Previous
"Hey bukankah kau Jaehyun?" dia bertanya, tapi Jaehyun terlalu frustasi menyadari satu hal, Luhan mengingatnya bukan sebagai seorang adik melainkan sebagai remaja yang merupakan teman adiknya.
Hal itu membuat hati Jaehyun memukul sakit, terlalu sakit hingga tanpa sadar dia menarik Luhan ke pelukannya, memeluknya erat seraya terisak pilu "Ingatlah aku hyung, aku membutuhkanmu."
.
Je'Te Veux
.
.
.
Main cast : Lu Han as Xi Luhan
Oh Sehun as Oh Sehun
Rate : T-M
.
.
.
.
"Aku mohon ingat aku hyung….Aku membutuhkanmu."
Luhan tidak tahu harus melakukan apa saat remaja berlesung pipi yang diketahuinya merupakan adik Sehun dan teman Eunwoo sedang menangis tersedu memeluknya, dia juga tidak mengerti tentang banyak hal yang dikatakan Jaehyun seperti "Papa dan Mama juga membutuhkanmu, mereka merindukanmu hyung." hingga membuat hati kecil Luhan bertanya-tanya
Papa? Mama?
Apa aku masih memilikinya?
Dia tidak bergeming tidak pula menolak pelukan Jaehyun yang terlihat putus asa saat melihatnya, satu kesimpulan yang bisa Luhan buat untuk Jaehyun adalah bahwa remaja yang kini sedang memeluknya erat banyak terluka, entah hati atau pikirannya, sepertinya dari awal mereka bertemu Jaehyun sudah menunjukkan wajah yang begitu tertekan serta putus asa dan Luhan benci melihatnya.
Bukankah seorang remaja seharusnya terlihat menikmati hidupnya? Melakukan apapun yang dia sukai tanpa dibatasi atau merasa takut pada satu hal? Ya, harusnya Jaehyun banyak tertawa seperti Eunwoo, berkumpul dengan teman-temannya atau sekalipun melakukan hal konyol yang sesuai dengan usianya, bukan terlihat menderita dan terus menangis ketakutan seolah dia telah kehilangan seluruh hal membahagiakan di hidupnya.
"Hyung, Aku merindukanmu, hksss—akusangatmerindukanmuHYUNG!"
Hal itu pula yang membuat naluri Luhan refleks memeluk adik dari pria yang diam-diam sudah mengambil hatinya, yang mulai Luhan cintai bahkan tanpa keinginannya sekalipun, hatinya sakit melihat Jaehyun terisak pilu dan meracaukan banyak hal, dia terlihat sangat ketakutan sampai akhirnya Luhan berbisik "Jaehyun tenanglah, hyung disini." Yang secara ajaib membuat nafas Jaehyun berangsur normal dan tak lagi memeluknya terlalu erat.
"h-hyung?" isaknya pilu, melihat mata Luhan yang begitu dirindukan untuk memastikan "k-Kau Luhan hyung? hyungku?" katanya bertanya dibalas senyum Luhan yang membuatnya terlihat sangat cantik "Ya, aku Luhan, hyungmu."
"Oh, astaga, syukurlahHYUNG!"
Jaehyun begitu bahagia bisa memeluk Luhan, terlalu bahagia hingga rasanya dia bisa kembali melanjutkan hidupnya yang sulit, Luhan kembali, itu artinya kedua orang tua serta kekasihnya juga akan kembali dalam waktu dekat.
"Aku merindukanmu hyung."
Luhan membiarkan Jaehyun memeluknya lagi, kali ini dia sedikit lega karena Jaehyun tidak terlalu ketakutan seperti awal memeluknya, remaja yang dia tebak adalah bungsu dari keluarga Sehun itu sudah sedikit lebih baik hingga rasanya Luhan tak sabar ingin menunjukkan pada Sehun bahwa dia mulai terbiasa dengan keluarganya, dimulai dari Jaehyun dan mungkin akan diakhiri dengan kedua orang tua Sehun yang entah mengapa sangat ingin ditemui Luhan.
"Maaf membuatmu cemas, tapi beri aku sedikit waktu."
Sementara Jaehyun dan Luhan terlihat sedang membangun hubungan keluarga mereka, maka di atas panggung Sehun masih terlihat bahagia dengan keempat sahabatnya, dia juga banyak tertawa dan ikut permainan konyol yang dibuat oleh Kai sampai tatapannya terkejut melihat bagaimana Jaehyun sedang memeluk Luhan dan terlihat serius membicarakan sesuatu.
"oh sial!"
Ekspresi wajahnya berubah sangat menakutkan, dia bahkan setengah melompat hanya untuk berlari menjauhkan Luhan dari keluarganya, oh tidak, Sehun belum siap jika Jaehyun mengatakan hal gila yang bisa membuat Luhan membencinya atau sesuatu hal yang belum siap diketahui Luhan untuk saat ini.
"hyung…."
"hmm?"
Awalnya Jaehyun menatap ragu pada Luhan, namun entah darimana keberanian yang dimilikinya untuk mengatakan "Taeyong juga membutuhkanmu."
"Taeyong? Siapa Tae-…."
Grep!
Satu gerakan cepat Luhan sudah berada di pelukan yang dia tebak adalah milik Sehun, dan entah mengapa perasaannya buruk mengingat pelukan Sehun terlalu erat sementara nafasnya tersengal seperti menahan marah karena sesuatu.
"AKU BILANG JANGAN BERBICARA DENGAN LUHAN!"
"hyung…"
Dan benar saja Sehun entah mengapa berteriak murka pada Jaehyun, membuat tubuh Jaehyun tersentak hebat sementara Yunho refleks mendekati kedua adiknya dengan Luhan yang kini menatap tak percaya dan melepas pelukan Sehun darinya "Sehun! Kenapa kau berteriak?"
Luhan bertanya, berusaha mendekati Jaehyun namun tangan Sehun kembali mencengkram lengannya, dan memberi tatapan tegas agar Luhan tidak mendekati adiknya lagi "Kita pulang."
"Mwo? Tapi kenapa?"
"Kau tidak boleh berbicara dengan keluargaku."
"Sehun!"
Tak bisa banyak berbuat sesuatu, Sehun kini membawa Luhan pergi dari pesta pernikahan Kai-Kyungsoo, Chanyeol-Baekhyun. Perasaannya sedikit merasa bersalah pada kedua saudaranya tapi dia tidak memiliki pilihan lain karena Luhan belum siap untuk bertemu langsung dengan keluarganya.
"KAU PENGECUT HYUNG!"
Lagi-lagi Luhan merasakan nafas Sehun tersengal hebat, cengkraman di tangannya juga semakin kuat seiring dengan teriakan Jaehyun yang berteriak pengecut padanya. Entah, bagaimana jenis hubungan dua bersaudara di depannya, tapi sepertinya hubungan Sehun-Jaehyun sangat berbeda dengan Jinyoung-Eunwoo mengingat sedari awal pertemuan mereka Sehun sepertinya masih banyak menyembunyikan sesuatu.
"KENAPA AKU TIDAK BOLEH BERBICARA DENGAN LUHAN HYUNG? KENAPA KAU TERUS MENJADI PENGECUT YANG MELARIKAN DIRI HYUNG!"
"Kau..!"
Luhan panik, dia melihat Sehun menatap terlalu tajam pada Jaehyun, detik berikutnya Sehun melepas genggaman tangan dari Luhan tapi kemudian Luhan bergerak cepat untuk memeluknya dari belakang "Sehun tenanglah, ayo kita pulang. Adikmu sedang emosi sayang."
"AKU AKAN MENGATAKAN SEMUANYA PADA LUHAN HYUNG! AKU AKAN-…."
"sial!"
"SEHUN!"
Luhan berteriak saat pelukannya dilepas kasar oleh Sehun, dia panik melihat bagaimana langkah Sehun mantap mendekati Jaehyun, dia juga terlihat sangat marah dan mengabaikan kerumunan tamu yang mulai memperhatikan pertengkaran keduanya.
"SEHUN!"
Terlebih saat tangan Sehun terkepal, seolah siap memukul wajah Jaehyun jika tidak dihalangi seorang pria yang memiliki paras tegas dan dingin seperti Sehun kini berdiri tepat di depan Jaehyun, melindungi adiknya.
"Minggir…."
"Apa yang akan kau lakukan? Melukai adikmu sendiri?"
"Dia harus belajar menghormati kakaknya kalau begitu."
"Sehun!"
Sehun berusaha melewati Yunho, pendiriannya tetap pada Jaehyun sampai tangan Yunho mendorong kasar tubuhnya, terlihat murka dan mulai bergantian menatap Sehun, lalu Luhan dan kemudian mengunci kedua mata adiknya "Jika kau berlaku kasar pada Jaehyun, aku yang akan memberitahu Luhan tentang siapa dirimu, siapa keluarga kita dan apa yang telah keluarga kita lakukan pada-…."
"HYUNG!"
Lalu Sehun berteriak murka memanggil kakaknya, hal itu sekilas membuat Luhan mendapatkan potongan-potongan suara yang sepertinya adalah milik Sehun dan kedua saudaranya.
Mereka tidak seperti ini sebelumnya.
Luhan merasakan kepalanya berdenyut sakit, dia menyadari bahwa beberapa detik yang lalu, saat Yunho menatapnya, dia bisa merasakan bahwa tatapan itu adalah tatapan familiar yang dulu pernah dilihatnya, yang selalu mengatakan semua baik-baik saja.
Tapi dimana?
Pada siapa?
Dia mulai bertumpu pada meja saji yang ada di dekatnya, menahan potongan-potongan ingatan yang berdesakan memenuhi kepalanya sementara disana, Sehun terus bertengkar dengan pria yang mungkin adalah saudaranya selain Jaehyun.
"Jika kau terus bersikap egois seperti ini aku yang sendiri yang akan mengatakan pada Luhan! Memberitahunya kebenaran tanpa membohonginya! Aku yang akan-…"
"YUNHO!"
Yunho?
Luhan mengulangnya, nama yang diteriakkan Sehun sebelum isi perutnya bergejolak dan berlomba dengan rasa sakit di kepalanya
Hueek~
Dia berpegangan semakin kuat, nyaris terjatuh jika seseorang tidak menangkap tubuhnya dan mulai berteriak
"LUHAN!"
Sementara potongan-potongan suara dengan bayangan hitam memenuhi kepalanya.
Jadi kau penggemar Yunho hyung?
Ya, aku kesini untuk melihatnya mengikuti turnament renang nasional
Sstt…menyebalkan! Apa bagusnya Yunho hyung
Pergilah! Jangan ganggu aku!
"Bee, ada apa?"
"Kita harus membawanya pergi."
Suara sepotong di dalam kepalanya bersahutan dengan suara Baekhyun dan Kyungsoo yang terdengar cemas, dia juga bisa mendengar Kai dan Chanyeol berteriak memanggil Sehun sementara penglihatannya perlahan gelap karena suara didalam kepalanya mendominasi seluruh pikiran dan tubuhnya.
Aku bisa mengenalkanmu pada Yunho
Bagaimana bisa?
Saat ini di dalam kepalanya Luhan seperti ditarik jauh dari usianya sekarang, dia sedang berada diantara dua bocah berusia delapan tahun yang sedang menyaksikan turnament yang ditebaknya adalah perlombaan renang.
Dan dilihat dari caranya menjawab, sepertinya yang memiliki tubuh lebih kecil terlihat tak suka pada anak lain yang lebih tinggi dan sedang mencoba mengganggunya, keduanya pun terlihat sangat canggung sampai anak yang lebih tinggi mengatakan
Tentu saja bisa! Aku adiknya Yunho
Benarkah?
Ayo! Aku kenalkan pada Yunho hyung
"rrhh….~"
Tubuh Luhan kejang dibawah kesadarannya, dia terlihat panik sementara Baekhyun dan Kyungsoo mulai memeriksa denyut nadi dan nafas Luhan yang mulai tak beraturan "Ini gawat! Kita harus segera memberikan penenang untuknya."
"HEY!"
Kyungsoo berteriak memanggil salah satu dari ketiga idiot yang kini saling melempar tatapan tajam, berusaha memberitahu tentang kondisi Luhan namun sial sepertinya emosi mereka jauh mengalahkan suaranya yang terdengar cemas saat ini.
"MINGGIR KAI! INI URUSAN KELUARGAKU!"
"MEREKA JUGA KELUARGAKU!"
"sial!"
Kyungsoo mengumpat sementara Baekhyun kini mulai membuka kemeja yang digunakan Luhan agar setidaknya Luhan bisa bernafas dan mendapatkan udara, namun sial, usahanya terbilang sia-sia karena sepertinya Luhan bergerak semakin cemas di alam bawah sadarnya sendiri
"LUHAN TENANGLAH!"
Hyung!
Eoh, kau datang bocah manja?
Ssh…jangan memanggilku seperti itu di depan Luhan
Luhan?
Ya, kenalkan dia Luhan, temanku dan hyung tidak boleh menjadi lebih tampan dariku
Wae?
Luhan bisa melihat anak yang lebih tinggi darinya berbisik pada seseorang yang dipanggilnya hyung dan terdengar konyol saat dia mengatakan "Aku menyukainya, dan dia akan jadi istriku saat kami besar nanti."
Ayolah bocah! Kau masih sangat kecil
Diam hyung!-….Luhan?
Hmmh?
Kenalkan ini kakakku, Yunho
Kemudian remaja yang memiliki tubuh lebih besar dari mereka berdua tersenyum padanya, dia bahkan setengah berjongkok seraya mengulurka tangan untuk mengenalkan diri sebagai
Halo Luhan, aku Yunho, kakak Sehun dan mulai hari ini kau juga bisa memanggil hyung padaku
Hyung?
eoh, aku dengar kau anak tunggal? Jadi mulai saat ini aku akan menjadi kakakmu dan adik Sehun yang sebentar lagi akan lahir menjadi adikmu.
Adik?
Tentu saja! kau mau?
Entah perasaan hangat macam apa yang berhasil menelusup hingga membuat Luhan sedikit lebih tenang dan tak lagi bergerak cemas, dia kemudian melihat anak bertubuh mungil itu mengangguk untuk berteriak
YA! AKU MAU!
Lalu setting tempat itu berubah lagi di dalam kepalanya, dia berada di rumah sakit saat ini, terlihat bingung melihat anak yang belum lama mengenalkannya dengan Yunho sedang menangis di pelukan pria besar sementara tak lama muncul seorang wanita yang memakai pakaian khas seorang dokter saat melakukan operasi terlihat berjongkok dan menyapa anak yang tubuhnya kecil
Luhannya mama disini juga?
MAMA!
"Mama?"
Luhan memanggil dalam ketidaksadarannya, bertanya-tanya siapa sosok wanita yang wajahnya masih tak jelas namun memeluknya erat hingga rasa hangat bisa dirasakan Luhan saat ini.
Angela, bagaimana Jihyo?
Si wanita dengan tanda pengenal dokter Xi terlihat menggendong anaknya, Luhan bisa melihat dia tersenyum walau wajahnya dan wajah dari pria dewasa yang sedang memeluk Sehun kecil masih tak jelas di dalam kepalanya.
Selamat oppa, anak ketiga kalian sudah lahir dengan selamat, dia sehat
Kau dengar nak? Sekarang Sehun sudah menjadi hyung
Mama mana?
Araseo, kita lihat Mama, kami boleh melihatnya?
Tentu saja, adik Sehun juga sudah ada di ruangan Jihyo
Luhan mau ikut?
Boleh ma?
Tentu saja nak, ayo kita lihat adik bayi bersama-sama
Lagi-lagi hanya suara yang bisa didengar Luhan seperti saat pria dewasa yang menggendong Sehun kecil mengatakan
Namanya Jaehyun, dia akan jadi adik Luhan juga
Yey! Aku dan Luhan sudah menjadi hyung!
Dia bisa melihat bahwa si anak kecil yang juga dipanggil Luhan terlihat sangat bahagia, dia terus menatap si adik bayi yang berada dalam box khusus dan menatapnya sayang dari luar box kaca untuk bergumam
Jae anyeong! Mulai hari ini aku jadi hyungmu
Hatinya hangat melihat respon dari si adik bayi yang menangis, walau samar, dia juga menatap seluruh wajah bahagia di ruangan tersebut, rasanya ini adalah moment yang paling membahagiakan sampai dirinya ditarik lagi ke tempat asing yang membuatnya merasa sangat ketakutan karena jeritan seseorang
MAMA!
Luhan terkejut melihat mobil hitam tiba-tiba menabrak tubuh wanita yang memeluknya di rumah sakit, nafasnya kembali sesak dan seluruh tubuhnya mulai bergerak panik melihat darah memenuhi seluruh tubuh wanita yang dipanggilnya Mama di rumah sakit.
tidak….
Dia merasakan mual hebat, sakit di kepalanya melebihi rasa sakit yang ia rasakan sebelumnya, ini terlalu banyak, dia tidak bisa menahan diri lebih lama lagi namun sesuatu kembali menariknya ke sebuah tempat yang dipenuhi rumput hijau mendominasi
Jasad Mama dan Papa akan dikuburkan Lu, kau siap?
Jasad?
Luhan bertanya-tanya, lalu dia melihat beberapa orang sedang memasukkan dua peti bersamaan ke dalam dua lubang yang berdekatan, tangannya mencengrkam sebagai refleks saat menebak bahwa jasad yang akan dimakamkan adalah jasad kedua orang tuanya.
Lakukan.
"tidak!"
Luhan berteriak pada dirinya sendiri, mencegah Luhan yang lain memberikan izin agar jasad itu dimakamkan karena hatinya memberontak, dia yakin Luhan yang lain yang kini ada di pelukan Kai dan Chanyeol juga merasakan sakit yang dia rasakan, tapi dia mengijinkan dengan tenang sebelum berteriak
HENTIKAN! JANGAN SENTUH KEDUA ORANG TUAKU!
teruskan
Terdengar Chanyeol memberi perintah sementara Luhan yang lain kini memberontak dan terus menjerit seakan tak terima dengan perintah Chanyeol yang membuat keputusan sepihak tanpa persetujuannya.
tidak yeol…lepas,
Luhan jangan seperti ini, kumohon.
Lepas! Bangun…..CEPAT BANGUN DAN KITA PULANG MA…PA!
Tubuh Luhan kejang, nafasnya tersengal hingga membuat Baekhyun cemas tekanan darah Luhan sangat rendah, dia kemudian berusaha memanggil ketiga pria bodoh yang justru bertengkar di hari bahagianya, berusaha untuk mencari bantuan namun percuma posisi mereka tertutup keramaian tamu yang mulai berkumpul dan melihat pertengkaran konyol Sehun dengan Kai, Chanyeol dan kedua saudaranya.
"Baek, kita harus membawanya ke rumah sakit."
Kyungsoo yang sedang memeriksa kondisi vital Luhan terlihat cemas, dia berusaha menyadarkan Luhan dengan terus memanggil namanya namun percuma semua yang direspon Luhan hanya teriakan kecil seperti sesuatu sedang menyeruak masuk kedalam dirinya.
"Apa yang terjadi?"
Samar, Luhan bisa mendengar percakapan Kyungsoo dan Baekhyun, ingin dia merespon atau berteriak tolong, tapi nyatanya suara yang lain lebih mendominasi dan membuat seluruh tubuhnya kejang karena takut dan sesak.
AKU MEMBENCIMU OH SEHUN!
KAU DAN AYAHMU—KALIAN PEMBUNUH
"tidak…."
Dirinya sedang berada di ruang gelap, disana terlihat Sehun sedang berjongkok didepan dirinya, entah apa yang mereka bicarakan tapi wajah keduanya dipenuhi luka yang begitu mendalam seolah sedang meminta pada Tuhan agar menyudahi hidup menyakitkan yang keduanya jalani.
Menikahlah denganku, aku janji akan membawamu pergi dari semua mimpi buruk ini
Lalu bagaimana dengan keluargamu? Aku membenci mereka
Jika kau membenci mereka, maka bagiku hanya kau keluargaku, hidupku. Aku akan membawamu pergi dari Seoul
"Sehun…"
Luhan masih tidak stabil, wajahnya dipenuhi keringat dan dalam ketidaksadarannya dia meracau banyak hal, rasa sakit, bahagia dan kehilangan seolah berlomba masuk hanya untuk membebani dirinya dan seluruh ingatan mengerikan tentang bagaimana hidup Luhan sebelum dirinya kehilangan ingatan.
Selamat dokter Oh, kau dinyatakan hamil dan usia kandunganmu memasuki minggu ke delapan.
Benarkah?
Ya, kau dan suamimu akan menjadi orang tua yang sempurna untuk bayi kalian.
Terkadang bahagia, terkadang rasa sakit, Luhan bahkan bisa melihat wajah bahagia Sehun ketika dirinya dinyatakan hamil, Sehun terus berteriak AKU AKAN MENJADI SEORANG AYAH pada siapapun yang berpapas jalan dengannya.
Hal itu membuat Luhan tenang sampai kemudian suasana kembali menegangkan ketika semua berubah menjadi putih dan terlihat Sehun sedang berteriak murka pada seseorang yang wajahnya samar tak terlihat olehnya
KENAPA HARUS BAYIKU? KENAPA BUKAN PAPA YANG MENGALAMI KECELAKAAN MENGERIKAN ITU? KENAPA HARUS ISTRI DAN ANAKKU?
JAGA BICARAMU OH SEHUN!
Suara itu rasanya pernah didengar Luhan sebelumnya, milik seseorang berwajah tegas seperti Sehun yang masih samar terlihat di ingatannya, keduanya berseteru hebat sampai seseorang dengan suara berat keluar dari sebuah ruangan untuk memberitahu
Kondisi Luhan kritis dan maaf Sehun, bayi kalian tidak selamat
Bahkan rasa sakitnya terasa nyata untuk Luhan, semua ingatan itu terus menariknya lebih jauh dan lebih dalam hingga membuat kondisi Luhan semakin menurun terlebih saat suara teriakan Sehun menyakiti hati dan jiwanya
AARRGHHHH KEMBALIKAN ANAKKU! Apa yang—APA YANG HARUS AKU KATAKAN PADA LUHAN
"Sehun!"
"KYUNGSOO LAKUKAN SESUATU!"
Baekhyun berteriak panik dan Kyungsoo dengan sigap mengatakan "Aku meletakkan oksigen dikamarku Bee, cepat bawa padaku."
Baekhyun mengangguk, dia bergegas masuk kedalam rumah sementara Kyungsoo masih terus menangani Luhan yang sedang mengalami syok dan depresi pada kondisi dan gejala yang ditunjukan sahabatnya.
"Luhan tetap buka matamu, hey….hey Lu…."
Dan ketika perlahan Luhan tak lagi mengigau dalam ketidaksadarannya, maka disaat yang sama Kyungsoo merasakan dingin tubuh Luhan di pelukannya, hal itu membuatnya cemas dan terpaksa membaringkan Luhan agar nafasnya stabil dan tidak terdengar berat.
"Luhan buka matamu, respon aku, sial—Luhan…LUHAN!"
Lalu teriakan nama istrinya cukup didengar Sehun yang kini menyeruak diantara keluarga dan sahabatnya hanya untuk melihat Kyungsoo sedang melakukan cpr sebagai bantuan pertolongan nafas pada Luhan.
"Soo! Apa yang terjadi?"
Sehun bertanya panik, begitupula Kai, Chanyeol serta Yunho dan Jaehyun yang melihat dengan kedua mata mereka bagaimana Luhan terbaring tak sadarkan diri di hadapan mereka.
Mereka semua ketakutan, terlebih saat melihat Kyungsoo yang melakukan CPR agar nafas Luhan stabil dan tiba-tiba berteriak "Kita harus membawanya ke rumah sakit—SEKARANG!"
Sehun mengambil alih tubuh istrinya, membawa Luhan ke tempat yang lebih nyaman dan tak dipenuhi kerumunan hanya untuk membiarkan Kyungsoo dan Baekhyun memberikan pertolongan pertama dengan memasang infus dan oksigen di tubuh Luhan yang entah mengapa terlihat sangat pucat dengan tangan terkepal erat.
"Kau harus baik-baik saja Lu, kau harus-…."
.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu….
.
"Bagaimana? Apa kau sudah memastikan?"
Terlihat seseorang yang sedang duduk di kursi singgasananya menunggu penuh ketidaksabaran, dia berharap kali ini tebakannya benar hingga tak hanya targetnya yang terluka tapi dua bajingan yang diam-diam menghianatinya hingga saat ini
"Anda benar Tuan, Dia Luhan."
Seringai terlihat dan dia menyalakan cigarette sebagai tanda kemenangan "Kau yakin?"
"Kuncinya adalah Oh Sehun dan seperti yang anda katakan, pria itu selalu berada di dekat Luhan dan tak pernah membiarkannya seorang diri, dia bahkan menjauhkan Luhan dari keluarganya sendiri."
Ravi, pria yang sedang mendengar laporan dari kaki tangannya menyeringai sangat puas untuk mengatakan "Bagus, semua ini akan menjadi lebih mudah untukku."
"Apa perlu kita bergerak sekarang?"
"Tidak, biarkan saja. Aku memiliki rencana yang lebih mudah untuk kita."
"nde?"
"Taeyong sudah kembali bekerja untuk kita?" tanyanya, lalu kaki tangannya mengangguk membenarkan "Dia bahkan lebih keji dari sebelumnya."
"Menarik. Siapkan dia!"
"Tuan Kim! Apa anda yakin? Alasan bocah itu kembali datang pada kita adalah karena-…."
"Luhan, aku tahu. Tapi dia tidak akan tahu jika Luhan masih hidup, tenang saja. Kita hanya memanfaatkan situasi yang menguntungkan untukku."
"Apa maksud anda?"
"Siapkan Taeyong untuk Sehun, dia akan membawa Sehun padaku dengan tangannya sendiri."
"Sehun? Tapi yang memiliki usb dari jaksa Oh adalah Luhan."
Ravi mematikan kasar cigaret yang dihisapnya, matanya menatap tak sabar pada kaki tangan yang banyak bertanya untuk memberi satu kalimat terakhir sebelum dia benar-benar geram "Kita akan mendapatkan usb itu dan menghabisi Luhan melalui Sehun, percayalah itu akan sangat mudah, bajingan kecil itu tidak akan lolos kali ini. Jadi hanya siapkan Taeyong dan lakukan apa yang kuperintahkan!"
"Baik Tuan Kim."
Si kaki tangan kanan mengangguk, bersiap untuk mendatangi Taeyong sebelum kembali memberi perintah yang lain "Dongshik."
"Ya?"
"Pastikan Doojoon datang ke markasku saat Taeyong membawa Sehun."
"nde?"
"Aku juga akan menghabisi bajingan penghianat seperti dia!"
Tak mau berada lebih lama lagi bersama Ravi, pria berbadan kekar yang dipanggil Dongshik oleh Ravi hanya membungkuk dan mengatakan "Baik Tuan."
.
.
.
.
.
.
"LEE TAEYONG!"
Lalu di tempat berbeda terlihat dua pria berbadan besar menghampiri si remaja yang sedang sibuk memainkan game portable miliknya. Dan dilihat dari benda-benda tajam yang berada di sekelilingnya seperti alat sadap, pisau kecil, dan sebuah chip, jelas dia baru selesai melakukan tugas yang diberikan dengan mudah.
Hal itu membuat geram dua pria berbadan besar namun tak memiliki otak menurut Taeyong, membuatnya tak repot-repot membalas teriakan berisik dari kedua senior bodoh yang terlihat murka padanya dan hanya menyelesaikan last chapter di game portable miliknya.
"LEE TAEYONG DIMANA KAU?"
"oh, hay hyungnim."
Dia menjawab malas, tidak mengindahkan panggilan untuknya karena fokus pada game yang sedang dimainkan.
"LIHAT AKU JIKA AKU MEMANGGILMU!"
"Aku sudah melihatmu—yeah! MATI KAU!"
Namun alih-alih meletakkan portable game miliknya, Taeyong justru terlihat antusias dengan game miliknya. Terlihat dari caranya mengumpat karena kalah gerakan atau memekik saat lawannya mati hingga membuat kedua pria yang sedang memakinya semakin kesal dan mulai menggeram melihat tingkah Taeyong pada mereka
"Sial! AKU BILANG LIHAT AKU JIKA SEDANG BICARA DENGANMU!"
Yang memiliki tato di seluruh tubuhnya terlihat menghampiri Taeyong, mengambil paksa portable sialan yang sedang dimainkan Taeyong untuk membantingnya kencang, menginjaknya hingga hancur lalu kemudian menyeringai melihat ekspresi murka dari remaja sialan yang belum enam bulan bergabung tapi sudah banyak menyelesaikan misi bahkan tanpa darah mengotori tangannya.
"ha ha ha….Begitulah nasib dirimu jika berani mengabaikan kami, hancur tak bersisa."
Keduanya tertawa penuh kemenangan, mengabaikan raut marah wajah Taeyong yang masih menatap portable miliknya hingga tak menyadari satu gerakan cepat dari Taeyong yang kini mengambil pisau kecil di atas meja dan mulai menghimpit si "bayi" besar ke dinding dengan pisau menempel di lehernya.
"HEY!"
"Aku belum pernah membunuh sebelumnya, kau mau jadi orang pertama yang kubunuh?"
"Le-lepas, bajingan."
Alih-alih melepas, Taeyong justru semakin mencekik dan menempelkan pisau di leher pria yang baru saja menghancurkan mainannya, dia menatap murka setengah menyeringai hanya untuk memastikan bahwa kedua kakak beradaik Yong di depannya tidak pernah mengganggu atau mencampuri hidupnya.
"Jangan pernah menggangguku lagi, kau dengar?"
"LEPASKAN ADIKKU BAJINGAN!"
Lalu pertengkaran tak terelakan, setelah memukul kencang si bayi besar dengan pisau yang digenggamnya, kini Taeyong menghadapi saudara dari bajingan yang menghancurkan portable miliknya.
Ketiganya kini saling memukul, namun beruntung Taeyong sudah banyak belajar dari Doojoon hingga menghadapi dua raksasa besar yang sedang menghajarnya bukan perkara sulit mengingat gerakan mereka terlalu lambat hingga mudah untuknya menghindar.
"y-YAK! MATI KAU BOCAH!"
Kedua dari mereka mengeluarkan pistol, mengarahkannya pada Taeyong dibalas gerakan cepat Taeyong yang juga mengeluarkan dua pistol dengan posisi silang mengarahkan pada dua kakak beradik yang selalu mengganggunya sejak dia kembali bergabung.
"tsk! Kau bahkan tidak tahu cara menggunakan pistol!"
"Benarkah? Mau mencobanya?"
"Baiklah, jika kau terbunuh akan lebih mudah untuk kami."
"Mudah karena apa? ah, karena Presdir Ko nyaris menganggap kalian adalah sampah!"
"DIAAAM!"
"KALIAN YANG DIAM!"
"Hyung! HABISI BOCAH INI!"
Tayeong gusar dan seperti tidak memiliki pilihan lain, dia terpaksa menarik pelatuk dan sengaja mengenai kaki dari pria yang menghancurkan portable miliknya hingga membuatnya tersungkur dan menatap murka padanya.
"Well, Sudah kukatakan jangan menantangku!"
"BOCAH SIAL! AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUH-….."
BRAK!
Lalu pintu gudang tua itu terbuka, menampilkan Dongshik yang mereka ketahui adalah kaki tangan Ravi sedang menatap marah pada mereka
"KERIBUTAN APA YANG KALIAN LAKUKAN?"
Dan berbeda dari kedua bersaudara Yong yang membuang senjata mereka, maka Taeyong terlihat tak peduli akan kehadiran Dongshik dan lebih tertarik memungut portable miliknya yang kini hancur berkeping.
"sial! Aku harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli yang baru!"
Dia menggerutu kesal, mengabaikan tatapan Dongshik untuk memasukkan segala peralatan miliknya termasuk, alat sadap, dua pistol dan pisau kecil serta chip yang berhasil didapatkannya kedalam ransel hitam miliknya.
"Aku mendapatkan chip dari Yeonsan group, harus aku berikan padamu atau aku bisa langsung menyerahkannya pada Presdir Ko?" tanyanya dibalas pertanyaan dari pria botak yang memiliki bekas luka di wajahnya.
"Kau membunuh Presdir Yeon?"
"Tidak!"
"Bajingan kecil! Perintahnya adalah membunuh Presdir Yeon dan mendapatkan chipnya."
"Benarkah? Seingatku dapatkan chip berisi data gelap dari grup kita yang dimiliki Yeonsan grup. Lakukan apapun untuk mendapatkan chip tersebut meskipun itu artinya membunuh Presdir Yeon, aku benar?"
"KAU-…."
Dongsik terlihat tak sabar, tiga bulan ini menghadapi Taeyong yang begitu memberontak sudah membuatnya sangat murka, beruntung dia masih diperlukan Ravi dan Donghoon hingga dia tak berani menyentuh Taeyong walau rasanya dia sangat tergoda untuk mencekik bocah tengik didepannya.
"Aku berikan chip nya padamu pak tua." Katanya meletakkan chip yang mudah dia dapatkan hanya untuk menunjukkan pada tiga bajingan yang sedang menatapnya murka bahwa tidak semua pekerjaan harus mengotori tangan dengan darah.
"Aku pergi dulu, sampai nanti."
"Pikirmu kemana kau akan pergi?"
"Hubungi aku jika ada pekerjaan, aku ingin membeli game terbaru."
"LEE TAEYONG!"
"Berhenti berteriak, aku bosan mendengarnya!"
"Ada pekerjaan untukmu."
"Benarkah? Aku sedang tidak tertarik."
"Sayangnya kau harus tertarik karena ini perintah langsung dari Ravi."
"Tidak peduli."
Taeyong tetap berjalan acuh menuju pintu, mengabaikan ancaman Dongshik sampai si pria tua botak itu mengatakan "Oh Sehun adalah targetmu kali ini."
Mendengar satu-satunya nama yang menjadi alasan Taeyong kembali ke dunia mengerikan ini disebut, dia berhenti melangkah, tangannya refleks mengepal mengingat dendamnya pada suami dari kakaknya yang telah membuat Luhan mati disebut.
Ya, alasan Taeyong kembali mengabdi pada Donghoon adalah untuk membalas semua hal yang berkaitan dengan kematian Luhan. Dimulai dari Sehun yang menurutnya adalah penyebab utama Luhan harus mengalami hal mengerikan di hidupnya.
Dia sudah berniat untuk memberi pelajaran pada kakak dari kekasihnya tapi tiba-tiba dia hilang tepat setelah jasad Luhan dimakamkan, dia sudah berniat memulainya dari Sehun lalu akan beralih ke pembunuh sebenarnya yang membuat Luhan hyungnya terbakar dan tak bisa dikenali fisik atau wajahnya.
"Sehun?"
"Ya, dia sudah kembali ke Seoul setelah menyembunyikan diri cukup lama."
Taeyong menoleh, menampilkan seluruh ketertarikannya untuk menangkap suami dari Luhan dan kakak dari kekasihnya untuk tersenyum keji seolah dia tak sabar "Benarkah?"
"Ya, aku akan memberikan alamatnya padamu, tugasmu hanya membawanya ke markas Ravi dan kita bisa memberi banyak pelajaran padanya. Kau bersedia?"
Tertarik, Taeyong menyeringai untuk mengatakan "Menarik." Lalu kembali pergi meninggalkan gudang tua berisikan orang-orang yang membuatnya muak.
"Kau akan dihubungi dan pergi bersama penjaga terbaik Ravi."
"Baiklah, segera hubungi aku." Katanya menutup pintu gudang, membuat Dongshik menyeringai menang lalu mengambil ponselnya untuk memberi kabar pada Ravi.
"Bagaimana?"
"Bocah itu bahkan tidak bisa menyembunyikan seringai di wajahnya."
"Bagus, kalau begitu segera bawa Sehun padaku."
Tanpa ragu Dongshik menjawab "Baik tuan, kau akan segera melihat Sehun dihadapnmu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Lu-lululu~"
Lemas di tubuhnya jelas mendominasi, dia bahkan masih merasakan mual dan sakit di kepala setelah seluruh potongan suara entah milik siapa berlomba dan menyeruak masuk memenuhi isi kepalanya.
Luhan hanya bisa menerima rasa sakitnya tidak dengan ingatannya, lalu tiba-tiba suara menggemaskan bayi kecil seolah menariknya dari mimpi buruk hingga membuat Luhan tersenyum kecil mendapati anak tiga tahun yang memiliki mata Kyungsoo sedang menusuk pelan kedua pipinya bergantian.
"Lu-lulu~ ileona…."
Dan lucunya anak balita itu justru terkejut saat Luhan membuka mata. Buru-buru dia merangkak turun dari tempat tidur lalu berlari lucu dan berteriak "Mama…lulu bangun!" hingga membuat mau tak mau Luhan tersenyum dan tak lama Baekhyun yang datang masuk kedalam kamarnya dengan menggendong bayi kecil yang sangat mirip dengannya.
"Luhan? Kau baik-baik saja?"
Mengabaikan tanya cemas dari Baekhyun, Luhan lebih tertarik menunjuk si bayi kecil yang sedang digendong koala oleh Baekhyun, dia bahkan tergoda ingin menggendongnya jika tidak ingat tubuhnya masih begitu lemas bahkan hanya untuk menunjuk si bayi menggemaskan "Bayi siapa?" tanyanya dibalas raut sedih Baekhyun karena Luhan tidak mengingat malaikat kecilnya dan Chanyeol "Putraku dan Chanyeol, Jiwon."
"ah, Jadi kau dan Chanyeol juga sudah memiliki anak?"
Baekhyun mengusap sayang kening Luhan, meminta Jiwon kecil mencium bibir Lulunya untuk memberitahu Luhan "Dia anakmu juga Lu."
Luhan tersenyum haru, dia mengusap sayang pipi bulat Jiwon lalu mulai mengajaknya berbicara "Jiwonnie annyeong." Sapanya lembut dibalas senyum Baekhyun yang mengatakan "Dia menyukaimu Lu."
Lalu setelahnya Luhan melihat ke sisi ruangan tempatnya berbaring, di ruang kamar mewah ini dia bisa melihat foto pernikahannya dan Sehun, foto sama yang dilihatnya di rumah Sehun saat di Pyeogchang beberapa waktu lalu.
Dia juga bisa melihat beberapa foto lain Sehun dan Luhan yang memenuhi ruang kamar, membuat kerut di dahinya semakin terlihat sampai Baekhyun berbaik hati memberitahu dirinya yang terlihat bertanya dan bingung "Kita dirumah Lu."
"huh?"
"Dan tempat ini adalah kamarmu dan Sehun."
"ah….."
Barulah Luhan mengerti alasan mengapa dirinya merasa nyaman di ruangan asing yang memiliki gambar dirinya disana, bukan tanpa alasan pula dia selalu melihat ke berbagai foto yang ada di kamar ini mengingat rasa ingin tahunya bercampur tanda tanya akan bayangan samar yang baru saja dia rasakan beberapa menit yang lalu.
"Kau sudah merasa lebih baik?"
Luhan mengangkat tangan kirinya yang dipasang infus, menunjukkannya pada Baekhyun lalu terkekeh "Aku tidak bisa lebih baik tanpa ini." katanya memasang wajah kesal diiringi tawa renyah dari Baekhyun "Harusnya kami membawamu ke rumah sakit, tapi Sehun menolaknya. Dia tidak ingin kau berada di tempat asing yang akan membuatmu takut."
Kali ini Luhan mengangguk, mencoba untuk mengerti lalu pintu terbuka dan menampilkan satu lagi pengantin pria berparas cantik yang kini menggendong putra kecilnya "Luhan! Syukurlah kau sudah membuka mata."
"Hay Soo…"
"Bagaimana? Kau merasa lebih baik?"
Mata Luhan fokus pada Taeoh yang bersembunyi dibalik tubuh ibunya, dia berusaha menggapai Taeoh walau percuma karena sepertinya Taeoh takut padanya "Aku baik Soo, Hay Taeoh." Sapanya dibalas lambaian Taeoh yang masih ragu padanya "Lu-Lulu?"
"Nak, cium Lulu."
Kyungsoo menggendong Taeoh, membawanya ke pelukan Luhan sementara putra tunggalnya kini mulai membungkuk dan mencium kedua pipi Luhan "Lulu!" serunya riang dibalas tawa Luhan yang kini memeluk erat keponakannya "Kenapa kau sangat menggemaskan." Katanya lirih lalu tiba-tiba melihat bergantian Kyungsoo dan Baekhyun "Boleh aku bertanya pada kalian?"
Baik Kyungsoo dan Baekhyun mengangguk tanpa ragu "Tentu saja Lu, ada apa?"
Sementara dirinya masih memeluk erat Taeoh dan mengusap sayang punggung si kecil, tatapan Luhan berubah sendu hanya untuk bertanya hal gila yang rasanya begitu sesak untuk dia tanyakan "Aku tidak ingin membandingkan diriku dengan kalian, tapi apa aku dan Sehun tidak memiliki anak seperti kalian?"
"Lu…"
Baekhyun membuang wajahnya, sejujurnya dia tidak tahan mendengar pertanyaan Luhan, dia melarikan diri dan enggan menjawab sementara Kyungsoo terlihat pucat karena pertanyaan yang diajukannya "Aku tidak tahu tapi rasanya banyak yang hilang dari hidupku, aku benar?"
"Luhan, jangan terlalu memaksakan dirimu." Kyungsoo mengambil tangannya, mengusap lembut dan memohon agar Luhan berhenti menanyakan hal yang membuat dirinya tersiksa.
"Aku tidak memaksakan diri, aku hanya ingin tahu apa aku juga memiliki buah hati seperti kau dan Baekhyun?"
"…"
Sepertinya pertanyaan yang dia ajukan terlalu berat untuk dijawab oleh kedua sahabat Sehun, tak ada satupun yang memberitahunya hingga satu kesimpulan dibuat oleh Luhan mengenai tak hanya kedua orang tuanya tapi dia juga kehilangan buah hatinya dari potongan ingatan yang mulai menyeruak masuk kedalam isi kepalanya "Maaf membuat kalian cemas, lupakan pertanyaan yang aku ajukan, aku hanya-….."
"Usia bayimu tiga bulan saat itu."
"Baek!"
Kyungsoo memperingatkan, tapi sepertinya Baekhyun mengabaikan peringatan sahabatnya dan hanya memberitahu kebenaran pada Luhan sementara Jiwon dipeluknya sangat erat "Tapi bayimu tidak bertahan karena kecelakaan yang kau alami, malaikat kecilmu melindungimu saat itu."
Air mata Luhan menetes tanpa permisi, sungguh pernyataan Baekhyun sangat membuat hatinya sesak, dia juga kesulitan bernafas karena yang kehilangan yang dirasakannya sama pedih dengan ingatan yang mulai berangsur samar diingatnya "Benarkah?"
"Ya, malaikat kecilmu melindungi ibu dan kakeknya."
"huh?"
"Seseorang ingin mencelakai Papa Oh tapi kau datang dan menggantikan posisinya. Semua terjadi begitu cepat dan dalam sekejap kau kehilangan bayimu dan Se-…."
"BAEKHYUN CUKUP!"
Suara berat yang terdengar marah adalah milik Sehun, pria tampan yang kini terlihat sangat kacau dan pucat terlihat murka karena kebenaran yang baru diberitahukan Baekhyun padanya, hal itu membuat Baekhyun terkejut dan merasa bersalah. Dia pun berlari pergi membawa Jiwon ke luar kamar dan sengaja menabrak tubuh besar Sehun yang menghalangi pintu.
"BAEK!"
Lalu Kyungsoo berteriak, dia menyesal menatap Luhan, tapi kemudian Luhan menyerahkan Taeoh dan berkata lembut padanya "Sampaikan maafku pada Baekhyun."
"Aku akan datang memeriksa keadaanmu lagi Lu."
Tak lama Kyungsoo pergi, meninggalkan Luhan yang kini menatap sendu pada pria yang sepertinya banyak terluka karena dirinya "Kenapa kau terus berteriak? Apa aku sangat mengganggumu?"
Sehun menutup pintu kamar mereka, mencoba untuk menenangkan diri sebelum mendekati Luhan dan duduk tepat disamping istrinya "Maaf." Lirihnya dibalas senyum lembut Luhan yang bertanya "Untuk apa?"
"Karena terus membuatmu terluka, maafkan aku."
"Benarkah? Seberapa sering kau membuatku terluka?"
Menunduk, Sehun menjawab "entahlah, terlalu banyak."
Kemudian Luhan berusaha bangun dari tidurnya, dia ingin berbaring bersandar di kepala tempat tidur dengan bantuan Sehun yang setengah menggendong dan memberikan posisi nyaman untuknya "gomawo."
Sehun tidak menjawab, dia hanya duduk diam disamping Luhan sampai tangan Luhan menggenggam erat tangannya "Daripada membuatku terluka, aku rasa kau lebih banyak melukai dirimu sendiri."
"…"
"Sehun."
"hmh?"
"Lihat aku."
Perlahan mata elang Sehun menatapnya, tatapan pria yang terus dipenuhi emosi dan terlihat sangat mengerikan tiba-tiba berubah menjadi lembut dipenuhi rasa bersalah saat menatapnya, hal itu cukup membuat Luhan merasa begitu berbeda dari semua orang yang dikenal Sehun dan tanpa alasan itu membuatnya senang "Kau terlihat mengerikan saat membentak kedua saudaramu."
"Aku terpaksa melakukannya."
"Kenapa kau membenci mereka?"
"Aku tidak membenci mereka."
"Lalu kenapa kau begitu marah saat Jaehyun mendekatiku? Apa yang dilakukan Jaehyun padaku? Kenapa kau begitu takut saat aku bertemu dengan keluargamu?"
Sehun diam lagi, kepalanya tertunduk dan kali ini Luhan mengangkat dagu si pria tampan hingga raut cemas terlihat di wajah putih Sehun yang kini berwarna semakin putih "Ada apa? Apa keluargamu yang membenciku?"
Sehun menggeleng lemah, diciumnya kedua tangan Luhan bergantian untuk mengatakan "Mereka sangat menyayangimu."
"Lalu?"
"Kau yang membenci keluargaku Lu, kau yang tidak ingin bertemu lagi dengan mereka sayang, kau-….."
Sehun kalah, dia selalu merasa sesak jika membicarakan keluarganya dengan Luhan, dosa yang dimiliki keluarganya pada Luhan terlalu banyak hingga membuatnya menderita dan rela melakukan apa saja untuk menebusnya, apapun agar setidaknya Luhan merasa lebih baik dan tidak merasa dikhianati seperti sebelumnya.
"Maaf harus memberitahukan hal ini padamu sayang, tapi kau sangat membenci keluargaku."
"Aku? Kenapa aku membenci keluargamu?"
Sehun tertunduk, dia terisak pilu karena tak bisa memberitahu lebih banyak lagi pada istrinya. Dia takut Luhan membencinya dan hal itu yang membuatnya menjadi pengecut sialan yang berusaha membuat Luhan tinggal disisinya tanpa perlu mengetahui siapa keluarganya, atau siapa kedua orang tuanya yang telah membuat keluarganya hancur tak bersisa.
"Beri aku waktu untuk menjelaskannya padamu Lu, aku takut, aku-….."
Lalu Luhan menarik tubuh besar Sehun ke pelukannya, dia memeluknya erat, mengusap lembut punggung yang terus bergetar itu hanya untuk berbisik "Baiklah Sehun, aku menunggu hingga kau siap, cukup dan jangan sakiti dirimu lagi sayang, ssst…." Katanya mencium tengkuk Sehun, membagi rasa takut yang sama dengan suaminya hingga potongan-potongan ingatan miliknya terasa nyata dan masuk akal.
Kemarahan dalam ingatannya.
Kebenciannya
Kehilangannya
Rasa cintanya
Semua potongan ingatan itu jelas berkaitan dengan Sehun, entah apa yang terjadi padanya dan Sehun, tapi Luhan bisa merasakan bahwa mereka berdua memiliki rasa sakit yang sama yang tak bisa dibagikan pada orang lain.
Hanya mereka yang merasakannya
Mereka yang kehilangan
Tak ada satupun yang bisa merasakah sakit dan sesak yang menghimpit dada mereka hingga Luhan memutuskan untuk tidak melepas pelukannya pada Sehun, tidak akan pernah. Terlepas rasa benci yang entah seperti apa saat ingatannya kembali, dia hanya ingin memeluk Sehun di sisa hidupnya.
"Sehun…"
"hmhh?"
"Apa benar aku juga pernah mengandung bayimu?"
"huh?"
Jujur Sehun tidak siap menjawabnya, tapi lihatlah Luhan saat ini, dia bahkan melepas perlahan infus yang dipasangkan di jemarinya seolah mengerti cara melepas infus dari tubuh tanpa menimbulkan rasa sakit dan perlahan duduk di pangkuannya "Baekhyun bilang usianya tiga bulan saat aku kehilangan bayi kita. Apa benar?"
Tak berani menatap Luhan, Sehun hanya mengangguk memegang pinggang Luhan seperti menjaganya agar istrinya tidak jatuh "Ya, memasuki bulan keempat kita kehilangan bayi kita, mianhae…"
"Sehun berhentilah meminta maaf." Katanya kesal, memeluk erat Sehun lalu bergerak sengaja di pangkuan Sehun hingga membuat Sehun resah dibuatnya "Lu…."
"Apa aku terlihat jelek saat mengandung? Tubuhku pasti gemuk."
Dengan tegas Sehun menggeleng dan menciumi pundak Luhan yang terekspos bebas di kedua matanya untuk berbisik "Sebaliknya, kau sangat seksi dan menggairahkan saat hamil." Katanya jujur dibalas tatapan tak sabar dari Luhan.
"Benarkah? Lalu apa aku bisa memiliki anakmu lagi?" tanyanya menggoda, melepas satu persatu kemeja putih Sehun dan mengusap dada bidang yang selalu terlihat seksi dan membuatnya hangat dengan sensual "Tentu saja, aku akan membuatmu memiliki calon bayi kita lagi jika kau mengijinkan."
Tangan Luhan kini bergerak semakin kebawah, dia melepas ikat pinggang Sehun dengan gerakan menggoda lalu menurunkan zipper celana hitam suaminya untuk turun dan membungkuk, mengeluarkan "adik" milik Sehun dan mulai melumatnya tak sabar dipenuhi keinginan untuk memiliki lagi anak dari Sehun.
"ssshh—Luhan, sayang—haah~"
Sehun bergerak resah saat bibir mungil Luhan menghisap kejantanan miliknya, ini semua diluar dugaannya sebagai pria yang bahkan tidak berharap banyak untuk bisa bercinta lagi dengan istrinya yang tidak mengingat apapun.
Ya, Sehun mengira percintaan mereka beberapa hari yang lalu adalah yang pertama dan terakhir sampai Luhan mengingat semuanya. Tapi lihatlah saat ini, Luhan benar-benar membuatnya gila dengan bibir seksi yang kini mengeluar-masukkan miliknya dengan seksi hingga membuat Sehun mendongak menikmati sensasi kenikmatan yang hanya bisa diberikan Luhan seorang pada dirinya.
"haah~ Lu, cukup."
Luhan tidak mengindahkannya, yang dia lakukan hanya terus mengulum kejantanan Sehun berharap Sehun berbaik hati memberikan benihnya nanti saat mereka bercinta.
"ah~"
Lalu Luhan terkejut saat jemari panjang Sehun menyusuri bagian bawah tubuhnya, dia bisa menebak jari tengah Sehun kini sudah bergerak maju mundur masuk kedalam tubuhnya hingga membuat Luhan tak fokus mengulum kejantanan Sehun yang semakin keras dan besar.
"Sehun!—hhmmhp~"
Keduanya bersikeras dengan hal nikmat yang mereka lakukan bersama, lalu satu gerakan cepat Sehun menarik tubuh Luhan ke pangkuannya, menyingkirkan anak poni yang menutupi wajah cantik Luhan untuk bertanya, memastikan "Kau benar-benar ingin memiliki bayi dariku?"
Luhan mengangguk malu, dia kembali memeluk Sehun seraya bergumam "Aku ingin memiliki buah hati darimu Sehun, yang menggemaskan seperti Jiwon dan yang sangat riang seperti Taeoh, aku tidak mau kesepian lagi."
Sehun mencoba mengerti akan kesepian yang dirasakan Luhan, dikecupnya pundak seksi Luhan lalu perlahan dia membaringkan istrinya di tempat tidur, melepas seluruh pakaian dari tubuh istrinya untuk menatap dengan tatapan memuja seolah hanya Luhan yang memiliki tubuh seindah dan sesempurna ini dimatanya "Baiklah, aku rasa kita harus melakukannya sesering mungkin kalau begitu." Katanya menggoda, mengambil kesempatan dari percintaan keduanya yang secara mengejutkan dibalas anggukan setuju dari Luhan.
"Lakukanlah, aku senang saat kau mengambilku."
Dan malam ini, sepertinya Sehun kembali bisa menjelaskan rasa bahagia yang sudah hilang darinya sejak tiga bulan lalu, rasa yang membuatnya gugup dan berdebar hingga rasanya dia bisa gila kapan saja.
Kenyataan bahwa Luhan bersedia menyerahkan tubuh dan menerima semua kenikmatan dibawahnya adalah hal yang berada di luar dugaan Sehun, hal yang dia pikir harus ditahannya untuk waktu yang lama ternyata menjadi hal yang diberikan Tuhan dengan begitu baiknya.
Sekali lagi dan untuk waktu yang sudah dihabiskannya selama dua puluh tahun untuk memuja Luhan, Sehun kemudian bersumpah pada dirinya sendiri hanya untuk memuja Luhan, mencintai Luhan, menjaga Luhan dengan atau tanpa ingatan menyakitkan yang bisa membuat jarak terjadi lagi diantara mereka.
"Aku mencintaimu Luhan."
Seperti biasa pula. Luhan belum bisa menjawab pernyataan Sehun, dia hanya mengangguk seolah mengerti dan bisa merasakan dalamnya cinta Sehun sementara dibawah sana, Sehun sedang menyatukan tubuh mereka hingga bayang putih dipenuhi bintang kembali dirasakan Luhan seiring gerakan cepat dan nikmat yang diberikan Sehun untuknya.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan paginya,
.
Jika bukan karena Kyungsoo mengetuk kencang pintu kamarnya dan Luhan, pastilah Sehun masih akan melakukan hal menggairahkan bersama istri tercintanya. Melanjutkan percintaan mereka yang entah sudah berapa kali dilakukannya malam tadi hanya untuk menunjukkan pada Luhan bahwa dia sangat memuja, sangat mencintai, dan akan selalu tunduk hanya pada pesonanya.
"Sehun cepat buka pintunya, aku harus memeriksa keadaan Luhan!"
Ya, jika Kyungsoo berbaik hati memberikan setengah jam waktunya agar bisa berhubungan intim lagi dengan Luhan, Sehun akan sangat berterimakasih. Namun sayang Kyungsoo akan menjadi sangat menyebalkan jika itu menyangkut Luhan dan Luhan.
"Sehun cepat buka pintunya!"
"rrhh…."
Lalu si mungil bergerak resah di pelukannya, kedua tubuh mereka polos dan masih menyatu, dia merasa tidak nyaman akan posisi tidurnya yang berada di atas Sehun, terlebih saat dia berpindah dan melepas kejantanan Sehun dari lubangnya membuat sensasi perih dan kosong bersamaan dia rasakan.
"Masih sakit?" Sehun berbisik dibalas anggukan Luhan yang merengek dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya "Punggungku sakit." Lalu Sehun gemas, dia menindih Luhan lagi, memaksa bibir mungil itu terbuka lalu mencumbunya kasar dan bernafsu "Aku tegang lagi."
Tak percaya, kedua mata cantik Luhan membulat untuk menatap horor pada Sehun "Yang benar saja!"
"Wae? Aku sudah bilang padamu, aku lelaki normal yang-…"
"SEHUN CEPAT BUKA PINTUNYA ATAU AKU AKAN MENDOBRAK PINTU SIALAN INI!"
Luhan tertawa kecil sementara Sehun menutup telinganya, keduanya bertatapan tak rela dipisahkan sampai Luhan mengingatkan "Kyungsoo sangat tegas, kau tahu kan?"
"OH SEHUN!"
"Cepat buka pintunya."
"Tidak mau."
"SEHUN AKU SERIUS!"
"sshh….ayolah! Apa kehidupan rumah tangganya dan Kai sangat membosankan? Kenapa mereka tidak bercinta saja di pagi hari!"
"Sehun!"
Luha memukul dadanya sementara ketukan pintu kamarnya semakin keras seiring kemarahan Kyungsoo diluar sana "oh ayolah!"
Lalu dengan sangat berat hati Sehun turun dari tempat tidurnya, memakai asal boxer hitam yang tergeletak dilantai lalu berjalan ke arah pintu.
"SEHUN CEPAT BUKA ATAU AKU-….."
Klik!
Sehun membuka kasar pintu kamarnya, menatap seram pada Kyungsoo namun sayang tatapan Kyungsoo seribu kali lebih menyeramkan dari miliknya "MINGGIR!" katanya mendorong tubuh lengket Sehun yang bermandikan keringat hanya untuk memekik
"ASTAGA LUHAN SIAPA YANG MELEPAS INFUS DARI TANGANMU?"
Luhan mati-matian menutup tubuh polosnya dengan selimut, menatap takut pada Kyungsoo sebelum menjawab polos "Sehun yang melakukannya."
"OH SEHUN KAU BENAR-BENAR….!"
"Mwo? Aku tidak melakukannya sayang, kau yang paham dengan cara kerjanya!"
Luhan menatap innocent pada Kyungsoo, membuat hati si pria bermata bulat meleleh hanya untuk mengambil bantal dan melemparkannya pada Sehun "Jika terjadi sesuatu pada Luhan aku akan memisahkan kamar kalian!"
"ha ha ha…."
Sehun menatap horor Kyungsoo, lalu istri Kai itu mendelik kesal sebelum memaksa Luhan untuk menurunkan sedikit selimutnya "Jangan Soo…"
"Ada apa? Aku harus memeriksa tekanan darahmu!"
Luhan menggigit kecil bibirnya dan berbisik lagi pada Kyungsoo "Aku tidak memakai pakaian saat ini."
"Mwo? Astaga kau benar-benar memiliki suami yang sangat menyebalkan."
"Tapi memuaskan di tempat tidur, ya kan, Lu?"
Diam-diam Luhan mengangguk malu lalu Kyungsoo jengah dan memekik "LUHAN!"
"nde?"
"Turunkan selimutmu, se-ka-rang."
Takut, Luhan menurunkan selimutnya, membiarkan Kyungsoo melihat tanda cinta yang dibuat Sehun serta tubuh lengket dengan aroma khas yang kini tercium dari tubuhnya "Astaga berapa lama kalian bercinta?"
Sehun menghitung dengan jari lalu menjawab percaya diri "Sekitar lima jam, atau lebih, entahlah, aku lupa diri jika sudah mengambil istriku."
"Kau benar-benar menjijikan!" Kyungsoo melempar lagi bantal pada wajah Sehun sebelum fokus memeriksa tekanan darah Luhan dengan alat pengukur tekanan darah miliknya.
"Bagaimana?" Sehun yang bertanya, Kyungsoo melepas stetoskop dari telinganya untuk mengangguk "Normal, suhu tubuhmu juga normal, aku rasa kau sudah jauh lebih baik."
Luhan ikut mengangguk, seolah membenarkan dia baik-baik saja terlebih saat malam tadi dia dan Sehun banyak berbagi cerita mengenai hal-hal yang dia lupakan atau hal baru yang menjadi perbincangan disela percintaan mereka.
"Kalau begitu apa aku boleh mengajaknya ke suatu tempat?"
Kyungsoo menoleh dan bertanya pada Sehun "Kemana?" dibalas senyum serta tatapan sendu Sehun yang kini sepenuhnya menatap pada sang istri "Berkencan mungkin."
Luhan bergerak tanda dia bersemangat, hal itu membuat Kyungsoo terkekeh lalu menggoda si pria cantik tanpa pakaian didepannya "Kau ingin berkencan?"
"Dengan Sehun? Tentu saja aku mau!"
"Baiklah, setelah kalian berkencan aku akan mengatur jadwal terapi untukmu." Katanya menaikkah selimut Luhan lalu menatap lagi pada Sehun "Jangan membuatnya terluka lagi, kau dengar?"
Mengangguk, Sehun membuat janji pada sahabatnya "Aku dengar."
.
.
.
.
.
.
.
Dan benar saja, Sehun menjadikan hari ini hari yang paling manis yang bisa diingat Luhan, kenangan baru tentang kencan mereka sebagai suami istri yang dipenuhi rengekan karena Sehun terus menggodanya atau karena Sehun terus memaksanya memasuki wahana tinggi yang dia benci atau karena Sehun enggan memberikan gulali yang begitu diinginkan Luhan.
"Cukup Lu, kau sudah memakan semua gulalimu dalam sekejap."
"Satu lagi."
Si cantik memohon, nyaris mengalahkan pertahanan Sehun jika Sehun tidak ingat bahwa kurang dari tiga puluh menit Luhan sudah menghabiskan setidaknya lima gulali berukuran besar "Tidak."
"Sehun kenapa kau pelit?"
"Aku bisa membelikan yang lain!"
"Tapi aku ingin gulali lagi, astaga!"
Luhan terlihat sangat gusar, dia bahkan melipat kedua tangan didada dengan kaki dihentak bergantian, hal itu membuat Sehun gemas dan berakhir menarik pinggang Luhan lalu bertanya "Apa kau benar-benar menginginkan gulali?"
"YA!"
"Mau berapa banyak lagi?"
"Satu lagi."
"Ini satu yang kesepuluh kali mungkin?" sindirnya dibalas putaran mata Luhan yang kesal "Pelit!"
"Baiklah, aku belikan lagi tapi cium bibirku."
"Mwo?"
"Cepat…"
Sehun memejamkan matanya, membuat Luhan resah mengingat masih banyak orang yang bermain di sekitar wahana tempat kedai gulali berada "Tapi banyak orang."
"Kau istriku, apa yang salah? Cepat…."
Sehun memaksa, masih memejamkan mata menunggu kecupan Luhan hingga membuat Luhan pasrah mengingat gulali manis itu sudah memanggil-manggil dirinya "Baiklah, demi gulali." Lirihnya pasrah, berjinjit untuk menggapai bibir Sehun dan mengecupnya sekilas.
Luhan hanya sekedar menempelkan bibir namun diluar dugaan Sehun mengunci tubuhnya dan mulai melumatnya seperti ketika mereka akan bercinta, ciumannya terlalu dalam hingga membuat Luhan lemas dan hanya berakhir membuka lebar bibirnya mengizinkan Sehun mencium sepuasnya dan tak mempedulikan entah berapa pasang mata yang kini melihat mereka.
Sehun sepertinya menikmati caranya menggoda Luhan, terlihat dari bagaimana Luhan merespon gerakan lidahnya atau membuka bibirnya semakin lebar hingga dengan baik hati walau sedikit terpaksa Sehun menyudahi ciuman mereka dan terkekeh melihat Luhan mengambil nafas banyak-banyak mencari udara untuk dihirup.
"Nah, sekarang belilah gulali, satu lagi dan kita pergi." dia mengeluarkan satu lembar uang dan memberikannya pada Luhan dibalas tatapan berbinar Luhan yang tak bisa menjawab akibat ciuman Sehun yang begitu panas dan masih membuatnya begitu berdebar.
"Cepat, sebelum aku berubah pikiran."
Mata Luhan membulat, buru-buru dia berlari mendekati kedai gulali sementara seorang pria mendekati Sehun dengan satu buket bunga yang dibawanya "Tuan Oh Sehun?"
"ah, Kau sudah datang?"
Sehun mengeluarkan lagi dompetnya, membayar satu buket bunga besar yang dipesannya dalam perjalanan untuk berterimakasih "Terimakasih." Katanya mengambil sebuket bunga yang dia pesan sementara matanya terus memperhatikan Luhan yang sedang menerima kembalian uang dari gulali yang dibelinya.
"Ini sisa uangnya." Luhan memberikannya pada Sehun dan bertanya penasaran pada bunga yang sedang digenggam Sehun, pasti untukku, tebaknya lalu Sehun lagi-lagi menggoda Luhan dan membuatnya memelas "Ayo pergi sayang."
Dia kemudian berjalan meninggalkan Luhan dibelakang hingga raut kesal terlihat di wajah cantik Luhan yang bibirnya sedang meraup gulali dalam gigitan besar "Owh-SEHUN!"
Sehun berhenti, menoleh gemas pada Luhan yang bibirnya kini dipenuhi serabut gulali untuk bertanya tak mengerti "Kau sedang berteriak atau memanggilku?"
Satu gigitan besar gulali Luhan menghilang dalam sekejap, dia pun membuang sembarangan lidi yang ada ditangannya untuk menunjuk gusar pada buket bunga yang dipegang Sehun "Bunga itu untuk siapa? Bu-ow-kan untukku?"
"huh?"
"ish! Bunganya untuk siapa? Bukan untukku?"
"ah…."
Entah harus berapa kali lagi Sehun dibuat gemas karena tingkah dan pertanyaan konyol Luhan, membuatnya terus ingin menggoda Luhan walau berakhir harus mengalah dan mengatakan "Aku akan memberikan bunga yang lebih cantik untukmu, bukan yang besar seperti ini."
"Tapi bunga itu juga cantik."
"Kau lebih cantik."
"ish…" Luhan merona tapi mengumpat, membuat lagi-lagi Sehun tertawa seraya membersihkan pinggiran bibir Luhan dengan bibirnya. Luhan pasrah lagi saat bibir Sehun mencium tak sabar bibirnya disertai lidah panjang Sehun yang kini membersihkan bibir dan sekitar mulutnya, membuat mata Luhan terpejam seperti mengharapkan lebih walau tiba-tiba Sehun berbisik dan menggodanya.
"Kita tidak bisa bercinta disini, terlalu banyak orang."
"Mwo?"
"Wajahmu sangat terlihat ingin kutiduri Oh Luhan!"
"SEHUN!"
"ha ha ha…." Sehun tertawa, mengecup kening Luhan lalu menggengam sayang jemari mungil yang terasa sangat dingin karena menahan malu, dia pun membawa tangan Luhan kedalam mantel miliknya dan menggenggamnya erat seraya berjalan meninggalkan wahana bermain.
"Kita akan pergi kemana lagi setelah ini?"
Sehun tak menoleh, dia hanya menatap lurus kedepan dan bergumam "Nanti kau akan tahu."
.
.
.
.
.
BLAM!
.
Setengah jam harus mereka tempuh untuk sampai ke tempat yang dipenuhi rumput hijau yang tertata rapi dan begitu luas. Awalnya Luhan tak mengerti kemana Sehun membawanya, tapi melihat batu nisan berjejeran dengan rapih dan terawat pastilah tempat ini adalah pemakaman.
Tapi milik siapa?
Luhan bertanya-tanya dan tak tahan dia menyuarakan rasa ingin tahunya "Sehun, kemana kita pergi?"
Sehun tetap menjawab, dia terus menggenggam tangan Luhan dengan satu buket bunga yang ada di pelukannya. Lucunya Luhan bisa merasakan tangan hangat Sehun yang sedang menggengamnya berubah menjadi dingin tanda dia begitu gugup dan cemas entah karena apa.
Hal itu membuat Luhan memutuskan untuk diam dan menghormati Sehun dengan tidak bertanya dan hanya menyusuri jalan setapak demi setapak dengan Sehun yang terus menggenggam tangannya sampai Sehun berhenti dan mulai menatap lembut wajahnya.
"Kita sampai."
"Benarkah? Siapa yang kita kunjungi?"
Dengan berat hati, Sehun melepas tangan Luhan, meletakkan dua buket bunga besar di masing-masing makam untuk membungkuk tiga kali sebagai tanda hormat pada kedua mendiang orang tua Luhan yang sudah berada di sisi Tuhan.
"Sehun, kau memberi hormat untuk siapa?" Luhan masih bertanya, perasaannya marah dan cemas, sepertinya dia pernah berada disini, tapi kapan? Dia bertanya-tanya, lalu Sehun kembali memeluknya seraya berbisik "Beri salam pada kedua orang tuamu sayang, mereka pasti merindukanmu."
Deg!
Seluruh tubuh Luhan tegang saat Sehun mengatakan hal yang belum siap didengarnya, dibawah kesadarannya dia mencakar kuat punggung Sehun seolah tak siap jika benar yang mereka datangi adalah makam kedua orang tuanya.
"Sehun, ayo pulang, aku tidak bisa disini."
Luhan gemetar, wajar dia merasa pernah berada disini, tempat ini adalah tempat dimana potongan ingatannya menyeruak masuk saat pernikahan Keempat sahabatnya, dia bahkan bisa mengingat dengan jelas dimana posisinya berdiri sementara Chanyeol dan Kai memeluk dirinya saat itu.
"Luhan….Mereka merindukanmu."
"Tapi aku belum siap."
"Lu…."
Sehun terdengar memohon, membuat hati Luhan sakit tanpa alasan, dan karena alasan itu pula Luhan seolah tak lagi memiliki alasan untuk menolak dan hanya mencoba membiarkan potongan ingatan itu masuk kedalam memorinya.
"Baiklah,"
Dia mengangguk lirih, mencoba untuk menguatkan diri sebelum berjongkok seraya membaca
Rest in Peace, Li Chen, Xi dimakam sebelah kanan lalu beralih kesamping makam yang bertuliskan Rest In Peace, Angela, Xi yang ditebaknya adalah sang ibu.
Luhan mencengkram erat kedua pahanya, membiarkan suara teriakan itu memasuki kepala dan ingatannya hanya untuk merasakan sakit yang pedih atas semua kehilangan yang hatinya rasakan.
Luhan! Papa membuat kedai roti, namanya LULU BAKERY! Bagaimana kau suka?
tsk! namanya kekanakan Pa!
"rrhh…." Luhan memejamkan erat matanya, rasanya dia akan kembali tak sadarkan diri terlebih saat suara seorang wanita terdengar
Mama bangga padamu nak, kau memutuskan untuk menjadi dokter hanya karena benci Sehun terluka, aigoo…..bagaimana cara menjadi Sehun?
"Ma…."
Luhan refleks mengucap, ingatannya kembali mempermainkan hati dan kepalanya hingga membuat rasa sakit tak tertahankan kembali dia rasakan, dia mencoba kuat tapi rasanya tak mungkin mengingat semuanya terlalu tiba-tiba dan dia belum siap menerima secara keseluruhan siapa dirinya.
Waktu kematian Dokter Xi-…..
"tidak…"
Luhan menggeleng kuat, membuat Sehun memeluknya mencoba untuk menarik Luhan dari sesuatu yang membuatnya sakit, sementara istrinya seperti tenggelam oleh ingatannya sendiri.
Pukul sebelas lewat lima belas menit.
"rrhh~"
"LUHAN!"
Dan bersamaan dengan teriakan Sehun, setidaknya Luhan berhasil keluar dari jebakan ingatan yang menyakitkan, dia tersengal, wajahnya berkeringat hebat dan hal pertama yang dilakukannya adalah melompat ke pelukan Sehun untuk terisak ketakutan.
"Sehun cukup, aku tidak bisa, ini menyakitkan."
"Lu…."
"KUMOHON, AKU INGIN PERGI DARISINI—rrhhh~!"
Dengan berat hati dipenuhi rasa bersalah, Sehun menitikkan air mata ketika melihat dua nisan yang diabaikan putra kandung mereka, mencoba untuk mengerti keadaan Luhan walau nyatanya dia tak akan pernah bisa membawa Luhan pada kenyataan pahit tentang kematian kedua orang tuanya. Dia memejamkan erat matanya, mengucapkan "Maaf, ma, pa…" sebelum mengecup tengkuk Luhan dan menciumi seluruh wajah istrinya untuk mengalah "Baiklah sayang, aku akan membawamu pergi."
Luhan mengangguk, tak berani menoleh lagi dan hanya pergi meninggalkan makam kedua orang tuanya dengan perasaan sesak yang tak bisa dijelaskannya saat ini "Mianhae." Lirihnya dan memeluk erat Sehun dan menyembunyikan wajahnya di pelukan pria yang terlihat kesakitan dibandingkan dirinya.
.
.
.
.
.
.
.
Tak lama Sehun kembali membawa Luhan pulang kerumahnya bersama dengan keempat sahabat mereka, dia sudah membawa sebagian barang-barang miliknya dan Luhan ke rumah mereka, tidak semua memang tapi sepertinya Luhan membutuhkan teman cerita disaat dirinya tidak menjadi pilihan tepat seperti malam ini.
Klik….
Luhan berjalan mendului Sehun, membuka pintu rumah mereka lalu terdengar suara Baekhyun yang menyambut riang dirinya "Hay yang baru berkencan, bagaimana? Apa kau menikmatinya?"
Namun diluar dugaan Luhan hanya tersenyum kecil, dia bahkan tidak mengindahkan panggilan Taeoh dan hanya berjalan lurus masuk kedalam kamarnya dan Sehun "Lu…." Baekhyun bertanya bingung, diikuti raut cemas wajah Kai dan Chanyeol yang kini menatap Sehun dibelakangnya "Apa lagi yang kau lakukan? Kenapa Luhan terlihat pucat?"
Sehun menatap kosong pada kedua sahabat Luhan untuk tertawa pahit mengatakan "Aku membawanya ke makam Mama dan Papa Xi."
"bajingan! KENAPA KAU TERUS MEMAKSANYA MENGINGAT HAL YANG BELUM SIAP DIA TERIMA!"
Chanyeol geram melihat Sehun, dan jika bukan karena Baekhyun memeluknya mungkin Sehun sudah tersungkur di lantai dan dipenuhi luka serta lebam di wajahnya "BERI LUHAN WAKTU BAJINGAN!"
"YEOL CUKUP!"
Baekhyun berteriak balik, memperingatkan suaminya kemudian menatap jengah pada Sehun "Sebaiknya kau segera temui Luhan."
Sehun mengangguk pasrah, seluruh wajahnya menyiratkan penyesalan terlebih saat dia membuka pintu dan melihat istrinya sedang berbaring memunggungi dirinya "Aku tahu kau marah, tapi aku terpaksa membawamu kesana Lu, kau tidak pernah mengunjungi Mama dan Papa bahkan sejak hari pertama mereka dimakamkan."
Hening, Luhan tidak menjawab apapun, yang bisa dilihat Sehun hanya getaran di bahu Luhan yang menandakan dirinya sedang terisak, Sehun menyesal terus membuat Luhan menangis, tapi kemudian dia juga bersikeras bahwa apapun yang coba dia lakukan semata-mata hanya untuk kebaikan istrinya "Kau merindukan mama papa, aku mengetahuinya." katanya tegas dan keheningan semakin membentengi keduanya.
Sehun menumpukan dagunya di pundak Luhan, menciumi tengkuk istrinya yang sedang menangis untuk berbisik "Aku tahu kau belum siap, tapi nanti jika kau mengingat semuanya kau hanya akan semakin menolak kenyataan sayang, maafkan aku."
Lalu hening lagi, Sehun berjanji tidak akan mengatakan apapun lagi, tidak ingin menyinggung perasaan Luhan lagi dan hanya memeluk istrinya yang masih terisak karena ketakutannya.
Keheningan ini rasanya cukup menjelaskan bagaimana sakit mengingat sesuatu tentang dirinya, hal itu pula yang membuat Luhan mengambil keputusan sulit agar hatinya atau hati Sehun tak lagi merasakan sakit yang sepertinya sangat menyiksa keduanya "Sehun…"
"hmmhh…."
Sehun masih mengecupi tengkuk dan jemari Luhan, membiarkan istrinya bersuara sampai hal tak terduga diucapkan Luhan atas kemauan sendirinya "Aku tidak ingin ingatanku kembali."
"huh?"
"Aku tidak ingin mengingat apapun tentang Luhan, aku tidak bisa, aku mohon jangan paksa aku mengingat apapun lagi, aku hanya ingin menjadi Luhan yang mencintaimu tanpa rasa sakit, bolehkah?"
Kini bukan Luhan yang terisak, Sehun merasa sesuatu menusuk hatinya begitu dalam saat mendengar bahwa Luhan tidak ingin mengingat siapa dirinya, seharusnya itu menjadi berita bagus karena Luhan tidak perlu lagi membencinya atau keluarganya sekalipun.
Tapi ini salah, semua salah, Luhan tidak seharusnya menyerah pada ingatan yang akan menunjukkan kebenaran padanya, harusnya dia tidak bersembunyi dibalik kenyamanannya hidup tanpa ingatan.
Ini salah dan Sehun merasa sakit mendengar keinginan itu terucap langsung dari bibir istrinya, membuatnya hanya bisa terisak memeluk Luhan lalu mengangguk mengalah, untuk tidak membuat Luhan semakin kalut dalam ketakutannya sendiri.
"Baiklah sayang, Lakukan semua yang kau inginkan, aku mengizinkannya, hanya jangan pergi lagi dariku."
Dan malam itu Luhan bahkan bersumpah untuk tidak membiarkan potongan ingatan dan jerit suara kembali masuk kedalam memori di kepalanya, dia tidak ingin merasakan sakit, dan entah sekuat apa Luhan yang dulu, dia tidak ingin mengalaminya lagi.
Dia hanya ingin menjadi Luhan baru yang hidup tanpa ingatan atau bahkan sebagai Rein sekalipun yang hidupnya hanya dikelilingi kata bahagia tanpa ingatan menyakitkan seperti milik Luhan.
Diapun mengecupi seluruh tangan Sehun, menghapus air mata kecewa itu untuk bergumam lirih "gomawo Sehunna."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
A few days later….
.
Terlihat sebuah mobil hitam keluaran mercedes benz berhenti di sebuah restaurant mewah di sekitar Gangnam. Dan didalam mobil mewah tersebut kita bisa melihat dua orang yang memiliki paras berlawanan sedang bersiap-siap didalam sana dengan raut wajah yang berbeda
Jika yang satu terlihat sangat tampan dengan feature wajah keras dan dingin yang dimilikinya, maka yang duduk di kursi penumpang adalah kebalikan dari si pengemudi. Parasnya benar-benar cantik, terkadang terlalu cantik saat dia tersenyum, terlebih saat dia memakai pakaian berwarna putih seperti yang dikenakannya malam ini. Membuatnya terlihat sangat cantik dan terkadang membuat Sehun benar-benar gila karena seluruh yang ada pada Luhan adalah kesempurnaan.
"Kita sampai."
Namun sial kecantikan Luhan malam ini bukan ditujukan untuknya, tapi untuk bajingan sialan yang mengakui Luhan sebagai seseorang bernama Rein. Awalnya dia geram karena tiba-tiba Taecyeon menghubungi Luhan dan memintanya bertemu, namun apa daya saat Luhan mengatakan ya dan bersedia menemui Taecyeon hingga membuatnya tak memiliki pilihan lain selain mengantar istrinya dan memastikan Taecyeon mengembalikan Luhan padanya.
"Baiklah, aku pergi dulu dan akan segera kembali."
Si pria cantik, Luhan, berniat membuka pintu mobil sampai tangan besar Sehun menariknya lagi ke pelukan erat yang tak bisa ditolak karena begitu nyaman. Hal itu membuat Luhan tersenyum kecil dan menepuk punggung pria yang sudah membuatnya jatuh cinta untuk berbisik "Tenanglah Sehun, aku benar-benar akan kembali padamu."
Lalu Sehun melepas pelukannya, mencoba untuk melakukan negoisasi dengan memohon "Tidak bisakah aku ikut kedalam?"
"Tidak perlu, kau hanya perlu menunggu disini, ya?"
"Tapi aku takut kau tidak kembali."
Luhan tersenyum, dia berpikir bagaimana cara untuk meyakinkan Sehun sampai tak sengaja melihat sebuah kalung dengan cincin pernikahan yang menggantung di leher jenjang Sehun.
Dia pun sengaja memeluk Sehun sementara tangannya memutar ujung kalung tersebut dan melepasnya dari leher Sehun "Dengan ini aku akan kembali padamu." katanya memakai kalung dengan cincin pernikahan mereka menggantung disana hanya untuk membuat Sehun tenang dan tak merasa gusar karena pertemuannya dengan Taecyeon.
"Lu…."
"Aku benar-benar akan kembali padamu, aku janji." Katanya mengecup kedua tangan Sehun bersiap membuka pintu mobil sebelum lagi-lagi tangan Sehun menariknya kencang. Kali ini Sehun tidak memeluknya melainkan menarik cepat dagunya untuk menyatukan dua bibir mereka dengan cepat.
Luhan dengan mudah membuka lagi bibirnya, membiarkan Sehun mengecup dan menghisap sebanyak yang dia mau hanya untuk membuatnya tenang. Mungkin salahnya juga karena mengiyakan untuk bertemu Taecyeon selagi perjanjian mereka masih jelas tertulis bahwa Luhan hanya akan bersama Sehun selama satu bulan ini.
Jadilah dia memaklumi ketakutan Sehun dan hanya terus membalas kecupan-kecupan panas dari Sehun yang berhasil membuatnya jatuh ke dalam pusaran gairah yang dibawa Sehun untuknya.
"Se-hun—hhh~"
Sehun bahkan sengaja menggigit kencang bibir bawah Luhan, meninggalkan luka yang dipenuhi rasa anyir hingga membuat Luhan terpaksa mendorong tubuh Sehun agar menjauh "Cukup Sehun, aku-…."
"Kau tidak menyukainya?"
Masih mengatur nafas dengan bibir yang terbuka, Luhan menggeleng "Bukan seperti itu, hanya saja Taecyeon sedang menunggu."
"Jadi kau menyukai ciumanku?"
"y-Ya! Aku menyukainya."
Sehun tersenyum lega, dia kemudian menghapus darah karena gigitan yang dibuatnya dari bibir mungil Luhan untuk mengecup sayang kening istrinya "Baiklah, kau boleh menemui Taecyeon. Aku menunggu disini." Katanya membukakan pintu untuk Luhan disertai senyum cantik Luhan yang mengatakan "Gomawo."
Lalu setelahnya, dengan segala ketidakrelaan hatinya, Sehun hanya bisa melihat Luhan pergi menjauh dan berbicara dengan pria yang terus menyebutnya sebagai Rein sementara dirinya terpaksa menunggu dan tak bisa melakukan apapun.
"Kembali padaku Lu, secepatnya."
.
.
.
"Selamat malam tuan, apa anda sudah membuat janji?"
"eoh, Aku sudah membuat janji, Ok Taecyeon."
Si pelayan wanita tampak tersenyum untuk membungkuk menyapa Luhan "Kalau begitu anda pasti Park Rein, silakan ikut kami tuan."
Luhan hanya tersenyum canggung, dia tidak menolak untuk dipanggil Rein walau nyatanya, dalam waktu kurang dari sepuluh hari Sehun sudah berhasil membuatnya menyukai nama Luhan sebagai identitasnya saat ini.
"Silakan tuan."
Tak lama Luhan sampai di meja Taecyeon, tapi sepertinya ada yang berbeda dengan Taecyeon malam ini. Dia tidak banyak bicara, yang dilakukannya hanya menatap tak berkedip ke arahnya seolah dirinya hantu yang akan menghilang jika dia berkedip.
"Kami akan menyiapkan makanannya."
"Oke."
Luhan yang menjawab sementara Taecyeon tetap memandangnya tak berkedip. Demi Tuhan, dia tak pernah melihat Taecyeon dengan sikap dinginnya yang mengerikan, jujur saja dia bahkan lebih menyukai Taecyeon yang banyak tertawa daripada yang terus memandang dingin ke arahnya.
"Taec? Bagaimana kabarmu?"
"Bibirmu terluka."
Tak berbasa basi, hal yang mengganggunya benar terjadi. Si bajingan Oh Sehun jelas menyentuh Rein, terlihat dari tanda kecupan di balik kemeja v-neck yang dikenakan Luhan serta bekas gigitan di bibir yang dia tebak terjadi karena mereka baru saja bercumbu.
Hal itu sukses membuat tangan Taecyeon terkepal jika Luhan tidak buru-buru mengatakan "Aku menggigit bibirku sendiri saat makan dengan temanku."
"Dengan Sehun maksudmu?"
Buru-buru Luhan menggeleng, entah mengapa Taecyeon malam ini hanya membuatnya tak nyaman karena terlihat sangat mengerikan, dia juga terus menyebut nama Sehun hingga rasanya Luhan rela melakukan apa saja agar Taecyeon tidak mendekati Sehun disaat emosi.
"Aku benar-benar pergi dengan temanku, bukan dengan Sehun, sungguh Taec!"
Suara Luhan menjadi tinggi, Taecyeon menyeringai kesal karena nada tinggi yang disuarakan Luhan seolah membenarkan bahwa semua tanda yang ada di tubuhnya memang bajingan sialan itu yang membuatnya
"Kau tidak perlu berteriak sebenarnya." Katanya menyindir dibalas tingkah gugup Luhan yang kini berdalih "Taec sudahlah, ada apa kau ingin bertemu denganku?"
Lalu Taecyeon membalasnya dengan tatapan dingin, beberapa detik dia melihat kesal pada Luhan sebelum tangannya mengambil sesuatu seperti passport dan tiket dari saku mantel hitamnya untuk memberikannya pada Luhan "Apa ini?" Luhan bertanya, membaca tulisan Seoul, Incheon airport Tokyo, Haneda Airpot untuk mendengar pernyataan mengejutkan dari Taecyeon.
"Minggu depan kita berangkat ke Tokyo."
"nde?"
Luhan terkejut, menatap Taecyeon tak percaya hanya untuk mengulang "Kita apa?"
"Well, Aku sudah memutuskan mulai minggu depan kita akan menetap di Tokyo. Aku sudah mendaftarkan Eunwoo masuk ke perguruan tinggi di Tokyo, Jinyoung juga akan mencari rumah sakit terbaik disana, kau bisa mengajar di taman kanak-kanak sementara aku menjalankan bisnisku di Tokyo. Terdengar sempurna bukan?"
"…."
Luhan diam, tangannya mencengkeram kuat passport dan tiket miliknya untuk menatap gusar pada Taecyeon "Kenapa kau melakukannya?"
"Apa?"
"Kau bilang akan mengizinkan aku untuk menetap bersama Sehun, tapi apa ini? kenapa kau membuat rencana gila mendadak seperti ini?"
"Rencana gila kau bilang? Ini rencana yang sempurna untuk kita!"
"Taec…."
"Rein cukup! Suka atau tidak kita akan berangkat ke Tokyo minggu depan."
"….."
Luhan menarik berat nafasnya, ingin dia berteriak menyuarakan kesalnya walau harus berakhir tertunduk diiringi suara berat Taecyeon yang memanggilnya "Rein…."
"…"
"Baiklah jika kau diam aku anggap kau setuju untuk-…"
"Bagaimana jika aku menolaknya? Bagaimana jika aku ingin tetap berada disini? Bersama Sehun dan orang-orang terdekatnya?"
Sontak jawaban menantang dari pria yang menyerupai mendiang istrinya membuat Taecyeon murka, dia bahkan tidak menyangka Luhan akan bertanya seperti ini padanya, hingga membuat tangannya terkepal seolah kehabisan kata "Rein apa yang kau katakan?"
Mengembalikan passport dan tiketnya pada Taecyeon, Luhan berkata "Kau dengar apa yang aku katakan Taec, aku menolaknya. Aku tidak akan pergi ke Tokyo denganmu." Katanya berdiri dari kursi, bergegas untuk pergi sampai Taecyeon mengatakan "Eunwoo membutuhkanmu, kau tahu itu."
Luhan menggigit cemas bibirnya, menatap ragu pada Taecyeon lalu dengan tegas dia berseru "Eunwoo akan baik-baik saja." katanya ragu lalu mengulangnya "aku yakin dia akan baik-baik saja."
Setelahnya dia menatap Taecyeon, antara ragu dan mantap pada keputusannya untuk melihat rahang tegas Taecyeon yang menandakan dia marah hingga kemudian dia memberanikan diri untuk berpamitan "Aku pergi Taec, hubungi aku jika kau sudah lebih tenang." Langkahnya sudah sedikit menjauh lalu suara Taecyeon kembali terdengar dan kali ini cukup membuat takut Luhan karena dia mengatakan "Kalau begitu aku akan menyingkirkan Oh Sehun dari hidupmu, selamanya."
Tap!
Luhan berhenti melangkah, tatapannya penuh ketakutan menatap wajah mengerikan Taecyeon hanya untuk memastikan "apa-…Apa yang kau katakan?"
"Kau mendengarnya dan kau tahu siapa aku Rein! Jika kau menolakku maka tidak ada yang bisa memilikimu lagi, tidak aku tidak pula bajingan bernama Oh Sehun yang sepertinya sudah memiliki tempat di hatimu."
"Taecyeon cukup!"
"Wae? Jika kau ingin bajingan itu hidup, hanya ikut denganku, tapi jika kau menolaknya? Mudah, aku hanya akan menyingkirkan Oh Sehun dari hidup-….."
"OK TAECYEON!"
.
.
Sementara itu…..
.
Sehun mulai terlihat gelisah menunggu Luhan di dalam mobil, matanya terus menatap ke dalam restaurant mewah tempat Taecyeon dan Luhan bertemu tapi tak bisa menemukan dimana keberadaan istrinya.
Berkali-kali dia melihat ke arloji dan berkali-kali pula dia menahan diri untuk tidak menyeruak masuk kedalam restaurant jika tidak ingin membuat Luhan marah dan kecewa padanya.
"Oh sial aku tidak tahan." Geramnya memukulkan kepala ke stir mobil lalu tak lama ponselnya bergetar dengan nama L tertera disana.
"Hey ada apa?"
"….."
Tak ada balasan dari Myungsoo, membuat Sehun kembali memastikan bahwa Myungsoo yang menghubunginya sampai terdengar suara rintihan dari ponselnya
Uhuk!
"L?"
"Se—Sehun, dimana kau sekarang?"
Suara Myungsoo terdengar menahan sakit, dia bahkan terdengar kesulitan bernafas dan itu membuat Sehun terlihat cemas "Ada apa denganmu?"
"dimana—rrhh—Dimana kau? Mereka mencarimu."
"Siapa yang mencariku?"
"R-Ravi, mereka membuat kekacauan di klubku dan sedang mencarimu, berhati—" Myungsoo terbatuk, lagi-lagi dia meringis lalu melanjutkan kalimat terakhirnya sebelum panggilan terputus "berhati-hatilah."
"L!"
Sambungan terputus, Sehun berusaha menghubungi lagi sahabat Luhan namun percuma panggilannya dialihkan hingga mengumpat adalah hal yang dilakukan Sehun seraya memukul kesal kemudi mobilnya "Sial! Apa yang terjadi?"
Sedetik yang cepat Sehun bahkan berniat meninggalkan Luhan dengan Taecyeon, setidaknya bajingan itu mencintai Luhan dengan tulus, setidaknya pula dalam keadaan terdesak seperti ini Luhan jauh dari bahaya jika Taecyeon bersama dengannya.
Lalu niatnya tersebut seperti dipatahkan dengan kedatangan empat mobil hitam yang mengelilingi mobilnya, sekilas Sehun bisa melihat wajah Ravi yang menyeringai kearahnya hingga refleks dia membuka mobil dan berteriak
"LUHAAAAN!"
Diiringi suara tembakan yang bergantian mengarah ke dalam restaurant hingga didalam sana, Taecyeon refleks memeluk Luhan yang kedua matanya membulat mendengar suara teriakan Sehun.
"Sehun…"
Dia meronta dari pelukan Taecyeon dan berteriak menyalahkan "APA YANG KAU LAKUKAN PADA SEHUN?"
"sstt….Itu bukan ulahku."
"BOHONG!"
Sementara Luhan berteriak, Taecyeon harus mengeluarkan senjatanya melihat seseorang berjubah hitam masuk kedalam restaurant dan mulai menembak membabi buta.
"sial!—SEGERA DATANG DAN AMANKAN BAGIAN BELAKANG RESTAURANT!"
Taecyeon memberi perintah pada anak buahnya, fokusnya hanya melindungi Luhan seraya bertanya-tanya siapa bajingan yang berada dibalik kekacauan malam ini, dia terus memeluk Luhan sebelum mengumpat karena setelah dia menembak mati si pria berjubah hitam Luhan berlari ke pintu restaurant dengan terus memanggil "SEHUUN!" tanpa mempedulikan keselamatan dirinya.
"REIN!"
Bersamaan dengan gerakan Luhan yang membuka pintu, maka tak kalah cepat Taecyeon kembali menutup pintu restaurant sementara seluruh tamu dan pegawai restaurant terlihat panik dan bersembunyi di bawah meja.
"Pikirmu apa yang kau lakukan?"
Luhan tidak fokus, dirinya panik melihat Sehun kini sedang menghadapi entah siapa pria yang memakai jubah hitam yang memukulnya bergantian, dia sudah menangis ketakutan sementara Taecyeon terus menahan dirinya didalam sini "LEPAS TAEC! AKU HARUS MENOLONG SEHUN!"
"APA YANG BISA KAU LAKUKAN?"
"APAPUN!"
Luhan menghempas kasar lengan Taecyeon, tatapannya marah dipenuhi kebencian sebelum membuka pintu dan berteriak ketakutan memanggil suaminya.
"SEHUUUUNNN!"
Sehun sudah nyaris tak sadarkan diri saat Luhan berteriak ketakutan memanggilnya. Dia yang sedang terkapar di tanah yang begitu dingin bisa melihat istrinya sedang berlari mendekat ke arahnya. Hal itu membuat Sehun ketakutan, dia menggeleng dan bergumam lirih, memohon pada siapapun agar membawa Luhan pergi dengan tangis ketakutan terlihat di wajahnya "Jangan mendekat Lu, jangan mendekat sayang."
"APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA SEHUN? APA YANG KALIAN—rrhh~"
Sebelum Luhan berhasil mendekati kerumunan mafia yang membuat Sehun tak sadarkan diri, seseorang memukul kencang tengkuknya. Tubuhnya kemudian dibawa pergi menjauh dari kerumunan hingga seluruh tatapannya gelap dengan rasa sakit yang begitu menyiksa di kepalanya.
"Sehun…."
Dia bisa mendengar banyak suara, banyak teriakan, namun yang menyiksanya adalah saat sosok asing keluar dari mobil hitam berteriak "BAWA BAJINGAN ITU!" Lalu terlihat seorang remaja keluar dari mobil hitam yang lain.
Samar, tapi Luhan mengenalinya, tidak, Luhan ingin menolak mengenalinya. Tapi semakin dia menolak, ingatan itu semakin menyeruak masuk dan datang dengan sendirinya, dia tidak ingin terluka lagi jika mengingat siapa dirinya.
Tapi dia tahu jika dia mengabaikan lagi ingatannya, maka tak hanya Sehun atau dirinya tapi semua yang berhubungan dengan dirinya di masa lalu akan terus merasakan sakit dan kehilangan jati diri seperti yang dia alami.
"CEPAT BAWA BAJINGAN ITU!"
Luhan melihat remaja itu dibantu dengan satu orang berbadan besar menyeret tubuh Sehun kedalam mobil, dan hal terakhir yang dilihatnya sebelum mereka pergi adalah wajah yang sama yang selalu memanggilnya hyung selain Jaehyun.
Remaja yang sudah dianggapnya sebagai adik dan selalu dijaganya dengan baik kini terlihat sangat berbeda dan mengerikan.
"apa yang terjadi padamu."
Ya, Luhan tidak menolak lagi potongan ingatan yang kini sudah menyatu dengan sisa ingatan yang dimilikinya, dia mengingatnya, seluruhnya
Siapa dirinya
Siapa Sehun
Siapa keluarga yang dibenci pikirannya namun tidak dengan hatinya
Dia bahkan mengingat siapa remaja dengan wajah pucat yang kini membawa Sehun bersamanya "Taeyonga~" diiringi bisikan Taecyeon yang terdengar menyesal "Maafkan aku Rein, tidurlah aku akan membawamu ke tempat yang aman."
Ucapan Taecyeon benar-benar terdengar seperti hipnotis untuknya, Taecyeon memukul sangat kencang tengkuk kepalanya, membuat rasa sakit itu bergantian datang dengan potongan ingatannya yang lain.
Sebelumnya dia menerima jika dirinya dipanggil dengan sebutan Rein, tapi kali ini berbeda, Luhan menolaknya, bahkan sebelum dia benar-benar memejamkan mata tak sadarkan diri, Luhan menegaskan satu hal pada Taecyeon. Hal yang selalu dipatahkan kebenarannya oleh Taecyeon bahwa dirinya adalah
"Luhan, namaku Luhan dan aku bukan Rein."
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
Fix, teaser di IG buat chap depn, udah dedline bgt njir hampir jam sebelas juga, udah luber juga
.
Nextcahp abisin Ravi ajalah kuy….biar makin banyak romansa terjadi.
.
Diaminkan sodara-sodara.
.
Oia, ada a/n dari gue ya,
Jadi gue ga pernah kasih izin Remake apalagi ganti cast dari semua FF gue yang finish, dan kalopun ada mengatasnamakan gue udah kasih izin, itu boong, fake dan teman-temannya.
Gue main di FFn yang make FF gue di wattpad semua, kebanyakan MFC sama Entangled kalo gue perhatiin, apa perlu gue terjun ke Wattpad juga? Tapi gue nyaman disini sih, tapi ga nutup kemungkinan tiba-tiba gue pindah wattpad, atau gue balance in ajalah, biar ga kecele sama yang ngaku-ngaku.
.
Dan yang uda DM atau PM di IG maupun FFn buat Remake FF jawabannya… Belum Bisa ya, sometimes gue ngerasa nge-remake itu Cuma kaya tinggal nerima enak aja dri begadangnya gue dan diterornya gue sm deadline UP, jadi masih berat hati aja gtu, jadi jawabannya belum gue izin remake dan ganti cast ya, maaf banget.
.
.
Okay, next update udah di bulan April
.
tanggal 12 April #BeenthroughFF baru publsih ya, jadi jangan ditanya kapan lagi kan udah gue tulis juga keterangannya :""
.
btw, Semoga ga ada yang aneh-aneh April ini, ga perlu ada kode,
adem ayem dan ga aneh2 aja gue udah bersyukur banget, agak ngeri gimana gtu, apalagi bsk april Mop :"""
.
Happy reading and #happyhunhanday
.
Cu
