Previous

"SEHUN BERHASIL MELEWATI KONDISI KRITISNYA, DIA BERNAFAS LU!"

Luhan dan Sehun sudah kehilangan banyak hal dan mereka berdua tidak bisa kehilangan lebih banyak lagi dari semua ini,

Setidaknya untuk Luhan, dia akan benar-benar mati jika hal buruk terjadi pada Sehun.

Luhan sengaja mengerling Taeyong agar adiknya tahu Sehun sudah melewati kondisi kritisnya, lalu dia membiarkan Baekhyun menangis di pelukannya sementara diam-diam Luhan menjerit berterimakasih pada Tuhan dan pada kemampuan Sehun bertahan dari rasa sakit yang tak akan bisa dilalui oleh siapapun.

"Sehunna, Gomawo." Jeritnya tertahan, diiringi isakan pilu bersama Baekhyun yang memeluknya sangat erat.

.

Je'Te Veux

.

.

.

Main cast : Lu Han as Xi Luhan

Oh Sehun as Oh Sehun

Rate : T-M

.

.

.

.

"Pindahkan pasien ke ruang perawatan."

Itu adalah instruksi terakhir seorang Park Jinyoung pada seluruh tim medis yang membantunya dalam operasi setengah hati yang dilakukannya malam ini, operasi dimana dia harus menyelamatkan seseorang yang akan mengambil Rein hyungnya secara keseluruhan.

SEHUN BERHASIL MELEWATI MASA KRITISNYA, DIA BERNAFAS LU!

Senyum tipis terlihat di wajah dokter yang terkenal dengan kemampuannya di ruang bedah, biasanya dia akan turut bahagia akan kesembuhan pasien yang ditanganinya, tapi entah mengapa kali ini berbeda.

Karena saat dia mendengar suara dokter Byun memberitahu Luhan tentang keadaan pasien yang ditanganinya, Jinyoung merasa sedih, bukan berarti dia membenci kenyataan bahwa pria bernama Oh Sehun yang sialnya adalah suami dari Luhan itu berhasil untuk bertahan hidup, tapi lebih karena dirinya merasa setelah semua ini berakhir, setelah Sehun membuka kedua matanya, dia akan kembali menjadi seorang dokter yang gagal menyelamatkan kakaknya sendiri tapi selalu berhasil membuat orang asing bertahan dengan hidupnya.

"Dokter Park? Anda baik-baik saja?" perawatnya bertanya melihat Jinyoung fokus hanya melihat pasiennya, dia pun tersenyum kecil seraya mengangguk, jujur saja hatinya tidak rela, tapi dia tahu semakin dia bersikap seperti Taecyeon, maka kemungkinan terbesar yang bisa terjadi adalah Rein, tidak, Luhan akan membenci tak hanya dirinya tapi juga Eunwoo, adiknya.

"Ya, tentu saja."

"Kami akan membawa pasiennya."

"Oke."

Lalu Jinyoung berjalan meninggalkan ruang operasi, sarung tangan yang digunakannya masih dipenuhi darah, dia berjalan menuju tempat steril untuk membersihkan diri dengan banyak hal yang mengganggu hati dan kepalanya.

"haaah~"

Seraya mencuci bersih tangan yang dipenuhi darah Sehun, sesekali Jinyoung bercermin melihat pantulan wajahnya yang sangat menyedihkan, dia mencoba untuk tersenyum walau berakhir terlihat semakin menyedihkan pula wajahnya "Berhenti terlihat menyedihkan, kau dengar?" katanya memarahi pantulan wajahnya, berniat untuk segera pulang mengingat jadwal kerjanya sebagai dokter pengganti Seoul Hospital sudah berakhir dua jam yang lalu.

Drrtt…drrttt….

Dan saat dia mengeringkan tangan, ponselnya berbunyi, buru-buru Jinyoung merogoh jas putih yang dia gantungkan di loker dokter untuk menemukan nama Eunwoo tertera disana "Hyung!" lalu tak lama nama adiknya terdengar bersemangat, Jinyoung bahkan tidak bisa menyembunyikan tawa kecilnya tiap sang adik menghubungi "Ada apa?"

"Aku lulus, mereka menerimaku."

"Siapa yang menerimamu?"

"sshh…Apa kau lupa? Aku mendaftar di Tokyo University."

Barulah Jinyoung mengerti kemana arah pembicaraan Eunwoo, seraya memakai kembali jas putihnya dia mencoba terdengar senang dan bertanya "Benarkah?"

"Bagaimana? Aku hebat bukan?"

"Ya, ya, kau hebat dan juga si kepala besar."

"Akui saja kalau aku ini jenius."

"Baiklah jenius."

"Kapan kau dan Rein hyung pulang?"

"huh?"

Jinyoung gugup membuka pintu khusus staff saat Eunwoo menanyakan Rein, tak mengerti harus menjawab apa pada Eunwoo. Lalu saat dia melangkah keluar dari ruang operasi dia harus dibuat gugup lagi, kali ini dia cukup terkejut melihat siapa yang sedang menunggunya diluar.

"hyung…."

"….."

Jinyoung tidak membalas, jujur dia tidak memiliki wajah untuk menatap pria yang menyerupai mendiang kakaknya, tapi lihatlah saat ini, pria yang dua jam lalu mengatakan dirinya pembohong kini sedang menatapnya sendu, khas, milik mendiang kakaknya.

"HYUNG!"

Jinyoung sedikit berkedip saat Eunwoo berteriak, dia kemudian gugup menjawab "Hyung akan segera pulang" lalu tampaknya Eunwoo tidak mau kalah dan terus bertanya "Dengan Rein hyung?"

Tak mau membuat nada kecewa terdengar dari adiknya, Jinyoung terpaksa menjawab "Dengan Rein hyung." seraya menatap mata Luhan yang masih memandang tak berkedip padanya.

"Baiklah, aku menunggu kalian dirumah, cepat kembali hyung, aku akan memberi kejutan untuk Rein hyung."

Panggilan Eunwoo terputus bersamaan dengan mata Jinyoung yang berkaca dipenuhi rasa bersalah, dia pun segera memasukkan ponselnya kedalam saku untuk menyapa canggung pria cantik yang sedang menatapnya "h-hyung? mmh….Maaf, maksudku Luhan." katanya mengoreksi dan merasa sakit karena ucapannya sendiri.

Luhan pun mencoba untuk memaklumi, dia tidak tersenyum tidak pula marah karena Jinyoung terus menjadikannya sebagai Rein "Apa itu Eunwoo? Yang baru saja menghubungimu?"

"ya, Itu Eunwoo." Jawabnya lirih dan berusaha tegar untuk memberitahu Luhan "Aku rasa pria itu sudah dipindahkan ke ruang perawatan." Ujarnya tegas disambut senyum kecil Luhan yang bertanya "Pria itu? Suamiku, maksudmu?"

Baiklah Luhan sudah benar-benar bersikap sangat asing terhadapnya, membuat Jinyoung benar-benar mengubur harapannya untuk mendapatkan Rein hyungnya untuk menjawab "Terserah bagaimana kau menyebutnya, aku sudah selesai dengan tugasku dan aku permisi."

Dia melangkah mendekati Luhan, tak lama jaraknya semakin dekat hingga akhirnya dia melewati tempat dimana Luhan berdiri, matanya terpejam saat harus menjadi orang asing untuk pria yang sudah dianggapnya sebagai keluarga.

"Jinyoung-a, Gomawo."

Bersamaan dengan ucapan Luhan, kaki Jinyoung berhenti melangkah, dia kembali menoleh dan tak lama Luhan ikut berbalik badan mencari dimana dirinya "Apa yang kau katakan?" tanyanya lagi, lalu Luhan tersenyum dan menegaskan bahwa dia sedang berterimakasih "Aku mengucapkan terimakasih padamu."

"nde?"

"Sehun hidupku dan kau menyelamatkannya, jadi terimakasih karena sudah menyelamatkan hidupku."

Kerutan di kening Jinyoung perlahan memudar, dia awalnya bertanya-tanya mengapa Luhan mengucapkan terimakasih, lalu tak lama setelah dia menjelaskan hanya senyum pahit yang ditunjukkan Jinyoung menyadari sedari tadi pembicaraan mereka hanya tentang Sehun, Sehun dan Sehun.

"Kau datang padaku karena pria itu?"

"Karena suamiku." Jawabnya mengulang dibalas kepalan tangan Jinyoung yang terlihat menahan sakit di hati dan pikirannya "Tidak bisakah kau berpura-pura terus menjadi Rein, setidaknya untuk Eunwoo?"

Dengan tegas dipenuhi keyakinan Luhan mengatakan "Tidak, aku bukan Rein, aku Luhan dan Eunwoo harus mengetahui kebenarannya dan aku tidak mau berbohong-…"

"ADIKKU SAKIT!"

Luhan samar melihat air mata cemas Jinyoung menetes, mau tak mau rasa sakitnya juga dia rasakan karena mau bagaimanapun juga hubungannya dengan remaja seusia Taeyong dan Jaehyun memang sudah dekat dengannya.

Tapi ini salah, Luhan paling benci dibohongi dan dia tidak akan melakukan hal yang sama pada orang lain, terlebih orang itu hanya remaja delapan belas tahun yang hidupnya masih panjang untuk dilalui, seperti dirinya dulu.

"Kumohon, datanglah sebagai Rein untuk Eunwoo."

"Kau berbuat tidak adil pada hidup Eunwoo jika kau terus membohonginya."

"Aku terpaksa Luhan! Kau tidak tahu bagaimana Eunwoo jika dia mengetahui kondisi Rein sebenarnya, aku tidak hanya, AKU TIDAK HANYA KEHILANGAN SATU TAPI KEDUA SAUDARAKU JIKA EUNWOO TAHU KAKAKNYA MENINGGAL KARENA AKU GAGAL MENOLONGNYA!"

Sesaat Luhan tak tega melihat bagaimana Jinyoung memohon dan meyakinkan dirinya, tapi berbohong bukanlah alasan dan sekali lagi, dia menegaskan "Aku tidak akan berbohong lagi, tidak pada Eunwoo atau diriku sendiri, aku benci dengan kebohongan."

Jinyoung mengusap kasar wajahnya, dia kemudian tersenyum pahit untuk mengagumi bagaimana tegas seseorang yang baru saja mendapatkan kembali ingatannya "Baiklah." Katanya menyerah, kembali melihat dalam ke mata Luhan untuk mengucapkan "Kalau begitu selamat tinggal, aku dan Eunwoo tidak akan datang ke hadapanmu lagi." katanya beranjak pergi lalu kembali berhenti dan mengatakan satu kalimat terakhirnya "Aku minta maaf karena manjadikanmu orang asing tiga bulan yang lalu, tapi jujur aku tidak menyesalinya, maafkan aku dokter Oh."

Luhan merasa perpisahan mereka adalah kesalahan jika dilakukan dengan cara seperti ini, dia tidak ingin seseorang merasa terluka karena dirinya. Dan karena alasan itu pula bibirnya refleks memanggil "JINYOUNG!"

Hingga pria yang mengaku sebagai adik dari Park Rein menoleh namun tak menanggapi panggilannya "Sebagai Luhan, aku masih bisa menjadi kakakmu dan Eunwoo." Yang dibalas senyum tipis Jinyoung dengan jawaban dingin menohok hatinya "Tidak perlu, hanya berikan aku sedikit waktu untuk menjelaskan pada Eunwoo bahwa Rein hyungnya sudah meninggal enam bulan yang lalu."

Luhan tidak merasakan kebencian dari jawaban Jinyoung, hanya saja rasa sakit dan kecewanya terasa sangat dalam, membuat sebersit rasa bersalah dirasakannya karena tak bisa dipungkiri bukan hanya satu kali, tapi dua kali Jinyoung menyelamatkan hidupnya, menyelamatkan Sehun saat dirinya tak bisa melakukan apapun.

Dia pun menghapus cepat air mata rasa bersalahnya, hatinya kacau namun tetap pada keputusan untuk tidak membohongi dan menyakiti lebih banyak dari yang seharusnya.

"Sehunna."

Luhan kemudian teringat suaminya, langkah kakinya berjalan huyung mendekati kamar tempat dimana pria yang begitu ia cintai masih terbaring tak sadarkan diri sementara seseorang yang dari awal mendengarkan percakapan adik dari mendiang istrinya dengan pria yang telah mencuri hatinya tiga bulan yang lalu sukses membuat kedua tangannya terkepal antara gundah dan amarah.

Dia bahkan tidak bisa melakukan apapun kecuali tertawa pahit melihat bagaimana Luhan justru mendatangi kamar pria yang baru diselamatkan adik iparnya daripada berjalan untuk memanggil Jinyoung yang secara tegas telah memutuskan hubungan mereka sebagai saudara.

"Bos?"

Bobby menyadari setiap kepalan tangan Taecyeon artinya pertanda buruk, dia hanya mencoba mengingatkan dan benar saja bahkan sebelum dia bertanya Taecyeon sudah lebih dulu mengatakan "Pastikan aku tidak membunuh dua orang malam ini." seraya berjalan dipenuhi aura mengerikan disetiap langkah yang dia hentakan.

.

.

.

.

Klik….

.

Luhan membuka perlahan pintu ruangan dimana suaminya dirawat, tak lama kakinya melangkah masuk kedalam maka sosok pria besarnya sedang tergeletak lemah dengan slang infus yang dipakaikan di tangannya.

Tak banyak yang bisa dijabarkan Luhan kecuali rasa sakit karena rindu yang dia rasakan sebagai Luhan yang telah mengingat segalanya, dia sangat merindukan Sehun walau tak mengelak bahawa terkadang dia merasa lelah karena hubungannya dengan pria yang sudah menjaganya sejak kecil terasa sulit dan panjang

"Sehunna."

Walau nyatanya setiap kali dia merasa lelah dan kesakitan karena hubungan mereka, prianya akan kembali berjuang seorang diri menariknya lagi untuk merasakan cinta yang begitu besar, yang tidak memiliki akhir di hati tulus suaminya.

"Cepat buka matamu."

Luhan menatap lama paras tampan Sehun yang kini didominasi warna pucat di wajah pria yang selalu menderita karena mencintainya, membuatnya sedikit gugup untuk hanya sekedar menggenggam jemari yang selalu membuatnya merasa hangat dan terlindungi bahkan dari keraguan dirinya sendiri.

"Aku sudah mengingat semuanya, aku….." dia terbata sekilas, mengecup sayang jemari Sehun yang terasa sangat dingin untuk bertumpu dengan tangan besar suaminya "Aku mengingatmu sayang dan aku menyesal mengatakan tidak ingin menjadi Luhan, aku Luhan, aku Luhan dan aku tidak menyesal menjadi Luhan, aku minta maaf Sehunna."

Wajar jika Sehun belum merespon, dia baru saja mengalami malam mengerikan yang bahkan tak sanggup dibayangkan Luhan atau siapapun yang melihat kondisinya, dia terlalu banyak menerima luka dan rasa sakit, yang tak bisa dikatakan olehnya dan hanya disimpan dihatinya seorang diri.

Luhan menangis, mencoba untuk mengingat banyak hal buruk yang telah dilakukannya pada Sehun hingga membuat hatinya bergemuruh dipenuhi rasa sesal yang begitu menyayat hatinya, saat dimana untuk pertama kali dia bertemu dengan Sehun dan tidak mengenalinya di Pyeongchang, saat dia lebih memilih bersama Taecyeon dan melihat wajah Sehun terluka, pastilah hancur hati Sehun saat itu.

Tapi bukankah harusnya Sehun menyerah saat itu?

Saat dimana dirinya kehilangan ingatan?

Bukan tetap berada didekatnya dan menyakiti dirinya sendiri lagi dan lagi.

Harusnya Sehun menyerah, tapi kemudian dia ingat apa yang dikatakan Sehun saat mereka masih duduk di bangku sekolah, hal menyentuh yang bahkan tidak terpikirkan Luhan bisa dikatakan oleh remaja berusia lima belas tahun seperti suaminya saat itu.

Selama aku meyakini dirimu masih ada di tempat yang sama denganku, itu artinya kau memang disana, bersamaku, dan tidak pernah pergi kemanapun. Aku, aku akan melakukan apapun hanya untuk membuatmu kembali lagi padaku.

Dan Sehun menepati ucapannya, dia membawanya pulang dengan caranya sendiri, melalui semua rasa sakit dan putus asa seorang diri, tanpa ada yang tahu tak ada sedikitpun keraguan Sehun meyakini bahwa dirinya adalah Luhan.

"Cepat buka kedua matamu, kumohon."

"Luhan."

Disela doa dan harapannya pintu ruang perawatan Sehun kembali terbuka, kali ini terlihat kedua sahabatnya yang lain, Kai dan Chanyeol yang masing-masing terlihat pucat namun tak banyak bertanya akan hal yang terjadi, Luhan bertaruh baik Kyungsoo maupun Baekhyun sudah memberitahu secara detail tentang keadaan Sehun hingga kini tugas Kai dan Chanyeol hanya menemaninya bukan memborbardir dirinya dengan pertanyaan ada apa? atau apa yang terjadi?

"Kau baik-baik saja?"

Chanyeol bertanya, berjongkok didepan Luhan sementara Kai berdiri di belakagnya seraya meletakkan dagu di kepala Luhan "Aku lelah." jawabnya sedikit mendongak dan tersenyum lirih saat Chanyeol bertumpu dengan kedua lutut dan memeluknya erat "Kami sudah disini, jangan cemas." Chanyeol berbisik, diiringi Kai yang mengecup kepalanya seraya meminta "Pulanglah Lu, biar kami yang menjaga Sehun malam ini."

"Aku ingin disini."

"Lu, dengarkan kami, kau lelah dan kemungkinan terburuk akan jatuh sakit jadi sekali saja, ikuti saran dari kami."

"…."

Luhan diam, matanya diam-diam melirik pada Sehun sebelum menyerah pada lelahnya dan mengangguk mengiyakan keinginan kedua sahabat yang untuk pertama kalinya benar-benar diingatnya sebagai Luhan "Baiklah."

Bahkan Kai dan Chanyeol sempat terdiam beberapa saat hingga membuat Luhan bertanya "Ada apa?"

"Kau terdengar seperti Luhan."

"huh?"

"Entahlah, sejak pertemuan kita di Pyeongchang aku selalu merasa kau menjadi orang lain, tapi malam ini saat kau mendengarkan ucapan kami dan mengatakan ya tanpa keras kepala, aku benar-benar melihat kau sebagai Luhanku."

Luhan pun tersenyum, tangannya masih menggenggam erat tangan Sehun yang dingin sementara matanya menatap bergantian Kai dan Chanyeol untuk memberitahu kabar yang tak hanya diinginkan mereka tapi juga dirinya "Aku memang Luhan."

"Kami tahu, kau Luhan terlepas kau menatap kami seperti orang asing atau tidak." Kekeh Kai dibalas gelengan Luhan yang satu tangannya kini meminta Kai ikut berjongkok di samping Chanyeol "Dengarkan aku." Katanya menatap lembut pada Kai dan Chanyeol, menyampaikan rasa maaf dan sesal yang teramat karena sempat melupakan dua pria yang sudah bersamanya sejak kecil, yang tumbuh besar bersamanya "Aku sudah mengingat segalanya."

"huh?"

"Kalian tahu kondisiku bukan? Aku sempat tidak mengingat apapun tapi kini semuanya kembali."

Wajah Kai kentara sekali pucat, berbeda dengan Chanyeol yang sedang melebarkan kedua matanya seolah tak percaya dengan apa yang dikatakannya "a-Apa ini sungguhan."

Luhan melepas genggaman tangannya di tangan Sehun, kini dia sedikit membungkuk dan menangkup masing-masing wajah Kai dan Chanyeol dengan kedua tangannya "Mianhae." Ujarnya menggigit kencang bibir bawahnya untuk menatap dua orang pria yang selalu sabar menghadapi semua hal buruk yang telah dilakukannya selama mereka saling mengenal.

Maafnya mungkin tidak sebanding dengan sakit hati yang dirasakan kedua sahabatnya, terlebih saat dia tidak mengenal keduanya beberapa waktu lalu, wajah sedih Kai dan Chanyeol, senyum mereka yang terlihat sangat menyayat hati adalah semua hal yang disesali Luhan hingga saat ini.

"Maaf tidak mengenali kalian, maaf membuat kalian merasa kecewa padaku, aku bersalah dan aku tidak akan mengulanginya lagi."

Luhan tertunduk, bahunya bergetar tapi tak ada suara isakan, dia berusaha menahan sekuat tenaga lalu sebuah cubitan kecil dirasakan di hidungnya, Kai yang melakukannya, dia sengaja menekan kuat hidung Luhan lalu memarahinya "Jika ingin menangis bersuaralah, jangan ditahan seperti itu." katanya kesal dibalas tatapan bingung dari Luhan "Tapi aku tidak menangis." Elaknya keras kepala, lalu kali ini Chanyeol yang mengacak rambut dan mencubit kencang kedua pipinya.

"Baiklah kau tidak menangis, tapi pastikan kau tidak mengulanginya lagi." katanya gemas diiringi pertanyaan Luhan "Apa?"

"Jangan pernah lupakan kami lagi." Chanyeol memohon diikuti suara Kai yang terdengar kecewa "Itu menyakitkan, saat kau menatap kami dengan tatapan asing tapi kami tetap meyakini kau sebagai Luhan, jangan ulangi lagi, kau dengar?"

Luhan mengangguk kuat, isakannya kini perlahan terdengar dan Chanyeol dengan sengaja menggodanya "Kau tidak menangis Lu, hanya menangis kencang."

"diam!"

Luhan memukul pundak Chanyeol dihadiahi tawa haru kedua sahabatnya yang kini melingkarinya dengan pelukan hangat, tak ada yang berbicara setelahnya, Chanyeol dan Kai hanya membiarkan Luhan menangis sejadinya tanpa berniat memintanya untuk berhenti mengingat kondisi Luhan jika melihat Sehun terluka adalah yang paling rentan dan berbahaya jika dibiarkan seorang diri.

"Syukurlah kau sudah kembali Lu, aku merindukanmu." Terakhir Luhan mengangguk di dalam pelukan Chanyeol sampai Kai meminta "Sekarang kembali kerumah, biarkan kami yang menjaga Sehun."

Keduanya sama-sama merangkul Luhan, mengantarnya ke depan pintu kamar Sehun dibalas permintaan pesan Luhan yang mengatakan "Jika Sehun membuka mata kalian harus segera memberitahuku."

"Pasti."

"Jangan menundanya sampai besok pagi."

"Baiklah."

"Aku benar-benar marah jika kalian tidak memberitahuku lebih awal."

Keduanya memberi hormat tanda mengerti, tidak membiarkan Luhan masuk kedalam lagi dan hanya meyakinkan "Kami mengenal dirimu lebih dari dirimu sendiri, jadi percaya pada kami, oke?" Kai meyakinkan walau Luhan terus mengintip kedalam kamar Sehun "Luhan…"

"hmh?"

"Malam ini serahkan Sehun pada kami."

"Baiklah."

"Sekarang pulanglah."

Tak rela, Luhan mengangguk perlahan, dia kemudian tersenyum cemas dan mulai melangkah pergi "Aku pergi." pamitnya diriingi lambaian tangan Kai dan Chanyeol yang perlahan mulai menutup pintu kamar Sehun.

"Sampai nanti Lu."

"yeah."

.

.

Dan alih-alih kembali pulang kerumah, Luhan lebih memilih mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Sehun, Taeyong, Doojoon dan Ravi, kenapa suaminya bisa begitu saja lepas dari cengkraman tangan Ravi atau bagaiamana cara Doojoon membawa Taeyong pergi dari Ravi begitu saja.

Dan hanya satu pria yang bisa menjelaskan semua tanda tanya dibenaknya, pria yang pernah begitu dia percaya, yang dianggapnya sebagai seorang kakak tapi kemudian berbalik menghianati bahkan membunuh ibunya, satu-satunya wanita yang Luhan miliki dalam hidupnya.

"Professor Yoon baiknya anda beristirahat sedikit lebih lama."

"Aku baik-baik saja."

"Tapi luka anda belum mengering sepenuhnya."

"Tidak apa, aku-….."

Lalu pintu terbuka, Doojoon menoleh ke arah pintu, melihat siapa yang membuka pintu hingga tubuhnya lemas dan kembali terduduk di tepi ranjang tatkala melihat Luhan tengah menatapnya, pria yang masih begitu dicintainya bahkan datang mendekat seraya memberi perintah "Dokter Oh?"

"Pergilah suster Kim biar aku yang merawatnya."

"Baik dokter Oh."

Jadi ketika Luhan mengenali kepala perawat sekaligus asisten pertama yang pernah mendampingi Luhan semasa kerjanya di Seoul hospital, maka Doojoon hanya dibuat bersyukur melihat Luhan telah mengingat semuanya tanpa terkecuali.

"Luhan?"

Luhan tak bergeming beberapa saat, dia juga menolak kontak mata dengan Doojoon, melakukan hal-hal tak berguna namun berakhir menatap Doojoon yang tengah bersandar di tepi ranjang ruang tindak perawatan.

Dan tanpa berbasa basi, Luhan menggertakan giginya untuk bertanya "Apa yang terjadi disana?" dibalas tatapan tak mengerti Doojoon yang juga bertanya "Apa yang kau tanyakan?"

Hal itu cukup membuat Luhan muak, matanya menatap murka pada Doojoon seraya memperingatkan "Jangan bertingkah seperti kau tidak mengetahui apapun."

"Luhan, aku tidak mengerti apa yang kau-….."

"RAVI!"

Teriakan Luhan membuat Doojoon mengerti kemana arah pembicaraan mereka, dia pun tersenyum lirih namun Luhan tampaknya tak ingin bersabar "Apa yang terjadi padanya? Kenapa suamiku terluka dan kenapa kau bisa dengan mudahnya membawa Taeyong dari Ravi."

"…"

"JAWAB AKU YOON DOOJOON!"

Doojoon berusaha mendekati Luhan, namun dengan tegas Luhan menampiknya dan mulai menjaga jarak diantara mereka "Jangan berani kau dekati aku, kau dengar? Menjijikan!"

Dan senyum penuh kepedihan itu ditunjukkan Doojoon, dia kemudian mengangguk dan mengerti kondisi dimana selain kebencian maka dirinya tak bernilai di mata pria yang masih begitu dicintainya hingga saat ini "Mianhae."

"Simpan maafmu bajingan! Aku tidak membutuhkannya yang aku butuhkan hanya kebenaran yang terjadi pada Ravi, pada suamiku, pada Taeyong, pada KAU! APA YANG SEBENARNYA TERJADI?"

Lalu Doojoon menahan sakit di lengan kirinya yang tertembak, dia berusaha mengabaikan sakit di hati dan tangannya walau gagal karena mereka berlomba-lomba mencari perhatiannya saat ini, denyut sakitnya sama kuat hingga membuat Doojoon kalah dan berakhir mengatakan "Jika bukan karena Taecyeon mungkin Sehun sudah mati."

Luhan membeku saat nama kedua yang sedang tak ingin didengarnya kembali disebut, kenyataan bahwa Taecyeon terlibat adalah hal yang jauh dari pemikiran Luhan hingga membuat bibirnya kelu dan hanya bisa mengucapkan satu baris kata "ta-Taecyeon?"

"Aku dikhianati oleh anak buahku, lalu Ravi mencuci otak Taeyong dengan mengatakan Sehun yang membunuhmu, jika aku tidak datang tepat waktu mungkin Taeyong akan benar-benar membunuh suamimu!"

"Sebenarnya apa yang terjadi?"

"Mereka berpihak pada Ravi dan menyisakan hanya aku, Sehun dan Taeyong. Lalu pikirmu apa yang akan terjadi pada kami jika Taecyeon tidak tiba-tiba datang dan membereskan semuanya."

"Tapi kenapa Taecyeon? Apa hubungannya dengan Ravi?"

"Kau."

"huh?"

"Selama ada kau diantara Ravi dan Donghoon, Taecyeon akan selalu ada disana, mencoba menarikmu lagi ke hidupnya."

"gila."

"Memang, tapi itu yang terjadi."

"Lalu apa yang terjadi pada Ravi?"

Doojoon diam beberapa detik sebelum dengan berat hati mengatakan "Dia mati."

"mwo?"

Begitupun dengan Luhan, dia tak kalah terkejut mendengar kabar ini, tapi dia sadar bahwa itu adalah Taecyeon, pembunuh mengerikan melebihi Doojoon bahkan Donghoon sekalipun, jadi saat kabar kematian Ravi didengarnya Luhan seperti mendengar kebenaran dan itu adalah nyata "Taecyeon membunuhnya?"

"Dengan cara yang sama saat Ravi mencoba membunuhmu, Taecyeon membakarnya hidup-hidup, ya, dia membunuh Ravi."

"haaah~"

Luhan sesak, mendengarnya saja sudah membuat dia berjingit ketakutan, sepertinya dia masih kesulitan mendengar seseorang membunuh dengan mudahnya hingga membuat kepalanya berputar disertai rasa mual yang hebat "Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanyanya tak mengerti lalu Doojoon mengambil kesempatan untuk mencengkram kedua bahu Luhan cukup kuat "Hanya satu agar kau bisa mengakhiri semua teror Donghoon dan Taecyeon, percayalah padaku kali ini, aku bisa membuatmu terlepas dari dua iblis mengerikan seperti mereka."

"b-Bagaimana caranya? Apa yang harus kulakukan?"

"usb."

"nde?"

"Satu-satunya yang Donghoon inginkan hanya usb yang kau miliki, berikan benda itu padaku dan biarkan aku yang mengurus sisanya."

"Kenapa aku harus mempercayaimu?"

"Karena Sehun akan terus mengalami hal mengerikan yang sama secara berulang."

"Apa maksudmu?"

Doojoon diam menatap Luhan cukup lama, antara ingin memberitahu atau hanya diam walau berakhir mendesis "Selama kau masih memiliki usb itu, selama kau masih memegangnya maka orang-orang terdekatmu yang akan menjadi target Donghoon, dalam hal ini Sehun!"

Dan benar saja seketika wajah Luhan memucat dengan cepat, bibirnya kelu tak bisa memberi perlawanan lagi hingga tetes keringatnya bisa dilihat Doojoon yang tertohok menyadari semua yang berkaitan dengan Sehun akan menyita perhatian Luhan seutuhnya.

"Jadi yang perlu kulakukan hanya memberikan usb itu padamu?"

"Ya."

Entahlah, pada siapa dirinya harus percaya kali ini, tapi jika dia mengabaikan peringatan Doojoon tentang usb yang sudah diberikan pada ayah Sehun maka kemungkinan dia melihat Sehun terbaring di rumah sakit akan terus berulang dan demi Tuhan, dia tidak akan tinggal diam dan membiarkan hal buruk terjadi lagi pada suaminya.

"Baiklah."

Jadilah Luhan mengiyakan keinginan Doojoon, langkahnya perlahan menjauh darisana hanya untuk memikirkan cara bagaimana mendapatkan usb yang sudah diberikan kepada pihak kejaksaan "Luhan kemana kau akan pergi?"

Terakhir Luhan menatap Doojoon tanpa rasa marah, yang ada hanya tatapan meremehkan yang kemudian dia lantangkan dengan menjawab "Apalagi? Kau menginginkan usb itu dan aku akan segera mendapatkannya untukmu." Katanya menutup setengah pintu ruangan Doojoon sebelum membukanya lagi dan bertanya "Apa aku bisa meminta satu hal padamu?"

"Apapun."

"Pastikan setelah usb itu berpindah tangan Donghoon tidak akan datang lagi padaku, katakan padanya hanya untuk menyakitimu atau membunuhmu aku tidak peduli, hanya jauhi aku dan orang-orang terdekatku terutama Sehun, Kau dengar?"

Hatinya sempat tergores, tapi Doojoon membalasnya dengan senyum dan mengangguk, mengiyakan keinginan Luhan "Baiklah, kau memegang janjiku. Setelah usb itu sampai padaku, aku pastikan Donghoon tidak akan mengusikmu lagi."

"Bagus."

Setelahnya pintu itu tertutup, meninggalkan Doojoon yang berteriak putus asa didalamnya sementara Luhan berpura-pura tidak mendengarkan atau berusaha tidak menyesali apapun yang dia katakan pada Doojoon hanya untuk memikirkan cara mendapatkan benda sialan yang telah menghancurkan hidupnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

BLAM!

.

Dan mengikuti instruksi Doojoon untuk mencari dimana usb itu berada, kini Luhan sudah berada di rumah kedua orang tua Sehun, rumah yang memiliki cerita masa kecil dan kisah cinta yang berusia panjang miliknya dan Sehun.

Awalnya dia ragu untuk melangkah masuk kedalam, bertemu dengan kedua orang tua yang cukup menyakiti hati dan pikirannya, dia ragu untuk masuk kedalam, kiranya kalimat kasar apalagi yang akan dia ucapkan kepada kedua orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan suaminya seperti saat ini.

Klik….

Namun keraguan itu dibuangnya jauh-jauh, Sehun memerlukannya dan dia akan melakukan apapun sebagai ganti dari rasa sakit dan kehilangan yang sudah diberikannya pada Sehun selama tiga bulan.

Ma berhentilah, kau sudah terlalu banyak menenggak obat penenang

Lalu terdengar suara memohon yang ditebak Luhan milik bungsu dari tiga bersaudara Oh, itu Jaehyun yang sedang memohon, membuat Luhan mempercepat langkah kakinya untuk menemukan keadaan mengenaskan dimana Jaehyun sedang menjauhkan obat penenang sementara wanita malang yang surai wajahnya begitu pucat sedang memeluk kaki putra bungsunya, memohon untuk diberikan obat.

Jae berikan pada mama nak, mama sesak.

Cukup untuk hari ini, JEBAL MA!

Nak mama mohon, berikan obatnya.

Entah apa yang terjadi di rumah yang dulunya hanya dipenuhi tawa dan cinta, keadaan yang seluruhnya nyaris hilang digantikan sunyi dan hampa yang begitu mencekik siapapun yang beada disana.

Ditambah dengan adegan mengiris hati saat kedua ibu dan putra itu saling memohon untuk dua hal yang bertentangan, jika si bungsu menginginkan ibunya untuk berhenti menenggak penenang maka wanita yang dulunya begitu cantik namun kini terlihat sangat menderita terus berlutut dan menangis pedih karena dijauhkan dari obat yang membuatnya ketergantungan.

"Ma…."

Suaranya serak nyaris tak terdengar, mencoba untuk memanggil wanita yang sudah melahirkan suaminya, membesarkan suaminya penuh kasih sayang bahkan dirinya juga sempat merasakan kasih sayang tulus yang diberikan wanita yang sudah dipanggilnya Mama sejak kecil.

Jaehyun berikan obat mama,

Mengetahui suaranya tak terdengar, Luhan mencoba menaikkan suara dan memanggil lantang ibu dari suaminya yang kini juga menjadi ibunya

"MAMA….."

Kali ini tak hanya memanggil dia juga perlahan melangkah masuk melewati kegelapan mencekam di rumah suaminya, lalu samar lampu di dapur membuat wajahnya bisa dilihat jelas oleh adik ipar maupun ibu mertuanya yang kini menatapnya dengan tatapan berbeda. Jika Jaehyun tergagap memanggilnya "hyung…" penuh tatapan haru maka hal berbalik dilakukan sang mama saat melihat dirinya dalam kegelapan mencekam dirumah mereka.

"JAE BERIKAN OBATNYA PADA MAMA!"

"Ma kenapa kau berteriak? Tenanglah, Lu-…."

"MAMA MELIHAT LUHAN NAK! CEPAT—cepat berikan obatnya, hkksss, tidak mungkin itu Luhan."

Jaehyun meletakkan obatnya di tempat paling tinggi yang tak bisa digapai sang mama, dia kemudian berjongkok, memeluk erat ibunya seraya berbisik "Dia Luhan hyung ma."

"tidak mungkin, Kau pasti berbohong lagi nak, Luhan sudah tiada dan itu karena mama dan papa."

"Ma…."

Di pelukan Jaehyun, wanita yang terlihat sangat menyedihkan itu menangis pilu, Luhan bahkan bisa mendengar penyesalan yang membuatnya sadar bahwa sebenci apapun dia pada wanita yang telah melahirkan Sehun, dia juga tidak bisa membohongi diri jika dia sangat menyayangi kedua orang tua Sehun sama seperti Sehun menyayangi kedua orang tuanya.

"Dia Luhan hyung, aku tidak berbohong."

"tidak mungkin itu Luhan, tidak mungkin nak."

Luhan berjalan semakin mendekati Jaehyun dan ibunya, dia pun mengerling si bungsu hingga membuat Jaehyun melepas pelukan ibunya digantikan Luhan yang kini berjongkok di depan wanita yang kehilangan banyak berat badan dan nyaris pucat tanpa senyum cantik yang menjadi ciri khas ibu suaminya.

"Ma, ini aku."

Jihyo tetap tertunduk, matanya terpejam erat tak ingin mempercayai halusinasi dan keinginannya bahwa saat ini Luhan sedang berada di hadapannya, sedang berbicara dengannya.

"berikan obatnya padaku, berikan obatku Jae-…."

"Ma…."

Barulah saat Luhan memegang wajahnya, tubuh Jihyo berhenti gemetar, dia merasa kehangatan tangan Luhan adalah nyata, dia juga bisa merasakan hembusan nafas Luhan mengenai wajahnya.

Ini nyata

Ini bukan halusinasinya lagi.

Entah keinginan macam apa yang ada padanya, tapi ibu dari tiga anak itu mencoba berdamai dengan pikiran mengerikan yang selalu menghantuinya selama tiga bulan terakhir, dia mencoba untuk berharap dan benar saja, saat dia mendongakan kepalanya, tatapannya dikunci oleh sepasang mata yang begitu dikaguminya sejak pertama kali bertemu dengan putra mendiang kedua sahabatnya, istri dari putranya

Jihyo bahkan terduduk jatuh di tempatnya berada sampai Luhan tersenyum dan menegaskan sekali lagi"Aku Luhan."

"Luhan?"

Luhan mengangguk tanpa ragu, diusapnya air mata yang terus membasahi wajah ibu dari pria favoritnya "hmm….Aku Luhan."

"ba-Bagaimana bisa nak? Bukankah kebakaran itu membuatmu-…."

"Aku tidak pernah ada di kebakaran itu, seseorang membawaku pergi dan disinilah aku, dihadapanmu dan baik-baik saja." katanya tak tahan melihat wajah pucat Jihyo ditambah kenyataan bahwa dia harus memberitahu ibunya bagaimana kondisi Sehun saat ini "Kenapa Mama seperti ini? Kenapa mengkonsumsi penenang sebanyak ini? kenapa Ma?" tanyanya sanksi dan dibalas tangisan Jihyo yang kemudian melompat dan memeluk istri dari putra yang paling dicintainya.

"Luhaaaaan…..anakku, syukurlah nak,"

Dan tak ada yang dilakukan Jihyo selain memeluk erat Luhan penuh syukur dan rasa tidak percaya, keinginan bahwa Sehunnya akan hidup dengan bahagia seperti masih akan menjadi kenyataan untuknya, Jihyo terus memeluk Luhan, menciumi seluruh wajah menantunya untuk memeluknya lagi "Mama tidak percaya nak, syukurlah nak, anakku."

Terlepas rasa marah yang masih disimpannya sesaat untuk kedua orang tua Sehun, Luhan mengalah, dia hanya mencoba untuk tidak membuat dinding yang semakin memisahkan Sehun dengan kedua orang tuanya.

Dia menyadari satu hal selama dia tidak mengingat apapun, entah seberapa banyak bahagia yang dia rasakan bertemu dengan Sehun disaat dia tidak mengingat apapun, Luhan tetap merasakan kosong yang membuat hatinya sesak dan itu berasal dari kerinduannya akan kasih sayang orang tua.

Jadi keputusannya datang ke rumah Sehun malam ini bukan hanya untuk mengambil usb tapi juga untuk meruntuhkan dinding yang sudah dibangunnya untuk memisahkan jarak dari kedua orang tua yang masih dimiliki suaminya, dinding kokoh yang sudah dia tumbuhkan sejak pernikahannya dengan Sehun kini sengaja dia robohkan dengan harapan tak hanya Sehun tapi dirinya akan merasa lebih baik dengan kasih sayang kedua orang tua yang masih bisa mereka rasakan, bukan dengan kebencian yang selama ini coba mereka berikan.

"Maaf membuatmu terluka ma, Maafkan aku."

Luhan bersuara dibalas gelengan lirih sang mama yang semakin memeluknya erat "Kau tidak bersalah nak, jangan meminta maaf." Pintanya memohon lalu menyadari bahwa tak ada sosok putranya yang selalu menemani Luhan kemanapun Luhan pergi "Lalu dimana Sehun? Apa dia tidak datang?"

Dan pertanyaan itu akhirnya ditanyakan, pertanyaan yang sedang didoakan Luhan agar tidak perlu dijawabnya kini benar-benar terjadi, Luhan sempat tidak mengerti harus menjawab apa, apa dia harus mengatakan tentang kondisi Sehun sebenarnya atau dia harus mengatakan hal lain yang tidak membuat mamanya cemas.

Lalu tak sengaja matanya melihat Jaehyun dan seolah mengerti akan tatapan memohon sang adik, Luhan kemudian menjawab "Sehun akan segera datang."

"Benarkah?"

"hmmh, Aku akan segera membawanya pulang."

"Kalian akan pulang?"

Luhan menyanggupi permintaan ibu dari suaminya, dia mengangguk sedikit ragu tapi matanya tetap menatap lembut sang mama untuk mengatakan "Kami akan pulang, Sehun akan segera pulang pada mama."

"Gomawo Lu!"

Jihyo memekik bahagia dan Luhan mulai meminta Jaehyun memberikan penenang yang biasa dikonsumi ibunya "Sekarang minumlah ma."

"hyung…"

Luhan mengerti akan kecemasan Jaehyun, singkatnya dia juga tidak ingin memberikan lebih banyak obat penenang tapi jika konsumsi obat ibunya dihentikan secara tiba-tiba itu hanya akan menimbulkan kasus dimana tubuh ibu mereka akan kejang dan tak sadarkan diri secara tiba-tiba pula.

"Tidak apa Jae, mulai hari ini aku akan menurunkan perlahan dosis dari penenang yang ibu konsumsi."

"Apa akan baik-baik saja?"

"Percaya pada hyung." katanya tersenyum, tak lama Luhan memberikan satu pil penenang pada Jihyo yang diambil sang mama dengan cepat seolah dirinya sangat membutuhkan obat itu dan tidak tahan menunggu lebih lama

Glup~

Bahkan tanpa air ibu dari tiga orang putra itu berhasil menenggak obat yang sudah dikonsumsinya sejak tiga bulan yang lalu, tubuhnya tak lagi bergetar dan Luhan membantu Jihyo berdiri, membawa sang mama ke dalam kamar yang biasa digunakan untuknya tidur saat bermalam sewaktu kecil "Tidurlah ma."

"Nanti kau akan pergi jika mama terlelap."

Luhan tersenyum, mengusap sayang dahi ibunya untuk berjanji "Jikalaupun aku pergi aku akan segera kembali."

"Dengan Sehun?"

"Dengan Sehun." timpalnya berjanji diiringi anggukan tenang dari sang mama "Selamat malam Lu."

"Selamat malam ma."

Efek obat yang diminum Jihyo termasuk cepat bekerja, karena kurang dari lima menit ibunya mengkonsumsi penenang dia sudah tertidur tanpa merasakan sakit lagi, membuat lagi-lagi senyum miris terlihat di wajah Luhan yang kini menaikkan selimut hingga sebatas leher ibunya sebelum bergegas keluar dari kamar tempat ibunya berbaring.

"Bagaimana mama?"

Jaehyun bertanya, Luhan pun tersenyum seraya menutup perlahan pintu tempat ibunya beristirahat "Sudah tidur."

"Mama akan selalu tidur dengan obat itu?"

"Tidak, aku akan menurunkan dosisnya perlahan." Katanya menepuk pundak Jaehyun seraya menatap rindu pada rumah yang dijadikannya rumah kedua saat kecil dulu, banyak kenangan dirumah ini, terlalu banyak hingga rasanya Luhan bisa menyebutkan satu sampai seratus hal-hal yang sudah dilewatinya bersama Sehun disini.

"Hyung? kau baik-baik saja?"

"hmmh…Aku hanya rindu pada rumah ini."

"Aku juga rindu padamu hyung."

Luhan tertawa, mengangkat kedua tangannya dan meminta Jaehyun memeluknya "Kemarilah." Yang dengan senang hati dilakukan Jaehyun untuk memeluk sosok mungil yang tak menatap asing lagi padanya "Hyung, kau benar Luhan hyungku?" tanyanya dibalas tawa Luhan yang kini mengusap sayang punggung dan tengkuk adik iparnya "Tentu saja."

"Bukan kakak Eunwoo?"

"Aku hanya mirip dengan kakak Eunwoo, aku tetap Luhan hyungmu."

"syukurlah, Aku takut saat kau menatapku seperti tidak mengenalku hyung, aku mengira kau orang lain."

"Maaf Jae."

Jaehyun menggeleng, dia semakin memeluk erat Luhan seraya mengatakan "Kau tidak salah hyung, aku yang seharusnya menjagamu dengan baik dan aku akan melakukannya mulai malam ini."

"araseo."

"Terimakasih kau sudah baik-baik saja."

"Terimakasih juga karena kau sudah lulus dan masuk ke Seoul university, hyung bangga padamu."

Jaehyun tersenyum bahagia, memeluk Luhan semakin erat seraya berbisik "Gomawo hyung."

Luhan mengangguk, mengerti yang dikatakan Jaehyun untuk bertanya "Dimana papa?"

"huh?"

"Ada apa?" tanyanya melepas pelukan Jaehyun dan menyadari raut wajah Jaehyun kembali cemas seolah dia menanyakan hal yang salah "Jae?"

"Apa kau yakin?"

"Tentang apa?"

"Bertemu dengan papa, apa kau yakin hyung?"

"wae?"

"Aku sudah mendengar semuanya dari Sehun hyung, aku sudah tahu siapa ayah kami dan aku tidak mau kau terluka karenanya."

"Cukup Jae, kau bahkan masih terlalu muda untuk mengetahui masalah kami."

"Tapi hyung…."

"Aku janji kali ini semua akan baik-baik saja, hanya beritahu aku dimana papa."

Awalnya Jaehyun ragu tapi saat Luhan mengatakan semua akan baik-baik saja maka tak ada pilihan lain selain membawa Luhan ke kamar ayahnya, keduanya sama-sama gugup menebak apa yang akan terjadi, tak ada yang berbicara sampai akhirnya Jaehyun membuka pintu kamar hingga terlihat sosok paruh baya yang dulu begitu gagah kini diperdaya kursi rodanya, matanya tak menutup, dia hanya menatap kosong kedepan seolah mengharap akan kedatangan seseorang, kedatangan Luhan.

Luhan pun dibuat lemas melihat betapa menyedihkan kondisi ayah mertuanya, sekelibat rasa bersalah itu mulai membuatnya sesak hingga terpaksa dirinya berpegangan pada lengan Jaehyun seraya bertanya gugup "Apa yang terjadi pada Papa?"

Jaehyun bisa menangkap suara kakak iparnya bergetar saat menanyakan kondisi ayahnya, dia bahkan bisa melihat setetes air mata milik Luhan hyungnya jatuh cepat melewati wajahnya, hal itu cukup membuat Jaehyun lega melihat menyadari bahwa sebenci apapun Luhan pada keluarganya akan selalu ada maaf tersirat dari pria yang begitu dikaguminya sejak kecil

"Kyungsoo hyung mengatakan ini post traumatic stress disorder, kau tahu hyung? Semacam rasa bersalah yang selalu dirasakannya secara berlebihan, papa baik secara fisik tapi mental? Dia bersembunyi di alam bawah sadarnya, mengelak bahwa kau telah tiada dan hanya duduk disana, menatap ke jendela berharap kau berlari dan memanggilnya lagi, mungkin."

Bisa dikatakan tak hanya Insung yang kini merasa bersalah, hal yang sama juga dirasakan Luhan saat melihat pria yang selalu terlihat gagah di matanya sejak kecil kini hanya duduk tak berdaya di kursi rodanya, tak berkedip, hanya memandang entah apa diluar sana tanpa menggerakan tubuhnya sedikitpun.

"Sejak kapan?"

Jaehyun merangkul pundak Luhan, menenangkan tubuhnya yang mulai bergetar lalu memberitahunya "Sejak kami mengira kau telah tiada hyung."

"Selama itu?"

"Ya, saat itu papa masih tidak sadarkan diri tapi beberapa hari setelah pemakamanmu dilakukan papa sadarkan diri dan hari itu semua berubah untukku, Sehun hyung menyalahkan papa dan menyerangnya dengan semua kata-kata menyudutkan hingga membuat papa mengalami trauma yang membuat keadaannya seperti ini." katanya tertawa pahit lalu melanjtka kebagian paling menyesakan untuk didengar Luhan

"Sehun dan Yunho hyung bertengkar hebat, keduanya memutuskan angkat kaki dari rumah, lalu tak lama mama tanpa sepengetahuanku mengkonsumsi obat penenang, minggu pertama mengkonsumsi tubuhnya kejang dan diharuskan dirawat di rumah sakit, lalu mama diizinkan pulang tapi hingga sekarang aku tidak bisa mengatur seberapa sering mama mengkonsumsi obat tanpa sepengetahuanku."

Refleks, Luhan berbalik memeluk Jaehyun, semua cerita singkatnya cukup membuat hati Luhan tersayat miris, dia tidak tahu sekuat apa remaja yang sedang dipeluknya saat ini, yang telah melewati banyak hal sulit seorang diri tanpa menyalahkan kedua kakaknya yang begitu egois membuat keputusan tanpa memikirkan perasaannya.

"hyung?"

"Mianhae Jaehyunna, Mianhae." Isaknya tersedu, meminta maaf atas semua yang telah dilakukannya hingga membuat keluarga yang selalu memanjakannya sejak kecil satu persatu meninggalkannya "hyung…"

"Aku minta maaf karena membuat Sehun menyerang ayah dan kakakmu, aku minta maaf karena harus membuatmu mengalami masa sulit seorang diri, mianhae Jaehyunna."

Dan ketika isakan Luhan semakin tak bisa dikendalikan, Jaehyun bersikap layaknya pria dewasa yang bertanggung jawab atas air mata kakaknya, dia pun mengusap cairan bening yang membasahi wajah Luhan untuk berbisik "Saat kau masuk ke rumahku beberapa menit yang lalu, aku memiliki keyakinan semua kesulitanku akan segera berakhir, semua kesedihanku selama ini tidak akan ada artinya jika bahagia sedang menungguku, aku sudah baik-baik saja hyung, jangan menangis lagi."

"Kau yakin?"

"Asal kau tidak meninggalkan aku lagi, aku yakin akan hal itu."

"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi Jae, kita akan bersama mulai malam ini."

Jaehyun mengangguk sebagai persetujuan janji mereka, berniat menutup pintu kamar ayahnya agar tidak membuat Luhan tertekan namun nyatanya Luhan memegang tangannya, menggeleng lemah untuk memohon "Biarkan aku bicara berdua dengan papa."

"…"

"Hanya sebentar Jae."

"Apa kau akan baik-baik saja?"

Luhan tersenyum meyakinkan seraya menjawab "Tentu saja." Hingga membuat Jaehyun tak memiliki pilihan lain selain mengangguk dan memberitahu "Aku tunggu dibawah, jika terjadi sesuatu segera panggil aku."

"Pasti."

Lalu Jaehyun memeluk Luhan terakhir kali sebelum bergegas meninggalkan kedua orang yang begitu dicintainya, berharap semua hal buruk yang pernah terjadi diantara mereka perlahan menghilang digantikan cinta dan kasih yang akan membuat rumahnya kembali berwarna, seperti dulu.

.

.

Klik….!

Dan setelah memastikan Jaehyun meninggalkannya berdua dengan sang ayah, Luhan perlahan menutup pintu kamar kedua orang tua Sehun, awalnya dia ragu, tapi melihat kondisi sahabat mendiang papanya sangat menyedihkan hanya membuat rasa bersalah Luhan semakin besar dan dia tidak suka menyakiti hatinya sendiri.

"Papa…."

Lalu suara seraknya memanggil sebutan yang bisa disebutnya sejak kecil, berharap ada jawaban walau hanya diam yang diterima Luhan sementara ayahnya menatap kosong disana, tak bergerak sedikit pun.

"Ini aku, Luhan." Katanya lirih, berjongkok didepan sang ayah walau tak mendapat respon apapun kecuali tatapan kosong yang menatap keluar jendela "Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau seperti ini?" tanyanya lirih, berusaha mengalihkan perhatian ayahnya namun percuma karena hanya diam yang diterima Luhan sebagai jawaban.

"Sadarlah, jangan seperti ini, lihat aku Pa."

"….."

Luhan tak tahan, hatinya sakit melihat wajah ayahnya tak memiliki ekspresi apapun, dia pun mencoba menggengam tangan Insung namun dibuat terisak pilu menyadari ayahnya juga memiliki luka bakar seperti miliknya, yang membedakan miliknya tertutupi pakaian sementara milik ayah Sehun sangat terlihat di sekitar tangan kiri yang kini sudah membekasnya.

"Pa…."

Luhan menyembunyikan kepalanya di antara kedua lutut Insung yang masih tak menjawabnya, dia berusaha untuk tidak terisak, menikmati hening yang menyelimuti keduanya hingga suara lirih Luhan kembali terdengar "Tolong aku dan Sehun." ujarnya serak, berusaha untuk tidak menangis walau berakhir terisak dalam dia menggigit kuat kedua bibirnya.

"Kami membutuhkanmu."

Lalu hening lagi, sesekali Luhan bisa meraskan pergerakan di jemari ayah mertuanya, tapi semua itu hanya beberapa saat karena setelah itu hanya diam yang diterimanya, hatinya sakit melihat kondisi ayahnya sudah seperti ini sejak tiga bulan yang lalu.

Luhan bahkan tidak sampai hati untuk bertanya dimana usb itu berada, matanya mencari ke setiap sudut kamar orang tuanya hingga satu folder bag hitam yang selalu dibawa ayahnya bekerja terlihat.

"Aku akan menyelesaikan ini secepatnya, aku janji."

Lalu Luhan beranjak dari tempatnya saat ini, langkahnya gontai menggapai folder bag hitam milik ayahnya sebelum akhirnya benda kecil itu berada di tangannya dan segera mencari usb yang diberikan Luhan sebelum kecelakaan itu menimpanya, kecelakaan yang membuatnya keguguran beberapa bulan yang lalu.

"Dimana ayah menyimpannya, dimana-…..Ini dia!" geramnya menatap murka usb berukuran sangat kecil yang memiliki sesuatu yang besar didalamnya, yang telah merusak baik hidupnya maupun hidup Sehun, tangannya mencengkram kuat usb milik mendiang ayahnya lalu disimpannya kedalam mantel yang digunakan.

Matanya sesekali melirik pada ayah Sehun, tertawa pahit dipenuhi rasa bersalah bersamaan dengan kembalinya ingatan tentang siapa dirinya, dia kemudian merasa hatinya sesak jika tidak memberi peringatan terakhir pada pria paruh baya yang mau bagaimanapun belum dia maafkan sepenuhnya.

Luhan kembali berjongkok di depan ayah dari suaminya, membawa kedua tangan Insung yang terasa kaku dan dingin ke genggaman tangannya untuk memberikan peringatan dengan nada tegas terakhir yang dimiliki Luhan "Jika benar papa merasa bersalah padaku, sadarlah. Tatap mataku dan katakan maafmu secara langsung, Papa dengar?"

"…"

Buru-buru Luhan merogoh mantelnya, mengambil usb berukuran kecil itu lalu memperlihatkannya pada Insung "Aku akan bertarung dengan Donghoon, musuhmu sejak puluhan tahun yang lalu, jadi jangan katakan aku dan Sehun harus menghadapinya seorang diri, kami membutuhkan papa, jadi kumohon sadarlah" Luhan tertunduk sekilas, menguatkan dirinya sekali lagi sebelum meninggikan suaranya "Papa harus menolongku dan Sehun, papa harus-…JEBAL PA!"

Namun tak ada perubahan berarti karena Insung tetap tak bergeming, Luhan merasa begitu dikhianati oleh sikap ayahnya, dia melepas genggaman tangan Insung dari tangannya seraya bergumam "Aku tidak akan memaafkan papa jika bajingan itu menyentuh Sehun lagi, menyentuh mama ataupun Jaehyun! Papa harus sadar dan bertanggung jawab atas kesalahan mengerikan yang papa buat di masa lalu, jangan limpahkan semua ini pada kami, jangan-….." isaknya menggeram kesal sebelum berdiri dan menatap ayah mertuanya penuh air mata "Jangan melarikan diri lagi Pa, aku membutuhkanmu." Katanya menghapus air mata yang terus membasahinya sejak awal kedatangannya untuk bergegas pergi meninggalkan ayahnya yang tak berdaya di kursi roda.

"haaah….rrrhhh~"

Diluar kamar, Luhan kembali menangisi kondisi ayahnya, bibirnya menggigit kuat sementara kedua tangannya bergantian memukuli dadanya yang sesak, dia tidak tahan melihat bagaimana seseorang bisa hidup dengan kondisi seperti itu selama tiga bulan.

Rasanya percuma status dokter yang disandangnya saat ini, terlebih saat dia tidak bisa melakukan apapun untuk menolong keluarganya, Luhan bahkan terus mengumpat marah lalu tiba-tiba seseorang berjongkok didepannya dan memberikan segelas air untuknya.

"Minumlah dulu hyung."

Luhan memalingkan sejenak wajahnya yang kacau dari tatapan Jaehyun, lalu tiba-tiba Jaehyun menggenggam kedua tangannya dan menyerahkan segelas air untuknya minum "Minumlah hyung." Katanya memohon lalu Luhan menenggak kasar air yang diberikan Jaehyun untuknya.

"Perlahan saja." Jaehyun mengingatkan tapi rasanya Luhan sudah tidak peduli karena yang dilakukannya hanya memberikan gelas kosong itu pada Jaehyun, menatap adiknya cukup lama lalu memberitahu Jaehyun dengan tegas "Aku akan memindahkan papa ke rumah sakit, dia harus mendapatkan perawatan dan penaganan yang tepat dari tim medis."

Lesung di pipi Jaehyun terlihat, dia tersenyum lalu mengangguk tanda setuju "Itu juga yang dikatakan oleh Kyungsoo dan Baekhyun hyung."

"Lalu kenapa kau tidak membawa papa ke rumah sakit secepatnya?"

"Aku menunggumu hyung."

Luhan tertawa pahit mendengar penuturan bodoh Jaehyun hanya untuk menantang remaja dua puluh tahun didepannya "Bagaimana jika benar aku telah tiada? Apa kau akan terus menungguku."

"Ya."

"JAEHYUN!"

"Karena bagiku dan Papa, jika kau sudah tiada, itu artinya kami juga."

"Jaga bicaramu!"

"Aku serius hyung, aku-…."

Luhan sengaja melompat pada adik iparnya, memeluk Jaehyun erat seraya berbisik "Cukup, sudahlah, aku sudah kembali, aku akan membawa papa kerumah sakit, aku juga akan menjagamu dan mama, aku disini dan kalian akan baik-baik saja."

Singkat, tapi Jaehyun bisa merasakan kesungguhan Luhan hingga membuat kedua tangannya membalas pelukan istri dari kakak yang paling disayanginya untuk bergumam "Untuk segalanya, terimakasih hyung."

"Jaehyunna aku harus memberitahumu sesuatu tapi berjanjilah jangan memberitahu mama atau papa sekalipun."

Tak mengerti, Jaehyun bertanya "Ada apa hyung?"

Tangannya mencengkram kuat tangan Jaehyun, ketakutannya mulai berlebihan saat mengatakan "Sehun mengalami kecelakaan, kakakmu dirawat di rumah sakit ini."

"m-Mworago?"

"aniya Jaehyunna, tenanglah, Baekhyun sudah membuat keadaan Sehun menjadi lebih baik, Sehun belum sadarkan diri tapi kondisinya sudah stabil."

"a-Apa yang terjadi hyung?"

"Aku tidak bisa memberitahumu lebih banyak selain tentang ini, jadi kumohon jangan beritahu mama, jangan buat mama merasa semakin tertekan dan jangan-…."

Buru-buru Jaehyun memeluk Luhan, menenangkan kakaknya yang begitu ketakutan seraya mengangguk, mengerti akan semua hal yang coba dikatakan Luhan "Baiklah hyung, aku tidak akan bertanya lagi, aku juga tidak akan memberitahu mama. Aku percaya padamu hyung, tenanglah, kau sangat gugup."

Berangsur nafas Luhan mulai kembali normal, pikirannya terlalu berlebihan mengira Jaehyun akan berteriak dan menuntut untuk bertemu Sehun, beruntung adiknya sudah tumbuh menjadi pria dewasa hingga membuat Luhan benar-benar bersyukur tak perlu berdebat mengenai kondisi Sehun "Gomawo Jaehyunna, aku janji akan membawa hyungmu pulang, secepatnya."

Jaehyun pun hanya tersenyum lega, janji Luhan seperti mengangkat beban hidup yang membuatnya sesak tak bernafas, dia pun memeluk Luhan semakin erat seraya bergumam "Aku menunggu kalian disini, di rumah kita."

.

.

.

.

.

"Aku akan datang lagi setelah keadaan hyungmu lebih baik."

"hmm…Gomawo hyung."

"Sudah menjadi tugasku menjaga Sehun, tugasmu hanya menjaga kedua orang tuamu. Kau dengar?"

Jaehyun tersenyum kecil, tatapannya lelah namun dia tetap mengangguk sebagai jawaban "Aku dengar."

"Baiklah, aku pergi."

"Hati-hati hyung."

Luhan mengangguk, berniat memasuki mobil milik Chanyeol sebelum teringat sesuatu yang harus dia beritahukan pada adik iparnya "Jae."

"Ada apa?"

"Temui Taeyong di rumahku yang dulu, kau ingat?"

Rasanya seperti mimpi saat Luhan menyebutkan satu nama yang tak pernah didengarnya lagi selama tiga bulan, Jaehyun bahkan harus menggenggam kuat-kuat pagar rumahnya untuk bertanya, memastikan "Menemui siapa? Siapa yang harus aku temui hyung?"

Dan ekspresi Jaehyun adalah hal wajar untuk Luhan, entah sudah berapa lama kedua adiknya tidak bertemu dan dibatasi rasa benci karena salah paham yang tak kunjung usai, jadi saat keadaan sudah menjadi lebih baik maka Luhan dengan senang hati akan membuat dua belahan jiwa yang saling merindukan kembali bertemu.

"Taeyong." Ujarnya tegas disertai air mata Jaehyun yang menetes terlalu rindu pada kekasihnya "Ta-Taeyong? Taeyongku?"

Luhan mengangguk membenarkan, tersenyum lagi pada adik iparnya untuk mengulang "Taeyongmu, dia sudah kembali Jae, temui dia dan jangan pernah kehilangan dirinya lagi, jangan melakukan kesalahan yang sama yang terjadi padaku dan Sehun, saling meninggalkan bukanlah jalan keluar tapi bunuh diri jika kalian masih saling mencintai."

Jaehyun membuka cepat pagar pembatas antara dirinya dan Luhan, setengah berlari, dia pun segera menarik lengan Luhan dan membawa kakak iparnya ke dalam pelukan paling hangat yang bisa dia berikan "Maaf atas semua hal mengerikan yang harus kau lalui hyung, maaf."

"Anak bodoh, kenapa kau harus minta maaf?" Luhan membalas pelukan Jaehyun, mencium pundak adiknya yang terlalu tinggi dengan penyesalan di hati karena membuat Jaehyun harus menerima kebencian darinya cukup lama "Mulai sekarang kau harus bahagia Jaehyunna."

"Kau juga hyung, Kau juga." Tegasnya sedikit mengangkat tubuh mungil Luhan, dia ingin menyampaikan banyak hal pada kakak iparnya yang telah kembali tapi tidak tahu bagaimana cara yang benar. Jadilah dia memeluk Luhan sangat erat, seperti ingin menyampaikan bahwa mulai hari ini dia juga akan bertanggung jawab untuk kebahagiaan Luhan, itu janji yang secara tak langsung dibuat oleh dirinya sendiri

"Aku sangat menyayangimu hyung, terimakasih sudah kembali,"

"ara….Sekarang biarkan aku pergi, Sehun menungguku." Luhan menepuk sayang pundak adiknya, memohon untuk dilepaskan hingga tawa kecil terlihat dari remaja yang kehilangan banyak berat tubuhnya "Makanlah yang banyak, kau sangat mengerikan dengan wajah pucatmu casper."

"Aku akan makan yang banyak jika kau yang memasak untukku."

"Baiklah, mudah untukku."

"Gomawo hyung."

Luhan memeluk lagi adik dari suaminya, mencoba untuk memberi salam perpisahan terakhir sebelum masuk kedalam mobil dengan Jaehyun yang menutup pintu mobilnya "Aku akan berkunjung ke rumah sakit."

"Pastikan Mama dan Papa tidak mengetahui kondisi hyungmu."

"Aku tahu." Katanya dibalas senyum bangga Luhan yang kini menyalakan mesin mobil "Jangan lupa temui Taeyong."

"Aku akan segera menemuinya, bye hyung."

"bye."

Perlahan Luhan menginjak gas mobilnya, memperhatikan Jaehyun yang masih melambaikan tangan dari kaca spion mobil sampai suara ponselnya bergetar dan nama Baekhyun tertera disini.

Buru-buru Luhan mengenakan earphone miliknya, jujur dia cemas, takut jika Baekhyun mengabarkan sesuatu terjadi pada suaminya dan itu membuat Luhan gugup hanya untuk sekedar menggeser slide ponsel miliknya.

"Baek? Ada apa?"

"Kau dimana Lu?"

"Dalam perjalanan ke rumah sakit, apa sesuatu terjadi?"

"Cepat kembali."

"Ada apa? Jangan katakan sesuatu terjadi pada Sehun."

"Memang terjadi sesuatu pada Sehun."

Luhan hampir kehilangan fokusnya saat Baekhyun mengatakan hal yang paling takut untuk didengarnya saat ini, Luhan mulai menginjak tak beraturan gas mobilnya, terkadang menekan terlalu cepat, terkadang dia berhenti mendadak, tangannya gemetar memegang kemudi namun tetap ingin tahu bagaimana kondisi suaminya "apa yang terjadi Baek?" tanyanya cemas, kentara sekali dia ingin menangis, Luhan bahkan bisa mencelakai seseorang dengan kondisinya saat ini, beruntung Baekhyun terdengar menarik nafas lega sebelum mengalah dan memberitahu Luhan sebuah kabar baik.

"Sehun sadarkan diri, dia sudah membuka mata."

Yang mana kabar itu sukses membuat Luhan menginjak kuat rem mobilnya dengan dahi yang membentur kemudi, benturannya cukup keras dan Baekhyun mendengarnya, lalu suasana menjadi hening hingga membuat Baekhyun berteriak panik di panggilan ponselnya "LUHAN!"

"….."

Masih tak ada jawaban, Luhan hening tak menjawab dan Baekhyun tak bisa mendengar apapun kecuali hening yang membuatnya panik, dia mencoba untuk kembali berteriak tapi kemudian terdengar suara lirih Luhan yang bergumam "syukurlah."

"Luhan?"

"Aku akan segera datang."

"Kau baik-baik saja?"

Luhan melepas earphone miliknya, mengaktifkan speaker di ponselnya untuk mengatakan "Aku lebih dari baik Baek, aku sangat bahagia, tunggu aku disana."

.

.

.

.

.

.

"Aku benar-benar sudah lebih baik, kalian percayalah padaku!"

"Sehun?"

Luhan hanya mematung di depan ruang perawatan suaminya, dia tak bisa berkata, bukan karena dia tidak bahagia tapi sangat. Dia sangat bahagia melihat setengah jiwanya sudah membuka mata, wajahnya memang masih pucat tapi setidaknya Luhan bisa melihat senyum paling mempesona dari pria yang paling dicintainya di dunia ini.

"Gomawo sayangku."

Dia bergumam pelan, kakinya melangkah masuk dengan isakan kecil yang coba ditahannya sejak Baekhyun memberi tahu kabar bahagia untuknya. Disana, seluruh keluarga dan teman terdekatnya sedang menemani Sehun yang mulai meracau dan keras kepala akan kondisinya, membuat Luhan tertawa kecil namu tak bisa menyembunyikan jika dirinya sedikit kesal mendengar celotehan Sehun yang terus mengatakan

Aku baik-baik saja

Luhan kemudian mencibir "Bagaimana bisa kau baik-baik saja? Kau masih sangat pucat Oh Sehun!" Dia terkekeh, tapi setengah hatinya pilu menahan isakannya, tak ingin membuat tawa yang begitu dirindukannya hilang hanya karena mengkhawatirkan dirinya.

"Baek kapan Luhan kembali? Aku ingin melihatnya."

"Sabarlah, nanti dia akan datang."

"Hubungi istriku untuk memastikan sekali lagi, aku takut Luhan pergi meninggalkan-…."

"Aku tidak akan melakukannya lagi sayang."

Lalu racauan super cerewet seorang Oh Sehun akhirnya terhenti melihat setengah jiwanya sudah berada disana, pasangan Kai-Soo dan Chan-Baek bahkan dengan kompak mendesah "syukurlah!" sementara kedua pria yang sepertinya sedang dilanda jatuh cinta untuk kedua kalinya hanya saling menatap dan hanya mereka yang tahu arti tatapan penuh rindu yang sedang dilontarkan keduanya.

"Janji?" tak berbasa basi Sehun bertanya, tubuhnya lemas tapi dia tidak akan melewatkan pinky promise dengan Luhan, sekuat tenaga dia mencoba mengangkat tangan kanannya namun berakhir terjatuh karena tak ada tenaga yang menopang "Aku lemas." Rengeknya dan Luhan tersenyum kecil, menghapus air mata yang membasahi wajahnya untuk mengumpat "Bodoh, jangan terlalu banyak bergerak."

"Kalau begitu cepat kemari, aku ingin kau."

Lagi-lagi suara dengusan kesal terdengar dari empat sahabat mereka, membuat Luhan terkekeh sebelum Kai memutuskan "Sebaiknya kita pergi jika ingin menyelamatkan mata kita." Katanya memeluk Kyungsoo diberi anggukan setuju oleh Chanyeol dan Baekhyun "Setuju."

"Kami akan memeriksa kondisimu lebih awal besok pagi."

"Aku sudah baik-baik saja."

"Diam dan hanya turuti prosedur rumah sakit."

"ish! Lu tolong aku."

Luhan bahkan memberi tatapan kesal sebelum meminta pada Baekhyun dan Kyungsoo "Beri dia injeksi elektrolit, tubuhnya lemas."

"ayolah sayang! Jangan bercanda."

"Baiklah, satu liter injeksi siap menantimu besok pagi."

Sehun kesal, dia memalingkan wajahnya sementara kelima pria yang ada di ruangannya tertawa menyebalkan, dia pun sengaja tak bersuara sampai keempat temannya berpamitan "Kami pergi dulu." Dibalas anggukan Luhan yang melambaikan tangan seraya berpesan "Hati-hati."

"mhh…"

Dan setelahnya pintu tertutup, meninggalkan Luhan hanya berdua dengan suaminya yang masih merajuk kesal padanya "Kau mau aku pergi juga?"

Sehun menggeleng lucu dan mulai menatap Luhan memelas "Kapan aku boleh pulang?"

"Sehun kau baru sadarkan dua hari setelah menjalani operasi, setidaknya biarkan Kyungsoo dan Baekhyun memastikan kondisimu lebih dulu." Kesalnya dibalas o dari bibir mungil suaminya "Tapi kau akan disini kan? Menemaniku?"

"Tidak, aku akan pulang dengan Taecyeon."

Dan terkutuklah Luhan karena menyebut nama Taecyeon, hal itu membuat ekpresi wajah Sehun yang pucat menjadi sangat tegang, Sehun kembali memalingkan wajah dan kali ini bukan karena dia merajuk tapi takut dia bertingkah gila dengan melarang Luhan melakukan hal yang diinginkannya.

"Sehun, aku bercanda, sungguh."

"Jika hanya lelucon, itu sangat tidak lucu Lu."

"araseo mianhae…Aku tidak akan mengulangnya lagi."

Sehun masih enggan menatap Luhan, hal itu membuat sang istri cemas hingga terpaksa Luhan duudk di pinggir tempat tidur suaminya dan menangkup paksa wajah Sehun yang membuatnya mengutuk pilu lelucon miliknya karena telah membuat mata Sehun dipenuhi air mata ketakutannya.

"Kau menangis?" tanyanya menyesal dan Sehun menjawab "Bukan keinginanku, air mata ini jatuh begitu saja." jawabnya ketus seraya menghapus air mata dengan tangannya yang lain, yang tidak diinfus.

"Aku hanya bercanda sayang, aku akan tetap disini, bersamamu."

"Aku tahu."

"Kalau begitu jangan memasang wajah mengerikan."

Sehun tersenyum kecil, enggan menanggapi lelucon Luhan tapi seperti tak mau kalah, Luhan kembali menangkup wajah suaminya dan mengatakan penuh keyakinan "Aku Luhan."

"huh?"

"Aku Luhan." katanya mengulangi, berusaha memberitahu Luhan tentang siapa dirinya namun sepertinya Sehun lebih suka membalasnya dengan "Aku tahu, aku juga tidak bilang kau princess jasmine, Kau memang Luhan."

"sshh…tetap menyebalkan." Luhan mengumpat, menarik dagu suaminya mendekat lalu mengecupnya dalam, memaksa bibir Sehun untuk terbuka dan tentu saja Sehun melakukannya dengan senang hati, dia membalas kecupan di bibirnya dan merasa tersiksa karena Luhan begitu menggairahkan tapi tubuhnya lemas tak bisa melakukan apapun

"sial!" katanya mengumpat, merasa tak rela saat Luhan menyudahi ciuman mereka lalu terdengar lagi pernyataan membingungkan dari istrinya "Aku Luhan, maksudku, aku benar-benar Luhan."

"huh?"

"Aku bukan Rein."

Barulah Sehun mengerti maksud dari ucapan istrinya, Luhan sedang menegaskan bahwa dirinya bukan Rein, itu artinya dia sedang berbicara dengan Luhan, benar-benar Luhan, dan dia adalah istrinya.

Tak mau terlalu berharap Sehun masih menahan dirinya untuk bertanya "Sejak kapan?"

Lalu Luhan mengeluarkan liontin yang sudah dipakainya dua hari yang lalu, menunjukkan pada Sehun dan dengan lembut menjawab "Sejak pertama aku melihatmu sesuatu dalam diriku sudah mengatakan aku milikmu tapi aku tak memiliki bukti sampai aku memakai liontin ini, cincin pernikahan kita." Katanya sendu dibalas tatapan Sehun yang mulai menunjukkan emosinya "sayang." katanya tak percaya dan nyaris tak bisa menahan diri sampai Luhan kembali mengatakan "Sejak suamiku mengizinkan aku untuk bertemu pria asing malam itu, sejak ketakutannya menjadi nyata bahwa pria itu akan membawaku pergi, sejak saat itu pula aku memiliki keyakinan dengan atau tanpa ingatanku aku akan tetap memilihmu, aku mencintaimu Sehun, maafkan aku."

Tak tahan, Sehun memaksakan dirinya bergerak, dia menarik lengan Luhan hingga membuat Luhan terpaksa duduk di atas tubuh suaminya, terasa di kepala dan tengkuknya akan kehangatan ciuman Sehun yang terus mengatakan terimakasih padanya.

Hal itu membuat Luhan ikut terbawa emosi yang sedang ditunjukkan Sehun, dia pun ikut menggigit telinga dan menciumi tengkuk Sehun sebelum memeluknya erat dan berbisik dari hatinya yang paling dalam untuk mengatakan "Aku merindukanmu Sehunna, maafkan aku, Maaf karena telah melupakanmu sayang."

Sehun tersenyum kecil, tak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan betapa hatinya kini bisa bernafas dengan baik, tak ada lagi jarum kecil yang menusuk hatinya saat dia menghembuskan nafas, yang ada hanya debaran jantung saat melihat wajah cantik Luhan yang masih begitu sempurna di matanya.

Dari kecil hingga kini mereka menikah, Sehun akan terus memuja Luhan, selamanya. Dan itu masih terjadi sampai malam ini, saat dimana Sehun merasa sangat bahagia hanya karena kedua bola mata cantik Luhan menatapnya.

Diapun membalas "Jangan melakukannya lagi."

"huh?"

"Jangan melupakan aku lagi atau aku akan mati jika kau melakukannya lagi."

Luhan menggigit lembut bibir Sehun, mengecupnya dalam penuh cinta sebelum menatap kedua mata yang selalu memujanya sejak kecil, tertawa sejenak untuk berjanji "Aku tidak akan melakukannya lagi, aku janji."

.

.


.

.

.

tobecontinued

.

.


.

.

Semoga gue dimaafkan sama readers2 nya JTV yang kadang galaknya bikin gue geleng2 kepala, maaf, dimaapin, mohon pengertian, gue juga punya tanggung jawab yang kadang bikin gue gabisa nyentuh dunia Per-Ffan sama sekali, bahkan sekedar IG susah bgt

.

Maaaaaaaf banget….

.

Next, bakal JTV lagi yang UP, dan satu lagi kapan kalian berenti nuduh gue pilih kasih ama FF gue sendiri? Antara pengen ketawa apa mau nangis bawang, entahlah

;

Semua gue adilin seadil dan semakmurnya FF gue, jadi jangan dibawa baper nanti dongkol yaaak

.

Next di JTV buat debay kuy biar pada seneng :"" sbelum puasa lah ya, jadi don't merong2 egen, okeee…terimakasih buat yang udah nungguin, entah yang sabar atau yang ngebet, terimakasih sekali :*

.

daahhhhh