhan tidak pernah tidur dengan Jisoo?"

"Apa maksudmu?" sergap Baekhyun terdengar marah karena pertanyaan Sehun benar-benar menjijkan bahkan untuk seorang mantan kekasih, tidak, sebenarnya dia kesal karena dari cara Sehun bertanya tentang Luhan seolah merendahkan pria yang begitu dicintainya "Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan Oh Sehun." desisnya menggeram marah dibalas suara lirih Sehun yang sudah mengetahui keadaan sebenarnya.

Keadaan dimana malam tadi Luhan hanya memprovokasinya dengan mengatakan tidur bersama pria lain. Keadaan dimana emosinya lebih bekerja daripada kata hatinya hingga lagi-lagi Sehun memperlakukan Luhan begitu rendah dan tak menghargai.

"Kau benar, Luhan melakukannya lagi." ujarnya tertunduk dengan tangan terkepal. Dadanya lagi-lagi sesak mengingat bahwa tak seharusnya malam tadi Sehun memaksa ciuman kasar di bibir Luhan, dia juga secara tak langsung merendahkan Luhan hingga hanya penyesalan yang memakannya saat ini "Dia mempermainkanku lagi."

Sehun tertawa kecil namun matanya basah karena terharu, dia berjalan gontai mengambil jaket dan kunci mobil untuk menatap berterimakasih pada pria yang masih begitu dicintai Chanyeol hingga saat ini "Baekhyunna aku mencintaimu."

Tertawa kesal, Baekhyun membalas "Sayangnya aku tidak mencintaimu-….SEHUN KAU MAU PERGI KEMANA?"

"Menemui Luhan, seperti biasa."

"tsk! Setidaknya bersihkan dirimu lebih dulu."

Sehun menggeleng untuk mengerling percaya diri Baekhyun "Aku masih tampan. Jangan khawatir."

"Bukan itu maksud-…."

BLAM

Suara pintu tertutup, itu artinya Sehun telah pergi, meninggalkan Baekhyun yang hanya tertawa kecil melihat bagaimana Sehun berjuang mendapatkan Luhan selama satu tahun ini "Teruslah berusaha, bawa Luhan kita yang dulu ke rumah ini, bersama kita." Katanya berharap diiringi air mata rindu karena memang baik dirinya maupun Kyungsoo, mereka begitu merindukan Luhan.

.

.

BLAM!

Setelah pintu tertutup, Sehun bergegas menuju mobilnya untuk mendapati Chanyeol bersandar di kap mobilnya, sedang menatap rumah tempat dimana dirinya, Kyungsoo dan Baekhyun tinggal hanya untuk menatap tanpa berniat masuk dan datang menyapa.

"Kebetulan kau disini! Dimana Luhan?"

"Luhan? Aku baru mengantarnya ke rumah sakit."

"Baiklah."

Buru-buru Sehun membuka pintu mobilnya untuk diberi pertanyaan oleh Chanyeol "Dimana Baekhyun?"

Sehun memasang seatbelt seraya membuka jendela mobilnya "Dia sedang bersiap menuju rumah sakit."

Sama seperti jawaban Sehun, Chanyeol juga mengatakan "Baiklah."

Keduanya berada di posisi canggung mengingat para mantan kekasih mereka bersikap seperti musuh, namun jangan salahkan mereka karena berbeda dengan hubungan Luhan-Kyungsoo dan Baekhyun maka hubungan Sehun-Kai-Chanyeol terbilang baik-baik saja, bahkan terlalu baik hanya untuk ukuran mantan kekasih dari sahabat masing-masing.

"YEOL / SEHUN!"

Keduanya pun terdiam sesaat, lalu memanggil nama masing-masing bersamaan "Apa / Ada apa?" mereka menjawab lagi bersamaan untuk tertawa sebelum Sehun lebih dulu mengucapkan kalimatnya "Jaga Baekhyun." Katanya menutup jendela mobil dibalas anggukan Chanyeol yang juga mengatakan "Kau juga, Jaga Luhan."

Tanpa ragu Sehun menjawab "Aku akan melakukannya, menjaga kekasihku." katanya mengerling Chanyeol dan tak lama

BRRRMMM!

Mobil Sehun membelah kesunyian di perumahan mewah tempat Kyungsoo, Baekhyun dan dirinya menetap, meninggalkan Chanyeol yang kini fokus pada kepergian Sehun untuk mendengar suara Baekhyun yang entah sejak kapan sudah berdiri di depannya.

"Chanyeol?"

Chanyeol terkesiap lalu memandang Baekhyun salah tingkah "Hay bee."

"Ada apa?"

"mmh…Aku…aku." Katanya menggaruk asal tengkuknya lalu mengutarakan maksudnya yang tercekat di tenggorokan "Bolehkah aku mengantarmu ke rumah sakit hari ini?"

"Wae?"

"Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Tapi jika kau keberatan aku akan-…."

BLAM!

Baekhyun lebih dulu membuka pintu mobil Chanyeol dan masuk kedalamnya, dia juga mengabaikan wajah Chanyeol yang terkejut untuk menurunkan jendela mobil di kursi samping kemudi "Cepatlah, aku sudah terlambat ke rumah sakit."

"yeah! Ayo kita pergi!"

Sementara Chanyeol memekik senang, maka didalam mobil, tepatnya di samping kursi kemudi, Baekhyun diam-diam tersenyum, membiarkan Chanyeol mengantarnya ke rumah sakit setelah hampir satu tahun terus menjaga jarak dari pria yang masih begitu dicintainya hingga saat ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tok...! Tok...!

Tok...! Tok...!

"Jaksa Oh?"

"Masuk."

Klik

Pintu ruangan petinggi di kejaksaan agung terbuka, menampilkan sang jaksa yang sedang menandatangani beberapa dokumen untuk melihat sekertarisnya berdiri di tepat di depan pintunya.

"Ada apa?"

"Tamu anda, dia sudah datang."

Jaksa yang memiliki mata serupa dengan putra keduanya terlihat canggung, dia membereskan cepat seluruh dokumen di atas meja untuk memberi perintah "Suruh dia masuk."

Sekertarisnya mengangguk lalu tak lama pintu kembali terbuka, kini menampilkan sosok yang terlihat begitu membencinya namun tersimpan kelemahan yang dia sembunyikan dibalik kebencian serta kemarahan hatinya.

Sebagai seorang ayah dia pasti tahu jika anak-anaknya sedang marah, jadi saat putra mendiang sahabatnya terlihat menatap kedua matanya tak berkedip, Insung bisa merasakan kemarahan yang jelas ditunjukkan oleh pria sebaya dengan Sehunnya.

"Luhan, duduklah."

Insung berdiri menyambut putra mendiang Lichen dan Baby namun dibalas senyum sarkas dari anak lelaki yang kini menjelma menjadi pria dengan paras tanpa cela.

"Well, di surat itu tertulis aku adalah saksi, namun lucunya sekertarismu mengatakan aku tamu? Ayolah, Jaksa Oh! Apa kau begitu putus asa ingin bertemu denganku?!"

Belum lima menit Luhan berada di ruangan ayah Sehun, dia sudah memulai pertikaian, membuat suasana menjadi tegang tanpa menghiraukan raut putus asa dari ayah mantan kekasihnya.

"Duduklah lebih dulu, aku akan menjelaskannya padamu."

Dengan kasar Luhan menarik kursi didepan Jaksa Oh, menatapnya penuh kebencian lalu tersenyum menyeringai menampilkan rasa marahnya "Cepat katakan yang ingin anda katakan Jaksa Oh. Aku tidak memiliki banyak waktu."

Rasanya Insung seperti melihat mendiang sahabatnya saat bertemu pandang dengan Luhan, rasanya dia begitu menyesal karena membiarkan sahabatnya itu meregang nyawa disaat hubungan mereka mulai membaik. Dan karena alasan itu pula rasanya wajar jika Luhan begitu membencinya.

Tak seharusnya Insung membiarkan Chen meregang nyawa di tempatnya bekerja, di tempat yang harusnya bisa melindungi bukan justru merenggut nyawanya.

Karma itu nyata dan Insung sedang merasakannya melalui Luhan, karena apapun yang coba dia lakukan, yang ingin dia katakan, Luhan tidak akan pernah mendengarkan dan hanya memberikan kemarahan sebagai gantinya.

Dia pun menghela nafas tanda begitu menyesal, selebihnya dia ikut menarik kursi didepan Luhan untuk mulai menjelaskan apa yang harus dan tidak harus Luhan ketahui.

"Statusmu adalah saksi untuk kasus mendiang Detektif Xi. Tapi bukan itu yang ingin kutanyakan padamu saat ini."

Tanpa berbasa basi Luhan bertanya "Lalu apa?"

Keduanya sempat bertatapan cukup lama sampai tatapan Insung lebih dulu berubah sendu, dia bahkan tersenyum menatap Luhan berharap ada balasan senyum dari anak lelaki yang dulu suka sekali memanggil Papa padanya "Luhan, anakku."

Terang saja Luhan mengepalkan erat tangan tepat di kedua pahanya, nafasnya memburu hebat tanda begitu marah saat sang jaksa terhormat yang dulu sangat membencinya kini memanggilnya seolah dia peduli. "Siapa yang kau panggil anak? Bukankah kau membenciku?"

"Luhan, tolonglah."

"Jika bosan melihat sikapku cepat katakan apa yang ingin kau katakan!"

"..."

"Jaksa Oh?!"

Insung hanya tetap memandang Luhan tanpa mengeluarkan satu suara pun, hal itu sontak membuat Luhan geram hingga berdiri dari kursinya adalah hal yang dia lakukan sebagai bentuk rasa tidak sabarnya

"Baiklah jika tidak ada yang ingin anda bicarakan! Aku pergi!"

Tangannya sudah memegang knop pintu bersiap pergi sampai suara ayah mantan kekasihnya akhirnya terdengar dan menanyakan hal yang membuat Luhan bertanya-tanya.

"Ayahmu, apa dia menitipkan sesuatu padamu?"

Luhan menoleh lamu mendapati wajah Insung begitu serius dengan guratan lelah yang sama terlihat dengan miliknya "Apa yang kau bicarakan?"

"Malam itu, saat kejadian pembunuhan ayahmu, pihak kejaksaan menyerahkan sesuatu yang tidak seharusnya kau miliki. Bisakah aku memintanya kembali."

Luhan masih menampilkan raut tak mengerti, bertanya-tanya apa yang diinginkan ayah dari mantan kekasihnya hingga terlintas satu benda kecil yang juga diinginkan Doojoon pagi tadi kini diinginkan pula oleh sang jaksa.

Refleks, Luhan memegang lehernya hanya untuk memastikan usb milik ayahnya masih menggantung dilehernya. Setelahnya dia merasa lega lalu kembali menatap pada sang jaksa dengan tatapan meremehkan "Kau membicarakan tentang usb milik ayahku?"

Tanpa ragu Insung menjawab "Ya, benda itu kau tidak boleh memilikinya."

"Dan kenapa aku tidak bisa memilikinya?"

Raut wajah cemas sangat terlihat di warna muka Insung, berusaha untuk menjelaskan walau dia tahu Luhan akan tetap bersikeras memiliki benda yang tidak seharusnya dia miliki.

"Benda itu adalah barang bukti milik kejaksaan lagipula berbahaya jika kau yang memegangnya!"

"Wae? Apa kau takut namamu akan berada didalamnya? Apa kau takut ayahku memiliki bukti yang bisa mengganggu posisimu sebagai seorang jaksa? Apa kau takut dibuat hancur dan..."

"XI LUHAN!"

Habis sudah kesabaran Insung, dia memukul meja kerjanya seraya menatap tak sabar pada Luhan. Entah apa lagi yang harus dilakukannya agar Luhan percaya. Entah harus berapa banyak lagi air mata hingga akhirnya Luhan luluh dan mengerti. Entah, harus bagaimana lagi dia memberitahu apa tujuannya jika yang diberikan Luhan hanya tatapan benci.

Entahlah, Luhan lelah begitu juga dirinya. Dia berharap Luhan sedikit melunak namun sayang justru kebencian lagi yang dia dapatkan sebagai jawaban.

"Kau lihat jaksa Oh? Sebanyak apapun kita mencoba berbicara hasilnya akan selalu seperti ini, bertengkar dan saling menyakiti. Jadi bisakah anda berhenti mengusik hidupku? Atau setidaknya biarkan aku hidup tanpa harus mengenang kejadian mengerikan saat kedua orang tuaku tewas? Bisakah kau tidak terus mengingatkan aku bahwa suka atau tidak kau bertanggung jawab atas kematian ayahku? Ibuku? KEDUA ORANG TUAKU?"

Insung terduduk lemas karena serangan dari ucapan Luhan, dia tidak memiliki lagi kesempatan untuk berbicara jika Luhan sudah mengingatkan siapa dirinya dalam kasus kematian Baby dan Lichen. "Luhan…." Lirihnya tertunduk lalu mengangkat wajah untuk menatap langsung putra dari mendiang detektif yang pernah membantu ayahnya dua puluh tahun lalu "Maafkan aku."

Luhan hanya memberikan seringai kecil tanda dia begitu kesakitan, setelahnya dia benar-benar beranjak pergi dan tak lama

BLAM!

Sengaja membanting pintu ruangan Jaksa Oh adalah hal yang dilakukan Luhan sebelum benar-benar pergi dari tempat dan pertemuan menyiksa dengan satu-satunya orang yang dia salahkan atas kematian ayahnya di penjara kejaksaan tepat satu tahun yang lalu. Tiap kali mengingat bagaimana ayahnya tewas dibunuh, Luhan sesak tak bisa bernafas, dia menengkan diri sejenak untuk menggeram penuh marah dihatinya "brengsek! Aku tidak akan pernah lagi datang ke tempat ini! tidak akan pernah-...ARRHHH!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sementara itu….

.

"huh? Apa maksudmu Dokter Xi tak lagi bekerja di Seoul Hospital?"

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, itu artinya Sehun sudah menunggu selama lebih dari lima jam hanya untuk bertemu dengan Luhan. Biasanya dia akan selalu berpapasan dengan Luhan di jam istirahat, namun sial, hari ini dia hampir menyerah karena tidak melihat sosok prianya bahkan setelah lima jam menunggu.

Membuatnya memutuskan untuk bertanya pada perawat yang diketahuinya adalah asisten Luhan untuk mendapatkan jawaban mengejutkan bahwa Luhan, pujaan hatinya, tak lagi bekerja untuk Seoul Hospital mulai hari ini.

"Ya, hari ini adalah hari terakhirnya bekerja untuk Seoul Hospital, dan seingatku Dokter Xi sudah menyelesaikan shift nya sekitar lima jam yang lalu."

"A-Apa kau yakin?"

"Tidak banyak yang tahu tentang kepindahannya, tapi aku cukup yakin bahwa hari ini adalah hari terakhirnya bekerja."

Sehun tertunduk sejenak, mencoba menenangkan diri untuk mengusak kasar wajahnya "tidak, tidak mungkin." Katanya merogoh ponsel di saku, dengan tangan gemetar Sehun mencoba menghubungi Luhan namun percuma, Luhan tidak akan berbaik hati mengangkat panggilan darinya "Lu, Jangan seperti ini, kumohon." Katanya penuh harap lalu beralih mencari kontak lain di ponselnya.

"Sehun?"

"Kai!"

Orang pertama yang terlintas di pikiran Sehun adalah Kai dan Chanyeol, jadi untuk memastikan dia menghubungi Kai lebih dulu untuk bertanya "Kai, apa kau tahu tentang kepindahan Luhan dari Seoul hospital?"

"Siapa?"

"Luhan? Apa kau tahu jika dia tidak bekerja lagi untuk Seoul hospital?"

"Apa yang kau bicarakan?"

Sehun tertegun sesaat, dilihat dari nada suara Kai yang sama terkejut dengannya maka bisa dipastikan Kai juga tidak mengetahui tentang kepindahan Luhan. Dan tak mau membuang waktu dia hanya mengatakan "Aku akan menghubungimu lagi." untuk menutup panggilan dari Kai dan beralih pada Chanyeol.

"YEOL!"

"Sehun? Ada apa?"

"Kau bilang mengantar Luhan ke rumah sakit. Apa kau yakin?"

"Tentu saja. Ada apa?"

"Lalu apa hari ini hari terakhirnya bekerja di Seoul hospital?"

"huh? Apa yang kau bicarakan? Kenapa hari ini menjadi hari terakhir Luhan bekerja?"

Sama seperti jawaban Kai, dipastikan Chanyeol tidak mengetahui apapun. Hal ini sedikit banyak membuat kepala Sehun berdenyut sakit, tak mengerti siapa lagi yang tidak mengetahui tentang kepindahan mantan kekasihnya.

"Sehun?

"…."

"SEHUN!"

Sehun tertegun untuk kemudian merespon teriakan Chanyeol "Aku akan menghubungimu lagi."

Pip!

Kesimpulannya, Luhan tidak memberitahukan kepada siapapun perihal kepindahannya, tidak pada Kai, Chanyeol apalagi dirinya. Rasanya dia sedikit kecewa menyadari bahwa seberapa keras usahanya mengejar Luhan, dia hanya akan berakhir di urutan paling rendah dan paling tidak dibutuhkan Luhan dalam hidupnya.

Sehun tersenyum miris, tertunduk di bangku lobi rumah sakit dengan perasaan hancur yang tak bisa dia jelaskan. Matanya memandang kosong keramaian di rumah sakit, tak mengerti harus melakukan apa lagi sampai tak sengaja matanya menangkap sosok yang begitu dibencinya.

"brengsek!"

Sosok yang menjadi salah satu alasan Luhan berpaling darinya adalah sosok yang sama yang kerap dipanggil Professor Yoon oleh Baekhyun, Kyungsoo maupun Luhan. Refleks, tangannya terkepal lalu bergegas untuk mendekati pria yang mungkin menjadi alasan mengapa Luhan pergi meninggalkan rumah sakit yang telah membesarkan nama dan kemampuannya sebagai seorang dokter.

"Setelahnya anda memiliki jadwal konsultasi pukul enam sore."

"Serahkan pada dokter Park, aku memiliki urusan lain di sore hari."

"Baik Professor Yoon."

Menghiraukan caci maki karena berjalan tak tentu arah, Sehun terus menggeram, fokusnya hanya satu, Yoon Doojoon, jadi ketika pria sialan itu berada di jangkauannya, tanpa ragu Sehun menarik kasar lengan Doojoon, bertatapan langsung dengan pria yang terobsesi pada Luhannya "KAU!"

Doojoon memberikan tatapan sama terkejutnya dengan Sehun, namun daripada menunjukkan rasa takutnya, sang professor lebih memilih menyeringai menatap satu-satunya pria yang menjadi alasan hingga kini Luhan sulit menerima kehadirannya.

Dan melihat dari pandangan menantang yang diberikan Sehun untuknya, maka niat sang professor untuk menghabisi pria di depannya semakin besar hingga rasanya tak sabar untuk menyingkirkan pengganggu didepannya "Ada apa? Apa kali ini masih tentang Luhan?" katanya berusaha tenang namun dipenuhi sirat keji yang hanya bisa dilihat Sehun saat ini.

"APA LAGI YANG KAU LAKUKAN PADA LUHAN?"

"Luhan?"

"APA YANG KAU LAKUKAN HINGGA DIA ANGKAT KAKI DARI RUMAH SAKIT INI?!"

Deg!

Nyatanya Doojoon juga tidak mengetahui apapun perihal kepindahan Luhan, jadi wajar jika wajahnya berubah pucat mendengar teriakan Sehun yang terus menyudutkannya. "a-Apa maksudmu?" tanyanya dengan suara tercekat, jujur sama dengan ekspresi Sehun, Doojoon tidak kalah terlihat kecewa hingga raut marah ditunjukkan wajahnya.

"brengsek! Jangan berpura-pura tidak mengetahui apapun!" tangannya sudah terkepal siap menghantam Doojoon sebelum suara yang dia yakini milik Kyungsoo terdengar memanggil,

"SEHUN!"

Dan benar saja, tak lama Kyungsoo terlihat berdiri di tengah-tengah dirinya dan Doojoon, matanya menatap kesal namun tangannya terus menggenggam jemari teman kecilnya "apa yang kau lakukan?" dia mendesis namun setelah itu menarik kencang tangan Sehun "KITA PERGI-…Professor Yoon, maafkan temanku."

Sebagai permintaan maafnya Kyungsoo membungkuk lalu membawa Sehun pergi sementara Doojoon masih terpaku di tempatnya "Perawat Kim?"

"Ya Professor? Anda baik-baik saja?"

Doojoon tidak menjawab dan hanya bertanya mengenai hal yang begitu mengganggunya "Dimana dokter Xi?"

Dengan menyesal asistennya mengatakan hal yang belum diketahui Doojoon sebagai pembimbing Luhan selama hampir dua tahun "Seperti yang anda dengar dari pria itu Professor, dokter Xi mengundurkan diri dari Seoul hospital."

"mwo?"

"Terhitung hari ini, aku rasa dia sudah tak lagi menjadi anggota tim emergency Seoul hospital."

Tangan Doojoon terkepal erat untuk menggeram begitu murka "SIAL! Kau terlalu jauh, Luhan!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Sebenarnya apa isi dari usb ini? Kenapa semua orang begitu menginginkannya? tidak, kenapa Jaksa Oh dan Professor Yoon begitu menginginkan benda kecil ini? Aku tidak menemukan apapun didalamnya, hanya sebatas kata sandi yang aku sendiri tidak mengerti bagaimana memecahkannya."

Setelah hatinya merasa sedikit tenang, Luhan bergegas keluar dari tempat bernama kejaksaan yang begitu dia benci, terus bertanya-tanya mengenai benda kecil yang kini berada di genggamannya sesekali melihat tak berkedip usb yang ditinggalkan sang ayah "Kenapa perasaanku buruk tentang hal ini?" katanya bergumam lirih,

Jujur saja enam bulan yang lalu saat pihak kejaksaan memberikan usb milik ayahnya Luhan bertanya-tanya apa isi dari beberapa dokumen dengan sandi rahasia yang kini berada di genggamannya. Awalnya dia tidak peduli, sampai beberapa hari ini dia memiliki perasaan buruk jika tidak melakukan apapun dengan benda kecil yang ditinggalkan ayahnya "Pada siapa aku harus bertanya?" katanya bergumam seraya menyusuri jalan keluar dari kantor kejaksaan.

Kepalanya tiba-tiba sakit, bisa saja dia bertanya pada sembarang orang, tapi mengingat benda kecil ini seperti memiliki sesuatu yang besar di dalamnya, Luhan kembali waspada. Dipikirkannya lagi harus membawa kemana usb peninggalan sang ayah sampai langkah kakinya terhenti diiringi senyum di wajahnya.

Senyum yang menunjukkan bahwa dia tahu harus meminta bantuan kepada siapa "Kau saja!" katanya bergumam lalu merogoh ponsel, mencari satu nama tak asing di kontaknya lalu menunggu nada tunggu hingga terdengar suara dari pria yang terkenal dengan bisnis software game sekaligus pemilik bar tempat biasa dia mencari ketenangan selama satu tahun ini.

"Luhan? Seperti mimpi dihubungi oleh pujaan hatiku di sore hari."

"tsk! Hentikan omong kosongmu L!"

"ckckc…galak seperti biasa! Ada apa?"

Luhan terkekeh mendengar jawaban dari teman malamnya, sedikit tertawa lalu tanpa berbasa basi dia langsung mengatakan "Temui aku malam ini, aku ingin meminta bantuanmu."

"Bantuan apa?"

"Kau akan tahu setelah kita bertemu!"

"Apa kau akan membayar mahal untuk kali ini?"

"Ya, jika kau bisa membantuku!"

"Deal! Malam ini di club. Aku tunggu."

Tersenyum, Luhan tanpa ragu mengatakan "oke!"

Pip!

Bersamaan dengan jawaban yang dia berikan, Luhan memutuskan panggilan dengan pria bernama Kim Myungsoo, dia pun bergegas menuju club mengingat jarak dari kantor kejaksaan menuju club milik Myungsoo membutuhkan waktu sekitar tiga jam jika tidak harus mengalami kemacetan lalu lintas.

"Hyung?"

Langkahnya kembali terhenti, kali ini bukan karena nama Myungsoo teringat di benaknya, tapi karena si bungsu dari tiga bersaudara Oh tengah berdiri tepat di depannya, memandangnya tersenyum namun tatapannya sendu terlihat sangat berharap menatapnya.

"haaah~"

Luhan menghela berat nafasnya, sedikit tersenyum dan berniat untuk tidak menyakiti hati si bungsu dan hatinya sendiri jika terus bersikap dingin pada remaja yang dalam satu tahun ini mengalami banyak perubahan.

"Hay Jae!"

"Hyung!"

Tak bisa menahan diri lagi Jaehyun bergegas mendekati Luhan, menarik sedikit kasar lengan pria yang sudah menjadi hyung favoritnya sejak kecil untuk mendekapnya sangat erat "Hyung, aku merindukanmu."

Untuk sesaat Luhan membiarkan Jaehyun melakukan apapun yang diinginkannya, membiarkan dirinya sesak karena Jaehyun memeluknya terlalu erat untuk diam-diam tersenyum, ya, walaupun dia tidak membalas pelukan Jaehyun, Luhan tersenyum kecil karena matanya mulai merasa panas merasakan rindu yang sama.

Hatinya meringkih sakit seraya tersenyum kecil mengingat mau bagaimanapun juga Jaehyun adalah satu-satunya adik Sehun yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri.

"Hyung! Bisakah kita bicara? Aku sangat ingin berbicara denganmu."

Buru-buru Luhan menatap ke arah samping saat Jaehyun melepas pelukannya, menolak menatap adiknya karena jujur air mata pasti akan jatuh jika sekali lagi menatap Jaehyun yang terlihat sangat berharap pada dirinya.

"Hyung!"

Dan saat Jaehyun memaksanya, maka yang dilakukan Luhan hanya tersenyum pahit lalu menatap tegas pada putra dari jaksa yang begitu dibencinya untuk saat ini "Maaf, tapi aku sibuk. Lain kali, mungkin."

"Hyuung.."

Luhan membuat gerakan cepat untuk menghapus air mata lalu meninggalkan Jaehyun begitu saja. Dia sengaja menabrak bahu Jaehyun agar si bungsu merasa marah dan tak lagi mengejarnya.

"tidak, Luhan hyung. LU-..."

Tap!

Bersamaan dengan niatnya mengejar Luhan, terlihat seseorang menghalau jalannya. Ingin rasanya Jaehyun mengumpat marah, tapi kemudian matanya terpana melihat pemuda seusia dirinya tengah memandangnya dengan tatapan memperingatkan.

"Siapa kau?"

Pemuda cantik dengan rambut merah muda itu tersenyum sarkas, dia juga sengaja mengunyah bubble di mulutnya untuk kemudian membalas "Aku adiknya juga."

"Siapa?"

"Luhan hyung, aku adiknya."

"tsk! Adiknya hanya diriku!"

"Benarkah? Lalu boleh aku bertanya?"

"Apa?"

"Kau tahu kemana dia akan pergi setelah ini?"

"..."

Jaehyun bungkam, jangankan kemana Luhan pergi, sampai saat ini, selama satu tahun dia bahkan tidak mengetahui dimana Luhan tinggal, membuatnya begitu kesal karena suka atau tidak pria yang terlihat sangat mirip Luhan, sepertinya mengetahui lebih banyak tentang hyung kesayangannya.

"Tidak tahu kan? Baiklah, biar kuberitahu satu hal."

Tak tertarik, Jaehyun segera melangkah pergi, bekal makan siang untuk ayahnya sengaja dia buang lalu bergegas pergi meninggalkan pemuda seusia dirinya.

"Hey!"

Dia mengabaikan panggilan pria yang juga mengaku adik Luhan untuk segera pergi dan tidak meninggalkan racauan menyebalkan dari pria yang entah darimana mengenalnya.

"Hey! Aku bicara padamu!"

"Terserah!"

"Baiklah, baiklah. Aku hanya ingin mengatakan sebaiknya kau dan kakakmu datang ke toko roti milik Luhan hyung!"

Tap!

Lagi-lagi Jaehyun berhenti melangkah. Bertanya-tanya apa maksud ucapan pria asing di depannya untuk menoleh dan bertanya "Apa maksudmu?"

Well, pemuda bernama Lee Taeyong itu mengangkat bahunya. Wajahnya ragu sesaat namun dia tetap mengatakan hal yang harusnya dikatakan untuk setidaknya mencegah agar Luhan tidak disakiti lagi setelah banyak hal mengerikan terjadi padanya. "Hey!"

Taeyong terkesiap lalu tersenyum lirih untuk mengatakan "Besok pagi, pukul sepuluh. Sabaiknya kau datang ke toko roti milik ayah Luhan."

"Ada apa di toko roti ayah Luhan?"

Tampak ketakutan, pria berambut merah muda itu berguman setengah berbisik "Jika kau dan kakakmu tidak datang, sesuatu yang buruk akan terjadi pada satu-satunya tempat yang menjadi alasan Luhan bertahan hidup."

"Apa yang akan terjadi?"

Keraguan terlihat lagi di wajah Taeyong, sekilas dia melihat ke arah kanan, lalu ke kiri seolah memastikan tak ada yang mengikutinya "Mereka akan menghancurkannya."

Jaehyun terkejut lalu segera bertanya "Mereka? Mereka siapa? Apa maksudmu dan siapa kau?!"

Taeyong memandang jengah pada Jaehun lalu kembali mengatakan siapa dirinya "Aku benci mengatakan ini, tapi kau bisa memanggilku penghianat. Aku benci saat mereka terus menerus mengganggu Luhan. Jadi aku hanya akan mengatakan ini untuk terakhir kali." Katanya terburu-buru mendekati Jaehyun lalu berjinjit untuk berbisik tepat di telinga Jaehyun "Besok pagi, jangan sampai terlambat jika tidak ingin melihat Luhan lebih terluka dan lebih membenci keluargamu. Aku pergi."

Buru-buru Taeyong berjalan meninggalkan Jaehyun, menyadari segala resiko yang bisa terjadi padanya untuk mendengar suara Jaehyun berteriak "HEY!" Taeyong pun berhenti melamgkah untuk kembali menoleh "Ada apa?"

"Kau! Siapa sebenarnya dirimu?"

Pemuda cantik itu tersenyum canggung untuk menjawab pertanyaan Jaehyun "Taeyong, Lee Taeyong." Katanya menjawab gugup untuk bergegas pergi meninggalkan tempat yang bisa membuatnya mendekam di penjara kapan saja.

"Taeyong? Siapa dia?"

"Jaehyunna?"

Jaehyun bergumam bingung untuk mendapati namanya kembali dipanggil, dia menoleh dan kali ini suara milik kakak tertuanya yang memanggil, membuatnya bertanya-tanya apa yang dilakukan Yunho di kantor kejaksaan namun tak membuang waktu untuk memberitahu informasi yang barus saja dia terima dari orang asing "HYUNG!"

"Ada apa?"

"LUHAN!"

Kerutan terlihat di dahi Yunho untuk bertanya pada adik bungsunya "Luhan? Ada apa dengan Luhan?"

Wajah si bungsu panik lalu dia berteriak sangat ketakutan "KITA HARUS MENOLONG LUHAN HYUNG?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Ini minumlah!"

Merasa begitu jengah dengan sikap kekanakan Sehun pada Doojoon, Kyungsoo akhirnya bertindak tak sabar kali ini, dia terus menggenggam kasar lengan Sehun berharap teman kecilnya kembali pada realita bahwa sekuat apapun dia mencoba, Doojoon akan selalu memnenangkan situasi yang berkaitan dengan Luhan.

Selalu seperti itu selama satu tahun dan tidak bisakah Sehun mengerti posisinya hanya sebagai seorang yang dibenci bukan dicinta?

Rrrrh~

Melihat bagaiamana perlakuan Luhan pada teman kecilnya saja sudah membuat Kyungsoo geram kini ditambah Doojoon yang mungkin akan membalas Sehun tak peduli bagaimana caranya.

"..."

"SEHUN!"

"huh?"

"Cepat minum kita perlu bicara!"

"Apa?"

"Kenapa kau terus membuat keributan dengan Professor Yoon?"

"Entahlah."

"SEHUN!"

Sehun tersentak, jelas dia kalah sikap dengan pria cantik satu anak di depannya, karena setiap kali Kyungsoo atau Baekhyun sekalipun mulai tak sabar pada dirinya, dia harus segera memperbaiki diri jika tidak ingin berakhir diusir atau paling buruknya tidak bisa melihat Taeoh dalam satu minggu.

Glup

Glup

Glup

Tiga kali tenggukan dihabiskan Sehun dalam sekejap, dia mengusap kasar bibirnya lalu terlihat kosong tanpa satu katapun terucap

"Sehun?"

"Soo."

"Ada apa?"

Matanya berkaca-kaca menatap Kyungsoo diiringi raut putus asa berharap Kyungsoo tahu kemana Luhan pergi "Apa kau tahu hari ini adalah hari terakhir Luhan bekerja?"

Terkejut mendengar nama Luhan, Kyungsoo spontan bertanya "Siapa?"

"Luhan, mereka mengatakan hari ini hari terakhirnya bekerja. Apa kau tahu?"

"tidak...tidak mungkin."

Sama seperti reaksi Sehun kali pertama mendengar Luhan berhenti kerja, Kyungsoo menampilkan wajah yang sama, tegang dan pucat, jadi saat Sehun memberitahu hal yang berusaha dielaknya sejak pagi, Kyungsoo gemetar.

Dia tidak menyangkal bahwa sepanjang hari ini memang banyak perawat dan residen yang membicarakan sesuatu tentang hari terakhir Luhan bekerja, tapi pagi tadi Kyungsoo begitu sibuk, terus mengabaikannya sampai akhirnya kebenaran diberitahukan langsung oleh mantan kekasih sahabatnya.

"Se-Sehunna apa yang kau katakan? Jadi benar? Luhan benar-benar pergi?"

Pertanyaan Kyungsoo semakin membuat posisi Sehun serba salah, dia yang bertanya tapi kemudian Kyungsoo bertanya balik.

Sahabatnya juga terlihat sangat pucat, tangannya sedikit gemetar dan tak lama berdiri cepat dari kursinya "Soo? Kau mau kemana?"

"Aku harus memastikan-...Luhan! Dia tidak boleh pergi begitu saja! Bagaiamana bisa dia meninggalkan aku dan Baekyun begitu saja? Bagaimana bisa-...SIAL!"

BLAM!

Tinggalah Sehun seorang diri setelah Kyungsoo menutup pintu ruangannya. Gusar dan cemas, tak tahu harus melakukan apa adalah hal yang begitu mengganggu mantan kekasih Luhan tersebut. Sehun gugup, dan sama seperti Kyungsoo tangannya juga gemetar, tak mengerti apa yang diinginkan Luhan hingga terlalu jauh membuat keputusan untuk pergi dari mereka.

Dan lagi seluruh kepergiannya sangat dirahasiakan, terlihat dari cara pihak mamagement yang mengatakan tidak mengetahui apapun tentang pengunduran diri kekasihnya hingga bungkamnya seluruh tim Luhan yang enggan mengatakan kemana tujuan Luhan setelah meninggalkan Seoul hospital.

Sehun mengusak kasar wajahnya untuk bertanya sangat putus asa entah pada siapa "Kenapa kau melakukan ini padaku Lu? Kemana aku harus mencarimu saat ini? Kemana-...Itu saja!"

Buru-buru Sehun mengeluarkan ponselnya, mencari aplikasi seperti gps di ponselnya untuk menyalakan ke mode on!

Pip

Pip

Lalu tak lama alat pelacak yang dipasangnya dua tahun lalu saat masih menjadi kekasih Luhan kembali aktif. Awalnya dia ragu, tapi katakan dia tidak memilih pilihan lain hingga terpaksa harus menggunakan alat pelacak yang sengaja dia pasang di ponsel Luhan saat masih menjadi kekasihnya "Kau tahu kan Lu? Aku tidak memiliki pilihan lain, maafkan aku."

Janjinya pada Luhan adalah tidak menggunakan semacam alat pelacak padanya lagi saat masih menjadi sepasang kekasih. Dan selama dua tahun ini Sehun memang menepati janjinya dan tidak menggunakan alat yang menggambarkan ketidakpercayaan pada pasangan. Dia akan mempercayakan Luhan pada Kai, Chanyeol atau dua sahabatnya, Baekhyun dan Kyungsoo.

Namun sayang pengecualian dia hari ini, janjinya untuk tidak menggunakan alat yang bisa melacak keberadaan Luhan terpaksa dia ingkari mengingat hal yang diinginkan Sehun saat ini hanya melihat dan bertemu langsung dengan pria yang sudah mencuri hati dan hidupnya selama dua puluh tahun.

"Biarkan aku menemukanmu dan kita bicara setelah kau merasa tenang, ya?" katanya bergegas pergi dari ruangan Kyungsoo untuk mengikuti tanda merah yang menunjukkan keberadaan Luhan saat ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam hari, 23.00 KST

.

Suara bising di club tidak terdengar jika kau berada di ruangan khusus yang disediakan sang pemilik club di lantai dua. Tepatnya, di ruangan pribadi miliknya maka setidaknya kau bisa merasa lebih fokus tanpa harus merasa terganggu dengan suara bising musik yang pastinya bisa memecahkan gelendang telinga.

Dan ya, waktu sudah menujukkan pukul sebelas malam, itu artinya sudah tiga jam Luhan berada di ruang pribadi Myungsoo di club miliknya namun belum bisa menemukan apapun tentang isi file yang berada di dalam usb mendiang ayahnya.

"haah~"

Terlihat Myungsoo melepas kacamata khususnya ketika melihat di depan komputer, tangannya dilipat dibelakang tengkuk lalu menatap Luhan sedikit merasa bersalah "Tidak ada apapun di dalam usb ini."

Entah untuk keberapa kalinya, Luhan juga bertanya seolah menginginkan jawaban selain tidak ada apapun dari teman malamnya "Apa kau yakin? Periksalah sekali lagi!"

Myungsoo melihat arlojinya lalu bergumam kecil "Tapi ini sudah tiga jam Luhan."

"Kumohon."

Tak tahan melihat wajah memohon Luhan, Myungsoo mengangkat tangan, tanda menyerah dan menyetujui untuk mengeksplor lebih dalam agar Luhan berhenti menunjukkan wajahnya yang begitu menggemaskan "Baiklah, sekali lagi! Jika aku tidak bisa menemukan apapun lagi, kau pergi."

"Baiklah, sekali lagi!"

Myungsoo kembali memakai kacamata khusunya lalu fokus dengan berbagai software yang dimilikinya hanya untuk satu data milik ayah Luhan. Beberapa kali dia mencoba hijack data yang memiliki kata sandi khusus untuk diarahkan ke file dengan kemanan tingkat paling tinggi setara milik pemerintah

Enter!

Beberapa data baru muncul, Myungsoo mengantisipasi satu folder yang bertuliskan high secure lalu menekan untuk diarahkan lagi pada kata sandi baru yang lebih rumit.

Bergegas tangannya mengetikan segala hal tentang membajak beberapa situs sampai tak lama matanya membulat menyadari bahwa sedari tadi, file yang coba di akses adalah milik negara dengan keamanan tingkat tinggi yang tak bisa dibuka jika tidak menggunakan kata sandi dari salah satu pihak berwenang.

"Luhan."

Buru-buru Luhan mendekati Myungsoo untuk mencari tahu "Ada apa?"

Enter!

Sekali lagi Myungsoo menekan satu tombol yang menampilkan beberapa program yang berjalan sesuai perintahnya. Dia terlalu fokus lalu bertanya seolah memastikan pada Luhan "Apa kau yakin kita bisa membaca file di dalamnya."

"Tentu saja, ini milik ayahku. Jadi kita bisa membacanya L, ada apa?"

"Entahlah, dokumen ini memiliki tingkat keamanan tertinggi dengan pemerintah sebagai penanggung jawab. Aku hanya tidak yakin bisa membukanya dalam waktu cepat."

"Apa maksudmu?"

Myungsoo kembali melepas kacamatanya lalu bergumam menjawab pertanyaan Luhan "Apapun isi file didalamnya, pastilah sesuatu yang berkaitan dengan kejahatan. Seperti dokumen rahasia negara maksudku."

"Lalu apa kau bisa mengaksesnya?"

"Tentu saja! Hanya saja aku membutuhkan waktu."

"Berapa lama?"

Myungsoo berfikir lalu menjawab penuh percaya diri "Tiga puluh enam jam dari sekarang. Bagaimana?"

Bohong jika Luhan tidak merasa senang, dia pun mengangguk tanpa ragu lalu memberikan amplop berisi uang yang cukup banyak untuk Myungsoo "Ini ambillah."

"Apa ini?"

"Uang muka untukmu."

"eyy! Aku belum menemukan apapun. Tunggu sampai aku mendapatkan data yang kau inginkan lalu kau bisa membayarku."

"Benar?"

Myungsoo kembali larut dalam pekerjannya untuk mengangguk seraya mengatakan "Yap! Aku rasa kau bisa pergi sekarang, aku akan memberitahumu jika menemukan sesuatu."

Tak mau membantah, Luhan pun segera mengangguk. Jujur dia sangat lelah hari ini, jadi ketika Myungsoo memintanya untuk pergi maka tanpa ragu Luhan memakai jaket serta mengambil kunci mobilnya "Baiklah, aku akan pergi. Hubungi aku secepatnya." Katanya menepuk bahu Myungsoo untuk mendapatkan ibu jari terangkat sebagai jawaban Ya dari teman malamnya.

"Aku pergi L!"

"Selamat malam dokter Xi." katanya menggoda Luhan dibalas kekehan dari sang dokter "Selamat bekerja Professor Kim!"

Setelah membalas racauan Myungsoo, Luhan bergegas menuruni tangga tempat ruangan Myungsoo berada. Dia juga sengaja keluar dari pintu belakang agar tidak perlu berpapasan dengan orang yang sedang berpesta sementara yang diinginkan hanyalah segera pergi dari keramaian menyebalkan seperti club malam.

BLAM!

Perlahan dia menutup pintu belakang hell club, berjalan menuju mobilnya untuk mendapati sosok pria yang sialnya begitu tidak ingin dia lihat untuk saat ini. Pria yang malam tadi pergi meninggalkannya begitu saja setelah memberi luka di bibirnya yang masa terasa begitu perih hingga saat ini.

"Darimana kau tahu aku ada disini."

"….."

"SEHUN!"

Pip!

Pip!

Bersamaan dengan teriakan Luhan, ponselnya berbunyi. Membuat si pria cantik bergegas merogoh ponselnya untuk mendapati software sialan yang seharusnya tidak pernah digunakan Sehun lagi sesuai perjanjian mereka.

Dia kemudian tertawa sangat marah lalu menunjukkan ponselnya tepat ke arah Sehun "Apa ini? Kau menggunakannya lagi?"

"Aku terpaksa."

"sial! BERANI SEKALI KAU MENGAWASIKU!"

Luhan murka, dia kemudian membanting ponselnya untuk menginjaknya sampai hancur tak bersisa. "Lu."

Sementara Luhan sibuk menghancurkan ponselnya maka Sehun hanya bisa menatap nanar menyadari kesalahannya karena lagi-lagi menggunakan aplikasi yang begitu dibenci Luhan bahkan saat mereka masih menjadi sepasang kekasih "Maaf!"

"JIKA KAU MENYESAL KENAPA TIDAK PERGI DARI HIDUPKU! KENAPA SELALU DATANG KEPADAKU!"

"…"

"PERGI!"

Sehun menggeleng untuk menatap kekasihnya tanpa keraguan "Apapun selain pergi, aku akan melakukannya."

"tsk! Apapun selain pergi? Kau yakin?"

"Ya. Aku lebih memilih kau menyuruhku mati daripada harus pergi, aku tidak akan melakukannya."

"Mati ya?"

Luhan menyeringai, mencari apapun yang bisa menyakiti pria sialan di depannya untuk melihat sebotol bir bekas yang dibuang di belakang club. Dia pun berjalan mendekati botol bir tersebut sebelum

PRANG!

Luhan memecahkan kasar botol tersebut untuk menyisakan pecahannya yang runcing dan melemparkannya kasar ke depan Sehun "Lu?" Sehun bertanya bingung untuk mendapati jawaban keji dari pria yang masih begitu dicintainya "Ambil dan Enyahlah! Aku muak melihat wajahmu"

Dia tertegun saat, tak menyangka Luhan akan benar-benar menyuruhnya mati lalu tersenyum lirih sebagai jawaban "Baiklah, aku rasa ini lebih baik." Katanya memungut pecahan botol runcing yang diberikan Luhan lalu tak lama

Sret!

"rrrhh.."

Luhan tertohok tatkala Sehun menggores lengan kanannya tanpa ragu, matanya membulat dan menyakini bahwa goresan yang dilakukan mantan kekasihnya begitu dalam mengingat darah segar langsung mengotori kemeja putih yang dikenakannya.

"Jangan berkedip." Sehun memberi perintah untuk menukar posisi pecahan botol lalu menggores lengan kirinya, sama dalam, dan sama menyakitkan karena darah segar juga langsung mengucur hingga wajahnya memucat.

"rrrhh…"

Luhan bisa melihat dengan kedua matanya sendiri betapa Sehun benar-benar menepati janjinya. Janji untuk melakukan apapun selain pergi dengan dua lengan yang dia gores begitu dalam. Matanya tak berkedip melihat darah yang kini masing-masing membanjiri lengan pria yang pernah menjadi miliknya.

Tidak tertawa puas juga tidak menampilkan raut sedih. Yang Luhan lakukan hanya diam tak berkedip sementara air mata sialan sudah membasahi seluruh wajahnya "Aku sakit melihatmu menangis. Jangan merasa bersalah karena hal ini. hmm?"

Luhan menghapus cepat air matanya namun sial, air mata yang lain terus menetes menyadari bahwa sampai kapanpun, hatinya tidak akan sanggup melihat Sehun terluka.

Sret!

BRAK!

"rrh!"

Kali ini Sehun terjatuh dengan lutut yang menyangga tubuh saat menggores dadanya, Luhan bahkan bisa mendengar suara robekan kemeja disertai goresan melintang yang kini mengucur darah di dada Sehun, matanya membulat hebat, tangannya berkeringat hebat menyadari bahwa wajah Sehun sudah berubah pucat karena terlalu banyak darah yang dikeluarkannya.

"Sehun."

Kakinya sudah melangkah mendekati Sehun, tapi kemudian langkahnya terhenti saat tangan seseorang menahan tubuhnya bergerak. Luhan marah, dia cemas namun kemudian wajah Doojoon terlihat.

Entah sejak kapan Professor sekaligus pria yang sudah dianggapnya seperti kakak itu bisa berada disana. Membuat Luhan tertegun menyadari pula mungkin keberadaannya memang tidak sulit ditemukan karena selain Sehun, Doojoon adalah pria kedua yang selalu berhasil menemukan dimana dirinya.

"Hyung?"

"Apa yang dia lakukan?" Doojoon bertanya sarkas dibalas tatapan Luhan yang tanpa ekspresi "Menghabisi dirinya sendiri, mungkin."

"Kalau begitu tinggalkan dia. Kita pergi!"

Doojoon sudah menarik tangannya menjauh, Luhan pasrah mengikutinya sampai lagi-lagi hatinya menjerit menyalahkan dirinya bahwa yang dia lakukan pada Sehun adalah sebuah kesalahan yang akan disesalinya seumur hidup.

"Hyung!"

Luhan melirik kearah Sehun, prianya kini tertunduk lemas sementara seluruh luka goresan di tubuhnya mulai berlomba mengeluarkan darah "Ada apa?" Sejujurnya Doojoon benci melihat tatapan Luhan saat ini. Tatapan yang masih dipenuhi rasa cemas dan dipenuhi cinta untuk satu-satunya pria yang kematiannya begitu ia inginkan saat ini.

"Pergilah lebih dulu." Katanya lirih sementara matanya tak pernah lepas dari Sehun "Lalu bagaimana denganmu?"

"Aku akan tinggal."

"Dengannya?"

"hyung, kumohon!"

"Aku yang memohon padamu! Tidak bisakah kau meninggalkannya? Hanya pergi dan membiarkannya mati seperti yang kau inginkan?!"

Samar-samar, Sehun bisa mendengar Luhan mengatakan "Aku tidak bisa membiarkannya mati. Jika dia, Jika dia mati, aku tidak akan bisa hidup."

"LUHAN!"

Mengabaikan teriakan Doojoon, kini Luhan berjalan mendekati Sehun. Langkahnya sesekali gontai namun tangannya terkepal, matanya terkunci pada sosok pria yang kini tertunduk lemas di depan matanya untuk kemudian menatap marah pada Sehunnya lalu memberi perintah.

"Berdiri."

Merasa senang Luhan tidak meninggalkannya, Sehun mendongak, melihat wajah Luhan yang dipenuhi amarah namun tersenyum karena sejauh apapun dia melihat hanya ada kecemasan di mata pria cantiknya "Lu, rrrh!" lirihnya kesakitan diiringi air mata Luhan yang terus menetes namun tanpa suara isakan.

"AKU BILANG BERDIRI!"

Sehun mengangguk, walau seluruh tubuhnya terkoyak, dia tetap mencoba berdiri. Namun sayang, terlalu banyak darah yang membuat lemas tubuhnya, dan karena hal itu pula daripada berdiri, tubuh besarnya jatuh namun segera ditangkap oleh lengan mungil pujaan hatinya.

"Aku marah jika kau menutup matamu!"

Sehun bisa mencium aroma Luhan yang menangkap tubuhnya, dia juga bisa merasakan usapan lembut di punggungnya sementara lengan Luhan mendekapnya erat "SEHUN!"

"Lu, aku merindukanmu."

Dia mencoba untuk tetap sadar, namun sayang, seluruh tubuhnya mati rasa, pandangannya kabur dan terasa gelap hingga kali terakhir yang dia dengar hanya teriakan Luhan yang terus memanggil namanya, terdengar cemas, namun Sehun menyukai suara Luhan saat memanggil namanya

"OH SEHUN BUKA MATAMU!"

Setelahnya, Sehun tak memiliki daya dan kuasa atas tubuhnya, tubuhnya terkulai lemas sementara Luhan memeluk erat tubuhnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"rrrhh…."

Hal pertama yang mengganggunya saat membuka mata adalah tangan kirinya terasa kram, Sehun menoleh, lalu mendapati slang infus terpasang di jemari kirinya dengan lengan tergores yang entah sejak kapan sudah diperban.

Rumah sakit?

Tebakan pertamanya tentu rumah sakit, tapi kemudian hidungnya menghirup dalam-dalam aroma pengharum ruangan lalu menebak bahwa ini bukan rumah sakit.

Hell, kekasihnya seorang dokter begitupula dua orang sahabatnya. jadi tidak mungkin Sehun salah membedakan apakah dia tinggal di rumah sakit atau bukan. Lagipula tempat tidurnya terlalu nyaman hanya untuk sekelas rumah sakit.

Luhan? Dimana Luhan?

Lalu dia teringat kali terakhir sebelum tak sadarkan diri Luhan memeluknya, dia membuka cepat matanya, menahan rasa sakit untuk mengernyit menyadari bahwa saat ini dia sedang berada di sebuah penginapan kecil dengan suara club yang masih terdengar.

Aku masih disekitar club? Sial! Dimana Luhan?

Sehun nyaris melepas slang infusnya jika disaat bersamaan suara

Klik….!

Tanda pintu terbuka tidak didengar telinganya. Buru-buru dia menoleh, menatap penuh harap dan luar biasa lega mendapati Luhan masih menemaninya walau raut marah tak lekas hilang di wajahnya.

"Lu?"

BRAK!

Luhan sengaja membanting belanjaan yang Sehun tebak adalah obat-obatan, lalu di tangan kirinya dia membawa sup hangat sementara tangan kanannya membawa baju ganti dengan ukuran besar yang lagi-lagi Sehun tebak untuk dirinya.

"Lain kali jika ingin mati jangan didepan mataku! KAU DENGAR?"

Dia terus berteriak, tapi air matanya tak kunjung berhenti menetes. Berkali-kali Luhan menghapusnya berkali-kali pula air mata itu jatuh membasahi wajahnya, membuat lagi-lagi Sehun tertegun dan entah mengapa daripada luka ditubuhnya, hatinya jauh lebih sakit karena terus membuat Luhan menangis.

"Maaf."

"brengsek!"

Luhan gusar, didekatinya Sehun dengan wajah begitu cemas seperti kebiasaannya yang dulu, ya, Luhan memiliki kebiasaakn menangis non stop jika Sehun demam tinggi, jika Sehun terjatuh dari sepeda, apalagi jika dirinya terluka seperti ini, dia akan tanpa sadar menangis dan terus mencemaskan Sehun sampai matanya memastikan bahwa Sehun baik-baik saja.

"Biar kulihat wajahmu." Katanya memaksa melihat wajah Sehun sementara Sehun tak sengaja melihat seluruh perban dipenuhi darah dan alkohol serta jarum suntik berserakan di motel tempat mereka menetap saat ini.

"Bagaimana kondisimu."

"…"

Menyadari Luhan susah payah mengobati lukanya, membuat hati Sehun begitu hangat. Dia lantas tak menjawab pertanyaan Luhan dan hanya betah memandangi lama pria cantik yang bisa menghilang kapan saja dari hidupnya "Apa kau hanya akan diam? Aku bertanya padamu! Apa kau baik-baik saja?"

"tidak."

"huh?"

"Aku tidak baik-baik saja."

"Dimana yang sakit?"

Luhan mencari kemungkinan jahitannya yang tidak sempurna ada di lengan kanan Sehun, alatnya terbatas lagipula kelemahannya sebagai seorang dokter adalah tidak bisa mengobati apalagi melihat kondisi orang terdekatnya jika terluka parah. Jadi tebakannya Sehun merasa sakit karena jahitannya di lengan kanan masih terbuka.

"Biar kulihat lukamu, aku harus memastikan-…."

Tangannya digenggam Sehun saat ingin memastikan. Luhan terdiam sementara Sehun tersenyum, dia kemudian membawa tangan Luhan ke dadanya lalu mengatakan "Ini yang sakit."

Sesaat Luhan mengira goresan di dada Sehun yang sakit, tapi lagi-lagi Sehun menekan tangannya untuk menunjukkan dimana dia merasa sakit "Hatiku yang sakit."

Luhan tertegun, karena saat Sehun mengatakan hatinya sakit, entah mengapa miliknya juga berdegup sakit, rasanya sesak, namun terus memberanikan diri menatap mata Sehun cukup lama hingga akhirnya Luhan merasa tidak tahan. Segera dia membuang wajahnya, berniat melepas pegangan tangan Sehun di jemarinya namun terpaksa harus tetap dalam posisi sialan ini karena Sehun menggenggam erat jemarinya.

"Aku merindukanmu."

Jantung Luhan bergedup kencang, membiarkan Sehun mengatakan apapun yang diinginkan untuk kembali menatap pria yang wajahnya masih pucat tanda kondisinya belum sepenuhnya pulih "Kau terus mengatakan rindu, benar kau merindukan aku?"

Tanpa ragu Sehun mengangguk, diusapnya air mata Luhan lalu kembali mengatakan "Ya, aku merindukanmu, tidak, biar aku jelaskan." Katanya masih mengusap wajah Luhan untuk mengatakan hal yang begitu ingin dia katakan setelah satu tahun berlalu "Aku merindukan Luhanku yang dulu, yang peduli padaku, yang mencintaiku."

Lagi-lagi Luhan terdiam, dia bertanya-tanya sebesar apa cinta Sehun untuknya, setulus apa hatinya mencintai atau seberapa jauh Sehun akan bertahan sementara dia terus menyakitinya. Luhan bahkan dibuat takjub dengan semua yang Sehun lakukan hingga mengalah adalah hal yang akan dilakukannya malam ini.

"haah~" Luhan menghela nafasnya lalu berujar sangat lembut, seperti Luhan yang dulu, yang diinginkan Sehun "Aku akan menjadi Luhan yang dulu untuk malam ini, setelahnya jangan datang lagi mengusikku, jangan menyakiti dirimu lagi. Dengar?"

"Aku tidak akan mengusikmu, yang kulakukan hanya mengejarmu, seperti biasa."

Merasa putus asa, Luhan bertanya "Mau sampai kapan?" Sehun tersenyum sebagai jawaban lalu meletakkan tangannya tepat di dada Luhan "Sampai hatimu menerimaku lagi."

Tes!

Luhan membuang wajahnya saat air mata kembali terjatuh, jujur setelah satu tahun untuk kali pertama dia merasa begitu aman dan dilindungi, tapi kemudian dia tertawa kecil sebagai penolakan hatinya agar tidak terjatuh pada cinta yang sama walau sejujurnya dia semakin mencintai pria pertamanya. "Terserahmu saja, cepat ganti kemejamu. Aku benci melihat darah disana!"

Sehun mengangguk namun terlihat kesulitan karena slang infus yang dipakaikan Luhan di jemari kirinya "rrhh.." dia bahkan meringis membuat Luhan lagi-lagi mengambil berat nafasnya untuk mengambil kemeja yang dia beli lalu berjalan mendekati Sehun.

"Biar kubantu."

Dengan cekatan namun perlahan, Luhan melepas kancing kemeja Sehun, memastikan tidak mengenai tubuh Sehun yang terluka dan membuang kemeja sialan yang memberikan mimpi buruk untuknya.

"Selesai."

Dia berniat pergi tapi tangan Sehun terus menggenggamnya "Apa lagi?"

"mmhh.."

Ragu-ragu Sehun bertanya "Kau tidak mengingkari janji kan?"

"Janji apa?"

"Kau adalah Luhanku yang dulu malam ini, ingat?"

Terdengar nafas berat Luhan berhembus lalu kemudian mengangguk tak mengelak "Ya baiklah. Aku Luhanmu yang dulu malam ini. Apa yang kau inginkan?"

"Aku memiliki tiga permintaan."

"Apa?"

Sehun terlihat bingung, rasanya ini seperti mewujudkan tiga permintaan berharga dari dewa. Terlalu berharga hingga dia bersumpah untuk tidak menyia-nyiakan hal yang tidak akan terjadi dua kali dalam satu tahun ini.

"Pertama, bisakah kau melepas slang infus dari tanganku?"

"Wajahmu masih pucat."

"Tapi aku sudah merasa lebih baik."

"Baiklah." Sedikit kesal, Luhan malas berdeabat dan melepas slang infus dari lengan Sehun sedikit kasar "arh!" Sehun meringis, buru-buru Luhan menempelkan kain kasa dilapis alkohol agar tidak terjadi pembengkakan di jemari mantan kekasihnya.

"Apa yang kedua?"

Buru-buru Sehun menggeser posisi tidurnya untuk menyediakan sedikit ruang agar Luhan bisa berbaring "Tidur disampingku." Katanya tanpa ragu dibalas raut terkejut dari Luhan "ayolah! Itu terlalu banyak."

"Luhan yang dulu selalu tidur di pelukanku, jangan mengelaknya."

Ya benar, bahkan hingga detik ini Luhan yang sekarang juga masih ingin tidur di pelukanmu. Luhan membalas dalam hati pernyataan Sehun, jujur setelah semua kejadian buruk yang terjadi di hidupnya tidak sekalipun Luhan pernah tidur dengan nyaman. Jadi ketika Sehun kembali menawarkan lagi lengan yang selalu menjadi bantal di tidurnya, Luhan tak mau lagi mengelak.

Mungkin malam ini aku bisa tidur dengan nyaman.

Dia kemudian mengambil posisi berbaring di samping Sehun, tidak menggunakan lengannya sebagai bantal mengingat pria gila disampingnya baru saja menggores lengannya "Sudah? Lalu apa permintaan ketiga—Sehun!"

Luhan terkejut saat tubuhnya ditarik paksa mendekat, detik berikutnya dia bisa mencium aroma harum tubuh Sehun dan menyadari posisinya saat ini adalah sedang berada di pelukan mantan kekasihnya, pelukan yang sudah menemaninya hampir dua puluh tahun mengingat tiap kali mereka tidur bersama, Sehun akan selalu memeluknya.

Nyaman.

Luhan tidak mengelaknya, namun menyadari Sehun terlalu banyak bergerak cukup membuatnya kesal, dia pun mendongak lalu memperingatkan Sehun "Jika jahitanmu terbuka, aku bersumpah tidak akan mempedulikannya."

"ya, tidak apa. Asal aku bisa memelukmu lagi setelah satu tahun." Katanya lirih seraya mengecupi berulang kali pucuk kepala Luhan. Awalnya Luhan merasa risih, namun kecupan Sehun sangatlah familiar hingga berakhir membiarkan Sehun melakukan apapun yang diinginkannya.

"Aku akan mengatakan permintaan terakhirku."

Luhan hanya diam di pelukan Sehun seraya bergumam "Apa?"

Sehun membuat sedikit jarak di antara mereka, sengaja ingin melihat wajah Luhan lebih dekat hingga tanpa sadar tangannya mengusap bibir Luhan yang terluka karena ulahnya malam tadi "Apa sakit?" katanya bertanya lirih dibalas Luhan yang menggelengkan kepala "Sudahlah, lupakan luka ini, milikmu lebih menyakitkan. Jadi apa permintaan terakhirmu?"

Sehun tak berkedip menatap wajah Luhan, diusapnya surai yang begitu dia rindukan untuk kemudian membungkuk seraya berbisik di telinga pria yang membuatnya tergila selama bertahun-tahun "Menciummu."

"Sehun!"

Tak lama suara Luhan dibungkam dengan kecupan Sehun di bibirnya. Dan berbeda dari malam tadi, kali ini ciuman Sehun begitu lembut, terasa begitu hangat terlebih saat Luhan membuka diri untuk memberikan izin agar Sehun bisa menciumnya.

Sementara Sehun memeluk tubuhnya erat, maka diam-diam, tanpa melepas lumatan di bibir mereka Luhan memberi jarak agar bisa melihat wajah pria yang pernah menjadi kekasihnya, awalnya dia berfikir Sehun akan menatapnya, tapi dia salah, mata Sehun terpejam sementara bibirnya terus bergerak semakin dalam dan lembut saat melumatnya. Terlalu lembut hingga Luhan bisa melihat air mata menetes dari kelopak mata Sehun.

Refleks mata Sehun terbuka saat tangan lembut Luhan mengusap air matanya, dia terkejut antara malu dan bahagia karena bisa melihat tatapan Luhan begitu lembut "Ada apa?" Luhan bertanya, lalu Sehun tersenyum sebagai jawaban "Aku hanya terlalu bahagia."

"Jika bahagia jangan membuatku terlihat buruk."

"huh?"

"Cium aku dengan senyum, bukan dengan air mata."

Sehun luar biasa berdebar mendengar perintah Luhan, berkali-kali dia mengedipkan mata agar air matanya tak jatuh untuk tertawa seraya menarik Luhan lagi ke pelukannya "Baiklah, aku akan melakukannya dengan benar kali ini."

Sehun perlahan menunduk lagi, memiringkan kepalanya untuk mencium Luhan seperti hidupnya tergantung pada ciuman Luhan. "dia gelisah." Luhan bisa merasakan keputusasaan diciuman Sehun, seperti rasa membutuhkan tapi tak bisa melakukan apapun selain menciumnya takut jika perasaannya hilang lagi.

Dan disela lumatan bibir Sehun, Luhan mengangkat tangannya, mengusap lembut punggung Sehun seolah mengingatkan pria yang sedang mendekapnya bahwa saat ini, detik ini juga, dia sedang mencium Luhannya yang dulu, yang mencintainya tulus tanpa rasa benci seperti Luhan di esok hari.

"Malam ini, aku Luhanmu yang dulu, ingat?" katanya bergumam disela ciuman mereka dibalas anggukan dan tubuh Sehun yang mulai tenang. Setelahnya tak ada lagi rasa putus asa yang ada hanya rasa saling membutuhkan untuk saling mengisi ruang kosong yang disebut rindu yang sudah diabaikan mereka selama satu tahun ini.

"arhh~"

Luhan tak sengaja mendesah saat lidah mereka melilit menjadi satu, air liur mereka bertukar dan seperti biasa Sehun is a good kisser. Jadi sebenarnya Luhan selalu memiliki rasa tak rela jika suatu saat nanti, entah itu siapa. Sehun akan menemukan pengganti dirinya.

"mmhh~"

Sehun semakin melilitkan kedua lidah mereka, tubuh keduanya panas karena gairah dan hasrat yang meledak diantara mereka. Tubuh mereka merespon dengan sendirinya arti rindu yang ditahan pemiliknya masing-masing, jadi saat mereka mulai berhubungan intim maka letupan gairah itu tak bisa lagi disembunyikan.

Bisa saja Sehun kehilangan kendalinya dan terus mencium Luhan hingga tubuh mereka menyatu nantinya, tapi dia sadar ini bukan cara yang tepat mengambil hati Luhan, dengan berat hati dia menarik bibirnya dari bibir Luhan lalu menatapnya lembut, menahan emosi yang sensual yang tidak bisa dia jelaskan seperti apa rasanya.

"wae?"

Nafas Luhan terengah, bibirnya terbuka mencari nafas membuat kesan imutnya sangat kentara dimata Sehun "Tidak, aku hanya perlu menghentikannya disini?"

Terlalu bingung Luhan tidka menjawab apapun, dia hanya membiarkan Sehun kembali mendekapnya lalu menyesap aromanya kuat-kuat "Aku tidak akan meminta lebih, hanya jadi Luhanku lebih lama malam ini, Ya?"

"Baiklah."

"Aku mencintaimu."

"…"

"Luhan yang dulu selalu membalas ucapan cintaku." Sehun mengingatkan dibalas suara kekehan dari Luhan "Baiklah." Ragu, Luhan kemudian membalas ucapan cinta Sehun, seperti dulu "Aku juga mencintaimu." Katanya terdengar tulus dibalas senyum lirih Sehun saat mendengarnya.

"haah~ Aku berharap bisa mendengar Luhan sekarang juga membalas cintaku."

Sehun menyadari tubuh Luhan tegang di pelukannya, dia kemudian tertawa lalu mencium sekali Luhannya yang dulu sebelum pergi untuk tidur "Baiklah, kau bisa tidur Lu, aku memelukmu."

"Baiklah."

Tak lama kedua mata mereka terpejam, dan karena efek obat, Sehun lebih dulu tertidur, terlihat sangat bahagia sementara Luhan sedang menatapnya saat ini. Tak banyak yang dilakukan Luhan, dia hanya diam sesekali mengusap lembut wajah Sehun untuk mengatakan "Maaf sudah memintamu melakukan hal mengerikan, jadi kumohon jangan biarkan aku melihat darahmu ditanganku lagi Sehunna, aku tidak bisa, jangan terluka lagi, kumohon."

Yang tak Sehun ketahui, mungkin beberapa menit yang lalu yang membalas ucapan cintanya bukanlah Luhan yang dulu, melainkan Luhan yang saat ini sedang sedikit meluluhkan hatinya, yang sedang mengkhawatirkan Sehunnya sama seperti yang selalu dia lakukan sejak mereka kecil, sejak Sehun mengatakan mencintainya dua puluh tahun yang lalu, mungkin.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku pergi, sebaiknya kau minum obatmu sebelum pergi

Begitulah pesan yang Sehun baca saat membuka matanya di pagi hari. Tertawa kecil seraya mengumpat karena rasa lelahnya yang begitu banyak membuat dia tidak menyadari kepergian Luhan dari pelukannya.

Dia kemudian bersandar di tempat tidur. Melihat ke samping kanan untuk tersenyum sangat bahagia mengingat bahwa malam tadi, untuk kali pertama setelah satu tahun dia kembali mendekap si mungil di pelukannya, pria yang sejak usianya sepuluh tahun sudah selalu dia peluk jika mereka tidur bersama

"haah~ Rasanya malam tadi tidurku begitu menyenangkan." Katanya bergumam menyesapi aroma tubuh Luhan, berniat untuk tidak segera pergi jika ponselnya tidak bergetar dengan nama Jaehyun tertera disana.

Sret!

Sehun segera mengangkat panggilan dari adiknya untuk menyapa adik kecilnya "Jae? Ada apa?"

"Hyung kau harus segera datang!"

Tidak biasanya adik bungsunya terdengar sangat ketakutan, jadi ketika suaranya terdengar seperti menangis, sesuatu pastilah terjadi. Buru-buru Sehun kembali bersandar di tempat tidur lalu bertanya cukup tenang pada adiknya "Ada apa? Aku harus datang kemana?"

"toko roti paman Xi!"

Baiklah, Sehun tidak bisa tenang saat nama tempat yang menjadi alasan Luhannya hidup dengan baik disebut oleh adiknya. Takut-takut dia bertanya "Apa yang terjadi?"

"MEREKA AKAN MENGHANCURKAN TOKO ROTI PAMAN XI!"

DEG!

Entah siapa bajingan yang dengan keji menghancurkan toko roti kecil milik ayah Luhan selama dua puluh tahun, entah apa motifnya. Tapi jika sampai toko roti itu benar-benar dihancurkan, maka sudah dipastikan Luhan akan menghadiri pemakaman kedua ayahnya.

Luhannya pasti akan kembali terpuruk dan hancur jika itu terjadi, membayangkannya saja sudah membuat Sehun mual, dia berlari gontai mengambil kunci mobil lalu menutup cepat panggilan dari adiknya.

"SIAL!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"BERHENTI MENGHANCURKAN TOKO AYAHKU—hah~berhenti, jebal!"

Untuk Luhan, tak ada definisi mimpi buruk selain pagi ini, pagi yang dia kira akan dijalaninya dengan sedikit lebih baik dari pagi-pagi sebelumnya selama satu tahun ini.

Karena disaat dia mengira bisa memperbaiki hubungannya dengan Sehun maka disaat yang sama dia harus menerima pesan dari Seunghyun yang mengatakan kejaksaan akan menghancurkan toko roti ayahmu, Lu! Apa yang harus kulakukan?

Luhan tidak mengerti maksud pesan Seunghyun pagi tadi, tapi kemudian pesan selanjutnya datang dan berisikan mimpi buruk yang seolah menampar dirinya untuk menerima kenyataan bahwa sampai kapanpun, dia dan Sehun memang tidak ditakdirkan bersama Jaksa Oh yang memberi perintah atas penutupan paksa toko roti ayahmu. Aku menolak, dan mereka memberikan instruksi baru untuk menghancurkan toko roti ayahmu

DEG!

Luhan kalap, dia melupakan fakta bahwa hari ini adalah hari pertamanya bekerja di Hanyang hospital, tempat ibunya dulu bekerja, yang dia lakukan hanya berlari ke tempat kenangan keluarga kecilnya untuk mendapati beberapa pria berjubah hitam tengah menyegel dan mengunci paksa toko roti milik ayahnya.

SIAPA YANG MEMBERI PERINTAH?

Beberapa menit lalu Luhan bertanya, lalu tak lama mereka melemparkan kertas yang telah ditandatangani salah satu jaksa penuntut dengan nama Oh Insung tertera disana.

"andwae..ah,haah~"

Luhan lemas, dadanya sesak, phobianya melihat pria berjubah hitam tiba-tiba kambuh. Siapapun yang melakukan hal ini pastilah tahu dia memiliki ketakutan melihat orang yang mengenakan jubah hitam dalam jumlah banyak. Dan rasanya masuk akal jika Luhan mempercayai bahwa ayah Sehun memang berada di belakang semua ini.

"berhenti, jebal!"

Keringat memenuhi wajahnya sementara Seunghyun, entahlah dia berada dimana karena Luhan sama sekali tak melihatnya. Berkali-kali Luhan mencoba berdiri namun berkali-kali pula dia terjatuh, karena selain diseret paksa dengan kasar, delapan orang berjubah itu sesekali berdiri melingkarinya, tertawa menyeramkan hingga Luhan tak bisa mengatasi sesaknya karena terlalu takut.

PRANG!

"ANDWAAAEE!"

Matanya membulat saat tongkat pertama diayunkan, kaca toko ayahnya mulai hancur diiringi suara pecahan berikutnya "berhenti, kumohon."

PRANG!

d"brengsek!" Luhan menangis hebat. Yang membuat hatinya sakit karena tak ada satupun yang datang untuk menolongnya, lalu kemudian dia sadar satu-satunya hal yang membuat banyak orang hanya melihat tanpa melakukan apapun adalah karena cap "penghianat" dari ayahnya tidak kunjung dibersihkan dan masih dianggap sebagi terdakwa.

"HANCURKAN DAN BAKAR TOKO MILIK PENGHIANAT INI! SEGERA!"

"AAAAARGGGGGGHHHHHH!"

Ckit!

Ckit!

Ckit!

Ckit!

Bersamaan dengan teriakan Luhan, maka terlihat empat mobil yang berhenti melingkari dirinya seolah melindungi. Entah siapa yang kali ini datang, Luhan tidak peduli. Dia hanya berharap seseorang datang untuk menghentikan para bajingan yang dengan keji menghancurkan toko roti milik ayahnya.

BLAM!

Masing-masing dari pengemudi mobil keluar bersamaan, entah siapa yang datang, Luhan tidak bisa melihat dengan jelas. Dia hanya tertunduk karena belum bisa menghilangkan sesaknya sampai suara yang begitu mirip dengan suara ayahnya terdengar berteriak

"APA YANG KALIAN LAKUKAN!"

DEG!

Bohong jika Luhan tidak mengenali suara tersebut, suara yang pernah begitu dia sukai kini kembali terdengar menjadi favoritnya lagi, dia mengangkat wajah, mencari asal suara untuk menemukan pria yang namanya tertera sebagai pemberi izin untuk menghacurkan toko milik ayahnya terlihat murka.

"Papa?"

Refleks, Luhan memanggil sebutan papa untuknya. Sebutan yang sama yang sering digunakan sebelum dia menggantinya menjadi Jaksa Oh Selama satu tahun ini.

"BERHENTI"

Lalu dia menoleh ke samping kiri untuk menemukan hyung favoritnya terlihat sama marah dengan ayahnya. Jujur, pandangan Luhan sedikit kabur, dia harus menunduk jika kepalanya tidak ingin terasa sakit lalu bergumam seraya tersenyum begitu tenang "Yunho hyung."

"Hyung!"

Tepat dibelakangnya Luhan juga bisa menebak begitu mudah jika itu suara Jaehyun, lalu tak lama seseorang mendekapnya erat dan membuatnya bisa bernafas sejenak "Jangan dilihat, papa akan mengurus mereka."

"Sehun?"

Jelas itu Sehunnya, Luhan bisa menebak dari suaranya, aromanya bahkan dari dua lengan yang malam tadi terluka dan diperban kini sedang memeluknya erat. Itu Sehunnya yang sedang mengusap lembut punggungnya seraya terus mengatakan "kau akan baik-baik saja, kami semua disini!"

"Ya, kau benar. Kalian semua disini." Luhan bergumam sementara tangannya melingkar erat di pelukan Sehun, dia menyembunyikan wajahnya didada pria yang malam tadi menghabiskan waktu bersamanya untuk menyadari satu kenyataan baru.

Kenyataan bahwa kalimat kami semua disini yang diucapkan Sehun seolah menampar telak batin Luhan saat harus mengakui bahwa keluarga yang begitu dibencinya selama satu tahun ini adalah keluarga yang sama yang kini menolongnya, melindunginya, dan membuatnya benar-benar merasa memiliki keluarga setelah satu tahun status keluarga direnggut dari hidupnya, selamanya.

.

.

.


.

tobencontinued

.


.

.

.

.

Ini duo TOPJOON pen banget gue toyor aseli. Jahatnya ngalahin emak2 matre di Drama korea -_-" , kkkk~

.

Maap ya kalo ada pensnya Doojoon, Top, gamaksud kok gue apa2 kok gue, ini Cuma cerita, baper boleh, gonggong jangan!

.

Maap ya :v

.

Seeyou :*