Previous
Sehun tersenyum kecil, dikecupnya kening Luhan lalu mendorong paksa bahu mungil kekasihnya masuk ke dalam mobil "Malam ini mereka tidak akan pulang ke rumah, jadi hanya ada kau, aku dan Taeoh." Katanya menutup pintu mobil lalu tak lama beralih ke bangku kemudi untuk mengusap sayang surai kekasihnya.
"Lagipula mereka juga merindukanmu."
"Siapa?"
Sehun memasang seatbelt pada Luhan, mencium kening Taeoh lalu menyalakan mesin mobilnya. Sesekali tangannya menggenggam tangan Luhan untuk menguatkan, meyakinkan kekasihnya bahwa semua yang terjadi tidak selalu berakhir buruk seperti tebakannya "Satu yang harus kau tahu Lu."
"Apa?"
Lagi, Sehun mengecup bibir Luhan, perlahan kakinya menginjak gas mobil untuk mengatakan tanpa ragu bahwa "Baekhyun dan Kyungsoo, mereka sangat merindukanmu."
.
.
Je'Te Veux
.
.
.
Main cast : Sehun-Luhan
Rate : T-M
.
.
.
.
Warning : About 6k words in this chap full w/ Mature Content
.
Prepare!
DLDR!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BLAM!
"Ayo sayang."
Tak lama keduanya sampai di rumah yang selama satu tahun ini menjadi tempat tinggal Sehun, Baekhyun, Kyungsoo serta Taeoh. Rumah yang awalnya seperti tidak memiliki kehidupan kini disulap menjadi begitu indah terhitung semenjak kelahiran Taeoh satu tahun yang lalu.
Sehun mengambil alih Taeoh ke dalam gendongannya sementara Luhan menatap takjub rumah yang jauh lebih indah dan lebih berwarna dari rumah miliknya, Kai dan Chanyeol.
Taman bermain yang lengkap dengan seluncur kecil dan dua ayunan menggantung, rumah Vivi yang dibuat berdampingan dengan taman bermain juga cukup menyita perhatian mengingat design nya begitu cantik walau warnanya sedikit tumpang tindih antara hitam, kuning dan merah dipaksa menjadi satu.
"Pasti mereka berebut memilih warna."
Luhan ingin tertawa gemas, tapi saat tangan Sehun begitu menggoda untuk digenggam, rasanya dia tidak memiliki pilihan lain selain menyerahkan lagi hidupnya pada sang kekasih, seperti dulu.
"Sehun, aku tidak yakin dengan hal ini."
"Wae?"
Yang terlihat sudah cocok menjadi ayah sedikit menautkan alis, ditambah Taeoh yang mulai kepanasan berada digendongan satu tangan sang paman membuat Luhan lagi-lagi terkekeh untuk mengatakan dengan yakin "Lupakan, ayo masuk." Katanya menyambut uluran tangan Sehun lalu bersama Taeoh, keduanya masuk kedalam rumah yang memiliki cerita sedikit lebih bahagia dari rumahnya bersama Kai dan Chanyeol.
Klik….
"Selamat datang Luhan."
Sehun menyapa lembut sang kekasih, Luhan tersenyum sangat cantik seraya berbisik "gomawo Sehunna." Sementara Taeoh sudah ribut menunjuk dimana Vivi berada tanda dia ingin bermain dengan si anjing peliharaan.
"Vi…pufftt..pufftt.."
"Taeoh ingin bermain bersama Vivi?"
"Vi….."
"Baiklah…Viviyaaa.."
Guk..Guk…!
Kali ini Luhan sedikit takjub melihat pertumbuhan Vivi dalam satu tahun, anjing kecil yang terakhir kali dia lihat sangat kecil dan terlihat kurus kini berubah menjadi sangat tampan dengan bulu putih sempurna dilengkapi dengan pakaian baseball bernomor 7 yang pastilah dipakaikan paksa oleh sang majikan.
Guk…Guk!
Dan alih-alih menghampiri Taeoh serta majikannya, Vivi lebih tertarik mendekati Luhan, menggonggong mencari perhatian seraya menjilati celana Luhan tanda bahwa si anjing kecil masih mengenali kekasih sang majikan dengan begitu baik.
"Kau lihat? Vivi masih sangat mengenalimu sayang."
Luhan terkekeh, dia kemudian berjongkok lalu menatap gemas si anjing kecil, membawa Vivi ke pelukannya lalu menciumi bibir dari hewan kecil yang sudah menemani Sehun empat tahun lamanya "aigooo, Halo saingan, apa kabarmu, hmm?"
Luhan memang kerap memanggil Vivi sebagai saingan. Karena entah sudah Vivi ke berapa yang Sehun bawa pulang ke rumah, semua anjing kecil itu akan menyita perhatian kekasihnya dan jujur Luhan sangat risih dan tidak menyukainya kala itu.
Vivi pertama dikenalkan Sehun saat mereka berusia sekitar tujuh tahun, namun sayang anjing kecil pertamanya harus meninggal karena kecelakaan hingga membuat Sehun mengadopsi Vivi yang lain. Terus seperti itu sampai akhirnya Luhan bertemu dengan "the last Vivi" begitulah janji Sehun tiga tahun yang lalu. Karena jika sampai terjadi sesuatu pada si anjing kecil putih yang menurut Luhan lebih baik dari Vivi-Vivi sebelumnya, Sehun berjanji untuk tidak mengadopsi Vivi yang lain pada Luhan.
"Kau terlihat jauh lebih tampan."
Guk….!
"Aku juga tampan? Gomawo saingan."
"Vivi bilang kau cantik."
Sehun menyela percakapan Luhan dan anjingnya sementara Taeoh dia bawa ke dalam baby walker, dan sesaat setelah memastikan Taeoh aman di baby walker miliknya, Sehun kesal karena sepertinya Vivi masih menyita perhatian Luhan sepenuhnya.
"Lu.."
"hmmh?"
"Bantu aku membuat makan siang untuk Taeoh."
"Iya sebentar sayang."
Luhan mengatakan sebentar, tapi nyatanya dia dan Vivi memiliki waktu yang jauh dari kata sebentar. Kedua majikan dan peliharaan itu seolah melepas rindu dengan cara yang berlebihan, terus berpelukan dan saling mencium hingga rasa cemburu tidak bisa disembunyikan sang majikan utama mengingat kekasihnya terlalu intim dengan si anjing, begitulah Sehun menekankan kalimat anjing sebelum menghampiri Vivi dan menggendongnya paksa, menjauhkan dari Luhan.
"ish! Cukup bermain dengan milikku! Kau harus menemani Taeoh."
Luhan terkekeh lagi, Sehun benar-benar tidak berubah sedikitpun, dia kerap cemburu pada semua hal yang menyita perhatian Luhan hingga rasanya Luhan terlalu bahagia menyadari bahwa sampai kapanpun Sehun akan tetap menjadi Sehunnya yang dulu, yang selalu bersikap posesif dan tidak mengenal siapapun saingan yang mencoba merebut perhatian kekasihnya, Luhan.
"Dan kau! Baiknya kau temani aku membuat makan siang."katanya terlihat kesal dibalas tawa kecil dari kekasihnya "araseo..araseo…Berhenti merajuk Oh Sehun."
Sehun memicingkan mata, dan sebagai tanda protesnya dia lebih dulu berjalan memasuki dapur untuk berteriak "Tidak perlu membantu! Aku bisa melakukannya sendiri!"
"Kau yakin?"
"YA! Temani Taeoh dan selingkuhanmu bermain saja Lu!"
"Aku tidak memiliki selingkuhan sayang."
"VIVI!"
"ah…." Luhan menatap bagaimana interaksi Taeoh dan Vivi yang sedang bermain lalu mengangguk pasrah membiarkan Sehun menyiapkan makan siang Taeoh seorang diri "Baiklah. Aku akan menikmati waktu selingkuhku."
"ya, ya, nikmati saja sebelum dihukum Lu!"
Dan setelahnya Luhan hanya membalas dengan kekehan, dia tidak tertarik menggoda Sehun yang masih kesal. Karena daripada menggoda kekasihnya, Luhan lebih tertarik menyusuri bagaimana Sehun, Kyungsoo dan Baekhyun mendekorasi tempat tinggal mereka.
Matanya dibuat takjub karena hampir semua sudut rumah berisi foto mereka bertiga dengan seluruh pertumbuhan Taeoh yang sengaja diabadikan, hatinya hangat melihat bagaimana mereka bertiga hidup dengan baik bersama putra kecil Kai dan Kyungsoo.
"Teruslah bahagia sampai nanti Taeoh tumbuh besar." Ujarnya mengagumi salah satu foto yang sepertinya baru dipajang di ruang utama. Foto dimana Taeoh bisa berjalan untuk kali pertama dengan ekspresi Sehun yang menjerit heboh sementara Baekhyun dan Kyungsoo berpelukan erat.
"Kau tumbuh terlalu cepat nak." Ujarnya sendu menatap Taeoh yang kini sedang bermain bersama Vivi, matanya kemudian berkaca-kaca lalu menghapusnya cepat agar tak membuat suasana menjadi canggung jika Sehun melihat dia menangis.
"haaah~ Manis sekali."
Walau hanya dengan sebuah gambar, Luhan bisa merasakan semua moment manis tentang pertumbuhan Taeoh. Dirinya, Kai dan Chanyeol memang tidak ada di gambar tersebut, tapi melihat bagaimana si kecil Jongin tertawa bahagia, Luhan rela menukarkan segala kebenciannya hanya untuk membuat Kai dan Taeoh hidup bersama, selamanya.
"Lu, sayangku kau sedang apa? Kenapa aku tidak mendengar suaramu?"
Luhan tertawa kecil lalu segera membalas teriakan sang kekasih yang terdengar cemas dari dalam dapur "Sedang merajuk sayang."
"ish! Harusnya aku yang merajuk."
Luhan tertawa lagi, berniat untuk membalas gerutuan Sehun namun terhenti tatkala matanya menatap satu foto yang menyimpan begitu banyak cerita di dalamnya. Tiba-tiba air matanya menetes, kali ini lebih banyak saat sekelibat memori tentang bagaimana foto itu diambil merekam banyak hal indah yang terjadi hari itu.
"hks…"
Luhan menutup kencang mulutnya, mencegah suara isakan terdengar sementara tangannya mengusap satu persatu keenam wajah yang terlihat bahagia di dalam foto yang masih disimpan dengan baik oleh Sehun, Baekhyun dan Kyungsoo.
Foto dimana mereka berenam masih berada di bangku SMA dan tengah merayakan hari kelulusan bersama. Saat itu hubungan Luhan dan Sehun bahkan masih belum memilik status namun keduanya bertatapan penuh cinta nyaris tak bisa membohongi chemistry yang sudah mengikat keduanya tepat di hari pertama mereka bertemu.
"Kalian juga masih menyimpannya."
Luhan bergumam pelan seraya tertawa kecil, kali ini hatinya sudah sedikit lebih tenang dan lebih baik saat menyadari bahwa Sehun, Baekhyun dan Kyungsoo menyimpan foto yang sama dengan yang dirinya, Kai dan Chanyeol miliki di ruang keluarga rumah mereka.
Dia hanya tidak menyangka setelah semua kebencian yang dia berikan, semua kemarahan yang dia lampiaskan, Kyungsoo, Baekhyun dan kekasihnya masih sudi untuk menyimpan memori yang begitu indah namun menyakitkan pada nyatanya.
"Maafkan aku." Kalimat maaf itu lolos begitu saja diiringi suara teriakan Taeoh yang entah mengapa menangis serta Vivi yang tiba-tiba menggonggong marah.
Huwekkkk…~
Guk!
Buru-buru Luhan menoleh, dia sedikit terkejut saat Taeoh menangis sementara Vivi menggonggong seolah memanggil dirinya "Taeoyaa!" ujarnya cemas lalu berjongkok untuk berhadapan dengan si bayi bermata besar persis seperti milik ibunya "Ada apa sayang? Kenapa menangis?"
Huweeeek~ cu….cu…hueek~
"Apa? Taeoh bilang apa?"
Huwekk~mamaaamamama.
Luhan panik, mau bagaimanapun ini adalah kali pertamanya menghabiskan waktu bersama Taeoh, jadi saat si bayi menangis dengan wajah merah seperti sedang marah, sang dokter hanya dibuat bingung karena tak tahu harus melakukan apa.
Huweeeekk….
"aigoo…Anaknya Lulu kenapa menangis, hmm."
Dan satu-satunya cara menenangkan Taeoh adalah membawa si bayi ke dalam gendongannya. Luhan pernah bertanya pada salah satu perawat senior di rumah sakit tentang bagaimana cara menenangkan bayi. Mencoba mengingat apa yang dikatakan perawatnya sampai kalimat "Gendong si bayi, lalu tepuk punggungnya lembut dan katakan hal-hal manis. Anak kecil menyukainya." Berhasil diingat sang dokter
Luhan pun melakukannya, menepuk lembut punggung Taeoh namun tetap saja putra Kai dan Kyungsoo masih menangis di pelukannya.
"Sehunna."
"hmmh?"
"Taeoh terus menangis."
Sehun tertawa saat Luhan membawa keponakan mereka ke dalam dapur, cara Luhan menggendong Taeoh, mencoba menenangkan Taeoh sudah sempurna, tapi saat si bayi menangis hebat, Luhan belum mengetahui apa penyebabnya dan itu membuatnya terlihat lebih menggemaskan daripada Taeoh sendiri.
"Mungkin popoknya basah." Timpal Sehun asal dibalas gelengan cepat oleh Luhan "Sepertinya bukan, dia lapar."
"ah…Kau benar. Ini jam makan siangnya."
Huweeekkk…~
"Kalau begitu cepat buat sesuatu!"
"Iya sayang, aku sedang membuat susu Tae-…ouch!"
Luhan semakin dibuat gugup, karena selain suara tangisan Taeoh, suara Sehun yang merintih kesakitan juga membuatnya cemas, dia mencari tahu apa yang membuat Sehun kesakitan sampai matanya melihat botol susu Taeoh jatuh bersamaan dengan air panas yang tak sengaja mengenai tangan Sehun.
"Sehun! Kau baik-baik saja?"
"Hanya tanganku Lu, aku baik-…."
Sret…!
Tanpa menunggu alasan Sehun, buru-buru Luhan menarik kekasihnya ke dekat wastafel, menyalakan kran air lalu membilasnya dengan cepat "Tanganmu melepuh."
"Sudah biasa, akan selalu seperti ini jika Taeoh dan aku hanya berdua di rumah."
"rrrhh! Kalian bertiga denganku! Bukan berdua."
Luhan terlihat kesal, setelah membilas tangan Sehun cukup lama dia kemudian menyerahkan Taeoh untuk mengatakan "Kau urus Taeoh, biar aku yang membuat makan siang."
"huh?"
"Apa?"
Masih kesal, sang dokter melepas paksa apron yang dipakai kekasihnya lalu bergegas memakaikan apron di sekitar pingganggnya "Aku juga bisa membuat makan siang."
"Benarkah? Sejak kapan?"
"ayolah! Berhenti meremehkan aku!"
"Tapi Luhanku memang tidak bisa melakukan hal seperti memasak, membuat makan siang dan semua yang berhubungan dengan dapur."
"ish!"
Sehun tertawa seraya menghindari pukulan "si manly" dan dengan Taeoh di pelukannya, rasanya menggoda Luhan akan menjadi berkali lipat sangat menyenangkan "aigoo..Imut sekali." Ujarnya menarik paksa tengkuk Luhan lalu mencium telak si bibir mungil hingga membuat tubuh kecil Taeoh kesulitan bernafas karena Sehun tak sengaja menekan wajahnya saat mencium Luhan.
Huweeekk….
"Sehun!"
Tak rela Luhan melepas lumatan kecil sang kekasih untuk terkekeh menyadari bahwa saat ini Taeoh sedang memasang wajah super kesal mengingat Sehun mendekapnya terlalu erat "araseo…araseo..Maafkan paman, hmmh?"
Luhan tertawa lalu membuat gerakan mengusir Sehun dari dapur "Pergilah, beri aku sepuluh menit untuk menyiapkan makan siang Taeoh."
"Makan siangku bagaimana?"
"Setelah Taeoh, aku akan membuatkan sesuatu untukmu."
"Makan dirimu saja, aku tidak menolak!"
"Berhenti mengatakan hal mesum di depan anak bayi!"
"wae? Anak bayi ini akan membuat bayi saat besar nanti."
"KELUAR SEKARANG!"
Hkss…
"he he he….Begitulah kekasih paman, galak dan sangat suka berteriak! Tapi kau akan terbiasa nanti saat Lulu tinggal bersama kita, jadi jangan menangis lagi jagoan!"
Luhan bisa mendengar dengan jelas ucapan Sehun, sedikit menyesal karena berteriak di depan Taeoh namun tak bisa menyembunyikan betapa hangat hatinya saat kalimat Lulu tinggal bersama kita diucapkan sang kekasih. Rasanya nanti, jika benar mereka akan tinggal bersama, Luhan akan mulai belajar cara mengontrol diri untuk tidak berteriak atau setidaknya menahan diri untuk tidak membuat balita satu tahun menangis karena teriakannya.
"yeah, aku akan belajar sedikit demi sedikit."
Dan setelahnya Luhan mulai fokus membuat makanan untuk si bayi, mengikuti instruksi yang tertera di belakang kemasan makanan Taeoh, dia secepat kilat membuat bubur untuk sang bayi lengkap dengan susu formula yang pastilah akan membuat Taeoh bersorak senang.
.
.
.
.
.
.
.
.
Slurrp….
"Whoa daebak. Taeoh menghabiskan semua makanan yang kau buat sayang."
"hmmh….Aku hebat kan?"
Yang berparas cantik sedang tersenyum bangga karena usahanya berhasil untuk membuat setidaknya Taeoh bersendawa tanda dia sudah merasa kenyang. Si bayi juga tidak menyia-nyiakan susu formula yang dibuat Luhan hingga menyesapnya tanpa sisa dan membuang botol susunya entah kemana.
"Kau hebat, tapi bayi ini semakin dilihat semakin mirip dengan Jongin dan aku tidak suka!"
"Dan kenapa kau tidak suka? Dia putra Jongin jadi wajar jika dia mirip Jonginku."
"Dia bukan Jongin-mu." Sehun mengoreksi membuat Luhan salah tingkah karena tatapannya tidak bercanda setiap kali menyebutkan kepemilikan atas dirinya yang membuat Sehun kesal, selalu.
"Jonginnya Kyungsoo?"
"Boleh, tapi jangan pernah menyebutnya Jonginku lagi, oke?"
"araseo…araseo…tidak perlu dibahas lagi."
"Setuju!" Sehun menimpali untuk bertanya "Tapi sejak kapan kau bisa memasak?"
"Kau masih meragukan aku?"
"Tidak sama sekali."
"Lalu?"
Sehun tertawa kecil, kini dia lebih memilih berjongkok di depan Luhan sementara Taeoh masih menikmati tepukan lembut di daerah punggungnya seraya bersandar nyaman di pelukan Luhan.
"Sepertinya aku melewatkan banyak hal tentangmu selama satu tahun ini dan aku tidak ingin melewatkan lebih banyak lagi."
Saat tangan mereka bertautan, Sehun menggenggamnya dengan lembut, terlalu lembut hingga membuat wajah sang dokter merona merah namun secepat kilat dialihkan dengan mengatakan "Kau benar, kau banyak melewatkan banyak hal tentangku selama satu tahun ini."
"Kalau begitu ceritakan semuanya padaku."
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"mmmh…Hal yang membuatku takjub, sejak kapan kau memutuskan untuk bisa memasak?"
"Sejak Mama meninggal tentu saja."
Sehun terdiam, genggaman di tangan Luhan sedikit mengundur dipenuhi rasa bersalah tiap kali topik tentang bagaimana kedua orang tua kekasihnya tiada begitu menghantui. Dan jangan katakan Luhan tidak melihat perubahan wajah Sehun, dia melihatnya, dia juga mengetahui bahwa selama perpisahan mereka, selama rasa benci dan kemarahan yang disimpan dalam hatinya, Sehun tanpa sadar mengambil posisi untuk menjadi tempat agar Luhan bisa melampiaskan rasa bencinya.
dan ya, Jika mereka belum kembali menjalin hubungan mungkin Luhan akan dengan senang hati menyalahkan Sehun, mencari alasan agar Sehun tetap berada di sekitarnya walau harus menggunakan kalimat benci yang menyiksa Sehun juga dirinya.
"Sehun."
"hhmh?"
"Kau baik-baik saja?"
"….."
Luhan tersenyum kecil, dia bisa merasakan kesedihan dan rasa bersalah hanya dengan senyum lirih yang diberikan Sehun untuknya "Kau tidak baik-baik saja." Timpal Luhan dibalas tatapan sendu dari pria yang sudah begitu dia cintai sejak kecil.
"Aku hanya merasa semua yang terjadi padamu adalah kesalahanku, aku tidak tahu harus memperbaikinya darimana, terkadang aku hanya ingin membuatmu bahagia tanpa harus mengingatkan kejadian tentang bagaimana Mama dan Papa meninggalkanmu, Aku hanya-…."
Sebuah kecupan hangat diberikan Luhan sebagai tanda bahwa dia membenci topik tentang kematian orang tuanya lengkap dengan rasa bersalah yang tidak pernah dilakukan oleh kekasihnya.
Dia sengaja menarik tengkuk Sehun, memastikan Taeoh tidak terganggu sementara ciuman lembut itu terus diberikan Luhan untuk Sehun "Jangan membahasnya lagi, hmmh?" kalimat permohonan itu diajukan langsung oleh satu-satunya putra dari mendiang Tuan dan Nyonya Xi, setelahnya, lidah mereka bertautan penuh emosi dan gairah sampai sebuah pukulan kecil dirasakan Sehun dan Taeoh adalah pelakunya.
Lu…Lulululu.
Bayi satu tahun itu memeluk kekasih pamannya terlalu posesif, membuat Luhan terkekeh merasa Taeoh mencari sesuatu dari balik kemejanya melihat dua kancing teratas dari kemejanya sudah berhasil dibuka oleh si bayi.
"y-YAK!"
Tubuh Taeoh tersentak, matanya refleks melihat sang paman kesal namun beruntung tangan lembut Luhan berhasil membuatnya tenang tatkala punggungnya di tepuk begitu lembut "Abaikan Samchoon, Lulu memelukmu."
Sehun berniat memaki lagi jika tatapan Luhan tidak memperingatkan seolah memberitahu jika berteriak lagi aku marah, membuat si pria tampan menghela dalam nafasnya untuk mengakui kekalahan telak dari bayi berusia satu tahun yang bahkan belum satu hari bersama Luhan namun sudah sangat menyukai kekasihnya.
"haah~Jagoan licik, jika seperti ini kau sangat mirip ayahmu, kau tahu hmmh?"
"Aku marah jika kau terus mengumpat pada Taeoh."
Sehun terkekeh, membuat tanda peace dengan jari tengah dan telunjuk untuk sengaja menarik lengan kekasihnya, memaksa Luhan untuk duduk di pangkuannya sementara Taeoh tidak peduli selagi tangan Luhan terus menepuk lembut punggungnya.
"Begini lebih baik."
Kini tubuh Luhan sepenuhnya milik dua pria yang masing-masing fokus pada bagian yang mereka sukai di tubuhnya. Jika Taeoh terus bermain di kancing kemejanya maka Sehun terus mengecupi tengkuk dan cuping telinganya membuat Luhan sedikit berdebar mengingat tangan kekasihnya juga melingkar sempurna di pinggangnya saat ini.
"rrhh~"
Satu erangan kecil lolos dari bibir Luhan, Sehun bertanya-tanya karena pastilah bukan dirinya penyebab erangan itu terjadi, ayolah, Sehun mengenal kekasihnya dengan baik dan Luhan tidak akan mengerang dan mendesah hanya karena dia mencium tengkuk dan cuping telinganya. Refleks, mata elangnya mencari tahu untuk menemukan hal gila yang membuatnya tiba-tiba kesal pada putra Kai dan Kyungsoo yang entah sejak kapan sudah "menyusu" pada nipple Luhan dan terlihat menyesapnya kuat.
"astaga propertiku."
Buru-buru Sehun menjauhkan wajah si bayi dari nipple Luhan, segera mengancingkan lagi kemeja sang kekasih untuk diberi balasan dan jeritan kuat dari Taeoh yang kini terlihat marah karena kegiatan rutinnya diganggu.
HU-WEEEEKKKK~MAMAMAMAAAA!
Kini baik Sehun maupun Luhan terlihat cemas. Keduanya bisa melihat wajah Taeoh benar-benar merah karena tak boleh lagi menyusu pada Luhan, hal itu membuat Luhan terkekeh sementara Sehun menatap keponakannya antara gemas dan kesal mengingat bagaimanapun juga dia belum menyesap lagi dua tonjolan menggairahkan milik kekasihnya selama satu tahun.
"Apa dia selalu seperti ini?"
Luhan menoleh, bertanya pada kekasihnya untuk memergoki Sehun yang sedang menatap menyeramkan pada keponakan mereka "Sehuuunn."
"Ya, pada ibunya terkadang pada Baekhyun."
"Ya sudah biarkan saja, aku tidak keberatan."
"Aku keberatan!"
Huweeeekkk~
"Kenapa? Kau tidak lihat keponakanmu marah?"
Sehun tetap bersikeras melarang Luhan menyusui Taeoh dengan mengancingkan kemeja Luhan tanpa tersisa sedikit pun "Sehun."
"Dengar ya! Aku bahkan belum menyesapnya lagi selama satu tahun, lalu aku harus membiarkan bayi kecil ini mengambil jatahku? Mimpi!"
Huweekk…
"Taeoh! Ini botol susumu sayang, hisap ini saja."
Sehun berusaha membujuk namun dengan tegas ditolak Taeoh yang sengaja menghempas kasar botol susunya hingga jatuh ke lantai "astaga anak ini!" katanya gemas melihat tangan Taeoh yang kembali bermain di kemeja Luhan seperti mencari tonjolan kecil yang sama dengan milik ibunya.
"Jangan."
Huweeekkk..~
"Sehun biarkan Taeoh."
"Tidak."
Tatkala Sehun mendekap erat tubuh Luhan, Taeoh tak bisa melakukan apapun untuk membuka dua kancing teratas milik kekasih pamannya. Hal itu sontak membuat wajahnya semakin merah dan menjerit HU-WEEKK~MAMAMAMA tanda dia begitu kesal dan marah karena sang paman benar-benar tidak mau mengalah untuk pertama kalinya.
"Sehun."
"No."
Tak memiliki pilihan lain, Luhan sedikit menarik tengkuk Sehun untuk berbisik "Jatahmu nanti malam. Bagaimana?"
"huh?"
"Kau bisa melakukan apapun padaku malam nanti, seperti dulu."
Sehun mengerjap bingung, antara mendapat jackpot atau masuk ke dalam rayuan Luhan dia tidak bisa membedakan, tapi saat Luhan mengatakan bisa melakukan apapun padaku, dengan cepat si pria tampan tergoda untuk membiarkan Taeoh menyusu pada Lulunya.
"Baiklah Kim Taeoh. Kau bisa melakukan apapun yang kau sukai pada Lulu."
Sehun bahkan membukakan kancing kemeja Luhan untuk Taeoh, membuat mata bayi kecil Kyungsoo berbinar hebat lalu tanpa ragu menyusu lagi pada tonjolan kecil favoritnya selain milik sang ibu dan Baekienya.
Mmhhh….
Luhan tertawa kecil mendengar Taeoh membuat suara khas saat menyusu padanya, hal itu membuatnya sangat gemas dan tak bisa menahan diri untuk mengecupi wajah Taeoh sampai dia merasakan tangan yang lebih besar terus membuka kancing kemejanya, semakin turun kebawah hingga tampilan Luhan nyaris topless karena Sehun kini membuka semua kancing kemejanya.
"Sehun sudah cukup. Kau tidak perlu membuka semua kancing kemejaku."
"Sayangnya aku perlu membuka seluruh kancing kemejamu sayang."
"Wae?"
Bersamaan dengan pertanyaan Luhan, Sehun sengaja menurunkan kemeja Luhan hingga ke pundaknya lalu menatap lapar satu nipple yang tak dihisap oleh Taeoh "Karena aku juga lapar."
"Apa maksud-…rrhhSehun!"
"Wae Lulu?"
Shit
Saat mata Sehun mengerjap lucu, Luhan kalah. ya, terang saja Luhan kalah karena tiap Sehun u menggunakan death innocent face saat merayunya, tubuh sang dokter lemas dan nyaris tidak bisa menolak.
Dan karena hal itu dia tertawa, membiarkan dua hisapan dengan tempo berbeda di tonjolan kecilnya untuk mati-matian menahan diri agar sesuatu yang berbau dewasa tidak terjadi didepan Taeoh, keponakan mereka.
"Tidak apa, lanjutkan saja."
Luhan pasrah, Sehun menyeringai menang. Dia kemudian menyesap kuat nipple kanan Luhan sama kencang dengan yang Taeoh lakukan. Keduanya terlihat berlomba sementara si pemilik terlihat kewalahan karena mau bagaimanapun juga, setelah satu tahun lamanya, ini adalah kali pertama Luhan kembali "disentuh" di salah satu bagian paling sensitif milik tubuhnya.
.
.
.
.
.
.
Klik…!
"Bagaimana dia sudah tidur?"
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, itu artinya sudah saatnya si kecil tidur lelap sementara dua orang dewasa yang menjaganya malam ini terus memperhatikan bergantian, memastikan bahwa malaikat kecil pertama di sekitar mereka tidak kekurangan apapun disaat malaikat tengah menjaganya di malam hari.
"mmhh…Tidurnya seperti malaikat kecil."
Luhan menoleh tatkala pintu kamar Taeoh dan Kyungsoo terbuka, menjawab pertanyaan sang kekasih seraya tersenyum mendapati kekasihnya hanya menggunakan handuk yang melilit di bagian bawah tanda dia baru selesai membersihkan diri setelah kelelahan menjaga Taeoh sepanjang hari.
"Dia selalu tidur seorang diri jika Kyungsoo mendapat shift malam?"
Sehun mengangguk, dipeluknya erat tubuh mungil sang kekasih sementara dagunya bersandar nyaman di pundak Luhan "Semua penghuni rumah ini terbiasa sendiri, jadi rasanya tidur sendiri bukan hal baru untuk Taeoh."
Luhan tersenyum kecil, dikecupnya lembut dua jemari Sehun tanpa melepas tatapan bangganya pada malaikat kecil Kai dan Kyungsoo "Sama ditempatku, kami bertiga juga cenderung melakukan semua seorang diri."
"Benarkah?"
Luhan mengangguk, sedikit menoleh untuk mengecup bangir hidung kekasihnya lalu menjawab "Maaf membuat kita semua harus melalui hari yang begitu berat selama satu tahun."
"Cukup minta maafnya, kau sama sekali tidak melakukan kesalahan."
"Kau tidak membenciku sedikit pun?"
"Bohong jika aku bilang tidak membencimu, terkadang saat kau membentak semua orang adalah hal yang paling menggangguku. Aku ingin marah, tapi kemudian menyadari bahwa cara kerja hatimu adalah melampiaskan pada satu hal agar merasa lebih baik dan bisa bernafas, benar?"
Sedikit termenung, Luhan hanya tersenyum pahit untuk membenarkan "Aku sangat menyedihkan."
"tidak, Kau tidak menyedihkan untukku, kau bahkan terlalu hebat bertahan sampai sejauh ini sayang, gomawo."
Luhan bisa merasakan kenyamanan luar biasa hanya karena Sehun mendekapnya semakin erat. Kedua lengan kekar kekasihnya seolah memastikan bahwa setelah ini, tidak akan ada hal buruk yang bisa datang padanya "Terimakasih juga karena tidak meninggalkan aku. Selalu bertahan dan melakukan hal gila yang diperintahkan oleh bibirku yang keji." Ujarnya tulus, menciumi lengan kekasihnya dibalas dekapan yang begitu hangat dari sang kekasih.
"Kalau begitu kapan aku bisa menyentuhmu lagi?"
Sehun menagih janjinya tanpa berbasa-basi, menyadarinya Luhan hanya bisa terkekeh seraya berbalik menghadap kekasihnya. Melingkarkan tangan di leher Sehun sementara kakinya berjinjit untuk berbisik "Aku sudah bilang malam ini kau bisa melakukan apapun padaku."
Tatkala tangan besar Sehun menarik pinggangnya mendekat, jarak keduanya kini begitu dekat, deru nafas bersahutan sementara tatapan mereka mengunci satu sama lain "got it! Biarkan aku memilikimu lagi."
Luhan tersenyum kecil, jari-jarinya bergerak menyusuri garis rahang sang kekasih hingga kedagu. Dilihatnya Sehun memejamkan mata, pasrah, dan hal itu membuat Luhan benar-benar tak tahan untuk berbisik "Miliki aku lagi seperti dulu, seutuhnya."
Mata elang Sehun terbuka, sungguh, ucapan Luhan seakan menariknya ke pusaran gairah yang begitu besar, begitu mendamba dan sebagai pria dewasa Sehun nyaris tak bisa menahan lagi gairah cintanya untuk pria mungilnya "Baiklah."
Sehun menundukkan kepalanya dengan mata tak lepas menatap Luhan. Perlahan tangannya menyusup ke balik tengkuk Luhan, menekannya lembut, penuh cinta.
Kemudian Sehun memberikan ciuman lembut di dahi, kedua kelopak mata dan turun ke garis rahang Luhan. Sesaat dia berhenti, mengagumi Luhan, sementara matanya menatap intens wajah sempurna milik kekasihnya.
"Lu."
Luhan selalu menyukai bagaimana suara berat Sehun saat memanggilnya, karena tiap si pemilik suara memanggilnya dengan lembut, dia berani bersumpah bahwa dirinya adalah pria paling bahagia karena bisa memiliki Sehun sebagai kekasihnya, hidupnya.
"hmmh?"
Sehun kembali menjelajahi wajah Luhan, perlahan menunduk, menyatukan bibir mereka untuk memberikan Luhan ciuman yang begitu intens, dalam, panjang, basah serta memabukkan yang berlangsung lama.
Ciuman yang awalnya begitu lembut kini berubah dipenuhi nafsu, Luhan bisa merasakan bibir Sehun bergerak menuntut di bibirnya, sedikit kasar, tapi kemudian Luhan berusaha mengimbangi saat menyadari bahwa ciuman yang sedang ditukar keduanya adalah ciuman penuh kerinduan karena hampir satu tahun tak saling menghangatkan.
"argh~"
Erangan kecil itu lolos dari bibir Luhan saat Sehun menggigit kecil bibir Luhan, membuka bibir sang kekasih dengan lidahnya hingga terlihat dua lidah itu bertautan dipenuhi nafsu dan cinta yang begitu besar.
Sehun menghisapnya kecil, membuat dua tangan Luhan mencakar punggungnya erat untuk dibuat lemas saat Sehun menyudahi lilitan lidah mereka dengan menjilat sisi bibirnya yang bengkak karena hisapan yang dilakukan oleh Sehun.
Tidak sabar, kini Luhan menekan tengkuk sang kekasih, memperdalam ciuman mereka, membuat Sehun semakin kehilangan kontrol diri untuk mendorong tubuh Luhan merapat ke dinding kamar Kyungsoo, membuat suara yang begitu khas sementara bibir dan tangannya tanpa henti menjamah setiap inci bagian tubuh kekasihnya.
Luhan bisa merasakan tangan Sehun menyelinap ke bathrobe milik Baekhyun yang sedang dia gunakan, mengusap sedikit menuntut kulit punggungnya sementara tangannya yang lain terus menekan kuat tengkuk lehernya.
"Sehun—!"
Buru-buru Luhan mendorong tubuh kekasihnya saat tangan Sehun melucuti tali bathrobe yang dia kenakan. Wajahnya panik namun dibalas tatapan menahan tawa dari si pria tampan dan Luhan kesal.
"Kenapa kau tertawa?"
"Aku tidak."
"Bohong."
"Aku serius!"
"SE-….sudahlah."
Luhan kesal, jelas. Tapi untuk Sehun itu adalah pemandangan paling menggemaskan saat Luhan merona malu namun dibalas wajah stoic miliknya, jadilah Luhan pergi. Beruntung tangan kekarnya bisa lebih dulu menahan tubuh si mungil, meniadakan lagi jarak diantara mereka sementara tangan Sehun mengusap sensual bibir Luhan yang terlihat membengkak, sama seperti miliknya.
"Mianhae. Aku tidak akan menggodamu lagi."
Luhan memutar malas bola matanya, mencoba memberitahu Sehun bahwa dia kesal namun lagi-lagi seluruh sikap manis Sehun meluluhkan hatinya saat sang kekasih mencium lembut keningnya.
Hati Luhan berdesir hebat seolah tak sabar merasakan lebih dari sekedar kontak fisik hanya untuk menyatu pada pria pertama di hidupnya "Sehun.." ujarnya pasrah dibalas senyum mematikan si pria tampan.
"Kau siap?"
Saat Luhan mengangguk tanpa ragu, Sehun menunjukkan senyum kecilnya, dia juga merangkul pinggang Luhan, siap menciumnya sampai Luhan mengerling Taeoh dan berbisik "Jangan disini, Taeoh."
Tak memiliki pilihan lain, Sehun tertawa sementara sang dokter memekik "Sehun!" saat Sehun memanggulnya di panggung, teriakannya mungkin akan membuat Taeoh bangun namun seperti tak peduli Sehun terus memanggul si mungil seperti beras untuk membawa Luhan ke dalam kamarnya dan
BRAK!
Dia sengaja melempar tubuh Luhan ke tempat tidurnya agak kasar, menimbulkan sensasi mendamba lain yang mungkin diharapkan Luhan agar segera terjadi "Baiklah sayang."
Suara berat Sehun menambah kacau fantasinya, sungguh, Sehun terlihat begitu seksi, terlebih saat dia membuka tali bathrobe yang dia gunakan hingga kesempurnaan dari seorang Oh Sehun bisa kembali dinikmati dan terlihat jelas di kedua mata Luhan yang kini menginginkan lebih, lebih dan lebih pada sesuatu yang menggantung di antara paha Sehun, terlihat begitu prima dan kekar.
"Aku akan mulai."
Kriet…!
Bunyi decit tempat tidur Sehun seolah menandakan bahwa permainan akan segera dimulai, Luhan menatap takut namun takjub sementara Sehun perlahan terus menjamah tubuh Luhan dan sengaja bermain untuk menggoda di tubuh kekasihnya.
"rrrh~"
Erangan pertama Luhan terjadi karena Sehun menggigit gemas nipple miliknya yang bengkak karena hisapan Taeoh, dan seolah tak mau kalah dengan sang bayi, Sehun sengaja menyesapnya kuat hingga punggung Luhan membusung ke atas sebagai respon atas kenikmatan pertamanya.
"Mana susuku?"
Luhan terengah dalam erangannya, ingin dia berteriak lakukan apapun selain menggodaku pada kekasihnya. Namun dia tahu Sehunnya bukanlah tipe yang bisa dibentak saat bercinta, untuk alasan apapun.
"Disini, disini sayangku, hisap sebanyak yang kau mau, hmm, hanya—ah~"
Saat dia mengarahkan wajah Sehun kedepan dua tonjolan kecil miliknya, Sehun tanpa berbasa basi menghisap kencang keduanya, tubuh Luhan seketika merespon dengan tangan yang dicengkram kuat di balik tengkuk sang kekasih sementara tangan Sehun yang lain mulai menyusuri tiap inci tubuhnya.
"hhmhh~"
Sungguh rasanya terlalu panas ketika jari telunjuk Sehun bermain di sekitar pusarnya, membuat gerakan melingkar untuk kemudian menyeret jarinya semakin ke bawah, memutari area paling sensitif miliknya sesekali menyentuh lubang kecil yang akan menjadi pusat nikmatnya beberapa saat lagi.
"Sehun, jebal….hhmmh."
Inilah yang Sehun tunggu, sang kekasih yang memohon agar permainan kecil mereka dihentikan. Sehun dengan senang hati menatap wajah Luhan yang dipenuhi nafsu tengah menatapnya intens, dan Sehun sangat menyukainya.
"wae?" ujarnya bertanya polos namun tidak dengan tubuhnya yang diam-diam mulai melebarkan paha Luhan. Sesekali dia mencium bibir Luhan namun memastikan saat jari telunjuknya masuk ke dalam hole sang kekasih, Sehun akan menikmati ekspresi Luhan saat menahan sakit namun merasakan nikmat di saat yang sama.
"ARH~!"
Mata Luhan membulat sempurna untuk beberapa detik, selebihnya dia mulai membiasakan pergerakan jari telunjuk Sehun di lubangnya hingga tanpa sadar menggigit bibirnya antara nikmat dan sakit yang luar biasa dirindukannya selama satu tahun ini.
"aangghh~Sehunn—babe! Arrh!"
Tatkala jari tengah Sehun ikut bergabung mengoyak lubangnya, setetes air mata terlihat di pelupuk mata Luhan. Jelas dia kesakitan, Sehun menyadarinya lalu memberikan ciuman lembut yang sedikit menuntut berharap Luhan melupakan kesakitannya untuk membalas ciumannya
"Luhan, sayangku."
Gemas, Sehun sengaja mengeluarkan dua jarinya, memberi rasa kosong di lubang Luhan untuk kemudian menghujamnya lagi, agak kasar kali ini, membuat seluruh tubuh Luhan mengejang hingga desahan panjang "Sehunn—aaah~" terdengar karena serangan dua jari kekasihnya sudah berhasil membuatnya merasakan klimaks pertama setelah satu tahun tak pernah disentuh dan dijamah seintim ini oleh pria lain selain kekasihnya.
"Kau menikmatinya?"
Sehun bertanya dibalas pukulan tanpa tenaga di dadanya oleh si mungil. Semakin gemas, pria tampan itu kini memposisikan dengan benar penisnya diantara selangkangan Luhan, merasa begitu tergoda untuk segera menyatukan tubuhnya dengan Luhan setelah semua hal mengerikan yang harus mereka lewati selama satu tahun ini.
"Kau siap? Atau ingin beristirahat?"
Masih terengah, Luhan menatap kesal pada Sehun. Ditariknya engkuk sang kekasih untuk berbisik "Kau terlalu banyak bertanya sayang, hanya lakukan apapun padaku."
"Apapun?" Sehun membalas dengan suara beratnya diiringi anggukan tanpa ragu dari sang kekasih "Apapun."
"Well, Baiklah. Apapun…..rrrh."
"ARGH!"
Dibawah sana, belum sepenuhnya kejantanan Sehun mengoyak tubuhnya Luhan sudah menjerit. Sesekali tangannya mencakar dada Sehun sementara sang kekasih juga terlihat mengerang antara nikmat dan sakit "Sempit Lu, tahan sebentar…rrhhh…"
"SEHUN SAKIT….rrhhhh."
Tubuhnya kejang karena percintaan malam ini seperti kali pertama Sehun mengambilnya, terasa sangat perih namun sepertinya dia akan kembali klimaks hanya dengan bagian atas penis Sehun yang baru menerobos masuk kedalam lubangnya.
"ssst…Tenang sayang, sebentar lagi. Cium aku, gigit bibirku."
Buru-buru Luhan mengikuti ucapan kekasihnya, dia menarik kasar tengkuk Sehun lalu mulai meraup kasar bibir sang kekasih sementara Sehun masih mencoba untuk mendorong penisnya agar menyatu sempurna dengan tubuh Luhan.
"rrhhh…"
Luhan masih mengerang, kini yang dilakukan terus menyesap, menggigit bibir Sehun sampai dirasa Sehun sudah setengah jalan dan memutuskan untuk masuk dalam sekali hentak "ARH!" dia berteriak tapi Sehun segera menghujami bibir Luhan dengan ciuman ciuman lembut.
Luhan terbuai walau air mata kembali terlihat di kedua sisi matanya. Ingin rasanya dia kembali berteriak saat Sehun mengeluarkan setengah penisnya untuk mengentaknya lagi. Kali ini terasa begitu dalam namun tak bisa diungkapkan Luhan dengan ucapan.
"Masih sakit, hmmh?"
Sehun mulai bergerak perlahan, dia menyerang Luhan dengan tempo yang sama, cepat dan dalam. Hingga Luhan menggeleng sebagai jawaban untuk mendesah "Penuh sayang, aku merasa sangat penuh." Ujarnya melingkarkan tangan di leher Sehun sementara kekasihnya terus menggerakan pinggul dan mulai terdengar suara khas saat dua penyatuan tubuh terjadi.
"Kau akan terbiasa, Oh God….Ini begitu nikmat Lu, hhmmh…"
Suara berat Sehun, peluh di wajahnya, otot lengannya yang terlihat, semua terlihat sangat sempurna di mata Luhan. Ditambah saat tubuhnya maju mundur saat mengeluar-masukkan penisnya terasa begitu nikmat dan tak lagi menimbulkan rasa sakit untuk Luhan yang pasrah mengangkang dibawahnya.
"Sehun, deep, Please, mmhhhhh~"
Mengikuti permintaan Luhan, Sehun menyanggupinya dengan senang hati. Dia sengaja mengeluarkan penisnya hingga batas kepala sementara tangannya yang lain mengangkat pinggul Luhan dan tak lama
"Arrhhhh~ / mmmhh~"
Dua erangan berbeda dikeluarkan masing-masing dari sepasang kekasih yang kini sibuk mencari nikmat. Jika Luhan merasa penyatuan diri mereka terlalu dalam, maka Sehun begitu nikmati saat otot-otot penisnya menggesek dinding rektum Luhan yang mengetat seiring hentakan yang dia berikan, Sehun menyukainya, lalu mengulang gerakan yang sama dengan tempo yang lebih kuat sementara posisi pinggul Luhan mengangkat seolah menerima tusukannya dengan sempurna.
"RRRH!"
Luhan menyerah, dia tidak bisa menahan lebih lama lagi dan akan segera mencapai klimaks keduanya hanya dalam dua puluh menit. Semuanya terlalu nikmat, terlebih saat Sehun mengulum lagi nipple nya bergantian sementara satu tangannya diam-diam mengocok penis Luhan yang mulai mengeluarkan precum.
"Ah~"
Ya, Ini terlalu nikmat, Luhan tak bisa lagi menahan diri untuk tidak mendesahkan nama kekasihnya "Sehunnakuu—mmhh~" Dan tak lama Sehun menyeringai tatkala mendapati klimaks kedua Luhan lebih banyak dari sebelumnya.
Sehun juga memejamkan matanya, untuknya jepitan lubang Luhan di kejantanannya adalah yang paling nikmat. Dia bahkan terus mencoba bergerak hingga gesekan-gesekan dengan dinding rektum Luhan yang menjepit semakin membuatnya gila hingga tak lama "Luhan, sayang—mmpphh~"
Sehun juga merasakan klimaks pertamanya yang begitu nikmat setelah satu tahun. Rasanya begitu hangat saat mengeluarkan cairannya tepat di lubang sang kekasih yang menjepit semakin erat seolah menggoda untuk dihentak lagi dan lagi.
"Whoa, Ini begitu nikmat Lu. Aku—aku ingin lagi!"
"Mwo? Tapi kita baru saja-…."
Sret…!
"SEHUN!"
Luhan terkejut tatkala Sehun mengeluarkan penisnya kasar dan menukar cepat posisi mereka, dia berbaring sementara Luhan berada di atasnya. Dan dengan sedikit sihir serta pesona miliknya, Sehun mengerling Luhan untuk membujuk dan mengatakan "On top, aku tahu ini posisi favoritmu sayang."
"tsk! Aku masih lelah."
"Tapi aku belum puas, Lu lagi…lagi…aku mau lagi."
"Astaga Oh Sehun! Kenapa bicaramu seperti itu?"
"Waeyo? Imut kan?"
Luhan benar-benar gemas, dia sengaja menunduk lalu mencium dalam bibir kekasihnya "Terlalu imut sayang, seperti bayi, bayi besarku."
Luhan kalah, dipegangnya penis Sehun yang masih tegang meskipun sudah mencapai klimaks pertamanya untuk diarahkan lagi ke dalam hole nya. Dia melakukannya dengan hati-hati, terkadang rasanya perih tapi dia tidak peduli selama itu menyatu dengan Sehun, kekasihnya.
"Perlahan saja."
Sehun memberi instruksi dibalas tatapan galak sang kekasih yang seolah mengatakan "Diam dan nikmati saja!" membuat Sehun terkekeh lalu tak lama mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah dan membiarkan Luhan mengambil gerakan berikutnya sebagai penyatuan tubuh mereka berdua.
"mmmhh~"
Luhan mulai bergerak turun, membenamkan penisnya dalam satu gerakan lambat, terengah-engah, mulutnya gemetar ketika penis Sehun sengaja bergerak seolah melebarkan lubangnya
Terlalu besar.
Luhan menjerit dalam hatinya, mengutuk segala perbedaan yang sangat terlihat di antara mereka untuk terkekeh menyadari bahwa selamanya, dirinya memang hanya diciptakan untuk mengerang di bawah Sehun.
"Luhan—rrh~!"
Luhan menyeringai melihat Sehun mengerang nikmat ketika hole miliknya melingkup sempurna di kejantanan si bayi besar, dan demi Tuhan, suara berat Sehun ketika mengerang nikmat adalah favorit Luhan yang selalu membuatnya bersemangat untuk bercinta lagi dan lagi.
"Sudah semua?"
Sehun berusaha mengontrol diri, memastikan. Dibalas raut wajah Luhan yang masih berusaha semakin turun dengan suara serak karena terlalu banyak mendesah "Sedikit lagi, sedikit lagi—ARH!"
Luhan berteriak lagi, nyatanya di posisi duduk seperti ini membuatnya semakin menggila karena nikmat. Dia seperti "dimakan" Sehun ke titik terdalamnya, tusukan sang kekasih begitu kuat namun hangat mengingat precum Sehun mulai membasahi bagian dirinya di dalam sana.
"Sudah?"
"Oh ayolah! Diam saja Oh Sehun!"
Sehun terkekeh, dia memutuskan untuk memegang pinggang Luhan sementara dua tangan Luhan bertumpu di dada bidang kekasihnya. Keduanya bertatapan penuh cinta dibalas ciuman-ciuman lembut dari Sehun yang tak bisa tahan melihat bibir Luhan terengah dan terlihat sangat seksi untuknya.
"Bergerak."
Luhan mengangguk, dia sedikit mengangkang agar posisinya lebih nyaman lalu setengah berdiri menyisakan sisa kepala penis Sehun untuk mendorongnya kuat dibantu dengan tangan Sehun yang mendorong pinggangnya "RRHH / Luhan—aaah~."
Keduanya merasakan nikmat yang sama, yang meletup dan nyaris membuat pita suara mereka rusak. Tapi apapun alasannya, selama itu adalah menyatukan tubuh mereka, rasanya mereka tidak peduli lagi pada rasa sakit dan hanya mencari nikmat di masing-masing tubuh keduanya.
"Sehun, ini sangat-….penuh, nikmat—ah~."
Untuk Luhan, jujur dia sedikit kesulitan bernafas saat Sehun berada di dalam tubuhnya. Nafasnya tercekat karena terlalu nikmat dan dibuat semakin buruk saat tangan Sehun yang tak bekerja membelai bebas di dadanya.
Si tampan juga sengan memutar dua area nipple nya. Terkadang mencubit, terkadang menggesek, dan yang membuat Luhan semakin tegang adalah ketika Sehun menariknya gemas lalu memilinnya kasar
Oh, itu sungguh nikmat.
Secara naluri kenikmatan yang diberikan Sehun di kedua nipple nya membuat Luhan menggerakan bersemangat pinggulnya. Terlalu bersemangat hingga penis Sehun nyaris keluar dari dalam tubuhnya.
"Sayang, posisiku."
Sehun mengerti, dia membantu Luhan membenarkan posisi dengan sedikit menggerakan pinggulnya. Sehun juga sengaja mendorong penisnya, ingin masuk kedalam tubuh Luhan lagi dibalas dengan satu hentakan kuat dari si pria cantik.
Keduanya sempat terdiam, bunyi khas dari pinggul Luhan yang bertemu pinggul Sehun hanya menandakan penyatuan tubuh mereka sudah pada tahap yang sangat dalam. Nafas tersengal keduanya dibalas api nafsu yang kini membuat Sehun mengalah untuk menyamakan posisi duduk sementara Luhan berada di pangkuannya dengan tubuh mereka yang menyatu sempurna.
"Aku bisa sendiri."
"Aku tahu."
"Kalau begitu berbaring lagi!"
"Lebih nikmat jika kita bergerak bersama."
Sehung menggeleng, digigitnya gemas nipple Luhan yang begitu tegang bergantian. Sesekali dia menjilat hingga jambakan kasar di rasakan tengkuk bagian belakang saat Luhan menarik kasar rambutnya "Jangan—ah~"
Dengan satu tangannya Sehun mengangkat pinggang Luhan, mencoba untuk mengalihkan perhatian Luhan untuk mendorongnya kuat dibalas gigitan Luhan di tengkuknya "ah~Sehunna, lakukan bersama."
Sehun tidak membalas, dia membiarkan Luhan beristirhat sejenak sementara tangan kanan dia gunakan untuk mengocok penis Luhan yang menusuk-nusuk perutnya dengan tangan yang lain memilin nipple sang kekasih serta bibir yang menghisap kuat nipple Luhan seperti bayi.
"Sehunn, sayang—ah~, Cukup."
Satu hisapan terakhir dia lakukan dengan kuat, tubuh Luhan sempat mengejang sebelum mengangguk dan menyetujui agar mereka bergerak bersama.
"Baiklah."
"RRH!"
Luhan refleks melingkarkan kakinya di pinggang Sehun saat kekasihnya membuat gerakan tak terduga. Dia lemas, ini terlalu dalam, tapi Luhan menyukainya. Dan selebihnya, dia membiarkan Sehun mengambil alih sementara wajahnya bertumpu di pundak Sehun dengan kaki yang semakin melingkar erat di pinggang kekasihnya.
"hmmmh…."
Bunyi decitan tempat tidur Sehun kini menambah sensasi gairah yang baru ditambah suara khas tubuh mereka dan desahan berat Luhan, semua terasa sempurna.
Sesekali tangan Sehun mengangkat pinggang Luhan, sesekali dia mendorong maju agar penisnya masuk, semua dia lakukan hanya untuk mencari satu hal, kenikmatan Luhan, yang kemudian diteriakkan si pemilik
"THERE! SEHUN….DISITU!"
Sehun menyeringai. Cerita berbeda jika dalam posisi ini Luhan sudah menemukan titik nikmatnya. Ya, karena jika titik manisnya sudah ditemukan, Luhan akan bersedia menari indah naik dan turun di pangkuan Sehun.
"Lagi! Aku mau lagi."
Dan lihatlah saat ini, kakinya masih melingkar di pinggang Sehun tapi secara naluri dia menaik-turunkan bokongnya dengan cepat. Menghujamnya kuat dan dalam, kadang terlalu dalam hingga Sehun sendiri kewalahan menghadapi gerakan lincah kekasihnya.
"Sayang, perlahan—aah!"
Sehun mendesah, Luhan mengulangi gerakannya sekitar lima kali sampai hentakan terakhir sengaja dia lakukan dengan kuat sebelum "SEHUN….SEHUN…SE—aaahhh~"
Selang detik berikutnya Luhan melihat titik putih di seluruh pandangannya, bayangan putih yang menyebar satu sama lain sampai seluruh dunia menjadi putih. Tubuhnya terkurung dalam ekstasi dan kejang yang begitu nikmat sementara milik Sehun masih bergerak menghentaknya tanpa henti.
"Menikmatinya sayang?"
Luhan membuka matanya saat suara berat sang kekasih terdengar merdu di telinganya. Mencari bayangan si wajah tampan untuk merona malu menyadari seluruh perut Sehun sudah dikotori cairan kental miliknya. Luhan tertawa kecil sementara dirinya terduduk pasrah di pangkuan Sehun setelah meneriakkan nama kekasihnya berulang-ulang sebelum mencapai klimaksnya.
"oh babe! Kau membuatku gila!"
Sehun mengerang ketika dinding rektum Luhan kembali menjepitnya dan meremat penisnya. Dengan satu gerakan tanpa melepaskan tautan mereka, Sehun membaringkan Luhan, membuka lebar-lebar paha kekasihnya untuk membuat gerakan brutal hingga suara khas percintaan panas mereka kembali terdengar.
"Aku mencintaimu Luhan."
Luhan pasrah ketika tenaga Sehun masih kuat menghentaknya, dia lemas, sangat lemas. Tapi saat kata cinta dikatakan kekasihnya, dia hanya bisa membantu Sehun mencapai klimaksnya dengan melingkarkan tangan seraya menarik tengkuk Sehun dan mulai mengecupi tengkuk, cuping telinga dan seluruh bagian sensitif Sehun untuk mengatakan "Penuhi aku dengan cintamu."
Sontak bisikan Luhan membuat pergerakan Sehun semakin menggila. Dia menghentak Luhan dalam dan kuat, terkadang terlalu dalam hingga dua pinggul mereka menyatu. Belum lagi ketika Luhan sengaja merapatkan hole nya untuk membuat Sehun semakin gila.
Terlalu gila, hingga Luhan bisa merasakan hembusan kasar dari nafas kekasihnya. Sehun semakin mendorong kuat, dalam dan dengan tempo yang cepat. Refleks, dinding rektum Luhan semakin ketat dan mencengkramnya sebagai respon.
"ARH!"
Dan Luhan bisa mendengar suara erangan kekasihnya terdengar akan meledak. Luhan sendiri sudah gila karena selama Sehun bergerak di dalam tubuhnya, penis besar miliknya selalu berhasil membuatnya orgasme lagi dan lagi.
Ini harus disudahi atau keduanya mungkin akan mati karena terlalu nikmat. Seolah menyetujui pikiran Luhan, satu hentakan terakhir dilakukan Sehun dengan kuat sebelum akhirnya dia mendapatkan orgasmenya lagi yang sukses memenuhi lubang Luhan, tanpa tersisa.
Gerakannya terlalu dahsyat saat mencapai orgasme miliknya dan baru bergerak perlahan ketika satu tetes cairan terakhirnya keluar memasuki tubuh kekasihnya. Sehun terengah, jelas dia terlihat lelah. Dia sengaja menindih tubuh Luhan sementaara nafasnya tersengal penuh kepuasaan.
"Aku bisa mati jika kau bergerak lagi."
Sehun terkekeh, dengan berat hati dia mengeluarkan penisnya dari lubang Luhan untuk menarik lembut si mungil ke dekapannya "araseo. Kita sudahi malam ini."
Luhan berbaring nyaman di pelukan kekasihnya, menikmati cairan Sehun yang masih keluar dari membasahi selangkangan miliknya serta bau khas tiap kali mereka bercinta yang menjadi favoritnya "Aku merindukan bau ini."
Sehun lebih dulu menyuarakan kerinduan tentang bau khas dari percintaan mereka. Membuat Luhan terkekeh namun sedetik kemudian tatapan Luhan menjadi menakutkan untuk mendongak mencari mata kekasihnya "SEHUN!"
"Ada apa sayang?"
Sehun berusaha memejamkan mata sampai pukulan di dadanya sukses membuat dua mata elang itu terbuka, mencari tahu apa yang membuat kesal kekasihnya "Kenapa memukulku?"
"Jawab aku!"
"Apa?"
"Selama kita berpisah kau tidak bercinta dengan wanita atau pria lain kan?"
Sehun memandang Luhan cukup lama. Antara kesal dan gemas kini bercampur memenuhi kepalanya. Hell, bagaimana bisa Luhan menuduhnya sementara selama mereka berpisah dia tidak memiliki gairah bercinta sedikitpun.
Dan karena alasan itu pula dia sengaja membawa tangan Luhan menyentuh penisnya yang masih setengah tegang untuk mengatakan "Little Hun hanya bisa berdiri jika disentuh olehmu sayang."
"huh?"
Luhan salah tingkah saat Sehun membawa tangannya menyentuh kejantanan Sehun, dan seolah membenarkan ucapan si pemilik, kejantanan besar milik kekasihnya merespon saat tak sengaja tangan Luhan bergerak di bawah sana.
"Kau mau bukti?"
Buru-buru Luhan menarik tangannya, segera menyembunyikan wajahnya di pelukan Sehun untuk bergumam "Tidak perlu, aku mau tidur bukan mau mendesah lagi."
Sehun tertawa kencang, dikecupnya surai sang kekasih untuk menggoda kekasihnya sekali lagi "Melihatmu merona seperti ini sudah cukup membuatku bergairah."
"Sehun cukup! Aku percaya."
"Baguslah. Kalau kau meragukan aku kita bisa melakukannya sampai besok pagi."
"Tidak terimakasih. Cepat peluk aku."
Tangan kekar Sehun refleks melingkar di sekitar pinggang kekasihnya, membawa Luhan ke pelukannya lalu mendekapnya erat sesekali menciumi surai si pria cantik yang begitu dirindukan "Ini malam terbaikku setelah satu tahun, gomawo Lu. Aku mencintaimu."
Membalas ucapan Sehun, Luhan juga melingkarkan satu tangannya ke dada Sehun untuk mengatakan "Ini juga malam terbaik milikku. Terimakasih sayang, untuk segalanya. Dan ya, aku juga sangat mencintaimu. Maaf untuk sikap menyebalkanku selama satu tahun—aw!"
Luhan memekik saat Sehun menggigit cuping telinganya, berniat mencari tahu kesalahannya sampai tangan kekar Sehun tak mengijinkan dan terus mendekapnya semakin erat "Kau dimaafkan. Selamat malam sayang."
Diam-diam Luhan tersenyum, mengecupi sayang dada kekasihnya lalu mendongak dan mencuri satu kecupan bibir kekasihnya "Gomawo Sehunnie. Selamat malam."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan pagi, Seoul hospital
.
"Dokter Byun!"
Merasa namanya dipanggil dokter berparas cantik yang menggunakan id dr. Byun Baekhyun itu menoleh, mencari asal suara yang memanggilnya sampai terlihat perawat senior yang biasa menjadi asisten Luhan tengah berjalan menghampirinya.
"Perawat Kim?"
"Syukurlah anda belum pulang."
"Ada apa?"
Wanita berusia sekitar empat puluh tahun itu mengeluarkan selembar kertas dari map yang digenggamnya, segera memberikannya pada Baekhyun untuk dibaca sang dokter dengan cermat "Ah, ini catatan kematian mendiang ibu dari dokter Xi?"
"Ya dokter Byun, saya mencarinya setelah anda meminta catatan medis dari mendiang ibunda dokter Xi."
Tersenyum puas, Baekhyun kemudian mengatakan "Terimakasih perawat Kim, aku akan mempelajarinya di ruanganku."
"Baiklah dokter Byun, mmh... tapi apa yang akan anda lakukan dengan catatan kematian mendiang ibu dari dokter Xi."
Baekhyun menatap sendu sang perawat, matanya juga berkaca-kaca saat alasan konyol yang entah mengapa mengganggu tidurnya beberapa hari ini terus mengusik. Tiba-tiba saja dia sangat merindukan mendiang ibu Luhan, kenangan bagaimana mereka belajar banyak dari dokter senior itu yang paling menyiksa.
Terlebih saat Baekhyun menangani kasus kecelakaan yang sama dengan yang dialami Mama Xi, yang membedakan dia bisa menyelamatkan pasien tersebut namun entah mengapa hatinya sesak menyadari bahwa Mama Xi tidak bisa bertahan dengan kecelakaan satu tahun lalu mengingat kondisi pasien Baekhyun lebih mengkhawatirkan dari kondisi Mama Xi saat kecelakaan mengerikan itu terjadi satu tahun yang lalu.
"Dokter Byun?"
"huh?"
"Anda baik-baik saja?"
Baekhyun tersenyum pilu untuk mengatakan "Aku sedang merindukan ibuku."
"nde? Bukankah ibumu baru datang berkunjung kemarin sore?"
Lagi-lagi sang dokter tersenyum pasrah, kali ini tangannya mengangkat satu lembar kertas yang berada di genggamannya untuk mengatakan "Mendiang dokter Xi adalah ibuku juga. Dan sebagai putranya aku hanya ingin memastikan bahwa aku tidak melewatkan sesuatu pada kematian ibuku, hanya itu Perawat Kim."
Merasa bersalah sang perawat menunjukkan raut menyesal, dia kemudian hanya tersenyum lirih untuk menguatkan sang dokter "Aku bertaruh mendiang dokter Xi sangat bangga memiliki putra sepertimu dan dokter Xi. Kalian berdua sangat membanggakan." Ujarnya tulus dibalas senyum kecil dari Baekhyun.
"Gomawo perawat Kim. Kalau begitu aku akan membawanya."
"Ummh... Dokter Byun!"
"Ya?"
"Aku tahu ini terdengar lancang, tapi bisakah anda mengembalikan berkas itu esok hari sebelum pukul delapan pagi?"
"Wae?"
"Sepertinya berkas kematian mendiang ibu dokter Xi termasuk dalam salah satu untouched files milik Professor Yoon."
Tak mengerti, Baekhyun mengerutkan keningnya "Untouched files?"
"Ya, beberapa berkas dan catatan kesehatan pasien tertentu yang diberi lambang X adalah file tak tersentuh yang tidak bisa dilihat oleh dokter atau perawat selain Professor Yoon dan beberapa perawat senior yang diberikan izin langsung oleh Professor Yoon."
Tampak terkejut Baekhyun tertawa namun wajahnya terlihat benar-benar clueless dengan istilah Untouched files yang diberitahukan Perawat Kim padanya "Benarkah? Selama bekerja disini, aku baru mendengar akan hal itu."
"Hanya orang-orang pilihan Professor Yoon yang mengetahuinya."
"Dan perawat Kim adalah salah satunya?"
"Tidak, aku tidak termasuk tentu saja. Singkatnya aku adalah asisten pribadi dokter Xi selama bertahun-tahun, jadi professor Yoon tidak akan berbaik hati menyertakan namaku kedalam daftar orang kepercayaanya."
"Begitukah? Tapi adakah alasannya?"
"Itu adalah hak khusus yang diberikan Seoul Hospital pada Professor Yoon untuk jasa dan tenaga yang telah dia berikan selama bekerja di Seoul Hospital."
Baekhyun berusaha untuk tidak menampik, yang dia lakukan hanya tersenyum walau jauh di dalam hatinya mulai menaruh rasa cemas dan bertanya-tanya mengenai latar belakang dari professor yang telah mengajarkan banyak hal padanya selama lima tahun ini.
"Baiklah, aku hanya akan menyalinnya dan memberikan padamu sebelum pulang dari rumah sakit."
Sang perawat tersenyum lega untuk mengucapkan terimakasih pada Baekhyun "Terimakasih dokter Byun. Aku menghargai pengertianmu."
"Aniya! Harusnya aku yang berterimakasih, tapi perawat Kim, jika kau tidak termasuk dalam daftar orang kepercayaan Professor Yoon, darimana kau mendapatkan berkas kematian mamaku?"
"mmmhh..." Perawat Kim terlihat ragu, melirik ke kanan dan kekiri seolah memastikan untuk berbisik memberitahu Baekhyun "Aku menyusup ke dalam ruangan Perawat Jang, dia asisten Professor Yoon dan memiliki arsip yang kau inginkan dokter Byun."
"Astaga Perawat Kim, kau tidak perlu membahayakan diri seperti itu! Aku hanya mengatakan jika kau bisa, selebihnya akan baik-baik saja jika kau tidak mendapatkannya."
Wanita berusia sekitar lima puluh tahun itu menggeleng lemah, tersenyum sangat lembut untuk berujar namun terdengar sangat lirih "Satu tahun yang lalu aku juga berada di meja operasi mendiang ibu dokter Xi. Aku melihat bagaimana kau dan dokter Xi mencoba menyelamatkan Nyonya Xi namun tiba-tiba Professor Yoon datang dan mengambil alih semuanya. Setelahnya, kalian berdua pergi dari ruang tindakan dan semua kejanggalan terjadi."
"Perawat Kim jangan katakan kau juga merasakan sesuatu terjadi di ruang gawat darurat saat itu?"
Terlihat panik perawat Kim hanya tersenyum kecil, tidak mengelak namun tidak pula membenarkan "Ini hanya firasat seorang perawat yang sudah bekerja di rumah sakit hampir tiga puluh tahun. Jadi carilah kebenarannya, buktikan jika anda tidak melewatkan sesuatu malam itu. Saya permisi."
Baekhyun tertegun mendengar penuturan dari perawat senior yang sudah menemani Luhan hampir lima tahun saat mereka memulai resident hingga Luhan menjadi dokter tetap di Seouh Hospital. Bertanya-tanya apakah perawat Kim mengetahui sesuatu atau semua ucapannya memanglah benar berdasarkan firasat buruk yang mereka lewati bersama tahun lalu.
Entahlah,
Rasanya Baekhyun semakin penasaran pada berkas kematian Mama Xi. Dan satu pertanyaan yang begitu mengganggu di benaknya adalah alasan dari catatan kematian ibu kandung Luhan masuk kedalam daftar untouched files milik Professor Yoon.
"Ada apa sebenarnya?"
Baekhyun bertanya-tanya, berniat untuk mencari tahu sampai suara sahabat kecilnya terdengar memanggil "Bee."
Dia menoleh, lalu wajah lelah Kyungsoo terlihat dengan langkah gontai yang menunjukkan dia butuh istirahat dan melihat Taeoh agar tenaganya pulih kembali dengan cepat "Hay Soo. Kau sudah selesai?"
Dokter spesialis penyakit dalam pada anak itu mengangguk, berjalan mendekati sahabatnya sebelum bersandar di pundak Baekhyun "Aku bisa gila jika mereka tidak segera mendapatkan dokter jaga untuk gawat darurat." Katanya kesal menyadari bahwa satu minggu setelah kepindahan Luhan, mereka kekurangan formasi dokter untuk unit gawat darurat dan berakhir harus bergantian jaga untuk menutupi kekosongan.
"Mereka akan segera mendapatkannya, kau tenang saja."
"entahlah. Tidak yakin, semakin hari rumah sakit ini rasanya semakin menyalahi banyak aturan."
"Apa maksudmu?"
Kyungsoo menghela dalam nafasnya untuk berbisik pada Baekhyun "Aku tidak tahu mengapa Luhan bisa bertahan sejauh ini, tapi pelayanan di unit gawat darurat benar-benar mengerikan."
"Mengerikan?"
"hmmh…Beberapa dokter dan perawat jaga cenderung tidak peduli jika ada pasien yang membutuhkan penanganan cepat. Hanya beberapa dari mereka dan rata-rata adalah residen. Aku bertanya apa selalu seperti ini dan kau tahu jawaban mereka?"
"Apa?"
"Selalu dan hanya dokter Xi dan asisten dokternya yang bersedia menangani pasien yang membutuhkan penanganan cepat."
Tangan Baekhyun terkepal lalu tak lama dia tertawa menyadari bahwa dari mereka bertiga mungkin Luhan bertindak cerdas dengan meninggalkan rumah sakit mengerikan tempat mereka bekerja saat ini "Aku muak mendengarnya."
"Lupakan Baek. Mungkin semuanya akan menjadi lebih baik setelah mereka menemukan formasi dokter yang baru."
"aniya, Atau lebih kita juga pergi dari rumah sakit ini?"
"Bee…"
"Lupakan. Cepat bersiap, Taeoh mungkin sedang menunggumu."
Raut cemas wajah Kyungsoo tiba-tiba digantikan dengan senyum saat Baekhyun menyebut nama putranya. Dan bohong jika dia tidak mencemaskan putranya mengingat Sehun bukanlah paman yang berbaik hati akan merawat keponakannya selama dirinya pergi bekerja "Kau benar, aku mencemaskan Taeohku." Katanya terkekeh dibalas tawa kecil dari Baekhyun saat menyadari arti cemas disini adalah Sehun bukan keponakannya.
"Sehun menjaganya dengan baik."
Kyungsoo menatap tak percaya pada Baekhyun, keduanya menahan tawa sampai Kyungsoo terkekeh menyadari sampai kapanpun Sehun hanya seorang paman yang bisa melindungi keponakannya, bukan mengurus kebutuhan putra kecilnya "Seriously Bee? Aku tidak yakin."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BRAK!
Tatkala wajah partner membunuhnya berjalan memasuki ruangan kerjanya, sang professor membulatkan mata tanda terkejut dengan tangan terkepal menunjukkan dia begitu murka karena sampah seperti Choi Seunghyun berani menunjukkan diri di rumah sakit tempatnya bekerja.
"brengsek! Apa yang kau lakukan disini?"
Pria berwajah mengerikan yang kerap dipanggil TOP menyeringai, melempar kasar satu foto ke meja partnernya untuk mendesis terdengar sangat marah "Aku menemukan bocah sialan itu!"
"Siapa? Taeyong?"
"Lihat dengan cermat!"
Buru-buru sang professor yang dikenal angel di rumah sakitnya ini melihat selembar foto yang dilemparkan Seunghyun, memperhatikannya dengan cermat lalu menyeringai sebagai jawaban "Bagus. Lalu kenapa kau dating kesini? Harusnya kau bawa dia ke markas."
"AKU BILANG LIHAT DENGAN CERMAT!"
Yang membuat Doojoon tidak mengerti adalah emosi yang dibawa Seunghyun ke dalam ruang kerjanya. Bertanya-tanya apa yang salah dari menemukan Taeyong hingga TOP terlihat ingin membunuh seseorang dan tak bisa menahan dirinya sama sekali.
"Ada apa?"
Doojoon memperhatikan dengan detail sederetan lembar foto yang diberikan Seunghyun padanya. Mencoba mencari tahu dimana kesalahannya menganilisa sampai tiba-tiba tangannya gemetar melihat satu foto yang mewakili seluruh perasaan buruknya beberapa hari terakhir.
"tidak mungkin."
"Sayangnya itu terjadi."
Foto itu menunjukkan gambar dimana Luhan membawa Taeyong dalam pelukannya, keduanya terlihat terburu memasuki sebuah rumah yang dia ketahui adalah rumah Luhan bersama kedua orang tuanya. "tidak mungkin, Luhan bilang dia tidak tahu dimana Tae-..…."
"LUHAN BERBOHONG PADAMU DAN ITU ARTINYA DIA SUDAH MENGETAHUI SIAPA KITA!"
Doojoon tertegun, semuanya kini masuk akal untuknya. Alasan mengapa Luhan pindah bekerja ke rumah sakit lain, alasan mengapa Luhan menghindarinya serta alasan mengapa Luhan terlihat dingin di pertemuan terakhir mereka. Semuanya memecahkan teka-tekinya akan sikap dingin Luhan padanya.
Dan untuk sesaat, untuk sesaat, Doojoon merasa begitu takut. Takut Luhan akan mengambil jalan yang berlwanan dengannya untuk kemudian pergi meninggalkan dirinya, selamanya.
"Jadi bagaimana menurutmu? Apa perlu kita menghabisi Luhan dan Taeyong sekaligus? Semakin lama kita membiarkan Luhan bersama Taeyong, semakin banyak pula hal yang akan Luhan ketahui tentang kita."
"Kau mati di tanganku jika berani menyentuh Luhan!"
"LALU APA YANG AKAN KAU LAKUKAN? APA KAU AKAN DIAM SAJA DAN MEMBIARKAN LUHAN BERBALIK MENYERANG KITA TANPA PERLAWANAN!"
Doojoon mencengkram kasar selembar foto yang menampilkan Luhan ditangannya, merobeknya dengan gerakan lambat untuk menyeringai begitu mengerikan "Tidak perlu, sepertinya Luhan belum tahu siapa kita berdua sebenarnya. Dia tidak akan tinggal diam jika mengetahui kita membunuh masing-masing kedua orang tuanya."
"Sial! Lalu apa yang akan kau lakukan? Menunggu sampai dia menyerang kita?"
Sedikit cemas, Doojoon mengetukan jarinya di atas meja, berfikir namun tak lama tersenyum sangat mengerikan, seperti biasa "Kau tenang saja, Luhan akan datang padaku dengan sendirinya."
"Apa maksudmu?"
"Apa kau lupa? Taeyong akan mati tanpa obat yang kita paksa berikan untuknya. Dan jika Luhan melindunginya, dia akan datang pada kita untuk menyelamatkan bajingan kecil itu!"
Rasanya adalah keputusan tepat untuk bertanya pada Doojoon terlebih dulu daripada dia bertindak menggunakan emosi, karena sesuai perkiraannya, iblis yang sedang menyeringai di depannya memilili ketenangan luar biasa bahkan ketika satu-satunya obsesi yang ingin dia miliki berbalik menghianati dirinya. Dan tak ada hal yang membuat Seunghyun begitu bangga memiliki partner iblis seperti Doojoon selain kenyataan bahwa di situasi tertentu Doojoon benarlah seorang pembunuh cerdas yang memiliki tangan dingin seperti iblis.
Dia pun tertawa, sangat mengerikan, memegang pundak Doojoon walau dibalas hempasan kasar oleh sang professor untuk menyeringai "Kau benar, kita masih memegang kartu bajingan kecil itu. Dia akan mati tanpa obat sialan yang kita berikan padanya."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Klik…
"TAEOH MAMA PULANG."
"Tidak perlu berteriak Soo."
Yang dinasehati mendelik kesal, Ini rumahnya dan tak ada alasan untuk melarangnya berteriak. Terlebih saat itu menyangkut tentang putranya dan ya, Kyungsoo hanya mencibir Baekhyun lalu berlari menebak putranya masih berada di kamar dengan popok super basah karena Sehun tidak akan berbaik hati memandikan putranya di pagi hari.
"TAEOH MAMA-…..astaga."
"Ada apa?"
Pemandangan takjub di depan matanya membuat Kyungsoo mengerjap tak percaya. Dia pun menunjuk ke arah putranya yang sudah terlihat bersih dan tampan, tentu saja. Sedang bermain dengan car police di baby walker miliknya.
"daebak, Sehun sudah memandikan Taeoh."
Baekhyun juga terkejut, rasanya adalah mustahil jika Sehun mau memandikan Taeoh di pagi hari, jadi ketika keponakannya sudah terlihat sangat tampan lengkap dengan celemek makanan yang menggantung di lehernya, itu adalah sebuah keajaiban karena Sehun nyaris tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu selama satu tahun kelahiran Taeoh.
"Mamamama…Bee…"
Bagaimana hati Kyungsoo dan Baekhyun tidak meleleh saat melihat Taeoh memangil mereka dengan dua gigi depan yang terlihat, itu sangat cute. Terlalu cute hingga Kyungsoo sebagai ibunya tidak bisa menahan diri dan melempar jas putih dan tasnya begitu saja "omo…..Anak mama yang tampan. Mama rindu naaak."
Ya, Kyungsoo sedang dalam Mother's mood nya. Jadi Baekhyun membiarkan Kyungsoo dengan Taeoh lalu focus mencari keberadaan Sehun yang sepertinya sedang memasak di dapur "SEHUN KAU DIMANA?"
"….."
"SEHUN…"
"…."
"Soo, kenapa Sehun tidak menjawab kita?"
Yang ditanya sedang sibuk menciumi wajah putranya seraya menjawab Baekhyun "entahlah, mungkin dia malu." Ujarnya asal dibalas celotehan lucu dari Taeoh "Lululululu…"
"huh? Apa yang kau katakana sayang?"
"he he he….Lu! Lululu.."
Mengabaikan celotehan si bayi kecil, Baekhyun bergumam kecil "Aku akan mencari Sehun di dapur."
"Oke."
Sementara langkah kaki Baekhyun terdengar mendekati dapur, maka seseorang sedang mati-matian membekap mulutnya saat ini. Matanya mencari tempat bersembunyi namun rasanya percuma karena dapur di rumah kekasihnya memiliki ukuran tidak terlalu besar dan mustahil untuknya bersembunyi sementara langkah kaki mantan partnernya di Seoul Hospital semakin mendekat.
"apa yang harus aku lakukan? Apa yang-….."
"Luhan?"
Terlambat sudah,
Baekhyun sudah melihatnya, dan tak ada alasan lain untuk Luhan bersembunyi selain menatap Baekhyun dengan senyum lirih yang dia berikan untuk menyapa sahabatnya "Baekhyunna."
"astaga."
Beruntung dapur di rumahnya memiliki pembatas berupa dinding kecil yang memisahkan meja makan dan dapur. Karena rasanya jika tidak ada dinding tersebut Baekhyun sudah terjatuh dan tak memiliki tempat untuk bersandar saat melihat keajaiban di rumah miliknya bersama Kyungsoo dan Sehun.
"apa-…Apa yang kau lakukan disini?"
"Bee ada apa? Kenapa kau bersandar di-….."
Tatkala matanya menangkap satu-satunya sosok yang sangat dia rindukan, Kyungsoo juga berhenti berbicara. Matanya yang bulat semakin melebar bulat sementara bibirnya kelu nyaris tak bisa bersuara melihat siapa yang kini tengah berada di depan kedua matanya dan memakai piyama tidurnya.
"Lululuuu…"
Dan rasanya Kyungsoo tidak perlu bertanya arti celotehan putranya yang terus mengatakan Lulululu karena pastilah Luhan yang sedang coba diberitahukan Taeoh padanya dan Baekhyun "Luhan?"
"ah, Hai Soo. Aku bisa menjelaskan alasan aku berada di rumah kalian. Aku-…"
Tap
Tap
Tap
Baekhyun lebih dulu bergerak. Buru-buru dia berjalan setengah berlari mendekati Luhan sebelum
Grep….!
Langkah kaki Luhan sedikit mundur saat Baekhyun tiba-tiba melompat ke pelukannya. Dan yang membuat hatinya begitu sesak adalah saat merasakan dua tangan Baekhyun melingkar erat di bagian pundak dan pinggang tubuhnya.
Sungguh, Luhan nyaris tak bisa bernafas saat pelukan yang begitu dia rindukan dari sahabatnya kembali dia rasakan. Dan semuanya terasa begitu sempurna tatkala suara lirih Baekhyun mengatakan "Kenapa lama sekali?"
"Bee…"
"Kenapa begitu lama untuk pulang ke rumahmu sendiri? Ke pelukanku? KENAPA!"
Dua tangan Luhan kini terangkat, dia membalas erat pelukan Baekhyun diiringi isakan rindu yang begitu sesak di dadanya "Aku pulang."
"RRHHHH!"
Baekhyun mengerang, mencengkram kasar punggung Luhan lalu tak lama ikut terisak pelan bersamaan dengan isakan berat yang dirasakan Luhan saat ini "Maafkan aku Baekhyunna, Maafkan aku Soo, Maaf."
Kyungsoo menurunkan putranya, wajahnya luar biasa pucat dipenuhi air mata sama seperti milik Baekhyun dan Luhan. Perlahan langkahnya mendekati dua sahabat yang begitu dicintainya untuk menarik Luhan dan menatapnya dingin saat ini.
"Jadi? Apa, Apa kita sudah kembali menjadi keluarga?" katanya bertanya, berusaha untuk terlihat tegas namun gagal karena air mata rindunya yang menguasai
"Soo…"
"JAWAB AKU!"
"Ya, aku pulang kerumah. Itu artinya aku merindukan keluargaku, kalian."
Buru-buru Kyungsoo menarik Luhan, memeluknya begitu erat seraya membasahi leher Luhan dengan air mata harunya "Aku merindukanmu sialan. Aku merindukanmu Lu, aku—rrrhhh! Aku rindu Luhanku."
Luhan kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan rindu dari pria cantik yang selalu berperan sebagai ibunya. Yang dilakukan Luhan hanya memastikan Kyungsoo tak lagi melepas pelukannya.
Dia ingin kembali bersandar di pelukan paling nyaman yang bisa diberikan orang lain setelah Sehun padanya. Dan setelah ibunya dan Sehun, Kyungsoonya adalah orang ketiga yang bisa membuatnya begitu nyaman hanya dengan sebuah pelukan yang terasa hangat sampai ke hatinya. Luhan merindukannya, dan kini Kyungsoo sedang memeluknya begitu erat.
"eomma….mianhae!"
"ssst….Diamlah dan jangan katakan apapun! Aku hanya ingin memelukmu."
Luhan tertawa kecil mendengar gerutuan yang sangat dia rindukan dari Baekhyun dan Kyungsoo. Membuatnya sangat tergoda membalas jika Baekhyun tidak tiba-tiba melompat serta ikut memeluk hingga membuat tubuh Kyungsoo dan Luhan limbung, nyaris terjatuh
"BYUN BEE / BEE!"
Dan saat dua kecintaannya berteriak marah, maka disaat yang sama, pagi ini, Baekhyun tahu jika keluarga kecilnya sudah kembali utuh, sepenuhnya.
"AAARGGGHHH! AKU BAHAGIA SEKALI! AKU SAYANG KALIAN!"
Luhan menutup telinga Kyungsoo dan Kyungsoo menutup telinga Luhan. Keduanya saling melindungi sebelum mendelik sebal pada Baekhyun.
"oh ayolah!"
"Kau tahu Bee? Kau harus diberi sedikit pelajaran."
"YAK! MEMANGNYA APA YANG AKU LAKUKAN—hahaahaha…HENTIKAN! AKU TIDAK TAHAN! BERHENTI MENGGELITIK TUBUHKU—YAK!"
Disinilah Luhan dan Kyungsoo, masing-masing bekerja sama untuk menghukum Baekhyun dengan cara lama sesuai kebiasaan mereka. Cara dimana Luhan menarik tangan Baekhyun ke belakang sementara Kyungsoo menggelitik daerah sensitif Baekhyun seperti di leher, pinggang dan ketiak.
Ketiganya terus bertingkah seperti bayi melebihi Taeoh yang terlihat senang pada awalnya namun seketika bosan melihat tiga pria cantik dewasa di depannya sibuk dengan dunia mereka sendiri.
Klik…!
Pintu kamar utama di rumah itu terbuka, menampilkan Sehun yang hanya menggunakan boxer hitam ketat tanpa kaos atau singlet di bagian atas tubuhnya. Dia sedang mengucak matanya, pandangannya masih kabur karena kesadarannya belum sepenuhnya kembali sementara suara bising sangat mengganggu tidurnya.
"Sayang? Kau dimana? Kenapa berisik sekali." Katanya memanggil Luhan. Masih mengucak mata sampai dirasa ada tangan kecil yang sedang menarik-narik boxer hitam miliknya.
"Samchoon samchoon."
"huh?"
Sehun tertawa gemas melihat Taeoh yang sudah bisa berjalan sempurna sedang menarik boxer miliknya. Mata bulat si bayi bahkan menatapnya lucu seolah berharap akan digendong karena tampaknya dia sudah lelah berjalan sementara botol susunya berada di atas baby walker.
"Samchonn samchoon…"
"Wae? Kau ingin digendong?"
"Samchoonn…"
Tangan Taeoh terangkat ke atas, Sehun dibuat semakin gemas lalu kalah karena aegyo si bayi persis seperti ayahnya jika sedang membujuk Kyungsoo untuk agar diizinkan bermain game online.
"araseo…Kemari jagoan paman."
Sehun sedikit membungkuk, diangkatnya satu tangan tubuh kecil Taeoh untuk mencium aroma talk yang begitu menyegarkan dari tubuh keponakannya "aigoo…Anak paman sudah tampan? Siapa yang memandikan Taeoh?"
"Lulululu…."
"Lulu? Ah benar, Kau memilliki ibu angkat baru sekarang." Ujarnya terkekeh mencium bibir Kyungsoo sebelum bertanya pada si bayi "Dimana Lulu?"
"Lulululu."
Taeoh menunjuk ke arah dapur, tebakan Sehun yang memandikan dan memberi makan Taeoh adalah Luhan. Dia juga memutuskan untuk mencari kekasihnya sebelum langkahnya terhenti saat mendegar teriakan dari suara dapur.
"LEPAS…HAHAHHAHA…LEPASKAN AKU SOO! LUHAN LEPAS!"
Jantung Sehun berdegup kencang. Sial! Dia terlalu gugup saat mendengar suara Baekhyun dan Kyungsoo bersahutan dari arah dapur.
"oh tidak…"
Buru-buru Sehun berjalan mendekati dapur. Bertanya-tanya bagaimana reaksi Baekhyun dan Kyungsoo saat melihat Luhan di rumah mereka tanpa pemberitahuan sebelumnya.
"Luhan, sayang…."
Dan lagi-lagi langkah Sehun terhenti, kali ini bukan gugup penyebabnya, dia hanya seperti sedang melihat keajaiban di depan kedua matanya.
Beberapa waktu lalu dia masih mengingat dengan jelas tatkala ketiga pria cantiknya berteriak dipenuhi emosi dan amarah. Semua ucapan kasar, semua sikap dingin dan kebencian begitu terlihat di wajah mereka beberapa bulan yang lalu.
Namun pagi ini berbeda….
"Samchoon."
"huh?"
Sehun menatap Taeoh sekilas, lalu tangan si bayi sedang menghapus air matanya hingga membuat Sehun menitikkan semakin banyak air mata yang mewakili perasaan bahagianya.
"Samchon baik nak." Ujarnya membiarkan Taeoh menghapus air matanya sementara kedua pasang mata Sehun masih betah memandang ketiga pria cantiknya yang kini tertawa bahagia, tanpa benci, tanpa emosi. Hanya tertawa lepas seraya saling memeluk erat, seperti dulu.
"Samchonn."
"Taeoyaaa…."
Kini Sehun menghapus sendiri air matanya. Memutuskan untuk tetap menjaga jarak namun tak berkedip menatap interaksi dari ketiga prianya yang begitu dia rindukan.
"Lu bilang aaa…."
"aaaa…"
Sehun tersenyum kecil, beban hatinya seolah berkurang saat melihat Luhannya tertawa dan bercengkrama lagi dengan "ibu dan kakak" nya. Kekasih hatinya terlihat sangat bahagia hanya karena Baekhyun menyuapinya di meja makan sementara Kyungsoo berdiri tepat di belakang Luhan dan menciumi surai rambutnya disana.
"haaah~syukurlah."
Kini mata Sehun menatap Taeoh, mencium gemas bibir si bayi untuk mengatakan penuh keyakinan "Kim Taeoh, selamat untukmu."
"Samchoon…"
Walau Taeoh menolak, Sehun mencium lagi bibir Taeoh lalu tertawa dan tak lama berbisik di telinga Taeoh untuk memberi kabar baik pada si bayi "Secepatnya, kau akan bertemu dengan Papamu sayang."
"Papa?"
"Ya, Papa." Katanya membenarkan lalu mencium gemas bibir keponakannya "Orang tuamu akan segera kembali bersama, Paman janji."
Taeoh hanya berlonjak senang di pelukan Sehun seraya mengulang kalimat favoritnya pagi ini
"PAPA!"
.
.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
Siapin hati buat next chap yak :V
.
Seeyou!
