Previous

"Kau membuatku takut Luhan, apa yang terjadi?, hmm? Apa yang terjadi? Siapa yang membuatmu marah?"

AYAHMU!

"Jangan tinggalkan aku lagi Luhan, aku akan mati jika kau melakukannya lagi!"

AYAHMU YANG MEMBUATKU MARAH!

Ingin Luhan berteriak kasar seperti itu, tapi kemudian isakan Sehun hanya memperburuk keadaan, dia tidak sampai hati memberitahu Sehun dan hanya berakhir membalas pelukan kekasihnya yang sedang terisak untuk berbisik

"Bodoh, aku tidak akan meninggalkamu, tidak lagi sayang, jadi tenanglah!"

.

.

Je'Te Veux

.

.

.

Main cast : Sehun-Luhan

Rate : T-M

.

.

.

.

.

.

.

.

Luhan….Jangan main diluar nak, salju turun dengan lebat kau bisa terjatuh

Biarkan dia Ma, itu hanya salju! Ya kan jagoan?

"rrrhhh…."

Selalu seperti ini, seperti menghujam jantungnya, tiap kali kedua orang tuanya datang melalui mimpi, Luhan tidak meresponnya dengan bahagia, sebaliknya, tubuhnya cenderung tegang, berkeringat dan yang paling menyiksa dia kesulitan bernafas, selalu.

LUHAN! MAMA BILANG MASUK ATAU—

PLUK!

Bola salju itu tepat mengenai wajah sang mama, dibalas teriakan ANAK NAKAL! AYO PERANG SALJU DENGAN MAMA

Dan jadilah keluarga kecil itu saling melempar salju di malam natal yang begitu damai

LUHAN TERIMA INI SAYANG, BOLA SALJU SUPER BUATAN MAMA!

"Mama…."

Tangannya terkepal, normalnya seseorang akan tertawa jika bermimpi tentang bagaimana dia dan keluarganya bermain perang salju, namun respon berbeda ditunjukkan Luhan saat ini, karena daripada bahagia dia justru terlihat sangat menderita dalam tidurnya.

TERIMA BOLA SALJU DARI PAPA JUGA JAGOAN!

"Pa….rrhh…"

Luhan sesak, dia begitu cemas, begitu rindu dan yang paling mengerikan dia seolah ditarik kedalam mimpi dan tak bisa membuka mata.

"Luhan…."

Bukan tanpa alasan Luhan sangat membenci mimpinya, dia memliki satu, dua atau bahkan seribu alasan untuk membenci mimpi saat kedua orang tuanya datang dan menghibur, ya, dia memiliki alasan untuk bereaksi tidak normal saat kedua orang tuanya datang ke dalam mimpi.

Karena seperti biasa, setiap kali mereka terlihat sangat bahagia di dalam mimpi, setiap kali mereka bermain, tertawa dan saling memiliki di dalam mimpi, maka bayangan mengerikan itu selalu datang bersamaan dengan mimpi terindah yang pernah dimiliki Luhan selama hidupnya.

MAMAAAAAA!

Mimpi dimana tubuh ibunya terhempas jauh ke trotoar jalan, mimpi dimana dia tidak bisa melakukan apapun saat semua orang memanggilnya dokter, sampai pada akhirnya suara mengerikan Doojoonlah yang paling membuatnya sesak dan ketakutan

Waktu kematian Nyonya Xi…

Mama…

Luhan berkeringat tak wajar, nafasnya tersengal seperti ada yang mencekiknya, dia ingin bangun, dia tidak ingin berada dalam posisi mengerikan ini, dia ingin menemukan siapa yang membunuh kedua orang tuanya dan dia….dia ingin Sehun

"Luhan…"

Waktu Kematian Nyonya Xi

Hentikan!

Waktu kematian Nyonya Xi

HENTIKAAAN!

"LUHAN!"

"haaah~"

Biasanya setiap malam saat dia mengalami mimpi buruk, Luhan akan membuka mata tanpa satu orang pun menemani. Awalnya dia ketakutan, selalu menjerit dan memilih untuk tetap terjaga setelah mengalami mimpi buruk.

Selalu seperti itu di minggu pertama sampai bulan kedua setelah dua orang tuanya meninggal. Lalu dibulan ketiga Luhan mencoba membiasakan diri, walau hasilnya sama setidaknya dia tidak menjerit, hanya dadanya terasa sesak jika mimpi buruknya terus berlanjut lama.

Setidaknya hingga malam ini dia mencoba untuk terbiasa walau nyatanya serangkaian mimpi manis yang terasa menakutkan ditambah adegan dan ingatan tentang bagaimana kedua orang tuanya tewas selalu membuat Luhan cemas.

Dia tidak pernah terbiasa, selalu menangis seorang diri tanpa ada yang mengetahui, tidak Kai, tidak pula Chanyeol, hanya dirinya sendiri.

Namun hal berbeda terjadi malam ini, disaat mimpi buruk itu kembali datang, disaat dia tenggelam ke dasar terburuk dalam mimpinya, suara berat seseorang menariknya kuat, seolah menyelamatkannya dari mimpi yang tak ingin lagi dia ketahui bagaimana akhirnya.

"Sayang, kau baik-baik saja?"

Dan disinilah Luhan, sedang menatap penyelamatnya, cintanya, hidupnya. Suara berat yang telah menariknya dari mimpi buruk, tatapan cemas yang sangat menenangkan hatinya yang dipenuhi luka serta dekapan hangat yang membuatnya ingin bergantung pada pria yang begitu dia cintai hati dan raganya.

"Sehun…."

Luhan terisak, dia merangkak ketakutan di dekapan sang kekasih, menyembunyikan dalam-dalam wajahnya ke dada bidang sang kekasih lalu merasa sangat lega bisa mendengar detak jantuk kekasihnya sama cepat dan sama tak beraturan tanda bahwa pria yang beberapa jam lalu telah menghabiskan malam panas bersama dengannya juga terlihat cemas dan begitu mengkhawatirkannya.

"Sehun…rrrhh…Sehunn."

Yang memiliki tubuh lebih mungil meringkuk ke dekapan kekasihnya, mencakar, menancapkan seluruh kukunya ke pundak sang kekasih berharap rasa takutnya segera hilang, berharap dadanya tak lagi sesak dan berharap bisa melupakan banyak hal yang selalu menghantui setiap malamnya selama dua tahun setelah kepergian ayah dan ibunya.

"Ssshh…sayang aku disini, aku disini Luhan, sayangku."

Katakan rasa takut Luhan tidak sebesar yang dirasakan Sehun saat ini, karena untuk Sehun melihat bagaimana tubuh mungil prianya bergetar ketakutan adalah hal yang begitu mematahkan hatinya.

Terlebih saat isakan Luhan terus terdengar begitu pilu, seperti ada yang menyakitinya tapi Sehun bahkan tidak mengetahui apa yang menggnaggu kekasihnya karena pastilah itu terjadi didalam mimpi yang Sehun tebak begitu buruk hingga pria mungilnya yang selalu terlihat tegar kini berakhir terisak seraya mencakar kuat pundak dan menggigit kencang dadanya.

"Tenanglah Lu…"

.

.

.

.

.

.

.

"Minumlah dan kau akan jauh merasa lebih baik."

Yang ditawari minuman hangat lebih memilih tubuh kekasihnya daripada cokelat panas menggiurkan yang sedang ditawarkan ke arahnya. Dan alih-alih mengambil secangkir cokelat yang sedang dibawa Sehun untuknya, Luhan lebih memilih menarik lengan Sehun lalu meringkuk seperti bayi lagi di dekapan kekasihnya.

"Aku mau kau, hanya kau."

Keduanya kini sedang duduk di teras belakang rumah Luhan, Kai dan Chanyeol. Sedang menikmati salju yang turun di halaman rumah belakang lengkap dengan baju tebal dan scarf hangat yang melilit di leher masing-masing.

Tak ada yang berbicara, hanya Sehun yang dengan setia memasukkan Luhan ke mantelnya sementara si mungil mencari kehangatan di tubuh kekasihnya, terus mendekap sementara tangannya melingkar sempurna di pinggang Sehun seraya bersandar nyaman

"hangat…." Ujarnya terdengar lebih baik walau nyatanya pula Sehun masih bisa menyadari suara kekasihnya tercekat seperti sedang mencari tahu mana mimpi dan mana hal nyata yang memang sedang terjadi padanya.

"Bagaimana jika seperti ini?"

"Sehun!"

Terakhir yang dilakukan Sehun adalah membawa Luhan ke pangkuannya, dua tangannya yang kekar dibuat melingkar di belakang tubuh si mungil sementara dagunya bertumpu di pundak Luhan sesekali meniup dan berbisik hangat agar kekasihnya tenang.

"Sangat hangat bukan?" katanya bertanya dibuat polos dibalas kekehan Luhan yang kini mencibir "Jelas saja hangat, kau mendekapku sangat erat."

Tak mempedulikan ucapan Luhan, Sehun semakin mengunci Luhan di pelukannya sementara dia mulai menciumi tengkuk dan cuping telinga kekasih mungilnya "Jika bisa aku ingin memakanmu hidup-hidup, membuatmu bersembunyi dengan aman di perutku dan memastikan kau akan selalu merasa hangat."

"Kau yakin?"

Sehun terkekeh lalu menyesap kuat leher sang kekasih yang sudah dipenuhi tanda cinta darinya "Tidak jadi, nanti aku rindu."

"Aku juga nanti rindu."

Keduanya terkekeh, menikmati udara dini hari yang benar-benar menusuk hingga ke tulang rusuk untuk tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tubuh mereka saling menghangatkan tapi tidak dengan kekosongan hati dan pikiran mereka, keduanya masih bersikeras saling melindungi tanpa tahu kecemasan dan kekosongan hati mereka terjadi karena keduanya enggan saling terbuka jika itu artinya menyakiti pasangan masing-masing.

"Sayang…."

Sehun memulainya dibalas suara sang kekasih yang menjawab "hmmh?" seraya mendongak dan mencari dimana kedua matanya "Ada apa Sehunna?" katanya bertanya sangat menggemaskan hingga rasanya tak mungkin jika Sehun berhenti mengecup bibir yang selalu mengerucut lucu dan mata yang selalu menatap innocent padanya "Aku mencintaimu." Katanya mengalihkan dibalas gelengan kuat dari si mungil "Aku tahu bukan itu yang ingin kau katakan,. Jadi katakan ada apa? Omong-omong aku mencintaimu juga." Katanya mengecup dua jemari Sehun sampai merasa kepalanya dijadikan tempat bertumpu dagu lancip milik sang kekasih.

"haah~Sejujurnya aku sangat mengkhawatirkanmu sayang."

"Wae?"

"entahlah, aku merasa melewatkan banyak hal tentangmu." Ujarnya mengecup kepala Luhan sementara dua tangannya memeluk posesif tubuh si pria mungil "Dalam arti sebenarnya apa kau baik-baik saja?" bisiknya memohon dibalas pelukan sama posesifnya oleh Luhan dan lengannya yang begitu halus.

"Tergantung pada kondisiku tentu saja."

"hmh?"

"Sehun, sayangku, Jujur hampir dua tahun ini aku selalu kesulitan setiap kali bermimpi buruk, terlebih saat kematian dua orang tuaku dan gagalnya pernikahan kita, aku selalu ketakutan. Tubuhku cenderung merespon sangat berlebihan dan yang paling buruk aku akan selalu merasa sesak dan sepanjang malam tangan dan tubuhku akan gemetar hebat."

"Lu…."

"Tapi jujur setelah kita kembali bersama, intensitas mimpi burukku berkurang sangat jauh, aku hanya mengalaminya beberapa kali, terutama di waktu kita tidak tidur bersama dan saat aku mendapat shift malam. Selebihnya, saat aku bersamamu aku selalu merasa dijaga dan akan baik-baik saja."

"Tapi kau mengalami mimpi buruk lagi, tepat dipelukanku."

"eyy….Lalu kenapa? Apa kau akan menyalahkan dirimu sendiri? Sehunna dengarkan aku…" Luhan mendongak lagi, sedikit mendorong tengkuk Sehun lalu menciumnya cukup dalam, menghisap dua bibir sang kekasih bergantian lalu kembali menatapnya "Kau baru saja menarikku keluar dari jurang paling mengerikan yang bisa aku rasakan lewat mimpi. Kau membuatku bernafas, kau memastikan padaku bahwa selama dua tanganmu mendekapku erat aku akan baik-baik saja, dan ya!-….Aku memang baik-baik saja, sangat baik."

"….."

"Sehun jangan diam seperti itu."

"…."

"haah~"

Luhan menghela dalam nafasnya, dan katakan Luhan tidak memiliki pilihan lain untuk membuat Sehun tenang dan merasa tidak dibohongi, membuatnya rela melakukan segala cara termasuk merangkak ke pangkuan Sehun lalu memaksa dua mata mereka bertemu. Keduanya bertatapan penuh cinta sampai Luhan lebih dulu memiringkan kepala, merunduk semakin ke bawah dan menangkup bibir tipis yang sialnya selalu berhasil membuatnya mendesah lagi dan lagi di setiap sentuhan yang selalu membuatnya terbuai.

"hhnnghh~"

Tatkala kecupan Luhan dirubah Sehun menjadi lumatan panas, maka suara khas dari lumatan keduanya terdengar sangat mendamba. Lidah mereka saling mendorong, bibir mereka saling menghisap sementara dua tangan mereka tidak memberi jarak hingga hanya ada Sehun dan Luhan yang menjadi satu di tengah turunnya salju yang mulai lebat menutupi hampir seluruh jalanan dan halaman belakang rumah sang dokter.

"Sehun…."

Di tengah-tengah hisapan kuat di lidahnya, Luhan memberi jarak. Nafasnya tersengal, tangannya mencengkram kuat scarf yang digunakan Sehun dengan kepala tertunduk antara malu dan terbakar gairah.

"Luhan…" Sehun membalasnya, dia bahkan mengangkat dagu Luhan sampai mata cantik itu lagi-lagi menyeretnya masuk semakin dalam, terlalu dalam ke pesona yang sampai kapanpun tidak akan pernah bisa ditolak Sehun sejak kali pertama dua mata rusa itu menancapkan panah tepat di hatinya.

Merasa tak tahan, Sehun kembali mengecupnya lalu bergumam "Luhan, apa kau percaya aku sudah berulang kali jatuh cinta?"

Senyum di wajah cantik Luhan menghilang digantikan kerutan dahi yang benar-benar terlihat di wajah flawless miliknya "Bohong! Aku cinta pertama dan satu-satunya di hidupmu!"

"Tidak, aku sudah berulang kali jatuh cinta."

"Sehun kau-…."

"Tapi selalu ke orang yang sama, Kau."

"huh?"

Luhan tergagap, Demi Tuhan apapun jenis bualan yang dikatakan Sehun saat ini sungguh tidak lucu, dia merasa jantungnya berhenti berdetak, darahnya mendidih karena terlalu tegang dan nafasnya tercekat saat Sehun kembali mengatakan "Aku berkali-kali jatuh cinta, tapi selalu padamu, hanya dirimu sayangku. Luhanku, Oh Luhan."

"Bodoh, berhenti mengatakannya dengan cara yang begitu manis, aku bisa mati karena mendengarnya."

"Kini kau percaya?"

Luhan tersenyum lagi, kerutan di dahinya menghilang digantikan rona merah yang membuat Sehun semakin jatuh lagi dan lagi pada Luhan dan semua kebiasaannya yang begitu menggemaskan.

"Tapi sejak kapan?" katanya bertanya dibalas senyum tak kalah mempesona oleh Sehun. Tangan keduanya ditautkan erat oleh Sehun sementara satu tangan Sehun yang bebas kini sedang menyusuri wajah Luhan, mengenang.

"Sejak Luhan kecil untuk kali pertama tersenyum padaku, sejak itu pula Oh Sehun sudah bertekuk lutut di hadapannya. Hari itu, dua puluh tahun yang lalu hingga saat ini, Oh Sehun, selamanya hanya membutuhkan Xi Luhan sebagai setengah jiwanya, hidupnya, cintanya."

"Sehun…!"

Luhan melompat ke pelukan Sehun, memeluknya erat, membalas pernyataan cinta yang sialnya terus membuat hatinya berdebar. Dia tidak mau membayangkan bagaimana pengorbanan Sehun untuk sampai di malam ini, dia tidak ingin menghitung berapa banyak air mata yang membuat kekasihnya terlihat sangat lemah atau berapa banyak luka yang sudah menggores hati prianya, kekasihnya.

Semua sudah berlalu, rasanya tidak masuk akal jika cinta Sehun masih begitu besar untuk Luhan, tapi ketika Sehun terus memastikan bahwa rasa cintanya tidak pernah hilang bahkan untuk satu helaan nafas pun pada Luhan, maka si pria cantik memekik bahagia, sangat bahagia untuk berbisik pada belahan jiwanya, setengah terisak.

"Untuk cintamu yang begitu besar padaku, untuk luka yang aku buat dihatimu, untuk air mata yang terjatuh karena sikap kasarku, untuk kemarahanmu, untuk kecemasanmu, untuk semua hal yang kau lakukan padaku, semua hal yang telah kau pertaruhkan untukku, terimakasih. Terimakasih sayang, Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu Sehunna."

Secara naluriah air mata mereka menetes lagi, kali ini bukan karena luka, bukan pedih ataupun mimpi buruk. Air mata mereka seolah mewakili bahwa sampai detik ini, walau dua puluh tahun telah berlalu, Sehun dan Luhan, keduanya membuktikan bahwa cinta pantas diperjuangkan, bahwa cinta adalah hal gila yang akan membuatmu menangis, menjerit namun tersenyum pada akhirnya.

"sshh….Terimakasih sudah membalasnya Luhan, aku sangat mencintaimu."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Bagaimana Luhan?"

"Selain mimpi buruk, aku rasa dia sudah lebih baik."

"Sial!...Aku bahkan tidak tahu Luhan selalu mengalami mimpi buruk!"

"Kalian benar-benar tidak tahu?"

Tepat setelah keberangkatan Luhan ke rumah sakit, Sehun menceritakan apa yang dialami kekasihnya pada Kai dan Chanyeol. Berharap salah satu dari mereka memberikan informasi, apapun itu, yang Sehun lewatkan selama dua tahun tentang kekasihnya.

"Tidak sama sekali."

"Rrrhh...Apalagi yang aku lewatkan?" Dia menjambak kencang rambutnya. Bayangan bagaiamana Luhan mengalami mimpi buruk di setiap tidurnya sungguh mengganggu. Terlebih ketika tanpa sadar pria mungilnya mulai menyakiti diri sendiri seperti tanpa sadar memukul bahkan menggenggam benda tajam seperti dia jadikan sebagai pertahanan diri.

"Sehun, aku rasa kita bisa menghilangkan sedikit demi sedikit mimpi buruk Luhan."

Tertarik pada ucapan Kai, Sehun berhenti menjambak rambutnya dan mulai menatap pria kedua yang selalu diandalkan Luhan sejak kecil "Apa maksudmu?" Katanya bertanya dibalas senyum tipis Kai yang kini menyalakan televisi

"Ada apa?"

"Lihat dan perhatikan."

Tak lama Sehun fokus pada perintah Kai, mencari tahu apa yang terjadi sampai matanya sedikit membulat tatkala melihat wajah ayahnya sedang memberi pernyataan terkait permohonan dan larangan keluar dari Seoul untuk satu nama yang rasanya begitu familiar di telinganya.

"Ko Donghoon?"

Pip!

Chanyeol mematikan televisi lalu fokus pada Sehun "Ayahmu sepertinya mulai bertindak."

"Tapi kenapa tiba-tiba?"

"Entahlah, mungkin ayahmu merasa harus bertindak mengingat kau sudah terlibat cukup jauh dengan kasus kematian Mama dan Papa Xi."

Hal yang membuat Sehun enggan berbicara pada ayahnya adalah karena sang jaksa dengan tegas mengatakan tidak akan menangani kasus yang berhubungan dengan kematian kedua orang tua kekasihnya. Tidak Ko Donghoon, tidak pula hal-hal yang menyangkut kematian detektif dan dokter Xi.

Sontak hal itu membuat Sehun geram, dan seolah tak mau kalah keras dengan sang ayah yang mengatakan tidak akan mencampuri masa lalu, maka disaat yang sama pula Sehun mengatakan dengan tegas akan mencari tahu dengan kemampuannya sendiri siapa tersangka yang terlibat dengan kematian Mama dan Papa Xi.

Lalu lihatlah pagi ini, ayahnya mengenakan jubah kebanggannya seolah menyatakan perang pada Ko Donghoon, Mafia sialan yang membuatnya harus kehilangan Luhan selama dua tahun dan membuat kekasih mungilnya begitu menderita.

Bukan dia merasa tidak senang, tapi semua ini terlalu terburu-buru hingga hanya raut putus asa yang terlihat di wajahnya "Benarkah? Hanya itu?"

Entah mengapa keterlibatan ayahnya justru membuat kecemasan baru untuk Sehun, dia selalu memiliki firasat buruk tentang hubungan Luhan dan ayahnya, jadi jangan katakan Sehun merasa lega karena daripada lega justru dia memiliki perasaan buruk tentang semua kebetulan mengerikan pagi ini.

"Apa yang membuatmu cemas?"

Sehun mengepalkan tangan sebagai respon, melihat sekilas pada Kai dan Chanyeol lalu berujar sangat lirih "Luhan, seperti biasa."

.

.

.

.

Larangan bepergian untuk salah satu pengusaha tembakau terbesar, Ko Donghoon, telah dikeluarkan oleh kejaksaan tinggi Seoul pagi ini, perintah itu dikeluarkan langsung oleh Jaksa Agung, Oh Insung terkait dengan kepemilikan bisnis narkotika dan senjata gelap yang dimiliki Presdir Ko di tiga negara yakni Beijing, Jepang dan Seoul dalam jumlah besar sesuai penyelidikan kejaksaan selama dua tahun terakhir. Kabar yang mengatakan-….

Pip!

"BRENGSEK! BERANI SEKALI JAKSA SIALAN ITU MEMBERI LARANGAN LANGSUNG DENGAN PEMBERITAAN MEDIA! RRRGHHH!"

Pihak kejaksaan mungkin sedang bersiap untuk menanggapi respon langsung terkait dengan pengumuman mengejutkan yang mereka buat, bertaruh mungkin Donghoon akan tetap nekat melakukan perjalanan dengan status warga negara sementara di Beijing dan melakukan bisnisnya di tempat terbesar yang dia miliki untuk suplai bahan baku dan beberapa senjata gelap yang menjadi prioritasnya.

Ya, mungkin kejaksaan tinggi Seoul tepat saat menebak Donghoon akan tetap melanjutkan perjalanan, tapi yang meleset dari perkiraan tim kejaksaan adalah kenyataan bahwa Donghoon memiliki dua kaki tangan yang lebih cerdas dan lebih keji bahkan daripada dirinya sendiri.

"Sebaiknya kau tenang, kita tidak mendapatkan apapun jika menggunakan kepala yang dipenuhi kemarahan!"

Suara tenang itu terdengar dari salah satu tangan kanannya yang jenius, seorang pria yang memegang gelar professor karena keahliannya di bidang kesehatan namun tak kalah mengerikan jika kemampuannya yang lain dalam membunuh sedang dilakukan.

Dan jika pria yang memiliki cacat dimatanya itu terlihat cemas dan murka, maka Doojoon, sang professor, terlihat sangat tenang seolah mengetahui bahwa cepat atau lambat Jaksa Oh memang akan turun tangan secara langsung mengingat dua putranya sudah cukup terlibat dalam masa lalu Luhan.

"Tenang? Brengsek! BAGAIMANA BISA AKU TENANG JIKA JAKSA SIALAN ITU MULAI KEMBALI BERTINDAK!"

"Sekalipun dia bertindak, aku rasa kau kembali memenangkan pertandingan dengan Jaksa Oh, Presdir Ko."

"Apa maksudmu?"

Doojoon menyeringai, dia segera mengerling Seunghyun yang berada di sampingnya lalu terdengarlah suara yang lebih berat meneruskan apa yang ingin dikatakan partnernya "Well, Kau pernah mengalahkan Jaksa Oh di masa lalu, jadi kemungkinan kau kembali mengalahkannya sangat besar jika kami berada di sisimu, tenang saja."

"KATAKAN DENGAN JELAS!"

Seunghyun masih memasang ekspresi begitu santai lalu tak lama menyeringai lagi seraya membuang dua lembar foto yang dimilikinya ke atas meja "Oh Sehun dan Oh Jaehyun."

"Bukankah mereka?"

"Kau benar, dua putra kandung Jaksa Oh."

"Lalu apa rencana kalian?"

"Tebakanku dan Doojoon ada dua hal yang membuat Jaksa Oh kembali mengusikmu."

"Dua hal?" Donghoon bertanya untuk dibalas anggukan mantap dari dua pria yang rasanya sangat bisa dia andalkan dalam hidupnya "Apa saja?"

"Pertama karena dia memegang usb itu. Dan ya, aku rasa dia memang sudah memiliki usb itu!"

Donghoon terlihat semakin geram lalu bertanya lagi pada Seunghyun "Lalu apa yang kedua?"

"Dan kedua, aku rasa dia tidak akan tinggal diam jika dua putranya sudah terlibat terlalu jauh denganmu."

"Lalu?"

"Lalu jika kau ingin dia berhenti mengusikmu, maka kau harus menggertak balik dengan cara yang sama, mendadak namun sangat mengerikan."

"Apa yang harus aku lakukan?"

Kedua mesin pembunuhnya terdiam selama beberapa lama, mencoba untuk memberitahu dengan cara terkeji sampai Doojoon lebih dulu bersuara "Kau harus menyakiti salah satu dari kedua putra Jaksa Oh, keduanya akan lebih baik." Katanya memberitahu ditimpali Seunghyun dengan seringai khas mengerikan miliknya "Tapi kali ini kau harus melakukannya dengan kedua tanganmu sendiri."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kenapa kita tidak merayakan natal bersama? Kenapa kau harus pulang kerumah orang tuamu? Dan lagipula kenapa kau membawa Taeoh, aku-…"

"Sehun cukup! Jangan mulai!"

"Mulai apa?"

Keadaan berpindah di kediaman Sehun dan dua pria cantik yang merupakan teman kecilnya, dan seperti biasa, setiap pagi akan selalu ada pertengkaran tidak penting yang selalu dimulai oleh si pemilik rumah, Sehun tentu saja.

Mungkin wajar jika dia kesal saat pulang kerumah dan mendapati koper cukup besar milik Kyungsoo dan putranya, karena saat Kyungsoo mengatakan Aku dan Taeoh akan menghabiskan malam natal bersama Kakek dan nenek Kim, maka seluruh rencana perayaan natalnya bersama Luhan dan keponakan tercintanya seolah dibuat hancur oleh Kai dan Kyungsoo.

"Jangan membuatku merasa bersalah! Lagipula ini tahun pertama Taeoh merayakan natal bersama kakek dan nenek dari ayahnya, oke?"

Lihatlah wajah Sehun saat ini, terlihat sangat mengerikan karena kesal lalu tiba-tiba merengek saat melihat keponakannya sedang bermain dengan Vivi dan terlihat sangat senang "puff..puff!"

Taeoh bahkan meniru bagaimana cara Vivi menggonggong sampai pamannya datang dan merengek "Taeoyaaaa jangan pergi huwaaa…."

Yang tiba-tiba dipeluk tersentak kaget, jujur saja pelukan pamannya sangat kuat, terlalu kuat sampai membuatnya sesak dan refleks dia menjerit kesal karena selain dipeluk erat pamannya juga mencium wajahnya tanpa henti

"Samchonn..shilheo!"

"Sehun jangan ganggu Taeoh!" Kyungsoo memperingatkan dibalas seringai malas dari sang paman "Biarkan! Sshh, jangan bawa pergi kesayanganku!"

Setidaknya moment menyebalkan itu terus terjadi kurang lebih selama sepuluh menit, beruntung seseorang mengetuk pintu, Kyungsoo kemudian membukanya dan sedikit menatap bingung mengingat pria tertua di keluarga Oh termasuk jarang datang berkunjung mengingat kesibukannya sebagai seorang Presdir di perusahaan mendiang kakek bersama Sehun adiknya.

"Hyung?"

"Kyungie!"

Kemudian dari balik tubuh Yunho yang besar, seorang balita tampan yang usianya sudah menginjak lima tahun terlihat melonjak memeluk sang dokter. Sontak, Kyungsoo menangkap tubuh kecil itu lalu mulai menggendong Oh Haowen, putra pertama Yunho dan Jaejoong.

"Haowenna anyyeong…"

"Kyungie anyyeong!"

Si kecil mengikuti ucapan Kyungsoo, dibalas kekehan Yunho yang matanya mulai mencari seseorang di dalam rumah "Sehun dirumah?"

Kyungsoo mengangguk seraya mempersilahkan Yunho masuk dengan Haowen di pelukannya "Sedang mengganggu anakku hyung, masuklah." Katanya memberitau dan entah mengapa Kyungsoo mendapati wajah Yunho terlihat tegang seperti sesuatu telah terjadi.

"Hyung? Kau baik-baik saja?"

"huh?"

Yunho terlihat bingung, sepertinya dia enggan menjawab pertanyaan Kyungsoo, beruntung putranya memekik "SAMCHOON!" saat melihat Sehun hingga perhatian Kyungsoo teralihkan karena Haowen segera minta diturunkan untuk berlari ke pelukan pamannya.

"aigoo, siapa yang datang? Anak paman?"

Sehun segera berjongkok, menyambut kedatangan Taeoh meskipun dia sendiri sedikit bertanya-tanya kenapa Yunho datang dan membawa Haowen bersamanya "Ada apa hyung?" katanya bertanya dan tanpa kesulitan menggendong dua balita sekaligus di dua lengannya yang kekar.

Tak mengerti, Sehun kembali bertanya "Apa sangat mendesak?"

"Jika kau bilang seperti itu artinya memang sangat mendesak."

"Baiklah, kita bicara di ruang kerjaku."

"Samchoon / yosh!"

Taeoh dan Haowen pun sepertinya larut dalam perbincangan balita, keduanya seperti ingin melakukan sesuatu mengingat tak lama Sehun menggendongnya keduanya kompak minta diturunkan "Kalian mau bermain?"

Taeoh mengangguk, Haowen tak sabar meminta turun, dan setelah menginjak lantai keduanya segera berlarian ke sekeliling rumah dengan Vivi sebagai target kenakalan dua balita di hidupnya "Vivi-ya~, malang sekali nasibmu." Katanya terkekeh dibalas delikan tajam dari Kyungsoo "Cepat bicara dengan hyung, aku akan menyiapkan makan siang."

Kedua Oh bersaudara itu saling mengangguk sampai Sehun lebih dulu berjalan menuju ruang kerjanya "Ayo hyung." katanya memberitahu dibalas anggukan Yunho yang mengikuti Sehun dalam diam.

"Ada apa hyung?"

Sesaat setelah keduanya masuk ke ruang kerja Sehun, yang lebih muda segera menyiapkan secangkir teh untuk kakaknya yang entah mengapa terlihat serius menatapnya.

"Hyung! Apa terjadi sesuatu?"

"Hmh?"

Yunho terlihat cemas lagi, lalu wajah adiknya terlihat bertanya-tanya hingga akhirnya dia berani mengatakan apa yang memang harusnya dia katakan.

"Sehun."

"Ada apa?"

"Apa kau berpikir sesuatu terjadi?"

Sehun mengangguk, diberikannya secangkir teh pada Yunho lalu tak lama dia duduk didepan kakaknya "Sebelumnya kau tidak pernah mengunjungiku, jadi setiap kali kau datang berkunjung itu artinya sesuatu telah terjadi. Aku benar?"

"Katakanlah kau benar, sesuatu memang telah terjadi. Lalu menurutmu apa yang terjadi?"

Rasanya jarang sekali melihat Yunho bersikap serius seperti saat ini, jadi saat kakaknya terlihat bertanya namun tak ada tatapan lembut di matanya maka sesuatu memang sedang terjadi dan Sehun benci menebaknya.

"Entahlah, kita tidak seperti ini sebelumnya."

"Kau benar, kita tidak pernah seperti ini sebelumnya, kita tidak pernah bertengkar bahkan setelah aku menikah dan memiliki seorang putra."

"Kau benar hyung, lalu apa yang terjadi?"

"Haaah~"

Terdengar Yunho menghela nafas dibalas tatapn sendu kakak tertua dari dua orang adiknya. Si sulung rupanya terlalu banyak berharap jika adiknya mengerti apa yang ingin dia sampaikan tanpa harus mengatakannya secara jelas.

"Ada apa?"

"Baiklah kita memang tidak pernah bertengkar. Lalu bagaimana dengan hubunganmu dan Jaehyun? Apa kalian baik-baik saja?"

"Ah..."

Barulah saat nama si bungsu disebutkan, Sehun tahu kemana arah pembicaraan mereka saat ini. Raut putus asa Yunho, kecemasannya dan caranya menyampaikan maksud untuk menegurnya memang seperti Yunho, kakaknya yang selalu bijak bahkan melebihi ayah mereka.

"Aku tidak bertengkar dengan Jaehyun."

"Jadi memukul wajah adikmu tidak masuk dalam kategori bertengkar?"

"Hyung..." Sehun merengek putus asa lalu memberi penjelasan "Aku terpaksa melakukannya."

"Atas dasar apa?"

"Dia sangat keras dan tidak mendengarkan aku."

"Apa aku pernah memukul wajahmu jika kau tidak mendengarkan aku? Disaat kau melawan dan terus berteriak? Apa pernah aku memukul wajahmu?"

Sehun tertunduk, jika sudah seperti ini jelas dia kalah berdebat dengan Yunho, kemudian dia memilih tertunduk dengan tangan terkepal seraya bergumam "Tidak pernah sama sekali."

"Lalu apa yang kau lakukan pada Jaehyun? Apa aku pernah mengajarimu untuk berlaku kasar saat kalian bertengkar?"

Lagi, Sehun bergumam "Tidak pernah."

Yunho kemudian menyadari kesalahannya, dia terlalu menekan Sehun dan tak memberi kesempatan adiknya berbicara. Jadilah dia memposisikan diri sebagai teman adiknya dan membuang gelar kakak tertua pada adik kesayangannya.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau membuat adik kita lari dari rumah?"

"huh? Apa yang kau bicarakan?"

Tak ingin Sehun merasa bersalah, Yunho kini merangkul pundak adiknya, memberitahunya perlahan bahwa tujuannya datang kesini hanya untuk membertahukan tentang kepergian Jaehyun dari rumah tepat setelah pertengkarannya dengan Sehun.

"Jaehyun melarikan diri dari rumah, malam tadi hingga saat ini dia tidak pulang. Tapi kau tenang saja Jaehyun menyewa aprtement menggunakan credit card milikku, jadi selama dia masih menggunakan credit card milikku aku masih bisa melacak keberadannya."

"..."

Sehun terdiam, dia sudah merasa sangat bersalah pada adiknya. Lalu kakaknya datang untuk memberitahu dan membuatnya benar-benar terlihat sangat jahat saat ini "Aku tidak bertengkar dengannya, sungguh. Aku hanya tidak ingin dia berhubungan dengan orang yang salah, dia adikku dan aku sangat menyayanginya."

"Aku tahu kau menyayangi Jaehyun. Tapi apa kau memiliki alasan melarang adik kita berhubungan dengan pria yang dia sukai?"

"YA hyung! Aku memiliki alasannya! Pria yang disukai Jaehyun adalah seorang pembunuh! Lalu bagaimana bisa aku membiarkan Jaehyun berhubungan dengan pembunuh! Aku tidak akan membiarkannya!"

Suasana tegang seketika, Sehun terlalu emosi dan Yunho cukup terkejut menyadari bahwa kebencian dan cara bicara Sehun benar-benar terdengar seperti ayahnya "Kau terdengar seperti papa."

"Aku bukan papa!"

"Jelas kau seperti papa! Apa kau pernah tahu papa juga memanggil Luhan sebagai pembunuh saat dia melarangmu berhubungan dengan Luhan."

"Mwo?"

Sehun tersinggung, rasanya dia begitu marah lalu menatap mata Yunho yang terlihat menyesal mengatakannya "Terkejut?"

"Apa yang kau katakan? Kenapa papa menyebut Luhan sebagai pembunuh?"

"Karena tanpa alasan Papa menuduh Paman Xi sebagai pembunuh kakek. Lalu dia melampiaskannya pada Luhan dan ingatlah bagaimana sulitnya hubunganmu dan Luhan saat itu."

"…."

"Apa kau ingat bagaimana amarahmu saat papa melarang hubunganmu dengan Luhan? kau bahkan berfikiran pendek untuk membawa Luhan pergi dan hidup bersamanya disaat usia kalian baru menginjak delapan belas tahun?"

Sehun terdiam, bayangan hari itu masih setia menghantuinya, saat dimana kali pertama papanya melarang untuk menemui Luhan adalah hari dimana Sehun bersumpah akan melakukan segala cara untuk melindungi Luhan.

Dia nyaris melupakannya, tapi kemudian Yunho memaksanya kembali mengingat dan entah mengapa hatinya menjadi sesak setiap kali ingatan itu datang menggangunya.

"Aku tidak pernah melupakannya hyung."

"Bagus! Kau memang tidak boleh melupakannya, harusnya kau lebih tahu dari siapapun rasanya hubungan yang ditentang, harusnya kau tetap memikirkan Jaehyun, bagaimana perasaannya? Bagaimana labilnya seorang remaja? Harusnya kau lebih tahu dari siapapun Sehun!"

"…"

"Dan kumohon, jangan sebut seseorang pembunuh jika kau tidak benar-benar mengetahui siapa orang itu. Ucapanmu bisa membuat seseorang kehilangan nyawanya Sehunna, jadi jaga bicaramu, oke? Terlebih yang kau katakan pembunuh hanya remaja seusia adikmu, ayolah! Luhan bahkan nyaris meninggalkanmu saat ayah mengatakan papanya adalah seorang pembunuh. Aku katakan sekali lagi, jangan bersikap seperti Papa!"

"…"

Sehun hanya terdiam, mendengarkan seluruh kekesalan hyungnya untuk menangkap beberapa kalimat yang begitu mengganggu terkait Luhan dan masa lalunya. Yang dia tahu papanya tiba-tiba melarang hubungannya dengan Luhan beberapa tahun lalu, tapi dia sama sekali tidak mengetahui bahwa jaksa agung sekelas papanya bisa menyebut seorang remaja sebagai pembunuh bahkan disaat dia tahu putranya begitu mencintai remaja yang dia katakan sebagai pembunuh.

Sontak hal itu membuat Sehun terpancing emosinya, tangannya terkepal lalu dia mengusap kasar wajahnya "Sial! Apa yang terjadi?"

Sehun menggeram tak percaya, hatinya selalu sakit jika diingatkan bagaimana kasar ayahnya pada Luhan, bagaimana setiap ucapan yang dia katakan menyakiti kekasihnya, ditambah kenyataan baru bahwa papanya juga menyebut Luhan pembunuh cukup membuatnya sadar bahwa dia sangat keterlalu ketika menyebut Taeyong sebagai pembunuh.

Sejenak dia mendinginkan kepala, mencari dimana letak kesalahannya sampai kemudian pendiriannya kuat mengatakan Taeyong pembunuh sementara kekasihnya bukan pembunuh

"Tapi hyung, Kau tidak tahu siapa pria yang disukai Jaehyun."

"Lalu apa kau tahu?"

"Aku tahu! Dia seorang-…"

"Pembunuh?"

Sehun diam, Yunho selalu tahu cara terbaik untuk menyela ucapannya. Yang bisa dia lakukan setelahnya hanya diam smeentara sang kakak terus mengusap lembut pundaknya "Sehunna, bisakah kau tidak bersikap seperti Papa? Itu membuat kepalaku sakit."

"Kalau begitu jangan melarangku untuk menjaga Jaehyun!"

"Aku tidak melarangmu menjaga Jaehyun, hanya saja caramu salah. Kau dan Jaehyun memiliki sifat yang begitu keras, tapi lucunya kalian juga mencintai seseorang yang tidak sepenuhnya diterima oleh anggota keluarga kita."

"Papa menerima Luhan."

"Tepat setelah kematian Paman dan Bibi Xi barulah papa menerima Luhan. Tapi sebelum itu apa kau pikir papa menerima Luhan? tidak Sehun, papa tidak pernah menerima Luhan untukmu. Sebaliknya, papa sangat ingin kau berpisah dengan Luhan."

Sehun merasa sakit lagi, dia tidak tahu papanya memiliki tekad sekuat baja untuk memisahkannya dengan Luhan, sungguh, dia merasa begitu bodoh sampai rasa sesaknya mulai kembali menguasai emosinya "tidak mungkin papa melakukan itu…"

"Sayangnya papa melakukan hal itu, dia membenci kekasihmu, mengatakan Luhan sebagai pembunuh! Jadi kumohon jangan bersikap seperti Papa, bersikaplah seperti Sehun, Oh Sehun."

"Tapi Jaehyun….."

"Jika kau tahu sulitnya mempertahankan cinta, maka harusnya kau lebih mengerti Jaehyun dari siapapun, bicaralah dengan adikmu. Jangan membuatnya marah dan merasa bahwa dia dikhianati kakaknya, jika kau bersikap seperti ini lalu apa bedanya kau dengan Papa?"

"….."

"Kau yang paling tahu rasanya dipisahkan dari kekasih yang begitu kau cintai. Jaehyun hanya sedang mempertahankan cintanya, hatinya, jadi kau bisa mengawasinya dengan cara lain, bukan dengan membuatnya marah dan pergi menjauh dari jangkaunmu, kau salah jika melakukan itu."

"…"

"haah~ Aku rasa kau sudah mengerti, jadi segera bicara dengan Jaehyun tanpa menyela dan membuatnya merasa kau menghianatinya, buat dia merasa nyaman dan menceritakan semuanya padamu, semua, termasuk pria yang dia sukai dan kau sebut sebagai pembunuh."

"hyung…..Apa yang harus aku lakukan?"

Yunho bersiap pergi, menepuk lagi pundak adiknya lalu berkata "Tidak ada yang harus kau lakukan selain membuat keluarga kita berkumpul di malam natal nanti. Mengerti?"

Rasanya sulit, tapi seluruh ucapan Yunho, seluruh hal yang dikatakan hyungnya, semua Sehun terima tanpa emosi. Dan jangan katakan Yunho sebagai penjinak Sehun karena nyatanya sulung dari tiga bersaudara itu selalu berhasil meyakinkan adiknya bahkan dengan cara tersulit sekalipun.

"Aku pergi dulu, kita bertemu di malam natal nanti." Katanya berpamitan sebelum suara Sehun terdengar berat namun dipenuhi rasa lega "Hyung…." Yunho menoleh untuk mendapati adiknya yang sudah menjelma menjadi pria dewasa tengah berjalan mendekatinya, memeluknya erat seraya berbisik "Terimakasih sudah lahir dan menjadi kakakku, gomawo hyung."

Yunho membalasnya, dia tertawa kecil seraya mengusap bangga surai adiknya "Hanya satu pintaku, jangan berubah menjadi seperti ayah, itu mengerikan."

"Apa maksudmu?"

Sehun bertanya, dia melepas pelukan Yunho untuk menemukan kenyataan lain bahwa dua mata kakaknya kini sedang menatapnya sendu seperti ingin mengatakan sesuatu namun ditahannya begitu kuat "Nanti jika waktunya tepat kau akan tahu. Aku pergi dulu, sampai nanti Sehunna."

Dan setelahnya Yunho pergi, meninggalkan Sehun yang masih terdiam namun berniat untuk segera menemukan dimana adiknya berada "Baiklah, Oh Jaehyun! Kita harus bicara."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sementara itu…

.

Larangan bepergian untuk salah satu pengusaha tembakau terbesar, Ko Donghoon, telah dikeluarkan oleh kejaksaan tinggi Seoul pagi ini, perintah itu dikeluarkan langsung oleh Jaksa Agung, Oh Insung terkait dengan-…..

Pip!

Antara lega dan bahagia sebenarnya dirasakan Luhan ketika mendengar bahwa kejaksaan sudah mengambil langkah untuk membatasi gerak dari Donghoon. Tapi kemudian, entah mengapa perasaannya buruk mengingat langkah yang diambil ayah kekasihnya terkesan sangat terburu-buru mengingat tak lama setelah usb itu dia kembalikan, Insung sepertinya tak membuang waktu untuk berhadapan lagi dengan Donghoon.

"Kenapa dimatikan?"

"huh?"

Yang bertanya adalah Phana, dokter tampan asal Bangkok yang dipercayakan Luhan untuk memeriksa kondisi Taeyong, keduanya memang berada di divisi yang sama sebagai dokter bedah. Tapi yang membedakan, selain seorang spesialis bedah, dokter yang dikatakan jenius di negaranya pernah menjadi dokter spesialis jiwa yang menangani ketergantungan obat dan sejenisnya dalam taraf berbahaya namun masih bisa ditekan dengan terapinya.

"Tidak apa, bukan sesuatu yang penting. Ah, ya, bagaimana adikku?"

Keduanya kini berada di ruang kerja dokter Pha, mencoba untuk mendiskusikan bagaimana kondisi Taeyong sampai Phana mengeluarkan selembar kertas yang Luhan tebak merupakan hasil darah dari pemeriksaan Taeyong sebelumnya "Hasilnya positif menunjukkan adikmu memiliki ketergantungan zat adiktif."

Phana memberitahu sementara diam-diam Luhan mengepalkan erat tangannya karena terlalu benci mengingat semua ini terjadi tak lepas dari campur tangan Doojoon yang begitu mengerikan "Apa dia akan baik-baik saja?"

"Luhan, aku tidak ingin mengatakan ini tapi sepertinya jenis zat adiktif yang diberikan pada adikmu adalah jenis baru yang belum aku ketahui bagaimana respon dalam tubuhnya. Tapi dilihat dari ceritamu saat adikmu dalam keadaan "ingin" memakai obat, pastilah itu sejenis zat adiktif pada umumnya."

"Morfin maksudmu?"

"Pengecualian untuk Morfin, dari hasil darah milik Taeyong, zat adiktif yang dia gunakan memiliki kontradiksi dengan Morfin dan itu sebuah keuntungan karena kita bisa menggunakannya."

"Apa maksudmu?"

"Jika apa yang kau katakan benar, maka adikmu akan mengalami masa kejang sekitar dua minggu dari sekarang. Aku bisa memanfaatkan kondisi adikmu dengan Morfin."

"Bagaimana caranya?"

"Pemberian dosis sama besar dengan yang diberikan pada adikmu, hanya itu."

"Bukankah itu hanya akan semakin merusak tubuh adikku? Kedua obat itu akan bekerja berlawanan dan menimbulkan rasa sesak berlebihan?"

"Tentang sesaknya benar, tapi merusak? Kau salah, jika dua zat adiktif memiliki kontradiksi dan cara kerja yang berlawanan, maka sifat keduanya didalam tubuh akan menetralkan. Memang tetralu dini untuk mengatakan ini, tapi aku rasa siapapun orang yang memberikan zat adiktif jenis baru pada adikmu adalah seseorang yang berpengalaman."

Luhan terkekeh nyaris mengumpat, jika saja Phana mengenal Doojoon mungkin dia akan senang hati memberitahu temannya, namun keadaan berbeda untuk mereka, jadi Luhan hanya bisa tertawa seraya mengatakan "Dia sangat mengerikan."

"Siapa?"

Lagi-lagi Luhan mengelak, dia kemudian berdiri dari kursinya untuk mengucapkan terimakasih pada dokter jenius seperti Phana "Baiklah, aku akan membawa Taeyong lagi dalam dua minggu. Aku mempercayakan adikku padamu."

"eoh, percayakan dia padaku. Lagipula selama pikiran adikmu tidak terbatas, dia akan baik-baik saja."

"Apa maksudnya?"

"Depresi, selama adikmu tidak mengalami depresi, kesembuhannya akan menjadi sempurna dalam waktu singkat." Katanya mengantar Luhan ke depan pintu lalu membukakan pintunya untuk dokter yang menjadi partner nya selama dia bertugas di Seoul.

"Gomawo dokter Pha, aku akan menjemput Taeyong di ruang rehabilitasi sekarang."

"Tidak masalah, sampaikan salamku untuk adikmu."

"Oke. Ah, ya, omong-omong kau bisa menggantikan shift ku hari ini?"

"Tentu saja. Kau pergi dan temani adikmu saja untuk hari ini."

Luhan tertawa kecil, lalu melambai sebagai ucapan terimakasihnya pada Phana "Terimakasih lagi untukmu."

"Baiklah, sampai nanti Luhan."

Setelahnya Luhan berjalan menuju ruang rehabilitasi, berniat untuk segera membawa Taeyong kembali ke rumah sampai langkah kakinya dibuat berhenti tatkala melihat beberapa orang yang mengenakan jubah hitam berdiri mengelilingi Taeyong.

"Taeyong!"

Luhan sesak setiap kali melihat banyak orang menggunakan jubah hitam, perutnya terasa sangat mual mengingat trauma attack mulai menyerangnya, tangannya berpegangan erat pada dinding sementara matanya tetap mengawasi walau tangannya sudah gemetar karena gugup.

"Siapa mereka?"

Luhan bertanya-tanya, rasanya wajah-wajah yang sedang berbicara dengan Taeyong sangat familiar, dia tidak bisa fokus dan mengingat, tapi saat salah satu pria yang memiliki tubuh paling tinggi bergeser ke kanan, maka Luhan bisa melihat dengan jelas bagaimana Taeyong begitu ketakutan ketika seseorang yang sedang memegang tongkat khas sebagai alat bantu jalan tengah berbicara serius dengannya.

Tongkat?

Tiba-tiba Luhan teringat pemberitaan media tentang ciri-ciri fisik pria yang paling diincar kejaksaan pagi ini, dia ingin mengelak, tapi kemudian pria itu sedikit menoleh ke kanan hingga Luhan bisa melihat mata pirate dari pria yang memiliki dua ciri khas yakni, tongkat dan mata pirate

DEG!

Luhan belum bisa memastikan, tapi setelah dia perhatikan dengan detail, setiap kali dia mencoba mengelak, maka rasanya benar pria yang memiliki tinggi menyamai ayahnya dan ayah Sehun adalah pembunuh sialan yang menjadi mimpi buruk Luhan selama puluhan tahun.

"Donghoon?"

Tiba-tiba jantung Luhan bekerja dua kali lebih cepat, sesaat semua ketakutannya pada sekumpulan orang yang mengenakan jubah hitam digantikan dengan keinginan membunuh yang terpendam jauh di lubuk hatinya.

Nafasnya masih sesak, tapi ini satu-satunya kesempatan untuk bisa bertemu dengan pria yang paling ingin dia bunuh dalam hidupnya, diapun melangkah, perlahan, kemudian dia mempercepatnya, beruntung Luhan memiliki pisau bedah di saku jas putihnya, dia pun menggenggamnya erat dalam saku.

Semakin dekat, dia mulai menerobos beberapa kumpulan pria berbadan besar yang mengelilingi Taeyong lalu mengeluarkan pisau bedah yang dia gunakan untuk segera membunuh pria sialan yang menghancurkan hidupnya selama puluhan tahun.

"Mati kau…"

Luhan menggeram hebat, gerakannya mantap ingin menyerang organ vital pria yang dia yakini sebagai Donghoon, dia tidak peduli jika setelahnya akan menghabiskan waktu di penjara, yang dia inginkan hanya membunuh pria keji yang sudah menghancurkan hidupnya selama puluhan tahun dan membalas dendam kedua orang tuanya.

"MATI KAU!"

Grep!

Namun sayang, bersamaan dengan gerakannya ingin menusuk, seseorang yang memiliki tubuh jauh lebih besar darinya tiba-tiba berdiri tepat di hadapan Luhan, tangan kirinya mencengkram kuat tangan kanan Luhan yang menggenggam pisau sementara dirinya berdesis setengah terkejut tak menyangka Luhan akan menyerang tanpa berfikir.

"Apa yang coba kau lakukan Luhan!"

Luhan mengenali suara yang sedang memperingatkannya, dia mendongak untuk dibuat lemas saat Doojoon adalah pria yang menghalanginya untuk membalas dendam. Sampai saat ini, sesungguhnya Luhan selalu mengelak jika Doojoon memiliki hubungan dengan Donghoon, namun lihat bagaimana tangan kasarnya mencengkram pergelangan tangan Luhan, caranya menatap sangat mengerikan hanya menunjukkan bahwa professor yang begitu dia hormati, Yoon Doojoon, selamanya akan terus berada dibawah perintah pembunuh kedua orang tuanya.

"Lepas."

Luhan mendesis, diabaikan Doojoon yang kini merampas kasar pisau bedahnya. Sontak Luhan meringis dan keadaan mengerikan itu disadari oleh si mata satu yang kini berbalik arah, matanya yang normal kini menatap Luhan sangat mengerikan dibalas tatapan yang sama mengerikan yang diberikan Luhan sebagai seorang putra yang kedua orang tuanya telah dibunuh.

"Well, well….Lihat siapa yang sedang menatap sangat mengerikan ke arahku?"

Bunyi tongkat khas yang sengaja dia ketukkan kasar di lantai menambah tegang suasana, kakinya pincang tertatih, tapi demi Tuhan, bukan iba yang bisa dirasakan Luhan tapi justru kebencian mendalam seiring mendekatnya pria yang begitu ingin dia temui selama ini.

"Jangan dekati Luhan, kau tahu perjanjian kita."

Tiba-tiba Doojoon berdiri melinduninya, Luhan juga bisa mendengar bisikan sang professor namun tak berterimakasih sama sekali pada Doojoon, sebaliknya, dia sangat ingin bertatapan langsung dengan Donghoon yang kini menyingkirkan Doojoon menggunakan tongkat berlambang ular yang menjadi tumpuan untuknya berjalan.

"Bocah menggemaskan yang tumbuh menjadi seorang pria mengerikan, whoa….Detektif Xi pasti sangat bangga padamu, Xi Luhan."

Untuk kali pertama dalam hidupnya, Luhan tidak pernah merasa begitu ketakutan saat seseorang menatap matanya, dia tidak pernah dibuat lemas hanya karena suara mengerikan sedang berbicara diiringi tawa yang keji.

Luhan bisa saja bersandar pada Doojoon yang sudah sigap berdiri disampingnya, tapi kenyataan bahwa Doojoon tidak berbeda dengan Donghoon membuat Luhan semakin muak dan bersumpah akan menyelesaikan masalahnya sendiri.

"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan pria cacat menyedihkan sepertimu, Ko Donghoon."

"Luhan / hyung…."

Baik Doojoon dan Taeyong mengantisipasi, kenyataan bahwa Luhan terlalu berani menghadapi Donghoon membuat mereka cemas, Taeyong bisa saja berlari mendekati Luhan dan membawanya pergi jika anak buah Donghoon yang lain tidak menjaganya.

Berbeda dengan Doojoon yang bisa saja membawa Luhan pergi jika tidak mengingat resiko yang akan terjadi setelahnya "Jangan dengarkan Luhan." Doojoon berusaha mencairkan suasana dibalas tatapan tak berkedip dari Donghoon untuk Luhan.

"Sudah kuduga kau memiliki keberanian ayahmu dan kesombongan ibumu, cih! Aku bahkan tidak menyangka dua orang sialan itu menurunkan sifat menjijikannya padamu! Mereka juga-…."

"DIAAAM!"

"Luhan!"

Doojoon memeluknya, namun ditolak Luhan yang kini mendorong tubuh Doojoon hingga dia dan Donghoon kembali bertatapan "Kesalahan terbesar ayahku adalah membiarkanmu hidup, jadi jangan berfikir kau akan hidup lebih lama selama aku masih bernafas."

Donghoon tersenyum sangat mengerikan, dia sengaja menghentak kuat tongkatnya hingga memberikan bunyi yang memekakan telinga. Terakhir, dia sangat tergoda menyingkirkan satu-satunya keturunan dari detektif yang begitu dia benci jika tidak bertatapan dengan mata Doojoon yang sedang memberi peringatan padanya.

Dan alih-alih menyingkirkan Luhan, dia hanya memberi tantangan untuk Luhan seraya berbisik "Kalau begitu lakukan, aku menunggumu dokter Xi." Katanya mengejek lalu menepuk tak sabar pundak Luhan "Lagipula aku sangat membenci rasa percaya diri yang kau miliki, aku muak dengan sorotan benci matamu yang mengigatkanku pada Detektif Xi, jadi berusahalah, berusaha sebelum aku merenggut orang-orang yang kau cintai."

"bajingan…."

"Berjuanglah Dokter Xi, omong-omong aku senang bertemu denganmu, Luhan."

Tak lama Donghoon sengaja menabrak kencang pundak Luhan, membuatnya sedikit terhuyung dengan seluruh kemarahan yang berkumpul di seluruh hati dan jiwanya

"Presdir Ko bagaimana dengan Taeyong?"

"Tinggalkan sampah kecil itu, dia tidak lagi berguna untuk kita."

Taeyong didorong kasar, dia sempat terjatuh sebelum kembali berdiri dan menghampiri Luhan "hyung, Ayo pergi, kita harus pergi."

Luhan melepas kasar pelukan Taeyong, berniat menghentikan Donghoon jika Taeyong tidak memeluknya begitu erat "Hyung jebal, jangan dia—jebal."

"Lepas Tae…"

"hyung…"

Tak lama Doojoon berdiri di depan Luhan dan Taeyong, sejenak tatapannya seperti Doojoon yang mereka kenal, namun saat Donghoon memanggilnya "YOON DOOJOON CEPAT!" maka sang professor segera menyusul dan terlihat seperti anjing peliharaan dari pria cacat seperti Donghoon.

"brengsek! Pikirmu kau akan pergi kemana? Ko Donghoon, berhenti—AKU BILANG BERHENTI!"

Namun rasanya percuma Luhan berteriak sekuat tenaga, dia hanya menghabiskan waktu dan menarik perhatian seluruh pegawai rumah sakit mengingat Donghoon dan Doojoon, keduanya melangkah tanpa rasa takut meninggalkan dirinya yang dipenuhi amarah dan kebencian.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Apa kau yakin dia tidak mengatakan sesuatu padamu? Apapun Tae—kumohon ingatlah sesuatu! APAPUN!"

Walau sepanjang perjalanan dihabiskan Luhan hanya untuk berteriak dan memaksanya mengatakan hal yang memang tidak terjadi, setidaknya Taeyong sudah berhasil membawa Luhan pulang kerumahnya, keduanya kini berada di ruang keluarga dengan Taeyong yang terlihat sangat kelelahan sementara Luhan terlihat begitu emosi.

"Tidak ada apapun hyung, sungguh. Donghoon hanya datang untuk menggertakku, itu saja!"

"Tapi darimana dia tahu kau ada disana?"

"Tebakanku mereka juga tahu dimana aku tinggal. Tapi apa mereka mengganggu? Tidak hyung, mereka tidak mengganggu, mereka hanya ingin memperingatkanku."

"Memperingatkamu tentang apa?"

Taeyong tertunduk, tangannya dipenuhi keringat sementara wajah Luhan benar-benar membuatnya takut saat ini "Bahwa percuma aku menghianati mereka karena aku hanya akan membuatmu semakin menderita."

"Aku?"

Taeyong gemetar, dia mengangkat wajahnya sejenak lalu menghindari dua mata Luhan yang menatapnya penuh tanya, dia lebih menunduk lalu mengatakan "Karena dari awal mereka hanya menginginkanmu. Terlepas dari Doojoon hyung yang sangat terobsesi padamu atau Ko Donghoon yang sangat membencimu, mereka hanya menginginkanmu hyung, selalu kau."

Luhan tertawa, terdengar lega dipenuhi kebencian, setidaknya itu bukan Taeyong bukan pula Sehun atau teman-temannya. Itu dirinya yang mereka inginkan, jadi yang perlu dia lakukan hanya memancing Donghoon agar fokus kepadanya bukan kepada orang terdekatnya.

"Baguslah."

"huh?"

Luhan tertawa lagi, dia mendekati Taeyong lalu menepuk pundak adiknya "Selama itu bukan Sehun yang mereka inginkan, selama itu bukan kau yang ingin mereka sakiti, aku merasa begitu lega. Setidaknya kau bisa menjalani pemulihan dengan cepat."

"tapi hyung…."

"Tenanglah, yang perlu kau lakukan hanya sembuh, itu saja." Katanya menepuk lega pundak Taeyong sampai suara lain terdengar memenuhi ruang keluarga di rumahnya.

"hyung….."

Refleks, Luhan menoleh, mencari tahu siapa yang memanggilnya sampai sosok remaja lain seusia Taeyong tengah menatap sendu padanya "Jaehyun?" Dia cukup terkejut mendapati adik kekasihnya yang entah mengapa berada di rumahnya, tatapannya memelas membuat Luhan bertanya-tanya apa yang dilakukan Jaehyun terlebih saat si bungsu dari tiga bersaudara Oh itu terlihat membawa tas besar lengkap dengan memar di wajahnya.

Buru-buru dia menghampiri Jaehyun, memeriksa memar di wajah adik kandung Sehun untuk bertanya dengan cemas "Apa yang terjadi? Ada apa denganmu?"

Dan alih-alih menjawab pertanyaan Luhan, Jaehyun lebih memilih menarik lengan kekasih kakaknya seraya berbisik memohon "hyung, tolong aku."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"MWO? SEHUN YANG MEMUKULMU?"

"ya…."

"TAPI KENAPA?"

"hyung…"

Jaehyun mendesah frustasi, pikiran agar Luhan bisa membantunya sepertinya sia-sia mengingat daripada membantu, kekasih kakaknya ini sepertinya lebih tertarik untuk bertengkar dan Jaehun tidak menyukainya.

"Jangan bertengkar dengan Sehun hyung hanya karena ini."

"haah~"

Emosinya sedari tadi sedang diuji, belum lama tadi dia harus berhadapan dengan Donghoon secara langsung, lalu tak lama dia juga harus mengetahui bahwa kekasihnya begitu tega memukul wajah tampan si bungsu hingga terdapat lebam biru di sekitar wajah Jaehyun.

"arh~"

Luhan melampiaskannya pada kapas yang sedang dia tekan untuk mengurangi lebam di wajah Jaehyun, dia sengaja menekan kuat dan bertanya sangat tenang namun terkesan mengerikan "Katakan padaku apa yang terjadi? kenapa Sehun sampai memukul wajahmu."

"….."

Posisinya Luhan duduk menggunakan kursi di depan Jaehyun, memaksa adik kekasihnya agar membersihkan luka sementara Jaehyun dan Taeyong duduk tepat didepannya.

Awalnya Luhan mengira ini hanya pertengkaran biasa, tapi kemudian dia melihat gerakan mencurigakan dari dua remaja yang kini duduk di depannya, penasaran, Luhan semakin menekan luka di wajah Jaehyun lalu mengulangi lagi pertanyaannya.

"Kalian berdua menyembunyikan sesuatu dariku?"

"Tidak / tentu saja tidak." Keduanya menjawab kompak, terdengar gugup hingga membuat Luhan bertaruh bahwa sesuatu pastilah terjadi "Ada apa? masih tidak ingin bicara?"

"….."

"Tae? Apa ini ada hubunganyya denganmu?"

"Tidak hyung, aku tidak-…"

"Sehun hyung bilang Taeyong seorang pembunuh."

Gerakan Luhan menekan memar di wajah Jaehyun terhenti, sekilas dia juga bisa melihat ekspresi sedih diwajah Taeyong lalu sedikit terkejut menyadari bahwa sepertinya Jaehyun lebih terluka daripada Taeyong.

"Sehun apa?"

Jaehyun menatap mantap dua mata Luhan lalu bergumam sangat lirih "Sehun hyung bilang Taeyong pembunuh, Sehun hyung bilang aku tidak boleh menemui Taeyong lagi, dia sangat menyebalkan jika sudah seperti itu."

"ah, Jadi benar? Alasan Sehun memukulmu karena Taeyong?"

Jaehyun mengangguk membenarkan, Taeyong hanya tertunduk dengan tangan terkepal sementara Luhan? Dia memberi jawaban diluar dugaan Jaehyun.

"daebak! Mulut Oh Sehun memang terkadang sangat keji."

"hyung…"

Jaehyun menatap frustasi pada Luhan dibalas kekehan cepat dari sang dokter "Kau tenang saja, aku tidak akan membenci hyungmu hanya karena ini. Aku bisa membencinya untuk banyak hal tapi tidak dengan gejolak cinta remaja yang sedang kau dan Taeyong rasakan."

Kedua remaja itu hanya terdiam, setelahnya mereka bisa merasakan masing-masing tangan Luhan mengambil tangan mereka lalu menyatukan dua tangan yang pada awalnya ragu untuk saling menggenggam.

"Jadi kalian saling menyukai?"

"…"

"Jaehyunna? Apa kau menyukai Taeyong? Terlepas benar atau tidak ucapan kakakmu, apa kau tetap menyukai Taeyong?"

Tanpa ragu Jaehyun menjawab "Aku menyukai Taeyong, aku sangat ingin menjaganya."

Luhan tersenyum puas lalu beralih pada Taeyong "Dan kau Tae? Apa kau seorang pembunuh?"

"huh?"

"Aku tidak akan bertanya apa kau menyukai Jaehyun karena pastilah kau menyukainya, kau bahkan terlihat seperti aku saat remaja, yang menjadikan Jaehyun sebagai poros duniamu karena saat itu hingga saat ini aku juga menjadikan Sehun poros duniaku. Jadi aku tanya, apa kau seorang pembunuh?"

Taeyong terisak, dia beberapa kali memang terlibat dalam rencana pembunuhan, tapi sungguh dia tidak pernah membunuh, dia tidak pernah bisa melakukannya. Dan saat Luhan bertanya apakah dia seorang pembunuh, maka dengan segala keberanian yang dimilikinya Taeyong menjawab "aku bukan pembunuh."

"Katakan lebih keras."

"Aku bukan pembunuh."

"LEBIH KERAS!"

"AKU BUKAN PEMBUNUH HYUNG! AKU TIDAK PERNAH MEMBUNUH—hkss.."

Luhan tersenyum lagi, dia kemudian menyatukan dua jemari adiknya seolah memberi restu pada pasangan baru yang sepertinya akan mengalami kisah cinta yang sama dengannya dan Sehun "Kalau begitu kalian harus berjuang bersama, tidak mudah memang, tapi jika kalian saling memiliki semua akan baik-baik saja." Katanya memberi nasihat sesuai pengalaman namun dibalas tatapan tak mengerti dari dua remaja di depannya.

"Apa yang harus kami lakukan hyung?" Jaehyun bertanya, dia juga segera menggenggam erat tangan Taeyong seolah enggan melepaskan. Hal itu membuat Luhan sedikit terkekeh karena bayangan Jaehyun yang sangat ingin menjaga Taeyong persis seperti saat Sehun yang berjuang mati-matian mempertahankan dirinya saat remaja.

"Mudah, kau hanya perlu memukul hyungmu lagi jika dia mengganggu Taeyong."

"nde?"

"Tapi jangan terlalu kencang, aku akan marah jika kau meninggalkan memar di wajah kekasihku."

Jaehyun terdiam, masih tidak mengerti sampai Luhan berbisik "Kau harus menjaga kekasihmu dengan seluruh hidupmu, itu yang dilakukan Sehun untuk menjagaku. Dia juga melawan siapapun yang mencoba menyakitiku termasuk ayahmu sendiri."

"Benarkah?"

"yap! Dia terkadang menyebalkan, tapi percayalah Sehun adalah orang paling lembut dan hangat yang pernah aku miliki dalam hidupku."

"Kau terdengar sangat mencintainya hyung."

"Kau benar, aku sangat mencintainya." Katanya percaya diri, lalu beralih pada Taeyong "Dan kau Lee Taeyong, jika seseorang menyebutmu pembunuh maka kau harus memberikan pernyataan sebaliknya, kau harus berteriak dan mengatakan dirimu bukan pembunuh. Kau dengar?"

"hyung…."

"Di dunia yang mengerikan ini, jangan biarkan siapapun menjatuhkanmu."

"Tapi dia kekasihmu, yang menjatuhkan kekasihku." timpal Jaehyun dibalas kekehan dari Luhan "Sekalipun Sehun kekasihku atau bahkan suamiku, jika dia mulai berkata kasar itu artinya dia sedang kehilangan kontrol atas dirinya. Yang perlu kalian lakukan hanya yakin dan….." katanya menarik masing-masing tengkuk Jaehyun dan Taeyong untuk berbisik "Pukul wajahnya jika diperlukan."

Entah mengapa dukungan dan semua nasihat dari Luhan membuat dua remaja yang sedang dipeluknya itu merasa jauh lebih baik, ketakutan mereka seolah dibuat hilang bersamaan dengan semangat yang diberikan Luhan.

Terkadang memang terdengar konyol, tapi mereka tahu apapun yang sedang coba dilakukan Luhan tidak lepas dari niatnya yang ingin menghibur tanpa meremehkan kekuatan cinta dari dua remaja yang sedang beranjak menjadi dewasa.

Keduanya kini berbalik menarik lengan Luhan, memeluknya erat, lalu mengucapkan terimakasih terdalam yang mereka miliki kepada Luhan, orang pertama yang merestui hubungi mereka.

"Untuk segalanya, terimakasih hyung."

Luhan membalasnya, dia juga mengecup surai Jaehyun dan Taeyong bergantian untuk berbisik "Berjuanglah, aku pernah berada di posisi kalian. Sulit memang, tapi lihat bagaimana aku dan Sehun hingga saat ini, cinta kami bahkan mengalahkan keegoisan dan kemarahan terbesar dalam hidupku. Hanya saling percaya dan menjaga satu sama lain, itu saja."

"Aku akan berjuang hyung, aku benar-benar ingin menjadi seperti dirimu."

Luhan terkekeh, dilepasnya pelukan Jaehyun dan Taeyong dengan mata dipenuhi sorot bahagia dan lega mengingat kini ada seseorang yang akan menjaga Taeyong dengan tulus "Gomawo Jae-ah, kau harus menjaga Taeyong dan aku akan menjaga kalian."

"Bagaimana caranya?"

Luhan membuat gerakan menusuk dua mata Jaehyun dan Taeyong, lalu beralih membuat gerakan menusuk mata ke arah matanya sendiri "Aku mengawasi kalian dengan caraku, jadi saat aku merasa Sehun sudah keterlaluan. Disana, aku akan berdiri menjaga kalian."

"hyung….."

"eyy…Sudahlah, jangan tatapan itu lagi!"

Luhan mengelak lalu kembali tertawa, kali ini terlihat sangat bahagia hingga membuat Jaehyun dan Taeyong begitu ingin tahu "Ada apa hyung?"

"Rasanya sangat lucu, aku benar-benar melihat diriku dan Sehun di mata kalian. Kita berempat sangat mirip, yang membedakan hanya posisi kita saat ini."

Sementara Luhan menikmati flashbacknya seorang diri, maka Jaehyun dan Taeyong hanya diam bertanya-tanya. Tatapan mereka tidak mengerti sampai akhirnya Luhan mengatakan "Dengar ya, dulu saat aku dan Sehun berjuang ada empat orang yang begitu terlibat dan memegang peran yang penting."

Jaehyun tertarik lalu bertanya tak sabar "Benarkah? Siapa saja?" katanya mendesak Luhan lalu dibalas jawaban mengenang dari kekasih kakaknya "Sehun, Luhan, ayahmu dan Yunho hyung."

"Lalu?"

"Lalu saat ini kalian berperan sebagai Sehun dan Luhan remaja. Sehun dan sikap menyebalkannya tentu saja Jaksa Oh, sementara aku, aku berperan sebagai The greatest Yunho, pria paling bijaksana dan paling hangat yang pernah aku kenal selama hidupku."

"Kau benar, Yunho hyung yang terbaik."

"Terlalu baik hingga kadang membuatku iri karena kalian berdua, kau dan Sehun, yang memilikinya sebagai saudara." Katanya kesal dibalas pertanyaan Taeyong yang begitu penasaran dengan sosok Yunho "Apakah Yunho hyung begitu baik?"

Baik Luhan dan Jaehyun memberikan masing-masing dua ibu jari lalu berkata dengan kompak "Dia yang terbaik." Ujar keduanya bersamaan, lalu diam-diam Jaehyun merangkul pinggang Taeyong dan berbisik "Aku akan segera mengenalkanmu pada Yunho hyung."

"Benarkah?"

"Tentu saja, nanti setelah hubunganku dan Sehun hyung sedikit lebih baik aku akan membawamu ke dalam keluargaku."

Luhan mendengarkan pernyataan Jaehyun, kemudian dia hanya memberi senyum tipis mengingat bahwa hingga saat ini, dia sama sekali tidak akan siap jika harus kembali berada di tengah-tengah keluarga Oh.

Lalu membayangkan Taeyong akan berada disana dan merasa bahagia cukup membuatnya iri namun sekali lagi, untuk saat ini Luhan tidak akan pernah siap untuk memiliki hubungan "normal" seperti dulu dengan keluarga Oh, tidak saat ini.

"haah~ Aku rasa aku harus pergi saat ini."

"Kau akan ke rumah sakit hyung?" Jaehyun bertanya lalu Luhan menggeleng "Aku akan pulang ke rumahku yang lain. Sebaiknya kau juga segera pulang."

"Hyung!"

"hmmh?"

"Bolehkah aku tinggal disini untuk beberapa malam? Maksudku, aku sedang melarikan diri, jadi tidak lucu jika aku langsung pulang kerumah."

Luhan tertawa kecil seraya memakai mantelnya, dia kemudian bertolak pinggang menghadap Jaehyun lalu mengatakan "Tinggalah sebanyak yang kau mau, temani Taeyong. Lagipula aku akan memberitahu Sehun kau berada disini, jadi aku rasa aku tidak keberatan jika rumahku yang sangat berharga dijaga oleh kalian berdua!"

"yeah!"

Jaehyun memekik senang sementara Taeyong bisa melihat raut sendu di wajah pria yang sudah menganggapnya sebagai adik sendiri. Bertanya-tanya mengapa Luhan merubah cepat eskpresi wajahnya lalu tak lama berteriak "Aku pergi dulu, sampai nanti untuk kalian berdua." Katanya terburu-buru hingga tak lama terdengar suara mobil yang dijalankan cepat oleh Luhan.

"Jaehyunna."

"hmmh?"

"Apa Luhan hyung akan baik-baik saja?"

Jaehyun merangkul Taeyong lagi, memeluknya erat sementara dia berbisik "Tentu saja, Luhan hyung adalah pria paling kuat dan mengagumkan yang pernah aku kenal di hidupku."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam hari,

.

"Baiklah, beritahu aku jika kau sudah sampai dirumah Mama. Katakan padanya aku akan datang berkunjung lain waktu."

"Kau yakin tidak ingin merayakan natal denganku? Atau Chanyeol mungkin?"

Luhan tertawa, dirapikannya kemeja Kai lalu beralih pada tas cukup besar yang sudah memuat pakaian Taeoh dan beberapa mainan keponakannya. Dia kemudian mengambil mantel besar yang akan digunakan Kai menjemput Kyungsoo dan Taeoh lalu mengaitkannya hingga keatas leher.

"Kita sudah meghabiskan natal bersama tahun lalu, tanpa pasangan dan hanya kita. Jadi rasanya tidak akan adil untuk Kyungsoo, Baekhyun dan Sehun jika kita merayakannya lagi bersama."

"Kita bisa mengajak mereka semua."

"Kemana? Kerumah orang tuamu? Atau kerumah orang tua Chanyeol? Atau aku harus menghabiskan malan natal seorang diri di rumah?"

Kai terkekeh dengan satu gerakan dia menarik lengan Luhan lalu memeluknya erat "Kemanapun dan dimanapun kami berada kau akan selalu menjadi keluarga, jadi jangan berbicara seolah kau hidup sendiri di dunia ini."

Dipelukan sahabatnya Luhan merasa begitu dilindungi, merasa begitu hangat dan merasa dimiliki, setahun lalu semua ucapan Kai selalu berhasil membuatnya bertahan hidup, dan malam ini, lagi-lagi ucapan Kai berhasil menghangatkan hatinya dan Luhan sangat menyukainya.

Dia pun segera membalas erat pelukan Kai untuk mengucapkan lagi rasa terimakasihnya "Aku tahu, terimakasih dan jangan pernah membuangku dari daftar keluarga kalian berdua!"

"Pasti baby Lu, janji kami menjagamu selamanya. Kau tenang saja, bahkan nanti jika Sehun menikahimu, aku dan Chanyeol akan tetap memperhatikanmu, selalu." Bisiknya mencium surai Luhan sampai terdengar suara pintu kamar Kai terbuka dan menampilkan Chanyeol yang entah mengapa juga terlihat sangat rapih seperti ingin pergi ke suatu tempat.

"Kai sudah waktunya kau pergi." Katanya mengingatkan seraya berjalan mendekati Luhan, menarik lengan si pria cantik lalu merangkul posesif pinggang Luhan.

"Yeol? Kau juga pergi malam ini?" Luhan bertanya dibalas anggukan sekilas dari Chanyeol "Aku dan Sehun bertukar tempat."

"Bertukar tempat?"

"Mulai malam ini aku akan tinggal di rumah Baekhyun dan Sehun akan bermalam disini, setidaknya sampai malam natal karena tahun baru kita semua sudah berkumpul di rumah."

"Aku tidak tahu kalian memiliki rencana seperti itu!"

"Hehehe..."

Luhan mencubit perut Chanyeol dibalas rengekan dari calon ayah yang bayinya akan lahir sekitar enam bulan dari sekarang.

"Kalian selalu mengambil keuntungan ya?" Katanya mencibir dibalas kekehan Kai dan Chanyeol yang dengan kompak mengatakan

"Selalu."

Setelahnya ketiga pemilik rumah besar di kawasan Myeongdong berjalan meninggalkan kamar milik Jongin, bergegas pada tujuan masing-masing dengan Luhan berjalan diapit oleh dua pria raksasa yang dikenalnya sejak kecil dan selalu menjaganya sampai saat ini.

"Kau dan Baekhyun akan pergi malam ini?"

"Tidak, orang tua Baekhyun baru tiba di Seoul lusa nanti. Jadi sampai lusa kami hanya akan tinggal berdua, kkk~"

Entah apa yang ada di pikiran Chanyeol, yang jelas Luhan bisa merasakan kebahagiaan dari dua prianya dan itu lebih dari cukup untuknya, terlalu cukup sampai rasanya dia ingin selalu menggoda calon ayah dari bayi yang dikandung Baekhyun "Jangan ganggu Baekhyun, kehamilannya masih sangat muda."

"Tenang saja, daripada kau aku lebih mengerti trik dan cara-cara menangani priaku yang sedang mengandung, benar Kai?"

"Benar! Begitulah pria sejati."

"Ya ya, terserah kalian saja. Aku sudah meletakkan hadiah natal untuk kalian di masing-masing tas kalian, bukalah saat malam natal. Milik Baekhyun, Kyungsoo dan Taeoh juga sudah aku siapkan."

"Aigoo…. Kenapa menggemaskan sekali."

Chanyeol menarik kasar hidung Luhan, dibalas pukulan kencang di lengannya lalu tiba-tiba Kai ikut mengusap rambutnya dengan kasar.

"Kai hentikan! Isssh-...Berhenti mengacak rambutku!"

"Siapa yang menyuruhmu bertingkah semakin menggemaskan, aigoo cintaku..."

EKHEM!

Dan disinilah pemilik si pria cantik, sedang bersandar di mobil dengan tangan terlipat sementara matanya memberikan super death glare pada sahabat kekasih sekaligus saingannya sejak kecil "Tangan kalian, singkirkan segera."

Keduanya bergerak kompak lagi, namun bukan untuk menyenangkan hati Sehun melainkan menyindir si bayi besar yang selalu kesal jika Luhannya disentuh posesif "o..ow, bayi besar akan menangis."

"Astaga! Bayi besar mungkin akan buang air di celananya yang super ketat."

Keduanya mengolok Sehun, membuat si "bayi besar" memutar malas bola matanya sementara Luhan harus repot-repot memisahkan ketiganya jika tidak ingin drama terjadi di malam super dingin seperti saat ini.

"Cepat pergi, hubungi aku jika kalian sampai di tempat tujuan."

Masing-masing dari Kai dan Chanyeol mencium kening Luhan, berpamitan namun tetap memasang wajah menggoda dan mengolok Sehun sampai keduanya masuk kedalam mobil masing-masing.

"Bayi besar jaga Kak Lulu ya! Jangan buat dia menangis!"

"oh ayolah!"

"Lulu hyung tidak suka tidur dengan bayi besar, jadi tidurlah dilantai." Kini Kai yang mencibir dan nyaris dibalas Sehun jika Luhan tidak buru-buru memeluk bayi besarnya "sssh..Jika kau membalas mereka kau benar-benar bayi besar sayang."

"CEPAT PERGI!"

Sehun membentak keduanya dibalas kekehan dari Luhan bahkan Kai dan Chanyeol yang masing-masing menjalankan mobil dan berpamitan "Sampai nanti Lu, jaga dirimu."

"Jika tidak tahan dengan si bayi besar aku akan segera menjemput dan membawamu pergi!"

"Y-YAK!"

Luhan mengisyaratkan pergi, jadilah dua mobil super mewah milik Kai dan Chanyeol benar-benar meninggalkan rumah hingga hanya ada dirinya dan Sehun yang masih terlihat kesal saat ini.

"eyy tampan, ahjussi seksi. Berhenti memasang wajah super datar seperti itu, kau membuat malamku semakin dingin."

Lihatlah Luhan, sedang membujuk kekasihnya dengan cara paling menggemaskan untuk Sehun, dia terus berjinjit menciumi bibir Sehun lalu tangannya tanpa sadar mulai menyusup kedalam mantel tebal Sehun dan mengusap lembut dada kekasihnya.

"Sayang…"

"hmhh?"

"Jangan menggodaku, aku masih harus mengajakmu ke suatu tempat, nanti saja."

"Kau mau mengajakku kemana? Makan malam?"

Sehun tak tahan, tatapan mata innocent Luhan adalah hal yang selalu membuat hatinya meleleh, dia kemudian menekan tengkuk kekasihnya lalu menyatukan dua bibir mereka agar keduanya merasa hangat.

Alasan memang, karena tujuan Sehun sedari awal memang mengecup bibir menggoda milik Luhan, lalu saat bibirnya bisa menjamah dengan bebas, maka bernafas adalah hal yang sulit untuk Luhan.

Terlebih saat lidah Sehun masuk terlalu dalam ke rongga mulutnya, dia harus repot-repot mendorong tubuh sang kekasih agar setidaknya Sehun berbaik hati memberikan ruang untuknya bernafas "hhnggh~"

Keduanya mengerang, awalnya Luhan mengira kegiatan panas ini akan berlanjut, tapi kemudian Sehun hanya memeluknya, menyatukan dua kening mereka lalu bergumam "Cepat bersiap sebelum aku kehilangan akal sehat."

Buru-buru Luhan mengangguk, dia berjinjit lagi untuk mencium Sehun lalu berlari kedalam rumah seraya berteriak "Tunggu aku, sepuluh menit."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

BLAM….!

.

Dan disinilah Sehun, membawa Luhan ke tempat yang akan membuat kekasihnya merasakan hangat dan utuh sebagai keluarga. Tempat yang dulunya menjadi rumah kedua Luhan sewaktu kecil dan akan menjadi satu-satunya rumah yang akan menjadi tujuan Luhan saat mereka menikah nanti,

Harapan Sehun kekasihnya akan segera menyesuaikan diri untuk bisa berada di tengah-tengah keluarganya lagi, bersama kedua orang tuanya dan kedua saudaranya, keluarga besarnya.

"Ayo sayang kita masuk."

Permintaan Yunho hyung adalah merayakan malam natal bersama, namun karena dia ingin membuat Luhan terbiasa berada di tengah-tengah keluarganya, maka dia memutuskan untuk membawa Luhan kerumahnya lebih awal.

"Sehun…."

Namun sayang, sepertinya Luhan tidak akan menerima semua keputusan egois kekasihnya dengan mudah. Karena daripada bahagia, dia justru merasa sesak seiring dengan langkah kakinya menuju kediaman yang pernah mengusirnya dan mengatakan dia tidak pantas bersama Sehun.

"Ada apa sayang?"

Sehun bertanya, entah perasaannya saja atau memang tangan Luhan terasa semakin dingin di genggamannya. Mungkin hanya perasaan, mengingat malam ini salju turun cukup lebat hingga membuat keduanya merasa kedinginan hingga kuku jemari mereka membeku karena suhu yang begitu rendah.

"Luhan?"

Sehun memanggil kekasihnya lagi, entah mengapa wajah Luhan terlihat lebih pucat, dia juga terus menggigit kencang bibirnya, semua perilaku Luhan menunjukkan kebiasaannya sejak kecil jika kekasihnya sedang merasa marah atau membenci satu hal tapi tak bisa dia ungkapkan.

"Apa aku melakukan kesalahan? Hey sayang! Berhenti menggigit bibirmu! Ada apa? Katakan padaku dan jangan membuatku-….."

"Berani sekali kau membawaku kesini!"

"huh?"

Kini tatapan Luhan seperti Luhan beberapa bulan yang lalu, dingin dan dipenuhi kebencian serta kemarahan, terlihat mengerikan namun sesungguhnya Luhan hanya terlalu bingung membedakan benci dan rasa sayangnya.

Kemudian Sehun membuat keadaan semakin memburuk dengan memaksa Luhan masuk kedalam kenangan yang sudah dia kubur jauh didalam hatinya tentang kediaman Sehun beserta seluruh keluarganya.

"Pikirmu aku sudi masuk kedalam rumahmu? Bertemu dengan kedua orang tuamu? PIKIRMU AKU BAIK-BAIK SAJA?"

"Luhan…."

Luhan menghempas kasar tangan Sehun, berjalan mundur menjauhi Sehun sementara Sehun terus mendekatinya, berharap Luhan tidak bersikap seperti Luhan yang sama yang pernah begitu membencinya.

"Jangan seperti ini, kumohon."

Luhan tersenyum kecil, entah mengapa air matanya selalu lebih cepat mengekspresikan bagaimana terluka hatinya, bagaimana hancur dirinya, jadi saat Sehunnya terlihat sangat menyedihkan, Luhan ingin berlari memeluknya namun tertahan oleh kebencian mengingat selamanya, selamanya, dia tidak akan bisa menatap wajah kedua orang tua kekasihnya lagi. tidak Insung maupun Jihyo, karena keduanya sama-sama memberikan memori buruk untuk Luhan dan Luhan sangat membencinya.

"Baiklah, aku sudah merasa lebih baik. Kau tenang saja, aku tidak akan melakukan hal gila, aku janji."

Buru-buru Luhan menghapus air matanya, lalu detik berikutnya dia berlari mendekati Sehun lalu berdiri tepat di depan kekasihnya "Tapi apa kau tahu sayang? Apa kau tahu alasan aku mencintaimu lagi? ah, tentu saja kau tidak tahu. Aku tidak pernah mengatakannya padamu bukan?"

"Sayang cukup, kau kesakitan."

"Hatiku yang sakit, aku baik-baik saja."

"Luhan…."

Dan entah mengapa melihat Luhan kehilangan kontrol atas dirinya membuat Sehun benar-benar hancur. Pikiran bahwa benci Luhan telah dibawa pergi seiring dengan maaf yang diberikan untuknya rupanya salah besar.

Karena daripada memaafkan, kekasih mungilnya jutru terlihat sangat menderita dan begitu ketakutan, dia terlihat kosong namun memaksakan hatinya untuk marah dan kembali merasakan sakit.

"Aku mencintaimu Sehun, sangat mencintaimu. Tapi keluargamu? Kedua orang tuamu? Aku sangat membenci mereka, ayahmu terutama! Jadi berani sekali kau membawaku ke tempat ini? Berani sekali kau—rrrhh!"

"Luhan aku bersalah, kita pulang hmm? Kita pulang dan kau tidak perlu berada disini, maafkan aku."

Sehun berusaha membujuk namun rupanya Luhan sudah dibutakan dengan kemarahan, dia tidak menolak dipeluk Sehun, dia membiarkan tangan Sehun menghangatkan tubuhnya sesaat sebelum dia mendeklarasikan perang lagi pada satu-satunya pria yang bisa membuatnya sangat bahagia namun juga bisa membuatnya merasakan sakit tak berdarah seperti saat ini.

"Aku atau keluargamu?"

Sehun membeku dengan pertanyaan pilihan dari Luhan, sejujurnya sikap Luhan sudah terlalu jauh. Bagaimana dia bisa begitu tega meminta Sehun memilih antara cinta dan keluarganya. Kekasihnya bahkan terlihat sangat serius diiringi air mata yang membuatnya terisak sangat pilu.

"Luhan cukup, kita bicarakan ini lain kali."

"Tidak sayang, kau harus memilihnya malam ini, sebelum natal kau harus memilih aku atau keluargamu. Aku atau-….."

"LUHAN CUKUP!"

Sehun membentaknya, dalam dua puluh tahun hubungan mereka mungkin ini kali pertama Sehun membentaknya, harusnya Luhan terkejut, tapi kemudian dia justru tersenyum begitu tulus, terlalu tulus sementara dua tangannya mengusap sayang surai sang kekasih yang entah mengapa wajahnya menjadi begitu pucat saat ini.

"Pilihanmu tepat sayang. Jika aku ada di posisimu aku akan melindungi keluargaku dengan segenap jiwa, terlepas dari rasa benci yang kau rasakan untuk keluargaku, aku akan tetap memilih keluargaku. Aku bangga padamu sayang, pilihanmu sangat tepat."

"Luhan kumohon, berhenti bersikap seperti ini, hmm?"

"Tapi sial! Lagi-lagi kita harus berpisah sepertinya, kita-….hkss….Aku tidak mau mengatakan ini, tapi sebanyak apapun aku mencoba merebutmu dari keluargamu, maka sebanyak itu pula aku akan kehilangan, tidak…" Luhan terus meracau sementara Sehun terlihat begitu pucat melihat bagaimana Luhan dan seluruh racauan miliknya begitu menyayat hatinya "Aku tahu aku akan kehilangan dirimu lagi, aku hanya-….aku hanya tidak menyangka akan secepat ini. Aku tidak mau-…"

"LUHAAAAN!"

Cengkraman tangan Sehun dibahunya sesaat menyadarkan Luhan, dia juga bisa melihat air mata kekasihnya jatuh cepat membasahi wajah Sehun yang kini begitu keras dengan raut wajah yang sangat terluka.

Dia kemudian tertawa, merasa begitu menyesal lalu memeluk erat kekasihnya "Maafkan aku Sehun, aku begitu jahat padamu." katanya lirih dibalas pelukan Sehun yang begitu erat dan posesif "Jangan menakutiku lagi Luhan, cukup sayang, cukup…."

Keduanya berpelukan erat, tak ada yang ingin melepas sampai Luhan lebih dulu bergerak di pelukan Sehun. Matanya sembab dipenuhi luka, namun raut luka terdalam ditunjukkan Sehun yang sudah kehilangan akal sehatnya.

Dia terlalu takut Luhan meninggalkannya lagi.

Dan benar saja, saat Luhan mengatakan "Tapi aku serius, siapa yang kau pilih? Aku atau keluargamu." Maka Sehun dibuat hancur ke titik terendahnya hingga tak bisa berkata apapun selain "Kumohon, tenangkan pikiranmu sayang."

Luhan tersenyum, dia menangkup wajah kekasihnya lalu mencium bibir yang begitu dingin untuk dia rasakan. Beberapa saat Luhan bergerak, namun tak ada respon dari Sehun yang diam-diam terisak seolah ini adalah akhir hidupnya.

"Aku sudah tenang dan terlalu sadar untuk membuatmu memilih Sehun, maafkan kekejianku, tapi aku rasa aku tidak bisa hidup tanpamu, tapi aku juga tidak bisa bersama dengan kedua orang tuamu."

Sehun tertunduk, dia tidak bisa memilih, selamanya tidak akan pernah bisa. Dia mencintai Luhan, tapi dia juga mencintai keluarganya, jadi ketika Luhan memaksanya memilih Sehun hanya terdiam tak berani memberikan jawaban.

"Baiklah, Sehun lihat aku."

Sehun tetap menggeleng, dia tidak mau menatap Luhan tidak pula ingin bicara dengan kekasihnya. Dia memilih diam sampai tangan Luhan yang begitu dingin kembali menangkup lembut wajahnya "Kau tidak perlu memilih malam ini, temui aku saat kau sudah mendapat jawabannya, hmm?"

"Luhanjangansepertiini—aku mohon,"

Sehun memohon namun Luhan terlalu tegas, dia berjinjit lalu mengecup lama kening Sehun, kedua mata mereka kembali bertemu lalu tak lama Luhan berkata "Maaf, tapi kau harus tetap memilih." Katanya menghapus air mata Sehun lalu berjalan mundur meninggalkan kekasihnya.

"Aku atau keluargamu? Temui aku setelah kau mendapatkan jawabannya, apapun itu… Apapun itu aku akan menerimanya."

"Luhan…"

"Aku mencintaimu Sehun, sangat."

"Luhan…"

"Aku pergi dulu, sebentar saja. Nanti kita bertemu lagi saat kau memiliki jawaban."

BLAM!

Tak lama sosok mungil Luhan benar-benar menghilang dari pandangan matanya, meninggalkan jejak kaki di atas salju yang menandakan bahwa sekali lagi, Sehun kehilangan Luhan tanpa bisa melakukan apapun, seperti dulu.

"LUHAAAAAAN!"

Dan jika putra kesayangan mereka terlihat sangat kesakitan, maka sepasang suami istri yang diam-diam juga menunggu kedatangan Luhan harus dibuat menyaksikan betapa kejinya mereka telah membuat seorang anak dipenuhi kebencian dan kemarahan yang begitu besar untuk mereka.

Ya, Jihoo dan Insung melihat bagaimana Luhan memberikan pilihan untuk putra mereka, bagaimana putra dari mendiang sahabatnya itu dipenuhi luka hingga tak ada ruang maaf tersisa untuk mereka.

Bagi Insung ini seperti memetik buah yang dia tanam selama dua puluh tahun, rasanya begitu pahit, terlalu pahit sampai rasanya dia ingin menanamnya ulang namu sadar bahwa dia terlambat.

Dan rasanya, semua yang dia lakukan untuk melindungi Sehun memang sia-sia sejak awal. Dia menggunakan Luhan untuk menggantikan posisi Sehun agar Donghoon tidak menyentuh putranya.

Lalu dua puluh tahun kemudian, Luhan membalas dengan kedua tangannya sendiri. Tak tanggung-tanggung kebencian Luhan untuknya, air mata Sehun dan semua hal mematahkan hati yang dia lihat tepat di hari ulang tahunnya, seolah menjadi jawaban atas dosa yang dia lakukan pada anak lelaki berusia enam tahun yang kini menjelma menjadi seorang pria dewasa yang begitu dicintai putranya, pada Luhan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


.

tobencontinued

.


.

.

.

.

.

Kalo diceritain kenapa gue telat UP nanti jadi panjang, sekitar 500 words abisnya, Jadi intinya maaf banget buat yang udah nungguin dari hari minggu dan baru ke-UP selasa, gue akuin ini UP ter-ngaret gue sih….im sorry not good bye :"""

.

Btw, gue mau kasih NOTE, ditelusuri yak kkk~

.

Jadi gini, buat yang rajin bolak-balik akun FFN triplet sama kepoin Review pasti tau kalo AFB lagi heboh banget sama "perangkomen" dari beberapa akun, ada yang bahasa kasar sampe menggurui ada….banyak malahan,

.

Jadi plis banget buat kalian yang ga sengaja baca komen-komen yang lagi nyeramahin gue atau ngatain otak gue ada di selangkangan, ato gue sampah, ato cerita gue yang sampah tapi banya review atau apalah!

.

Plis, CUEKIN AJA!

.

Jangan dibalesin apalagi pake kata2 kotor juga, santai aja, itu caci hina buat gue, buat cerita sampah gue, jadi gausah pada kepancing segala war dikolom komentar, gue ga akan berterimakasih karena dibelain, apalagi pake komen yang sama kotor dan kasarnya,

.

Ayodong, dia ngaku HHS juga. Mau sampe kapan HHS saling nusuk gini? Sampe lebaran monyet? Kan galucu :". Udah jumlah seiprit hobinya senggal sana senggol sini.

.

Sedamainya kalian aja, senyamannya kalian aja jadi HHS, jangan Cuma karena cerita sampah gue yang katanya selalu tentang seks dan sodokmenyodok jadi pada berantem, lagi kan cerita gue rate M a.k.a MATURE a. k. a DEWASA, masa ga boleh ada adegan sesuai rate?

.

Eh anjir dibayar juga kaga nulis FFN, segala dikatain otak di selangkangan, dan gue bukan BIM sehun! gue HHS..H.H.S!

.

Terus yang hobinya ngataian dan ngataian, tanpa tau betapa mumetnya gue mikirin tiap chapnya harus gimana, pake bahasa yang bener klo ngasih tau gue, dipikir gue ga sakit hati dibilang otak ada di selangkangan? otakku sama adanya didalam kepala, ngerti ya sayang? pinterku?

.

Gue baca kritik kalian kok selalu, dan kalaupun ada yang gue apus karea gue ngindarin pperang komen kaya di AFB, bukan terbuai pujian atau apalah, lagi gapernah ada yang muji kok, semua rata2 fokus ke cerita sama bilang NEXT...jangan judge sembarangan ya sayang? pinterku!

Pokoknya Deal ya, kalo kalian baca komen yang lagi nyanyiin gue jangan dibales karena urusannya bakal kaya di AFB taruhan abis ini banyak yang liat review AFB, tahan diri aja jangan ikut-ikutan, B aja B. Gausa bela gue, gue bakal tetep UP sesuai jadwal kok.

.

.

Terimakasih sebelumnya dan fyi aja, cita-cita gue bukan jadi penulis, udah itu aja, maklumin dan toleransiin aja

.

DAN GUE CINTA BANGET SAMA HUNHAN JADI GASOPAN KALO NYURUH GUE KELUAR DAN BERENTI JADI HHS, GILAK!

.

C,U, and

.

#RESTINPEACEKIMJONGHYUN :(

.

toomuchfeelthisweek, hkssssss