Previous

"Sehun?"

Jelas itu Sehunnya, Luhan bisa menebak dari suaranya, aromanya bahkan dari dua lengan yang malam tadi terluka dan diperban kini sedang memeluknya erat. Itu Sehunnya yang sedang mengusap lembut punggungnya seraya terus mengatakan "kau akan baik-baik saja, kami semua disini!"

"Ya, kau benar. Kalian semua disini." Luhan bergumam sementara tangannya melingkar erat di pelukan Sehun, dia menyembunyikan wajahnya didada pria yang malam tadi menghabiskan waktu bersamanya untuk menyadari satu kenyataan baru.

Kenyataan bahwa kalimat kami semua disini yang diucapkan Sehun seolah menampar telak batin Luhan saat harus mengakui bahwa keluarga yang begitu dibencinya selama satu tahun ini adalah keluarga yang sama yang kini menolongnya, melindunginya, dan membuatnya benar-benar merasa memiliki keluarga setelah satu tahun status keluarga direnggut dari hidupnya, selamanya.

.

.

Je'Te Veux

.

.

.

Main cast : Sehun-Luhan

Rate : T-M

.

.

.

.

BUGH!

"BRENGSEK! BERANI SEKALI BAJINGAN KECIL SEPERTIMU BERHIANAT! APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP!"

BUGH!

Sekiranya sudah sekitar sepuluh menit besi menyakitkan itu membuat cacat dan luka di sekujur tubuh remaja pria berusia sekitar delapan belas tahun. Sekiranya pula, daripada memberi jawaban atas penghianatan yang dituduhkan padanya dia memilih diam, membiarkan balok serta besi sialan itu mengoyak tubuhnya, menghancurkannya atau mungkin lebih baik jika dia benar-benar mati agar tak lagi melakukan dosa dibawah perintah iblis seperti Ko Donghoon.

"KATAKAN SESUATU!"

Seluruh tubuhnya sudah memar tak bersisa, kepalanya mengeluarkan darah yang menetes hingga ke hidung lalu terasa amis di bibirnya. Demi Tuhan, satu pukulan lagi pasti bisa membuatnya mati atau paling ringan mengalami koma untuk waktu yang lama, tapi melihat wajah iblis di depannya begitu marah karena rencananya gagal, itu adalah kesenangan tersendiri untuk remaja yang kini mengganti blonde warna rambutnya.

"Daepyonim, Bunuh saja aku."

"brengsek!"

Pria bermata pirates itu terpancing amarahnya pada ucapan terlalu berani yang dilontarkan Taeyong, membuat tak hanya geraman menakutkan terdengar tapi suara besi yang dipanaskan di bara api terasa seperti surga untuk remaja yang sudah tak tahan lagi dengan hidupnya.

"baiklah, Baiklah jika kau ingin mati, aku akan memberikannya."

Trang…

Donghoon melempar besi yang tak berguna digantikan dengan besi yang panas, bersiap menghabisi remaja sialan yang dibawa Doojoon tiga tahun lalu untuk menghabisinya dengan kedua tangannya sendiri.

Posisinya sudah menggunakan sarung tangan khusus yang digunakan tiap kali dia membunuh, tawanya bengis tak menyangka bahwa dia harus turun tangan langsung untuk menghabisi sampah tak berguna seperti Taeyong, detik kemudian dia melangkah terpingkal dengan kaki pincangnya untuk berteriak

"MATI KAU LEE TAEYONG!"

"KO DONGHOON!"

Taeyong sudah memejamkan erat matanya, bersiap untuk kemungkinan terburuk, sebelum suara yang pernah menyelamatkannya tiga tahun lalu lagi-lagi terdengar dan berada tepat di depannya, melindungi.

"MINGGIR YOON DOOJOON! AKU HARUS MENGAJARI ANJING KECILMU AGAR TAK LAGI BERHIANAT!"

"Cukup! Jika kau menyentuhnya, menyakitinya lagi, aku bersumpah tidak akan tinggal diam. KAU DENGAR?"

Kedua mata itu bertatapan sengit, untuk sesaat Taeyong merasa Doojoon benar-benar seperti hyungnya yang dulu, yang selalu menghindari masalah dan mengurangi untuk berbuat keji. Setidaknya, jika dia mendapat perintah untuk menyakiti seseorang, maka sebagai seorang dokter dia akan selalu menyembuhkan korbannya.

Berbeda dengan saat ini, tepat setelah Doojoon menemukan Luhan, entah mengapa obsesinya pada Luhan sangat mengerikan, dia bahkan tega membunuh ibu Luhan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Lalu terus membunuh hanya untuk mendapatkan Luhan, memastikan Luhan hanya menjadi miliknya dengan membunuh seluruh pengganggu yang terus mendampingi Luhan.

"hyung…"

Doojoon menoleh sekilas ke arah Taeyong untuk kembali berhadapan dengan iblis bermata satu didepannya "ckckck! Bahkan kaki tanganku mulai berani mengancamku! Apa nyawamu masih sangat banyak Professor Yoon?"

Tak merasakan takut sedikitpun, sang professor menjawab "Hanya satu. Tapi jika kau terus menyakiti orang-orang terdekatku, aku akan memiliki banyak nyawa dan memastikan kau mati denganku!"

"brengsek! Kalau begitu kenapa kau membiarkan rencana terbesarku gagal? KENAPA TOKO ITU HANYA HANCUR TANPA TERBAKAR HABIS? KENAPA SEMUA RENCANAKU MENDAPATKAN USB SIALAN SANGAT SULIT! KENAPA?"

"Karena kau selalu tergesa! Aku sudah bilang serahkan Luhan padaku!"

"Serahkan Luhan padamu?" Donghoon bertanya lalu tak lama tertawa sangat picik "Ah, Lalu setelah itu apa? Kau akan membawanya untuk kesenanganmu sendiri! Aku benar?"

"aniya! Aku akan memberikan yang seharusnya menjadi milikmu, lalu aku akan membawa Luhan bersamaku."

"tsk! Benarkah?"

"Kau tahu tujuanku hanya Luhan. Aku hanya ingin mendapatkannya, membawanya pergi, dan hidup bersamaku!"

"Rasanya sulit jika bajingan kecil itu masih kita biarkan hidup."

Terlihat tangan Doojoon mengepal, melihat sekilas pada Taeyong lalu kembali menatap bajingan tua yang sangat menginginkan kematian Taeyong "Wae? Apa kau masih berfikir dia yang membocorkan rencana kita?"

"YA! KEMARIN BAJINGAN KECIL INI TERTANGKAP BASAH BERADA DI KEJAKSAAN DAN BERBICARA DENGAN SI BUNGSU OH! LALU KEESOKAN PAGINYA, HARI INI! KEEMPAT PRIA OH ITU DATANG DAN MENGACAUKAN SEGALANYA! PIKIRMU DIA BISA BEBAS DARI TUDUHAN?"

Semua tuduhan Donghoon terdengar masuk akal untuk Doojoon, kemarin siang dia memang tidak bisa menghubungi Taeyong, lalu hari ini dia mendapat kabar jika Donghoon berniat menghabisi Taeyong dengan cap penghianat yang akan dibawa bersama kematiannya.

Sebagai seorang profesional, Doojoon tahu ada yang disembunyikan Taeyong, tapi sebagai kakak, dia menolak untuk mempercayai Donghoon dan hanya melindungi Taeyong sebanyak yang dia bisa, dan sewajar keyakinan masih dimilikinya. Dia pun tertawa kecil terlihat sangat mengerikan untuk megatakan "Mulai hari ini, Taeyong akan menjadi tanggung jawabku. Kau tidak perlu mengotori tanganmu hanya untuk remaja kotor sepertinya!"

"tsk! Lalu bagaimana jika dia juga menggigitmu?"

Matanya menoleh ke belakang, terkunci pada mata Taeyong lalu dengan seringai pembunuhnya, Doojoon mengatakan "Jika dia menggigitku, jika hal itu terjadi dan jika benar dia menghianati kita, aku pastikan akan membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri."

Taeyong gemetar, nyatanya ucapan Doojoon lebih mengerikan dari pukulan yang dilakukan Donghoon padanya, dia tak lagi berani menatap Doojoon untuk menyadari seringai puas terdengar dari Donghoon yang kini meninggalkan gudang tua tempat mereka biasa melakukan transaksi mendesak seperti saat ini.

BLAM!

Suara pintu dari gudang tua itu ditutup kencang oleh Donghoon, meninggalkan Taeyong dengan Doojoon yang menatapnya tak berkedip. Sungguh, daripada bersama Donghoon, Taeyong lebih takut jika bersama Doojoon, auranya begitu menakutkan, rasanya sesak, tubuhnya gemetar saat dua tangan dingin Doojoon menyentuh pundaknya, memaksa dua mata mereka bertatapan, memberi peringatan.

"apapun-…Apapun yang sedang kau rencanakan, apapun yang coba kau lakukan, baiknya kau lupakan semuanya. Kau dengar? Aku tidak akan segan membunuhmu jika kau menghalangi jalanku mendapatkan Luhan! Kau dengar?" katanya tenang. Terlalu tenang hingga seluruh tubuh Taeyong bergetar karena rasa takutnya, gugup, dia menyatukan dua tangan, memohon seraya mengatakan "hyung, mian-…."

"KAU DENGAR?"

"n-nde hyung, Aku dengar, ma-maafkan aku, maaf."

Taeyong meringkuk berlutut, terisak ketakutan dan memohon agar tak lagi ada pukulan yang harus diterimanya. Dan seperti seorang yang memiliki kelainan jiwa, Doojoon mengusap agak kasar tiap darah yang berada di tubuh Taeyong, tersenyum seperti menikmati tiap tetes darah yang keluar dari tubuh Taeyong.

"Bagaimana rasanya? Sakit?"

Dia bertanya tanpa ekspresi, tangannya terus menekan luka Taeyong hingga si remaja meringis tertahan sebagai respon "Kau akan merasakan lebih sakit dari ini jika menghianatiku adik kecil, jadi baiknya jauhi keluarga Oh, atau aku bersumpah, akan membuatmu merasakan sakit sampai kau memohon dibunuh pada akhirnya."

"Well, aku tidak akan mengbati lukamu. Pakai jaket dan topimu lalu cari rumah sakit terdekat, anggap ini hukuman dariku!"

Taeyong tak merespon, yang dia lakukan hanya terbaring kesakitan sementara Doojoon melemparkan topi dan jaket di tubuhnya, dia kemudian menepuk pundak Taeyong lalu tersenyum keji mengatakan "Jika kau mati hari ini, aku akan membiarkan jasadmu dimakan anjing liar atau membusuk di tempat mengerikan ini, jadi pastikan kau selamat dan segera pergi ke rumah sakit. Kau dengar?"

Taeyong mengangguk perlahan, lalu berujar ketakutan menjawab Doojoon dengan lirih "Aku akan selamat dan segera pergi ke rumah sakit."

"Bagus. Aku harap kondisimu sudah baik di hari pembuktian."

"ha-hari pembuktian?"

"Ya, kau dikatakan berkhianat, jadi untuk membuktikan dugaan Donghoon salah kau harus membunuh seseorang. Akan kuberitahu tempat dan waktunya, sampai nanti!"

"tapi hyung…Aku tidak ingin membunuh."

"Baiklah! Kalau begitu bagaimana jika kau yang dibunuh?"

"hyung…"

"Cepat obati lukamu! Aku pergi!"

BLAM!

Doojoon meninggalkan Taeyong dengan keadaannya yang sangat kritis, seluruh tubuhnya dipenuhi luka, kepalanya juga terus mengeluarkan darah, tapi dengan kejinya sang dokter hanya meninggalkan dia seperti meninggalkan seorang anjing yang dibuang majikannya.

"aku tidak ingin-….AKU TIDAK INGIN MEMBUNUH."

Sepertinya yang lebih membuat Taeyong kesakitan adalah hari pembuktian, jika benar dia dipaksa untuk membunuh seseorang, maka tak ada lagi perbedaan antara dirinya dan Doojoon, dia menangis sendu, terlalu takut lalu hingga isakannya samar berharap seseorang menolongnya.

"tolong aku, siapapun."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Pa? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang mereka lakukan? Kenapa mereka ingin menghancurkan toko kue ayah Luhan?"

Jika di sebuah gudang tua, Taeyong sedang kesakitan nyaris meregang nyawa, maka keadaan tegang di kediaman keluarga Oh juga tak bisa dielakan lagi, saat ini Luhan berada di kamar Sehun, sedang beristirahat setelah tak sadarkan diri menghadapi insiden yang membuatnya sangat ketakutan beberapa jam lalu.

Dan berbeda dengan Luhan yang masih sulit menerima kenyataan, Sehun terlihat sangat marah menyadari ada hal yang disembunyikan dari sang ayah mengingat insiden mengerikan untuk menghancurkan toko kue mendiang ayah Luhan berada dibawah perintah ayahnya.

"Sehun, biarkan papa yang menanganinya. Kau hanya perlu menjaga Luhan-…."

"BAGAIMANA BISA AKU MENJAGA LUHAN JIKA AKU TIDAK MENGETAHUI APAPUN! SEBENARNYA APA YANG TERJADI?"

"Sehun tenanglah, kau tahu Luhan benci berada di sekitar kita." Yunho mengerling lantai dua, seolah mengingatkan Sehun bahwa suara teriakannya bisa membuat Luhan terbangun dan merasa tak nyaman berada di tengah-tengah keluarga yang masih begitu dibencinya walau satu tahun telah berlalu.

Sontak, pria nomor tiga di Kediaman Oh itu merasa tersinggung namun membenarkan peringatak Yunho, dia mendengus, dilepasnya kasar pegangan sang kakak di bahunya untuk berjalan menuju sofa dan mengusak kasar wajahnya, terlalu frustasi, karena sang ayah tak kunjung memberi jawaban "Apa yang sebenarnya papa sembunyikan? Apa yang sebenarnya terjadi?"

Merasa perlu menjelaskan seperlunya, Insung kemudian mengambil kertas yang berisikan perintah untuk menghancurkan toko roti mendiang ayah Luhan, menatap tegas putra keduanya lalu mengatakan diiringi nada marah dan cemas sama persis seperti milik Sehun "Papa hanya bisa mengatakan satu hal padamu, apapun yang coba mereka lakukan pada Luhan itu sebuah kejahatan serius, papa tidak akan tinggal diam."

"Mereka?"

Insung tak berkedip saat mata Sehun menatapnya tajam, mempelajari kalimat mereka yang keluar dari bibirnya hanya untuk bertahan agar tidak terpancing mengatakan apapun pada putranya.

Katakan dia egois, tapi menceritakan semua hal pada Sehunnya, itu sama saja membuat putranya terlibat dalam bahaya terlebih semua kunci permasalahan ini ada pada Luhan. Dia hanya perlu sedikit bertahan untuk menjelaskan pada Luhan, meyakinkan putra mendiang sahabatnya agar menyerahkan semua masalah ini padanya, dia hanya perlu sedikit membujuk Luhan agar tak ada yang terluka nantinya, tidak Luhan, tidak pula putranya.

"Jadi benar? Ada yang papa rahasiakan?"

"…."

"tsk!"

Insung gusar, kehabisan kata untuk menjelaskan pada Sehun dan lebih memilih untuk bersikap tegas, seperti biasa.

"Hanya satu yang perlu kau tahu, Luhan memiliki sesuatu yang tidak seharusnya dia miliki! Jadi jika benar kau peduli padanya, jika benar kau mencintainya, lindungi dia dan jangan biarkan kejadian seperti ini terulang kembali!"

BRAK!

Tak lama ayahnya membanting pintu, meninggalkan kediamannya untuk bertemu dengan Kai dan Chanyeol di depan pintu rumahnya "Luhan di dalam." Katanya memberitahu dua sahabat putranya bahkan sebelum Kai dan Chanyeol bertanya "Apa sesuatu yang buruk terjadi?"

"Semua ini tidak akan terjadi jika kalian lebih memperhatikan Luhan!"

"Mworago? Apa yang anda katakan Jaksa Oh?"

Merasa disalahkan oleh pria yang begitu dibenci Luhan membuat Chanyeol bereaksi tak suka, dia bahkan tergoda untuk membalas ucapan sang jaksa jika Kai tak lebih dulu menarik lengannya "Kita disini hanya untuk menjemput Luhan, bukan memulai keributan dengan jaksa yang lari dari tanggung jawabnya!."

Singkat, tapi nyatanya ucapan Kai sedikit banyak menampar Insung pada kenyataan. Kenyataan dimana bahwa tak hanya Luhan yang membencinya tapi dua pria yang dulu sering memanggil papa padanya juga menatap benci nyaris tak memiliki rasa hormat lagi padanya.

Bohong jika Insung tidak merasa sakit dengan sikap Luhan dan dua sahabatnya, bohong jika hatinya tidak rindu menatap Sehun dengan tatapan lembut, bukan tatapan yang menunjukkan dia kecewa. Dan sebagai seorang ayah, dia mengakui bahwa dirinya gagal, hingga hanya ucapan maaf yang bisa diucapkan seraya menyesal atas semua kejadian mengerikan yang harus dialami Luhan dan putra keduanya, Sehun.

"Maaf menjadi ayah yang buruk untuk kalian."

.

.

.

.

.

.

.

.

Sementara hatinya masih dipenuhi rasa bersalah, Sehun tetap memberanikan diri melihat keadaan Luhan, dia mungkin akan mendapatkan seribu pertanyaan dari Luhan, seperti apa yang terjadi? kenapa ada nama ayahmu di surat perintah itu? atau apakah kalian sangat membenciku dan keluargaku?

Memikirkannya saja sudah membuat Sehun mual, dia lelah menghadapi kemarahan Luhan, tapi dirinya akan kesakitan jika melihat Luhan ketakutan seperti pagi tadi. Jadi dia memutuskan, apapun yang akan Luhan tanyakan saat dia bangun, Sehun hanya akan menjawabnya dengan maaf sebagai tanda menyesal bahwa entah sudah keberapa kalinya dia gagal melindungi kekasihnya, Luhannya.

Klik!

Perlahan dia membuka pintu kamarnya, mendapati si bungsu sedang menjaga hyung favoritnya, sementara ibunya terlihat sedang mengusap keringat di dahi Luhan. Raut cemas jelas terlihat di kedua wajah yang begitu dicintai Sehun. Berusaha tersenyum walau hatinya juga lemah tak kuasa melihat hidup yang dijalani Luhan setelah ditinggalkan kedua orang tuanya.

"hyung?"

Panggilan Jaehyun sontak membuat suasana kamar tak lagi sepi dan mencekam, ibunya juga tersenyum sekilas lalu kembali menatap Luhan tak berkedip, berharap anak lelaki dengan dua matanya yang begitu cantik segera sadarkan diri lalu memanggil mama padanya, seperti dulu.

"Luhan belum membuka matanya?"

Sehun bertanya diiringi senyum lirih sang mama sebagai jawaban "Belum nak, sepertinya Luhan demam."

Kini pandangan Sehun terkunci pada Luhan, menatap lekat sosok mungil yang begitu ketakutan pagi tadi dan memperhatikannya tak berkedip, detik berikutnya dia bisa melihat Luhan menggerakan bola matanya tapi tak kunjung membuka mata hingga kesimpulan "Luhan hanya berpura-pura memejamkan mata." Keluar dari bibirnya yang sedang tersenyum sendu.

"Kau bilang apa hyung?"

Tidak mungkin Sehun mengatakan Luhan hanya berpura-pura memejamkan mata atau sebenarnya Luhan sudah sadar tapi dia enggan membuka mata kepada adik dan ibunya. Karena daripada lega, keduanya akan merasa sedih menyadari bahwa sedari tadi Luhan enggan melihat wajah mereka dan hanya berpura-pura tidur agar tak perlu berbicara atau menyapa baik ibu maupun adiknya.

Dan sebagai seorang anak, sebagai seorang kakak, serta sebagai seorang pria yang masih memperjuangkan cintanya, Sehun tak sampai hati mengatakan semua hal menyakitkan untuk tiga orang yang begitu dicintainya, membuat seulas senyum kecil ditunjukkan untuk memegang pundak adiknya.

"Hyung berhutang banyak padamu untuk hari ini."

"Apa?"

"Terimakasih sudah mencari tahu dan memberitahukan kejadian tadi pada ayah dan hyung. Aku bangga padamu adik kecil, gomawo."

"ani-…Bukan aku yang—…"

"Sekarang pergilah ke sekolah, hyung janji akan mentraktir apapun yang kau inginkan."

"Tapi Luhan hyung…"

"Biar hyung yang menjaganya."

"Aku ingin bicara dengannya, aku ingin melihatnya."

"Jae…."

Remaja delapan belas tahun itu terpaksa menarik dalam-dalam nafasnya, menyadari raut sedih kakaknya membuat si bungsu mengerti lalu mengangguk sebagai jawaban "Baiklah, aku pergi dulu."

"eoh! Belajar yang semangat."

Dengan malas Jaehyun mencium pipi ibunya lalu beranjak keluar dari kamar Sehun "araseo. Aku pergi dulu."

Pintu kamar tertutup, kini tinggalah Sehun dan ibunya serta Luhan, sungguh, dia tidak berniat menyakiti hati ibunya, tapi jika sang ibu tetap disini maka rasanya Luhan akan terus memejamkan matanya agar tak perlu bertatapan dengan ibunya.

"Ma."

"Mama tidak mau pergi." Jihyo buru-buru membalas sebelum berakhir harus meninggalkan kamar seperti putra bungsunya. "Mama ingin bicara dengan Luhan, Mama merindukannya!"

"Ma…"

Nadanya seperti memohon, terlalu putus asa hingga membuat Jihyo sadar bahwa untuk sementara, Luhan memang belum bisa menerimanya sebagai ibu lagi "araseo…" tangannya mengusap lembut surai Luhan, berharap bisa mengucapkan maaf secara langsung namun lagi-lagi harus tersenyum pahit karena Luhan sama sekali tidak mau membuka matanya meskipun dia sudah sepenuhnya sadarkan diri.

"Katakan padanya Mama minta maaf, katakan pada Luhan mama—hkss…"

Sama seperti Sehun, Jihyo juga mengetahui bahwa sedari tadi Luhan hanya enggan membuka mata, dia tahu putra mendiang Baby itu hanya tak ingin mereka berbicara, semua luka dan wajah lelahnya bahkan menggambarkan ketakutan yang selama satu tahun dipikulnya sendiri.

Wanita yang kecantikannya tak dimakan usia itu terisak sendu, diciumnya lama kening Luhan seraya berujar "Mama merindukannya, katakan pada Luhan, hmm?"

"Aku akan mengatakannya Ma."

Jihyo mengangguk, dengan berat hati dia meninggalkan Luhan seorang diri lagi saat dia ketakutan, persis seperti satu tahun lalu di hari pemakaman. Baik dirinya maupun sang suami, tak ada satupun dari mereka yang bisa menenangkan Luhan, semua kebencian itu diberikan bahkan di hari pertama Luhan ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.

Klik…

Tinggalah Sehun dan Luhan seorang diri. Suasananya terasa mencekam sama seperti satu tahun lalu, saat pertama kali Luhan mengatakan benci padanya, begitu ingin membunuhnya, malam dimana dia berlutut memohon agar pernikahan mereka tetap dilaksanakan namun diabaikan Luhan yang memilih pergi dan membencinya, mengisi hatinya dengan dendam lalu mengubur dalam keinginan mereka akan pernkahan, hari indah yang sudah dinantikan keduanya selama bertahun-tahun.

"Luhan."

"….."

"Lu."

"…."

"haah~"

Sehun duduk di pinggir tempat tidurnya, memeriksa suhu tubuh Luhan dan benar saja, Luhan sedikit mengalami demam walau tetap bersikeras untuk tidak membuka dua matanya. Dia sedikit membungkuk lalu mengecup lembut kening Luhan

"Mama sudah pergi, hanya aku disini."

Barulah Luhan merespon, dua bola matanya bergerak resah sebelum perlahan membuka mata untuk mendapati Sehun dan dua tangannya yang diperban karena hal gila yang baru dilakukannya malam tadi.

Dan mengabaikan fakta jahitan di lengan kanan Sehun terbuka, darah yang mulai terlihat di perban kanannya, Luhan lebih memilih untuk bertanya, terlihat sangat berharap bahwa toko roti ayahnya masih bisa diselamatkan "Ba-Bagaimana? Apa hancur?"

Mengerti yang ditanyakan Luhan, Sehun tersenyum, dia mengusap sayang kening Luhan walau raut menyesal tak kunjung hilang dari senyumnya "Hancur, tapi masih bisa diperbaiki, aku akan melakukannya untukmu."

Buru-buru Luhan beranjak dari tidurnya, bersandar di tempat tidur Sehun lalu menggeleng sebagai penolakan "Kau tidak perlu melakukan apapun, terimakasih untuk pagi tadi, aku yang akan mengurus toko ayahku."

"Lu…."

Tak mau lagi berdebat tentang bagaimana kondisi toko roti ayahnya, Luhan mulai mengalihkan pembicaraan. Diam-diam matanya melihat ke sekeliling kamar yang dulu juga merupakan kamarnya dengan tatapan rindu. Dia melihat sudut foto di setiap ruangan, masih sama, masih dipenuhi gambarnya dan Sehun.

Lalu saat tangan Sehun mencoba mengusap wajahnya, dia mengelak untuk bertanya "Apa kau merubah dekorasi kamarmu?"

"huh?"

"Kamar ini, apa kau merubah letak dan tempat dari semua barang?"

Sehun terlihat bingung untuk menjawab "Tidak." Kemudian dia dibuat semakin bingung saat Luhan menyingkap selimut tidurnya untuk berjalan ke arah kamar mandi, membuka lemari kecil yang berada di bawah lemari pakaian, lalu mengambil sebuah kotak yang Sehun ketahui adalah kotak pertolongan pertama.

"Benar masih disini!"

Luhan berseru senang, dan entah mengapa hati Sehun merasa sedikit lebih hangat. Wajar jika Luhan mengetahui letak-letak barang di kamarnya, karena daripada Sehun si pemilik kamar, Luhan adalah "nyonya" di kamarnya yang berhak menentukan barang apa saja yang boleh dan tidak boleh Sehun miliki, benda apa saja yang boleh dan tidak boleh dibawa masuk ke dalam kamar serta seluruh tatanan yang ada dikamarnya, warnanya, semua adalah pilihan si "nyonya" kamar, Luhan yang mendekorasinya.

"Untuk apa?"

"Lukamu terbuka."

"ah…"

Pantas beberapa saat tadi dia merasakan nyeri di sekitar lengannya, tak sempat mengurusi darah yang keluar karena jahitan terbuka karena seluruh pikirannya dipenuhi Luhan "Aku rasa ini baik-baik saja."

"haah~ Jangan membantah, aku dokternya."

Dengan membawa sekotak obat pertolongan pertama, Luhan kembali duduk di tempat tidur Sehun, mengambil lengan Sehun yang mengeluarkan darah untuk mengobatinya perlahan "Tahan sedikit."

Setelah menggulung kemeja Sehun, dia membuang perban yang malam tadi dipakaikan di lengan mantan kekasihnya, melihat seberapa dalam luka goresan yang dialami Sehun untuk mendengus seraya menatap tak suka pada Sehun "Lukamu dalam, datanglah ke rumah sakit agar mereka memberikan jahitan yang sesuai."

"Mereka siapa?"

"Baekhyun atau Kyungsoo tentu saja." Katanya membalas dan terlihat berhati-hati meniup luka goresan di lengan Sehun "rrrh…" Dan saat antiseptik Luhan pakaikan di sekitar luka, Sehun meringis, Luhan kembali meniupnya perlahan sementara Sehun bertanya sendu

"Kenapa bukan kau?"

"Apa?"

"Yang menjahit lukaku di rumah sakit, kenapa bukan kau?"

Luhan dibuat tak berkutik, dia salah tingkah karena pertanyaan Sehun mengingat mulai hari ini dia adalah dokter untuk Hanyang Hospital, rumah sakit tempat ibunya dulu mengabdi. "Aku—aku tidak ingin melakukannya."

"Kenapa?"

Setelahnya Luhan memakaikan perban yang baru, memastikan darah tak keluar lagi di lengan Sehun sebelum mencuci asal tangannya di wastafel kamar Sehun "Sehun, sudahlah. Jangan terlalu banyak berharap kepadaku."

"wae? Apa karena kau sedang diam-diam meninggalkan aku? Menjauh dariku?"

"Apa yang kau bicarakan?"

"Aku tahu kau sudah tidak bekerja lagi untuk Seoul hospital."

Luhan berhenti mencuci tangannya, sekilas dia bisa melihat raut sendu wajah Sehun dari cermin di wasatafel, mau tak mau dia juga menatap menyesal pada Sehun, tapi kembali lagi pada Luhan yang tidak ingin memiliki hubungan terlalu dalam dengan mantan kekasihnya, dia hanya tersenyum seraya mematikan kran air di wastafel "Cepat sekali kau tahu."

"Jadi benar kau keluar dari Seoul hospital?"

"Ya, aku sudah tidak bekerja disana lagi."

"Kenapa?"

Luhan menarik dalam nafasnya hanya untuk mengatakan "entahlah."

"Luhan."

Klik…!

Pintu kamar Sehun terbuka kali ini menampilkan Kai diikuti Chanyeol yang terlihat pucat dan sangat mengkhawatirkan Luhan "LU!"

"yeol?"

Buru-buru pria berlesung pipi yang memiliki sikap paling posesif pada Luhan berjalan menghampiri sahabat kecilnya, menarik kasar lengan Luhan untuk memeluknya tanda bersyukur bahwa Luhan terlihat baik-baik saja, jauh dari bayangan mengerikan miliknya.

"Kau baik-baik saja?"

"yeol."

Bohong jika dirinya merasa baik, bohong jika dia sudah melupakan ketakutan yang nyaris membunuhnya pagi tadi, sedari tadi dia hanya menjaga sikap karena berada di rumah yang seharusnya tak lagi didatangi, tapi kemudian dua prianya datang, menanyakan apa dia baik-baik saja? Jadi rasanya Luhan tidak memiliki alasan lagi untuk menahan diri sementara pelukan Chanyeol membuatnya merasa lebih baik.

"wae? Apa mereka menyakitimu? Dimana? Sial! Apa yang mereka lakukan?"

Luhan hanya diam, enggan untuk bicara sementara tangannya mencakar punggung Chanyeol seraya meminta "Bawa aku pulang, aku ingin pulang yeol."

"araseo…Kajja!"

Chanyeol mengerling Kai lalu beralih menatap Sehun, sedikit kecewa "Aku akan membawamu pulang, Kai."

Kai mengangguk, mengambil Luhan dari pelukan Chanyeol lalu mendekapnya erat, meninggalkan kamar Sehun "Kau baik-baik saja?"

"hmmh."

"Sehun, kami pergi."

Tatapan Sehun kosong, matanya hanya melihat pada Luhan namun Luhan terus mengabaikannya, dia tak tahu kapan bisa bertemu lagi dengan Luhan hingga memberanikan diri untuk bertanya "Lalu dimana kau bekerja saat ini? Apa aku harus mencari ke seluruh rumah sakit di Seoul?"

"Apa yang kau tanyakan?" Chanyeol yang bertanya, terlihat bingung namun diabaikan Sehun yang menatap kecewa pada Luhan "Apa kau tidak bisa memberitahuku?"

Sama seperti Sehun yang mengabaikan Chanyeol, Luhan melakukan hal yang sama dengan mengabaikan Sehun dan mencengkram kuat jemari Kai digenggamannya "Aku ingin pulang."

"Baiklah."

Tak lama Kai merangkul pinggang Luhan, membawanya pergi sementara Sehun menggeram karena tak mendapat jawaban apapun "Sehun tenangkan dirimu." Chanyeol yang meminta, namun sepertinya Sehun sudah terlalu marah karena Luhan dan hidupnya, seolah bukan lagi menjadi bagian darinya "Tenang? Bagaimana bisa aku tenang sementara dia terus menjauh dariku?"

"Kau sudah bertahun sejauh ini, lakukan lebih lama lagi, demi Luhan." Setelahnya Chanyeol ikut meninggalkan kamar Sehun, membiarkan Sehun mengasihani dirinya sendiri sementara kemarahan karena semua ketidaktahuan tentang Luhan membuatnya terlihat sangat tidak berguna "APA YANG SEBENARNYA TERJADI? APA YANG TIDAK AKU KETAHUI?AAARRGH!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"yak! Sebenarnya ada apa denganmu? Kita harus mengikuti ujian percobaan hari ini! Kenapa tidak ke sekolah?"

"Malas!"

"Ya Oh Jaehyun! Kau ini pintar, sekalipun tidak mengikuti ujian percobaan kau akan baik-baik saja! Berbeda denganku ish!"

Sedari tadi temannya yang mengoceh adalah siswa pindahan dari canada, namanya Mark dan mereka teman sekelas. Sebenarnya tidak masalah jika dia membolos seorang diri, lagipula pikirannya sedang kacau jadi dia memutuskan untuk membolos sampai tak sengaja bertemu dengan teman sekelasnya di jalan lalu pergi ke pusat game online yang berada di sekitar gedung tua dekat sekolah mereka.

"tsk pengecut! Pergi darisini jika kau takut!"

Merasa diremehkan, Mark tersinggung, diapun segera mendorong kursinya untuk mengatakan "Aku pastikan kau mendapat masalah setelah hari ini!"

"Terserah!"

"ish! Brengsek sialan!"

Setelahnya Mark pergi, terlihat sangat kesal sementara Jaehyun tersenyum meremehkan, dia melihat ke luar jendela untuk memastikan temannya pergi dan benar-benar kesal karena daripada menemaninya, anak baru itu lebih memilih takut pada pelajaran.

"ckckck! Kau benar-benar pengecut!" katanya mencibir saat melihat mobil Mark meninggalkan pusat game online untuk menangkap sosok yang berjalan di belakang mobil Mark dan terasa familiar untuknya "huh? Bukankah dia?—ish! Itu benar dia, Lee Taeyong!"

Buru-buru Jaehyun mengambil tasnya, berlari keluar dari tempat favorit untuk segera bertemu dengan pria yang mau bagaimanapun adalah pahlawan untuk Luhan hari ini

TIN…TIN!

"rrhh!"

Sementara sulit untuknya menyebrang jalan, diam-diam Jaehyun memperhatikan sosok yang memakai merah lalu dibalut lagi dengan topi dari jaket miliknya yang kebesaran, sebenarnya dia bertanya-tanya mengapa Taeyong keluar dari sebuah gudang tua lalu terlihat seperti akan jatuh tiap kali melangkah.

TIIIN…TIINNN!

"Maaf, maaf!"

Jaehyun menyebrang asal, mengabaikan suara klakson yang terdengar marah hanya untuk berlari menghampiri pria seusianya yang terlihat kesulitan berjalan entah karena apa

"HEY!"

"rrrhh!"

Dia bersumpah kondisi Taeyong masih baik-baik saja saat mereka bertemu, berbeda dengan hari ini karena dia terlihat meringis kesakitan hanya karena Jaehyun memegang lengan tangannya.

"Hey kau baik-baik saja?"

Yang memiliki lesung di pipinya terlihat panik, dia berdiri tepat didepan Taeyong tapi yang dilakukan Taeyong hanya menundukkan kepala enggan menatapnya.

"sssh! Siapa kau?"

"Aku Jaehyun, adik Luhan hyung. Kau ingat?"

Langkah Taeyong mundur saat mengetahui Jaehyun yang berada di depannya, ini gawat, terlalu gawat, dia masih berada di sekitar markas Donghoon dan Doojoon, jadi kemungkinannya terbunuh akan sangat besar mengingat dia masih berada di sarang pembunuh seperti Doojoon dan Donghoon.

Matanya panik melihat ke sekitar markas, tubuhnya yang kesakitan gemetar karena takut, Jaehyun bisa melihat Taeyong ketakutan karena tangannya dikepal begitu kuat.

"apa-Apa yang kau lakukan disini?"

"Aku hanya ingin berterimakasih pada-…"

Tes!

"Hey kenapa ada darah di wajahmu?"

Terang saja Jaehyun panik, dia bisa melihat tetesan yang diyakininya sebagai darah menetes ketanah, lalu matanya mencari wajah Taeyong untuk menemukan darah yang mengalir hingga ke dagu Taeyong begitu deras seperti sesuatu di kepalanya bocor atau terluka karena sesuatu.

"Jangan mendekat."

Taeyong semakin mundur saat Jaehyun mendekatinya, tapi jangan katakan Jaehyun adalah bagian dari keluarga Oh jika sifatnya tidak seperti dua kakaknya yang lain, suka ikut campur dan memaksa untuk mengetahui keadaan seseorang yang mereka pedulikan.

"Tapi wajahmu, kepalamu terluka!"

"argh!"

Tak sengaja Jaehyun memegang pergelangan tangan Taeyong, kenyataan lain adalah seluruh tubuh Taeyong memar hingga membuatnya diam merasa begitu takut dan bertanya-tanya hal mengerikan apa yang baru terjadi pada pria seusianya yang terlihat sangat menderita.

"Jangan sentuh aku. Kau dengar? Pergi-…CEPAT PERGI!"

"ani! Kau terluka, setidaknya obati dulu lukamu atau kau bisa-…."

"AKU BAIK-BAIK SAJA!—rrhh!"

Pandangannya mulai samar, dan untuk menyesuaikan penglihatannya Taeyong terpaksa berjongkok, meringis kesakitan sementara darah sialan di kepalanya tak kunjung berhenti menetes "Pergilah." Lirihnya memohon, terdengar ketakutan.

Namun yang dilakukan Jaehyun adalah hal sebaliknya yang diinginkan Taeyong, karena dari pada pergi, dia lebih memilih berjongkok di depan Taeyong dan membuka topi jaket yang menutupi wajah remaja berparas cantik di depanya.

"astaga! Ada apa denganmu? Kau terluka parah."

"Aku baik sungguh! jika kau disini, aku akan lebih terluka, kumohon pergilah!"

"Setidaknya biarkan aku mengantarmu ke rumah sakit. Kakakku bekerja disana!"

"Aku tidak ingin bertemu dengan Luhan hyung!"

"Bukan Luhan hyung, dua kakakku yang lain, ya?"

Taeyong terlihat panik lagi, dia mengambil topi jaketnya yang menggantung di leher untuk memakainya lagi agar wajahnya tertutup "Kau yakin? Bukan Luhan hyung?"

"Ya, aku memiliki dua kakak lain di Seoul hospital."

Menyerah pada rasa sakitnya, Taeyong mengangguk untuk mengatakan "Baiklah."

"Kalau begitu naik ke punggungku."

"Aku bisa berjalan."

"Cepatlah, mobilku disebrang sana."

Hatinya sedikit berdesir melihat senyum di wajah Jaehyun, bukan hanya karena dia memiliki lesung yang membuatnya terlihat sangat tampan, tapi tatapan Jaehyun, ini kali pertama seseorang menatapnya begitu cemas dan terlihat sangat tulus, membuatnya berani mengabaikan ancaman Doojoon dan Donghoon untuk menyambut punggung tegap Jaehyun yang menawarkan pertemanan tulus padanya.

"Gomawo, Jaehyunna."

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jadi benar? Kau keluar dari Seoul hospital?"

Entah sudah kali berapa baik Chanyeol maupun Kai menanyakan hal yang sama, dan entah sudah berapa kali pula Luhan menjawab Ya, namun tetap dibombardir pertanyaan apa benar? kenapa? Atau bagaimana mungkin? Dari dua prianya yang terlihat kecewa sama seperti Sehun.

"Demi Tuhan Kai, untuk kali terakhir aku akan mengatakan Ya! aku sudah tidak bekerja di Seoul hospital."

"Tapi Lu, kenapa?"

"Aku hanya tidak bisa berada disana lebih lama lagi, hanya itu!"

"Kau akan lebih aman jika bersama Kyungsoo atau Baekhyun."

"Untuk apa? Agar mereka semakin membenciku setiap harinya?"

"Lu….."

Saat ini Luhan sudah berada dirumahnya bersama Kai dan Chanyeol. Dan jujur, hatinya masih sakit menyadari bahwa mulai hari ini toko kue ayahnya tidak bisa menjual lagi roti-roti yang dibuat home made dari tangan sang ayah. Keadaan toko ayahnya hancur total, dan sialnya, Luhan tidak memiliki cukup biaya merenovasinya, dan melihat kerusakan sialan yang diakibatkan pihak kejaksaan, sepertinya Xi's Bakery akan tutup selama enam bulan kedepan.

"Kepalaku sakit karena toko roti ayahku. Jadi bisakah kalian berhenti bertanya? Apa kalian tidak tertarik membantuku untuk mencari siapa bajingan yang berani memberi perintah untuk menghancurkan toko roti ayahku?"

Kedua pria tampan itu hanya diam sesaat, untuk mengatakan hal yang menurut Luhan di luar dugaannya "Kami sudah mencarinya." Ujar Kai dibalas anggukan oleh Chanyeol "Dan kami memiliki satu tersangka."

"Secepat itu?"

"Luhan, kami tidak mencari satu atau dua hari. Kami sudah mencari selama satu tahun penyebab marahmu, dendam serta rasa bencimu! Jadi jangan katakan kami hanya berdiam diri dan tidak melakukan apapun."

Baiklah, keadaan sepertinya menjadi tegang untuk mereka bertiga. Entah karena Kai dan Chanyeol murka mendengar kepindahan Luhan atau karena mereka tak tahan lagi untuk berdiam diri dan mengungkap fakta bahwa selama ini, seseroang yang membuat Luhan dipenuhi dendam serta rasa benci, ada di dekatnya, disampingnya dan terus berpura-pura peduli padanya.

"Baiklah aku minta maaf. Aku salah menilai kalian. Lalu apa yang kalian temukan? Siapa tersangka yang kalian maksud?"

"….."

"Kai?"

"….."

"Yeol?"

"….."

"Ada apa dengan kalian? Kenapa tiba-tiba diam setelah membuatku berharap?"

"Kau belum siap untuk ini!"

"Apa?"

"Dia orang terdekatmu juga Lu, kami mencemaskanmu sampai rasanya kepala kami akan pecah karena terlalu cemas."

"brengsek! Kalian yang membuat kepalaku sakit! Siapa yang kalian bicarakan? Siapa yang kalian cemaskan? Dan siapa orang terdekatku selain kalian. Apa mungkin Jaksa Oh adalah-…."

"Choi Seunghyun."

"huh?"

"Tersangka yang kami curigai, dia Choi Seunghyun."

"Choi Seunghyun? Apa kita membicarakan Choi Seunghyun yang sama?"

"Ya, dia Seunghyun, yang selalu kau panggil hyung tiap kalian bertemu dan-…."

"PARK CHANYEOL!"

Kai mengusap kasar wajahnya, nyaris memukul wajah Chanyeol karena terlalu berani mengatakan siapa tersangka yang membuat mereka cemas hingga hari ini "Apa yang kau lakukan yeol?"

"Kau tahu, dia sudah sangat keterlaluan. Dan hari ini dia membuktikan siapa dirinya pada kita!"

"Aku tahu! Tapi Luhan-…."

"Aku kenapa? Apa yang-….KENAPA KALIAN BISA MENGATAKAN SEUNGHYUN HYUNG? APA BUKTI KALIAN? KENAPA BUKAN JAKSA OH? ATAU SEHUN ATAU SIAPAPUN SELAIN PRIA YANG BEGITU DIPERCAYA MENDIANG AYAHKU!"

"Luhan tenang. Jika kau ingin tahu, kau harus mendengarkan kami!"

"TENANG? BAGAIMANA AKU BISA TENANG JIKA KALIAN ASAL MENUDUH ORANG? SEUNGHYUN BUKAN SESEORANG YANG BISA KITA SALAHKAN! DIA-…."

"KAMI MELIHATNYA KELUAR DARI PENJARA DI MALAM AYAHMU TERBUNUH!"

"mwo?"

Luhan kehilangan emosinya, seluruhnya hilang digantikan rasa tak percayanya, dia tak bisa lagi berdiri dan mengadu ototnya dengan Chanyeol maupun Kai saat kenyataan baru mengenai dimana keberadaan Seunghyun saat ayahnya meninggal.

Matanya masih menatap tak percaya, begitupula Kai yang sepenuhnya menunjukkan penyesalan karena tak bisa menahan diri lebih lama, setidaknya dia akan memberitahu Luhan banyak bukti, tapi tidak seperti ini, tidak disaat hati Luhan belum siap menerima sedikit kenyataan.

"Apa yang kalian bicarakan?"

Buru-buru Chanyeol berlari mendekati Luhan, berjongkok di depan si pria cantik sementara dua tangan Luhan yang berkeringat diusapnya lembut agar merasa lebih baik "Lu, tenangkan dirimu. Beri kami sedikit waktu untuk membuktikannya, hanya sedikit lagi kita bisa mengetahui kebenarannya."

"Tapi yeol." Luhan menatap ketakutan Chanyeol yang berjongkok di depannya, matanya benar-benar menunjukkan rasa takut walau tak mengelak seluruh kenyataan bahwa belakangan dirinya memang tidak merasa nyaman berada di sekitar Seunghyun "Seunghyun hyung, dia tidak mungkin—hkss..kenapa harus dia yang kalian curigai?"

"Luhan, tenang. Kumohon."

Dan daripada tenang, Luhan lebih memilih tertawa, terdengar sadis dan nyatanya menyakiti hati Kai dan Chanyeol yang sudah melakukan apapun untuk membuktikan siapa Seunghyun dalam hidup Luhan "ha-ha!~Ini tidak masuk akal! Aku rasa kalian tidak bisa menuduh sembarang orang, tsk!"

"Lu…"

Dua tangannya dilepas dari genggaman Chanyeol, Luhan menatap murka baik pada Kai maupun Chanyeol untuk mendesis "gila!" membuat seketika hati Kai dan Chanyeol terluka sakit menyadari bahwa Luhan memang tidak pernah bisa mempercayai mereka, sepenuhnya.

.

.

.

.

.

.

.

"HYUNG!"

Butuh sekitar dua puluh menit Jaehyun sampai di Seoul hospital. Dan selama dua puluh menit itu keadaan Taeyong tak semakin baik, tubuhnya mulai menggigil, dia tidak bisa merasakan tubuhnya dan yang paling parah tubuh Taeyong demam, nyaris tak sadarkan diri di punggungnya.

"HYUNG! INI JAEHYUN!"

"jae?"

Kebetulan Baekhyun yang sedang bertugas siang ini, samar sebenarnya mengakui bahwa remaja yang berteriak hyung adalah Jaehyun, tapi semakin dia mengelak, maka sosok berlesung pipi yang merupakan adik bungsu Sehun memang terlihat seperti….. "ASTAGA JAEHYUNNA? KENAPA PAKAIANMU DIPENUHI DARAH?"

Beruntung dia baru memeriksa beberapa pasien, karena jika dia sudah berada di ruang rapat, rasanya mustahil bisa bertemu Jaehyun yang entah mengapa terlihat sangat pucat dan terburu-buru "Bukan aku hyung, temanku."

Baekhyun melihat seorang remaja lain di punggung adiknya, matanya menangkap beberapa darah yang mengering hingga nalurinya sebagai dokter bekerja untuk mengerling beberapa perawat yang sedang tidak bertugas.

"Letakkan temanmu disana Jae."

Sementara Jaehyun membaringkan Taeyong di tempat tidur, beberapa perawat terlihat memberi penanganan pertama pada Taeyong lalu membawanya entah kemana "Tunggulah disini." Ujar Baekhyun menepuk pundak adiknya dibalas tatapan memohon dari Jaehyun "Hyung, tolong selamatkan temanku."

"Kau tenang saja, dokter byun sudah menanganinya."

Jaehyun menggigit cemas bibirnya, terlihat gugup namun tersenyum kecil mempercayai sahabat kakaknya "gomawo hyung."

.

.

.

.

.

.

BLAM!

Huwaaa~

Terang saja balita satu tahun itu menangis, dia sedang meminum susu tapi kemudian pamannya menutup pintu dengan kencang, sontak, sebagai ibunya Taeoh, Kyungsoo bereaksi marah untuk menegur siapapun yang membuat putranya terkejut.

"Oh Sehun! Apa yang kau lakukan? Kenapa membanting pintu!"

"rrrhh! RRHHH—AAARRGHH!"

Mata Kyungsoo membulat, dia tidak pernah melihat Sehun semarah ini sebelumnya, jadi saat yang dilakukan Sehun hanya membanting seluruh barang dirumah mereka, Kyungsoo menjadi cemas untuk membujuk Taeoh lebih dulu "Ini susumu nak, sebentar mama akan mengurus Samchoon."

Bayi kecil itu tidak peduli apa yang dikatakan ibunya, yang dia inginkan hanya susu dan suasana tenang tanpa harus terkejut seperti yang dilakukan Sehun sebelumnya. Tak lama Taeoh kembali sibuk dengan susunya, dibalas gumaman gemas dari sang ibu "Anak pintar." Katanya memuji Taeoh untuk berlari cemas mendekati Sehun.

"SEHUN! ADA APA?"

"AAARGHH!"

Dia nyaris membanting satu-satunya foto dengan wajah Luhan, Kai dan Chanyeol yang mereka miliki saat mereka masih bersama. Kyungsoo memeluk erat Sehun dari belakang, berharap Sehun tidak berbuat gila dan hanya menceritakan apa yang terjadi "Jika kau hancurkan foto itu, sama saja kita membuang mereka dari hidup kita. Jangan lakukan Sehunna, tenanglah."

Posisinya sudah mengangkat bingkai foto keluarga di kediamannya bersama Kyungsoo dan Baekhyun, tapi kemudian suara Kyungsoo meyakinkannya untuk tenang lalu disinilah Sehun mulai mendapatkan kesadarannya, menatap tak berkedip foto terakhir yang mereka ambil sebagai keluarga, tepat sebelum kepindahannya ke Beijing beberapa tahun lalu.

"apa yang aku lakukan Soo?"

Buru-buru Kyungsoo mengambil foto keluarga mereka lalu meletakannya jauh dari jangkauan Sehun, dia bisa melihat Sehun sedikit lebih tenang walau wajahnya disembunyikan diantara dua tangan sementara dirinya duduk tersiksa di sofa ruang keluarga.

"Ini minumlah lebih dulu."

Kyungsoo datang dengan segelas air ditangannya, dan jujur Sehun belum menenggak setetes air pun setelah kejadian pagi ini, hatinya sakit, dan yang membuatnya lebih merasa sakit adalah karena dia tidak berguna baik untuk Luhan maupun dirinya sendiri.

"gomawo Soo."

Kyungsoo mengangguk, membiarkan Sehun menenggak segelas air yang dibutuhkannya untuk duduk disamping Sehun, menenagkan pria yang selama satu tahun ini sudah menjadi ayah untuk putranya "Ada apa?"

"entahlah Soo. Aku merasa sangat tidak berguna."

Malas menebak, tapi Kyungsoo tahu kegelisahan Sehun selalu tentang mantan kekasihnya "Luhan?"

"hmmh."

"Apalagi yang terjadi?"

"Mengerikan lebih dari sebelumnya."

Terang saja Kyungsoo panik, cara bicara Sehun lebih mengerikan untuk menggambarkan kondisi Luhan saat ini "Apa maksudmu? Luhan baik-baik saja kan?"

"Untuk sementara dia baik-baik saja, tapi nanti, entahlah, Aku merasa dia dalam bahaya."

Tepat sebelum Kyungsoo membuka suara, Sehun lebih dulu menggenggam tangan sahabatnya, menatap Kyungsoo dengan tatapan sulit diartikan lalu bergumam terlihat sangat yakin dengan keputusannya "Aku rasa aku akan kembali ke Beijing."

"Sehunna…"

"Itu satu-satunya cara agar aku mengetahui apa yang terjadi pada ayahku dan ayah Luhan di masa lalu. Itu satu-satunya cara untuk melindungi Luhan."

"Tapi kau tidak bisa meninggalkan Luhan, tidak lagi Sehunna, dia akan terluka seperti dulu saat menunggumu pulang."

"Tidak Soo, kau salah. Jika aku tetap seperti ini, jika aku tidak mengetahui apapun tentang masalah ini, Luhan akan terus berada dalam bahaya! Aku harus mencari tahu."

"Sehun hentikan, tenangkan pikiranmu lebih dulu."

"Aku sudah tenang dan aku rasa aku akan kembali ke Beijing."

"Sehun…."

"Soo, hanya sementara, Kai dan Chanyeol akan menjaga kalian selama aku pergi, ya?"

"Lalu siapa yang menjaga Luhan? Dia membutuhkanmu!"

Sehun diam sesaat, lagi-lagi hatinya menangis membayangkan perpisahan dengan Luhan. Dia pernah melakukan ini sebelumnya, tapi saat itu Luhan menunggunya dengan sabar, Luhan menunggunya dengan cinta. Berbeda dengan kepergiannya kali ini, dia mungkin bisa kehilangan Luhan kapan saja jika tetap pada pendiriannya untuk pergi.

"Dia akan baik-baik saja."

"Sehun aku mohon… kenapa mendadak seperti ini?"

"Aku tidak memiliki cara lagi! Dalam hal ini aku sangat tidak berguna dan aku benci mengakui bahwa tidak bisa melakukan apapun untuk Luhan, aku ingin melakukan sesuatu untuknya."

"Tapi haruskah pergi?"

Sehun tersenyum sendu seraya menggenggam kuat jemari Kyungsoo, meyakinkan sahabatnya "Hanya ini satu-satunya cara."

"Aku tidak bisa mencegahmu pergi?"

"Aku janji ini terakhir kalinya aku pergi meninggalkanmu dan Baekhyun, meninggalkan Taeoh, meninggalkan Luhan dan hidupku di Seoul, aku janji."

Kyungsoo menghapus cepat air matanya, rasanya melepas kepergian Sehun kali ini lebih sulit dari enam tahun yang lalu, jadi saat Sehun berniat untuk kembali pergi, rasanya Kyungsoo akan menjadi yang paling kehilangan karena mau bagaimanapun, Taeoh sangat menyukai pamannya yang sudah selalu menjadi ayah untuknya.

"Kapan kau pergi?"

Mantap, Sehun mengatakan "Besok malam."

.

.

.

.

.

.

.

"Apa kau yakin hanya berkelahi? Lukamu terlihat seperti dipukul dengan benda tajam?"

Setelah tiga puluh menit berlalu, Baekhyun berhasil menghentikan pendarahan di kepala Taeyong, namun yang membuatnya terkejut adalah bukan hanya di kepala luka yang terjadi tapi hampir di seluruh tubuh remaja seusia adiknya.

Taeyong bahkan mengalami keretakan kecil di tulang bahunya, tidak berbahaya, tapi cukup membuatnya kesulitan bergerak dan melakukan sesuatu "Ini hanya perkelahian kecil dokter Byun."

Jawaban Taeyong akan selalu sama, jadi Baekhyun cukup mengerti untuk tidak bertanya apapun lagi sampai suara Jaehyun terdengar memasuki ruangan

"HYUNG! BAGAIMANA?"

"ish! Kenapa kau harus berteriak? Apa kau begitu cemas? Apa dia kekasihmu?"

"yang benar saja hyung!"

Wajah Jaehyun merah padam, begitupula Taeyong yang merasa panas di wajahnya, bukan karena sakit, tapi rasa panas yang menyenangkan saat seseorang mengatakan sesuatu yang membuatnya berdebar.

"aku hanya-…Kami bahkan baru mengenal kemarin!"

"Lalu?"

"Hyuuung!"

Baekhyun terus menggoda sementara dua remaja di depannya sudah salah tingkah dan terlihat sangat menggemaskan "Baiklah, baiklah. Pastikan temanmu dirawat selama tiga hari di-…."

"ANDWAE!"

Baik Jaehyun maupun Baekhyun terkejut, keduanya tak mengerti kenapa Taeyong berteriak sampai suara Jaehyun terdengar bertanya "Ada apa? Apa kau harus melakukan sesuatu?"

Wajah Taeyong panik, jika dia dirawat di Seoul hospital itu artinya kemungkinan Doojoon menemukannya sangat besar, Doojoon juga bekerja dirumah sakit ini, jadi rasanya mustahil untuk tinggal lebih lama sementara Doojoon bisa membunuhnya kapan saja "Aku harus segera keluar. HARUS!"

Remaja delapan belas tahun itu ketakutan, terlalu takut sampai warna mukanya berubah kembali menjadi pucat, hal itu disadari Jaehyun dan Baekhyun yang kemudian meminta pria dengan rambut blonde nya itu sedikit menenangkan diri.

"Taeyong tenanglah!"

"Dokter Byun, aku harus segera keluar malam ini! Harus!"

"Tapi lukamu? Kau kehilangan banyak darah dan mengalami dehidrasi, setidaknya satu malam kau harus di-…."

"Aku akan melakukannya di tempat lain, sungguh. Tapi jangan rumah sakit ini! Kumohon!"

"Tapi kenapa? Ada apa dengan rumah sakit ini?"

"….."

Wajah Taeyong pucat, dia benar-benar merasa takut sampai rasa sakitnya kembali dirasakan, dan mengetahui raut wajah kesakitan Taeyong terjadi karena dia cemas, sebagai seorang dokter Baekhyun tahu tidak bisa memaksakan sesuatu pada pasiennya yang terlihat sehat.

"Baiklah kau boleh pulang setelah cairan infusmu habis, bagaimana?"

"haah~ Gomawo dokter Byun! Terimakasih banyak."

"Tapi hyung…"

"Tidak apa Jae, temanmu terlihat kuat. Hyung pergi dulu."

Jaehyun mengangguk saat Baekhyun pergi meninggalkan ruangan, berniat untuk bertanya pada Taeyong tapi terlambat karena Taeyong lebih dulu memberi pernyataan "Jaehyun."

"Ada apa?"

"Setelah hari ini, jangan datang menemuiku lagi!"

"Wae?"

Taeyong hanya membalas seperlunya untuk mengatakan "Hanya lanjutkan hidupmu yang dipenuhi cinta, jangan pernah mencari tahu lagi karena akhirnya akan sangat mengerikan, untukmu, untukku, dan mungkin untuk keluargamu."

"Apa yang kau bicarakan?"

Taeyong tidak menjawab lagi, yang dia lakukan hanya memejamkan mata, membiarkan Jaehyun dipenuhi pertanyaan tapi lebih baik untuknya jika tidak mengetahui apapun, seperti sebelumnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

BRAK!

Ini masih jam kerjanya sebagai professor, tapi bajingan yang merupakan partnernya sudah datang mengganggunya bahkan di sela kesibukannya sebagai dokter, entah apa yang diinginkan Seunghyun setelah gagal menghancurkan toko roti ayah Luhan, tapi dilihat dari wajahnya dia begitu murka dan bisa membunuh siapa saja yang dia mau saat ini

"Ada apa?"

"Kau atau aku yang akan membunuhnya?"

"Siapa?"

"Lihat apa yang kutemukan!"

Buru-buru Doojoon membaca berkas yang berada di bawa Seunghyun dalam amplop cokelat, membacanya seksama untuk menemukan tiket atas nama Oh Sehun yang akan melakukan penerbangan ke Beijing besok malam, tepat pukul sebelas malam.

Wajah kesal sang professor tiba-tiba menyeringai, jujur dia selalu merasa takjub dengan cara kerja Seunghyun yang terkadang sangat profesional, jauh diatasnya.

"Darimana kau menemukannya?"

"Aku sudah menjadikannya target mulai hari ini, hari dimana dia dan keluarganya menghancurkan telak renancaku."

Sedikit meremehkan, Doojoon hanya menjawab "Oh."

"BRENGSEK! APA JAWABANMU? KENAPA MEREMEHKAN AKU!"

"Choi Seunghyun jaga sikapmu! Ini rumah sakit!"

"RRHHH!"

Kepalannya di kerah Doojoon terlepas, dilihat dari wajahnya dia sangat marah, bisa saja Doojoon memanfaatkan dia untuk menghabisi Sehun. Tapi setelah itu apa? Dia tidak akan merasa puas karena membiarkan satu-satunya pria yang membuat Luhan begitu mencintainya mati di tangan Seunghyun, setidaknya dia memiliki kepuasaan jika bisa membunuh saingannya dengan kedua tangannya sendiri.

"Aku akan sedikit sibuk besok malam, kau tahu kan? Taeyong harus melakukan sesuatu sebagai pembuktian."

"ah ya! Aku juga sangat tergoda untuk menghabisi anjing kecilmu Joona."

"Berani kau menyentuhnya, kau akan berurusan denganku, kau dengar?"

"Penghianat kecil itu mungkin benar menghianati kita."

"Mungkin juga tidak!"

"Lupakan Taeyong! Lalu bagaimana dengan si brengsek Oh? Harus aku yang membunuhnya?"

"Tidak perlu, aku akan melakukannya sendiri."

"Kau yakin melakukannya sendiri? Dia akan berada di bandara besok malam!"

Bosan mendengar racauan Seunghyun, Doojoon memakai jas putihnya, bersiap untuk menjadi malaikat sementara besok malam dia akan kembali menjadi iblis yang mengerikan "Rekorku membunuh di bandara sudah jauh diatasmu, jadi tenang saja Seunghyunna, besok malam aku akan membalas dendam untukmu, juga untukku." Katanya menyeringai lalu meninggalkan Seunghyun, memastikan partnernya percaya tanpa harus turun tangan menghabisi Sehun.

"Baiklah, tapi sekali kau gagal! Sehun milikku!"

"Terserahmu saja! Yang jelas aku tidak akan gagal!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan hari, 20.00 KST

.

Rasanya lebih melelahkan bekerja untuk Hanyang hospital daripada rumah sakitnya sebelumnya. Karena jika di rumah sakit sebelumnya Luhan bisa mencuri setidaknya tiga jam untuk beristirahat, di Hanyang hospital dia sama sekali tak bisa menemukan waktu untuk bersantai.

Mungkin karena statusnya adalah dokter emergency yang diharuskan stand by di setiap kondisi. Dan karena alasan itu pula,di hari pertamanya bekerja, Luhan dihadiahi dua shift langsung mengingat absen yang dia lakukan di hari pertamanya bekerja.

Drrt…drrttt

Ponselnya bergetar, tak perlu melihat siapa yang mengiriminya pesan singkat karena nama Kai langsung muncul di notifikasi ponsel yang kebetulan berada di genggaman tangannya.

"Kapan kau pulang? Kita perlu bicara Lu!"

Luhan mengabaikan pesan Kai untuk mendapati satu pesan baru, kali ini nama Chanyeol yang tertera "Maafkan aku dan Kai, bisakah kita bicara sekarang?"

"haah~"

Seperti belum siap berdebat dengan dua temannya, Luhan lebih memilih untuk meletakkan ponsel di saku lalu mengeluarkan kunci mobilnya, bersiap untuk pulang entah kemana yang jelas tidak ke rumahnya dulu malam ini.

"Kita bicara setelah akalku lebih sehat. Aku tidak ingin bertengkar dengan kalian." Katanya bergegas menuju mobil sebelum langkahnya terhenti melihat sosok yang juga sedang dihindarinya sedang tersenyum begitu tampan dengan tangan dilipat di dada

Keduanya bertatapan cukup lama sebelum Luhan tertawa dan memutuskan untuk tetap berjalan ke arah mobil sementara mantan kekasihnya bertanya "Kau sudah mengganti ponselmu?"

"Yang aku hancurkan di bar adalah ponsel pertama yang kau berikan padaku, aku masih menjaganya hingga malam itu sampai kau membuatku marah."

"Ya, aku minta maaf."

"Lupakan. Aku lebih terpana karena kau terlalu cepat menemukan aku bekerja dimana." Katanya menyindir Sehun namun dibalas senyum innocent dari sang mantan kekasih yang sepertinya akan pergi jauh melihat tampilannya sangat sempurna menggunakan mantel hitam panjang selutut hingga menutupi seluruh lehernya.

"Ya begitulah, hidupku hanya untuk menemukan dimana setengah jiwaku berada, memastikan dia baik-baik saja walau hanya benci yang aku terima."

Klik

Pintu mobil Luhan sudah terbuka, namun alih-alih masuk kedalamnya, Luhan lebih memilih berjalan mendekati Sehun yang sedang bersandar di mobilnya, mencoba untuk berbicara tanpa emosi mengingat mau bagaimanapun juga Sehun dan keluarganya sudah datang menolong disaat dia sangat membutuhkan.

"Ada apa?"

Saat Sehun tersenyum lebar, dua mata bulan sabit yang selalu menjadi favorit Luhan terlihat, jujur hati Luhan berdebar, ingin rasanya dia menggoda Sehun, ikut tertawa bersamanya namun mati-matian harus menahan diri karena tidak ingin memberikan harapan palsu pada pria yang hingga saat ini masih mencintainya.

"Tidak ada apa-apa, aku hanya merindukanmu."

"Ada lagi?"

Sehun diam sesaat, matanya melihat seluruh bagian dari Hanyang hospital untuk bertanya lirih pada Luhan "Kau baik-baik saja?"

"Apa?"

Sehun tak lagi bersandar di mobilnya, dia juga berjalan mendekati Luhan lalu tersenyum memengan pundak mantan kekasihnya yang begitu mungil dan harus dilindungi "Rumah sakit ini, apa kau baik-baik saja bekerja disini?"

"Wae?"

Sehun tersenyum pilu, diusapnya lembut wajah Luhan seraya memperhatikan wajah prianya yang terlihat kelelahan, Sehun bisa melihat segurat kesedihan yang disembunyikan Luhan dalam-dalam untuk mengatakan "Kerja bagus dokter Xi, kau sudah melakukan semuanya dengan baik."

Untuk kesekian kalinya, Sehun berhasil membuat hati Luhan dipenuhi cinta seperti dulu, untuk kesekian kalinya Sehun menegaskan bahwa apapun yang telah terjadi diantara mereka, Sehun akan tetap menjadi satu-satunya penghibur dan pendukung sementara yang lain meremehkan dirinya.

Balasannya, Luhan tidak mengelak usapan lembut tangan Sehun di wajahnya, sebaliknya, dia ikut memegang tangan Sehun, memastikan bahwa dia telah melakukan semua yang terbaik sebagai dokter. "b-Benarkah? Aku sudah melakukan semuanya dengan baik?"

"hmmh…Apapun kenangan yang sudah kau habiskan bersama Mama Xi di rumah sakit ini, aku yakin itu tidak mudah untukmu, tapi kau melakukannya dengan baik, kau melakukannya sangat baik melebihi siapapun termasuk diriku. Aku bangga padamu."

Pandangan mereka terkunci, debaran jantung pun sama-sama terdengar menggebu di hati masing-masing, dan jika bisa memutar waktu, keduanya sedang menjerit kuat, memohon agar waktu mereka sebagai sepasang kekasih dikembalikan hanya untuk malam ini.

Diam-diam suasana canggung mulai terasa diantara mereka, dan untuk menghilangkannya Sehun memberanikan diri mengambil langkah yang semakin berani, langkahnya maju mendekati Luhan, meniadakan jarak diantara mereka, setelahnya dia memegang tengkuk Luhan lalu membungkuk perlahan, memiringkan kepalanya untuk mencium bibir Luhan yang sedang digiggit kencang oleh Luhan, satu detik berikutnya Sehun nyaris menyatukan bibir mereka jika Luhan tidak mengelak, langkahnya mundur menjauh sementara matanya enggan menatap mata Sehun untuk mengatakan

"Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi, aku akan pergi, selamat malam Sehunna."

Sehun bisa melihat pundak dingin Luhan menyapa, berjalan semakin menjauh sementara waktunya hanya sekitar tiga jam untuk bisa menikmati wajah Luhan sebelum benar-benar pergi ke Beijing untuk waktu yang belum ditentukan.

"Aku ingin berpamitan."

Tap!

Rasanya ucapan Sehun terasa begitu familiar di telinganya, kalimatnya, nada berat suaranya, sepertinya Luhan pernah mengalami hal ini sebelumnya, dia enggan menoleh, hatinya tiba-tiba penuh dan terasa sesak, lalu dia memberanikan diri bertanya untuk memastikan.

"Berpamitan?"

"mmh…Aku akan menetap di Beijing untuk sementara waktu."

DEG!

Tepat seperti dugannya, dia pernah mengalami hal ini sebelumnya, semua yang dikatakan Sehun sama persis seperti saat itu, saat Sehun mengatakan akan melanjutkan pendidikan di Beijing, meninggalkannya.

Luhan diam, masih menunjukkan punggungnya untuk bertanya "Lagi?" suaranya tenang, tapi tidak dengan hatinya yang mulai resah tak menyangka akan ditinggalkan lagi oleh Sehun "Kau akan meninggalkan aku lagi?"

"Tidak meninggalkan Lu, aku hanya sementara disana, setelah aku menemukan apa yang aku cari aku akan-…."

"Menemukan apa? Apa yang kau cari?"

"Sesuatu yang bisa membuatku berguna untukmu, yang bisa melindungimu."

"tsk!"

"Luhan."

Ddrtt…drrtt

Terimakasih karena ponselnya bergetar, setidaknya Luhan memiliki alasan untuk tidak menangis dan berpura-pura sibuk dengan ponselnya, lagipula dia cukup terkejut menemukan nama L di notifikasi pesan yang bertuliskan "Sudah terbuka, keseluruhan usb itu sudah terbuka, cepat datang! Kau harus mengetahui sesuatu, ini penting!"

Pikiran Luhan terbagi menjadi dua, satu karena berita menyenangkan dia dapatkan dari L, sementara satu lagi berita buruk harus dia dengar langsung dari mantan kekasihnya, dia bisa saja menoleh, menatap Sehun sebelum dia pergi namun enggan dia lakukan karena pastilah menangis jika mata mereka bertemu.

"Kapan kau pergi?"

"Malam ini, tiga jam lagi peawatku take off."

"Oh."

Luhan mengusap cepat air matanya yang menetes, hatinya kesal mengingat kebiasaan buruk yang Sehun lakukan adalah terus pergi secara mendadak, dia tidak pernah memberi kesiapan hatinya untuk ditinggalkan karena yang dilakukan Sehun hanya terus meninggalkan tanpa pemberitahuan sebelumnya.

"berapa—mmh! Berapa lama kau pergi?" katanya membenarkan nada suara seraknya untuk mendapat jawaban "Belum tahu, aku akan segera kembali jika sudah menemukan yang aku cari."

Tangan Luhan terkepal erat, dia marah menyadari Sehun akan membuatnya menunggu lagi, tidak, mereka bukan kekasih lagi, tapi Sehun malam ini bahkan lebih buruk dari Sehun enam tahun lalu, setidaknya Sehunnya yang dulu memberi kepastian menunggu selama empat tahun, sementara malam ini? Bajingan tampan di belakangnya bahkan tidak tahu akan pergi meninggalkannya berapa lama.

"Jaga dirimu baik-baik selama kau pergi, Ya?"

Luhan tertawa marah, dia masih enggan menatap Sehun untuk perpisahan, meski begitu Sehun dibuat merasa bersalah karena melihat tangan Luhan terkepal tanda dia tak suka ditinggalkan seperti ini "Lu? Apa kau baik-baik saja?"

"Rasakan posisiku jika kau ingin tahu!"

"Luhan…"

"Terserahmu saja Sehun! Pergilah—PERGI DAN JANGAN PERNAH KEMBALI JIKA PERLU!"

BLAM!

Setelahnya Luhan masuk ke dalam mobil, menyalakan kasar mesin mobilnya lalu

BRRMM!

Dia sengaja menginjak kuat gas mobilnya untuk menunjukkan pada Sehun bahwa selamanya, selamanya dia benci menunggu, dia benci ditinggalkan dan lebih buruknya dia benci jika harus merindukan pria yang bahkan bukan kekasihnya.

"ARRGGGHH!"

Luhan berteriak di dalam mobil sementara Sehun tertunduk pasrah, tersenyum lirih sementara hatinya juga penuh merasa sesak yang sama dengan Luhan "haah~ Selalu seperti ini, kita selalu bertengkar setiap kali aku pergi jauh, maaf Lu, Maafkan aku."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

BLAM!

"AAARGHH!"

Semua orang juga tahu jika Luhan sedang kesal, ya, selain karena wajahnya, sikapnya juga menunjukkan dia marah, sudah lima menit dia sampai di club milik Myungsoo, tapi alih-alih menemui teman malamnya dia lebih dulu memilih menendang berkali-kali ban mobil sebagai pelampiasan kesalnya.

"ARGGHH!"

Yang tidak diketahui Luhan, bahwa sedari awal dia sampai sang pemilik club juga sudah menunggu di pintu belakang, memperhatikan antara takut dan lucu karena saat Luhan marah paras cantiknya tak hilang sedikitpun "ARGHH!"

"Mau sampai kapan kau berteriak?"

Luhan berhenti menendang mobilnya, menoleh ke arah pintu untuk mendapati Myungsoo menahan tawa melihat apa yang dia lakukan "Kenapa kau tertawa?"

"Aku sedang menahan tawa, bukan tertawa." Katanya mengoreksi lalu mendekati Luhan. Dan daripada Luhan, Myungsoo lebih tertarik memperhatikan mobil Luhan untuk menemukan sesuatu yang diyakininya sebagai alat pelacak di sisi bawah mobil "Hey Lu!"

"Apa?"

"Kau memasang pelacakdi mobilmu?"

"huh?"

Buru-buru Myungsoo berjongkok, mengambil alat kecil yang menarik perhatiannya lalu mencabutnya kasar, menunjukkan pada Luhan "Ini! Aku yakin ini pelacak."

Luhan dibuat bingung, diambilnya paksa alat kecil itu dari tangan Myungsoo untuk menyadari sesuatu yang asing dipasang di mobilnya "Siapa yang memasangnya?"

"Mana kutahu, mungkin seseorang yang terobsesi padamu!"

"Sehun?"

Pikiran pertamanya tentu Sehun, tapi kemudian dia menyadari bahwa Sehun tidak akan pernah seberani itu meletakkan pelacak di mobilnya, lagipula sebelum kemarin malam Sehun masih bisa mengawasinya lewat ponsel yang juga dilengkapi alat pelacak. Jadi rasanya tidak mungkin itu Sehun karena terlalu beresiko pada hubungan mereka dan membuatnya marah, seperti biasa "Tapi siapa?"

Disaat Luhan bertanya-tanya, dia merasakan tangan Myungsoo di pundaknya, matanya melihat Myungsoo lalu tak lama teman malamnya mengatakan hal yang serius membuatnya sedikit bertanya-tanya "Ikut aku."

Dan tak lama keduanya masuk melalui pintu belakang, meski pikirannya dipenuhi kepergian Sehun dan pelacak di mobilnya, tapi jujur hatinya cemas untuk mendengarkan apa yang ditemukan Myungsoo di dalam usb ayahnya.

"Tutup pintunya."

Luhan melakukan semua hal yang dikatakan Myungsoo, tak lama dia berjalan mendekati Myungsoo dan menarik kursi di samping teman malamnya "Jadi bagaimana?"

Sesaat Myungsoo hanya diam, dia fokus pada komputernya lalu tak lama menekan

Enter!

Dan menampilkan satu wajah asing dengan matanya yang cacat sebagai ciri khas

"Kau kenal dia?"

"Siapa?"

"Pria yang ada di layar komputer. Kau mengenalnya?"

Luhan memastikan dengan seksama, mencoba mengingat namun tidak menemukan apapun tentang pria yang dia tebak memiliki usia sama dengan ayahnya "Tidak."

"Ko Donghoon, Teroris sekaligus mafia yang sedang menjadi buronan dua negara, Beijing dan Seoul."

"Lalu apa hubungannya dengan ayahku?"

Myungsoo membuka file baru, menunjukkan pada Luhan file lain yang ditemukan serta satu foto yang membuat hati Luhan berdesir karena rindu "Papa?"

"Jadi benar dia ayahmu?"

Luhan menatap tak berkedip foto ayahnya, memandang rindu pada cinta pertamanya untuk mengangguk seraya mengusap cepat matanya yang berkaca-kaca "Ya, dia ayahku."

"Seorang detektif?"

"Jauh sebelum kami pindah ke Seoul, ayahku seorang detektif di Beijing."

"Kalau begitu semua menjadi masuk akal."

"Apa?"

"Sepertinya ayahmu pernah mengejar Ko Donghoon dua puluh tahun yang lalu, kasusnya berhenti enam tahun lalu sampai satu tahun sebelum ayahmu meninggal, dia membuat laporan baru mengenai kebaeradaan Donghoon pada pemerintah Beijing, dan semenjak hari itu, sepertinya dia menjadi buronan dua negara."

"Lalu kenapa mereka belum menangkapnya?"

"Mungkin karena semua data kejahatan Ko Donghoon berada di file terakhir yang tida bisa aku akses."

"huh?"

"File ini!" Myungsoo menunjuk sebuah folder merah dengan gambar "X" sebagai cover untuk memberitahu Luhan "Rasanya file terakhir memiliki keamanan tingkat tinggi. Aku bisa saja membukanya, tapi kemudian, apapun yang terjadi nanti aku rasa pemerintah bisa melacak keberadaan kita. Lagipula ini terlalu sulit Lu, maaf."

Luhan mengerti, sebenarnya dia tidak peduli kejahatan apa yang dilakukan pria bernama Donghoon, dia hanya peduli pada satu kenyataan, bahwa kemungkinan besar yang membunuh kedua orang tuanya adalah pria yang memiliki cacat di mata kirinya "Bajingan." Luhan mendesis marah, air matanya nyaris terjatuh jika matanya tak menangkap dua folder dengan nama tak asing untuknya.

"L?"

"Apa?"

"Folder yang kau tandai, bisa aku melihatnya?"

"ah, Sebenarnya ini hanya untuk menjawab rasa penasaranku pada dua pria ini." katanya bersiap meng-klik dua folder yang membuat Luhan tertarik untuk mengatakan "Sepertinya mereka kaki tangan Ko Donghoon."

"Siapa?"

"Dua mafia yang sering mengacau di club malamku. Ah, Aku melihat kau bersamanya semalam, apa kau mengenalnya?"

Luhan memiliki perasaan buruk tentang hal ini, sungguh, jika Myungsoo melihat dia bersama pria ini bersamanya semalam, maka itu artinya hanya dua pria yang dilihatnya Sehun dan Doojoon.

"tidak mungkin."

Ya, Tidak mungkin jika itu Sehunnya, lalu tangannya terkepal erat seraya menebak dalam ketidakpastian "hyung?"

Klik!

Mata Luhan membulat hebat, foto pertama menunjukkan seseorang yang begitu familiar untuknya, seseorang dari masa kecilnya yang bersikeras mengatakan dirinya adalah seorang kakak untuknya "Do-Doojoon hyung?"

Klik!

Lalu hatinya mencelos sakit saat foto kedua ditampilkan, menampilkan sosok yang sangat berbeda dengan yang biasa dilihatnya setiap hari. Dia biasa melihat Seunghyun menggunakan apron saat membuat roti, bukan terlihat menyeramkan dengan jubah hitam lengkap dengan senjata api ditangannya. Lagipula rasanya menyakitkan mengingat mau bagaimanapun juga pria kedua yang ditampilkan di komputer sudah dianggap putra oleh ayahnya "Seunghyun hyung?"

"Luhan."

"…."

"Luhan."

Menyadari perubahan wajah Luhan yang ketakutan, Myungsoo cemas, dia memanggil Luhan berkali-kali namun pria cantik didepannya sama sekali tak memberikan respon "LUHAN!"

"huh?"

Barulah Luhan menggerakan bola matanya, menatap Myungsoo yang terlihat cemas sementara wajahnya pucat seperti melihat sesuatu yang mengerikan "Kau baik-baik saja?"

Luhan bergerak resah, berkali-kali dia mengusap kasar wajahnya maka berkali-kali pula pertengkaran dengan Kai dan Chanyeol mengenai Seunghyun memenuhi kepalanya "tidak…Aku tidak baik-baik saja, aku-….L! Apa kau mengenal mereka?"

"TOP dan Doojoon?"

"YA! MEREKA! KAU MENGENALNYA?"

"Luhan ada apa denganmu? Wajahmu pucat."

"Hanya jawab pertanyaanku. JAWAB AKU!"

"Tentu saja aku mengenalnya, mereka sering melakukan transaksi kotor di club milikku. Biasanya senjata, obat dan wanita."

"Siapa yang sering melakukannya?"

"Keduanya, bergantian."

Hati Luhan panas, pikirannya kacau sementara yang bisa dia lakukan hanya tertawa tak menyangka bahwa dua pria yang dianggapnya sebagai saudara adalah kaki tangan dari pembunuh kedua orang tuanya "tidak mungkin, tidak mungkin mereka-…."

"AARRGHH!"

Baik Myungsoo dan Luhan, keduanya menatap terkejut mendengar suara teriakan, namun berbeda dengan Luhan yang merasa teriakan itu dipenuhi kesakitan, Myungsoo secara cepat menggeram untuk mengatakan "SIAL! MEREKA PASTI MENGACAU LAGI DI TEMPATKU!"

"L!"

Buru-buru Luhan ikut berlari menuruni tangga, mengikuti L yang berlari melewati pintu belakang, lalu berhenti melangkah untuk lagi-lagi dibuat sakit tak mempercayai apa yang dilihatnya saat ini "Taeyong?"

"Luhan! Apa kau gila? Mereka pembunuh!"

Myungsoo menahan tangan Luhan, keduanya bersembunyi dibalik pintu belakang club Myungsoo sementara mata Luhan tak berkedip menyadari dua pria yang sudah dianggapnya sebagai kakak dan adik ternyata adalah seorang pembunuh "tidak mungkin." Tubuhnya lemas, Myungsoo membiarkan Luhan bersandar sementara keduanya bisa menyaksikan seorang pria tua sedang di hajar tanpa ampun oleh pria bernama Doojoon dan remaja berambut blonde yang terlihat ketakutan.

"HABISI DIA SEKARANG TAE!"

Disana, Doojoon dan kelima anak buahnya beserta Taeyong sedang menyakiti satu pria tua, entah apa yang sedang mereka lakukan. Biasanya Luhan melihat Doojoon mengenakan jas putih kebanggannya, dipanggil professor dan terlihat seperti malaikat untuknya, berbeda dengan malam ini, Doojoon memakai jubah hitam lengkap dengan sarung tangan hitamnya membuatnya terlihat seperti iblis mengerikan sementara Taeyong, remaja yang dikenalnya begitu polos terlihat tenang namun Luhan tahu dia sangat ketakutan

"Aku tidak bisa hyung."

"LEE TAEYONG!"

"Kau terlalu jauh hyung, tidak biasanya kau membunuh. Tidak bisakah kita mengampuni paman tua ini? Tidak bisakah-..?"

BUGH!

Satu pukulan kencang Taeyong terkapar di lantai, Luhan membekap kencang mulutnya nyaris berteriak jika Myungsoo tidak berbisik "ini bukan saatnya" seperti mengingatkan dirinya untuk tidak mengacau di keadaan mengerikan saat ini "Taeyonga."

"BERDIRI DAN BUNUH DIA! SEKARANG!"

Taeyong berdiri, langkahnya gontai mengambil pistol dari tangan Doojoon, Luhan bisa melihat perban di kepalanya, menandakan bahwa jauh sebelum memar yang diterimanya malam ini, Taeyong memang sedang terluka namun dipaksa untuk membunuh saat ini juga

"andwae, Lee Taeyong, jangan lakukan."

Luhan bergumam takut, dia terisak begitu mencemaskan Taeyong sementara Doojoon menyeringai dan terlihat sangat mengerikan.

"CEPAT!"

Sementara wajahnya dipenuhi air mata, Luhan bisa melihat Taeyong mengokang senjatanya, tak lama dia mengarahkan pistol tepat di kepala paman tua itu, bersiap menembak "andwae, jangan lakukan, jangan lakukan Lee-…."

"AKU TIDAK BISA HYUNG!"

"haaah~"

"BAJINGAN!"

Luhan bernafas lega, berbeda dengan Doojoon yang terlihat marah dan mengambil paksa pistol dari tangan Taeyong, mengarahkan tepat di kepala remaja yang sudah dianggap adik oleh Luhan siap untuk membunuhnya

"Luhan! Apa yang kau lakukan?"

Myungsoo mati-matian menahan Luhan di pelukannya, entah apa yang akan dilakukan Doojoon pada Taeyong, tapi Myungsoo tidak bisa membiarkan Luhan terlibat lebih jauh dengan pembunuhan yang akan terjadi malam ini.

"BUNUH AKU HYUNG! SEKARANG!"

"brengsek! Harusnya aku membiarkan Donghoon membunuhmu! HARUSNYA AKU MEMBIARKAN SEUNGHYUN MEMBUNUHMU!"

Ya, dua nama yang disebutkan Doojoon cukup membuat Luhan menyadari satu hal. Satu hal bahwa apapun yang dikatakan Kai dan Chanyeol tentang Seunghyun adalah benar, sepenuhnya benar, karena baru saja Doojoon menyebut nama pria lain yang sudah dianggap sebagai saudara untuknya.

"YA! KALIAN HARUSNYA MEMBUNUHKU LEBIH AWAL!"

"LEE TAEYONG, mati kau—MATI KAU!"

"Taeyong!"

Luhan nyaris berteriak, sampai tangan Myungsoo membekapnya, keduanya benar-benar berada di posisi mengerikan melihat Doojoon benar-benar akan membunuh Taeyong tanpa belas kasih.

Ddrrt…drrtt

Beruntung ponsel Doojoon bergetar, sang professor yang Luhan ketahui sebagai pembunuh itu pun terlihat berbicara serius dengan seseorang "Jangan berani menyentuhnya, dia milikku, aku yang akan membunuhnya dengan dua tanganku!"

Pip!

Entah siapa lagi orang yang akan dibunuh Doojoon malam ini, Luhan tidak peduli, yang dipedulikannya hanya menolong Taeyong melihat adiknya di pukuli tanpa membalas sekalipun

"taeyonga, bertahanlah!"

Doojoon terlihat menyeringai menikmati setiap pukulan yang diberikan untuk Taeyong sebelum memberi perintah pada kelima anak buahnya untuk berhenti dan berjongkok tepat di depan remaja yang membuatnya murka malam ini "Aku hanya bisa membunuh satu orang dalam satu hari, jadi anggap ini hari keberuntunganmu adik kecil! Karena bukan kau yang akan mati, tapi pria itu!...TINGGALKAN DIA!"

Setelah memastikan Doojoon dan seluruh anak buahnya pergi, baik Luhan maupun Myungsoo buru-buru berlari mendekati Taeyong. Keduanya terlihat pucat mengingat apapun yang dicoba dilakukan oleh Doojoon benar-benar mengerikan dan sangat keji.

"Taeyong…taeyonga, ini aku Luhan, kau baik-baik saja?"

Antara sadar dan tidak, Taeyong membuka pintu, begitu lega karena bisa melihat Luhan sementara bibirnya kelu tak bisa mengatakan yang harusnya dikatakan Luhan saat ini

"hyung."

"Aku akan mengobatimu-…L! BAWA ADIKKU!"

Myungsoo mengangguk, namun saat Luhan menyingkir dari hadapannya, tangan Taeyong yang dipenuhi darah lebih dulu memegang tangan Luhan, terlihat ketakutan seraya menangis untuk mengatakan "hyung, kau harus menolongnya."

"huh?"

"Cepat, waktumu tidak banyak hyung!"

"Apa yang kau bicarakan? Siapa yang harus aku tolong?"

Samar-samar, Taeyong mengatakan "dia akan membunuhnya, Sehun, Doojoon hyung akan membunuh kekasihmu di bandara!"

DEG!

Seperti ditikam sebilah pisau, hati Luhan merasakan sakit yang tidak berdarah, rasanya seluruh nyawanya dicabut mendengar kalimat mengerikan yang diberitahukan Taeyong padanya, pikirannya kosong, tubuhnya gemetar, tak mengerti harus melakukan apa selain menangis ketakutan "KAU HARUS CEPAT HYUNG!" Itulah yang dikatakan Taeyong sebelum jatuh tak sadarkan diri.

Harusnya Luhan menolong Taeyong, tapi sepertinya daripada Taeyong, dirilah yang harus ditolong karena dia kesulitan bernafas, sangat sulit "Luhan?" Matanya langsung mencari mata Myungsoo untuk bertanya "Pukul berapa saat ini L?"

Bahkan untuk melihat arlojinya sendiri Luhan tak sanggup mengangkat tangannya, dia bertanya pada Myungsoo untuk mendengar "Sepuluh malam."

"tidak, Sehun tidak boleh pergi."

"Luhan!"

Berkali-kali dia jatuh saat mencoba berdiri, rasanya perjalanan menuju mobilnya begitu jauh karena seluruh tentang Sehun memenuhi isi kepalanya "L, bawa Taeyong ke rumah sakit!"

"Bagaimana denganmu?"

"Aku harus-….Sehun…Doojoon! kau tidak bisa membunuh Sehun! kau tidak bisa-….JANGAN SEHUN—AAARGHH!"

Sekejap Luhan menginjak kuat gas mobilnya, melaju kencang ke arah bandara berharap Sehun masih disana –tidak- lebih baik Sehun sudah berada di pesawat agar Doojoon tidak bisa menyentuhnya, Sehunnya.

.

.

.

.

.

.

.

Incheon airport, 22.45 KST

.

Harusnya dia sudah berada di dalam pesawat setengah jam yang lalu, tapi fantasinya terlalu berlebihan berharap Luhan akan tiba-tiba datang mengantarnya, seperti dulu. Jadi ketika panggilan terakhir untuk masuk kedalam pesawat sudah berulang kali terdengar, Sehun tidak memiliki pilihan lain selain menghela nafas lalu berdiri, bersiap untuk pergi.

"haah~Aku pergi Lu! Sampai nanti sayang." Katanya berujar sendu berharap bisa melihat Luhan untuk kali terakhir walau nyatanya itu hanya keinginan egois miliknya "Aku sudah merindukanmu."

.

.

.

"SEHUN!"

Terhitung sudah tiga menit Luhan berlari ke segala arah, mencari Sehun dengan panik sementara waktu di arlojinya sudah berubah menjadi 22.50 KST. Kemungkinan pertama Sehun sudah berada di dalam pesawat, tapi wajahnya pucat saat membayangkan Doojoon lebih dulu menemukan Sehun dan melukai pria yang masih begitu dicintainya saat ini.

"SEHUN!"

Pundak mungilnya menabrak banyak kerumunan orang, beberapa diantara mereka memiliki badan besar, jadi rasanya Luhan bisa merasakan memar di pundaknya karena terlalu kencang menabrak banyak tubuh besar yang menghalangi jalannya.

"dimana kau! Sehun—SE-…."

TAP!

Luhan berhenti melangkah, bukan, bukan karena dia melihat Sehun, tapi Doojoon, dia melihat Doojoon sedang berjalan begitu tenang, tampilannya memakai kacamata serta topi hitam yang menutupi wajah, lalu perhatiannya tertuju pada tangan kanan Doojoon untuk menyadari bahwa pria sialan itu sedang membawa sebilah pisau ditangannya.

"tidak! Sehun, sayang kau dimana? Sehunsehunsehun!"

Luhan panik, kepalanya berputar terlalu takut, dia memikirkan kemungkinan Doojoon sudah melukai Sehun di tempat lain, tapi kemudian dia melihat pisau yang digenggam Doojoon masih bersih tanda bahwa dia masih mencari Sehun sama seperti dirinya.

"Sehun! Dimana kau, dimana-…Sehun?"

Luhan mencoba mengikuti kemana arah Doojoon melihat, melihat banyak kerumunan untuk menemukan sosok yang masih terlihat baik-baik saja, setidaknya untuk saat ini "Syukurlah, haah~ hatiku!" Luhan mencengkram kuat dadanya, dia sedang terisak hebat sementara matanya terus menatap Sehun tak berkedip.

Dia melihat Sehun sedang sibuk melihat ponselnya, sementara Doojoon menyeringai berjalan lurus ke arahnya, setidaknya Luhan berada di tengah-tengah mereka, jadi berikan dia sedikit waktu untuk mengumpulkan tenaga sampai matanya membulat, menyadari bahwa bukan hanya Doojoon, tapi Seunghyun juga berada di sana, tepat dibelakang Sehun dan memegang sebilah pisau sama seperti yang dimiliki Doojoon.

"brengsek!"

Jarak Seunghyun dan Sehun lebih dekat dari Doojoon dan Sehun, jadi ketika Seunghyun juga mengeluarkan pisau dari balik mantelnya, Luhan berlari sekuat tenaga untuk berteriak sekencang mungkin, mencoba menghentikan apapun yang akan dilakukan Doojoon dan Seunghyun pada Sehunnya, Sehunnya, Sehun-….."OH SEHUN!"

Tap!

Keempat langkah kaki mereka berhenti bersamaan, Sehun berhenti menatap tak percaya karena Luhan benar-benar datang, sementara Doojoon dan Seunghyun masing-masing menyembunyikan wajah mereka melihat bagaimana Luhan tiba-tiba datang dan mengacaukan semuanya.

"Luhan?"

"mmhhpphh…" Bibirnya bergetar hebat, dia sepenuhnya terisak begitu bersyukur melihat Sehun masih berdiri sehat tanpa cacat sedikitpun di depan kedua matanya. Keduanya bertatapan cukup lama sampai Luhan menyatukan dua tangannya, memohon pada Sehun "Jangan pergi."

"Lu…"

"Jangan tinggalkan aku lagi, jangan, aku tidak mau kau pergi—JANGAN PERGI OH SEHUN!"

"Luhan."

Buru-buru Luhan berlari, dia begitu ketakutan menyadari jarak Seunghyun dan Sehun masih begitu dekat, dia berlari gontai mendekati Sehun lalu melompat ke pelukan prianya, memeluknya erat seraya menangis kuat, memohon dari lubuk hatinya yang paling dalam dan gelap agar tidak ditinggalkan lagi, tidak lagi, tidak saat ini, tidak selamanya "JANGAN PERGI SEHUNNA! JANGAN PERGI—AKU MENCINTAIMU, AKU MENCINTAIMU OH SEHUN—rrhhh!"

Sementara dengan satu tangannya Sehun memeluk pinggang mungil Luhan, pria cantiknya justru membuat luka dengan menggigit kuat tengkuk leher Sehun, bisa saja Sehun meringis kesakitan, tapi daripada sakit dia merasa lebih bahagia karena Luhan, setidaknya Luhan saat ini, seperti Luhannya yang dulu, yang mencintainya, yang begitu posesif dan tidak ingin ditinggalkan walau hanya satu detik.

"JANGAN PERGI! Sehun—hkss, Jangan pergi."

Diam-diam Sehun menikmati tangisan dan teriakan Luhan, merasa hatinya dipenuhi kebahagiaan untuk mengatakan "Baiklah."

"huh?"

Luhan bisa melihat Seunghyun sudah berjalan menjauh, dia sedikit tenang, terlebih saat Sehun mengatakan baiklah, rasanya Luhan bisa merasa lega karena saat dia melirik ke belakang Doojoon juga menggeram marah meninggalkan bandara.

"Apa artinya kau tidak akan pergi?"

Sehun menunjukkan arlojinya lalu mengatakan "23.10 KST. Itu artinya lewat sepuluh menit, aku sudah ketinggalan pesawatku."

"ah…."

Luhan masih terisak, kali ini dia merasa lega karena tidak seperti dulu, setidaknya malam ini dia bisa mencegah kepergian Sehun. Lagipula dia terlalu takut meninggalkan Sehun seorang diri mengingat entah mengapa Doojoon dan Seunghyun sangat ingin menyakiti kekasihnya.

"Jadi apa benar kau mencintaiku?"

Luhan salah tingkah, dan Sehun bisa melihat jelas jika wajah Luhan merona karena terlalu malu untuk mengakui "Sepuluh menit lalu kau berteriak mencintaiku. Apa benar?"

"…."

"Luhan…" Sehun mengangkat dagunya, memaksa mata mereka bertemu dibalas tawa yang terdengar lelah dari Luhan "sial! Apa aku harus mengulangnya lagi?"

"Ya, telingaku merindukan ucapan cinta dari kekasihku!"

"tsk!"

"Katakan!"

"Apa?"

"Kau mencintaiku!"

"Kau sudah mendengarnya!"

"Aku ingin mendengarnya lagi!"

"Tidak!"

"Lu!"

"Tidak!"

"Baiklah, aku akan membeli tiket yang baru. Sampai nanti Lu!"

"yang benar saja Oh Sehun!"

Sehun benar-benar merajuk, dia mendorong koper yang dimilikinya, lalu berjalan penuh kepercayaan diri meninggalkan Luhan untuk mendengar pria cantiknya bergumam "Sehun kembali!"

"Tidak sebelum kau mengatakan cinta pada-…..hmmphh~"

Sehun cukup terkejut, nyatanya dia tidak menyangka Luhan akan menarik kasar lengannya, detik berikutnya Luhan berjinjit lalu dengan dua tangan yang melingkar sempurna di lehernya.

Dia juga bisa merasakan ciuman Luhan begitu lembut, terlalu lembut sampai dia merasa lemas hanya karena hisapan kecil yang diberikan Luhan di bibirnya. Lalu instingnya sebagai pria yang mendominasi bekerja, Sehun merangkul pinggang Luhan, detik berikutnya dia menunduk agar Luhan tak perlu berjinjit.

Keduanya saling bermain dan menautkan lidah, tak mempedulikan dimana mereka berada, hanya terus berciuman sampai dirasa Luhan cukup untuk meyakinkan Sehun dan menagkup wajah tampan milik pria yang mungkin sebentar lagi akan menjadi kekasihnya.

"haah~"

Keduanya masih mengatur nafas, Sehun membersihkan sudut bibir Luhan yang dipenuhi saliva untuk kembali bertanya "Jadi?"

Luhan tertawa kecil lalu berjinjit menggigit gemas bibir Sehun "Baiklah aku kalah, Aku mencintaimu."

"Sangat mencintaiku?"

Luhan mengalah lagi lalu mengangguk membenarkan "Sangat mencintaimu."

"Seperti dulu?"

"Tidak"

Melihat wajah Sehun dipenuhi kekecewaan membuat Luhan merasa bersalah namun gemas, diapun kembali berjinjit mengecupi bibir Sehun untuk menangkup wajah kekasihnya, memaksa dua mata mereka bertemu "Aku rasa Luhan yang sekarang lebih mencintaimu daripada Luhan yang dulu."

Sehun diam, hatinya begitu hangat mendengar penuturan Luhan, dan seolah tak ingin Luhan berhenti berbicara, Sehun sengaja diam untuk mendengarkan penuturan Luhan, lagi, lagi dan lagi.

"Jadi mulai saat ini, aku yang akan menjagamu Sehunna."

Sehun tersenyum namun air mata menetes begitu saja, rasanya tidak sia-sia dia harus merasakan kebencian Luhan selama satu tahun, rasanya tidak sia-dia dia harus menerima kemarahan Luhan selama satu tahun.

Ya, lagipula usaha tidak membohongi hasil, bukan?

Dia berusaha, selalu

Dia berdoa, selalu

Jadi saat ini, malam ini, Tuhan dan kedua orang tua Luhan mungkin sedang membalas semua yang dia perjuangkan untuk Luhan.

Sehun bisa merasakannya, rasa cinta Luhan sepertinya memang lebih besar dari Luhan yang sebelumnya, tapi kemudian Sehun tertawa, dia menolak saat Luhan mengatakan akan menjaganya karena sudah menjadi tugasnya untuk menjaga dan melindungi Luhan, bukan sebaliknya.

Jadi saat Luhan mengatakan hal yang begitu manis untuknya, Sehun terisak haru, dipeluknya tubuh mungil Luhan lalu berujar dipenuhi cinta untuk mengatakan "Terimakasih sudah mencintaiku lagi Lu, terimakasih sayang."

Untuk Luhan, rasa cintanya kali ini bukan semata-mata hanya untuk dirinya sendiri, semua pengakuan cinta yang diberikan pada Sehun beberapa saat lalu juga untuk memastikan bahwa mulai saat ini, malam ini, terlepas dari kebenaran yang sudah diketahui Luhan tentang siapa Doojoon dan Seunghyun, dia bisa menjaga Sehun dengan caranya, memastikan bahwa dua bajingan yang baru saja berusaha melukai prianya, tidak akan pernah bisa menyentuh Sehun, tidak lagi.

.

.

.

.


.

tobecontinued.

.


.

.

.

.

gak protes loh ya? kan udah dikasi warning siap2 begadang yak, kkkk!

btw,

.

MAAAAAKK….Tabir surya (?) akhirnya terungkap!

Gue geregeet sendiri kalo udah bongkar2an begini kkk~

Ditunggu chap selanjutnya ennn jangan suujonan lagi ama L…kesian babang gue dituduh muluk :""

.

.

,

Ah ya, sekali-kali mau kasih peringatan!

Asal JTV up pasti ada aja yang minta aneh-aneh. Belakangan juga sering bgt nge-PM minta Sehun sama fandomnya, Luhan sama Fandomnya *rrggghh!

.

.

.

.

Jadi gini, dek adek dari tetangga sebelah, haters atau siapapun yang unyuk2 selain HHS, yang udah sempet baca, mampir atau direkomendasiin JTV sama temen-temennya. TOLONG! TOLOONG BUAT SALING NGEHARGAIN OTP MASING2!

TRIPLET794 WHICH IS MEAN GUE!

FANS FANATIKNYA SEHUN, LUHAN, HUNHAN! HUN-HAN! YANG ARTINYA SEHUN-LUHAN, BUKAN SEHUN SAMA YANG LAIN, LUHAN SAMA YANG LAIN! OKE?

.

Jadi MIKIR DONG TOLONG, yakali GUE TEGA PAIRINGIN LUHAN SAMA ORANG SELAIN SEHUN ATAU SEHUN SAMA YANG DIKATA MIRIP JOHNNY? GALUCU ASLI!

.

JADI JAWABANNYA ENGGA DAN GABAKALAN PERNAH BIKIN FF MAIN PAIR SELAIN HUN-HAN (SEHUN-LUHAN!) SIP?

.

Oke, seeyou

.

Btw, Yang nungguin FROM IDOL TO LOVER, Baru bisa gue up bulan Oktober minggu ketiga. Jadi nikmatin JTV-AFB dulu yang lagi kejar tayang biar END juga ya kkk~

.

Much love :*