Previous
"Benarkah? Kau membutuhkan aku?"
"Sangat, aku sangat membutuhkanmu. Untuk hidupku, untuk nafasku dan aku membutuhkanmu menghadapi Doojoon, Sehunna. Aku tidak mau menghadapinya sendiri, dia sangat mengerikan. Aku ingin bergantung hidup padamu, bisakah?"
Sehun tersenyum puas, dilumatnya kasar bibir Luhan lalu menatap dua mata kekasihnya sedikit menuntut "Teruslah bergantung hidup padaku, selamanya."
.
.
Je'Te Veux
.
.
.
Main cast : Sehun-Luhan
Rate : T-M
.
.
.
.
.
.
.
.
BLAM!
.
"Astaga Sehun! DARIMANA SAJA KAU!"
Terlihat Sehun keluar dari mobilnya tergesa, dia juga berlari menuju kedalam rumah kekasihnya untuk memberi penjelasan singkat pada Chanyeol "Akan aku jelaskan nanti, dimana Kai?"
"Dia di dalam bersama Taeyong, tapi apa yang terjadi pada anak itu? Kenapa dia terus menjerit kesakitan?"
"Aku juga akan menjelaskannya nanti."
Sehun bergegas membuka pintu diikuti Chanyeol yang kini berjalan dibelakangnya. Keduanya terlihat tergesa menaiki tangga sampai tangan Sehun membuka kasar pintu kamar kekasihnya untuk tertegun sejenak saat melihat Kai berusaha keras menahan Taeyong yang hendak menyakiti dirinya dengan sebilah pisau sementara Bibi Kim menangis ketakutan di pojok kamar Luhan.
"Bi…"
"Sehun, ada apa dengan Taeyong?"
"Duduklah, aku rasa aku bisa menolongnya saat ini."
"Apa yang kau bicarakan?"
Chanyeol bertanya dibalas tatapan tak yakin dari Sehun "Aku memiliki ini." Katanya menunjukkan botol kecil yang merupakan obat untuk Taeyong dan bergegas memberi perintah pada Kai.
"Kai ikat bagian atas lengannya!"
"huh? Apa kau buta? Dia akan langsung berlari mendekati pisau!"
"AAARRGGH! LEPASKAN AKU! LEPAAASSS!"
"CEPAT IKAT BAGIAN ATAS LENGANNYA!"
Tak memiliki pilihan lain, Kai merobek kemejanya, tangannya cekatan mengikat bagian atas lengan kiri Taeyong menggunakan gigi dan satu tangannya yang bebas sementara Sehun sedang mengobrak-abrik lemari first aid Luhan yang berisi jarum suntik dan beberapa cairan elektrolit.
"Sehun apa yang akan kau lakukan?"
Sehun menggigit ujung kemasan dari jarum suntik yang akan dia gunakan, mengeluarkannya lalu dengan cekatan mengambil cairan dari vial yang dia bawa menggunakan jarum suntik.
"Percayalah dia akan lebih baik setelah ini." Katanya mendekati Taeyong lalu menempelkan alcohol disekitar lengan yang akan segera dia suntik "Sehun kau tidak tahu apa yang kau lakukan."
Kai mencoba memperingatkan dibalas tatapan lirih dari Sehun "Percayalah, aku tahu."
"Tapi kau bukan dokter!"
Sebenarnya ucapan Kai tidak terlalu membantuk dirinya yang gugup saat ini. Ditambah Taeyong yang terus memberontak dan membuatnya kesulitan mengambil posisi benar untuk menyuntikkan sebuah cairan ke dalam tahu.
"ARGHHH!"
"SEHUN! / SEHUNNA!"
Tiga teriakan memekakan telinga membuat Sehun sedikit gugup, Kai benar, dia bukan seorang dokter, lalu apa yang harus dia lakukan? Memanggil Baekhyun? Kyungsoo? Atau bahkan kekasihnya sendiri?
Tidak, Sehun tidak berniat melakukan hal itu, dia akan melakukan segala cara agar seminim mungkin Luhan tidak bertemu dengan remaja mengerikan di depannya, dia tidak ingin kekasihnya terlibat terlalu jauh dengan Taeyong atau seluruh masa lalunya yang berkaitan dengan Doojoon atau keparat Donghoon sekalipun.
"Aku memang bukan dokter, tapi demi Tuhan Kai, kita dikelilingi tiga dokter di hidup kita. Jadi katakan padaku-…" katanya sangat tenang lalu memposisikan jarum suntik di lengan Taeyong, matanya sekilas melihat Kai dan Chanyeol yang meragukan dirinya untuk perlahan mendorong jarum suntik itu menembus jaringan vena Taeyong dalam hitungan detik.
"Dimana letak kesalahanku? Karena aku yakin kau dan Chanyeol juga sangat mengerti bagaimana jika itu hanya berkaitan dengan jarum suntik. Aku benar? Lagipula aku tidak akan membuatnya semakin buruk."
Taeyong seketika tenang, Sehun kemudian melepas jarum suntiknya lalu membuang asal semua yang berkaitan dengan racun pembunuh yang diberikan pada remaja seusia adiknya.
"Lihat, dia sudah tenang." Katanya parau lalu menyadari tatapan seribu Tanya dari kedua sahabatnya.
"Bi, tolong jaga remaja ini untukku. Dan kalian berdua-…." Katanya menatap Kai dan Chanyeol terlampau serius untuk mengatakan "Kita perlu bicara."
.
.
.
.
.
.
.
"brengsek! Jadi Doojoon memberikan remaja itu obat sial yang menyebabkan tubuhnya ketergantungan?"
Sehun mencengkram geram cangkir kopinya, mengingat bagaimana dia nyaris kehilangan Luhan hanya karena obat sialan itu membuatnya tergoda untuk membunuh Doojoon jika tidak ingat situasi akan semakin menyulitkan untuk kekasihnya.
"Ya." Ujarnya terlalu santai seraya menyesap kopi yang dibuatkan bibi Kim untuk mereka bertiga "Lalu darimana kau mendapatkan vial itu? Jika itu hanya dimiliki Doojoon bukankah itu artinya mustahil untuk kau mendapatkannya?"
"Kau benar, bukan aku yang mendapatkannya, tapi Luhan."
Merasa terkejut baik Kai dan Chanyeol bertanya "Luhan?"
"Ya, Luhan. Aku nyaris kehilangan Luhan karena vial sialan itu!"
"Apa maksudmu?"
Sehun meletakkan cangkir kopinya lalu menatap tak berkedip pada dua sahabatnya "Luhan mengatakan Ya untuk menukar obat ini dan menyetujui pergi bersama Doojoon."
"MWO?"
Chanyeol berteriak sangat murka sementara Kai menggeram dan mengepalkan erat tangannya "Sial! Luhan bahkan tidak berfikir panjang sebelum melakukan hal gila yang ada di kepalanya."
"Kau benar! Aku selalu ketakutan dengan apa yang ada di kepala Luhan. Terkadang dia akan mendengarkan kita tapi satu detik berikutnya pikiran gila di kepalanya yang menguasai. Rrrh, apa yang harus aku lakukan? Aku merasa benar-benar tidak berguna untuknya."
Bukan hanya Sehun, jika keadaan sudah terlalu jauh seperti ini, jika Luhan sudah nekat menemui Doojoon setelah mengetahui beberapa kebenaran mengerikan tentang pembunuh itu, maka bukan hanya Sehun yang terlihat tidak berguna, Kai dan Chanyeol merasakan hal yang sama hingga hanya sakit kepala dengan hati dipenuhi kemarahan yang bisa mereka rasakan saat ini.
Ketiganya bahkan larut dalam pikiran masing-masing sampai terdengar satu suara yang menarik perhatian tiga pria di hidup Luhan "Aku rasa aku tahu apa yang harus kalian lakukan."
Ketiganya menoleh bersamaan, bertanya-tanya siapa yang bersuara sampai sosok Taeyong yang masih terlihat sangat pucat berada di ujung anak tangga dengan bibi Kim yang membantunya berjalan "Kau…"
Sehun bersuara dibalas senyum lirih Taeyong yang kini melihat bibi Kim "Bi, tinggalkan kami sendiri."
"Tapi kau masih terlihat pucat Taeyonga."
"Aku baik."
Tak memiliki pilihan lain, bibi Kim mengangguk, membiarkan Taeyong berjalan gontai mendekati Sehun dan yang lain sementara perlahan dia pergi meninggalkan keempat dari mereka.
"Apa yang kau bicarakan?"
Taeyong terlihat lelah, dia duduk tepat di samping Chanyeol agar bisa bertatapan langsung dengan Sehun "Aku minta maaf karena terus menyulitkan kalian."
"Katakan itu pada Luhan, kau menyulitkan dia bukan kami."
Jelas ketiga pria dewasa di depannya saat ini sangat membencinya, terlihat dari cara mereka menatap, seolah mengantisipasi dan berujar sangat dingin pada setiap kata yang diucapkannya.
Taeyong mencoba mengerti walau sedikit dari hatinya berharap bahwa Sehun dan dua pria yang selama ini hidup dengan Luhan bisa menerimanya seperti Luhan dan Jaehyun menerima dirinya.
"Aku akan melakukannya saat kami bertemu nanti." Katanya parau dibalas helaan nafas dalam dari Sehun "Bagaimana keadaanmu?"
"huh?"
Taeyong tergagap saat kakak kandung Jaehyun bertanya lembut padanya, dia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa hingga hanya hanya anggukan kecil disertai suara menahan sakit yang terdengar.
"Terimakasih kepada anda, aku sudah merasa lebih baik."
"Apa kau yakin? Kau bahkan ingin membunuh dirimu sendiri beberapa jam yang lalu."
Taeyong tersenyum lirih lalu bergumam "Ketahuilah hal yang sangat aku inginkan adalah mati."
Merasa sia-sia sudah menolong remaja di depannya, Sehun tanpa ragu menyindir "Kau bisa mati setelah Luhan tidak peduli lagi padamu. Kau mengerti?" katanya kasar dibalas senyum pasrah dari Taeyong "hmmh, Aku mengerti."
"Baguslah, jadi apa yang ingin kau katakan?"
Taeyong ragu, dia kemudian menatap satu persatu wajah dingin di depannya untuk bertanya "Bukankah kalian yang ingin bertanya padaku?"
"Dia cerdas."
Chanyeol mengakui diiringi seringai mengerikan di wajahnya "Jadi kau akan mengatakan segala hal yang kau ketahui?"
"Ya, apapun yang ingin kalian tanyakan."
Buru-buru Kai mengeluarkan sesuatu dari sakunya, ketiganya memutuskan untuk tidak membuang waktu mengingat pergerakan Doojoon lebih cepat dari dugaan. Kai mengerling dua temannya yang terlihat mengangguk lalu melempar tiga foto di atas meja "Katakan siapa mereka secara detail!"
Dan tepat seperti dugaan Taeyong, maka ketiga wajah pria mengerikan di hidupnya yang langsung ditanyakan oleh Sehun dan dua temannya "Ko Donghoon, Yoon Doojoon, Choi Seunghyun. Mereka rekan kerja yang menarik diriku sejauh ini ke dunia gelap."
"Baiklah, aku tidak tertarik mendengar apapun jenis hubungan kalian. Hanya jawab aku dengan jujur!"
Sehun tak sabar, matanya berkobar penuh kemarahan sementara suaranya mendesak remaja yang sepertinya mengetahui banyak hal tentang tiga pria yang terus mengancam hidup kekasihnya.
"Diantara mereka bertiga siapa yang membunuh orang tua Luhan?"
Deg!
Taeyong tahu dirinya akan dibombardir dengan pertanyaan tentang siapa Donghoon, Doojoon dan Seunghyun, dia bahkan sudah mempersiapkan diri mengatakan jenis transaksi dan bisnis gelap yang Donghoon dan dua kaki kanannya lakukan sampai Sehun menyerangnya dengan pertanyaan paling menakutkan yang harus dia jawab. Dia tidak siap, selalu tidak siap jika itu menyangkut kematian orang tua Luhan yang mengerikan.
"rrrh…"
Wajahnya kembali pucat dan dia merintih sakit, wajahnya berkeringat dengan tangan terkepal mencengkram erat dua pahanya. Ingin Taeyong mengatakan tidak tahu sampai Sehun berteriak "CEPAT KATAKAN!" dan membuat seluruh tubuhnya tersentak ketakutan.
"aku tidak tahu." Cicitnya ketakutan seraya terisak ketakutan.
Sontak hal ini membuat kemarahan Sehun tak bisa dikendalikan, dia juga bertindak gegabah dengan menarik kasar lengan Taeyong, nyaris mencekik si remaja dengan dua tangan yang mencengkram erat piyama tidur yang dia gunakan.
"SEHUN!"
Baik Kai dan Chanyeol memperingatkan namun percuma karena sedari tadi yang Sehun lakukan hanya mencengkram leher Taeyong hingga warna merah terlihat di sekitar leher remaja yang sepertinya kesulitan bernafas.
"Sehun tenang, kau membuatnya takut!"
Chanyeol berusaha melepaskan namun Sehun justru berteriak tak kalah ketakutan "AKU YANG SEHARUSNYA BERKATA TAKUT! AKU TAKUT LUHAN TERLUKA JIKA KITA TERLALU LAMA DIAM!" dia berteriak marah dan mendorong Chanyeol menjauh.
Ingin rasanya Kai dan Chanyeol menghentikan Sehun, tapi anggap mereka kehabisan pilihan dan kesabaran mengingat saat ini, satu-satunya informasi yang bisa mereka pastikan kebenarannya hanya berasal dari Taeyong, remaja yang memiliki hubungan dekat dengan Doojoon sesuai informasi yang diberikan pada seseorang yang sengaja Kai sewa untuk mengikuti Doojoon.
"CEPAT KATAKAN!"
"rrhh…"
Teriakan Sehun, erangan kesakitan Taeyong cukup menggambarkan situasi mengerikan yang terjadi di rumah Luhan, sepertinya tak ada yang mengalah mengingat Sehun terus memaksa sementara Taeyong tak memiliki keberanian untuk mengatakan hal yang memang tidak dia ketahui sedari awal mengenai kematian orang tua Luhan yang melibatkan Doojoon dan Seunghyun.
"KENAPA KAU HANYA DIAM? KATAKAN ATAU AKU AKAN-….."
Tap
Tap
Terdengar suara langkah kaki berlari mendekat, detik berikutnya Sehun merasa seseorang menarik kencang lengannya lalu mendorongnya kuat hingga dia terhuyung mengenai meja di ruang keluarga Luhan.
"brengsek! Berani sekali kalian menggangguku!"
Tebakan Sehun adalah Kai dan Chanyeol yang mengganggunya, tapi kemudian dia harus dibuat terkejut melihat dua sahabatnya tak melakukan apapun dan hanya menatap terkejut ke arah Taeyong.
Siapa?
Buru-buru Sehun mengikuti kemana arah Kai dan Chanyeol melihat sampai matanya juga membulat lebar menyadari bahwa saat ini, detik ini juga dia melihat sosok yang begitu disayanginya tengah memeluk erat Taeyong yang meringkuk lemas di pelukannya.
"Jaehyun?"
Sehun tertohok sementara adiknya berteriak dan menatap marah padanya "APA YANG HYUNG LAKUKAN PADA TAEYONG?"
Sehun masih terdiam, bertanya-tanya darimana Jaehyun mengenal Taeyong dan bagaimana adik tercintanya itu mengenal Taeyong. Dan satu hal penting yang mengganggu Sehun adalah kenyataan bahwa saat ini, adiknya sedang menatap Taeyong penuh kecemasan dan itu terlihat seperti saat dirinya menatap Luhan yang tengah ketakutan.
Sial! Apa yang sebenarnya terjadi?
Dia bergumam murka, didekatinya Jaehyun yang tengah memeluk Taeyong lalu suara beratnya terdengar sangat membunuh "Jaehyun, apa yang kau lakukan disini?"
Tak kalah murka, si bungsu bahkan menatap marah pada kakaknya "Harusnya aku yang bertanya! Apa yang—APA YANG HYUNG LAKUKAN DISINI? KENAPA HYUNG MENCEKIKNYA?"
"Hyung bahkan harus membunuhnya jika diperlukan."
Ucapan Sehun membuat tubuh Taeyong tegang di pelukan Jaehyun, hal itu bisa dirasakan Jaehyun yang kini menyembunyikan Taeyong di belakang tubuhnya sementara dia berhadapan langsung dengan sang kakak "Jika kau menyakiti Taeyong lebih baik kau bunuh aku lebih dulu, hyung!"
Bagai disambar petir, hati Sehun mencengkram sakit mendengar ucapan adik kesayangannya, dia tak mengerti jenis hubungan apapun yang dimiliki Jaehyun dan Taeyong, yang jelas keduanya terlihat seperti dirinya dan Luhan dan itu membuat Sehun muak menebak bahwa adiknya sudah tergila-gila pada pembunuh seperti Taeyong.
"Apa yang kau katakan?"
"Bunuh aku jika kau akan menyakiti Tae-…."
"OH JAEHYUN!"
Habis sudah kesabaran Sehun, dia tak ingin mendengar lagi omong kosong remaja delapan belas tahun yang sedang meracau di depannya. Dia hanya perlu membawa adiknya pergi dan menjauhkan Jaehyun dari Taeyong sebelum semua keadaan menjadi lebih buruk.
"Kita pulang, hm? Tinggalkan dia dan bicara dengan hyung."
"SHIRHEO! Jika aku meninggalkan Taeyong, hyung hanya akan datang dan menyakitinya lagi!"
"Jae.."
Jaehyun bisa merasakan cengkraman kuat di punggungnya, fokusnya teralihkan menyadari wajah Taeyong sangat pucat sampai lagi-lagi suara Sehun terdengar dingin bertanya "Apa hubunganmu dengannya? Bagaimana bisa kau mengenal pembunuh seperti Tae-…."
"TAEYONG BUKAN PEMBUNUH DAN AKU MENYUKAINYA! AKU MENYUKAI TAEYONG JADI JANGAN MENYAKITI PRIA YANG AKU CINTAI!"
Tak hanya Sehun, Kai dan Chanyeol, pernyataan Jaehyun juga membuat cengkraman Taeyong di punggungnya mengendur. Entah apa yang baru saja dikatakan Jaehyun, pikiran Taeyong kosong tak berani membayangkan bagaimana reaksi Sehun sampai tebakannya benar dan terdengar decakan meremehkan dari pria dewasa yang memiliki aura sangat menakutkan seperti Doojoon.
"tsk! Cinta? Kau bilang cinta? Demi Tuhan Jae, kau masih terlalu kecil untuk mengatakan cinta!"
Sehun meremehkan sementara kakinya terus berjalan mendekati Jaehyun, dan seperti bisa membaca pikiran kakaknya, Jaehyun secara refleks berjalan mundur dengan Taeyong lengan Taeyong yang dipeluknya erat saat ini.
"Kita pulang Jae."
"tidak!" katanya tegas dan memancing kemarahan baru dari Sehun "Kita harus bicara!"
Jaehyun semakin mundur sementara Sehun semakin mendekat, dan jangan katakan Sehun memiliki banyak kesabaran karena nyatanya semua ucapan tidak dari Jaehyun benar-benar membuatnya muak dan tanpa sadar Sehun sudah membuat kepalan tinju berjaga-jaga jika dia harus terpaksa menyerang adiknya.
"tidak hyung! Aku tidak akan meninggalkan Taeyong! AKU TIDAK AKAN-…."
BUGH!
"Jaehyun!"
Dan ya, satu pukulan kencang di tengkuk Jaehyun berhasil membuat adiknya tidak sadarkan diri, Sehun segera memeluk tubuh adiknya hingga tanpa sengaja matanya kembali bertatapan dengan remaja yang entah bagaimana caranya sudah membuat Jaehyun kehilangan akal sehatnya.
"Jangan pernah berfikir kau bisa bersama dengan adikku." Katanya keji dibalas tatapan sendu dari Taeyong. Tak lama keduanya saling memutus kontak mata dengan Sehun dibantu Kai dan Chanyeol yang kini memapah tubuh Jaehyun "Kita akan bicara lain waktu, pastikan saat kita bicara lagi kau sudah memiliki jawaban dari pertanyaan yang aku ajukan Lee Taeyong!"
Dan setelahnya, ketiga pria dewasa itu membawa Jaehyun yang tidak sadarkan diri dari pelukannya. Ketiganya bahkan tidak menoleh lagi dan hanya membiarkan Taeyong terduduk lemas di lantai dan ketakutan seorang diri.
"Jaehyunna…hkss.."
Dia menyesal tidak bisa melakukan apapun untuk Jaehyun. Terlebih saat suara pintu ditutup dengan kencang, Taeyong refleks melihat dari celah jendela. Dia juga bisa melihat bagaimana Sehun memasukkan Jaehyun kedalam mobil diikuti Kai dan Chanyeol memasuki mobil yang lain.
BRRMMM!
Tak lama matanya melihat bagaimana dua mobil itu pergi meninggalkan halaman rumah Luhan, tubuhnya sakit, tapi hatinya jauh lebih sakit, lalu setelah Jaehyun benar-benar tidak terlihat, barulah Taeyong terisak sangat pilu seraya memohon agar hidupnya diakhiri.
"hyung…hyungbunuhaku, jebal….—RRRHHH!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu,
.
"Sial! Aku yakin membawa vial untuk Taeyong! Tapi dimana?"
Sekiranya sudah dua puluh menit berlalu sang dokter yang kini bekerja untuk Hanyang hospital mengeluarkan seluruh isi tasnya, membuangnya asal hanya untuk mencari vial yang diyakininya bisa membuat Taeyong bertahan.
Tapi selama dua puluh menit dia mengeluarkan seluruh isi tasnya, maka hasilnya akan sama saja, Luhan –sang dokter- tak pernah bisa menemukan vial berukuran 5 ml yang berhasil dia curi dimanapun, tidak di tasnya, tidak di saku mantel, atau bahkan di saku kemejanya.
"rrh! SIAL!"
Baiklah, aku akan menemui Taeyong, aku akan melihatnya, hanya tunggu disini dan biarkan aku yang melihat keadaanya sayang.
Barulah saat ucapan Sehun saat menenangkannya beberapa jam lalu membuat Luhan tertawa kecil, dia merasa sangat bodoh karena sampai kapan pun tidak akan bisa membodohi Sehun yang beberapa jam lalu menciumnya untuk membuatnya tenang namun tidak dengan tangannya yang merogoh saku mantelnya untuk mengambil vial yang dia curi dari Doojoon.
Sayang, kau tahu aku memilikinya?
Luhan terkekeh namun jauh di dalam hatinya dia cemas, segera tangannya mencari ponsel lalu menghubungi Sehun namun tak mendapat jawaban.
Kau dimana? Apa masih bersama Taeyong?
Ketika kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan, tak sengaja Luhan melihat satu benda kecil yang tergeletak di lantai, jelas sekali benda kecil itu terjatuh karena dia baru saja mengeluarkan isi tasnya.
Dia hampir melupakan bahwa dia memiliki usb yang berhasil didapatkannya dari kantor kejaksaan. Matanya memicing memperhatikan usb tersebut, bertanya-tanya apa yang harus dia lakukan sampai perhatiannya teralihkan dan lebih memilih memungut usb tersebut lalu berlari mengambil kunci mobil dan pergi entah kemana.
"Jika ini bisa membantu, aku akan mengembalikannya."
.
.
.
.
.
.
.
.
BLAM….!
"LEPAS HYUNG! BIARKAN AKU MENEMANI TAEYONG!"
Jujur saja kepalanya masih sangat sakit karena pukulan kakaknya, kesadarannya juga belum sepenuhnya kembali, tapi satu yang Jaehyun yakini bahwa saat ini Sehun sedang menggenggam kuat tangannya dan menariknya masuk kedalam rumah.
"HYUNG!"
Sehun sengaja membanting pintu rumahnya, membuat suara debuman yang sangat kencang hingga seluruh anggota keluarganya yang berada di rumah terdengar mendekati pintu utama.
"Sehun? Ada apa nak? Kenapa kau mencengkram adikmu?"
Yang bertanya adalah satu-satunya wanita di rumah mereka, usianya memang sudah lebih dari setengah abad tapi nyatanya Jihyo, ibu Yunho, Sehun dan Jaehyun, masih terlihat sangat cantik bahkan begitu lembut kepada ketiga putranya yang sudah beranjak dewasa.
"HYUNG LEPAS!"
"DIAM DAN MASUK KEDALAM KAMARMU!"
Dan nyatanya teriakan Sehun serta Jaehyun terdengar sampai ke ruang kerja sang ayah. Refleks, sang jaksa mendekati asal suara sampai tak bisa berkata-kata karena terlalu terkejut melihat bagaimana Jaehyun dan Sehun bertengkar untuk kali pertama.
"AKU BUKAN BOCAH YANG BISA KAU ATUR! AKU TAHU APA YANG AKU LAKUKAN HYUNG!"
Tak sabar Jaehyun berusaha melarikan diri dari Sehun walau harus kembali menerima pukulan telak di wajahnya.
"SEHUN!"
Ibunya berteriak, memeluk putra bungsunya erat sementara Sehun masih terlihat begitu marah entah karena apa "Nak! Apa yang terjadi? Kenapa kau memukul adikmu?"
Jujur Sehun merasa sangat bersalah, tatapan marah Jaehyun, isakan ibunya membuat hatinya sakit, dia tidak ingin mencari pembelaan atas apa yang telah dia lakukan pada adiknya, yang dia inginkan hanya membuat Jaehyun sadar bahwa jenis hubungan apapun yang dimilikinya bersama Taeyong, Sehun menentangnya.
"Sehun…"
Kemudian suara ayahnya terdengar, Sehun menoleh, dia berusaha menahan diri untuk tidak menyalahkan ayahnya walau harus berakhir dengan berteriak "INI SEMUA KARENA AYAH!"
Setelahnya Sehun kembali berlari pergi, meninggalkan keluarganya seorang diri sementara Insung, sang ayah, melihat bagaimana Jaehyun menatap marah pada kakaknya sementara sang istri menatap sendu padanya.
"Mianhae."
Insung berujar pada Jihyo dengan tangan terkepal erat, air matanya terjatuh melihat bagaimana Jaehyun menatap marah pada kakaknya, dia merasa pertengkaran dua kakak beradik ini tak lepas dari masa lalu yang coba dia lupakan namun terus menghantui hingga detik ini.
"Karena masa lalu ayah kalian menderita, ayah bersalah pada kalian. Maafkan ayah, nak."
.
.
.
.
.
.
.
.
Klik…!
Terburu-buru, Luhan sudah membuka pintu mobil, niatnya teguh mengembalikan apa yang ada di genggamannya pada tangan yang tepat. Tapi kemudian semua rencananya tak berjalan mulus seperti yang dia inginkan saat tangan yang lebih besar menutup paksa pintu mobilnya.
Luhan menoleh sebagai refleks, mencari tahu siapa yang menutup paksa pintu mobilnya sampai sosok yang belum enam jam berlalu ia temui kembali terlihat di depannya, menatap sendu lalu mencengkram kuat lengannya.
"h-hyung?"
Luhan tercekat sementara pria yang dipanggilnya hyung, menatapnya sendu bercampur kengerian yang menusuk Luhan tepat ke hatinya "Kita harus bicara."
Adalah Yoon Doojoon yang kembali menemui Luhan, entah, apa yang diinginkannya hingga keberanian untuk menemui Luhan kembali dilakukan menebak tak ada Sehun di sekitarnya.
"tidak!"
Luhan menolak dengan tegas, tangannya yang dicengkram Doojoon dia lepas sementara tangan yang lain buru-buru memasukkan usb ke dalam saku mantelnya "Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan hyung!"
Merasa kesal, Doojoon menghimpit Luhan ke mobilnya, memberikan aura paling mematikan yang dia miliki untuk berbisik "Sayangnya banyak yang harus kita bicarakan Lu! atau kau ingin aku melakukan hal mengerikan agar kau mau berbicara denganku?"
Tampaknya Doojoon tak repot-repot lagi menyembunyikan identitasnya pada Luhan, karena daripada menyembunyikannya, Doojoon justru terlihat sangat menikmati bagaimana raut ketakutan wajah Luhan saat berbicara dengannya.
"apa-Apa maksudmu?"
"mmh…Bagaimana mengatakannya? Apa aku harus menyakiti Oh Sehun agar kau-…."
Buru-buru Luhan mendorong tubuh Doojoon, membuka pintu mobilnya untuk menatap jijik pada pria mengerikan yang pernah dia hormati dalam hidupnya "Masuk! Kita bicara di tempat lain."
Menyeringai menang, Doojoon berjalan ke pintu samping kemudi, membuka pintu mobil Luhan lalu duduk tepat disamping pria yang begitu ingin dia miliki dalam hidupnya.
"Kau tahu hyung?" Luhan bersuara seraya memasang seatbelt, melirik marah pada Doojoon lalu menyeringai kecil sebagai pertahanan diri agar tidak terlihat seperti mangsa di mata pria mengerikan di sampingnya "Apa?" Doojoon kembali bertanya lalu tanpa ragu Luhan mengatakan "Daripada menyakiti kekasihku, aku lebih suka jika kita mati bersama!"
"Apa maksudmu?"
Doojoon cukup terkejut dengan ucapan Luhan, tebakannya Luhan akan sengaja membuat celaka mereka berdua, namun kemudian dokter yang pernah dilatihnya itu terlihat sangat tenang seraya menginjak gas mobilnya
"Nanti, jika tanganmu menyentuh bahkan sehelai rambut kekasihku, kau akan langsung berhadapan denganku dan akan mengetahui siapa Xi Luhan sesungguhnya, bagaimana mengerikan dia jika miliknya disentuh."
Sontak ucapan Luhan memancing kemarahan Doojoon, tangan sang pembunuh keji dikepal erat tak tahan menyadari bahwa Sehun begitu berarti untuk Luhan, yang membuatnya kesal bukan kenyataan bahwa Luhan akan menjadi keji jika dia menyakiti Sehun.
Tapi fakta bahwa Luhan sangat mencintai Sehun hanya membuat Doojoon semakin tergoda menyakiti Sehun dan menyingkirkan sialan itu dari hidup Luhan, selamanya.
"Ya, Aku tidak akan menyakitinya selama kau merespon diriku. Tapi jika kau berusaha menghindar, aku tidak bisa menjamin keselamatan Sehun." katanya mengancam balik dibalas hembusan nafas kuat dari Luhan yang kini mencengkram kuat kemudi mobil.
"Kita lihat nanti, hyung!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Drrtt…drrttt…
Nama Sehun terus terlihat di ponselnya, setidaknya sudah hampir sepuluh menit berlalu tapi kekasihnya terus menghubungi tanpa menyerah sekalipun, mungkin Sehun memiliki firasat buruk tentang keberadaannya.
Ya, Luhan bertaruh alasan ponselnya terus bergetar adalah karena mau bagaimanapun, semenjak kecil dirinya dan Sehun terhubung melalui koneksi batin mereka. ibarat saudara kembar, Luhan akan mengetahui saat dimana Sehun berbohong begitupula sebaliknya.
Namun berbeda kali ini, karena disaat Sehun terus menghubunginya tanpa henti, pastilah sang kekasih sedang memiliki firasat buruk dan benar adanya karena saat ini, Luhan sedang duduk berhadapan dengan Doojoon, pria yang begitu dibenci kekasihnya.
"Apa kekasihmu yang menghubungi?"
Tanpa ragu, Luhan menunjukkan ponselnya hingga Doojoon bisa melihat nama Sehun terlihat di layar ponselnya "Berhati-hatilah, mungkin dia akan datang dan menghajar wajahmu lagi." katanya tenang dibalas seringai mengerikan dari Doojoon "Try me! Dan lihat siapa yang akan menangis karena kekasihnya terluka!"
Doojoon selalu tidak menyukai ekpresi berlebihan Luhan saat dirinya mengancam akan menyakiti Sehun, Luhan bahkan mematikan ponselnya lalu bertanya tergesa pada pria yang wajahnya ingin sekali dia pukul.
"Ada apa? Kenapa kau ingin bicara lagi denganku?"
"Kau mencuri milikku dan aku ingin mengambilnya!"
Pastilah sesuatu yang dimaksud Doojoon saat ini adalah vial yang dicurinya beberapa jam lalu. Luhan terlihat cemas, namun rasanya pula Doojoon bisa membaca pikiran Luhan lalu menebak dengan tepat.
"ah, Jadi kau sudah memberikannya pada Taeyong?"
"Aku tidak mencurinya dan Taeyong akan baik-baik saja tanpa racun sialan yang kau buat!"
"Benarkah? Mau bertaruh denganku? Aku bahkan bisa menentukan batas waktu Taeyong bertahan hidup atau mati sekalipun." Katanya keji dibalas tatapan membunuh dari Luhan "Iblis macam dirimu? Kau menyebut dirimu seorang kakak lalu berakhir membunuh adikmu sendiri?"
Nyatanya Luhan melihat perubahan wajah Doojoon, dia menghilangkan sisi mengerikan di wajahnya lalu merubahnya cepat dengan tatapan menyesal yang entah mengapa membuat Luhan muak namun tertarik untuk mendengarkan.
"Jika aku tidak memberinya obat itu mungkin dia sudah mati saat ini."
"Apa maksudmu?"
"Taeyong terlalu banyak melakukan kesalahan dan itu membuat Donghoon murka."
BLAM!
Luhan menggebrak kasar mejanya, entah siapa Donghoon yang dibicarkan Doojoon, Luhan muak dan tidak peduli, yang dia tahu pria bernama Donghoon itu tak hanya membunuh kedua orang tuanya tapi juga nyaris membunuh Taeyong dan mungkin remaja lain yang bekerja untuk sialan itu.
"TEGA SEKALI KAU MEMBUAT TAEYONG BEKERJA UNTUK PEMBUNUH! KENAPA KAU TIDAK MENYELAMATKANNYA? KENAPA KAU MEMBIARKANNYA TERJERUMUS SEMAKIN JAUH DENGAN PRIA BERNAMA DONGHOON!"
"Salahkan ayahmu untuk itu!"
"huh?"
"Atau mungkin Jaksa pengecut yang berada di balik semua dendam Donghoon pada ayahmu!"
"Apa maksudmu?"
Sedikit ragu Doojoon mencoba menggenggam Luhan, namun seperti tak ingin bersentuhan dengannya, Luhan melepas kasar genggaman tangan Doojoon hingga membuat Professor berdarah dingin didepannya menyeringai serta menatap kosong pada genggaman yang baru saja diabaikan Luhan.
"Apa kau takut mengetahui siapa diriku sebenarnya?"
"Aku tidak pernah takut karena aku mengenalmu, hanya saja kau terlalu mengerikan untuk dibiarkan begitu saja."
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan ayah kekasihmu? Dia tidak berbeda dengan Donghoon."
Setidaknya lima belas menit yang lalu Luhan baru saja berniat mengembalikan usb yang dia dapatkan pada ayah Sehun, berharap sang jaksa bisa membantunya menangkap Donghoon sampai ucapan Doojoon seolah menguapkan segala harapannya.
Luhan tertohok, ingin mengabaikan tapi hatinya menjerit memohon agar dijelaskan pada segala sesuatu yang sepertinya disembunyikan darinya begitu rapih dan tak tersentuh.
"Jaksa Oh?"
Doojoon menyesap kopinya lalu menatap lirih pada Luhan "Alasan mengapa Donghoon sangat membenci ayahmu adalah karena ayah Sehun menjebaknya dua puluh tahun yang lalu."
DEG!
Jantung Luhan merespon berlebihan, tangannya mulai berkeringat sementara pikirannya dipenuhi dengan kemungkinan mengerikan yang pernah terjadi diantara keluarga Sehun dan keluarganya.
"Menjebak bagaimana maksudmu?"
"Aku mendengarnya dari Donghoon, dan harusnya kau juga mencari tahu pada Jaksa Oh."
"Mengenai apa?"
"Kenyataan bahwa dua puluh tahun lalu saat kita diculik bersama adalah Oh Sehun yang harusnya berada di tempatmu."
"Mwo?"
"Dan Jaksa Oh mengetahuinya, dia tahu rencana Donghoon adalah menculik putranya, dia kemudian sengaja datang ke Beijing untuk mengalihkan fokus Donghoon, dan kau tahu apa yang terjadi?"
Luhan semakin bergerak cemas, debaran jantungnya terus berdegup berlebihan dan saat Doojoon mengatakan "Dia sengaja mengajakmu bermain bersama dan membuat Sehun tidur dengan nyaman dikamarnya, agar Donghoon mengetahui bahwa kau adalah putranya, bukan Sehun."
"tidak mungkin."
Wajar jika air matanya menetes, wajar jika dia merasa begitu marah. Ya, Semuanya begitu wajar sampai rasanya kemarahan Luhan untuk ayah Sehun bahkan lebih besar dari kemarahan Luhan untuk Doojoon.
Entah apa yang sedang dilakukan Doojoon padanya, yang jelas Luhan berani bertaruh bahwa apapun yang sedang coba dilakukan Doojoon adalah memprovokasinya agar rasa bencinya pada Jaksa Oh mempengaruhi hubungannya dengan Sehun.
"Dan setelah itu ayahmu salah menebak bahwa Donghoon tahu dia telah mengikutinya selama ini. Dia membeberkan segala hal yang tak pernah diketahui Donghoon hanya karena perbuatan rendah yang dilakukan Jaksa Oh padamu untuk melindungi putranya."
"Ayahmu terlalu fokus menyelamatkanmu sementara Jaksa sialan itu buru-buru membawa Sehun pergi dari Beijing, dia meninggalkan ayahmu dengan kau yang berada di cekikan Donghoon saat itu."
Luhan tertunduk, rasanya dia sudah mencapai batas untuk mendengarkan, dia tahu ini omong kosong tapi entah mengapa semuanya masuk akal mengingat ayahnya pernah mengatakan tidak pernah terlalu menyukai Jaksa tapi berakhir mengalah karena dirinya dan Sehun berteman.
"Fakta menyedihkannya, ibumu juga menolong ibu Sehun saat melahirkan Sehun, mereka berteman baik sampai kau dan Sehun saling mengenal. Tapi kemudian ayah Sehun meminta bantuan agar ayahmu mencari tahu tentang Donghoon."
"….."
"Katakanlah ayahmu menerima kasus ayah Sehun, dia menyelidikinya sebagai detektif profesional yang membantu kasus ayah Sehun, tapi kemudian apa yang dia dapatkan?"
Luhan mengepal erat tangannya untuk mendengar Dojoon mengatakan "Penghianatan, ayahmu dikhianati oleh sahabatnya."
Tes!
"Papa…"
Tiba-tiba wajah ayahnya terlihat di benak Luhan, tiba-tiba dia merindukan ayahnya, tiba-tiba jasad ayahnya teringat lagi dan itu sangat membunuhnya, hatinya sesak, terlalu sesak karena dipenuhi rasa marah, dia ingin tahu lebih banyak sampai akhirnya dia bertanya.
"Apa ayahku mengetahuinya? Apa ayahku tahu dia dikhianati?"
"Sampai ayahmu menghembuskan nafas terakhirnya, dia tidak pernah tahu niat ayah Sehun mengajakmu keluar saat itu adalah untuk memancing Donghoon seolah menunjukkan padanya bahwa kau putra Oh Insung, bukan Sehun."
"brengsek…"
"Sampa ayahmu menghembuskan nafas terakhirnya, dia harus rela dikejar oleh rasa takut jika Donghoon kembali menyentuhmu tanpa tahu sedari awal, yang diinginkan Donghoon adalah Sehun bukan dirimu."
"Jika dia menginginkan Sehun kenapa dia terus mengganggu keluargaku?"
"Itu karena ayahmu detektif yang begitu hebat yang mampu membeberkan semua hal keji dan kotor yang dia lakukan. Fokusnya tak lagi pada Jaksa Oh, melainkan pada ayahmu. Tapi terimakasih pada Jaksa Oh, karena dirinyalah, semua hal yang diusahakan Detektif Xi berbalik menyerangnya hingga maut menjemput ayah-…."
"DIAAAAM!"
Luhan mencapai batasnya, semua omong kosong Doojoon berhasil mempengaruhi setengah dirinya, dia tidak mau seluruh dirinya berhasil dikuasai omong kosong ini.
Dia mencintai Sehun dan akan melakukan apapun untuk mencari kebenaran.
Apapun, termasuk bertemu dan bertanya langsung pada Jaksa Oh, ayah kekasihnya.
BLAM!
Doojoon bisa melihat kemarahan di wajah Luhan, senyumnya keji namun hatinya menyesal karena sudah mengatakan hal yang membuat Luhan kesakitan.
"Mianhae… Lu."
Entah Donghoon mengatakan hal yang sebenarnya atau tidak, tapi untuknya, selagi Luhan memiliki kemarahan di hatinya, maka akan semakin mudah untuknya mengalihkan perhatian pria yang begitu ingin dimilikinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan tak lama Luhan sampai di depan kejaksaan, kakinya melangkah menuju ruangan yang begitu dihafalnya sejak kecil, beberapa dari mereka juga mengenalnya hingga Luhan tak memiliki kesulitan berarti untuk sampai di depan ruangan bertulis Jaksa Oh tempat dimana ayah kekasihnya bekerja dengan tenang sementara dua puluh tahun lalu, ayahnya harus bertaruh nyawa untuk mencari bukti.
Tok…tok…
Luhan menenangkan diri, mencoba untuk tidak termakan ucapan Doojoon lalu mengetuk pintu Jaksa Oh hingga terdengar "Masuk." Dari suara yang begitu mirip dengan suara ayahnya.
Klik…
Tak lama pintu terbuka, tak lama pula pria yang sedang memeriksa beberapa dokumen itu terlihat mencari tahu siapa yang datang. Lalu dalam hitungan detik mata lembutnya sedikit membulat menyadari bahwa yang sedang berdiri di depannya adalah kekasih dari putranya, putra dari mendiang sahabatnya.
"Luhan?"
Luhan tersenyum lirih lalu membungkuk sebagai rasa hormat walau kemarahan sedang menunggu untuk meledak "Jaksa Oh, boleh aku masuk?"
Buru-buru Insung berdiri dari kursinya, mendekati Luhan lalu meminta kekasih putranya itu masuk kedalam "Masuklah nak." Katanya menutup pintu lalu membawa Luhan duduk di sofa yang terdapat di ruang kerjanya.
Luhan bisa melihat ayah kekasihnya canggung karena kedatangannya, Luhan juga bisa melihat ada tatapan cemas karena menghkhawatirkan dirinya yang diberikan Insung persis seperti milik mendiang ayahnya.
Semuanya terasa wajar sampai kalimat Doojoon yang mengatakan karena ayah Sehun, Donghoon menjadikan ayahmu sebagai target seumur hidupnya, kembali memenuhi kepala Luhan.
Dia tertunduk sejenak, menenangkan diri lagi sampai suara Insung terdengar bertanya padanya "Ada apa nak?"
Luhan mantap, buru-buru dia mengeluarkan usb yang sempat dimilikinya kepada sang jaksa "Ini, aku ingin mengembalikan ini pada kejaksaan."
Insung terkejut, sebelumnya dia pernah bertengkar dengan Luhan karena benda kecil ini, lalu dengan berbaik hati Luhan mengembalikannya hingga tidak bisa menutupi rasa lega dari jaksa yang kini tersenyum padanya.
"Gomawo Luhan, ayah tahu kau akan mengambil keputusan yang benar."
Luhan tersenyum kecil lalu tanpa sadar bergumam "ayah?" rasanya janggal karena hampir dua tahun lalu berlalu, tak ada lagi sosok yang bisa dipanggilnya ayah, sampai Insung mengatakan dirinya ayah barulah Luhan bereaksi dengan tangan terkepal erat.
"Ya, ayah akan menyelesaikan hal ini untukmu. Ayah janji akan menangkap pelaku pembunuhan pada mendiang ayah dan ibumu."
"ah, begitukah?"
"Tentu saja Lu, ayah janji."
"Jadi ayah berjanji akan menangkap Ko Donghoon untukku?"
Reaksi berbeda ditunjukkan Insung, tatapannya cemas sampai tak sadar dirinya menangkup dua tangan Luhan dan menggenggamnya erat "Luhan! apa yang kau katakan? Apa kau mengenal Donghoon?"
"Ya, tentu saja aku mengenal pembunuh ayahku."
"Nak, dengarkan ayah! Lupakan nama itu dan hanya bersikap seolah kau tak mengetahui apapun! Demi Tuhan pria itu sangat berbahaya!"
"Aku tahu, tapi kenapa perasaanku mengatakan anda lebih mengerikan daripada Donghoon!"
"huh?"
Insung menatap tak mengerti pada Luhan sementara kekasih putranya itu terlihat begitu marah "Apa benar anda sahabat ayahku?"
"Tentu saja Luhan, kami berteman."
"Kalau begitu maukah anda berkata jujur padaku?"
"Tentu saja nak, ada apa?"
Luhan menyiapkan diri, dia tertunduk cukup lama lalu membalas genggaman tangan Insung di tangannya, keduanya bertatapan cukup lama sampai akhirnya pertanyaan yang sudah berada di kerongkongan Luhan dia katakan dengan gugup.
"Sekarang aku mengingat pertemuan pertama kita, Jaksa Oh."
"Benarkah?"
"Ya, dua puluh tahun lalu kau datang ke Beijing untuk mengajakku bermain ke sebuah arena bermain. Apa aku benar?"
Insung tersenyum bangga lalu membenarkan ucapan Luhan "Ya nak, itu pertemuan pertama kita. Ayah senang kau mengingatnya."
"Tapi dimana Sehun saat itu?"
"huh?"
"Aku yakin kau datang bersama Sehun, tapi kau tidak membawanya saat bermain denganku. Kemana Sehun pergi?"
Terlihat Insung melepas genggamannya di tangan Luhan, dan entah mengapa dia juga terlihat cemas membuat pikiran gila Luhan menguasai dan menyuarakan bahwa Doojoon benar mengenai Jaksa Oh.
"Jadi aboji, kemana Sehun pergi saat itu?"
Luhan berusaha lembut dengan memanggil Jaksa Oh dengan sebutan ayah walau hanya raut cemas dan kebohongan yang dilontarkan sang jaksa "Sehun demam saat itu, jadi dia tidak bisa bermain dengan kita."
"Benarkah?"
"Ya Luhan, tentu saja benar."
"Bukan karena kau sedang memperkenalkan aku sebagai anakmu pada Donghoon? Bukan Sehun?"
DEG!
Jelas sekali raut wajah Insung memucat, Luhan juga bisa melihat sang jaksa mengepalkan erat tangannya hingga hanya serangan tanpa henti yang dilakukan Luhan untuk mencari tahu.
"Kau bilang akan mengatakan jujur padaku, segalanya. Aku hanya bertanya apa kau sedang mengenalkan aku sebagai putramu saat kau berada di Beijing, memberitahu Donghoon bahwa aku adalah putramu? Bukan Sehun? Apa kau-…..KATAKAN TIDAK JAKSA OH!"
"…."
Kini Luhan yang memohon agar setidaknya Insung mengatakan sesuatu, bukan hanya diam seperti melarikan diri "Aku mohon katakan sesuatu, katakan itu tidak benar, katakan kau tidak melakukannya agar bisa menyelamatkan Sehun, kumohon."
"….."
Diamnya seorang Jaksa hanya mencerminkan kekalahan, jadi saat Insung tetap diam bahkan terlihat menitikan air mata, maka hati Luhan serasa dicabik menyadari bahwa awal mula kebencian Donghoon pada ayahnya, berasal dari Insung, ayah kekasihnya.
"Jadi benar? Saat itu kau sedang mengenalkan aku pada Donghoon?"
"Mianhae Luhan, ayah sangat jahat padamu."
Hati Luhan mencelos sakit, terlalu sakit hingga kepalan di tangannya terlihat sangat merah mewakili bagaimana isi hatinya saat ini "Jahat? Tidak, anda tidak jahat, tapi anda seorang pengecut yang menjijikan!"
"Luhan…"
"Kau bahkan menuduh ayahku membunuh Kakek Oh. Kau membuat—KAU MEMBUAT AYAHKU TERLIHAT SANGAT BURUK DI DEPAN MATA SEMUA ORANG!"
"Maafkan ayah nak!"
"KAU MEMBUAT DONGHOON MEMBENCINYA DAN BERAKHIR MEMBIARKAN PEMBUNUH ITU MERENGGUT NYAWAKU—KAU-….!"
Luhan tertunduk, terisak hebat sementara kenyataan baru ini cukup memukul telak kesadaran dan kesabarannya selama ini "Kau berjanji menjaga ayahku di penjara tapi kemudian kau membiarkan Donghoon membunuhnya—AKU MEMBENCIMU JAKSA OH!"
BLAM….!
Suara isakan Insung dan isakan Luhan seolah bersahutan, yang membedakan milik Insung mewakili penyesalan akan kesalahannya sementara Luhan mewakili seluruh amarahnya.
Mungkin setelah ini hubungan keduanya tidak akan pernah menjadi baik, Luhan akan selamanya membenci ayah dari kekasihnya dan Insung, dia selamanya akan hidup dalam penyesalan ketika melihat wajah Luhan yang dipenuhi luka.
Terlebih ketika Luhan menutup kencang pintu kerjanya, karena saat Luhan menutup kencang pintu itu, semua hanya menandakan bahwa disaat yang sama hubungan ayah dan anak diantara mereka tidak akan pernah terjadi lagi, tidak untuk Luhan.
.
.
.
.
.
.
.
.
"AAARRGGGHHHH!"
Semua benda yang ada didalam rumahnya, Luhan hancurkan
Dia terus menghancurkan barang, tidak mempedulikan apapun sampai suara pintu rumah terbuka dan menampilkan Sehun yang dibuat begitu cemas karena panggilan Chanyeol yang mengatakan sesuatu mengganggu Luhan.
"Dimana Luhan?"
AAARRGGHHHH!
Sehun mendengarnya, menyadari jeritan itu adalah jeritan yang sama yang pernah diteriakan Luhan dua tahun yang lalu ketika mengetahui tentang kematian dua orang tuanya.
"Apa yang terjadi?"
Buru-buru Sehun menuju ruang tengah untuk mendapati semua benda pecah belah telah hancur berkeping sementara kaki dan tangan Luhan tergores karena seluruh benda sialan itu melukai tubuh kekasihnya.
"Sayang…."
Sesaat kesadaran Luhan kembali, hatinya tenang melihat sosok yang begitu dicintainya datang menemuinya. Tapi kemudian Sehun tersenyum dan sialnya! Sehun tersenyum seperti ayahnya dan Luhan benci melihat kekasihnya tersenyum.
"Ada apa? Apa yang-…."
"JANGAN MENDEKAT!"
Luhan terus berjalan mundur, dia sengaja memberi jarak dengan memecahkan benda pecah belah di antara dirinya dan Sehun agar kekasihnya tidak bisa mendekat dan tidak bisa menyentuhnya.
"Apa yang terjadi?"
Dan tebakan Luhan meleset mengira Sehun akan menjaga jarak, karena daripada menjaga jarak Sehun lebih memilih membuka alas kakinya lalu sengaja berjalan menginjak pecahan kaca yang dihancurkan Luhan hingga tak lama jejak berdarah terlihat di setiap langkah yang Sehun buat.
"Sehun…"
"Kenapa berteriak? Apa yang mengganggumu?"
Seolah terhipnotis oleh suara lembut Sehun, Luhan mulai tenang. Faktanya dia terganggu melihat darah di kaki Sehun, tapi kekasihnya terus tersenyum sampai tak lama jaraknya mudah untuk memeluk Luhan dan membawa kekasih mungilnya ke pelukannya.
"Sehunlepas…"
"Aku disini Lu. jangan berteriak lagi."
"Lepas…"
Seberapa kuat Luhan mendorong Sehun maka sekuat itu pula Sehun memeluknya, Sehun bahkan tidak mempedulikan rasa sakit di kakinya karena hatinya kini jauh lebih sakit menyadari bahwa Luhan kembali menolaknya, seperti dulu.
"Jangan marah lagi padaku, aku tidak bisa ditinggalkan lagi, jangan Luhan….hks…"
Luhan terdiam saat tiba-tiba Sehun terisak, dan entah mengapa pelukannya menjadi sangat erat seolah dirinyalah yang terluka, ya, bisa saja Luhan mengusir Sehun lagi seperti dulu.
Tapi pertanyaannya, apa Luhan sanggup? Apa Luhan sanggup berpisah lagi dari Sehun?
Jawabannya tidak,
Tidak untuk kedua kalinya, karena jika dia melakukannya lagi, mungkin dia akan menjadi pembunuh seperti Doojoon dan akan kehilangan cinta Sehun selamanya.
"Kau membuatku takut Luhan, apa yang terjadi?, hmm? Apa yang terjadi? Siapa yang membuatmu marah?"
AYAHMU!
"Jangan tinggalkan aku lagi Luhan, aku akan mati jika kau melakukannya lagi!"
AYAHMU YANG MEMBUATKU MARAH!
Ingin Luhan berteriak kasar seperti itu, tapi kemudian isakan Sehun hanya memperburuk keadaan, dia tidak sampai hati memberitahu Sehun dan hanya berakhir membalas pelukan kekasihnya yang sedang terisak untuk berbisik
"Bodoh, aku tidak akan meninggalkamu, tidak lagi sayang, jadi tenanglah!"
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
.
.
sebenernya ini baru 70% rampung tapi karena janji minggu di UP jadi ndak papa ya,
lumayan dapet 6k juga walau kepending Luhan bakal tatap muka langsung sama Ko Donghoon yang penggambaran dia tuh cowo pala botak, mata satu, pake tongkat terus serem bgt pokonya, badannya gede se Insung, bayangin sendiri ya, kkk~
.
yowis gue masih dikereta otw balik jkrta, sinyal jelek
.
sampai nanti di afb
.
C,U
.
:*
