Previous

"Untuk semua yang kau pertaruhkan, aku mengucapkan terimakasih Sehunna, aku mencintaimu." Katanya berbisik dibalas diam dari Sehun yang jauh di lubuk hatinya sedang menangis dan mengatakan

Dan untuk semua penderitaan yang kau rasakan, aku akan menanggungnya mulai malam ini, maafkan aku Luhan.

.

.

Je'Te Veux

.

.

.

Main cast : Lu Han as Xi Luhan

Oh Sehun as Oh Sehun

Rate : T-M

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dan hari ini, tepatnya satu minggu setelah pertemuan terakhir Sehun dengan Yunho, dia tetap pada ketetapan dan janjinya untuk menikahi Luhan, menjaga pria yang dicintainya sejak kecil dengan seluruh hidupnya.

Terlepas dari rasa bersalah yang mencekiknya hingga sesak, Sehun hanya tetap berdiri di tempatnya saat ini, sesekali menunggu Luhan dengan cemas di tempatnya, berharap agar kekasihnya tetap pada keputusan untuk menggenggam tangannya dan tak akan pernah melepasnya untuk kedua kali.

"Luhan…"

Lalu tiba-tiba saja Baekhyun dan Kyungsoo mengantar Luhan ke sisinya, ketiga dari mereka terlihat begitu sempurna, Luhan terutama, parasnya, senyumnya yang begitu cantik, semuanya terlihat sempurna hingga membuat Sehun tak berhenti memuja kekasih walau satu kenyataan pahit lagi-lagi menohoknya.

"haaah~"

Sehun menyadari Kebahagiaan mereka tak sempurna tanpa kehadiran keluarga yang mereka cintai. Mungkin bagi Sehun ini sebuah keputusan untuk berjalan keluar dari lingkaran keluarganya sendiri, tapi untuk Luhan, pengantinnya, Ketidakhadiran orang tua kekasihnya di hari bahagia mereka bukan sebuah keinginan melainkan tragedi mengerikan yang melibatkan hampir seluruh anggota keluarganya.

"rrhh~"

Dan setiap kali Sehun diingatkan mengenai siapa keluarganya untuk Luhan, dia selalu menggeram marah, terkadang dia berdoa agar orang tuanya tidak pernah datang mengusik keluarga Luhan meskipun itu artinya, dia dan Luhan tidak akan pernah bertemu satu sama lain.

"Sehun?"

Ini hari bahagianya, hari yang begitu sempurna untuknya memiliki Luhan seutuhnya, harusnya dia bahagia, bukan terlihat menyedihkan, harusnya dia mengangkat wajah ketika menyambut mempelainya, bukan justru tertunduk dan membiarkan Luhan menatapnya cemas.

"Sehunna…."

Barulah ketika Baekhyun menepuk pundaknya, Sehun berusaha tertawa, dia menghapus cepat air mata sialan yang terus mengganggu untuk mengatakan "Aku hanya terlalu gugup, maaf Lu."

Dari sekian banyak waktu yang mereka lalui, adakalanya Luhan merasa Sehun terus membohonginya, entah mengenai perasaan atau hal yang mungkin mengganggunya tapi enggan Sehun bicarakan.

Hal itulah yang membuat Luhan terkadang cemas mengenai Sehun dan seluruh pemikirannya, jadilah dia mencoba mengerti, mendekati calon pasangan sehidup sematinya hanya untuk membalas "Kau lupa? Ini pernikahan kita yang kedua, jadi rasanya kau tidak berhak gugup karena akulah yang sangat gugup." Katanya tertawa kecil seraya melingkarkan tangannya di lengan Sehun, gugup, dan Sehun bisa merasakannya. Dan entah mengapa menyadari Luhan begitu gugup membuatnya semakin berniat untuk menjaga kekasihnya, pujaan hatinya, agar kelak tak ada lagi rasa takut maupun gugup yang dirasakan Luhan saat menjadi istrinya.

"Kau benar sayang, harusnya aku tidak gugup, ah, mungkin aku gugup karena kau terlihat sangat cantik"

"Benarkah?"

"Ya, selalu."

Rona merah seketika terlihat di wajah Luhan, hal itu mewakili semua rasa bahagia yang dirasakan Luhan dan Sehun.

Kenyataannya Sehun mempersiapkan pernikahan mereka hanya dalam waktu singkat, sederhana, tapi terasa begitu sempurna karena keduanya dikelilingi orang-orang terdekat yang benar-benar tulus mencintai mereka, menyayangi setulus hati bukan mendekati karena menginginkan sesuatu.

"Baiklah, kalau begitu apa kau siap?"

Sehun tertawa kecil, mengecup sejenak pengantin prianya lalu menggenggam erat tangan Luhan yang melingkar di lengannya "Itu kalimatku." Katanya mengoreksi dibalas cibiran dari Baekhyun dan Kyungsoo yang mulai jengah mendekati iri melihat bagaimana Sehun akhirnya berani menanggung hidup Luhan sepenuhnya.

"Dengan atau tanpa mereka, kita akan tetap menikah."

Kalimat Sehun tiba-tiba diucapkan ulang oleh dua suara yang tak hentinya terlihat kesal sejak dua hari yang lalu. Ya, bagaimana tidak Kai dan Chanyeol, dua pria pertama Luhan tidak kesal ketika mendengar kabar bahwa kurang dari lima hari Luhan akan dinikahi Sehun.

Sialnya, Sehun menolak tegas saat Kai dan Chanyeol meminta agar jadwalnya diundurkan, dan sebaliknya, daripada menerima usulan agar jadwal mereka di undur, Sehun justru mengatakan "Dengan atau tanpa kalian, kami akan tetap menikah."

Sontak hal itu membuat Kai begitu geram, Chanyeol bahkan sudah memegang sebilah pisau berniat mencabik hati tak berperasaan kekasih sahabatnya hanya untuk mengambil Luhan ke sisi mereka lagi.

Namun apa mau dikata, saat mereka tiba di Seoul, Luhan terlihat sangat bahagia. Niat mereka untuk memukul telak wajah Sehun bahkan diurungkan mengingat lebamnya wajah Sehun akan membuat para tamu bertanya dan Kai maupun Chanyeol tidak sejahat itu untuk merusak kebahagiaan pria cantik mereka.

"Setiap kali mengingat kau akan nekat menikahi Luhan tanpa kami membuatku begitu murka dan panas."

"Panas?"

"YA!"

"Bagaimana bisa kau panas disaat cuaca sedang mencapai minusnya hari ini?"

"pfft…."

Ketiga pria cantik terkikik menahan tawa, berbeda dengan Kai dan Chanyeol yang terlihat sangat bodoh karena ucapan terlalu dingin dari calon suami Luhan. Jadilah, Keduanya mendelik hebat tak lupa mengepalkan tangan untuk memberi peringatan "Kau benar-benar bajingan kecil Oh Se-….aaarh…arrhh sakit."

Baik Baekhyun maupun Kyungsoo, keduanya menarik telinga kekasih masing-masing, mencegah salah satu dari kekasih mereka melakukan hal bodoh atau paling buruknya membuat pernikahan yang begitu indah ini berantakan hanya karena rencana nekat Sehun untuk menikahi Luhan "mereka."

"Sudah cukup, jangan berulah dobby!"

"Kau juga Bear!"

Lalu adegan yang menarik perhatian Sehun beralih kepada Luhan, hal konyol yang dilakukan keempat sahabat mereka selalu berhasil membuatnya tertawa. Sehun terpana lagi, tak berkedip sedikit pun sampai akhirnya suara salah satu teman Luhan, Myungsoo, yang menjadi MC pagi ini terdengar memanggil

Kepada kedua mempelai, silahkan berjalan menuju altar untuk pengikatan janji suci di hadapan Tuhan.

Keenam dari mereka terlihat fokus pada Myungsoo yang sepertinya tak canggung menjadi MC di pernikahan Luhan dan Sehun. Kemudian Kai bertanya-tanya, melipat tangan dada lalu sedikit mendelik pada Sehun "Omong-omong, kenapa kau menjadikan dia bagian inti pernikahan kalian?" sarkasnya dibalas senyum kecil dari Sehun.

"Sebagai permintaan maaf dari kalian."

"Permintaan maaf dari kami? Memangnya apa yang kami lakukan?"

Sehun kembali mengambil tangan Luhan, bersiap berjalan menuju altar sebelum mengerling kedua tangannya "Aku dengar kalian suka memukul Myungsoo saat mengantar Luhan pulang ketika istriku mabuk, benar?"

"y-Ya tentu saja kami melakukannya! Dia orang asing dan Luhan mabuk di club miliknya."

"Aku juga memukul wajahnya malam itu."

"nde?"

"Padahal kita bertiga harusnya berterimakasih karena pria itu memang tulus membantu Luhan, dia juga tidak berniat jahat pada Luhan, ya, katakan ini juga sebagai permintaan maaf dariku, jadi dia yang berdiri disana, memandu seluruh acara pernikahanku dan Luhan, ya sayang?"

Luhan tersenyum kecil, kini rasa gugupnya semakin menjadi, apalagi ketika alunan lagu dari Ed Sheeran mulai terdengar memenuhi halaman belakang rumah mereka, bukan suasana atau keharusan mereka berjalan menuju altar yang membuat Luhan gugup, tapi salah satu lirik yang berbunyi

But we were just kids when we fell in love

Not knowing what it was

I will no give you up this time…

Sederetan lirik itu hanya mengingatkan Luhan bahwa dirinya pernah menyerah pada Sehun, tidak mengerti dan tidak pernah mau mencoba mengerti bahwa sesungguhnya semua yang dirasakan Sehun untuknya adalah ketulusan, cinta yang begitu lembut yang kemudian mampu mengetuk hati gelapnya lagi setelah banyak air mata dan luka yang mereka rasakan.

"Kau siap?"

Luhan menatap Sehun tak berkedip, matanya sendu karena rasa haru ketika melihat lelaki disampingnya akan menjadi satu-satunya pria yang bisa dia sebut sebagai keluarga di hidupnya.

"Luhan?"

Sekali lagi, suara berat Sehun seolah menariknya jauh dari keraguan, jadilah Luhan tersenyum, dia kemudian mengangguk, menggenggam erat tangan Sehun dan mempercayakan hidupnya, bahagianya, hanya pada Sehun, seluruhnya.

"Tentu sayang, aku siap."

Keduanya menatap ke depan, bertanya-tanya apa yang akan terjadi saat mereka sampai di depan pendeta, apa yang akan terjadi setelah mereka mengikat janji, kemudian rasa ingin tahu keduanya yang membuat mereka berani melangkah.

Memutuskan untuk menyusuri berdua jalan menuju tempat yang akan menyematkan janji mereka menjadi abadi, menjadi pasangan yang berbahagia hingga mau memisahkan nanti

"Kau tahu sayang?" Sehun berbisik, berusaha menyingkirkan kegugupan Luhan dengan mengajaknya untuk berbicara "Apa?" balas Luhan menyadari bahwa sebanyak apapun tamu dan kerabat yang menghadiri pernikahannya entah mengapa sesuatu terasa kurang, Luhan belum mengerti apa itu sampai Sehun mengatakan

"Harusnya ayahmu yang berada di tempatku, mengantar pria cantiknya ke sisiku, bukan kita yang berjalan beriringan dan terlihat sangat menyedihkan, aku minta maaf."

Tap!

Luhan berhenti melangkah diikuti Sehun yang sedang menikmati respon dari kalimatnya pada Luhan, keduanya kini bertatapan, Luhan sudah mulai terisak namun dikuatkan Sehun yang terus berbisik "Untuk segalanya, aku meminta maaf padamu sayang."

"Sehun…."

"Biarkan aku menjagamu atas semua dosa dan kesalahan yang aku lakukan, ya?"

"Apa yang kau bicarakan?"

Sehun mencium tangan Luhan, mengerling calon istrinya untuk mengingatkan bahwa kini mereka berada setengah jalan menuju altar dengan beberapa pasang mata menatap dan melihat "Aku akan segera mengatakannya padamu."

"Apa?"

"Tentang apa yang aku katakan padamu, tentang dosa dan rasa bersalahku. Tapi untuk saat ini, izinkan aku meneruskan perjalanan kita menuju altar, aku benar-benar ingin menjagamu dengan hidupku. Bisa?"

"Bukan bisa, tapi kau memang harus menjagaku Sehun, selamanya."

Permintaan Luhan dan kalimat selamanya yang dituntut kekasihnya adalah sebuah kebahagiaan untuk Sehun, kebahagiaan yang mulai hari ini akan menjadi tujuan hidup sampai akhir nafasnya "Baiklah, aku akan melakukan apapun untuk menjagamu."

"Kalau begitu bisa kita lanjutkan? Aku sudah tidak sabar ingin mengikat janji denganmu."

"Dengan senang hati."

Sehun kembali membawa Luhan berjalan mendekati altar, keduanya kini tidak memiliki keraguan di hati mereka, yang ada hanya rasa ingin tahu bagaimana kehidupan rumah tangga mereka setelah janji suci diucapkan. Tantangan apa yang akan menerpa kehidupan rumah tangga mereka seiring kebersamaan Sehun dan Luhan sebagai suami dan istri

Listening to our favorite song

When you said you looked a mess

I whispered underneath my breath

You heard it, darling you look perfect today

"Omong-omong Lu, kau sangat menawan hari ini."

Kedua kaki mereka kini berhenti melangkah tepat di depan pendeta, menikmati iringan lagu yang menggema dengan Luhan yang membalas pujian Sehun untuknya "Terimakasih Sehunna."

"Baiklah apa kalian berdua siap?"

Suara sang pendeta terdengar bertanya, seolah memastikan kedua mempelai sampai anggukan tanpa ragu disertai kalimat "Kami siap / sangat siap." Dilontarkan Sehun dan Luhan sebagai jawaban yang membuat pendeta Kim tersenyum.

"Baiklah, kita mulai upacaranya."

Gugup, jantung keduanya berdegup dua kali lebih cepat, nafas mereka mulai tak beraturan terlebih saat sang pendeta memulai kalimat yang akan mengikat Sehun untuk Luhan dan Luhan untuk Sehun, selamanya.

"Apakah Kau Oh Sehun bersedia menerima Xi Luhan sebagai istrimu dan berjanji untuk menemani dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, untuk saling mencintai dan menghargai hingga maut memisahkan?"

I know we'll be alright this time

Sehun meresapi setiap kalimat, mencerna setiap janji yang ditanyakan untuk kemudian meyakinkan diri sendiri bahwa dia sepenuhnya akan bisa membahagiakan Luhan di hidupnya. Sekilas matanya melirik pada Luhan, kemudian dia menatap lagi sang pendeta untuk mengatakan "aku bersedia." Tanpa keraguan dan penuh tanggung jawab di hatinya.

Luhan merasa bahagianya akan terjadi seiring dengan jawaban Sehun, rasanya dia hanya ingin memeluk kekasihnya dan berteriak terimakasih sampai pendeta Kim beralih dan bertanya padanya "Dan apakah Kau Xi Luhan bersedia menerima Oh Sehun sebagai suamimu dan berjanji untuk menemani dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, untuk saling mencintai dan menghargai hingga maut memisahkan?"

Luhan tertunduk cukup lama, rasanya begitu mendebarkan saat janji sehidup semati itu ditanyakan, bibirnya kelu terlalu gugup, dia tidak bisa mengatakan apapun sampai tangan Sehun dirasa begitu hangat menggenggam tangannya, menguatkan.

Lalu mata Luhan kembali terkunci pada pandangan yang sedari kecil selalu menatapnya lembut, menatapnya penuh cinta bahkan terkadang tatapan itu seolah mengatakan aku rela mati untukmu, membuatnya merasakan sensasi hangat yang begitu menyenangkan hingga akhirnya dia menatap sang pendeta untuk memberikan jawaban

"aku bersedia."

Yang secara otomatis telah merubah status Sehun dan Luhan dari teman kecil menjadi sepasang kekasih lalu diikat dalam janji suci hingga keduanya menyandang status sebagai suami dan istri yang sah dihadapan Tuhan dan kerabat dan mungkin keluarga yang sedang memberikan doa dan restu dalam diam tanpa bisa mendekati pasangan yang tengah berbahagia dan saling memberi ciuman hangat saat ini.

"Luhan—Sehun, anakku."

Adalah Oh Jihyo, ibu kandung dari seorang Oh Sehun yang sedang terisak pilu dipelukan suaminya, antara haru dan miris bercampur menjadi satu tatkala hanya bisa mendengar tanpa bisa memeluk putranya yang tengah mengikat seseorang menjadi bagian keluarganya, menjadi istirnya.

Pa, Sehun mengetahuinya, tentang apa yang dilakukan Mama dan Papa untuk melindungi kami dan menjadikan Luhan sebagai pengganti kami, Sehun mengetahuinya dan dia begitu terluka

"Sehun, anakku—hkss…"

Tatkala ucapan Yunho terus menghantui mereka, baik Jihyo maupun Insung, Keduanya hanya bisa melihat dari kejauhan bagaimana upacara pernikahan putra kedua mereka berlangsung dengan lancar dipenuhi rasa bahagia. Mereka turut berbahagia, sungguh, tapi kenyataan bahwa Sehun tidak membutuhkan mereka di hari bahagianya cukup melukai dua orang tua yang nyatanya memiliki dosa tak termaafkan di masa lalu.

"Kita pergi sayang."

"Yeobo, aku ingin memeluk mereka."

"Kau tahu itu hanya akan merusak hari bahagia putra kita, biarkan Sehun dan Luhan bahagia untuk saat ini."

"Sehun…."

"Jihyo-ya, jebal…."

"anakku…"

Menangis pilu, Jihyo hanya bisa pasrah tak melakukan apapun saat Insung membawanya pergi, meninggalkan tak rela suara tepuk tangan dari kerabat dan rekan kerja yang sedang memberikan selamat walau tanpa kehadiran mereka sebagai orang tua disana.

"Sehun akan memaafkan kita, dia akan kembali pada kita saat waktunya tepat, percayalah padaku."

Tak lama keduanya masuk kedalam mobil, memerintahkan pada pengurus Han untuk segera menjalankan mobil, meninggalkan pernikahan putra kandung mereka yang terasa begitu miris karena hanya bisa dilihat dari jauh tanpa bisa memeluk sebagai restu yang diberikan untuk keduanya.

.

.

Sementara itu….

.

"Aku bersedia."

Saat suara Sehun menggema sampai ke halaman luar rumahnya, saat dia mengatakan bersedia mengambil Luhan sebagai istri dan pasangannya sampai maut memisahkan, disaat yang sama dua orang yang kehadirannya sangat tidak diharapkan Luhan dan Sehun hanya bisa mendengarkan tanpa bisa melakukan apapun.

"Kau yakin tidak ingin menghancurkan pernikahan mereka?"

Yang ditanya terlihat pucat, tangannya mencengkram kuat kemudi mobil, hatinya panas tak menyangka Sehun akan mengambil tindakan cepat dengan memiliki Luhan seutuhnya. Dia tak bisa berbicara, lalu tak lama terdengar suara Luhan yang memberi jawaban

"Aku bersedia."

Hingga akhirnya, secara sah, Sehun dan Luhan kini telah mengikat janji sehidup semati dan telah resmi menjadi pasangan yang akan diakui Tuhan sebagai suami dan istri yang memiliki chapter baru untuk saling mencintai, menjaga dan tidak saling meninggalkan dalam keadaan tersulit yang akan mereka hadapi nantinya, sampai maut memisahkan.

"Tidak, aku hanya terlalu menarik perhatian jika menghancurkan mereka saat ini."

"Apa maksudmu?"

"Aku tidak harus mengatakan maksudku padamu, yang perlu kau tahu aku akan menyakiti Sehun dengan caraku sendiri, tanpa campur tangamu atau Donghoon sekalipun."

"ya…ya….Terserahmu saja."

"Lalu apa rencanamu?"

Yang bertanya adalah Seunghyun, lalu yang sedang bersamanya tentu Doojoon yang terlihat sedang menahan diri untuk tidak melakukan hal gila yang bisa membuat Luhan semakin menjauh dan takut saat melihat dirinya.

Jadilah dia hanya bisa menerima cibiran mengejek dari Seunghyun yang sedang mencoba memprovokasi hatinya yang panas, keduanya sempat tergoda untuk turun dari mobil, menghancurkan apapun yang bisa membuat pernikahan ini batal sampai akhirnya Doojoon bisa menguasai diri untuk mengatakan "Aku memiliki banyak rencana, salah satunya menyingkirkan Sehun, tapi itu akan kulakukan setelah Donghoon tak lagi menginginkan Luhan."

"Well, berita bagusnya bukan hanya kau yang tidak diinginkan di pernikahan ini, tapi sepertinya dia juga."

Doojoon melihat siapa yang dimaksud Seunghyun, matanya mencari ke sekitar pintu keluar untuk menemukan Jaksa sialan yang menjadi penyebab Luhan menjadi target Donghoon tengah berjalan keluar memeluk istrinya yang menangis.

Dan dilihat dari bagaimana pucatnya wajah Insung serta sembab mata sang jaksa, dipastikan semua sesuai dengan yang dia rencanakan, memberitahu siapa Insung untuk Luhan, apa yang dia lakukan sewaktu Luhan kecil adalah rencana licik yang kali ini melibatkan Sehun secara tak langsung untuk menjauhi ayahnya atau jika keberuntungan benar-benar berada di pihak mereka Sehun akan berbalik menyakiti sang ayah dengan kedua tangannya, menghancurkan Insung hingga tak tersisa.

"Kau benar, untuk saat ini keuntungan berpihak pada kita."

"Atau perlu kita selesaikan hari ini?"

Doojoon menatap sengit pada Seunghyun lalu mendesis "Tahan dirimu!" sebelum akhirnya pergi meninggalkan halaman rumah Sehun dan Luhan untuk menyiasati rencana baru dengan kemarahan Sehun pada ayahnya, jaksa yang menjadi alasan semua masalah ini berlangsung sangat lama tanpa ada jalan keluar.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam hari,

.

Setidaknya setelah hampir enam jam melangsungkan pesta pernikahan, mereka akhirnya sampai pada akhir acara dimana tak ada lagi tamu dan kerabat yang datang memberikan selamat. Dan untuk alasan Baekhyun yang terlihat lelah karena kehamilannya pula, Luhan memutuskan untuk mengakhiri pesta dan membiarkan beberapa pekerja membersihkan halaman belakang tanpa mengotori isi rumah mereka.

"Bee minumlah, wajahmu benar-benar pucat."

"Salahkan kalian yang mengadakan pesta pernikahan di tengah salju seperti ini!"

Luhan terkekeh, dia sengaja duduk di samping tempat tidur Baekhyun dan memberikan sahabatnya secangkir jahe hangat yang dibuat Kyungsoo, membantu Baekhyun menyesap jahe hangat buatan Kyungsoo seraya memijat tengkuk sahabatnya.

"Pergilah, biar Chanyeol yang mengurusku."

"Nanti saja."

"eyy…Pengantin baru harusnya bersenang-senang di malam pertama mereka."

"Ini bukan malam pertama kami, jadi tidak ada yang berbeda." Timpalnya terkekeh dibalas tatapan tak suka dari Baekhyun "Ada apa? Sehun dimana?"

Barulah Luhan bereaksi tak wajar, dia mulai sedikit gugup hanya untuk mengatakan "Jaehyun sedang berbicara dengannya."

"Jaehyun? Apa yang dilakukannya?"

Luhan menatap kosong lagi, enggan menatap Baekhyun dan hanya tersenyum pahit seraya bergumam "entahlah, tapi dia terlihat marah."

.

.

.

.

.

"HYUNG! KUMOHON APA KAU-…."

"CUKUP JAEHYUN!"

Dan seperti apa yang ditakuti Luhan, kedua kakak beradik itu sepertinya sedang bertengkar tepat di hari pernikahan mereka. Entah apa yang membuat Jaehyun terlihat sangat marah pada kakaknya, tapi alasan mengapa kedatangannya malam ini karena dirinya merasa dibodohi tidak mengetahui apapun tentang pernikahan Sehun dan Luhan.

Yang paling membuatnya marah adalah saat mamanya mengatakan Sehun hyung tidak ingin kita hadir di acara pernikahannya, lalu tak lama ibunya jatuh pingsan hingga Jaehyun tak berbaik hati untuk menahan diri lebih lama atau bersikap baik-baik saja jika kenyataannya seluruh hati keluarganya termasuk Sehun hancur karena kenyataan ini.

"Kalau begitu kapan hyung akan pulang? Mama sakit."

"Sudah berapa kali kukatakan? Aku tidak akan pulang kerumah dan aku bukan hyungmu lagi!"

"HYUNG!"

"Mama memilikimu dan Yunho, jadi aku rasa Mama akan segera baik-baik saja." katanya tanpa rasa bersalah hingga memancing kemarahan baru pada remaja yang tahun ini akan menginjak usia sembilan belas tahun "hyung kau benar-…..KENAPA BUKAN LUHAN YANG KAU TINGGALKAN? KENAPA HARUS KELUARGA KITA? KENAPA HARUS MAMA DAN-….."

PLAK!

Tamparan keras itu ditujukan Sehun pada satu-satunya adik yang begitu disayangi, tangannya secara refleks gemetar setelah menampar Jaehyun namun disembunyikannya dibelakang tubuh, Sehun menyesal bertindak terlalu jauh tapi kata-kata buruk Jaehyun mengenai Luhan yang membuatnya harus bertindak.

Mulai hari ini Luhan tidak sendiri, Luhan memiliki dirinya sebagai suami, yang akan melakukan apapun agar tidak ada yang menyakiti istrinya, yang akan menjadi tameng agar istrinya merasa terlindungi sekalipun banyak yang menentang dan berniat menyakiti dirinya atau hubungan mereka.

Jadilah tamparan itu terjadi, Jaehyun sendiri kini hanya bisa menatap sengit pada kakaknya, air matanya mewakili rasa sakit di hati bukan karena tamparan Sehun "hyung…kau benar-benar berubah."

"jangan-…Jangan pernah katakan hal buruk tentang Luhan! Kau tidak tahu apa yang telah dia alami karena papa, KARENA KELUARGA KITA! Jadi berhenti menyudutkan istriku atau…."

"ATAU APA? KAU AKAN MEMBUNUHKU? MEMBUNUH PAPA? MAMA? YUNHO HYUNG? KATAKAN SIAPA YANG AKAN KAU BUNUH JIKA KAMI MENGGANGGU LUHAN? SIAPA YANG AKAN KAU SAKITI HYUNG!"

"CUKUP JAEHYUNNA!"

Gilanya, Sehun tergoda untuk memukul lagi adik kandungnya, tapi suara menantang Jaehyun seolah mengingatkannya bahwa bagaimanapun dia memutus hubungan keluarga yang menjadi takdir di hidupnya, Sehun tidak akan sampai hati menyakiti satupun dari keluarga mereka, tidak, karena dia sangat mencintai keluarganya.

"Oke? Aku bilang cukup, sekarang pergi dari rumahku atau-…CEPAT PERGI!"

Entah seperti apa rasa sakit hati Jaehyun saat ini, dia sepertinya tidak bisa menahan diri lebih lama untuk berbicara dengan hyung kesayangannya, dia menangis banyak tapi Sehun tidak memeluknya, dia menjerit hingga suaranya sakit tapi Sehun tidak menenangkannya seperti biasa, yang dilakukan Sehun hanya berteriak dan membentaknya. Dan sepertinya Jaehyun kini memiliki alasan untuk berteriak

"AKU SANGAT MEMBENCIMU HYUNG!"

Lalu berlari meninggalkan Sehun di tengah salju yang mulai turun dengan lebatnya, "haah~" Sehun lemas, dia bersandar di tiang pagar rumahnya, mengatur nafas sebanyak mungkin sementara matanya melihat bagaimana jejak kaki Jaehyun tertinggal di atas salju.

"Jaehyunna…"

Suaranya serak hanya untuk memanggil Jaehyun dan berakhir terisak dalam diam tak ingin Luhan atau siapapun yang berada di dalam rumahnya datang hanya untuk bertanya apa yang terjadi padanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Klik….

Merasa sudah menguasai sedikit kegundahan hatinya, Sehun memutuskan untuk kembali masuk kedalam rumah. Tujuan utamanya adalah kamar yang kini menjadi kamarnya dan Luhan, berniat untuk mencari ketenangan dan kehangatan dari lengan mungil yang akan memeluknya mulai malam ini.

"Sehun…"

Inilah suara yang ditunggu oleh Sehun, suara lembut yang selalu berhasil membuatnya merasa begitu hangat, merasa begitu diinginkan. Kenyataan bahwa mulai malam ini dia akan selalu mendengar suara istrinya membuat entah mengapa hatinya bersorak bahagia walau pilu dan sendu masih sebagian mengusik jiwanya.

"Bagaimana Jaehyun?"

Luhan terlihat sedang berganti pakaian, kancing kemejanya sudah berada di bagian paling bawah hingga tubuh mulusnya terekspos bebas di depan mata Sehun "Dia pergi."

"Pergi?"

Suara Luhan terdengar menyesal, membuat Sehun bergegas untuk memeluknya dan meyakinkan Luhan bahwa kepergian Jaehyun tak ada hubungan dengan dirinya "Dia berteriak dan mengatakan banyak hal lalu berlari begitu saja."

"Apa dia marah padamu?"

"Mungkin."

"Sehun…."

Tatkala tangan Luhan mencengkram kuat punggungnya, Sehun bisa merasakan deru nafas pria yang baru saja resmi menjadi istrinya begitu berat, terlalu banyak hal yang mengganggu bahkan dihari bahagia mereka, Sehun tidak ingin kesedihan itu dirasakan Luhan.

Dia kemudian menangkup wajah Luhan, menciumi dahi hingga turun ke bibir sampai sesuatu mengganggu penglihatan Luhan. Sebuah goresan di pundak Luhan yang untuk kali pertama dilihat Sehun malam ini.

"Sayang, kau terluka?"

"ah…."

Buru-buru Luhan menutupinya lalu menatap canggung pada Sehun "Hanya tergores, ini luka lama sayang."

Sehun tak kalah cepat dari Luhan, dia membuka lagi kemeja yang digunakan Luhan untuk menutupi lukanya hanya untuk mendapati luka seperti goresan namun terlihat cukup dalam

"Siapa yang melukaimu?"

Jelas luka itu baru mengering, oh ayolah, dia memang bukan seorang dokter tapi dia bisa membedakan mana luka lama dan mana luka yang baru di tubuh istrinya. Lagipula selama hampir dua puluh tahun dia mengambil Luhan tak pernah sekalipun terdapat goresan di tubuh istrinya, hanya ada tanda lahir seperti warna hitam membekas yang ada di sekitar perutnya.

"Siapa yang melukaimu?"

"Sehunna aku baik-baik saja, sungguh."

"Siapa yang melukaimu?"

Kebiasaan Sehun adalah mengulang pertanyaan yang selalu membuatnya marah dan terusik, dia tidak akan berhenti sampai rasa ingin tahunya terjawab dan ini adalah satu kebiasaan yang sebenarnya dihindari Luhan dari suaminya.

"Jawab aku Lu, aku bisa benar-benar gila jika kau hanya diam tanpa memberitahu siapa yang melukaimu." Katanya sengaja menekan bekas luka di pundaknya yang baru terjadi saat pertemuan keduanya dengan Donghoon beberapa waktu lalu.

"Luhan…."

"Donghoon yang melakukannya."

Sempat tercekat nafasnya sendiri, Sehun berusaha mengumpulkan kesadarannya lalu bertanya ulang "Donghoon?"

"Tapi saat itu Doojoon datang tepat waktu dan menlongku, dia yang mengobati luka goresan ini."

"Doojoon? Dia menyentuhmu?"

Luhan tak tahan, buru-buru dia memeluk Sehun, menenangkan suaminya yang terdengar marah saat nama Doojoon disebut, sungguh, ini hari pertama mereka berstatus sebagai suami istri, jadi bukan pertengkaran yang diinginkan Luhan karena keinginannya untuk hidup bahagia tanpa pertengkaran adalah tujuan mengapa dirinya menyetujui pernikahan dengan Sehun, kekasihnya.

"Sssstt….Tenanglah sayang, kejadiannya sudah berlangsung hampir satu bulan yang lalu dan kini aku baik-baik saja."

"satu bulan? Dan aku tidak pernah menyadarinya?"

"Itu karena setiap kali kau mengambilku tak ada penerangan di kamar kita Sehunna."

"Kau sengaja mematikan lampu di kamar kita?"

"Sehun jebal…..Aku baik-baik saja sayang. Jangan dibahas lagi, jangan bertengkar lagi, aku tidak mau melakukannya lagi. Aku membutuhkanmu sayang."

Dan yang membuat Sehun merasa takjub adalah usia pernikahan mereka belum sampai dua belas jam, tapi lihat apa yang sudah dia perbuat, sebagai suami dia sudah membuat istrinya begitu ketakutan bahkan menangis di pelukannya.

Kenyataan bahwa luka itu disebabkan oleh Donghoon yang paling membuat Sehun murka, lalu Luhan bercerita bahwa Doojoon yang menolongnya semakin membuat gelenyar panas menjalar ke hati Sehun, dia memikirkan cara, segala cara untuk menjauhkan Luhan dari bencana ini hingga satu keputusan dibuatnya tepat di hari pernikahan mereka.

"Lu…."

"hmh?"

"Berkesmaslah, kita akan meninggalkan Seoul secepatnya."

"Mwo?"

Luhan terkesiap, dia segera melepas pelukan Sehun, bertanya-tanya apa yang dimaksud suaminya sampai tatapan tajam Sehun seolah menjawab seluruh ketidaktahuannya "Keputusanku bulat, kita tidak akan tinggal di kota mengerikan ini, tidak, sampai Donghoon, Doojoon atau siapa pun keparat yang berurusan dengan masa lalumu pergi!"

"Tapi bagaimana denganmu?"

"Aku?"

Luhan cemas, buru-buru dia menangkup wajah Sehun lalu memastikan bahwa suaminya berbicara dengan kesadaran dan tidak dipenuhi emosi yang nantinya akan membuat kehidupan mereka tersiksa satu sama lain "Keluargamu? Pekerjaanmu? Rumahmu? Semua yang kau miliki ada disini sayang, apa kau akan baik-baik saja jika kita pergi? Jika kita meninggalkan Seoul?"

"Lalu bagaimana denganmu?" Kini Sehun yang bertanya dibalas jawaban Luhan yang terdengar yakin dan tidak ada keraguan di dalamnya "Aku hanya memiliki dirimu, jadi tidak masalah jika kau ingin membawaku kemana saja, ke neraka sekalipun aku akan tetap bersamamu, asal bersamamu, aku rela meninggalkan semua yang aku miliki."

Jawaban Luhan terlalu banyak untuknya, terlalu membuatnya bahagia lalu bertanya untuk memastikan "Karena apa kau rela meninggalkan semuanya untukku?"

"Karena aku mencintaimu, aku istrimu, apalagi?"

"astaga…! Siapa yang aku nikahi?"

"huh?"

"Manusia atau malaikat? Kenapa hatimu begitu baik sayang?"

Tak mengerti, Luhan hanya membiarkan tangan Sehun menyusuri wajahnya, kedua mata mereka saling menatap penuh harap sampai akhirnya Sehun kembali bersuara dan mengatakan "Bagaimana bisa kau memikirkan aku sementara dirimu yang paling menderita?"

"Sehun…."

"Jangan tanyakan lagi tentang keluargaku, aku selesai dengan mereka."

Perkataan Sehun cukup membuat Luhan terkejut dan tanpa sadar mencengkram kasar dada suaminya "Apa maksudmu?"

Dengan satu tangannya Sehun mengangkat tubuh mungil Luhan ke tempat tidur mereka, tak lama dia segera mengukung tubuh istrinya seraya menuntaskan kegiatan Luhan melucuti kemeja dan membuangnya asal ke lantai "Aku tidak memaafkan orang-orang yang menyakitimu, baik itu di masa lalu, hari ini, atau esok, aku tidak bisa memaafkan mereka."

"Apa yang kau bicarakan Sehun? Kenapa kau-…..hmmh~"

Sehun sengaja membungkam bibir Luhan dengan bibirnya, melumat bibir yang selalu berhasil membuatnya tergoda lagi dan lagi hanya untuk menekan semakin dalam, sesekali, Sehun menyesap kuat lidah Luhan hingga benang saliva kekasihnya tertarik keluar dan menyatu dengan miliknya.

Sedetik kemudian Sehun memberikan kesempatan Luhan untuk bernafas, memperhatikan bagaimana peluh dalam sekejap membasahi wajah istrinya untuk tersenyum dan tak lama menundukkan lagi wajahnya, menjilati cuping Luhan seraya berbisik "Kau tahu apa yang aku bicarakan."

Setelah memberi pernyataan tersirat pada istrinya, Sehun memulai kegiatan pertama mereka sebagai suami dan istri, perlahan namun penuh sensasi dia sengaja duduk di atas tubuh istrinya seraya membuka sensual kemeja putih yang mereka kenakan untuk mengikat janji.

Kemudian terlihatlah otot-otot sempurna Sehun yang sengaja dipamerkan di hadapan istrinya, Luhan sendiri tidak terkejut dengan betapa sempurna atau betapa seksi tubuh suaminya, karena memang dari dulu, suka atau tidak, dia harus mengakui Sehun memiliki tubuh atletis yang terlihat sempurna bahkan disaat usia mereka baru menginjak delapan tahun.

"rrhhh~"

Lalu lihatlah pinggul seksi suaminya, sedang bergerak maju dan mundur, menghentaknya kebagian terdalam yang bisa dijangkau oleh "si perkasa" yang selalu berhasil membuat Luhan meminta lebih, mendesah, serta mengerang nikmat bersamaan dengan gerakan menghentak yang paling dalam yang diberikan Sehun untuknya.

"Sehun—ah~"

Bunyi penyatuan tubuh mereka berlomba dengan kecupan panas dan liar yang diberikan Sehun di bibirnya, tak lama saat lumatan dihentikan, suara decit tempat tidur yang meminta diperhatikan dan diakui bahwa mereka juga mengambil alih dari percintaan panas membara dua pemiliknya.

Keduanya berlomba-lomba memberikan rasa nikmat sebagai suami-istri untuk pertama kali, mengabaikan kekosongan dan kepedihan hati mereka, Sehun dan Luhan memutuskan untuk kembali menyatu sebagai awal dari hubungan mereka yang baru.

Keduanya tampak larut dalam kenikmatan penyatuan tubuh mereka, saling bergerak berlawan arah, memanggil nama masing-masing dengan bibir yang tak berhenti mengecup.

Hingga akhirnya Luhan lebih dulu membusungkan dadanya sebagai tanda dia mencapai klimaks lebih dulu, jemari kukunya menancap dalam di punggung Sehun disusul suaminya yang tak lama mengerang nikmat seraya mengeluarkan seluruh sperm dilubang istrinya, berbagi rasa panas yang begitu mendamba, berharap percintaan kesekian mereka akan memberikan buah hati yang begitu diinginkan Sehun dihidupnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

A few months later….

.

.

Tepat tiga bulan pernikahan Sehun dan Luhan, keduanya memutuskan untuk tinggal di tempat terpisah dari keempat sahabatnya. Sehun membawa Luhan pindah jauh dari kota Seoul, berniat untuk menjauhkan istrinya dari seluruh ancaman baik itu berasal dari Donghoon atau bahkan keluarganya sendiri.

Mereka menyebutnya the palace of paradise, desa yang terletak tiga jam dari kota Seoul itu menyuguhkan pemandangan indah lengkap dengan suasana tenang yang dijanjikan, tempat yang tepat untuk seseorang menenangkan diri atau ingin menyendiri seperti yang dilakukan Sehun dengan membawa istrinya pindah jauh dari tempat yang terlampau dikelilingi orang-orang licik yang ingin menyakiti Luhan.

Dan bukan tanpa alasan Sehun membawa Luhan ke Pyeongchan, karena selain sering dikunjungi keduanya sewaktu kecil, rumah yang mereka tempati saat ini adalah rumah impian mendiang kakek Sehun yang belum sempat dikunjungi Kakek Oh karena kejadian mengerikan dua puluh tahun lalu yang harus dialami kakeknya.

Beruntung Luhan tidak membahas alasan mengapa dirinya memilih Pyeongchan, karena daripada bertanya, istri cantiknya hanya terus menyetujui apa yang menjadi pilihan dan keputusan yang diambil Sehun untuknya.

Klik….

"Luhan..."

"Hey Sayang, kau sudah bangun?"

"Tidak ada yang bisa kupeluk, jadi itu cukup mengganggu dan aku tidak suka."

"Mulai lagi..."

Luhan terkekeh, lalu tak lama sepasang lengan kekar mengganggu aktifitas memasaknya, suaminya semakin bertingkah manja seolah tak mau kalah dari calon bayi yang tengah dikandung Luhan saat ini.

"Halo bayinya Papa! Selamat pagi."

Ya, tepat dua bulan yang lalu Luhan positif dinyatakan hamil oleh dokter setempat di rumah sakit kecil daerah Pyeongchan. Usia kandungannya sudah delapan minggu dan itu artinya sudah hampir dua bulan lebih Luhan membawa kehidupan baru di dalam perutnya.

Saat itu Luhan jauh dari Baekhyun dan Kyungsoo, dia tidak memiliki tempat untuk mengkonsultasikan kondisinya secara detail karena sinyal di tempatnya begitu buruk dan tak terjangkau jika tidak berada di kota Pyeongchan.

Jadilah Luhan merengek meminta kerumah sakit, Sehun bahkan sudah pada kemungkinan terburuk jika harus membawa istrinya pulang ke Seoul untuk mendapatkan perawatan, namun nyatanya Tuhan begitu baik, bukan kondisi Luhan yang mengkhwatirkan, tapi kondisinya adalah sebuah anugerah mengingat ucapan dokter setempat yang mengatakan Luhan tengah mengandung dan itu bayinya, buah hatinya.

"Dia belum bisa merespon, sabarlah sayang."

"Tapi perutmu sudah mulai membuncit Lu."

"Aku tahu, tapi ini wajar sayang."

"Aku mau dia bicara denganku!" Katanya merengek seraya membuat gerakan yang menjadi kebiasaan baru Sehun yakni mengusap perut Luhan yang mulai terihat membuncit karena kehamilannya.

"Dia akan segera merespon ayahnya, bagaimana?"

Mengusap tak rela namun penuh cinta, Sehun akhirnya mengalah dan menyetujui untuk tidak merengek lagi "Baiklah aku akan sabar."

"Aigoo suami siapa yang begitu pengertian pada istrinya?" katanya menarik dagu lancip sang suami dibalas jawaban terlampau bocah dari Sehun "Suami dokter Oh tentu saja."

Luhan terkekeh, dia juga sengaja membiarkan Sehun mengekorinya kemanapun termasuk ke toilet hanya untuk sekedar mematikan kran air.

Selebihnya Sehun terus memeluk dirinya dengan dagu yang bertumpu di dagu, kemanapun Luhan berjalan disitulah Sehun berada, selalu seperti itu, nyaris tidak ada yang memisahkan mereka kecuali satu hal

Drrt….drtt….

Suara ponsel Sehun bergetar, refleks, Sehun mengeluarkan ponsel di saku celana tidurnya hingga tak sengaja Luhan melihat nama X tertera di ponsel suaminya, entah siapa X yang dimaksud Sehun, karena setiap kali dia bertanya suaminya hanya akan menjawab dia partner bisnisku, lalu setelah Sehun mengangkat panggilan X, dia akan pergi menjauh, berbicara setengah berbisik lalu menampilkan ekspresi yang sama, dingin dan mengerikan, jika X menghubunginya.

"Baiklah, aku akan datang."

"….."

"Diam dan hanya tunggu aku!"

Pip!

Ponselnya dimatikan, namun kali ini Luhan sepertinya berniat mencari tahu siapa X karena siapapun X yang menghubungi Sehun selalu membuat suasana hati suaminya menjadi begitu buruk "X?"

"Sayang, kita sudah membicarkan ini, jangan bertanya tentang X lagi."

"Tapi aku merasa kau sudah membohongi aku!"

"Jujur saja aku tidak berani membohongimu Lu, jangan kesal padaku, ya?"

Selalu seperti ini jika Luhan bertanya tentang X, dia akan bertanya kesal lalu Sehun akan membujuknya dengan rayuan super maut yang melelehkan hatinya, Luhan sudah bersumpah untuk tidak termakan bujuk rayu Sehun dan berakhir untuk berbicara tegas dengan suaminya

"Lalu siapa X?"

Sehun hanya terus memeluknya manja, mengecupi dan menjilat tengkuknya tanpa tahu jika Luhan sedang berada mode serius saat ini "Sehun aku tidak mau memeriksakan bayi kita jika kau tetap seperti ini."

"Lu…."

Suaranya memperingatkan dibalas tuntutan tegas dari Luhan "Kalau begitu siapa X?"

"Dia alasan mengapa kau dan aku bisa hidup bahagia selama tiga bulan pernikahan kita, aku tidak bisa mengatakannya saat ini sayang, tapi yang perlu kau tahu aku akan melakukan segala cara termasuk hal terkeji sekalipun hanya untuk membuatmu aman dan bahagia."

"Apa maksudmu?"

Kali ini Sehun tampak terburu-buru berjalan meninggalkan Luhan, dia bahkan belum membersihkan tubuh tapi sudah memakai pakaian tebal dan membawa kunci mobilnya "Kita bicara lagi nanti." katanya seolah berpamitan dibalas raut kesal dari wajah istrinya "Sehun kau mau kemana?"

"Sebentar sayang, nanti setelah aku kembali kita akan pergi ke klinik tempatmu bekerja."

"Tapi kemana kau pergi?"

Sehun mengecup kening Luhan seraya mengusap sayang punggung istrinya, berniat menenangkan Luhan walau pada akhirnya harus memancing kekesalan istrinya saat mengatakan "Seoul."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Tapi aku kesal! Maksudku, bagaimana bisa dia pergi ke Seoul tanpaku Baek?"

"Tenanglah Lu, jika aku bertemu dengannya aku akan memastikan agar membawamu pulang saat aku melahirkan minggu depan, bagaimana?"

Tempat berpindah di sebuah klinik kecil tempat Luhan bekerja dan menghabiskan waktu jika Sehun tak ada di rumah, dan seperti namanya health clinic, mungkin semua warga memang sehat jadi tak banyak kegiatan di klinik kecilnya.

Hal itu cukup membuat Luhan jenuh dan bosan, maklum saja Luhan adalah seorang dokter dengan segudang jadwal operasi yang selalu menunggunya, jadi ketika dia diminta untuk melakukan praktek di sebuah klinik kecil dia tidak menggunakan skill tangannya, hanya menggunakan intuisi nya sebagai seorang dokter untuk menyembuhkan pasiennya.

Dia bosan? Tentu saja, tapi sekalipun Luhan tidak pernah mengatakannya pada Sehun dan hanya menceritakan keluh kesahnya pada Kyungsoo dan Baekhyun, bergantian.

Seperti saat ini misalnya, Luhan memilih menghubungi Baekhyun karena yang dia tahu Baekhyun sudah bed rest total mengingat minggu depan adalah jadwal kelahiran putra pertamanya dengan Chanyeol, berbeda dengan Kyungsoo yang mungkin sedang kewalahan karena terpaksa mengambil shift Baekhyun sebagai ganti dari cuti yang diambil sahabatnya.

"ah, kau benar! Aku harus pulang dan bertemu dengan anakku, tapi kau bilang setiap kali Sehun ke Seoul kalian tidak pernah bertemu?"

"ya memang, kami tidak pernah bertemu, Kai dan Chanyeol yang bertemu dengannya."

"ssshh…..Kepalaku makin sakit, lalu siapa X yang menghubunginya?"

"Istri keduanya mungkin, X for seXy woman."

"BAEKHYUNNA!"

"HAHAHAHAHAHAH…baiklah, baiklah, tidak perlu berteriak sayangku, nanti anakku ketakutan didalam perutmu!"

"Lucu!"

"araseo mianhae…. kau sedang ada dimana?"

"Di klinik, dimana lagi aku bisa berada?"

"Klinik kecil yang kau ceritakan?"

"Ya! Apapun kau menyebutnya aku disini."

"Lu…."

"hmh?"

"Kau bahagia?"

"Apa?"

"Tinggal disana? Bekerja disana? Kau bahagia?"

"…"

"Luhan?"

Yang tidak Baekhyun tahu, Luhan sedang menghapus air mata rindunya pada Seoul saat ini, tapi kemudian dia menghapusnya cepat lalu sedikit berdeham seraya mengatakan "Tentu saja! selama ada Sehun disisiku aku akan selalu bahagia."

"Tapi aku merindukanmu…"

"BAEEEEEKKKKK…."

Awalnya berlagak menjaga image, detik berikutnya merengek tak tahu malu, dia bahkan mengabaikan perawat yang sedang memperhatikannya dan hanya merengek dengan kepala tersembunyi di meja "AKU MAU PULANG HUWEKKKK…."

"HAHAHAHAHA…."

"Jangan terta-hkks—JANGAN TERTAWA! BAWA AKU PULANG SEKARANG JUGA BAEK-…."

"Dokter Xi?"

Sudah tiga bulan ini panggilan untuknya berubah menjadi dokter Oh, entah itu dokter dan staff di Seoul Hospital atau Hanyang hospital atau bahkan health clinic, semua sudah memanggilnya Dokter Oh.

Jadi saat seseorang memanggilnya dokter Xi cukup membuat Luhan terkejut, awalnya dia mengira salah mendengar, tapi saat kepalanya mendongak dan melihat seseorang berdiri di depannya, maka bisa dipastikan Luhan memang sedang disapa menggunakan marga sang papa oleh orang asing di depannya.

"Luhan? kau baik-baik saja?"

"Bee, aku akan menghubungimu lagi."

Buru-buru Luhan menutup panggilan Baekhyun, tak lama dia berdiri agar sejajar dengan pria yang menyapanya untuk bertanya "Apa kau memanggilku?"

"Ya, jika kau dokter Xi maka aku memanggilmu."

"Tapi siapa anda?"

Luhan bertanya-tanya, dibalas senyum tipis pria yang memiliki rahang tajam seperti suaminya "Mungkin ini kali pertama kau melihatku, tapi percayalah aku sudah mengawasimu selama beberapa tahun." Katanya menjabat tangan Luhan seraya memperkenalkan diri sebagai

"Ravi."

"huh?"

"Namaku Ravi, senang bertemu denganmu dokter Xi." katanya memberitahu Luhan lalu mengoreksi lagi kalimatnya yang entah mengapa terasa dingin dan menakutkan untuk Luhan "Atau aku harus memanggilmu dokter Oh?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"BRENGSEK! TAPI KAU BILANG LUHAN AKAN BAIK-BAIK SAJA SELAMA AKU MEMENUHI SELURUH TUNTUTAN DARIMU!"

"SELURUHNYA OH SEHUN! SELURUHNYA! KAU BAHKAN HANYA MELAKUKAN SATU DUA TUNTUTAN DARIKU! BUKAN SELURUHNYA!"

"AAARGHHH!"

Kemudian disebuah gedung tua di pinggiran Myeongdong, Seoul, terlihat dua pria yang sedang berteriak saling menyalahkan, sepertinya tak ada yang mengalah dan terlihat sama-sama geram mengingat apa yang menjadi tuntutan Donghoon belum bisa dipenuhi baik oleh Sehun maupun oleh Doojoon.

"sial! Lalu apa yang diinginkan Donghoon?"

"Berapa kali aku bilang dia menginginkan usb yang ada pada Luhan!"

"DAN BERAPA KALI HARUS KUKATAKAN LUHAN TIDAK MEMILIKI USB ITU!"

"Brengsek! Aku tidak peduli dimana usb itu berada, hanya dapatkan benda sialan itu sebelum Donghoon berbuat semakin jauh!"

Terlihat Doojoon memojokkan Sehun ke dinding, tangannya mencengkram erat leher Sehun, tapi yang membuat Sehun bertanya-tanya adalah alasan mengapa Doojoon terlihat gemetar disela cekikan yang membuatnya kesulitan bernafas

"Kau harus melakukan sesuatu sebelum hal lebih buruk terjadi dan aku tidak bisa mencegahnya."

"Apa maksudmu?"

Menghempas kasar tubuh Sehun adalah hal yang dilakukan Doojoon sebelum menatap frustasi pada pria yang sialnya sudah berstatus sebagai suami Luhan "Donghoon tidak mempercayai aku dan Seunghyun lagi, dia cenderung bertindak sendiri memakai orang ketiga di antara kami."

"Siapa yang kau bicarakan?"

"Percayalah padaku, orang yang kita bicarakan berkali-kali lebih keji dan licik dari diriku atau Seunghyun, dia orang ketiga yang Donghoon beri julukan sebagai the last hand, dan tidak jauh sepertiku, dia memiliki posisi penting di sebuah instansi negara."

"brengsek! SIAPA YANG SEDANG KAU BICARAKAN?"

Doojoon tidak menolak saat Sehun mencengkram lehernya, karena sebaliknya, daripada menolak dia justru terlihat cemas untuk menyebut satu nama yang perlu diwaspadai Sehun agar tidak mendekati Luhan.

"Ravi."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Tapi apa kita saling mengenal?"

"Kau mungkin tidak mengenalku tapi aku mengenalmu dengan sangat baik."

"Benarkah? Bagaimana bisa?"

"Aku sudah memperhatikanmu cukup lama dokter Xi, tidakkah kau menyadarinya?"

Untuk menghindari kecanggungan yang terjadi antara dirinya dan si pria asing, Luhan segera membawa pria yang dia ketahui bernama Ravi ke sebuah kedai di dekat klinik tempatnya bekerja.

Tak ada percakapan berarti selama pertemuan mereka, hanya ada rasa ingin tahu Luhan yang bertanya-tanya darimana pria yang sepertinya memiliki usia sama dengan Yunho mengenal dirinya, jadilah keduanya bercakap ringan, saling bertanya dan menjawab sampai ke tahap pertanyaan apakah mereka saling mengenal atau memang hanya kebetulan mengenal nama tanpa mengetahui wajah.

"Dan bagaimana bisa kau memperhatikan aku sejak lama? Apa aku terlihat familiar untukmu?"

"Ya, tentu saja. Kau terlalu familiar untukku, seseorang juga sering bercerita tentang dirimu."

"Seseorang? Siapa?"

Ravi hanya tersenyum kecil, berniat untuk menjawab Luhan sampai masing-masing dari ponsel keduanya bergetar karena panggilang seseorang

Drtt…..drrtt… / drrtt…drrrtt

"Maaf tapi aku harus mengangkat panggilanku."

Ravi lebih dulu beranjak dari tempat duduk, meninggalkan Luhan yang seluruh tangannya keringat dingin ketika mendapati nama Jaksa Oh yang merupakan ayah Sehun entah mengapa tengah menghubunginya.

Awalnya dia ragu, tapi sepertinya bukan tanpa alasan ayah mertuanya menghubungi jika bukan karena terjadi sesuatu. Jadilah Luhan memutuskan untuk menggeser slide ponselnya hingga tak lama terdengar suara yang hampir tiga bulan ini berusaha dihindari Luhan dan Sehun.

"Luhan…."

"…"

"Luhan? Ini ayah nak."

"….."

Sejujurnya bukan Luhan tidak ingin menjawab, tapi seluruh suaranya tercekat di kerongkongan saat mendengar suara dari sosok yang begitu dikagumi sekaligus dia benci di dalam hidupnya.

"Nak…."

Luhan memejamkan erat matanya, tangannya yang bebas mencakar kuat paha kirinya sementara suara Insung terus terdengar seolah memohon agar Luhan membuka suara

"Luhan, ada sesuatu yang harus ayah katakan padamu, ini penting nak, kau harus segera kembali ke Seoul, kita perlu bicara."

"rrhhh…."

Selalu seperti ini, selalu ada maksud tertentu, kenyataan bahwa sang ayah menghubunginya bukan karena dia merindukan Sehun atau dirinya membuatnya begitu marah, dia tahu Insung akan selalu memiliki tujuan jika memerlukan dirinya, tidak benar-benar tulus, hanya memiliki tujuan tertentu dan itu membuat kekecewaan Luhan semakin parah hingga berniat mengakhiri panggilan dari sang jaksa sampai suara ayah suaminya terdengar ketakutan seraya mengatakan

"Ini mengenai Sehun."

Tangan Luhan tak sampai pada niatnya untuk mengakhiri panggilan, ya, bagaimana bisa dia mengakhiri panggilan ayah suaminya jika sang jaksa menyebut nama suaminya, hal itu membuat Luhan sedikit cemas bercampur rasa ingin tahu, dia bahkan sedang menyiapkan suaranya hanya untuk mendengarkan omong kosong yang diucapkan ayah Sehun tentang suaminya

"Hanya kau yang bisa membujuk Sehun, nak."

Ada apa dengan suamiku?

Luhan ingin bertanya, namun sesingkat mungkin dia hanya menjawab dengan suara terlampau serak "Aku akan segera pulang." Untuk mengakhiri panggilan yang menjual nama Sehun entah untuk tujuan apa.

Apa yang terjadi?

Raut wajah pucat Luhan menunjukkan segalanya, kecemasannya, ketakutannya, dan jauh didalam diri Luhan dia mengetahui bahwa semenjak pernikahannya dan Sehun berlangsung, suaminya cenderung menyembunyikan sesuatu, seperti menjauhkannya dari semua hal termasuk orang terdekatnya

Tapi untuk apa? rrrhhh~

Tiba-tiba dia merasakan mual, mempelajari semua tingkah laku Sehun yang terkadang begitu misterius untuk menarik satu kesimpulan

Apa ini berhubungan dengan X?

"Tidak, kau tenang saja, aku sudah mendapatkannya."

Dan saat Luhan sedang berperang dengan pikiran dan rasa ingin tahunya, seseorang sedang memperhatikannya dari jauh, dia melihat dari balik jendela bagaimana Luhan terlihat sangat cemas, tak lupa dia juga menampilkan seringai mengerikan untuk memberi laporan pada seseorang yang sangat menginginkan kematian Luhan, yang ingin memastikan bahwa parasit seperti Luhan benar-benar lenyap hingga tak bisa lagi menganggunya di kemudian hari.

"Dan ya Presdir Ko, aku rasa Doojoon menyembunyikan keberadaannya, tapi kau tenang saja, aku sudah seribu kali lebih pintar dan cepat dari anak kesayanganmu…."

Ravi, pria yang sedang memberi laporan pada Donghoon terlihat begitu puas hingga berani bertaruh bahwa semua ini akan berakhir lebih cepat dari dugaannya "Kau tenang saja, aku bertaruh dia akan segera kembali ke Seoul."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jika kau ingin mengenalku, kembalilah ke Seoul, disana semua hal yang kau butuhkan tersedia, termasuk siapa aku, mungkin.

Hari sudah berganti lagi menjadi malam, dan jujur, selama tiga bulan pernikahannya dengan Sehun, Luhan tidak pernah merasa begitu banyak hal di kepalanya, ini hari pertama dia merasakannya, membuatnya begitu mual karena cemas hingga berakhir harus berbaring di tempat tidur, menunggu kepulangan suaminya yang sedang berada dalam perjalanan.

"Kim Won Shik? Ssh…Wajahnya tidak asing untukku, tapi siapa?"

Saat ini Luhan sedang memegang sebuah kartu nama yang diberikan pria asing siang tadi untuknya, bertanya-tanya mengapa pria tersebut memiliki dua nama yang berbeda dan memberitahu dirinya begitu saja

Hanya kau yang bisa membujuk Sehun

"sshh…."

Lalu tak lama suara ayah Sehun teringat lagi saat ini, membuat Luhan entah mengapa tiba-tiba menjadi gugup untuk mengambil cepat ponselnya "Oh Sehun kenapa kau lama sekali." Katanya bergerak panik, sedikit gugup mencari nama Sehun sampai suara pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok yang menurut Luhan adalah hidupnya

"Sayang maaf aku terlambat, jalanan begitu licin jadi aku mengemudi dengan-….."

Grep!

Tiba-tiba Luhan menyingkap selimutnya, berlari ke arah suaminya berada lalu melompat ke pelukan Sehun yang dengan mudah menangkap tubuhnya dengan satu tangan, seperti biasa

"Luhan?"

"Idiot! Kenapa kau lama sekali? Aku takut dirumah sendiri, hkss…."

Yang mengganggu Sehun bukan caci maki dari istrinya yang sedang begitu sensitif seiring kehamilannya, sungguh, bukan itu, melainkan kenyataan bahwa Luhan terlihat panik dan cemas sampai dia berlari dan melompat ke pelukannya seperti saat ini.

Katakanlah Sehun menjadi berkali-kali lebih peka setelah pernikahannya dengan Luhan, semua hal yang biasa Luhan lakukan atau tidak Luhan lakukan, sudah begitu dihafalnya.

Istrinya yang biasa cenderung akan merengek jika dia membatalkan janji kencan atau tidak menghubunginya seharian, bukan merengek bahkan menangis hanya karena dia sedikit terlambat berada dirumah, terlebih Luhan sudah mengetahui posisinya hanya berjarak lima belas menit untuk sampai dirumah.

Lalu apa alasan Luhan menangis tersedu seperti saat ini?

Itu yang mengganggu Sehun, tapi mengingat semua hal begitu sensitif untuk Luhan, pria yang akan menjadi ayah kurang dari lima bulan lagi memutuskan untuk menghibur istrinya lebih dulu, dia juga memutuskan untuk mencari tahu alasan istrinya merasa terganggu nanti, setelah hati Luhan merasa lebih baik.

"aigoo…. Istrinya Oh Sehun kenapa tiba-tiba suka menangis?"

Sehun mengubah sikapnya menjadi Oh Sehun si perayu ulung, menggendong istrinya menuju tempat tidur walau harus banyak bersabar karena sepertinya Luhannya tidak ingin tidur cepat malam ini.

"Tidak mau tidur?"

"Aku mau melihat wajahmu dulu." Rengeknya dibalas kekehan gemas Oleh Sehun "Baiklah, kita cari posisi dimana kau bisa melihatku sepuasnya, dimana ya?" Sehun berfikir, lalu melihat meja rias Luhan dilengkapi lampu kecil yang biasa digunakan Luhan jika mereka akan pergi kencan.

"Baiklah, di meja singgasana milikmu saja ya?"

Sebenarnya Luhan keberatan, tapi satu-satunya tempat dimana dia bisa melihat wajah Sehun sepuasnya memang hanya di meja rias miliknya "Jangan berani kau menjatuhkan peralatan make up milikku."

"Yes nyonya, tidak akan, toner cucumber favoritmu yang paling aku waspadai." Katanya menggoda Luhan mengingat minggu lalu Sehun tidak sengaja memecahkan toner pemberian Baekhyun sebagai hadiah pernikahan mereka, Luhan marah besar dan menendangnya tidur sendirian di sofa.

"Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya bagaimana bisa toner cucumber dijadikan hadiah untuk pernikahan?"

"Tentu saja bisa! Kau lihat wajahku? Aku menjadi sangat mempesona hanya karena toner yang diberikan Baekhyun."

"Kau salah!"

Sehun mengoreksi, menyingkirkan satu persatu peralatan make up milik Luhan dengan hati-hati, lalu mendudukan istrinya di meja rias sementara dia berdiri tepat di depan istrinya seraya memuja bagaimana cantiknya Luhan bahkan tanpa seluruh make up yang digunakannya sehari-hari.

"Apa yang salah?"

"Harusnya toner itu yang berterimakasih padamu."

"Wae?"

"Karena kau yang memakainya banyak pembeli yang berminat dan berharap wajahnya semulus wajah baby istriku."

"Nah, sekarang apa yang ingin kau pastikan?"

Luhan mulai menatap lama wajah suaminya, memastikan Sehun tidak kekuarangan satu apapun sampai satu pertanyaan lolos begitu saja dari bibirnya

"Kau baik-baik saja?" tanyanya cemas dibalas jawaban tak serius dari Sehun "Masih tampan, seperti biasa."

"tsk! Aku serius!"

"araseo…araseo…Aku bercanda sayang, aku baik-baik saja, tidak kekurangan satu apapun kecuali satu."

"Apa?"

"Aku sedang merindukan wajah istriku saat mendesah, bagaimana ini? Aku sedih, sudah dua bulan aku tidak diijinkan menjamah istriku sendiri—SSSHHH!"

Kali ini cubitan super panas milik Luhan diberikan di nipple suaminya, Luhan bahkan sengaja menendang kejantanan Sehun hingga suaminya mengerang tertahan antara ingin dan kesakitan

"Rasakan!"

"eyy! Itu keji sayang, bagaimana jika dia tidak bisa berdiri lagi." Sehun sengaja menggesekan miliknya ke paha Luhan dibalas pekikan tak percaya dari istrinya "Astaga OH SEHUN!"

"ha ha ha ha….."

"Berhenti tertawa! Kau benar-benar menyebalkan—minggir! Aku mau turun."

Tentu percuma jika Luhan membuat gerakan yang tidak disetujui Sehun, dia hanya akan berakhir duduk manis di meja riasnya sementara Sehun tertawa puas untuk beberapa saat lalu mencium kening Luhan sebagai permintaan maafnya "Maaf sayang, aku hanya berusaha agar wajah cemas yang membuatmu terlihat sangat buruk rupa itu hilang. Sekarang aku serius, ada apa?" katanya merasa lebih lega karena Luhan tak lagi menampilkan wajah cemasnya, Sehun bahkan mengusap sayang wajah mulus tanpa cela milik sang istri hanya untuk mendapat jawaban

"Aku hanya mengkhawatirkanmu."

"Karena?"

"entahlah, tiba-tiba saja."

Tak tahan, Sehun membungkukan tubuhnya, menangkap bibir mungil Luhan dan menggigitnya lembut "nghh~" Luhan mengerang lalu Sehun kembali bertanya "Lalu bagaimana denganmu?"

"Apa?"

"Kau baik-baik saja?"

"Aku masih mempesona, jadi ya! Aku baik-baik saja."

Keduanya tertawa bersama sampai Sehun lagi-lagi mengeluarkan pernyataan menyebalkan untuk Luhan "Sayangnya tidak Lu, menurutku kau sedikit gemuk karena kehamilan anak kita, jadi kau tidak mempesona."

"astaga! Tega sekali kau—MINGGIR!"

Pekikan Luhan adalah yang terbaik, bahkan mengalahkan desahannya saat di tempat tidur, itu hiburan tersendiri untuk Sehun yang semakin mencintai istrinya, dia kemudian memeluk erat tubuh istrinya yang terus meronta.

Seraya tertawa tak henti, Sehun berbisik "Tapi hanya kau yang bisa mengendalikan pria sepertiku, aku akan mati jika terjadi sesuatu padamu."

"Sehun…"

Merasa lebih tenang, Luhan tidak lagi berteriak dia justru berbalik memeluk Sehun begitu erat, menyuarakan ketakutan yang sama jika terjadi hal buruk pada suaminya "Aku juga akan mati jika hal buruk terjadi padamu."

"Kalau begitu kita harus berjanji saling menjaga, tidak saling melepaskan walau apapun yang terjadi."

"Ya, kita akan melakukannya." timpal Luhan mengecupi tengkuk Sehun, memberi kenyamanan untuk suaminya sampai Sehun melepas pelukan mereka dan mengatakan hal konyol lagi

"Apa kau tahu satu hal penting lagi Lu?"

"Apa?"

"Sekalipun kau tidak mempesona lagi, kau tetap akan menjadi satu-satunya pria yang bisa membuat "nya" berdiri."

"Membuat "nya" berdiri? siapa yang kau bicarakan?"

Tak tahu malu Sehun mengambil tangan Luhan, membawanya untuk menyentuh kejantanannya yang mulai mengeras dibalas ekspresi tak percaya dari Luhan "Omo! Bagaimana bisa? Sejak kapan?"

"entahlah, Sepertinya sejak kau berlari ke pelukanku."

"Dari awal?"

"Dari awal." Timpal Sehun bangga dibalas ketakjuban Luhan yang mulai memijat lembut kejantanan suaminya "Tapi bagaimana bisa?"

"Mungkin karena kau terlalu seksi, memakai piyama tidur yang begitu pendek dan tipis, itu cukup merangsang gairahku!"

"Kau yang memintaku memakai piyama kesempitan ini!"

"Tapi tanpa pakaian juga lebih cantik."

"sssh…."

Luhan mengerang gemas sementara dua kakinya mulai mengunci pinggang Sehun yang terlihat sangat memujanya "Satu kata tentang diriku?"

Tanpa ragu Sehun menjawab "Sempurna." Membuat semburat merah terlihat di wajah Luhan yang kini mulai bermain di dada suaminya "ish! Aku benci dibuat merona Oh Sehun."

"Tapi kau tersenyum sayang-…ouch~"

Sehun menyalakan lampu rias di meja Luhan sementara istrinya memukul kencang lengan dadanya, keduanya sama-sama tertawa sampai cahaya temaram dari lampu rias Luhan sama-sama menyinari wajah keduanya.

Terpesona,

Mungkin itu yang dirasakan Sehun saat melihat Luhan, begitupula saat Luhan melihat Sehun. keduanya saling menatap penuh cinta hingga akhirnya Sehun tidak bisa menahan diri dan mulai mengunci Luhan dengan kedua tangan yang masing-masing bertumpu di meja rias istrinya.

Sehun terhipnotis, dia juga kehilangan akal sehatnya mengingat semakin dirasakan maka semakin tak terhingga pula cintanya pada Luhan, dia mempertaruhkan segalanya termasuk hidupnya hanya untuk membuat ciptaan Tuhan yang begitu sempurna didepannya tersenyum, tertawa dan tak menatapnya penuh luka karena rasa kecewa.

"Perasaanku saja atau kau memang terlihat semakin cantik sayang?"

"Sehun kau mulai lagi, kita harus bicara dan-…..hnggh~"

Seperti biasa, jika Sehun tidak fokus maka semua yang dikatakan Luhan akan percuma, bukan suara Luhan yang didengarnya, tapi gerakan Luhan mengerucutkan bibirnya saat kesal adalah hal yang begitu seksi di dunia ini, untuk Sehun

Kemudian, seperti biasa pula, Luhan tidak bisa menolak bagaimana lidah panjang suaminya mencoba untuk mengeksplor dirinya lebih dan lebih, jadilah dia membuka lebar bibirnya, membiarkan Sehun bermain sepuasnya di rongga mulutnya dan melakukan hal yang bisa membuat suaminya senang.

Luhan juga bersedia untuk membuat suasana lebih panas, disela ciuman panas Sehun untuknya, tangannya tidak tinggal diam, dia melucuti satu persatu kemeja yang digunakan suaminya, perlahan, sensual diiringi suara penyatuan dari bibir mereka hingga Luhan sampai di kancing terakhir dan dengan sengaja mengusap sensual dada bidang yang selalu membuatnya hangat di tempat tidur

"ah~"

Sebagai respon Sehun menggigit kencang bibir Luhan, membuat desahan keduanya menggema di kamar super mewah yang disediakan Sehun untuk Luhan sampai akhirnya Sehun menyerah, dia melepas ciuman mendamba dari bibir istrinya untuk bertanya, memastikan.

"apa-…Apa kita boleh bercinta?"

"huh?"

"Luhan, aku tidak bisa menahan diri lagi, tapi jika itu berbahaya untuk anak kita aku bersedia berhenti dan melanjutkannya di kamar mandi, seorang diri."

Luhan terkekeh, dia bahkan sengaja memijat penis Sehun menggoda sampai erangan terdengar dari bibir suaminya "Kalau begitu selesaikan sendiri, aku menunggu di tempat tidur."

Dengan bibir mengerucut kesal, Sehun hanya bisa mengangguk pasrah dan mulai melepas seluruh pelukannya pada Luhan "Baiklah." Katanya memelas lalu terdengar suara Luhan yang tertawa begitu bahagia "ya, ya tertawa saja Nyonya Oh, nanti jika aku sudah boleh menjamahmu kau akan menangis karena aku akan melakukannya dengan kasar!" katanya kesal, berniat pergi ke kamar mandi sampai tangan Luhan menarik lengannya.

Posisi mereka kembali berhadapan, lucunya, Luhan juga sengaja memajukan tubuhnya dan mengangkan lebar hingga membuat kejantanan Sehun tepat menggesek kebagiang lubangnya

"Kau mau pergi kemana?"

"Ke kamar mandi! Kemana lagi aku bisa pergi?"

"Kau kesal?" Luhan bertanya lagi, semakin menekan kejantanan Sehun ke daerah sensitifnya dibalas erangan tak tahan dari Sehun "tidak….hmmh~"

"Aku tidak dengar."

"Aku tidak kesal, ini untuk kebaikan anak kita jadi aku hanya akan menahan diri."

"Lalu kenapa kau menahan diri?"

Oh lihatlah, Luhan bahkan sengaj membungkuk, menggigit gemas dua tonjolan cokelat milik suaminya hingga membuat nafas Sehun benar-benar tidak beraturan dan sangat berat "Lu….hhngg~"

"Jawab aku dulu, kenapa?"

"Karena dokter bilang anak kita belum cukup kuat jika menerima hentakan kasar."

"Memangnya kau akan melakukannya dengan kasar?"

"Apa?"

"Jika aku mengijinkan kau mengambilku, apa kau akan melakukannya dengan kasar?"

"Tergantung seberapa banyak kau membuatku bernafsu, tapi selama kita bercinta aku selalu kehilangan kontrol atas diriku."

Jawaban polos Sehun sukses membuat Luhan semakin gemas, kini giliran dia yang mengambil tangan Sehun, membawanya untuk mengusap perut tempat anak mereka tumbuh seraya mengatakan "Kau bisa melakukannya dengan kasar lagi setelah bayi kita lahir, mulai sekarang sampai nanti aku melahirkan lakukan dengan perlahan."

"huh?"

Sehun merespon penuh harap, lalu Luhan memberikan jawaban menyenangkan seraya mengecupi bibir dan seluruh wajahnya "Kau boleh mengambilku sayang, ayo lakukan."

"Benarkah?"

"Ya, tentu saja, aku juga tidak tega melihat suamiku menyelesaikan urusan yang menjadi tanggung jawabku di kamar mandi, seorang diri."

"Tapi kata dokter-…."

Luhan menarik cepat tengkuk Sehun, menyatukan lagi dua bibir mereka dengan tangan yang begitu lihai menjamah dada suaminya, memilin dua tonjolan kecil Sehun lalu melepas lagi ciuman lembut Sehun untuk mengatakan "Bodoh, Aku dokternya, jadi berhenti mengatakan hal bodoh dan hanya lakukan yang harus kita lakukan. Omong-omong ini sudah dua bulan kau menahan diri, jadi lakukan sebanyak yang kau inginkan tapi lakukan dengan—Sehun!"

Bagaimana bisa Luhan menolak betapa lembut dan penuh kejutan setiap kali Sehun mengambilnya, mereka bahkan sudah melakukannya tak terhingga sejak usia mereka tujuh belas tahun sampai malam ini percintaan mereka menghasilkan buah cinta mereka.

Sehun selalu melakukannya dengan lembut tapi tidak mengurangi betapa intens dia menginginkan tubuh mereka menyatu, selalu seperti itu hingga rasanya Luhan dibuat sangat bergairah disaat dia bertingkah seolah hanya Sehun yang bergairah.

"Sehun, perlahan, jangan bertindak gila."

Sedikit kasar Sehun membaringkan Luhan ke tempat tidur, menyingkirkan anak poni yang menutupi wajah sempurna istrinya seraya berbisik "Aku memang gila, tergila-gila padamu."

Suara nafas Sehun sudah sepenuhnya berat, dipenuhi nafsu, begitu juga dengannya, Luhan bahkan sudah membuang kemeja suaminya lalu beralih pada jeans ketat yang digunakan Sehun saat pergi.

Dia ingin melepasnya cepat, tapi apadaya ukuran tubuh Sehun lebih besar darinya hingga sulit untuknya bergerak bebas seperti yang dilakukan Sehun padanya.

"Wae? Apa yang kau inginkan?"

Berbeda dengan Sehun yang dengan mudah melucuti Luhan, maka sang istri hanya bisa menatap kesal karena Sehun masih menggunakan jeans yang sangat mengganggu "Lepas."

"Apa?"

"Aku bersumpah lain kali akan memilih jeans lebih besar untukmu."

Sehun tertawa gemas, dia kemudian melepas jeans yang dikenakan untuk membuangnya asal ke lantai hingga kini tubuh mereka sama polos sementara baju-baju mereka mungkin sedang menangis karena tergeletak di lantai

"Nah, sekarang kau hanya perlu menikmati apa yang aku lakukan."

Tiba-tiba Sehun merangkak kebawah, mengecup perut Luhan yang buncit lalu berbisik konyol "Papa akan melakukannya dengan lembut, jangan marah dan jangan buat Mama kesakitan, deal?" katanya berbicara dengan perut buncit Luhan lalu semakin turun hingga kebawah.

Incaran Sehun adalah paha mulus istrinya, dia mengecupi dari jemari kaki hingga ke paha dalam Luhan, sontak hal itu membuat Luhan semakin gila karena sensasi yang diberikan Sehun terlalu nikmat untuknya "rrhhh~" tak bisa mencakar punggung suaminya, Luhan melampiaskan dengan mencengkarm sprei yang ada di sampingnya, menikmati seluruh kecupan Sehun dibagian senstif tubuhnya sampai dirinya dibuat menggelinjang tatkala bibir panas Sehun sedang mengulum penisnya yang begitu mendamba ingin disentuh

"ah~"

Luhan mendongak, matanya terpejam erat seiring cepatnya kuluman Sehun di penisnya, Demi Tuhan, sejak dua bulan yang lalu, semenjak Luhan dinyatakan hamil oleh dokter, hal yang dilakukan Sehun dan Luhan untuk melampiaskan gairah mereka adalah dengan saling mengulum.

Harusnya dia sudah terbiasa, tapi tetap saja, bibir panas Sehun terlalu memacu nafsu dan adrenalin Luhan, ini terlalu banyak, hingga akhirnya tubuh Luhan melengkuk keatas sementara hisapan terakhir Sehun di penisnya begitu kuat memancing klimaks pertamanya malam ini

"Sehun—aah~nghhmmph~"

Sehun dengan senang hati membersihkan kekacauan yang dibuatnya, dia juga mengelap sudut bibir yang dipenuhi cairan sang istri hanya untuk kembali merangkak dan menatap semburat merah di wajah istrinya "Aku tidak tahu kau benar-benar sangat sensitif sayang."

Luhan tidak mengindahkan cibiran Sehun, yang dia lakukan hanya menarik tengkuk Sehun lalu menjulurkan lidahnya, menggoda, disambut hisapan bergairah Sehun bunyi khas ciuman mereka kembali memenuhi ruang temaram dengan jendela yang sengaj dibuka hingga memperlihatkan indahnya salju yang sedang turun perlahan.

"Aku memujamu sayang."

Dirasanya, Sehun bisa merasakan detak jantungnya dan Luhan sama-sama begitu kencang, mereka masih berdebar walau nyatanya ini adalah malam kesekian mereka bercinta, dan mengetahui hal itu hanya membuat keduanya semakin bernafsu dan tak berniat untuk menyudahi dengan cepat percintaan panas mereka.

Sehun takluk, terlalu takluk pada mahluk cantik dibawahnya, dia terus melumat dengan tempo berbeda, kadang cepat, kadang menuntut, kadang lembut dan seperti sekarang ini, Sehun sedang melumat kasar seolah tak memberi ampun.

Tak tanggung, dia juga sengaja menggesekan kejantanannya yang semakin keras ke perut Luhan, seolah memberitahu istrinya bahwa dia sudah lebih dari siap untuk menyatu dengan tubuh istrinya lalu berbisik, meminta izin pada istrinya "Boleh ya?" katanya tak sabar dan terus menggesekan kejantanannya.

Hal itu membuat Luhan terkekeh, direngkuhnya lagi tengkuk sang suami untuk membalas "Lakukan, aku siap."

Bak, mendapat undian lotre, Sehun begitu bersemangat, sekali lagi dan untuk terakhir kali sebelum memasuki istrinya dia mengecup bibir Luhan, lidah mereka saling mendorong seperti gaya tolak menolak magnet, tak ada yang mau mengalah tapi seperti biasa Luhan kalah dan membiarkan Sehun menyesapnya lebih banyak

Mereka terus berciuman begitu dalam, dan seolah mengalihkan perhatian Luhan, diam-diam tangan Sehun turun ke bawah, dengan kedua kakinya dia juga sengaja membuat Luhan mengangkang lebar dan segera memasukkan jari tengahnya ke hole Luhan sebagai persiapan.

"ah~"

Luhan memekik, melengkungkan tubuhnya saat jari Sehun berada di dalamnya, suaminya juga tidak berbaik hati untuk membiarkannya terbiasa karena yang dilakukan Sehun adalah bergerak mengikuti irama dengan satu persatu dua jarinya yang lain bergabung memberi kenikmatan yang tak bisa diungkapkan Luhan dengan kata-kata.

"Sehun…."

Desahan Luhan tidak terdengar oleh Sehun, tapi dengan senang hati Sehun melepas ciumannya untuk memberi udara bagi pria mungilnya, hanya ciuman yang dia lepaskan, tidak dengan ketiga jari yang kini bergantian memaksa masuk ke dalam tubuhnya, Sehun menikmati bagaimana bibir Luhan terbuka mencari udara, matanya terpejam saat ketiga jarinya mulai menemukan bagian paling sensitif yang menjadi targetnya.

Semuanya terlihat begitu sempurna untuk Sehun, istrinya juga terlihat sangat cantik sampai tak lama Luhan mengerang "Kumohon."

"huh?"

Dua mata cantik Luhan terbuka, kemudian dia memelas menatap Sehun hanya untuk mengatakan "Do me….now, please."

Tidaktidak…Istirnya tidak boleh memohon, ini hal yang keduanya inginkan, bukan hanya Luhan bukan pula hanya dirinya. Jadi saat Luhan terdengar sangat memohon, Sehun dengan senang hati berada posisinya tepat di atas Luhan.

Tak lupa dia mengalungkan kedua tangan Luhan dilehernya, memberi akses agar Luhan bisa mencakar dan mencengkram kuat tubuhnya sementara dia mempersiapkan sang istri.

Sehun mengeluarkan tiga jarinya, sebagai gantinya, dia memposisikan sesuatu yang lebih besar tepat di lubang Luhan.

"Perlahan,"

Luhan mengingatkan, jujur dia cemas, karena mau bagaimanapun ini percintaan pertama mereka dengan bayi di perutnya, dia hanya tidak ingin menyakiti buah cinta Sehun tapi tak ingin membuat suaminya kecewa pula.

Jadilah dia hanya bisa menarik nafas pasrah, membiarkan Sehun bermain di sekitar pintu masuk hole nya sebelum suaminya mulai menekan, mencari posisi terbaik untuk mendorong kejantanannya masuk kedalam seraya berbisik "relax sayang, aku akan masuk."

Dan setelahnya, dalam satu hentakan kuat namun tidak terlalu kasar, Sehun berhasil masuk, belum sepenuhnya tapi Luhan bisa bernafas lega karena setidaknya Sehun menepati janji untuk bermain lembut.

"Aku akan memasukannya lebih dalam lagi."

Sehun memberitahu, dibalas anggukan Luhan yang kini menarik tengkuk suaminya, dia tidak ingin merasakan sakit, dan sebagai pengalih perhatian dia meminta Sehun untuk menciumnya sementara kejantanan Sehun semakin melesak kedalam hingga akhirnya

"AKH~"

Luhan memekik, kuku jarinya mencakar kuat punggung Sehun sementara dibawah sana, mereka kembali menyatu sepenuhnya, keduanya sama-sama mengatur nafas sampai tak sengaja perut six pack Sehun menyentuh perut istrinya yang membuncit

"Dia tidak marah kan?"

"tidak, ayahnya menepati janji." Timpal Luhan mencium Sehun, keduanya sama-sama tersenyum sampai Luhan lebih dulu memberi perintah "Sehun, bergerak."

"Aku akan melakukannya perlahan sayang."

Sehun seperti membuat jarak dengan Luhan, dia fokus pada bagian bawah miliknya yang sedang bersarang di dalam lubang istrinya, mengambil gaya push up, Sehun mulai mengeluarkan setengah dari kejantanannya lalu mulai mengentak lagi disertai erangan nikmat keduanya

"Lu / nghh~"

Setelahnya, Sehun bergerak menyesuaikan kemampuan Luhan menerima hentakan dari kejantanannya, sesekali Luhan akan meringis sakit, tapi kemudian dia memerintahkan agar Sehun lebih cepat dan lebih dalam.

Sehun mulai mempelajari bagaiamana posisi dia mendorong agar tidak membuat Luhan kesakitan. Tidak terlalu sulit karena dalam waktu singkat hanya terdengar suara nafas mereka bersahutan dengan bunyi decit kasur yang mengiringi.

"Sehunna…deep, hmmhh~"

Ah, dan jangan lupakan suara desahan Luhan yang membuat suasana semakin panas, posisinya sedang on top, tapi yang membuat Sehun begitu bergairah adalah saat wajah Luhan mendongak menatap langit-langit.

Awalnya dia bergerak naik dan turun sendiri, tapi hanya selang satu menit dia merengek lelah hingga Sehun harus memegang pinggangnya, membantunya bergerak turun dan naik sementara Luhan terus mengusap perut buncitnya sementara dibawah sana kedua tubuh mereka sedang menyatu dengan suara khas yang membangkitkan gairah.

"haah~Sehun aku sampai—ah~"

"oh tidak babe, Kau mulai mengetat." Sehun sedikit kesulitan dengan posisi ini, jika Luhan berada on top dan dia akan mencapai klimaks, maka dinding rektum istrinya akan menjepit dua kali lebih ketat, hal itu membuatnya kewalahan hingga terpaksa menukar posisi dan melebarkan lagi dua paha Luhan.

Memasukkan cepat penisnya yang terlepas lalu menghentak dalam tempo sama hingga dirasa dinding rektum Luhan mulai menjepit kejantanannyadan tak lama "Sehunna—nghh~"

Dada Luhan membusung, dengan senang hati Sehun mengecup dua nipple istrinya yang begitu menggoda seraya membiarkan Luhan mencapai klimaksnya "Sayang, aku benar-benar menikmatinya."

Luhan terengah, mengecupi bibir Sehun sementara suaminya tak memberikan banyak waktu sebelum akhirnya kembali bergerak.

Lagi, Luhan hanya terbaring pasrah, menikmati ketampanan Sehun saat bergerak diatasnya dan menghentak semakin dalam, hal itu membuat Luhan sengaja mengetatkan lubangnya sampai dirasa penis Sehun membesar didalam tubuhnya tanda sang suami akan mencapai klimaksnya.

"Aku akan mengeluarkannya di luar—hhmh~"

Buru-buru Luhan mengunci pinggul Sehun, tidak membiarkan Sehun mengeluarkan diluar dan hanya memberi perintah "Keluarkan didalam, sekarang." Katanya ikut menikmati sensasi Sehun saat akan mencapai klimaks hingga akhirnya

"Luhan—mmpphh~"

Sehun tidak bisa menahan klimaksnya lebih lama lagi, terlebih saat nada memerintah Luhan terdengar sangat seksi dan berhasil membuatnya klimaks didalam istirnya, keduanya masih mengatur nafas, posisi Sehun juga masih menindih Luhan sampai tak lama dia bergerak dan menatap istrinya "Boleh lagi?"

Luhan menatap horor sauminya dan menjawab tegas "Cukup hari ini!"

"Tapi…."

Sehun kembali mengukung Luhan, dia juga melebarkan paha istrinya sementara Luhan sekuat tenaga menolak, meski percuma

"Sehun lepas, aku—aah~"

Sepertinya Luhan harus terlentang pasrah lagi, pasalnya kejantanan Sehun sudah kembali mengeras, suaminya juga tanpa ragu melesakkan lagi penis besar ke tubuhnya hingga kasur mereka kembali bergoyang karena gerakan Sehun kali ini lebih kuat dan lebih cepat dari yang pertama.

"ah~"

Jadilah Luhan hanya bisa mendesah pasrah dan memaklumi bahwa stamina Sehun lebih dari cukup mengingat keduanya sudah tidak bercinta selama dua bulan.

"Aku mencintaimu, jangan marah padaku Lu."

Wajahnya memelas, tapi tidak dengan gerakan tubuhnya dibawah sana, Sehun tidak menunjukkan penyesalan sekalipun karena terus menghentaknya tanpa henti hingga membuat Luhan tertawa gemas dan menarik tengkuk suaminya, mengecup bibir penuh goda milik Sehun untuk membalas "Aku lebih mencintaimu sayang."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan pagi,

.

Seperti biasa, Luhan akan bangun lebih dulu, lalu disusul protes Sehun yang kesal jika ditinggalkan sendiri di tempat tidur.

Katakanlah Luhan juga sudah mulai terbiasa dengan rutinitasnya sebagai seorang istri dan calon ibu, jadi saat Sehun merengek dan mengekorinya seperti saat ini dia hanya bisa pasrah dan membujuk agar suaminya berhenti merajuk hanya karena tidak melihat wajahnya saat membuka mata.

"Kau tahu aku sangat benci ditinggalkan, aku bisa saja menghukummu lagi, morning sex mungkin?"

"ayolah! Jangan bercanda sayang! Kau bahkan baru benar-benar berhenti pukul satu pagi, aku masih lelah dan sakit."

Luhan mulai kesal, dia juga tida menyangka resiko memberikan hati pada Sehun akan melunjak jadi meminta jantung saat diberikan hati.

Hal itu membuat Sehun terkekeh, sebenarnya dia baru saja memasukkan satu jarinya ke lubang Luhan, berharap istrinya terangsang tapi dihadiahi pukulan dari panci omelete yang sedang digunakan Luhan.

Dia akhirnya terpaksa mengeluarkan jarinya untuk mendapati cairan sperm miliknya masih tersisa begitu banyak di tubuh Luhan, membuatnya merasa bersalah lalu menunjukkan niat setulus hatinya untuk membersihkan tubuh istrinya

"Kalau begitu biarkan aku membersihkan tubuhmu Lu."

"Tidak terimakasih, kita tahu akhirnya akan seperti apa."

"Aku hanya akan membersihkannya, janji."

"Tidak! Habiskan sarapanmu sayang, aku benar-benar lelah berdebat."

Luhan meletakkan omelete dan roti di meja makan, dia juga melepas pelukan super erat suaminya untuk mendorong si bayi besar yang kini topless dan hanya menggunakan boxer ketat untuk duduk di meja makan dan menghabiskan sarapannya.

"Kau mau susu atau teh hangat?"

Tak tahu malu, Sehun menunjuk dua nipple Luhan yang terkespos bebas dari piyama tidur yang dia kenakan untuk mengatakan "Susu Lulu!"

"ASTAGA! KAU BENAR-BENAR MESUM OH SEHUN!"

Buru-buru Luhan menutupi dadanya, berjalan kembali ke dapur dan membuatkan teh hangat untuk suaminya "Teh saja, agar pikiran mesum hilang dari kepalamu!"

Sehun menyesap teh hangat buatan Luhan, meletakkan cangkir gelasnya didepan sang istri lalu melipat tangan di atas dada "Kenapa tidak makan?" Luhan bertanya, dan Sehun menjawab benar-benar tak tahu malu "Suapi."

"Sehun…." Luhan menampilan wajah paling kesal yang bisa dia tunjukkan dibalas tatapan kesal Sehun untuknya "Yasudah aku mandi saja."

"araseo! Duduk bayinya Lulu, nanti Lulu suapi."

Sehun menyeringai menang, sementara Luhan mulai memotong omelete nya menggunakan pisau dan garpu "Pakai tangan saja, maunya pakai tangan!" Sehun protes lagi sementara Luhan harus mendesah sabar jika tidak ingin berakhir melempar apron kesayangannya ke wajah sang suami.

Akhirnya dia meletakkan kesal pisau dan garpu lalu memotong omelete menggunakan tangannya "Bilang aaa…."

Sehun membuka lebar-lebar mulutnya, melahap rakus tangan Luhan lalu mengunyah omelete favorit buatan istrinya "Lezat?"

Dengan mata bulan sabitnya, Sehun menjawab "Sangat." Hingga membuat hati Luhan meleleh karena tingkah Sehun benar-benar menggemaskan.

"Nanti jika bayi kita lahir aku tidak bisa sering-sering menyuapimu sayang."

"SAYANGNYAKAUHARUSMENYUAPIKU."

Mulutnya penuh makanan, tapi si tuan protes tetap menyuarakan protesnya hingga membuat Luhan tertawa "Tapi jika anak kita menangis bagaimana?"

"Tidak apa, ayahnya akan menunggu dengan sabar, aaaa…."

Sehun membuka lebar mulutnya dan Luhan memberikan suapan terakhir untuk suaminya "Bagaimana jika bayi kita tidak mau dilepas hingga malam."

"Ayahnya akan menunggu sampai malam kalau begitu."

"sshh…Kau membuat kepalaku sakit jika manja seperti ini!"

"Lu…."

Sehun merengek lagi, memberikan tatapan super memelas yang dia miliki hingga membuat Luhan kalah telak untuk mengatakan "Baiklah, dengan atau tidak ada adik bayi aku akan memprioritaskan suamiku, bagaimana?"

"Setuju, tapi adik bayinya juga diprioritaskan, ya?"

Satu suapan terakhir, Luhan mencium bibir suaminya, beranjak membawa piring kotor ke dapur sementara Sehun menghabiskan teh buatan istrinya "Baiklah, baiklah, adik bayi dan ayah Sehun akan memiliki prioritas yang sama." Luhan bergumam pasrah sementara Sehun tertawa gemas melihat betapa Luhan mati-matian menahan kesal hanya untuk mengalah padanya.

Dia bahkan berniat untuk membuka lagi mulutnya, sampai menyadari dua koper besar yang diletakkan Luhan di dekat meja makan "Sayang."

"hmhh?"

"Kenapa ada dua koper besar?"

"ah, Lusa kita kembali ke Seoul, kau tidak lupa kan?"

Sehun gugup, buru-buru dia mendekati Luhan untuk memastikan ucapan istrinya "Kembali ke Seoul? Untuk apa?"

"Baekhyun melahirkan dan aku tidak akan melewatkan kehadiran anak keduaku kan? Lagipula aku merindukan Taeoh!"

Pastikan kau tidak kembali ke Seoul dalam waktu dekat!

Tiba-tiba ucapan Doojoon teringat, membuat Sehun begitu cemas dan terpaksa mengatakan "Aku rasa kita tidak akan kembali ke Seoul dalam waktu dekat, tidak untuk kelahiran putra Baekhyun atau bahkan menemui Taeoh! Kita hanya akan tinggal disini sampai aku bilang kita bisa pergi."

Gerakan Luhan terhenti, dia menangkap kecemasan di suara suaminya, membuatnya mematikan kran air lalu melepas apron yang digunakan "Sayang? Apa yang kau bicarakan? Kau sudah janji padaku."

"Ya, dan aku sedang melanggarnya. Suka atau tidak kita akan tetap menetap disini! Tidak pergi ke Seoul sampai aku mengatakan bisa pergi ke Seoul!" tegasnya lalu bergegas meninggalkan Luhan untuk menghindari pertengkaran dnegan istrinya.

"Jadi benar kau menyembunyikan sesuatu dariku?"

Sehun berhenti melangkah, suara Luhan terdengar berat saat ini, istrinya juga terdengar menangis dan itu membuat Sehun sesak bernafas, dan saat mata mereka kembali bertemu maka terlihat kemarahan yang sepertinya disimpan Luhan untuk waktu yang lama.

"Aku tidak menyembunyikan apapun darimu Lu!"

"BOHONG! PIKIRMU AKU TIDAK MENYADARI BAHWA KAU BERTINDAK BEGITU EGOIS SETELAH PERNIKAHAN KITA? KAU MEMBATASI SELURUH KEGIATANKU, APA YANG AKU INGINKAN! AKU TIDAK PERNAH MENGELUH KARENA MEYAKINI KAU MELAKUKAN SEMUA INI KARENA INGIN MELINDUNGIKU, KELUARGA KITA!"

"Luhan, tenang."

"TAPI SEMAKIN BERLALUNYA WAKTU SIKAPMU SEMAKIN MENCURIGAKAN, KAU SEPERTI MENYEMBUNYIKAN BANYAK HAL DARIKU DAN AKU BENCI MENGATAKAN JIKA KAU SEDANG BERBOHONG PADAKU!"

"Luhan….sayang, kau harus tenang."

Sehun berjalan mendekat tapi Luhan mundur menjauhinya, yang dilakukan istrinya hanya terus berteriak tanpa menyadari bahwa wajahnya sudah begitu merah karena tidak bisa mengatur nafasnya dengan baik.

"AKU TIDAK PEDULI DENGAN APA YANG KAU LAKUKAN! APA YANG KAU SEMBUNYIKAN! AKU HANYA INGIN PULANG KE SEOUL SEBENTAR SAJA, AKU—rhhh~"

"SAYANG!"

Dan tepat seperti tebakan Sehun, Luhan pasti mengalami kontraksi jika terlalu memaksakan dirinya, istrinya kini terduduk dilantai sementara dirinya bergegas menarik lengan Luhan dan memeluknya erat "sshh…Tenang sayangku, maafkan aku."

"aku—Aku hanya ingin pulang sebentar Sehunna, hanya sebentar, hkssss…."

Luhan menangis pilu, nafasnya masih tersengal seiring rasa sakit di perutnya, dia tahu tidak seharusnya berteriak pada Sehun, tapi menurutnya Sehun sudah melarangnya terlalu jauh dan itu memicu kemarahan baru yang disimpannya sejak lama.

"aku—AKU INGIN PULANG SEHUN, AKU MERINDUKAN TEMAN-TEMANKU."

"sstt…Baiklah sayang, baiklah, Kita akan pulang ke Seoul, hanya berhenti berteriak, kau menyakiti dirimu sendiri Lu."

"hksss…."

Sehun tak bisa menggambarkan bagaimana cemas dirinya saat menyetujui untuk kembali ke Seoul, perasaannya buruk mengenai kedatangan mereka ke tempat yang dipenuhi masa lalu mengerikan dan dendam yang terus menghantui.

Tapi apa yang bisa dilakukan dirinya jika itu keinginan Luhan? Jika rasa rindu Luhan pada rumahnya sudah begitu besar? Sehun tahu Luhan sudah terlalu banyak menahan diri semenjak berstatus menjadi istrinya, kesabaran Luhan terlalu besar sampai akhirnya dia bersikap egois dan mengatur semua hal sesuai kehendaknya tanpa mempedulikan kebahagiaan istrinya.

"Kita akan pulang, benarkah?"

Luhan sudah lebih tenang sekarang, dia juga tidak lagi marah pada Sehun, sebaliknya, dia justru merangkak ke pangkuan suaminya lalu bersandar di dada bidang yang selalu membuatnya hangat untuk mengucapkan janji "Aku akan baik-baik saja."

Tak tahan, setengah terisak Sehun memeluk erat istrinya, mengecupi surai Luhan lalu menagih janji istrinya "Kau harus baik-baik saja, aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu padamu."

Kini Luhan menangkup wajah suaminya, membaca kecemasan yang tertulis jelas di wajah tampan Sehun lalu menunduk, mengecup bibir suaminya seraya mengatakan "Aku janji."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seoul hospital, two days later

.

.

"Yang benar saja! Kalian hanya akan tinggal selama tiga hari?"

"Ya."

"Ayolah Sehun! tambahkan menjadi seminggu!"

"Tidak!"

Bukan Jongin dan Sehun jika tidak berdebat saat bertemu, mereka juga tidak terlihat ingin berdamai atau bahkan mengecilkan suara saat little Jiwon berada di pelukan Luhan. Yang mereka lakukan hanya terus berteriak hingga membuat Kyungsoo dan Luhan memutar bola mata tanda begitu jengah dengan kelakukan super kekanakan dari Sehun dan Kai.

"Ma, Papa bertengkal dengan Samchoon?"

"Abaikan mereka nak,"

Kyungsoo menggendong putra pertama dan satu-satunya dari pria yang sedang bertengkar dengan sahabat kecilnya, mengabaikan tingkah kekanakan Sehun dan Kai lalu mendekati Luhan yang sedang duduk disamping Baekhyun seraya menggendong bayi pertama Baekhyun dan Chanyeol.

"Taeoya lihat! Sekarang Taeoh menjadi hyung."

Luhan menunjukkan wajah merah si bayi yang baru berusia dua hari, menciumnya gemas lalu disambut wajah Taeoh yang memaksa ingin mencium adik bayi "Jiwonnie anyyeong, hyung disini!"

Ketiga pria cantik itu tertawa gemas hingga mencuri perhatian dari dua pria tampan yang sedang bertengkar, sekarang fokus mereka berada pada putra kecil Baekhyun yang sepertinya akan memiliki sifat Baekhyun mengingat sedari tadi Jiwon terus menangis dan baru berhenti menangis satu menit yang lalu.

"Lu, sayang."

"Ada apa?"

Luhan menjawab panggilan suaminya lalu menatap sedikit keangkuhan tersirat dari wajah dingin pria yang sudah mengencaninya sejak kecil "Tidak perlu terlalu terpesona, anak kita akan melebihi dua anak mereka, mempesona dan menggemaskan."

"Sehun!"

Luhan memperingatkan suaminya sementara Kyungsoo, Baekhyun dan Kai kompak menjawab "oh ayolah! Yang akan membuat anakmu menggemaskan adalah karena Luhan bukan karena pria kaku sepertimu!"

"Mwo?!"

"ha ha ha…."

"Luhan jangan tertawa." Sehun mendekati istrinya, mencium paksa bibir yang berani menertawakannya hingga membuat Baekhyun buru-buru mengambil bayinya jika tidak ingin berakhir Luhan melepas pelukannya karena lemas dicium pria menyebalkan seperti Sehun.

"sssh….Mereka berdua masih menyebalkan!"

"Selalu!"

"Selamanya!"

Ketiga yang lain tampak kesal sementara yang disindir hanya sibuk saling melumat sampai suara pintu terbuka dan menampilkan Chanyeol bersama Doojoon memasuki ruangan

"Sayang, kau sudah merasa lebih baik?"

Baekhyun mengangguk kecil menjawab pertanyaan Chanyeol sebelum beralih pada Doojoon "Professor Yoon."

Baik Luhan maupun Sehun menampilkan ekspresi yang berbeda, keduanya sama-sama tidak menyukai keberadaan Doojoon, tapi apadaya jika mereka berhutang terimakasih karena Doojoon turun langsung saat Baekhyun mengalami pendarahan di sela persalinannya.

"Hay Dokter Byun, Dokter Do dan aku melihat ada kau Dokter Xi atau Dokter Oh, mungkin?"

"Tidak perlu berbasa-basi, kau mengganggu sejujurnya." Timpal Sehun meremehkan, dia juga bisa merasakan tangan Luhan mencengkram lengannya, membuat perhatian Doojoon teralihkan.

"Lama tidak melihatmu Lu!"

Tak tahan, Sehun mencengkram jas putih Doojoon lalu mendesis "Jangan mencoba untuk memulai percakapan dengan istriku! Itu membuatku muak dan sangat marah Yoon Doojoon!" katanya menarik Doojoon keluar ruangan diikuti Kai dan Chanyeol yang berjaga-jaga agar Sehun tidak berbuat nekat dan berlebihan.

"Sebenarnya ada apa? Kenapa Sehun terlihat sangat membenci Professor Yoon?"

Luhan hanya diam, tidak menggubris apapun dan mengambil kesempatan untuk bergegas pergi

"Luhan? Kau akan pergi?"

"Ya, sebentar saja, katakan pada Sehun aku akan segera kembali."

"Tapi kemana kau akan pergi?'

Luhan memakai mantel tebal dan melilitkan syal di lehernya, dia juga tersenyum untuk mengatakan "Kantor kejaksaan, ayah Sehun ingin bertemu denganku."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kejaksaan tinggi Seoul, 15.00 KST

.

Tok…tok…

"Ya?"

Klik

Tak lama pintu terbuka, menampilkan asisten pimpinan Jaksa di kantor kejaksaan yang sepertinya sedang fokus pada beberapa dokumen. Suara langkah kaki sang asisten terdengar berhati-hati melangkah, seolah tidak ingin mengganggu konsentrasi Jaksa yang dikenal selalu memenangkan beberapa kasus walau nyatanya memiliki banyak kasus yang disembunyikan di masa lalu.

"Jaksa Oh?"

"Ada apa?"

"Seseorang ingin bertemu dengan anda."

"Siapa?"

Berbeda dengan pria yang sedang mengandung cucu dari sang jaksa agung yang terhormat, dia terlihat tidak peduli, entah mengganggu atau tidak, yang dia inginkan hanya kepastian bahwa suaminya baik-baik saja dan mengakhiri segala kecanggungan yang sudah menyiksanya sejak pertama dia menginjakan kaki di kantor kejaksaan.

"Oh Luhan, menantu anda."

Barulah goresan pena Insung terhenti, buru-buru dia melepas kacamata baca yang dia gunakan untuk mencari keberadaan Luhan, hatinya sesak pilu karena terlalu rindu, tapi saat mata mereka bertatapan Insung bisa bernafas lega karena Luhan bersedia datang dan bertemu dengannya.

"Tinggalkan kami berdua dan jangan biarkan siapapun menggangguku hari ini."

"Baik sajang-nim."

Dan kini tinggalah Luhan bersama pria yang terlalu banyak mencampuri urusan keluarganya di masa lalu, terlalu banyak, salah satunya hal yang bersangkutan dengan Donghoon yang membuat nyawa ayah dan ibunya terenggut dalam waktu singkat.

"Luhan, anakku, terimakasih kau sudah bersedia datang nak."

Luhan menolak untuk beradu kontak fisik dengan ayah mertuanya, jadilah Insung hanya bisa memeluk udara dalam hampa sementara tatapan Luhan untuknya masih dipenuhi kemarahan bahkan tersirat kebencian tak termaafkan.

"Bisakah kita langsung pada point yang ingin anda bicarakan? Ada apa dengan Sehun? Apa anda berniat untuk mengganggu suamiku?"

Insung tersenyum sendu seraya bergumam "Suamimu adalah anakku Luhan, aku tidak akan melakukan hal gila untuk menyakitinya, sungguh." katanya memelas dibalas tatapan dingin Luhan yang tak bergeming dari tempatnya.

"Baiklah, lupakan apa yang aku katakan, duduklah lebih dulu Luhan."

Kali ini Luhan tidak menolak, dia segera mengambil tempat di depan ayah mertuanya hanya untuk mendengarkan ucapan basa-basi dari pria paruh baya yang merupakan sahabat mendiang ayahnya.

"Bagaimana kabarmu nak? Sehun? ah, ayah juga mendengar kalau kau sedang hamil, apakah benar?"

"…"

Seluruh pertanyaan Insung hanya dijawab diam oleh Luhan, tak ada minat untuk bercakap lebih lama dengan seseorang yang tidak dia sukai menjadi alasan Luhan hanya untuk diam, dia juga menghindari kontak mata sebanyak mungkin sampai suara nafas yang begitu berat terdengar dari Insung yang terdengar memelas

"Baiklah, apapun itu ayah ikut bahagia untukmu dan Sehun, datanglah berkunjung kerumah jika kau sempat Lu." katanya membujuk dibalas tatapan jengah dari Luhan "Bisakah kita langsung pada point yang ingin kau bicarakan? Atau sebenarnya tidak ada hal yang perlu kita bicarakan?"

"Tidak Lu, Banyak hal yang kita bicarakan, terutama mengenai Sehun."

Saat nama suaminya disebut, barulah Luhan menunjukkan minatnya, dia mulai memperhatikan apa yang dicari ayahnya sampai sang jaksa membawa map berwarna biru yang diletakkan di mejanya.

"Jika ayah bisa memilih ayah tidak ingin melibatkanmu nak, tapi sepertinya ayah tidak bisa melakukannya tanpamu."

"Melakukan apa?"

Tak lama Insung mencari sesuatu dari dalam map tersebut, Luhan juga bisa melihat tangan ayahnya gemetar hebat sampai sebuah dokumen ditunjukkan padanya.

"Apa ini?"

"Bacalah."

Luhan mulai fokus mempelajari dokumen yang ditunjukkan padanya, mencari tahu apa maksud dari dokumen tersebut sampai matanya menangkap nama suaminya dijadikan saksi atas keterlibatannya dengan…..Donghoon?

"A-apa ini?"

"Awalnya status Sehun hanya menjadi saksi, tapi pihak kejaksaan menaikkan statusnya menjadi tersangka karena beberapa kali dia terlihat bersama Doojoon. Kau tahu pria itu bekerja untuk Donghoon bukan?"

"Lalu apa hubungannya dengan Sehun?"

Luhan terlihat pucat, begitupula Insung, lalu tanpa ragu ayahnya mengeluarkan selembar foto yang menunjukkan Sehun sedang bersama pria yang Luhan ketahui adalah Doojoon "Beberapa kali Sehun terlihat bersama Doojoon, dia juga beberapa kali memberikan keterangan palsu pada pihak kejaksaan. Jelas mereka merencakan sesuatu dan itu sangat berbahaya untuk Sehun."

"Apa maksud ayah?"

Insung terlihat cemas, dia melihat ke sekeliling ruangan seolah memastikan tidak ada yang mendengarnya sampai tak lama dia berbisik "Jika Sehun terus membantu Doojoon, untuk alasan apapun dia akan dijadikan tersangka karena menyembunyikan keberadaan Donghoon, kau harus melakukan sesuatu nak."

"Lalu kenapa kalian tidak menangkap Doojoon? Atau Seunghyun? Kenapa kalian membiarkan mereka berkeliaran dengan bebas?"

"Kami tidak bisa melakukannya karena percuma, hingga saat ini tidak ada yang mengetahui dimana bajingan itu berada."

"rrhhhh! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tiba-tiba Sehun berhubungan dengan Doojoon?"

Hal itu membuat seluruh kepala Luhan sakit, perutnya bahkan terasa mual menerima semuanya terlalu cepat, kemudian raut cemas terlihat dari Insung yang kemudian menenangkan Luhan "Tenanglah nak, ayah akan melakukan segala cara untuk melindungi suamimu."

Lalu Luhan membalasnya dengan senyum keji untuk mengingatkan siapa Insung di masa lalu dan saat ini, tak ada perbedaan dan akan melakukan segala cara untuk melindungi putranya "Anda tidak pernah berubah Jaksa Oh, tapi aku harap kali ini kau benar-benar melindungi suamiku." Katanya menahan mual tanpa tahu bahwa saat ini seseorang sedang mendengarkan seluruh percakapan mereka dengan alat sadap yang dipasang di ruangan kepala Jaksa dari kejaksaan tinggi Seoul.

Ruangannya hanya berjarak satu meter dengan ruangan Jaksa Oh, keduanya juga sama-sama memiliki wewenang dan posisi besar di kejaksaan, yang membedakan hanya usia mereka, jika Insung sudah memasuki usia setengah abad lebih, maka pria yang dikenal dengan kekuatan analisis terhebatnya di usia muda tengah menghubungi seseorang.

Di mejanya tertulis Pengacara Kejaksaan Kim Wonshik. Dan ya, kekuatan terbesar Donghoon untuk tidak tertangkap memang berada di tangan pria dengan skill membunuh dan bisa menutupinya tanpa cela seperti seorang Kim Wonshik, atau yang biasa mengenalkan dirinya dengan nama

"Ravi?"

"Aku memiliki berita baik untukmu Presdir Ko."

"Apa? Katakan dengan cepat!"

"Kemenanganmu terjadi lebih cepat."

"Apa maksudmu?"

Ravi mengetukan beberapa kali mejanya untuk menyeringai dan mengatakan dengan bangga "Luhan disini, di kantor kejaksaan."

"Mwo? Apa kau yakin?"

"Sangat, dan aku rasa dia tetap menyembunyikan usb itu, dia belum memberikannya pada Jaksa Oh."

Yang tidak diketahui Ravi adalah bahwa Jaksa Oh sedikit bertindak lebih cerdik darinya, dia sudah menyembunyikan usb yang diberikan Luhan untuknya, bertindak seolah-olah dia belum mendapatkan usb itu hanya untuk memancing ketidawaspadaan Donghoon dan mengatur seluruh pergerakannya.

"Persetan dengan usb itu! Jika bajingan kecil itu berakhir, aku aman dan seluruh pihak sialan dari kejaksaan tidak bisa memberikan hukuman dan larangan berpergian ke luar negeri, habisi Luhan atau kau akan berakhir sama dengan Seunghyun dan Doojoon."

"aw, tidak perlu mengancamku Presdir Ko, aku akan melakukannya hari ini, tapi tidak pada Luhan, Jaksa Oh cukup menggangguku dan aku akan memulai dengannya lebih dulu."

"Terserah padamu! hanya lakukan dengan cepat!"

Pip!

Dan saat Donghoon menutup panggilan ponselnya, Ravi segera menanggalkan jubah kebanggannya, dia menggantinya dengan jaket kulit hitam, lalu memasang sarung tangan lengkap dengan kacamata hitamnya, dia kemudian mengambil kunci mobil, menunggu salah satu mangsanya keluar dan menghabisi mereka dengan cepat.

.

.

.

.

.

.

.

.

Klik

.

Setidaknya wajah mereka tidak lebam, itu artinya mereka tidak bertengkar dengan salah satu dokter yang sangat berpengaruh di Seoul Hospital, Kyungsoo mendekati kekasihnya lebih dulu sementara Chanyeol masih memegang lengan Sehun untuk membuatnya tenang sampai menyadari bahwa Luhan tidak ada di dalam ruangan.

"Sayang, dimana Luhan?"

Tap!

Sehun berhenti melangkah, refleks Chanyeol ikut berhenti melangkah, yang membedakan hanya cara mereka mencari Luhan. Jika Chanyeol masih bertanya, maka tatapan Sehun sudah sepenuhnya kalut dipenuhi ketakutan

"LUHAN! DIMANA LUHAN!"

"Sehun tenanglah! Luhan hanya pergi sebentar."

"Mwo? Astaga" Sehun mendekati Kyungsoo, tangannya mulai mencengkram pundak Kyungsoo lalu bertanya dengan kondisi sangat lemas "kemana—KEMANA DIA PERGI? KATAKAN PADAKU SOO!"

"Sehun…sakit."

Kyungsoo merintih, lalu dengan satu gerakan cepat Kai mendorong tubuh Sehun dan membawa Kyungsoo ke pelukannya "Tenanglah! Luhan akan segera kembali!" Kai menenangkan Sehun sementara entah mengapa, jauh di lubuk hatinya dia juga merasa sangat cemas.

"KEMANA LUHAN PERGI!"

Habis sudah kesabaran Sehun, dia terus berteriak hingga akhirnya Kyungsoo dan Baekhyun mengatakan kemana Luhan secara bersamaan "Dia pergi ke kejaksaan / Luhan menemui ayahmu."

"Mwo?"

Kyungsoo kemudian membenarkan pernyataannya dan Baekhyun untuk memberitahu Sehun dimana Luhan "Dia pergi ke kantor kejaksaan, menemui ayahmu."

Wajah Sehun sepenuhnya pucat, dia bahkan kehilangan akal sehatnya sebelum berlari secepat mungkin untuk membawa kembali istrinya.

"sial….SIAL!"

Dia memilih tangga untuk berlari, namun sialnya dia kembali bertemu dengan Doojoon, kali ini arah mereka berlawanan, tapi yang membuat Sehun bertanya-tanya adalah kepalan tangan Doojoon serta wajahnya yang begitu pucat, entahlah, tapi sepertinya sesuatu terjadi sampai sang Profesor berlari mendekatinya dan

BUGH!

Doojoon memukul telak wajah Sehun untuk berteriak "SUDAH KUKATAKAN UNTUK TIDAK KEMBALI KE SEOUL! KAU MELANGGARNYA DAN KINI MEMBIARKAN LUHAN BERKELIARAN SENDIRI KE KANTOR KEJAKSAAN! Aku—AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU HIDP JIKA MEREKA BERHASIL MENDAPATKAN LUHAN KALI INI!"

Sehun mengabaikan pukulan Doojoon, seluruh fokusnya hanya berada pada ekspresi Doojoon yang begitu ketakutan saat nama Luhan disebutkan "apa-….apa yang kau bicarakan?"

"PERINTAHNYA SUDAH KELUAR! RAVI ADA DISANA UNTUK MENGHABISI LUHAN!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kita akan bicara setelah kau lebih siap mendengarkan Luhan."

"Ya, aku akan menguatkan diriku lebih dulu, tapi aboji…."

Luhan merendahkan suaranya, seolah memohon, meminta agar pria yang dipanggilnya ayah saat ini benar-benar akan menepati janji padanya "Ya, ada apa Lu?"

"Berjanjilah kau akan melakukan segala cara untuk melindungi suamiku. Aku tidak peduli cara apa yang akan anda lakukan, tapi kumohon, jangan biarkan Sehunku terluka hati dan tubuhnya."

Bagaimana bisa Insung memiliki niat untuk menjauhkan Sehun dari Luhan, jika nyatanya cinta yang dimiliki Luhan untuk Sehun begitu besar, begitu tulus, lalu dia menyesali pertengkaran dan rasa bencinya pada mendiang Li Chen hanya untuk menunduk tak berani menatap pada Luhan.

"Ya, ayah janji nak, sekarang kau bisa pulang dan beristirahat." Katanya membukakan pintu taksi untuk Luhan, tersenyum berpamitan lalu bersiap untuk menyebrang jalan.

"Harusnya anda tidak perlu mengantarku."

"Ayah tidak memiliki banyak kesempatan untuk berinteraksi denganmu dan Sehun, jadi hanya sekedar mencarikan taksi bukan masalah besar untuk ayah."

"Baiklah, terimakasih."

Insung menutup pintu taksi untuk Luhan, membiarkan Luhan sejenak menunggu sementara dirinya berbicara dengan si supir taksi, Insung juga memberikan beberapa lembar won sebagai alat pembayaran mengantar Luhan sebelum kembali mengetuk jendela taksi tempat Luhan berada "Ya?"

"Hati-hati djalan nak."

Luhan hanya mengangguk singkat, kembali menaikkan kaca jendela sementara diam-diam matanya memperhatikan Insung yang sedang bersiap menyebrang jalan. Mata Luhan terlalu fokus memperhatikan Insung hingga tanpa sadar bibirnya memanggil sosok pria yang begitu dia rindukan sebagai ayahnya

"aboji…."

BLAM!

"Maaf membuat anda menunggu lama Tuan, apa anda siap?"

Luhan menghapus cepat air matanya lalu menjawab serak "y-Ya, aku siap." Katanya memberi aba-aba hingga tak lama terdengar suara mesin dinyalakan.

Sekilas matanya masih fokus pada ayah Sehun, lalu dia memutuskan untuk tidak peduli sampai tak sengaja matanya menangkap mobil hitam dengan kecepatan tinggi yang begitu familiar untuknya.

MAMAAAAAA!

Ya, itu mobil yang sama yang menghantam tubuh kecil ibunya, Luhan yakin, terlalu yakin sampai rasanya dia kehilangan nafas karena sesak.

"andwae…..andwae, papa!"

Terlebih ketika melihat mobil hitam itu melaju cepat ke arah Insung, tubuh Luhan lemas nyaris tak bisa digerakkan.

"Papa…"

Tapi dia tidak bisa membiarkan hal yang sama pada ibunya terjadi pada ayah suaminya "Baiklah, kita berangkat menuju ke-…."

BLAM!

Luhan tiba-tiba keluar dari taksi, membuat sang supir bertanya-tanya hingga matanya menangkap kemana Luhan berlari. Refleks, dia terkejut saat melihat mobil hitam melaju dengan kecepatan tinggi, dia pun segera keluar dari taksi lalu berteriak

"AWAS! BERBAHAYA TUAN!"

Merasa mendegar teriakan, Insung menoleh, namun yang membuatnya terkejut adalah kenyataan bahwa Luhan sedang berlari ke arahnya dan tak lama berteriak

"PAPAAAAAA!"

"Luhan?"

Insung bisa merasakan Luhan menarik kencang lengannya, lalu detik berikutnya terdengar bunyi debuman kasar yang memilukan hingga tak lama terdengar suara teriakan dari beberapa pasang mata yang melihatnya

"AAAAARGHHHHHH!"

Insung terpaku sejenak, dia lemas menyadari tangan Luhan tak lagi mencengkramya, perlahan dia menoleh, berjalan gontai menuju kerumunan untuk menyeruak kedalamnya "Itu bukan Luhan, bukan Luhan." katanya menguatkan diri sampai tak sengaja dirinya menginjak sesuatu seperti darah yang sialnya merupakan milik

"LUHAAAAAAANNNNN!"

Lalu suara teriakan lain terdengar, Insung mengenalinya sebagai suara Sehun, putranya. Dia terdengar sangat panik, mendorong seluruh kerumunan termasuk dirinya.

"Sehun…."

Saat ini semua menjadi hitam untuk Luhan, semua, kecuali bayangan Sehun yang sedang memanggil namanya, dia bahkan sempat menangis menyadari bahwa hari ini dia memberikan luka baru untuk Sehun, luka yang disebabkan karena dia tidak menepati janjinya, dia tidak baik-baik saja karena seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan.

"Sehun, mianhae."

"tidaktidak…..Luhan? Sayangku, ini aku Lu, Luhan jangan tutup matamu sayang, tetap buka matamu, tetap-…..LUHAN!"

"….."

"lakukan sesuatu…..YOON DOOJOON LAKUKAN SESUATU!"

Sialnya, dia dan Sehun datang terlambat ke area kantor Kejaksaan, sialnya pula Ravi sengaja memakai mobil yang sama yang digunakannya untuk membunuh ibu Luhan, seolah ingin mengingatkan siapa dirinya dan pada siapa hidupnya bergantung.

Doojoon bahkan bisa melihat seringai kecil dari spion mobil, membuat tangannya terkepal dipenuhi amarah mengingat Donghoon mengingkari janjinya untuk tidak menyentuh Luhan.

"sial….!"

Bisa saja dia mengejar Ravi, tapi kemudian suara Sehun terdengar begitu ketakutan hingga membuatnya mau tak mau menerima rasa sakit melihat tubuh mungil Luhan tergeletak tak memberikan respon di pelukan suaminya.

"YOON DOOJOON!"

Buru-buru Doojoon menghapus air matanya, menyeruak kerumunan untuk memberikan intsruksi pada Sehun "Minggir!"

Dia mengambil alih Luhan, memeriksa kondisi vital yang begitu lemah, tangannya gemetar untuk membuat kontak mata dengan Sehun lalu tak lama berteriak "PANGGIL AMBULANCE! CEPAT!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Beruntung Doojoon berada disana, mengatur segala hal yang tak bisa dilakukan Sehun sebagai pertolongan pertama, beruntung juga dia bisa memberi celah nafas untuk Luhan mengingat wajah istrinya sudah berubah menjadi biru kekurangan oksigen.

Kini mereka berada di rumah sakit, dengan seluruh wewenang yang dimilikinya Doojoon memanggil seluruh dokter terbaik termasuk Kyungsoo untuk berada di ruang operasi. Dia juga segera membawa Luhan masuk ke ruang gawat darurat dengan Sehun yang kembali mencengkram Doojoon, memperingatkan.

"Jangan lakukan hal mengerikan pada Luhan, kau dengar?"

Satu hempasan kasar Doojoon berhasil menjauhkan Sehun untuk membalas tak kalah keji dan terluka "Aku akan mempertaruhkan segalanya untuk membuat Luhan kembali." Katanya sarkas lalu memasuki ruang gawat darurat.

Sehun juga bisa melihat Kyungsoo yang sangat terpukul tapi tetap harus mengikuti jalannya operasi Luhan, dia mengerling Sehun seolah menguatkan walau nyatanya dia yang paling ketakutan "Tolong Luhan Soo, jebal…"

Sehun memohon, Kyungsoo kemudian menepuk pundak sahabatnya untuk berpamitan masuk ke ruangan "Aku juga akan melakukan segala hal untuk membawa Luhan kembali." Katanya serak dan tak lama menyusul Doojoon masuk ke dalam ruangan.

.

.

.

"rrrhh~"

Rasanya ini adalah dua jam paling menyiksa yang harus dilewati Sehun. Dia tidak sendiri, ada Kai dan Chanyeol yang menemani, dia juga menyadari ada sosok ayahnya yang berada tak jauh darinya.

Satu-satunya orang yang bisa disalahkan Sehun jika nanti terjadi sesuatu pada Luhan, pada istrinya "Luhan, Luhaaan…."

Berkali-kali nama Luhan disebutnya, berkali-kali pula Sehun merasa ada sebilah pisau yang menancap dalam di hatinya, kenyataan bahwa tangannya dilumuri darah Luhan hanya memperburuk kondisi mentalnya, ditambah kenyataan Luhan sedang berjuang didalam sana sementara dirinya hanya bisa duduk tanpa bisa melakukan apapun.

"Sehun!"

Chanyeol memberitahu Sehun bahwa seseorang telah keluar dari ruang gawat darurat, Itu Doojoon diikuti Kyungsoo sebagai asistennya. Entahlah, raut wajah keduanya tidak membuat keadaan menjadi lebih baik.

Membuat Sehun ragu untuk bertanya sampai akhirnya suara Kai yang lebih dulu terdengar "Bagaimana sayang? Luhan?"

Kyungsoo tidak menjawab, mata sembabnya seolah menjelaskan banyak hal yang terjadi didalam sana, dia hanya tertunduk, bibirnya gemetar dan tubuhnya lemas nyaris terjatuh jika Kai tidak menangkapnya "ADA APA SEBENARNYA?" Kai berteriak marah, melihat pada Doojoon yang seluruh tatapannya ada pada Sehun.

"Luhan bertahan, kondisinya kritis tapi dia akan baik-baik saja."

"haah~"

Sehun menjadikan Chanyeol tempat untuknya berdiri, dia juga bisa merasakan kelegaan terdengar dari sahabatnya karena keduanya memiliki rasa sesak dan rasa takut yang sama.

Mereka mengira semua sudah baik-baik saja, tapi kemudian Doojoon melanjutkan kalimatnya dengan mengatakan hal gila yang menghancurkan harapan Sehun "Tapi maaf, bayimu tidak bertahan. Dia adalah alasan Luhan bisa bertahan hidup, bayimu melindungi ibunya tapi dia tidak bertahan."

"Mwo?"

Tak hanya Sehun, Kai dan Chanyeol menampilkan raut pucat yang sama, air mata ketiganya jatuh bersamaan sementara Kyungsoo terisak pilu di pelukan Kai "Aku tidak bisa menyelamatkan anak Luhan sayang, kondisinya sangat lemah didalam sana, mianhae, MAAF SEHUNNA!"

Kyungsoo menjerit hebat di pelukan Kai, membuat luka Sehun semakin dalam hingga tak bisa mengucapkan satu kalimat apapun. Hatinya hancur, harapannya seketika dibuat hancur dalam waktu singkat.

"akh~"

Dia tidak bisa bernafas dengan baik, semuanya terasa sesak, lalu tak lama dia melihat sosok itu berjalan ke arahnya, dipenuhi air mata juga namun Sehun melihatnya sebagai omong kosong.

"Nak, maafkan papa—maafkan….."

Sehun melepas pegangan Chanyeol di pundaknya, dia membutuhkan seseorang untuk disalahkan dan orang itu berada tepat di depan matanya, tatapan Sehun terkunci pada sosok yang hampir tiga puluh tahun berstatus sebagai ayahnya.

Tangannya terkepal hingga Sehun berdiri tepat di depan pria yang dia panggil ayah selama bertahun-tahun "Kenapa bukan papa saja yang mati? Kenapa harus anakku?"

"Sehun…."

Sontak, ucapan Sehun cukup menohok sampai ke bagian terdalam hati Insung, dan mungkin tak hanya Insung. Kai, Chanyeol, Kyungsoo bahkan Doojoon bisa merasakan kemarahan mengerikan yang diberikan Sehun untuk ayah kandungnya.

"Kenapa-…..KENAPA BUKAN PAPA YANG MATI? KENAPA HARUS ANAKKU? tidak, HARUSNYA PAPA YANG MATI BUKAN ANAK-….."

"OH SEHUN!"

BUGH!

Kini hantaman kencang kembali dirasakan Sehun diwajahnya. Adalah Yunho, kakaknya yang datang dan memukul tepat di wajahnya, Sehun kemudian tersungkur di lantai, mencoba mencari kesadarannya lalu memperhatikan bagaimana seluruh keluarganya berkumpul seolah merayakan kehilangan atas buah cintanya dengan Luhan.

"Sehun, anakku."

Jihyo menangis di pelukan Jaehyun yang terlihat terpukul, sementara Yunho sedang berdiri melindungi ayah mereka dengan air mata dan luka yang memenuhi wajahnya, semua terluka tanpa terkecuali. Tapi kemarahan Sehun seolah membutakan hati kecilnya hanya untuk terus menyalahkan dan menyakiti dirinya sendiri.

"tsk! Kalian semua datang? Ha ha ha~ KENAPA KALIAN SEMUA DATANG! KENAPA MAMA DATANG! Pergi—PERGI KALIAN SEMUA—AAAAARGHHHH~anakku, hkssss…..anakku, Luhan…..LUHAAAAAN!"

Yang tidak diketahui Sehun adalah kenyataan bahwa di dalam sana, jauh dari alam sadarnya Luhan juga sedang menangis, berduka atas kehilangan buah cinta mereka.

Dan yang tidak Sehun ketahui bahwa kenyataan Luhan menitikkan air mata disaat kesadaran masih jauh dia dapatkan, samar dia mendengar suara Sehun memanggilnya penuh duka, ingin Luhan memeluk suaminya, membagi luka bersama.

Namun apadaya dia terlalu takut membuka mata, menerima kenyataan bahwa Sehun terluka karena dirinya, dia tidak menepati janji untuk baik-baik saja. Dan yang paling mengerikan Luhan membuat kesempatan Sehun menjadi ayah hilang karena gagalnya dia menjaga diri.

Dia bertanya-tanya akan semarah apa Sehun padanya nanti, dia juga tidak berani membayangkan bagaimana caranya dia berdamai dengan Sehun nanti, entahlah, Luhan terlalu takut menghadapi Sehun hingga membuat kondisi vitalnya turun secara drastis.

"Tekanan darah menurun, denyut nadi lemah! Dokter Xi! CEPAT PANGGIL PROFESSOR YOON!"

Tak lama Doojoon masuk kedalam ruangan, mencari tahu apa yang terjadi pada Luhan sampai dia menyimpulkan bahwa Luhan mengalami syok anafilaktik akibat pengaruh dan kondisi psikisnya "Luhan jebal, apa yang sedang kau lakukan disana?"

Doojoon cemas, seluruh kondisi vital Luhan melemah hingga membuatnya harus bertindak dengan memberikan vial pemicu adrenalin agar kondisi Luhan lebih tenang "Tenanglah Lu."

Perlahan kondisi Luhan stabil bersamaan dengan suntikan yang diberikan Doojoon untuknya, hal itu membuat Doojoon memberi perintah untuk pengecekan setiap tiga jam pada Luhan.

Kini dia sedang memeriksa denyut nadi Luhan, semuanya hampir stabil, Doojoon juga memutuskan untuk membiarkan Sehun menemani Luhan sebelum menyadari Luhan sedang bergumam dalam tidurnya, awalnya dia tidak mendengar lalu samar dia bisa mendengar Luhan bergumam "Sehun….maafkan aku."

Terdengar begitu lirih, hingga membuat kepalan di tangan Doojoon begitu erat dan memutuskan untuk memberikan pelajaran pada Ravi untuk tidak menyentuh Luhan jika dia ingin masih bermain sebagai jaksa sekaligus pengacara ternama di Seoul.

"Apa pria bernama Ravi yang melakukannya?"

Doojoon tersentak, dia kemudian melihat Sehun berjalan mendekati Luhan lalu menangis pilu melihat kondisi Luhan yang begitu lemah, sesaat dia ragu untuk mehahan amarahnya, tapi ketika Doojoon membenarkan "Ya, Ravi yang melakukannya." maka tangan Sehun juga terkepal begitu erat dipenuhi amarah seolah siap membunuh siapapun yang menyentuh miliknya, Luhannya.

"Nanti, jika kau akan menghabisi Ravi, pastikan aku ada disana."

Terdengar sangat mengerikan, terlalu mengerikan. Permintaan Sehun adalah yang paling mutlak untuk dituruti, lagipula percuma tidak mengikutsertakan Sehun karena pasti dia akan melakukannya lebih dulu.

Jadi Doojoon hanya mengatakan "Ya, aku akan memberitahumu." Sebagai jawaban, keduanay dipenuhi amarah, Sehun terutama. Tapi lagi, yang tidak Sehun ketahui adalah kenyataan bahwa Luhan memberikan respon dengan kepalan tangan bersamaan dengan niat Sehun untuk membunuh seseorang.

.

.

.

.

.


.

tobecontinued

.


.

.

.

Seperti yang kukatakan, ini dua chap dijadiin satu, jadi pelan-pelan aja bacanya, santai, biar ga cepet-cepet nagihnya kkkk~

.

alesan kenapa baru di UP jam sgini ya karena gue baru mulai ngetik kamis malem, jadinya deadline abis buat JTV, kkk~ yang penting masi hari sabtu yekaan :*

.

Jangan gumoh ya, jarang-jarang kok dua chap jadi satu gini,

Eniway, welcome our Sweet Ravi wkwkwkw, dan dua cast lain yang akan menyusul di chap depan, guess who?

,

Wait ya, See u

.

lovemuch