Previous
"Nanti, jika kau akan menghabisi Ravi, pastikan aku ada disana."
Terdengar sangat mengerikan, terlalu mengerikan. Permintaan Sehun adalah yang paling mutlak untuk dituruti, lagipula percuma tidak mengikutsertakan Sehun karena pasti dia akan melakukannya lebih dulu.
Jadi Doojoon hanya mengatakan "Ya, aku akan memberitahumu." Sebagai jawaban, keduanay dipenuhi amarah, Sehun terutama. Tapi lagi, yang tidak Sehun ketahui adalah kenyataan bahwa Luhan memberikan respon dengan kepalan tangan bersamaan dengan niat Sehun untuk membunuh seseorang.
.
.
Je'Te Veux
.
.
.
Main cast : Lu Han as Xi Luhan
Oh Sehun as Oh Sehun
Rate : T-M
.
.
.
.
.
.
.
.
Memasuki hari ketiga Luhan terbaring di rumah sakit, semua masih sama dan tak ada perubahan berarti, Luhan masih terbaring tak sadarkan diri sementara Sehun masih enggan menemui istrinya, dia selalu datang ke rumah sakit, tapi bukan untuk menemani Luhan, keberaniannya hanya sampai di pintu kamar istrinya, selebihnya dia memutuskan untuk menjaga dari balik pintu kamar Luhan berharap pria yang selalu menderita karena bersamanya segera membuka mata, segera mendapatkan kebahagiaan walau bagian terburuknya bukan bersama dirinya.
Entahlah,
Terlalu banyak hal yang memenuhi kepalanya, dia juga tidak tahu harus mengatakan apa saat Luhan bangun nanti, kemarahannya, kehilangannya, ketakutannya, semua cukup membuat Sehun merasa menjadi pria paling menyedihkan yang membiarkan istrinya terluka tepat di depan kedua matanya.
Bukan hanya Luhan, dia juga membiarkan harapan mereka akan kehadiran si kecil menjadi tidak mungkin karena kelalaiannya menjaga Luhan. Dan jika boleh menyuarakan isi hatinya, kehilangan dan luka Sehun semakin dalam seiring berlalunya hari semenjak istrinya dilukai oleh bajingan bernama Ravi.
Klik…..
Pintu kamar Luhan terbuka, sekilas Sehun menoleh untuk mendapati Kyungsoo yang terus memeriksa keadaan Luhan dan dirinya. Sahabat sekaligus dokter kedua yang menangani Luhan itu hanya bisa menatap sendu saat melihat punggung Sehun yang terasa jauh dengan kepala yang selalu tertunduk seolah kehilangan kepercayaan diri untuk menemui istrinya sendiri.
"Sehunna."
"hmh?"
"Masuklah."
"Tidak, aku akan tetap berada disini."
"Tapi Luhan mencarimu."
Refleks, Sehun mendongak, menatap mata Kyungsoo penuh harap. Bibirnya tercekat tak berani berharap sampai Kyungsoo sendiri yang bersuara untuk memberi kabar bahagia untuknya
"Luhan sudah membuka matanya, dia mencarimu Sehun."
Mengabaikan semua hal yang mengganggu di kepalanya, Sehun menyeruak masuk kedalam, dia terburu-buru, kakinya seolah bergerak sendiri tanpa kendali, jantungnya berdebar dua kali lebih cepat sampai akhirnya dia berada disana, tepat di depan Luhan yang kini sedang menatap lembut padanya.
"Sa-yang…."
Suaranya serak bergumam lirih, tatapannya sendu diiringi air mata, tangannya yang diperban berusaha untuk menggapai Sehun dibalas isakan tak tega dari suaminya, kepala Sehun tak tertunduk lagi, hatinya remuk redam hancur tak berkeping melihat bagaimana dua mata cantik istrinya menatap sendu.
Apa yang harus aku katakan?
Dia menjerit dalam hati, melihat bagaimana tubuh mungil Luhan dipenuhi luka membuatnya hampir gila dan kehilangan kontrol atas dirinya, dia bahkan tergoda untuk menghabisi dengan keji bajingan yang telah membuat prianya dipenuhi luka lengkap dengan cidera kepala yang membuat istrinya harus menggunakan perban di kepala.
"Sehunna…."
Sehun kembali mengangkat wajahnya, membalas tatapan penuh harap dari istrinya sampai hanya tawa disertai isakan yang bisa diberikan Sehun untuk pujaan hatinya "ya-….Ya sayang?"
"Kemarilah, aku sakit."
Bohong jika Sehun tidak merasakan sakit yang dirasakan Luhan, bohong jika semua luka yang menggores baik di hati maupun di tubuh Luhan tidak menyakitinya, Luhan bahkan terlalu tegar mengingat kemungkinan terburuknya dia juga sudah mengetahui fakta bahwa mereka berdua telah kehilangan buah cinta yang dinanti.
"Sehun…."
Merasa terlalu lama membuat Luhan menunggu akhirnya Sehun berlari mendekati pujaan hatinya, menggapai tangan Luhan untuk kemudian memeluk satu-satunya orang yang begitu dia cintai di dalam hidupnya, seolah meminta perlindungan yang seharusnya dia berikan untuk Luhan, bukan dirinya
"Mianhae..arh~….anakku, anak kita, maaafkan aku, Lu…haarh~"
Disana, Sehun sedang terisak di pelukan istrinya, menumpahkan segala ketakutan, kehilangan dan rasa marahnya bersama satu-satunya orang yang bisa mengendalikan dirinya, yang bisa membuatnya bersikap seperti manusia normal, dan satu-satunya orang yang bisa menenangkan disaat hatinya begitu kacau hanya tangan lembut yang kini sedang mengusap tengkuknya, berusaha untuk terlihat tegar walau kenyataannya dialah yang menerima sakit lebih banyak.
"ssttt….Tidak apa sayang, ini-…Ini bukan salahmu, tidak apa."
Dan disana, Luhan sedang memerankan perannya sebagai seseorang yang bisa menenangkan hati suaminya yang dipenuhi kemarahan dan kehilangan terbesar di hidup mereka, mengatakan tidak apa, walau rasa sesak di hatinya juga tak kunjung hilang dari awal dia membuka mata hingga mengetahui bahwa tak ada lagi kehidupan yang bertahan di dalam dirinya, yang tumbuh di dalam dirinya, semua kehilangan itu cukup membuat dirinya terpukul hebat sampai dia menyadari bahwa dari semua kehilangan, Sehun yang paling tidak bisa mengendalikan diri dan akan menyalahkan dirinya semakin jauh jika dia menunjukkan kehilangan yang dirasakannya.
"Tidak apa sayang, kita akan pulang." Lirihnya memejamkan mata, membiarkan beberapa tetes air matanya jatuh lalu kembali mengecup tengkuk Sehun seraya menguatkan suaminya "Kita akan baik-baik saja."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BUGH!
"SUDAH AKU KATAKAN JANGAN LUHAN! JANGAN LUHAN DAN KAU SENGAJA MELAKUKANNYA DI DEPAN MATAKU! BAJINGAN!"
Di tempat lain, tepatnya di sebuah gudang tua yang berisikan beberapa anggota khusus dari orang-orang pilihan Donghoon, terlihat Ravi sedang tersungkur dengan wajah dipenuhi darah, namun alih-alih merasa sakit atau ketakutan dia justru terlihat menyeringai seolah sedang merayakan kemenangannya atas kemarahan Doojoon padanya.
"Bajingan! APA YANG KAU TERTAWAKAN?!"
Doojoon mencengkram kasar pakaian Ravi, bersiap untuk menghabisi bajingan kecil di depannya sampai Ravi kembali menyeringai dan sengaja memancing amarah Doojoon dengan mengatakan "aku menang, Aku nyaris membunuhnya, pujaan hatimu Yoon Doo-…."
"AARGGHHHHH!"
Doojoon kehilangan lagi akal sehatnya, yang dia inginkan hanya menghabisi Ravi saat ini, mungkin benar Ravi akan mati hari ini jika pintu gudang itu tidak terbuka dan menampilkan suara khas dengan tongkat yang dihentakkan cukup kuat.
Doojoon tahu suara itu namun dia abaikan, yang dia lakukan hanya berniat membunuh Ravi sampai suara itu berteriak marah padanya
"YOON DOOJOON!"
Satu kepalan terhenti, Doojoon sekilas melihat Donghoon sedang berteriak murka padanya, namun kemudian seringai menjijikan Ravi kembali ditunjukkan dan hanya memancing kemarahan. Dia mengabaikan tatapan murka Donghoon untuk kembali menyerang Ravi secara sadis.
"Jika kau menyentuh Luhan lagi, kau akan berhadapan dengan akhir hidupmu! KAU DENGAR BAJINGAN—kau dengar-…."
"TOP!"
"Menyusahkan."
Kemudian Seunghyun yang datang bersama Donghoon diperintahkan untuk menghentikan perkelahian konyol dua orang partnernya, dia kemudian menarik lengan Doojoon sedikit menghempas lengannya untuk berteriak "CUKUP! Oke? Kau sangat berlebihan!" katanya jengah lalu sedikit menatap bengis Ravi yang masih menampilkan seringai menjijikannya "Dan kau, sebaiknya kau tahu dimana posisimu! Doojoon tidak akan segan membunuhmu!"
"cih!"
Ravi mendecih jijik, dia kemudian berjalan gontai mendekati Donghoon seraya bergumam bangga atas dirinya "Setidaknya aku bukan sampah seperti kalian."
"What the…"
Seunghyun bergumam marah sementara Doojoon berusaha menyerang Ravi lagi jika tidak dihalangi Seunghyun yang sedang mati-matiannya menahan tubuhnya "Tenanglah." Katanya mendesis, memperingatkan Doojoon walau berakhir harus mendengarkan omong kosong lagi dari Ravi.
"Kalian selalu menganggap diri kalian mengerikan, tapi apa? Kalian bahkan tidak bisa membunuh satu pria yang nyatanya sangat mudah dipermainkan pikiran dan hatinya, jika dari awal tugas ini berada di tanganku, pasti kita tidak mengalami kerugian besar seperti yang terjadi saat ini, kalian terlalu lemah dan itu sangat menjijikan!"
"HEI!"
Seunghyun berteriak marah, dia bahkan tergoda ingin memberi pelajaran pada Ravi sebelum suara Donghoon ikut terdengar meremehkan "Well…Sayangnya yang dikatakan Ravi adalah kebenaran."
"Mwo?"
Donghoon menatap kedua orang kepercayannya penuh dengan rasa kecewa, tapi kemudian dia tersenyum meremehkan seolah memberi tahu Doojoon dan Seunghyun siapa mereka untuknya saat ini.
"Kalian mengecewakan aku, kau terutama Doojoon! Bagaimana bisa kau nyaris membunuh Ravi hanya karena dia menjalankan perintah langsung dariku! Apa karena dokter sialan itu? Apa—APA KARENA LUHAN HAH!"katanya berteriak seraya mengangkat tongkat menunjuk wajah Doojoon lalu beralih pada Seunghyun "Tapi kau lebih mengecewakan Top!"
"Aku?"
"YA! Beberapa kali kau terus gagal, kau bahkan tidak bisa mendapatkan usb itu padahal kau masuk kedalam kantor kejaksaan!"
"Tugasku hanya membunuh detektif Xi!"
"Dan tanpa bantuanku kau tidak akan pernah mendapatkan kunci di penjara kejaksaan." Timpal Ravi mengingatkan disambut geraman marah oleh Seunghyun "KAU-…."
"Karena hal itu, mulai saat ini."
Doojoon mulai mengatur nafasnya sementara seringai Ravi seolah menjelaskan semuanya "Kalian berdua akan bekerja dibawah perintah Ravi, apapun yang dia katakana baiknya kalian dengarkan Ravi!"
"ck! Bagaimana mungkin dia yang memerintahku? Itu adalah sebuah penginaan dan aku tidak akan mendengarkan bocah sepertinya! Aku benar-benar tidak akan-…."
"THEN PROVE IT!"
Seunghyun terdiam menatap kemurkaan Donghoon, dia kemudian berusaha mendengarkan walau nyatanya dia merasa sedikit takut pada pria tua di depannya "Buktikan jika kalian berguna untukku! BUKTIKAN DAN KALIAN AKAN MENDAPAT KEPERCAYAAN LAGI DARIKU!"
Setelahnya Donghoon pergi diikuti Ravi di belakangnya, meninggalkan Doojoon dan Seunghyun bak pecundang yang tak lagi dibutuhkan "sial! Aku pasti terlihat sangat bodoh saat ini." Seunghyun tertawa kesal sementara Doojoon hanya diam mendengarkan "Apa yang harus kita lakukan? Ravi juga akan menyingkirkan kita mengingat apa yang telah kita lakukan padanya."
"….."
"yak Doojoona…..Jawab aku!"
"…."
"whoa…."
Seunghyun mengepalkan jemarinya, dia membuka kepalan tangannya lagi, lalu menutup lagi seolah masih mencoba bersabar walau rasa sabarnya sudah berada di ujung kepalanya "Kenapa kau hanya diam?"
"….."
"sial! JAWAB AKU YOON DOOJOON!"
Seunghyun mencengkram kuat pakaian Doojoon, kedua mata mereka bertatapan sengit sampai Doojoon lebih dulu menghempas tubuh temannya hanya untuk mengatakan "entahlah, aku tidak ingin melakukan apapun saat ini." Katanya berjalan pergi membuat tawa kesal benar-benar disuarakan Seunghyun saat ini
"HA HA HA…..KAU BENAR-BENAR PECUNDANG YOON DOOJOON! HA HA HA…..kembali…KEMBALI ATAU AKU-…."
BLAM!
Doojoon sangat menutup kasar pintu markas mereka, membuat kemarahan Seunghyun semakin tidak terkendalikan dengan tangannya yang begitu terkepal erat
"atau aku akan menangani semua kegagalanmu seorang diri, dengan caraku, dengan keji."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan setelah hampir dua minggu menjalani perawatan intensif di rumah sakit, Luhan diperbolehkan pulang oleh Doojoon, dengan catatan dia harus melakukan pemeriksaan rutin terkait tulang rusuk di sekitar lengannya yang mengalami cidera serius.
Sehun mengiyakan, menjanjikan agar Luhan menjalani pemeriksaan rutin di Seoul agar istrinya tidak mengalami satu kekurangan apapun.
Dan karena alasan itu pula, Sehun membawa Luhan ke rumahnya yang dulu, beruntung Baekhyun dan Kyungsoo bersedia kembali juga hingga istrinya tidak perlu melewati masa pemulihan seorang diri.
Seperti saat ini misalnya, Baekhyun terlihat sedang memberikan terapi untuk Luhan, dia sengaja melepas perban di lengan kiri istrinya dan meminta Luhan untuk melakukan serangkaian gerakan ringan seperti mengangkat cangkir gelas untuk melatih refleks otot lengan istrinya.
"Oke, lakukan perlahan."
Terlihat Baekhyun duduk berhadapan dengan Luhan, menjaga agar Luhan tidak menjatuhkan cangkir yang sedang digenggamnya sementara disana, Luhan terlihat kesakitan hanya karena secangkir gelas
"Arh-..."
Demi Tuhan itu hanya sebuah cangkir tapi Luhan terlihat sangat menderita, dia juga terlihat sangat kelelahan hingga membuat air mata tanda rasa bersalah itu jatuh membasahi pipi Sehun.
Andai dia terus bersama Luhan hari itu
Andai dia tidak membiarkan Luhan pergi tanpa izin darinya
Andai dia tidak pernah kembali ke Seoul untuk waktu yang lama
Semua tidak akan terjadi
Kecelakaan mengerikan itu, luka di seluruh tubuh Luhan, atau yang paling menyedihkan adalah fakta bahwa dirinya dan Luhan harus kehilangan calon buah cinta mereka.
Andai,
Tapi semua sudah terjadi dan kini hanya kemarahan yang mendominasi di hati dan pikiran Sehun, yang dia inginkan hanya membalas dendam tanpa menyadari mungkin Luhan akan terluka lebih dari seharusnya.
"Sayang."
Lalu suara lembut Luhan menariknya lagi pada kesadaran, pada sedikit sisi manusianya yang bisa menangis hanya karena suara Luhan memanggil lembut padanya.
Sehun kini menatap cukup lama belahan jiwanya yang lain sebelum menghapus air mata dan bergegas mendekati istrinya.
"Hey sayang, apa yang sedang kalian lakukan?"
Dia berjongkok di belakang Luhan, menempatkan dagunya di kepala sang istri sementara mata sendunya kini bertatapan dengan Baekhyun seolah meminta agar Baekhyun menolongnya untuk mengalihkan perhatian Luhan
"Kami sedang berlatih, Ya kan Lu?"
"huh?"
Luhan sedang mencoba mendongak agar bisa melihat wajah suaminya walau harus berakhir menjawab pertanyaan Baekhyun yang menurutnya tidak perlu "y-Ya, tentu saja. Aku sudah jauh lebih baik Sehunna." Katanya riang walau tak kunjung bisa melihat wajah suaminya "Aku juga sudah bisa menggerakan—nghh~"
Niatnya menunjukkan kemajuan yang bagus pada Sehun, namun apadaya cidera yang dialaminya cukup serius hingga membuat Luhan berakhir meringis bahkan sebelum bisa mengangkat tangan kirinya dengan sempurna.
"Lu, tidak usah dipaksakan, kau akan segera pulih sayang."
Sehun memeluk erat tubuh mungil istrinya, tidak membiarkan Luhan memaksakan diri lebih jauh dari hari ini "Sudah cukup sayang, kau bisa latihan esok hari lagi denganku."
"haah~"
Luhan menghela dalam nafasnya, mencoba untuk bersabar mengingat dirinya adalah seorang dokter namun harus merasakan neraka dengan cidera yang dialaminya "Aku memang harus segera sembuh, jika tidak tamat sudah riwayatku sebagai dokter."
"Kau akan segera pulih Lu, aku janji."
Luhan hanya tertawa kecil menanggapi keseriusan di nada suara suaminya, kemudian dia mengambil tangan Sehun dan mengecupi sayang dua lengan yang selalu berhasil membuat dirinya merasa hangat "Aku tahu, aku akan segera pulih dengan kau disisiku." Katanya menghibur Sehun sampai suara Baekhyun kecil terdengar menangis keras dikamarnya.
"ouh, Aku rasa ini waktunya Jiwon makan siang, aku melihat putraku lebih dulu."
Sepasang suami istri didepannya tiba-tiba memasang raut wajah yang membuat Baekhyun tidak enak hati, keduanya menatap seperti berharap seolah mereka begitu iri hanya karena tangisan Jiwon, hal itu nyaris membuat Baekhyun menangis karena iba dengan kondisi dua sahabatnya, tidak, air matanya sudah keluar dan dirinya pasti terisak jika Luhan tidak lebih dulu membuka suara dan memecah kesunyian mengerikan ini.
"Pergilah, nanti Jiwon akan menghancurkan seluruh isi kamar jika tidak segera ditemui."
"tsk! pikirmu putraku seorang monster?!"
Baekhyun bernafas lega, diam-diam dia menghapus air mata seraya berjalan menuju kamarnya "Bukan Jiwon, tapi ibunya." Timpal Luhan disertai kekehan Sehun yang masih memeluknya begitu erat.
"Baek! Bawa Jiwon keluar, aku ingin menciumnya."
"okay!"
Setelahnya Baekhyun masuk kedalam kamarnya dan Chanyeol, entah apa yang dia lakukan, yang jelas Jiwon berhenti menangis dan itu membuat rasa hampa Luhan semakin besar, dia bahkan melingkarkan erat tangannya dilengan Sehun, sengaja membuat suaminya tidak bisa bergerak karena sungguh, dia tidak ingin ditinggalkan lagi, tidak setelah semua kehilangan yang dialaminya.
"Sehunna."
"hmmh…"
"Aku ingin pulang."
"Apa yang kau bicarakan sayang? Kita sudah pulang."
Luhan menggeleng dipelukan Sehun, sekilas dia mendongak seraya mencium kedua tangan suaminya lalu mengatakan apa yang begitu dia inginkan "Tiba-tiba aku ingin tinggal di Pyeongchan selamanya, berdua denganmu, Boleh ya?"
"Tentu saja Lu."
Sehun mendekap lebih erat istrinya, dia juga sengaja membalikan tubuh Luhan agar bisa menatap wajah pucat yang dipenuhi beberapa memar karena kecelakaan mengerikan yang dialami Luhan. Kepalanya masih dililit perban, kelopak mata kanannya sedikit bengkak dengan goresan di pipinya.
Tapi yang membuat Sehun takjub, sebanyak apapun luka yang dialami Luhan di wajahnya, tidak membuat istrinya terlihat cacat atau mengalami kekurangan, karena sebaliknya, untuk Sehun, Luhan akan menjadi satu-satunya pria yang memiliki kesempurnaan dengan atau tanpa luka di wajahnya.
"Tapi boleh aku bertanya?"
"Apa?"
"Kenapa tiba-tiba kau ingin kembali ke Pyeongchan?"
Luhan tersenyum lirih, dia kemudian mendekap erat suaminya, mencari ketenangan di pelukan Sehun lalu mengatakan hal yang begitu mengganggu hati dan pikirannya "entahlah sayang, tapi saat ini, Seoul sangat menakutkan untukku, aku tidak bisa hidup disini, itu menyiksaku."
Refleks, tangan Sehun kembali mendekap erat tubuh Luhan, seolah melindungi walau sepertinya dia sudah terlambat mengingat bagaimana kecelakaan itu membuat trauma yang begitu hebat untuk istrinya "Sehun, ak ingin pulang, aku tidak ingin tinggal disini lagi, aku takut, aku-…."
"sshhh…Kita akan pulang sayang, aku janji, setelah aku menyelesaikan semuanya, aku akan membawamu pergi, hanya kau dan aku, tenanglah."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
A few days later
.
"Baiklah Lu, melihat kondisimu aku rasa kau sudah jauh lebih baik, tanganmu masih sedikit memar, tapi semuanya akan baik-baik saja."
Kali ini giliran Kyungsoo yang memberikan terapi khusus pada Luhan, tak tanggung-tanggung, dia juga menggunakan hak khususnya di Seoul Hospital untuk membawa Luhan menggunakan beberapa alat terapi baru yang bisa menunjang kesembuhan Luhan dengan sempurna.
"Gomawo Soo, aku berhutang banyak waktu padamu."
"Ya, kau memang berhutang banyak waktu padaku." Timpalnya tertawa dibalas kekehan kecil dari Luhan "Tenang saja Lu, kau tidak berhutang apapun padaku, justru rumah sakit ini yang berhutang banyak padamu, sudah saatnya mereka membalas budi kan?"
"Aku hanya pernah bekerja disini, tidak memberikan banyak selain seluruh kemampuanku."
"Itu yang membuat rumah sakit ini berhutang padamu, kau dokter jenius yang bisa menangani situasi tersulit sekalipun Lu, seperti Mama."
Tap!
Luhan berhenti melangkah, entah mengapa semua ucapan Kyungsoo yang sedang memuji serta menyandingkan dirinya dengan kehebatan sang mama sedikit mengusik Luhan, bukan dia tidak suka, hanya dia tidak ingin diingatkan setelah hal yang terjadi pada mamanya juga terjadi padanya. Dia ketakutan dan tidak ingin diingatkan, setidaknya untuk saat ini.
"Lu? Kau baik-baik saja?"
"Soo-ya."
"hmh?"
"Jangan samakan aku dengan Mama, kemampuan kami sangat berbeda dan aku tidak sehebat mendiang dokter Xi."
"Luhan…."
Luhan kemudian termenung beberapa detik sebelum tersenyum menatap sahabatnya "Lagipula aku tidak bisa diingatkan tentang mamaku, tidak saat ini, aku masih begitu takut dan aku tidak bisa begitu saja menghilangkan kecelakaan mengerikan itu dari kepalaku, aku butuh waktu."
"Luhan, maafkan aku, sungguh, aku tidak bermaksud membuatmu ketakutan."
"Aku tahu, itu bukan salahmu sayangku, hanya berikan aku waktu."
"….."
"Kyungsoo!"
"huh?"
"Jangan melamun! Aku sedang bicara."
"ah….Mianhae, aku hanya kesal pada diriku sendiri, kita sudah mengenal sejak kecil tapi tetap saja aku masih bodoh."
"eyy….Bagaimana bisa ibu Taeoh bodoh? Dia tidak akan bisa membesarkan Taeoh dengan baik jika dirinya bodoh."
"Dasar."
Kyungsoo tertawa kecil dibalas tatapan menggemaskan Luhan yang selalu bisa melelehkan hati setiap orang termasuk dirinya sendiri "hah~ Baiklah, aku titip Taeoh ya? Dia sedang bermain di playground lantai dasar. Katakan padanya untuk berhenti bermain dan pulang bersamamu."
Tak membantah, Luhan segera bergegas meninggalkan Kyungsoo yang memiliki jadwal padat untuk memberi dua ibu jarinya "Oke."
"Kalian harus pulang, tidak mampir ke tempat bermain lainnya."
"…"
"LU!"
"araseo eomma! Aku dengar! Bye!"
Luhan bilang mengerti, tapi wajahnya mengatakan sebaliknya, karena tebakan Kyungsoo mereka tidak akan langsung menuju rumah mengingat sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Taeoh merengek ingin membeli mainan baru dan pastilah Luhan akan membelikannya dalam jumlah banyak.
"haah~ Lakukan apapun yang membuatmu merasa lebih baik Lu."
.
.
Ting!
Suara pintu lift terbuka dan tujuan utama Luhan adalah playground yang disediakan pihak rumah sakit untuk anak-anak yang harus menunggu orang tuanya menerima pengobatan dari rumah sakit.
Pengecualian untuk Taeoh, alasan mengapa putra sulung Kai dan Kyungsoo itu berada di playground adalah karena balita tiga tahun itu sudah memiliki banyak penggemar di Seoul hospital, salah satunya perawat Kim yang merupakan perawat senior di rumah sakit yang pernah memakai jasanya beberapa bulan lalu.
Jadilah baik Kyungsoo maupun dirinya tidak bisa mengelak dan hanya membiarkan Taeoh bermain dengan anak-anak yang lain, lagipula jadwal hari ini adalah terapi untuk Luhan, jadi bisa dipastikan Taeoh akan bosan berujung mengamuk jika sudah tak bisa menerima mainan lagi dari ruangan ibunya.
"Oke, Aku pesan dua robot edisi terbaru dan satu baby walker untuk usia enam bulan."
"Kami akan segera menyiapkan pesanan anda."
"Baiklah terimakasih, ah ya, baby walkernya aku pesan warna merah, oke, aku akan segera datang."
Mengabaikan rasa nyeri di lengannya, Luhan kembali bergegas berjalan menuju playground. Berniat untuk segera membawa Taeoh bersenang-senang sampai sesuatu mengganggu pemandangannya di Playground.
Awalnya Luhan bertanya-tanya siapa pria sedang menemani Taeoh bermain, tapi kemudian sosok mengerikan yang memakai jubah hitam itu terlihat familiar mengajak keponakannya berbicara, matanya terus memicing memastikan sampai Luhan merasa tertohok saat mengenali tongkat mengerikan yang menjadi khas dari pembunuh kedua orang tuanya.
"tidak….."
Suaranya tercekat, bisa saja Luhan berteriak meminta tolong pada siapapun yang ada di sekitar rumah sakit, tapi melihat bagaimana jarak Taeoh dan bajingan sialan itu terlalu dekat, Luhan tidak berani mengambil resiko yang akan berakhir dengan Donghoon menyakiti keponakannya.
"TAEOH!"
Dia berteriak, langkah kakinya dipercepat dan dalam waktu singkat Luhan membanting pintu playground lalu menarik kasar lengan Taeoh, menyembunyikan keponakannya di belakang tubuhnya untuk berhadapan dengan Doojoon.
"apa—APA YANG KAU LAKUKAN DISINI!"
Nyatanya teriakan Luhan cukup menarik perhatian pengunjung yang lain, membuat pria yang mengalami cacat mata dan kaki kiri itu menyeringai hanya untuk memberitahu Luhan "Kau terlalu menarik perhatian orang lain dokter Xi!"
"sial! Taeoh, kau baik-baik saja?"
Buru-buru Luhan berjongkok memastikan Taeoh tidak kekurangan satu apapun sampai yang berusia tiga tahun itu menggeleng lucu seraya menunjukkan mainan terbaru yang diinginkannya pagi ini "Lu-lu, robot…."
"Siapa yang memberikannya?"
Taeoh menunjuk Donghoon seraya memanggilnya "Haraboji…" Hal itu membuat Luhan menyadari bahwa sepanjang hari ini, Donghoon sudah mengikutinya dan itu membuatnya begitu geram dan marah.
"Kau mengikutiku?"
"Ya, sepanjang hari."
"Bajingan…"
Kepalan tangannya siap memukul Donghoon, Luhan sudah benar-benar tergoda memukul pria sialan didepannya sampai seseorang menyeruak di tengah-tengah mereka dan sedikit mendorong kasar tubuhnya, hal itu membuat perhatian Luhan teralihkan, tebakannya itu adalah salah satu dari Seunghyun atau Doojoon, tapi kemudian dirinya lagi-lagi harus dibuat terkejut menyadari bahwa yang sedang berdiri di depannya, yang sedang menyeringai ke arahnya adalah orang yang sama yang menemuinya langsung di Pyeongchan beberapa saat waktu yang lalu.
"Kau…!"
"Halo Dokter Xi senang bertemu lagi denganmu, ah, Kau dikenal dengan sebutan Dokter Oh saat ini, aku benar?"
"siapa, Siapa kau?"
"Aku? Kau pasti mengingatku, Aku Ravi."
"Apa yang kau lakukan bersamanya?"
"ah, Aku bekerja untuknya."
"Mwo?"
Ravi terkenal dengan kekejiannya dalam membunuh, tapi yang membuatnya terlihat sangat mengerikan adalah keberaniannya menatap korban yang nyaris dia bunuh tanpa rasa takut atau sedikit rasa bersalah yang dia rasakan "Dan beberapa hari yang lalu aku baru saja melakukan tugasku, tapi sialnya aku gagal! Kau mau tahu apa yang aku lakukan."
"…"
Ravi begitu menikmati wajah ketakutan Luhan, seolah menikmati hasil kerjanya melihat perban yang melilit di kepala serta lengan Luhan hingga membuatnya menampilkan seringai mengerikan seraya berbisik "Membunuhmu." Dibalas respon Luhan yang nyaris terjatuh tak menyangka akan berhadapan langsung dengan pria yang berniat membunuh ayah suaminya.
"Kau…."
"Lulu~"
Luhan menarik cepat tubuh Taeoh, memeluknya erat walau seluruh tubuhnya gemetar ketakutan memikirkan apa yang akan dilakukan dua pembunuh seperti Donghoon dan Ravi di tempat umum seperti ini.
"tolong…"
Luhan berusaha teriak, membuat Ravi tergoda untuk menyakiti si kecil yang ada di pelukan Luhan jika Donghoon tidak menepuk pundaknya dan mengatakan "Kau membuat dokter Oh ketakutan Ravi, hentikan, sudah cukup." Katanya meminta Ravi untuk mundur lalu kembali berhadapan dengan Luhan "Kedatanganku hanya untuk memberi peringatan padamu dan aku rasa kau tahu apa yang aku inginkan."
Luhan masih tidak bisa berkata-kata, pelukannya terlampau erat di tubuh mungil Taeoh hingga membuat keponakannya kesulitan bernafas dan berakhir memukul tubuhnya "Pergi kalian, pembunuh!" geramnya memaki dibalas seringai kecil dari Donghoon.
"ah ya, Bicara tentang pembunuh, apa kau masih berfikir akulah pembunuh ayah dan ibumu?"
"Bajingan…."
"Apa kau yakin? Tidakkah kau pernah berfikir bahwa kemungkinan terbesarnya adalah aku memang memerintahkan untuk menghabisi kedua orang tuamu, tapi apa aku akan melakukannya seorang diri? Pikirmu aku sanggup menghabisi kedua orang tuamu di waktu bersamaan Lu-Han?"
"DIAAAAAM!"
Taeoh tersentak di pelukan Luhan, beberapa pengunjung juga memutuskan untuk pergi meninggalkan playground hingga menyisakan Luhan dan Taeoh bersama dengan dua pembunuh mengerikan didepannya.
Entah kemana rasa takut yang sempat dirasakan Luhan, karena setelah Donghoon membahas bagaimana kedua orang tuanya tewas dalam waktu bersamaan membuat pertanyaan baru di hati Luhan yang kemudian dijawab tanpa rasa bersalah oleh pria tua yang mengalami cacat di mata kirinya.
"Bagaimana jika aku meminta dua orang terbaikku yang melakukannya? Yang begitu dekat dengan Detektif Xi dan mengenalmu dengan baik? Siapa tebakanmu?"
Yang dekat dengan Papa? Yang mengenalku?
Luhan mencoba untuk tidak terpancing, tapi hati kecilnya terus bertanya-tanya hingga tanpa sadar dua matanya membulat menyadari dua orang yang dibicarakan Donghoon adalah dua orang yang sama yang selalu dipanggilnya dengan…hyung?
"tidak…mereka tidak akan melakukannya!"
Mengelak adalah satu-satunya cara agar pikiran Luhan tetap tenang, tapi hatinya tergoda untuk menebak dan wajah serta Seunghyun juga Doojoon tiba-tiba menyeruak masuk kedalam pikirannya.
Seunghyun bekerja untuk ayahnya selama bertahun-tahun di toko roti yang sudah dihancurkan Donghoon, hubungan Seunghyun dengan mendiang ayahnya juga sangat dekat hingga saat Luhan mengetahui kenyataan bahwa Seunghyun bekerja untuk Donghoon tidak pernah sekalipun dia memikirkan kemungkinan bahwa ayahnya tewas ditangan pria yang sudah dianggapnya seperti putra sendiri
"haah~"
Tiba-tiba nafasnya sesak, lalu Doojoon? Benarkah dia melakukannya? Luhan bertanya-tanya mengingat sikap Doojoon yang masih begitu baik dan sabar menghadapinya, apa mungkin? Bagaimana mungkin dia melakukannya?
"Dan ya, aku memberi tugas pada mereka berdua. Seunghyun dengan bantuan Ravi membunuh ayahmu di penjara kejaksaan, sementara Doojoon, dia menggunakan cara yang sama dengan cara Ravi melukaimu beberapa waktu lalu untuk membunuh ibu-….."
"TIDAAAAAAAAKKKK—AAAARGHH!"
"Lulu~"
Beruntung playground itu dibuat kedap suara, karena jika tidak bisa dipastikan beberapa petugas keamanan datang karena teriakan Luhan yang sudah berhasil membuat Taeoh menangis ketakutan, terlebih Doojoon juga bekerja di tempat ini dan Donghoon benar-benar menghindari pertengkaran dengan kaki tangan terkuat yang pernah dimilikinya selama ini.
"Jadi berikan milikku dan aku akan berhenti mengganggumu Luhan! Jangan mengabaikan aku karena orang sekitarmu akan menanggung banyak luka karena kau dan keluarga sialanmu! Ravi, kita pergi!"
Setelah menghancurkan mental Luhan dan memberikan kebenaran yang tak pernah terlintas sedikitpun di kepala Luhan, Donghoon dan Ravi pergi tanpa dosa untuk membuat Luhan berperang dengan pikirannya. Dan seolah tak puas melihat bagaiamana Luhan hancur dan menderita, Donghoon dengan baik hati menambahkan satu kenyataan baru yang sukses menghancurkan Luhan secara keseluruhan.
"ah ya, Bicara tentang Doojoon. Boleh aku bertanya?"
"…."
Dia kembali mendekati Luhan, berjongkok untuk menyamakan posisi Luhan lalu bertanya dengan keji "Sejak kapan Doojoon dan suamimu menjadi begitu dekat? Apa mereka berteman? Atau mungkin putra kedua Jaksa Oh sedang melindungi pembunuh ibumu?"
"tidak mungkin, Sehun tidak mengetahui apapun."
"Benarkah? Ravi!"
Lalu kemudian selembar foto itu diberikan Ravi pada Donghoon untuk ditunjukkan pada dirinya, gambar yang menunjukkan bahwa tak hanya satu kali tapi beberapa foto yang menunjukkan bahwa Sehun sudah berkali-kali menemui Doojoon entah untuk apa dan tanpa sepengetahuan dirinya.
"Aku sudah mencoba menahan diri melihat bagaimana mereka berdua bekerja sama, tapi seperti biasa, aku tidak bisa melakukan apapun karena aku masih membutuhkan Doojoon, tapi berbeda denganmu Luhan, kau dikhianati oleh suamimu sendiri dan jika aku adalah kau, aku tidak akan memaafkan siapapun yang melindungi pembunuh kedua orang tuaku, malang sekali nasibmu, nak."
Setelah menepuk pundak Luhan dia kembali berdiri, bergegas pergi meninggalkan Luhan setelah menghancurkan segala kepercayaan yang dimiliki Luhan dan pikirannya, keduanya menyeringai menang sementara Luhan sedang mencengkram kuat dadanya tanda dia sedang menerima rasa sakit luar biasa yang tak pernah diterimanya dalam satu waktu dan itu membunuhnya.
Luhan mengabaikan rengekan Taeoh di pelukannya, yang dia lakukan hanya terus memanggil nama suaminya berharap bahwa semua yang dikatakan Donghoon adalah kebohongan dan Sehun tidak terlibat di dalamnya.
"Kumohon, jangan lagi Sehunna…..sehun—SEHUN!"
.
.
.
.
.
.
.
BLAM!
"Sehun darimana saja kau!"
Kepulangannya disambut wajah cemas dan takut dari Kyungsoo dan Baekhyun, keduanya seperti sudah melakukan segala cara walau berakhir percuma karena sikap Luhan kembali seperti dua tahun yang lalu persis saat dimana dia mengetahui tentang kematian kedua orang tuanya.
"Dimana Luhan? Apa yang terjadi?"
"Entahlah, tapi dia terus berteriak dan menghancurkan barang, Sehun!"
Kyungsoo mencengkram kuat lengan Sehun, mencari tahu apa yang sedang terjadi sementara Sehun terlihat cemas dan menunjukkan ketidaktahuannya sama seperti Baekhyun dan Kyungsoo "Apa yang terjadi?"
Dengan raut sama pucat dan cemas semenjak Kyungsoo dan Baekhyun menghubunginya, Sehun hanya menjawab "Aku tidak tahu." Dan tak lama membuka pintu kamar mereka untuk mendapati keadaan kamarnya dan Luhan begitu gelap
"Lu…."
Kriet…
Sehun menginjak sesuatu seperti vas bunga yang sudah hancur berkeping di lantai, entah apa yang sedang terjadi pada istrinya tapi semua yang terjadi di kamarnya dan Luhan terasa begitu familiar untuk Sehun, ini menakutkan, tapi keadaan ini sama persis dengan dua tahun lalu dimana dirinya datang menemui Luhan tepat setelah pemakaman Mama dan Papa Xi.
"Sayang…"
"…."
Tak ada jawaban, semuanya begitu gelap tanpa pencahayaan di kamar mereka, Sehun juga tidak berniat menyalakan lampu kamar karena fokusnya hanya mencari istrinya di dalam gelap. Dan sama seperti dua tahun lalu, maka disanalah Luhan, sedang duduk di tepi tempat tidur mereka hanya dengan penerangan lampu temaram yang tersedia di meja tidur mereka.
Entah apa yang sedang terjadi, tapi pria mungilnya hanya diam dan tertunduk di tempatnya, lengan kirinya yang diperban dia buka secara paksa hingga terlihat memar yang memilukan walau hanya dengan penerangan kecil dari lampu kamar mereka.
Semua keadaan ini cukup membuat Sehun memiliki alasan untuk merasakan takut, Luhan sama sekali tidak menjawabnya, yang dia lakukan hanya bernafas terengah dengan tangan terkepal erat menandakan bahwa sesuatu mengganggu dirinya dan apapun itu, pastilah bukan sesuatu yang mudah dimaafkan, sama seperti dua tahun lalu.
"Lu, sayangku."
Buru-buru Sehun berlari mendekati Luhan, berjongkok tepat didepan istrinya untuk menemukan tatapan terlampau dingin yang diberikan Luhan untuknya "Ada apa?" katanya cemas, menangkup wajah Luhan dan memohon agar istrinya tidak bertindak mengerikan seperti ini.
"Beritahu aku…."
"Sehunna."
"hmh?"
"Kau ingat aku pernah sangat membencimu hanya karena kau putra dari ayahmu?"
"y-Ya sayang, aku ingat dan aku itu adalah hari yang begitu mengerikan untukku."
"Kau tahu alasan mengapa aku membenci ayahmu hingga saat ini?"
"Lu…."
"Karena ayahmu adalah seorang Jaksa yang melakukan segala cara untuk melindungi keluarganya dan menjadikan aku dan keluargaku sebagai umpan agar keluarganya tidak disakiti, kau tahu?"
Sehun menangis ketakutan, entah apa yang dibicarakan Luhan saat ini, tapi firasatnya buruk hingga membuat dirinya nyaris kehilangan akal sehat "Sebenarnya ada apa? -aargh- Ada apa Lu?"
"Jawab aku, kau tahu ayahmu adalah seorang jaksa yang keji dan licik?"
"Ya, aku tahu, dan aku menyesal karenanya."
Luhan tertunduk lagi, menenangkan dirinya sejenak pada kenyataan bahwa Sehun juga mengetahui siapa ayahnya, dan yang membuatnya gusar adalah kenyataan yang memungkinkan alasan Sehun menikahinya adalah karena rasa bersalah yang dipikulnya, bukan karena Sehun benar-benar siap hidup dengannya.
"haaah~ Sebenarnya apa alasanmu menikahi aku?"
"Luhan, hey, hey, kenapa kau bertanya seperti itu? Aku mencintaimu, hanya itu alasannya. Aku ingin menjagamu dan memastikan dengan kedua mataku sendiri tidak akan adalagi yang bisa menyakitimu sayang." Sehun terlihat begitu cemas, dia menangkup wajah Luhan, memastikan istrinya mengerti walau hanya tatapan kosong yang diberikan Luhan untuknya "Oh Tuhan, apa yang terjadi." Rasanya Sehun ingin berteriak mencari tahu apa yang terjadi sampai akhirnya Luhan kembali bersuara dan cukup membuatnya terkejut dengan ucapannya.
"Aku tidak bisa membencimu lagi."
"huh?"
Tangan gemetar Luhan mencoba menangkup wajah Sehun, dia memaksa Sehun menatapnya dan menangis ketakutan dalam tatapannya "Aku tidak bisa membencimu lagi Sehun, aku sangat mencintaimu."
"Luhan, apa yang terjadi?"
"Doojoon, apa kau mengetahuinya?"
Dan lihatlah bagaimana ekspresi yang diberikan Sehun saat ini, firasatnya buruk, dan benar saja, pertanyaan Luhan mengarah pada sesuatu yang selama ini dia coba sembunyikan, yang tidak dia beritahu Luhan dengan tujuan melindungi istrinya.
"Apa yang aku ketahui?" katanya memelas, berharap pertanyaan Luhan tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan walau pada akhirnya mimpi buruk datang kembali datang menghampiri hidupnya dan hidup Luhan.
"Dia membunuh Mama, apa kau tahu?"
"….."
Rasanya Sehun kehilangan setengah jiwanya saat ini, kecemasannya terbukti dan seperti menjadi petunjuk awal kehancuran kehidupan rumah tangganya bersama Luhan. Mereka dilanda krisik kepercayaan, yang merupakan salah satu alasan terbesar semua rumah tangga akan tenggelam dan tak bisa diselamatkan.
"Sehun, apa kau tahu? Kau hanya perlu mengatakan tidak sayang, kumohon, jangan berbohong lagi padaku."
"…."
Air mata Sehun, raut wajahnya yang merasa bersalah serta tatapan yang dipenuhi penyesalan seolah menjadi jawaban untuk pertanyaan yang diajukan Luhan. rasanya, Rasanya Luhan ingin menampar Sehun, memaksa suaminya untuk mengatakan tidak meskipun dia harus berteriak
"JAWAB AKU DAN KATAKAN KAU TIDAK MENGETAHUINYA OH SEHUN, kumohon, SEHUNNA!"
Luhan memukul seluruh bagian tubuh suaminya, wajah, pundak, hingga sebidang dada yang selalu membuatnya merasa hangat kini terasa dingin, dia terus memukul, terus menjerit sampai akhirnya kenyataan terkuak dan itu membunuhnya.
"Ya, aku tahu Doojoon membunuh Mama."
Pukulan Luhan terhenti, seperti disambar petir dia merasakan sesuatu menyengat dari hati menjalar ke kepalanya, sengatan itu terasa menyakitkan dan membuatnya harus mengulangi pertanyaan mengerikan ini "Mwo? apa—Apa kau bilang?"
Sehun memejamkan erat matanya, tangannya juga menggenggam erat tangan istrinya dan meminta maaf atas semua kebohongan menyakitkan yang melukai hati pria yang begitu dia cintai "Aku mengetahuinya Luhan, aku mengetahuinya, dan aku tidak memberitahu siapa Doojoon dan Seunghyun padamu, aku-…..AKU MEMBUTUHKAN MEREKA UNTUK MELINDUNGIMU DARI-…."
PLAK!
Tamparan Luhan adalah akhir dari segalanya, tak ada lagi kehangatan dari tangan mungil yang biasa mengusap lembut wajahnya di pagi dan malam hari, tak ada lagi tatapan penuh cinta yang biasa diberikan Luhan saat menatap kedua matanya, ya, semua itu hilang malam ini.
Kebenaran terungkap dan semua sepadan untuk dibayar, Sehun kehilangan lagi kepercayaan Luhan, dan semua seperti menjadi akhir dari usia pernikahan mereka yang bahkan belum berusia enam bulan.
"Kau dan ayahmu, kalian benar-benar mengerikan."
"Lu…."
"Pergi."
"Demi Tuhan kita harus bicara Luhan, aku mohon, aku bisa menjelaskan semuanya, aku-…..Aku tidak melindungi Doojoon, sebaliknya, semua itu untuk melindungimu sayang, bicaralah—BICARA PADAKU LUHAN!"
"Pergi, aku muak mendengar omong kosong darimu."
"Luhan, kumohon."
"PERGI ATAU KAU MELIHAT AKU MATI MALAM INI!"
Entah darimana asal pisau yang digenggam Luhan saat ini, tapi dia menekannya cukup dalam ke leher hingga menggores kulitnya yang kini mengeluarkan darah, Sehun bergerak mundur, dia juga menjauh dan mengalah pada permintaan Luhan.
Dia mencoba berdiri walau kakinya lemas hingga membuatnya terjatuh lagi, dia mencoba lagi namun terjatuh lagi, sampai akhirnya dia bersandar di meja rias milik Luhan untuk mengangkat kedua tangannya "Baiklah, BAIKLAH AKU PERGI! hanya jangan berbuat gila dan menyakitimu dirimu sayang! AKU PERGI DAN AKAN MEMBUNUH DOOJOON DENGAN TANGANKU SENDIRI! MALAM INI AKU AKAN MELAKUKANNYA UNTUKMU!"
Sehun sempat terjatuh untuk terakhir kali, mencoba untuk mengakhiri mimpi buruk ini walau pada akhirnya dia akan tetap menerima hukuman atas kebohongan yang dia lakukan.
"ARRRGGHHH!"
Lalu terdengar suara Luhan membanting pisau yang menggores lehernya, dia kembali menghancurkan seluruh barang di kamarnya dan Sehun sampai suara ponselnya bergetar dan untuk kali pertama dia tersenyum bengis melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya
Drrt…drrttt / Seunghyun hyung
Begitulah dia menyimpan nama kontak Seunghyun yang hingga saat ini masih dia anggap sebagai seseorang yang begitu disayangi ayahnya, tiba-tiba Luhan menyunggingkan senyum mengerikan seperti sebuah rencana gila berada di kepalanya dan dia akan melakukan segala cara hanya untuk menghabisi salah satu pembunuh kedua orang tuanya
Sret….!
"hyung…"
Dia menjawab panggilan Seunghyun dengan tenang, mencari tahu tujuan Seunghyun menghubunginya sampai suara percakapan seseorang terdengar di sambungan keduanya.
Apa maksudmu pengacara Kim terlibat? Apa kau yakin dia mencoba untuk membunuhku dan menantuku?
Dahi Luhan mengernyit, dia mengenali suara yang sedang berbicara di ponselnya adalah suara ayah Sehun, tapi kenapa? Itu yang menjadi pertanyaan Luhan sampai percakapan selanjutnya terdengar
Kalau begitu kita harus bertindak! Pastikan hanya kita yang mengetahui tentang ini dan—HEY! SIAPA KALIAN DAN APA YANG KALIAN-….
BUGH!
Kemudian suara pukulan kencang terdengar, seketika ayah Sehun tak lagi bersuara dan digantikan langsung oleh suara yang begitu dibenci Luhan untuk saat ini
"Kau tahu dimana bisa menemuiku, datanglah, sebelum pria tua ini mati seperti ayahmu!"
Pip!
Luhan tak bisa berkata, antara geram, takut dan cemas terus menyeruak memenuhi isi kepalanya. Entah, apa yang akan terjadi jika dia datang menemui Seunghyun malam ini, tapi apapun itu, tekadnya bulat untuk berhadapan dengan Seunghyun sebelum berakhir bertatap muka dengan Doojoon dan membalas apa yang telah mereka lakukan pada kedua orang tuanya.
"Baiklah, Cukupkan semua ini dan kita akhiri semuanya."
Luhan mengambil pisaunya yang tergeletak, dia mengambil kunci mobil miliknya sebelum berlari menuruni tangga rumah Sehun dan kedua sahabatnya.
"Luhan? Kau akan pergi kemana?—LUHAN!"
Mengabaikan pertanyaan Kyungsoo, Luhan hanya terus berjalan menuju pintu, dia juga sengaja menabrak pundak Kyungsoo lalu membanting kasar pintu rumah yang memberikan kenangan manis untuknya, entahlah, tapi firasat Kyungsoo buruk melihat Luhan meninggalkan rumah mereka, seperti istri dari sahabatnya tidak akan kembali untuk waktu yang lama.
.
.
.
.
"Seunghyun! APA KAU GILA? JANGAN COBA KAU MENYENTUH-…."
Pip!
Di tempat berbeda terlihat Doojoon begitu ketakutan, Seunghyun baru mengatakan akan mendapatkan Luhan malam ini. Membuatnya tak bisa berfikir dengan jernih dan berniat untuk segera pergi ke markas Seunghyun sebelum
BUGH!
Dia terhuyung, dia mencari tahu siapa yang tiba-tiba memukulnya sampai wajah Sehun terlihat menatapnya begitu marah "Apa yang kau lakukan?!"
Sehun mencengkram pakaian Doojoon, dia memukul lagi wajah sialan itu dan membiarkannya terjatuh, dia mencengkram lagi dan memukul lagi hingga terlihat hidung dan sudut bibir Doojoon mengeluarkan darah karena pukulannya.
"apa—APA YANG KAU LAKUKAN?"
Lucunya Doojoon hanya membiarkan Sehun memukulnya, dia tidak berniat membalas tidak pula memukul balik, yang dia lakukan bertanya, mencoba mencari tahu sampai air mata Sehun seolah mewakili rasa takutnya akan sesuatu
"HARUSNYA AKU MEMBUNUHMU SAJA DARI AWAL! HARUSNYA AKU TIDAK PERNAH BEKERJA SAMA DENGANMU! HARUSNYA KAU MATI YOON DOOJOON!"
"Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?"
Lagi, Sehun memukuli wajahnya, tak ada balasan karena hanya teriakan Sehun yang terdengar "LUHAN SUDAH MENGETAHUINYA! DIA TAHU KAU MEMBUNUH IBUNYA! DIA MARAH DAN KINI MEMBENCIKU—AAAARGH!"
Bohong jika Doojoon tidak merasakan sakit seperti yang dirasakan Sehun, karena saat Sehun mengatakan Luhan mengetahui siapa dirinya, maka rasanya tak ada alasan lagi Doojoon bertahan hidup.
Dia mengingnkan Luhan tapi Luhan akan membencinya sampai mati.
Jadilah dia membiarkan Sehun memukulinya sampai tiba-tiba wajah Seunghyun terlintas dan ketakutan terlihat di wajahnya "Sehun dengarkan aku-…."
"MATI KAU BAJINGAN! KAU HARUS MATI DI TANGANKU-…"
"Sehun…..Luhan dalam—…."
"KENAPA KAU HARUS MEMBUNUH IBU DARI ISTRIKU! KENAPA KAU-…."
"LUHAN SEDANG DALAM PERJALANAN MENUJU KE TEMPAT SEUNGHYUN!"
"Mwo?"
Antara sadar dan tidak, tangan Sehun berhenti memukul, dia mendengar kalimat Doojoon lalu bertanya dengan kecemasan terlihat di wajahnya "Apa yang kau katakan?"
"Minggir!"
Doojoon menghapus darah dari wajahnya, mengambil kunci mobil lalu memberitahu Sehun yang seluruh wajahnya berubah menjadi pucat diiringi air mata "Kau bisa membunuhku nanti, sekarang kita harus ke markas Seunghyun sebelum….sebelum—CEPAT!"
Tak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada Luhan, Doojoon menarik kerah pakaian Sehun, memaksa suami Luhan untuk ikut bersamanya dan menyelamatkan pria yang sama-sama mereka cintai.
.
.
.
.
.
BLAM!
Luhan terburu-buru memasuki gedung tua tempat Seunghyun ingin bertemu dengannya, entah apa yang dia lakukan di tempat mengerikan ini, yang jelas gudang mengerikan ini terlihat sepi dan tak berpenghuni sampai Luhan membuka pintunya dan menemukan ayah Sehun sedang diikat di kursi sementara Seunghyun terlihat sedang berbicara di ponsel dan menyeringai melihat kedatangannya.
Kau tenang saja, aku berusaha untuk tidak menyakiti priamu, dia sudah datang padaku.
Detik kemudian Seunghyun membuang ponselnya, dia berjalan memutari meja tempatnya berdiri dan berjalan mendekati Luhan yang menatapnya tak berkedip "Well, aku kira kau membenci jaksa Oh! Tak kusangka kau datang secepat ini."
Sekilas tatapan Luhan melirik pada ayahnya yang tertunduk lemas nyaris tak sadarkan diri, wajahnya lebam dan yang membuat Luhan sedikit geram adalah kenyataan bahwa Seunghyun sama sekali tidak bermain-main dengan melukai salah satu jaksa tertinggi yang merupakan ayah suaminya.
Luhan marah, tentu, tapi dia mencoba untuk tidak terpancing dan lebih memilih membenarkan apa yang dilontarkan pria yang begitu disayangi mendiang ayahnya selama bertahun-tahun "Kau benar, aku membencinya." Katanya sarkas hingga terdengar oleh Insung yang memaksakan diri untuk mendongak dan terkejut saat mendapati Luhan berdiri tak jauh darinya
Refleks, dia menggerakan tubuhnya, berharap tali sialan itu terlepas namun percuma karena ikatannya terlalu kencang "Nak! Apa yang kau lakukan disini, pergi! Cepat—uhuk!"
Satu pukulan kencang diberikan lagi pada Insung, membuatnya dalam sekejap kembali tertunduk tak sadarkan diri sementara Luhan hanya menatap datar melihat bagaimana ayah suaminya disakiti oleh pembunuh ayahnya.
"Apa kau yakin membencinya?"
Menatap dingin pada sang ayah yang sedang terkulai lemas, Luhan menjawab "Sangat."
"Luhan…"
Dibalas respon tangisan dari Insung yang mendengar dengan kedua telinganya betapa Luhan membenci, betapa dosanya tak termaafkan walau tak mengerti apa yang dilakukan Luhan disini jika dia begitu membenci dirinya.
"tsk! omong kosong! Lalu apa yang kau lakukan disini jika kau membencinya?"
"Mencarimu."
"Aku? Ha ha ha ….Lucu sekali Luhan! untuk apa kau mencariku?"
Luhan tertawa juga, namun miliknya terdengar lebih menakutkan hingga membuat seorang Choi Seunghyun terdiam beberapa saat mendengar ucapan pria yang pertumbuhannya selalu diawasinya selama bertahun-tahun
"Untuk memastikan bahwa pembunuh ayahku mati ditanganku juga."
"huh?"
"Luhan….!"
Baik Seunghyun maupun Insung, keduanya memberikan respon berbeda. Jika Seunghyun terlihat bingung namun tetap pada pembawaan mengerikan, maka raut cemas dan ketakutan ditunjukkan Insung yang kesadarannya semakin hilang seiring berlalunya waktu.
"Apa benar kau melakukannya?"
"Apa?"
Tangannya terkepal erat, menahan segala emosi dan marahnya untuk bertanya, memastikan "Membunuh ayahku, apa kau melakukannya?"
Raut pucat wajah Seunghyun begitu terlihat, seperti memang dia melakukan sesuatu dan semua itu terjawab dari tawa canggung yang diberikan Seunghyun saat menatap Luhan " ha ha ha….Jadi kau sudah tahu? Tidak, jadi kau baru mengetahuinya? ya, YA AKU MEMBUNUH AYAHMU DAN AKU MENIKMATI WAJAHNYA SAAT DIA MEREGANG NYAWA!"
Luhan tertunduk, untuk sesaat dia menikmati seluruh pengakuan Seunghyun lalu tak lama dia tertawa, terdengar sangat mengerikan hingga suaranya memenuhi seluruh gudang tua usang yang menjadi tempat persembunyian Seunghyun selama ini.
"Kau tahu hyung? pertama kali kau datang ke keluargaku aku sangat menyukaimu. Papa bilang kau adalah kakak lelaki yang aku miliki, aku bisa mengandalkamu."
Luhan melewati tempat Insung berada, kakinya terus melangkah mendekati Seunghyun seraya mengatakan hal yang bisa membuat perhatian Seunghyun teralihkan atau mungkin lebih tepatnya mengatakan hal yang bisa membuatnya memiliki celah untuk membunuh Seunghyun dengan kedua tangannya sendiri.
"Papaku menyayangimu, dia terus membicarakan tentang dirimu bahkan disaat dia membacakan dongeng untukku."
Yang menarik adalah Seunghyun membiarkan Luhan mendekatinya, wajahnya pucat entah karena rasa bersalah atau karena dia tak punya hati, Luhan tidak mempedulikannya karena yang dia lakukan hanya mendekati Seunghyun sementara tangannya yang bebas diam-diam menggenggam pisau yang sedari tadi dia bawa hanya untuk membuat dendamnya terbalaskan.
"Tapi kenapa kau tega? Kenapa-…." ujarnya tenang, dipenuhi penekanan dan emosi yang tak bisa diungkapkan saat jaraknya hanya beberapa inci dari Seunghyun "KENAPA KAU TEGA MEMBUNUH PRIA YANG MENGANGGAPMU SEBAGAI ANAK DAN TEMANNYA SENDIRI?"
Dia berteriak murka, membuat entah mengapa wajah Seunghyun semakin pucat walau berakhir tertawa kecil seraya menyeringai menjawab teriakan Luhan "Karena ayahmu hanya idiot yang mempercayakan pembunuh masuk di dalam rumahnya."
"Mwo?"
"Dia tahu aku bekerja untuk Donghoon, tapi kau tahu apa yang dia katakan? Dia bilang akan menyelamatkan aku—dia bilang akan membawaku pergi bersamamu dan itu omong kosong! Aku menikmati diriku sebagai pembunuh dan kepuasaan terbesarku adalah saat dua tangan ini mencekik ayahmu hingga suara terakhirnya terdengar sangat memilukan, aku menikmati saat nafas terakhirnya berhembus dan-….."
"MATI KAU BAJINGAN!"
Satu gerakan cepat, Luhan tepat menusuk ke bagian vital Seunghyun. Darah segar seketika membanjiri tangannya sementara Seunghyun hanya bisa menampilkan raut terkejut disertai wajah pucat saat darah terus mengalir dari tubuhnya.
"Itu untuk ayahku."
Luhan mendorong kasar tubuh besar Seunghyun, tangannya gemetar dipenuhi darah lalu dia berjalan gontai menuju Insung dan mengabaikan fakta bahwa hari ini dirinya telah berubah menjadi seorang pembunuh.
"Pa…PAPA!"
"Luhan…"
Luhan membuka ikatan Insung, tangannya masih gemetar begitu hebat seraya bergumam "Hari ini aku menjadi seorang pembunuh."
"huh?"
Insung berusaha mendapatkan kesadarannya, dilihatnya tangan Luhan dilumuri darah, mencari-cari apa yang terjadi sampai dia melihat Seunghyun meronta kesakitan tak jauh darinya namun tangannya menggenggam pistol, mengarahkan pada Luhan.
"LUHAAAN!"
"tidak! LUHAN AWAS!"
Insung mendorong tubuh menantunya, tapi sayang dia sedikit terlambat hingga akhirnya peluru panas itu mengenai lengan kanan Luhan dan membuatnya ikut tersungkur kesakitan seraya memegangi lengannya yang dipenuhi darah.
"arghh~"
"LUHAN!"
Persetan karena Seunghyun mematahkan kaki dan lengannya, membuat sang jaksa benar-benar tak berguna bahkan disaat istri dari putranya terluka, dia hanya bisa merangkak kesakitan mendekati Luhan sementara putra mendiang sahabatnya masih meringis kesakitan dengan darah yang mulai membanjiri lengannya.
"PIKIRMU KAU AKAN PERGI KEMANA LUHAN! KAU AKAN MATI DENGANKU—PENJAGA!"
Seunghyun berteriak, namun anehnya tak ada yang merespon, dia cukup geram karena anak buahnya begitu lambat, membuatnya terus berteriak sampai matanya sakit dan menyadari banyak asap memenuhi markasnya saat ini
Uhuk!
Ketiga dari mereka kehabisan nafas, asapnya terlalu banyak disertai rasa panas, Seunghyun terus berteriak namun lucunya saat pintu terbuka bukan penjaganya yang datang melainkan api yang mulai membakar markas dengah hebatnya
"tidak…."
Luhan sesak, jelas seseorang membakar markas Seunghyun, tapi siapa? Seunghyun masih bersamanya dan apa yang akan dilakukan dengan api yang kini mulai membakar hangus markas berisikan bahan bakar di sekitarnya
DUAR!
Bunyi ledakan itu berasal dari pintu masuk, semua hangus terbakar, tiang yang terbuat dari baja dan seng mulai berjatuhan nyaris membunuh mereka bertiga didalam gudang.
Uhuk!
"APA YANG TERJADI?"
Seunghyun berteriak, mencari tahu apa yang terjadi dari dinding kaca tebal di gudangnya untuk menemukan Ravi sedang berdiri disana dan melambai ke arahnya "BAJINGAN! APA YANG KAU LAKUKAN!"
Yang dilakukan Ravi hanya terus melambai mengerikan, dia juga tersenyum licik sementara seluruh penjaganya sedang menyiramkan bahan bakar ke api yang mulai besar di sekitar markasnya "RAVIIIIII!" Dia berteriak namun percuma, satu kesimpulan yang bisa dibuat Seunghyun saat ini adalah kenyataan bahwa dia dikhianati dan akan mati bersama Luhan beserta Insung yang sedang berjalan mencari jalan keluar.
Terakhir, dia bisa melihat Ravi masuk kedalam mobil sebelum benar-benar pergi meninggalkan markasnya dibakar api besar nyaris tak tersisa "BAJINGAAANN KELUARKAN AKU DARISINI!"
Dia mengambil kursi, berusaha memecahkan dinding yang tersisa walau percuma karena runtuhan dari api terus mengenai tangan dan wajahnya "ARRGHHH!" Besi panas menimpa lengannya, dia kesulitan menyingkirkan besi tersebut sampai samar melihat bagaimana Luhan sedang memapah Insung dan bertekad mencari jalan keluar untuk mereka.
"Luhan! Tinggalkan Papa nak, larilah selamatkan dirimu sendiri!"
"Diam! Argh~"
Mereka terjatuh, lalu keduanya berusaha kembali berdiri sampai runtuhan kayu yang terbakar terjatuh tepat di tengah Luhan dan Insung hingga membuat jarak untuk keduanya "Papa bangun! Kau pasti bisa!"
Insung berusaha untuk berdiri namun percuma, kakinya dipatahkan Seunghyun, dia tidak bisa berdiri atas kemauannya dan berakhir terduduk menikmati bagaimana api mulai melahap luas ke sekitarnya "arh~ tidak bisa Lu."
"BANGUN!"
"LUHAN PERGILAH!"
"AKU BILANG BANGUN PA!"
Seunghyun bisa melihat bagaimana Luhan mencoba untuk menyelamatkan orang yang begitu dibencinya, tidak, dia bahkan bisa menyadari tak ada rasa benci yang diberikan Luhan untuk Insung saat ini, dari suaranya, dari caranya berteriak dan seluruh gerakan yang dia lakukan untuk menyelamatkan Insung membuat Seunghyun seolah bisa melihat Li Chen disana, di tubuh putranya.
"kenapa kau menyelamatkan aku saat itu? kenapa kau membuatku merasa begitu bahagia dengan keluarga kecilmu? Membuat Luhan memanggilku hyung? kenapa kau tidak membiarkan aku mati saat itu?"
Seunghyun sudah hampir kehilangan kesadarannya, luka di perutnya, besi panas yang menimpa lengan kanannya membuat dia tak bisa bergerak sementara disana, Luhan sedang berjuang menyingkirkan reruntuhan yang menghalangi Insung untuk mendekat padanya.
"BANGUN PA!—ARGH!"
Dia bisa melihat Luhan meringis kesakitan, lengannya yang terluka karena peluru sialan yang dia tembakan seolah membuat Seunghyun menyadari satu hal, dimanapun Luhan berada, selama Donghoon dan Ravi masih hidup, pria yang pernah menjadi adik kecilnya itu tidak akan pernah hidup bahagia, dia hanya akan terus mengalami penderitaan dan rasa sakit yang tak akan bisa dihadapi oleh siapapun, termasuk dirinya.
"hitungan ketiga!"
Si bodoh itu bahkan bersiap menyingkirkan kayu yang terbakar dengan kedua tangannya, lalu tak lama dia memekik kesakitan dan berakhir terjatuh dengan wajah pucat yang menunjukkan rasa takutnya.
"LAGI!"
"sial! Kau begitu keras kepala adik kecil."
Kini giliran Seunghyun yang menggunakan tenaganya untuk menyingkirkan besi yang menimpa lengannya. Dia berteriak kencang hingga membuat perhatian Luhan teralihkan dan sedikit mempercepat gerakannya agar Seunghyun tidak mendekat.
"PA CEPAT!"
Seunghyun berjalan gontai mendekati Luhan dan Insung, tatapannya terkunci pada Luhan dan entah mengapa tiba-tiba dia merasa memiliki tanggung jawab untuk membuat pria di depannya hidup tanpa teror dari bajingan yang malam ini baru saja menghianatinya.
"JANGAN MENDEKAT!"
"Bodoh, kau tidak bisa melakukan apapun tanpaku."
Lalu lihatlah Seunghyun, dengan kedua tangannya yang memiliki ukuran lebih besar dari Luhan dia berhasil menyingkirkan runtuhan kayu yang menghalangi Insung dan Luhan, entah apa yang sedang dilakukan Seunghyun, tapi dia berteriak "TUNGGU DISINI!" Lalu memapah Insung yang meronta minta dilepaskan "LUHAN! lepas—LUHAN!"
Dia membawa Insung melewati reruntuhan api, tidak, Seunghyun sedang menyelamatkan Insung dan kembali dengan membawa seseorang yang memiliki ukuran tubuh seperti Luhan lengkap dengan balok di tangannya
"DIMANA AYAHKU?"
"Dia sudah aman, mungkin."
"Lalu siapa dia?"
Seunghyun membuang mayat itu tepat di depan Luhan hingga membuat Luhan menjerit menyadari dua hal. Pertama dia begitu ketakutan karena wajah mayat itu terbakar habis, kedua dia menyadari bahwa sebentar lagi dia juga akan bernasib sama dengan mayat seukuran tubuhnya jika dia dan Seunghyun tidak segera melarikan diri.
"KITA HARUS PERGI HYUNG! APINYA SEMAKIN –uhuk!—APINYA SEMAKIN BESAR!"
Seunghyun mengepalkan balok di lengannya, menatap menyesal pada Luhan seraya mengatakan "Sayangnya kau tidak bisa hidup Luhan."
"Mwo?"
"Mereka tidak akan membiarkanmu hidup, jika bukan ditanganku maka kau tidak boleh mati."
"Apa yang kau katakan?"
Seunghyun ragu sesaat, tangannya mencengkram kuat balok yang dia gunakan lalu berteriak seraya memukulkan balok itu tepat mengenai kepala Luhan "KAU HARUS MATI LUHAN!"
Luhan terhuyung, namun dengan keji Seunghyun memukulkan lagi balok itu sekuat tenaga, targetnya adalah kepala Luhan, dia melakukannya lagi, membuat Luhan terjatuh dengan posisi kepala membentur lantai dengan kencang.
Dan belum cukup sampai disitu, dia kembali mengayunkan balok lalu memukul lagi kepala Luhan hingga darah menetes dari kepala sang dokter yang kini tergeletak entah hidup atau mati di bawah sana.
Sedetik kemudian Luhan tak sadarkan diri, Seunghyun menangkap tubuh mungil Luhan di pelukannya lalu menangisi hal keji yang akan dia lakukan "Atau setidaknya biarkan mereka berfikir jika kau sudah mati."
Lucunya Seunghyun menitikkan air mata saat melihat Luhan tak sadarkan diri di pelukannya, dia juga terus memeluk Luhan dengan erat, melindungi runtuhan dari markasnya yang terbakar tidak mengenai wajah Luhan.
"Aku tidak bisa dimaafkan dan jangan pernah maafkan aku." Dia bergumam kecil, melepas paksa cincin pernikahannya dan Sehun lalu memakaikannya di jari manis mayat yang dia bawa masuk bersamanya "Mulai saat ini kau adalah Luhan." katanya sengaja mendorong mayat yang merupakan anak buahnya kedalam kobaran api dengan tujuan menghilangkan barang bukti kecuali cincin pernikahan Luhan yang akan menjadi bukti bahwa mayat itu adalah Luhan.
"Dan kau, kembalilah saat kau lebih siap."
Seunghyun berbicara pada Luhan, dia menggendong bridal pria yang pernah dianggapnya sebagai adik lalu berjalan melewati runtuhan dan kobaran api yang mulai mengenai wajah dan tubuhnya "Kau tahu Lu?" katanya berjalan menuju jalan yang sama yang dia gunakan untuk mengeluarkan Insung
"Aku bahagia pernah menjadi hyung untukmu." Katanya lirih lalu menendang kuat pintu darurat yang sudah mulai terbakar dan dipenuhi reruntuhan "haah~"
Dia berhasil membawa Luhan keluar, melewati Insung yang tergeletak tak sadarkan diri lalu berjalan menuju pantai yang berada tepat di belakang markasnya "Bertahanlah." Katanya meletakkan Luhan ke dalam perahu kecil dan mulai mendorong perahu tak layak pakai itu ke pinggir laut.
DUAR!
Bunyi ledakan kembali terdengar, Seunghyun menoleh ke markasnya, api sudah sepenuhnya membakar tempatnya berlindung dan itu membuatnya sedikit muak karena penghianatan yang dilakukan Ravi. Dia mencoba untuk tenang walau api sudah membakar tempat tinggalnya. Berkali-kali matanya melirik pada Luhan dan berakhir menitikkan air mata sebelum terpaksa melakukan hal gila yang akan membuat Luhan berada di ambang kematiannya malam ini.
"Maafkan aku." Katanya singkat dan tak lama mendorong perahu kecil itu ke tengah laut, membiarkan Luhan terombang ambing disana berharap seseorang menemukan dan menyelamatkan Luhan jauh dari jangkauan Donghoon dan Ravi.
"Kau akan baik-baik saja, aku janji."
Seunghyun berbalik kembali menuju markasnya yang terbakar, tanpa ragu dia memasuki tempat itu, membuat dirinya terbakar hingga Donghoon berfikir dia telah mati bersama Luhan.
"Ya, semua akan baik-baik saja."
Yang tidak Seunghyun ketahui, Luhan masih sedikit tersadar dari pukulan telak yang diberikan di kepalanya, rasanya sakit, semua berubah menjadi hitam, dia bahkan menangis namun tubuhnya tak bisa digerakkan.
Tempatnya saat ini membuat tubuhnya terombang ambing, Luhan ketakutan, terlebih saat air laut mengenai wajahnya, dia ingin berteriak minta tolong tapi suaranya tercekat, dia ketakutan, tak mengerti apa yang terjadi sampai wajah Sehun samar terlihat di langit yang begitu luas dan dipenuhi bintang-bintang
"Sehun…."
Dia mencoba menggapai langit, meraih Sehun ke pelukannya sebelum tangannya terkulai lemas, dia mencoba mengangkatnya lagi namun percuma, kepalanya terasa begitu sakit, penglihatannya buram seperti menyerap seluruh ingatan hingga kesadarannya.
"Sehun…."
"LUHAAAAANNN"
Samar, Luhan seperti mendengar suara teriakan
Tapi siapa?
Rasanya terlalu jauh
Dia melihat ke sekeliling hanya untuk menemukan air disekitarnya, rasanya dia tenggelam dan terombang-ambing seperti ini
"Sehun."
Perlahan mata Luhan terpejam, rasa sakit di kepalanya tak tertahankan, dia terus menyebut nama Sehun dalam ketidaksadarannya sampai kalimat terakhir cukup membuat hatinya menangis saat tak mengingat bagaimana wajah Sehun yang sedang dipanggilnya saat ini
"Sehun…."
Luhan tak bisa lagi mendapatkan kesadarannya, matanya terpejam diiringi air mata seraya bertanya dalam ketidaksadarannya "Siapa Sehun?" dengan hati menjerit seolah tak terima karena dia telah melupakan seseorang yang tak seharusnya seharusnya dia lupakan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Why Luhan? they asked, "He's everything, anyone else is not."
Then, I lost him, twice, this too much and I can't take it
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan hari ini merupakan hari kehancuran untuk seorang Oh Sehun. Hari dimana dia harus berdiri dengan kedua kakinya dan menyaksikan sendiri bagaimana kerumunan orang yang berada tak jauh darinya sedang memasukkan peti yang berisikan jenasah istrinya ke dalam tanah.
Aku tidak ingin mengatakan ini Sehunna, tapi kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi, tubuhnya hangus terbakar. Dan satu-satunya petunjuk hanya cincin pernikahan kalian, itu Luhan.
TIDAK! TIDAK MUNGKIN LUHANKU!
SEHUN TERIMALAH KENYATAAN! LUHAN SUDAH TIADA!
Tak ada air mata, hanya tatapan kosong seolah jiwanya juga dibawa serta bersamaan dengan kepergian istrinya. Entahlah, dia sudah tidak memiliki alasan untuk bertahan hidup lagi saat ini, Sehun juga berniat mengakhiri hidupnya nanti, setelah dia menghabisi Donghoon agar dirinya memiliki wajah saat bertemu dengan mendiang istrinya.
Ya, jadi tidak ada alasan untuk dirinya menangis karena setelah semua ini berakhir, dirinya akan menyusul kemanapun Luhan pergi dan hanya hidup berbahagia dengan istrinya disana, di tempat dimana tidak ada satupun yang bisa menyakiti dirinya atau Luhan sekalipun.
"LUHAAAAAAAAN!"
Lalu jerit pilu Baekhyun sedikit menghancurkan hatinya, Sehun tidak memiliki keberanian menoleh dan melihat bagaimana kondisi Baekhyun dan Kyungsoo, dia sudah begitu hancur dan tak berniat lebih hancur mengingat segala alasan dirinya masih bernafas didunia ini hanya untuk memastikan Donghoon dan Ravi mati di kedua tangannya.
"Nak,"
Sehun menoleh sekilas, jujur dia merindukan suara yang memanggilnya lembut, ya, selain milik Luhan, suara sang Mama adalah yang paling disukai Sehun. Lalu ketika dia membayangkan esok hari tak ada suara lembut Luhan yang membangunkannya, Sehun hancur.
"Mama disini nak."
"ara….." lirihnya pilu, lalu memutuskan untuk angkat kaki dari tempat peristirahatan istrinya, Sehun tak tahan, dia tersenyum terakhir kali menatap sang mama sebelum langkah kakinya gontai meninggalkan area pemakaman.
"LUHAN BANGUN! LUHAAAAAAAN!"
Matanya terpejam karena teriakan Kyungsoo, dia lemas, kakinya tak mau bekerjasama dengan keinginannya pergi, mungkin saat ini tubuh mungil Luhan sudah menyatu dengan tanah, dan membayangkan istrinya kedinginan didalam sana, Sehun terjatuh, terisak dalam diam dan menikmati bagaimana rasa sakit menggerogoti seluruh tubuhnya.
"Aku tidak sanggup Luhan, aku tidak bisa tanpamu, aku—LUHAAAN!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Three days later
.
"HAAAH~"
"Dokter Park! Dia sadar!"
Sementara itu, di tempat yang berbeda terlihat seseorang tengah berhasil melewati masa kritisnya dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam. Kenyataan bahwa luka yang dialaminya cukup serius membuat dokter yang menanganinya hampir menyerah jika bukan karena seseorang yang memaksa dirinya untuk tetap menangani orang asing yang terdampar di tepi pantai.
Pria ini memiliki kondisi yang cukup serius atas lukanya, dia mengalami luka tembak di lengan kanan, tenggelam entah untuk berapa jam dan terakhir dia memiliki beberapa goresan luka di seluruh tubuh yang ditebak sang dokter adalah luka bakar.
"nghhh~"
Perlahan kedua mata pasiennya terbuka, tatapannya terlihat kosong disertai raut wajah yang terlihat ketakutan. Mungkin situasinya, tapi kemudian hal pertama yang keluar dari bibir pria berparas cantik itu begitu mengejutkan saat dirinya bertanya
"Siapa aku?"
.
.
.
.
.
.
"Bagaimana Seunghyun?"
"Kondisinya kritis, dia mengalami luka bakar di seluruh tubuh, wajahnya hancur dan terpaksa harus menggunakan perban untuk mengobati lukanya secara perlahan."
Dan tidak berbeda dengan wajah pucat dan hati dipenuhi dendam seperti yang dirasakan Sehun, maka Doojoon juga sedang melakukan segala cara termasuk membuat Seunghyun mendapatkan kesadarannya.
Dia dan Sehun memutuskan untuk tidak membuang waktu lebih lama lagi, yang keduanya inginkan hanya kematian Ravi dan Donghoon yang sialnya semakin sulit mengingat posisi kini berbalik menyerang mereka, status Ravi naik menjadi pimpinan kejaksaan menyingkirkan posisi ayahnya yang diberhentikan paksa setelah kejadian dimana dirinya terlibat atas tuduhan melindungi putranya yang ditetapkan menjadi tersangka atas kasus percobaan pembunuhan pada Donghoon.
Dan lucunya status Donghoon berubah menjadi korban dan dilindungi oleh pihak keamanan Seoul, ya, semua kesialan ini menimpa mereka dalam waktu singkat hingga membuat Sehun dan Doojoon terpaksa bekerja sama hanya untuk mengakhiri sandiwara menjijikan yang dibuat Ravi dan Donghoon.
"Lakukan apapun untuk membuatnya membuka mata, kita memerlukan dia!"
"Ya, aku akan melakukan apapun."
Sementara Doojoon, tak hanya diberhentikan dari Seoul hospital, statusnya juga merupakan tersangka dari seluruh bisnis gelap yang dilakukan Donghoon. Pihak kejaksaan sudah mengeluarkan bukti terkait seluruh bisnis gelap seperti senjata, obat terlarang dan anak-anak dibawa umur yang diperjual belikan ke China dan Hongkong.
Membuat pergerakan mereka semakin sulit terlebih dengan kondisi Seunghyun yang tak kunjung sadarkan diri hingga membuat pergerakan Sehun semakin terbatas. Beruntung mereka memiliki Myungsoo, teman Luhan yang entah mengapa bersedia ikut andil dalam kekacauan ini. Dan terimakasih pula pada Myungsoo, karena dirinyalah Doojoon, Sehun dan Seunghyun memiliki tempat untuk bersembunyi yang cukup aman dan menjanjikan.
Klik….
"Hey! Kalian sudah makan? Aku membawa banyak makanan, makanlah."
Terlihat Myungsoo membawa berbagai macam makanan di pelukannya, menawarkan pada Sehun dan Doojoon walau lagi-lagi gelengan kepala tanda mengelak yang dia dapatkan "Aku tidak, terimakasih."
"Aku juga." Timpal Doojoon mengikuti Sehun dibalas rasa jengah Myungsoo yang kini berdiri tepat dihadapan keduanya, menginterograsi.
"Oh Sehun…."
"Ada apa?"
"Bagaimana keadaanmu?"
Lucunya Sehun tergoda untuk memukul Myungsoo saat ini, terkait pertanyaannya, semua hanya omong kosong jika dia mengatakan baik karena sudah tiga hari berlalu, seorang Oh Sehun sudah hancur jiwa dan raganya.
"Kecuali tubuhku, semua mati."
Bohong jika Myungsoo tidak percaya dengan jawaban Sehun, karena selain fokus mencari cara untuk membunuh Donghoon di pagi hari, sudah tiga hari ini Myungsoo selalu mendengar tangisan pilu Sehun berteriak memanggil nama mendiang istrinya.
Hal itu membuatnya cukup iba namun menyadari tak banyak yang bisa dia lakukan karena sepertinya Sehun benar-benar hancur jiwa dan pikirannya "Tapi setidaknya kau harus mengisi sesuatu untuk tubuhmu, kau membutuhkan tenaga jadi makanlah sebanyak mungkin."
"Minggir!"
"Luhan pasti jengkel dengan sikapmu dan-…..arh!"
Tatkala Myungsoo membawa nama Luhan, Sehun geram. Dia tidak dalam keadaan siap untuk mendengar nama Luhan disebut terlebih jika dirinya melakukan kesalahan, hal itu membuat Myungsoo sedikit salah tingkah namun tertawa menang karena setidaknya Sehun masih menjadi seorang manusia jika itu menyangkut Luhan.
"Wae? Kau mau memukul aku? Lakukan!"
"Kau-…..!"
"Sehun cukup! Jangan bertindak gila saat ini!"
"LEPAS!"
Dia berteriak, menghempas baik tubuh Myungsoo maupun tangan Doojoon untuk melangkah pergi, dia kelelahan, hatinya sudah tidak sanggup lagi bertingkah seolah dia baik-baik saja, rasanya sakit setiap kali dia menghembuskan nafas, entah berapa lama lagi dia harus bertahan karena yang diinginkannya hanya menyelesaikan semua hal yang menjeratnya lalu segera pergi menyusul Luhan yang sudah meninggalkannya lebih dulu.
"Tinggalkan aku sendiri." Katanya memperingatkan, berniat untuk menghabiskan waktu dengan minuman keras sampai ucapan Myungsoo menarik perhatiannya.
"Pergilah mabuk dan kau tidak akan tahu apa yang aku dapatkan!"
"terserahmu saja."
"Ya! Terserahku saja dan kau kehilangan kesempatan untuk memburu Donghoon tanpa pengawasan!"
Tap!
Barulah Sehun tertarik, langkahnya terhenti dan sepertinya ini adalah berita baik setelah hampir tiga hari hatinya tenggelam dalam kesedihan. Dia pun mencoba untuk memakai akal sehatnya lalu menoleh dan memastikan ucapan Myungsoo "Apa maksudmu?"
"Well, jangan lupakan bahwa aku memiliki posisi penting di daerah kekuasaanku. Singkatnya, aku bermain pintar bukan memakai emosi, jadi aku mencari sebanyak mungkin tanpa menarik perhatian dan mereka membawaku ke tempat ini." katanya menunjukkan secarik kertas yang menjadi petunjuk akan keberadaan Donghoon tanpa perlindungan hukum yang selama ini menyulitkan mereka.
"Kemana dia akan pergi?" Doojoon yang bertanya dibalas jawaban singkat Myungsoo yang mengatakan "Pyeongchan."
.
.
.
.
.
.
.
.
"Baiklah, tarik nafasmu, tenangkan pikiranmu."
Pasien berparas cantik itu mengikuti segala instruksi yang diberikan dokter padanya. Dia menarik nafas, dia tenang, namun tetap saja, dia tidak bisa mengingat apapun. Raut wajahnya terlihat sangat ketakutan, deru nafasnya tersengal dengan tangan yang terus menjambak kencang rambutnya.
"Bagaimana? Apa kau sudah bisa mengingat sesuatu?"
Ketahuilah satu-satunya hal yang bisa diingat pria itu hanya rasa panas diiringi teriakan yang memanggilnya pilu, tapi siapa?
Dia bertanya-tanya berusaha mengingat walau kemudian rasa terombang-ambing membuatnya ketakutan hingga kepalanya sakit.
Apa? siapa yang memanggilku?
Setelahnya, semua berubah menjadi hitam dan setiap kali dia mencoba mengingat bahkan untuk hal terkecil sekalipun, maka rasa sakit di kepalanya akan semakin menggila nyaris membuatnya muntah karena terlalu sakit.
"ngghsial~ Aku tidak bisa mengingat apapun, siapa aku? Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun! Kenapa—arh!"
Dan barulah saat dia menggerakan lengan, pria itu merasakan sakit di tempat yang berbeda, matanya tertuju pada perban yang melingkar di lengan kanan dan bertanya-tanya apa yang terjadi padanya? Apa yang dia lewatkan atau siapa yang telah dia tinggalkan untuk seluruh luka yang ada pada tubuhnya "katakan padaku apa yang terjadi—apa yang….APA YANG TERJADI PADAKU! LEPAS!"
Dia meronta, memukul semua yang ada disampingnya tanpa mau dihentikan. Dia bahkan mencoba untuk membuka semua perban yang melilit di tubuhnya seolah akan mendapat jawaban jika melihat lukanya.
"Dokter Park!"
Dokter berparas tampan yang berstatus sebagai dokter utama di rumah sakit tempatnya bekerja terlihat tegas untuk memerintahkan "Beri dia penenang." Lalu tak lama pria asing itu segera diberikan injeksi oleh salah satu perawatnya hingga gerakan si pasien perlahan tenang sampai akhirnya tertidur tak sadarkan diri.
"Lakukan CT scan dan berikan hasilnya padaku."
"Baik dokter Park."
Setelahnya dia hanya memandang sekilas pada pria didepannya sebelum bergegas pergi meninggalkan ruangan untuk menemukan seseorang yang terus menunggunya di ruang tunggu.
"hyung…."
"Jinyoung-a, bagaimana?"
"entahlah, pria itu belum stabil."
"Tapi apa dia baik-baik saja?"
"Dia tidak mengingat siapa dirinya."
"Mwo?" Pria bermata sipit itu terkejut, namun tak lama dia merubah warna mukanya lalu bergumam "Bukankah itu bagus?"
"Apa?"
"Jika dia tidak mengingat siapa dirinya, kita bisa mengatakan jika dirinya adalah Rein!"
Kedua pria itu saling menatap, melempar pandangan yang berbeda sampai sang dokter yang berusia lebih muda menjawab pertanyaan pria berusia tiga puluh tahun yang merupakan kakak iparnya "Hyung, berhentilah berharap. Dia bukan Rein hyung."
"Aku tidak mengatakan dia Rein, tapi wajahnya, wajahnya begitu mirip dengan Rein, istriku."
"HYUNG!"
Saat pria bernama Taeyceon itu dibentak oleh adik iparnya, dia menjadi begitu emosi, tak ragu dia mencengkram jas kebanggan sang dokter lalu mengancam pria yang merupakan adik kandung dari mendiang istrinya yang baru meninggal tiga bulan lalu.
"Jinyoung dengarkan aku! Jika dia tidak mengingat siapa dirinya kita bisa menjadikan dia Rein, kita akan kembali mendapatkan Rein. Kau mendapatkan kakakmu dan aku-….istriku hidup kembali."
"Kau gila!"
Jinyoung menolak mentah rencana gila kakak iparnya, dia tahu Taecyeon masih dalam keadaan trauma karena kepergian kakaknya yang kebetulan memiliki wajah yang begitu mirip dengan pria asing yang ditemukan Taecyeon di sekitar pantai di villa mereka.
Dia tidak mengelak jika pria asing itu mirip dengan mendiang kakaknya, tapi untuk menjadikannya dia sebagai Rein yang telah tiada? Jinyoung tidak pernah berfikir sejauh itu.
"Jinyoung…"
"…."
Dia terus berjalan, mengabaikan ide gila pria yang bekerja untuk organisasi gelap mengerikan yang sialnya begitu dicintai oleh mendiang kakaknya "Jinyoung…"
"Lupakan idemu hyung! Dia memiliki kehidupan dan aku memiliki identitasnya!"
"Tapi kita bisa menjadikannya Rein, kumohon youngieya…"
"Tidak, itu gila dan terlalu beresiko!"
"Jinyoung…."
"…"
"PARK JINYOUNG!"
Dia menarik lengan adik iparnya, menghimpit sang dokter ke dinding berharap Jinyoung berbaik hati menjadikan pria asing yang dia temukan sebagai Rein, mendiang istrinya.
"Kumohon."
"LEPAS!"
Jinyoung menghempas kasar tubuh suami kakaknya, buru-buru dia mengeluarkan sebuah kartu yang merupakan identitas dari pria asing yang ditemukan kakak iparnya.
"Kau lihat! Ini identitas dari pria asing yang kau temukan! Namanya Luhan dan dia bukan Rein. Jadi jangan bertingkah seolah Rein hyung masih hidup karena aku—AKU SENDIRI YANG MENGUMUMKAN WAKTU KEMATIAN KAKAKKU, KEMATIAN REIN!"
"Rein…."
"Cukup hyung! Kita tidak bisa menjadikan orang lain sebagai Rein, dia memiliki kehidupannya sendiri dan kita akan mengembalikannya." Katanya meninggalkan Taecyeon, berniat untuk tidak termakan bujuk rayu sang kakak sampai suara lirih Taecyeon membuatnya ragu.
"Lalu bagaimana jika dia tidak ingin mengingat kehidupannya yang lama? Bagaimana jika luka tembakan itu, memar diseluruh tubuhnya dan hilang ingatan yang dia alami karena pria itu merasa tertekan dan tidak mau hidup sebagai pria yang ada di identitas itu?"
Jinyoung terdiam, dia ingin mengelak lagi walau jauh dilubuk hatinya dia juga menginginkan kakaknya hidup kembali, bersamanya dan tidak kehilangan satu-satunya pria yang merupakan keluarga kandungnya.
"Demi Eunwoo, dia akan kembali menjadi Eunwoo kita jika Rein hidup, ya?"
Tapi menjadikan orang asing sebagai Rein adalah kesalahan, dia mengetahuinya dengan jelas. Dia ingin mengatakan tidak, lalu nama adik tirinya dan Rein disebut hingga membuatnya sedikit bimbang dan tanpa sadar ikut mengambil kesempatan dari semua keadaan membingungkan yang terjadi setelah tiga bulan.
"Aku akan melihat hasil ct scan nya lebih dulu, jika terjadi benturan dia akan tetap menjadi Luhan si pemilik identitas, tapi jika tak ada kesalahaan di kepalanya, Dia akan menjadi Rein."
Taecyeon memekik bahagia, dipeluknya adik dari mendiang sang istri seraya membayangkan bahwa setelah hari ini, dia akan kembali mendapatkan istrinya hidup kembali, Rein akan kembali dan dia mendapatkan setengah jiwanya lagi untuk kali kedua.
"Gomawo Jinyoung-a, gomawo adikku."
.
.
.
.
.
.
.
.
"Bagaiamana keadaanku?"
Kondisinya sudah cukup tenang saat ini, dia tak lagi berteriak tak pula menjambak rambutnya, entahlah, tapi dari caranya menanggapi kondisinya saat ini, Jinyoung bisa menebak bahwa pria asing yang memiliki mata rusa serupa dengan mendiang kakaknya memiliki pekerjaan yang berkaitan dengan kesehatan.
"Hasilnya baik, kau tidak mengalami sesuatu yang salah di bagian kepalamu. Apa kau yakin kau tidak mengingat siapa dirimu?" dia bertanya, terlihat cemas walau harus menutupi kebohongan lain mengingat hasil ct scan pria asing yang dia ketahui bernama Luhan sedikit menunjukkan memar di cerebrum otak yang memiliki kemungkinan terbesar dia mengalami hilang ingatan seperti saat ini.
"Tidak, aku tidak bisa mengingat siapa diriku."
Lalu ucapan Taecyeon kembali teringat di benaknya, kenyataan bahwa pria asing ini benar-benar mirip dengan mendiang kakaknya membuat sang dokter ragu untuk mengatakan kebenaran.
Karena tak hanya mata dan rupa yang menyerupai Rein, Luhan memiliki suara yang hampir sama dengan Rein seolah mereka adalah satu orang yang sama yang memiliki kehidupan yang berbeda.
"Apa kau mengenal siapa aku?"
"huh?"
Jinyoung tergagap bingung, dia tidak tahu harus mengatakan apa, antara tega dan tidak dia mencoba untuk menahan diri sampai suara lain terdengar dan menyeruak percakapan yang sedang berlangsung di antara mereka.
"Namamu Rein."
"nde?"
"Ok Rein."
Jinyoung memberi tatapan tak percaya pada Taecyeon, namun yang menarik si pria asing terlihat sangat antusias lalu mengulang lagi ucapan Taecyeon padanya "Rein?"
"Ya, namamu Rein."
"Lalu siapa kau?"
"Ok Taecyeon, aku suamimu."
"RRHH!"
Jinyoung menggeram marah, dia membalikan tubuhnya karena omong kosong gila ini sementara pria bernama Luhan itu seperti hanya menerima mentah-mentah kebohongan yang telah dia dan Taecyeon buat untuknya "Suamiku? Aku sudah menikah?" dia bertanya lagi, Taecyeon kemudian mengambil tempat duduk di sisi kanan Luhan dan menggenggam tangannya "Ya, kau sudah menikah. Aku suamimu dan dia-…." Katanya melirik pada Jinyoung lalu kembali menatap lagi pada pria asing yang benar-benar menyerupai mendiang istrinya.
"Dia adikmu, Park Jinyoung."
"Benarkah? Kau adikku?"
Luhan bertanya dibalas raut putus asa dari pria yang dia ketahui sebagai dokter sekaligus adiknya "Hyung! kita harus bicara!"
Jinyoung berjalan keluar, diikuti Taecyeon yang kemudian menyusul adik iparnya. Mereka menutup pintu ruangan Luhan lalu saling memberi tatapan tajam "Apa kau yakin dengan apa yang kita lakukan?"
"Ya! sejauh ini semua berjalan lancar!"
"Tapi dia bukan Rein!"
"Aku tahu! Dia kehilangan ingatannya, kita bisa menjadikannya Rein , Kakakmu!"
"HYUNG! Aku rasa ini kesalahan dan-…."
Klik!
Tiba-tiba pintu terbuka, menampilkan Luhan yang akan mereka jadikan sebagai pengganti Rein, pria yang telah tiada. Baik Jinyoung dan Taecyeon menatap terkejut sementara Luhan justru terlihat lega lalu mengatakan, seolah membenarkan.
"Namaku Rein, maaf melupakan kalian, beri aku waktu sedikit lagi."
Taecyeon membalikan tubuhnya, dia tidak tahan menyadari Luhan seperti Rein istrinya, dia menangis disana sementara Jinyoung, dia memeluk erat pria yang menyerupai mendiang kakaknya lalu bergumam "hyung…..hyung, terimakasih sudah kembali."
"Maaf membuat kalian cemas."
"Tidak apa sayang, kau akan baik-baik saja."
Kini Taecyeon yang memeluknya, entahlah, Luhan tidak merasakan apapun saat memeluk Taecyeon, dia hanya memeluk seperti dia melakukannya pada Jinyoung hingga membuat keadaan canggung.
Dan untuk mengatasi kecanggungan tersebut, Luhan melepas pelukan Taecyeon lalu bertanya "Bisakah kita pulang?"
"y-Ya tentu saja!"
"Benarkah? Lalu dimana rumahku?"
Baik Jinyoung dan Taecyeon saling menatap lalu kembali menatap Luhan untuk menjawab dengan kompak "Pyeongchan."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
A month later…
.
.
"Idiot! Bagaimana bisa kau keliru? Mereka polisi dan mereka sedang mengejarku!"
"Aku tidak tahu Donghoon seorang princess jasmine Oh Sehun."
"Princess jasmine? Apa maksudmu?"
"Dia diikuti banyak pengawal, maksudku dia sangat manja dan pengecut!"
"Oh ayolah! Jangan membuat lelucon dan berikan aku tempat yang aman."
Sudah satu bulan ini Sehun kembali menetap di Pyeongchan, tidak untuk kembali kerumahnya dan Luhan, well, dia tidak memiliki keberanian itu. Alasan dirinya berada di Pyeongchan adalah karena Donghoon juga berada disini.
Tebakan Myungsoo dia berada seorang diri di Pyeongchan, namun sial saat Sehun mencoba menyerangnya, beberapa polisi dan detektif berpakaian preman yang melindungi bajingan itu tiba-tiba datang dan mengejarnya.
Rencana mereka berantakan, lagi.
Jadilah Sehun harus berlari tanpa mengundang perhatian dan harus repot-repot membuang mantel tebalnya agar mengecoh para polisi yang dibawa Donghoon ke Pyeongchan.
"Baiklah, aktifkan gps-mu."
Sehun mengaktifkan gps, tak lama terdengar suara Myungsoo yang memberikan arah lalu memberitahu Sehun "Cari keramaian!"
"Dimana?"
"Tepat disebelah kananmu ada Halo minimarket! Kau melihatnya?"
Sehun melihat disebrang jalan lalu mengangguk membenarkan "Ya."
"Masuk kesana."
"Baiklah."
.
.
"Taecyeon-ssi."
"Ayolah Rein! Aku suamimu sampai kapan kau akan memanggilku dengan begitu formal?"
Luhan terdiam, dia menundukkan kepala hingga membuat Taecyeon merasa bersalah "Baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan memaksa lagi, ada apa sayang?"
"….."
"Rein…."
"Aku ingin membeli sesuatu di Halo minimarket."
"Ada yang kurang?"
"Ya."
"Apa yang kurang?"
"yoghurt."
Taecyeon tertawa lagi, dia kemudian bersiap keluar dari mobil sampai tangan Luhan menarik lengannya "Aku saja, hanya sebentar."
"Kau yakin?"
"Ya."
"Baiklah, sepuluh menit tidak kembali aku masuk kedalam."
Buru-buru Rein, tidak. Luhan keluar dari mobil, menyebrangi jalan untuk masuk kedalam minimarket dan membeli sesuatu yang dia inginkan. Dia mengambil cepat yoghyurt yang dia inginkan.
"Baiklah, Selesai!"
"Aku sudah di Halo Minimarket!"
Setelahnya dia ingin segera membayar sampai suara seseorang menarik perhatian Luhan, dia mencari tahu mencari siapa yang berbicara lalu melihat seseorang yang entah mengapa membuat air matanya menetes tanpa alasan.
Hampir satu bulan ini dia hidup dalam ketidaktahuan, dia selalu merasa cemas seperti melewatkan sesuatu dan tak pernah bisa benar-benar memejamkan mata.
Lalu tiba-tiba suara entah milik siapa terdengar, membuat hatinya begitu tenang, terlalu tenang hingga matanya terkunci pada sosok yang wajahnya begitu pucat dan dingin sedang berbicara dengan seseorang. Entahlah, dia tidak mengenal orang itu hatinya memukul sakit seolah ingin memberitahu sesuatu
Tapi apa?
Hingga tanpa sadar langkahnya mendekati pria yang hanya menggunakan kaos hitam di cuaca dingin seperti ini.
"brengsek! Kemana lagi aku harus pergi. CEPAT DATANG DAN JEMPUT AKU!"
"Ke hatiku, mungkin."
"L! AKU HAMPIR MATI DISINI!"
Tanpa sadar dia berteriak, melihat ke kanan dan ke kiri tanpa menyadari ada seseorang yang sedang berjalan ke arahnya
"apa aku mengenalmu?"
Air matanya menetes lagi, entah karena apa, tapi sepertinya ada sesuatu pada pria itu. Dia bertekad untuk mencari tahu sampai tinggal beberapa langkah lagi mereka berhadapan, pria itu tiba-tiba memekik "YEAH! AKHIRNYA KAU DATANG!" lalu pergi begitu saja tanpa menoleh lagi.
Tangan Luhan terangkat, mencoba untuk mencegah namun percuma karena pria itu sudah pergi.
"Siapa kau?"
Dia bertanya-tanya lalu tertawa menyadari bahwa dirinya begitu bodoh melihat ke arah pria lain sementara Taecyeon terus menatapnya dari sebrang jalan. Luhan bahkan sedikit melambai ke arah Taecyeon dan tak lama pergi untuk membayar yoghurtnya.
"Hanya ini?" Kasir bertanya dibalas anggukan singkat oleh Luhan "Berapa totalnya?" katanya menghapus air mata yang tiba-tiba menetes dan menyerahkan selembar uang pada kasir "Ini…" katanya membayar, lalu berniat pergi sampai seseorang menarik kasar lengannya.
Yoghurtnya terjatuh karena refleks,
Sedetik dia melihat nasib malang yoghurtnya, lalu mencari tahu siapa yang menarik lenganya hingga sosok itu, sosok yang membuatnya tenang dan baru saja ingin dia dekati tiba-tiba berada di depannya.
Menatapnya sangat terkejut seperti melihat hantu.
Nafasnya juga terdengar putus-putus dan sama sepertinya, lelaki bermata elang itu juga menitikkan air mata tanpa alasan.
"Ada apa?"
Dia mencoba bertanya sementara tangan pria asing itu terus mencengkram kuat lengannya, semakin kuat hingga akhirnya Luhan bertanya "siapa kau?" dibalas jawaban yang sukses membuat hati Luhan bergemuruh hebat tatkala bibir tipis dari pria itu memanggil dirinya dengan
"Luhan?"
.
.
.
.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
Gimana? Gondok? Mual? Marah? Me too, me too
I wish, chapter ini bisa dilongkap aja, tapi kalo chapter ini dilongkap gue gabisa nerus ke babak selanjutnya Rein a.k.a Luhan yang baru meet sama the real husbandnya kan, pfftt
.
Okey, tarik itu napas jangan ngomong kasar dlu :""
.
Pertama, please welcome buat dua tokoh baru yang ternyata adalah Park Jinyoung GOT7 and Ok Taecyeon 2PM, mereka orang terakhir ga gue tambah2in lagi
.
Kedua sbenernya gue emang udah lama banget pengen buat cerita antara Lu atau Hun, salah satu dari mereka amnesia tapi belum pernah kesampean, jadi pas di JTV ada celah ya langsung gue masukin biar ngidam gue lunas, ;p
.
Ketiga Rein itu fiksi, gue suka aja nama itu jadi gue kasi ke Luhan buat nama amnesianya, so, jangan ditanya Rein siapa karena Rein ya Luhan.
.
Keempat ini dua chapter lagi gue jadiin satu
.
Kelima jangan tanya kapan JTV end karena jawabannya bisa bentar lagi tapi ga bentar2 amat. Gue lagi kejar tayang dua chap jadi satu muluk, doaian aja biar rampung cepet.
.
Dan terakhir, untuk mencegah PHP diantara kita, JTV chap 24 baru akan di UP hari Sabtu, 10 Februari 2018, jadi jangan begadang, kalian ga kuat, biar gue aja dengan hestek#DILANEVERIWER -_-
.
Well seyou, semoga keselnya cepat reda, muach :*
