Previous
"Sehun…"
Entahlah, mungkin Luhan sudah gila, terbuai dengan sentuhan dari pria yang belum bisa diingatnya namun begitu diingat oleh tubuhnya, dia tahu ini salah saat ada pria lain yang menunggu. Dia bahkan mendesahkan nama pria yang sedang mencumbu mesra dirinya dengan rasa bersalah menyiksa.
Dia teringat Taecyeon, tapi hati kecilnya mengatakan bahwa diantara dua pernikahan yang pernah terjadi di antara Sehun-Luhan dan Taecyeon-Rein, dirinya menempati posisi Luhan bersama Sehun, bukan Rein bersama Taecyeon, harapnya.
.
.
Je'Te Veux
.
.
.
Main cast : Lu Han as Xi Luhan
Oh Sehun as Oh Sehun
Rate : T-M
.
.
.
.
.
.
.
Dan ketika akal sehat mulai dihilangkan Sehun atas pria yang dia yakini sebagai Luhan, dia memberanikan diri untuk bertindak semakin jauh, bukan dari caranya mencumbu pria yang mengaku tidak bisa mengingat siapa dirinya, tapi lebih pada tindakan dan caranya berbicara saat mata keduanya mengunci setelah melepas kecupan yang membuat darah mereka berdesir hebat.
Sehun sengaja tidak memberikan jarak pada pria cantik yang sedang ditatapnya, menyatukan dahi mereka serta membiarkan nafas saling menghembus ke wajah masing-masing, bukan bibir yang berbicara, tapi mata mereka yang berkomunikasi seolah meyakinkan hati masing-masing bahwa mereka ada untuk melengkapi satu sama lain.
Hal itulah yang membuat Sehun memiliki keberanian untuk mengatakan "Ikutlah denganku." Membuat Luhan begitu tergoda dan hampir mengatakan "ya" Jika suara Sehun tidak terdengar mengerikan saat berbisik "Aku akan menyingkirkan Taecyeon, hanya ikut denganku dan jadilah Luhanku."
"Apa maksudmu?" tanyanya, lalu Sehun menjawab "Jika dia menghalangiku untuk mendapatkan dirimu, aku dengan mudah akan menyingkirkan dia dari hidupmu, selamanya."
"Mwo?"
Tak hanya bagaimana kalimat "menyingkirkan" itu terdengar sangat mengerikan, tapi juga karena keposesifan Sehun untuk menjadikannya sebagai Luhan terdengar sangat menuntut, hal itu justru membuat refleks Luhan berkata lain.
Dia mendorong jauh tubuh Sehun, membuat jarak dengan pria yang nyaris membuatnya luluh jika tidak terlihat mengerikan dengan segala keinginannya untuk memiliki sesuatu, matanya menatap antara takut dan kecewa, memandang tak percaya pada sosok nan sempurna yang membuat jantungnya berdebar hanya untuk berdesis "Kau terlihat sangat mengerikan!"
"Ada apa?"
"Kau berbicara seperti seorang pembunuh."
Tak mengerti Sehun bertanya "Apa yang kau bicarakan?"
"Kenapa pula kau harus menyingkirkan Taecyeon? Tidak bisakah kau melakukannya dengan cara yang lebih wajar?"
Barulah Sehun mengerti, entah dia berbicara dengan Luhan atau dengan Rein, dua sosok cantik serupa itu nyatanya tidak menyukai sisi gelap dirinya, Sehun bahkan ingat bagaimana kecewa dan marah istrinya saat terakhir mereka bertengkar, saat Luhan tahu dia bekerja dengan Doojoon, pria yang membunuh ibunya.
Terdapat sayatan luka di tatapan dua mata cantik favoritnya, Sehun selalu menyadarinya namun tak bisa melakukan apapun, membuatnya terlihat sangat bodoh terlebih saat pria yang hampir dia dapatkan kini berjalan menjauhinya, lagi.
"Aku tidak bisa."
"huh?"
"Sekalipun aku Luhan atau benar aku ternyata Rein, aku tidak yakin bisa hidup denganmu."
"Wae?"
"Ada yang salah dengan dirimu, tapi aku rasa kau terlanjur menyukai sisi gelap dirimu sendiri dan aku membencinya!"
"Rein…!"
Mungkin jika Luhan masih hidup dia akan mengatakan hal yang sama tentang bagaimana mengerikan dirinya saat ini, obsesinya untuk membunuh dan tak lagi menjalani hidup normal selayaknya Sehun yang dulu.
Rasanya sesak untuk kedua kali kau dibenci karena alasan yang sama, tapi lucunya Sehun seperti merasa kembali memiliki tujan hidup saat dirinya meyakini bahwa dia tidak dibenci oleh dua orang, ya, dia tersenyum miris meyakini bahwa pria yang baru saja mengatakan benci padanya adalah pria yang sama yang sudah menjadi belahan jiwanya sejak kecil.
Aku yakin kau Luhan, bukan Rein. Lalu apa salahku? Aku hanya ingin milikku kembali padaku.
Dia terjatuh, menikmati lagi sepi membunuh di rumah yang dulu begitu hangat dan dipenuhi teriakan Luhan hanya untuk terisak seorang diri, tak ada lagi yang akan duduk di pangkuannya dan memeluknya erat, tak ada lagi yang mengatakan sst Sehun aku memelukmu sayang, karena untuk kedua kalinya pula.
Entah Luhannya atau Luhan yang tidak mengingatnya, Sehun kembali membuat masalah dan berakhir kehilangan sosok yang belum lama kembali didekap erat di pelukannya. Hal itu membuatnya murka, dia juga begitu gundah dan kesakitan tak mengerti harus melakukan apa lagi.
Karena disaat dia merelakan Rein hanya menyerupai Luhan, malam ini pria cantik itu justru datang mengakui bahwa dia tidak mengingat apapun, bahwa hatinya menginginkan dirinya adalah Luhan.
Lalu apa salahnya?
Jika Rein ingin menjadi Luhan atau Jika Luhan yang tidak mengingat apapun ingin kembali menjadi Luhan, bukankah sudah tugasnya untuk membawanya pulang? Bukan kehilangannya lagi seperti malam ini.
Jadilah Sehun menggeram, antara marah pada dirinya atau keadaan dia tidak bisa memilih, kini yang bisa dia lakukan hanya mengambil ponselnya, mencari nama L disana sampai suara sahabat dari mendiang istrinya terdengar memakinya
Bajingan idiot! SEBENARNYA DIMANA KAU? KITA HARUS KEMBALI KE SEOUL!
Daripada marah, teriakan Myungsoo terdengar mencemaskannya, membuat senyum miris terlihat di wajah Sehun yang kini dipenuhi air mata. Dia bahkan tidak berbicara sampai suara Myungsoo kembali berteriak
OH SEHUN JAWAB AKU!
Dia pun tertawa kencang namun suara isakannya lebih mendominasi hingga membuat Myungsoo berhenti berteriak dan bertanya cukup cemas
Ada apa denganmu?
Sehun terus tertawa, sesekali isakan terdengar dan terus seperti itu sampai rasanya dia bisa gila karena kepedihan hati yang dirasakannya,
Dimana kau? Aku akan datang menjemputmu!
"L…."
Barulah dia bersuara, terdengar memohon lalu mengatakan "Cari tahu semua informasi yang berkaitan dengan Park Rein."
"Mwo? apa kau lupa? Kita harus kembali ke Seoul karena Doojoon-…."
"Aku tidak akan pergi kemanapun sampai aku tahu latar belakang Park Rein, kau dengar?"
"Sehun-…."
"Kumohon, ini terakhir kali sebelum kita kembali ke Seoul."
Nyatanya suara lirih Sehun hanya mengundang iba lebih dalam untuk Myungsoo, membuat pria berlesung pipi tak memiliki pilihan lain selain menarik nafas dan memberikan jawaban
"Baiklah, aku akan mencari tahu tentang Park Rein."
Dibalas lirih "Gomawo," oleh Sehun yang tak lama menutup ponselnya dan kembali memeluk erat foto pernikahannya dengan Luhan, matanya nanar melihat senyum cantik yang begitu dirindukannya dengan bibir kelu yang bergumam "aku rindu, aku merindukanmu Luhan."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sial! Aku bahkan tidak bisa mengeluarkanmu dari isi kepalaku."
Dia mengumpat dengan hati yang masih berdegup kencang. Jujur pertemuannya dengan Sehun malam ini hingga kecupan lembut yang diberikan pria asing itu masih mengacaukan hatinya, dia bahkan tanpa sadar masih bisa merasakan sensasi menyengat saat bibir tipis Sehun bergerak di atas bibirnya, basah, namun yang paling membuat dirinya kacau adalah kenyataan bahwa dia menyukainya, dan gilanya Luhan merasa begitu familiar dengan semua perasaan asing yang membuat sakit kepalanya.
Lalu disaat isi pikirannya mengingatkan bahwa Sehun juga memiliki kepribadian yang sedikit mengerikan, hatinya berhenti berdegup, dan lucunya lagi dia tidak merasa takut dengan kemungkinan kalimat "menyingkirkan" yang ditujukan Sehun untuk Taecyeon, sebaliknya dia merasa cemas jika Taecyeonlah yang akan bertindak mengerikan dan menyakiti Sehun lebih dulu.
Ya, beberapa hari ini Luhan selalu menyadari beberapa pria bertubuh besar dengan jubah hitam yang selalu mengikuti Taecyeon kemanapun dia pergi, pernah dia bertanya pada Taecyeon tapi jawaban Taecyeon akan selalu sama
Mereka rekan kerja.
Dan satu kebohongan lagi diberikan untuknya, bagaimana mungkin seorang rekan kerja tidak berteriak marah saat kau memukulnya hingga tersungkur tak berdaya? Bagaimana mungkin seorang kerja memanggilmu Presdir dan selalu mengikuti kemanapun kau pergi layaknya bodyguard?
Dan ya, sekali lagi Luhan menegaskan dirinya memang tidak mengingat apapun tapi dia bukan orang bodoh yang bisa begitu saja dibohongi atau mempercayai sesuatu yang menurutnya janggal, dan Taecyeon serta terkadang Jinyoung, keduanya bergantian memperlakukan dirinya seperti orang bodoh dengan memberi pernyataan berbeda untuk pertanyaan yang sama darinya.
"haaah~"
Nafasnya ditarik kuat bukan tanpa alasan, saat ini dia melihat dua mobil milik Taecyeon dan Jinyoung sudah memenuhi halaman rumah, itu artinya mereka sudah kembali dan akan menjadikan besar masalah sepele seperti kemana dirinya selama beberapa jam diluar.
"Darimana saja kau?"
Dan benar saja, kakinya bahkan belum masuk ke dalam halaman rumah tapi suara dingin sudah menyapa, membuatnya menoleh ke kanan untuk tak sengaja menemukan Taecyeon sedang bersandar di pagar samping rumah dan memperhatikan Luhan tak berkedip dari atas hingga ke bawah tubuhnya.
"Aku bertanya." Ulangnya, menggoda Luhan untuk menjawab "Bertemu dengan Sehun." namun dia urungkan niat gilanya itu menjadi "Aku hanya mencari udara segar." Kilahnya lalu tatapan Taecyeon memandangnya sengit sesaat "Di malam seperti ini?" sarkasnya dibalas anggukan kecil dari Luhan yang sedang mempertahankan diri "Tidak boleh?" tantangnya,
Keduanya kini saling melempar tatapan tajam, Taecyeon dan segala keposesifannya sukses membuat Luhan jengah karena sikap dan seluruh alasan tak masuk akal yang selalu coba dikatakan Taecyeon padanya.
Dan mungkin perang dingin mereka akan terus berlanjut jika suara Eunwoo tidak berteriak "HYUUUNGG…!" hingga perhatian Luhan teralihkan untuknya "Eunwoo!" buru-buru Luhan menyambut adiknya, memandangnya cemas dan bertanya "Kau sudah lebih baik?"
"eyy…Tidak perlu cemas seperti itu, aku sudah baik-baik saja."
"Tapi kau…."
"Sesak?"
Luhan mengangguk lalu adiknya tertawa untuk merangkul lengannya "Aku sudah lebih baik saat ini."
"Benarkah?"
"Ya."
Semakin dirasa langkah Eunwoo membawanya menjauh dari rumah, hal itu membuat Luhan bertanya-tanya lalu terlihat Jinyoung diikuti beberapa pria berjubah hitam yang sedang memasukkan barang-barang ke mobilnya dan Taecyeon.
"Eunwooya, siapa mereka?
"Entahlah hyung."
"Lalu kemana Jinyoung akan pergi?"
"Jinyoung hyung? ah, bukan hanya Jinyoung hyung tapi kita semua akan kembali ke Seoul."
"Tapi lusa kita pergi , bukan malam ini."
"Kau salah hyung, kita pergi malam ini."
"Tidak, aku rasa kau yang salah, lusa kita akan pindah bukan malam ini."
"Tapi Taec hyung bilang malam ini juga kita akan kembali ke Seoul."
"Mwo?"
Luhan memaksa Eunwoo berhenti melangkah, dia kembali menatap Taecyeon yang kini membuang wajah untuk menggeram kesal dan melepas pelukan Eunwoo di lengannya "hyung!
Mengabaikan teriakan Eunwoo, Luhan berjalan lurus dan bertanya kesal pada Taecyeon "Apa maksud semua ini?" tanyanya, dan Taeceyon berpura-pura untuk terlihat sibuk "Taec!"
"Apa?"
"Kenapa kita pergi malam ini? Kau bilang lusa?"
Dan sama seperti Luhan mengabaikan teriakan Eunwoo, maka Taecyeon juga sedang mengabaikan pertanyaan Luhan yang terdengar membenci kepergian mereka dari Pyeongchang.
"Taecyeon aku sedang berbicara denganmu!"
"Aku tahu."
"LALU JAWAB AKU!"
Taecyeon berhenti memasukkan barang milik Rein dan miliknya ke dalam bagasi mobil, tatapannya kemudian menginstrusikan semua yang ada di sekitarnya untuk bergegas pergi dan meninggalkan Luhan dengannya.
Tak terkecuali Jinyoung dan Eunwoo, keduanya sudah melajukan mobil menuju Seoul hingga tinggal dirinya dan Taecyeon yang kembali melempar tatapan tajam karena situasi menegangkan saat ini.
"Rein, Kumohon."
Nadanya berubah menjadi lembut, terdengar seperti memohon dengan tatapan sendu melihatnya, sekilas Luhan tidak melihat keegoisan di mata Taecyeon, sebaliknya pria yang mengatakan suaminya ini terlihat sangat cemas menatapnya seolah benar-benar mengkhawatirkan dirinya.
"Tapi kenapa?" tanyanya lembut juga, tidak menggunakan emosi dan rasa kesalnya untuk menatap Taecyeon yang masih tertunduk "Disini berbahaya untukmu."
"huh?"
Ada sebersit perasaan bersalah menyelimuti Luhan tatkala pria sekeras Taecyeon menitikkan air mata untuknya, dan entah mengapa dia seperti terhipnotis saat Taecyeon mengatakan "Aku pernah kehilanganmu sekali, aku tidak mau kehilanganmu lagi Rein, aku sangat mencintaimu."
Sedetik yang cepat dan untuk pertama kali selama dia bersama Taecyeon, baru kali ini Luhan bisa merasakan ketulusan dari pernyataan yang diucapkan Taecyeon untuknya, karena selama dia mengenal Taecyeon dan tinggal bersama dengannya, entah mengapa Luhan selalu merasa asing dan cenderung dibohongi dalam segala hal.
Dan karena alasan itu pula Luhan tidak begitu menyukai pria yang mengatakan suaminya, dia tidak suka dibohongi, dia tidak suka dibodohi dan saat ini Taecyeon tidak melakukannya dan itu membuat hati Luhan sedikit luluh.
"Aku akan menjagamu dengan benar kali ini." dia berbisik, memeluk Luhan erat seperti benar bahwa dia takut kehilangan bukan karena dia memanfaatkan sesuatu dengan kebohongan.
Dan lagi-lagi cara Taecyeon dan Sehun meyakini siapa dirinya membuat Luhan bimbang. Ada waktu dimana dia merasa dirinya Luhan namun ada sedikit keyakinan bahwa Rein juga adalah dirinya, dia lelah menyakiti Sehun atau Taecyeon.
Dia hanya perlu menjadi satu orang Rein atau Luhan. Lalu seperti katanya pada Sehun, karena Taecyeon yang menemukannya pertama kali maka dirinyalah ada Rein.
Suka atau tidak, pria yang sedang memeluknya adalah suami dari Rein, bukan Luhan.
Lalu Luhan mencoba menerima, membiasakan diri dengan kehidupan barunya di Seoul untuk membalas pelukan Taecyeon dan bergumam pasrah "Baiklah, kita pergi malam ini."
.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu….
Tak lama setelah kepergian pria yang diyakininya sebagai Luhan, Sehun kembali ke tempatnya dan Myungsoo bersembunyi selama di Pyeongchang. Tak ada raut tenang diwajahnya, yang terlihat hanya kemarahan serta raut putus asa karena keyakinannya akan Rein adalah Luhan mengingat tak hanya wajah yang menyerupai Luhan tapi caranya membalas kecupan khas yang selalu diberikan Sehun untuk istrinya benar-benar seperti Luhan
BLAM!
Dia bahkan membanting kencang pintu dari rumah yang disewa Myungsoo, melepas mantelnya yang robek di bagian lengan lalu berjalan menuju ruang kecil yang digunakan Myungsoo untuk membantunya dengan seluruh peralatan yang dimilikinya.
"Bagaimana?"
"astaga! Tidak bisakah kau mengetuk lebih dulu?"
Sehun tidak mempedulikan bagaimana Myungsoo terlihat jengah dan marah padanya, yang dia pedulikan hanya semua informasi tentang pria yang diyakini adalah Luhannya.
"Apa yang kau temukan tentang Park Rein?"
Bisa saja Myungsoo memakinya lebih dulu atau memukul wajah Sehun karena mengacaukan rencana mereka, atau paling buruk dia akan menginstrusikan seluruh bodyguardnya untuk menghajar Sehun dan membawanya paksa pulang ke Seoul.
Ya, semua bisa dia lakukan jika dia mau, tapi kemudian wajah Sehun membuatnya sedikit iba, dia mempunyai memar di wajah dan perban yang ada di lengan kirinya, ditambah tatapannya menuntut bukan karena dia tak sabar tapi karena dia ingin mengetahui sesuatu diluar kemampuannya untuk mencari tahu.
"haah~"
Myungsoo mengurungkan niat gilanya, dia kemudian mengerling Sehun lalu memaksanya untuk tenang "Duduklah lebih dulu, aku masih mencari semua informasi tentang Park Rein."
"Kau yang biasa hanya membutuhkan waktu sepuluh menit mencari latar belakang seseorang." Katanya tak sabar membuat Myungsoo mendelik marah padanya "Ya, aku yang biasanya bisa menemukan siapapun tanpa kesulitan! Kasusnya berbeda dengan Park Rein, semua latar belakangnya seperti disembunyikan dan dilindungi oleh seseorang."
"Apa maksudmu?"
"Maksudku aku tidak bisa mengakses data tentangnya dalam waktu dekat jika kau terus mendesakku!"
"Bukan itu maksudku,"
Myungsoo terus mengakses data yang diterimanya secara teliti, tidak mempedulikan Sehun yang masih terus mengganggunya hingga ucapan suami dari mendiang sahabatnya itu memberi ide untuknya "Kau bilang latar belakang Park Rein disembunyikan oleh seseorang?"
"Ya, dan siapapun orang itu pastilah dia anggota organisasi karena sistemnya menggunakan malware seperti miliki Donghoon."
"Kalau begitu cari Ok Taecyeon."
"Siapa?"
"Ok Taecyeon, cari Park Rein melalui Ok Taecyeon. Cepat!"
Jemari tangan Myungsoo bekerja lihai diatas keyboard miliknya, menghapus nama Park Rein dan menggantinya dengan Ok Taecyeon untuk menemukan beberapa informasi dari berbagai sumber yang dikenalnya di pencarian terlarang.
"Daebak."
"Ada apa?"
Myungsoo masih terperangah melihat latar belakang dari pria bernama Ok Taecyeon, tangannya yang terus menerus menekan scroll ke bawah tiba-tiba berhenti untuk mengambil kesimpulan dan memberitahu Sehun kebenarannya.
"Siapapun Ok Taecyeon yang sedang kita cari, dia sama dengan Donghoon."
"Mwo?"
"Tidak, menurutku dia lebih mengerikan daripada Donghoon. Bisnis dan beberapa mafia mengerikan di Seoul ada dibawah perintahnya."
Tangan Sehun mengepal erat, nyatanya semua yang berhubungan dengan Luhan tidak akan jauh dari kejahatan, ingin rasanya dia menyingkirkan baik Donghoon ataupun Taecyeon dari hidup pria cantiknya, namun dia masih menahan diri mengingat wajah Luhan dan Rein begitu mirip hingga sulit dibedakan.
"Aku tidak peduli apa yang dilakukan Taecyeon, cari tahu tentang Park Rein darinya."
Myungsoo mengerti, lalu dia mendapatkan data baru lagi mengenai kehidupan pribadi Taecyeon yang bersifat private. Sejujurnya tidak sulit untuknya membuka sesuatu yang bersifat private karena memang pekerjaannya adalah memberikan informasi sebanyak apapun klien nya meminta, lalu ketika dia berhasil menembus data paling pribadi dari seorang Taecyeon maka wajar jika dua mata Myungsoo membulat hebat melihat tidak hanya satu foto tapi beberapa foto yang menyerupai mendiang sahabatnya sedang bersama dengan Taecyeon.
"Luhan?"
Buru-buru Sehun menunduk, dia menggeleng untuk meyakinkan Myungsoo bahwa foto Rein yang asli memiliki perbedaan senyum dengan istrinya "Bukan, dia bukan Luhan, dia Park Rein."
"Tapi wajahnya…."
Tiba-tiba Sehun bersemangat, melihat foto Rein yang asli seolah membuatnya memiliki keyakinan akan pria yang baru saja diciumnya lembut beberapa jam yang lalu memang Luhan, istrinya. Luhan dan Rein memang tidak bisa dibedakan jika dalam keadaan diam. Tapi saat tertawa dan tersenyum, Sehun sebagai satu-satunya pria yang sudah memuja Luhan sejak kecil tahu perbedaan istrinya dan istri Taecyeon.
Luhan akan memiliki sedikit lesung di pipinya jika tersenyum dan tertawa lebar, sementara gambar yang dilihatnya tidak menunjukkan lesung yang membuat istrinya begitu manis. Sehun membandingkan lagi dengan Rein yang baru diciumnya beberapa jam yang lalu, selain respon tubuhnya yang begitu mirip dengan Luhan, Rein yang tertawa dengannya beberapa jam yang lalu memiliki lesung di bibirnya persis seperti Luhan, bukan Rein yang sedang dilihatnya dalam foto bersama Taecyeon saat ini.
"Mereka hanya memiliki kesamaan dari bentuk wajah, mata dan hidung. Tapi jika mereka tersenyum aku bisa membedakan yang mana istriku dan bukan istriku."
Tak mengerti, Myungsoo bertanya "Lalu?"
"Lalu aku yakin dia adalah Luhan."
"Dia?"
"L! bisakah kau terus mencari tentang pria ini!"
Myungsoo jengah lagi, sepertinya dia mulai mengerti mengapa akhir-akhir ini Sehun bertindak gila seperti pria yang sedang jatuh cinta lagi, rupanya karena dia bertemu dengan pria menyerupai Luhan yang ditebak Myungsoo membuat Sehun sedikit gegabah dan mengambil kesimpulan bahwa pria bernama Park Rein itu adalah memang Luhan.
Enter!
Dan saat Myungsoo memasuki halaman baru dari data yang diterimanya, sesuatu mengejutkan dilihatnya sebagai berita yang bisa dimasukkan kedalam kata kunci dari pria yang dicari Sehun "Bagaimana?"
"Entahlah, tapi data yang kuterima tidak ada yang salah, hanya satu yang terasa mengganjal."
"Apa?"
"Taecyeon mencari pendonor sum-sum tulang belakang beberapa waktu lalu, dia bahkan melakukan cara kotor dengan memaksa beberapa orang untuk melakukan tes sum-sum tulang belakang. Beritanya menyebar cukup lama dan berhenti tiga bulan yang lalu."
"Kenapa berhenti tiga bulan yang lalu?"
"Disini dikatakan Taecyeon berhenti mencari karena istrinya dinyatakan tiada oleh adik iparnya sendiri."
"Mwo?"
"Tidak jelas penyebabnya, tapi Taecyeon sempat bertengkar hebat dengan dokter yang menangani istrinya."
"Siapa nama dokter yang menangani Rein?"
"Sebentar." Katanya mencari dan memasuki situs hitam lainnya untuk menyebut nama "Park…"
"Jinyoung." Timpal Sehun dan itu cukup membuat Myungsoo terkejut "Kau mengenalnya juga?"
"Tidak, aku hanya melihatnya beberapa kali bersama Rein dan Taecyeon, aku tahu dia seorang dokter." balasnya asal, dan fokus pada pernyataan tentang Rein yang telah tiada "Lalu apa kau bisa memastikan bahwa istri Taecyeon benar-benar tiada?"
"Sayangnya tidak, kecakupanku hanya sebatas Taecyeon bertengkar dengan dokter yang menangani istrinya. Jika kau tahu dia adalah Park Jinyoung, harusnya kau tahu dimana harus mencari."
Ucapan Myungsoo terdengar sebagai ide untuk Sehun, dia tidak bisa menemukan data apapun tentang Rein dari pencarian yang dilakukan Myungsoo. Tapi dia bisa menemukan Taecyeon dengan mudah, lalu tiba-tiba dia merasa bersemangat untuk mencari langsung kenyataan tentang siapa Rein dari adiknya, Park Jinyoung.
"Apa kau bisa mencari tahu rumah sakit tempat dimana Jinyoung bekerja di Pyeongchang?"
"Mudah." Balas Myungsoo lalu data yang diinginkan Sehun keluar lagi di layar komputernya "Dia bekerja untuk Nonsan hospital, sekitar dua puluh menit dari tempat kita."
"Baiklah."
Sehun buru-buru mengambil mantel dan kunci mobilnya, berniat untuk pergi lalu suara Myungsoo berteriak lagi memanggilnya "SEHUN!"
"Ada apa?'
"Mereka pindah ke Pyeongchang sekitar enam bulan yang lalu, itu artinya Nonsan hospital bukan tempat pertama dokter Park bekerja."
"Lalu dimana?"
"Aku rasa kau akan lebih banyak menerima informasi di Cancer clinic tempatnya bekerja pertama kali. Jaraknya cukup jauh, sekitar satu jam dari tempat kita, tapi aku bisa mengarahkanmu."
Sehun tersenyum kecil, mengangkat ibu jarinya lalu berujar "Bantu aku."
"Dengan senang hati."
Sementara Sehun berlari keluar menuju mobilnya, maka Myungsoo menyiapkan gps untuk membantu Sehun sampai pada tujuannya mencari kebenaran "yeah, Aku juga berharap kau menemukan sesuatu bajingan." Katanya tertawa dan tak lama mengarahkan Sehun menuju klinik pertama tempat Jinyoung bekerja di Pyeongchan.
.
.
.
Seoul, 22.00 KST
.
Di tempat berbeda terlihat Doojoon masih memantau perkembangan Seunghyun yang belum mengalami banyak kemajuan, dia tetap melakukan segala cara untuk membuat rekan kerjanya membuka mata dan menyembunyikannya dari Donghoon walau itu artinya memberontak dan di cap sebagai penghianat oleh Donghoon yang pikirannya sudah sepenuhnya dikuasai oleh Ravi.
"YOON DOOJOON KELUAR KAU BAJINGAN!"
Seperti saat ini misalnya, entah sudah berapa kali bajingan kecil itu berteriak saat datang ke markasnya, entah sudah berapa kali pula mereka akan saling menodongkan senjata jika Donghoon tidak menengahi mereka.
Beruntung tempatnya merawat Seunghyun adalah tempat rahasia di markasnya, dia bisa melihat keributan yang dibuat Ravi dari kamera yang dipasangnya, tapi Ravi tidak akan bisa menemukan dimana tempatnya menyembunyikan Seunghyun.
Ingin rasanya dia mengabaikan bajingan kecil yang menghianatinya dan Seunghyun, tapi melihat bagaimana Ravi terlihat murka dan begitu hilang kendali membuat mau tak mau Doojoon mengarahkan asistennya untuk tetap diam mengawasi Seunghyun untuknya.
"Jaga dia."
Asistennya hanya mengangguk tanda mengerti sementara dirinya keluar meninggalkan tempat persembunyian yang dia buat tepat di balik lemari ruang kerjanya untuk menekan password dan memastikan Seunghyun jauh dari jangkauan Ravi yang sedang membuat keributan.
"KELUAR SEKARANG ATAU AKAN KUBAKAR MARKAS SIALANMU!"
Ravi terus membuat keributan, terus berteriak hingga matanya melihat kedatangan Doojoon yang mulai meremehkan dirinya "Bakar saja, lakukan seperti kau membakar Seunghyun saat itu." katanya menyela tanpa rasa takut memancing kemurkaan Ravi lebih banyak.
"Ya setelah aku meyakinkan Donghoon, kupastikan kau menyusul Seunghyun dengan cepat."
"Yakinkan dia secepatnya sebelum tanganku lebih dulu menghabisi keparat kecil sepertimu."
Kedua mata mereka bertatapan sengit, rasanya saling menahan diri bukan gaya mereka dalam membunuh, tapi kemudian status mereka yang merupakan kepercayaan Donghoon membuat keduanya harus menahan diri untuk tidak di cap penghianat oleh si mata satu yang kian hari kian mengerikan.
"Pergi dari tempatku, Se-ka-rang!"
Doojoon memperingatkan dibalas seringai menjijikan Ravi "Tidak sampai kau menjelaskan siapa pria yang ada di dalam foto ini!" dia melempar selembar foto yang didapatkan dari kepolisan Pyeongcan.
Membuat Doojoon mau tak mau melihatnya dengan malas sampai sosok yang begitu dirindukannya terlihat di dalam foto tersebut, tiba-tiba tangannya lemas dan nyaris menjatuhkan foto tersebut jika teriakan Ravi tidak membuatnya harus bersikap tenang seolah tak terjadi apapun.
"TEBAKANKU SAJA ATAU PRIA YANG SEDANG BERSAMA TAECYEON MEMANG ADALAH LUHAN?!"
Satu-satunya yang menarik perhatian Doojoon adalah nama "Taecyeon?" yang dia ketahui sebagai saingan Donghoon selama lima tahun terakhir dalam bisnis mereka.
"YA! TAECYEON!"
Wajah pucat Doojoon seketika terlihat, hatinya resah ingin menyangkal itu adalah Luhan tapi kemudian dia menyadari bahwa siapapun yang sedang bersama Taecyeon adalah Luhan.
"tidak mungkin."
Masih teringat jelas di ingatan Ravi dan Doojoon akan kemurkaan Taecyeon beberapa bulan yang lalu, tepatnya saat seseorang membocorkan idetintas istrinya yang dia sembunyikan dan dilindungin selama bertahun-tahun. Terlebih saat berita kematian istri Taecyeon menyebar dan dipastikan kebenarannya, pria itu menjadi tidak terkalahkan bahkan kekejiannya mengalahkan Donghoon untuk beberapa bulan.
"Kapan foto ini diambil?"
"Malam ini."
Lalu lihatlah foto yang sedang digenggam Doojoon saat ini, Taecyeon terlihat sedang menatap sendu pria yang diyakini Doojoon adalah Luhan, namun yang membuatnya bertanya adalah alasan mengapa Luhan terlihat berbeda dan tidak melakukan apapun saat pria asing memeluknya.
"Dia bukan Luhan." katanya mencoba mengalihkan pikiran Ravi untuk tidak bertindak gila dan melukai pria yang menyerupai Luhan, tidak, Doojoon yakin itu Luhan, dan jika benar pria di foto tersebut benar adalah Luhan, pasti ada alasan mengapa Luhan bersama Taecyeon dan bertingkah seperti seseorang yang mendengarkan Taecyeon dengan baik.
"Luhan sudah tiada, kau yang membunuhnya bajingan!" Doojoon mengingatkan dibalas seringai Ravi yang tak mau kalah untuk mengingatkan "TOP yang membunuh Luhan, bukan aku."
"Kau membunuh mereka berdua."
"Kau benar." katanya bangga lalu menatap Doojoon yang seluruh wajahnya berwarna merah karena amarah "Sebaiknya kau tidak datang lagi ke tempatku, aku bersungguh-sungguh."
"Dan sebaiknya kau juga memastikan pria itu bukan Luhan! Karena jika pria itu Luhan cerita akan berbeda dan kau tahu Donghoon sedang mengawasimu." Katanya mengancam lalu berjalan pergi meninggalkan markas Dojoon.
Hal itu cukup membuat Doojoon lega dan bisa bernafas menyadari bahwa apapun yang ditakuti Ravi adalah harapan untuknya, harapan jika benar Luhan masih hidup dan dia bersumpah untuk tidak membiarkan Ravi mendapatkan Luhan lagi untuk kedua kali.
"Aku harus menghubungi Sehun."
Tangannya gemetar mencari dimana ponselnya, berniat menghubungi Sehun sampai suara panik asisten yang menjaga Seunghyun terdengar berteriak "DOKTER YOON!"
"Ada apa?"
"Direktur Choi sadarkan diri, dia membuka mata."
"Mwo?"
Buru-buru dia berlari ke ruangan Seunghyun, memastikan ucapan asistennya adalah benar sampai dua matanya melihat sendiri bahwa memang benar Seunghyun telah membuka mata dan kini sedang menatapnya bertanya.
"Bajingan! Apa yang membuatmu lama membuka mata?"
Sesuatu seperti menganggu Seunghyun, terakhir yang dia ingat adalah api membakar tubuhnya, dia juga merasakan panas melalui kerongkongannya. Sesaat dia yakin dirinya tidak akan bertahan lalu lihatlah dia saat ini, terbaring tak berdaya dengan wajah Doojoon yang menatap antara cemas dan murka melihatnya.
"Doo-jon?"
"Ya ini aku!"
Dia bertanya bingung saat Doojoon tiba-tiba memeriksa kondisi vitalnya, bertanya-tanya sudah berapa lama dirinya tak sadarkan diri mengingat nyaris seluruh tubuhnya mati rasa tak bisa digerakkan "Sudah berapa lama aku terbaring?"
Melihat arlojinya, Doojoon menjawab "Hari ini tepat dua bulan kau tidak sadarakan diri."
"d-dua bulan?"
Doojoon kemudian fokus memeriksa tanda vital Seunghyun, sesaat yang lalu dia bersumpah Seunghyun belum memenuhi kriteria untuk membuka mata, tapi lihatlah saat ini, rekan sekaligus temannya sejak kecil sudah menunjukkan kemajuan luar biasa dalam pemulihan diri.
Hal ini cukup membuat Doojoon puas mengingat kemampuan Seunghyun masih sangat dibutuhkannya untuk menghadapi Donghoon atau kemungkinan paling besar adalah mereka menghianati dan akan menghabisi sang "ayah" dengan kedua tangan mereka sendiri.
"Apa yang kau rasakan?" tanyanya membuka dua mata Seunghyun untuk memeriksa pupil sebagai refleks Seunghyun melihat. Dan saat dua bola hitam mata Seunghyun mengikuti kemana cahaya yang diarahkannya, Doojoon kembali tersenyum untuk mengatakan "Aku rasa kau akan segera pulih untuk waktu yang cepat."
Samar namun cukup dimengerti, Seunghyun mengangguk, mencoba untuk mengembalikan seluruh kesadarannya sampai teringat sesuatu yang membuat dadanya sesak, tiba-tiba dua matanya membuka lebar lalu dia menatap cemas Doojoon yang bertanya padanya
"Ada apa?"
Sakit dikepalanya tiba-tiba begitu hebat, jika dirinya sudah tidak sadarkan diri selama dua bulan, itu artinya Luhan juga berada entah dimana selama dua bulan. Buru-buru dia mencengkram lengan Doojoon, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi lemas ditubuhnya membuat mulutnya tidak bisa berbicara dengan benar.
"Seunghyun tenanglah, tekanan darahmu tidak stabil jika kau cemas seperti ini! Ada apa?"
Matanya membulat, bibirnya masih mencoba untuk mengatakan sesuatu walau akhirnya hanya gumaman kecil yang sanggup dia katakan "Lu-Han…"
Tak mengerti Doojoon segera membungkukan tubuhnya, mendekatkan telinganya tepat dibibir Seunghyun hanya untuk mendengar pernyataan mengejutkan dari saksi hidup dimana kebakaran mengerikan itu terjadi dua bulan yang lalu.
"Katakan sekali lagi?" Doojoon menuntut, lalu Seunghyun kembali berbisik lirih dengan mengatakan "temukan Luhan, dia masih hidup."
.
.
.
.
.
.
"Aku sampai."
Tak lama Sehun tiba di cancer clinic tempat pertama kali Jinyoung bekerja selama dia berada di Pyeongchan. Menganalisa klinik kecil namun memiliki fasilitas lengkap yang sepertinya tak banyak dikunjungi pasien.
Sehun hanya melihat beberapa pasien yang sepertinya memiliki jabatan tinggi karena perlakuan khusus dari staff yang mengiringi dari proses pendaftaran hingga memasuki ruang pemeriksaan.
Lalu sepertinya gerak-gerik Sehun mengundang perhatian dari reseptionist perempuan yang kini menyapanya sementara dia memberitahu Myungsoo "Aku akan menghubungimu lagi." sebelum mematikan alat komunikasi di telinganya untuk fokus pada reseptionist wanita yang menyapanya.
"Selamat malam tuan, ada yang bisa kami bantu?"
Sehun tersenyum, berusaha untuk tidak terlalu menarik perhatian dengan menjawab "Malam, apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Tentu saja, apa yang ingin anda tanyakan?"
"Aku ingin bertanya apakah dokter Park Jinyoung bekerja disini?"
"Maaf, jika anda bukan seorang dokter atau tidak memiliki keterkaitan dengan salah satu pasien yang ditangani oleh dokter Park kami tidak bisa memberitahukan apapun baik idetintas maupun pasien yang ditangani oleh dokter yang bekerja untuk klinik kami."
Merasa tertantang Sehun bisa membuat satu kesimpulan jika dirinya harus memiliki relasi dengan dokter dan itu artinya mudah karena dia memiliki Kyungsoo dan Baekhyun yang akan menolongnya.
Jadilah dia tersenyum, merasa akan mendapatkan jawaban dari semua teka-teka ini dan terus mendesak sang pegawai dengan bertanya "Artinya jika aku memiliki kerabat atau dokter yang bekerja di suatu instansi rumah sakit aku bisa mendapatkan informasi tentang dokter yang bekerja di cancer clinic?"
"Hanya rumah sakit tertentu."
"Apa maksudnya?"
"Data pasien dan identintas dokter kami bersifat rahasia kecuali untuk tindakan medis."
"Apa Seoul Hospital memiliki kewenangan untuk mempelajari kondisi pasien sebagai tindakan medis?"
Kemudian reseptionist itu mencari informasi terkait untuk mengatakan "Hanya dokter di Seoul Hospital yang memiliki wewenang untuk mempelajari kondisi dari pasien kami."
"Baiklah, tunggu sebentar."
Sehun meminta waktu, dia merogoh ponsel di mantel jaketnya untuk mencari nama Baekhyun dan segera menghubungi sahabatnya. Tak perlu waktu lama sampai Baekhyun menerima panggilannya, namun sial sepertinya dia kembali membuat masalah hingga teriakan Baekhyun terdengar bahkan sebelum dirinya mengatakan sesuatu.
"OH SEHUN DIMANA DIRIMU? KENAPA KAU BELUM KEMBALI?'
Sehun sempat menjauhkan ponsel dari telinganya, menatap tak enak hati pada sang reseptionist untuk membuat gesture "Tunggu sebentar" dan mulai membujuk Baekhyun yang terdengar sangat marah padanya.
"Aku akan segera kembali setelah satu pekerjaanku selesai."
"Pekerjaan apa yang kau bicarakan?"
"Baek…."
Dan saat suara Sehun terdengar memohon, Baekhyun kembali harus mengalah, dia bahkan tidak berniat membuat mood Sehun berantakan dan berakhir pergi ke tempat yang tidak diketahuinya untuk waktu yang lama
"Ada apa?"
"Aku membutuhkan bantuanmu."
"Apa?"
"Aku sedang berada di sebuah klinik di Pyeongchan dan aku-…."
"Apa kau terluka?"
"tidak, aku baik-baik saja, sungguh."
"Lalu apa?"
"Aku butuh konfirmasimu sebagai seorang dokter untuk mencari tahu tentang dokter di tempatku berada saat ini."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Bicaralah dengan seseorang."
Tak lama Sehun menyerahkan ponselnya, membiarkan sang reseptionist berbicara dengan Baekhyun sementara dirinya mendengarkan, berharap cemas rencananya berhasil dengan bantuan Baekhyun.
"Selamat malam."
"Ya?"
"Kami mendapatkan permintaan untuk mengetahui identintas dokter yang bekerja di klinik kami, tapi hal itu hanya bisa dilakukan dan kami berikan pada dokter yang bekerja sama dengan cancer clinic di Pyeongchan."
"Lalu?"
"Apa saya bisa mengetahui identitas anda sebagai dokter dan dimana anda bertugas?"
"Byun Baekhyun, spesialis unit bedah, Seoul Hospital."
Mendengar informasi dari Baekhyun, reseptionist wanita itu segera mencari tahu, mengetik nama dokter Byun di kolom pencarian Seoul Hospital dan seketika mendapatkan idetintas Baekhyun sebagai asisten kepala unit bedah untuk Seoul hospital.
"Bagaimana?"
"Kami menemukan nama anda."
"Lalu kau bisa membantu temanku? Kami membutuhkan identitas dokter yang dibutuhkan temanku untuk riwayat medis pasien."
"Ya tentu saja kami bisa membantu teman anda dokter Byun."
"Bagus, berikan ponselnya pada temanku."
Pegawai wanita itu tersenyum lalu menyerahkan ponsel Sehun padanya, membuat Sehun kembali berbincang dengan Baekhyun dan terlibat percakapan serius yang tidak disukainya.
"Berjanjilah padaku setelah ini kau akan pulang."
"Ya aku janji Bee.."
"Jaga dirimu dan pastikan aku melihatmu di hari pernikahanku."
Sehun tersenyum lagi, dia bahkan tak sabar menanti hari pernikahan Kyungsoo dan Baekhyun untuk menganggu dan berjanji "Aku akan datang."
"Baiklah sampai nanti."
Tak membuang waktu Sehun juga menjawab "Sampai nanti." Lalu menutup cepat teleponnya untuk fokus pada wanita didepannya "Bagaimana nona? Apa aku bisa mendapatkan data tentang dokter Park Jinyoung."
"Tentu saja, tunggu sebentar."
Sehun menunggu tak sabar, beberapa kali matanya melihat ke jam dinding yang disediakan sampai sang pegawai datang dan membawa sebuah map berisi informasi yang diinginkannya "Semua berkas tentang dokter Park berada di map ini, silakan anda baca."
"Oke."
Buru-buru tangannya membuka tak sabar map berisi idetintas Jinyoung, mempelajari hal pribadi dari sang dokter untuk menemukan nama Park Rein dan Cha Eunwoo yang berada di list keluarga.
Mau tak mau senyum pahit terlihat, nyatanya mereka tidak berbohong mengenai Park Rein yang memang adalah keluarga mereka, lalu matanya mencari lagi, berharap ada sebuah petunjuk namun nihil.
Seluruh berkas dokter Park terlihat asli dan tak ada yang mencurigakan, terlebih nama Rein tercantum di list keluarganya hingga membuat Sehun menyerah karena tidak menemukan apapun sampai matanya tak sengaja melihat daftar nama pasien terakhir yang ditangani Jinyoung sebelum meninggalkan cancer clinic.
"Rein?"
Jadi Rein sakit?
Sehun bertanya dalam hati, mencoba mencari tahu penyakit yang dirasakan Rein sebelum menyerah karena tidak mengetahui apapun tentang istilah dan bahasa medis yang digunakan dalam laporan terkait pasien yang ditangani dokter Park.
"Nona."
Jadilah dia bertanya pada sang reseptionist, berharap pegawai wanita itu mengetahui sesuatu dan bisa memberikannya sekecil apapun informasi yang bisa diterimanya
"Ya, ada apa tuan?"
"Disini tertulis Park Rein adalah pasien terakhir yang ditangani dokter Park? Apa kau tahu hubungan mereka?"
"Tentu saja, alasan mengapa dokter Park melamar pekerjaan di klinik kami adalah karena kakaknya."
"Apa yang terjadi?"
"Pengobatan untuk kanker hati dan terapi dengan alat paling lengkap hanya dimiliki di klinik kami untuk saat ini. Dan sebagai timbal balik atas prestasi dokter Park kami dengan senang hati merawat kakaknya dan mengijinkan dokter Park secara langsung menangani kakaknya."
"Kanker hati?"
"Ya, stadium empat saat dibawa ke klinik kami."
"Dan sekarang dia sudah pulih, aku benar?"
"huh? Kenapa anda bisa mengatakan hal itu?"
"Karena aku melihatnya."
"Itu tidak mungkin, aku rasa anda salah melihat."
"Ada apa? Kenapa itu tidak mungkin?"
Sang pegawai menatap sedikit iba pada Sehun, dia kemudian mengambil berkas dokter Park lalu membaliknya ke halaman terakhir untuk menunjukkan berkas kematian seseorang disana.
"Dua puluh delapan Oktober tahun 2016, tepatnya pukul sepuluh malam waktu setempat, dokter Park secara langsung mengumumkan kematian kakaknya, Park Rein."
Tiba-tiba dua mata Sehun membulat lebar, dia ikut membaca berkas surat kematian yang ditanda tangani oleh Jinyoung selaku dokter yang bertanggung jawab sekaligus keluarga yang dengan sah mengumumkan serta menandatangani kematian Park Rein saat itu.
Sehun mempelajari dengan teliti nama serta kepastian kabar meninggalnya Rein yang asli sampai suara si pegawai menambah keyakinannya bahwa Rein memang sudah dinyatakan meninggal sekitar tiga bulan yang lalu.
"Rein sudah seperti keluarga di klinik kami dan seluruh pasien yang dirawat bersamanya. dan jujur kami semua masih sangat berduka atas kepergian Rein saat itu."
Berusaha tenang, Sehun bertanya lirih "Kenapa?"
"Karena Rein tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, beliau selalu mementingkan kebahagiaan orang lain, tidak kebahagiannya, tidak kebahagiaan dokter Park atau kebahagiaan suaminya sendiri."
"Apa maksudmu?"
"Kematian Rein diumumkan atas permintaannya sendiri."
"Mwo?"
"Dokter kedua selain dokter Park mengatakan kemungkinan paling buruk dari seluruh kemoterapi serta obat-obatan keras yang dikonsumsi Rein akan menyebabkan kelumpuhan otak."
Sehun mendengarkan, dahinya berkeringat, tanganya terkepal dan terlihat sekali dia sedang menenangkan diri, mencoba untuk tidak memikirkan Rein yang belum lama diciumnya tadi benar adalah Luhan agar tidak melakukan hal gila yang bisa menarik perhatian semua orang.
"Dan karena alasan itu pula Rein meminta kepada dokter Park jika hal itu terjadi dia ingin seluruh alat bantu hidupnya dilepas dari tubuhnya, dia tidak ingin menjadi duka lebih lama lagi untuk dokter Park dan Presdir Ok, yang diinginkan Rein hanya satu, dia ingin menjadi berguna dan tidak menyusahkan orang-orang yang dicintainya lagi setelah kematiannya."
"La-Lalu?"
"Lalu dengan berat hati, tanpa persetujuan dari Presdir Ok, dokter Park memutuskan untuk melepas alat bantu hidup Rein setelah kelumpuhan otak terjadi. Keduanya sempat bertengkar hebat dan Presdir Ok bahkan nyaris membunuh adik dari istrinya sendiri, beruntung seorang anak berusia delapan tahun datang dan melerai perkelahian mereka, dan kau tahu siapa anak itu tuan?" tanyanya dibalas gelengan tak fokus dari Sehun.
"Anak itu adalah anak yang diselamatkan Rein dari masa depannya yang terancam gelap."
"huh?"
"Rein menyetujui untuk mendonorkan organ tubuhnya yang masih berfungsi dengan baik dan salah satunya adalah kornea mata yang menyelamatkan anak delapan tahun itu dari kegelapan seumur hidup. Dia juga-…..tuan? Anda baik-baik saja?"
Sehun sudah tidak bisa fokus, tangannya mengepal terlalu erat hingga kuku jarinya memutih, dia kemudian berusaha tenang walau nafasnya terdengar berat karena hatinya terlalu sesak saat ini
"Aku baik, Aku baik-baik saja, aku harus pergi ke suatu tempat."
Tujuannya setelah mengetahui kebenaran ini adalah Nonsan Hospital, tempat dimana dia bisa menemukan Rein, bukan, dia bertaruh bisa menemukan Luhan disana. Entah pria itu Luhan atau hanya seseorang yang mirip dengan istrinya, dia tidak peduli.
Karena kebenarannya hanya satu, jika dia bukan Luhan maka pria itu juga bukan Rein karena Rein sudah dinyatakan meninggal tiga bulan yang lalu.
"Tuan! Anda baik-baik saja?"
Berjalan gontai, Sehun tidak mengindahkan pertanyaan si pegawai setelah informasi yang dia butuhkan terjawab, kini kepalanya dipenuhi pertanyaan
Jika itu Luhan kenapa dia tidak mengenaliku?
Apa benar dia kehilangan ingatan? Atau dia hanya berpura-pura tidak mengenaliku?
Siapa?
Kenapa?
Ingin rasanya dia berteriak, lalu ponsel ditangannya bergetar, menampilkan nama Doojoon disana. Sekuat tenaga Sehun berusaha untuk tenang sebelum menjawab panggilan dari pria yang juga mencintai istrinya.
"Ada apa?"
"DIMANA KAU?"
"Pyeongchan."
"cepat—CEPAT KEMBALI KE SEOUL MALAM INI!"
"Ada apa? Ada hal yang harus aku-…."
"LUHAN MASIH HIDUP!"
Tap!
Kakinya berhenti melangkah, namun sial lututnya mati rasa saat Doojoon mengatakan hal gila yang membuat jantungnya berdebar hebat seperti saat ini. Dia bahkan harus berpegang pada sesuatu untuk memastikan tak ada kesalahan pendengaran pada telinganya.
"Katakan lagi."
"Seunghyun sudah sadarkan diri dan dia mengatakan jika Luhan masih hidup."
Rasanya dunia Sehun dikembalikan Tuhan malam ini, belum lama dia mendapatkan informasi tentang siapa Rein dan bagaimana dia dinyatakan meninggal oleh adiknya sendiri. Lalu lihatlah saat ini, belum sepenuhnya dia meninggalkan klinik tempat Jinyoung bekerja, Doojoon menghubunginya dan mengatakan sesuatu yang seperti mimpi untuknya.
Sontak hal itu memacu cepat detak jantung Sehun, dia ingin mempercayainya tapi dia tidak ingin terluka dan hanya ingin memastikan bahwa Seunghyun benar-benar bisa menjamin bahwa istrinya masih hidup dan tidak meninggalkannya seorang diri.
"Bagaimana Seunghyun bisa begitu yakin? Kita tahu dia juga mengalami kondisi kritis saat itu?"
Terdengar Doojoon menarik dalam nafasnya, diam untuk beberapa saat lalu membuka bibirnya lagi untuk memberitahu "Seunghyun membuang Luhan ke tengah laut malam itu."
"Mwo?"
"Dia terpaksa melakukannya untuk meyakinkan Ravi bahwa Luhan telah mati."
"Apa yang dia lakukan pada istriku?"
"Sehun tenang!"
"APA YANG DIA LAKUKAN PADA ISTRIKU!"
"BUNUH DIA SETELAH KAU MENEMUKAN LUHAN! KAU DENGAR? KITA HARUS MENEMUKAN LUHAN SECEPATNYA!"
Lalu teriakan Doojoon cukup meredakan marahnya pada Seunghyun, Doojoon benar, dia harus menemukan Luhan secepatnya, tidak, dia sudah menemukan Luhannya, dia hanya perlu membawanya pulang dan memastikan bahwa tak ada hal buruk yang terjadi pada Luhan lagi setelah ini.
"SEHUN DENGARKAN AKU DAN CEPAT-…."
"Aku sudah menemukan Luhan."
"Mwo? Sehun apa yang kau katakan?"
Dia berlari secepat mungkin meninggalkan tempatnya saat ini, tujuannya hanya satu, tempat dimana dia bisa menemukan Jinyoung untuk menemukan Luhan, untuk benar-benar membawa Luhan pulang tanpa keraguan kali ini.
.
.
.
.
BLAM!
.
Tidak peduli seberapa banyak orang-orang yang ditabraknya atau seberapa banyak caci maki didengarnya, yang dia inginkan hanya satu, segera mencari dimana Jinyoung dan menanyakan semua staff yang memakai jas putih atau seragam khas rumah sakit seraya berteriak dan bertanya
"DIMANA PARK JINYOUNG?" tanyanya mencengkram salah satu perawat pria yang sedang menjelaskan prosedur pada pasien, wajah si perawat bertanya-tanya namun sepertinya Sehun tak memiliki waktu untuk bertanya pada staff yang tidak mengetahui apapun.
"sial!"
Tujuannya kali ini adalah meja reseptionist, dan tidak seperti saat berada di klinik, Sehun terlihat sangat gegabah hingga mengundang banyak perhatian dari orang sekitarnya. Dia bahkan menggebrak meja dan kembali berteriak
"KATAKAN DIMANA PARK JINYOUNG?"
"nde?"
"CEPAT KATAKAN DIMANA DOKTER PARK JINYOUNG?!"
"d-Dokter Park? Baik tuan, sebentar."
Merasa takut akan disakiti Sehun, si pegawai wanita mengangkat telepon yang berada di sisi kanannya, menghubungi siapapun yang bisa menemukan dokter Park untuknya walau harus berakhir meringis ketakutan saat mendengar kepergian dokter Park malam ini.
"DIMANA DOKTER PARK?"
"Maaf, tapi dokter Park sudah mengundurkan diri terhitung malam ini. Hari ini adalah hari terakhirnya bekerja di rumah sakit kami tuan."
"Apa kau bilang?"
"dokter Park sudah-….."
"BOHONG! PANGGIL BAJINGAN ITU SEKARANG JUGA!"
Kacau sudah keadaan di Nonsan hospital saat ini, bukan hanya seluruh pasien dan pegawai yang ketakutan karena keributan yang terjadi, tapi juga Sehun, dia sendiri begitu ketakutan saat mendengar Jinyoung tak lagi bekerja di rumah sakit saat ini.
Karena jika Jinyoung pergi bukankah itu artinya Luhan juga telah meninggalkan Pyeongchan?
Sial!
Tinggal selangkah lagi dia bisa membawa Luhannya pulang, tapi apa yang terjadi? Taecyeon dan Jinyoung lebih cepat satu langkah darinya dan membawa membawa Luhan pergi lebih dulu sebelum dia bisa memastikan bahwa Rein adalah Luhan.
"PARK JINYOUNG KELUAR KAU!"
"Dokter Park sudah kembali ke Seoul , dia tak lagi bekerja untuk-…."
"DIAM KAU—DIAAAM!"
Diam-diam tangan pegawai wanita menekan tombol keamanan, tak lama pula beberapa petugas keamanan datang ke lobi rumah sakit untuk mengamankan Sehun yang terus berteriak dan membuat keributan.
"LEPASKAN!"
Sehun berhasil melepaskan cengkraman dua petugas keamanan dari lengannya, dia kemudian kembali mendatang meja reseptionist untuk bertanya seraya memohon "Berikan alamat dokter Park di Seoul padaku."
"Maaf tuan kami tidak bisa-…."
"KEMANA AKU HARUS MENCARINYA DI SEOUL? KEMANA AKU HARUS MENCARI LUHAN ISTRIKU-….LEPAS!"
Kali ini tak hanya dua, tapi empat petugas keamanan sudah memegang kedua lengan kanan dan kirinya, Sehun kalah, dia tak bisa meronta lagi, yang bisa dilakukannya hanya berteriak tanpa mengetahui ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan bagaimana keributan ini terjadi lalu segera melaporkannya pada seseorang bernama Ravi di ponselnya.
"Bagaimana? Kau menemukan Sehun?"
"Ini buruk Presdir Kim."
"Apa yang terjadi?"
"Sepertinya dugaan anda benar, Luhan masih hidup."
.
.
to be continued
.
Dilanjut sabtu minggu ini,
Wordsnya gilak kalo dijadiin satu, sabar empat hari lagi gamasalah ya :*
.
C.U sabtu
