Previous

"Jadi mulai saat ini, aku yang akan menjagamu Sehunna."

Sehun tersenyum namun air mata menetes begitu saja, rasanya tidak sia-sia dia harus merasakan kebencian Luhan selama satu tahun, rasanya tidak sia-dia dia harus menerima kemarahan Luhan selama satu tahun.

.

.

Je'Te Veux

.

.

.

Main cast : Sehun-Luhan

Rate : T-M

.

.

.

"Sehun?"

"mmhh.."

Saat ini waktu menunjukkan pukul sebelas empat puluh lima menit, itu artinya sudah empat puluh lima menit mereka bersama sejak batalnya penerbangan Sehun empat puluh lima menit yang lalu.

Untuk Sehun, semua masih terasa seperti mimpi, kenyataan bahwa saat ini Luhan berada di pelukannya lagi setelah satu tahun adalah hal yang begitu membuatnya bahagia, semua jelas terlihat di wajahnya.

Sehun terlalu nyaman membawa Luhan di punggungnya sementara Luhan juga terlihat sangat nyaman bersandar di punggung yang sedari kecil selalu memberi kenyamanan dan perlindungan untuknya.

Terhitung sudah hampir empat puluh menit mereka berjalan tanpa arah, menikmati dinginnya malam yang sama sekali tak terasa mengingat keduanya kini berdekapan sangat erat, tangan Sehun melingkar di kedua kaki Luhan yang menggantung di belakang punggungnya sementara tangan Luhan melingkar sempurna di leher Sehun.

Sesekali dia menghirup aroma yang begitu dirindukan selama satu tahun untuk terkekeh menyadari bahwa Sehun berkeringat karena terlalu lama menggendong dirinya di punggung dan berjalan tanpa henti.

"Kau lelah?"

"Tidak"

"Turunkan aku jika lelah, kau berkeringat!"

Alih-alih menurunkan Luhan, si pria yang memiliki ukuran tubuh lebih besar justru memindahkan tangannya ke sekitar paha Luhan, sedikit berjongkok untuk kemudian mengangkat Luhan lebih sempurna lagi di punggungnya "Tidak akan, mau sampai mati sekalipun aku tidak akan menurunkanmu sampai kita tiba dirumah."

"tsk! Butuh dua jam untuk sampai ke rumah! Apa kita akan tetap berjalan seperti ini?"

"yap! Aku tidak ingin membunuh waktu."

Luhan tersenyum, dia bisa melihat Sehun sedang tersenyun, tapi daripada bertanya dia lebih memilih menyandarkan kepalanya di tengkuk Sehun, menghirup dalam aroma yang begitu dia rindukan selama satu tahun untuk bertanya "Kenapa?"

Sehun tersenyum, dia menoleh sekilas melihat wajah menggemaskan Luhan lalu mengatakan "Karena setelah satu tahun, ini adalah kali pertama aku tidak ingin hari berganti. Biasanya aku tidur lebih awal, dan saat mataku terbuka, aku berharap bisa tidur lagi agar hari dimana kau datang mengatakan cinta padaku tiba, seperti malam ini."

"….."

Luhan tidak menjawab, dia hanya membiarkan Sehun mengatakan apapun yang ingin dikatakan sementara hatinya dibuat hangat karena setiap ucapan yang dikatakan Sehun menunjukkan bahwa rasa cinta Sehun untuknya tidak pernah berkurang walau satu tahun telah berlalu.

"Jadi jangankan dua jam, dua puluh tahun pun aku bersedia berjalan asal kau ada di pelukanku."

"Tapi kau berlebihan."

"Ya, setidaknya sampai kita sampai dirumahmu." Katanya terkekeh sementara Luhan masih betah bermanja dan menghirup aroma mint segar yang keluar dari perpotongan leher pria tampan yang sedang menggendongnya.

"Tapi aku tidak ingin pulang ke rumah."

"Kenapa?"

"entahlah. Hanya tidak ingin."

Sehun menoleh lagi ke belakang, memastikan Luhan baik-baik saja untuk bertanya dan memastikan bahwa Luhan tidak menyembunyikan apapun darinya "Ada yang ingin kau katakan?"

Luhan diam beberapa saat, jujur pikirannya masih kacau mengingat siapa Seunghyun dan Doojoon dalam hidupnya, hatinya masih terlalu takut tak berani membayangkan kemungkinan dirinya kehilangan Sehun begitu besar malam ini.

Dan setiap kali pisau yang berada di genggaman Doojoon maupun Seunghyun terlintas di pikirannya, Luhan gemetar ketakutan, tangannya melingkar semakin kuat di leher Sehun berharap bahwa setelah malam ini, baik Doojoon maupun Seunghyun, mereka tidak akan bisa menyentuh Sehun selagi Sehun berada di dekatnya, selamanya

"Lu? rrrh—Luhan!"

Luhan terkesiap, sedikit bertanya mengapa Sehun terdengar kesakitan sampai tangannya refleks mengendurkan pelukannya di leher Sehun karena pelukannya terlalu kuat.

"Sehun maaf, aku tidak bermaksud mencekikmu."

Sehun tertawa walau nafasnya masih sedikit tersengal, dia juga membawa tangan Luhan untuk dikecup lalu menggeleng sebagai respon "Tangan mungil ini masih begitu kuat hmm?'

"Ish!"

"ha ha ha ….. Aku bercanda Lu, lagipula apa yang kau pikirkan?"

"Tidak ada."

"Baiklah, kalau begitu kau sangat merindukan aku, benar?"

"Terserahmu saja!"

"Hey, jangan menjawab seperti itu, aku takut."

"Kau harus terbiasa kalau begitu!"

"Jika kita sepasang kekasih aku akan terbiasa."

"Kita memang-…."

Luhan terdiam, Sehun menanti lanjutan ucapannya, keduanya bahkan terlihat canggung sampai Sehun memutuskan untuk menggoda Luhan, mencairkan suasana.

"Memang? Memang sepasang kekasih maksudmu? daebak!"

"Sehun cukup!"

"Yasudah, menurutku dan jawabanmu, kita sepasang kekasih, oke?"

"Oh Sehun!"

Lagi-lagi Sehun tertawa terpingkal sementara Luhan? Wajahnya merah padam, dia juga terus menyembunyikan wajahnya di tengkuk Sehun dan tak berniat mengatakan apapun lagi "Bawa aku pulang."

"Baiklah, kita pulang kerumahmu!"

"Bukan rumahku. Aku tidak mau kesana."

"Lalu kemana kita akan pergi?"

Merasa Sehun tak lagi menggodanya, Luhan perlahan mengangkat wajah, matanya mencari ke sekitar jalan untuk menunjuk tanpa ragu sebuah hotel mewah yang berada tak jauh dari mereka "Kesana!"

"Kemana?"

Luhan mengarahkan jari telunjuknya tanpa ragu, untuk menunjukkan hotel mewah yang sangat menggoda penglihatannya "Kesana! Aku mau kita check-in di Heaven Hotel."

"Hotel?"

Langkah Sehun terhenti, seolah memastikan dia kemudian bertanya "Apa kau yakin?"

"Ya! tentu saja! Aku mau bermalam di hotel malam ini."

"Denganku?"

"Sehuuuuunn.."

Buru-buru Sehun menoleh, bukan untuk menolak melainkan mengajukan pertanyaan konyol terkait cara Luhan memanggilnya "Apa kau baru saja merajuk?"

"Apa yang kau bicarakan?"

"Aku mendengar kau merengek Sehuuuun…itu seperti Luhanku, Luhanku yang dulu!"

"Astaga! Apa kau serius ingin membahas itu sekarang?"

"YA!"

"Sehun, kumohon."

"Jawab dulu pertanyaanku."

"Baiklah baiklah, aku akan menjawabnya setelah kita membuka kamar di hotel itu."

Kini langkah Sehun secepat kilat, dari semua hal yang membuatnya terkejut adalah kenyataan bahwa Luhan benar-benar bertingkah seperti Luhannya yang dulu, kekasihnya. Dan karena alasan itu pula, Sehun berjanji untuk tidak mengulur waktu dan hanya mendapatkan Luhannya yang dulu dalam waktu kurang satu jam malam ini.

.

.

.

.

.

Klik…

Dan disinilah mereka, di sebuah ruangan mewah lengkap dengan furniture yang bisa dikatakan lebih dari cukup hanya untuk dua orang yang menetap satu malam. Tak perlu ditanya mengapa ruangan mewah dengan satu tempat tidur yang begitu besar menjadi pilihan utama Sehun, karena selain ingin membuat Luhan merasa nyaman dia hanya ingin menjadikan malam ini sedikit lebih baik setelah satu tahun tidak menghabiskan malam bersama pria cantiknya.

"Nah, sekarang kau tunggu disini, aku akan menghangatkan air agar kau bisa membersihkan tubuh."

Sedikit tidak rela Sehun akhirnya mendudukan Luhan di tempat tidur yang akan menjadi tempat mereka menghabiskan malam bersama sesaat lagi, dia berjongkok di depan Luhan sementara tangan Luhan terus dikecupi seolah tak ingin melewatkan satupun kesempatan agar bisa menyentuh Luhannya, lagi dan lagi.

"Selagi kau mandi aku akan memesan makanan, apa yang ingin kau makan?"

Resah, Luhan tidak menanggapi seluruh pertanyaan Sehun, yang dia lakukan hanya bergerak cemas di tempatnya saat ini sementara mata serta bibirnya seolah tak fokus ingin mengatakan sesuatu.

"Sehun…"

"hmmh?"

"Aku tidak ingin mandi."

"Baiklah, aku akan mencarikan beberapa makanan untukmu, bagaimana?"

Luhan memasang wajah berfikir untuk menggeleng lagi sebagai jawaban "Tidak lapar juga."

Kini Sehun yang terlihat bingung, tangannya semakin menautkan erat jemari Luhan untuk mengecupinya berulang kali seraya mencari tahu apa yang diinginkan Luhan "Lalu apa yang kau inginkan?"

"mmhhh…."

Sialnya, Luhan justru menggigit bibirnya berulang, hal yang dia lakukan sedari kecil sebagai tanda jika dia menginginkan sesuatu tapi ragu untuk mengatakannya "Apa yang kau inginkan? Coba katakan padaku."

Luhan tertangkap basah, Sehun pasti mengetahui kebiasannya, ya jelas, pasti Sehun masih mengetahui segala sesuatu tentang dirinya dan semua hal yang menjadi kebiasannya, dan karena hal itu pula rasanya percuma menyembunyikan apa yang dia inginkan selama Sehun mengetahui gerak-geriknya jika menyembunyikan sesuatu.

"Luhan?"

"mmhh…Sehun."

Dia beralih ke pangkuan Sehun, otomatis pula Sehun duduk di lantai kamar hotel karena saat ini Luhan duduk di pangkuannya, wajahnya merah, bibirnya masih digigit cemas hingga kesan sangat menggoda tak bisa diungkiri Sehun saat ini, Luhan begitu cantik dan menggairahkan hanya karena menggigit cemas bibirnya "Aku tahu ini terdengar sangat murahan." Katanya sedikit ragu namun berbeda dengan tangannya.

Tangan mulusnya kini mulai meraba intens dada Sehun, sesekali menekan kuat namun kemudian mengusapnya penuh gairah membuat Sehun bisa merasakan gejala yang begitu menyiksa di pusat kejantanannya dibawah sana "Luhan?"

"Tapi aku sangat ingin menyentuhmu."

Bersamaan dengan kalimat ingin yang dia ucapkan, maka dengan wajahnya yang merona malu, suaranya yang terdengar ragu, Luhan mulai melepas satu persatu kancing kemeja Sehun, mencoba untuk membuat suasana menjadi lebih "akrab" untuk mereka berdua dengan menanggalkan seluruh pakaian yang kini mereka gunakan.

"Bolehkah?"

Tangannya semakin kebawah, terus kebawah sampai kancing terakhir kemeja Sehun berhasil dilepasnya, Luhan kemudian bergegas melepaskan kemeja Sehun untuk mengagumi tubuh kekar pria yang selalu menggagahinya sejak remaja.

Lagi-lagi tangannya tergoda untuk menyusuri dada bidang Sehun, memujanya, untuk kemudian tersenyum menyadari bahwa selama perpisahan mereka, seluruh lekuk tubuh Sehun masih terpatri jelas dalam ingatannya.

"Sama sekali tidak berubah, hanya semakin besar dan kuat." Katanya memuja dibalas tawa kecil dari Sehun. Keduanya masih betah berlama-lama dalam posisi mereka saat ini. Luhan yang duduk dipangkuan Sehun, menyusuri dada bidang prianya, dengan Sehun yang membiarkan si pria cantik melakukan apapun yang dia inginkan pada tubuhnya yang mendamba.

Tak ada yang berbicara beberapa saat, sampai tak sengaja mata Luhan melihat bekas jahitan di masing-masing lengan Sehun barulah air matanya menetes. Tangannya gemetar mengusap bekas jahitan di lengan kanan dan kiri pria yang masih begitu dicintainya "Apa masih sakit?" ujarnya parau dengan air mata yang diam-diam meluncur dari masing-masing kelopak matanya.

"Mianhae Sehunna."

Masih begitu jelas teringat bagaimana dia dengan kejinya meminta Sehun menghabisi dirinya sendiri. Betapa bodohnya Sehun karena menuruti keinginannya, semua terasa mengerikan malam itu, malam dimana dia hampir kehilangan Sehun hanya karena sebuah gps yang masih digunakan Sehun untuk melacaknya.

Luhan kemudian menunduk, mengecupi masing-masing bekas jahitan di lengan kekar Sehun untuk menatap prianya, menyesal dan merasa bersalah "Aku benar-benar bodoh malam itu, maafkan aku. Aku-…..hmmmh~"

Seperti inilah Sehun, selalu mencegah rasa bersalah atau menyesal agar tak dirasakan si pria mungil. Dia selalu melakukan hal itu sedari kecil, tujuannya hanya agar Luhan tidak perlu merasa bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dia lakukan.

Bibirnya yang panas tengah melumat lembut bibir mungil pria cantiknya, menyesapnya perlahan namun sedikit menuntut, perlahan Luhan pun membiasakan diri dengan ciuman khas yang selalu berhasil membuatnya menyerahkan diri, selalu, dari saat remaja, menjadi sepasang kekasih hingga malam ini saat keduanya tak memiliki status selain mantan kekasih.

Tangannya melingkar sempurna di leher Sehun, dan ketika Sehun menggigit lembut bibir bawahnya maka Luhan refleks membuka lebar bibirnya, Sehun kemudian mengambil kesempatan untuk memasuki bibir Luhan menggunakan lidahnya, mengeksplor rongga mulut pria cantiknya sesekali mengabsen seluruh gigi Luhan lalu menyesap kuat lidah sang kekasih yang terasa manis di bibirnya.

"hmmhh~"

Luhan menggeliat tatkala bibir Sehun menyesap kuat lidahnya, tubuhnya juga terasa panas karena tangan Sehun yang bebas kini masuk ke dalam kemejanya dan mengusap panas punggungnya yang dingin, semua terasa menggairahkan, belum lagi suara perpaduan bibir mereka yang begitu intens kerap membangunkan seluruh gairah mereka yang coba dipendam untuk waktu yang begitu lama.

Luhan menginginkan lebih, tapi kemudian Sehun merasa sebaliknya, tiba-tiba tautan di bibir mereka terlepas, terlihat pula benang saliva yang mengikat hingga rasanya wajah Luhan terbakar karena terlalu malu mengingat dirinya sedikit agresif di detik terakhir sebelum Sehun tiba-tiba melepas ciumannya.

"W-Wae?"

Wajahnya memerah, nafasnya terengah dan matanya berharap, Sehun masih menatapnya dingin kemudian menempelkan dua dahi mereka "Jangan menunjukkan wajah berharapmu di depan pria lain, kau dengar?"

Seperti biasa pula, ini nada saat Sehun memberi ultimatum tertinggi agar Luhan tidak bertingkah di depan pria selain dirinya, rasanya dia bisa melihat kekasihnya yang posesif seperti dulu, berbeda dengan Sehun selama satu tahun ini yang begitu sabar dan hanya pasrah jika Luhan mengatakan sesuatu yang keji dan melakukan hal gila yang menyakiti dirinya sendiri.

"Luhan."

Luhan tertegun, suara berat Sehun benar-benar seperti Sehunnya yang dulu, dia menyukainya, sangat. Jadi ketika Sehun terus memastikan agar dirinya tidak bertingkah di depan pria selain dirinya, Luhan tertawa seraya mencium cepat bibir pria tampan di depannya untuk mengatakan "Tergantung seberapa besar kekasihku bersikap posesif."

"kekasih? Siapa? Aku?"

Luhan memutar malas bola matanya untuk lagi-lagi terkekeh dan menggigit gemas bibir Sehun "Sejujurnya aku sangat membencimu."

"wae?" katanya terlihat sedih dibalas pelukan erat dari Luhan, pria yang baru saja menyebut kekasihku ini sedang mengusap punggungnya sesekali mengecupi lembut tengkuknya.

"Luhan."

Sehun bergerak cemas, namun kemudian si cantik menenangkan dengan berbisik tepat di telinga kanan pria yang dia klaim kembali menjadi kekasihnya malam ini "Karena hatiku, kau sudah mengambil seluruh hatiku, jadi aku benci saat aku menyadari bahwa selain dirimu, rasanya aku tidak bisa mencintai seseorang lagi."

Refleks tangan kekar Sehun membalas erat pelukan Luhan, dia juga mengecupi seluruh wajah dan tengkuk Luhan dengan air mata yang terlihat nyaris jatuh membasahi wajahnya "Terimakasih masih mencintaiku."

"Terkadang aku membencimu."

"Sial! Aku tidak peduli, yang jelas rasa cintamu, aku bertaruh rasa cintamu sama besar dengan milikku. Benar?" katanya menangkup wajah Luhan, memastikan kedua mata mereka bertemu sebelum tatapan Luhan berubah sendu dan menggeleng sebagai jawaban "Kau salah."

"huh?"

"Sehunna," lirihnya dengan mata berkaca-kaca untuk kembali memeluk erat Sehun, menyampaikan seluruh penyesalan yang bahkan tak bisa diucapkannya saat ini "Aku rasa aku lebih mencintaimu. Dan rasanya pula, cintaku selalu lebih besar untukmu. Hanya saja, sulit untukku mengakuinya, maaf sayang. Maafkan aku."

Tak ada yang paling membahagiakan untuk Sehun selain pengakuan cinta Luhan untuknya. Sungguh dia tidak mengharapkan lebih dari ini, tapi kemudian Luhan mengatakan hal yang tak pernah dikatakan selama mereka bersama sejak kecil. Hal ini cukup membuat emosi Sehun meluap hingga rasanya ingin dia memukul dirinya sendiri karena pernah terbersit untuk melupakan dan merelakan pria cantiknya yang begitu rapuh.

"Maaf harus membuatmu melalui waktu yang sulit sayang, maafkan aku, dan terimakasih karena terus mencintai aku dan seluruh sifat egoisku. Aku sangat berterimakasih karena kau-…."

"sstt…Luhan, sayangku, cukup. Kau tidak bersalah dan tidak perlu merasa bersalah. Aku baik-baik saja, aku tidak mengalami waktu sulit karena kau, sebesar apapun kau marah padaku, kau hanya akan berakhir memperhatikan aku, peduli padaku dan yang paling membuatku bahagia, kau selalu mencintaiku. Jadi tidak perlu meminta maaf, hmmh?"

Luhan mengangguk perlahan, detik berikutnya dia kembali memeluk erat Sehun tak berniat mengatakan satu kata pun, yang dia lakukan hanya ingin memeluk erat kekasihnya dan bersumpah untuk melindungi Sehun bagaimanapun caranya, tidak membiarkan siapapun bisa menyentuh prianya yang begitu berharga apalagi sampai membuat Sehunnya terluka, tidak akan pernah.

"Aku mencintaimu."

Tubuh Luhan terasa tegang sesaat, tapi saat tangan besar Sehun menepuk pundaknya, Luhan merasa begitu nyaman dan dilindungi, tangannya semakin melingkar erat di leher Sehun untuk membalas pernyataan cinta dari pria yang masih memenuhi seluruh hati dan pikirannya "Aku mencintaimu Sehun, rrrhh~ Aku sangat mencintaimu."

Terakhir, kali pertama dalam satu tahun debar jantung mereka bersahutan malam ini, menyuarakan rasa rindu dan rasa cinta yang terhalang emosi untuk menjerit agar bisa disatukan lagi, Luhan akhirnya membuka hatinya lagi pada Sehun, dan Sehun? rasanya, seluruh penantian, harapan dan air mata yang dia keluarkan selama satu tahun ini berbuah terlalu manis malam ini.

Luhan menjadi miliknya, lagi

Luhan kembali mencintainya, selalu

Jadi pria berparas dingin dengan rahang tajamnya itu hanya bersumpah untuk tidak kehilangan Luhannya lagi, tidak untuk dibencinya lagi, Sehun hanya akan terus menjaganya sampai nanti rambut mereka berubah menjadi putih, tangan dan kaki mereka gemetar karena usia hingga nafasnya lebih dulu berhenti tanda dia sudah menyelesaikan tugasnya menjaga Luhan, kekasihnya, belahan jiwanya.

"Aku tahu." Katanya mengangkat Luhan lalu membaringkan si pria cantik di tempat tidur. Terlihat raut kecewa dari wajah Luhan yang kini bersikeras melingkarkan tangannya di leher Sehun hingga posisi Sehun tepat berada di atasnya.

"Apa?"

"Kau hanya akan membaringkan aku di tempat tidur?"

"Ya."

"Kau tidak akan melakukan sesuatu padaku?"

"Melakukan apa?"

Luhan memalingkan wajahnya, antara kesal dan malu karena sepertinya Sehun baru saja menolaknya, lagipula ada apa dengan Sehun? Bukankah mereka baru resmi kembali menjadi sepasang kekasih? Kenapa mereka tidak melakukan hal yang seharusnya dilakukan sepasang kekasih? Bukan hanya menatapnya lembut dan terlihat tidak akan melakukan apapun saat ini.

"Terserahmu saja."

Sehun tertawa kecil, dia mengerti apa yang diinginkan Luhan, tapi kemudian pikiran sehatnya kembali mengambil alih, dia hanya tidak ingin merusak moment yang begitu berharga di hidupnya. Setidaknya tidak malam ini.

Sebagai pria sejati dia hanya sedang menahan diri untuk memperlakukan belahan jiwanya dengan lembut, penuh cinta dan tidak dipenuhi nafsu sesaat. Sehun memegang dagu Luhan, memaksa mata mereka bertemu untuk mengecup lembut bibir yang sedang menggerutu antara malu dan kecewa.

Ciumannya singkat, dia segera beralih mengecup kening Luhan lalu mengatakan dengan sangat lembut "Tidak malam ini."

"Apa alasannya?"

Sehun mengangkat bahunya, dia beralih ke samping Luhan, berbaring nyaman lalu membawa si mungil kedekapannya, tak lupa dia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka lalu mengecup berulang surai cantik yang malam ini kembali menjadi miliknya.

"Tidak ada alasan. Aku hanya ingin mendekapmu sepanjang malam tanpa harus membuatmu merasakan saki lebih dulu."

"tsk! Sejak kapan kau peduli aku kesakitan atau tidak?"

Sehun tertawa lagi, rasanya sejak awal dirinya "mengambil" Luhan, tak pernah sekalipun dia mempedulikan kenyamanan kekasihnya. Berbeda dengan malam ini, dia sudah cukup banyak belajar selama satu tahun jadi rasanya wajar jika "mengambil" kekasihnya di lain waktu, saat keduanya mulai terbiasa lagi menjadi sepasang kekasih tanpa harus mengalami fase canggung seperti malam ini.

"Mulai malam ini, semua tentangmu, semua yang kau inginkan, aku akan mempelajarinya sedikit demi sedikit. Lagipula tenang saja, saat waktunya tepat kau tetap akan menangis karena kesakitan namun tetap mendesah kuat dibawahku."

"ish!"

Luhan memukul kencang dada kekasihnya, dibalas Sehun yang tertawa dan mulai membawa tangan Luhan yang terus memukul agar melingkar di pinggangnya "Lagipula aku merasa ada yang kau sembunyikan."

Luhan tegang, tangannya tanpa sadar mencengkram pinggang Sehun seolah membenarkan tebakan kekasihnya, tapi kemudian Sehun mencairkan suasana dengan mendekap Luhan semakin erat seraya berkata "Apapun itu, asal tidak membahayakan dirimu aku tidak akan membuatnya menjadi masalah."

"Aku baik-baik saja, tapi kau…."

Kalimat terakhir sengaja Luhan katakan di dalam hati, dia tidak cukup bodoh mengatakan jika dua orang terdekatnya sedang berusaha membunuh kekasihnya. Dia hanya ingin melindungi Sehun tanpa harus membuat kekasihnya terlibat, entah bagaimana caranya, tapi mulai malam ini, sama seperti Doojoon yang terus mengawasiny, Luhan juga akan melakukan cara yang sama untuk terus mengawasi bajingan keji berkedok malaikat agar tak bisa menyentuh kekasihnya walau hanya satu helai rambut Sehunnya.

"Aku akan mengawasimu, selalu."

Suara berat Sehun menyadarkan Luhan betapa Sehun tidak akan pernah lengah saat menjaganya, jadi ketika niat mereka sama untuk saling mengawasi, Luhan lebih memilih untuk mengalah, mendekap kekasihnya semakin erat lalu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sehun "Kalau begitu jangan berkedip sekalipun, kau harus terus mengawasiku."

"Pasti, mataku hanya tertuju untukmu dan kebahagianmu."

"gomawo Sehunna."

Sehun tidak membalas, dia hanya terus mengecup kening Luhan seraya mengusap lembut punggung kekasihnya. Terus mengusapnya sampai tak lama terdengar suara dengkuran halus dari bibir si mungil.

Sehun tersenyum, nyatanya kebiasaan untuk membuat Luhan tidur masih sama, dia hanya perlu mencium kening seraya mengusap lembut punggungnya, maka Luhan akan tertidur dalam hitungan detik.

Matanya terus memperhatikan Luhan, awalnya Sehun tersenyum tapi tak lama tatapannya sendu mengetahui bahwa apapun yang coba Luhan rencanakan, yang sedang dia sembunyikan, pastilah berhubungan dengan keselamatannya.

Sekilas Sehun menunduk, mencium lembut bibir Luhan lalu berujar parau seolah memohon pada Luhan agar tidak melakukan sesuatu yang membahayakan seorang diri

"Kumohon, jangan lakukan apapun untuk melindungiku, biarkan aku yang melakukannya, melindungimu, Ya sayang?"

Setelahnya dia juga mendekap Luhan, menyusul malam yang begitu tenang dan nyaman setelah satu tahun terus merasakan malam yang menakutkan karena harus berpisah dengan belahan jiwanya, Luhannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Drrt..drtt…

Sama seperti Sehun yang merasakan malam paling nyaman setelah satu tahun, maka Luhan juga merasakan hal yang sama. Semuanya terasa begitu nyaman untuknya, pelukan Sehun, hembusan nafas kekasihnya serta dua lengan kokoh yang melingkar sempurna di pinggangnya membuat Luhan merasa aman dan dilindungi.

Drrtt…drttt..

Ya, Jika bunyi getar ponselnya tidak terdengar mungkin Luhan akan lebih memilih memeluk tubuh kekasihnya dan membiarkan panggilan sialan yang dia tebak dari rumah sakit terus berbunyi.

Rumah sakit?

Berbicara tentang rumah sakit, Luhan memiliki perasaan buruk, refleks, dua matanya terbuka untuk menemukan wajah innocent Sehun yang begitu tampan tepat disajikan di kedua matanya. Dia benar-benar tergoda untuk kembali memeluk Sehun jika matanya tak sengaja melihat nama L di layar ponselnya.

"ah benar! L!"

Dia bergumam kecil, perlahan dan dengan berat hati Luhan melepas pelukan Sehun untuk mengambil ponselnya dan diam-diam masuk kedalam toilet

Sret..!

"ASTAGA XI LUHAN! APA YANG KAU LAKUKAN? KENAPA BARU MENGANGKAT PANGGILANKU!"

"Maaf L aku harus-…banyak yang terjadi padaku dan aku rasa kau tidak akan mau mendengarkan! Ada apa?"

"Ada apa kau bilang? Remaja yang kau tinggalkan di depan clubku dia masih belum sadarkan diri dan posisi kami terdesak saat ini!"

"Taeyong? Ada apa? Kalian dimana?"

"Ya, siapapun nama remaja ini, aku rasa dia dalam bahaya!"

"Ada apa? Kau membuatku cemas L!"

"Aku tidak sengaja mendengar percakapan perawat pagi ini, mereka mengatakan Perwakilan dari Seol hospital akan melakukan kunjungan untuk memeriksa seluruh pasien remaja yang memiliki gangguan sosial, seperti suka berkelahi dan mabuk."

"Apa hubungannya dengan Taeyong?"

"Dengarkan aku lebih dulu!"

"Baiklah, baiklah."

"Dan kau tahu siapa yang akan melakukan kunjungan?"

"Siapa?"

"Yoon Doojoon!"

DEG!

Jika benar tebakan Luhan, maka itu bukan sebuah kunjungan. Pastilah Doojoon bermain aman dengan melakukan sebuah "kunjungan" hanya untuk menemukan Taeyong, dan jika benar Taeyong ditemukan di Hanyang Hospital, maka bisa dipastikan remaja yang sudah dianggapnya adik selama satu tahun ini pastilah berada dalam bahaya karena Doojoon akan mencari tahu dimana dia ditemukan? Siapa yang membawanya ke rumah sakit? Itu artinya bukan hanya Taeyong tapi Myungsoo juga akan berada dalam bahaya.

"Sial!"

"Ya! sial! Jadi cepat datang dan lakukan sesuatu!"

"Baiklah, berikan aku lima belas menit dan aku akan mencari cara agar kalian tidak bertemu dengan Doojoon. Tunggu aku!"

Pip!

Tak lama Luhan menutup ponselnya, dia segera mencuci wajahnya untuk menenangkan diri "sial! Dia bergerak sangat cepat!" katanya geram seraya membuka pintu toilet untuk menemukan Sehun tepat di depan pintu kamar mandi.

"Apa kau akan pergi ke suatu tempat?"

Terpaksa Luhan mengangguk, dia menatap menyesal pada Sehun seraya mengambil mantel miliknya untuk berhadapan legi dengan kekasihnya "Aku harus ke rumah sakit, temui aku saat jam makan siang." Ujarnya sedikit berjinjit untuk mengecup bibir Sehun lalu tak lama berlari meninggalkan kamar hotel.

BLAM!

Suara pintu hotel terdengar ditutup kencang oleh Luhan, meninggalkan Sehun yang bertanya-tanya namun harus mengakui bahwa dia tidak akan terlalu jauh mengekang Luhan selama Luhan baik-baik saja, tidak kekurangan satu apapun.

Drrt…drtt…

Kali ini ponselnya yang bergetar, Sehun berjalan ke arah meja di samping tempat tidur untuk menemukan nama Chanyeol tertera di layar ponselnya. Buru-buru Sehun mengangkat panggilan Chanyeol berharap mendapatkan informasi dari dua temannya yang diam-diam ikut membantunya mencari apa yang terjadi di masa lalu Luhan dan keluarganya.

"Yeol?"

"Temui aku di kafe biasa, sekarang!"

Tak perlu waktu lama, Sehun juga melakukan hal yang sama untuk bergegas dan meninggalkan kamar hotel untuk segera menemui Chanyeol yang sepertinya memiliki informasi untuknya, semoga.

.

.

.

.

.

BLAM!

Setelah membayar biaya taksi, Luhan bergegas berlari masuk ke dalam gedung rumah sakit, beruntung dia memiliki pakaian ganti yang diletakkan di loker, karena setelah ini dia berniat untuk segera menemui Taeyong sebelum kakinya dibuat berhenti melangkah melihat sosok mengerikan yang kini sedang menebar senyum kepada seluruh pasien yang sedang melakukan rehabilitasi di ruangan khusus.

Beberapa detik Luhan memperhatikan betapa mengerikan kepribadian Doojoon, beberapa jam lalu, tepatnya malam tadi, pria yang sedang menebar senyum pada pasien di Hanyang hospital itu hampir membunuh Sehunnya, tapi kemudian dia bersikap seolah tidak melakukan apapun seakan semua berjalan lancar untuknya.

Refleks, tangan Luhan terkepal erat. Bukan hanya Sehun yang nyaris dibunuhnya, tapi juga Taeyong, dia mungkin akan membunuh Taeyong jika hari ini dia menemukan keberadaan remaja yang dia sebut "adik" selama ini.

"brengsek!"

Jika tidak mengingat situasi dimana dia harus berpura-pura tidak mengetahui apapun, mungkin Luhan akan mendeklarasikan perangnya, tapi dia tahu Doojoon adalah satu-satunya cara untuk menemukan pria bernama Donghoon, bajingan sialan yang telah membunuh kedua orang tuanya.

Dan karena alasan itu pula, Luhan bersedia untuk berpura-pura selama dia bisa menemukan dan bertatapan langsung dengan pembunuh kedua orang tuanya.

"Apa ada remaja yang baru masuk dan menjalani perawatan malam tadi?"

"Ya, ada dua remaja yang masuk malam tadi, keduanya mengalami memar parah di wajah."

"Bisa aku melihat data mereka?"

Luhan panik mendengarnya, buru-buru dia mencari ruangan Taeyong dan berharap L tidak memberikan data apapun sampai dia mendengar suara perawat yang menemani Doojoon menjawab "Satu pasien kami tanpa identintas, tak ada yang mengetahui namanya, dia hanya dibawa oleh dua orang yang kebetulan melihatnya babak belur."

Setidaknya Luhan bisa bernafas lega, dia memiliki waktu untuk bertemu dengan Myungsoo dan Taeyong sebelum Doojoon menemui pria yang dikatakan tanpa identitas oleh perawat senior di rumah sakit tempatnya bekerja.

"Lee Taeyong."

"nde? Anda mencari siapa Dokter Xi?"

"Pasien bernama Lee Taeyong. Dimana ruangannya?"

Sementara perawat mencari nama Taeyong, Luhan masih tak berkedip memperhatikan Doojoon, tebakannya Doojoon akan lebih dulu menemui remaja tanpa identitas karena mengira Taeyong di bawa oleh orang asing.

Dan ya, tebakannya mungkin benar karena disaat yang sama perawat yang sedang mencari nama Taeyong mengatakan "Kamar 312." Yang artinya, arah mereka berlawanan, Doojoon mengambil koridor kiri sementara kamar 312 berada di koridor kanan.

"Terimakasih." Katanya bergegas mencari kama 312 lalu membukanya cepat untuk segera memindahkan Taeyong ke rumah sakit lain.

"L! Kita harus-…..Jaehyun? Apa yang kau lakukan disini?"

Tatkala Luhan melihat sosok remaja lain yang begitu familiar untuknya dia semakin terlihat panik. Terang saja jika dia panik, karena sepertinya bukan kebetulan adik kandung kekasihnya berada di kamar Taeyong mengingat jemari Jaehyun sedang menggengam erat jemari Taeyong sementara Myungsoo mendengus karena kesabarannya hampir habis.

"ayolah Lu! kenapa kau lama sekali?"

"Aku sedang-….tunggu! Kau belum menjawab pertanyaanku! Kenapa adikku ada disini?"

"Siapa-…ah si bungsu Oh maksudmu? entahlah Lu! Malam tadi dia membantuku membawa Taeyong ke rumah sakit ini. Lagipula sepertinya mereka saling mengenal."

"Bagaimana bisa?"

Luhan bergumam setengah tidak percaya untuk mendekati Jaehyun dan bertanya langsung padanya "Jaehyunna."

Yang dipanggil terlihat kacau, dan entah mengapa Luhan bisa melihat adik bungsunya terlihat begitu sedih sesekali menatap cemas pada Taeyong "hyung."

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Kenapa dia selalu terluka? Kenapa setiap kali aku bertemu dengannya, wajahnya selalu pucat, hyung?"

"Siapa yang kau bicarakan?"

"Dia, Taeyong."

Luhan seperti melihat Sehun yang sedang mengkhawatirkannya saat dirinya demam, yang membuatnya berbeda adalah saat ini Jaehyun yang menatap Taeyong begitu cemas, dan entah mengapa untuk beberapa alasan Luhan memiliki perasaan buruk tentang jenis hubungan yang dimiliki Jaehyun bersama Taeyong.

"Taeyong? Darimana kau mengenalnya?"

Dengan lirih, Jaehyun bertanya "Apa itu penting hyung? Dia terlihat sangat kesakitan dan aku ingin melindunginya."

"TIDAK—maksudku, kau tidak bisa melakukannya Jae! Kau tidak bisa melibatkan dirimu dengan Taeyong! Ini berbahaya!"

"Wae? Kenapa aku tidak bisa melindunginya?"

"Jaehyun, kau tidak mengetahui apapun tentang Taeyong. Kau bahkan-…."

"Dia mengatakan kau hyungnya. Lalu begini sikapmu terhadap adikmu hyung? Dia bilang kalian berdua memiliki hubungan yang sangat dekat."

"Ya, itu sebelum aku tahu dia-…."

"Dia sangat menyayangimu hyung! Aku bisa melihat dari caranya menyebut namamu."

Apa pasien berikutnya benar bernama Lee Taeyong?

Ya Professor Yoon, Lee Taeyong.

Beberapa suara terdengar mendekati ruangan Taeyong, dan sialnya Luhan tidak fokus karena kehadiran Jaehyun, dia hanya takut pada akhirnya Jaehyun terlibat pada masalah yang tidak seharusnya dia campuri. Tapi mengingat keadaan terlalu mendesak, Luhan segera mengambil kursi roda untuk menjalankan rencana yang sudah dia buat sepanjang perjalanan ke rumah sakit.

"Bantu aku!"

"Apa yang akan kau lakukan Lu?"

Luhan tidak memiliki waktu untuk menjelaskan, singkatnya dia hanya mengatakan "Kalian akan membawa Taeyong ke rumah orang tuaku. Disana akan ada bibi Kim dan serahkan Taeyong padanya!"

"Tapi hyung! Dia bahkan belum sadarkan diri."

Luhan memeriksa slang infus yang terpasang untuk memastikan bahwa hitungannya benar mengenai cairan metabolisme yang digunakan Taeyong saat ini "Kau tenang saja, dia hanya mengalami dehidrasi ringan. Setidaknya dia akan sadarkan diri dalam empat jam, setelah itu aku akan memeriksanya langsung. Hanya bawa dia pergi untuk saat ini."

Baik Jaehyun dan Myungsoo mengangguk, keduanya perlahan mengangkat tubuh Taeyong lalu memindahkannya sesuai instruksi Luhan. Dan saat Taeyong duduk di kursi roda, Luhan kembali memastikan cairan infus yang terpasang untuk memastikan tetesan infus milik Taeyong tidak terlalu cepat tidak pula terlalu lambat "Dia akan baik-baik saja. Sekarang pergilah, bawa dia keluar ruangan."

"Tapi mereka terlalu dekat."

"Tenang saja, aku akan mengalihkan perhatian. Ini alamat rumah kedua orang tuaku dan segera pergi darisini!"

"Tapi hyung…."

"Cepat!"

Luhan memakaikan mantelnya untuk menutupi wajah Taeyong sampai ke dagu. Jaehyun cemas, tidak mengerti situasi namun harus berakhir mengangguk dan mengambil posisi tepat di belakang kursi roda Taeyong.

"L, Sementara aku titip dua adikku, setidaknya sampai kau membawa mereka ke rumah orang tuaku."

"Baiklah."

"Sekarang pergi."

Jaehyun mengangguk, dia mulai mendorong kursi roda Taeyong sementara L dan Luhan berpura-pura melakukan percakapan sebagai keluarga pasien dan dokter yang menangani "Baiklah, sebaiknya anda segera memindahkan pasien ke rumah sakit lain."

"Terimakasih dokter Xi, saya permisi."

Keduanya sudah berada di depan pintu kamar Taeyong, bersamaan dengan itu terlihat rombongan Doojoon bergegas menghampiri untuk mencegah kepergian Taeyong yang kini sudah dibawa pergi oleh Jaehyun.

"HEY!"

Salah satu perawat berteriak, Doojoon pun terlihat marah karena target terakhirnya di Hanyang hospital lolos begitu saja sebelum langkahnya terhenti menyadari dokter yang mengizinkan target terakhirnya pergi adalah pria yang sama yang malam tadi menggagalkan rencananya untuk membunuh Sehun, mantan kekasih dari pria yang begitu ingin dimilikinya.

"Luhan?"

Luhan menoleh, dia sudah menyiapkan akting terbaiknya untuk terlihat terkejut, dan sama seperti Doojoon yang bertingkah seolah tak terjadi apapun malam tadi, Luhan melakukan hal sama dengan tersenyum canggung seolah terkejut melihat Doojoon lalu membungkuk menyapa seniornya di rumah sakit tempat dulu dia mengabdi.

"Professor Yoon."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tring!

Pintu sebuah kafe di kawasan Myeongdong terbuka, tak lama terlihat seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan kacamatanya seperti mencari seseorang yang sudah membuat janji dengannya.

"Sehun!"

Merasa namanya dipanggil, si pria tampan melepas kacamata hitamnya, matanya refleks mencari asal suara sampai terlihat dua sosok familiar yang selama satu tahun ini selalu menjaga kekasihnya dengan baik.

"Hay! Maaf membuat kalian menunggu." Katanya mendekati meja dimana Kai dan Chanyeol berada lalu menarik kursi tepat di depan dua sahabatnya.

"Jadi bagaimana? Kalian menemukan sesuatu?"

Mengabaikan pertanyaan Sehun, Kai lebih dulu bertanya pada sahabatnya "Aku dengar kau berangkat ke Beijing malam tadi, apa yang terjadi?"

Sehun tertawa kecil, memesan kopi yang sama dengan milik Kai dan Chanyeol untuk mengatakan "Luhan."

"Luhan?" keduanya terlihat panik mengingat kali terakhir mereka menyebut nama Seunghyun sebagai tersangka, hubungan Kai dan Chanyeol sedikit merenggang dengan Luhan. "Ada apa dengan Luhan?"

"Jangan cemas, tidak terjadi apapun pada Luhan. Sebaliknya, aku rasa Luhan sedang merencakan sesuatu, seorang diri."

"Apa maksudmu?"

"Dia tiba-tiba datang ke bandara, berteriak memintaku untuk tidak pergi, lalu setelahnya dia menangis seolah mengetahui hal yang membuatnya sangat ketakutan, tapi dia tutupi dengan terus mengatakan maaf padaku."

"Bagaimana jika Luhan benar-benar menyesal?"

"Kau benar, Luhanku menyesal. Hanya saja kita bertiga tahu, sangat mengetahui, bagaimana Luhan saat dia berbohong dan menyembunyikan sesuatu, benar?"

"Ya, semua gerak bibir dan caranya menatap menjadi canggung dan kosong."

"Tepat! Aku bisa merasakannya malam tadi, lagipula terlalu mendadak Luhan mengatakan ingin kembali menjadi kekasihku."

"Mwo? / Apa kau bilang?"

Baik Kai dan Chanyeol menunjukkan wajah terkejut mereka sementara Sehun tersenyum percaya diri seraya menyesap kopi yang baru saja dia pesan "yap! Kami kembali menjadi sepasang kekasih."

"Yang benar saja?! / Apa kau demam?"

Sehun memutar malas bola matanya, dia juga sengaja mengeluarkan ponsel lalu melemparnya ke tengah meja "Hubungi Luhan dan pastikan sendiri. Aku malas berdebat." Katanya kesal membuat wajah Kai dan Chanyeol terlihat sangat bodoh menyadari bahwa saat ini Sehun sama sekali tidak bercanda mengenai hubungannya dan Luhan.

"Jadi kau benar kembali padanya? Maksudku, Luhan benar sudah kembali menjadi kekasihmu?"

"hmmmh…Dia kekasihku."

"daebak / oh, syukurlah!"

Masing-masing dari Kai dan Chanyeol kini memeluk Sehun, menyampaikan rasa bahagia dan syukur mereka mengingat tak perlu lagi air mata hanya untuk sekedar meminta Luhan untuk menemani mereka menemui masing-masing dari Kyungsoo dan Baekhyun.

"hey…akusesak—le-pas!"

"Kenapa kau sangat lambat idiot! Kau membuat kami menderita terlalu lama!"

"lepas…hey!"

"Jika seperti ini tidak perlu tinggal terpisah lagi, kami bisa-…"

"yak…"

"Kyungsoo, Taeohku."

"Baekhyun, kami bisa bersama mereka tanpa takut Luhan akan merasa tersinggung atau-…."

"y-YAK!"

Sehun menghempas masing-masing tangan Kai dan Chanyeol yang memeluk erat lehernya, menatap kesal sesekali bergumam marah karena keduanya bukan memeluk tapi lebih mencekik hingga nafasnya sulit dan warna mukanya menjadi merah karena sesak.

"Menjijikan sekali!"

"eyy! Kami kan hanya mengucapkan selamat padamu!"

"Diam dan cepat duduk!"

Kedua sahabatnya terkekeh untuk mengalah, masing-masing dari mereka terlihat sangat bahagia sampai wajah serius Sehun terlihat dan kembali bertanya mengenai apa yang mereka temukan dan siapa yang mereka cari selama satu tahun ini.

"Jadi bagaimana? Apa yang kalian temukan?"

"ah ya, Baiklah. Ini…"

Kai mengeluarkan satu lembar foto dan yang membuat Sehun terkejut adalah karena pria di foto tersebut adalah pria yang dia ketahui telah bekerja untuk ayah Luhan untuk waktu yang lama "Seunghyun?"

"Dan pria sialan ini…."

Kali ini Chanyeol juga mengeluarkan satu lembar foto di meja mereka, dan tidak seperti foto pertama, Sehun juga memiliki keyakinan bahwa pria yang bekerja satu profesi dengan kekasihnya terlibat dengan kejadian mengerikan satu tahun yang lalu.

"Doojoon?"

"Ya, Untuk Seunghyun, kami memiliki bukti bahwa dia berada di penjara kejaksaan di malam ayah Luhan meninggal."

"Dan untuk Doojoon, di malam yang sama saat kecelakaan ibu Luhan terjadi, dia terlihat berada tak jauh dari restaurant tempat kau dan Luhan membuat janji dengan ibu kalian."

"Yang membedakan bukti untuk Doojoon masih terlalu samar mengingat wajahnya tidak terlihat dalam foto yang kami miliki."

"Lalu? Apa hubungan mereka dengan pria ini?"

Sepertinya lengkap sudah saat Sehun mengeluarkan selembar foto yang menunjukkan seorang pria dengan cacat di mata kirinya, ketiga foto itu sejajar seolah menjawab seluruh teka teki yang menghantui menyadari bahwa selama ini, semua hal mengerikan yang terjadi pada Luhan mereka tidak lepas dari masa lalu mengerikan yang pernah terjadi padanya.

"Siapa pria ini?"

Sehun tersenyum tipis untuk menjawab "Ko Donghoon."

"Darimana kau mendapatkan informasi tentang pria ini?"

"Aku mencuri database file pria ini dari ayahku."

"Lalu kau menemukan sesuatu?"

"Tidak, sampai kalian mengeluarkan masing-masing foto Seunghyun dan Doojoon."

"Apa maksudmu?"

Sehun memegang lagi ponselnya, mencari sesuatu didalam sana dan menunjukkannya tanpa ragu pada Kai dan Chanyeol "Tertulis Choi Seunghyun, Yoon Doojoon sebagai dua orang yang diduga memiliki kekuasaan sama besar dengan Ko Donghoon. Aku tidak memiliki tebakan jika mereka orang yang sama yang selama ini berada di dekat Luhan, tapi kalian menjadikan nyata bahwa selama ini, Luhan berhadapan langsung dengan masa lalu mengerikan miliknya."

"sial!"

"brengsek! Apa yang harus kita lakukan?"

Ketiga dari mereka menunjukkan wajah cemas dan begitu pucat, jujur untuk mereka tidak ada yang lebih mengerikan dari kenyataan bahwa selama ini hidup Luhan jauh dari kata aman, tak ada yang bisa mereka lakukan untuk membawa kasus ini ke jalur hukum mengingat bukti yang mereka miliki masih satu dan dua potong, belum tersusun sempurna hingga tidak bisa disebut sebagai barang bukti.

"Aku rasa kita masih memiliki satu peluang."

"Apa?"

Lagi-lagi Kai mencari sesuatu di dalam tasnya, mengeluarkan selembar foto dan kali ini terlihat seorang remaja seusia Jaehyun yang entah mengapa dibawa Kai pagi ini.

"Siapa dia?"

"Lee Taeyong."

"Siapa?"

Buru-buru dia mencari foto lain, mengeluarkan selembar foto lagi untuk menguatkan bukti bahwa remaja bernama Taeyong ini memang memiliki hubungan dengan Doojoon dan Seunghyun "Remaja ini, aku melihatnya bersama Luhan beberapa kali. Tapi yang membuatku bertanya, dia juga selalu terlihat bersama Doojoon, jadi jika kita bisa menemukan remaja ini aku rasa masalah selesai. Dia bisa kita jadikan saksi mata atau jika dia menolak kita bisa memaksa dia untuk mengatakan apa yang dia ketahui."

"Tapi dia hanya seorang remaja."

"Aku rasa dia bukan remaja biasa."

"Apa maksudmu?"

Kai sedikit menatap ragu dua temannya lalu mengatakan "Percayalah padaku, dia bukan seorang remaja biasa."

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jadi? Apa yang kau lakukan disini?"

"Aku? Ah, jadi kau belum mengetahuinya?"

"Apa?"

"Aku bekerja untuk Hanyang Hospital, ini hari ketigaku."

"Mwo?"

Saat ini Luhan dan Doojoon berada di sebuah kafe yang terdapat di Hanyang hospital, dan tak seperti biasa, pertemuan mereka pagi ini terbilang canggung mengingat Luhan masih menyimpan kemarahannya karena apa yang nyaris Doojoon lakukan pada Sehun malam tadi.

Dan Doojoon, selain sikap Luhan yang terasa dingin, dia juga masih menyimpan kemarahan yang sama mengingat malam tadi Luhan dengan bodohnya datang menggagalkan rencananya lalu kemudian mengatakan cinta pada Sehun.

Sial

Jika bisa dia mengumpat, dia akan mengatakan hal itu tapi kemudian berita tentang Luhan yang kini bekerja untuk Hanyang hospital lebih membuatnya terkejut dan sedikit tidak menyangka Luhan akan membuat langkah begitu cepat untuk menjauhi dirinya.

"Apa yang kau katakan? Kenapa kau berhenti dari Seoul hospital?"

Rasanya ingin Luhan menjawab karena aku tidak bekerja dengan pembunuh! Tapi kemudian dia menahan diri lagi lalu mengatakan penuh luka di suaranya "Ibuku, mendiang ibuku bekerja disini saat dia masih hidup."

"huh?"

Terlihat tangan Doojoon gemetar, dia kemudian lebih memilih meletakkan tangannya di kedua paha agar tidak terlihat bahwa dirinya merasa canggung dan tegang jika Luhan membahas tentang mendiang ibunya.

Dan untuk Luhan, selama satu tahun ini dia baru menyadari reaksi Doojoon, karena tiap kali dia membahas atau menyebut ibunya, Doojoon cenderung akan menunjukkan wajah cemas sesekali bersikap salah tingkah hingga melepas kontak mata mereka.

"hyung? Kau baik-baik saja?"

"y-Ya, aku hanya merasa sedikit kesal tidak mengetahui berita kepindahanmu."

Luhan tersenyum pahit, dia hanya terus menyesap kopinya lalu menjawab "Mungkin kau terlalu fokus pada hal lain."

"Apa maksudmu?"

"Lupakan, ah ya hyung. Apa yang sedang kau lakukan disini?"

"Aku hanya sedang melakukan kunjungan pada remaja yang mengalami kekerasan." Doojoon terlihat menjijikan dengan kalimatnya, membuat tangan Luhan terkepal erat menyadari bahwa apapun yang dikatakan Doojoon, mulai saat ini Luhan hanya akan menganggapnya sebagai omong kosong.

"ah, begitukah?"

"hmmh."

Keduanya terdiam menikmati waktu canggung mereka, Luhan sedang mati-matian menahan rasa mualnya mengingat dia terlalu takut berhadapan dengan pembunuh seperti Doojoon, tapi kemudian dia harus berpura-pura tidak mengetahui apapun karena ketenangan Doojoon sungguh membuat dirinya ketakutan.

"Luhan."

"Ada apa?"

"Apa Taeyong menghubungimu?"

"huh?"

Doojoon bisa melihat tangan Luhan gemetar saat memegang cangkir kopinya, tapi dia mengabaikannya karena Luhan seketika merubah suaranya menjadi riang seolah menyembunyikan rasa gugupnya "Bocah nakal itu? ha ha ha! Sudah lama dia tidak menghubungiku."

"Benarkah? Apa kau yakin dia tidak menghubungimu?"

"Ya, tentu saja. Ada apa hyung?"

"Dia membuat kesalahan dan aku harus memastikan dia tidak mengulanginya lagi."

"Kesalahan apa?"

"Bukan masalah besar Lu, ini antara aku dan Taeyong."

"Aku harap bisa terlibat dengan kalian, apapun itu, aku berharap bisa terlibat."

"Kenapa?"

"entahlah, aku hanya ingin melindungi Taeyong, dia masih terlalu muda untuk menghancurkan hidupnya sendiri." katanya melirik arloji lalu dengan menyesal mengatakan "Aku rasa aku harus segera bekerja Professor Yoon, jika tidak keberatan aku akan meninggalkanmu disini."

"Luhan!"

"hmmh?"

"Malam tadi kau berada dimana?"

Sepertinya menarik, Doojoon mencoba menggali informasi tanpa mengetahui bahwa dia juga masuk ke dalam permainan Luhan, entahlah, pada akhirnya mereka akan saling menyerang, jadi selama Sehunnya masih baik tanpa luka sedikitpun, rasanya Luhan memiliki kesempatan untuk memperingatkan Doojoon saat ini.

"Ada apa?"

"Aku menghubungimu tapi kau mengabaikan panggilanku."

"Benarkah?"

"Ya, aku hanya ingin memastikan kau baik-….."

"ah, mungkin Sehun yang memegang ponselku malam tadi. Aku sama sekali tidak mendengarnya."

Nyatanya tidak ada satupun panggilan dari Doojoon, jadi ketika pria sialan didepannya mengatakan menghubunginya, Luhan hanya mencoba masuk ke dalam permainannya seraya mengatakan maksudnya dengan jelas.

"Se-Sehun? Mantan kekasihmu?"

"mhhh.. Tapi dia bukan mantan kekasihku lagi."

"Apa maksudmu?"

"Malam tadi aku dan Sehun sudah memperbaiki hubungan kami."

"Lalu?"

"Lalu kami memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih lagi."

Diam-diam Doojoon mengepalkan erat tangannya, wajahnya juga terlihat begitu menakutkan membuat Luhan sedikit menyesal mengatakan terlalu cepat hubungannya dan Sehun pada pembunuh di depannya.

"Kekasih?"

Kini Luhan yang dibuat salah tingkah, nada suara Doojoon benar-benar sangat menakutkan, dia hampir gila karena nyatanya penekanan kekasih yang diucapakan Doojoon seolah ingin mengingatkan Luhan bahwa dia bisa lebih berkali-kali lebih mengerikan daripada malam tadi.

Dan karena alasan itu pula, Luhan lebih memilih menghadapi kemarahan Doojoon dengan mengatakan siapa Sehun untuknya "Ya, Sehun kekasihku. Aku membuat kesalahan satu tahun lalu dengan meninggalkannya di hari pernikahan kami, harusnya aku tetap berjalan menyambut uluran tangannya di altar saat pernikahan kami, harusnya aku tidak menyakitinya dengan pergi meninggalkan, dan kau harus tahu bahwa aku, aku sangat mencintainya hyung, aku bahkan menyesal mengikuti ucapanmu yang terus mengatakan bahwa Sehun membunuh kedua orang tuaku, dia tidak pernah melakukannya, tidak pernah melakukan hal keji seperti itu!"

Mata Luhan dipenuhi kemarahan, putus asa dan penyesalan yang begitu dalam, dia bahkan menghapus air matanya lalu menatap Doojoon tak berkedip "Aku akan mati jika dia terluka, dan aku-…Aku tidak akan pernah meninggalkan Sehun lagi, selamanya. Aku permisi hyung!"

Luhan dan pengakuan cintanya meninggalkan Doojoon dengan kemarahan, pria mengerikan itu bahkan mengepalkan erat tangannya terlalu erat menebak bahwa apapun yang dilakukan Taeyong pastilah mempengaruhi setiap keputusan yang dibuat Luhan malam tadi.

"aku pastikan akan menghabisi kalian dengan tanganku sendiri!"

.

.

"haaah~"

Luhan terisak disela pernyataan perang yang tanpa sengaja dia ucapkan pada Doojoon, hatinya dipenuhi keraguan dan ketakutan tapi berakhir meyakini bahwa ini adalah satu-satunya cara agar Doojoon mengetahui seberapa berharga Sehun di dalam hidupnya.

"sial! Dia benar-benar terlihat seperti seorang pembunuh! Dia-…Taeyong!"

Dan alih-alih bekerja, Luhan lebih memilih untuk berlari meninggalkan gedung rumah sakit, memastikan bahwa Jaehyun dan Taeyong sampai di rumah orang tuanya dan tak ada satu kekurangan apapun pada kedua adiknya.

.

.

.

.

.

BLAM!

"TAEYONG / JAE!"

Jujur sudah satu tahun lamanya Luhan meninggalkan rumah, tak pernah sekalipun dia berani menginjakan kaki dirumah yang memiliki segala kenangan manis bersama kedua orang tuanya.

Luhan memutuskan pergi tepat di hari setelah kedua orang tuanya dimakamkan, setelahnya dia tidak pernah kembali, dia hanya sesekali memberi kabar pada pengurus rumah tangganya tanpa sekalipun datang.

Berbeda dengan hari ini, dia terpaksa menyakiti hatinya sendiri saat dua kakinya menapak lagi kenangan di rumah yang membesarkannya. Awalnya sesak, tapi dia sudah semakin dewasa untuk tidak bersikap kekanakan, dia hanya tidak tahan melihat beberapa foto keluarga yang dipenuhi ekspersi konyol kedua orang tuanya.

Sebisa mungkin dia mengabaikannya untuk mendapati bibi Kim menatap sendu padanya, seolah bersyukur karena akhirnya putra tunggal dari dokter dan detektif Xi kembali menginjakan kakinya lagi ke rumah yang memiliki kenangan indah bersama kedua orang tuanya.

"Xiao Lu."

Luhan menunduk sesaat untuk menghapus cepat air matanya, dia membesarkan hati agar kenangan buruk itu tidak membuatnya lemas dan menjadi emosi seperti dulu, Luhan hanya berusaha menguatkan diri untuk tidak membuat satu-satunya keluarga yang tersisa untuknya menangis karena cemas.

"Hey bi…"

Luhan berjalan mendekati bibi Kim, memeluknya erat sementara dia membiarkan wanita paruh baya di pelukannya menangis haru karena bahagia "Aku pulang bi."

"Kenapa lama sekali untukmu kembali ke rumah? Dasar anak nakal!—hksss.."

"ssstt…Maafkan aku bi, maaf. Aku sudah pulang sekarang, jangan menangis hmm." Ujarnya sendu menciumi surai wanita paruh baya yang sudah membesarkan ibunya dan kini juga menjaganya dengan baik.

Luhan dan Bibi Kim masih saling melepas rindu sampai matanya tak sengaja melihat Jaehyun sedang menopang Taeyong di pelukannya. Keduanya tersenyum namun terlihat sendu seolah memiliki rasa haru yang sama dengan yang bibi Kim rasakan saat ini.

"Kalian baik-baik saja?"

Luhan sedikit berbisik dibalas anggukan dari dua adiknya "Kami baik, hyung."

Sementara Luhan masih memeluk bibi Kim dia tersenyum seraya memberikan ibu jarinya tanda dia begitu lega karena setidaknya Jaehyun dan Taeyong, kedua adiknya terlihat baik-baik saja saat ini.

"syukurlah."

.

.

.

.

.

.

.

.

Dan setelahnya Luhan segera beranjak menuju kamar yang digunakan Taeyong, memastikan keadaan Taeyong sudah sepenuhnya pulih walau nyatanya harus menemukan sedikit memar yang mengganggu pergerakan tangan kanan Taeyong saat ini.

"rrhh…"

"Apa sangat sakit?"

"Tidak terlalu hyung, sepertinya terkilir."

"Sialnya aku menebak kau mengalami retak di bagian siku lenganmu. Kau harus segera melakukan pemeriksaan keseluruhan."

"Jika aku sudah tidak merasakan sakit apa boleh aku pergi?"

Luhan fokus melepas slang infus di tangan kiri Taeyong, sedikit mengabaikan pertanyaan remaja di depannya untuk dengan tegas mengatakan "No, mulai hari ini kau tinggal di rumahku."

"Tapi hyung…."

"Wae? Apa kau mengkhawatirkan Doojoon atau Seunghyun?"

"hyung…"

"Siapapun kalian, apapun yang kalian lakukan, aku tidak peduli selama kau tidak menjadi seperti mereka."

Selama dia mengenal Luhan, dia tidak pernah melihat Luhan marah atau begitu kecewa pada sesuatu, berbeda dengan hari ini, sepertinya pria cantik yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri menyimpan rasa kecewa yang begitu dalam untuknya "Mianhae hyung."

Klik…!

Bersamaan dengan permintaan maaf Taeyong, terlihat Jaehyun membawakan makan siang untuk Taeyong, dan dilihat dari tatapannya yang selalu tertuju pada Taeyong membuat Luhan benar-benar ingin tahu jenis hubungan macam apa yang dimiliki oleh kedua adiknya.

"Aku akan menyuapimu, bilang aaa…"

"Tidak perlu, aku bisa sendiri, rrhh…"

"Apa kubilang, tanganmu masih sakit. Cepat bilang aaa.."

Tak memiliki pilihan lain Taeyong membuka mulutnya, menyantap bubur buatan bibi Kim melalui tangan Jaehyun yang merawatnya dengan tulus.

Hal ini membuat Luhan semakin bertanya-tanya, dia sengaja memperhatikan Jaehyun dan Taeyong secara intens dengan tangan terlipat di kedua dadanya "ekhem!"

Taeyong salah tingkah, berbeda dengan Jaehyun yang masih setia menyuapi dirinya walau Luhan menatap terlalu intens pada mereka "hyung…Jaehyunna."

"huh? Ada apa?"

"Luhan hyung."

"ah…." Buru-buru Jaehyun melihat Luhan untuk bertanya "Ada apa hyung?"

"tsk! Bagaimana bisa kalian saling mengenal? Sejak kapan?"

"entahlah terjadi begitu saja."

"Tidak mungkin tanpa alasan."

"Hyung sudahlah….Kau terdengar seperti Sehun hyung jika seperti ini!"

Luhan mengangkat dua bahunya malas, melihat bagaimana Jaehyun memperhatikan Taeyong pastilah adik bungsu Sehun ini memiliki perasaan pada Taeyong, mungkin jika Taeyong hanya remaja biasa tidak akan ada masalah dan keduanya tidak akan merasa sakit.

Tapi kondisi berbeda mengingat Taeyong adalah bagian dari pria bernama Ko Donghoon, karena bukan hanya Jaksa Oh, Sehun atau Yunho sekalipun, Luhan sendiri akan menentang segala jenis hubungan yang keduanya jalin mengingat jalan hidup mereka sangat berlawanan.

"well, Jika kau sudah selesai sebaiknya kau pergi J!"

"Wae? Aku ingin menemani Taeyong."

"Biar bibiku yang melakukannya!"

Nada suara Luhan sedikit keras, dan jangan katakan namanya Jaehyun jika dirinya bisa dibentak begitu saja. Jangankan Luhan, jika ayahnya yang berteriak dia akan melawan, kedua kakaknya menentang dia akan memberontak, jadi saat Luhan terdengar tidak menyukai hubungannya dengan Taeyong, Jaehyun tersinggung dan itu sangat terlihat di wajahnya.

"Dimanapun Taeyong berada aku akan menemaninya, aku tidak akan membiarkan dia terluka lagi, tidak akan pernah hyung!"

"Jika kau terus berada disisinya kau hanya akan membuat Taeyong semakin kesulitan!"

"DAN KENAPA AKU MEMBUATNYA SULIT?"

"KARENA AYAHMU TIDAK AKAN PERNAH TINGGAL DIAM! DIA AKAN MELAKUKAN HAL YANG SAMA DENGAN APA YANG DIA LAKUKAN PADAKU DAN SEHUN! MEMISAHKAN KALIAN SEPERTI DIA MEMISAHKAN KAMI!"

"hyung…Jaehyun…"

Sementara Luhan terlihat begitu murka, Taeyong memegang kuat lengan Jaehyun, dia tidak pernah melihat Luhan begitu murka seperti ini, dan entah apa kesalahannya berteman dengan Jaehyun, rasanya dia memang akan selalu berakhir seorang diri, tidak bisa memiliki tempat bergantung, sekalipun dalam hidupnya.

"Aku bukan kau dan Sehun! Aku tidak akan membiarkan ayah membuat sulit hubunganku dengan Taeyong! Aku tidak akan-….."

"OH JAEHYUN!"

Luhan sekali lagi berteriak, suasana begitu mengerikan bukan karena Jaehyun menyukai Taeyong, tapi karena Luhan tahu siapa Taeyong, karena dia tahu bagaimana Taeyong begitu diinginkan Doojoon.

Sebagai kakak dia hanya tidak ingin melibatkan dua orang adiknya sekaligus dalam bahaya, jadi saat keras kepala Jaehyun begitu membuatnya marah, maka hanya perintah "PERGI DARI RUMAHKU!" yang bisa dia katakan untuk lagi-lagi menyakiti hati remaja delapan belas tahun di depannya.

"hyung…"

Jaehyun terpaku pada perintah Luhan, hatinya sakit tapi saat Luhan kembali berteriak "SEKARANG!" dia tidak memiliki pilihan lain selain tersenyum pahit seraya memanggul tas yang dia bawa sejak malam tadi.

"Baiklah, aku pergi. Tapi kau harus tahu satu hal hyung! Aku akan tetap datang untuk Taeyong! Jika sebagai kakaknya kau tidak bisa menjaga adikmu. Maka biarkan aku, pria yang menyukai adikmu yang menjaganya! Aku tidak bisa melihatnya terluka lagi, TIDAK BISA!"

BLAM!

"Jae!"

"SIAL!"

Taeyong tersentak, tak sengaja matanya bertemu dengan mata Luhan, menatap takut pada Luhan yang terlihat sangat membencinya saat ini "Taeyonga, aku menganggapmu adik karena aku berfikir kau hanya remaja biasa yang salah dalam pergaulan. Aku ingin membuatmu terlihat normal dan diakui seperti Jaehyun. Tapi kau tahu?"

Luhan terdengar sangat kecewa, menarik kursi tepat disamping Taeyong untuk mengatakan "Aku tidak bisa memaafkan siapa Doojoon, Seunghyun dan dirimu! Kalian menipuku sejak awal, kalian mendekatiku hanya untuk membalas dendam pada ayahku! Apa yang harus aku lakukan pada kalian, huh? APA YANG HARUS AKU LAKUKAN?"

"hyung kau salah paham, Aku bisa menjelaskannya padamu. Aku-…."

"ARRGHHH!"

Alih-alih mendengarkan Taeyong, Luhan lebih memilih berteriak, dia juga bergegas meninggalkan kamarnya untuk memberi satu peringatan pada Taeyong "Doojoon sedang mencarimu, mungkin ingin membunuhmu, jadi pastikan kau tidak keluar satu langkah pun dari rumahku, kau dengar?"

"Dia selalu ingin membunuhku, selalu."

"KAU DENGAR?"

"Y-ya hyung, aku dengar."

"Dan untuk Jaehyun, kumohon, Jauhi dia, oke?"

Belum sempat Taeyong membalas, Luhan sudah lebih dulu pergi, meninggalkan Taeyong yang mengira bisa menjadikan Jaehyun sebagai teman pertamanya. Dia hanya terdiam saat Luhan untuk kali pertama terdengar sangat membencinya, dia juga tidak melakukan apapun saat Luhan memintanya untuk menjauhi Jaehyun, teman pertamanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jika kau tahu dimana Taeyong segera kabari aku Lu.

Luhan tertawa sinis membaca pesan dari Doojoon, dia juga tidak berniat membalas, hanya mengabaikannya sampai taksi yang membawanya tiba sampai di lobi rumah sakit "Terimakasih paman." Setelah membayar Luhan bergegas keluar untuk berpapasan dengan pria tampan yang malam tadi resmi menjadi kekasihnya lagi.

"Kenapa terkejut melihatku? Kau lupa sudah memiliki kekasih lagi?"

Luhan tertawa kecil, buru-buru dia merentangkan tangannya untuk memeluk si pria tampan yang selalu membuatnya merasa lebih baik dan selalu berhasil membuatnya tersenyum "Bagaimana bisa aku lupa memiliki kekasih paling tampan sedunia." Katanya mengelak seraya menyembunyikan wajahnya di pelukan Sehun "Kapan kau datang?"

"Tak lama saat kau keluar dari taksi. Kau pergi ke suatu tempat?"

"Tidak, hanya mengunjungi pasien." Katanya berjinjit untuk mencium sekilas bibir kekasihnya "Jadi, ini sudah jam makan siang?"

"Sepertinya begitu. Kau sibuk?"

"Tidak juga, jam kerjaku habis. Kita bisa makan siang dan sisanya bisa kita habiskan untuk kencan."

"Kencan?"

"mmhh..Kau tidak mau?"

Sehun terlihat bingung, dia menggaruk asal tengkuknya untuk memberitahu Luhan sedikit merasa bersalah "Lu, aku rasa kita tidak bisa berkencan."

"Wae? Kenapa tidak bisa?" katanya kesal dibalas senyum canggung dari Sehun "Aku membawa belahan jiwaku yang lain di dalam mobil."

"MWO? BELAHAN JIWAMU YANG LAIN? SIAPA?"

"ummhh…."

"DIMANA MOBILMU?"

Dengan ragu Sehun menunjuk mobil silvernya untuk memberitahu Luhan "Disana!"

"brengsk! Berani sekali kau memiliki belahan jiwa yang lain! Apa kau sudah gila?"

Tak perlu waktu lama, gerutuan Luhan terdengar sangat memekakan telinga Sehun, si pria tampan terlihat tidak ingin menjelaskan dan lebih memilih mengikuti Luhan yang sedang berjalan ke arah mobilnya, terlihat sangat murka.

Klik!

"DIMANA BELAHAN JIWAMU YANG—astaga…"

Luhan membeku di tempatnya, jika benar ini belahan jiwa Sehun yang lain, itu artinya, anak bayi yang akan berusia satuh tahun kurang dari dua bulan ini juga merupakan belahan jiwanya, hidupnya.

"Sehunna…"

"hmmhh?"

"Dia juga belahan jiwaku."

Anak bayi sepuluh bulan itu menatapnya berkaca-kaca, seolah takut karena Luhan masih menunjukkan dua bola mata yang siap keluar dari matanya "huwe~huwaaa~ mamamama~"

"Astaga Kim Taeoh."

Buru-buru Luhan melepas seatbelt khusus bayi yang dipasang Sehun, menggendong keponakan kecilnya untuk menatap marah pada Sehun "Bisa-bisanya kau meninggalkan Taeoh di dalam mobil?!"

"Dia jagoan, sudah terbiasa!"

"OH SEHUN!"

Huwaaaa~

"Anakku sayang, jagoan Lulu. Jangan menangis hmm, Maafkan Lulu."

Sementara Luhan sibuk menepuk pelan punggung Taeoh, Sehun kini menyingkirkan kursi khusus bayi yang dipasangnya untuk tertawa melihat Luhan yang begitu menggemaskan saat menggendong keponakan mereka.

"Dia sangat sensitif pada teriakan!"

"Dan sialnya dia mempunyai paman idiot yang dengan tega meninggalkannya di dalam mobil."

"Idiot begini aku juga bisa memberikanmu adik bayi Lu."

"Diam!"

"ckckck…Galak seperti biasa!"

"Dimana Kyungsoo? Baekhyun?"

Sehun membuka pintu belakang mobil, meletakkan kursi khusus Taeoh lalu menutupnya lagi untuk menjawab pertanyaan Luhan "Mereka lembur, kau tahu kan? Semenjak kau resign sepertinya jadwal mereka berantakan."

"Divisiku tidak ada hubungannya dengan mereka."

"entahlah. Kyungsoo bilang dia memiliki tiga shift hari ini. Sementara Baekhyun dia akan lembur karena banyak operasi penting yang harus dilakukan dalam satu hari."

"Jadi Kyungsoo menyerahkan Taeoh padamu?"

"eyy…Selama satu tahun ini aku yang menjaga Taeoh dengan baik. Dia bahkan sesekali memanggilku papa jika Kyungsoo tidak mengajarkan memanggilku Samchoon."

"Papa kepalamu! KAI MASIH HIDUP!"

"Masih hidup juga tidak berguna."

"ish!"

"Araseo mian! Jadi baiknya kita segera pulang, ini sudah jam makan siang Taeoh dan Kyungsoo tidak suka putranya diberi makan sembarangan."

"Pulang? Pulang kemana?"

"Kerumahku dan Taeoh tentu saja."

"Ke rumah Kyungsoo dan Baekhyun juga?"

"Jika kau menyebutnya seperti itu, berarti ya, rumah Kyungsoo dan Baekhyun juga."

"Tapi sayang, aku belum siap bertemu dengan mereka."

Sehun tersenyum kecil, dikecupnya kening Luhan lalu mendorong paksa bahu mungil kekasihnya masuk ke dalam mobil "Malam ini mereka tidak akan pulang ke rumah, jadi hanya ada kau, aku dan Taeoh." Katanya menutup pintu mobil lalu tak lama beralih ke bangku kemudi untuk mengusap sayang surai kekasihnya.

"Lagipula mereka juga merindukanmu."

"Siapa?"

Sehun memasang seatbelt pada Luhan, mencium kening Taeoh lalu menyalakan mesin mobilnya. Sesekali tangannya menggenggam tangan Luhan untuk menguatkan, meyakinkan kekasihnya bahwa semua yang terjadi tidak selalu berakhir buruk seperti tebakannya "Satu yang harus kau tahu Lu."

"Apa?"

Lagi, Sehun mengecup bibir Luhan, perlahan kakinya menginjak gas mobil untuk mengatakan tanpa ragu bahwa "Baekhyun dan Kyungsoo, mereka sangat merindukanmu."

.

.

.

.

.


.

tobecontinued

.


.

.

.

.

Terserah kalian, tapi yang masih nangis jangan terlalu lama. Kalian kuat, jumlah HHS banyak, yang nguatin banyak, semangat! :* proud bgt bisa2 patah hati jamaah gini Kkkk~

Terus buat gue. hamdalah gue masih nge-feel, orang dibilang ga ngaruh ke gue. ngaruhnya pun tadi beberapa menit doang abis itu gue nyeletuk "Yelah, emang Luhan doang yang bisa bikin pengumuman, gue juga bisa! Nih gue kasi tau gue ga ada niatan sama sekali HIATUS, lah si inces mau pacaran mau nikah juga ga ada urusan klo dasaran gue cintanya LUHAN SAMA SEHUN. bukan Luhan sama degemnya atau Sehun nanti sama siapa!

.

Sakit hati wajar, nangis wajar, tapi klo sampe jadi haters sih gue bilang bocah, lagi kalo kita bukan HHS, kayanya kita malah kasih aplause buat Luhan udah ngakuin si degemnya, tapi UNTUNGNYA kita HHS jadi, ya daripada aplause kita Cuma bisa senyum asem manis aja liat kelakuan si nyonya

.

Jangan bilang Luhan egois, ga jaga hati fansnya, kalian tau kan tegline hidup dia tuh MANLY jadi ya…gitu deh, susah klo kebangetan Manly.

Lagian gue udah kepalang tanggung jadi HHS, kenal mereka dari 2012 sampai sekarang cintanya udah kepalang dalem, rugi kalo udahan juga :" resikonya punya OTP ya gini, kalo mau cari aman, sok atuh OTP-in anime aja, dijamin sehat jantung, sehat hati, that's why gue cinta banget sama anime YAOI kkkk~

.

.

Udah ya,, mood gue juga lagi ilang timbul, bukan karena beritanya tapi karena haters HHS, bujuk dah orang2 punya mulut ga dijaga bgt, gpp dikatain, besok mereka ngerasain juga yang kita rasain! Mangat :)))))

.