Previous
"Siapa kau?"
Dia bertanya-tanya lalu tertawa menyadari bahwa dirinya begitu bodoh melihat ke arah pria lain sementara Taecyeon terus menatapnya dari sebrang jalan. Luhan bahkan sedikit melambai ke arah Taecyeon dan tak lama pergi untuk membayar yoghurtnya.
"Hanya ini?" Kasir bertanya dibalas anggukan singkat oleh Luhan "Berapa totalnya?" katanya menghapus air mata yang tiba-tiba menetes dan menyerahkan selembar uang pada kasir "Ini…" katanya membayar, lalu berniat pergi sampai seseorang menarik kasar lengannya.
Yoghurtnya terjatuh karena refleks,
Sedetik dia melihat nasib malang yoghurtnya, lalu mencari tahu siapa yang menarik lenganya hingga sosok itu, sosok yang membuatnya tenang dan baru saja ingin dia dekati tiba-tiba berada di depannya.
Menatapnya sangat terkejut seperti melihat hantu.
Nafasnya juga terdengar putus-putus dan sama sepertinya, lelaki bermata elang itu juga menitikkan air mata tanpa alasan.
"Ada apa?"
Dia mencoba bertanya sementara tangan pria asing itu terus mencengkram kuat lengannya, semakin kuat hingga akhirnya Luhan bertanya "siapa kau?" dibalas jawaban yang sukses membuat hati Luhan bergemuruh hebat tatkala bibir tipis dari pria itu memanggil dirinya dengan
"Luhan?"
.
.
Je'Te Veux
.
.
.
Main cast : Lu Han as Xi Luhan
Oh Sehun as Oh Sehun
Rate : T-M
.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku sudah di Halo Minimarket."
Rasanya lucu mengingat statusnya kini adalah seorang buronan dari kepolisian dan kejaksaan, dia tidak pernah melakukan kesalahan apapun kecuali satu, membiarkan istrinya tewas di tangan pembunuh, selebihnya, dia hanyalah seorang pria yang ingin membalaskan dendam atas kematian istri tercinta, belahan jiwanya yang sudah satu bulan ini tak ia temui wajah dan raganya.
"Oke, sekarang bersembunyilah sampai aku datang."
Dan yang sedang berbicara dengannya adalah sahabat dari mendiang istrinya, Myungsoo. Entah sejak kapan mereka menjadi dekat, yang jelas Myungsoo sudah terlalu banyak membantu dirinya. Dimulai dari tempat persembunyian, informasi dan yang paling membuat Sehun merasa sangat tertolong adalah kenyataan bahwa pria yang selalu membawa pulang istrinya saat mabuk adalah orang yang sangat bisa diandalkan.
"Aku akan datang setahun lagi, tunggu dengan sabar."
"Mwo? Apa kau gila?"
"Aku bercanda, cepat bersembunyi sampai aku datang."
"brengsek! Kemana lagi aku harus pergi? CEPAT DATANG DAN JEMPUT AKU!"
Terlepas dari sikap konyolnya, Myungsoo selalu membantunya disaat terdesak dan akan selalu ada tepat waktu saat dirinya tak bisa lagi berlari.
"Ya…ya…Lima menit lagi aku sampai tuan tidak tahu terimakasih."
Sehun tergelak, rasanya yang dia lakukan sedari tadi hanya mengumpat, ya, rasanya pula wajar jika dia merasa begitu murka. Malam ini dia nyaris membunuh Donghoon, tapi kemudian polisi sialan itu datang entah darimana hingga membuat pergerakannya terhambat dan terpaksa harus melarikan diri jika tidak ingin berakhir di dalam jeruji besi.
"Baiklah, aku tunggu."
Lalu kemudian dia merasa seseorang memperhatikannya, Sehun tak bergerak dari tempatnya. Yang dia lakukan hanya tenang dan waspada jika tiba-tiba seseorang berada di dekatnya. Berlebihan memang tapisemenjak dirinya berstatus tersangka dan seorang buron, Sehun menjadi begitu sensitif pada segala hal, terutama pada firasat atau tebakan jika sepasang mata sedang memperhatikannya.
"L! Dimana posisimu?"
"Satu putaran dan aku sampai."
"Baiklah."
Tapi entahlah, kali ini Sehun merasakan tatapan yang sedang memperhatikannya tidak berbahaya, sebaliknya, dia merasa tatapan entah milik siapa sedang membuat jantungnya berdebar, tiba-tiba tangannya berkeringat, dia resah namun terselip rasa hangat saat tatapan yang entah milik siapa itu terasa semakin intens mengunci dirinya.
"sial! Siapa yang mengawasiku dan terus menatapku?"
Sehun mengumpat, dia tergoda untuk menoleh ke arah samping kanan minimarket sampai suara ponselnya kembali bergetar dan menunjukkan nama L tertera disana.
"Dimana?"
"Aku sudah didepan, keluarlah dan jangan terlalu menarik perhatian, relax."
"YEAH! AKHIRNYA KAU DATANG!"
Sehun memekik, tanpa menoleh dia bergegas pergi walau sekilas, untuk satu detik yang cepat dia bersumpah melihat sosok yang begitu familiar untuknya, yang begitu dia rindukan walau terpaksa dia abaikan karena terlalu banyak hal yang memenuhi kepalanya, Luhan terutama.
"aku rasa aku sudah gila." Katanya bergumam dan
BLAM!
"Ada apa? Kenapa wajahmu pucat?"
L bertanya, dibalas tatapan singkat Sehun yang menjelaskan ketidaktahuannya yang cukup mengganggu "entahlah, aku seperti melewatkan sesuatu tapi aku tidak tahu apa yang aku lewatkan." Katanya lirih dibalas tawa remeh Myungsoo yang tanpa sengaja melihat kerumunan polisi berpakaian preman yang masuk terburu-buru ke dalam Minimarket tempat Sehun berada sebelumnya.
"Setelah ini aku akan memeriksa seluruh tubuhmu, ponsel dan apapun yang melekat padamu."
"Kenapa?" katanya bertanya, lalu Myungsoo mengerling ke arah beberapa pria berbadan besar yang terlihat lebih mirip bodyguard daripada polisi "Karena sepertinya mereka terlalu mudah menemukan tempatmu berada."
"Konyol, Pyeongchan kota yang kecil, jadi wajar jika aku dan mereka hanya berada di sekitar sini!"
"ya, terserahmu saja tuan muda!" katanya menyindir, lalu menatap malas pada Sehun "Kenakan seatbelt!"
Buru-buru Sehun menarik seatbelt di sisi kanannya, berniat untuk segera memakai seatbelt sementara matanya terus menatap kerumunan polisi sialan yang satu-persatu mulai meninggalkan Minimarket. Dia tersenyum getir, mengutuk segala kekuasaan yang dimiliki Donghoon sampai sesuatu mengganggu penglihatannya lagi.
Deg!
Jantung Sehun mencolos hebat, nafasnya tiba-tiba sesak saat melihat siluete dari seseorang yang begitu menyerupai istrinya, menyerupai Luhan.
"tidak mungkin."
"Apa yang tidak mungkin?"
Mengabaikan pertanyaan Myungsoo, secara refleks Sehun membuka pintu mobilnya
"SEHUN!"
Lalu Myungsoo berteriak, terdengar sangat marah sementara Sehun terus berjalan masuk kedalam Minimarket tempatnya tersembunyi "Apakah dirimu? Hal yang aku rasa telah aku lewatkan?" Dia ingin memastikan dengan kedua matanya sendiri jika disana, pria yang terlihat sedang membayar sebotol yoghyurt, bukanlah istrinya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan jika itu kau, Lu?"
Demi Tuhan, Sehun adalah seorang pria yang begitu tergila-gila pada Luhan, sejak kecil, hingga saat tubuh istrinya dia lihat menyatu dengan tanah satu bulan yang lalu. Tidak pernah sekalipun dia merasa benar-benar kehilangan Luhan, entahlah. Jauh di dalam lubuk hatinya Luhan akan selalu hidup untuknya, terlepas tubuhnya yang telah dikubur Luhan akan selalu tetap hidup di hatinya.
Lalu saat ini, malam ini, seolah tak bisa lagi menahan sesak rindunya akan sosok yang begitu dia cintai, Sehun bertindak gila, dia membuka pintu Minimarket, berjalan lurus ke arah kasir seraya menikmati bagaimana suara itu terdengar bertanya persis seperti Luhan, miliknya
"Berapa totalnya?"
Lalu dengan segala keegoisan yang ada pada sisi manusianya, Sehun berharap, sangat berharap, jika pria yang terlihat seperti Luhan memang adalah Luhan-nya.
"Ini-…"
Tak membuang waktu, Sehun segera menarik lengannya. Memastikan hal yang mengganggunya sampai tak sengaja air mata miliknya menetes begitu saja saat sepasang mata cantik itu menatap padanya.
Keduanya melempar tatapan berbeda, jika Sehun terlihat sangat terkejut bisa melihat lagi sosok yang begitu dia rindukan, maka pria cantik yang sedang ditatapnya terlihat bingung seolah bertanya namun tak menyembunyikan tatapan lembutnya untuk Sehun.
Tak ada yang berbicara untuk beberapa saat, keduanya bertatapan cukup lama sampai si pria cantik bertanya "Siapa kau?" yang tanpa alasan menyayat dalam hati Sehun hanya karena pertanyaan dari pria yang diyakininya adalah Luhan namun menatapnya seperti orang asing.
"Luhan?"
"huh?"
Berbeda dengan Luhan yang benar-benar tidak mengingat siapa dirinya, siapa pria berdiri didepannya saat ini. Perasaan macam apa ini? Lalu pria didepannya memanggilnya Luhan. Siapa Luhan?
"Siapa yang kau bicarakan? Siapa Lu-…."
"REIN!"
Seseorang berteriak, detik berikutnya dia sudah berada dalam pelukan pria lain yang selama satu bulan ini selalu memanggilnya dengan
"Rein?"
Sehun terkejut, antara marah dan sakit kemudian bergantian dia rasakan. Saat Luhan bertanya siapa kau? Sudah begitu menyayat hatinya, lalu lihatlah pria asing yang kini memeluk Luhan dan menatap tak kalah gusar dan marah sepertinya, membuat emosinya nyaris tak bisa dia kendalikan sampai pria asing itu bertanya
"Siapa kau?"
"Harusnya aku yang bertanya! Siapa—SIAPA KAU DAN KENAPA KAU MEMELUK LUHAN?!"
Sehun berusaha mengambil Luhan dari pria asing itu, namun sayang pria yang memiliki tinggi sama dengannya, yang dipanggil Luhan dengan sebutan "Taecyeon…." Lebih dulu memeluk erat Luhan hingga jauh dari Sehun yang kini terlihat emosi.
"LEPASKAN LUHAN!"
"Luhan? SIAPA LUHAN YANG KAU BICARAKAN? DIA ISTRIKU, OK REIN!"
"Mwo?"
Sehun terdiam, wajahnya menunjukkan segalanya, rasa tidak percaya, ketakutannya, hanya karena pernyataan terlampau lantang dari pria yang memiliki istri serupa dengan istrinya
"tidak mungkin…"
"Rein! Kau tidak apa?"
Pria itu bertanya pada Luhan, menangkup wajah mungil Luhan dan memastikan dengan cara yang sama jika Sehun sedang memastikan keadaan istrinya. Keduanya bertatapan hingga membuat raut tak rela ditunjukkan Sehun yang sedang berdoa kuat-kuat
Kau bukan Rein, katakan kau bukan Rein!
"y-Ya, aku tidak apa."
"Sial!"
Sehun menangis lagi, kali ini bukan karena hatinya tersayat melainkan karena jawaban dari pria cantik itu seolah membenarkan dirinya adalah Rein, bukan Luhan istrinya.
"aku pasti sudah gila."
Dan saat Sehun terlihat menyerah, Taecyeon justru terlihat gugup, dia takut jika pria didepannya mengenali Luhan yang sama yang dia temukan dan dia jadikan Rein saat ini, dia bahkan tidak mengijinkan Luhan dan pria asing itu kembali bertatapan. Jadilah, dia terus memeluk Luhan tanpa mempedulikan bahwa pria yang dia paksa menggantikan identitas mendiang istrinya sedang diam-diam meronta minta dilepaskan.
"sst…Rein tenanglah."
"SEHUN!"
Lalu tiba-tiba suara lain terdengar berteriak, Luhan ingin menoleh tapi apa boleh buat Taecyeon mendekapnya begitu kuat hingga hanya percakapan yang terdengar serius yang bisa didengarnya.
"Apa yang kau lakukan?"
Sehun enggan bergeming tetapi Myungsoo terus memaksanya, hal itu cukup membuat Myungsoo penasaran hingga mencari tahu siapa yang sedang ditatap Sehun hanya untuk menemukan pria asing yang sedang memeluk pria yang tubuhnya lebih kecil dari mereka bertiga.
"Siapa kalian?"
"Harusnya aku yang bertanya! Segera bawa temanmu pergi karena dia mengganggu istriku."
"Mwo? Sehun apa yang kau-….."
Myungsoo terdiam sejenak, raut wajahnya menjadi panik saat melihat kerumunan polisi yang mengejar Sehun kembali memasuki minimarket. Dia kemudian terpaksa menarik tangan Sehun yang secara tidak langsung menolak untuk pergi.
"Kita harus pergi." dia berbisik, namun diabaikan Sehun yang masih menatap tak berkedip istri dari pria asing di depan mereka "Sehun!"
"Luhan."
"Apa yang kau bicarakan?"
"Dia Luhan." katanya menunjuk pria yang sedang didekap Taecyeon hanya untuk membuat Myungsoo membulatkan mata seolah tak percaya Sehun akan kehilangan akal sehatnya secepat ini.
"CARI DIA! SEKARANG!"
"Oh tidak…."
Buru-buru Myungsoo membalikan paksa tubuh Sehun, dia masih berusaha menarik lengan suami dari mendiang sahabatnya walau percuma karena Sehun tetap tak bergeming dari tempatnya "Kita harus pergi."
"….."
"Sehun!"
"….."
"SEHUN!" katanya berteriak dan seolah tak memiliki pilihan lain, Myungsoo kemudian menarik paksa lengan Sehun dan membawanya pergi melewati empat polisi berbadan besar yang berpencar mencarinya.
"Luhan!"
Meninggalkan Taecyeon yang kini bisa bernafas lega saat orang asing yang terus memanggil Rein dengan Luhan akhirnya pergi menjauh dari mereka. Dia kemudian melepas pelukannya pada Rein, mencari tahu apa pengganti istrinya baik-baik saja walau kenyataan pahit harus dia terima saat Rein terus melihat kemana pria asing itu pergi hingga akhirnya tidak terlihat.
"Rein."
"hmh?"
"Kita pulang, kau berkeringat." Katanya kembali mengalihkan perhatian Luhan yang tak sadar bertanya "Pulang?" dan entah mengapa kalimat pulang yang sedang mereka bicarakan hanya membuatnya terlihat bingung dan nyaris menitikkan air mata saat hatinya kembali merasa cemas, kembali kosong dipenuhi ketakutan.
"Ya, kita pulang."
.
.
.
.
.
.
.
.
BLAM
.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau kehilangan fokus hanya karena pria asing yang sedari tadi kau sebut dengan Luhan?"
Ya, sepanjang perjalanan mereka kembali ke rumah kecil yang sengaja disewa Myungsoo, keduanya tak henti berdebat. Myungsoo terus berteriak kesal sementara Sehun terus meracaukan hal gila seperti menyebut nama Luhan di sepanjang perjalanan mereka kembali.
"Dia memang Luhan."
Sehun tetap pada pendiriannya, mencoba untuk bersikap egois walau itu menyakiti dirinya sendiri, dia hanya tidak bisa menerima kenyataan jika pria itu bukan Luhan. Dia tidak ingin merasa kehilangan lagi dan bertahan pada apa yang dia yakini walau semua sungguh menyakitinya.
"Gila!"
Cibiran Myungsoo berhasil sedikit menampar Sehun, membuatnya tertawa kecil lalu suara tawanya menjadi semakin kencang seiring luka yang menyayat dalam hatinya "Kau benar, aku sudah gila! HA HA HA….Aku bahkan mengira dia adalah Luhan! Aku-….aku sangat menyedihkan."
"Sehun…"
Bohong jika Myungsoo tidak merasa iba pada kondisi Sehun saat ini, sudah satu bulan dia hanya melihat kepalsuan dari ketenangan yang ditunjukkan Sehun, tak sekalipun Sehun pernah menunjukkan sisinya yang berbeda dari malam ini.
Rasa kehilangannya, rasa rindunya yang sudah coba dia kubur dalam-dalam kini tiba-tiba menyeruak hanya karena pertemuannya dengan seseorang yang terus dia sebut sebagai Luhan.
"Sebenarnya siapa yang kau lihat?" katanya tenang dibalas senyum lirih Sehun yang kini menundukkan kepala seraya mengusap kasar wajahnya "entahlah, tapi aku yakin dia Luhan."
"Sehun cukup! Kau butuh istirahat dan sebaiknya-….."
BLAM!
"OH SEHUN DIMANA KAU BAJINGAN! / SEHUN!"
Sampai suara pintu rumah yang dibanting bersahutan dengan teriakan murka dari dua orang yang rasanya dikenali Myungsoo sebagai suara dari Kai dan Chanyeol
"oh tidak….Mereka pasti akan memukulku lagi."
Myungsoo menatap horor sisi pintu rumahnya, sedikit banyak dia mengalami trauma pada suara teriakan Kai dan Chanyeol. Ah, jangan tanya kenapa karena ini adalah suara teriakan yang sama yang selalu berhasil membuatnya babak belur mengingat setiap kali Luhan mabuk dan berada di ruanganyya, dua pria berbadan besar itu akan bergantian memukul wajah tampannya.
"SEHUN!"
Tibalah mereka di ruang kecil tempat Sehun dan Myungsoo berada, keduanya kini bertatapan dengan Myungsoo yang terlihat cemas sementara Sehun duduk tak jauh darinya dengan kepala tertunduk.
Entah apa yang terjadi, tapi setelah satu bulan Sehun mencoba menghindari mereka, ini adalah kesempatan pertama Kai dan Chanyeol untuk bisa memberi pelajaran pada suami dari mendiang pria cantik mereka.
"KAU!"
Chanyeol terlihat menggeram marah, lalu Myungsoo mencoba untuk menjadi penengah walau harus berakhir menerima pukulan telak dari Chanyeol "MINGGIR!" katanya berteriak, mengabaikan Myungsoo yang terlihat meringis hanya untuk mendekati Sehun diikuti Kai dibelakangnya.
"y-YAK! APA HOBI KALIAN ADALAH MEMUKUL WAJAHKU YANG TAMPAN?"
Tak ada respon, yang ada hanya pemandangan dimana Chanyeol mencengkram kuat kaos yang digunakan Sehun lalu berteriak "SAMPAI KAPAN KAU AKAN SEPERTI INI?"
Sehun terdiam sejenak, mengenali wajah-wajah yang begitu malu untuk dia temui. Nyatanya bukan hanya dia yang kehilangan seorang istri, tapi di depannya saat ini, dia sedang menatap sahabat kecil mendiang istrinya, yang begitu menyayangi Luhan, kedua pria yang bahkan tak sanggup menghadiri pemakaman istrinya satu bulan yang lalu karena mungkin rasa sakit mereka jauh lebih banyak dan Sehun merasa bersalah pada keduanya.
"Maaf."
"Mwo?"
Hanya itu satu-satunya kalimat yang belum disampaikan Sehun pada Kai dan Chanyeol, hanya perasaan malu yang memenuhi hatinya setiap kali mengingat pengorbanan Kai dan Chanyeol yang bahkan rela meninggalkan kekasih hati mereka hanya untuk menjaga Luhan, memastikan bahwa istrinya tidak merasa kesepian sampai Luhan kembali padanya.
"Maafkan aku Yeol….Kai."
Lalu apa yang terjadi? Kurang dari satu tahun Luhan kembali padanya, semua menjadi mengerikan. Dia berbohong pada Luhan, dia membuat Luhan dipenuhi rasa sakit di hati dan di tubuhnya hingga berakhir tak bisa melakukan apapun saat tubuh mungil istrinya dimasukkan kedalam peti dan menyatu dalam tanah.
"Apa yang kau bicarakan?"
Sehun gundah, hatinya kuat mencengkram, kepalanya hanya dipenuhi dengan Luhan sampai tangan kasar Chanyeol membawanya kembali pada realita bahwa dia harus bertanggung jawab sebagai seorang suami yang gagal menjaga istrinya, yang membuat Luhan harus mengalami hal mengerikan di sepanjang hidupnya.
"Sebentar lagi, bertahanlah."
"Apa?"
"Aku akan mati di tangan kalian setelah aku menyelesaikan semuanya, aku janji."
Baik Kai dan Chanyeol menunjukkan ketidakpercayaan mereka atas ucapan Sehun, keduanya membuang wajah sekilas sebelum Kai mengambil alih Sehun dan tak menagatakan apapun selain
BUGH!
"BAJINGAN! JIKA INGIN MATI KENAPA TIDAK MALAM INI? KENAPA HARUS MENUNGGU SETELAH KAU SELESAI MENJADI PEMBUNUH? KAU MEMBUAT LUHAN MATI DAN BEGINI CARAMU MENYESAL?"
"…"
Sehun tersungkur, sudut bibirnya mengeluarkan darah bersamaan dengan kemarahan yang ditunjukkan Kai untuknya, ayah dari Taeoh itu juga menatapnya seperti tergoda ingin membunuh dan terus memukuli Sehun yang hanya diam tak mengeluarkan satu pembelaan apapun untuk dirinya.
"Kenapa-…"
"Luhan, dia masih hidup." Racaunya menggila hingga membuat Kai bertambah geram karena omong kosong Sehun terdengar begitu indah ditelinganya.
"diam."
"Luhan masih hidup dan aku akan membawanya pulang. Aku janji akan segera membawanya-…"
Kai duduk diatas tubuh Sehun, mencengkram shirt suami dari mendiang Luhan dan memukulnya lagi di wajah agar Sehun kembali pada sadarnya, pada tanggung jawabnya untuk bertahan hidup dan tidak berfikir untuk mati menyusul istrinya.
"DIAAAAAM!"
BUGH!
Pukulan telak mengenai wajah tampan Sehun, Kai murka begitupula Chanyeol karena Sehun terlalu diam "BERHENTI MENGATAKAN OMONG KOSONG!" Dan entah sudah berapa kali pukulan Kai mengenai wajah Sehun, suami dari mendiang sahabatnya itu tetap bersikeras pada keyakinannya bahwa "Luhan masih hidup, percayalah padaku."
"sial! Kau benar-benar membuatku ingin membunuhmu!" Kai mendesis, siap memukul lagi wajah Sehun sampai seseorang menarik lengannya dan membuatnya memiliki jarak dengan Sehun.
"CUKUP!"
Myungsoo yang melakukannya, dia menatap jengah pada ketiga pria yang kini bersamanya untuk berdiri di tengah, menghalangi agar kekacauan ini tak terus berlanjut.
"Minggir…."
Kai kembali mendekati Sehun, berniat menghajarnya sampai Myungsoo lebih dulu berteriak "DEMI TUHAN KALIAN SAMA SEKALI TIDAK MEMBANTUNYA!" geramnya mendorong tubuh Kai menjauh.
Sontak teriakan Myungsoo cukup menarik perhatian Kai dan Chanyeol, mereka bertanya-tanya apa yang telah mereka lewatkan sampai suara Myungsoo kembali terdengar "Apa yang kau bicarakan?"
"Dia teman kalian dan bukan temanku! Dan satu-satunya alasan aku berada di sekitarnya hanya karena Luhan!" suaranya bergetar, tiba-tiba nama Luhan disebutkan dan membuat hati mereka semua direlung sesak yang menohok.
Wajah ketiganya juga begitu pucat terlebih saat ucapan Myungsoo berhasil membuat air mata Sehun, Kai dan Chanyeol menetes bersamaan "Luhan akan menangis jika kalian bertengkar dan saling memukul seperti ini, jadi cukup! CUKUP DAN TENANGKAN PIKIRAN KALIAN!"
Dan terimakasih pada Myungsoo, setidaknya dengan membawa nama Luhan dia bisa membuat ketiga pria didepannya sedikit berdamai dan lebih tenang. Kai dan Chanyeol juga terduduk lemas menyusul Sehun yang memeluk kedua lututnya dan kembali tertunduk dengan wajah memar karena pukulan Kai yang luar biasa menyakitkan.
Tak ada yang berbicara lagi, semuanya sedang merasakan rindu yang berbeda kepada Luhan, sesak di dada mereka seolah ditertawakan Luhan yang kini berada jauh dari pelukan mereka. Membuat Myungsoo memutuskan untuk duduk dan melipat kedua lututnya di tengah antara Kai-Chanyeol dan Sehun.
"Kalian semua merindukan Luhan, bukan?"
"….."
"Aku juga merindukan temanku, kepergiannya terlalu sulit kuterima. Lalu aku melihatnya datang setiap hari ke club. Dia mabuk, dia membuat keributan dan meneriakan nama asing yang tak pernah kudengar." Katanya menatap iba pada Sehun didengarkan dengan baik oleh Kai dan Chanyeol yang merasa begitu jahat karena tidak bisa menemani Sehun disaat sulitnya.
"Terakhir, dia bertemu dengan Doojoon, membuat kesepakatan untuk saling menghabisi setelah mereka berhasil menghabisi Donghoon."
"Mwo?"
Kai terkejut namun tatapan Myungsoo mengabaikannya dan kembali memberitahu "Pikir kalian aku akan membiarkan bajingan ini melakukan apapun yang dia suka? Aku mengawasinya dengan memberikan semua yang dia perlukan, aku mengikuti kemanapun dia pergi. Kalian tahu kenapa?" katanya bertanya dibalas tawa lirih Sehun yang menyadari dirinya benar-benar dikasihani saat ini.
"Karena aku sendiri yang akan memastikan dia tidak akan melakukan hal gila pada dirinya sendiri! Demi Tuhan Oh Sehun! Bukan ini yang diinginkan Luhan! Dia ingin kau bahagia."
Sehun termenung, berharap ada sebuah penghiburan untuknya walau berakhir harus merasa begitu tidak berguna untuk siapapun, matanya kosong menatap entah kemana. Lalu tak lama dia berdiri dan berjalan gontai entah kemana.
"Sehun! Kemana kau pergi?"
"…"
Sontak, Kai dan Chanyeol ikut berdiri, memutuskan untuk tidak kehilangan Sehun lagi setelah semua hal mereka lakukan untuk menemukan sahabat kekasih mereka, keduanya mengekori Sehun kemanapun, menahan kesal karena tak mendapat respon dari pria didepannya untuk memberitahu.
"SEHUN! JANGAN BERTINGKAH SEOLAH HANYA KAU YANG KEHILANGAN LUHAN! AKU KEHILANGAN PRIA MUNGIL YANG AKU JAGA SEJAK KECIL, KAI, AKU, KYUNGSOO, BAEKHYUN BAHKAN KEDUA ORANG TUAMU JUGA KEHILANGAN LUHAN!"
Chanyeol menarik kasar lengan Sehun, memberitahu pria sialan didepannya bahwa mereka memiliki rasa kehilangan yang sama, matanya menatap seperti memohon agar Sehun tidak melaluinya lagi seorang diri.
"Pulanglah, Kumohon."
Dengan tatapan sendu khas miliknya, Sehun hanya tersenyum simpul seraya melepas cengkraman tangan Chanyeol dari lengannya "Aku akan pulang jika Luhan pulang."
"Sehun…"
Setelahnya Sehun melangkah pergi, rasanya ingin Kai menariknya pulang namun Chanyeol memberi isyarat agar Kai tak mengikutinya, ketiganya kini hanya bisa memperhatikan Sehun yang memasuki mobil dan tak lama pergi entah kemana.
"Biarkan dia kali ini."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BLAM!
.
Dan disinilah Sehun, memberanikan diri untuk mendatangi tempat tinggalnya dan Luhan di Pyeongchan. Tempat tinggal yang sudah satu bulan ini dia abaikan kini menjadi terlihat sangat mengerikan, tak ada lagi teriakan manja Luhan yang menyambutnya ketika dia memarkirkan mobil, tak ada lagi senyum cantik yang selalu berhasil membuat Sehun melupakan lelahnya dan hanya mendengarkan seluruh cerita Luhan di klinik kecil tempatnya bekerja.
Tak ada lagi Luhan dalam hidupnya.
Klik….
Percayalah, Sehun membutuhkan banyak keberanian untuk memasuki tempat tinggalnya, namun saat pintu rumahnya terbuka entah dimana keberanian itu berada, dia ditinggalkan lagi, bahkan oleh satu-satunya keberanian yang dia miliki untuk memasuki rumahnya.
"Aku pulang." Serunya, dibalas kegelapan dan keheningan rumah yang tak terawat semenjak kematian Luhan.
SEHUN! KENAPA LAMA SEKALI!
Dulu dia akan merentangkan tangan, menyambut si pria cantik yang berlari ke pelukannya, kemudian mereka akan berciuman, membagi rasa rindu yang sama lalu akan menghabiskan malam panas di kamar mereka.
Dulu….
"haah~"
Air matanya masih sanggup berada pada tempatnya, tidak terjatuh seiring kekuatan hati yang sangat terbatas yang coba ditahan Sehun saat ini.
Lalu dia melangkah masuk kedalam kamar, menyalakan lampu dan tatapannya ada pada meja rias sang istri yang begitu penuh dan lengkap seolah akan mengikuti ajang Miss Korea, membuat senyum simpul terlihat namun diiringi isakan tertahan Sehun yang begitu menginginkan Luhan dan semua tingkah posesifnya pada make up kembali padanya.
Awas saja kau berani memecahkan lagi toner milikku! Aku tidak akan membiarkanmu mencium dan memelukku sesuka hati
"ish! Bagaimana mungkin aku kalah dengan toner?"
Sehun tertawa, namun air matanya lolos tak bisa menahan lagi rindunya, dia bahkan memegang toner yang membuatnya dan Luhan bertengkar hampir selama enam jam. Mengutuk benda sialan itu lalu mengingat bagaimana "murah" nya Luhan saat dia membelikan toner yang baru.
Sayangnya aku sudah membelikan toner yang baru, lebih mahal dan lebih ber-merk. Yasudahlah jika istriku masih merajuk karena Toner Baekhyun aku pecahkan, aku kembalikan saja pada toko
Antara gengsi dan ingin kini dirasakan Luhan. Dilema terlihat dari cara bibirnya menggigit, lalu kesal karena Luhan tak kunjung merespon, Sehun berpura-pura pergi sebelum suara istrinya menjerit
SEHUN!
Apa?
Diam-diam Luhan meletakkan pelembab wajahnya untuk berjalan manja mendekati Sehun, dia juga sengaja meraba mesra dada suaminya lalu bergumam "aw….suamiku baik sekali."
Sudah tidak marah?
Menggeleng lucu, Luhan menjawab "Tidak marah."
Lalu Sehun menerima ciuman tanda perdamaian dibalas tendangan kencang bayi mereka saat itu "rrh~"
Ada apa?
Anakmu iri
Dengan senang hati Sehun menunduk, mencium calon malaikat kecilnya untuk berbisik "Papa memperhatikanmu juga nak." Lalu ketiganya menghabiskan malam bersama dengan Sehun yang memeluk erat tubuh mungil Luhan yang sedang mengandung calon bayi mereka saat itu.
"arghh~"
Dan kembali pada realita, semua itu hanya kenangan manis menyakitkan untuk Sehun. Diawali dengan kehilangan bayi mereka, Tuhan seolah tak puas menghukumnya dengan mengambil Luhan juga darinya. Dia mencoba untuk bertahan, sejauh yang dia bisa, sekuat yang dia mampu.
Namun hari ini berbeda, Tuhan lagi-lagi mempermainkan hati dan pikirannya, semua kehancuran dan kesedihan yang mati-matian sedang dia kubur seolah berhasil melewati batasnya hanya karena pertemuannya dengan seseorang yang memiliki wajah mendiang istrinya.
Wajah yang begitu dia rindukan, tiba-tiba dia bisa melihatnya malam ini.
Namun dalam sekejap sosok yang begitu dia kenali selama hidupnya berubah menjadi orang asing yang bahkan tidak mengenalinya, seolah menghancurkan harapan Sehun yang masih berharap bahwa entah keajaiban apa yang akan datang, Luhannya masih bernafas dan masih hidup dibawah langit yang sama dengannya.
"Luhan…."
Dia menangis, memeluk erat foto pernikahan mereka dalam sepi, isakannya cukup kuat hingga membuat siapa saja yang mendengarnya seperti dipaksa ikut merasakan kehilangan dan kesedihan yang perlahan membunuhnya.
"Aku rindu….Lu…kembalilah, kembali-…..LUHAAANN!"
Sehun tersungkur tepat di bawah tempat tidurnya, dinginnya cuaca tak sedingin hatinya yang membeku tak mau mencair, memar di wajahnya tidak sesakit kehilangan di hatinya, dia menangis, terus menangis di remangnya ruangan yang biasa menjadi tempatnya berbagi seluruh cerita konyol dengan istrinya.
"tunggu aku, Luhan."
Matanya saja yang terpejam, tapi tidak hatinya, hati masih menangis hingga air matanya menetes melewati bangir hidungnya dan memberikan rasa asin di bibirnya. Sehun mencoba tenang dan mengingat wajah Luhan adalah hal terbaik yang bisa dilakukannya.
Dia juga tidak peduli dinginnya lantai di kamar mereka sampai posisi ini terasa begitu familiar untuknya. Dia tersenyum lagi, ya, nyatanya dia pernah bertengkar dengan Luhan karena orang tuanya.
Luhan kemudian menolak untuk tidur di tempat tidur dan hanya berbaring di lantai yang begitu dingin. Saat itu Sehun cemas bukan main, Demi Tuhan Luhan sedang mengandung anaknya saat itu. Tapi karena pertengkaran mereka dia bersikeras untuk berbaring dilantai hingga membuat Sehun tak memiliki pilihan lain selain mengambil selimut dan berbaring persis disamping istrinya.
Wajah mereka berhadapan dan Sehun cukup marah pada dirinya karena membuat mata istrinya begitu sembab. Perlahan dia menghapus air mata Luhan lalu mendekat, mencium kening istrinya sebelum mendekap tubuh yang kedinginan itu dengan erat.
"Kenapa kau selalu keras kepala."
"Dan kenapa kau selalu tidak mau mengalah?"
Kira-kira seperti itulah percakapan mereka saat itu, membuat Sehun tersenyum dalam bayangannya walau air mata masih menetes dan kini membuat lembab lantai yang sedang ikut mengasihani kehilangan Sehun atas Luhannya.
"Kenapa tiba-tiba kau ingin bertemu dengan Mamaku?"
"Karena kau merindukan Mama."
Kini Luhan memaksa Sehun menatapnya, dia sedikit mendorong tubuh suaminya dan menaikkan tubuh hingga posisi mereka sejajar. Tangan Sehun tetap setia melingkar di pinggangnya, memberikan kehangatan yang begitu nyaman hingga mengalahkan rasa dingin dari lantai kamar mereka.
"Tapi aku tidak merindukan Mama."
Sehun tetap bersikeras dibalas senyum lembut Luhan yang kini bermain di wajah suaminya, dia mengagumi mata yang selalu menatapnya sangat memuja untuk bermain di hidung bangir suaminya, lalu jari telunjuknya berhenti di bibir yang selalu mengatakan hal manis padanya, yang selalu berhasil membuatnya berdebar setiap kali dia mengecupnya, yang selalu mengatakan cinta dan rindu hingga membuat si pria mungil gemas dan menggigit bibir kecil favoritnya.
"Kau merindukan mama."
Dia tak kalah bersikeras, lalu menyatukan kening mereka sebagai tanda tak ada lagi amarah karena yang ada hanya rasa cinta yang sama besar yang bisa dirasakan keduanya "Dalam tidurmu, kau memanggil Mama."
"Kapan?"
"Saat aku demam. Kau kelelahan dan tertidur mendekapku seraya memanggil Mama dalam tidurmu, kau bilang, Ma, jangan biarkan Luhan sakit. Apa yang harus aku lakukan? Aku takut jika dia sakit."
Luhan mencontohkan, membuat Sehun tertawa dan kembali mencium gemas bibir mungil istrinya "Itu karena kau."
"Aku?"
"mmhh…" air matanya tiba-tiba lolos membasahi wajahnya, Luhan panik, dia menghapus cepatnya dan bertanya "Sayang? ada apa?"
Sehun kemudian mendekapnya erat, terlampau erat seolah Luhan bisa hilang jika tidak didekapnya dengan erat "Aku takut kau hilang dari hidupku, aku takut tidak bisa melihatmu lagi Lu, aku takut kau pergi lagi meninggalkanku."
"sstt….aku tidak kemana-mana sayang, aku selalu ada disisimu."
Luhan melepas pelukan suaminya, kini dia berperan sebagai pelindung, berbaring sedikit lebih tinggi dari suaminya lalu mendekap erat Sehun ke pelukannya. Semua ketakutan Sehun tidak masuk akal, terlebih saat dia mengatakan dirinya akan pergi meninggalkan pusat hidupnya, gila, tentu saja Luhan tidak akan melakukannya.
Karena seperti Sehun, dia juga tidak bisa hidup jika tiba-tiba sosok yang sedang dipeluknya saat ini hilang tak bisa dia lihat lagi. Membuat air matanya ikut menetes namun dia hapus agar Sehun tak perlu mengetahui ketakutan yang sama yang sedang dia rasakan.
"Tenanglah sayang, hey, bayi besarku kenapa semakin terisak?"
Leluconnya tidak berhasil, karena daripada membuat Sehun tertawa, suaminya justru semakin terisak hingga membuat Luhan menyadari bahwa saat ini, ketakutan Sehun adalah nyata dan tak bisa dia sembunyikan lagi.
"Sehunna." Katanya memanggil, mengusap lembut punggung suaminya serta mengecupi surai yang terlihat sangat lemah jika itu menyangkut dirinya.
"hmmh?"
"Jika benar nanti aku akan meninggalkanmu, satu hal yang perlu kau ketahui."
"Apa?"
"Jika hatimu menolak untuk mempercayai kepergianku, itu artinya aku masih bernafas di bawah langit yang sama denganmu." Katanya menguatkan Sehun walau hatinya ikut sakit mengucapkan kalimatnya sendiri "Dan jika hatimu menolak untuk merelakan kepergianku, itu artinya aku masih berada di sekitarmu. Entah sejauh apa aku pergi darimu, tapi jika kau menolak kepergianku, aku akan tetap berada di sekitarmu, kau akan selalu menemukan aku, percayalah, aku tidak benar-benar pergi darimu.
"Lu….."
Mengabaikan harga dirinya sebagai seorang suami malam itu, Sehun menangis hebat di pelukan Luhan. Entah mengapa ucapan Luhan saat itu seperti nyata untuk Sehun, bayangan dirinya yang tidak akan bisa hidup tanpa Luhan terealisasikan malam ini.
Malam dimana dia menangis seorang diri, menikmati seluruh kenangan tentang Luhan, tentang istrinya. Dia terus menangis, sampai hatinya tenang, lalu kemudian entah mengapa ucapan Luhan malam itu seperti membuat harapan baru untuknya.
Mata Sehun terbuka, jantungnya berdebar hebat dan mengingat pesan dari istrinya yang mengatakan
Jika hatimu menolak untuk mempercayai kepergianku, itu artinya aku masih bernafas di bawah langit yang sama denganmu.
"Apa maksudmu sayang?"
Sehun menatap dalam-dalam foto Luhan yang tersenyum di pernikahan mereka, bertanya-tanya apa yang dimaksud Luhan lalu kalimat selanjutnya terdengar sebagai kekuatan Sehun untuk bertahan hidup
Dan jika hatimu menolak untuk merelakan kepergianku, itu artinya aku masih berada di sekitarmu.
"ya! YA! HATIKU MENOLAK!"
Sehun berteriak lantang, dia kemudian bangun dari tidurnya di lantai dingin itu untuk duduk bersandar di tempat tidurnya dan Luhan, memikirkan semua kemungkinan hingga satu kalimat terakhir istrinya benar-benar membuat Sehun menyadari bahwa selama ini, selama ini hatinya menolak kepergian belahan jiwanya, istrinya, dia menolak kepergian Luhan dari hidupnya
Entah sejauh apa aku pergi darimu, tapi jika kau menolak kepergianku, aku akan tetap berada di sekitarmu, kau akan selalu menemukan aku, percayalah, aku tidak benar-benar pergi darimu.
"Tidak benar-benar pergi?"
Sehun mengulang bagian favoritnya dari ucapan Luhan, mencoba untuk mencari makna dari pesan istrinya dan entah mengapa wajah pria bernama Rein itu terlintas di benaknya "tidak benar-benar pergi?"
"Kau benar! Sebelum Seunghyun mengatakannya padaku, kau tidak akan benar-benar pergi!"
Buru-buru Sehun mengambil ponselnya, tangannya gemetar mencari satu nama di ponselnya hingga nama Doojoon terlihat di kontaknya dan dia menekannya tanpa ragu.
"angkat…."
"Doojoon."
Katanya seolah mendapatkan kekuatan baru dan tak lama terdengar suara dari pria yang juga menderita karena kematian istrinya
"Sehun? Ada apa?"
"Seunghyun! Bagaimana dia? Apa dia sudah sadar?"
"Belum, keadaannya masih kritis. Ada apa?"
"Kau hanya perlu memastikan dia membuka mata, kau dengar?"
"Tentu saja, itu janjiku. Tapi ada apa?"
Entah darimana kepercayaan diri itu didapatkan Sehun, tapi dia menjawab tanpa rasa ragu untuk memberitahu "Aku rasa istriku masih hidup."
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu,
.
"Tidurlah, aku rasa kau lelah."
Setelah kejadian di Minimarket beberapa saat lalu, Luhan cenderung diam dan menatap kosong ke arah jendela mobil. Dia juga tidak menghiraukan seluruh ucapan Taecyeon sepanjang perjalanan menuju rumah mewah milik Taecyeon.
Yang dia lakukan hanya diam sampai akhirnya mereka tiba, lalu tanpa bersuara sedikit pun Luhan hanya melangkah ke tempat yang dia ketahui adalah kamarnya, membuat Taecyeon sedikit gusar dan menarik perlahan lengan Luhan.
"Ada apa?" katanya bertanya, dibalas tatapan menyesal Taecyeon padanya "Maafkan aku Rein." Katanya memohon lalu Luhan hanya tersenyum kecil sebagai jawaban "Tidak apa, kau tidak melakukan kesalahan apapun."
Dia melepas pegangan tangan Taecyeon, kembali menuju kamarnya sampai suara Taecyeon berujar memohon lagi "Rein…"
"hmh?"
"Jangan berbicara dengan orang asing lagi, kau bisa melakukannya?"
Wajahnya terlihat keberatan, tapi saat suara Taecyeon terdengar memaksa, maka hanya mengangguk yang bisa Luhan lakukan sebagai jawaban "Baiklah, aku tidak akan berbicara lagi dengan orang asing." Katanya kembali berjalan menuju kamar lalu tiba-tiba berhenti melangkah, menoleh pada Taecyeon yang sedang membuka kamarnya dan bergumam
"Tapi kau harus tahu satu hal Taecyeon-ssi."
Taecyeon memegang knop pintu kamarnya, menoleh untuk melihat pria cantik yang begitu mirip dengan mendiang istrinya untuk bertanya "Apa?"
"Selama aku belum mengingatmu, kau juga orang asing untukku, selamat malam."
Nyatanya ucapan Rein cukup membuat tawa miris dikeluarkan Taecyeon, Jinyoung benar, sebanyak apapun dia menjadikan pria bernama Luhan itu sebagai Rein, tidak akan ada yang benar-benar bisa menggantikan lembut dan baiknya Rein yang asli.
"untukku kau tetap Rein, istriku."
Membuatnya sedikit terluka namun tetap pada pendiriannya untuk mempertahankan pria yang akan dia luluhkan hatinya agar bisa melihat padanya sebagai Taecyeon, suaminya.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan pagi,
.
Seperti biasa diawali dengan Luhan yang membuka mata, merasa begitu kosong hati dan pikirannya, entahlah, dia memiliki hampir segalanya sebagai Rein, rumah yang mewah, kamar yang nyaman dan seluruh perlengkapan yang diberikan Taecyeon untuknya.
"haah~"
Tapi selalu seperti ini, sudah hampir satu bulan berlalu dia selalu terbangun dengan dada yang sesak, hatinya seperti marah karena dia telah melupakan sesuatu
Tapi apa?
Apa yang membuatnya begitu kesepian seperti ini?
Dia tidak mengerti lalu tak terdengar suara ketukan di pintu kamarnya
"Ya?" jawabnya, dan pintu terbuka, menampilkan sosok yang lebih muda darinya sedang tersenyum padanya "Hyung? Kau sudah bangun? Keluarlah dan kita makan bersama."
Tak ingin membuat pria yang dia ketahui adalah adik kandungnya, Luhan mengangguk, dia segera menyingkap selimutnya lalu berjalan keluar kamar dari yang disiapkan untuknya.
"Selamat pagi sayang."
Itu Taecyeon yang menyapa, dibalas senyum kecil Luhan yang kini menarik kursi disamping suaminya, mungkin "Selamat pagi Taecyeon."
"Hyung, ini makanlah. Aku membuatkan nasi goreng kesukaanmu."
Seharusnya dia menyiapkan semua makanan ini, tapi kemudian Jinyoung yang sudah berpakaian rapih harus repot-repot mengenakan apron dan menyiapkan makanan untuknya.
"Kau yang membuatnya?" tanyanya dibalas anggukan tak ragu dari sang adik "Yap, aku selalu melakukannya."
"Selalu?"
Taecyeon tertawa, dia mengusap surai cantik Luhan dan berbisik "Hobinya memasak, itu keuntungan kita."
"ah…."
"Makanlah sayang."
Luhan mengangguk, dia kemudian mengambil satu sendok nasi goreng dan mulai mengunyahnya, hal itu cukup membuat Jinyoung penasaran dan bertanya "Bagaimana?"
"Sangat lezat." Jujurnya dibalas pekikan bahagia dari Jinyoung "yeah! Aku memang hebat. Kalau begitu habiskan sarapanmu hyung, aku harus ke rumah sakit."
Entah mengapa melihat Jinyoung memakai sneli putih khas seorang dokter membuat Luhan iri. Iri dalam artian bukan karena Jinyoung seorang dokter, tapi entah mengapa dirinya iri membayangkan betapa menyenangkan Jinyoung bekerja di rumah sakit dan menyelamatkan banyak orang.
Membuatnya refleks bertanya "Apa kau benar-benar seorang dokter?" tanyanya dan Jinyoung membalas dengan penuh rasa percaya diri "ya, tentu saja. Aku dokter paling tampan di Pyeongchan." Jawabnya diiringi lelucon hingga membuat Luhan menatap kesal padanya.
"araseo…araseo…Belum lama aku menyelesaikan statusku sebagai seorang residen, tapi karena aku terlalu jenius mereka langsung meminta aku menjadi dokter utama menggantikan posisi kosong di Pongnap hospital."
"Whoa…."
"Bagaimana? Aku hebat?"
"Kau sangat hebat." Katanya bangga lalu bertanya sangat polos "Lalu apa pekerjaanku?"
Baik Jinyoung maupun Taecyeon merubah raut wajah mereka, keduanya terlihat salah tingkah, saling menatap cemas dan itu disadari Luhan yang kemudian bertanya "Ada apa? Apa aku tidak memiliki pekerjaan di masa lalu?"
Jinyoung memejamkan sejenak matanya, sejujurnya dia begitu tidak tega membohongi Luhan sampai sejauh ini, dia tak bisa mengatakan apapun berbeda dengan Taecyeon yang kembali mengusap surai Luhan lalu memulai lagi kebohongannya yang lain.
"Kau seorang penulis."
"Benarkah?"
"Ya, tentu saja. Walau hanya kami yang membaca, bagiku kau seorang penulis."
Luhan menerima jawaban Taecyeon sebagai pernyataan ambigu, lalu dia bertanya lagi dan menyimpulkan "Jadi itu hanya hobiku? Jadi aku tidak memiliki pekerjaan?" dia terlihat kecewa lalu Taecyeon mengangkatnya lagi.
"Ya, tapi kau sangat berbakat." Katanya berjalan menuju kamarnya dan tak lama keluar dengan membawa sebuah buku yang dia genggam "Apa itu?"
"Ini, milikmu."
"Milikku?"
"Ya, kau yang menulisnya dan aku menjadikannya buku."
Luhan terperangah, tak menyangka dia bisa menulis buku setebal ini yang dia beri judul Last memory "Aku benar-benar menulis ini?"
"Ya sayang, kau melakukannya."
Lalu Jinyoung bereaksi canggung, dia memilih untuk segera pergi dan entah mengapa Luhan tetap lebih tertarik dengan pekerjaan Jinyoung "Baiklah, aku pergi dulu."
"Ya, hati-hati dijalan, kau bisa membacanya Rein."
"Aku akan membacanya nanti." Katanya mengangguk lalu mengalihkan perhatiannya pada Jinyoung "Jinyoung-a…"
"Ada apa hyung?"
"Aku boleh mengantarmu ke rumah sakit?"
"Wae? Jadwalmu untuk pemeriksaan rutin masih minggu depan."
"Tidak apa! Aku hanya ingin ke rumah sakit."
Jinyoung melihat lagi pada Taecyeon, dan saat kakak iparnya mengangguk dia hanya tersenyum lalu melihat lagi pada pria asing yang dia jadikan kakaknya saat ini "Baiklah."
.
.
.
.
.
.
"sial! Sepertinya lalu lintas padat saat ini."
"Tidak biasanya."
Jinyoung bergumam disamping Taecyeon, mencari sebab kemacetan lalu lintas sampai suara Luhan terdengar dari kursi belakang "Sepertinya ada yang kecelakaan, disana."
Luhan menunjuk ke arah orang berkumpul hingga membuat Jinyoung dan Taeceyon menoleh dan membenarkan "Kau benar hyung, sepertinya kondisinya kritis, aku akan melihatnya kalian tunggu disini."
Secara refleks, jiwa Jinyoung sebagai seorang dokter keluar tepat pada waktunya, disaat semua orang terlihat bingung dia sebagai seorang dokter keluar dari mobil dan berlari menyeruak kerumunan orang didepannya dan mulai melakukan pertolongan pertama.
"REIN!"
Disusul Luhan yang entah mengapa juga seperti terpanggil jiwanya, sesaat setelah Jinyoung berlari, dia juga ikut berlari, ikut menyeruak kerumunan yang sedang berkumpul untuk menyadari bahwa Jinyoung melakukan sedikit kesalahan saat melakukan pertolongan pertama pada pasien berusia sekitar lima puluh tahun didepan mereka.
"JINYOUNG!"
"hyung?"
Posisinya sudah berada di kepala korban, dia bersiap untuk memindahkan korban ke atas tandu ambulance, sampai Luhan berteriak, membuatnya bingung dan tak bergerak pada posisinya "Dia tidak akan bernafas jika kau memegang bagian kepalanya."
"Mwo? Hyung jangan mendekat atau kau—…" Jinyoung memperingatkan, namun Luhan dengan cekatan memegang bagian rusuk dari sang korban dan menunjukkan dimana mereka harus mengangkat sang korban ke tandu "Hitungan ketiga." Katanya memberi perintah, tangan dan wajahnya sudah dipenuhi darah tapi itu tidak mengganggunya sama sekali.
"Satu…"
"Dua…"
Dan tanpa alasan Jinyoung menjadi tidak berguna, dia juga melepas pegangan tangannya di kepala korban hanya untuk memperhatikan Luhan yang terlihat begitu profesional melakukan pertolongan pertama pada korban.
"Tiga! Berikan oksigen padaku!"
Dia terlalu profesional, dia bahkan mengetahui dimana bagian vital tubuh manusia dan begitu mahir menghindari bagian yang mengalami cidera parah.
Luhan sama sekali tidak menyentuh kepala belakang korban, kemungkinannya sang korban mengalami pendarahan di otak. Dan Jinyoung paham bahwa semua gerakan yang Luhan lakukan hanya untuk menghindari keretakan di bagian otak cedera, dia memasangkan oksigen dengan mengangkat dagu korban lalu dengan cekatan memasang alat pernafasan yang diiringi dengan hembusan nafas dari korban yang sedang dalam kondisi kritis.
"Cepat bawa dia dan katakan pada dokter setempat untuk tidak memegang bagian kepala sampai dibawa ke ruang operasi."
Petugas ambulance terlihat bingung, namun mereka sangat terbantu lalu membungkuk sebagai ucapan terimakasihnya pada Luhan "Terimakasih dokter." Katanya menyapa, membuat Luhan lagi-lagi merasa familiar dengan panggilan dokter yang ditunjukkan untuknya.
"dokter?"
Dia bergumam, melihat kedua tangannya yang dipenuhi darah lalu bertanya-tanya darimana dia bisa melakukan serangkaian pertolongan pertama pada korban yang mengalami kecelakaan "Darimana aku mengetahuinya?"
"Hyung! Kau baik-baik saja?"
Jinyoung memastikan dibalas anggukan cepat oleh Luhan "Ya, aku baik-baik saja."
"Tapi hyung, darimana kau tahu semua gerakan pertolongan pertama itu?"
Luhan terdiam lagi, melihat kedua tangannya yang dipenuhi darah untuk bergumam "entahlah, aku merasa seperti sering melakukannya."
Dan bukan hanya Luhan yang terlihat bingung serta ketakutan. Hal yang sama juga ditunjukkan Taecyeon dan Jinyoung yang kini berdiri disamping kakak iparnya, keduanya memperhatikan Luhan yang sedang bertanya-tanya diiringi tawa cela yang diberikan Jinyoung pada Taecyeon
"Kau lihat? Sekuat apapun kita menjadikannya Rein, dia tetaplah orang asing. Dia bukan Rein!"
Taecyeon menolak, walau hatinya merasa sakit karena ucapan Jinyoung adalah kebenaran "Dia Rein, kakakmu."
"sial!" Ingin rasanya Jinyoung memukul wajah Taecyeon, tapi tak sampai hati dia melakukannya. Dia kemudian berbalik memunggungi Luhan untuk mengingatkan Taecyeon "Rein kita, kakakku, dia alergi terhadap darah di tangannya. Setiap darah mengenai tubuhnya dia akan kesulitan bernafas, tapi lihatlah dia! Dia bahkan mengatakan familiar dengan darah! Tidakkah kau mengerti bahwa dia bukan Re-….."
"CUKUP PARK JINYOUNG!"
Taecyeon berteriak, membuat Luhan menoleh sementara Jinyoung membuang kesal kemejanya yang dilumuri darah untuk mengumpat "Bajingan!" Meninggalkan Taecyeon yang memasang wajah cemas sementara Luhan melihat sesuatu jatuh dari mantelnya.
The Last Memory
Begitulah buku yang dikatakan Taecyeon dia buat, dia membandingkan dengan tangannya yang dilumuri darah dan menyadari bahwa buku itu sama sekali tidak membuatnya tertarik, dia tidak memiliki chemistry dengan buku yang dituliskan oleh Park Rein dan lebih tertarik pada darah di kedua tangannya.
"Aku siapa? Apa yang aku lewatkan?"
.
.
.
.
.
.
.
.
Three days later
.
.
Setelahnya, entah karena alasan apa Luhan menjadi sangat sering mengunjungi Minimarket tempat dia bertemu dengan si pria asing. Terhitung ini adalah kali kelima dia mendatangi Minimarket yang hanya menjual kebutuhan pokok sehari-hari.
Tidak ada yang istimewa di Minimarket tempat dia bertemu pertama kali dengan pria itu, dia hanya ingin datang atau lebih tepatnya ingin bertemu lagi dengan pria asing itu, yang bisa membuatnya merasa tenang.
"Tuan? Anda datang lagi?"
"ya, begitulah."
"Apalagi kali ini? coklat atau ice cream?"
Bahkan pemilik toko mulai mengenalnya, membuat Luhan terpaksa mengangguk cangguk dan mencari alasan lain, terkadang dia juga tidak mengerti apa yang dia lakukan disana? Kenapa dia terus datang seolah berharap bisa bertemu lagi dengan pria bernama Sehun itu.
Tidak seharusnya dia melakukan ini, terlebih saat Taecyeon memintanya untuk tidak berkeliaran seorang diri. Harusnya dia pergi mengajar, atau menjaga café milik Jinyoung, tapi entahlah dia lebih memilih ke Halo Minimarket, berbelanja keperluan yang tidak mendesak dengan harapan bisa bertemu lagi dengan pria asing yang tanpa alasan bisa membuatnya begitu tenang walau hanya mendengar suaranya.
"haah~"
Tarikan nafasnya berat, lagipula ini sudah hampir malam, jadi dia tidak bisa berada disana lebih lama lagi. Jadilah Luhan memilih banyak snack lalu berjalan kesulitan dengan tangan yang penuh dengan makanan, tujuannya kasir tentu saja.
Dan selagi menunggu total yang harus dia bayar, diam-diam mata Luhan mencari, melihat ke segala arah dan berharap bisa mendengar suara dari pria yang sedang ingin ditemuinya saat ini.
"Totalnya lima ribu won."
"nde?"
Dia tak fokus untuk beberapa saat sebelum tertawa canggung dan mulai mencari dompetnya "Sebentar." Katanya mencoba untuk mencari dompetnya namun tak bisa dia temukan dimanapun "dimana?" ujarnya bergumam panik untuk menyadari bahwa dompetnya berada di mantel berwarna merah, bukan mantel hitam yang dipakainya saat ini.
"mmh…Nona?"
"Ya?"
"Apa tidak masalah jika aku membatalkan pesananku?"
"nde?"
"Aku lupa membawa dompetku dan-….."
"Nona, aku bayar milikku dan milik pria cantik di depanmu."
Lalu tiba-tiba seseorang menyeruak, menyerahkan dua kaleng soda pada kasir dan membayar seluruh makanan yang dibeli Luhan tanpa melihat dan menoleh padanya "Baik tuan." Sang kasir tentu saja bersemangat, selain tampan, setidaknya dia tidak perlu untuk melakukan retur barang mengingat pelanggan pria berparas cantik didepannya membatalkan pesanan.
"Kau…."
Luhan gugup, namun pria disampingnya tetap tidak menoleh dan hanya menunggu si pegawai wanita membacakan total belanjaan miliknya dan milik si pria cantik disampingnya "Totalnya sepuluh ribu won."
Tak bersuara, pria yang kedatangannya diingnkan Luhan tetap tak menoleh, dia hanya membayar pesanan yang dibeli Luhan lalu menyerahkan selembar won dari dompetnya "Ini."
Pembayaran pun terjadi, Luhan mendapatkan barangnya sementara dia terus menatap tak berkedip sosok yang selalu membuatnya tenang jika dilihat, diam-diam Luhan juga mengagumi bagaimana rahang tajam pria disampingnya terlihat begitu sempurna, matanya yang entah mengapa selalu menatap dingin namun terlihat kesepian ditambah bibir kecilnya yang jika membuka akan terdengar suara khas yang bisa membuat Luhan berdebar.
"Terimakasih telah berbelanja tuan."
"Oke."
Sehun, penyelamatnya, hanya membalas asal, dia kemudian mengambil dua kaleng soda yang dibelinya untuk mengerling asal pada Luhan "Milikmu."
"huh?"
Bergegas dia mengambil belanjaan milik Luhan, menyerahkannya secara langsung dan sengaja meniadakan jarak "Ambillah, ini milikmu." Katanya sengaja menatap tajam pada pria cantik didepannya, seolah memastikan bahwa dia bukan Luhannya, hanya seseorang yang memiliki wajah terlampau mirip dengan istrinya, bukan Luhannya, hanya seseorang yang kebetulan memiliki mata paling cantik seperti milik istrinya.
"ah…." Luhan salah tingkah, dia kemudian mengambil snack miliknya dan tersenyum gugup menatap pria tampan didepannya "Terimakasih."
"Tidak masalah, aku pergi." katanya bergegas meninggalkan minimarket hingga membuat raut kecewa ditujukan Luhan yang entah darimana memiliki keberanian untuk mengejar pria yang entah mengapa sangat ingin dia temui.
"Hey…." Dia berteriak, membuat punggung tegap itu berhenti berjalan dan segera menoleh.
"Ada apa?"
Keduanya kembali bertatapan lagi, namun kali ini seolah tak sanggup menerima tatapan si pria tampan, Luhan hanya tertunduk dan gugup mengutarakan maksudnya.
"mmh….Bisakah kita bicara?" tanyanya, dibalas tatapan bingung si pria tampan yang segera diluruskan Luhan dengan menambahkan "Jika kau memiliki waktu."
Sehun terdiam, hatinya sesak lagi saat tak hanya wajah yang menyerupai Luhan tapi juga tingkahnya ketika gugup begitu mirip seperti tingkah istrinya, dia pun menatap wajah cantik yang kini merona merah untuk tersenyum dan mendekat padanya "Aku lapar."
"nde?"
"Jika ingin bicara temani aku makan siang." Katanya berlalu dan tanpa alasan yang jelas, lagi-lagi Luhan tersenyum saat punggung tegap itu melangkah ke kafe terdekat dan tersenyum padanya "Ayolah."
Dan tanpa alasan yang jelas Luhan memberikan senyum terbaiknya, mengikuti kemana Sehun pergi hanya untuk mencari ketenangan yang terus mengganggunya sejak kali pertama dia membuka mata kurang lebih satu bulan yang lalu.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa kau tidak makan?"
Saat ini keduanya berada di kafe yang terkenal dengan kelezatan steaknya, memesan dua porsi cukup besar namun sepertinya hanya Luhan yang sibuk memotong dan mengunyah karena sedari tadi yang dilakukan Sehun hanya memandangnya seolah dirinya akan hilang jika si pria tampan berkedip.
"Aku tidak makan, kau saja, Rein."
"nde?"
"Namamu Rein? Apa kau yakin?" Sehun memaksanya, antara menggoda dan mengancam hingga membuat pria didepannya bergerak resah dan menjawab "Aku Rein." Katanya menjawab dibalas senyum sarkas Sehun yang terlihat dingin.
"Baiklah Rein, aku Sehun."
"Ya, Sehun-ssi, senang mengenalmu."
"Sehun saja. setelah ini mungkin kita akan sering bertemu."
"Kenapa kita akan sering bertemu?" tanyanya lalu Sehun menaikkan dua pundaknya "Entahlah, aku merasa seperti itu, Re-in." jawabnya meremehkan lalu menatap lembut lagi pria didepannya "Makanlah."
Mengabaikan rasa gugup karena tatapan Sehun, Luhan hanya mencoba untuk terlihat biasa tanpa terganggu dengan tatapan yang bisa membuat hatinya meleleh karena debar jantungnya tak beraturan.
"Baiklah."
Lalu dia merasa risih dengan tatapan Sehun, dia juga meletakkan pisau dan garpu miliknya, ikut melipat tangan di atas meja dan membalas tatapan Sehun yang tak berkedip "Aku rasa kita harus bicara."
"Baiklah." Sehun mengulangnya dan itu cukup membuat Luhan salah tingkah "Apa yang ingin kau bicarakan?"
Wajah Luhan merona lagi, rasanya seperti terbakar tapi dia tetap membalas tatapan super melelehkan milik Sehun dan bertanya cukup tenang "Tempo hari saat kita bertemu kau memanggilku dengan Luhan. Siapa Luhan yang kau sebut saat itu?"
Melipat tangan di dada dan tak berkedip menatap sosok sempurna menyerupai istrinya adalah hal yang dilakukan Sehun seraya menjawab "Istriku."
"nde?"
"Luhan yang aku sebut, dia istriku."
Dan entah untuk alasan apa Luhan merasa sakit mendengar Sehun sudah memiliki istri, dia mengira bisa mencari tahu dirinya dengan cara yang lain, melalui pria didepannya. Tapi saat Sehun mengatakan sudah memiliki istri rasanya dia tidak memiliki harapan selain menerima bahwa dirinya adalah benar-benar Rein.
"Tapi dia sudah meninggal, sepertinya."
Menangkap suara Sehun yang berbeda, perhatian Luhan teralihkan, dia menyadari tatapan Sehun sendu dengan suaranya terdengar begitu merindukan istrinya, membuat Luhan hanya bisa terdiam seraya bertanya "Apa kau baik-baik saja?"
"Tidak, aku sudah mati, sebenarnya."
"Kenapa kau berbicara seperti itu?"
"Kau tahu Rein?"
Sehun menghapus cepat air mata sialan yang selalu jatuh jika itu berkaitan dengan Luhan, mencoba beberapa kali menarik nafas lalu kembali berbicara "Hal terakhir yang aku katakan pada istriku adalah kebenaran tentang semua kebohongan yang aku lakukan. Kami bertengkar hebat, aku membuatnya menangis, aku membuatnya membenciku dan malam itu. Malam itu harusnya aku tidak pergi, kau tahu kenapa?"
Dan tanpa alasan pula, Luhan seolah bisa merasakan luka dari cerita yang diberitahukan Sehun, dia seperti berada disana, pertengkaran itu, kebohongan itu, rasanya sesuatu mengganjal hatinya tapi dia tidak tahu apa sebabnya.
"Kenapa?" tanyanya lirih sesekali memutar bola matanya karena tak tahan melihat wajah Sehun yang begitu menderita "Karena malam itu, saat kami bertengkar hebat aku pergi meninggalkannya. Dia membalasku, Luhan membalasku dengan pergi meninggalkan aku, selamanya."
"…"
Hening, tak ada yang berbicara, Sehun tampak sedang menguasai emosi dan marah hatinya sementara Luhan hanya tertunduk dan entah mengapa sepertinya dia merasakan seribu jarum menusuk hatinya dan rasanya begitu sakit, sakit yang tak bisa dijelaskan.
"Aku menyesal karena hal terakhir yang aku lakukan adalah menyakiti istriku, aku menyesal hingga rasanya hidupku tak berguna lagi, tidak, aku memang sudah tidak hidup untuk satu bulan ini, aku sudah mati." Racaunya menceritakan semua kegelisahan hati yang sebelumnya tak pernah diceritakan Sehun pada siapapun.
"Aku berniat mati sampai beberapa hari lalu aku mengingat ucapan istriku."
"Apa yang dia katakan?"
Luhan mencoba tenang, bersyukur karena Sehun sudah terlihat jauh lebih tenang walau sendu dan terluka masih mendominasi di tatapan tajamnya "Dia mengatakan jika aku menolak kepergiannya, itu artinya dia masih berada di sekitarku. Dan ya, dari awal aku menolak kenyataan bahwa istriku sudah meninggal. Aku tidak pernah mempercayainya, dia bilang dia tidak akan pergi jauh dariku jika aku menolak kepergiannya. Bagaimana menurutmu? Apa yang akan kau lakukan jika kau berada di posisiku?"
Sehun mencoba memancing pria diyakininya sebagai Luhan, menunggu jawaban apa yang akan diberikan Rein dengan pertanyaannya "Jika aku jadi kau." ujarnya tersenyum, menatap dalam-dalam mata Sehun lalu tanpa keraguan mengatakan "Jika suamiku mengatakan itu, maka aku akan mempercayai hatiku, dia belum mati dan aku akan mencarinya bahkan sampai ke ujung dunia. Tidak peduli apapun, selama hatiku mengatakan dia akan baik-baik saja, maka suamiku akan baik-baik saja, itu yang aku lakukan."
Air mata Sehun menetes karena jawaban Rein, kali ini dia tidak menghapusnya, sebaliknya, dia hanya membiarkan sisi lemahnya terlihat lalu menjadi kuat setelah kalimat sederhana itu menjadi tujuan hidupnya saat itu.
Dia tersenyum, menarik nafas sebanyaknya lalu mengangguk, seolah membenarkan ucapan pria cantik didepannya.
"Kau benar, mulai saat ini aku akan mempercayai bahwa istriku masih hidup. Aku akan mencarinya, aku akan mencarinya bahkan ke seluruh semesta di dunia ini untuk menemukannya, aku tidak akan membiarkannya pergi bahkan untuk kenangan terkecil sekalipun, aku akan menemukannya."
"Ya, percaya apa yang dikatakan hatimu. Itu akan membuatmu merasa lebih baik." Katanya memberi saran, dibalas tatapan serius Sehun yang secara mengejutkan mengatakan "Tapi sepertinya dia ada didepanku."
"Siapa?"
"Istriku."
Luhan tak sengaja menumpahkan air putih di sampingnya, ucapan Sehun seperti serangan mendadak yang tak bisa diterima respon tubuhnya, dia gugup tapi dia ketakutan, namun ada sejumput perasaan bahagia saat Sehun mengatakan dirinya adalah istrinya yang hilang itu.
Tapi ini salah,
Dia Rein, bukan Luhan.
Sontak hal itu membuat wajahnya pucat untuk mengingatkan Sehun "Aku Rein."
"Sampai aku memastikan siapa dirimu, kau tetap Luhan untukku."
"Kau-….!"
Drrtt….drttt…
Ponsel Sehun bergetar, terlihat nama Kai di layar ponselnya dan dia segera mengangkat panggilan sahabatnya "Ya, aku berada di kafe tepat di depan Minimarket." Dia memberitahu dan tak lama menutup lagi ponselnya untuk menatap Luhan "Rein, lihatlah ke belakang, apa kau mengenal mereka?"
Sehun memberi instruksi, membuat Luhan menoleh untuk mendapati dua pria yang memiliki tinggi sama dengan Sehun sedang berada di sebrang jalan, keduanya terburu-buru menyebrang jalan dan sama seperti Sehun, keduanya terlihat terkejut saat tak sengaja mata mereka bertemu pandang.
Namun sial, sebanyak apapun Luhan mencoba mengenali, mereka terlihat sangat asing untuk Luhan, dia juga tak mengerti apa yang diinginkan Sehun hingga membuatnya kembali bertanya "Siapa mereka?"
Sehun dengan senyum lirihnya menjawab "Mereka sahabat Luhan, istriku."
Menyinggung tentang Luhan yang dibicarakan Sehun, Luhan merasa tidak nyaman. Buru-buru dia berdiri untuk berpamitan karena tatapan Sehun seolah berbicara dengannya seperti dirinya benar-benar Luhan, istrinya. Dia benar-benar tidak nyaman dan secara gugup mengambil ponsel dan belanjaan miliknya "Aku rasa sudah waktunya aku pergi." ujarnya gugup dan berjalan keluar meninggalkan kafe.
.
.
.
Sementara itu,
.
"Hubungi Sehun, katakan padanya kita sudah sampai di Minimarket."
Kai mengangguk, mengeluarkan ponselnya dan tak lama suara Sehun terdengar "Kami sampai."
"Ya, aku berada di kafe tepat di depan Minimarket."
"Baiklah, aku melihatmu."
Pip!
Kai menutup ponselnya dan menunjuk ke arah Sehun yang sedang berada di kafe bersama seseorang "Dia sedang bersama Luhan."
Chanyeol membenarkan, keduanya bersiap untuk menyebrang jalan sampai langkah kaki mereka terhenti menyadari satu hal
"Kai, apa baru saja kau menyebut Luhan?"
Jantung Kai berdegup kencang, dia mengangguk lalu memastikan lagi ke tempat Sehun berada "Aku baru menyebutnya." Ujarnya membenarkan dan secara gila berharap bahwa disana, yang sedang berbicara dengan Sehun benar-benar Luhan, Luhan mereka.
Katakanlah tak hanya Sehun yang menghafal seluruh bentuk tubuh Luhan bahkan hanya dari bahunya yang mungil. Kai dan Chanyeol juga bisa menyadarinya dari kejauhan, mereka tanpa sadar mengatakan Sehun sedang bersama Luhan karena memang pria cantik yang sekarang menoleh ke arah mereka adalah Luhan.
Luhan yang satu bulan lalu sudah dimakamkan tanpa kehadiran mereka.
Jadilah kedua pria itu terlihat terburu-buru, mereka menyebrang secara asal dan membiarkan klakson mobil itu ditekan penuh rasa marah. Yang mereka inginkan hanya sampai disana dan bertemu langsung dengan pria itu.
"sial!"
Keduanya mengumpat saat melihat Luhan meninggalkan kafe, beruntung mereka bertemu jalan hingga membuat ketiganya berhenti di posisi mereka.
"Luhan?"
Luhan terkejut begitupula Kai dan Chanyeol.
Wajah mereka pucat saat mata mereka dan mata Luhan bertatapan, dada mereka sesak tak bisa mengatakan apapun sementara tak jauh dari tempat mereka bertemu, Sehun sedang menatap miris bagaimana kedua sahabatnya terluka karena Luhan tak mengenali mereka.
Tak lama Sehun menghapus air mata sesak miliknya untuk kembali memainkan peran baik-baik saja disaat hatinya hancur tak berkeping
Dan sepuluh detik sebelum kedatangan Sehun, Kai dan Chanyeol nyaris menarik Luhan ke pelukannya jika Sehun tidak tiba-tiba datang dan berdiri di tengah mereka
"Kalian sudah bertemu?"
Sehun menatap menyesal pada Kai dan Chanyeol, dia menggeleng sebagai kode lalu berdiri di tengah-tengah sahabatnya untuk berbicara dengan Luhan "Mereka temanku, Kai dan Chanyeol." Katanya memperkenalkan Kai dan Chanyeol pada Rein sebelum menatap sendu dua sahabatnya
"Dan Kai, Yeol, kenalkan dia orang asing yang begitu mirip dengan Luhan kita, matanya, senyumnya, tapi sayang dia bukan Luhan."
"Apa maksudmu?" Kai bertanya dibalas suara lirih Sehun yang memperkenalkan pria didepannya sebagai "Rein, dia Rein."
"Rein? / Apa yang kau bicarakan?"
Kai dan Chanyeol terkejut, berbeda dengan Luhan yang begitu ingin menangis karena tak mengingat siapa dirinya.
Semakin dia mencoba, seluruhnya berubah menjadi hitam, kepalanya sakit dan paling parah dia akan muntah karena mual. Dia juga ingin mengetahui siapa dirinya, siapa tiga pria didepannya.
Tapi apa daya semuanya terlalu cepat untuk diterimanya dalam satu waktu hingga membuat hanya rasa takut dan bingung yang begitu menyakiti dirinya. Diapun menyeruak diantara tubuh besar tiga pria didepannya untuk berlari dan menghindari rasa sakit hebat di kepalanya karena terlalu banyak yang mengenalinya sebagai Luhan sementara dirinya adalah Rein.
"LUHAN!"
Chanyeol berteriak, mencoba untuk memanggil pria mungilnya namun percuma, Luhan sudah pergi entah kemana sementara Sehun hanya menatap nanar bahu mungil Luhan yang semakin menjauh darinya, terus menjauh hingga membuatnya sesak karena terlalu sulit digapai.
"Sehun! Katakan padaku dia Luhan—KATAKAN!"
Sehun melepas cengkraman Kai di bahunya, dia kemudian menatap tegas pada dua sahabat Luhan untuk membenarkan apa yang sudah dikatakannya tiga hari yang lalu.
"Sudah aku katakan pada kalian, Luhan masih hidupdan aku akan segera membawanya pulang kerumah kita, aku janji."
.
.
.
.
.
to be continued.
.
.
.
.
pftt...tetep aja ngalong mau diusahain kaya apa tau :( lima belas menit sebelum tgl 10 udahan gue juga gereget sebenernya, maap gengs :"
.
wishlah, bagi-bagi spoiler nih nextchap
.
Next, LuBaekSoo meetup, *soon
.
Next, Sehun beneran bawa Rein balik kerumah mereka *confirmed
.
Jadi jadwal UP chap 25 sabtu, 17 Feb :*
.
Seeyou, love love.
.
Mianhae, Saranghae
