Previous
Kali ini tak hanya dua, tapi empat petugas keamanan sudah memegang kedua lengan kanan dan kirinya, Sehun kalah, dia tak bisa meronta lagi, yang bisa dilakukannya hanya berteriak tanpa mengetahui ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan bagaimana keributan ini terjadi lalu segera melaporkannya pada seseorang bernama Ravi di ponselnya.
"Bagaimana? Kau menemukan Sehun?"
"Ini buruk Presdir Kim."
"Apa yang terjadi?"
"Sepertinya dugaan anda benar, Luhan masih hidup.".
.
Je'Te Veux
.
.
.
Main cast : Lu Han as Xi Luhan
Oh Sehun as Oh Sehun
Rate : T-M
.
.
.
.
.
.
.
"Setidaknya kau harus mendengarkan Doojoon! Seunghyun pasti memiliki alasanya sendiri."
"…"
Tak ada jawaban, terhitung sudah tiga jam lebih Myungsoo mengendarai mobil hanya raut marah dan emosi yang terlihat di wajah Sehun, entah apa yang terjadi, dia tidak berani bertanya lebih banyak mengingat kondisi emosi Sehun benar-benar tidak stabil tepat setelah dia membawanya pergi dari ruang keamanan rumah sakit.
"Sehun, aku tidak mengerti kenapa kau membuat keributan di rumah sakit, tapi tanpa membuat keributan pun kau sudah sangat mengerikan, jadi tenangkan dirimu, oke?"
Niatnya gagal untuk mencairkan suasana, Sehun sama sekali tidak bergeming dan hampir tiga jam berlalu suami dari mendiang sahabatnya itu terlihat seperti ingin membunuh seseorang atau lebih tepatnya dia sangat ingin membunuh Seunghyun entah karena alasan apa.
"Tidak masalah jika kau tidak ingin berbicara denganku, tapi saat kau masuk ke markas Doojoon aku harap kau tidak membuat keributan."
"…"
Myungsoo menyerah, dia bahkan belum menenggak setetes air pun selama tiga jam perjalanan mereka, lelah, kantuk dan frustasi juga terlihat di wajahnya yang ingin sekali beristirahat.
Lalu lihatlah rekan disampingnya, tidak mengajaknya berbicara tidak pula menanggapi apa yang dikatakannya, yang dilakukan Sehun hanya mengepalkan tangan seraya menggertak gigi sampai akhirnya mobil Myungsoo memasuki belokan terakhir dan berhenti tepat di markas Doojoon yang memakai penjagaan ketat di sekitar markasnya malam ini.
"Baiklah kita sampai dan-….."
BLAM!
"SEHUN!—Oh sial!"
Buru-buru Myungsoo mengejar suami Luhan, mencoba untuk tidak membuat keadaan semakin kacau sementara yang dilakukan Sehun hanya memukul dan menghajar siapapun yang mencoba menghalangi langkahnya.
"MINGGIR!"
Terlihat sudah tiga penjaga berbadan besar yang harus berakhir tersungkur memegangi wajah mereka, entah darimana kekuatan sebesar itu didapatkan Sehun, tapi rasanya Myungsoo berani bertaruh apapun yang sedang dirasakan Sehun pastilah begitu dalam dipenuhi luka dan amarah didalam hatinya.
"CHOI SEUNGHYUN DIMANA KAU!"
Lalu tujuan utama Sehun adalah ruang perawatan tempat dimana Seunghyun berada, dia mengetahui ruang rahasia tersebut, dia juga mengetahui kode sandi yang dibuat Doojoon untuk menjaga bajingan yang membuang istrinya.
Membuatnya benar-benar tidak sabar untuk menghabisi Seunghyun dalam satu kali pukulan jika Doojoon tidak tiba-tiba menghalangi seolah tahu dia akan membunuh Seunghyun malam ini.
"Minggir." Sehun memperingatkan, namun sepertinya Doojoon dengan wajah pucat dan lelahnya juga bersikeras untuk tidak membiarkan Sehun menyentuh Seunghyun mengingat mereka masih sangat membutuhkan Seunghyun untuk banyak hal, Donghoon terutama.
"Kau tidak bisa menyentuhnya, tidak untuk saat ini."
"Minggir."
Lalu Doojoon tertawa sarkas, memijat kasar keningnya untuk menatap marah pada Sehun "Lalu setelah kau membunuhnya apa? Kau tidak mendapatkan apapun jika membunuh Seunghyun."
"Minggir."
"Sehun aku sudah memperingatkanmu, kau bisa membunuhnya setelah kita menemukan Luhan, kita masih membutuhkan Seung-….."
"DIA HARUS BERTANGGUNG JAWAB! DIA MEMBUANG LUHAN DAN MEMBUAT ISTRIKU HARUS MENGHABISKAN WAKTU DENGAN SEORANG MAFIA YANG MENYEBUT LUHAN MILIKNYA!"
"mwo?"
Entah sebanyak apa Sehun mengetahui tentang Taecyeon, tapi dilihat dari caranya berteriak, ketakutan di matanya, pastilah Sehun mengenal Taecyeon dan yang paling buruk mereka pernah bertemu secara langsung.
"Apa yang kau katakan?"
"LUHAN ADA BERSAMA TAECYEON SAAT INI!"
Doojoon lengah, dia membiarkan Sehun melewatinya dan berjalan ke arah Seunghyun yang masih terbaring lemah. Dan jika bukan karena Myungsoo berteriak memperingatkan mungkin Seunghyun benar-benar akan mati hanya dalam hitungan detik melihat pisau itu digenggam kuat oleh Sehun.
Beruntung Doojoon menyadarinya, dia pun segera mencengkram lengan Sehun dan merebut paksa pisau yang entah darimana digenggamnya, mata mereka berpandangan sengit lalu Doojoon berteriak "HENTIKAN!" menatapnya murka dan mendorong kasar tubuh Sehun
"Kau tidak akan membunuhnya."
"tsk! Aku akan melakukannya."
Dan sementara matanya berkilat marah menatap bajingan yang masih terbaring dengan mata terpejam, maka Doojoon berusaha sekuat tenaganya untuk menahan Sehun, mencegah pria yang dipenuhi emosi itu untuk melakukan hal yang akan disesali nantinya.
Dia memang tidak pernah mengenal siapa Sehun, ya, tentu saja tidak karena sepanjang hidup Doojoon hanya dia gunakan untuk mengenal Luhan, menjaga Luhan walau dia kehilangan sosok mungil yang begitu dijaganya sejak mereka bertemu sewaktu kecil.
Tapi dia tahu Sehun bukanlah seseorang yang bisa membunuh dengan mudah, dia akan melakukan segala sesuatu dengan pertimbangan termasuk apa yang akan terjadi setelah dia melampiaskan emosinya.
Lucu memang, mereka baru mengenal selama dua bulan tapi Doojoon seperti mengetahui apa yang akan dilakukan Sehun atau apa yang akan ditahannya untuk sesuatu yang lebih mendesak dan berkaitan dengan Luhan atau Donghoon.
"aku-….AKU YANG AKAN MENCARI TAECYEON UNTUKMU."
"mwo?"
"Aku mengenalnya, tidak, setiap orang yang bekerja di dunia hitam pasti mengenalnya dan aku salah satunya."
Terlepas dari berita bagus yang diberikan Doojoon untuknya, Sehun tetap gusar melihat wajah Seunghyun, dia penyebab Luhan harus bersama dengan Mafia lain seperti Taecyeon, dia yang menyebabkan dirinya kehilangan istri yang bahkan tidak bisa mengingatnya, semua salah Seunghyun hingga rasanya Sehun benar-benar akan membunuhnya jika Doojoon tidak menghalangi.
"Kenapa bajingan itu harus membuang istriku? Kenapa-…."
"Seunghyun memiliki alasan, dia-…"
"OMONG KOSONG! APA TIDAK PUAS DIA MEMBUNUH PAPA XI? PRIA YANG MEMBERINYA KEHIDUPAN? APA PERLU DIA MEMBUNUH ISTRIKU JUGA HAH!"
Kini Myungsoo bertindak lagi, dia mencoba untuk menarik Sehun keluar agar emosinya mereda tanpa harus melihat Seunghyun, walau dia terus berteriak setidaknya Sehun mendengarkan kali ini, dia membiarkan Myungsoo membawanya tanpa tahu jika saat ini Seunghyun mendengarkan semuanya tapi tak bisa membuka mata karena pengaruh obat bius yang diberikan Doojoon untuknya.
"JANGAN SAMPAI AKU MELIHAT WAJAHNYA! KAU DENGAR? JANGAN SAMPAI-…."
Lalu semuanya terasa cukup adil bagi Seunghyun, matanya memang terpejam tapi tidak dengan kesadaran yang sepenuhnya bisa mendengar bagaimana keji dirinya membuat Luhan kehilangan segala yang dimilikinya.
Dia sudah merenggut semuanya dari Luhan, keluarganya, hidupnya dan kini belahan jiwanya. Jadi rasanya tidak pantas dia menangis dalam tidurnya mengingat banyak hal yang harus dia lakukan setidaknya untuk mengembalikan hal tersisa yang masih menjadi milik Luhan.
.
.
.
.
.
.
Seoul, three days later
.
Harusnya dia bahagia saat hari yang ditunggunya tiba, hari dimana dirinya secara resmi lulus dari Sekolah Menengah Atas dan secara resmi dinyatakan menjadi dewasa serta melepas gelar "remaja" yang membuatnya terlihat kekanakan.
Ya, seharusnya.
Tapi semua itu tidak berlaku untuk seorang remaja yang memiliki lesung di pipinya, remaja yang hari ini merayakan ulang tahun serta harus hari kelulusannya harus terpaksa menyendiri disaat semua teman-temannya mengambil gambar dengan orang yang dicintainya.
Tak ada ayah
Tak ada ibu
Tak ada kedua kakaknya,
Atau kekasihnya sekalipun
Hari ini dia merayakan dua hari bahagia yang memiliki moment penting dalam hidupnya seorang diri, seharusnya dia tidak memiliki kesulitan untuk melewatinya, lagipula sejak satu bulan lalu hidupnya berubah terlalu banyak dan mengerikan.
Hari dimana kakak iparnya meninggal dia kehilangan seluruh keluarganya secara utuh, bukan tubuh, tapi dia kehilangan raga dari seluruh keluarganya yang berduka atas kematian Luhan, istri dari kakaknya.
Dia mulai terbiasa diabaikan, dia mulai terbiasa seorang diri. Ayahnya dinyatakan mengalami lumpuh syaraf hingga tak bisa merespon apapun dari orang sekitarnya, dia hanya duduk di kursi roda seraya memandang kosong ke jendela kamar berharap sosok istri dari putranya kembali datang, membangunkannya dari kematian batin yang sungguh menyiksa.
Lalu kedua kakaknya berseteru hebat saling menyalahkan, kakak pertamanya memutuskan untuk pindah dan menetap ke Jepang sementara kakak kedua sekaligus suami dari kakak iparnya yang meninggal hidup dengan cara mengerikan, mengatasnamakan dendam hanya untuk membalas kematian satu-satunya pria yang membuatnya hidup.
Lalu kekasihnya mengikuti apa kata hatinya untuk melawan, dia kehilangan kekasihnya disaat yang sama saat tubuh mungil kakak iparnya menyatu dengan tanah. Hari itu semua berakhir dan dia mulai terbiasa dengan hidupnya yang hancur dan menyedihkan seperti saat ini.
"Jaehyun, kau sudah siap?"
"nde?"
"Kau harus memberi kata sambutan, ingat?"
"ah..."
Namun yang membuatnya murung adalah kenyataan bahwa dirinya merupakan salah satu murid berprestasi yang harus memberikan kata sambutan di depan banyak orang, dia sudah menolaknya tapi kemudian dia melihat keuntungan memberi kata sambutan adalah kau tidak perlu berada di kursi orang tua dan murid hingga tidak perlu terlihat menyedihkan di hari bahagianya.
"Baiklah aku siap."
"Bagus. Sebentar lagi acara dimulai, bersiaplah."
"Oke."
Dia ditinggalkan lagi, lalu ditengah kesendiriannya seseorang masuk kedalam dan bergabung dengannya "Jaehyunna." Menyapanya dan duduk tepat disampingnya.
"Kau sudah siap?" dia bertanya membuat Jaehyun menoleh sekilas dan menjawab lirih "Begitulah."
"Aku sangat gugup."
Tidak menjawab, Jaehyun hanya menyemangati teman sebangkunya di kelas dua tahun lalu "Kau sudah terbiasa, jangan gugup."
"Kau benar aku tidak boleh gugup. Ketiga kakakku datang hari ini."
Dia menoleh lagi, sedikit mengerutkan dahinya untuk bertanya bingung "Tiga kakak? Setahuku kakakmu hanya dua."
"Kakakku sudah pulih, dia tidak perlu lagi menjalani pengobatan serius dan sudah diijinkan untuk berpergian keluar."
Jaehyun tersenyum kecil dan bergumam iri "Kau terlalu beruntung Cha Eunwoo."
Remaja lain yang memiliki warna kulit seputih Jaehyun itu hanya tersenyum seraya menyenggol bahu temannya "eyy...Aku yakin keluarga yang selalu kau ceritakan itu akan datang sebagai ucapan selamat untukmu. Ayahmu, kedua kakakmu beserta istri mereka. Ah, ya kau bilang kau memiliki keponakan pasti mereka semua datang dan aku akan iri melihatnya."
Andai saja, tapi Jaehyun hanya menyimpannya dalam hati, dia tidak tertarik membicarakan keluarga dan mengalihkannya dengan bertanya "Dimana kakakmu?"
"Sebentar lagi mereka sampai, atau mungkin mereka sudah duduk di kursi penyambutan keluarga, entahlah. Aku yakin keluargamu juga sudah duduk dan menunggu."
Jaehyun tersenyum kecil lalu kembali tertunduk, kedua tangannya dikepalkan erat dengan senyum pahit yang menggumamkan isi hatinya "Kuharap begitu."
.
.
Sementara itu...
.
BLAM!
"Kita harus bergegas."
Dua pria bertubuh besar dan satu pria yang ukuran tubuhnya lebih kecil terlihat keluar dari dalam mobil. Dan dilihat dari langkah kaki mereka yang tergesa sudah dipastikan bahwa mereka terlambat datang ke acara kelulusan adik mereka.
"Apa sudah terlambat?"
Pria berparas cantik bertanya, langkah kakinya mengimbangi langkah besar suami dan adiknya sementara matanya diam-diam terkagum melihat dekorasi untuk kelulusan sekolah yang begitu indah dengan seluruh kesan serta pesan murid tingkat akhir menghiasi dinding di sepanjang koridor aula sekolah.
"Sedikit sayang, tapi aku rasa Eunwoo belum memulainya."
"Baiklah."
Luhan, si pria berparas cantik, mengangguk. Dia tidak tahu dimana aula berada, yang jelas dia cukup menikmati banyak orang di sekitarnya yang terlihat bahagia dengan keluarga mereka, hal itu cukup membuatnya bersyukur karena setidaknya dia memiliki Taecyon, Jinyoun dan Eunwoo di hidupnya yang begitu kosong dan dipenuhi keraguan.
Senyum cantiknya terlihat ketika melihat seorang ayah mencium sayang kening putranya, seperti dia merasakan bahwa dirinya yang ada berada di posisi siswa tersebut, lalu ada beberapa keluarga yang memekik bahagia serta mengambil gambar dengan berbagai pose lucu.
Sungguh melihat semua tawa dan kebahagiaan itu cukup membuat hatinya senang, karena sejujurnya sejak dirinya meninggalkan Pyeongchang hatinya merasa begitu kosong dan belum banyak tersenyum seperti hari ini.
"MA! DIMANA JAE SAMCHOON?"
"Sebentar nak, kita akan segera melihat Samchoon."
Lalu perhatian Luhan teralihkan pada suara anak sekitar tiga tahun yang kini berteriak heboh menarik kaki dari pria yang dipanggilnya Mama, membuat dua mata Luhan sedikit memicing seperti mengenali dua pria berparas cantik yang sedang berbicara namun entah dimana.
"Ma, Taeoh mau lihat Sam-….."
Anak tiga tahun itu berhenti merengek saat tak sengaja matanya melihat Luhan, antara mengenali dan merasa asing dengan pria yang sedang tersenyum padanya untuk tak sengaja bergumam "Lulu…."
Lalu Luhan melambai padanya, tak mendengar apa yang dikatakan si anak tampan menggemaskan yang kini semakin menarik mantel ibunya seperti ingin memberitahu sesuatu "Ma…" katanya menarik kencang pakaian ibunya dan berhasil membuat sang ibu menoleh untuk bertanya "Ada apa nak? Sebentar lagi kita masuk."
"Lulu…"
"huh?"
Saat mata ibu dari anak tiga tahun itu mencari kemana putranya melihat, diwaktu yang sama Taecyeon berbisik "Sayang disini tempatnya." Dan membawa Luhan masuk sementara ibu dari anak tiga tahun itu sekilas melihat punggung yang terlihat familiar untuknya.
"Ada apa Soo?"
Do Kyungsoo, dokter sekaligus ibu dari satu anak itu melihat sahabatnya, Baekhyun. Keduanya bertatapan sekilas lalu si pria bermata besar itu mengatakan "Sepertinya aku melihat Luhan, tapi sudahlah, Aku hanya terlalu merindukan Luhan." katanya menggandeng tangan Taeoh lalu berjalan masuk kedalam aula.
Baekhyun bisa melihat perubahan wajah Kyungsoo yang terlihat sendu, hal itu membuatnya mencari tahu dimana Luhan melihat beberapa saat lalu, dia mencari apa yang baru dilihat sahabatnya dan berharap jika memang Luhan yang dilihat Kyungsoo.
"Baekhyun."
"huh?"
Lalu suara Kyungsoo memanggilnya lagi, Baekhyun menoleh dengan tatapan sendu karena jauh di dalam hatinya, entah dengan cara apa dia masih bisa bertemu lagi dengan Luhan yang begitu dirindukannya.
"Ayo masuk, Jaehyun sudah menunggu."
Kedua pria cantik itu merasakan sesak yang sama, namun keduanya juga berjanji untuk saling menguatkan jika itu berkaitan dengan Luhan. Jadilah Baekhyun tersenyum kecil lalu bergumam "Baiklah." Untuk menyambut tangan sahabatnya.
"Jangan sedih Luhan tidak menyukainya."
Tertawa kecil Baekhyun membalas "Aku tahu, kau juga jangan menangis."
"ishh..! Aku tidak pernah menangis Byun!"
Keduanya tertawa dan saling menguatkan, berniat untuk tidak menangisi lebih jauh kepergian Luhan untuk menguatkan Jaehyun di hari kelulusannya. Ya, keduanya memang tertawa tapi hati mereka menangis karena rindu. Mereka berharap bisa menyaksikan kelulusan adik bungsu mereka bersama dengan Luhan tanpa mengetahui bahwa saat ini sepasang mata cantik milik pria yang sedang mereka rindukan tengah memperhatikan mereka dari jauh.
"hyung? Kenapa menangis?"
Dan benar saja, Luhan bisa merasakan rasa asin di sekitar bibirnya, dia juga tidak mengerti mengapa air matanya lolos begitu saja tanpa permisi, saat itu dia juga menangis tanpa alasan ketika pertama kali bertemu dengan Sehun.
Lalu dia menangis lagi tanpa alasan ketika melihat dua pria yang dia tebak memiliki usia sama dengannya sedang tertawa dan saling berbagi pelukan hangat. Pelukan yang rasanya juga pernah menjadi miliknya, namun karena alasan tertentu tak lagi dia rasakan hingga kosong dan sesak menjadi satu-satunya hal yang memeluk Luhan selama hampir dua bulan berlalu.
"Sayang kau baik-baik saja?"
Berada di tengah-tengah Jinyoung dan Taecyeon membuat Luhan sedikit canggung dan terpaksa mengatakan "Aku hanya gugup dan tidak sabar melihat Eunwoo." Bohongnya, namun dibalas anggukan setuju dari dua pria tinggi yang duduk disamping kanan dan kirinya "Aku juga / ah, mereka sudah memulainya."
Lalu Luhan bisa melihat seorang wanita paruh baya berdiri di atas panggung, memperkenalkan dirinya sebagai kepala yayasan yang akan memberikan penghargaan untuk dua siswa berprestasi yang telah membuat harum nama sekolah.
"Dan untuk mempersingkat waktu, dengan bangga saya memanggil Cha Eunwoo sebagai siswa yang memiliki nilai sempurna untuk hasil ujian negara yang baru selesai diselenggarakan."
Tak lama suara tepuk terdengar, lalu terlihat Eunwoo yang sedang tersenyum serta membungkuk menyapa seluruh tamu undangan. Sungguh, tak ada hal yang membuat Luhan bahagia kecuali melihat adiknya berdiri disana sebagai siswa berprestasi, walau tak banyak yang diingatnya mengenai Eunwoo, tapi dia yakin adiknya memanglah seseorang yang baik dan memiliki tujuan hidup hanya untuk membuat bangga keluarganya.
"Terimakasih untuk kesempatan yang telah diberikan kepadaku, khusunya untuk sekolah yang selama tiga tahun ini mendidik dan mengajarkanku banyak hal juga kepada seluruh teman-temanku" Katanya memulai satu dua kata sebagai rasa terimakasihnya sebelum melihat ke arah keluarganya, tempat dimana Jinyoung dan Luhan berada untuk mengatakan "Dan terimakasih untuk kedua kakakku, terimakasih karena kalian terus mempercayai adik kalian yang lemah ini." katanya tertawa kecil dibalas isakan kecil Jinyoung yang kini menghapus air matanya.
Luhan juga bisa melihat Taecyeon tersenyum bangga pada Eunwoo sampai kalimat terakhir itu diucapkan adik mereka "Aku mencintai kalian keluargaku, terimakasih untuk semua hal dan cinta yang begitu besar yang telah kalian berikan padaku, terimakasih."
Eunwoo membungkuk sebagai rasa terimakasih terakhirnya untuk sekolah yang telah mendidik dan mengajarkan banyak hal selama tiga tahun, tak lama terdengar lagi suara tepukan dari seluruh siswa dan keluarga sampai terlihat kepala yayasan kembali berdiri di atas panggung.
"Whoa, rasanya ingin menangis mengingat tahun ini adalah tahun kelulusan yang memiliki banyak cerita."
Wanita yang diketahui Luhan sebagai kepala yayasan itu terlihat menghapus haru air matanya, dia kemudian kembali melihat ke arah panggung untuk tersenyum dan meminta satu murid terakhirnya memberi kata sambutan sebagai tanda kebanggan sekolah padanya.
"Baiklah, aku tidak akan membuang waktu lebih banyak, sekarang akan kupanggilkan satu murid terakhir yang akan memberi kata sambutan sekaligus simbol pemberian medali untuk seluruh siswa tingkat akhir hari ini. Kepada Oh Jaehyun, silakan anakku."
Lalu tepukan terdengar lagi, walau tidak seramai milik Eunwoo tapi sepertinya banyak yang menantikan remaja bernama Jaehyun ini, begitu pula Luhan, entah mengapa dia sedikit membusungkan dadanya untuk melihat siapa remaja yang sedang naik ke atas panggung.
Dia tidak mengenalnya tapi terus tersenyum seperti ingin memberikan semangat pada teman Eunwoo yang terlihat tidak bersemangat, wajahnya memang tersenyum tapi tidak dengan hatinya, karena sepanjang dirinya berjalan memasuki panggung sampai kini berada di depan microfon, teman Eunwoo itu hanya diam tak memberikan satu kata pun sebagai ucapan terimakasihnya.
"Jaehyun, bicara nak."
Luhan bisa melihat kepala yayasan berbisik menyemangati Jaehyun, membuat pandangan Luhan kembali lagi pada si remaja yang sepertinya bersiap untuk berbicara.
"Gomawo."
Diluar dugaan, hanya sebarik kata terimakasih yang diucapkan Jaehyun, dia tidak berbicara lagi dan hanya berjalan pergi meninggalkan panggung. Sontak hal itu membuat semua orang berbisik, tapi Luhan bersumpah melihat remaja itu menghapus air matanya sampai seseorang memekik begitu kencang dan menarik seluruh perhatian siswa dan tamu undangan.
"OH JAEHYUN ANGKAT DAGUMU! LIHAT KEDEPAN KARENA KAMI KELUARGAMU DISINI!"
Semua mencari suara teriakan yang terdengar lirih dipenuhi kekecewaan, Luhan juga melakukan hal sama, dia mencari siapa yang berteriak untuk menyadari bahwa seorang pria bermata bulat yang ditemuinya di luar aula merupakan keluarga dari remaja bernama Jaehyun tersebut.
Entah mengapa hal itu membuat hati Luhan menyayat sakit, kenyataan bahwa Jaehyun tidak menikmati hari kelulusannya adalah yang paling mengganggu, lalu lihatlah dua pria cantik yang duduk cukup jauh darinya tengah memberikan semangat untuk Jaehyun.
Membuat sesuatu didalam dirinya ingin ikut memberi semangat namun dia abaikan mengingat keadaan sudah cukup tegang karena Jaehyun hanya membalas dengan senyum kecil untuk berlalu pergi dan masuk kedalam ruang tunggu.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu…..
.
"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan dimana Taecyeon?"
Ini adalah pertanyaan yang sama yang terus diajukan Sehun selama tiga hari setelah Doojoon mengatakan dia mengetahui dimana Taecyeon. Dan selama tiga hari itu pula Doojoon terus berusaha mencari menggunakan seluruh akses tertingginya sebagai kaki tangan kanan Donghoon namun nihil.
Dia tidak menemukan apapun.
Hal itu kerap membuat kesabaran Sehun hilang dan berakhir menghancurkan seluruh barang, namun apa daya emosinya tidak membantu apapun karena Doojoon membutuhkan waktu untuk menemukan Taecyeon yang terkenal lihai menyembunyikan organisasi dibawah pimpinannya.
"Jawab aku."
Doojoon fokus mencari sementara Sehun terus mendesak, dia juga memutuskan untuk tidak mengindahkan pertanyaan Sehun dan hanya mencari sampai cengkraman Sehun di kemejanya terasa begitu kuat dan membuatnya sedikit sesak.
"JAWAB JIKA AKU BERTANYA!"
"hyunggi high school."
"huh?"
Doojoon kemudian menghempast tangan Sehun yang mencekiknya, mencoba untuk tidak terpancing amarah lalu menunjukkan data terbaru yang ditemukannya mengenai Taecyeon.
"Jinyoung memiliki adik yang merayakan kelulusannya hari ini, Cha Eunwoo."
"Cha Eunwoo?"
"Nama adik Jinyoung adalah Cha Eunwoo, dia bersekolah di Hyunggi high school. Dan jika tebakanku benar, Taecyeon juga akan berada disana mengingat bocah bernama Eunwoo ini kerap dibohongi mengenai kondisi Rein. Dan jika Taecyeon berada disana itu artinya Rein, tidak, Luhan jga akan berada disana!"
"Apa kau yakin?"
"Ya!"
Buru-buru Sehun mengambil mantel dan kunci mobilnya, entah apa yang ada di pikirannya itu cukup membuat Doojoon jengah. Dia kemudian harus menahan Sehun lagi setidaknya memperingatkan agar tidak bertindak gegabah mengingat Taecyeon yang mereka hadapi.
"Pikirmu kau akan pergi kemana?"
"Kemana lagi? Tentu Hyunggi high-…."
"TIDAK BISAKAH KAU MENAHAN DIRI?"
"wae?"
"bajingan! Kau tidak tahu siapa Taecyeon dan aku bertaruh kau tidak ingin tahu siapa pria mengerikan itu. Kau tidak bisa begitu saja datang dan mengacaukan hari kelulusan adiknya! Itu hanya membuat Luhan semakin jauh darimu dan kau akan kehilangan Luhan lagi!"
"Aku tidak akan kehilangan Luhan lagi, lagipula aku memiliki alasan untuk berada disana."
"Apa alasanmu?"
Sehun menatap dalam mata Doojoon, sedikit menyeringai untuk memberitahu "Adikku juga bersekolah di Hyunggi high school." Katanya sengaja menabrak kencang bahu Doojoon untuk memastikan dengan kedua matanya sendiri bahwa Luhan memang ada disana, tidak kekurangan satu apapun darinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
"JAEHYUN!"
Yang namanya dipanggil terlihat sedang meninggalkan gedung sekolah bahkan sesaat setelah acara baru dimulai. Dia beralasan untuk pergi ke toilet walau pada akhirnya mencari kesempatan untuk pergi dari sekolah.
Beruntung Eunwoo menyadari ponsel Jaehyun yang terjatuh, berniat memberitahunya bahwa seseorang bernama Sehun hyung terus menghubungi walau nyatanya Jaehyun tidak terlihat dengan apapun saat ini.
"Ada apa?"
"Ponselmu terjatuh."
Jaehyun menerimanya tanpa berterimakasih, berniat untuk kembali pergi sampai Eunwoo bertanya sangat mengganggu "Kau akan pergi?"
"Buan urusanmu."
"Tapi acaranya-…."
"eoh? Eunwoo kau disini juga?"
Percakapan keduanya terhenti saat seseorang memergoki dirinya dan Jaehyun sedang bercakap di depan toilet. Eunwoo bahkan harus merubah warna mukanya menjadi ceria sampai satu ide terlintas di kepalanya.
"hyung…. Jaehyun aku ingin mengenalkan kakakku padamu."
"Tidak perlu."
"Hanya sebentar , hyung kemari."
Mereka terhalang oleh dinding toilet pria yang mempunyai tembok pemisah dengan toilet wanita. Jadi ketika Eunwoo menarik kakaknya keluar dari pembatas tersebut, maka disinilah Jaehyun sedang menatap jengah pada Eunwoo sampai entah karena alasan apa seluruh tubuhnya lemas nyaris tak bisa merasakan pijakan di kaki saat bertatapan dengan dua mata cantik yang sudah ditatapnya sejak kecil.
"tidak mungkin."
Jaehyun menunjukkan reaksi diluar dugaan Eunwoo, membuat teman sekelasnya itu bertanya-tanya mengapa Jaehyun melihat Rein hyung seperti melihat hantu yang mengharuskannya memegang dinding pembatas seolah dia bisa jatuh kapan saja.
"Jaehyun kau baik-baik saja?"
Jaehyun tidak membalas apapun, matanya hanya terkunci pada sosok yang sedang menatapnya lembut tapi entah mengapa tatapannya terasa asing. Dia pun mencoba menenagkan diri, mengusap kasar matanya berulang kali hanya untuk menemukan kakak iparnya sedang berdiri tepat di depan kedua matanya.
"Luhan hyung."
Luhan bisa mendengar remaja itu memanggilnya dengan Luhan, lagi.
Lalu yang membuatnya sedikit terenyuh adalah fakta bahwa sesuatu dibagian tubuhnya juga merasa hangat dan rindu saat melihat Jaehyun, karena tidak seperti Sehun yang membuatnya takut, Jaehyun justru membuat Luhan ingin melindunginya karena terlihat begitu menderita tanpa alasan.
"l-Luhan hyung…."
"Apa yang kau bicarakan? Dia kakakku, Rein."
"tidak mungkin."
Luhan tidak bisa berkata apapun, dia juga tidak bisa menyalahkan Eunwoo yang kini terdengar tak suka menatap Jaehyun, yang dia lakukan hanya berdiri di tengah dua remaja yang sedang memperebutkan dirinya sebagai Luhan sementara yang satu akan terus memanggilnya Rein.
"DIMANA KAU OH JAE-….."
Katakanlah posisinya saa ini sudah membuat kepala Luhan berdenyut sakit, lalu tak lama terdengar lagi suara yang berbeda sedang memanggil Jaehyun namun berhenti berteriak saat melihatnya.
"Luhan?"
"Ada apa Bee?"
Luhan juga bisa melihat satu pria cantik yang sedang menggendong putranya bertanya pada pria yang memiliki bibir plum semerah buah apel, tatapan pria yang sedang menatapnya itu persis seperti milik Jaehyun dan Sehun yang sedang menunjuk ke arahnya seolah memberitahu temannya bahwa dirinya adalah seseorang yang mereka kenal.
"Soo, Katakan aku tidak bermimpi."
"Apa?"
Mengikuti kemana arah Baekhyun menunjuk, Kyungsoo melihat siapa yang menarik perhatian Baekhyun hingga sahabatnya terlihat seperti kehilangan nyawa. Dia mencari, memicingkan mata lalu reaksinya sama seperti Baekhyun saat melihat tidak terlalu jelas namun dia meyakini bahwa sosok yang sedang ditatapnya adalah
"Luhan?"
Dia memanggil, sedikit berjongkok untuk menurunkan putranya sebelum berjalan mendekat ke arah Jaehyun.
Sontak hal itu membuat Eunwoo cemas, dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi tapi dia memiliki perasaan buruk jika hyungnya akan diambil oleh orang asing yang menatap hyungnya seperti Rein adalah milik mereka.
Dan karena alasan itu pula Eunwoo menarik lengan Luhan, berdiri tepat di depan kakaknya dan mencegah siapapun mengambil Rein darinya.
"Apa yang kalian bicarakan? Dia hyungku, PARK REIN DAN BUKAN LUHAN!"
"Eunwoo tenang." Luhan berbisik, mencoba menengkan sampai dia merasa tangannya ditarik kenang oleh seseorang dan membuat dirinya berhadapan dengan pria mungil bermata bulat yang menatapnya antara terkejut dipenuhi rasa tak percaya dan rindu mendalam.
"Luhan?"
Kyungsoo bahkan menangis saat memanggil nama Luhan, dan lagi-lagi hal itu terjadi, saat seseorang menyebutnya Luhan, dia akan memberika reaksi tak terduga pula, Sehun yang paling buruk, membuatnya sampai menangis dan setelahnya, Luhan hanya merasakan kehangatan tulus jika bertemu dengan semua orang yang memanggilnya dengan Luhan.
Penasaran, dia pun bertanya "Apa kau mengenalku?" yang mana membuat tak hanya Kyungsoo membuang wajah tapi juga Jaehyun yang mengerang frustasi sementara Baekhyun menatap lemas pada fakta bahwa yang sedang berbicara dengan mereka bukan Luhan, tapi seseorang yang hanya menyerupai Luhan mereka.
"Kau Luhan."
Kyungsoo bersikeras pula setelah membuang wajah frustasinya, entah mengapa dia ingin mendengar "Ya, Aku Luhan" dari pria di depannya. Dia ingin Luhannya dan demi Tuhan dia rela melakukan apapun untuk menjadikan pria didepannya ini sebagai Luhan. Apapun akan dia lakukan termasuk menghadapi dua pria yang memiliki tubuh lebih besar dan wajah menyeramkan yang kini datang mendekat ke arah mereka.
"Ada apa?"
Yang bermata sipit bertanya, lalu yang terlihat lebih muda memanggil Luhan dengan sebutan "Hyung? Kau baik-baik saja?" dia bertanya lalu menarik Luhan menjauh dari pria bermata besar yang kini berhadapan dengannya.
"Ada apa?"
"Siapa yang kau panggil hyung? Luhan tidak memiliki adik selain Jaehyun!" katanya marah, menunjuk Jaehyun yang masih menatap Luhan tak berkedip namun menyadari bahwa susasan saat ini tidak menguntungkan untuk mereka.
"hyung…."
Mendengar seseorang memanggil Rein dengan nama Luhan lagi cukup membuat Taecyeon gusar, dia kemudian berdiri disamping Jinyoung dan mulai menatap marah pada Kyungsoo yang kini ditemani Jaehyun dan Baekhyun disamping kanan dan kirinya.
"Dan siapa yang kau panggil Luhan? Namanya Rein dan dia istriku!"
"BOHONG!"
Baekhhyun berteriak, membuat Luhan yang berada di belakang dua tubuh besar Jinyoung dan Taecyeon menatap cemas ketiga pria didepannya yang kini sedang berhadapan dengan emosi Taecyeon.
"JIKA DIA BUKAN LUHAN KENAPA KALIAN BERDUA TERKEJUT SAAT KAMI MEMANGGILNYA DENGAN LUHAN?"
Jinyoung terlihat panik, tapi tidak dengan Taecyeon yang memiliki insting liar untuk melihat seorang anak kecil yang sedang menangis ketakutan dan memeluk erat kaki ibunya.
"Apa dia anakmu? Ah, sepertinya iya! Kalian sangat mirip."
Buru-buru Kyungsoo membawa Taeoh kebelakang tubuhnya untuk menatap geram pada Taecyeon "JANGAN MELIHAT ANAKKU!"
"Kalau begitu berhentilah berteriak sebelum aku menyakitinya."
"TAECYEON CUKUP! KITA PERGI!"
Bukan hanya Kyungsoo dan Baekhyun yang bergedik takut, Luhan juga merasa nada Taecyeon berubah sangat mengerikan ketika mengancam bayi menggemaskan yang terus melihat ke arahnya.
Hal itu membuat Luhan geram dan segera merangkul lengan Taecyeon dan membawanya pergi sampai lagi-lagi suara Baekhyun terdengar
"LUHAAAAANNN!"
"sial!"
Taecyeon mengumpat, dia melepas rangkulan lengan Luhan dan nyaris memukul Baekhyun jika seseorang tidak berdiri tepat di depan Baekhyun dan menahan kepalan tangan Taecyeon yang akan memukul Baekhyun.
"Jangan pernah sentuh kekasihku atau kau mati di tanganku."
Mungkin ada alasan lain kenapa Luhan begitu menyukai Baekhyun, Kyungsoo dan Jaehyun disaat dia tidak mengenalnya, alasan yang sama yang terjadi padanya saat pertama kali dia bertemu dengan Kai dan Chanyeol.
"Jadi mereka kekasih kalian?"
Karena mereka semua tampak saling menyayangi, saling mencintai dan akan melakukan apapun untuk melindungi yang mereka cintai.
Bibirnya bahkan tersenyum saat melihat Kai dan Chanyeol, kedua teman Sehun yang ditemuinya di Pyeonchang sedang melindungi kekasih masing-masing. Entah mengapa rasanya Luhan ingin berlari mendekat saat melihat Kai terlihat menngendong putranya sementara Chanyeol kini berhadapan langsung dengan Taecyeon yang nyaris memukul Baekhyun.
"syukurlah."
Lalu dia bergumam lega, tidak menyadari bahwa Jinyoung sedang memperhatikan raut bahagia wajahnya saat melihat dua pria lain datang dan menolong dua pria berparas cantik yang terus memanggilnya Luhan.
"Pergi!"
Chanyeol kemudian mendorong kasar tubuh Taecyeon, memperingatkan seluruh anggota keluarga Taecyeon sampai hatinya mencelos sakit melihat Luhan, tidak, melihat Rein sedang menatapnya persis seperti Luhan menatapnya ketika dia marah.
"Rein?"
Chanyeol bergumam namun sial wajah Taecyeon kembali menghalangi untuk memperingatkan "Sebaiknya ingatkan dua pria cantikmu untuk tidak memanggil Rein dengan Luhan, sangat memalukan!"
"Kau…."
Mengabaikan geraman Chanyeol. Taecyeon sengaja berjalan mendekati Luhan dan merangkul paksa pinggang Luhan, membuat Baekhyun terlihat gusar dan terus memanggil "LUHAAAN JANGAN PERGI!" namun kali ini tak bisa berbuat apa-apa karena Chanyeol memeluknya erat.
"yeol…Dia Luhan, hkkss…LUHAAN!"
"sssh…Bee tenanglah, aku dan Kai sudah memastikan, dia bukan Luhan."
"Kai…."
Lalu mata memelas Kyungsoo melihat wajah calon suaminya, hati Kai sakit melihatnya, tapi dia tidak memiliki pilihan lain selain mengangguk dan membenarkan "Maaf sayang, dia bukan Luhan."
"oh tidak…."
Kyungsoo menangis tersedu di pelukan Kai, begitupula Baekhyun yang sesekali masih berteriak memanggil nama Luhan dan menyakiti hati Chanyeol.
Mereka semua terlihat seperti orang bodoh yang tidak bisa melakukan apapun. Membuat Sehun yang sudah memperhatikan sejak Taecyeon nyaris memukul Baekhyun hanya bisa menatap sendu keluarganya atas kehilangan yang mereka rasakan.
Hatinya hancur tidak bisa memberitahu keluarganya bahwa itu adalah Luhan, terlebih saat dia melihat Jaehyun menangis dalam diam dan berjalan gontai dipenuhi duka dan rasa kecewa tepat di hari kelulusan dan hari ulang tahunnya.
"Mianhae…"
Sehun tidak tahan, dia menghapus cepat air matanya untuk mengikuti kemanapun Taecyeon membawa Luhan, dia tidak bisa kehilangan Luhan disaat dirinya sudah sedekat ini dengan istrinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
a week later…
.
.
Satu minggu telah berlalu sejak keributan yang terjadi di sekolah Eunwoo. Keributan yang terjadi hari itu cukup membuat Luhan kehilangan hormatnya pada Taecyeon. Bagaimana tidak dia merasa begitu marah pada Taecyon, karena selain hampir memukul Baekhyun dan Kyungsoo, pria yang kini membawanya kembali ke sekolah Eunwoo juga nyaris menyakiti anak Kyungsoo jika Kai dan Chanyeol tidak datang tepat waktu.
Dan karena alasan itu pula Luhan tidak banyak berbicara lagi pada Taecyeon, banyak hal yang dilakukan Taecyeon untuk meminta maaf darinya namun percuma, Luhan tetap pada pendirian untuk tidak berbicara pada Taecyeon sampai kalimat.
"Aku akan mendaftarkan Eunwoo ke universitas, apa kau ingin ikut ke sekolahnya lebih dulu? Kita harus mengkonsultasikan jurusan apa yang tepat untuk Eunwoo."
Barulah Luhan memberikan respon, seketika dia mengangguk dan disinilah dirinya, berada di dalam mobil sementara Taecyeon yang berbincang dengan wali Eunwoo di sekolah.
Bukan dia tidak peduli pada Eunwoo, alasannya lebih karena Luhan merasa takut akan bertemu dengan Jaehyun, Kyungsoo atau Baekhyun sekalipun yang membuat Taecyeon kembali berulah dan membuat keributan lagi pada seseorang atau siapapun yang memanggilnya dengan Luhan.
"Aku akan segera kembali."
"Oke."
Lima belas menit pertama Luhan menjadi patuh, dia hanya duduk diam di mobil tanpa melakukan apapun.
Lalu di menit ke delapan belas semua berubah, perhatiannya tertuju pada gedung sekolah yang berada tepat disamping Hyunggi school. Kelihatannya gedung itu juga gedung sekolah tapi tidak lebih besar dari sekolah Eunwoo namun cukup menarik perhatian Luhan.
Jadilah dia keluar dari dalam mobil. Melihat ke kanan dan ke kiri seolah memastikan tidak ada Taecyeon dan berjanji akan kembali sebelum Taecyeon datang padanya.
"Sebentar saja." katanya bergumam.
Luhan mulai menyusuri gedung yang berada tepat di samping sekolah Eunwoo, dan sesampainya dia disana matanya terus tertuju pada lapangan basket yang disatukan dengan lapangan futsal.
Dia tersenyum, seperti rindu bermain basket atau rindu bermain futsal? Entahlah, kemudian dia melihat gang kecil di samping pagar sekolah, itu seperti jalan rahasia dan entah karena alasan apa lagi Luhan seperti hafal tempat itu hingga membuatnya menyusuri gang kecil yang tiba-tiba menghubungkannya dengan halaman belakang sekolah yang ternyata tak kalah luas dengan sekolah Eunwoo.
"Aku jadi rindu sekolah, omong-omong dimana sekolahku dulu?"
Dia bertanya, memegang pagar yang menjadi penghalang untuk siswa nakal yang mencoba melarikan diri, entahlah, melihat gedung sekolah ini membuat Luhan terus tersenyum seperti orang bodoh.
Dia bahkan tidak memperhatikan sekitar sampai dirinya tersentak mendengar seseorang yang entah muncul darimana sedang berbicara atau lebih tepatnya terdengar sedang menyindirnya
"Yang membuatku takjub adalah kenyataan dari banyak sekolah di Seoul, kenapa aku harus bertemu denganmu disini?"
Seketika kekaguman Luhan akan tempat yang entah mengapa didatanginya terganggu,
Suara itu lagi?
Dia bertanya dalam hati, kemudian menoleh untuk menemukan Sehun sedang bersandar di mobil dengan kedua tangan terlipat di dada. Sepertinya Sehun salah satu mantan siswa di sekolah ini, terlihat dari mobilnya yang terparkir di tempat rahasia dan tengah menatap tajam dirinya.
Ya, Tatapannya tajam seperti biasa, membuat lagi-lagi Luhan merasa gugup karena selalu tak bisa menghadapi tatapan terlampau tajam milik pria yang selalu menyebutnya Luhan.
"Kau?"
"Pilih salah satu."
"Apa?"
Kemudian pria tampan itu berjalan mendekatinya, seketika pula Luhan bisa mencium aroma mint yang begitu segar yang diam-diam juga dirindukannya setiap kali mereka bertemu. Keduanya masih saling menatap lalu Sehun mengajukan pertanyaannya "Kau bisa menjelaskan alasan kenapa kau ada disini atau aku akan bertanya lagi? Pilihlah."
"Apa yang salah dengan aku berada disini?"
"Tentu saja salah karena ini tempat aku dan Luhan bersekolah dulu. Terlebih kau sedang berdiri tepat di tempat Luhan biasa menungguku saat kami bosan dan memutuskan untuk melewatkan kelas!"
"Mwo?"
Luhan diam, dia tahu Sehun selalu mencoba mengganggu privasinya, tapi yang membuatnya takjub adalah kenyataan bahwa dia akan selalu memiliki insting atau rasa familiar yang selalu berhubungan dengan Sehun, selalu.
Lalu dia mencari alasan agar tidak terlihat menyedihkan dengan mengatakan "Adikku bersekolah disini." Kilahnya dibalas senyum Sehun yang meremehkan "Benarkah?"
"Ya."
"Baiklah, tapi menurut informasi yang aku dapatkan Cha Eunwoo bersekolah di sekolah yang sama dengan adikku, mereka siswa dari Hyunggi High School, bukan, Seoul High School."
Luhan terdiam lagi, wajahnya pucat dan Sehun bisa melihat peluh di dahi pria yang adalah Luhannya, membuat keadaan sedikit canggung sampai Sehun bertanya dengan lirih "Wae? Kenapa kau melupakan aku?"
"Apa yang kau bicarakan?"
"Kau Luhan, istriku."
Sementara Luhan memundurkan langkahnya, maka Sehun terus maju mendekati. Posisi mereka terus seperti itu sampai Luhan terdesak di antara pembatas pagar rantai dengan halaman belakang sekolah mereka.
"Kenapa kau berpura-pura tidak mengenalku? Aku Sehun, suamimu."
Sehun sedikit membungkukan tubuhnya, menyamakan posisi agar wajahnya bisa melihat wajah Luhan namun yang bisa dilihatnya hanya ketakutan sepanjang dia memaksa Luhan untuk mengakuinya.
"Ada apa denganmu?"
Luhan bertanya dan Sehun terlihat geram dengan semua sandiwara yang coba dimainkan Luhan padanya, dia bahkan mengabaikan fakta bahwa Luhan tidak mengingat apapun hanya untuk memaksa pria cantik didepannya agar mengakui bahwa dia adalah Luhan bukan Rein.
"Kau Luhan." paksanya dibalas geraman kecil dari Luhan "Aku bukan Luhan." katanya mendorong jauh tubuh Sehun hingga jarak terbuat diantara mereka.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu, tapi aku bukan Lu-…"
"KAU LUHAN!"
Air mata Sehun menetes seiring teriakannya, hatinya terluka dan sesak karena Luhan masih mengelak siapa dirinya dan terus mengatakan dia bukan Luhan. Hal itu cukup membuat hati Luhan tergores pula, melihat bagaimana wajah pucat Sehun terlalu mencolok untuk dikatakan baik-baik saja karena nyatanya pria yang memenuhi pikirannya selama satu minggu ini jauh dari kata baik-baik saja.
"Sehun tenangkan dirimu, kau tidak seperti ini sebelumnya!"
"Itu karena aku belum mengetahui siapa dirimu, aku berusaha merelakan jika kau adalah Park Rein, tapi semakin aku merelakan, maka kenyataan tetap datang dan menunjukkan bahwa kau adalah Luhan, istriku!"
Sebab apa hati Luhan berdesir mendengar perkataan Sehun saat ini, sebab rasanya ucapan Sehun terdengar seperti kenyataan, sedetik sebelumnya dia bahkan ingin berlari ke pelukan Sehun, meminta Sehun untuk membawanya pergi dan hanya hidup bersama pria yang diam-diam dirindukannya setelah kepergiannya dari Pyeongchang satu minggu lalu.
Tapi Luhan tahu dia akan membuat kesalahan lagi jika lengah menghadapi Sehun, dia akan menyakiti Sehun lebih banyak lagi jika tidak bersikap tegas dan terus terlihat bingung, jadilah dia menarik dalam nafasnya untuk membuat satu keputusan "Aku tidak bisa berbicara lagi denganmu Sehun, maafkan aku tapi aku sudah membuat keputusan." Katanya terdengar serius lalu menatap dalam Sehun di matanya "Kita tidak akan bertemu lagi setelah ini, selamat tinggal."
Luhan membawa hatinya yang hancur pergi meninggalkan Sehun, berniat untuk tidak menoleh lagi ke belakang sampai suara berat Sehun terdengar "Baiklah, kau boleh pergi setelah menjawab satu pertanyaan dariku." Katanya terdengar memohon dan berhasil membuat Luhan berhenti menjauh dengan penawarannya "Apa?" tanya Luhan.
Keduanya bertatapan lagi dengan Sehun yang kembali mendekati Luhan, tidak memberikan jarak pada istrinya hanya untuk memastikan Luhan mengatakan kebenaran bukan kebohongan lain.
"Harusnya aku menanyakan hal ini sejak pertama kita bertemu, harusnya aku menyadari kau memang Luhanku." Katanya mengusap wajah Luhan dibalas respon Luhan yang terlihat cemas sekaligus merindu namun ditahannya kuat-kuat.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Jika kau bukan Luhan, katakan padaku kau tidak memiliki tanda lahir di sisi kanan perutmu, eoh?"
Mata Luhan melebar mendengar pertanyaan Sehun, bertanya-tanya darimana Sehun mengetahui tanda hitam di sekitar perutnya hingga membuat raut wajahnya mudah terbaca "Kenapa pucat? Apa kau memilikinya?"
Dan seperti bisa membaca isi kepala Luhan, Sehun bertanya percaya diri, namun sialnya Luhan masih enggan menjawab hingga dia harus mengatakan "Jika kau bukan Luhan, katakan padaku kau tidak memiliki luka gores di pundakmu, goresan dalam membekas yang diberikan seorang bajingan padamu."
Deg!
Lagi, Sehun mengetahui bahkan luka ditubuhnya, hal itu cukup membuat jantung Luhan berdegup sangat cepat disertai sesak menyayat seiring pertanyaan Sehun yang membuat gila dirinya "Kenapa diam? Apa aku juga harus mengatakan bahwa kau memiliki banyak tanda lahir di sekitar tubuhmu? Dua di bagian dalam paha kiri dan tiga di sekitar lengan kananmu? Apa aku harus-….."
"Darimana kau mengetahuinya?"
"haaah~."
Sehun tergagap, dia seperti baru diselamatkan dari tenggelam yang tak berkesudahan, sesaat dia mencengkram kuat dadanya sementara Luhan masih menatapnya bertanya, tiba-tiba dia merasa bangga karena memuja Luhan sejak kecil hingga seluruh tanda di tubuh istrinya begitu dia hafal bahkan di luar ingatannya.
"Jawab aku."
"Jadi benar kau istriku?"
Sehun tidak fokus, seluruh perhatiannya saat ini hanya sepenuhnya ada pada Luhan, ada pada kenyataan akan kelegaan hatinya bahwa Tuhan masih begitu baik mengembalikan Luhan padanya, dia kemudian tertunduk, terisak begitu lega sebelum kembali menatap Luhan.
Matanya menatap sendu pria cantik yang begitu dirindukannya, mengusap perlahan wajah Luhan untuk mengatakan "Terimakasih karena kau tidak meninggalkan aku."
"Sehun aku bertanya darimana kau mengetahui semua tanda di tubuhku?!"
"Bukankah sudah jelas? Itu karena kau Luhan, kau milikku, kau istriku dan kau bukan Re-…."
"CUKUP BAJINGAN!"
Sedetik yang begitu cepat Luhan merasa seseorang menarik paksa tangan Sehun yang sedang menggenggamnya, lalu terlihat Taecyeon memukul Sehun hingga membuat Sehun tersungkur.
"APA YANG KAU KATAKAN PADA REIN ADALAH KEBOHONGAN!"
Lalu Sehun menyeringai, menghapus darah di sisi bibirnya untuk mendesis "Siapa yang berbohong? Kau atau aku? Dia Luhan."
Sehun tegas, membuat Taecyeon gemetar ketakutan dan berakhir memukuli Sehun yang entah mengapa terlihat sangat pucat hari ini.
"diam…diam….DIAAAAAMMMM!"
"TAECYEON HENTIKAN!"
Luhan berjalan mendekati Taecyeon, berusaha untuk menghentikan hal gila yang dilakukan Taecyeon pada Sehun walau harus berakhir terjatuh karena Taecyeon mendorongnya cukup kuat.
"DIA REIN DAN BUKAN LUHAN! DENGARKAN AKU DAN JANGAN-….."
"REIN SUDAH MATI DAN AKU BISA MEMBUKTIKANNYA!"
Bukan hanya Luhan yang lemas, Taecyeon juga terlihat hancur dan murka, terakhir Sehun mendorong kasar tubuh Taecyeon untuk mengatakan kebenaran yang tak akan bisa dielak lagi oleh Taecyeon "Dua puluh delapan Oktober, tepatnya tiga bulan yang lalu, Ok Rein dinyatakan meninggal oleh adikmu ipar sekaligus dokter yang menangani istrimu, Park Jinyoung."
"diam…."
Taecyeon menggeram, namun rupanya Sehun terus mengambil kesempatan untuk berbicara dan menyatakan telak bahwa Rein adalah Luhan tidak peduli apapun yang terjadi.
Keduanya bertatapan sengit sampai Sehun mengatakan "Rein mengalami lumpuh otak dan meminta adiknya untuk mendonorkan bagian tubuhnya yang masih berfungsi, aku bahkan tahu kornea mata istrimu telah didonorkan untuk seorang anak kecil yang kini bisa melihat karena istrimu."
"diam."
"Harusnya kau bersyukur memiliki istri sebaik Rein, harusnya kau tetap mencintai Rein dan tidak menjadikan istriku sebagai Re-….."
"DIA REIN! KAU DENGAR? ISTRIKU MASIH HIDUP DAN DIA ORANGNYA!"
Tak sabar Sehun mencengkram kemeja Taecyeon lalu berdesis didepan wajahnya "DIA LUHAN! ISTRIKU! DIA LUHAN DAN KAU HANYA KEBETULAN MENEMUKAN DIRINYA YANG DIBUANG KE LAUT OLEH SEORANG BAJINGAN?"
Laut?
Luhan kini merasa sesak, dia seperti bisa merasakan terombang-ambing di tengah laut saat itu, rasanya sakit, dia seperti hilang dan ditinggalkan seorang diri, persis di mimpinya, tapi dia tidak mengingat apa yang terjadi hingga rasanya dia mual mendengar bagaimana Sehun menjelaskan tentang dirinya
Hueek….
Kedua pria yang sedang bertengkar itu begitu egois, mereka bahkan tidak memperhatikan kondisi mental Luhan yang belum siap mengingat apapun, karena saat Luhan mencoba maka sakit di kepal serta mual sesak yang dirasakannya begitu menyiksa dan membuatnya berakhir berjongkok sementara Taecyeon dan Sehun masih dengan ego mereka masing-masing.
"AKU TIDAK MENEMUKANNYA! "
"YA! TENTU SAJA KAU MENEMUKANNYA! AKU BERTARUH SAAT KAU MENEMUKAN LUHAN TUBUHNYA DIPENUHI LUKA BAKAR KARENA ISTRIKU MENGALAMI HAL BURUK MALAM ITU!"
Rasanya panas…
Sehun benar lagi, terkadang Luhan tiba-tiba bisa merasakan panas yang membakar tubuhnya. Setiap kali dia melihat api dia akan berkeringat dan sesak, lalu Sehun mengatakan luka bakar yang mana juga terlihat di beberapa bagian di pundak dan di kakinya.
Hueek…
"DIAAAAMMMM!"
Luhan memuntahkan isi perutnya, kepalanya sakit tak tertahankan, dia ingin bernafas tapi sulit. Terlebih saat Taecyeon dan Sehun kembali saling memukul hingga membuatnya geram dan secara refleks berteriak
"LALU SIAPA SEBENARNYA AKU? SIAPA DIRIKU? KATAKAN SIAPA AKU—arrghh~"
Sontak kedua pria itu saling menoleh, melihat Luhan sedang berjongkok dan menjambak kencang kepalanya sungguh adalah pemandangan yang menyakiti hati Sehun.
Dia bahkan membiarkan Taecyeon mendorong kasar tubuhnya, membiarkan Taecyeon mendekati Luhan sementara dia memperhatikan dari jauh dan melihat bagaimana raut putus asa Luhan saat menangis dan bertanya lirih pada Taecyeon.
"Aku tidak tahan Taec, katakan siapa aku? Katakan…..Siapa yang sudah mati? Rein atau Luhan? KATAKAN!"
Dia mencengkram kemeja Taecyeon, menangis terisak disana sementara hati Sehun terus memukul sakit karena lagi-lagi dia menyakiti Luhan. Entahlah, terlepas dari Rein atau Luhan, pria yang begitu dicintainya akan terus merasakan sakit karena dirinya.
Hal itu pula yang membuat Sehun tak rela namun pasrah merelakan Luhan untuk sementara, setidaknya, sampai Luhan mengingat siapa dirinya dan tidak meronta menangis serta kesakitan karena tidak bisa mengingat siapa dirinya.
Sehun menangis putus asa, dia begitu tidak rela untuk melepas Luhannya lagi, tapi dia sadar egonya hanya semakin menyakiti Luhan hingga dengan seluruh ketidakrelaan dalam hatinya dia mengatakan
"Kau Rein."
Tak hanya Taecyeon yang terkejut, tapi Luhan yang sedang menangis juga menatap bingung pada Sehun. sedetik yang lalu Sehun mengatakan dirinya adalah Luhan, lalu saat ini dia mengatakan dirinya adalah Rein. Semua itu cukup membuatnya muak dan Luhan begitu benci dipermainkan saat ini.
"Apa maksudmu?"
"Jangan paksakan dirimu Rein, kau tidak akan mengingat apapun jika kau memaksakan dirimu."
"Apa yang kau bicarakan? Apa—KENAPA KAU MEMPERMAINKAN AKU?"
"tidak, tidak sayang. Aku tidak mempermainkanmu, kau memang Luhan, aku bisa membuktikannya. Tapi jika kau merasa semua ini menyakitimu maka kau akan terus menjadi Rein. Aku, aku hanya akan pergi. Jadi tenangkan dirimu dan jangan sakiti dirimu lagi Rein, kumohon."
Mata Luhan membulat, nafasnya sesak dengan tangan melepas cengkraman Taecyeon.
Bukan, bukan karena Sehun mengijinkan dirinya menjadi Rein.
Tapi karena ucapan "aku hanya akan pergi. Jadi tenangkan dirimu dan jangan sakiti dirimu lagi Rein, kumohon." Persis seperti suara di mimpi yang terus menghantuinya setiap malam.
Suara Sehun juga terdengar sangat frustasi, seperti suara dalam mimpi, Luhan meyakini itu.
Jadi ketika Sehun berjalan pergi menuju mobilnya, Luhan dengan sekuat tenaga berteriak "TUNGGU!"
Membuat Sehun berhenti melangkah dan hanya memperhatikan Luhan yang kini berjalan gontai mendekatinya, terus mendekat sampai langkah terakhir dia nyaris terjatuh jika Sehun tak sigap menangkap tubuh mungil yang selalu terasa pasdi pelukannya "Kau tidak apa-apa?"
"Bawa aku pulang."
"REIN!"
"a-Apa yang kau katakan?"
Luhan mencoba berdiri tanpa bantuan Sehun, kini dia melihat Taecyeon memohon seperti meminta izin untuk mengatakan "Biarkan aku mencari tahu siapa diriku Taec."
"Kau Rein."
"Ya, tapi terkadang aku merasa seperti Luhan, entahlah, aku tidak bisa mengingat apapun dan aku tidak mau dipaksa untuk mengingat siapa diriku."
"Tapi kau tidak perlu ikut pulang dengannya!"
"Kalau begitu kau juga tidak bisa membawaku pulang."
"Kau…."
"Taec, kumohon…. Aku ingin mencari tahu siapa diriku sebenarnya."
Luhan menyatukan dua tangannya, memohon pada Taecyeon, membuat Taecyeon benar-benar tidak berdaya dan hanya ingin menyingkirkan pria yang berada di belakang Luhan saat ini.
Ya, dia bisa saja menyingkirkan Sehun jika tidak mengingat Luhan akan semakin menjadi orang asing untuknya "AAAARRGGHHH….!" Jadilah Taecyeon berteriak marah, memukul pagar membatas sebelum menatap sengit pada Sehun.
"Aku mengawasimu."
"Taec."
Lalu pandangan Taecyeon beralih pada Luhan dan memberikan satu peringatan keras pada Luhan "Sebaiknya kau mengingat dalam waktu satu bulan, karena jika kau belum mengingat siapa dirimu, suka atau tidak, terlepas kau Rein atau Luhan aku akan membawamu pergi karena kau milikku!"
Setelahnya, dengan kemarahan luar biasa menyelimuti hatinya, Taecyeon pergi meninggalkan Luhan dengan Sehun. Membuat keadaan menjadi tegang dan canggung sampai Luhan lebih dulu berjalan ke mobil Sehun dan masuk ke dalamnya.
Sehun sendiri tidak bisa menunjukkan ekpresinya saat ini, dia bahagia tapi dia cemas. Dia teringat ucapan Doojoon yang terus berteriak "aku bertaruh kau tidak ingin mengenal Ok Taecyeon!" membuat sesuatu dalam dirinya terusik jika Taecyeon akan berbalik menyakiti Luhan nantinya.
Tapi lihatlah saat ini, Luhan sedang menatapnya dari dalam mobil, tatapannya juga cemas namun sepertinya dia sedang mencoba untuk menjadi Luhan walau dia tidak mengingat apapun.
"haah~"
Lagi-lagi berat nafas Sehun berhembus, entah, apa yang akan terjadi setelah ini, tapi baginya hari ini adalah kesempatan untuk mendapatkan Luhan dengan caranya sendiri. Cara yang mungkin sulit karena dia akan membuat Luhan akan mengingat satu persatu kenangan yang telah dia lupakan.
Blam!
Sehun menutup pintu mobilnya, sekilas menatap Luhan lalu bertanya "Apa kau yakin?"
Luhan dengan segala kecemasan hatinya hanya mengangguk gugup untuk membiarkan Sehun membawanya pergi "Aku tidak tahu, hanya bawa aku ke rumahmu."
"Baiklah, kita pulang ke rumahku."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Klik….
"Masuklah…."
Yang disebut rumah oleh Sehun tidak terlihat seperti rumah untuk Luhan, bukan karena rumah itu berukuran kecil tapi lebih karena keadaan seisi rumah tampak menyedihkan baik karena barang yang berserakan maupun suasana gelap yang mendominasi di seluruh ruangan.
Sehun lebih dulu masuk kedalam rumah, menendang barang-barangnya yang tak berguna untuk mempersilahkan Luhan masuk dan mulai mencari dimana saklar lampu berada, ah, dia bahkan tidak mengenali letak rumahnya sendiri, membuat Luhan menatap bertanya dalam kegelapan sampai suaranya terdengar dan mengatakan
"Disini."
Lampu di flat kecil itu menyala, lalu terlihat Sehun membiasakan matanya dengan cahaya lampu sementara Luhan masih menatap pria yang terlihat bingung sejak pertemuan mereka di Seoul dalam tanya yang tersirat di hatinya.
"Kau baik-baik saja?"
"ya, Aku baik-baik saja, aku harus baik-baik saja."
Sehun kemudian tersenyum kecil, wajahnya memar karena pukulan Taecyeon, tapi Luhan juga menyadar ada yang berbeda selain memar yang terlihat. Wajah Sehun sudah sepucat warna kulitnya, bibirnya yang biasa berwarna merah kini tak berwarna karena raut kelelahan di wajahnya, yang paling membuat Luhan cemas adalah keringat di dahi Sehun yang mulai menetes disertai sorot matanya yang tak fokus.
"Aku rasa kau tidak baik-baik saja."
Luhan juga bersikeras, penglihatannya tajam jika menyangkut kondisi seseorang, diapun segera mendekati Sehun, berjinjit agar tinggi mereka sejajar lalu tanpa rasa canggung Luhan menyingkirkan anak rambut di dahi Sehun dan menempelkan dahinya di dahi Sehun.
Demi Tuhan Sehun nyaris tak bisa bernafas saat Luhan melakukan gerakan yang meniadakan jarak diantara mereka, berbeda dengan Luhan yang terlihat fokus untuk memutuskan bahwa suhu tubuh Sehun terlalu tinggi untuk dikatakan baik-baik saja.
"Kau demam." Gumamnya memberitahu Sehun,
Sedetik Sehun hanya diam tak merespon, lalu Luhan memberitahu hal konyol yang tak pernah terjadi pada dirinya seumur hidup, hal itu hanya memancing senyum kecil Sehun yang tanpa ragu menggeleng dan mengatakan "Aku baik-baik saja." Ujarnya mengelak membuat raut tak suka terlihat di wajah Luhan.
"Tapi kau demam." Katanya menuntut, rasanya jengah melihat Sehun terus menendang asal barang-barang yang ada di rumahnya, mungkin niatnya ingin membuat rumahnya terlihat lebih baik tapi semua percuma karena untuk Luhan, Sehun terlihat lebih menyedihkan dari rumah yang sepertinya dia abaikan.
"Aku akan membersihkan kamarmu, nanti kau akan tidur disana."
"Kau demam."
"sial! Kenapa saat kau datang rumah ini berantakan-…."
"SEHUN!"
Akhirnya Luhan berteriak, sepertinya dia kehabisan cara untuk menarik perhatian Sehun, jadilah dia berteriak dan sesuai dugaannya, Sehun seketika melihat ke arahnya, kedua mata mereka berpandangan lagi setelah Sehun berusaha mengabaikannya.
"Kau demam."
Luhan mengulangnya lagi, kini terdengar lirih karena dia cemas. Sehun bahkan bisa melihat tatapan Luhan didalan dirinya, itu membuatnya sakit, bukan karena demam yang benar sudah dialaminya sejak tiga hari lalu, tapi sakit itu terasa seperti menyayat perlahan di hatinya, membuatnya kesulitan menarik nafas namun tersirat kelegaan mengingat cemas Luhan hanya menunjukkan jika dirinya memang Luhan, istrinya.
Lagi-lagi itu membuat Sehun tersenyum, tatapannya sendu dan dia kalah saat Luhan terus mengatakan dirinya demam.
"Lalu aku harus apa?" tanyanya, buru-buru Luhan mencari dimana kamar yang dimaksud Sehun belum lama tadi, dia juga menarik lengan Sehun dan memaksanya berbaring "Aku akan mengompres dahimu, tunggu sebentar."
"Kau tidak akan menemukan alat semacam itu di rumah ini."
"Aku akan."
Dia kemudian berlari keluar kamar, meninggalkan Sehun yang matanya perlahan terpejam dengan senyum bahagia terlihat. Andai demam sial ini tidak mengganggunya pasti dia akan menghabiskan waktu bersama Luhan lebih lama, tapi rasanya dia sudah ada pada batas menahan diri untuk mengatakan "baik-baik saja". Karena daripada baik, rasanya dia lebih memilih memejamkan mata dan menyerahkan sisanya pada Luhan yang tak mengingatnya untuk merawat pria menyedihkan seperti dirinya.
.
.
.
.
.
.
Dan rasanya pagi datang terlalu cepat, rasanya pula baru kemarin dia bisa merasakan "tidur" dalam arti sesungguhnya setelah hampir dua bulan terus mengalami mimpi buruk yang berulang.
"rrhh~"
Lalu alasan tidurnya sedikit terganggu karena mencium aroma masakan dari dapur yang tak pernah disentuh siapapun sejak kepindahannya dua bulan yang lalu. Dia bertanya-tanya siapa yang memasak di pagi hari seperti ini sampai kemudian mantel berukuran kecil yang bukan miliknya terlihat di sisi tempat tidur.
"Luhan!"
Niatnya langsung berlari menuju dapur namun berakhir meringis karena tangan kirinya dipasangkan infus lengkap dengan jarum kecil yang menembus pembuluh darahnya, dia mengernyit lagi, bertanya-tanya siapa yang memasang serangkaian infus di tubuhnya untuk mencabutnya paksa dan berlari gontai menuju dapur.
"Luhan…"
"….."
"Lu…."
Sehun menghela lega nafasnya saat melihat Luhan disana, sedang membaca sesuatu yang dia tebak resep makanan di ponsel hingga tak mengindahkan panggilannya "Luhan…"
Tak ada jawaban, Luhan masih sibuk dengan kegiatannya, barulah saat Sehun sedikit mengeraskan suaranya "LU!" pria cantik itu menoleh, matanya mengerjap bingung lalu menyadari sesuatu yang baru lagi untuknya.
"ah, Aku belum terbiasa saat kau memanggilku dengan Luhan." Katanya jujur membuat Sehun tertohok miris menyadari alasan Luhan tidak menoleh saat dia memanggilnya bukan karena dia fokus dengan kegiatan memasaknya tapi karena Luhan tidak terbiasa dipanggil dengan namanya sendiri.
"Begitukah? Apa aku harus memangilmu Rein?"
"tidak, tidak. Tidak perlu seperti itu, mulanya aku juga tidak terbiasa dengan Rein, tapi karena Taecyeon terus memangil Rein padaku, aku terbiasa. Jadi panggil aku seperti kau memangil Luhan, itu keputusanku."
"Baiklah."
Luhan bisa melihat raut kecewa Sehun di wajahnya, sedikit menyesal karena membuat Sehun terlihat kecewa sebelum memutuskan untuk meyakinkan pria yang sepertinya banyak terluka oleh Luhan "Sehun.."
Sehun berjalan gontai menarik kursi meja makan, meletakkan kepalanya diatas meja makan untuk bergumam "hmm…"
"Lihat aku."
Tak perlu waktu lama Sehun mengangkat lagi wajahnya, mencari tahu apa yang ingin dikatakan Luhan walau kekecewaan masih terlihat di wajahnya "Ada apa?"
"Kau yakin aku Luhan?" tanyanya,
"Ya, sangat."
"Kalau begitu yakinkan aku, buat aku mengingatmu."
Sehun bertanya-tanya, menatap Luhan tak mengerti sampai samar terdengar pria cantiknya mengatakan "Karena entah untuk alasan apa, aku juga berharap aku adalah Luhan."
Barulah Sehun tersenyum, wajah pucatnya memang masih terlihat tapi setidaknya raut sedih dan kecewa itu sirna seiring ucapan Luhan yang membuatnya begitu ingin membuktikan bahwa dia memang adalah Luhan, istrinya, pemilik hidup seorang Oh Sehun.
"Kau memang Luhan."
"Sebelum aku mengingat siapa diriku, aku bukan Luhan dan aku bukan Rein, aku hanya ingin mencari tahu siapa diriku, hanya itu."
Sehun tak berbicara lagi, rasanya egois jika dia terus menekankan Luhan adalah Luhan, itu seperti Taecyeon meyakinkan dia dengan cara menekan Luhan dan mengatakan bahwa Luhan adalah Rein.
Sungguh, dia tidak ingin membuat setengah hidupnya kesakitan, jika memang menjadi Rein adalah yang diinginkan Luhannya, mungkin Sehun akan membiarkan Luhan hidup sebagai Rein.
Tapi lihatlah istrinya saat ini, dia ingin sekali menjadi Luhan walau dirinya adalah Luhan. Tapi semua menjadi sulit karena potongan memorinya yang hilang tidak mengijinkan. Jadilah raut wajah Luhan terlihat menyesal walau itu bukan kesalahannya.
"Lu,"
"Ya?"
Sehun menggodanya lagi, tersenyum kecil untuk mengatakan "Hanya mengetes pendengaranmu saja."
"ssshh…"
Luhan mendengus kesal diiringi tawa kecil Sehun, dan untuk sesaat yang begitu menakjubkan tempat menyedihkan ini terasa seperti "rumah" baik untuk Sehun maupun untuk Luhan sendiri.
"Diam dan duduk disana, aku sedang membuatkan roti lapis untukmu."
Sehun mengangguk, dia memutuskan untuk bersandar lagi lalu melihat bekas jarum di tangannya "Omong-omong apa kau memasang infus di tanganku?"
Luhan menggeleng dan menoleh lagi untuk memberitahu "Bukan aku, dokter yang melakukannya."
"Dokter?"
"mmh…Kau sempat kejang malam tadi karena demam tinggi, jadi aku tidak punya pilihan lain selain berlari dan mencari dokter terdekat. Ada apa?"
"Tidak, hanya saja aku mengira kau yang melakukannya. Luhan seorang dokter." Katanya memberitahu dibalas senyum kecil Luhan yang mengatakan "Aku tahu."
"Darimana kau tahu?"
"Dua temanmu, Kai dan Chanyeol sempat menyinggung siapa Luhan padaku saat kami bertemu."
"ah, Selalu mereka."
"Kenapa? Apa karena mereka cinta pertama dan kedua Luhan?"
"Cinta apa?"
Luhan tertawa, dia sudah memotong empat bagian roti lapis yang dibuatnya untuk Sehun ke dalam piring, membawanya ke meja makan lalu menarik kursi di samping Sehun "Mereka bilang mereka adalah cinta pertama dan kedua Luhan."
"yang benar saja!"
"Memang bukan?"
"Tentu saja bukan. Luhan tidak memiliki cinta pertama dan kedua, yang dia miliki hanya satu dan satu-satunya cinta."
"Siapa?"
"Oh Sehun."
"tsk! Cepat habiskan sarapanmu, kau harus minum obat."
"Berikan saja obatnya, aku melewatkan sarapanku?'
Tak mengerti, Luhan bertanya "Kenapa?"
"Tidak apa, aku hanya tidak terbiasa jika bukan Luhan yang menyuapi saat sarapan, kau tahu? Terkadang aku sangat manja."
Rasanya Luhan bisa merasakan kerinduan konyol yang dirasakan Sehun pada Luhannya, awalnya dia tidak tahu harus berbuat apa, tapi refleks tangannya bergerak menarik piring ke arahnya, memotong kecil roti lapis yang dibuatnya lalu mengatakan
"Bilang aaa…"
"huh?"
Sehun gugup dan jantungnya berdegup, dia menatap bingung Luhan yang kini memberitahu "Aku menyuapimu, jadi buka mulutmu."
"tidak Lu, Aku baik-baik saja, aku akan melakukannya seorang diri kau tidak perlu memaksakan diri karena aku-…."
"Aku Luhan? Benar?"
"y-Ya."
"Lalu biarkan aku menjadi Luhan yang kau inginkan, buka mulutmu."
Sehun lagi-lagi dibuat jatuh cinta pada pria cantik yang selalu melakukan hal kecil namun terasa begitu istimewa. Dia bahkan tak berkedip menatap Luhan sampai Luhan mengingatkan lagi "Tanganku kram Sehunna." Yang kemudian berhasil membuat Sehun membuka mulut dan memakan roti langsung dari tangan istrinya, dari tangan Luhan.
Tuhan, jika ini mimpi jangan bangunkan kau, kumohon.
"Bilang aaa lagi."
Sehun membuka lagi mulutnya, kali ini dia mengunyah diiringi air mata yang tak bisa ditahan sesak hatinya hingga membuat Luhan menatapnya cemas "Ada apa?"
"tidak apa, Aku hanya terlalu bahagia."
"Kenapa?"
"entahlah, itu tidak bisa diungkapkan."
Bohong jika Sehun tidak bisa mengungkapkan, karena sebenarnya yang ingin dia katakan adalah "Aku disuapi oleh Luhan yang sama tapi rasanya sungguh berbeda." Bukan karena Luhan saat ini tidak mengingat siapa dirinya tapi karena Sehun mengingat mau bagaimanapun juga dia belum menerima maaf dari Luhan setelah pertengkaran mereka malam itu.
Itu yang selalu disesalinya
Itu yang selalu membuatnya sesak
Hingga kini dia menangis dan mengundang pertanyaan Luhan yang sepertinya ingin mengetahui sesuatu "Sehun."
"hmm…"
"Kapan pertama kali kau menyadari jika kau mencintai Luhan?"
"Kenapa bertanya?"
"Hanya ingin tahu."
Kemudian Sehun tersenyum, mengingat hari bahagia itu datang dan membuat Sehun memiliki tujuan untuk melindungi Luhannya seorang.
"mmhh…Sejak pintu kafe terbuka."
"huh?"
"Saat itu usia kami enam tahun, aku marah karena dipaksa ikut pergi oleh kedua orang tuaku untuk bertemu teman mereka. Aku sudah merengek minta pulang sampai pintu kafe terbuka dan malaikat kecilku dibawa masuk, kau."
"Secepat itu?"
"Ya, hanya satu kedipan dan aku dibuat tak berdaya sejak saat itu."
"whoa….Aku rasa kau sangat mencintai Luhan."
"Aku juga sangat mencintaimu."
Luhan terdiam, tangannya yang sedang memotong kecil roti terhenti untuk menatap Sehun, membalas tatapan penuh cinta lalu bergumam sangat menyesal "Maaf, aku samar mengingatmu."
"Tidak apa."
"Katakanlah sesuatu selain tidak apa, aku tahu kau terluka."
"Sangat."
Luhan terdiam, membuat Sehun tersenyum kecil dan memberanikan diri menggenggam tangan mungil yang tak menolaknya. Dia pun mengangkat dagu Luhan hingga mata mereka bertemu pandang dan tanpa ragu mengatakan "Dengan atau tanpa ingatanmu aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku, dengan caraku, tanpa menyakitimu."
"Sehun…"
Air mata Luhan kini menetes, dia sepertinya bangga karena dicintai begitu besar oleh pria yang begitu tulus hatinya mencinta, dia luluh untuk sesaat, membiarkan Sehun menarik dagunya meniadakan jarak diantara mereka, semakin mendekat, hingga akhirnya kecupan lembut itu tak terelakan lagi.
Luhan membuka lebar bibirnya untuk Sehun dibalas hisapan lembut namun menuntut dari bibir Sehun yang kini mencumbu bibir bawah Luhan sesekali menghisap kuat lidah Luhan.
Kedua insan itu seperti dimabuk cinta yang baru, yang terasa familiar dengan debaran berbeda di hati masing-masing. Terlebih saat Sehun bertindak semakin jauh, dia sengaja tidak melepaskan cumbuannya pada bibir Luhan.
Sebaliknya dia menghisap semakin kuat hingga bunyi khas terdengar di rumah kecilnya, mencoba mengalihkan fokus Luhan sementar dengan mudahnya dia memindahkan tubuh mungil Luhan ke pangkuannya dengan satu tangan kekar yang selalu berhasil menghangatkan Luhan.
Membuat sensasi panas dirasakan Luhan disekitar pusar menuju kepalanya saat Sehun menggigit bibir, leher turun hingga ke dadanya.
"ah~"
Luhan bahkan tidak berniat menahan desahannya saat tangan kasar Sehun mengusap dua tonjolan mendamba di balik piyama tidurnya, rasanya begitu menggoda, rasanya begitu panas, walau tidak sepanas hati dan kepalanya yang masih bertolak belakang mengakui siapa dirinya namun takluk dalam cumbu panas seorang Oh Sehun
"Sehun…."
Ya, Sehun benar, dengan atau tanpa ingatan yang hilang darinya sepertinya Luhan akan kembali mencintai Sehun, atau sudah, Luhan memang sudah mencintai Sehun.
.
To be continued
.
.
.
.
Wahai Mesyumers *manggil diri sendiri*, berdoalah semoga besok gue adain NCeh di JTV, kkk~
.
Benang kusut langsung lurus kalo udah serumah, gausa sebulan Taec, semenit dikonciin dikamar ama Sehun juga Luhan inget :"""
.
Seeuu gais :*
