Previous

"Kau tidak perlu memilih malam ini, temui aku saat kau sudah mendapat jawabannya, hmm?"

"Luhanjangansepertiini—aku mohon,"

Sehun memohon namun Luhan terlalu tegas, dia berjinjit lalu mengecup lama kening Sehun, kedua mata mereka kembali bertemu lalu tak lama Luhan berkata "Maaf, tapi kau harus tetap memilih." Katanya menghapus air mata Sehun lalu berjalan mundur meninggalkan kekasihnya.

"Aku atau keluargamu? Temui aku setelah kau mendapatkan jawabannya, apapun itu… Apapun itu aku akan menerimanya."

"Luhan…"

"Aku mencintaimu Sehun, sangat."

"Luhan…"

"Aku pergi dulu, sebentar saja. Nanti kita bertemu lagi saat kau memiliki jawaban."

.

.

.

.

.

Je'Te Veux

.

.

.

Main cast : Lu Han as Xi Luhan

Oh Sehun as Oh Sehun

Rate : T-M

.

.

.

.

.

.

.

.

BLAM!

Dan kembali pada kebiasaan lama Luhan, maka setiap kali dia merasa tertekan dan begitu merindukan Sehun, Hell club adalah pilihan untuknya menenangkan diri. Terlepas dari bagaimana nanti dirinya setelah keluar dari club Luhan tidak peduli, biasanya dia akan mabuk atau hanya sekedar tidak sadarkan diri di tempat sahabatnya, tapi yang paling buruk dia akan memuntahkan seluruh isi perut lalu membuat keributan di club milik

"L, berikan vodka." Dia duduk di sebuah kursi single, tangannya gemetar karena pertengkarannya dengan Sehun hingga membuatnya sulit bernafas.

Beruntung Myungsoo yang menempati posisi bartender malam ini, jadilah dia meminta tanpa ragu namun dibalas tatapan dan kerutan alis Myungsoo yang kini menatapnya seperti menyelidik

"Cepat, Vodka."

Yang diberi perintah masih terus mempelajari wajah sahabatnya, satu tatapan khas dia bisa melihat wajah Luhan sangat pucat lalu berakhir menarik nafas dan hanya memberikan air mineral pada temannya "Ini lebih baik untukmu."

"Sial! APA KAU TULI? BERIKAN AKU VODKA ATAU SEMACAMNYA!"

"Well, dilihat dari tanganmu yang terus gemetar, suaramu yang putus asa, maka memberikanmu minuman keras bukanlah ide bagus. Kau tahu akan seperti akhirnya untuk kita!"

Luhan menggeram marah, tangannya terkepal erat lalu kemudian menggebrak meja karena dia butuh sesuatu yang membuatnya tenang bukan yang membuatnya marah nyaris kehilangan kontrol atas dirinya "FINE! AKU AKAN MENCARI CLUB LAIN!" katanya berteriak marah, nyaris membuat keributan hingga gerakan Myungsoo lebih cepat untuk menarik paksa lengan Luhan "Baiklah, satugelas Vodka aku rasa cukup." Katanya mengalah, memberikan Luhan segelas Vodka, dibalas dengan satu tegukan cepat dari sang dokter.

"Haah~"

Kerongkongannya seperti dibakar, rasanya begitu panas, lalu dia menelan seluruhnya hingga hanya penat dan pemandangan yang sedikit kabur dari vodka yang selalu memberikan efek begitu cepat untuknya.

"Sudah lebih baik?"

Luhan mengabaikan pertanyaan Myungsoo, mengambil paksa botol besar yang ada ditangan temannya lalu menuangnya tak sabar dan menenggaknya lagi dalam satu tegukan "Ssshh~"

"Ada apa lagi? Sesuatu membuatmu marah?"

Delikan mata Luhan cukup menjelaskan bahwa dia sedang tidak ingin diganggu, membuat Myungsoo terkekeh dan lebih memilih memperhatikan Luhan daripada mengganggunya "Baiklah, minum sebanyak yang kau mau, tapi satu syarat dariku, jangan buat keributan!"

Luhan mengabaikan lagi peringatan Myungsoo, yang dia lakukan hanya terus menenggak gelas demi gelas vodka hingga satu botol itu kini menjadi setengah dan nyaris habis jika Myungsoo tidak mengambil paksa dari tangan Luhan.

"y-YAK! KEMBALIKAN PADAKU!"

Lihatlah Luhan, kurang dari dua puluh menit dia hampir menghabiskan satu botol vodka seorang diri. Dan tidak perlu ditanya bagaimana efeknya karena pastilah mabuk dan meracau gila adalah hal yang dilakukan Luhan saat ini "KEMBALIKAN—hix-KEMBALIKAN PADAKU!"

Gerakannya sudah tidak fokus, awalnya dia meronta, berusaha berdiri dan mengambil paksa miliknya namun terpaksa kembali terduduk di kursi dan meletakkan kepalanya di atas meja karena terlalu mabuk ditambah sakit di kepala dan hatinya yang membuat Luhan menyerah dan akhirnya setengah tidak sadarkan diri dalam keadaan sangat mabuk

"Apa kubilang? Kau tidak bisa minum Luhan."

Myungsoo menjauhkan botol vodka dari Luhan, mendekati sahabatnya untuk menyadari ada hal yang menarik yang sedari tadi digumamkan Luhan dalam mabuknya "Sehunna—Kapan kau memilihku?" Katanya meracau hingga membuat Myungsoo tersadar apapun hal yang menjadi alasan Luhan memutuskan untuk mabuk seperti ini bukanlah hal yang bisa dia tangani dalam keadaan sadar.

"Mau sampai kapan kau seperti ini? Sebentar lagi tahun berganti dan itu artinya hampir dua tahun kau terus mabuk jika sesuatu mengganggumu Dokter Xi!"

Wajar jika Myungsoo merasa iba pada Luhan, karena selama dua tahun mereka saling mengenal, Luhan adalah tipe yang menghindari masalah jika itu menyangkut hatinya, dia lebih memilih mabuk dan membuat keributan dengan orang lain daripada harus menghadapi masalahnya sendiri.

Dan dalam keadaan seperti ini, seperti biasa, Myungsoo adalah yang paling dirugikan, dia harus repot-repot menyewakan hotel atau motel untuk Luhan atau terkadang mengantarnya pulang dan dihadiahi tinju di wajah karena pastilah dua sahabat super tinggi Luhan akan menyalahkan dirinya.

"Haah~ Motel saja ya? Aku sedang tidak ingin dipukul di wajah." Katanya getir dan berniat merangkul Luhan, posisi keduanya sudah setengah berdiri dengan Myungsoo yang memapah Luhan, berniat untuk membawa temannya pergi sampai bunyi getaran di ponsel sang dokter terdengar dan cukup mengganggu.

Ddrtt….drrtt…

"Baiklah, kita lihat siapa yang menghubungimu." Katanya kembali membuat Luhan duduk namun kali ini dia menyandarkan kepala Luhan di dadanya.

Drrtt…drrtt…

"Sehun? Sehun yang sama atau-….terserahlah!"

Buru-buru Myungsoo menggeser slide ponsel Luhan, berniat menjawab sampai terdengar suara yang tak kalah putus asa dengan yang disuarakan Luhan beberapa menit yang lalu "Luhan? syukurlah sayang, aku-….kita harus bicara"

Baru beberapa menit Sehun terdengar bicara lembut segera dipatahkan Myungsoo yang tanpa berbasa-basi memberitahu Sehun dan mengatakan "Aku bukan Luhan, omong-omong apa kau Sehun? kekasihnya?"

Myungsoo bisa mendengar deru nafas yang mengerikan hanya dari saluran telepon, entah, jenis kesialan apalagi yang akan diberikan Luhan untuknya, yang jelas Myungsoo harus mempertahankan diri dengan kalimat "Aku temannya, sungguh." keluar begitu saja dan membuatnya terdengar seperti orang bodoh.

"Dimana Luhan?"

Suara berat Sehun benar-benar terdengar mengerikan, jadilah Myungsoo kembali menidurkan kepala Luhan di atas meja, berjaga kalau tiba-tiba Sehun datang dia tidak perlu marah hanya karena Luhan bersandar di pelukannya "Hell Club, kau tahu kan? Club terkenal dan menyediakan begitu banyak-…."

Pip!

Saluran ponselnya diputus begitu saja, sejujurnya itu membuat Myungsoo sedikit kesal, tapi melihat bagaimana wajah Luhan sangat tertekan dan pucat itu hanya mengingatkannya pada malam menjelang natal tahun lalu saat Luhan benar-benar mabuk untuk kali pertama di club miliknya, wajahnya jauh lebih pucat dan tertekan, terlebih saat dia terus terus meracau serta memanggil "Ma, pa…kembali padaku." Membuat Myungsoo menyadari bahwa seorang Luhan yang dikenalnya ceria memiliki lubang besar di hatinya yang membuatnya merasa kesepian dan menderita

"haah~"

Myungsoo menghela dalam nafasnya, dia kemudian mengacak surai Luhan lalu bergumam iba "Hey, kapan kau tidak datang kesini lagi? Aku tidak tega melihatmu seperti ini." katanya lirih lalu memapah Luhan ke ruangannya sampai nanti pria bernama Sehun menjemput satu-satunya teman yang dia miliki di kehidupan normal.

.

.

.

.

.

.

.

Tebakan pertamanya pastilah Myungsoo sudah membawa dirinya ke sebuah motel atau hotel murahan yang memiliki bau menyengat dan tidak layak disewakan lagi, selalu seperti itu, seperti Myungsoo sedang membalas dendam karena berbuat ulah di club miliknya, tapi kemudian, seiring dengan kesadaran yang hampir sepenuhnya dia dapatkan, bukan bau menyengat atau tempat dipenuhi dinding berjamur yang selalu menjadi hal pertama yang dia lihat.

"rrhhh~"

Dan tepat setelah semua kesadaran dia dapatkan, Luhan mulai mengerang, memijat kepalanya yang terus berputar sementara tangannya yang lain dia gunakan untuk menutup mata agar pencahayaan diruangan tidak langsung mengenai dan menyakiti matanya.

"huekk~"

Perutnya bergejolak hebat didalam, semua isi perutnya seolah berlomba minta dikeluarkan jika sang pemilik tubuh tidak ahli mengendalikan rasa mual setelah mabuk, buru-buru dia menyalakan lampu di meja kamar dan berniat mencari segelas air, membuka mata lalu memaksa tubuhnya sedikit bergerak untuk menyadari semua tata letak di ruanganya saat ini terasa begitu familiar, lalu hidungnya mencium aroma yang begitu dia sukai, detik berikutnya dia bisa melihat satu foto favoritnya bersama kekasih dan teman-temannya terpajang tepat di dinding dekat pintu masuk kamar.

Dan semua rasa familiar ini hanya membuat Luhan sadar bahwa saat ini dia sedang tidak berada di hotel tidak pula di motel murahan, satu hal yang pasti, yang membuat air matanya jatuh ketika dia menyadari bahwa untuk alasan yang tidak Luhan mengerti, pastilah Sehun kembali membawa ke rumahnya, rumah mereka.

"Apa yang terjadi…." dia bertanya-tanya, lalu didalam kegelapan, tepat di depan matanya dia bisa melihat siluete yang sedang diam memperhatikan, tidak bersuara, hanya diam namun matanya mengunci Luhan di dalalam gelapnya kamar yang hanya diterangi lampu temaram kecil di kamar mereka.

"Se-Sehun?" paraunya, dibalas desahan nafas yang begitu berat dari sang kekasih "Sayang?" katanya mencoba lagi, namun sepertinya Sehun terlihat sedang murka dan menahan diri di saat yang bersamaan.

Buru-buru Luhan menyingkap selimut di tubuhnya, sedikit terkejut lagi ketika menyadari bahwa Sehun tidak memakaikan dirinya satu helai pakaian pun di tubuhnya, dia polos, hanya tertutup selimut, namun tatapan Sehun yang terlampau tajam cukup mengganggunya hingga Luhan tidak mempedulikan bagaimana kondisinya saat ini dan begitu ingin memeluk pria yang hatinya baru dia hancurkan beberapa jam yang lalu.

"Sehun? Apa yang terjadi? Kenapa kau-…"

"Tetap berbaring." Suara prianya terdengar berat dan serak, tidak perlu bertanya siapa yang menyebabkan Sehunnya yang ceria menjadi terlihat tegas dan menderita karena pastilah dia jawabannya "Sehun…."

Lalu terdengar suara derit kursi di dorong sang pemilik, perlahan Sehun melewati pembatas gelap antara tempatnya duduk dan tempat tidur miliknya, wajahnya mulai terlihat karena temaram lampu, Luhan mendesah lega namun Sehun tetap menatapnya dingin dipenuhi pertanyaan untuk pria yang selalu membuatnya bertanya mengenai apa cinta memang sesulit ini? Apa aku harus menyerah? Atau bagaimana jika aku tetap bertahan? Siapa yang akan merasakan sakit lebih banyak? Luhan? atau diriku?

Melepas segala pertanyaan yang ada di kepala dan hatinya, Sehun lebih memilih berjalan mendekati pusat hidupnya, sosok yang selalu berhasil membuat hatinya lemah jika melihatnya menangis, atau membuatnya terlihat sangat mengerikan jika Luhan disakiti.

"Kau baik-baik saja?"

Ini kali pertama untuk Luhan berhadapan dengan Sehun yang dikatakan banyak orang atau para gadis saat mereka duduk di bangku sekolah dulu, Sehun yang begitu dingin dari cara bicara dan cara dia menatap.

Ya, selama hampir dua puluh tahun mengenal Sehun, tak pernah sekalipun kekasihnya bersikap dingin apalagi menatapnya sangat mengerikan seperti ini, lalu kemudian Luhan harus membenarkan rumor yang selalu di dengarnya saat di bangku sekolah mengenai betap mengerikan Sehun jika matanya sudah menatap marah pada seseorang atau cara bicaranya sudah begitu dingin seolah tak ingin dibantah.

Luhan bahkan dibuat sedikit gemetar mengingat bahwa perubahan sikap kekasihnya terjadi karena dua hal. Pertama karena pilihan gila yang diajukan dirinya, kedua karena dia mabuk dan sialnya Sehun yang membawanya pulang kerumah.

"y-Ya aku baik-baik saja. Tapi apa yang terjadi?"

"Kenapa kau mabuk?"

"huh?"

"Apa sudah menjadi kebiasaanmu?"

"Sehun…"

"Sementara kau menyiksaku dengan pilihan yang kau buat, aku harus menemukan seorang pria mengangkat ponselmu dan mengatakan kau mabuk? Begitukah caranya?"

Luhan tahu sifat kekasihnya memang begitu posesif pada dirinya, yang tidak Luhan ketahui hanya Sehun bisa begitu marah hanya karena seseorang mengangkat ponselnya disaat harusnya Sehun berterimakasih karena Myungsoo yang mengangkat panggilannya, temannya, bukan seseorang yang berniat jahat padanya.

"Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba kau begitu marah?"

"Apa kau perlu dijelaskan lagi? Apa kau perlu diingatkan lagi? Kau sedang memberiku pilihan yang sangat sulit Luhan. Kau—…..aku tidak bisa." Dia terisak, tapi tidak memperlihatkan kelemahannya. Dia seperti sedang menunjukkan pada Luhan bahwa dirinya begitu tertekan hanya karena dua pilihan yang begitu sulit di hidupnya.

Sehun tidak meminta apapun, dia bisa mencintai Luhan tanpa harus meninggalkan keluarganya, tapi Luhan mengatakan hal berbeda dengan pilihan yang begitu sulit hingga rasanya ingin dia berteriak marah namun berakhir mengiba meminta belas kasih Luhan agar tidak perlu meneruskan hal yang bisa membuat hubungan mereka berakhir atau kehilangan satu sama lain.

"Aku sudah memikirkannya, dan jawabannya-….aku tidak bisa, sebanyak apapun aku mencoba berfikir, aku tetap tidak bisa memilih antara kau dan keluargaku, itu keterlaluan Luhan. Itu-…."

Tiba-tiba Luhan menarik lengan Sehun, memaksa Sehun bersandar di kepala tempat tidur sementara dirinya duduk di pangkuan sang kekasih. Niat awalnya hanya menenangkan Sehun tapi kemudian dia menyadari lagi bahwa bukan Sehun yang perlu ditenangkan tapi dirinya sendiri.

"Aku tahu bagaimana dekat dan betapa kau menyayangi keluargamu Sehun. Aku tahu semua hal tentang dirimu dan keluargamu, aku tahu aku keji dan keterlaluan. Tapi aku sendiri."

"Lu…."

Mengabaikan bagaimana memalukan dirinya saat ini, Luhan tetap mencoba menyadarkan Sehun dengan caranya, dia terlalu takut Sehun akan memilih keluarga pada akhirnya, dia tidak mau berakhir ditinggal sendiri dan akan melakukan segala cara agar Sehun mengerti dan memilih dirinya.

Jadilah Luhan dengan tubuh polosnya yang tak tertutup memeluk erat kekasihnya, bersandar disana lalu berbisik terdengar mengiba "Jadi jangan biarkan aku sendiri, aku takut Sehun."

Terdengar licik, tapi hanya ini satu-satunya cara agar Sehun mempertimbangkan dirinya, agar Sehun tidak terlihat ragu dan pada akhirnya terpaksa memilih keluarganya dan meninggalkan dirinya, dia tidak akan bisa hidup tanpa Sehun dan dia tidak bersedia untuk ditinggalkan Sehun hanya karena ketidakcocokan yang dimilikinya dengan keluarga sang kekasih, dengan Jaksa Oh terutama.

"Jika kau memilih keluargamu aku akan kehilangan arah seperti malam ini, tidak ada lagi tempatku bersandar, aku tidak mau membayangkan akan menjadi Luhan seperti apa diriku jika kau tinggalkan, jika kehilangan dirimu sayang, aku takut."

"ssst…Luhan, sayangku. Tenanglah, aku tidak akan meninggalkanmu sayang, tenanglah hmmh?" pintanya lirih dibalas desahan lega dari Luhan. setidaknya Sehun sudah memberikan sedikit klarifikasi, mengatakan tidak akan meninggalkannya walau nyatanya Sehun belum memberikan keputusan tentang pada siapa dirinya akan tinggal dan menetap.

"Tenanglah, kau akan baik-baik saja." katanya lagi

Kemudian Luhan tersenyum kecil, kedua tangannya memeluk erat leher Sehun seraya mendekatkan diri, sedikit menggesekan tubuh polosnya ke tubuh Sehun seolah mencari kehangatan disana "Kalau begitu jangan tinggalkan aku, terus bersamaku hingga maut yang memisahkan kita, bukan keluargamu atau siapapun, kumohon."

Mendengar Luhan terus memohon, terdengar putus asa, nyatanya menjadi kelemahan baru lagi untuk Sehun. Dan jangan katakan perhatiannya tidak teralihkan mengingat bagaimana Luhan terus menggesekan tubuh mereka hingga menimbulkan percikan panas yang begitu mengganggu dibagian paling bawah tubuhnya.

"Berhenti memohon."

"huh?"

Luhan melepas pelukannya, tatapan memohon itu berubah menjadi tatapan penuh harap, kemudian Sehun harus mengontrol lagi dirinya untuk beberapa saat sebelum kedua tangannya mengusap lembut wajah kekasihnya "Aku tidak menyukai caramu memohon, terdengar mengganggu untukku."

"Lalu apa kau sudah membuat pilihan?" tanyanya berharap namun dibalas senyum pahit kekasihnya "Sayangnya belum, tapi jika aku boleh tahu kenapa kau sangat membenci keluargaku?"

Kini Luhan yang menunjukkan senyum pahitnya, kepalanya tertunduk lalu tanpa sadar dia bergumam "Andai kau tahu apa yang dilakukan ayahmu di masa lalu." Katanya berbisik namun samar bisa didengar Sehun yang kini memegang dagu Luhan, memaksa kekasihnya untuk menatap kedua matanya "Apa yang dilakukan ayahku?"

Ayahmu menghancurkan hidupku, sejak awal dia memang berniat melimpahkan semua kesalahannya padaku, untuk melindungimu dia menghancurkan aku!

Alasan kuat mengapa kedua orang tuaku terbunuh, AYAHMU!

Ingin Luhan berteriak seperti itu, tapi lagi-lagi dia tak sampai hati melakukannya, wajah Sehun menunjukkan betapa dia akan merasa bersalah jika mengetahui apa yang dilakukan ayahnya, menanggung semua kesalahan yang dibuat sang ayah lalu berakhir menghindari dirinya sebagai bentuk rasa bersalah dari hal yang tak pernah dia perbuat.

"Sehunna."

"hmh?"

"Tinggalkan keluargamu, hanya itu yang aku inginkan, kita bisa membuat keluarga kecil yang bahagia tanpa harus mengungkit masa lalu. Bisakah?"

"Jika kau menyembunyikan sesuatu, katakanlah lebih dulu agar aku tahu pilihanku tepat untuk bersamamu, meninggalkan keluargaku."

Luhan terlihat putus asa, begitu juga Sehun, keduanya saling menatap penuh rasa hampa sampai tangan besar Sehun tiba-tiba bertumpu di pinggangnya lalu menariknya kuat hingga tak ada jarak diantara mereka "Kumohon jangan sembunyikan apapun dariku." Katanya memohon lagi, terdengar sangat ingin mengetahui apa yang tak bisa dikatakan Luhan namun berakhir hening karena Luhan tetap bersikeras diam tanpa mengatakan apapun.

Tangan Luhan mulai melingkar mesra di leher kekasihnya, menyatukan dua kening mereka lalu dia tersenyum sangat cantik "Bodoh, apa yang aku sembunyikan?" elaknya resah, lalu wajah Sehun mulai mendekat, mengecup dan menggigit cuping telinga Luhan seraya berbisik "Entahlah, sepertinya kau menyimpan semuanya seorang diri, berbagilah denganku."

Gelenyar hangat seketika dirasakan Luhan di seluruh tubuhnya, deru nafas Sehun yang terdengar beraturan mulai menerpa tengkuk dan wajahnya dengan kedua tangan yang mulai mengusap sensual pinggang Luhan.

"Apa? Bukankah aku sudah berbagi?"

"Apa yang kau bagi denganku?" katanya bertanya lalu Luhan mengerling nakal, dia sengaja menggesekan lagi tubuh polosnya di bagian bawah tubuh mereka lalu berbisik mengalihkan perhatian "Hatiku, cintaku bahkan tubuhku, aku sudah membagi semuanya denganmu, benar?"

Katakanlah Sehun hanya seorang pria yang begitu memuja kekasihnya, mencintai kekasihnya, rela menjadi budak cinta kekasihnya, lalu kemudian Luhan mengatakan hal tentang berbagi yang pernah mereka lakukan dengan sensual, Demi Tuhan Sehun hanya pria biasa yang tidak akan pernah bisa menahan hasrat pada satu-satunya pria yang selalu berhasil membuatnya terus jatuh ke dalam pesonanya, pada Luhan.

Jadilah Sehun membalik posisi mereka, menindih tubuh Luhan untuk lagi-lagi memuja betapa sempurna pria cantik yang begitu dia cintai. Sehun bangga menyeringai bangga pada keputusannya untuk tidak memakaikan satu helai pakaian pun ke tubuh seksi kekasihnya, membuatnya mudah menjamah hingga tugasnya kini hanya membuat sang kekasih menikmati serta mendesahkan namanya disela kegiatan panas mereka.

"Kau benar, tapi berbagilah lebih banyak denganku." Ujarnya serak, melebarkan dua paha Luhan perlahan, lalu menggesekan lagi bagian paling mendamba dari dua tubuh mereka.

Mati-matian Luhan menahan diri, kemudian Sehun menggodanya lagi hingga hanya kekehan kecil yang bisa dia keluarkan seraya menarik tengkuk prianya "Baiklah, aku akan berbagi lebih banyak denganmu." Katanya berbisik sementara dua kakinya yang bebas bersusah payah menurunkan celana pendek yang dipakai Sehun, membiarkan tubuh mereka polos bersama hingga akhirnya Sehun menyelesaikan hal yang dilakukan kekasihnya dan membuat tubuh mereka sama polos, saling mendamba.

"rrrh—Sehunna~"

Dan ketika Sehun tanpa pemanasan mulai perlahan masuk ke dalam tubuhnya, Luhan mengerang, menancapkan hampir semua kukunya ke punggung kekar sang kekasih, menggigit bibir kekasihnya sementara Sehun terus bergerak maju sampai akhirnya "Luhan—rrhh~" erangan Sehun terdengar sama menahan sakit seperti dirinya, yang membedakan hanya karena Sehun bertindak sebagai seorang seme hinga hanya sedikit rasa sakit yang dia rasakan sebelum akhirnya bergerak, menyempurnakan penyatuan tubuh mereka.

"haah~"

Setelahnya, mengabaikan bunyi derit tempat tidur yang mulai mengeras seiring kerasnya hentakan Sehun, mengabaikan banyaknya salju yang begitu indah sedang turun bertumpuk di tanah yang kosong, keduanya kini saling mendesah, memanggil nama masing-masing, berharap apapun keresahan yang mereka rasakan bisa berkurang seiring cinta yang sama besar yang sedang mereka bagi malam ini, bersama.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan paginya Luhan terbangun lebih dulu, membiarkan prianya sejenak beristirahat mengingat percintaan mereka baru selesai ketika waktu menunjukkan pukul tiga pagi, omong-omong, pagi ini kalender sudah menunjukkan tanggal dua puluh tiga desember, itu artinya tersisa dua hari untuk mereka memutuskan merayakan natal bersama atau secara terpisah.

"haah~"

Well, Luhan berharap Sehun memilihnya, tapi subuh tadi dia tidak sengaja mendengar Sehun berbincang dengan ibunya, pastilah wanita cantik yang selalu menemaninya disaat sulit meminta Sehun untuk datang bersamanya di malam natal.

Dan walaupun Sehun mengetahui jawaban apa yang akan diberikan, kekasihnya tetap mengatakan aku akan mengajak Luhan, seolah ingin memicu pertengkaran baru dengannya "Baiklah Luhan, relax." gumamnya perlahan, mendinginkan kepalanya yang mulai panas sampai tubuhnya sedikit berjengit saat merasakan sepasang tangan kekar melingkar manja di pinggangnya, refleks, Luhan menoleh. Lalu tampaklah wajah baby chick sang kekasih yang begitu menggemaskan.

Mata sipitnya masih setengah terbuka, wajahnya yang dipenuhi semburat merah terlihat menawan sementara bibirnya mengerucut tanda dia kesal ditinggalkan sendiri di tempat tidur.

"Aku membuat sarapan, jadi berhenti mengerucut." Luhan membela diri, membaca pikiran kekasihnya dalam waktu singkat hingga kekehan terlihat di bibir seksi yang malam tadi sukses membuat kissmark di leher dan membuat bibirnya bengkak karena terlalu lama dihisap.

"Setidaknya bangunkan aku lebih dulu."

"Well, aku akan melakukannya setelah telur mata sapi dan susu cokelat panas kesukaanmu tersaji di atas meja." Katanya menyeruak dari pelukan manja Sehun, berjalan dengan dua tangan yang memegang telur mata sapi dan susu cokelat panas milik Sehun lalu meletakannya di meja makan

"Nah, sekarang kau bisa berhenti memelukku dan hanya duduk di kursi meja makan, habiskan sarapanmu sayang." katanya gemas, mencium kekasihnya tepat di bibir sebagai tanda bahwa dia sedang merayu agar Sehun berhenti merajuk.

"Kau seksi."

Luhan terkekeh lagi, kali ini dia benar-benar melepas pelukan Sehun, memaksa kekasihnya untuk duduk di kursi meja makan, lalu dia menarik kursi di samping kursi Sehun, menyediakan makan untuk si bayi besar "Makanlah, kita harus bicara setelah ini."

"Apa?"

Luhan menghidangkan beberapa roti ke piring Sehun lalu dengan gemas menyuapi kekasihnya dengan sepotong telur mata sapi lengkap dengan rotinya "Bilang aaa…"

Tak menolak, Sehun membuka mata, mengunyah manja makanan yang diberikan Luhan lalu membuka cepat lagi mulutnya "aaa…."

"Sehunna, apa Taeoh tahu kau sangat manja seperti ini?" dia bertanya, terlihat menggerutu tapi tetap menyuapi makanan ke mulut si bayi besar "Tergantung, jika Taeoh disini mungkin dia tahu."

"ssh…Jadi kau hanya menjadi pria dewasa di malam hari?"

Sehun menggeser kursi Luhan, menariknya begitu dekat lalu tanpa ragu mengusap paha Luhan yang kini hanya menggunakan kaos kebesaran miliknya "Tidak juga, aku bisa menjadi pria dewasa saat ini juga, kau mau mencobanya?—arhh~"

Pukulan singkat dirasakan Sehun, dia bisa melihat bagaimana menggairahkan Luhan yang sedang kesal lalu berakhir terkekeh jika tidak ingin membuat kekasihnya semakin kesal "Bilang aaa…"

Lagi, Luhan tetap sabar menyuapi Sehun, memotong seluruh telur mata sapi dan roti yang dia hidangkan sampai semuanya habis tak tersisa. Dia kemudian hanya memilih menenggak segelas juice lalu bergegas meletakkan alat makan kotor ke dalam wastafel.

"Sayang…"

"hmh?"

Sehun memeluk lagi pinggangnya, meletakkan dagu di pundak Luhan sementara sang kekasih sibuk mencuci dan merapikan peralatan sarapan mereka "Tadi kau bilang ingin membicarakan sesuatu. Apa yang ingin kau bicarakan?"

"Baiklah, aku beritahu apa yang ingin aku bicarakan." Katanya mematikan kran air, membalikan tubuhnya sementara dengan satu tangannya Sehun menggendong Luhan dan mendudukan si mungil di counter dapur, dia juga sengaja melebarkan paha Luhan, berdiri di tengah-tengahnya hingga tak ada jarak diantara mereka "Apa?"

Luhan gemas, dikecupnya lagi bibir Sehun, keduanya kini saling melumat dan saling mendorong lidah, bertukar saliva sampai Luhan mengantisipasi kegiatan mereka karena cemas Sehun tidak bisa menahan diri.

"Baiklah cukup, kita perlu bicara. Ingat?" katanya mengingatkan dibalas tawa getir dari Sehun "Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan?" balasnya singkat, masih mengecupi bekas kissmark buatannya malam tadi sementara Luhan susah payah menahan desahan untuk mengatakan dengan tegas "Aku akan mengambil full shift sampai malam natal nanti."

"huh?"

Kegiatannya terhenti, fokusnya kini pada Luhan yang terlihat cemas lalu kembali mengulang ucapan kekasihnya "Siapa yang akan mengambil full shift sampai malam nanti?" tanyanya sarkas, dibalas desahan nafas berat dari Luhan "Aku."

"Tapi kenapa?"

"mmh….Kita bisa menghabiskan malam natal bersama lain waktu, kali ini kau hanya perlu pulang kerumah dan aku akan merayakannya di rumah sakit." Katanya memelas dibalas tatapan dingin Sehun persis sebelum dia mengambilnya malam tadi "Kau berbohong lagi." timpalnya sengit, Sehun bahkan melepas pelukannya lalu menarik asal kursi di sekitar meja makan "Aku tahu kau menghindariku."

"Sehun…"

Buru-buru Luhan turun dari counter dapur, menghampiri Sehun yang mulai terpancing emosinya dan berjongkok tepat di depan kekasihnya "Dengarkan aku lebih dulu."

"Apa?"

"Mau bagaimanapun kau masih berhutang pilihan padaku. Dan aku tahu ini terlalu sulit untukmu, aku hanya memberikan waktu tambahan sampai nanti aku bertanya lagi."

"Kau masih memaksaku memilih?"

"Kau tahu aku tetap pada pilihanku."

Suasana seketika menjadi tegang, Luhan mulai ikut terpancing emosi sementara tatapan Sehun menjadi putus asa lagi, seperti malam tadi "Kenapa kau begitu membenci keluargaku?"

Luhan tertawa pahit, ditariknya kursi disamping Sehun lalu dengan tajam dia mengatakan "Tanyakan pada ayahmu, jangan padaku."

"Kalau begitu beritahu aku."

"Sehun cukup! Aku memintamu memilih bukan tanpa alasan, tapi jika kau tanya alasannya padaku, maka aku bukan orang yang tepat untuk mengatakannya, kumohon berhenti bersikap kekanakan."

Hening lagi, tak ada satupun dari mereka yang bisa mengungkapkan kekecewaan masing-masing. Keduanya hanya terdiam lalu tiba-tiba Sehun bertanya "Bagaimana jika aku memilih keluargaku?"

DEG!

Tubuh Luhan lemas, tiba-tiba nafasnya tercekat, jujur, dia tidak menyangka Sehun akan mengatakan hal itu padanya, kemungkinan yang dia pikirkan adalah delapan puluh persen Sehun memilihnya, bukan keluarganya.

Tapi kemudian Sehun bertanya kemungkinan jika dia memilih keluarganya, jadilah tangan Luhan terkepal, berusaha untuk mendinginkan hatinya yang panas walau berakhir mengatakan "Kalau begitu kita akan berpisah, lagi." serunya sesak, lalu pergi menuju kamar "Aku tidak bisa melanjutkan pembicaraan ini lagi, datanglah padaku saat kau benar-benar memiliki jawaban, bukan kemungkinan."

"Luhan…."

Luhan tidak menoleh lagi, langkahnya tertuju pada kamar Baekhyun, dia juga mengunci pintu kamar sahabatnya sementara suara Sehun terus memanggil namanya "Sayang, bisakah kau tidak bersikap seperti ini?"

"…"

"Luhan buka pintunya."

Didalam sana, di kamar Baekhyun, Luhan sedang terduduk lemas di balik pintu, menikmati suara Sehun sementara dirinya tetap pada pendirian untuk memiliki Sehun seutuhnya tanpa harus berbagi dengan pria yang secara tak langsung sudah menghancurkan hidupnya, merenggut nyawa kedua orang tuanya.

"Luhan, kumohon."

"….."

"Luhan…."

Setelahnya Sehun menyadari jika memaksa Luhan di kondisinya yang tak bisa dibantah, itu hanya akan menyakiti kekasihnya. Maka dengan berat hati dia mengalah, memilih untuk membiarkan Luhan seorang diri walau nyatanya hingga saat ini dia masih tidak memiliki jawaban atas pilihan yang Luhan berikan padanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam ini cukup membuat Luhan kesal sebenarnya, pertama dia sudah memberikan alasan akan mengambil full shift di rumah sakit lalu pihak rumah sakit menolak rencana gilanya sebagai rasa hormat mereka pada mendiang sang mama.

"Seberapa dihargai Mama di rumah sakit ini? tsk! bahkan sudah hampir dua tahun mama pergi, tapi seluruh staff di rumah sakit masih begitu menghargai mama. Haah~ Aku jadi semakin merindukan suara mama."

Sebenarnya Luhan kesal, sangat, tapi nama mamanya terus dibawa hingga akhirnya dia tidak memiliki pilihan untuk mengambil hari libur mulai hari ini hingga nanti malam tahun baru menjemput.

"Lalu aku harus kemana?" tanyanya entah pada siapa, dia sengaja menangkap butir salju yang berjatuhan, menggenggamnya erat hingga tanpa sadar langkah kakinya berhenti di rumah mendiang kedua orang tuanya.

Tiba-tiba saja dia menjadi gugup, matanya nanar melihat rumah yang begitu besar dan indah dari luar namun terasa sepi dan begitu kosong saat kau melangkah kedalam. Beruntung Taeyong dan Bibi Kim bersedia menetap disana, menjaga rumah peninggalan kedua orang tuanya karena dia tidak mampu melakukannya seorang diri.

"haah~"

Entah sudah kali berapa Luhan menghela nafas, mencoba menahan air mata kesepian yang membuatnya sesak, berkali-kali dia menghela nafas berkali-kali pula rasa sesaknya mengganggu.

Kemudian dia memilih masuk kedalam, bergabung bersama Taeyong dan Bibi Kim sampai suara berat yang tidak ingin dia dengan kini memanggil lirih namanya "Luhan."

Adalah Yoon Doojoon yang tengah berdiri di sampingnya, entah sejak kapan. Tapi sosok setinggi kekasihnya itu sedang menatapnya sendu lalu berakhir dibalas dingin oleh Luhan "Kau?" sedingin salju yang kini mengenai masing-masing dari mantel tebal yang digunakan mereka.

"Bisa kita bicara?"

Luhan ingin menolak, tapi sesuatu berbeda ditunjukkan Doojoon hingga akhirnya Luhan bertanya sebagai jawaban "Apa?"

"Tidak bisakah kita pergi ke suatu tempat?"

"Sayangnya tidak, katakan apa yang ingin kau katakan?"

Doojoon tersenyum hangat, terkesan tulus namun Luhan hanya melihat kepalsuan di matanya, di senyumnya, apapun yang diperlihatkan pria yang pernah mencoba membunuh kekasihnya itu hanya terlihat menjijikan di mata Luhan.

"Selamat natal."

"huh?"

"Aku hanya ingin mengatakan itu padamu."

"Hanya itu?"

Doojoon mendekat, refleks Luhan mundur menjauh. Kemudian dia menyadari jarak yang tak pernah bisa dia tiadakan dari Luhan, terkadang dia menyadari bahwa selamanya Luhan memang tidak akan pernah bisa dia miliki, awalnya dia menatap Luhan penuh harap hingga hanya senyum lirih yang ditunjukkannya lagi kali ini "Hanya itu, aku mengkhawatirkanmu, aku takut kau kesepian."

Entah mengapa sesaat Luhan merasa hangat, dia bahkan tertawa mencoba melunak pada Doojoon lalu menggeleng, tidak membenarkan "Aku tidak pernah kesepian sebenarnya, aku memiliki Sehun, kau tidak lupa kan?"

"Lalu dimana dia? Aku tidak melihatnya di sekitarmu?"

Luhan merasa sesuatu menusuk tepat di jantungnya, sakit tapi tidak berdarah, sesak tapi tidak dicekik, dia kemudian tertunduk, pertanyaan Doojoon sukses membuat air mata yang dia tahan keluar begitu saja hingga akhirnya Luhan terisak tanda dia kelelahan karena terus berkata dia baik-baik saja, karena dia tidak pernah baik-baik saja tanpa Sehun.

"Luhan?"

"Aku tidak tahu dimana Sehun, menyedihkan bukan?"

"Lu…."

"Aku kesepian, aku mengiginkan Sehun. Aku-….."

Sret!

Satu gerakan cepat Doojoon memeluk Luhan, mengabaikan seluruh pukulan Luhan di dadanya sebagai tanda dia menolak. Yang Doojoon lakukan hanya memeluk Luhan sampai akhirnya Luhan tenang dan memilih untuk terisak diam di pelukannya.

"Aku ingin Sehun."

Bukan tanpa alasan Luhan menerima dan berdamai dengan Doojoon, sejujurnya dia tidak akan memaafkan Doojoon, tapi malam ini, hanya untuk malam ini, terakhir kali dia membiarkan Doojoon memeluknya sebagai seorang kakak.

"Luhan…."

Dan untuk Doojoon, bukan tanpa alasan pula dia menitikkan air mata, semua kesepian Luhan adalah karena dirinya, semua kehilangan Luhan karena dia penyebabnya, lalu kemudian dia menceritakan bagian terburuk dari ayah Sehun.

Tebakannya Luhan meminta Sehun untuk memilih dirinya dan keluarganya, lalu dia tidak bisa menemukan Sehun di sekitar Luhan, bukankah artinya Sehun memilih keluarganya? Dia bertanya, namun membiarkan Luhan menangis dan mengatakan hal paling mengganggu dan paling membuatnya menderita tepat di malam seharusnya dia banyak tertawa tanpa air mata.

"Aku ingin Sehun, hyung."

Jadilah Doojoon semakin sesak, pria yang menjadi obsesinya terus menyebutkan nama pria lain, rasanya dia tergoda untuk membunuh dan menyingkirkan Sehun, lalu setelah itu apa? Luhan hanya akan tenggelam pada kesedihannya, tidak akan memaafkan dirinya dan paling buruk Luhan akan melakukan hal gila untuk mengakhiri hidupnya.

"Sehun…."

"Luhan, maafkan aku."

Tersirat penyesalan dari ucapannya, Luhan hanya tidak tahu untuk apa.

Kenyataannya Doojoon membunuh salah satu wanita yang menjadi alasan dirinya kesepian malam ini, Luhan belum mengetahuinya, kemudian Luhan juga tidak menyadari bahwa sedari tadi dua pasang mata tengah memperhatikannya dari jauh.

Yang satu adalah pria paruh baya yang berniat menjemput Luhan dan mengiba maaf pada putra dari mendiang sahabatnya, berniat melakukan apapun agar Luhan kembali pada putranya yang kini berada di rumah namun nyawanya entah berada dimana.

Kemudian dia melihat adegan yang sebenarnya membuatnya kecewa, adegan dimana Luhan tak mengelak saat pria lain memeluknya hanya membuat Jaksa kenamaan di Seoul menatap sendu, antara iba dan terluka.

"hyung…"

Lalu yang satu adalah remaja delapan belas tahun yang sedari tadi memperhatikan Luhan dan Doojoon dari lantai dua kamar Luhan, remaja yang cukup mengetahui siapa Doojoon dan betapa berbahaya pria itu untuk Luhan hanya bisa menitikkan air mata.

Rasa takutnya nyaris membuat Luhan terjerat ke pelukan pria mengerikan yang telah membuat Luhan hyungnya menderita, kemudian dia harus melihat adegan dimana si pembunuh memenangkan hati Luhan dan itu cukup membuatnya muak.

"Aku akan melakukannya hyung. Sehun yang akan menyelamatkanmu, bukan aku"

"Luhan, Doojoon dan seluruh dunianya berbahaya untukmu. Biarkan papa menggenggam tangan kecilmu, nak"

Lalu Lee Taeyong serta Oh Insung, kedua pria berbeda usia yang masing-masing melihat bagaimana Luhan nyaris terjerat oleh pria yang salah memutuskan dengan cara masing-masing untuk menyelamatkan Luhan dengan nyawa mereka sebagai taruhannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Klik….

"Tuan muda."

Yang dipanggil tengah menatap kosong dari jendela kamarnya, entah apa yang dia perhatikan. Dia terlihat memikirkan sesuatu namun tetap belum menemukan jawabannya "Ada apa?" ujarnya singkat, tidak memperhatikan.

"Seseorang datang dan ingin menemui anda."

"Siapa?"

"Seorang remaja."

"Katakan padanya aku tidak ingin diganggu."

"Tapi tuan muda, dia mengatakan ini berhubungan dengan Dokter Xi."

Barulah Sehun merespon, jelas sekali matanya berapi saat nama panggilan kekasihnya disebut, kemudian dia bertanya-tanya lagi untuk memastikan "Siapa nama remaja itu?"

"Lee Taeyong."

Dalam satu kedipan mata Sehun berlari keluar kamar, buru-buru dia menuruni tangga untuk menemukan Taeyong berdiri dihalaman rumahnya, terlihat pucat sampai rasanya kepala Sehun ingin pecah tidak berani membayangkan apa yang terjadi pada Luhannya.

"Luhan? Apa terjadi sesuatu pada Lu-….."

"Luhan hyung baik-baik saja. Aku datang untuk bicara dengan anda."

Kerutan cemas di dahi Sehun perlahan menghilang, dia memasang lagi wajah dinginnya lalu bertanya "Ada apa?"

"Yoon Doojoon, kau bertanya padaku siapa dia? Aku akan memberitahu semuanya padamu."

Debaran di jantung Sehun meningkat, dan entah untuk alasan apa dia merasa begitu gugup. Terlebih ketika mata Taeyong menatapnya penuh keyakinan, bukan ketakutan seperti beberapa waktu lalu.

"Apa kau yakin?"

Tanpa ragu Taeyong mengatakan "Ya, aku sangat yakin."

.

.

Dan disinilah mereka, di salah satu ruang kerja Sehun, hanya mereka, tidak ada siapapun dan hanya ada ketegangan yang perlahan membunuh keduanya. Sehun tidak mengeluarkan suara begitupula Taeyong, keduanya larut dalam kebisuan menyiksa sampai Sehun bertanya sedikit memaksa "Sampai kapan kau akan terus diam? Atau kau ragu dan tidak akan-…."

"Ya."

Tak mengerti, Sehun kembali bertanya pada remaja yang terus menundukkan kepalanya "Apa?"

Barulah Taeyong mengangkat wajahnya, menatap Sehun tanpa ragu lalu mengatakan "Kau bertanya apa Doojoon dan Seunghyun terlibat atas kematian Tuan dan Nyonya Xi? Maka jawabku, YA. Mereka terlibat!"

Lemas, semakin sesak, begitu keadaan Sehun, tapi sebagai pria yang lebih dewasa dia tetap bersikap tenang dan berusaha untuk tidak memancing ketakutan pada remaja yang dicintai adiknya "apa-….Apa yang kau katakan?"

"tidak, Mereka tidak terlibat. Mereka yang melakukannya."

Lagi-lagi Sehun kehabisan kata bahkan hanya sekedar untuk bertanya "Apa?"

Taeyong tampak terburu, wajahnya berkeringat, matanya ragu dipenuhi ketakutan, harusnya dia diam sampai disini, tapi bayangan Doojoon bisa kapan saja menjerat Luhan membuatnya muak dan terus mengatakan "Masing-masing dari Yoon Doojoon dan Choi Seunghyun, keduanya membunuh Dokter dan Detektif Xi dengan tangan mereka sendiri."

DEG!

Wajah Sehun sepenuhnya menjadi pucat, begitupula Taeyong, masing-masing dari keduanya sedang menikmati ketakutan yang sama sampai Sehun lagi-lagi menyuarakan pertanyaan dengan suaranya yang serak "apa-…Apa maksudmu?"

"Malam itu aku ditugaskan untuk memantau dokter Xi, hanya melihat dan memastikan bahwa dia tidak pernah meninggalkan tempat yang akan menjadi tempatnya meregang nyawa. Awalnya aku tidak mengerti mengapa tiba-tiba target mereka berubah. Lalu aku memberitahu Doojoon, tak lama dia datang, dia mengatakan kerja bagus padaku, aku diminta pergi dan tak lama suara tabrakan itu terjadi, malam itu aku juga berada disana."

Sekarang Sehun mengerti mengapa Taeyong enggan mengatakan hal ini lebih awal, didengar dari ceritanya secara tidak langsung dia terlibat di malam mengerikan itu, dia menjadi informan untuk Doojoon, memberitahu dimana posisi Mama Xi lalu tak lama jeep hitam itu melesat cepat, menghempas tubuh ibu kekasihnya hingga jatuh pada keadaan kritis dan tidak tertolong di rumah sakit.

"Aku adalah alasan Dokter Xi tewas malam itu, aku-….." tangannya gemetar, suaranya ketakutan, tapi disembunyikan Taeyong dengan terus mengatakan kebenaran "Sementara Choi Seunghyun, ada seseorang di kejaksaan yang begitu dikenalnya, mereka bekerja sama memanipulasi kematian Detektif Xi, aku tidak mengetahui apapun setelah itu, sungguh."

"Jadi benar mereka yang melakukannya?"

Taeyong mengangguk cemas, membenarkan pertanyaan Sehun lalu menangis dalam sunyi "Mereka melakukannya, juga aku."

Entahlah betapa Sehun menyimpan kemarahannya saat ini, betapa ingin dia membunuh Seunghyun dan Doojoon sebagai pembalasan, dia nyaris tidak bisa menahan diri jika tidak bertanya-tanya apa alasan Taeyong memberitahukan semua ini, apa ini jebakan? Pikirnya pendek, lalu tanpa sadar dia bertanya sarkas lagi pada remaja didepannya.

"Kenapa kau memutuskan memberitahuku? Apa sesuatu mengancam keselamatanmu." Katanya menuntut sementara tubuh Taeyong masih gemetar dan wajahnya terlihat pucat, dia juga menggeleng sebagai jawaban lalu mengatakan "Bukan aku, tapi Luhan hyung."

"Luhan? Apa maksudmu?"

"Luhan hyung menceritakan semuanya padaku, kau belum bisa memilih dirinya atau keluargamu, dia banyak menangis malam tadi, tapi kemudian Doojoon hyung datang, dia-…."

"Apa yang dia lakukan?" Sehun cemas, tak sabar dia bahkan menggertak Taeyong dan mencengkram kasar pundak remaja di depannya "KATAKAN!"

"Perlahan dia sepertinya berhasil mengambil hati Luhan hyung."

"Mwo?"

"Luhan hyung membutuhkanmu, kumohon, jangan tinggalkan dia atau Doojoonlah yang akan memenangkan hatinya."

"sial! Beritahu aku dimana Doojoon—beritahu aku…."

"Apa yang akan kau lakukan?"

"SEKARANG!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"YOON DOOJOON!"

Waktu menunjukkan pukul delapan malam, bagi kebanyakan orang mungkin mereka sedang berada di gereja menyambut hari natal esok hari, atau sebagian sedang bersama keluarga mereka dan sebagian sedang bersantai.

Sebenarnya Doojoon juga sedang mengambil waktu liburnya dari rumah sakit. Namun kemudian suara teriakan terdengar menggema di markas miliknya, membuat sang pemilik bertanya-tanya hingga empat bodyguard nya bersiap melindungi.

BRAK!

"YOON DOOJOON!"

Lalu pintu terbuka, menampilkan Sehun yang matanya mantap seperti ingin membunuh, awalnya Doojoon bertanya-tanya darimana Sehun mengetahui markasnya, lalu bayang-bayang Taeyong yang berkhianat muncul hingga rasanya tak perlu ditanya darimana Sehun mengetahui keberadannya.

BUGH!

Satu persatu bodyguardnya jatuh hanya karena pukulan Sehun, memalukan memang, namun yang membuatnya tertarik adalah kenyataan bahwa Sehun terlihat sangat murka sampai-sampai Doojoon tak bisa menyembunyikan seringai mengerikannya.

"Cukup." Perintahnya, seketika semua bodyguard tak berguna itu berhenti menyerang Sehun dan kemudian mereka bertatapan secara langsung.

Sehun masih menatapnya mantap membunuh, lalu Doojoon membalasnya menyeringai seraya meremehkan "Apa yang membuatmu datang ke tempat ini? Apa kau sedang mengantar nyawamu? Atau-….."

"PEMBUNUH?"

Satu gerakan cepat dari Sehun berhasil mendekatinya, bajingan itu bahkan berhasil memukul telak wajahnya hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah segar "sial!" Doojoon menggeram, namun menariknya dia tetap melarang seluruh penjaga untuk mencampuri masalahnya mengingat tatapan Sehun sangat menganggunya.

Dia berusaha tenang namun tetap memancing kemarahan Sehun dan seluruh tindakannya yang begitu sia-sia "Bodoh, aku memang pembunuh, kenapa kau terlihat begitu marah?" katanya menantang "AAARGGHHH!" Sehun kemudian memojokkan Doojoon ke dinding setengah mencekiknya "Berani sekali kau masih menemui Luhan setelah hal keji yang kau lakukan padanya! PADA IBUNYA!"

Nyatanya Doojoon merubah wajahnya menjadi pucat dan ketakutan, Sehun bahkan bisa menangkap deru nafasnya berubah menjadi tiga kali lebih cepat, pria ini ketakutan? Sehun bisa menciumnya, dia kemudian mencekik Doojoon semakin kuat lalu memojokkan pria yang sedari awal adalah kesalahan di hidup kekasihnya "Jadi benar? Kau membunuh Mama Xi? Ibu Luhan?"

"Kau….!"

Doojoon menggertakan giginya, bukan karena marah tapi karena dia cemas Sehun menyerangnya lebih jauh, dia berusaha mempertahankan diri walau seluruh tubuhnya gemetar dipenuhi rasa takut. Terlebih saat Sehun mengatakan "Baiklah, kita lihat bagaimana kemarahan Luhan saat dia mengetahui siapa pria yang selama ini dia panggil hyung…" lalu Sehun menghempasnya kasar.

Doojoon sendiri begitu lemas dan membiarkan Sehun mempermainkannya, tapi yang membuatnya ketakutan adalah kenyataan bahwa Sehun melangkah pergi dengan membawa dosa yang dia buat pada Luhan, Doojoon sesak, dia memikirkan segala cara lalu tanpa sadar berteriak "JANGAN BERITAHU LUHAN!"

Tap!

Sehun berhenti melangkah hanya untuk memandang remeh pada pria yang sedang mengiba seperti seekor tikus terjerat jaring singa, dia menoleh lalu kembali bertanya terdengar meremehkan "Kenapa? Apa kau takut Luhan membencimu. Lupakan-…Luhan memang harus membenci dan menyingkirkan pembunuh sepertimu dari hidupnya!"

Sehun melangkah pergi lagi, semakin menjauh, hal itu cukup memicu kemarahan Doojoon yang kini berlari secepat kilat lalu mencengkram tangan Sehun, memojokkan Sehun ke tiang yang berada di markasnya lalu mendesis sangat murka "brengsek! AKU BILANG JANGAN BERITAHU LUHAN!"

Alih-alih merasa takut, Sehun justru tersenyum dan membiarkan ketakutan Doojoon semakin terlihat di wajahnya, dia juga terus bertanya "Kenapa?" seraya menantang "Aku akan tetap memberitahu Luhan." sampai Doojoon mengatakan "Jika kau mengatakannya, jika kau memberitahu Luhan, jika kau terlalu banyak membuat Luhan terlibat, akan semakin mudah untuk Donghoon menghabisinya."

Kini wajah Sehun berbalik cemas, dia menghempas tangan Doojoon lalu bertanya sandiwara apalagi yang coba dia bicarakan "Omong kosong! Kau hanya mempertahankan dirimu walau pada akhirnya kau akan tetap membunuh Luhan dan-….."

"AKU MENCINTAI LUHAN-…."

Keadaan tegang, Sehun tersulut amarah sementara Doojoon terlihat sangat putus asa untuk meyakinkan Sehun "Sama sepertimu. Aku juga mencintai Luhan. Aku sangat-…."

"DIAAAAAAAMMMM….!"

Sehun memukul Doojoon lagi diwajahnya, kali ini pukulannya lebih banyak, lebih kuat, tapi Doojoon hanya membiarkannya hingga Sehun lelah dan wajah Doojoon nyaris tak berbentuk dipenuhi darah "JANGAN PERNAH MENGATAKAN CINTA PADA LUHAN!"

"Tapi aku memang mencintainya."

"YOON DOOJOON!"

Sehun mengepal tinjunya lagi, nyaris memukul wajah Doojoon sampai dia menahan diri lalu berusaha menahan emosi yang begitu meluap tak mau mereda "Kau tidak berhak mencintainya, kau benar-benar mengerikan Yoon Doojoon."

Doojoon tersenyum pilu lalu tersenyum dipenudi darah di seluruh di wajahnya "Kau benar, tapi aku berhak melindunginya."

"Kau bahkan tidak lebih dari seorang pembunuh yang terobsesi memiliki Luhan!"

"Benar lagi, aku terobsesi pada Luhan, jauh sebelum kau mengenalnya aku sudah lebih dulu mencintainya."

"Diam!"

"Tapi aku sadar dia hanya melihatmu, menginginkanmu, mencintaimu."

Rasanya membuang waktu berbicara dengan Doojoon dan omong kosongnya, Sehun bahkan tidak berniat terjebak dan hanya pergi meninggalkan tempat yang membuatnya sesak tak bisa bernafas "Simpan saja semua sandiwaramu, aku tidak berminat untuk mendengarkan lebih banyak." Katanya menghempas tubuh Doojoon sampai lagi-lagi suara beratnya membuat Sehun ragu dan cemas.

"Aku serius, jangan beritahu Luhan kebenarannya, ini bukan waktu yang tepat. Kau masih membutuhkan aku."

"Omong kosong apalagi yang kau ucapkan?" katanya menggeram marah, Doojoon hanya bisa tertawa pilu lalu berjalan gontai dan berdiri tepat di depan Sehun "Jika bukan karena diriku, Luhan sudah lama mati di tangan Donghoon."

"Kau-….."

"Dan tanpaku, kau akan kesulitan membuat tua bangka itu mati."

"Apa maksudmu?"

"Jika Luhan tahu siapa diriku dia akan mencari tahu lebih banyak, mengetahui lebih banyak dan terlibat lebih jauh. Aku tidak sedang membela diri, tapi malam itu jika bukan aku yang membunuh Dokter Xi, maka Luhan adalah target dari semua kesalahan dan dosa yang ayahmu lakukan padanya."

"Ayahku?"

Doojoon tertawa keji, semampunya dia mencengkram kemeja Sehun lalu mendesis, menyerang mental Sehun tanpa belas kasih "Pikirmu kau pantas mencintai Luhan? Bersama Luhan setelah apa yang dilakukan ayahmu padanya? PIKIRMU KAU BERHAK MENCINTAI LUHAN TANPA RASA BERSALAH!?"

"apa-….Apa yang kau bicarakan?"

"DUA PULUH TAHUN LALU HARUSNYA KAU YANG BERADA BERSAMAKU DI GUDANG MENGERIKAN SAAT DONGHOON MENCULIK KAMI! HARUSNYA KAU DAN BUKAN LUHAN!"

"Aku?"

"YA! KAU! Tapi kau tahu kenapa Luhan yang menggantikan posisimu? KAU TAHU HAL KEJI APA YANG DILAKUKAN AYAHMU UNTUK MELINDUNGI PUTRANYA YANG BERHARGA?"

Nafas Sehun tercekat, dia kesulitan lagi membuka mulut hanya karena omong kosong Doojoon tentang ayahnya. Bisa saja dia hanya menutup telinga dan melangkah pergi, tapi ucapan Luhan beberapa waktu lalu tentang ayahnya seolah sedang dibenarkan Doojoon yang terus mengatakan hal mengejutkan yang tak pernah diketahui Sehun sebelumnya.

"Apa yang dilakukan ayahku?" lirihnya lalu Doojoon menghempas kasar tubuhnya, sepertinya Doojoon tidak berniat memberitahu lebih jauh dan hanya pergi meninggalkan Sehun yang dipenuhi rasa takut dan ingin tahu "bajingan! KATAKAN PADAKU APA YANG DILAKUKAN AYAHKU? APA YANG TERJADI?"

BUGH!

Dua lelaki yang mencintai Luhan itu saling memukul, tak ada yang mau mengalah, dan sama seperti yang mengalami memar dan lebam di seluruh tubuh, maka keadaan Sehun tak jauh berbeda bahkan terlihat lebih mengenaskan karena Doojoon baru saja membuka kartunya yang lain.

Keduanya tersungkur, mencari udara sebanyak mungkin dengan nafas terengah, Sehun yang lebih dulu pulih, berniat memukuli lagi wajah dan tubuh Doojoon sampai bajingan di depannya berkata "Hari itu, dua puluh tahun lalu Jaksa Oh memperkenalkan Luhan sebagai putranya pada Donghoon, bukan kau."

Kepalan di tangan Sehun sedikit mengendur, dahinya berkerut lalu mencoba mengulang ucapan Doojoon "Tapi mengapa? Kenapa ayahku melakukannya?"

"Karena yang menangani kasus Donghoon dua puluh tahun lalu adalah ayahmu, kemudian Donghoon berhasil melarikan diri dan bersumpah akan membalas Jaksa Oh bagaimanapun caranya. Sampai akhirnya mereka semua termasuk kau dan Luhan berkumpul di Beijing, tapi kau tahu apa yang mengenaskan?"

"…"

"Jaksa Oh menggunakan Luhan untuk menarik perhatian Donghoon, dia seolah mengenalkan pada musuhnya bahwa Luhan adalah putranya, bukan Kau, Oh Sehun."

"tidak mungkin…."

"Dan terimakasih padamu karena tepat setelah Jaksa Oh secara tidak langsung mengenalkan Luhan pada Donghoon, dia harus menanggung semua penderitaan yang ditujukan untukmu, Luhan kecil menanggung semua dosa yang dilakukan ayahmu! Luhan kehilangan hidupnya, orang tuanya, Luhan-…..LUHAN YANG MENANGGUNG SEMUA PENDERITAAN DAN BUKAN KAU OH SEHUN!"

Sehun lemas, dia tidak bisa bertanya lagi, hanya diam dan disakiti hatinya lebih dalam oleh Doojoon. Rasa hormatnya pada sang ayah menguap entah kemana, rasa bangganya sebagai seorang putra dari Jaksa yang menerima banyak penghargaan dibuat hilang entah kemana.

Sehun mati rasa….

Terlebih saat teriakan Doojoon mengingatkan bahwa semua penderitaan dan kehilangan yang dirasakan Luhan harusnya menjadi miliknya, bukan milik pria mungilnya.

Rasa bersalahnya kini menggerogoti hingga ke tulang rusuk, Sehun kesulitan bernafas, terlalu sulit sampai satu pertanyaan terakhir lolos dari bibirnya diiringi air mata yang mewakili seluruh penyesalan dan rasa bersalahnya "Apa Luhan tahu?"

"…."

"Siapa ayahku? Dan dimana harusnya posisiku berada? Apa Luhan mengetahuinya?"

Doojoon dan segala kekejian yang dia miliki hanya tersenyum menyeringai lalu mengatakan "Ya, Luhan mengetahuinya."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Luhan mengetahui apa yang dilakukan ayahmu, segalanya, kebohongan ayahmu, keterlibatan yang dilakukan ayahmu hingga Donghoon mengincar ayahnya, merusak hidupnya, dia tahun dan dia terluka.

"rrhhh~"

Tapi dia memutuskan diam hanya karena dia mencintaimu

"Luhan…."

Luhan bahkan rela melupakan semuanya hanya untuk bisa menatapmu, mencintaimu.

"LuhanLuhan…."

Tapi sampai kapanpun dia tidak akan bisa bertatap wajah dengan ayahmu, lukanya terlalu dalam untuk memaafkan ayahmu, tapi dia mengalah lagi hanya karena ingin bersamamu, dan kau bahkan tidak bisa memilih dirinya.

"LUHAN!"

TAP!

Saat ini waktu menunjukkan pukul sebelas malam, itu artinya satu jam menuju malam natal yang akan dilewatinya seorang diri, setidaknya itu yang ada di pikiran Luhan, beruntung Sehun tidak membawa Vivi hingga Luhan bisa merayakan bersama si putih menggemaskan milik Sehun.

Dia juga sudah membeli beberapa snack dan hadiah untuk dirinya dan Vivi sampai langkahnya terhenti mendengar suara teriakan dari pria yang sosoknya sangat dirindukan Luhan saat ini.

"Sehun?"

Dan kita berdua tidak pantas untuk memiliki Luhan. Kita berdua adalah alasan Luhan menderita dan terluka, BUKAN HANYA AKU TAPI KAU TIDAK PANTAS MEMILIKI LUHAN, OH SEHUN!

"ARRHHH~"

"SEHUN!"

Sehun berteriak, hatinya sesak tak kuat menanggung rasa bersalahnya pada Luhan, dia bahkan terjatuh hanya karena terlalu takut menatap wajah Luhan, tapi saat kekasihnya, pria yang begitu dipujanya datang menghampiri, Sehun bisa bernafas lega.

"Apa yang terjadi padamu?"

Wajah cemas Luhan selalu menjadi favoritnya, suaranya yang selalu ingin menangis namun dia tahan sekuat tenaga selalu berkesan untuk Sehun. Kemudian Luhan memeluknya karena terlalu takut, dia juga terlihat bingung tak mengerti apa yang sedang terjadi.

"Sehun apa yang terjadi? Kenapa wajahmu memar? siapa yang—hks.. Siapa yang menyakitimu sayang?"

"Sayang…."

Jika salah satu dari kita terluka, Luhan akan berada dalam bahaya. Kau membutuhkan aku untuk menjaga Luhan sama seperti aku membutuhkanmu untuk mengawasi Luhan, Aku tidak percaya mengatakan ini, tapi jika Donghoon kembali mengincar Luhan, maka aku akan mati untuk melindungi Luhan

"Ada apa? Katakan padaku?"

Sehun tersenyum lirih, tangannya sedingin es saat mengusap wajah Luhan, dia juga sengaja mendekat untuk mencium kening Luhan, meminta rasa hangat dari kekasihnya seraya berbisik terdengar begitu lirih "Mianhae."

"Sehun…"

"Maafkan aku…."

Entah apa yang dilakukan Sehun, kekasihnya terus meminta maaf dengan lebam di seluruh wajahnya, dan tepat setelah Sehun menciumnya, kekasihnya kini sedang menyatukan dua tangan seolah meminta pengampunan untuk hal yang tidak Luhan ketahui tujuannya.

Sontak hal itu membuat Luhan sedikit geram, dia kemudian memaksa Sehun untuk berdiri dan tidak bertumpu pada setumpuk salju yang membuat aliran darah mereka berhenti karena terlalu dingin "Kita bicara didalam setelah kepalamu bisa berfikir jernih."

Dengan susah payah Luhan menopang tubuh kekasihnya, memastikan Sehun tetap membuka mata walau seluruh memarnya nyaris membuat Luhan mati karena cemas.

Guk…Guk…

"Vivi kembali ke tempatmu."

Si anjing kecil itu menjadi target kemarahan Luhan, Vivi mengonggong pasrah lalu berlari kekandangnya. Meninggalkan Luhan yang kini sedang membuka syal dan mantel tebalnya untuk beralih pada Sehun yang sengaja dia bawa duduk di sofa terdekat.

"Sehun apa yang terjadi padamu?"

Sehun tetap tidak menjawab, entahlah, Luhan melihat mata kekasihnya sangat kosong dan itu membuatnya sangat marah. Dia kemudian melepas syal dan mantel tebal yang dikenakan Sehun lalu mulai menggosokan dua tangan kekasihnya didalam tangannya.

"Apa kau sangat menderita karena pilihan yang aku ajukan? Apa perlu kau berjalan seperti mayat hidup ke arahku? Apa ini bentuk penolakan yang kau berikan?"

Luhan meniup seluruh tangan Sehun, sialnya, itu justru membuat tubuh kekasihnya semakin dingin. Rasanya dia ingin menangis karena terlalu kesal, lalu saat menyadari tubuh Sehun dipenuhi memar, barulah Luhan berani bertaruh jika dinginnya tubuh Sehun dikarenakan luka yang mulai berwarna biru di wajah dan tubuh kekasihnya.

"Dengan siapa kau berkelahi." Dia menggerutu, tapi tangannya bergetar terlalu cemas, dan sialnya lagi, ini rumah Sehun sehingga dia tidak tahu dimana letak kotak first aid diletakkan "DIMANA KALIAN MENYIMPAN KOTAK FIRST AID?"

"…"

"SEHUN JEBAL! KATAKAN SESUATU!"

"….."

BLAM!

Luhan membanting kasar pintu lemari persediaan obat, mengingat bahwa Baekhyun memiliki satu kotak obat di kamarnya membuat Luhan berlari terburu menuju kamar Baekhyun lalu beralih berjongkok di depan Sehun.

"Demi Tuhan aku ingin membunuhmu Oh Sehun, aku—APA YANG TERJADI? KAU MEMBUATKU TAKUT!"

Sehun tidak berkedip, matanya terus mengunci Luhan namun tidak merespon. Dia ingin merespon, tapi rasanya keberanian yang dia miliki selalu digantikan rasa bersalah yang tak bisa dia ungkapkan bagaimana menyiksanya.

"Oh Sehun aku benar-benar marah."

Dengan cekatan Luhan membersihkan daerah memar di wajah Sehun, dia bahkan sengaja menekannya namun berakhir menangis saat Sehun tak kunjung merespon.

"AARGGH AKU KESAL OH SEHUN!"

Jadilah dia membanting kotak obat, terlalu putus asa dia berniat pergi meninggalkan seorang diri walau berakhir tak sampai hati meninggalkan Sehun dan berlari ke arahnya. Kali ini Luhan tidak marah, dia berusaha tenang dan memeluk tubuh Sehun yang terus gemetar entah karena apa.

"Sayang….Ada apa denganmu?"

"Luhanakumencintaimu, hks…."

Sekalinya bersuara dia menangis, bagaimana hati Luhan tidak teriris mendengarnya, Sehun selalu bisa membuatnya mati cemas dan kehabisan nafas, tapi kali ini berbeda, kekasihnya benar-benar menderita dan Luhan bisa merasakannya dari cara Sehun menciumi tengkuk serta mencengkram kuat punggungnya.

"AkumencintaimuLUHAAAN…."

"Ssstt…Sehun aku tahu, aku juga mencintaimu sayang. Ada apa denganmu huh?"

Luhan ikut menangis, baiklah, dia mengakui sudah keterlaluan memberi pilihan pada Sehun, dia juga berniat mengatakan pada Sehun bahwa dia tidak perlu memilih, ya, dia akan mengatakannya nanti, sekarang hatinya belum cukup kuat jika diminta berdamai dengan keluarga kekasihnya.

Keduanya terisak dengan cara masing-masing. Sehun terdengar sangat ketakutan sementara Luhan putus asa, lalu keduanya saling menenangkan dengan saling memeluk sampai akhirnya Sehun menjadi lebih tenang dan memanggil nama kekasihnya "Luhan."

"hmmh? Kau sudah lebih tenang?"

"Aku mencintaimu."

"Aku tahu Sehun, aku sudah bilang aku mengetahuinya, aku bahkan tahu kau sangat memujaku."

"Lalu apa jawabanmu?"

Setidaknya kesabaran Luhan benar-benar diuji saat ini, dia dipaksa untuk terus mengalah sampai akhirnya merendahkan suaranya sampai terdengar sangat lembut "Baiklah, jawaban apa yang ingin kau dengar?"

Sehun masih menangis, tangannya gemetar mengusap wajah Luhan sampai suara seraknya terdengar "Kau mencintaiku, aku ingin mendengarnya."

"Aku mencintaimu Sehun, sama besar dan sama banyaknya dengan cintamu padaku."

Sehun tersenyum getir lalu bergumam "Kenapa kau baik sekali padaku?"

"Bukankah sudah jelas? Aku mencintaimu?"

"Katakan lagi Luhan."

"Baiklah, setelah kukatakan lagi apa yang ingin kau dengar?"

"Katakan lebih dulu."

Luhan mengalah lagi, dia mengambil dua tangan Sehun, mengecupinya sayang, beralih ke bibir Sehun dia mengecupnya lembut, kedua mata mereka bertemu lagi dan Luhan tanpa ragu dan dengan ketulusan hatinya mengatakan "Aku sangat mencintaimu sayang."

"gomawo."

Sehun tertunduk, terisak lebih banyak sampai tangan Luhan kembali menangkupnya, memaksa Sehun menatapnya lagi dan Luhan mencium bibirnya lagi "Setelah itu apa? Setelah aku katakan aku mencintaimu, apalagi yang kau inginkan sayang?"

Sehun menatap dalam ke mata Luhan, mencari luka yang disembunyikan kekasihnya jauh didalam tatapan matanya, dia menemukan kenyataan bahwa Luhan terlihat sangat lelah, tapi yang membuatnya semakin mencintai Luhan adalah karena besar cinta Luhan untuknya, pengorbanan yang Luhan lakukan bahkan disaat usia mereka masih begitu kecil dan Sehun tak berdaya melindungi kekasihnya dari cengkraman ayah kandungnya.

"Luhan…"

"hmmh?"

"Kau tanya apa yang aku inginkan setelah ini?"

"Ya apa lagi yang kau inginkan?"

Sehun mengambil dua tangan Luhan, gilirannya menggenggam tangan mungil yang selalu digenggamnya sejak kecil untuk mengatakan "Menikahimu jika kau izinkan." Harapnya dibalas tatapan terkejut dari Luhan "Sehun apa yang kau katakan?"

Buru-buru Sehun merogoh saku celananya, mencari benda kecil yang dibelinya dalam perjalanan kerumah untuk menunjukannya pada Luhan "Aku membelinya di toko yang aku lewati, tidak mewah, tapi aku janji akan membelikan yang lebih mewah untukmu, aku hanya mencari sesuatu yang bisa mengikatmu seumur hidup denganku, kumohon, menikahlah denganku Luhan."

"Sehun…"

Refleks, Luhan membekap mulutnya, dia terisak begitu banyak mengingat ini kedua kalinya Sehun melamar dirinya, pertama disaat kematian kedua orang tuanya, kedua malam ini disaat Luhan mengira hubungan mereka akan berakhir karena pilihan yang dia ajukan untuk Sehun.

"tidak mungkin."

"Luhan, sayangku. Aku sudah membuat pilihan dari pertanyaan yang kau ajukan."

"huh?"

Kali ini Sehun membawa Luhan bertukar posisi dengannya, Luhan duduk di sofa sementara dirinya berjongkok di depan Luhan, memakaikan cincin yang sedang dia gunakan untuk mengikat Luhan lalu tanpa keraguan dia memberikan jawaban "Aku memilihmu sayang, aku akan meninggalkan keluargaku."

Entah mengapa bukan bahagia yang dirasakan Luhan saat Sehun mengatakan memilihnya, dia merasa begitu jahat menghancurkan hati prianya, lalu disaat bersamaan Sehun melamarnya lagi setelah dua tahun lalu pernikahan mereka batal karena keegosian dirinya.

"Sehun kau tidak perlu terburu-buru, sungguh."

"Tidak sayang, seharusnya aku mengulang lamaranku tahun lalu, harusnya aku melakukannya lebih cepat, maaf membuatmu menunggu."

"Bagaimana jika aku melarikan diri lagi?"

"Aku akan terus mengulang lamaranku hingga kau benar-benar berdiri menemaniku di depan altar, mengikat janji bahwa kau akan menjadi milikku dan aku milikmu."

"Tapi keluargamu?"

Sehun menghapus air matanya, menghapus air mata Luhan juga, dia tersenyum kecil lalu mengulang pernyataannya "Sudah kubilang aku memilihmu, aku akan meninggalkan keluargaku. Jadi menikahlah denganku sayang, kumohon katakan Ya."

"Sehun…"

"Kumohon sayang, jangan lari lagi dari hidupku. Luhan, berikan jawabanmu."

Air mata Luhan tidak berhenti menetes, dia tidak bisa menahan rasa bahagianya yang entah mengapa terasa sesak, dia juga tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakan Ya, hingga berakhir melompat dan memeluk Sehun begitu erat "ya-…YA AKU AKAN MENIKAH DENGANMU! AKU AKAN MENJADI MILIKMU OH SEHUN. AKU—hkss…AKU MAU MENIKAH DENGANMU!"

Sehun tersenyum haru, berbagi isakan yang sama dengan Luhan untuk menciumi seluruh wajah kekasihnya seraya mengatakan "terimakasih Luhan, untuk segalanya, untuk cintamu, untuk semua kehilanganmu dan untuk semua pengorbananmu, terimakasih sayang. Biar aku menggantinya dengan hidupku kali ini, bahagialah sayang, selamanya."

Terlepas dari ucapan Sehun yang tersirat banyak pesan, Luhan hanya bisa menangis begitu keras, tangisannya bahkan membuat Vivi tidak bisa tidur dan bergabung dengan dua majikannya.

Semua rasa sesak mereka dibagi dengan cara yang cukup adil, Luhan sudah mendapatkan Sehun sepenuhnya sementara Sehun berniat menanggung seluruh kehilangan dan rasa sakit Luhan dengan pernikahan.

Jadilah keduanya terlihat lebih baik, saling melumat lembut sampai Vivi ingin keberadaannya diakui.

Guk…guk…

Awalnya dia diabaikan, tahap berciuman dua majikannya sudah beranjak menjadi saling melucuti pakaian, mungkin jika tidak ada Vivi percintaan mereka berlanjut sampai akhirnya Luhan tertawa dan melepas pelukan Sehun darinya.

"Kau dengar? Ayahmu melamarku lagi."

Guk….Guk

Vivi terdengar bersemangat sampai Luhan mematahkan semangatnya dengan ucapan mengerikan "Kau akan menderita memiliki ibu tiri sepertiku."

Guuuk…

Dia menggonggong pasrah sampai Luhan tertawa lagi dan memeluk si putih dengan gemas "Kau takut?" katanya menggoda dibalas jilatan tanpa ampun dari Vivi "Sayang..."

"hmh?"

"Aku tidak ingin membuatmu terkejut tapi minggu depan adalah pernikahan kita."

"MWO?"

Vivi nyaris terjatuh karena Luhan begitu terkejut, jadilah dia menggonggong marah dan berlari pada Sehun, kedua majikannya kini terlihat menatap tak percaya satu sama lain sampai Luhan lebih dulu mengatakan "Kau pasti bercanda."

Sehun menghela dalam nafasnya, membawa Vivi menuju kandangnya untuk mengatakan "Maaf, tapi aku tidak akan menundanya lebih lama."

"Sayang ada apa denganmu? Kau terkesan sangat terburu-buru?"

Selesai meletakkan Vivi, Sehun mendekati Luhan, menggendongnya koala serta mengigit kecil bibir kekasihnya "Sebenarnya aku sudah sangat menahan diri. Jadi aku tidak akan menahan diri lebih lama." Katanya mengecupi leher Luhan dibalas dua kaki Luhan yang melingkar sempurna di pinggang Sehun "Tapi Chanyeol-Baekhyun, Kai dan Kyungsoo masih berada di luar kota."

Sehun membaringkan kekasihnya, mengecup sayang kening Luhan lalu bersikeras mengatakan "Dengan atau tanpa kehadiran mereka, kita akan tetap menikah. Sekarang tidurlah, besok hari natal dan aku tidak ingin kau kelelahan karena malam sudah sangat larut."

Tak menolak lagi, Luhan hanya mengangguk lalu meminta "twinkle star" sebagai lullaby yang selalu dinyanyikan Sehun untuknya.

Dan seperti biasa, tidak membutuhkan waktu lama suara berat Sehun saat menyanyikan lagu tidur untuknya selalu berhasil membuat Luhan merasa tenang, dia juga dengan mudah mengatur nafasnya dan berakhir memejamkan mata dengan raut bahagia yang tak pernah lagi terlihat hampir dua tahun lamanya.

"Selamat malam Sehunna," racaunya sebelum benar-benar tertidur dibalas Sehun yang membalas dengan ciuman lembut di kening kekasihnya "Mimpi indah sayang." katanya terus bernyanyi sampai suara dengkuran Luhan terdengar beraturan sementara suara berat Sehun terus bernyanyi hingga akhirnya dia berhenti pada lyric

How I wonder what you are….

Terdengar stabil, lama kelamaan suara Sehun berubah menjadi serak, selebihnya nafasnya tercekat lagi untuk mengagumi Luhan dengan rasa bersalah yang kini mencekiknya, dia menangis dalam diam, menyesali semua hal buruk yang telah dilalui Luhan untuk mengatakan

"Mulai malam ini aku melepas hidupku hanya untukmu, jadi satu hal yang perlu kau lakukan hanya bahagia sebanyak mungkin dan buat aku menderita sebanyak kau merasakannya. Aku-….aku sangat mencintaimu sayang, maafkan aku."

Sehun mengecup lagi kening Luhan, menatapnya cukup lama sampai akhirnya beranjak keluar dari kamar untuk menghubungi Yunho, kakaknya, seseorang yang akan selalu memiliki jalan keluar untuknya disaat tersulit

"Sehun?"

Sehun memejamkan erat matanya, terlihat sangat kelelahan namun tetap pada tujuannya untuk bicara pada Yunho sebagai perwakilan dari keluarganya "Hyung, kita harus bicara."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Apa maksudmu kau akan menikahi Luhan tanpa kehadiran Mama dan Papa? Pikirmu bagaimana perasaan papa mama? Kau anak yang begitu dibanggakan kedua orang tua kita Sehunna! Berfikirlah memakai perasaan!"

Sekiranya sudah dua puluh menit berlalu sejak Yunho memintanya untuk berfikir memakai perasaan. Setidaknya pula sudah dua puluh menit Sehun hanya mendengarkan rasa kecewa yang diungkapkan saudara tertuanya di dalam keluarga.

Semua yang dikatakan Yunho benar, bagaimana perasaan kedua orang tuanya? Bagaimana dia mengambil keputusan tanpa perasaan, tapi kemudian apa yang dilakukan ayahnya di masa lalu sungguh membekas di hatinya, terlebih hal itu tidak serta merta berhenti menghantui Luhan, karena sebaliknya, semua hal yang dilakukan ayahnya di masa lalu memberikan dampak terlalu buruk untuk hidup Luhan hingga saat ini.

"Sudahlah Sehun, pembicaraan kita selesai sampai disini, sebaiknya kau beristirahat dan temui aku lagi saat pikiranmu sudah lebih tenang dan tidak terburu-buru." Sergahnya menahan emosi, segera mendorong kursi di kafe sekitar rumah Sehun sampai lagi-lagi suara berat adiknya terdengar serak dan putus asa.

"Omong-omong hyung, apa kau tahu kejadian dua puluh tahun lalu?"

"Kejadian apa yang kau tanyakan?"

Sehun masih menautkan cemas kedua jarinya, menimbang apakah dia harus mencari tahu lebih jauh atau hanya memakan ucapan Doojoon mentah-mentah tanpa mencari tahu. Harusnya dia bertanya langsung pada sang ayah, tapi Sehun belum menyiapkan hati yang cukup untuk mengetahui langsung dari ayahnya.

Jadilah dia bermain game dengan bertanya pada Yunho, berharap Yunho mengetahui sesuatu walau jauh dilubuk hatinya, Sehun berharap kakaknya tidak mengetahui apapun.

"Sehun?" sang kakak kembali menarik kursi, melihat wajah cemas adiknya lalu memaksa Sehun menatapnya "Ada apa?"

"Kau tahu kasus penculikan yang dilakukan pria bernama Ko Donghoon pada Luhan?"

"Ya, aku tahu."

"Lalu apa benar harusnya mereka menculikku, menyakiti aku, bukan Luhan? Harusnya aku yang berada di posisi Luhan saat itu? Apa benar?"

"Sehun…."

Dan lihatlah wajah Yunho saat ini, terlihat dia begitu tegang karena pertanyaan Sehun, dia juga cenderung melakukan gerakan seperti mencengkram kuat jemarinya atau menolak bertatapan yang Sehun ketahui adalah kebiasaan dari sang kakak jika sedang menyembunyikan sesuatu.

Sehun enggan menyimpulkan lebih awal, yang dia lakukan hanya terus memancing Yunho berharap sesuatu dijelaskan langsung oleh kakaknya "Jadi benar? Alasannya adalah karena Papa membawa Luhan bersamanya saat Donghoon mengikutinya? Mengenalkan pada bajingan itu bahwa Luhan adalah putranya, bukan aku?"

"Sehun, sebaiknya kau-….."

"KATAKAN PADAKU! AKU BUTUH TAHU KEBENARANNYA HYUNG!"

Dan untuk Sehun, ini adalah kali pertama dia melihat Yunho tak berkutik, kehilangan ucapan yang biasa selalu digunakannya untuk menenangkan seseorang atau menyelamatkan seseorang dari keadaan terdesak.

Sehun yakin sesuatu benar terjadi, lihatlah wajah kakaknya tiba-tiba begitu pucat kontras dengan warna kulitnya, tangannya terus mengepal sesekali membuka, lalu sepertinya tatapannya dipenuhi rasa cemas sama dengan yang Sehun rasakan.

"hyung…."

"Harusnya itu aku."

"huh?"

Yunho terlihat sangat panik, dia tidak berani menatap Sehun, nafasnya pendek, sampai akhirnya giliran Sehun yang menggenggam jemarinya untuk menenangkan sang kakak "Hyung, tenanglah. Ini bukan seperti Yunho, ada apa?"

"Harusnya aku Sehunna."

"Apa?"

"Bukan kau atau bukan Luhan, harusnya aku!"

"Hyung…."

"Bajingan itu harusnya menculikku, membunuhku, bukan kau atau bukan Luhan!"

Satu lagi kenyataan baru yang sukses membuat Sehun seperti terjun bebas dari tebing yang begitu tinggi dan dalam, kenyataan dimana sang kakak mengungkapkan kebenaran yang lain namun tetap membenarkan bahwa alasan Luhan bernafas, alasan Luhan hidup adalah untuk menyelamatkan dia dan juga Yunho.

Sebenarnya Sehun tidak cukup kuat mendengarkan lebih banyak, tapi sepertinya dia juga sedang membuka luka lama sang kakak hingga tanpa sadar tak hanya dirinya yang merasa sakit, tapi juga Yunho.

"Pria bernama Ko Donghoon itu sudah mengikutiku saat usiaku delapan tahun, kasus yang papa tangani yang membuatnya mengincar salah satu keluarga kita, aku orangnya, tapi kemudian papa mengecohnya, papa sengaja membawaku ke publik dan mengenalkan diriku sebagai Jung Yunho, bukan Oh Yunho." Katanya cemas dengan dua tangan terkepal untuk kembali bersuara "Dan tak berhenti sampai disitu, Mama pulang membawa dirimu dari liburan di Beijing, dan Donghoon, dia begitu bersemangat mengincar Putra Jaksa Oh yang lain, Kau. Lalu Mama memohon pada Papa agar membawamu pergi kemanapun, melakukan segala cara agar kau tidak pernah berhadapan dengan Donghoon."

"Mama?"

"Tapi papa dan mama. Lagi-lagi mereka melakukan cara yang salah, mereka berniat melindungi kita berdua dengan segala cara, segala cara termasuk melibatkan putra Detektif Xi dan secara tidak langsung mengenalkan Luhan sebagai putranya bukan kau."

Tes!

Air mata Sehun menetes karena sesak di dadanya tak tertahankan lagi, dia begitu hancur saat semua yang dikatakan Doojoon adalah kebenaran, lalu kemudian Yunho mengatakan kebenaran yang lain yang mengatakan bahwa tak hanya papanya yang terlibat tapi juga wanita yang begitu dicintai di hidupnya mengambil langkah kotor untuk melindunginya,

"Luhan."

Sesaknya semakin mempermainkan hati Sehun, semua cerita Yunho, bagaiaman terlibatnya mama dan papa seolah membenarkan bahwa sedari awal Luhannya akan baik-baik saja jika tidak mengenal keluarga mereka, dirinya.

"Tapi Sehun, semua yang papa dan mama lakukan semata-mata untuk melindungi kita, cobalah mengerti posisi orang tua kita saat itu. Papa tidak memiliki pilihan lain dan terpaksa-…."

"Mengorbankan Luhan? Kekasihku? Bahkan saat itu aku belum mengenal Luhan tapi Luhan sudah melindungiku, ini gila."

"Sehun…."

Sehun terisak pilu, menundukkan kepalanya beberapa saat seraya memukul hatinya kencang dan kasar, dia tidak ingin membayangkan betapa murka Luhan saat mengetahui apa yang dilakukan ayahnya tapi mencoba berdamai karena mencintainya.

Seberapa besar cinta Luhan?

Apa yang dia pikirkan?

Kenapa dia masih bertahan sementara aku adalah seseorang yang harusnya menderita, bukan dia?

Bodoh, Luhanku sangat bodoh karena mencintaiku.

"rrrhhh~bodoh, kau bodoh sayang!"

Pikiran Sehun sepenuhnya tertuju pada Luhan, pada penderitaan kekasihnya. Dia bahkan sempat berfikir bahwa pertemuannya dengan Luhan adalah sebuah kesalahan dan akan memilih keluarganya, tapi lihatlah kini, semua penderitaan Luhan berasal dari keluarganya yang maha sempurna, membuat Sehun begitu muak sampai-sampai dia ingin mencekik ayahnya sendiri.

"Sehun, kau tidak bisa membenci ayah, dia tetap ayahmu, mencintaimu, kau tidak bisa-….."

"RASAKAN JADI AKU SEBENTAR SAJA HYUNG! RASAKAN BAGAIMANA SAAT KAU TAHU JAEJOONG HYUNG HARUS MENDERITA KARENA DIRIMU! BAGAIMANA DIA-…..sudahlah."

Sehun menghapus air matanya, menatap Yunho dipenuhi rasa benci untuk mengatakan "Mulai hari ini aku bukan anggota keluarga lagi, aku bukan adikmu, aku bukan Oh Sehun yang akan mencintai keluarga licik dimana aku dibesarkan."

"Sehun…."

"Katakan pada papa untuk tidak menunjukkan wajahnya dihadapanku, dan sampaikan pada mama aku tetap mencintainya dan berterimakasih karena Mama melahirkan aku, membesarkan aku, mencintai aku walau dengan cara yang salah."

"Oh Sehun…"

"Dan hyung, jaga dirimu baik-baik, mungkin ini pertemuan terakhir kita sebagai saudara."

Setelahnya Sehun melangkah pergi, langkahnya berat memutus hubungan dengan keluarganya, meninggalkan satu-satunya pria yang selalu menjadi tempatnya berkeluh kesah, tempatnya berlindung dan tempatnya mengadu.

"KEMBALI OH SEHUN!"

"Kembali? Harusnya aku mati saja."

Sehun hancur, seluruh hatinya hancur, tapi bayangan dimana sosok mungil Luhan sedang menunggunya dirumah, membuat dirinya memiliki alasan untuk tetap hidup dan menyerahkan seluruh hidup dan matinya hanya pada Luhan, kekasihnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"haah~"

Entah sudah kali berapa Sehun menghela nafasnya, mencoba untuk berhenti terlihat lemah dan hanya menjadi Sehun yang bisa diandalkan dan dijadikan tempat bergantung kekasihnya, tidak, calon istrinya.

Entah sudah berapa lama pula dia sengaja berjalan begitu lambat, menikmati salju yang semakin deras menutupi tanah dan pepohonan hingga dia bisa melihat jejak kaki yang dia setiap melangkah.

"Bagaimana aku melihat wajahmu setelah ini?"

Dia terus bertanya-tanya, melirik arloji untuk menemukan waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Itu artinya hanya tiga jam tersisa sampai Luhan membuka mata atau kurang dari seratus meter lagi langkah kakinya tiba di tempat tujuan, di rumahnya.

Setidaknya hanya tinggal sepuluh langkah untuknya tiba dirumah, tapi kemudian langkahnya terhenti saat melihat sosok paling berharga di hidupnya tengah berjongkok di depan pagar rumah ditemani si anjing kecil yang sepertinya kesal dibangunkan saat waktu masih menunjukkan pukul tiga pagi.

Guk…guk…

"Aku setuju, diluar sangat dingin! Lalu kemana ayahmu pergi?"

Guk….guk!

"eyy…. Kau harus setia kawan Vivi-ya, kau tega membiarkan ibumu yang cantik kedinginan di luar seperti ini? Aku juga mengantuk asal kau tahu."

Guk…!

"Baiklah aku memang ibu tiri, puas?"

"Luhan."

Memanggil nama kekasihnya saja sudah membuat hati Sehun seribu kali menjadi lebih baik, lalu kemudian si cantik menoleh, membuat dua mata mereka terkunci hingga rasa hangat yang kini dirasakan Sehun.

"Kau darimana saja?" yang berparas cantik bertanya, tatapannya menunjukkan dia begitu lega karena Sehun pulang kerumah, kemudian Sehun merasa bersalah lagi karena membuat Luhan berfikir dia meninggalkannya dan tidak akan menemaninya di hari natal.

Jadilah langkah kakinya cepat menghampiri calon istrinya, Sehun bahkan segera berjongkok seraya memakaikan syalnya pada Luhan dan bertanya "Apa yang kau lakukan diluar? Disini sangat dingin sayang." katanya menyatukan dua tangan Luhan, meniupnya bergantian dibalas pertanyaan kesal dari Luhan "Kau tidak berniat meninggalkan aku sendiri kan?"

Kalau saja Luhan tidak memasang wajah menggemaskannya mungkin Sehun akan menangis lagi, berteriak dan memberitahu Luhan bahwa harusnya dia yang memohon agar tidak ditinggalkan, bukan sebaliknya.

"Aku yang harusnya mengatakan itu."

"Wae?"

Sehun menarik gemas hidung Luhan lalu mengingatkan kekasihnya "Kau yang pernah meninggalkan aku, Ingat?"

"eyy….Jangan mengungkitnya lagi."

"Setuju! Kalau begitu koala atau piggy back?"

"Apa?"

"Kesayanganku sudah kedinginan di luar sini, jadi aku akan menggendongnya, bagaimana?"

Guk…guk…

Vivi terdengar protes lalu buru-buru Luhan berteriak "PIGGY BACK!" jadilah Sehun memutar tubuhnya dan menawarkan punggung sementara Vivi dan Luhan sedang bersaing akan dirinya "Aku menang anak nakal, bweek!" Luhan menjulurkan lidahnya pada Vivi, dibalas gonggongan keras namun diabaikan Sehun yang kini membuka pagar rumah dan mulai berjalan membawa Luhan masuk ke dalam rumah.

"Hey Lu."

"mmmh?"

"Kau tidak akan menyesal kan?"

"Apa?"

Sehun menoleh ke belakang, mencium gemas bibir kekasihnya yang berwarna merah lalu bertanya sangat lirih "Menikah denganku, kau tidak akan menyesalinya kan?"

Buru-buru Luhan mengeratkan pelukannya di leher Sehun, bersandar disana lalu berbisik sebagai jawaban "Bodoh, cincin ini sudah begitu indah melingkar di jari manisku, kau hanya perlu menggantinya dengan yang lebih mewah dan itu akan sangat sempurna." Katanya memamerkan jari manisnya pada Sehun dibalas suara memperingatkan dari calon suaminya

"Lu…."

"ha ha ha~ araseo…araseo…Sebenarnya aku yang sedikit takut kau akan menyesal menikah denganku." Dia merubah serius nadanya, terlalu serius sampai Sehun bisa merasakan sesuatu yang hangat tengah menetes di tengkuknya "Kau menangis?"

"Jangan menoleh."

"Baiklah, katakan kenapa aku harus menyesal?"

Luhan mengeratkan lagi pelukannya di leher Sehun, terdiam sesaat sampai suara seraknya terdengar "Keluargamu."

Buru-buru Sehun mengecupi dua tangan Luhan lalu bergumam meyakinkan "Sayang, kita sudah membahasnya, selama ada kau di hidupku aku akan baik-baik saja."

"Benarkah?"

"Tentu saja, jadi jangan terlalu banyak berfikir karena mulai malam ini, di hidup kita, di cerita kita, hanya ada kau dan aku, Sehun dan Luhan."

Luhan menghapus air matanya, meminta Sehun untuk menoleh lalu mencium bibir kekasihnya untuk mengatakan "Untuk semua yang kau pertaruhkan, aku mengucapkan terimakasih Sehunna, aku mencintaimu." Katanya berbisik dibalas diam dari Sehun yang jauh di lubuk hatinya sedang menangis dan mengatakan

Dan untuk semua penderitaan yang kau rasakan, aku akan menanggungnya mulai malam ini, maafkan aku Luhan.

.

.

.

.

.

.


tobecontinued

.


.

.

.

.

.

Itungan UP gue masuk tahun depan nih gaes, kkk~

.

Mau cerita sedikit, suka aja gitu kalo baca review JTV terus liat antusias kalian yang menebak nextnya gimana, nextnya gimana, kadang ada yang mendekati bener, kadang ada yang idenya pengen gue pake tapi takut malah ambyar karena buntu, pokonya terimakasih banyak buat semua tebakan-tebakan seruny di JTV, cinta bgt sama kalian juga, kkk~

.

Btw, mau share, kemaren ada yang mengingatkan lagi ke gue soal nama Luhan yang masih gue pakein Xi, katanya ini sudah 2018 jangan menyesatkan,

.

Jadi gaes, nama Luhan itu emang gapake Xi, tapi gue dengan kepentingan cerita gue selalu dan akan masih menggunakan Xi di FF-FF gue, bukan bermaksud membodohi tapi ini juga udah 2018 jadi sama-sama ngertiin aja klo Xi yang gue pake Cuma buat cerita, toh Luhan bakal dinikahin Sehun kalo di FF gue jadi Xi nya bentaran doang, forever Oh Luhan sih ya, kkekek~

.

Jadi biar sama2 tau aja namanya Lu-Han *gapake Xi

makanya gue pakein main cast di atas cerita .

.

Mohon maaf yang ga nyaman dan sebagainya, mudah2an damai menyertai kita, en happy nu year gengs, doanya sama kaya tahun lalu dan lalunya lagi, Hunhan tetep exist di dunia persilatan, di dunia per-memean, dan per-ffan, HHSnya makin akur dan makin cinta damai, dan supaya kita semua, walau nemu OTP lain tetep setia sama one and only OTP tercinta,

.

Our Hun & Han

.

Sekian n C,U :v