Previous
"Secepatnya, kau akan bertemu dengan Papamu sayang."
"Papa?"
"Ya, Papa." Katanya membenarkan lalu mencium gemas bibir keponakannya "Orang tuamu akan segera kembali bersama, Paman janji."
Taeoh hanya berlonjak senang di pelukan Sehun seraya mengulang kalimat favoritnya pagi ini
"PAPA!"
.
.
Je'Te Veux
.
.
.
Main cast : Sehun-Luhan
Rate : T-M
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi alasan kau tidak pulang malam tadi adalah karena kau bermalam di rumah Sehun?"
Saat ini lokasi berpindah di kediaman Luhan, Kai dan Chanyeol. Dan sama seperti reaksi Kyungsoo dan Baekhyun, maka tatapan bertanya dan menyelidik juga ditujukan keduanya untuk Sehun dan Luhan, Sehun terutama.
Karena hampir satu tahun berlalu, ini adalah kali pertama Luhan tidak pulang kerumah dengan alasan menetap di rumah orang lain. Biasanya sang dokter hanya menetap di luar saat mendapat shift malam, selebihnya kecuali mendapat shift malam, Luhan tidak pernah bermalam di rumah orang lain dan selalu pulang tepat waktu.
Jadilah tatapan Kai dan Chanyeol terlihat kesal, terlebih saat Sehun bersikap posesif dan sengaja memangku serta memeluk erat pinggang Luhan seolah tak ada tempat lagi yang bisa digunakan Luhan untuk duduk.
"Dirumah dia?" Kai memastikan dibalas raut cemas Luhan yang langsung mengatakan "Rumah Kyungsoo juga. Baekhyun juga."
"Dan kami bercinta… cukup lama."
"Mwo?"
"Sementara anakmu tidur sendiri di kamar ibunya karena Kyungsoo pergi bekerja-...ARGH!"
Tatkala Luhan mencubit kencang pinggangnya, Sehun meringis, dia ingin protes namun dihadiahi tatapan tajam dari Luhan dan dua teman kecil sang kekasih, Kai dan Chanyeol.
"Waeeee? Apa salahku? Aku hanya ingin memberitahu dua bayi tua ini jika kita sudah bersama."
"Siapa bayi tua? Kami? Atau kau?"
Chanyeol bertanya sarkas dibalas tatapan keji dari Kai lalu Sehun tak mau kalah menatap garang dua pria yang selalu di capnya sebagai saingan "Kalian tentu saja. Aku bayi menggemaskan."
"Menjijikan!"
"Oh ayolah, berhenti bertengkar! Tanyakan apa yang ingin kalian tanyakan tanpa terhasut ucapan kekasihku."
"Siapa?"
"Luhan bilang, kekasihku! Itu artinya aku!"
"Sehun cukup!"
"Ish! Araseo aku akan diam." Katanya membuat gerakan mengunci mulut sementara Luhan masih terlihat jengah memandangnya "Diam dan dengarkan!"
"Oke..."
"Kai...Yeol...Ada yang ingin kalian tanyakan?"
Keduanya saling bertatapan, menimbang apakah ada pertanyaaan atau semua sikap gila Sehun sudah cukup menjelaskan.
Tatapan mereka kesal pada awalnya, namun menyadari Luhan terlihat sangat bahagia walau terus berteriak hampir setengah jam karena tingkah konyol Sehun, keduanya terkekeh.
Baik Kai maupun Chanyeol memutuskan untuk mengangkat bahu tanda mereka tak ingin berdebat lebih lama dengan Luhan sementara si pria berparas paling cantik seketika memekik bahagia saat dua temannya tidak mempermasalahkan hubungannya dengan Sehun.
"Yeah, baguslah. Kalau begitu tidak ada yang perlu dikhwatirkan lagi! Aku harus segera ke rumah sakit dan jangan lupa malam nanti kita akan makan malam dirumah Sehun." Katanya mengerling Kai dan Chanyeol dibalas pertanyaan terlalu polos dari Kai "Kita makan dirumah Sehun? Ada apa?"
"Astaga!" Sehun mencibir dibalas tatapan tak percaya dari Luhan "Kai, jangan katakan kau lupa."
"Apa?"
"Besok putramu merayakan ulang tahun pertamanya! Kau tidak lupa kan?"
Wajah Kai pucat, rasanya bohong jika dia tidak lupa karena saat ini, saat Luhan mengatakan putranya akan merayakan ulang tahun pertamanya, Kai terlihat seperti ayah yang paling menyedihkan karena melupakan hari penting untuk darah dagingnya.
"Aku lupa…hks.."
Dia merengek, dibuat seolah menangis sementara Chanyeol menepuk iba punggung sahabatnya "Ingatlah bro, Kau bukan single, kau ini seorang ayah. A-yah!"
Nyatanya daripada menghibur, Chanyeol terdengar lebih seperti menyindir, hal itu kerap mengundang tawa untuk Sehun yang kini terkejut saat Luhan mencium bibirnya lalu beranjak dari pangkuannya "Sayang kau mau kemana?"
Luhan sibuk mengambil tas dan jas putihnya untuk menatap sedikit tak sabar bayi besarnya "Ke rumah sakit. Kau ingat kan? Kekasihmu ini seorang dokter!"
"ah, kau benar. Dokter Oh." Timpal Sehun tersenyum gila dibalas tatapan terkejut dari Luhan "Aku masih dokter Xi!"
"ya, Sementara ini masih dokter Xi!"
Jantung Luhan sedikit berdebar sementara tatapan Kai dan Chanyeol terlihat mual dan mulai kesal berada di tengah-tengah sepasang kekasih yang baru kembali bersama "Luhan cepat pergi!" Chanyeol memperingatkan dibalas tatapan kesal dari Luhan "Kau mengusirku!"
"Ya! Aku mengusirmu. Ah, atau lebih baik aku usir kekasihmu saja?"
"Tidak perlu. Aku akan segera pergi. Puas?"
"Sangat!" timpal Kai yang kini sedang dipukuli kepalanya oleh Sehun "Berani sekali kau bicara kasar pada kekasihku!"
"ish! LEPAS SIALAN! Sakit—arh!"
"Ayah macam apa yang melupakan hari ulang tahun anaknya! Kau menyedihkan Kim Jongin! Lihat sampai Taeoh memanggilku ayah dan melupakanmu!"
"MWO? KAU MAU BERKELAHI?"
"oh astaga!"
Kali ini sang dokter benar-benar jengah, dia tidak mempedulikan lagi tingkah konyol ketiga prianya dan membiarkan tiga bayi tua itu berkelahi sesuka mereka. Yang dia lakukan hanya melangkah pergi setelah sebelumnya secara diam-diam mencuri kunci mobil Sehun.
"Sayang aku melihatnya."
Luhan berhenti melangkah, menggerutu betapa fokusnya Sehun pada semua hal yang dia lakukan untuk menoleh dan mencari mata kekasihnya "Aku pinjam, malam nanti kukembalikan."
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu sayang, aku bisa sendiri. Lagipula sudah lama kalian bertiga tidak menghabiskan waktu bersama. Jadi sebelum kau sibuk denganku, Chanyeol dengan Baekhyun dan Kai dengan Kyungsoo serta Taeoh lebih baik kalian bicara."
"Apa hubungannya?"
"he he he…"
Luhan tertawa canggung untuk mengalihkan perhatian Sehun. Detik berikutnya dia membuka cepat pintu rumah lalu
BLAM!
"LUHAN!"
Sehun berniat mengejar kekasihnya sampai menyadari ada dua tangan yang masing-masing menggenggam kuat lengannya "Ada apa?"
"Biarkan Luhan, kita memang harus bicara."
Yang membuat Sehun sedikit bertanya adalah kenyataan bahwa wajah serius kini ditunjukkan oleh Kai dan Chanyeol. Terlebih saat Chanyeol bergegas mengunci pintu, lalu mengintip dari balik tirai jendela untuk memastikan Luhan telah pergi agar setidaknya dia bisa berbicara bebas dengan dua temannya.
"Ada apa?"
Sehun bertanya lagi, namun sama seperti ekspresi pertama, kedua temannya terlihat serius sampai Kai membuka suara dan mengatakan "Kami menemukan Taeyong."
"Siapa?"
"Remaja seusia Jaehyun yang mungkin mengetahui tentang Doojon dan Seunghyun."
"Benarkah? Lalu apa yang kita lakukan disini? Harusnya kita segera menemui remaja itu."
"Tidak bisa jika Luhan sendiri yang menyembunyikan remaja itu!"
Mengerutkan keningnya, Sehun bertanya "Apa maksudmu?"
"Well, Sepertinya kita tidak perlu susah payah mencari karena Luhan sendiri yang membawanya pulang ke rumah."
Dan barulah ketika Chanyeol menunjukkan sebuah gambar di ponselnya, Sehun mengerti kemana arah pembicaraan mereka. Kalimat Luhan membawa pulang si remaja seolah terjawab dari beberapa foto yang ditunjukkan dan memperlihatkan Luhan sedang bersama remaja asing di rumah mendiang orang tuanya.
"Luhan membawa remaja itu ke rumah mendiang Mama dan Papa?"
"Dia tidak akan pernah kembali kerumah kecuali sesuatu mendesak." Gumam Chanyeol diiringi pernyataan menguatkan dari Kai "Dan jika Luhan kembali kerumah, itu artinya sesuatu terjadi mengingat dia membawa orang asing kerumah."
Sehun terdiam, mendengar semua ucapan Kai dan Chanyeol dengan mata terkunci menatap setiap reaksi yang ditunjukkan kekasihnya pada remaja tersebut. Sehun memperhatikan dengan seksama semua interaksi Luhan dengan Taeyong sampai satu kesimpulan dia dapat dari beberapa foto yang ditunjukkan padanya.
"Sayangnya dia bukan orang asing."
"Apa maksudmu?"
Sehun mengembalikan ponsel Chanyeol lalu bersandar di sofa dengan tangan memijat kasar keningnya "Jangan lakukan apapun hari ini. Kita harus merayakan ulang tahun Taeoh bersama-sama."
"Apa hubungannya dengan putraku?"
Tersenyum sinis, Sehun melirik Kai lalu mengatakan apa yang ada di pikirannya saat ini "Jika tebakanku benar pasti Luhan sudah menganggap remaja ini seperti adiknya sendiri. Terlepas dari kenyataan Taeyong bekerja untuk pria bernama Donghoon itu atau tidak, Luhan tetap menyayangi Taeyong."
"Lalu?"
"Lalu jika kita menyerang remaja ini secara terbuka, kita seperti bunuh diri karena pastilah Luhan melindunginya." Timpal Chanyeol dibalas senyum lirih oleh Sehun "Dan jika kita melakukannya, jika kita mengusik remaja itu saat ini, maka bisa dipastikan Luhan akan kembali murka. Dan buruknya, dia juga akan marah pada kalian." Gumamnya tak rela lalu menatap kedua temannya memohon "Bersabarlah sedikit, aku akan mencari cara agar bisa menemui remaja itu tanpa harus diketahui Luhan, hmh?"
"Lalu sampai kapan kita berpura-pura tidak tahu? Luhan akan terus melakukan semua hal gila seorang diri! Apa yang harus kita lakukan?"
Tak memiliki jawaban, Sehun hanya menatap pada satu frame foto keluarga yang juga dipajang Luhan, Kai dan Chanyeol di rumah mereka. Foto yang menunjukkan kebersamaan mereka berenam nyatanya membuat Sehun memiliki keyakinan bahwa cepat atau lambat, Luhan akan menceritakan semuanya tanpa perlu menutupi sesuatu dari mereka.
Mereka keluarga, selamanya.
Jadi selama Sehun meyakini hal itu, maka yang perlu dilakukannya hanya menjaga Luhan dengan cara yang dengan cara Luhan menyembunyikan semua hal mengerikan yang menyangkut kematian dua orang tuanya.
Sehun kemudian menghela dalam nafasnya, tersenyum lirih untuk mengatakan "Untuk sementara jangan lakukan apapun. Hanya awasi Luhan secara diam-diam dan pastikan Luhan tidak melangkah terlalu jauh."
"Kau yakin?"
Menatap dua teman kecilnya bergantian, Sehun tersenyum seraya merangkul pundak dua sahabatnya "Selama kalian membantuku menjaga Luhan dan keluarga kecil kita. Aku yakin, sangat yakin."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Drtt…drttt..
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, itu artinya hanya satu jam tersisa untuk Luhan berada dalam jam kerjanya. Setidaknya pasien hari ini sedikit aman, dia tidak perlu melakukan tindakan yang memakan waktu hingga berjam-jam dan hanya melayani konsultasi dengan beberapa pasien hari ini.
Drrt…drtt..
Barulah saat nama bibi Kim terlihat di layar ponselnya, Luhan bereaksi lebih cepat. Dia segera menggeser slide ponselnya mengingat sudah beberapa kali dia mencoba menghubungi bibi Kim namun selalu pengalihan yang dia dapatkan sebagai jawaban.
"Luhan?"
"Bibi ada apa? Kenapa baru mengangkat panggilan dariku?"
"Maaf nak, tapi bibi rasa Taeyong sakit. Tubuhnya demam dan dia selalu mengatakan hyung, berikan padaku. Apa kau mengerti maksudnya?"
"Entahlah bi, apa kondisinya sangat buruk?"
"Kau tidak perlu khawatir Lu, kondisinya sudah jauh lebih baik setelah aku berikan obat."
Terlihat lega, Luhan tersenyum disela percakapannya dengan sang pengasuh "Gomawo bibiku sayang. Kau yang terbaik, selalu!"
"Bibi tahu! Jadi kapan kau akan pulang kerumah?"
"Besok aku akan pulang kerumah. Tunggu aku, hmh?"
"Baiklah nak, jaga dirimu dan segera pulang. Bibi merindukanmu."
"Aku juga merindukan bibi! Sampai besok."
"Sampai besok Lu!"
Pip!
Tak lama bibi Kim menutup panggilan keduanya, membuat Luhan sedikit termenung dan bertanya-tanya mengapa kondisi Taeyong tak kunjung membaik dan justru semakin menurun setiap harinya.
Dia berniat melakukan pemeriksaan lengkap, tapi resikonya adalah Doojoon bisa menemukan Taeyong dan membawanya pergi, jadilah Luhan meminta tolong pada bibi Kim untuk terus mengawasi Taeyong melalui instruksinya.
"haah~"
Drrtt…drtt…
Ponselnya bergetar lagi, kali ini nama sang kekasih yang tertera hingga refleks, wajah Luhan yang tampak bingung kini berseri dipenuhi cinta.
"Hey sayang."
"Kau tidak lupa harus datang kerumahku kan?"
"Tentu saja tidak, ada apa?"
"Cepat datang. Aku rindu."
"tsk! Satu jam lagi dan setelahnya aku datang."
"Sekarang,,,huhu, sekarang."
"Sehun astaga! Apa kau merengek?"
"Bukan, Itu Taeoh! Dia bilang Lulu harus datang sekarang! Se-ka-rang!"
"Taeoh atau kau bayi besarku?"
"Taeoh."
"Yasudah, sampai disana aku hanya akan mencium Taeoh, bermain dengan Taeoh dan menghabiskan sepanjang waktu untuk-…."
"Oh Sehun yang merengek. Puas?"
Luhan tertawa gemas, jika dia bisa mencium bibir kekasihnya saat ini pastilah sudah dia lakukan agar Sehun berhenti kesal dan hanya menunggunya dengan sabar "hahaha….Baiklah baiklah. Aku akan segera datang, tunggu aku, Kai dan Chanyeol."
"Jangan terlambat."
"Tidak akan terlambat."
"Janji?"
Menikmati suara berat kekasihnya, Luhan tersenyum lagi untuk mengatakan "Janji."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Malam hari,
.
.
BLAM!
"Ayolah Kai cepat keluar dari mobil! Kita sudah terlambat!"
Kiranya sudah hampir sepuluh menit mereka bertiga membuang waktu dan hanya berada di sekitar rumah Sehun, Baekhyun serta Kyungsoo. Dan selama sepuluh menit tersebut tak ada kemajuan berarti karena Luhan dan Chanyeol kini sibuk membujuk Kai agar setidaknya melepas seatbelt dan segera mengangkat bokongnya dari kursi samping kemudi.
"Kalian duluan saja. Aku menyusul."
"ssshhh…."
Luhan mendesis kesal, dia bersandar di mobil sementara Chanyeol mulai terlihat tak sabar melihat tingkah Kai yang begitu menyebalkan "Apa aku harus melakukannya Lu?" Chanyeol mengerling Luhan dibalas anggukan bersemangat dari si pria cantik "Lakukan!"
"Lakukan apa?"
Kini Kai bertanya namun hanya seringai kecil yang diberikan baik dari Luhan maupun Chanyeol hingga tak lama
"YAK!"
Tatkala Chanyeol melepas paksa seatbelt dan menariknya keluar, Kai menjerit karena terkejut. Ditambah dengan suara tawa Luhan sudahlah pasti keduanya memang merencanakan hal menyebalkan seperti memaksanya.
"Ayolah! Aku belum siap bertemu putraku!"
"Kau tidak akan pernah siap karena rasa bersalahmu pada Taeoh." Timpal Chanyeol seraya merangkul pundak Kai, keduanya saling bertatapan sampai Luhan menyeruak di tengah-tengah mereka "Dan mulai saat ini kau tidak perlu lagi merasa bersalah."
"Wae?"
Luhan merangkul pinggang dua pria tampannya lalu kembali mengerling Kai yang berada di samping kirinya "Karena mulai malam ini kita kembali menjadi keluarga."
Ting tong…
Sementara Luhan dan Kai masih sibuk berbincang, Chanyeol kini menekan bel rumah Sehun, tak lama suara pintu terbuka lalu terlihat Sehun dengan kaos hitam casual yang dia kenakan tengah menggendong si baby birthday yang terlihat sangat tampan dengan tuxedo hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu merah senada dengan sepatu kecilnya.
"Aigoo anak Samchoon kenapa tampan sekali."
Tak tahan Chanyeol lebih dulu merebut Taeoh dari pelukan Sehun, Kai hanya diam memperhatikan putranya sementara Sehun tanpa menunggu seketika menarik lengan Luhan dan melingkarkan lengannya di pinggang ramping sang kekasih.
"Kenapa lama sekali?" ujarnya protes dan tak lama kecupan itu terjadi. Kecupan lembut yang perlahan menjadi lumatan panas antar dua orang dewasa. Kai dan Chanyeol bahkan harus mati-matian mendesis kesal jika tidak memaklumi bahwa kedua idiot yang sedang membelit lidah didepan anak satu tahun baru resmi kembali menjadi sepasang kekasih setelah berpisah.
"Jangan dilihat nak, Samchoon dan Lulu menjijikan."
"Oh ayolah! Hentikan kalian berdua."
Suara lain datang dari dalam rumah, membuat Kai dan Chanyeol menoleh untuk mendapati Baekhyun sedang melipat dua tangannya di atas dada tanda dia jengah melihat kegiatan panas Sehun dan Luhan.
"Baekhyunna."
Terlalu fokus pada Sehun dan Luhan, Baekhyun kini tersenyum melihat Chanyeol sedang melambai ke arahnya "Hey sayang."
Sontak jawaban Baekhyun membuat Luhan tak fokus mencium Sehun. Buru-buru di dorongnya tubuh sang kekasih lalu menoleh untuk bertanya pada Baekhyun "Sayang?"
"Ada apa?" Baekhyun bertanya lagi pada Luhan sementara Chanyeol kini menyerahkan Taeoh pada Kai "Pegang anakmu." Katanya tiba-tiba membuat Kai mengendong putranya lalu berlari mendekati Baekhyun "Aku merindukanmu sayang."
Dan tak berbeda dengan Luhan-Sehun, kini Baekhyun-Chanyeol sedang membagi ciuman lembut mereka dibalas kekehan singkat oleh Kai yang merasa hanya dirinya seorang yang tidak membuat perubahan.
"Apa benar hanya aku?" katanya memelas lalu tak lama merasakan dua tangan mungil Taeoh melingkar sempurna di lehernya "Pa-pa…"
"huh?"
Wajar jika jantung Kai berdegup kencang saat Taeoh memanggilnya papa. Wajar pula air mata itu tanpa sebab begitu saja jatuh membasahi wajahnya dengan cepat. Semuanya terlalu sempurna hanya karena bayi kecilnya mengenali siapa dirinya, terlebih saat Sehun menepuk pundaknya lalu mengatakan "Jangan tinggalkan putramu lagi."
Selebihnya dia merangkul pinggang Luhan masuk kedalam rumah, diikuti Baekhyun dan Chanyeol yang berniat memberikan waktu berdua untuk Kai dan Taeoh.
"Cepat masuk Kai, Taeoh bisa kedinginan."
"hmmh." Ujarnya membalas namun tak bisa menyembunyikan rasa haru melihat bagaimana bayi kecilnya tumbuh besar. Dia memiliki kesalahan karena tidak menemani Kyungsoo saat kekasihnya melahirkan Taeoh, kesalahannya terus berlanjut karena membiarkan Kyungsoo merawat bayi kecil mereka seorang diri.
Beruntung Kyungsoo memiliki Sehun dan Baekhyun, karena disaat dirinya tidak bisa menjaga Taeoh, Sehun akan berperan menjadi ayah bagi putranya dibantu Baekhyun yang selalu memberikan semangat pada Kyungsoo.
"Selamat ulang tahun nak, maaf membuatmu menunggu lama sayang. Maaf."
Terlihat satu tangan Kai memeluk erat putranya, menyampaikan penyesalan terdalamnya melalui satu pelukan hangat dengan tangannya yang lain menepuk lembut punggung putranya.
"Papa pulang nak."
Kedua ayah anak itu tampak menikmati waktu mereka berdua sampai terdengar suara lain yang mengingatkan Kai untuk membawa putranya masuk, putra mereka.
"Jika sudah selesai memeluk putramu, baiknya kau segera masuk."
Entah sejak kapan Kyungsoo berdiri disana. Mengenakan pakaian casual berwarna merah sementara tatapannya sendu menatap mantan kekasih yang kini memeluk erat buah hati mereka "Soo?"
Kai tersenyum canggung begitupula Kyungsoo yang tak mengerti harus melakukan apa. Tapi saat Taeoh menoleh dan memangilnya "Ma…Pa-pa!" maka sepertinya semua rasa canggung yang mengitari keduanya selama satu tahun, harus keduanya singkirkan jika tidak ingin membuat putra mereka tumbuh dengan banyak kekurangan karena kedua orang tuanya.
"araseo Mama tahu kau sangat bahagia karena Papa pulang, hmmh?" ujarnya menghampiri Kai lalu mengusap gemas surai putranya "Selamat datang Kai, aku dan Taeoh sudah menunggumu untuk waktu yang lama. Jadi jangan-…."
Ucapannya terhenti saat tangan Kai yang tidak memeluk Taeoh menarik lengannya. Detik berikutnya Kyungsoo bisa merasakan satu dekapan hangat yang berasal dari tubuh mantan kekasihnya. Terlalu hangat sampai tanpa sadar Kyungsoo juga melingkarkan tangannya di pingang ayah Taeoh, pria yang masih begitu dicintainya hingga saat ini.
"Aku pulang Soo, aku pulang. Maaf membuat kalian menunggu terlalu lama."
Kyungsoo tersenyum mendengar penuturan ayah dari putranya. Membiarkan Kai mencium dan memeluknya erat sementara putra kecil mereka seolah menyambut kedatangan ayahnya setelah lama pergi.
"Aku tahu kau akan kembali Kai."
.
.
.
.
.
.
.
"Mwo? Apa kau bilang? Kalian sudah kembali bersama?"
"Yap!"
"Tapi sejak kapan?"
Suara tak terima itu berasal dari pria yang memiliki kulit paling pucat diantara enam pria yang sedang merayakan ulang tahun bayi kecil mereka. Dan jangan katakan namanya adalah Sehun jika semua hal tak diresponnya dengan berlebihan.
"Jauh sebelum kalian kembali bersama, aku dan Baekhyun lebih dulu memperbaiki hubungan kami. Iya kan sayang?"
Baekhyun tertawa merespon kekasihnya sebelum mengangguk membenarkan "Ya begitulah."
"Tapi sejak kapan?"
"Sekitar dua bulan yang lalu."
"Daebak! Jangan katakan hanya aku yang belum kembali pada kekasihku?"
Baik Sehun dan Chanyeol segera melihat Kai lalu meremehkan pria yang sudah lebih dulu menjadi ayah daripada keduanya "Hanya kau." Timpal keduanya kompak untuk dihadiahi tatapan mengerikan dari Luhan dan Baekhyun.
"Well, setidaknya Kai sudah memberikan anak padaku. Tidak seperti kalian, Impotent!"
"Mwo? / Whoa...Do Kyungsoo, bibirmu tajam seperti biasa."
"Sooyaaaa..."
Setidaknya jika seorang Do Kyungsoo sudah terpancing emosinya, maka bersiaplah untuk sakit hati karena ucapannya terkadang sangat menyakitkan.
Dan saat dua teman kecilnya menghina ayah dari putranya, maka Kyungsoo melakukan tugasnya untuk melindungi keluarga kecilnya dari hal-hal yang membuatnya kesal atau terkesan menyudutkan keluarga kecilnya.
"Gomawo sayangku."
"Sebenarnya aku belum menjadi sayangmu Kai!"
Yang lain tertawa sementara lagi-lagi wajah memelas ditunjukkan Kai saat ini, saat dimana dia sedang duduk di lantai dan menemani putranya membuka hadiah lengkap dengan kue yang sengaja diberikan Taeoh untuk dihancurkan si bayi.
"Baiklah papa akan berusaha lagi mendapatkan Mamamu, hmmh?"
Taeoh memekik seolah menenangkan ayahnya dipenuhi dengan tangan yang dilumuri kue "Gomawo nak, kuenya manis." Katanya memelas seraya menjilati jemari putranya yang dipenuhi kue.
"ah, ya. Aku dan Baekhyun memiliki kabar baik untuk kalian."
"yeoljangansekarang!"
"Kenapa? Kita sedang berkumpul, lengkap."
"Demi Tuhan jangan sekarang!"
Merasa kedua teman kecilnya bertingkah aneh, Luhan menyela untuk bertanya "Ada apa?"
"Iya ada apa? Katakan pada kami!" timpal Kyungsoo membuat raut wajah Baekhyun cemas sementara dengan percaya diri Chanyeol memeluknya dari belakang seraya mengusap berulang perut kekasihnya.
"Janganjangan…."
Sehun menatap horor tingkah Chanyeol sampai si pria berlesung pipi mengatakan "Aku resmi menjadi seorang ayah karena saat ini Baekhyun hamil dan sedang mengandung calon malaikat kecilku."
"MWO?"
Baekhyun tersenyum canggung untuk mengulangi pernyataan Chanyeol "Aku hamil."
"WHOAAA….SELAMAT BEEE….SUDAH BERAPA MINGGU?"
"Minggu keempat."
Sementara Luhan dan Kyungsoo memekik heboh, maka Sehun terlihat meringkuk lemas di meja makan. Dia begitu sedih menyadari bahwa hanya dirinya yang belum bisa membuat Luhan hamil.
"Oh tidak, hanya aku yang belum." Terlebih saat Kai mengejeknya "Impotent!" hingga membuat kemarahan meluap di kepala Sehun dan
BRAK!
"LUHAN!"
"Apa? Kenapa berteriak?"
Tak membuang waktu, Sehun menghampiri Luhan dan menarik kasar lengan kekasihnya "SEHUN! KITA MAU KEMANA?"
"MEMBUAT BAYI!"
"MWO?"
BLAM!
Pintu kamar Sehun ditutup kasar dan tak lama terdengar suara jeritan penolakan Luhan yang berubah menjadi desahan nista karena pastilah Sehun sangat bersemangat membuat bayinya sendiri malam ini.
"Lulululu…."
Kai terkekeh, diciumnya gemas bibir Taeoh lalu berbisik pada putranya "Lulu sedang membuat adik bayi dengan Samchoon. Apa papa harus membuat adik bayi lagi untukmu?"
"ndeeee…."
Semua orang dewasa tertawa karena jawaban Taeoh yang begitu menggemaskan, ya, Kai, Baekhyun dan Chanyeol tertawa tapi tidak dengan Kyungsoo yang kini menatap kesal pada Kai karena mengajarkan putra mereka istilah menjijikan seperti membuat adik bayi.
"Mianhae sayang."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan pagi,
.
.
Benarkah semakin buruk? Baiklah bi, jangan cemas aku sedang dalam perjalanan ke rumah.
"rrrhh~"
Suara Luhan jelas mengganggu tidurnya yang begitu nyaman, ditambah dia tidak memeluk tubuh mungil kekasihnya adalah hal yang membuat Sehun perlahan membuka matanya.
Eoh! Sementara berikan dia obat penghilang sakit yang ada di rumah. Aku akan mengambil darahnya pagi ini.
Perlahan dia mengerjapkan mata berulang, mencari dimana Luhan hingga pemandangan kekasihnya sedang duduk di tepi tempat tidur dengan posisi membelakanginya entah mengapa terlihat tegang dan terus bergerak cemas.
Benarkah?
Dan dilihat dari seberapa banyak Luhan mengambil banyak nafasnya pastilah sesuatu sedang terjadi hingga membuat Sehun diam-diam mendengarkan tanpa berniat mengusik kekasihnya.
Biarkan aku bicara dengan Taeyong.
"Taeyong? Bukankah dia-…."
Tepat setelah Luhan mengatakan ingin bicara dengan Taeyong, dia menoleh seolah memastikan Sehun belum bangun dari tidur, refleks, mata Sehun juga terpejam sehingga Luhan tidak perlu tahu jika dia mendengarkan apa yang sedang dibicarakannya dengan wanita yang dia tebak adalah bibi Kim, pengasuh kekasihnya.
Taeyonga, ini hyung.
"Hyung?"
Mata Sehun terbuka lagi, memperhatikan bagaimana Luhan mengepal jemarinya berulang adalah tanda bahwa dia cemas dan sedang mengkhawatirkan sesuatu. Hal itu membuatnya semakin penasaran hingga diam-diam Sehun terus mendengarkan percakapan Luhan dengan Taeyong sampai suara kekasihnya berubah menjadi berat dan entah mengapa terdengar sangat marah saat mengatakan
Kau tenang saja, tidak akan ada yang mengganggumu. Aku tidak akan membiarkan Doojoon menemukanmu, hmmh?
"Doojoon? Jadi benar mereka berhubungan?"
Kini tangan Sehun ikut terkepal, dirinya sudah sepenuhnya sadar dari tidur nyenyaknya bersama Luhan. Awalnya dia berfikir bisa menghabiskan sedikit waktu pagi bersama kekasihnya tapi yang dia dapatkan adalah fakta bahwa kekasihnya seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Dan sialnya, hal yang disembunyikan Luhan adalah hal yang berkaitan dengan pembunuh keji yang tak lain adalah pria yang selalu mengaku menjadi seorang dokter sementara kenyataan berkata dia merupakan seorang iblis yang mengerikan.
Taeyong tenanglah, jangan terus berteriak. Kau membuat bibi Kim takut.
Aku sedang dalam perjalanan kerumah.
Baiklah, tunggu hyung!
Pip!
Bersamaan dengan suara Luhan yang mengakhiri panggilan, mata Sehun kembali terpejam. Dia berpura-pura tidur sementara gerakan Luhan merangkak ke tempat tidur membuatnya bertanya-tanya apa yang akan dilakukan kekasihnya.
"Maaf tidak membangunkanmu sayang."
Sehun cukup dibuat berdebar saat Luhan mengecup bibirnya, dan tak lama dia merasakan bunyit decit tempat tidur yang menandakan bahwa Luhan turun dari tempat tidur dan mengambil handuk untuk pergi ke kamar mandi.
"haah~"
Sehun membuka matanya lagi, berfikir apa yang harus dia lakukan hingga satu rencana gila sudah berada di kepalanya saat ini "Itu saja!" gumamnya bersemangat lalu membuang asal selimut yang menjadi saksi permainan panasnya dengan Luhan malam tadi juga pagi ini, mungkin.
BLAM!
"Astaga! Sehun!"
Luhan sedang berada di bawah shower saat tiba-tiba Sehun dengan tubuh polosnya mendobrak masuk. Matanya membulat terkejut, lalu tak lama merona saat melihat banyak cakaran di dada bidang Sehun mengingat malam tadi dia harus menahan sakit yang begitu nikmat saat melayani kekasihnya entah sampai berapa jam.
"Kenapa kau tiba-tiba pergi? Kau tahu aku paling tidak suka ditinggalkan saat tidur!"
Luhan terkekeh, dia menyambut kedatangan Sehun walau sedikit kewalahan karena saat ini tubuhnya dihimpit ke dinding kamar mandi sementara bibir Sehun sudah melumat panas bibirnya.
"Akh~"
Luhan terkejut menyadari bahwa Sehun bermain terlalu agresif pagi ini, selain ciumannya yang panas, tangan Sehun juga sudah mulai mengocok penisnya hingga terkadang Luhan merasa nyeri karena malam tadi Sehun sudah cukup banyak mengulum dan menghisap penisnya berulang kali.
"Sehunn—hhmph~"
Dan katakan dia tidak bisa berkutik saat seluruh tubuhnya mulai lemas. Sehun benar-benar tidak memberi waktu untuknya protes apalagi sampai mengganggu aksi agresifnya di pagi hari.
"Sayang aku harus segera pergi ke rumah sakit."
Ciuman Sehun terhenti mendengar ucapan Luhan. Hatinya tiba-tiba merasa sakit menyadari bahwa saat ini Luhan sedang berbohong padanya. Entahlah, mungkin Kai dan Chanyeol benar mengenai Luhan yang sedang mencoba melakukan semuanya sendiri, membuat entah mengapa dia begitu marah hingga hanya seringai kecil yang terlihat di wajah tampannya.
"Rumah sakit?"
Sehun menatap dalam dua mata favoritnya seolah memastikan, berharap Luhan akan mengatakan sesuatu yang lebih masuk akal selain harus ke rumah sakit sementara Sehun tahu jadwal shift Luhan hari ini adalah siang, tepatnya pukul dua siang, bukan pukul sembilan pagi.
"y-Ya rumah sakit!" timpalnya canggung hingga membuat lingkaran tangan Sehun di pinggangnya mencengkram semakin erat "Sehun!"
"Sebelum ke rumah sakit layani aku sebentar, ya?" Dia memohon, tapi nada suaranya memaksa seolah tidak ingin dibantah hingga membuat Luhan semakin salah tingkah dan berusaha memberi jarak pada Sehun dengan mendorong lembut dada kekasihnya "Tapi kita sudah melakukannya sepanjang malam. Aku akan melakukannya lagi-…"
"Berbalik."
"hmh?"
"Sebentar saja Luhan, berbaliklah."
"Jangan katakan kau ingin melakukannya dari belakang?"
Sehun menyeringai lagi, sengaja dia menghimpit tubuhnya dengan tubuh Luhan hingga dua kejantanan mereka saling menekan dengan milik Sehun mendominasi, tentu saja. Sehun kemudian sengaja menunduk untuk berbisik tepat di telinga Luhan "Kau tahu aku selalu kehilangan kontrol jika kita melakukannya dari posisi depan. Wajahmu saat mendesah adalah hal yang selalu membuatku bersemangat untuk menghentakmu lagi dan lagi sayang."
"Se-sehun, bicaramu terlalu vulgar!"
"Kalau begitu berbalik atau kau ingin melakukannya dari depan?"
Luhan menatap kesal kekasihnya. Entah apa yang membuat nafsu kekasihnya meledak bahkan di pagi hari seperti ini, rasanya dia ingin menolak, tapi dia tahu Sehun bukan pria yang bisa dibujuk jika Sehun kecil sudah berada pada posisi tegak sempurna seolah siap untuk masuk kedalam sarangnya.
"Baiklah….Sekali saja."
Luhan pasrah, dia kemudian berbalik membelakangi Sehun, tak lama kedua tangannya bertumpu pada dinding kamar mandi sementara perlahan dia merendahkan dirinya dan siap pada posisi menungging.
"Indah sekali."
Sementara Luhan bersiap dengan rasa sakitnya, maka Sehun seolah terhipnotis dengan posisi Luhan yang begitu seksi kini terlihat di depan matanya. Air yang menetes dari seluruh tubuhnya, posisi menungging dengan dua kaki yang sengaja mengangkang lebar hingga terlihat lubang kecil berwarna merah yang kini terlihat sedikit bengkak.
Sebenarnya Sehun tidak tega "mengambil" kekasihnya lagi sementara malam tadi dirinya bermain agak kasar dan nyaris membuat Luhan pingsan karena hentakannya. Dia bahkan mencari cara lain untuk membuat Luhan tinggal sampai terdengar suara putus asa kekasihnya mengatakan "Sehun cepatlah."
Sehun tertegun melihat Luhan memohon, dia juga memergoki Luhan menggigit cemas bibirnya tanda dia juga tidak sabar akan penyatuan tubuh mereka. Jadilah dia semakin bersemangat hingga terlihat seringai kecil diwajahnya "Well,"
"SEHUN!"
Luhan memekik saat dua jari Sehun tiba-tiba mengoyak lubangnya yang masih begitu perih. Tempo nya bergantian, keluar masuk begitu kasar namun tetap terasa nikmat saat Sehun menemukan titik sensitifnya "Aku tidak janji bisa bermain cepat."
"Mwo? Apa yang kau—AKH~"
Wajar jika teriakan Luhan terdengar sangat memilukan, wajar jika dia nyaris terjatuh jika tangan Sehun tidak melingkar di pinggangnya, yeah, bahkan Luhan harus mencakar lengan Sehun saat tiba-tiba penis kekasihnya menerobos masuk begitu saja tanpa pemanasan.
"Sehun, sakith—mmh.."
"Sebentar sayang, nanti sakitnya hilang."
Sehun memaksa wajah Luhan menoleh lalu mencium lembut bibir kekasihnya yang masih meringis kesakitan. Dalam hitungan detik Luhan sudah mulai melupakan rasa sakitnya walau posisi bercinta seperti ini selalu membuatnya tidak nyaman bahkan disaat kali pertama Sehun memintanya ketika mereka duduk di bangku sekolah.
"hmmhh…"
Terlebih keduanya sudah tidak bercinta selama satu tahun, jadi wajar pula jika Luhan merasa tidak nyaman dengan posisi doggy style karena rasanya Sehun bisa mematahkan tubuhnya dengan tiap gerakan yang akan dihentak kekasihnya sebentar lagi.
"Aku bergerak."
Luhan mengangguk, memberi persetujuan lalu kembali lagi pada posisinya bertumpu pada dinding lantai kamar mandi sementara dibawah tubuhnya, dia mulai merasakan pergerakan dari penis Sehun yang mulai masuk dan keluar dari tubuhnya.
"hmh~ Sehun, aaah—haaah~"
Luhan sedikit kewalahan menerima tempo permainan Sehun yang cepat dan menuntut. Dia bahkan harus bergantung pada lengan Sehun yang menopang tubuhnya jika tidak ingin jatuh saat Sehun menusuk kejantanannya semakin dalam dan terlalu dalam seiring dengan gerakan yang dia lakukan untuk berhasil membuat Luhan merasakan klimaks pertamanya.
"Sehunna—haaah~"
Sehun tersenyum puas melihat Luhan mencapai klimaks pertamanya pagi ini, dia bahkan sengaja mengocok pelan penis kekasihnya sementara tubuh Luhan masih mengejang karena klimaks yang begitu nikmat yang diberikan Sehun pagi ini.
"Kenapa cepat sekali? Aku bahkan belum mengeluarkan pre-cum sayang!" katanya menggoda Luhan seraya menjilati cairan putih milik kekasihnya yang kini terdengar kesal karena bisikan Sehun di telinganya.
"Berisik! Cepat penuhi aku dengan sperm mu sayang!"
"Baiklah! Aku akan memenuhimu dengan cairanku sampai satu benih tertinggal dan segera membuatku menjadi seorang ayah."
Luhan terkekeh, kenyataan bahwa diantara Kai, Sehun dan Chanyeol hanya kekasihnya yang belum menjadi ayah membuat Sehun sedikit terobsesi dengan tubuhnya. Jadi saat kekasihnya terus mengatakan ingin menjadi seorang ayah, maka rasanya sulit untuk Luhan menolak dan hanya membiarkan Sehun melakukan apa yang diinginkannya.
"Lakukan, buat dirimu menjadi seorang ayah!"
Setelahnya, Sehun kembali fokus menyodok Luhan, dia bahkan sengaja membuat Luhan mengangkang lebar dengan tangannya menopang tubuh si mungil. Detik berikutnya suara air shower yang dibiarkan mengalir serta desahan Luhan dan suara hentakan Sehun yang khas menambah kesan seksual tersendiri pagi ini.
Keduanya seolah kembali larut lagi dalam percintaan dan nafsu kuat yang sejak kecil memang sudah membelit mereka dalam ikatan yang disebut takdir.
.
Beberapa saat kemudian…
.
"Akkhhh—Luhaaan~"
Entah sudah berapa kali Luhan memiliki klimaksnya, yang jelas ini adalah klimaks Sehun yang ketiga. Itu artinya sudah hampir satu jam lebih permainan mereka berlanjut hingga kembali mengotori tempat tidur Sehun yang sudah benar-benar tidak layak di sebut "tempat tidur".
"haah, Sehunna cukup, aku tidak bisa lagi merasakan klimaks."
Posisinya kini Luhan berada di atas Sehun, sedang bersandar di dada kekasihnya karena Sehun baru saja memberi tekanan on top yang begitu luar biasa padanya. Bayangkan saja ketika kau sudah sangat lemas bahkan kram hanya untuk merasakan pinggulmu tapi kau tetap harus bergerak karena tangan kekasihmu terus membuat pinggulmu bergerak menekan ke bawah di atasnya.
Luhan merasakan itu, dan rasanya percintaan pagi ini jauh lebih dahsyat dari percintaan mereka malam tadi, atau malam sebelumnya. Karena entah mengapa Luhan terkadang bisa merasakan kekasihnya marah lalu dia sembunyikan dengan senyum mengerikan berakhir membuatnya klimaks tanpa henti seperti beberapa jam yang lalu.
"Berhenti? Tapi kau baru saja mengalami klimaks milikmu lagi sayang."
Luhan terengah, dicakarnya lagi dada Sehun seraya mengatakan "Aku tahu, tapi aku sudah dalam batasku. Aku tidak bisa lagi-….SEHUN!"
Sehun melakukannya lagi, menukar posisi mereka tanpa memberitahu Luhan lebih dulu. Kini dia berada di atas Luhan sementara penisnya yang keluar dari lubang kekasihnya sedang digesekkan lagi tanda dia ingin memulai permainan dengan posisi depan setelah nyaris semua posisi sudah dilakukannya pagi ini.
"Sehun, jangan katakan…..lagi?"
Sehun sibuk memegang penisnya, mengarahkan ke lubang Luhan dan
"RRHH~"
Dalam sekejap dia sudah kembali menyatu dengan Luhan. Yang membedakan tak ada lagi penolakan Luhan karena saat ini, seluruh tubuhnya milik Sehun sepenuhnya "Baiklah, kita sudahi setelah dua kali lagi aku mengalami klimaks, bagaimana?"
Luhan hanya menatap horor pada kekasihnya. Dua kali klimaks? Ayolah, itu sama dengan satu jam. Karena berbeda dengan dirinya yang begitu sensitif, Sehun begitu kuat dan perkasa jika menyangkut urusan "tempat tidur" jadi rasanya Luhan benar-benar tidak bisa bekerja dengan benar jika Sehun melakukannya lebih dari dua kali dan lewat dari satu jam karena saat ini tubuhnya benar-benar mati rasa dan hanya bisa merespon jika Sehun mulai menyerang tiga titik sensitifnya bersamaan, seperti saat ini.
"mmhhh~ Sehun jangan lagi."
"Wae? Kau menyukainya sayang, nikmati saja."
"Tapi aku sudah tidak—ngghh~"
Tatkala Sehun menyerangnya langsung dalam tempo begitu lambat namun menghentak sangat dalam membuat Luhan berkali-kali lebih menderita dengan gerakan kekasihnya. Terlebih saat tangan Sehun menarik, memilin nipple nya yang sudah begitu tegang sementara tangannya yang lain mengocok penisnya dalam tempo cepat dan bibir kecilnya yang kini sedang mengambil jatah untuk menghisap hingga bengkak nipple kanannya yang tak dijamah.
"haaah~aah—mmhhSehun—aaah~"
Dan lagi-lagi Luhan hanya bisa mendesah, mendesah dan mendesah. Dia bahkan tidak peduli dengan tubuhnya yang mengalami mati rasa hingga terdengar suara Baekhyun berteriak dari luar kamar Sehun, terdengar kesal.
"ASTAGA SEHUN LUHAN! MAU SAMPAI KAPAN KALIAN BERCINTA?"
Luhan terkejut sementara Sehun terlihat kesal dan tidak rela saat kegiatan "menyusu seperti Taeoh" harus terhenti karena teriakan teman kecilnya yang akan segera menjadi ibu "SAMPAI AKU PUAS BEE! PERGI DAN JANGAN GANGGU KAMI!"
"OH SEHUN KAU BENAR-BENAR IBLIS JIKA SUDAH DI TEMPAT TIDUR!"
Luhan terkekeh lalu tanpa sadar bergumam menimpali teriakan sahabatnya "Bee benar sayang, kau iblis. Iblisku yang seksi dan begitu tampan."
"MWO?"
Sehun berteriak kesal seolah menimpali teriakan Baekhyun dan bisikan kekasihnya, dia pun memicingkan mata pada Luhan untuk memberi "sedikit" hukuman pada kekasihnya.
Sengaja, dia mengeluarkan setengah kepala penisnya lalu menghentak dalam tubuh Luhan hingga si pemilik tubuh mengangkat punggungnya tanda serangan Sehun kali ini terlalu dalam dan terlalu nikmat menyentuh entah bagian apa didalam sana.
Sehun menyeringai, lalu berbisik seraya menjilat cuping telinga kekasihnya "Iblis tidak pernah bermain lembut sayang."
Tubuh Luhan meremang lagi, dia sedikit takut hingga tanpa sadar menarik tengkuk Sehun dan memberinya seribu kecupan lembut sebagai tanda permintaan maaf agar setidaknya Sehun melakukannya lebih lembut dan tidak terus menyerang titik yang sama.
"haah~Mianhae Mr. devil, forgive meeeh~aarh.."
"DAN LUHAN! INI SUDAH PUKUL DUA BELAS SIANG! BUKANKAH KAU HARUS PERGI KE RUMAH SAKIT SEBELUM PUKUL DUA SIANG?"
Luhan membeku kali ini "dua belas siang? Sekarang pukul dua belas siang? Itu artinya dia sudah bergumul panas dengan Sehun lebih dari…..TIGA JAM?" oh tidak, buru-buru Luhan mendorong tubuh Sehun menjauh dihadiahi tatapan kesal dari Sehun "Wae? Kau baru saja menciumku!"
"Sehun aku sudah sangat terlambat! Cepat sudahi permainan kita, aku akan melayanimu lagi malam nanti. Bagaimana?"
Saat wajah Luhan terlihat panik, Sehun lebih kesal dari sebelumnya. Dia sengaja menyeringai untuk bertanya "Apa ada yang ingin kau temui? Kenapa sangat panik?"
"Mwo? Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya ingin pergi ke rumah sakit!"
"Benarkah? Tapi seperti yang Baekhyun bilang kau jadwal shift milikmu pukul dua siang sementara saat ini waktu baru menunjukkan pukul dua belas kurang lima belas menit sayang. Apa kau yakin tidak ingin menemui orang lain lebih dulu?"
"Sehun…."
Luhan menggigit cemas bibirnya, dia terlihat canggung dan Sehun, tampaknya dia menyadari bahwa dia sedikit kejam pada kekasihnya. Dan untuk itu dia mengalah, dikecupnya sayang kening Luhan lalu berbisik "Baiklah sekali lagi setelah aku klimaks, kita selesai."
"Mwo? Tapi aku benar-benar terlambat dan—akhh~"
Kini Sehun mengangkat pinggulnya, membuat penyatuan tubuh mereka semakin terasa sementara Luhan tak bisa melakukan apapun selain pasrah dan membiarkan kenikmatan ini membuatnya gila walau pikirannya kini dipenuhi dengan Taeyong.
"Sehun jebal, rrrhhh~"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setidaknya Sehun menepati janji, setelah mendapati klimaks terakhirnya dia membantu Luhan membersihkan tubuh, kali ini benar-benar hanya memandikan Luhan dengan benar karena setiap kali dia membersihkan bagian bawah Luhan, kekasih mungilnya akan meringis kesakitan.
Sehun bahkan terus menggendong Luhan, memakaikan kemeja yang layak tak lupa dia juga menanggalkan jas putih Luhan di tas yang akan dibawa kekasihnya.
"Sudah selesai. Kau sudah sempurna dokter Oh!"
Sehun mengecup bangga bibir kekasihnya seraya berjongkok dan memakaikan jam tangan serta mengikat tali sepatu kekasihnya.
"Benarkah? Sudah tampan?"
"Sudah cantik."
Sehun mengoreksi dibalas dengusan dari Luhan "Kapan kau akan mengatakan aku tampan?"
"Nanti, jika Chanyeol sudah lebih cantik darimu!"
"tsk!"
"Berhenti menggerutu atau kita berakhir lagi di tempat tidur."
"Tidak mau!"
"Kalau begitu ayo kita berangkat."
Luhan panik, dilihatnya Sehun memakai jaket hitam casual miliknya hingga mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja "Sehun!"
"hmh?"
"Aku akan berangkat sendiri ke rumah sakit."
"Kenapa? Aku bisa mengantarmu sayang."
"Tidak perlu, sungguh, kita bisa bertemu setelah aku pulang. Bagaimana?"
Lagi-lagi Sehun menangkap raut cemas wajah kekasihnya, ingin rasanya dia mengatakan apa kau akan bertemu dengan Taeyong? Tapi nyatanya Sehun tidak sampai hati membuat Luhan merasa bersalah karena tengah berbohong padanya.
"Baiklah, apa kau akan langsung ke rumah sakit?"
"Tentu saja."
"Bawa mobilku kalau begitu,"
Buru-buru Luhan berdiri, sedikit meringis kesakitan karena bagian bawahnya masih begitu nyeri untuk berjinjit dan mengecup bibir kekasihnya "Gomawo sayang, sampai nanti." Katanya mengambil kunci mobil Sehun lalu berniat pergi.
Luhan bahkan sudah membuka pintu mobil sampai suara berat Sehun kembali terdengar bertanya "Luhan."
"hmh?"
"Apa kau yakin tidak akan bertemu dengan seseorang? Maksudku, kau terlalu terburu-buru sayang. Seperti ingin menemui seseorang."
Wajah Luhan sendu, sejujurnya dia merasa bersalah karena harus membohongi Sehun disaat hubungan mereka baru saja kembali membaik, namun rasanya dia lebih jahat jika harus mengatakan pada kekasihnya sementara nanti, Doojoon bahkan memiliki alasan yang lebih banyak untuk bisa menyakiti Sehun, kekasihnya.
"Tidak sayang, aku tidak akan menemui siapapun, percaya padaku."
Tak memiliki pilihan lain, Sehun hanya tersenyum lalu melambai pada kekasihnya "Hubungi aku jika kau sudah sampai di rumah sakit."
"Pasti, sampai nanti Sehunna."
BLAM!
Tak lama pintu kamarnya tertutup, meninggalkan Sehun yang terlihat seperti orang bodoh sementara saat ini kekasihnya akan menemui salah satu remaja yang pernah bekerja untuk dua orang paling mengerikan yang begitu dekat dengan Luhan.
Langkahnya pun mendekati jendela kamar, membuka tirainya untuk melihat dengan jelas bagaimana Luhan terburu-buru masuk kedalam mobil.
Setelahnya, suara mobilnya menggema meninggalkan garasi dengan senyum si pemilik yang terlihat sendu, tidak kecewa, hanya seperti merasa tidak berguna karena kekasihya bahkan tidak berkata jujur padanya.
Haah, tidak apa sayang, sungguh, teruslah berbohong, aku menjagamu dengan kedua mataku tanpa mengusik kebohonganmu.
Sehun menjerit pilu dalam hatinya, tak lama dia tetap mengenakan jaket miliknya lalu membuka laci di samping tempat tidur, mengambil kunci mobil dan bersiap pergi mengikuti kemana Luhan pergi dengan kebohongannya.
Aku disini, dibelakangmu, memastikan kebohongan yang kau lakukan tidak menyakitimu.
"Sehun? Kau akan pergi?"
"hmh, ada yang harus kulakukan Bee."
"Tidak sarapan lebih dulu? Luhan juga tidak sarapan, apa kalian bertengkar?"
Sehun mengambil asal satu potong roti yang dibuat Baekhyun untuk mengerling sahabatnya "Kami baik-baik saja, aku pergi dulu."
"Baiklah, sampai nanti."
Sehun melambai, mengecup kepala Taeoh yang sedang bermain di baby walker lalu membuka pintu, terlihat menghela nafas selagi kakinya melangkah mendekati mobilnya yang lain.
Jadi lakukan apapun yang kau inginkan karena aku mengawasimu, selalu.
.
.
.
.
.
.
Blam!
"Taeyong dimana kau?"
"…."
"Bibi Kim dimana bibi?"
Bagaimana Luhan tidak cemas jika Taeyong atau Bibi Kim tak ada yang menyambut kedatangannya. Dia bahkan terus berlari mengelilingi rumahnya untuk berniat naik ke tangga dan memeriksa kamar Taeyong sebelum
Klik!
Pintu kamarnya terbuka, tapi bukan Taeyong yang terlihat melainkan
"Jaehyun?"
Remaja berlesung pipi itu tersenyum lirih lalu berujar asal menyapa kekasih kakak kandungnya "Hay hyung, aku disini lagi."
"Astaga! Sudah berapa kali aku bilang untuk tidak datang menemui Taeyong? Kenapa kau masih-…."
"Taeyong kesakitan."
"huh?"
"Bibi Kim terus menghubungimu tapi kau tidak menjawabnya, dan seperti tidak memiliki pilihan lain akhirnya bibi Kim menghubungiku dan aku datang. Aku yang datang, menjaganya. Bukan kau hyung."
"Oh Jaehyun apa yang kau bicarakan?"
"Aku memanggil dokter dan kau tahu apa yang dikatakan dokter?"
Seluruh keluarga Oh memiliki ekspresi yang sama saat mereka tertekan, terlihat tenang namun jauh didasar suara mereka menyimpan kesedihan yang bahkan tak bisa dijelaskan bahkan oleh mereka sendiri.
Jadi saat tatapan si bungsu Oh terlihat kacau dan suaranya begitu berat, Luhan tahu sesuatu terjadi namun berusaha tenang untuk tidak membuat Jaehyun semakin tertekan.
"Apa yang dikatakan dokter?"
Jaehyun mengusap kasar wajahnya untuk menatap Luhan begitu kacau dan putus asa "Sial! Aku tidak mengingat apa yang dikatakan dokter itu, dia hanya mengatakan Taeyong kecanduan dan dia tidak akan bertahan tanpa obat itu."
"Mwo?"
Luhan terkejut, buru-buru dia mendorong Jaehyun untuk masuk ke dalam kamar, menemukan Bibi Kim sedang menjaga Taeyong sementara dirinya begitu terkejut melihat beberapa luka gores di lengan Taeyong lengkap dengan slang infus terpasang sementara wajah adiknya begitu pucat dan terlihat sangat kesakitan.
"Taeyong!"
Luhan memeriksa nadi Taeyong dan menyadari bahwa adiknya benar-benar dalam kondisi yang mengerikan nyaris tak bertahan jika tidak dipasangkan infus yang Luhan tebak adalah berisi cairan penghilang rasa sakit golongan tertinggi di antara penghilang sakit yang lain.
"Bibi apa yang terjadi?"
"Malam tadi Taeyong demam tinggi, tapi beberapa jam lalu dia mulai berteriak kesakitan dan terus menggores tubuhnya sendiri Luhan, dia bilang dia tidak akan bertahan tanpa obat itu, bibi tidak mengerti dan meminta Jaehyun untuk datang."
"Obat? Obat apa?"
Jaehyun berjalan mendekati Taeyong, mengusap surai pria yang entah mengapa sudah memenuhi pikirannya untuk berujar lirih memberitahu Luhan "Doojon hyung."
"Mwo?"
"Taeyong terus memanggil nama pria itu, Doojon."
Luhan lemas, dia mulai mengerti kemana arah pembicaraan Jaehyun sampai adik kekasihnya kembali berbicara "Dia terus mengatakan Doojoon hyung maafkan aku, berikan aku obatnya, aku kesakitan. Siapa Doojoon hyung? Apa dia memiliki apa yang dibutuhkan Taeyong? Apa aku harus mencari pria itu?"
"Sial!"
Tangan Luhan gemetar, buru-buru dia mengambil ponselnya untuk mencari nama dari pria yang sudah begitu membuatnya ketakutan beberapa saat lalu. Dia bahkan bersumpah untuk tidak lagi berhubungan dengan pria mengerikan ini saat dirinya mengetahui Doojoon hampir melukai Sehun di depan kedua matanya.
"Luhan?"
"Temui aku siang ini di tempat biasa, aku menunggumu!"
Pip!
Tak lama panggilan Luhan terputus, dia segera berlari keluar dari kamarnya untuk menemui pria yang menjadi alasan Taeyong mengalami masa kritisnya yang mengerikan saat ini.
"HYUNG!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan tempat biasa yang Luhan maksud adalah sebuah kafe di dekat rumah sakit tempatnya bekerja, kafe yang terletak di pinggir jalan itu nyatanya tidak begitu ramai siang ini, hanya menampilkan beberapa pengunjung dengan Luhan dan Doojoon yang kini duduk berhadapan namun tak satupun yang mengeluarkan suara.
Luhan masih enggan menatap Doojoon, jujur dia ketakutan. Dia tidak tahu harus memulai dari mana, membicarakan apa, atau langsung menyudutkan pria yang memiliki obsesi pada dirinya.
Berbeda dengan Doojoon, tatapannya tak berkedip menatap Luhan, dia merindukan pria di depannya, tapi yang membuatnya senang adalah kenyataan bahwa Luhan lebih dulu meminta bertemu dan itu artinya, Luhan memang membutuhkannya.
"Jadi sampai kapan kau akan diam? Apa yang ingin kau bicarakan Lu?"
Nadanya lembut, dibalas gerakan canggung dari Luhan dan berakhir dengan Luhan yang menatap tegas pria di depannya, terlalu tegas sampai Doojoon bisa merasakan aura kemarahan dari pria yang dulu selalu tersenyum padanya.
"Ada apa?"
"Cukup, hentikan, hmh?"
Tak mengerti Doojoon bertanya "Apa?"
"Aku tahu siapa kau, Yoon Doojoon."
Serangan Luhan nyatanya terlalu cepat, dia mengatakan apa yang ada diisi kepalanya terlalu cepat dari perkiraan Doojoon, membuat sang professor harus mati-matian mendecak kagum karena kemampuan Luhan menyerangnya masih begitu strict dan selalu tepat mengusik ketenangan jiwanya.
"Benarkah? Katakan siapa aku? Kau terlihat ketakutan, Lu-Han."
Saat Doojoon menggertakan giginya, Luhan dibuat semakin takut namun disembunyikan ketakutannya jauh-jauh. Dia hanya terus menatap tak berkedip Doojoon lalu mengatakan dengan seluruh keberanian yang dimilikinya saat ini.
"Kaki tangan Ko Donghoon, aku benar?"
Doojoon masih terlihat begitu tenang, begitupula Luhan. Yang membedakan tangan Luhan terkepal antara cemas dan takut sementara Doojoon diam-diam tersenyum mengerikan "Ko Donghoon? Siapa?"
Habis sudah kesabaran Luhan, tangannya terkepal dia bawa ke atas meja untuk sedikit bergerak dan mempersempit jarak kursinya dengan milik Doojoon "Aku hanya tidak menyangka kau bekerja untuk pembunuh kedua orang tuaku! Kau mengerikan hyung?"
Jadi dia belum tahu? Baguslah.
Rasanya Doojoon masih memenangkan situasi, kemarahan Luhan jelas masih tertuju pada Donghoon bukan pada dirinya. Itu artinya, hingga saat ini Luhan belum mengetahui bahwa dirinya dan Seunghyun adalah pembunuh sesungguhnya yang menghabisi masing-masing nyawa kedua orang tuanya.
Sang professor kemudian melipat tangan di dada untuk bertanya langsung pada Luhan "Lalu apa? Kau akan melaporkan aku pada jaksa Oh? Pria keji yang diam-diam juga menjadi alasan orang tuamu tewas? Apa kau memaafkannya? Ah, apa karena putranya? Haruskah aku melakukan sesuatu pada kekasihmu? Akankah kau terus mendesakku jika aku menyakiti Oh Sehun? Kekasih-…."
"DIAM!"
Nyatanya teriakan Luhan cukup membuat beberapa pengunjung menoleh, keduanya bertatapan cukup tajam sampai Luhan lebih dulu memberitahu situasinya saat ini "Jika tanganmu berani menyentuh satu helai rambut Sehun, Demi Tuhan, aku tidak akan pernah memaafkanmu, aku akan mengejarmu bahkan ke neraka sekalipun! Kau dengar? JANGAN PERNAH MENYENTUH SEHUN LAGI!"
Lagi?
Doojoon bertanya-tanya, lalu kemudian seringai mengerikan itu kembali terlihat menyadari bahwa malam itu, dibandara, Luhan sudah mengetahui keberadaan dirinya dan Seunghyun.
"ah, Jadi kau sudah tahu? Siapa yang memberitahumu? Taeyong? Well, bicara tentang Taeyong apa dia baik-baik saja? Ummh, maksudku apa kau datang karena ingin meminta sesuatu dariku? Untuk Taeyong?"
"KAU!"
Demi Tuhan, Luhan tidak pernah mengira berhadapan dengan iblis berwujud manusia akan sangat mengerikan seperti ini. Doojoon seperti bisa membaca pikirannya dan Luhan dibuat begitu ketakutan karena sepanjang percakapan mereka, dia tidak menemukan sedikit penyesalan apapun yang ditujukan Doojoon padanya.
"Berikan padaku."
"Apa?"
"Kau tahu apa yang kumaksud. Kondisi Taeyong kritis!"
"ah, Jadi Taeyong bersamamu? Aku ingat kau mengatakan tidak tahu keberadaan adik kita. Kau berbohong?"
Luhan tertawa kecil lalu bertanya tanpa terdengar sarkas "Kau memiliki obat sialan itu atau tidak? Aku tidak ingin membuang waktu bersama pria yang bekerja untuk pembunuh!"
"….."
Doojoon hanya menatap Luhan tak berkedip, tidak memberikan jawaban, tidak pula diam seolah dia tidak mengetahui apapun.
"Jadi kau tidak tahu? Baiklah, aku rasa sampai disini hubungan kita. Aku tidak akan menemuimu lagi dan tidak akan pernah akan bertemu denganmu! Mulai hari ini Taeyong akan tinggal bersamaku, kau dengar?" katanya marah lalu berniat pergi sebelum Doojoon mengeluarkan sesuatu dari balik jas hitamnya.
"Apa injeksi kecil ini yang sedang kau bicarakan?"
Luhan terdiam, menyadari tebakannya meleset mengira itu adalah obat karena nyatanya itu adalah cairan berbahaya yang berada di dalam ampul kecil "Duduklah jika kau ingin mendapatkannya."
Tak memiliki pilihan lain, Luhan kembali duduk dan terpaksa mendengarkan "Apa kau mengira ini adalah obat? Tsk! Kau salah Lu, ini bukan obat." Katanya mengerikan seraya menggoyangkan ampul kecil itu untuk menatap Luhan sangat mengerikan "Ini racun yang sangat mematikan."
Tangan Luhan terkepal, terlebih saat Doojoon mengatakan "Dan aku membuatnya dengan kedua tanganku sendiri."
"brengsek! Sebenarnya siapa kau? Dimana Professor Yoon yang aku kenal? Yang selalu membantu seluruh pasiennya? Dimana Yoon Doojoon yang aku kenal?"
Doojoon tertawa sarkas dan tanpa ragu mengatakan "Doojoon yang kau kenal dua puluh tahun lalu, dia sudah mati jauh sebelum dia bertemu dengan cinta pertamanya lagi, Kau."
"Mwo? Apa-…apa yang kau katakan?"
"Aku mencintaimu, tidak, aku sangat mencintaimu bahkan melebihi cinta sialan yang dimiliki Oh Sehun!"
"….."
"Kau adalah alasan mengapa aku berubah sangat mengerikan seperti saat ini, KAU LUHAN!"
Luhan hanya diam, suaranya tercekat sementara ketakutan sudah tidak bisa lagi disembunyikan dari wajahnya, dia begitu takut hingga rasanya ingin pergi jika tidak ingat Doojoon memiliki sesuatu yang dia butuhkan.
"Saat kita diculik kau bilang ayahmu akan datang menyelamatkanku. Tapi apa? Ayahmu dan Jaksa sialan itu hanya datang menyelamatkanmu! HANYA KAU! Setelahnya aku harus hidup dalam ketakutan seraya berdoa agar kau kembali, terus berdoa sampai doaku berubah menjadi kalimat menjijikan karena kau tak pernah datang."
"Hyung…"
"Untuk bertahan hidup aku harus bekerja untuknya. Dan well, aku tidak mengalami kerugian apapun. Sebaliknya, kita bisa kembali bertemu dan bersyukurlah karena aku tidak membencimu, kau tahu? Aku sangat mengerikan jika membenci seseorang."
"…"
"Aku bisa memberikan injeksi kecil ini untuk Taeyong, tapi kau tahu? Selalu ada harga yang harus dibayar. Apa kau bersedia?"
Luhan terlihat sangat ketakutan tapi tetap bertanya "Apa?"
"Mudah saja, aku akan memberikan ini padamu asal kau jadi milikku."
"Mwo?"
"Luhan sayangku, dengarkan aku. Kita bisa pergi darisini, kita bisa merawat Taeyong bersama. Aku bisa berhenti membuatnya kecanduan cairan mematikan ini, bersamamu."
"Cairan mematikan?"
Rasanya Luhan tidak pernah mendengarkan permohonan cintanya, jadilah Doojoon kembali menggunakan kuasa atas Taeyong untuk membuat Luhan terdesak dan tak memiliki pilihan lain
"Kau tahu aku adalah salah satu professor paling jenius dan mengerikan yang pernah ada dalam sejarah kesehatan Seoul. Aku bisa menciptakan racun mematikan ini hanya dengan beberapa tahun sebelum aku menerima gelar professorku. Apa kau tahu bagaimana cara kerjanya."
Luhan hanya diam mendengarkan, terlalu lelah menjawab sampai Doojoon kembali bersuara "Cairan ini akan menyerang sistem saraf pusat pada awalnya. Kau akan dibuat sangat kesakitan di bagian kepala serta sesak karena pembuluh arteri tidak mengantarkan oksigennya dengan benar, itu hanya fase awal."
"Mwo?"
"Karena fase akhir dan yang paling mematikan adalah saat dia menekan susunan saraf pusat di kepalamu, kau tahu, seperti gerakan motorik yang menyebabkan kelumpuhan lalu tak lama semua fungsi saraf ditubuhmu akan dirusak jika pemakaiannya tiba-tiba dihentikan."
"Apa kau sengaja memberikannya pada Taeyong?"
"Bukan aku yang melakukannya, seseorang yang lebih berpengaruh dan kuat dariku yang melakukannya."
"Ko Donghoon?"
"Ya, mungkin."
"Lalu apa yang kau lakukan? Kenapa kau diam saja? Harusnya kau menolong adikmu? Adik kita!"
"Aku sedang melakukannya sampai dia berulah dan berlari pergi dariku!"
"Apa maksudmu?"
"Perlahan sistem tubuhnya akan mengalami resisten jika aku terus memberikan dosis yang sama padanya setiap minggu. Dan mengingat ini minggu keduanya tidak diberikan obat, aku rasa Taeyong akan segera mengalami fase akhir yang kusebutkan tadi, sistem sarafnya akan dirusak dan dia tidak akan bertahan!"
"brengsek! BERIKAN CAIRAN ITU PADAKU!"
Luhan berusaha mengambilnya namun dengan sigap Doojoon jauhkan dari jangkauan Luhan. Dia kemudian menyeringai lalu kembali mengulangi permintaannya "Jadi milikku dan kita akan menyembuhkan Taeyong bersama, bagaimana?"
"Gila!"
"Anggap aku gila, tapi hanya ini yang bisa menyelamatkan Taeyong, lagipula hanya jenius sepertiku yang bisa membuat racun sekaligus obat mematikan seperti cairan mengerikan ini. Jadi bagaimana? Luhan?"
Luhan terdiam, ingin rasanya dia merebut cairan kecil itu dan berlari pergi. Tapi mengingat siapa Doojoon membuatnya harus kembali memikirkan cara lain, setidaknya dia harus membuat Taeyong bertahan lebih dulu.
"Baiklah."
"huh?"
"Kita akan hidup bersama dan menyembuhkan Taeyong."
"Benarkah?"
Mengusap cepat air matanya, Luhan menjawab "Ya, tentu saja."
"Kau tidak membohongiku lagi?"
"Apa aku terlihat memiliki pilihan lain?"
Doojoon melihat sebersit kemarahan Luhan dimatanya, rasanya dia puas membuat Luhan terdesak. Karena saat Luhan terdesak semua menjadi semakin mudah untuknya dan dia begitu bahagia.
"Baiklah, berikan ini pada Taeyong, aku akan menghubungimu dan segera memberi kabar kita akan pergi." katanya menyerahkan botol kecil berisi cairan mematikan itu untuk digapai Luhan sebelum
BUGH!
"BRENGSEK! MATI KAU YOON DOOJOON!"
Luhan terkejut saat tiba-tiba tubuhnya terdorong kasar, membuatnya sedikit meringis kesakitan sampai tubuhnya meremang ketakutan menyadari suara teriakan yang begitu khas yang terlalu dia kenal dalam hidupnya.
Perlahan dia mengangkat wajahnya untuk menemukan sosok yang begitu familiar di hidupnya yang entah sejak kapan sudah berada disini dan sedang memukuli Doojoon di depan umum.
"Sehun?"
Luhan lemas, seluruh tubuhnya lemas. Bukan ini yang dia inginkan, bukan ini yang dia harapkan terjadi, sungguh. Niatnya adalah menjauhkan Sehun dari Doojoon, bukan sebaliknya.
Melihat bagaimana dua pria di depannya kini saling memukul mengerikan, pastilah membuat Doojoon semakin marah dan itu artinya…..Sehun dalam bahaya.
"Sehun, Hentikan."
Luhan berdiri di dua kakinya yang begitu lemas, berusaha mendekati Sehun dan Doojoon namun percuma karena baku hantam keduanya terlihat sangat mengerikan saat ini "Sehun, sayang. cukup!"
Barulah saat Doojoon hendak mengeluarkan benda tajam dari balik kemejanya, Luhan bereaksi. Dia tahu itu sebuah pisau kecil, wajah Luhan pucat, langkahnya cepat mendekati Sehun dan
Grep!
"Sehun hentikan, Kumohon cukup."
"…"
Beberapa sudut wajah Sehun sudah mengeluarkan darah, matanya lebam, dan nafasnya berat dipelukan Luhan. Dia benar-benar akan membunuh Doojoon jika Luhan tidak menangis di punggungnya dengan tangan memeluknya begitu erat.
"Hentikan sayang, jebal….hksss."
PRANG!
Sehun geram, dibuangnya kasar gelas yang nyaris dia gunakan untuk membunuh Doojoon untuk memperingatkan pria sialan di depannya "Setelah ini kau tidak berhadapan lagi dengan Luhan! TAPI DENGANKU! KAU DENGAR?"
Setelahnya, Sehun menarik kasar lengan Luhan, membawa kekasihnya pergi dan meninggalkan Doojoon yang kini menyeringai dan mengatakan "Menarik." Dengan tangan yang dipenuhi darah, karena nyatanya saat ini Doojoon menggeggam pecahan gelas kaca yang ditujukannya untuk Sehun.
"ARRGGGHHHH!"
.
.
.
.
.
.
"APA YANG KAU LAKUKAN? APA KAU BERNIAT MENINGGALKAN AKU LAGI?"
"Sehun jebal, biarkan aku membersihkan lukamu lebih dulu."
Keduanya kini sudah berada di ruangan Luhan di rumah sakit, dan seperti yang dilakukannya sejak lima belas menit yang lalu, Sehun terus berteriak dan tidak membiarkan Luhan menyentuh lukanya sedikitpun.
"Kau tahu daripada wajahku aku merasa begitu terluka disini!"
Sehun mencengkram kasar dadanya, menunjukkan dimana letak lukanya yang kesakitan hingga membuat air mata Luhan semakin deras dan turun terus menetes sebagai tanda menyesalnya karena membuat Sehunnya kesakitan lagi.
"Aku tidak akan meninggalkamu Sehunna, aku hanya tidak memiliki cara lain. Aku-…."
"KENAPA KAU TERUS BERBOHONG PADAKU? AKU TIDAK BISA KEHILANGANMU LAGI LUHAAAN!"
Buru-buru Luhan berlari kepelukan Sehun, memeluk kekasihnya erat seraya terisak begitu kuat dipelukan Sehun, sungguh dia tidak tahu akan melukai Sehun terlalu dalam, membuatnya sangat ketakutan dan berakhir memeluk erat kekasihnya.
"Aku juga tidak bisa kehilanganmu lagi sayang, maafkan aku. Aku bersalah.hkss, aku terlalu bingung dan tidak tahu harus melakukan apa. Maafkan aku."
Dan untuk Sehun, mendengar Luhannya begitu menyesal sudah sedikit membuatnya tenang. Dia pun membalas pelukan Luhan untuk menenangkan kekasihnya "Apa kau berjanji akan mengatakan semuanya padaku?"
Mengangguk dalam isakannya Luhan mengatakan "Aku janji."
"Baiklah, sekarang lihat aku."
Luhan mendongak, dipenuhi air mata sampai rasanya Sehun ingin menangis tak tega melihat kekasihnya begitu ketakutan "Aku juga minta maaf karena terus membentakmu. Jadi berhenti berbohong padaku. Ya?" katanya memohon seraya menghapus air mata Luhan dibalas anggukan tanpa ragu dari kekasihnya.
"Ya."
"Bagus! Sekarang kau bisa bekerja karena aku sudah tidak marah."
"Tapi Taeyong…"
"Aku akan melihatnya dirumah selagi kau menyelesaikan jam kerjamu."
"Apa kau akan menolongku menyembuhkan Taeyong?"
Sehun mengecup sayang bibir kekasihnya lalu tersenyum tanpa ragu "Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu tinggal disisiku, selamanya." Katanya kembali mengecup bibir Luhan lalu bergegas pergi untuk datang kerumah kekasihnya, melihat keadaan Taeyong.
"Aku akan menjemputmu pukul delapan. Sampai nanti sayang."
"Sehun!"
"hmh?"
"Lukamu."
Sehun tersenyum kecil lalu mengerling nakal kekasihnya "Kau bisa membersihkannya malam nanti, dikamar kita."
"Tapi…."
"Sampai nanti sayang, dan ingat! Jangan temui Doojoon untuk alasan apapun! Kau mengerti?"
"mhh…"
"Aku mencintaimu."
BLAM!
Sehun bahkan belum mendengar jawaban Luhan yang membalas "Aku juga mencintaimu." Untuk pergi terburu-buru dan mencari masing-masing nama Kai dan Chanyeol.
"Temui aku dirumah Luhan, sekarang!"
Pip!
Setelahnya, Sehun benar-benar akan melakukan perang terbuka berniat untuk menjauhkan Doojoon dari Luhan, selamanya.
BRAK!
"arh!"
Salahnya jalan terlalu terburu-buru sampai tidak memperhatikan sekitar. Salahnya juga jika dia menabrak sesorang hingga terjatuh dan terlihat kesakitan.
"Maafkan aku, apa kau baik-baik saja?"
Sehun bertanya asal, membantu pria yang memiliki ukuran tubuh lebih kecil dari kekasihnya untuk mengucapkan maafnya lagi saat ini "Maaf-…."
"y-YAK! APA KAU TIDAK PUNYA MATA? APA KAU-….eoh! Bukankah kau ahjussi yang mabuk saat melihat kekasihmu mencium pria lain?"
Sehun mengernyit untuk bertanya "Kau mengenalku?"
"Whoa daebak, aku dilupakan begitu saja?"
Masih tidak mengingat Sehun bertanya "Siapa?"
"Wayo! Namaku Wayo."
Seolah familiar, barulah samar-samar Sehun mengingat untuk mengatakan "ah. Kau bocah malam itu ya?"
"Bocah? Siapa? Aku? Usiaku sudah dua puluh tahun!"
"Ya terserahmu saja, tapi aku sedang terburu-buru."
"YAK! Apa begini caramu bersikap pada pria yang sudah menolongmu dan baru saja kau tabrak beberapa menit lalu?"
Menghela nafas, Sehun bertanya "Lalu apa yang harus aku lakukan?"
Remaja yang memiliki usia dua tahun lebih tua dari adiknya itu kemudian menjawab "Temani aku minum."
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan disinilah mereka, di kafe yang berada di Hanyang hospital. Sehun dengan sangat terpaksa menemani bocah didepannya minum sementara Kai dan Chanyeol terus bergantian menghubunginya seolah akan berteriak marah karena dirinya sangat terlambat saat ini.
"Apa kau sudah selesai?" katanya tak sabar dibalas gelengan dari Wayo "Belum, sebentar lagi." katanya menyesap strawberry milkshake sementara Sehun harus menderita karena menemaninya.
"Ayolah! Ada yang harus aku lakukan."
"Apa?"
"Pekerjaan."
"Tunggu sebentar, aku sedang berusaha membuat cemburu kekasihku."
"huh?"
"Kau lihat pria tinggi yang sedang berbicara dengan rekannya? Dia kekasihku."
"Tidak peduli!"
"Tapi sejak kedatangan dokter baru itu, perhatian kekasihku terbagi dan aku kesal!"
"Kalau begitu katakan kau tidak menyukai dokter baru itu!"
"Sudah! Tapi dia memarahiku dan mengatakan aku kekanakan."
"Kau memang bocah."
Uhuk!
"ssh! Pelan-pelan sedikit! Kenapa tersedak?"
Tatapan mata Wayo kesal melihat ke arah belakang Sehun. Remaja dua puluh tahun itu bahkan terus menggeram seraya mengatakan "Aku tidak akan memaafkanmu, tidak akan pernah."
"Siapa? Apa yang kau lihat?"
"Kekasihku, dia sedang merangkul mesra dokter baru itu."
Penasaran, Sehun ikut menoleh. Mencari tahu siapa yang dimaksud Wayo untuk dibuat terkejut menyadari bahwa sedari tadi pria yang dikatakan "dokter baru" oleh remaja yang menolongnya adalah….
"Luhan?"
"Kau benar! namanya Xi Luhan! Kau mengenalnya?"
Sehun tertawa kesal untuk mengatakan "Aku lebih dari mengenalnya!" ujarnya mengerikan dan tak lama berjalan meninggalkan kafe.
Buru-buru Wayo mengikuti Sehun, mencegah pria yang pernah disukainya berbuat ulah sementara matanya kesal melihat kekasihnya benar-benar menyukai si dokter baru.
Sret!
"Argh!"
Luhan, si dokter baru, terlihat meringis saat seseorang menarik kasar lengannya. Dia ingin marah pada awalnya tapi kemarahannya berubah menjadi canggung melihat kekasihnya masih berada di sekitar rumah sakit.
"Sehun?"
"ha ha ha! Iya aku Sehun! Terkejut? Sedang selingkuh?"
Luhan salah tingkah. Kebodohan dia adalah membantu dokter muda asal Bangkok yang sedang bertengkar dengan kekasihnya, jadilah dia bersedia dirangkul serta dipeluk tanpa sadar jika Sehun masih berada di rumah sakit dan terus memperhatikannya.
"Sehun aku bisa jelaskan, aku-…."
"SAYANG! APA YANG KAU LAKUKAN! AYO KITA PERGI!"
Dan saat tangan Sehun ditarik oleh pria berperawakan lebih mungil darinya, Luhan terkejut. Terlebih saat pria kecil itu memanggil Sehunnya dengan sayang, jadilah kemarahan dia rasakan saat ini.
"MWO? SAYANG? SIAPA KAU?"
Buru-buru Wayo menjawab "Aku kekasihnya."
"HEY!" Sehun menegur dibalas tatapan kesal dari Luhan "ha ha! Kalau begitu aku istrinya! OH SEHUN KAU BENAR-BENAR KEJAM!"
"Luhan aku bisa jelaskan."
"APA? KAU YANG SELINGKUH?'
Saat Sehun dan Luhan bertengkar hebat, satu pria tinggi yang juga berada disana kini bisa membaca situasi. Dia pun segera menarik lengan Wayo lalu menjauhkannya dari Sehun yang kini sedang bertengkar dengan Luhan.
"Maaf tapi aku rasa ini hanya salah paham dokter Xi."
"APA?"
Dokter yang memakai tanda pengenal dr. Phana. Itu tersenyum untuk menarik tubuh Wayo ke pelukannya "Bocah pembuat masalah ini, dia kekasihku."
"…"
Luhan terdiam sementara Sehun bergumam "Whoa daebak. Dia kekasihmu? Lalu kau hanya membiarkan dia cemburu karena kau merangkul mesra kekasih orang lain? HAH!"
"Kami sedang bertengkar."
"tsk! BERTENGKAR DENGAN MEMBUAT KONTAK FISIK DENGAN KEKASIHKU?"
"Sehun, jangan berteriak."
"KENAPA AKU TIDAK BOLEH BERTERIAK?"
Buru-buru Luhan menarik lengan kekasihnya dan melemparkan tatapan menyesal pada dokter muda yang sangat berbakat seperti Phana "Maafkan aku."
"MWO? KENAPA KAU MEMINTA MAAF?"
"Sehun sudahlah, ayo kita pergi."
"BIARKAN AKU MEMUKULNYA, BIARKAN AKU—RRHH!"
Luhan sengaja menekan luka di memar Sehun, reaksinya sang kekasih kesakitan dan Luhan menyesal karenanya.
Klik!
"Duduklah, aku akan membersihkan lukamu lebih dulu."
Sehun masih enggan bergerak sampai Luhan menariknya ke tempat tidur jaga yang selalu menemani sang dokter di malam hari "Jangan marah." Katanya berjongkok di depan Sehun dan perlahan membersihkan luka memar di wajah dan tubuh kekasihnya.
"…"
"Sehun."
"…"
Luhan terus membersihkan luka Sehun, terkadang menekan hingga Sehun mendapatkan akal sehatnya "Jika kau marah kita tidak bisa membuat adik bayi."
"Mwo?"
Luhan terkekeh, barulah saat kalimat membuat adik bayi disebut Sehun merespon. Kali ini dia terdiam, membersihkan luka Sehun dengan cermat sementara diam-diam mengusap air mata karena tiap kali mengingat bagaimana Sehun terluka, itu menghancurkan hatinya.
"haah~"
Luhan berdiri, sengaja merangkak untuk duduk dipangkuan Sehun lalu memeluk kekasihnya dengan erat.
"Jangan marah."
Luhan mencium tengkuk Sehun, beralih ke leher, ke bibir, lalu berakhir mencium lama kening kekasihnya
"Jika kau marah kita tidak bisa membuat adik bayi, lagipula aku membutuhkanmu." Katanya putus asa dibalas pelukan dari Sehun di pinggangnya "Benarkah? Kau membutuhkan aku?"
"Sangat, aku sangat membutuhkanmu. Untuk hidupku, untuk nafasku dan aku membutuhkanmu menghadapi Doojoon, Sehunna. Aku tidak mau menghadapinya sendiri, dia sangat mengerikan. Aku ingin bergantung hidup padamu, bisakah?"
Sehun tersenyum puas, dilumatnya kasar bibir Luhan lalu menatap dua mata kekasihnya sedikit menuntut "Teruslah bergantung hidup padaku, selamanya."
.
.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
Ketipu yekan? Ga perlu nyiapin hati bgt2 karena setidaknya mereka masih baik2 aja sampai tbc di ch 18 kkkk~ maapin gue yang selalu meleset, kirain bisa masukin adegan ini ternyata maksa kalo dimasukkin, nikmatin sajalah, pelan-pelan asal JOS (?)
.
Betewe ga tanggung2 gue keluarin Phana noh sekalian, tapi mau sampe Ming-KIT keluar PUN mereka Cuma Cameo di JTV, jangan terlalu berharap soale endas uwek mumet klo ditaaambahin konflik selingkuh2an :""
.
Betewe lagi, Gue juga gamau apdet ngalong gini, tapi gimana? Emang belum rampung hkss… mending yang sekolah, kuliah sama kerja. Bacanya besok malem aja daripada ngalong kaya gue :'. Bsk gue ngantuk2an seperti senin-senin yang sudah berlalu karena minggunya tidur telat *resikooo T_T, happy kok tapi, kkk~.
.
Oke, ktemu di next up!
.
C,u
