Previous

Sebelumnya dia menerima jika dirinya dipanggil dengan sebutan Rein, tapi kali ini berbeda, Luhan menolaknya, bahkan sebelum dia benar-benar memejamkan mata tak sadarkan diri, Luhan menegaskan satu hal pada Taecyeon. Hal yang selalu dipatahkan kebenarannya oleh Taecyeon bahwa dirinya adalah

"Luhan, namaku Luhan dan aku bukan Rein."

.

Je'Te Veux

.

.

.

Main cast : Lu Han as Xi Luhan

Oh Sehun as Oh Sehun

Rate : T-M

.

.

.

.

"Jadi Luhan seorang dokter?"

Posisi berpindah ke sebuah markas mewah ditengah kota Seoul, tempat yang memiliki dua lantai bernuansa elegan itu digunakan oleh Taecyeon, sang mafia yang terkenal dengan sejuta bisnis gelap yang lucunya mendapatkan dukungan dari para petinggi negara tempatnya menetap.

Katakanlah dia memiliki hampir segalanya di usianya yang terbilang masih sangat muda, dia juga harusnya bersantai tanpa perlu cemas dan mengurusi banyak hal yang tidak menjadi tanggung jawabnya seperti saat ini.

Saat dimana dia bertanya-tanya mengapa Sehun diserang di restaurant tempatnya membuat janji dengan Rein, kenapa pula dia melihat kaki tangan Donghoon yang belum lama ikut melakukan transaksi senjata gelap dengan organisasinya.

Hal itu cukup menarik perhatian Taecyeon hingga dalam waktu singkat dia mendapatkan data lengkap tentang pria bernama Oh Sehun yang kemudian dikaitkan dengan Xi Luhan yang resmi menyandang marga dari keluarga Oh sejak enam bulan yang lalu.

"Ya Presdir Ok, Luhan adalah seorang dokter bedah di Seoul hospital dan Hanyang hospital, dia juga sempat menjadi dokter di health clinic, Pyeongchan."

Yang sedang memberikan laporan padanya adalah Bobby, salah satu kaki tangan terbaik yang pernah dimiliki Taecyeon, pria tinggi dengan tato ular di lehernya itu selalu memberikan informasi terbaik dan akurat selama bekerja dengannya.

Seperti malam ini contohnya, kurang dari tiga puluh menit dia meminta data tentang Oh Sehun dan Ko Donghoon, maka tiga puluh menit kemudian tak hanya data Oh Sehun yang didapatkannya tapi juga Luhan dan beberapa orang terdekat Sehun yang bahkan tidak pernah ditemui Taecyeon sebelumnya.

"Lalu apa hubungan Luhan dengan Donghoon?"

Bobby terlihat memberikan kertas yang lain, kali ini dilengkapi beberapa foto dengan latar belakang yang terlihat sangat tua hingga pertanyaan terlontar dari bibir Taecyeon "Siapa pria ini?"

"Ayah kandung Luhan sekaligus detektif yang menangani kasus Donghoon dua puluh tahun yang lalu."

"Mwo?"

"Kasus ini sempat berhenti untuk beberapa tahun karena pengunduran diri Detektif Xi dari kejakasaan dan kantor pusat detektif di Beijing dan Seoul. Tapi belum lama ini, tepatnya dua tahun yang lalu, sepertinya detektif Xi memulai kembali penyelidikan tentang Donghoon, kali ini dia mendapatkan data lengkap dari Main Source milik organisasi Donghoon dan siap melakukan penyelidikan ulang terkait bisnis gelap Donghoon dan pembunuhan yang dilakukan saingan anda Presdir Ok."

"Lalu?"

"Lalu disaat yang sama pula Detektif Xi dikhianati oleh seseorang yang dianggapnya seperti putra sendiri." Katanya mengeluarkan foto lain dan menampilkan sosok familiar yang dikenal Taecyeon sebagai "TOP?"

"Anda benar dan sepertinya rencana yang dilakukan Jaksa Oh serta Detektif Xi bisa dikatakan mengalami kegagalan yang mengakibatkan kematian detektif Xi."

"Apa yang mereka rencanakan?"

"Keduanya sepakat untuk memancing kedatangan Donghoon dengan memasukkan Detektif Xi kedalam penjara, tak ada siapapun yang mengetahui rencana mereka, tidak kejaksaan tidak pula kedua putra mereka, Sehun dan Luhan. Hal ini juga sempat memicu ketegangan antara Sehun dan Luhan mengingat Jaksa yang memenjarakan Detektif Xi adalah ayah kandung Sehun."

"Dan apa yang terjadi?"

"Seperti yang kukatakan di awal detektif Xi dikhianati oleh TOP, pria yang sudah dianggapnya sebagai putra sendiri tega membunuhnya tepat di penjara kejaksaan. Saat itu Ravi adalah hakim jaksa yang bertugas, yang memberikan akses penuh pada TOP hingga dengan mudahnya TOP membunuh Detektif Xi malam itu."

"Apa perintah yang diberikan kepada TOP saat itu?"

"Membunuh detektif Xi dan mendapatkan usb yang akan dijadikan barang bukti di pengadilan."

"usb?"

"Ya, usb yang berisi tentang penyelundupan wanita dan anak-anak dibawah umur yang dilakukan Donghoon serta beberapa kasus pembunuhan dan penjualan senjata api secara ilegal. Semua dimiliki Detektif Xi dalam usb tersebut."

"Dan TOP mendapatkannya?"

"Sayangnya tidak, pihak kejaksaan memberikannya pada Luhan tepat satu hari setelah pemakaman detektif Xi dan istrinya dilakukan. Dan semenjak itu pula Luhan adalah target Donghoon karena memiliki usb tersebut."

Entah mengapa Taecyeon memberikan reaksi tak wajar untuk Bobby, kedua tangan bosnya terlihat mengepal dengan rahang yang menggertak kuat giginya, entah apa yang terjadi, tapi saat nama Luhan disebutkan menjadi target utama Donghoon, reaksi Mafia paling menakutkan di tiga negara Seoul, Tokyo dan Beijing itu bahkan tidak seperti biasanya yang tenang namun mematikan.

"Presdir? Anda baik-baik saja?"

"Lalu dimana usb itu saat ini?"

"Luhan masih memiliki usb itu dari informasi terakhir yang saya dengar."

"Jadi kau ingin mengatakan selama usb itu masih ada pada Rein, Donghoon akan tetap menjadikannya target?"

Sepertinya Bobby mengerti mengapa Taecyeon terlihat gusar, mungkin karena Luhan memiliki wajah yang menyerupai mendiang istrinya, atau dia hanya salah menebak? Bukan karena Luhan memiliki wajah mendiang Rein tapi karena seorang Ok Taecyeon nyatanya terobsesi dengan Luhan bukan dengan istrinya.

"Apa anda mengkhwatirkan Luhan?"

"JANGAN PERNAH MEMANGGILNYA LUHAN KARENA DIA ADALAH REINI! DAN YA! TENTU SAJA AKU MENGKHWATIRKAN REIN, DIA ISTRIKU!"

Bohong, selama hampir dua puluh tahun Bobby mengenal Taecyeon, tak pernah sekalipun Taecyeon gusar jika seseorang mengganggu Rein semasa hidupnya. Dia cenderung tenang dan tidak banyak berteriak seperti ini, hal ini cukup membuat Bobby menyadari satu hal bahwa daripada Rein, istrinya sendiri, Taecyeon lebih mencintai Luhan, pria yang hanya menyerupai Rein namun nyatanya berhasil mengambil seluruh hati Taecyeon.

"BOBBY!"

Dia benar-benar mencintai Luhan, batin Bobby sebelum menjelaskan satu hal terakhir yang harus diketahui Taecyeon bahwa "Alasan mengapa bisnis Donghoon mulai menyaingi grafik dari bisnis kita adalah karena bajingan tua itu memiliki aparat keamanan negara disisinya."

"Apa maksudmu?"

"Dia aman, bisa dikatakan dia memiliki kebal hukum terhadap jenis apapun transaksi dan bisnis ilegal yang dilakukannya."

"Lalu?"

"Singkatnya seperti ini, selama hampir dua bulan mereka hidup layaknya raja yang tak lagi perlu bersembunyi dari pihak kepolisian, sebaliknya, Donghoon bahkan dilindungi dari tuduhan jahat mengingat tak ada bukti yang kuat. Setidaknya hidup bak raja yang mereka jalani menjadi sempurna karena kematian Luhan." Taecyeon mendengarkan seksama sampai kaki tangannya berkata "Lalu menurutmu apa yang akan Donghoon lakukan jika dia mengetahui Luhan masih hidup dan memegang kunci dari semua hidup nyaman yang telah dia rasakan hampir tiga bulan berlalu?"

Barulah Taecyeon menyadari satu hal, Donghoon tidak akan tinggal diam dan hal gila yang terjadi malam ini hanya seperti umpan untuk Luhan "Jadi menurutmu Sehun hanya dijadikan umpan agar Luhan datang dan menyerahkan diri serta barang bukti yang dimilikinya?"

"Tepat Bos, itu yang diinginkan Donghoon."

Dan seketika itu pula raut wajah Taecyeon lebih murka dari sebelumnya, dia bahkan terlihat sangat gusar hanya untuk mengumpat "bajingan!" pada saingannya di bisnis mengerikan yang dia jalani.

Donghoon nyaris tak pernah mengusiknya lagi sejak tiga tahun terakhir, tapi malam ini secara tak langsung Donghoon mengusiknya melalui Luhan, membuat kedua tangan Taecyeon terkepal erat dengan kemutlakan perintah "Pastikan orang kita menjaga Rein, pastikan anak buah Donghoon atau Donghoon sekalipun tidak bisa meletakkan tangannya bahkan di anak rambut Rein. Kau harus memastikan itu atau akan membunuh kalian dengan tanganku sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi pada Rein, istriku." Titahnya penuh penekanan hingga membuat Bobby meyakini satu hal bahwa Taecyeon benar-benar jatuh ke dalam pesona Luhan dan menutupinya dengan membawa nama Rein sebagai pengalihan bahwa cintanya hanya untuk mendiang istri yang tak pernah dicintainya sampai seperti ini ketika Rein yang asli masih hidup.

"Baik." Jawabnya,

.

.

Sementara itu…

.

Selain Sehun, kau tidak boleh mempercayai siapapun.

Hanya Sehun yang bisa kau percaya, anakku.

Tatkala pesan terakhir ayahnya menggema di dalam mimpi dan kepalanya, Luhan membuka terburu kedua mata yang sebelumnya dipaksa terpejam. Peluh membasahi wajah dan seluruh tubuhnya diiringi suara berat nafas yang bersahutan karena rasa takut yang tak pernah dirasakannya lagi selama tiga bulan.

Rasa takut yang coba dilupakannya kini sepenuhnya kembali dia rasakan, semua, tanpa terkecuali. Ingatan dimana dia harus berada di sebuah kebakaran besar bersama ayah suaminya dan Seunghyun lalu berakhir dibuang ke laut oleh pria yang pernah dianggapnya sebagai kakak.

Tak berhenti sampai situ, dia bahkan mengingat pertama kali Taecyeon menemukannya di tepi pantai yang dikelilingi gudang tua mengerikan, kali pertama dia bertatap muka dengan Taecyeon dan memohon agar ditolong.

Lalu semua itu beralih saat kedua matanya terbuka di sebuah rumah sakit dan untuk kali pertama identitasnya dirumah menjadi Rein saat dia tidak bisa mengingat apapun tentan siapa dirinya, saat rasa sakit di kepalanya begitu hebat karena dia mencoba mengingat, semua samar saat itu tapi kini Luhan bisa mengingat semuanya dengan baik termasuk mengingat "Sehun!" yang belum lama dibawa pergi oleh Taeyon dan Ravi.

Dia pun berlari dari tempat tidur nyaman yang entah milik siapa, mencoba meraih pintu kamar dan samar mendengar percakapan dua pria yang ditebaknya adalah Taecyeon bersama seorang pria yang diketahui Luhan sebagai kaki tangan dari Taecyeon.

"Lalu bagaimana dengan Sehun? Apa kita akan membiarkannya?"

"Sehun…."

Perlahan Luhan melangkah keluar dari kamar nyaman yang dia ketahui bukan tempat seharusnya dia berada saat ini. Dia harus berada dipelukan Sehun, berharap Taecyeon bersedia membantunya walau berakhir harus menelan kecewa saat mendengar jawaban

"Tidak, jika Donghoon membunuhnya itu akan lebih bagus untukku." Tangan Luhan terkepal dengan air mata putus asa membanjiri wajahnya, dia bahkan terlalu naif berfikir Taecyeon akan membantunya menolong Sehun hingga kalimat menjijikan dia katakan "Aku tidak peduli pada pria itu, yang aku pedulikan hanya Rein dan-….."

"DAN AKU BUKAN REIN!"

Hingga membuat Luhan kehilangan kendali atas rasa sabarnya. Sejak awal saat dia tidak mengingat apapun dia tidak suka dipanggil Rein, terlebih malam ini saat dia mengingat semuanya maka Rein hanya seperti boneka yang dipaksa hidup oleh Taecyeon dan itu membuatnya muak.

"Rein? Apa yang kau katakan?"

Taecyeon terkejut, dia bahkan segera berdiri dari kursi singgasananya untuk bertatapan langsung dengan kedua mata Luhan yang dipenuhi kegusaran, hatinya cemas mengingat tak pernah sekalipun Luhan mengelak dirinya adalah Rein, berbeda dengan malam ini, teriakan Luhan terlalu lantang hingga membuat hati Taecyeon mencelos sakit terlebih ketika Luhan mengatakan

"Aku sudah mengingat semua, SEMUANYA! Siapa diriku, siapa kau, siapa Sehun dan identitas palsu yang coba kau berikan padaku. Aku mengingatnya dengan jelas bahwa diriku adalah Luhan, OH LUHAN DAN SEHUN ADALAH SUAMIKU!"

"ha ha…."

Taecyeon tertawa miris saat tahu ketakutannya menjadi nyata, dia bahkan tidak bisa berkata apapun bahkan saat sosok mungil Luhan menghampirinya dan menatapnya tegas di kedua mata miliknya yang terlihat cemas dan gusar "Tidak bisakah aku kembali pada kenyataan siapa diriku? Tidak bisakah kau membantuku untuk mendapatkan suamiku lagi? aku mohon," Luhan sekuat tenaga menyembunyikan rasa marahnya untuk memohon, namun semua kerendahan hati yang sedang dibuatnya tulus dipatahkan lagi oleh suara sarkas tanpa rasa bersalah Taecyeon saat dia bertanya "Untuk apa aku menolong bajingan itu?"

"Kau….."

"Tidak peduli siapa kau, Luhan atau Rein, aku akan tetap memilikimu, kau tidak tahu seberapa berkuasa aku atas hidup seseorang dan kau hanya akan merangkak memohon agar aku melindungimu dari Donghoon."

Tangan Luhan terkepal erat, sungguh, hatinya cemas memikirkan bagaiamana suaminya saat ini, lalu tiba-tiba saat dia sedang memohon bantuan pada pria arogan didepannya, Taecyeon dan keangkuhannya mengatakan omong kosong yang membuatnya begitu muak dan ingin memukul wajah yang berkali-kali menjauhkannya dari Sehun saat dia tidak mengingat apapun.

"Kau salah, aku tidak akan pernah merangkak memohon perlindunganmu, kau tahu kenapa? Karena jika sesuatu terjadi pada suamiku malam ini, sesuatu yang buruk." Lirihnya dipenuhi air mata lalu menatap tegas pada pria berfikiran sempit seperti Taecyeon "Aku lebih memilih mati daripada bertahan hidup tanpa suamiku." Tegasnya lalu berlari pergi keluar dari markas penuh penjagaan.

"Bos."

Bobby mengingatkan, lalu Taecyeon berteriak "LUHAAAAN!" yang untuk pertama kali keluar dari bibirnya setelah berkali-kali dia memanggil Rein untuk menutupi kebohongan dari siapapun yang mengenalnya.

Luhan pun berhenti melangkah, sekilas dia merasa seluruh tubuhnya bergeming takut saat Taecyeon memanggilnya dengan Luhan, hal itu membuatnya begitu ragu untuk menoleh lalu tawaran keji itu kembali disebutkan Taecyeon untuknya "Baiklah, aku akan menolong bajingan itu. Tapi kau harus hidup denganku setelah anak buahku berhasil menolong Sehun, bagaimana?"

Yang mana hal itu membuat kemarahan hati Luhan semakin meluap, dia bahkan melupakan ketakutannya menatap Taecyeon untuk menoleh dan menatap tegas pada Taecyeon "Lebih baik kau bunuh aku daripada kau membawaku pergi dari Sehun!"

Awalnya dia berfikir Luhan tidak akan menolak penawarannya, namun tebakannya meleset jauh dari dugaannya, karena daripada menerima, Luhan bahkan terlihat sangat marah karena tawaran yang dia ajukan untuknya.

"JANGAN BIARKAN DIA PERGI!"

Bobby berteriak, namun Taecyeon menahan tangannya untuk memberi perintah "Biarkan dia pergi."

"nde?"

Taecyeon terlihat lebih diam dan tak memaksa, hal itu membuat Bobby semakin tak mengerti apa yang diinginkan tuannya, terlebih saat pria berkulit tan itu kemudian berkemas seperti bersiap ke suatu tempat "Kemasi barangmu juga dan ikuti aku, kita akan pergi ke suatu tempat."

.

.

.

.

.

.

.

.

"Apa kau bilang? Taeyong?"

"Ya bos, mereka mendapatkan Sehun menggunakan Taeyong."

Jika di Markas Taecyeon dipenuhi teriakan murka dan ancaman, maka hal tak berbeda juga terlihat di sebuah gudang tua yang dijadikan Doojoon sebagai tempatnya untuk bekerja dan melakukan transaksi.

Lima menit yang lalu Ravi baru saja memintanya datang ke markas utama Donghoon, entah apa yang diinginkannya tapi dia menolak lalu bajingan kecil itu menyebut nama Taeyong dan Sehun sekaligus hingga membuatnya terpaksa mencari tahu dan menggeram saat anak buahnya memastikan bahwa Taeyong sendiri yang membawa Sehun pada Ravi.

"bajingan apa yang dia inginkan?"

Dan hal itu seolah membuat Doojoon tak memiliki pilihan lain selain bersiap datang dan memastikan bahwa Ravi tidak melakukan hal gila baik pada Taeyong maupun pada pria yang meyakini bahwa Luhan masih hidup dan telah bersamanya.

"Bawa beberapa penjaga dan sisanya tinggal dengan Seunghyun."

"Baik."

Doojoon bersiap dipenuhi hati dengan firasatnya yang buruk, dia juga meletakkan tiga senjata api di sisi belakang tubuh dan mantel hitam yang digunakan, satu pisau di saku kecil hanya untuk berjaga-jaga jika tujuan Ravi tak hanya untuk menghancurkan Sehun tapi juga dirinya.

"Dan jika benar kau melakukan hal itu, kupastikan kau lebih dulu menghembuskan nafas terakhirmu bajingan!"

Doojoon menatap cermin, memastikan bahwa dirinya siap untuk berhadapan dengan Ravi hingga satu bayangan lain terlihat di cermin dan itu cukup membuat kedua matanya terbuka lebar saat melihat sosok yang dikatakan Sehun masih hidup dan kini tengah berdiri tepat di belakangnya.

"Luhan."

Awalnya dia berfikir sosok Luhan hanya halusinasi yang akan hilang saat dia menoleh. Tapi lihatlah saat ini, saat dia menoleh dan Luhan masih tetap berdiri di depannya, matanya menatap tak percaya sementara bibirnya kelu bertanya "Jadi benar? Kau masih-…"

"PEMBUNUH!"

Itu adalah hal pertama yang diteriakkan Luhan saat melihat Doojoon, sungguh, terlepas dari kenyataan bahwa dia membutuhkan Doojoon untuk suaminya, Luhan sangat tergoda untuk mencabut jantung pria didepannya agar berhenti bernafas.

Melakukan hal yang sama keji dan mengerikan seperti yang dilakukannya pada mendiang sang mama. Tangan Luhan mengepal erat, dia berlari mendekati Doojoon hanya untuk memberikan pukulan sekuat tenaga yang dia tahu tak seberapa dirasakan Doojoon.

Setidaknya bajingan itu tersungkur, setidaknya rasa marah dihatinya sedikit hilang melihat bagaimana menderita Doojoon saat melihatnya, dia benar-benar ingin memukul bajingan di depannya lagi dan lagi sampai tiga orang penjaga Doojoon datang dan mulai mengarahkan senjata padanya.

"DIMANA SEHUN?"

Dia bahkan tidak mempedulikan beberapa anak buah Doojoon yang mengarahkan senjata ke arahnya, yang Luhan lakukan hanya ingin mengetahui kebenaran menyakitkan bersamaan dengan ingatan pedih yang kembali dia dapatkan.

"hey, siapa kau?"

Satu penjaga Doojoon bertanya dibalas teriakan "BAJINGAN! TURUNKAN SENJATA KALIAN!" yang mana hal itu membuat tiga penjaganya terkejut dan menurunkan cepat senjata mereka "PERGI KALIAN!" tak lama semua menghambur pergi meninggalkan Doojoon berdua dengan Luhan yang tak diliputi rasa takut sedikit pun.

"Luhan aku bisa jelaskan dimana Sehun, tenang dan dengar-….."

"sial! CEPAT KATAKAN DIMANA SEHUN?"

Lucunya Doojoon merasa sesak meski cekikan Luhan dilehernya tidak terasa sakit sedikitpun, dan setelah matanya menangkap mata Luhan yang dipenuhi kemarahan dan rasa takut barulah dia mengerti darimana datang rasa sesak dihatinya.

Itu adalah ungkapan rasa bersalahnya pada Luhan, kasarnya dia menyesal telah membunuh wanita yang dipanggil Mama oleh pria cantik didepannya, mengira Luhan akan menjadi miliknya setelah kepergian kedua orang tuanya yang justru berbalik kebencian untuknya.

Doojoon tahu rasa takut itu ditunjukkan Luhan karena mereka membawa Sehun pergi, dia juga tahu jika bukan karena Sehun mungkin Luhan sudah mengambil pisau dan menikamnya tepat dijantung.

Mungkin,

Dan dari semua hal itu satu yang diyakini Doojoon bahwa Luhan tidak akan bertindak sejauh itu walau rasa benci untuknya sudah menutupi segala hal baik yang pernah dilakukannya. Luhan membencinya tapi Luhan membutuhkannya untuk Sehun dan Doojoon bersumpah akan melakukan segala cara untuk membawa Sehun kembali pada Luhan.

"JAWAB AKU!"

Cekikan Luhan semakin kencang hingga membuat merah wajah Doojoon yang berbisik samar mengatakan "Aku akan membawa Sehun kembali padamu." bisiknya berjanji direspon Luhan dengan merenggangkan cekikannya di leher Doojoon secara perlahan "Aku janji padamu."

"buktikan…..Bawa Sehun padaku tanpa satu kekurangan apapun!"

"Aku akan membuktikannya. Aku akan membawa Sehun padamu tanpa kekurangan satu apapun."

Luhan merasa sedikit lebih tenang, dia bisa merasakan ketulusan dari ucapan yang ditunjukkan Doojoon padanya, walau hatinya enggan mempercayai pembunuh ibunya setidaknya dia meyakini bahwa kali ini Doojoon tidak akan menghianatinya lagi seperti dulu.

"Bawa aku bersamamu."

Menatap lirih pada Luhan, Doojoon terpaksa mengatakan "Kau tidak bisa ikut denganku."

"APA YANG KAU BICARAKAN? KENAPA AKU TIDAK BISA IKUT DENGANMU!"

Doojoon berusaha setenang mungkin menghadapi kemarahan Luhan, dia tidak sedang mencari alasan dan hanya memberikan kebenaran tentang kemungkinan yang akan terjadi jika Luhan ikut bersamanya "Kau tahu mereka akan menghabisi Sehun tanpa ragu jika kau muncul disana."

"Apa maksudmu? Apa yang mereka inginkan dariku? Dari Sehun?"

"Bukan kau atau Sehun yang dia inginkan, tapi usb yang kau miliki dari mendiang ayahmu, hanya itu satu-satunya yang Donghoon inginkan darimu Lu!"

"usb?" Luhan mencoba mengingat apa yang dimaksud Doojoon hingga bayang samar ayah Sehun terlintas di ingatannya "Jika kau masih memiliki benda sialan itu aku mohon berikan padaku, biarkan aku mengurus sisanya."

"Setelah aku menyerahkannya padamu lalu apa? Apa kau akan menyingkirkan aku seperti kau menyingkirkan kedua orang tuaku?" dia menyindir, mengingat dengan jelas bahwa usb itu ada di ayah Sehun sementara Doojoon menatapnya sendu dengan tatapan tulus yang selalu dilihat Luhan sejak mereka saling mengenal satu sama lain. "Kau adalah pengecualian dari semua orang yang mungkin aku bunuh dengan kedua tanganku sendiri. Tidakkah kau bisa melihatnya? Aku sangat mencintaimu dan hidupmu sangat berharga untukku bahkan melebihi hidupku sendiri."

"Kau sangat menjijikan."

Pengakuan Doojoon hanya membuat jarak yang semakin jauh diantara mereka, Luhan bahkan merasa mual mendengar pengakuan dari pembunuh ibunya, membuat kebencian tak bisa lagi disembunyikan Luhan dari hati dan raut wajahnya.

"Baiklah, jika benar hidupku berharga untukmu, jika benar kau mencintaiku, pastikan aku tidak pernah melihat wajahmu lagi setelah kau membawa Sehun padaku, kau dengar? KAU DENGAR YOON DOOJOON?"

Doojoon menatap sendu pada Luhan, menikmati segala rasa benci Luhan untuknya yang terlalu baik Luhan berikan padanya, harusnya Luhan memberikan lebih dari sekedar rasa benci, harusnya dia tak ragu untuk menghabisi nyawanya, tidak, Doojoon bahkan lebih memilih Luhan agar membunuhnya daripada harus membencinya.

Hal itu membuatnya tahu diri dan lebih memilih untuk membawa Sehun pada Luhan secepatnya, membawa kebahagiaan yang tidak akan pernah bisa dia berikan untuk Luhan "Sebaiknya kau masih memiliki usb itu, setidaknya aku tahu pada siapa fokus Donghoon tertuju, dia akan terus menggunakan Sehun dan orang-orang terdekatmu, jadi berikan padaku jika kau siap."

"Kemana kau akan pergi?" Luhan memastikan dibalas senyum kecil Doojoon yang menjawab "Membawa Sehun kembali padamu, itu janjiku."

.

.

.

.

.

.

Sementara itu…

.

"BUKA MATAMU BAJINGAN! AAARRGGHH!"

"Taeyong…"

"JANGAN PANGGIL NAMAKU!"

Tangan remaja berkulit pucat itu kembali terkepal, kali ini dengan balok yang digenggam dia mengayunkannya tepat ke dada suami dari mendiang kakaknya, memukulnya membabi buta seolah ketidakberdayaan Sehun adalah hal yang paling dinantinya seumur hidup

Urggh~

Darah segar kembali dikeluarkan Sehun, entah sejak kapan Taeyong memukulnya, yang diingat Sehun semenjak dia membuka mata hingga kini kesadarannya coba dihilangkan adik dari istrinya, Sehun bisa mendengar seringai menjijikan berasal dari seseorang yang sedang menatap puas melihat Taeyong tak memberi jeda untuk memukulnya.

"BUKA MATAMU!"

Dan ketika perintah yang sama disuarakan, perlahan Sehun membuka matanya, rasanya berat, mungkin karena kantung matanya sudah lebam tak berbentuk, atau mungkin seluruh organ vital didalam tubuhnya mulai mengalami luka serius, entahlah, dia hanya merasakan kram diseluruh tubuh terlebih saat kedua tangannya diikat menggantung dengan kakinya yang lunglai yang harus menopang tubuh besarnya.

"tae-Taeyong." Dia mencoba bersuara lagi, namun sial sepertinya dendam Taeyong terkesan dalam untuknya, kekasih adiknya itu benar-benar tidak memberikannya sedikit waktu untuk bernafas dan terus memukulnya sampai kepala Sehun tertunduk nyaris tak sadarkan diri.

"HANYA BEGINI KEKUATANMU? SEKARANG AKU TAHU ALASAN MENGAPA LUHAN HYUNG TEWAS MENGERIKAN! KAU BENAR-BENAR TAK LAYAK MENDAPATAKAN HYUNGKU!"

Dia berteriak marah melihat kepala Sehun tertunduk, harusnya Sehun melakukan sesuatu untuk membela diri, mengatakan sesuatu, bukan terus memanggil namanya dan terlihat menyesali semua yang telah dilakukannya pada Luhan, hal itu membuat Taeyong begitu geram, tangannya sudah mencengkram kuat balok yang sedari tadi dia gunakan untuk memukul Sehun, mengincar bagian tengkuk sampai demi Tuhan, Taeyong bisa mendengar Sehun berbisik

"Luhan masih hidup."

"Mwo?"

Yang mana hal itu sukses membuat cengkraman Taeyong mengendur hanya untuk menatap tak percaya pada kakak dari mantan kekasihnya "Apa yang kau bicarakan?"

"Luhanmasih—uhuk~"

Darah segar dikeluarkan Sehun lagi namun kali ini diiringi teriakan Taeyong "bajingan! BICARA YANG BENAR!"

Sehun mendongakan wajahnya, menatap mata berharap Taeyong disela sesak nafas dan kemampuannya untuk membuka mata "Istriku, kakakmu, Luhan kita, dia masih hidup."

"tidak mungkin…"

"Aku mengatakan yang sebenarnya, dia ada di restaurant tempatmu membawaku."

Dan bersamaan dengan balok di tangan Taeyong yang terjatuh, Ravi bisa melihat keganjalan dari raut wajah Taeyong yang tak lagi dipenuhi kebencian, hal itu cukup menarik perhatiannya sampai seringai tak sabar dia tunjukkan menyadari apapun yang dikatakan Sehun pastilah berhasil menarik perhatian remaja labil seperti Taeyong.

"LEE TAEYONG!"

Taeyong tersentak, dia bimbang dipenuhi harap antara percaya dan tidak dengan yang dikatakan Sehun, lalu suara mengerikan Ravi terdengar memanggilnya hingga membuatnya menoleh dan mulai terprovokasi dengan ucapan Ravi yang mengatakan "Jangan percaya apapun yang dia katakan karena dia sedang berbohong padamu."

"Bohong?"

"Ya tentu saja! Apa dia mengatakan Luhan masih hidup?"

Dengan tatapan bingung Taeyong mengatakan "y-Ya."

"Lalu kau percaya?"

"bajingan…."

Sehun menggeram murka dengan tubuh yang bahkan tak bisa dia topang dengan dua kakinya sendiri, ingin sekali dia membawa Taeyong dan mempertemukannya dengan Luhan, menunjukkan bahwa dirinya tidak berbohong dan menyudahi semua hidup mengerikan yang dijalani Taeyong hanya untuk membalas dendam padanya.

"entahlah."

Lalu remaja itu terlihat ragu pada ucapannya, membuat seringai lagi-lagi terlihat di wajah Ravi yang dengan keji mengatakan "Mungkin benar Luhan masih hidup, tapi dia hidup didalam pikiran bajingan itu! Dia membohongimu karena nyatanya dia adalah pembunuh sebenarnya Luhan, kelalaiannya yang menyebabkan Seunghyun mendapatkan Luhan dengan mudah, ayah kekasihmu yang merupakan ayahnya juga yang membuat Luhan terpaksa datang ke perangkap Seunghyun, dan kau tahu apa yang terjadi? Seunghyun membakarnya hidup-hidup! Karena siapa? KARENA BAJINGAN ITU TENTU SAJA!"

Berhasil!

Ravi memekik penuh kemenangan melihat wajah Taeyong dipenuhi dendam seperti awal dia mendapatkan Sehun, remaja itu juga terlihat memungut balok yang sempat dijatuhkannya untuk mengarahkannya lagi pada Sehun, membunuhnya kali ini

"Kau benar, aku melihat sendiri jasad Luhan hangus terbakar. Kau benar, bajingan ini yang membunuh kakakku—KAU MEMBUNUH LUHAN AAAARGHHH!"

Taeyong memukuli Sehun lagi, kali ini lebih kuat, lebih keji dan menyerang semua titik vital yang bisa membuat Sehun mati seketika, dia tak ingin mempercayai apapun lagi, tidak Sehun, tidak pula Ravi, yang dia inginkan hanya membunuh Sehun lalu mencari keberadaan Seunghyun, dia hanya, dia hanya akan membunuh siapapun yang terlibat dengan kematian Luhan termasuk ayah kekasihnya, ayah bajingan yang sedang dipukulinya saat ini.

ARGGHH~

"MATI KAU OH SEHUN—MATI KAU-…."

"LEE TAEYOOOONGGG!"

Lalu pintu markas Ravi terbuka, menampilkan Doojoon hanya diikuti oleh tiga orang pria berjubah hitam dibelakangnya, perhatian Taeyong sedikit terganggu melihat pria yang pernah menjadi atasan sekaligus bosnya sebelum dia beralih dan bekerja pada Ravi.

"hyung…"

"APA KAU SEORANG PEMBUNUH SEKARANG?"

"huh?"

Taeyong terlihat mendapati sadarnya kembali, sekilas dia melihat tubuh Sehun sudah mengeluarkan banyak darah dan menggantung tak berdaya dengan kedua kaki yang mulai tak bisa lagi menopang tubuhnya.

Pembunuh? Aku seorang pembunuh?

Taeyong mengulangi pertanyaan Doojoon, awalnya dia tak pernah menjadi pembunuh, sekuat apapun Doojoon memintanya menghabisi nyawa seseorang saat dia bekerja untuknya, Taeyong selalu memiliki alasan yang membuatnya harus dipukuli dan terbaring di rumah sakit.

Lalu apa ini?

Tanpa harus diminta, insting membunuhnya sangat kuat, hal itu membuat Taeyong melihat kedua tangannya cukup lama dengan seringai mengerikan terlihat di wajahnya "kau benar hyung." lirihnya, lalu menatap Doojoon begitu dingin "Aku seorang pembunuh." Katanya membenarkan diiringi tawa puas Ravi yang kini bertepuk bangga pada jawaban Taeyong.

"Well done Taeyonga….Kau benar-benar terdengar seperti pembunuh sekarang, mungkin akan melebihi aku atau kakak penghianat yang sedang memberikan ceramah panjang lebar padamu."

"bajingan, APA YANG KAU LAKUKAN PADA TAEYONG?"

Mematikan kasar seputung rokok yang sedah dihisapnya, Ravi berjalan mendekati Doojoon dan mengingatkan hal yang pernah dilakukannya pula pada Taeyong "Aku sedang melakukan hal yang sama yang dulu coba kau ajarkan pada Taeyong, menjadikannya pembunuh dan tepat seperti ucapanmu, insting liar Taeyong sangat mengerikan."

"KAU-!"

"ah, Dan satu lagi sebelum kau mulai menyentuhku aku hanya ingin memberitahu tujuanku memanggilmu kesini."

"Jikalaupun kau tidak memanggilku aku akan tetap datang dan membunuhmu!"

"Benarkah? Mmhh…Menarik mendengar itu dari penghianat sepertimu! Seseorang yang diam-diam menyelidik latar belakang Donghoon hanya untuk mencari kelemahannya."

Doojoon merubah mimiknya menjadi pucat, dia tidak tahu sejak kapan Ravi mulai mencurigainya, yang jelas satu tujuan Doojoon hari ini hanya membawa Sehun dan Taeyong kepada Luhan

"TAEYONG KEMASI BARANGMU DAN KITA PERGI DARISINI!"

Taeyong menolak, fokusnya hanya untuk menghabisi Luhan dan dengan santai dia menjawab ajakan Doojoon "Tidak sebelum dia mati."

"Apa yang kau katakan?"

"Aku bilang aku tidak akan pergi sebelum membunuhnya."

"jika kau membunuhnya, ITU ARTINYA KAU JUGA MEMBUNUH LUHAN!"

"Luhan hyung sudah mati dan dia yang membunuhnya! BUKAN AKU HYUNG!" katanya menggeram marah dan Ravi memberikan final decision pada Taeyong "Kau boleh menembaknya hingga tewas."

Taeyong membuang kasar balok yang digenggamnya, mengambil pistol yang berada di mantel hitamnya untuk mengokang cepat, mengarahkannya pada Sehun sampai suara teriakan Doojoon kembali mengganggu fokusnya.

"JIKA KAU MEMBUNUH SEHUN ITU ARTINYA KAU MEMBUNUH LUHAN!"

"HARUS BERAPA KALI AKU KATAKAN BAHWA LUHAN SUDAH MATI DAN DIA MEMBUNUH HYUNGKU!" Katanya mantap membidik jantung Sehun sampai Doojoon meneriakan sesuatu yang juga diteriakkan Sehun sebelumnya bahwa

"LUHAN MASIH HIDUP!"

Kesal, Taeyong mengarahkan senjatanya pada Doojoon dan balik berteriak "DIAAAM KAU HYUNG!"

"AKU MENGATAKAN KEBENARAN PADAMU! LUHAN MASIH HIDUP DAN DIA MENGINGINKAN SEHUN KEMBALI PADANYA!"

"BOHONG!"

Taeyong melepas pelatuk senjatanya, tembakannya tepat mengenai lengan kanan Doojoon yang membuat sang dokter meringis kesakitan "aku tidak berbohong Tae, Mau bagaimanapun kau adikku dan aku tidak membohongi adikku, tidak lagi."

Kali ini Taeyong menggunakan akal sehatnya, sebelumnya Sehun juga terlihat tulus dan tidak berbohong saat mengatakan Luhannya masih hidup, lalu hal yang sama dikatakan Doojoon hingga membuat kepalanya sakit tak mengerti harus mempercayai ucapan siapa.

"Apa yang kau katakan hyung?"

"Jikalaupun Luhan tewas bukan Sehun yang membunuhnya TAPI RAVI! DIA MENGETAHUI PERTEMUAN LUHAN DENGAN SEUNGHYUN! DIA YANG MEMBERI PERINTAH MEMBAKAR HANGUS MARKAS SEUNGHYUN BUKAN SEHUN!"

Barulah Taeyong menyesali perbuatannya, percaya atau tidak, dia memang pernah mendengar kabar bahwa markas Seunghyun sengaja dibakar tapi bukan karena keinginan Seunghyun, dia pernah mendengar itu sejak dia kembali bergabung dan bekerja untuk Ravi, tapi sungguh, dia tidak pernah menyangka bahwa Ravi yang melakukannya, membakar markas Seunghyun hingga membuat Luhan tewas hangus terbakar.

"Jika bukan Luhan, siapa jasad yang kita makamkan?" tanyanya sendu, dibalas senyum pahit Doojoon "Seunghyun menukar tubuh seseorang dengan tubuh Luhan, menjadikannya seperti Luhan agar mereka berhenti mengejar Luhan!"

"ha ha…."

Taeyong tak bisa berkata, kini tatapannya beralih pada Ravi seolah meminta penjelasan tanpa rasa takut pada pria yang kini menyeringai tanpa dosa "Wae? Apa kau berniat menggigit majikanmu lagi?" tantangnya dibalas balasan dingin Taeyong "Tergantung pada siapa majikanku. Apa benar yang Doojoon katakan?"

"Jika benar apa yang akan kau lakukan?"

Taeyong mengokang lagi senjatanya, kini tanpa rasa takut dia mengarahkannya pada Ravi disambut respon anak buah Ravi yang juga mengarahkan senjatanya pada Taeyong "Membunuhmu tentu saja, sejak awal aku memang berencana menghianatimu! Jadi katakan, KATAKAN APA BENAR KAU YANG MEMBERI PERINTAH MENGERIKAN MALAM ITU!"

"TAEYONG TAHAN DIRIMU!"

Doojoon berdiri dan mengabaikan rasa panas di lengan kirinya, dia ikut mengarahkan senjata pada Ravi dan lucunya tiga orang anak buahnya kini mengarahkan senjata padanya "APA YANG KALIAN LAKUKAN?" bentaknya diiringi tawa puas Ravi yang mengatakan

"AYOLAH YOON DOOJOON! SEJAK KAPAN INSTINGMU KELIRU! APA KAU TIDAK BISA MEMBEDAKAN MANA ANAK BUAHMU YANG SETIA DAN BERHIANAT? Cih, KAU BENAR-BENAR KEHILANGAN SENSE MEMBUNUHMU PENGHIANAT DAN KAU BOCAH TENGIK!" katanya beralih pada Taeyong, menatapnya sangat murka untuk memberitahu kebenaran "Aku juga tidak berniat melepaskanmu malam ini. Karena tebakanku sebentar lagi Luhan akan datang membawa usb yang aku inginkan dan kau serta ketiga kakakmu akan mengenaskan disini, MALAM INI ! KAU DENGAR?"

"BAJINGAAANNN….."

"TAEYONG!"

Jika Doojoon tidak berlari mendekati Taeyong, mungkin kekasih Jaehyun itu sudah terkena tembakan dari penembak jitu Ravi yang mulai menembak melindungi majikannya "LEPAAAS!"

"LEE TAEYONG!" Doojoon memeluk erat adiknya, mencoba untuk mendapatkan kembali adiknya yang selalu mencari cara agar tidak melukai seseorang terlebih membunuhnya, dia ingin Taeyong yang dulu, yang tidak pernah tahu cara melukai apalagi membunuh "Kau harus menahan dirimu jika ingin bertemu dengan Luhan, kau dengar?"

"Luhan hyung, aku mau bertemu dengannya."

"Aku akan segera membawamu pada Luhan, tapi sebelum itu aku butuh ketenanganmu, kita juga harus membawa Sehun dia terluka parah!"

Lalu mata Taeyong menatap nanar pada sosok tak berdaya yang paling dicintai Luhan, tiba-tiba dia merasa takut dan tak tahu harus mengatakan apa jika Luhan mengetahui dia yang membuat Sehun nyaris meregang nyawa, membuatnya mencengkram kuat pundak Doojoon yang juga terluka karenanya hanya untuk menjerit tertahan "aaargghh…."

Dan teriakan gusar Taeyong memancing amarah baru Ravi, dia pun merebut paksa salah satu pistol dari tangan penjaganya untuk mengarahkan pada Sehun dan

DOR~

"Arghhh"

Baik Doojoon dan Taeyong tersentak mendengar suara tembakan, detik berikutnya mereka menoleh dan tak mempercayai kedua mata mereka saat peluru yang ditembakan Ravi berhasil menembus perut Sehun yang kini mengeluarkan banyak darah segar.

"Sehun…."

Taeyong berlari mendekati Sehun sementara Dooojoon mulai mengarahkan senjatanya dan berteriak murka pada bajingan sialan yang kini menyeringai tanpa rasa bersalah sedikitpun

"RAVIIII…"

Dan tentu saja hanya satu perintah Ravi "BUNUH MEREKA SEMUA!" yang membuat seluruh bodyguardnya termasuk ketiga bodyguard Doojoon yang berhianat mulai menembaki mereka membabi buta.

"BUNUH MEREKA SEMUA DAN PASTIKAN LUHAN MELIHAT DARAH KETIGA ORANG YANG DICINTAINYA BERSIMBAH DI LANTAI INI…HA HA HA…"

Taeyong panik, dia kemudian melepas ikatan Sehun, menopang susah payah tubuh kakak dari kekasihnya untuk bersembunyi di balik tembok besar yang ada di markas Ravi.

"Kau akan baik-baik saja! Kau dengar? Kau harus bertahan!"

Rasanya wajar jika Taeyong menangis melihat bagaimana darah segar Sehun membanjiri hampir seluruh tubuhnya, luka tembak di perutnya tidak mau berhenti dan hanya Doojoon yang bisa membantu menghentikan pendarahannya.

"HYUNG!"

Namun sial sepertinya Doojoon harus menghadapi puluhan penjaga Ravi dengan kedua tangannya sendiri, terlebih saat lengan kiri Doojoon terluka hingga menghambat pergerakannya.

"sial!"

Niatnya membantu Doojoon tapi tangan Sehun diam-diam menahannya untuk menggeleng lemah, memohon padanya "ber-berbahaya, jangan pergi."

"Hanya Doojoon yang bisa menghentikan pendarahanmu."

Sehun menggeleng lagi "Tidak apa, tetaplah disini."

"Aku yang tidak akan baik-baik saja jika sesuatu terjadi padamu! Bicaramu bahkan sudah terbata." Katanya ketakutan, berniat untuk membantu Doojoon sebelum lagi-lagi Sehun menahan sekuat tenaganya, dia terlihat sangat kesakitan dan justru memohon padanya "Setidaknya salah satu dari kita harus selamat, jebal Taeyonga, adikku membutuhkanmu, bahkan Luhan-…."

Semua mulai terasa gelap untuk Sehun, terakhir yang dia dengar adalah teriakan Taeyong serta suara tembakan bercampur dengan suara menjijikan Ravi yang tertawa seolah merayakan akhir dari hidup mereka bertiga.

"ANDWAAAEE! KAU HARUS TETAP MEMBUKA MATAMU! Hey…..HYUUUNGGG!"

Doojoon tahu teriakan Taeyong berkaitan dengan luka tembak Sehun, sial, dia bahkan tidak bisa bergerak sedikitpun dari kepungan anak buah Ravi, peluru di senjatanya bahkan telah habis hingga pertahanan terakhir Doojoon hanya terus memukul berharap bisa mendekati Sehun dan Taeyong berada.

"JANGAN HANYA FOKUS PADA DOOJOON! CARI KEDUA BAJINGAN YANG LAIN!"

"andwae…."

Doojoon ingin bertindak, melakukan apapun sampai pintu markas Taeyong terbuka kasar menampilkan beberapa orang yang juga mengenakan jubah hitam diikuti banyak penjaga yang memiliki postur tubuh dua kali lebih besar dari milik Ravi.

Entah siapapun yang datang, Doojoon hanya berharap itu bukan Luhan dan setidaknya dia bisa bernafas lega saat suara orang asing yang terdengar mengejek bagaimana Ravi mencoba membunuh tiga orang dengan jumlah yang sangat tidak seimbang.

"tsk….Memalukan, begini caramu membunuh Kim Wonshik? Ah, atau aku harus memanggilmu Ravi? Rasanya aneh bibirku memanggil pecundang memalukan sepertimu!"

Ravi terlihat takut namun ditutupi dengan nada kesombongan khas miliknya untuk mempertahankan diri seperti biasa "SIAPA KAU? BERANI SEKALI KAU DATANG KE MARKASKU!"

"siapa aku? Menarik."

Pria itu terus melangkah mendekat, melewati banyak penjaganya hanya untuk menunjukkan wajahnya yang diikuti respon panik Ravi dan tatapan tak percaya Doojoon.

"Kau! / Kau?"

Keduanya memberikan ekspresi yang sama melihat kedatangan satu-satunya Mafia yang diwaspadai Donghoon hingga saat ini, bertanya-tanya apa yang dilakukan pria yang terkenal keji bahkan hanya dengan satu jari telunjuknya untuk mendengar pertanyaan mutlak dipenuhi nada marah disuaranya.

"Dimana Sehun?" tanyanya tenang, namun tak bisa menyembunyikan rasa tak suka saat menyebut nama Sehun.

"APA URUSANMU DENGAN SEHUN? KAU BAHKAN TIDAK BERHAK BERADA DISINI OK TAECYEON!"

Mendengar namanya disebut dan keluar dari bajingan menjijikan sekelas Ravi hanya membuat sang master, Taecyeon tertawa sengit dan bertanya "Aku berhak atas apapun termasuk nafasmu, Ravi."

"bajingan!"

"JAWAB AKU DIMANA SEHUN?"

Sontak Doojoon mengambil kesempatan untuk memberitahu "DIA TERLUKA PARAH! DISANA!"

Taecyeon melihat banyak darah di tempat Doojoon menunjuk, membuat perhatian pria itu beralih pada Doojoon yang dia kenal adalah seorang profesor di rumah sakit ilegal di Tokyo saat mereka bekerja sama.

"Yoon Doojoon?"

Doojoon hanya meringis kesakitan seraya mengangguk membenarkan "Aku Doojoon."

"Seingatku kau dokter?"

"YA! DAN AKU BISA MENOLONG SEHUN SEBELUM SEMUANYA TERLAMBAT!"

"sial! Sebenarnya aku menginginkan bajingan itu mati, tapi aku tidak bisa, Luhan hanya akan semakin membenciku."

Tak mengerti, Doojoon mengulang "Luhan?"

"Rein maksudku, istriku." Katanya bersikeras dan menunjuk ketempat Sehun berada "Selamatkan dia, pastikan pria itu bernafas dan tetap hidup. Kau dengar?"

"Tentu."

"CEPAT SELAMATKAN DIA!"

Merasa berterimakasih, Doojoon segera berlari menghampiri Taeyong, mencoba memeriksa kondisi Sehun namun sial kondisi vital Sehun tidak menunjukkan respon yang bagus "Hyung bagaimana ini? Apa dia akan mati?"

"tidak, Dia tidak boleh mati."

Doojoon merobek kasar kemejanya, menyumpal luka tembak Sehun dengan kemejanya walau darah terus mengalir tak mau berhenti "TAECYEON! AKU HARUS MEMBAWANYA KE RUMAH SAKIT!"

Taecyeon mendengarnya lalu memerintahkan Bobby untuk menyiapkan mobil dan penjagaan ketat pada Sehun "Kau mendengarnya."

"Baik bos."

Beberapa anak buah Taecyeon mulai menghampiri Sehun, mencoba untuk menolongnya namun dibalas teriakan Ravi "KENAPA KALIAN HANYA DIAM? BUNUH MEREKA SEMUA!"

Lalu baku tembak dan saling memukul tak terhindarkan, beberapa penembak jitu Ravi mulai membabi buta menembakan isi pelurunya, semua pergerakan anak buah Taecyeon sempat terganggu sampai Taecyeon turun tangan dan memberi perintah.

"SELAIN RAVI HABISI MEREKA SEMUA!"

Keadaan berbalik saat ini, entah seberapa banyak Taecyeon membawa penjagaan malam ini, tapi yang jelas setelah perintah dikeluarkan maka puluhan anak buah Taecyeon yang lain datang menerobos markas Ravi.

Tiga penembak jitu Ravi mati seketika, membuat pembunuh sialan itu bergeming ketakutan dan mulai mencari cara untuk meloloskan diri.

"LARILAH RAVI! LARI DAN BERSEMBUNYI SEBELUM AKU MENDAPATKANMU TIKUS KECIL!"

Taecyeon memperhatikan bagaiaman Ravi mulai menjadi pengecut, berusaha ke segala arah melarikan diri namun percuma karena seluruh penjaga Taecyeon sudah berkumpul untuk membunuh satu-satunya pria yang membuat Luhan mengatakan kalimat "menjijikan" beberapa jam yang lalu.

"BERLARILAH KARENA SEBENTAR LAGI AKU AKAN MEMBUNUHMU!"

Lalu tak sengaja matanya melihat wajah Sehun yang nyaris berwarna biru, sepertinya tidak ada tanda kehidupan dari pria itu, harusnya Taecyeon senang, tapi lagi-lagi wajah Luhan terlintas di pikirannya dan itu membuatnya berteriak

"CEPAT SIAPKAN AMBULANCE UNTUKNYA!"

Bukan mobil perintahnya kali ini, tapi ambulance yang berhasil membuat Doojoon sedikit bernafas karena akan ada oksigen dan beberapa alat yang dibutuhkannya sebelum masuk ke ruang operasi.

"Mereka akan menjaga kalian hingga ke rumah sakit, pastikan dia selamat." Bobby memberitahu dibalas anggukan Taeyong sementara Doojoon mulai merobek seluruh kemeja Sehun dan memberikan bantuan pertama untuk Sehun.

"Buka kotak itu dan ambil vial efinefrin, kita harus membuat tubuhnya syok agar merespon."

Gugup, Taeyong mulai mencari apa yang diminta Doojoon, dia juga bisa melihat wajah Doojoon berkeringat dan menahan sakit karena lengannya sendiri terus mengeluarkan darah akibat ulahnya. Membuat hati Taeyong dipenuhi rasa bersalah untuk bergumam

"Maaf aku melukaimu hyung."

Doojoon terlihat cemas pada kondisi Sehun namun tetap tersenyum menjawab maaf adiknya "Maaf karena aku tidak segera mencarimu setelah pemakaman palsu untuk Luhan."

"hyung…."

"Aku tidak butuh maaf, aku butuh adikku dan Luhan, jadi bisa kau hubungi Luhan untukku?"

"nde?"

"Dia harus diberitahu tentang kondisi Sehun, Luhan menunggu."

"Apa Luhan hyung akan memaafkan aku?"

Sepertinya Doojoon tak bisa lagi menjawab pertanyaan Taeyong, tubuh Sehun tidak merespon bahkan setelah suntikan pemicu syok diberikan, hal itu membuatnya panik dan segera melakukan cpr mengingat oksigen di tubuh Sehun mulai menipis "HEY! KAU HARUS BERTAHAN OH SEHUN!"

"HYUNG APA YANG TERJADI?"

"JALANKAN MOBILNYA LEBIH CEPAT!"

.

.

.

.

.

Jika Doojoon sedang memperjuangkan hidup Sehun, maka kini keadaan berbalik di markas Ravi, karena jika sebelumnya Sehun yang diikat menggantung di tiang yang disediakan Ravi, maka kali ini sang pemilik terlihat tak berdaya saat dengan mudah anak buahnya menggantungkan kedua tangannya persis seperti dia menggantungkan Sehun.

Tak lupa Taecyeon melumuri wajah Ravi dengan darah Sehun seolah mengingatkan pada siapa kesalahan itu terjadi "Kau tahu? Aku berniat berterimakasih padamu saat kau menyekap Sehun dan membawanya pergi dari restaurant beberapa jam lalu, sungguh." katanya mengitari Ravi, melumurkan darah Sehun ke wajahnya seraya mencengkram kuat rahang Ravi "Tapi sayangnya aku tahu rencana busuk yang kau dan Donghoon lakukan untuk Luhan."

"Jadi biarkan aku bertanya padamu, apa benar kau dan Donghoon masih mengincar Luhan dan berniat membunuhnya?"

Suara Taecyeon menggeram, jelas dia tidak bisa menutupi emosinya lalu dibalas seringai Ravi yang mengatakan "Ya, kami akan terus mengincar Luhan selama dia masih bernafas, kami akan membunuhnya lagi, lagi dan lagi sampai kami memastikan bahwa pria sialan itu benar-benar hilang dari muka bumi ini!"

Wajah Taecyeon datar mendengar pengakuan Ravi, tapi tidak dengan hatinya yang mulai gusar dan mencemaskan Luhan tanpa alasan, dia pun berusaha tenang lalu bertanya lagi "Seperti kali terakhir kau membakarnya bersama Seunghyun?"

"Ya! Dan aku akan melakukannya lagi, Lain kali kupastikan bahwa itu adalah Luhan."

"Lain kali?" Taecyeon meremehkan dan mulai mengambil balok yang digunakan Taeyong untuk memukuli Sehun yang kini dia gunakan untuk memukuli Ravi membabi buta "PIKIRMU AKU AKAN MEMBERIKAN LAIN KALI PADAMU HAH!" katanya terus memukuli Ravi hingga dirasanya cukup dan Taecyeon membuang kasar balok yang berhasil membuat Ravi meringis tak berdaya.

"Baiklah, kita akhiri saja malam ini." katanya terlihat bosa dan mulai memanggil kaki tangannya "Bobby."

"Ya bos."

"Lakukan."

"Baik."

Bobby pun mengerling anak buahnya yang lain, memberi perintah untuk segera menghabisi Ravi dengan cara yang sama saat Ravi menghabisi Luhan terakhir kali.

BYUR~

Ravi meringis kesakitan, tapi bukan itu yang membuatnya membuka mata melainkan bau familiar seperti bensin yang sedang disiramkan ketubuhnya dalam jumlah yang banyak.

"apa yang—APA YANG KAU LAKUKAN?"

Alih-alih menjawab, Taecyeon justru meletakkan sebatang rokok di bibirnya, lalu tak lama Ravi bisa melihat Bobby menyalakan korek api pada rokok Taecyeon yang membuat mata Ravi membulat takut.

"Lebih banyak." Perintahnya dan Ravi terus meronta di tempatnya saat ini "LEPASKAN AKU BAJINGAN! KAU TAHU DONGHOON TIDAK AKAN TINGGAL DIAM DENGAN KEMATIANKU!"

"SIRAMKAN BENSIN LEBIH BANYAK KETUBUHNYA!"

Hampir dua galon besar disiramkan kasar ke tubuh Ravi, Taecyeon tidak peduli apa yang dikatakan Ravi karena telinganya sakit mendengar suara bajingan itu.

"Habis tak tersisa bos."

Taecyeon menyeringai, penjaganya sengaja membuat jejak dengan bensin hingga ke tempatnya duduk saat ini, membuat Taecyeon tersenyum puas sementara Ravi terus berteriak

"AKU AKAN MEMBUNUHMU BAJINGAN!"

"tsk! Telingaku sakit mendengar suaramu."

Taecyeon menghisap kuat hisapan terakhir rokoknya, mengepulkan asapnya penuh kemenangan sebelum tatapan ketakutan Ravi menjadi hal terakhir yang dia lihat sebelum mengatakan "Selamat tinggal, sampah."

"LEPASKAN AKU, AKU MOHON!"

"Menjijikan." Taecyeon merasa jijik mendengar kalimat memohon Ravi dan sengaja menjatuhkan putung rokok miliknya di jejak bensin yang dibuat anak buahnya.

"AAARGGHHHH…"

Dalam sekejap apinya menjalar cepat membakar Ravi dari ujung kaki merembet hingga ke kepalanya dan sepertinya bajingan itu sudah mati dilahap api didepan kedua mata Taecyeon.

"Apa perintah selanjutnya bos?"

Merasa puas, Taecyeon memakai mantelnya, berjalan pergi meninggalkan markas Ravi untuk memberi perintah "Bakar habis tempat ini."

"Baik."

"Bobby kau ikut denganku."

Si kaki tangan yang mahir dengan tiga bahasa asing itu hanya mengangguk, mengikuti Taecyeon dengan setia dibelakang untuk bertanya "Kemana kita akan pergi bos."

"Ke rumah sakit tentu saja, aku ingin melihat keadaan Sehun."

"nde?"

Bobby membukakan pintu mobil untuk Taecyeon, tak lama dia ikut disamping bosnya sementara Taecyeon hanya melihat ke jendela mobil untuk mengatakan "Aku tidak memberikan pertolongan ini secara gratis untuknya, Sehun harus membayarnya."

.

.

.

.

.

.

.

.

"AHJUSSI TOLONG LEBIH CEPAT!"

"Aku sudah berusaha."

"TAPI KUMOHON LEBIH CEPAT SUAMIKU DALAM BAHAYA!"

Terang saja Luhan berteriak panik di sebuah taksi yang sedang dinaikinya, kabar itu dia dapatkan lima belas menit lalu. Saat kakinya sedang menuju rumah Sehun dan melihat bagaimana keadaan terakhir Mama dan Papa Oh diiringi getar ponsel dengan nomor yang tak dikenal menghubunginya.

Ya?

Lu-Luhan hyung?

Saat itu Luhan merasa familiar dengan suara yang gugup memanggilnya, dia bahkan tidak membutuhkan waktu lebih lama untuk menebak bahwa itu adalah

Taeyong?

h-hyung? jadi benar kau masih hidup

Taeyonga, Lee Taeyong aku baik-baik saja, aku masih hidup, apa yang terjadi padamu adik kecil? kemana kau membawa suamiku pergi?

Ke rumah sakit, kami sedang membawa Sehun ke rumah sakit.

Mwo? apa yang—APA YANG TERJADI PADA SEHUN?

Dan karena panggilan Taeyong, Luhan membatalkan niatnya untuk mengunjungi kedua orang tua Sehun. Pikirannya kalut, entah, apa yang dilakukan Ravi pada suaminya pasti sangat mengerikan

"Sehun….Sehun…."

Tanpa sadar Luhan terus memanggil nama Sehun, menciumi cincin pernikahan milik Sehun yang menggantung dilehernya berharap bisa mengembalikan cincin milik suaminya "Sehun….Sehun….kau harus baik-baik saja sayang, aku mengingatmu, aku tidak akan lari lagi, aku, aarrgghhh….."

Bersamaan dengan isakan pilu Luhan, taksi yang dinaikinya tiba di lobi rumah sakit, refleks, Luhan mengeluarkan seluruh uang di dompetnya dan menyerahkannya cepat untuk segera berlari masuk ke rumah sakit tempat pertama dia mengabdi sebagai seorang dokter.

"SEHUUUUN…."

Mendengar nama yang diteriakkan serta suara yang berteriak sangat dikenalnya, Baekhyun yang baru selesai menangani pasien gawat darurat mencari tahu.

Dia berharap itu bukan Luhan, tapi kemudian sahabatnya itu terus berteriak dan terlihat pucat seperti terakhir kali Luhan kolaps di pernikahan mereka.

"Luhan?"

Luhan menoleh, antara gugup dan senang melihat seseorang yang mengenalnya Luhan bertanya "Baek dimana Sehun?"

"Sehun? Apa yang terjadi?"

"Mereka membawa Sehun, mereka membawa Suamiku!"

"Lu tenanglah! Apa yang terjadi? Siapa yang membawa Sehun-….."

"BERI JALAN! PANGGIL SEMUA DOKTER YANG BERTUGAS! CEPAT!"

Luhan kemudian berlari menghampiri suara yang ditebaknya milik Doojoon, dan benar saja, disana ada Doojoon dipenuhi darah yang entah darah milik siapa.

"oh tidak….SEHUN!"

"Lu kondisinya kritis, kita harus segera mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuhnya."

Pandangan Luhan samar dan menjadi gelap, dia tidak fokus mendengar ucapan Doojoon karena matanya dipenuhi Sehun dan ketidakberdayaan dari suaminya yang terlihat tak merespon apapun.

"Sehun ini aku Luhan, aku sudah mengingatmu sayang, aku mengingat segalanya tentangmu, dengarkan aku, kau harus membuka mata atau aku akan membencimu lagi, kali ini aku benar-benar, aku tidak akan memaafkanmu jika kau tidak membuka mata. Sehun….jawab aku." Luhan berbisik di telinga Sehun sementara semua medis mulai mendorong troley tempat tidur Sehun dan membawanya masuk ke ruang operasi.

"Luhan tunggu disini, biar aku yang menangani Sehun."

"Biar aku yang melakukannya! IZINKAN AKU MASUK DAN MENANGANI SEHUN!"

"Kau tidak bisa Lu."

"LALU APA AKU HARUS MEMBIARKANMU MENANGANI SEHUN? BAGAIMANA JIKA KAU SENGAJA MELAKUKAN KESALAHAN DIDALAM SANA!"

"LUHAN!"

Bukan Doojoon yang berteriak, tapi Baekhyun, dia tahu Luhan cemas, begitupula dirinya, tapi sungguh, untuk keadaan seperti ini mereka membutuhkan dokter sekelas Doojoon yang bisa membuat kemungkinan hidup seseorang menjadi lebih banyak.

Dan hal itu pula yang membuat Baekhyun terpaksa menyadarkan Luhan dan meyakinkan sahabatnya bahwa dia akan memastikan Doojoon tidak satu kesalahan kecil pada Sehun "Aku akan ada berada didalam sana bersama Sehun. tenanglah,"

"Baek…"

"Kita membutuhkan Professor Yoon."

Lalu Baekhyun beralih pada Doojoon, menatap sang professor berharap sampai matanya tak sengaja melihat lengan Doojoon yang dipenuhi darah hingga membuat warna mukanya menjadi sangat pucat "Professor Yoon? Anda baik-baik saja?"

"huh?"

Sepertinya Doojoon juga sudah mencapai batasnya bertahan karena darah terus keluar dari lengan kirinya, hal itu membuat dengung di telinga serta suara kecil Luhan dan Baekhyun bersahutan tak jelas sampai Baekhyun berteriak padanya

"PROFESSOR YOON!"

Barulah Doojoon sedikit mendapatkan kesadarannya untuk mengatakan "Baiklah kita masuk."

"Tapi kau terluka."

"Aku baik-baik saja."

"Sayangnya kau tidak baik-baik saja Professor Yoon."

Suara lain terdengar, kali ini cukup menarik perhatian Luhan hingga membuatnya menoleh dan mendapati Jinyoung yang entah darimana bisa berada di Seoul Hospital, hal itu membuat Luhan menatap takut pada adik Taecyeon terlebih saat dia mengatakan

"Biar aku yang menangani Tuan Oh, baiknya kau segera mendapatkan perawatan."

"Dokter Park benar Professor Yoon, biar dia yang menangani Sehun sementara kau mendapatkan perawatan untuk lukamu."

"Aku baik-baik saja."

"Kau terlalu memaksakan diri Professor Yoon, biar aku yang menangani Tuan oh dan-…."

"TIDAK! KAU TIDAK BISA MENANGANI SUAMIKU!"

Jinyoung, Rein sudah mengingat semuanya, dia mengingat identitas dirinya sebagai Luhan dan mulai memandang takut padaku, mungkin padamu juga saat kalian bertemu.

Tak heran jika Jinyoung tak lagi mendapat tatapan lembut lagi dari Luhan, kedua mata cantik itu kini menatapnya seperti orang asing dan untuk alasan tertentu itu menyakiti hatinya. Awalnya dia mengira semua akan baik-baik saja sekalipun Luhan mengingat siapa dirinya.

Tapi Jinyoung salah, sangat terlihat jika Luhan membencinya dan itu adalah konsekuensi yang harus dia terima dari kebohongannya menjadikan Rein sementara dirinya adalah Luhan dan memiliki keluarga yang masih mencintainya.

"Luhan kenapa kau berteriak pada Dokter Park."

"Dia bukan dokter, dia mengerikan Baek! Aku tidak ingin Sehun ditangani olehnya."

"hyung.."

"AKU BUKAN HYUNGMU! NAMAKU LUHAN DAN AKU BUKAN REIN!"

Jinyoung sempat tertunduk sebelum tersenyum kecil memberitahu Luhan "ara….Taec hyung sudah memberitahu kenyatannya padaku." Katanya merasakan sakit di hatinya saat penegasan itu diteriakan langsung oleh Luhan sendiri. Tangannya sempat terkepal tak tahan membayangkan bagaiamana jika Eunwoo mengetahui kebohongannya dan Taecyeon, entahlah, semua kesalahan ini harus dia bayar dan Jinyoung menerimanya dengan hati lapang.

"Aku benar-benar hanya ingin membantu, biar aku melakukannya. Dokter Byun akan mengawasiku."

"Kau akan melakukan hal buruk padanya, aku tidak bisa membiarkanmu Park Jinyoung!"

"Kenapa aku harus melakukan hal buruk pada seseorang yang bahkan tidak bisa menyakitiku? Itu tidak masuk akal, Lu-Han."

Entah mengapa tak hanya Jinyoung tapi Luhan juga merasakan jarum kecil menusuk jantungnya saat Jinyoung memanggilnya sebagai Luhan, mau bagaimanapun Jinyoung adalah adiknya juga selama tiga bulan, yang mengobatinya, yang membuat Luhan sempat mempercayai bahwa dirinya adalah kakak dari dua orang adik yang begitu baik dan berbakat.

Namun saat ingatan kembali padanya, Luhan hanya mencoba mempertahankan diri untuk membenci Jinyoung karena dia menyetujui rencana Taecyeon untuk menjadikannya Rein.

Ya, Luhan sangat membenci kedua dokter yang ingin menolong suaminya, yang pernah melakukan hal buruk pada dirinya pula, tapi kembali lagi pada kenyataan bahwa sebenci apapun Luhan pada mereka, jauh di dalam hatinya dia menyadari bahwa dirinya sangat membutuhkan salah satu dari mereka.

Entah Doojoon atau Jinyoung, dia hanya akan menyatukan kedua tangan, memohon dengan sangat agar setidaknya dia bisa memberitahu Sehun bahwa dia sudah mengingat semuanya, bahwa dia tidak takut saat ingatan itu kembali padanya, bahwa dia….

Bahwa dia tidak menyesal karena dirinya adalah Luhan,

Luhan yang sama yang telah melewati banyak hal dengan Sehun yang begitu dicintainya

Rasa sakit dan luka

Bahagia

Kehilangan

Tawa bahkan

Cinta mereka

Luhan ingin membaginya lagi dengan Sehun

Hanya dengan Sehun,

Sebagai Luhan yang dicintai Sehun sejak kecil

"Kumohon selamatkan suamiku."

Jinyoung menitikkan air mata tak relanya, dia tahu setelah ini dia dan Luhan hanya akan menjadi orang asing, oleh karena itu dia memberanikan diri untuk menarik lengan Luhan, memeluknya erat seraya berbisik "Aku akan menyelamatkan suamimu, aku janji, hyung."

"Luhan tunggulah disini."

Luhan mengangguk saat Baekhyun memeluknya, membiarkan kedua orang itu masuk kedalam ruang operasi sementara Doojoon telah dibawa ke ruang perawatan.

Hanya ada Luhan disana, menunggu Sehun diselamatkan, dia gugup, bibirnya terus mengalunkan doa-doa pada Tuhan agar tidak mengambil Sehun darinya, dia tidak bisa jika itu Sehun, dia hanya ingin Sehun sampai tak sengaja mata Luhan melihat sosok remaja yang begitu dikenalnya sedang duduk tertunduk sangat jauh darinya.

Remaja itu hanya menggunakan kaos hitam dengan style jeans robek di lututnya, tubuhnya bergetar, entah karena kedinginan atau takut Luhan tidak mengerti, yang jelas dia meyakini bahwa dia harus kembali merangkul adik kecilnya jika tidak ingin kehilangan Taeyong lebih jauh dari hari ini.

Sret….!

Luhan memakaikan mantel miliknya pada Taeyong, dia juga mengusap sayang surai yang terlihat banyak terluka untuk berjongkok di depan remaja yang sudah mulai bergantung hidup padanya selama beberapa tahun terakhir.

Dan untuk Taeyong, saat menerima mantel dengan aroma khas tubuh Luhan yang dia cium, jantungnya berdegup kencang, terlebih saat kakaknya berjongkok dan menatapnya dengan dua mata cantik yang begitu dia kagumi membuat Taeyong berakhir menangis pilu tak mempercayai bahwa Luhannya benar masih hidup.

"Wae? Kenapa menangis."

"hyunghyunghyung~"

Taeyong menggigit bibirnya kuat-kuat, ingin dia memeluk Luhan tapi diurungkan karena takut Luhan kecewa dan marah pada dirinya yang kembali berulah dan berbuat hal mengerikan

"Taeyonga, kenapa tidak melihatku? Kau tidak senang aku masih hidup?"

Taeyong menggeleng kuat, yang dia lakukan hanya menangis seraya berbisik "Mianhae, Mianhae, hyung…."

Luhan menangkup wajah pucat pasi khas milik Taeyong lalu bertanya "Untuk apa?"

"Aku mengacaukan segalanya, aku menjadi seorang pembunuh, aku bahkan membuat Sehun hyung sangat kesakitan disana, aku bersalah, aku berdosa padamu, aku-…."

Buru-buru Luhan menarik Taeyong ke pelukannya, memeluknya erat, menyampaikan rasa rindunya pada Taeyong dan mengusap lembut punggung yang begitu tegang dan terus terisak pilu.

"Tidak apa Taeyonga, semua akan baik-baik saja." bisiknya pilu, walau seluruh hati Luhan sakit mengingat Sehun sedang berjuang didalam sana "Sehun akan baik-baik saja."

"Mianhae hyung, mianhae…"

Lalu Luhan ikut menangis bersama Taeyong, menyesal karena membiarkan Taeyong harus melalui hari yang sulit dilaluinya semenjak malam itu.

Mungkin tak hanya Taeyong tapi juga seluruh orang terdekatnya, yang mencintainya, Sehun terutama. Entah bagaimana rasa sakit menjadi mereka karena sepertinya Luhan sendiri tidak akan sanggup menjalani hidupnya jika hal yang sama terjadi pada Sehun.

Dia tidak bisa membayangkan jika dia harus berdiri di pemakaman Sehun, merelakan setengah jiwanya pergi sementara dia sendiri di dunia mengerikan ini, dia membayangkan rasa sakit yang dialami Sehun selama tiga bulan berlalu.

Bagaimana dia mencoba untuk bertahan hidup hingga akhirnya dia berhasil mencuri hati Luhan yang lain, Luhan yang tidak mengingat apapun.

Entahlah,

Luhan hanya berharap seseorang keluar dari ruangan itu, memberikan kabar bahwa tidak ada sesuatu yang buruk yang terjadi pada suaminya dan benar saja, pintu itu terbuka, menampilkan Baekhyun yang sedang mencarinya hingga membuat refleks Luhan melepas pelukannya.

Dia berlari mendekati Baekhyun yang kini membuka maskernya, dilihat dari mata sembab sahabatnya pastilah hal buruk terjadi, namun beruntung itu hanya baby cry Baekhyun yang menangis, karena daripada hal buruk Baekhyun menjerit dan melompat ke pelukan Luhan untuk berteriak

"SEHUN BERHASIL MELEWATI KONDISI KRITISNYA, DIA BERNAFAS LU!"

Dan Luhan bersumpah itu adalah hal terbaik yang bisa didengar Luhan selama hidupnya, biasanya dia akan selalu mendengar berita buruk jika seorang dokter keluar dari ruang operasi dan sedang menangani keluarganya.

Mama dan calon bayinya,

Luhan dan Sehun sudah kehilangan banyak hal dan mereka berdua tidak bisa kehilangan lebih banyak lagi dari semua ini,

Setidaknya untuk Luhan, dia akan benar-benar mati jika hal buruk terjadi pada Sehun.

Luhan sengaja mengerling Taeyong agar adiknya tahu Sehun sudah melewati kondisi kritisnya, lalu dia membiarkan Baekhyun menangis di pelukannya sementara diam-diam Luhan menjerit berterimakasih pada Tuhan dan pada kemampuan Sehun bertahan dari rasa sakit yang tak akan bisa dilalui oleh siapapun.

"Sehunna, Gomawo." Jeritnya tertahan, diiringi isakan pilu bersama Baekhyun yang memeluknya sangat erat.

.

.

.

.

.

.


.

to be continued

.


.

.

.

.

.

.


Spoiler next chap :

.

Sehun kapan kau akan membuka mata ?

Aku tak sabar untuk mengatakan padamu bahwa aku adalah Luhan,

Luhan yang sudah mengingat semuanya bersamamu,

Aku Luhan dan aku tidak menyesal menjadi Luhanmu, yang begitu kau cintai, terimakasih sayang, terimakasih.

Cepatlah buka matamu

Aku merindukanmu, sangat merindukanmu.

.


.

.

.

.

Chap lalu gue bilang abisin Ravi kuy? Eh dichap ini dibakar ama Taec #RIPRAVIINJTV :"", agak ngeri sih, but Sometimes gue ngerasa gue ada bakat Phsyco juga :"" *boong kok kkkk~

.

Selamat enam tahunan EXO-EXOL, jayalah selalu kaya Mars Perindo :"

.

Ini udah tahun keenam btewe, berarti gue jadi HHS udah enam tahun dong? Yakali lama amat, gpp bangga, kibul deng, jadi hhs nya mulai 2013, pas jaman growl sedang Heitz…heitznya. Sebelumnya gue Cuma suka Luhan, untung Sehun nempel mulu kaya anak ayam ke Luhan, jadi gue kenal eh terus suka, terus gemes, eh terus…ya ampe sekarang pokonya.

,

Sabar-sabar ya, no moment HunHan, HHS still alive,

.

Selamat enam tahunan, langgeng sampe tahun-tahun menua sama-sama. Amin

Sampe ketemu tanggal 12 lagi,

.

#happyhunhanmonth

.

Much love