Previous
"Aku merindukanmu Sehunna, maafkan aku, Maaf karena telah melupakanmu sayang."
Sehun tersenyum kecil, tak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan betapa hatinya kini bisa bernafas dengan baik, tak ada lagi jarum kecil yang menusuk hatinya saat dia menghembuskan nafas, yang ada hanya debaran jantung saat melihat wajah cantik Luhan yang masih begitu sempurna di matanya.
Dari kecil hingga kini mereka menikah, Sehun akan terus memuja Luhan, selamanya. Dan itu masih terjadi sampai malam ini, saat dimana Sehun merasa sangat bahagia hanya karena kedua bola mata cantik Luhan menatapnya.
Diapun membalas "Jangan melakukannya lagi."
"huh?"
"Jangan melupakan aku lagi atau aku akan mati jika kau melakukannya lagi."
Luhan menggigit lembut bibir Sehun, mengecupnya dalam penuh cinta sebelum menatap kedua mata yang selalu memujanya sejak kecil, tertawa sejenak untuk berjanji "Aku tidak akan melakukannya lagi, aku janji."
.
Je'Te Veux
.
.
.
Main cast : Lu Han as Xi Luhan
Oh Sehun as Oh Sehun
Rate : T-M
.
.
.
.
.
.
.
Warning! Chap ini berisi Content dewasa,
yang risih dan kawan2nya silakan di skip biar ga ada ceramah diantara kita :*
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Udah di warning loh ya!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yeuu ngeyel
.
.
.
Yauda…
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
HAPPY READING GENGS :****
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kondisinya sudah jauh lebih baik, aku mengijinkanmu pulang."
Tatkala persetujuan agar bisa beristirahat di rumah diberitahukan oleh Baekhyun, wajah Sehun, si pasien, tampak berbinar bahagia, terlebih saat sahabat sekaligus dokter yang bertanggung jawab atas kondisinya mengatakan "Kau juga tidak perlu mengkonsumsi obat, hanya datang untuk pemeriksaan rutin minggu depan."
"yeah!"
Membuat Sehun benar-benar memekik bahagia, hatinya terlalu senang saat membayangkan dirinya berada di rumah, berkumpul dengan kedua putra Kai dan Chanyeol dan...
"Aku yang akan mengawasimu baby bos..."
Dan yang paling terpenting dari semua hal membahagiakan yang terjadi pagi ini, kenyataan bahwa dia akan pulang bersama Luhan yang paling membuatnya berdebar dan tak sabar. Istrinya itu juga terlihat sangat bahagia tapi ditutupinya dengan tatapan galak memastikan bahwa Sehun tidak meremehkan kondisinya pasca operasi.
"Kau memang harus mengawasiku baby Lu, aku ini pasien yang nakal." Bisiknya meremat bokong sang istri dihadiahi tatapan kesal Luhan yang mulai menatap Baekhyun "Bisakah kau mengatakan pada pasienmu untuk bersikap sopan pada dokternya?"
Baekhyun terkekeh disusul protes si pasien yang menarik manja lengan istrinya "Wae? Aku suamimu Oh Luhan."
"Kau menyebalkan." Sungutnya kesal, lalu Baekhyun sengaja membantu Sehun dengan mengatakan "Sayangnya tidak bisa Lu, statusmu bukan dokter saat ini."
"eyy..." Luhan kesal dibalas Sehun yang berbisik "I Love you my bee.."
"Jadi kau mencintai Baekhyun juga?"
"nde?'
Lalu teguran Luhan sukses membuat wajah Sehun sepucat cat dinding di ruangannya, tatapannya takut dan mulai bergerak salah tingkah sementara tangannya erat memegang lengan si pria cantik "aniya...Bukan itu maksudku, aku hanya mencintaimu sayangku."
Luhan kesal pada awalnya lalu tertawa melihat ekspresi cemas Sehun yang membuat seluruh wajahnya menjadi pucat "ha ha ha..."
"Ada apa? Kenapa tertawa?"
Kemudian dia menarik dagu Sehun, mengecupnya lama sebelum mengatakan "Bukan apa-apa, omong-omong aku juga sangat mencintaimu." Balasnya, membuat wajah Sehun bersemu merah sementara Luhan mulai kembali menatap sahabatnya "Kapan aku bisa membawanya pulang?"
"Sekitar satu jam setelah hasil tes terbarunya keluar."
"Oke."
Layaknya anak ayam yang selalu menempel pada induknya, maka sedari tadi yang dilakukan Sehun hanya memeluk Luhan dan menempeli tubuh istrinya tak mau dilepas, dia bahkan terkadang merasa bekas jahitannya masih terasa sakit tapi diabaikannya karena memeluk tubuh mungil Luhan sudah membuatnya sangat baik dan sehat.
Hal itu membuat Baekhyun bisa membaca dengan jelas rencana licik sahabatnya hingga dirinya terpaksa memberi peringatan "Anak-anak sudah menunggu jadi pastikan kalian tidak mampir ke hotel dan bercinta hingga membuat kalian lupa untuk pulang."
"Baek!"
Yang dibalas teriakan protes dari Luhan sementara Sehun tersenyum nakal seraya mengusap sensual perut istrinya "Memangnya tidak mau?" ujarnya merajuk dibalas sengit oleh Luhan yang mengatakan "Setidaknya biarkan jahitanmu kering lebih dulu."
"Tapi aku bisa, aku kuat."
"ha ha ha…."
Baekhyun yang tertawa, merasa jengah dengan isi pikiran Sehun hanya untuk menunjukkan dimana kursi rodanya berada "Kau bahkan harus menggunakan kursi roda."
"shirheo!"
"Kau harus!"
"Sayang…"
Kini Luhan yang dibuat kesal karena pertengkaran dua teman kecil di depannya, di satu sisi dia ingin menyetujui keputusan Baekhyun sebagai dokter bahwa untuk beberapa waktu Sehun harus menggunakan kursi roda, tapi di sisi lain dia tahu suaminya akan menolak meskipun dia memohon karena bagi Sehun, menjadi tidak keren didepannya adalah sebuah dosa dan Luhan lelah mengatakan "kau tetap keren dimataku." Karena hanya akan berakhir dengan penolakan makan malam atau sekedar meminum obatnya.
"Kau harus mendengarkan kataku sebagai dokternya." Baekhyun memperingatkan dan Sehun kembali berulah dengan mengatakan "Luhan dokterku." Yang membuat Luhan harus menarik dalam nafasnya dan berat hati mengatakan "Tidak perlu Baek aku sendiri yang akan memastikan Sehun beristirahat cukup."
"yeah!"
Sehun memekik merayakan kemenangannya dibalas Baekhyun yang belum menyerah mendesak istri dari sahabat bodohnya "Tapi dia akan banyak membuat gerakan tidak berguna, memaksamu melayaninya terutama."
Luhan terkekeh, dia kemudian mengambil kedua tangan Sehun yang sedang melingkari pinggangnya, mengecupi sayang kedua tangan yang tak lagi terasa dingin seperti beberapa waktu lalu untuk memberi jawaban "Aku akan membiarkannya kalau begitu."
"huh?"
"Jika Sehun ingin bercinta aku hanya perlu melayaninya bukan? Lagipula aku juga rindu."
"oh ayolah!"
Dan kedudukan kini berbanding sangat terbalik untuk Baekhyun, awalnya Luhan masih tidak berpihak pada siapapun, tapi lihatlah saat ini, sepasang suami istri didepannya bahkan bertindak terlalu vulgar dengan saling melumat tanpa menghiraukan kehadirannya sebagai dokter, itu membuat Baekhyun kesal, sangat, hingga wajahnya berubah menjadi semerah tomat dan berakhir menghentakan kakinya bergantian, melupakan harga dirinya sebagai dokter dengan memekik.
"TERSERAH KALIAN AKU PERGI!"
Harapan Baekhyun adalah salah satu dari Luhan atau Sehun mencegah kepergiannya, well, itu hanya harapan karena daripada mencegah kepergian Baekhyun, Sehun lebih memilih menyesap manisnya lidah sang istri hingga membuatnya sangat bersemangat sampai Luhan lebih dulu sedikit mendorong tubuh kekar suaminya jika tidak ingin berakhir tanpa pakaian di kamar rumah sakit.
"haah~cukup sayang." bisiknya, dia terengah begitu juga Sehun, yang membedakan mata Sehun masih berkilat penuh nafsu sementara Luhan memasang tatapan paling innocent yang dia miliki untuk memberi sinyal pada suaminya agar bisa menahan diri sedikit lebih lama lagi.
"wae?"
Kali ini Luhan terkekeh, dia menyatukan dahinya dan dahi Sehun seraya berbisik mengalihkan perhatian "Aku rasa Baekhyun kesal pada kita."
"Biarkan saja, taruhan denganku dia akan langsung mencari Chanyeol dan meminta si tiang listrik melumat bibirnya."
"Berhenti mengejek sahabat kita." Tegurnya namun diabaikan Sehun yang kini mencoba menarik dan menidurkan istrinya di tempat tidur rumah sakit walau berakhir meringis karena luka jahitnya tiba-tiba terasa sangat sakit "argh~"
Dan hal itu cukup membuat Luhan terkejut, dia kemudian mendorong perlahan tubuh Sehun lalu memaksanya kembali berbaring dan menatap kesal pada Sehun "Mau bersabar atau kursi roda."
Tak mau kalah, walau masih meringis kesakitan Sehun menjawab konyol "Mau dirimu." Yang mana membuat Luhan semakin membulatkan mata dan mendorong paksa kursi roda yang sudah disediakan Baekhyun kedepan suaminya "Kalau begitu kursi roda." Tegasnya dibalas rengekan kesal Sehun yang kemudian berseru "Baiklah, sabar, entah sampai kapan."
Untuk Luhan tak ada hal yang paling menggemaskan kecuali melihat Sehun merajuk dengan menggertakan kedua giginya, hal itu membuatnya terlihat seperti bayi besar dan Luhan tidak tahan jika hanya diam melihat bagaimana suaminya bisa memiliki banyak karakter dalam satu tubuh.
Dia mengangkat dagu Sehun, melumat terakhir kali sebelum berbisik menguatkan pada suaminya "Kita buat adik bayi setelah kau lebih baik, ya?"
"a-adik bayi?"
Tangan Sehun refleks mengusap perut Luhan, ada tatapan rindu saat dia mengusap perut yang pernah mengandung darah dagingnya, hal itu membuat Luhan sedikit tertohok menyadari bahwa sampai kapan pun daripada dirinya, Sehun lebih menderita dan banyak terluka saat mereka kehilangan calon buah hati mereka.
"Sehunna."
"hmh?"
"Kita benar-benar akan membuat adik bayi lagi sayang, jadi jangan memasang raut sedih di wajahmu, aku benci melihatnya." Katanya ikut mengusap perutnya bersama tangan Sehun dibalas tatapan lucu Sehun yang bertanya "Janji?"
Tak tahan, Luhan kembali menunduk dan melumat gemas bibirnya seraya menyanggupi permintaan Sehun "Janji."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa kita tidak langsung pulang?"
"Sebentar, aku perlu mengambil obat tambahan untukmu."
"Obat? Tapi Baekhyun bilang-….."
Sebelum suaminya benar-benar menanyakan segala hal, Luhan lebih dulu membantu Sehun duduk di kursi lobi utama, dia kemudian memaksa Sehun untuk diam dan hanya memberi peck cepat di bibir suaminya "Sebentar saja, tunggu aku."
Jelas Sehun tidak bisa memprotes istrinya, Luhan bahkan terlalu baik untuk diprotes, jadilah dia hanya bergumam kesal dalam hati sementara percakapan Luhan entah dengan siapa bisa didengarnya dengan jelas.
Jadwal kontrol Tuan Oh minggu depan, pastikan suamimu meminum obatnya jika merasa sakit.
Baiklah, terimakasih perawat Kim
"tsk! Baekhyun bilang aku tidak perlu meminum obat." Katanya bersungut namun tak bisa berlama-lama saat melihat wajah Luhan tersenyum sangat cantik, samar tapi dia bisa mendengar semua percakapan Luhan dengan wanita paruh baya yang Sehun ketahui adalah asisten Luhan saat istrinya bekerja di Seoul hospital.
Omong-omong apa kau tidak akan bekerja lagi di Seoul hospital Dokter Oh?
Aku belum berfikir sejauh itu, saat ini hanya suamiku yang aku pikirkan.
Luhan menjawabnya dengan senyum paling cantik yang bisa dilihat Sehun, membuat hati pria tampan itu berdebar dan ikut tersipu malu mendengar penuturan istri tercintanya.
Kau tahu formasi dokter tidak bertambah di rumah sakit ini sejak kepergianmu dokter Oh
Apa maksudmu?
Ya, banyak dokter yang datang dan pergi tapi tak ada satupun yang tinggal.
Dan sepertinya sesuatu mengganggu Luhan, dilihat dari wajahnya dia menjadi cemas dan tak segan bertanya
Apa kau yakin perawat Kim?
Ya tentu saja dokter Oh, kami bahkan sudah ditinggalkan tiga dokter berbakat hari ini.
Apa salah satunya Jinyoung?
nde? Ah, dokter Park maksud anda?
Dan entah karena alasan apa Sehun hanya bisa tersenyum pahit saat istrinya bertanya tentang pria yang mengaku sebagai adiknya beberapa waktu lalu, ada rasa tak rela Luhan masih membagi pikirannya dengan Jinyoung, tapi kembali lagi pada fakta bahwa tanpa bantuan Jinyoung mungkin Luhannya tidak akan bertahan dan tidak ada di depan kedua matanya saat ini.
Ya dokter Park, apa dia masih berada disini?
Bagaimana aku mengatakannya, mmmhh, sebenarnya dokter Park memang tidak pernah menjadi bagian dari Seoul hospital sejak awal kedatangannya.
Kenapa seperti itu?
Alasan mengapa dokter Park ada disini karena adiknya
Luhan tak mengerti apapun yang dikatakan Perawat Kim sampai wanita paruh baya itu kembali mengatakan "
Sebagai rasa terimakasihnya, dokter Park bersedia menggantikan tiga operasi yang tidak bisa diselesaikan Professor Yoon beberapa waktu yang lalu, management rumah sakit tentu menyetujuinya, jadi tanpa ikatan yang merugikan kedua belah pihak, kerjasama ini pun terjadi."
Ah, jadi seperti itu.
Ingin rasanya Luhan bertanya tentang keadaan Eunwoo, tapi dia tahu pertanyannya hanya akan menimbulkan rasa cemas berlebihan yang tak seharusnya dia tunjukkan, dia berusaha menahan mati-matian rasa ingin tahunya, agar Sehun tidak mengetahui niatnya namun sial, hanya dari gerakannya menautkan kedua jemari saja Sehun bisa membaca dan menyadari bahwa Luhan ingin mengetahui lebih jauh tentang kedua pria yang mengaku sebagai adiknya.
Baiklah, biarkan aku yang bertanya tentang mereka
Sehun berniat mewakili Luhan untuk bertanya, dan saat dia sedang berusaha untuk berdiri dari kursi tunggu di lobi, langkah seseorang terdengar berjalan mendekat ke arahnya lalu tak lama terdengar suara lebih berat dari miliknya yang entah menunjukkan orang tersebut senang atau marah melihatnya saat ini
"Aku hanya tidak menyangka kau bisa pulih secepat ini."
Hal itu cukup menarik perhatian Sehun, membuatnya menoleh dan menemukan Doojoon dengan jas putih dokter yang menutupi sisi iblisnya sedang berbicara entah untuk menyapa atau mencari masalah baru dengannya.
"Dan aku tidak menyangka kau menyelamatkan aku disana, kenapa kau menolongku?"
Satu-satunya alasa Doojoon menyelamatkan Sehun tentu hanya "Luhan, apalagi?"
"cih menjijikan! Pikirmu dengan kau menyelamatkan aku Luhan akan memaafkan dirimu? Melupakan semua hal mengerikan yang kau lakukan?"
"Setidaknya dia mau berbicara denganku."
"Benarkan, kalau begitu mari kita perjelas, selamanya Luhan akan melihatmu sebagai pembunuh ibunya, itu saja."
"Kau-…."
"Kau juga tidak akan pernah bisa melindunginya karena hanya aku yang akan melakukannya, hanya aku!"
Doojoon mengepalkan erat tangannya, tiba-tiba saja dia menyesal membiarkan pria yang begitu dicintai Luhan bernafas lebih lama, harusnya dia mengabaikan Sehun malam itu, membuatnya meregang nyawa di tangan Ravi, bukan terus mengatakan omong kosong yang membuatnya begitu murka dan ingin menghabisinya sekali lagi.
"Pikirmu kau bisa?"
Sehun berhenti berbicara saat bajingan di depannya membuka mulut, dia ingin tahu apa yang akan dikatakan Doojoon sampai satu kalimat "Kau juga tidak akan pernah bisa melindungi Luhan! Kau tahu kenapa?"
Bahkan saat ucapan Doojoon belum selesai pada akhir kalimatnya Sehun sudah mengepalkan tangannya, dia tahu bajingan didepannya akan terus mengeluarkan kalimat-kalimat yang membuatnya kesal terlebih saat dia mengatakan "Karena kau lemah dan Luhan akan selalu menderita dan terluka jika bersamamu, kau dengar? HAH!"
"DIAAAMM!"
Luhan merasa jantungnya berhenti berdetak saat mendengar teriakan Sehun, wajahnya seketika pucat dan benar saja saat dia menoleh dia harus melihat suaminya sedang mencengkram kemeja pria yang dia ketahui adalah Doojoon.
"Sehun…"
Nalurinya kemudian memanggilnya dengan cepat, dia bahkan tidak mengucapkan terimakasih pada perawat Kim dan hanya berjalan lurus dengan mata yang terus memperhatikan suaminya takut jika Doojoon melakukan hal mengerikan yang bisa membuat Sehunnya terluka.
"Wae? Apa kau merasa lemah? Kalau begitu kenapa kau tidak segera meninggalkan Luhan? Kenapa kau tidak membuatnya terbebas dari rasa sakit dan penderitaan? Kenapa kau tetap bertahan dan terus membuat Luhan merasakan sakit selama kalian bersama? Kenapa kau-…."
"YOON DOOJOON!"
Bukan Sehun yang berteriak, suara teriakan itu berasal dari belakang punggung kedua pria yang sedang bertengkar, keduanya pun segera menoleh untuk mendapati Luhan yang kini berjalan ke arah mereka dengan tatapan marah dan sedikit mengerikan.
Dia kemudian menyeruak di antara dua pria besar yang sedang saling mencengkram untuk memeluk Sehun dan memastikan tak ada luka baru di tubuh Sehun yang bisa membuatnya kehilangan akal sehat setiap hal itu terjadi.
"Kau baik-baik saja?" katanya memastikan, berjinjit untuk menangkup wajah suaminya dan bernafas lega bahwa Sehun tidak mendapat luka baru selain luka-luka yang sudah didapatkannya dari Ravi.
"Aku baik sayang, aku baik-baik saja." katanya menyatukan kedua dahi mereka, meyakinkan Luhan bahwa dia baik-baik saja namun diabaikan istrinya yang terlalu protektif terlihat dari kedua tangannya yang menggenggam kuat jemari Sehun seraya berbalik penuh amarah untuk berhadapan dengan Doojoon.
"Enyahlah dari hidup kami!"
Hanya satu kata itu yang diucapkannya untuk Doojoon, dia kemudian memapah suaminya untuk pergi meninggalkan Doojoon yang kini tertawa seolah tak percaya Luhan melupakan fakta mau bagaimanapun juga Sehun masih bernafas karena dirinya, dirinya, dan Luhan tidak boleh melupakan hal itu.
Tangannya pun terkepal begitu marah hingga tanpa sadar dia berteriak "LUHAN!" yang membuat langkah Luhan terhenti begitupula dengan Sehun yang mulai berdiri didepan istrinya, melindungi Luhan agar bajinga seperti Doojoon tidak menyentuh istrinya lagi.
"Kau masih memiliki satu urusan denganku, jangan lupakan itu jika kau ingin bajingan yang sialnya adalah suamimu bertahan hidup lama." Katanya menatap marah pada Sehun, dia menyeringai melihat raut pucat wajah Luhan sebelum pergi meninggalkan kedua pria yang mungkin akan bertengkar karena pernyataan mengejutkan yang baru saja dia katakan.
"Sayang, apa yang dia bicarakan?"
Dan benar saja, Sehun sudah menanyakan hal itu secepat dengan mulut tajam Doojoon ketika memberitahukan perjanjian mereka tentang usb yang sudah berada di tangan Luhan, hal itu membuat Luhan sedikit cemas namun tak mengelak apapun dengan menjawab "Aku akan segera memberitahukan hal gila apa yang dia bicarakan sayang, percayalah padaku."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan sepertinya Sehun benar-benar mencoba untuk tidak mengungkit tentang pernyataan yang dilontarkan Doojoon padanya beberapa saat lalu, terlihat dari diam dan tenangnya Sehun saat berada di dalam mobil cukup membuat Luhan cemas, suaminya hanya menatap keluar jendela sementara dirinya mengemudikan mobil sesekali mencuri pandang pada suaminya.
Luhan mencoba memahami diamnya Sehun karena berbagai hal, awalnya dia mencoba bertahan tapi semakin waktu berlalu dia semakin tidak tahan dan berniat menceritakan segalanya jika Sehun bertanya tidak diam dan hanya melihat ke luar jendela mobil.
Dia tidak tahan dan memutuskan untuk mencoba berbicara dengan suaminya "Sehunna."
"hmmmh?"
"Apa kau marah?"
Sehun menoleh pada istrinya, tersenyum kecil untuk menjawab "Kenapa aku harus marah?"
"Tentang yang Doojoon katakan?"
"Perjanjian kalian?"
"Sehunna, aku tidak memiliki perjanjian yang membahayakan diriku dengannya, aku hanya-…."
"Aku tahu sayang, tidak apa." katanya membalas, kembali melihat ke luar jendela dan itu membuat Luhan gusar karena sikap suaminya terlalu tenang.
"Lalu kenapa kau hanya diam? Kenapa tidak berbicara?"
Sehun menjawab, namun kali ini tidak menoleh dan hanya mengatakan dengan suaranya yang begitu kecil "Aku sedang bertanya-tanya."
"Mengenai apa?"
Kali ini Sehun menoleh, memperhatikan Luhan yang sedang mengemudikan mobil untuk menyadari bahwa mungkin dia memang tidak berguna dan tidak bisa melindungi pria mungil yang terlihat semakin dewasa bahkan melebihi dirinya sendiri.
"Apa benar aku tidak bisa melindungimu?"
"huh?" Luhan melirik sekilas pada Sehun, dia sedikit tidak fokus menyerti saat melihat wajah sendu Sehun yang mengatakan hal gila entah karena apa "Apa yang kau bicarakan sayang?"
"Apa benar aku terlalu lemah untuk melindungimu? Apa selamanya sisa hidup kita aku hanya akan membuatmu menderita? Membuatmu menangis? Entahlah sayang, Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku."
"Doojoon yang mengatakannya padamu?"
"Ya, dia juga bilang aku tidak pantas menjadi pendampingmu."
"Dan kau percaya?"
Kembali melihat ke arah jendela, Sehun bergumam "Sedikit."
Luhan tidak tahan, dia sengaja membanting stir ke sisi kanan jalan untuk menetralkan nafasnya, dia marah, sangat, dia bahkan tidak menyangka hal yang mengganggu suaminya bukan perjanjian yang disebutkan Doojoon kepada mereka tapi karena ucapan sampah yang sengaja dilontarkan Doojoon untuk menjatuhkan mental suaminya dan itu berhasil.
"Ada apa sayang? kenapa kita berhenti?"
Luhan masih tertunduk, tangannya terkepal erat dan tergoda ingin memukul wajah tampan suaminya jika tidak melihat lebam di wajah Sehun sudah terlalu banyak hingga tidak menyisakan tempat untuknya.
Terkutuklah Ravi di neraka karena membuat wajah suaminya dipenuhi lebam dan luka gores, dia pun menggeram kesal sebelum membuka seatbelt dan beralih ke pangkuan Sehun yang masih terkejut karena tindakan Luhan yang terlalu tiba-tiba seperti ini,
"Lu-Ada apa sayang?" dia bertanya, tapi sepertinya Luhan terlalu marah hanya untuk membuka suara, dia pun mencium kasar bibir suaminya agar bibir yang terus menerus mengatakan hal gila itu berhenti berbicara dan hanya memberikan kecupan demi kecupan hangat yang menyenangkan.
Sehun tentu saja membuka bibirnya saat Luhan terus menggigit bibir bawahnya, tak lama setelah dia memberi akses istrinya bergerak terlalu liar untuk menyesap lidah dan kemudian memasukkan seluruh lidahnya ke dalam bibirnya, semua tindakan Luhan memberikan sensasi panas yang tidak bisa dipungkiri bagian sensitif tubuhnya.
Tapi dia tahu bukan tanpa alasan Luhan bertindak terlalu agresif seperti ini, dia tahu sesuatu terjadi dan pastilah bukan hal menyenangkan yang bisa diungkapkannya dengan mudah.
"Aku pernah…."
Dan benar saja Luhan menyudahi rasa panas yang mulai dirasakan dua tubuh mereka, dia mencoba menahan diri dengan menyatukan dua dahi mereka untuk mengatakan "Aku pernah membencimu, tapi demi Tuhan aku tidak pernah menyesal mencintaimu, aku bahkan sangat bahagia saat kau memilih untuk menikahi aku dan rela meninggalkan keluargamu. Jadi jangan katakan kau tidak pantas menjadi suamiku karena selain dirimu, aku tidak akan sudi mencintai pria lain, dimiliki pria lain, kau dengar?"
Wajar jika kecemasan Sehun dibawa sirna entah kemana, dia bahagia mendengar pengakuan istrinya, terlalu bahagia hingga rasanya dia rela melakukan apapun hanya untuk bersama Luhan selamanya.
"Sehun kau dengar apa yang aku katakan?"
Luhan cemas karena Sehun tak kunjung menjawab, yang dilakukan suaminya hanya mengusap lembut wajahnya dengan tatapan yang sulit di mengerti, Luhan takut Sehun mengatakan hal gila yang bisa membuatnya menangis kapan saja, namun ketakutannya sepertinya tak beralasan saat Sehun mengatakan
"Aku dengar."
"huh?"
Luhan berkedip lucu dibalas kecupan lembut Sehun di bibirnya, keduanya kembali saling memagut sampai Sehun sengaja menggigit bibir Luhan sebagai balasan kecil untuk tertawa sangat lega "Kau benar, selain aku tidak akan ada yang bisa membuatmu bahagia, kau juga tidak boleh dimiliki pria lain karena profesiku akan berubah menjadi seorang pembunuh, jadi aku dengar, aku tidak akan mengatakan hal gila yang membuatmu ketakutan seperti ini."
Luhan senang mendengarnya, dia memeluk erat tubuh suaminya seraya mengecupi tengkuk Sehun yang begitu menggoda, hatinya lega dan dia pun bisa bernafas karena berhasil membuat Sehun melupakan ucapan Doojoon dan membuangnya segala pikiran bodohnya "Bagus, jangan membuatku takut." Katanya kesal dan tak lama berpindah ke kursi pengemudi sebelum kedua tangan Sehun menahan pinggangnya kuat.
"W-wae?"
"Aku tegang."
"nde?"
"Sebentar saja, ya?"
"Sehun ini masih sore, orang-orang bisa melihat kita jika kita bercinta disini sayang."
"Tidak peduli."
Dan benar saja, sepertinya Sehun tidak peduli, yang dia lakukan hanya melucuti celana Luhan, menurunkannya asal sementara dirinya melakukan hal yang sama.
"Mobil kita sempit sayang, nanti saja di rumah, bagaimana?"
Sehun tidak mengindahkan ucapan Luhan, yang dia lakukan justru menurunkan sedikit kursinya, dia juga merentangkan kakinya ke dashboard mobil sementara kedua tangannya sedikit mengangkat tubuh Luhan dan mulai mencari dimana lubang istrinya.
"Kau tidak sungguh-sungguh bukan, kau tidak-…..SEHUN!"
Dengan bantuan jari tengahnya, Sehun berhasil menemukan lubang istrinya, hal itu membuat Luhan memekik terkejut tatkala kejantanan suaminya berhasil dengan mudah menemukan dimana lubangnya.
Dia menyeringai khas saat mereka masih sekolah dulu, Sehun bahkan memiliki tingkat kepercayaan diri untuk bergerak walau posisi mereka terhimpit oleh keadaan mobil yang cukup sempit.
"Sehun, perlahan sayang."
"sshh…aku sangat, baby Lu kau sangat menggairahkan."
"aah~"
Lalu tak ada yang bisa dilakukan Luhan selain menutup rapat bibirnya, dia tidak boleh mendesah karena tempat ini masih terlalu mencolok di siang hari, jadilah dia hanya membiarkan Sehun menggerakan pinggulnya sementara Luhan bertumpu pada kaca jendela menikmati hal gila kembali dilakukan Sehun sama seperti saat mereka bersekolah dulu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setidaknya Luhan sudah berhasil melayani Sehun di dalam mobil, jadi dia memiliki alasan untuk mengulur waktu karena saat ini waktu masih menunjukkan pukul sembilan malan dan itu artinya masih ada empat jam tersisa sebelum mereka diizinkan pulang oleh Kyungsoo dan Baekhyun.
Ini pesta kejutan untuk Sehun, jadi kau harus mengulur waktu sampai tengah malam
"Kemana lagi aku harus pegi?" Luhan bergumam, menjalankan tak tentu arah mobilnya selama hampir dua jam, beruntung mereka beristirahat setelah bercinta selama dua jam, jadi tak ada protes dari Sehun karena hanya ada rasa bersalah yang dirasakan suaminya.
"Lu maaf tidak bisa menahan diri."
Luhan berpura-pura kesal, dia mendelik marah pada Sehun dan mengatakan "Lain kali kau harus menyediakan pengaman di mobil."
"Wae? Aku tidak suka pakai pengaman."
"Dan aku tidak suka mengemudi saat bagian bawahku dipenuhi sperm milikmu sayangku." Katanya menyindir dibalas gerutuan Sehun "Aku ingin punya baby, lalu kenapa tidak boleh keluar di dalam?"
"Bukan tidak boleh hanya saja tidak di luar kamar, kau tahu tubuh kita lengket sekarang ini."
Luhan terus memarahi Sehun, mencari tempat yang bisa mereka kunjungi hingga wajahnya berbinar melihat minimarket dua puluh empat jam, itu tujuannya untuk mengulur waktu hingga menimbulkan tanya dari Sehun.
"Kenapa kita berhenti? Kita tidak pulang?"
"Nanti saja, aku ingin membeli sesuatu." Katanya melepas seatbelt sebelum membuka pintu mobil "Beli apa Lu?"
Luhan menunduk, melihat Sehun dari jendela mobil yang terbuka untuk menakuti suaminya "Pengaman."
"ANDWAE!"
"Kenapa berteriak?"
"SHIRHEO! AKU TIDAK SUKA KAU MEMBELI KARET MENYEBALKAN ITU—LUHAN!—sssh!"
Seperti biasa, Luhan mengabaikan Sehun dan hanya berjalan memasuki mini market, hal itu membuat Sehun menatap horor hingga susah payah mengejar istrinya yang memiliki kemampuan berjalan dengan kecepatan di atas rata-rata.
"LUHAN!"
.
.
.
"Berhenti cemberut, aku kan tidak jadi beli pengaman."
Saat ini mereka sedang menikmati cup ice cream di minimarket yang mereka kunjungi, dan alasan mengapa Luhan membujuk suaminya adalah karena sepertinya Sehun benar-benar kesal saat dia membawa selusin pengaman ke kasir beberapa menit yang lalu.
Sehun bahkan terus berteriak "aku tidak mau memakai karet itu." hingga membuat seluruh orang yang mendengarnya tertawa, semua, tak terkecuali Luhan karena saat Sehun ribut tidak ingin pengaman, Luhan justru mengatakan "Suamiku tidak suka memakai karet, aku tidak jadi bayar." Yang mana membuat wajah Sehun merah padam sementara Luhan tertawa senang melihatnya.
"Kau membuatku malu."
"aigooo….Berapa usiamu sayangku? Kenapa terus cemberut seperti ini." katanya menarik hidung Sehun dibalas tatapan jengah suaminya "Aku mau pulang."
"Tidak jadi beli pengaman?"
"LU!"
"ha ha ha….Iya, maafkan aku. Ayo kita pulang."
Luhan berdiri lebih dulu, disusul Sehun yang kini meringis kesakitan karena belum beristirahat seharia ini, hal itu membuat Luhan cemas dan dengan sigap memapah suaminya "Ini salahmu karena terus bergerak, saat bercinta terutama."
"Siapa suruh kau menggoda." Katanya tak mau kalah dan berjalan keluar dibantu Luhan yang kini memegang pinggangnya "Hati-hati sayang." katanya membuka pintu, berniat melangkah keluar sampai tiba-tiba Sehun menariknya kembali masuk dan menekan tubuhnya ke salah satu dinding besar yang ada di minimarket.
"Sehun ada apa?"
Tiba-tiba raut wajah Sehun menjadi pucat saat mendengar sirene mobil polisi, dia juga ketakutan sampai suara mobil polisi itu benar-benar hilang barulah dia melepaskan Luhan dan tertawa sangat dipaksakan.
"he he he….Mian Lu, tapi mau bagaimanapun juga aku masih seroang buronan polisi, ayo pergi." katanya kembali meminta Luhan memapahnya sampai kedalam mobil. Tak ada yang berbicara, Luhan tahu Sehun masih sedikit panik, hal itu membuatnya cemas karena ketakutan Sehun tidaklah beralasan.
"Sayang? kau baik-baik saja?"
"huh? Tentu, aku bai-baik saja, ayo pulang."
"Baiklah."
Bohong jika hati Luhan tidak tertusuk sakit mendengarnya, suaminya tidak melakukan apapun tapi polisi menjadikannya tersangka, hal itu sangat mengganggu Luhan hingga tanpa sadar dia mencengkram kuat kemudi mobil untuk bersumpah dan melakukan segala cara agar suaminya bebas dari tuduhan.
.
.
.
.
BLAM!
Tak lama mereka sampai di rumah, waktu juga sudah menujukkan pukul dua belas malam itu artinya hari ini tanggal 12 April. Luhan sengaja tidak mengatakan apapun, yang dia lakukan hanya memapah suaminya karena jujur insiden di rumah sakit dan ketakutan Sehun saat melihat polisi masih sangat mengganggunya.
"Luhan."
"hmmh?"
"Kenapa diam? Kau lelah?"
Luhan tertawa, dia menggeleng seraya membuka pintu utama rumah untuk mendapat suara terompet dan suara Taeoh yang berteriak
"SAMCHOOON SAENGIL CHUKAE!"
Dan sesuai dugaan, Sehun luar biasa terkejut mendapat pesta kejutan untuknya, tahun ini dia bahkan sangat bersyukur karena Tuhan mengembalikan potongan-potongan yang hilang darinya, mengembalikan belahan jiwanya hingga malam ini, dia bisa berkumpul dengan orang-orang yang paling dikasihinya.
"Bagaimana aku lelah jika hari ini suamiku berulang tahun? Selamat ulang tahun sayangku."
Sehun tak tahan, dia menarik Luhan, memeluknya erat dan mengecupi wajah istrinya, dia bahkan melupakan rasa sakit di bekas jahitannya untuk berbisik "Aku bahagia Luhan, terimakasih sayangku." Katanya mengecup bibir Luhan sampai suara dehaman itu terdengar.
"HEY ADA ANAKKU DISINI! CARI TEMPAT UNTUK BERCINTA!"
"bodoh, Kau yang mengajari anak kita mengetahui hal-hal vulgar Kai." Kyungsoo menggerutu lalu Sehun berjongkok "TAEOYAAAA SAMCHOON PULANG!" disambut pekikan si anak tiga tahun yang kini berlari mendekati paman kesayangannya "Samchoon!"
Sehun menciumi wajah Taeoh, menggendong putra Kai dan Kyungsoo untuk menggenggam tangan istrinya "Welcome home Lu."
"Aku sudah pulang sejak beberapa hari yang lalu."
"Sebagai istriku, selamat datang."
Luhan mengecup tangan Sehun, bergabung dengan teman-temannya yang lain dan mengambil Jiwon yang sudah terlelap di pelukan Chanyeol "aigoo anak Lulu lucu sekali." Katanya gemas menciumi Jiwoon hingga membuat bayi satu tahun itu terbangun dan tertawa saat melihat Luhan.
"Astaga kenapa lucu sekali Jiwonaaa…"
Tak tahan Luhan terus menciumi Jiwon, dia terlalu gemas sampai Kai dan Chanyeol mengapitnya dan memaksa Luhan melihat suami tercintanya meniup lilin ulang tahun
"Sebutkan permintaanmu." Ujar Baekhyun
"Bersuara." Timpal Kyungsoo dan tak lama permintaan itu hanya ditujukan untuk satu orang dan orang itu adalah…..istrinya.
"Lindungi Luhan, jangan biarkan istriku menderita lagi."
Lalu Luhan terisak sebagai respon dari permintaan Luhan, dia menyerahkan Jiwon pada Kai sebelum menghampiri suaminya, menarik kencang telinga Sehun "aaahh…Kenapa telingaku ditarik."
Singkat, Luhan memarahi Sehun lagi dengan mengatakan "Kenapa tidak berdoa agar kita segera diberi baby? Kau tidak ingin jadi ayah dari anakku?"
Semua tertawa mendengar omelan Luhan, tak terkecuali Sehun yang begitu gemas dan kini mendekap erat istrinya "Itu menjadi doaku setiap malam, aku mencintaimu sayang."
Luhan mengangguk, membalas erat pelukan Sehun seraya berbisik "Aku mencintaimu Sehun."
Lalu moment romantis mereka dirusak Kai yang kembali berulah dan mengatakan "EKHEM! Aku lapar, kue itu mahal jadi aku harus segera menghabiskannya, cepat tiup lilin."
"Astaga Jong, kau mencuci otak putraku dengan mulut iblismu!" gertak Chanyeol yang kini menyelamatkan putra cantiknya dari Jongin si mahluk pemakan segala.
"memalukan."
Baekhyun menggerutu dibalas rengekan Kyungsoo yang bergumam "Apa aku bisa menceraikannya?"
"Tentu saja bisa." Ujar Baekhyun bersemangat sampai suara berat Kai terdengar "Yasudah ceraikan saja aku, nanti aku nikahi lagi." timpal Kai mencium Kyungsoo tak sabar membuat Kyungsoo mendesis kesal namun tak bisa mengelak bahwa setiap ciuman Jongin begitu panas dan membuatnya ketagihan.
"Cari tempat jika ingin bercinta, ingat?"
Kini Sehun yang balas menyindir, tak lupa dia menggendong Taeoh dan merangkul istrinya, bersiap untuk meniup kue ulang tahun dengan harapan akan bisa terus berkumpul seperti ini, selamanya.
"YEEEY!"
Taeoh memekik senang, Kai tanpa ragu memotong kue dalam ukuran besar sementara Baekhyun dan Chanyeol sudah kembali ke kamar karena Jiwon menangis dan meninggalkan Sehun dan Luhan yang kini sedang saling melumat di dapur, pakaian mereka sudah setengah terbuka lalu tiba-tiba Taeoh datang dan terdengar sedih.
"samchoonn…"
Keduanya salah tingkah, Luhan mengancingkan kemeja Sehun sementara tangan suaminya masih sempat mengusap bokongnya, Sehun pun bertanya "Ada apa Taeoh sayang?" yang dibalas lucu oleh anak tiga tahun saat mengatakan "Jangan makan Lulu."
Astaga, rupanya Taeoh melihat bagaiamana Sehun melumat rakus bibir istrinya, hal itu membuat Luhan bersembunyi di pelukan Sehun sementara Sehun berteriak memanggil ayah dari keponakan lucunya
"JONG BAWA TAEOH TIDUR!"
"NANTI, KUENYA BELUM HABIS!"
"SEKARANG!"
Dan tak lama Kyungsoo keluar kamar, dia menatap kesal pada Sehun karena berteriak pada putranya dan bertanya pada putranya "Ada apa nak?"
"Samchoon makan Lulu."
"nde?"
Taeoh mencontohkan cara Sehun melumat bibir Luhan hingga membuat matanya membulat terkejut dan menggerutu "Aku akan membawa anakku pindah dari rumah mesum ini."
"eyy…Kau dan Kai sama saa Soo."
"DIAM!"
BLAM!
Kyungsoo kesal, lalu kekehan terdengar dari Sehun yang kembali melumati bibir istrinya, keduanya berciuman sangat mesra sampai tiba-tiba Sehun teringat satu hal "Sayang."
Luhan yang dibawa Sehun duduk di meja dapur menatap tak sabar suaminya, kakinya pun mengunci pinggang suaminya untuk bertanya "Ada apa?"
"Mana hadiahku?"
"Hadiah?"
"Yang lain sudah memberikan hadiahku, lalu mana hadiah darimu?"
"Aku bukan hadiahmu?"
Sehun menggeleng kecewa, membuat Luhan tertawa dan mulai memeluk manja suaminya untuk berbisik "Besok malam aku akan memberikan hadiah untukmu."
.
.
.
.
.
Keesokan malam,
.
.
"Kemana kau membawaku pergi sayang? Kenapa mataku harus ditutup?"
"Bukan kejutan jika kau tahu kemana kita pergi."
"Kejutan?"
"Kau yang meminta hadiah ulang tahun dariku bukan? Jadi sabarlah sebentar lagi Sehunnie."
Suaranya memang terdengar ceria saat menggoda suaminya, tapi jika Sehun tidak menggunakan penutup mata mungkin dia akan melihat raut wajah tegang Luhan yang sedang mengendarai mobilnya saat ini.
Si pria cantik bahkan terlihat terus menggigit kuat bibirnya, sesekali jari telunjuknya memukul cemas kemudi mobil seraya menebak bagaimana reaksi Sehun saat tahu kemana tempat tujuan mereka sesaat lagi.
Kau akan baik-baik saja kan sayang? Tidak, kau memang harus baik-baik saja.
Luhan berdoa kuat dalam hati sementara Sehun mulai tenang dan terlihat tak sabar menebak kemana istrinya membawa mereka pergi "Sayang apa kita akan ke pantai?" tanyanya lagi dibalas senyum kecil Luhan yang kini menggenggam satu tangan suaminya dan menciumnya sayang "Percayalah padaku tempat ini lebih dari pantai." Lirihnya, dan tak lama Luhan berbelok ke sisi kanan jalan untuk masuk ke sebuah rumah mewah yang menyimpan sejuta kenangan bahagia dan air mata tentang bagaiamana Sehun memberikan seluruh cintanya hanya pada Luhan.
"Kita sampai."
Suara lembut Luhan terdengar, membuat Sehun tak sabar membuka penutup matanya jika tangan Luhan tidak lebih dulu menahan tangannya "Ada apa Lu?"
"Biar aku yang membukanya."
Tak lama Luhan membuka seatbelt dan keluar dari mobil, lalu dia berjalan memutari mobil untuk membuka pintu samping kemudi dan menunduk, melepas seatbelt suaminya dan membantu Sehun keluar dari mobilnya saat ini.
"Sudah boleh dibuka?" Tanya Sehun tak sabar, sebenarnya dia bertanya-tanya kenapa suasana dan tempatnya berpijak saat ini terasa familiar, ditambah genggaman tangan Luhan di tangannya semakin kuat dan hanya membuatnya menebak bahwa istrinya sedang terlihat cemas saat ini.
"Luhan? Kau baik-baik saja sayang?"
Dan inilah Sehun, suaminya yang selalu bisa menebak kondisinya bahkan dengan mata tertutup sekalipun, jujur memang Luhan sedang dilanda cemas dan takut berlebihan, pikirannya sudah menebak hal-hal seperti Sehun akan berteriak marah atau bahkan menolak bertemu dengan ketiga orang yang sedang menunggunya di dalam sana.
Hal itu membuat Luhan sedikit cemas namun coba dia hilangkan dengan tertawa dan mencium bibir Sehun sekilas "Aku baik-baik saja sayang, apa kau siap?"
"Sangat."
Luhan pun berjalan ke belakang tubuh tinggi dan besar suaminya, dia berjinjit sedikit untuk membuka penutup mata yang dia pasangkan serta memberi satu peringatan terakhir agar Sehun "Tetap pejamkan matamu, kau boleh membukanya setelah hitungan ketiga."
"Oke."
Lalu Luhan membuang penutup mata yang ada di tangannya, dia berjalan memposisikan diri di depan suaminya, memeluknya erat dan hal itu membuat Sehun bertanya-tanya mengapa Luhan memeluknya dan mengapa jantung istrinya berdegup sangat kencang dan tak beraturan.
"satu…."
"dua…"
Luhan mulai menghitung, dan semakin dia menghitung dia memeluk suaminya semakin erat, Luhan bahkan tidak berniat menyembunyikan ketakutannya lagi, dia sedang menunjukkan pada Sehun bahwa dia cemas namun dia juga tak sabar melihat bagaimana reaksi yang akan diberikan Sehun setelah hitungan mencapai angka
"tiga…..Kau bisa membuka matamu sayang."
Awalnya samar karena hampir setengah jam Sehun memejamkan mata, lalu beberapa kedipan mata cukup membuat Sehun memiliki firasat buruk tentang tempat ini dan benar saja, kedipan kelima di matanya sukses membuat Sehun tertohon dan bisa dirasakan Luhan dengan perubahan detak jantung suaminya yang berubah tak beraturan seolah dia sedang menahan amarahnya.
"apa yang kau-….Lelucon apa ini Lu?"
Terdengar jelas Sehun menggertakan giginya, tapi Luhan tak memiliki keberanian untuk menatap wajah suaminya saat ini, dia hanya berusaha tenang, memeluk Sehun semakin erat seraya berbisik
"Bagaimana?"
Dan tak ada yang membuat Sehun terkejut selain kenyataan bahwa Luhan membawanya ketempat yang tak pernah lagi dia datangi selama hampir tiga tahun, tempat dimana Sehun dengan berat hati memutuskan bahwa tempat yang dia sebut rumah menjadi satu-satunya tempat yang begitu dia benci karena kedua orang tuanya, sang ayah terutama sudah membuatnya nyaris kehilangan Luhan dengan berbagai cara.
"Selamat datang sayang, kita pulang kerumah."
Tak percaya mendengar ucapan Luhan, Sehun segera menarik lengan istrinya dan memastikan apa yang baru saja diucapkan Luhan "Apa kau bilang?" katanya menangkup wajah Luhan yang entah mengapa terlihat sangat kacau dipenuhi penyesalan di kedua matanya.
"Rumah, kita sudah pulang." Katanya mengulang dibalas respon Sehun yang kemudian membalas "Ini bukan rumah, di tempat ini terdapat orang-orang yang menyakitimu."
"Sehun…."
"Jadi ini bukan rumah, tempat ini neraka untuk kita, ayo pulang."
Dan saat tangan Sehun membawanya masuk kembali masuk kedalam mobil. Luhan bersusah payah menghentikannya, dia lebih dulu melepas genggaman tangan Sehun dan memeluk erat punggung suaminya seraya terisak memohon "Tenanglah sayang, kumohon."
"Kenapa kau menangis?"
Sehun bertanya dingin, dia juga tak mengerti jalan pikiran Luhan yang terkadang membuatnya takjub tak mengerti, kenapa Luhan membawanya pulang kerumah yang mereka benci, yang membuatnya menderita, hal itu membuat hati Sehun berdenyut sakit mengingat rasanya tak pantas Luhan menangis hanya karena rumah yang membawa mimpi buruk untuk mereka berdua.
"Sehun…."
Tak tahan Sehun mengumpat "sial!" sebelum berbalik arah untuk memegang kedua pundak istrinya dan menatap langsung mata Luhan yang dipenuhi air mata "Aku tanya kenapa kau menangis?"
"Aku ingin pulang." Lirihnya dan tak diduga Sehun kehilangan sedikit rasa sabarnya untuk membentak Luhan dan berteriak "INI BUKAN RUMAH!"
Hal itu cukup membuat Luhan tersentak, dia tak lagi terisak hanya saja tatapan Luhan dipenuhi rasa bersalah akan sesuatu yang tak pernah dia lakukan "Sayang, maafkan aku."
Luhan mengerti semua yang dilakukan Sehun berdasar emosi, tapi yang membuat rasa bersalah dia rasakan adalah kenyataan bahwa kebencian Sehun pada keluarganya karena ingin melindunginya, dulu dia bahagia tapi setelah semua hal mengerikan yang telah dia lalui, dia hanya mengerti bahwa selama ini dirinya sangat egois karena ingin memiliki Sehun tanpa memahami penderitaan dan rasa sakit yang suaminya rasakan.
Hal itu membuatnya tersenyum, dia mengerti namun tetap memaksa Sehun untuk memilih dengan cara menghapus air matanya lalu menatap Sehun untuk mengatakan "Dengan atau tanpamu aku akan tetap pulang."
"Luhan…."
"Kau bisa membawaku pulang saat kau siap, sekarang kau bisa pergi, aku tidak memaksa."
Dan setelahnya Luhan berjalan mendekati pintu utama yang akan membawanya memasuki kediaman Oh, tempat pertama yang membuatnya nyaman selain rumahnya sewaktu kecil, dia juga tidak berharap Sehun akan memaafkan dirinya sendiri tanpa harus merasa bersalah pada semua hal yang telah terjadi pada mereka.
"Luhan kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkan aku lagi, kau ingat?"
"Aku tidak meninggalkanmu sayang, aku hanya pulang ke rumah."
Luhan menjawab tanpa menoleh pada Sehun, dia tidak bisa, dia lemah jika melihat kedua mata suaminya dan hanya akan berakhir berlari ke pelukan Sehun, yang dia inginkan hanya membawa Sehun pulang ke rumah dalam artian sebenarnya, tidak menyimpan benci dan amarah yang akan membuatnya menyesal di kemduian hari.
"Aku akan menunggumu sampai kau datang dan-….."
Satu tarikan kencang Luhan sudah berpindah ke pelukan suaminya, dia masih bisa merasakan detak jantung Sehun berdegup lebih cepat, yang membedakan kini tak ada deru nafas berlebihan yang menandakan dirinya sedang merasa dikhianati.
Hal itu cukup membuat Luhan terkejut, terlebih saat Sehun berbisik "bagaimana-…..Bagaimana aku bisa meninggalkanmu seorang diri di rumah ini?"
"Aku akan baik-baik saja." Katanya tersenyum miris ketika Sehun masih menganggap rumahnya adalah hal yang begitu mengerikan "Aku janji." Tambahnya dibalas tautan tangan besar Sehun yang kini menggenggamnya erat.
Tak banyak yang dikatakan suaminya, Sehun hanya berjalan mendekati pintu utama, bersiap membukanya sampai dirasa tangan Luhan tiba-tiba menjadi dingin di genggaman tangannya "Sayang, jangan paksakan dirimu."
Sehun mengabaikan ucapan Luhan, dia hanya menatap dingin pada Luhan sebelum membuka pintu rumah yang sudah di tutup tiga tahun lalu dari pikiran dan hatinya "Kita pulang, jika kau memaksa."
Keduanya kini beriringan masuk ke dalam rumah dalam artian sebenarnya, gugup dan cemas, adalah hal yang dirasakan Luhan maupun Sehun, tak ada yang berbicara sampai suara seorang remaja terdengar seperti menyambut kepulangan mereka.
"Selamat datang, kami sudah menunggu kalian."
Keduanya menoleh untuk menemukan Jaehyun sedang berdiri di sisi koridor pintu utama, menyambut dengan senyum paling tampan yang menunjukkan kedua lesung pipinya untuk meneruskan kalimat sambutannya pada kedua pria yang begitu dikaguminya sejak kecil
"hyung…."
Sesaat mata Sehun bertatapan dengan mata adik bungsunya, selain kehilangan banyak berat badan, sepertinya Jaehyun juga kesulitan untuk tidur di malam hari, itu terlihat dari kantung mata dan tatapan lelah yang dia berikan.
Lagipula keadaan mencekam sangat terasa di rumah yang dulunya dipenuhi tawa, hal itu membuat Sehun bertanya-tanya namun dia tetap bungkam sampai Luhan melepas genggaman tangannya dan berlari kepelukan Jaehyun
"Hay Jae, apa kau baik-baik saja?"
Jaehyun menyambut kedatangan Luhan, dia merentangkan kedua tangannya lalu membiarkan Luhan berada di pelukannya dengan tatapan sang kakak yang tak berkedip memperhatikan segala gerak-gerik yang dilakukan kakak iparnya "Aku baik hyung, hanya sedikit lelah."
"Aku akan memeriksamu setelah ini, mana mama?"
Tiba-tiba Sehun kesulitan bernafas saat Luhan bertanya tentang keberadaan sosok yang sangat dirindukannya, matanya berharap cemas melihat wanita yang kali terakhir dia tinggalkan sedang menjerit dan menangis memohon agar dirinya tidak pergi.
Hal itu membuatnya bergerak cemas sampai Jaehyun mengatakan "Mama sudah menunggu di ruang makan, ayo."
Luhan mengangguk sebelum mengerling suaminya "Sayang…" katanya mengulurkan tangan dan mau tak mau Sehun menyambutnya, membiarkan Luhan menuntunnya masuk kedalam rumah yang memiliki cerita hidupnya di setiap koridor dan ruangan di rumah ini.
"Ma, Sehun hyung sudah datang."
Sehun dibuat tak bergerak saat Jaehyun memberitahu kedatangannya pada sang mama, dia bisa melihat ibunya sedang memindahkan sup panas yang dia tebak sup rumput laut sebagai perayaan hari ulang tahun dan nyaris menjatuhkannya jika Jaehyun tidak sigap dan mengambil sup panas itu dari tangan ibu mereka.
"omo, Kau baik-baik saja nak?"
Dia cemas melihat tangan Jaehyun yang terkena sup panas, tapi itu hanya cemas sesaat karena kecemasan sesungguhnya adalah karena ibu dari tiga anak itu diam-diam sudah melihat putra nomor dua yang dia lahirkan, dia melihat Sehun disana, sedang menatapnya dengan tangan yang tak lepas menggenggam istrinya, menggenggam Luhan.
Hal itu membuat Jihyo sedikit salah tingkah jika Luhan tidak lebih dulu menyapa "Kami pulang ma." Yang mana hal itu membuat respon di jemari tangannya semakin kuat karena sepertinya Sehun benar-benar tidak menyukai kalimat "pulang" disini.
"Sayang…."
Luhan memperingatkan, lalu diam-diam Jihyo datang mendekat dan mulai membersihkan tangannya yang sedikit kotor karena memasak untuk melihat putranya dari jarak dekat, pertemuan ibu dan anak itu pun tidak terelakan.
Jihyo sebenarnya bertanya-tanya mengapa wajah putranya dipenuhi gores luka dan terdapat lebam di sekitar matanya, hal yang sama juga terjadi pada Sehun, dia bertanya-tanya pula mengapa ibunya terlihat sangat pucat dan kehilangan banyak berat tubuhnya.
Wanita yang dikenalnya periang bahkan terlihat sangat tertekan dan ketakutan karena satu hal, membuatnya sangat ingin bertanya jika hatinya mengijinkan dan tidak menyimpan rasa marahnya lagi pada kedua orang tuanya.
"h-Hay nak."
"Aku akan meninggalkanmu dengan Mama." Luhan berbisik, tapi sepertinya Sehun enggan melepaskan tangan Luhan dan lebih memilih membawa Luhan ke dekapannya sebagai pengalihan "Kau tetap disini bersamaku." Tegasnya dan itu membuat Jihyo tersenyum pahit menyadari ketakutan Sehun akan kemampuan dirinya dan Insung di masa lalu dalam membuat Luhan pergi dari hidup putranya.
"Sehun…."
"Tidak apa nak, tetaplah disamping Sehun." Jihyo tersenyum sangat cantik membuat Luhan merasa tak enak hati dan tak memiliki pilihan lain selain melingkarkan tangannya di pinggang Sehun yang sedang memeluknya erat "Kau jahat." Bisiknya memukul dada Sehun dan diabaikan suaminya yang masih tak mau mengeluarkan suara apapun.
"Bagaimana kabarmu nak?"
"Aku baik, bagaimana dengan Mama?" dia bertanya dan itu membuat Jihyo bersemangat dan mengatakan "Mama baik."
"Baguslah, kalau begitu apa kita bisa langsung pada inti acaranya."
"nde?"
"Bukankah kita disini untuk merayakan ulang tahunku?"
Luhan putus asa mendengar betapa dingin hati Sehun pada ibunya, dia pun sengaja memeluk Sehun lebih erat walau kenyataannya yang sedang dilakukan Luhan adalah menggiggit kuat dada suaminya seolah memberi peringatan untuk berbicara lebih baik.
"ah, Kau benar nak, ayo kita makan, mama sudah membuatkan banyak makanan kesukaanmu dan Luhan." Katanya berbalik arah, berjalan lebih dulu ke meja dengan mengusap air matanya lebih dulu, Sehun melihatnya, namun dia tidak melakukan apapun dan hanya membiarkan Luhan terus menggigit kuat lengan dan dadanya.
"Sudah selesai menggigitnya?" katanya bertanya dingin dibalas hentakan kaki Luhan yang sengaja menginjak kuat kaki Sehun hingga membuat suaminya meringis "Aku membencimu." Katanya kesal, berniat pergi namun lagi-lagi Sehun mendekapnya seolah tak membiarkan dirinya berkeliaran seorang diri di rumah yang memberikan trauma untuknya.
"Lepas."
"Diam atau kita pulang." Katanya mengancam dan sekali lagi Luhan mengangkat tangan kanan Sehun, menggigit kuat lengan suaminya sebagai pelampiasan kesal hingga gigitannya tercetak jelas di tangan putih Sehun yang kini berubah menjadi biru lebam.
"Aku benci padamu."
"Dan aku tidak akan pernah meminta hadiah ulang tahun lagi darimu, tidak akan pernah."
Kemudian Sehun berjalan mendekati meja makan, dia menarik kursi untuk istrinya yang masih menatapnya jengah sebelum menarik kursi miliknya sendiri.
"Ayo makan, kalian pasti lapar."
Jaehyun tidak banyak berbicara, sesekali dia hanya memperhatikan Sehun yang begitu protektif pada kakak iparnya, sesekali pula matanya bertemu pandang dengan mata kakaknya namun segera dialihkan Sehun yang kini sibuk mengurusi Luhan layaknya bayi yang tak bisa ditinggalkan sedikit pun.
"Makan ini." Katanya memilih makanan yang bisa dimakan Luhan dan yang tak boleh dimakan istrinya, membuat Luhan jengah dan segera menyuarakan protesnya "Aku bisa sendiri."
"Ya aku tahu, tapi disini semua yang kau lakukan atas izin dariku sayang."
"Sehunna…."
Dan saat kedua pasang suami istri itu bertengkar, Jihyo seperti dibawa ke masa lalu saat dimana Luhan enggan sarapan pagi tapi putranya akan melakukan apapun agar bibir kekasihnya terbuka dan mengunyah walau sedikit roti.
Mereka akan berakhir bertengkar dan saling berteriak, tapi entah pertengkaran seperti apa yang terjadi Sehun akan selalu memenangkan perdebatan mereka di meja makan, dan hal tak berbeda terjadi malam ini, saat Sehun hanya memberikan satu telur dan sepotong ikan beserta sup rumput laut Luhan memakannya dengan lahap walau matanya masih mengincar pasta yang ada di meja.
"Tidak ada pasta malam ini."
"Menyebalkan!"
Disela gerutuan Luhan, Jihyo kemudian tertawa gemas, dan untuk Jaehyun ini adalah tawa pertama ibunya sejak tiga bulan berlalu, ibunya juga terlihat sangat bahagia hingga membuatnya tertunduk menahan air mata haru yang kini berlomba ingin membasahi matanya.
"Ma, kenapa tertawa?"
"Kalian sama sekali tidak berubah nak, tetap Sehun dan Luhan yang sama dengan Luhan dan Sehun kecil mama."
Luhan meletakkan sumpit dan sendok yang sedang digunakannya, dia kemudian menggenggam tangan Jihyo seraya berujar lembut "Kami tidak pernah berubah ma." Timpalnya dibalas air mata bahagia Jihyo yang kini menetes hingga membuat Sehun memalingkan wajah antara tidak tega dan tak menyangka Luhan akan semudah itu memaafkan keluarganya.
"eyy….Berhenti menangis ma, ini ulang tahun Sehun, ah ya Jae, apa mama sudah meminum obatnya?"
"Seperti katamu hyung, satu hari satu tablet, aku sudah memberikannya pada mama siang tadi."
"Bagus, jangan meminum obat lagi ma, aku sedang membatasinya."
Merasa tak mengerti dengan percakapan adik serta istrinya Sehun membuka suara "Obat apa?"
"Bukan apa-apa sayang, tapi beberapa hari yang lalu mama ketergantungan obat penenang."
"mwo?"
"Tapi kau tenang saja, selama mama mengkonsumsi dalam pengawasan semua akan baik-baik saja. Hanya tidak lebih dari satu tablet dalam satu hari, aku sedang mengurangi dosisnya." Ujar Sehun mengerling suaminya sebelum kembali menatap Jihyo yang masih menangis "Jadi mama tidak menangis bukan? Aku benar?"
"Kau benar, mama tidak menangis nak." Katanya menghapus cepat air mata miliknya sebelum beralih pada putranya "Selamat ulang tahun sayang, terimakasih kau sudah pulang kerumah."
Sehun tetap menolak melihat mata mamanya, yang dia lakukan hanya mengangguk dan membalas singkat ucapan dari sang mama "Terimakasih."
Luhan ingin menegur suaminya, tapi tangan ibu mertuanya menahan tangannya hingga membuat Luhan menatap mata sang ibu untuk mendapati wanita cantik itu menggeleng seolah meminta agar Luhan tidak mempermasalahkan sikap suaminya.
"tidak apa Lu…"
Luhan meringis pilu, berbanding terbalik dengan Jihyo yang sedang berusaha tegar lalu bertanya "Kalian akan bermalam disini?"
Secepat kilat Sehun menjawab "Tidak kami akan pulang." Namun dibalas Luhan tak kalah cepat dan tak kalah kesal yang mengatakan "Kami akan bermalam ma."
"sayang…."
Luhan menghindari tatapan super mengerikan milik suaminya, dia hanya terus mencari topik baru sementara Jihyo mengatakan "Tidak apa jika ingin pulang Lu, pulanglah nak."
"Tidak, aku akan bermalam. Jika Sehun ingin pulang aku tidak masalah tidak sendirian dan kedinginan dikamar, dia hanya perlu menjemputku lagi kesini, benar sayang?"
Sehun benar-benar merasa dikhianati istrinya sendiri, dia bahkan kehabisan kata-kata untuk mencari celah dari semua acting istrinya hingga berakhir tertawa dingin dan tetap memaksa "Jika kau kedinginan dan takut bermalam disini, kenapa tidak pulang kerumah kita?"
Luhan dan isi kepalanya bersikeras mengatakan "Ini juga rumah, kita sudah pulang."
"Luhan!"
Sehun meninggikan nada suaranya dan ini kesempatan Luhan memasang ekspresi sedih yang tak bisa dihindari Sehun, dia mengigit kencang bibirnya antara acting dan benar takut bercampur jadi satu.
Dia tidak tahu harus melakukan apalagi agar suaminya tinggal hingga rencana itu keluar begitu saja di bibirnya "Aku harus meminta persetujuanmu untuk perawatan papa."
"huh?"
Barulah Sehun menyadari sesuatu yang dirasanya kurang adalah kehadiran pria tertua di keluarganya, dia akan menanyakan dimana ayahnya pada Jaehyun, tapi saat istrinya mengatakan perawatan untuk ayahnya pastilah terjadi sesuatu.
"Apa yang kau bicarakan?"
Sesaat semua pasang mata mengarah pada Luhan, seperti mengatakan ini belum saatnya, tapi Luhan tetaplah Luhan, dia akan melakukan apapun yang dirasanya benar dan memang akan dilakukannya.
"Ikut aku sebentar." Katanya mengulurkan tangan, meminta suaminya untuk ikut bersama dengannya dan Sehun menerima uluran tangan Luhan, dia menggenggam tangan istrinya untuk berjalan menuju kamar yang dia tebak adalah milik orang tuanya.
"Sayang ada apa?"
Luhan tertunduk sekilas, dia tidak tega menyampaikan hal ini tapi Sehun harus mengetahuinya, dia harus berhenti membenci keluarganya karena keluarganya membutuhkan ketiga putranya untuk bertahan hidup.
"Sayang."
"mmhh?"
Luhan menatap wajah suaminya, mencium bibir yang terlihat ingin mengatakan banyak hal tapi dia tahan untuk menjaga perasaannya, Luhan kemudian memeluk suaminya dan berbisik "Berjanjilah setelah ini kita akan bermalam disini."
"wae?"
Bersamaan dengan pertanyaan yang dia ajukan, Luhan membuka pintu kamar orang tuanya. Awalnya Sehun tidak melihat apapun selain gelap, namun bayangan seseorang menarik perhatiannya dan disanalah sosok yang dia benci sekaligus dia rindukan sedang berada, menatap entah apa diluar sana dengan kursi roda yang menopang dirinya.
"Baekhyun bilang ayah mengalami trauma, dia sadar secara fisik tapi batinnya terkunci oleh rasa bersalahnya."
"Apa maksudmu?"
Luhan berdiri di depan suaminya, meminta Sehun untuk menatapnya agar mudah untuknya menjelaskan "Bersamaan dengan hari pemakamanku saat itu papa juga pergi bersamaku, dia menyalahkan dirinya atas kematian palsuku dan terus mengunci dirinya dengan trauma yang membuatnya seperti itu."
"mwo?"
"Papa membutuhkanmu sayang, bicaralah dengan papa."
Sehun yang masih tak mengerti situasi ini dipaksa masuk oleh istrinya, kemudian dia mendengar suara pintu tertutup meninggalkan dirinya dan pria yang dulunya begitu angkuh dan sombong dan bisa melakukan segala hal yang dia inginkan kini hanya terlihat menyedihkan tak merespon apapun.
Hal itu membuat Sehun tertawa dingin menatap ayahnya, perlahan langkahnya mendekat, mengamati setiap bagian dari ayahnya yang kini tak merespon apapun bahkan saat matanya menatap tajam pria yang pernah mencoba memisahkannya dari Luhan, yang melakukan segala cara agar keluarganya bahagia tanpa mempedulikan kemungkinan terkecil sekalipun akan penderitaan orang lain yang juga memiliki keluarga.
"Apa yang terjadi padamu Pa?"
Sehun bertanya, berusaha tenang walau tak ada respon dari ayahnya, hal itu memancing emosinya, kenapa ayahnya bertingkah seperti ini, menghukum dirinya sendiri dan membiarkan istri serta putra bungsunya menderita, kenapa…..
"Kapan papa berhenti melakukan segala hal yang papa inginkan? Kapan papa memikirkan kondisi orang lain selain dirimu sendiri? KAPAN?"
"…"
"Mama membutuhkan papa, Jaehyun membutuhkan papa, Yunho hyung membutuhkan papa dan AKU-…aku juga membutuhkan sosok ayahku, jadi cepat tatap mataku PA!"
"…"
Tak ada jawaban, membuat Sehun terpaksa berjongkok untuk berhadapan langsung dengan ayahnya, "Jika papa merasa bersalah pada istriku, tunjukkan dengan cara yang benar, kau harus meminta maaf pada istriku, papa dengar? Luhan-…." Sehun tertunduk, dia menangis frustasi sebelum menatap gusar ayahnya yang tak merespon.
"Luhan masih hidup dan dia ada disini bersama kita, jadi sadarlah, sadar…..JANGAN SEPERTI INI PA!"
Tak tahan Sehun kemudian berlari ke luar kamar ayahnya, meninggalkan Insung yang tanpa sadar menitikkan air matanya setelah suara putra yang sangat dirindukannya berhasil terdengar dan membuatnya terbangun dari tidurnya yang panjang.
Dia memang belum bisa merespon, seluruh tubuhnya kaku dan tak bisa digerakkan, tapi dia bisa mendengar suara putranya, dia juga mendengar bahwa Luhan masih hidup hingga membuat kesadarannya perlahan bangun walau tak sepenuhnya sadar.
"Sehun, anakku."
BLAM!
"hyung…!"
Jaehyun berusaha mengejar kakaknya saat pintu kamar itu dibanting kencang oleh Sehun, tapi sepertinya dia harus menahan diri karena Luhan menarik tangannya, kakak iparnya juga menggeleng lemah seraya menghapus air mata karena mendengar semua hal yang dikatakan Sehun untuk ayahnya.
Beruntung Sehun tidak pergi keluar rumah, karena yang dilakukan suaminya justru berlari ke lantai dua dan membanting pintu kamarnya, tempat dimana dirinya dan Sehun melakukan banyak hal sampai malam ini.
"tapi hyung….."
"Biar aku yang menangani kakakmu, pergilah tidur dan pastikan Mama juga beristirahat."
Setelahnya Luhan juga menaiki tangga lantai dua dengan perasaan gundah dan gusar, dia tidak tahu harus bagaimana menghibur suaminya yang masih terdengar menyalahkan ayahnya atas semua hal yang terjadi padanya.
Oleh karena itu alih-alih masuk dan menenangkan suaminya, dia memiliki rencana untuk sedikit membuat suaminya merasa lebih baik dengan masuk ke kamar yang berbeda, kamar yang disediakan Mama Oh untuknya jika bermalam dan mengambil sesuatu dari lemari pakaiannya.
Luhan berjalan ke arah cermin, mengganti pakaiannya dengan piyama favorit Sehun untuk terkekeh menyadari bahwa "Apa tubuhku sekecil ini?" katanya tertawa, menghapus air mata yang menggangunya sebelum perlahan berjalan mendekati Sehun dan masuk kedalam kamar, tempat dimana mereka selalu menghabiskan malam berdua.
.
.
.
.
.
"Sehun…"
Bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka Sehun bisa melihat pria cantiknya memanggil dan sedang berjalan mendekatinya, namun kali ini berbeda dia tidak merespon cepat karena bohong jika dia tidak kesal dengan keputusan Luhan yang bersikeras ingin menetap di rumahnya, bohong jika dia tidak ingin mengabaikan si pria cantik yang entah mengapa terlihat seksi melam ini.
Ya dia ingin melakukannya, ingin memalingkan wajahnya tapi sial Luhan selalu memiliki cara untuk menarik perhatiannya, kali ini istrinya mengenakan piyama miliknya yang entah mengapa selalu kebesaran ditubuhnya sejak awal Sehun mulai ingin menjadikan Luhan kekasihnya hingga kini si pria cantik resmi menjadi istrinya.
Hal itu cukup membuat Sehun sebagai pria sejati gagal untuk bertahan pada rasa kesalnya, saat si pria cantik terusterlebih saat Luhan memaksa untuk duduk di pangkuannya dan mulai menekan secara berlebih bagian paling private miliknya dibawah sana.
Istri cantiknya itu bahkan sengaja membuka satu persatu kancing kemeja yang masih dikenakannya seraya menyesapi tengkuk dan sesekali memberi kecupan yang membuat seluruh tubuh Sehun meremang karena sensasi hangat yang diberikan Luhan dengan nafas dan bibirnya.
"Kau marah pada istrinya ku?"
Dia bertanya, tapi nadanya menggoda, oh sial! Bahkan mata Luhan menatapnya terlalu innocent dengan menggigit kencang bibirnya, Sehun bisa menerima sinyal bahwa istrinya ingin disentuh dan ya Sehun akan melakukannya dengan senang hati jika mood kesal tidak mendominasinya malam ini.
"Baiklah kau marah."
Namun sial, Luhan lebih mengenal Sehun dari siapapun termasuk diri Sehun sendiri, jadi saat suaminya sedang kesal yang perlu dia lakukan hanya memasang wajah sedih dan berpura-pura pergi dari pangkuan suaminya karena sesuai tebakan Luhan, Sehun tidak akan sampai hati dan benar saja, kedua tangan kekar itu sudah mengunci pinggangnya dengan kaki mengapit kedua pahanya.
"Bagaimana bisa aku marah jika istriku secantik ini?"
Berhasil!
Luhan memekik gembira dalam hatinya, tapi jangan katakan namanya Luhan jika raut sedih dengan segala tindakan merengek seperti memukul dada Sehun dan menggigit bibirnya sendiri tidak dilakukannya secara total.
"Tapi kau tidak menjawab pertanyaanku."
Wajah Sehun mendekat ke arah istrinya, dia memaksa bibir yang digigit Luhan secara paksa oleh Luhan itu membuka dengan bibirnya, keduanya berpagutan cukup lama sampai akhirnya Sehun menguasai diri dengan melepas pagutannya di bibir mungil Luhan dan mulai memberitahu apa yang salah dari istrinya.
"Bagaimana bisa aku menjawab pertanyaanmu jika kau tidak mengatakannya dengan benar."
"Aku sudah mengatakannya dengan benar."
"Dengan menggigit bibirmu? Itu bukan cara yang benar sayang."
Memutar malas bola matanya, Luhan memukul dada Sehun dan mulai memicingkan matanya "Alasan, jadi kau benar marah padaku."
"Kesal, bukan marah."
"Wae?" katanya merengek, sengaja menaik turunkan tubuhnya hingga membuat Sehun tersadar bahwa dibalik piyama kebesaran yang digunakan Luhan, dia tidak menggunakan apapun dibawah sana, tidak celana piyama ataupun celana pendek kecil, polos hingga bokong istrinya benar-benar terasa di dua tumitnya.
"oh ayolah! Apa kau tidak menggunakan apapun dibawah sana?"
"he he he…"
"Kau mau meminta maaf atau mau menggodaku?" tegasnya dingin membuat mata Luhan semakin memicing disertai rengekan khas miliknya "Keduanya." Jawabnya polos dan sengaja semakin menekan dimana tonjolan milik suaminya mulai bereaksi dibawah sana.
"Aku sedang tidak mood."
"Kau mulai bertingkah lagi?"
"Kenapa aku yang bertingkah? Kau yang berbohong padaku!"
"Sehun aku tidak bohong, kau meminta hadiah ulang tahunmu dan aku memberikannya."
"Dengan membawaku pulang? Ini lebih seperti cobaan hidup daripada hadiah ulang tahun."
Keduanya bertatapan tajam, Luhan tidak mau mengalah begitu pula Sehun yang memang tidak salah, mereka terlihat seperti anak enam tahun yang tidak mau saling mengalah sampai Luhan menghentak dengan bokong yang tidak mengenakan apapun sengaja mengenai tepat kejantanan suaminya
Kemudian Luhan melipat tangan di atas dada seraya menyalahkan suaminya "Jadi kau mau bertengkar?" tanyanya dibalas ringisan Sehun yang tidak kuat menahan godaan menyebalkan dari si istri cantiknya "Aku tidak bilang ingin bertengkar aku hanya tidak mood melayanimu."
Dan menyeringai adalah satu-satunya hal yang dilakukan Luhan sebelum berbisik dan sengaja menaik-turunkan tubuhnya sensual di pangkuan Sehun, dia bisa melihat suaminya tersiksa batin dan sengaja berbisik "o-ow…Ini gawat sayang, sepertinya "Little Sehun" bersemangat dan sedang dalam moodnya."
"Tidak dia tidak, aku akan memarahinya nanti." Sehun mati-matian mengelak dan Luhan akan melakukan apa saja agar mereka bercinta di kamar yang digunakan Sehun pertama kali untuk "mengambilnya" saat usia mereka tujuh belas tahun beberapa yang lalu.
"Kau tidak akan memarahi Sehun kecilku karena dia akan membuat adik bayi bersamaku!"
"yang benar saja Lu! kau tidak akan bisa membuatnya bangun jika aku tidak dalam mood."
"Benarkah? Lihat siapa yang akan menang."
Luhan bertaruh, perlahan dia melepas tangan Sehun yang melingkar di pinggangnya untuk merangkak turun dengan sensual. Dia menjilat leher Sehun, turun ke dada suaminya dan tak lupa menggigit gemas dua tonjolan kecil milik si pria tampan, tak sampai situ lidahnya semakin turun hingga ke pusar Sehun dan memutar bermain disana, hal itu cukup membuat Sehun mendongakan kepalanya dan menahan ringisan seraya berdoa agar adiknya benar-benar tidak tergoda saat ini.
Jangan, jangan tergoda, jangan…..
Lalu terdengar suara zipper diturunkan, itu istrinya, sedang membuka zipper menggunakan gigi dan bibirnya, Sehun dibuat meremang tak tahan tatkala bunyi suara pantulan gigi Luhan dan zipper celananya menjadi satu, hal itu membuatnya cemas terlebih saat Luhan dan lidah nakalnya mulai menjilati kejantanannya yang masih tertutup boxer hitam miliknya.
"Well, adik kecil kau sangat bekerja sama dengan Mama." Katanya mulai sedikit menurunkan celana panjang Sehun hingga sampai lututnya diriingi suara protes Sehun yang mengeluh "Jangan panggil dirimu Mama disaat seperti ini." katanya kesal namun diabaikan Luhan yang kini fokus pada adik kecil Sehun dan mulai menyusupkan tangannya kedalam celana dalam Sehun yang merupakan pertahanan terakhir suaminya sebelum menyerah pada sifat arogan menyebalkan yang sedang ditunjukannya saat ini.
"Lalu aku harus memanggil apa?" katanya melebarkan kedua paha suaminya, sebelum mengeluarkan kejantanan Sehun dari celana dalamnya, Luhan menyeringai, menikmati ekspresi nikmat Sehun yang sedang coba ditahan suaminya sesekali menjilat dan mengocok kejantanan suaminya dengan berbinar.
"sshhh…Luhan cukup."
"Wae? kita kan sedang bertaruh." Katanya tak mau mengalah, Luhan sengaja memutarkan lidahnya di ujung lubang kejantanan Sehun sesekali menyesapnya, hal itu membuat Sehun bergerak semakin cemas dan mengerang kencang seolah ingin meminta "Suck mine now." Namun ditahan karena dia sedang menjaga image nya sebagai pria sejati.
Jika Sehun bersikeras untuk tidak menunjukkan mood nya, hal sama juga dilakukan Luhan yang kini terus menjilat kejantanan Sehun tanpa henti, sesekali menggoda antara memasukkan kedalam mulutnya atau tidak sampai akhirnya dia menyeringai saat tak sengaja Sehun menjambak rambutnya seolah mendorong mulutnya agar segera mengulum penisnya.
Hal itu membuat Luhan sangat bersemangat dan dalam satu gerakan cepat dia membuka lebar bibirnya dan mulai memasukkan setengah penis Sehun yang sudah menyentuh kerongkongannya
"ah~"
Sehun mendesah nikmat saat bibir mungil istrinya memberikan sensasi panas dibawah sana, Luhan bahkan terus mendorong semakin dalam kejantananya kedalam mulut hingga membuat pijatan-pijatan karena hisapan Luhan semakin terasa.
"Luhan, hmmmhh~"
Luhan tersenyum, sepertinya si Mr arrogant sudah hilang dari suaminya, digantikan dengan Sehun yang mulai bersemangat tiap mereka bercinta dan Luhan menyukainya, lagipula ini pertama kali setelah sekian lama mereka bercinta di tempat pertama kali Sehun mengambilnya, hal itu sangat membuat Luhan sangat bersemangat dan ditunjukkannya dengan gerakan mengeluar masukkan kejantanan Sehun dengan tempo cepat yang membuat Sehun mengikuti irama sesekali mengerang nikmat.
"mmhhh~ deep Lu, mmmhh~"
Luhan membuat gerakannya semakin menggairahkan sesekali dia menyesap kuat, lalu tak lama dia memaju mundurkan bibirnya dalam tempo cepat, lalu dia melepas kulumannya dan sengaja menjilati batang kejantanan Sehun yang sudah sangat keras dan siap masuk ke hole sempitnya, tak sampai situ Luhan juga memutar sensual lidahnya di lubang kejantanan Sehun hingga si pria tampan refleks menjambak rambut istrinya dan mengerang.
"aku datang…..aku akan-…ah~"
Dengan sigap Luhan kembali membuka lebar mulutnya, menikmati cairan putih kental yang kini sudah setengah di telan kerongkongannya diriingi suara desahan Sehun yang begitu seksi di telinganya.
Sehun sendiri tidak membiarkan Luhan melepas kulumannya sampai seluruh sperm miliknya ditelan utuh oleh sang istri, dia sengaja menekan kepala Luhan dan terbaring lemas merasa sangat nikmat dengan blowjob yang diberikan istrinya.
"haah~Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan bibirmu sayang."
Luhan tersenyum nakal, dia kembali merangkak sensual dan ikut menindih tubuh suaminya, dia juga mencium bibir Sehun seperti menunjukkan baru saja dia menenggak habis cairan putih dari pria tampan yang beberapa menit lalu mengatakan sedang tidak dalam "Mood."
Sehun sendiri cukup kewalahan dengan sikap agresif Luhan, tak hanya mencium bibirnya, Luhan juga sengaja menekan bokongnya dengan penis miliknya yang masih dalam kondisi setengah tegang, hal itu tak membuat keadaan kembali panas dan tiba-tiba istrinya meminta "Sentuh aku sayang."
Dan hal itu benar-benar sebagai permintaan yang merdu yang bisa didengar telinga Sehun, dia bisa saja membalikan tubuh mungil istrinya dan langsung memasukkan penisnya kedalam lubang Luhan, tapi pengecualian untuk malam ini, dia ingin Luhan berusaha dan ya dia akan melakukannya dengan menatap dalam dua mata cantik yang sedang memohon untuk disentuh saat ini.
"Kau ingin aku melakukan apa?"
Luhan menjilat cuping telinga Sehun dan berbisik sensual "Masukkan milikmu, aku tidak tahan."
"Kalau begitu berusahalah, aku masih setengah tegang dan belum tegang sepenuhnya."
"huh?"
Luhan kebingungan, matanya memicing kesal pada Sehun namun hanya diberi satu jawaban menyebalkan dari suaminya "Kau tahu harus melakukan apa baby deer…" katanya menggigit bibir Luhan diiringi putaran malas kedua mata Luhan yang sekali lagi harus menjatuhkan harga dirinya.
"Baiklah, daddy." Katanya nakal, Luhan kemudian merangkak ke sisi tengah tempat tidur sementara Sehun mulai beranjak dari tempat tidur dan berpindah ke tengah sisi tempat tidur seraya menarik kursi dan memperhatikan bagaiamana sisi nakal Luhan menggodanya.
"Lakukan." Perintahnya, dan Luhan mulai mengusap sensual seluruh tubuhnya, dia mengulum jari telunjuknya dengan gerakan lambat, membuang asal piyama yang dia kenakan hingga tubuh polos itu terpampang nyata di mata lapar Sehun yang sedang menahan diri.
"Baby, buat daddy terangsang sayang."
Permainan kinky versi keduanya baru saja dimulai, saat Sehun memanggil baby itu artinya Luhan harus memanggilnya daddy, hal itu sudah terjadi beberapa tahun lalu dan masih sering dilakukan Sehun agar membuatnya semakin bersemangat.
"Lepas baju daddy."
Sesuai permintaan Luhan, Sehun juga membuang seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, keduanya kini polos yang membedakan Luhan sedang beraksi di tengah tempat tidur dengan mata Sehun yang terus menatapnya tak berkedip.
"ah….."
Permainan baru saja dimulai dan itu menggangu Sehun, istrinya bahkan hanya mendongak dan menyentuh secara acak bagian sensitif tubuhnya, harusnya dia bertahan tapi mendengar desahan istrinya sudah cukup membuat Sehun gila direspon dengan tegangnya kejantanan yang mulai keras dan sudah cukup tegang.
"daddy, milk…."
Luhan menatap nafsu mata suaminya, kini dia sengaja membuat gerakan mencubit nipple nya bergantian, dia menikmati kegiatan solonya di tempat tidur, membuat Sehun harus menahan geraman karena setiap gerakan yang dibuat Luhan sangat membuatnya bernafsu.
"dad-….mmhh…."
Lalu lihatlah kedua tangan nakal istrinya, tangan kiri sedang memelintir dan mencubit nipple nya yang sedang tegang sementara tangan kanan mengocok penis mungil yang biasa dimasukkan Sehun kedalam mulutnya saat pagi dan malam hari.
Ditambah gerakan Luhan yang sangat sensual dan bunyi derit tempat tidur seolah menuntun telinga dan mata Sehun akan adegan-adegan erotis yang akan mereka lakukan sesaat lagi.
"daddy touch me, please…."
Luhan memohon, dia sudah melihat penis suaminya kembali tegang, lagipula sepertinya Sehun sudah sangat keras dan siap membobol pertahanan terakhirnya, tapi lihatlah si pria tampan menyebalkan didepannya, dia tetap menggeleng dengan tangan terlipat walau penisnya sudah mengeluarkan pre-cum tanda tak tahan dan ingin segera bergumul dengannya.
"sshh…."
Dan terpaksa, Luhan menggunakan cara terakhirnya, dia sudah sangat tidak tahan tapi Sehun masih memasang "harga tinggi" hanya untuk menyentuhnya, membuat Luhan terpaksa membuka lebar-lebar pahanya hingga menarik perhatian Sehun yang kini fokus melihat lubang kecil miliknya yang tengah berkedut.
"Masukkan jarimu."
Menyebalkan!
Alih-alih memasukkan penisnya, Sehun justru menginstruksikan agar Luhan memasukkan jarinya, hal itu membuat Luhan mendengus kesal tapi tak kehilangan fokus untuk membuat Sehun semakin menderita melihat bagaimana dia pandai menggodanya.
"okay daddy, watch me." Katanya sengaja kembali menyesap kelima jarinya, kali ini dia juga mengeluar masukkan jari tengahnya kedalam mulut sebelum mengarahkan ke lubangnya sendiri "Aku masukkan."
Tak lama terdengar erangan sakit dari Luhan, dia nyaris menangis namun suara berat Sehun memberi instruksi "Masukkan dalam sekali hentak, kau tidak akan kesakitan baby." Luhan mendengarnya, dia mengikuti instruksi Sehun dan dalam sekali dorongan jari tengahnya kini sedang mengoyak lubangnya sendiri.
"mmmhh~"
Dia mendesah puas lalu suara Sehun terdengar lagi "Buat gerakan in dan out." Luhan menggigit nikmat bibirnya, matanya juga tak berkedip melihat bagaimana tampan dan jantan suaminya yang kini sedang menatapnya jerk off seorang diri, jari tengahnya mulai menemukan celah yang leluasa agar tidak merasa sakit.
Awalnya Luhan merasa risih, tapi saat titik-titik kenikmatan mulai berdatangan dia begitu bahagia hingga tak sadar matanya terpejam menikmati permainannya sendiri "Tambahkan jarimu."
Mendengar instruksi baru dari suaminya, Luhan mengangguk, jari telunjuknya sudah berada di posisi masuk, dan dalam hitungan bersamaan pula Luhan memasukkan jarinya bergantian, kadang bersamaan, dia ingat Sehun selalu membuat gerakan menggunting dengan kedua jarinya, dia melakukannya juga dan terasa sangat nikmat, walau tetap saja jari suaminya berjuta-juta kali lebih nikmat dari jarinya sendiri.
"oh…hmmhh…deep daddy, mmmhh~"
Luhan tak lagi menghiraukan tatapan lapar Sehun yang kini berubah semakin lapar, yang dia lakukan hanya mengeluar masukkan kedua jarinya seraya membayangkan wajah Sehun saat mengambilnya, hal itu cukup membuatnya melambung dan nyaris mencapai klimaksnya jika suara menyebalkan Sehun tidak terdengar memberi perintah
"Cukup."
Luhan refleks membuka matanya yang terpejam, dia ingin mengeluh tapi terkejut melihat Sehun sedang mengocok penisnya sendiri, suaminya kemudian menggeram tak sabar untuk naik ke tempat tidur dan memberi perintah baru.
"Keluarkan jarimu."
Luhan menyeringai senang, keinginannya akan segera terwujud dan dengan senang hati pula dia mengeluarkan kedua jarinya yang sudah sangat basah dipenuhi cairan miliknya sendiri.
"haah~" dia mendesah nikmat sementara Sehun terus mengocok penisnya dan mulai menarik lengan Luhan agar posisinya menungging "da-daddy…"
Sehun bertumpu pada kedua tumitnya, seraya mempersiapkan penisnya pada tahap akhir sebelum membobol Luhan, dia juga memasukkan jarinya di lubang istrinya, memastikan Luhan siap sebelum perlahan membuka lubang istrinya dan mulai mencoba untuk memasukkan penisnya.
"Kau siap sayang?"
Luhan mengangguk bersemangat, sejujurnya dia tidak begitu suka saat posisinya menungging, dia benci tidak melihat wajah suaminya, tapi dengan posisi ini pula biasanya Luhan akan merasakan penis Sehun menghujamnya sangat dalam bahkan terkadang menggelitik isi dalam perutnya.
Dia memejamkan erat matanya, bersiap merasakan sakit saat suaminya mulai memasukkan kejantanan yang dirasanya begitu tegang dan besar namun sial, Sehun lagi-lagi menggodanya dan dengan sengaja menggesekan kedua penis mereka melalu selangkangan Luhan.
"Sebentar baby, Setelah ini kau akan mendesah nikmat dan nikmat." Katanya menggigit telinga Luhan, kembali mempoisisikan penisnya dan dalam satu kali hentakan Sehun dan kejantanannya yang sangat besar dan tegang berhasil memasuki lubang sempit dan kecil milik Luhan yang kini menggigit bantal tidurnya agar tidak berteriak dan membangunkan Jaehyun atau kedua orang tuanya.
"haah~ ah…..Bergerak, sayang, bergeraklah."
Tanpa Luhan minta pun Sehun sudah berniat untuk bergerak dengan tempo cepat, dia memegang kedua pinggang istrinya lalu mengeluar-masukkan penisnya di dalam lubang Luhan.
Rasanya nikmat, terlalu nikmat hingga membuat matanya terpejam dan mendongak ke atas menikmati suara desahan Luhan yang memanggil namanya serta bunyi derit tempat tidur dan suara khas penyatuan tubuh mereka.
"ah…Sehunna, Sehun—mmhh."
Luhan tak tahan sensasi semakin dalam yang diberikan Sehun, dia takut, takut jika mencapai klimaksnya tanpa melihat wajah suaminya, oleh karena itu disela desahan hebat saat memanggil nama suaminya Luhan menyempatkan diri memekik "cium aku, aku akan, Sehun cium aku."
Mengerti keinginan istrinya Sehun membuka mata, dia kemudian memposisikan Luhan duduk memunggunginya sementara Luhan harus menoleh untuk mencium bibirnya, sejenak Sehun tidak membuat gerakan, dia hanya mengambil kesempatan memasukkan penisnya semakin dalam dan membuat Luhan mengerang di tengah ciuman mereka.
"Mau lagi?"
Luhan mengangguk, Sehun kemudian tersenyum gemas sebelum mengangkat kedua kaki Luhan cukup tinggi, dalam posisi setengah terangkat dia bisa memasukkan lebih dalam, semakin dalam penisnya ke dalam lubang Luhan, membuat Luhan tak tahan hingga melihat bayang-bayang putih disertai sensasi menyenangkan di perutnya.
Dia akan klimaks, oleh karena itu kepalanya kembali menoleh belakang, Sehun tahu kebiasaan Luhan saat klimaks jika posisinya berbeda adalah mencium dirinya, oleh karena itu tanpa menghentikan sodokannya yang begitu dalam dan nikmat di lubang istrinya, Sehun memajukan kepala, menyambut bibir mungil istrinya yang sedang mendesah dan melumatnya kasar namun nikmat.
Tangannya yang lain juga membantu mengocok penis Luhan seraya berbisik "Kau bisa mengeluarkannya sekarang sayang." yang membuat seluruh tubuh Luhan mengejang nikmat, ditambah jepitan di lubangnya yang semakin sempit membuat Sehun tak tahan dan menikmati cairan putih istrinya keluar mengotori tangan dan tempat tidurnya.
"haah~"
Sepanjang klimasknya Luhan menggigit bibir Sehun, dia kelelahan tapi sangat nikmat, pikirnya Sehun akan memberikan waktu untuk beristirahat namun dia salah, alih-alih membuatnya istirahat, Sehun justru mengerang dan Luhan bisa merasakan penis suaminya semakin membesar di dalam tubuhnya.
Jadi rasanya wajar jika Sehun memiringkan tubuhnya, mengangkat tinggi satu kaki kanannya, sementara dia kembali bergerak maju mundur dan dalam menghentak prostat Luhan yang baru saja merasakan klimaks.
"baby….."
Luhan bisa melihat mata suaminya terpejam, hal itu membuatnya sangat gemas dan menoleh ke belakang untuk mencium bibir suaminya, dia membiarkan Sehun menghentak dengan tempo yang sangat cepat dan terlalu dalam, ikut mendesahkan nama suaminya agar Sehun semakin terangsang dan dari semua itu, Luhan sengaja mengetatkan lubangnya agar Sehun segera mencapai puncak kenikmatannya dan benar saja….
"Lu-…Luhaanaah~"
Tak perlu waktu lama mata Luhan terpejam menikmati hangatnya sperm Sehun yang mulai berdesakan masuk dan keluar dari lubangnya, nafas Sehun juga tersengal di pundak Luhan, keduanya masih menikmati posisi panas mereka sampai Luhan tersenyum berbisik "gomawo daddy." Katanya menggoda dibalas sikap Sehun yang kembali dingin dan mengangkat lengannya, suaminya kini mengincar dua nipple nya berganti, menyesapnya kuat hingga Luhan kewalahan karena tak hanya bibirnya tapi tangan Sehun mulai bergerak liar mengocok penisnya lagi.
"Sehun, apa yang kau—Sehun!"
Luhan terkejut saat Sehun mengangkat bridal tubuhnya, dia bertanya-tanya kemana Sehun akan membawanya sampai suara barang-barang terjatuh dari meja yang dulu mereka gunakan untuk belajar saat ujian sekolah.
"Sayang apa yang kau lakukan?"
"Apalagi? Kita ingin membuat adik bayi kan?" katanya melebarkan lagi kedua paha Luhan yang masih mengeluarkan sisa sperm nya seraya mengocok lagi penisnya agar mengeras "Tapi kita baru saja—rrgghh~"
Yang membuat Luhan takjub adalah kenyataan bahwa Sehun masih memiliki banyak tenaga, terbukti dari kerasnya kejantanan suaminya yang kembali keluar masuk di lubangnya serta tempo yang rasanya lebih cepat dari sebelumnya
"ah~"
Sehun terus melakukannya dengan cepat dan dalam, dia menikmati setiap hentakan yang membuat Luhan mendesah dan membuatnya hampir gila karena terlalu nikmat, dan setelah terbiasa dengan permainan suaminya, Luhan mulai melingkarkan kedua tangannya memeluk Sehun, dia ikut memaju mundurkan pinggulnya di meja Sehun hingga bunyi penyatuan tubuh mereka lebih erotis dari sebelumnya.
"deep….Sehunna, deep baby."
Luhan menggigit kuat pundak Sehun saat keinginannya terpenuhi, Sehun memasukkanya semakin dalam, terlalu dalam hingga kurang dari lima menit Luhan mulai menyembunyikan wajahnya di tengkuk Sehun, sengaja mengetatkan lubangnya dan mendesahkan nama "Sehun—mmmhh~" untuk mencapai klimaks keduanya hingga mengotori perut Sehun dan meja yang mereka gunakan untuk bercinta.
"Wae? kau menyukainya?"
Luhan tersipu malu dan mengangguk di pelukan Sehun "Itu tadi sangat nikmat."
"Kalau begitu sekarang lakukan untukku."
"huh?"
Lalu Sehun menarik kursi yang ada di kamarnya, dia duduk disana dan meminta Luhan menungganginya, lagi-lagi Luhan tidak memiliki pilihan lain selain melayani nafsu suaminya yang tak mengenal lelah untuk berjongkok mengangkangi Sehun dan mencakar pundak si pria tampan sementara lubangnya sedang mencari dimana kejantanan suaminya.
"ah../ Luhan—rrhh~"
Keduanya kembali merasakan nikmat saat lubang Luhan berhasil menyedot kejantanan Sehun, Luhan dia sejenak untuk menikmati betapa dalam dan panjang penis suaminya bisa menyentuh dirinya sebelum menggigit pundak Sehun karena rasanya terlalu perih dan nikmat secara bersamaan.
"Bergerak sayang."
"Tidak bisa, sakit."
"Cobalah, aku membantu."
Dan karena Sehun menguatkan dirinya, Luhan mencoba, dia setengah mengangkat pinggulnya lalu memasukkannya lagi, awalnya sangat perih karena capaian kejantanan Sehun masuk terlalu dalam, terlebih saat Sehun ikut memajukan pinggulnya saat dia dalam posisi turun.
"ARGH!"
Luhan bisa gila karena penyatuan kali ini diluar dugaan, dia bahkan sudah klimaks lagi selagi Sehun menuntunnya untuk bergerak "Kenapa cepat sekali sayang?"
Luhan menggeleng lemah tak mau mengatakan apapun, yang dia lakukan hanya pasrah, berusaha ikut bergerak saat Sehun memegang pinggang dan menggerakan pinggulnya bersamaan.
"ngghhh~"
Luhan tak tahan dia benar-benar tidak tahan, hanya empat kali sodokan Sehun dia kembali klimask dan Sehun sepertinya menyukai bagaimana istrinya kelelahan karena terlalu banyak klimaks kurang dari tiga jam.
"Kau masih kuat?"
Luhan menggeleng, jika posisinya terus seperti ini dia akan berkali-kali klimaks tanpa henti. Oleh karena itu Sehun berbaik hati berbisik "Kita pindah ke tempat tidur?" yang langsung dibalas anggukan lemas Luhan di pelukannya.
"Baiklah, lingkarkan kakimu di pinggangku, aku akan tetap bergerak."
Rasanya semua ucapan Sehun terdengar seperti hipnotis untuknya, dia melakukan apapun yang dikatakan Sehun terutama saat mereka berpindah dari kursi ke tempat tidur dengan Sehun yang terus bergerak dengan posisi berdiri.
"Sehun!"
Sensasinya ternyata luar biasa lebih nikmat dari posisi duduk, tubuh Luhan sudah meremang dan hentakan ketiga Sehun dalam poisisi berdiri Luhan klimaks lagi hingga membuat Sehun sangat terkejut.
"Sepertinya kau sangat bernafsu sayang."
"Itu salahmu bodoh." Katanya mengumpat, membiarkan Sehun membaringkannya ke poisis favorit Luhan dimana Sehun bergerak dengan wajah tampannya terlihat, Luhan selalu bahagia dengan posisi ini.
Lagipula dia sudah kelelahan untuk mendapatkan klimaks, hingga membuat kedua tubuh mereka lengket dan basah, hal itu sebenarnya menguntungkan Sehun karena saat Luhan benar-benar bernafsu, dia lebih mudah menggerakan pinggulnya, terlebih saat Luhan menarik tengkuknya, meminta agar bibirnya dicium hingga terjadi lumatan yang diiringi gerakan sensual dibawah sana.
"Aku mencintaimu." Sehun berbisik dan Luhan sibuk melumat bibir suaminya, dia hanya melingkarkan tangan di leher Sehun, membuka lebar bibirnya seraya membalas "Aku sangat mencintaimu." Selebihnya hanya ada suara kecupan dan hentakan Sehun hingga Luhan merasa penis suaminya membesar tanda bahwa sebentar lagi Sehun akan kembali klimaks dan sengaja mempercepat tempo seraya menciumi dahinya.
"Aku datang."
Luhan mengangguk, dia semakin melebarkan pahanya dan menyempitkan lubangnya untuk menyambut sperm Sehun yang begitu disukainya, "haaah~" lalu nafas suaminya menderu hebat, Luhan menyukainya ditambah saat bayi besarnya lemas namun kejantanannya tak henti mengeluarkan sperm hingga membuat Luhan terpaksa mengangkang lebar agar Sehun nyaman saat mencapai klimaksnya.
"Sudah lelah?"
Luhan bertanya disambut anggukan Sehun yang berbisik "Satu kali lagi aku masih kuat."
"Sehun!"
"araseo…araseo...Sudah cukup, kau bisa istirahat." Katanya mencium kening Luhan lalu perlahan mengeluarkan penisnya, menyisakan tetes terakhir sperm nya di perut Luhan sebelum beralih kesamping istrinya.
"Kau benar-benar menggairahkan malam ini sayang." katanya menarik tubuh mungil Luhan dan merasakan lengket di hampir seluruh tubuh mereka "Kau juga." Luhan membalasnya, bersandar di dada Sehun dan mulai menetralkan nafas mereka.
Hening sesaat, lalu tangan Luhan bermain di dada Sehun untuk mengambil kesempatan bertanya "Jadi bagaimana?"
"Apa?"
"Kau marah padaku?"
Sehun terkekeh, sepertinya Luhan akan selalu sensitif dengan sikap sensitifnya, hal itu terlihat dari caranya yang terus bertanya apa dia marah atau apa dirinya kesal dan lain-lain. Satu yang tidak diketahui Luhan bahwa selamanya, marah dan kesal, tidak akan pernah ada di kamus Sehun jika itu berkaitan dengan istrinya, tidak akan pernah.
Dia pun mengecup bibir Luhan, meyakinkan istrinya dan sekali lagi mengatakan "Yang bisa aku lakukan hanya mencintaimu dan memujamu, aku tidak tahu caranya marah dan kesal pada pria secantik istriku."
"Kau ini."
Luhan memukul dada suaminya, antara malu dan kesal karena terbuai ucapan Sehun dia rasakan, dia bahkan menyembunyikan wajahnya yang kelelahan di dada Sehun sementara Sehun menarik selimut untuk mereka berdua.
"Tidurlah sayang, selamat malam cantik."
Luhan tersenyum tenang, bisikan Sehun adalah hal yang paling menyenangkan yang pernah didengarnya selama hidup, dia mungkin akan segera tertidur sebelum kembali memanggil nama suaminya "Sehun."
"Apa sayang?"
"Kau akan terlibat pada pengobata papa kan?" katanya memastikan, Sehun hanya tersenyum kecil, tidak ingin membuat istrinya bersedih hingga akhirnya Sehun mengalah dan mendekap Luhan semakin erat "Jika kau memaksa, maka aku akan terlibat."
"gomawo."
"Tidurlah sayang."
Kali ini Sehun mengusap punggung Luhan yang begitu halus, membisikan kalimat seperti aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu hingga membuat mata Luhan benar-benar terpejam dan akhirnya menjemput mimpi indahnya, dia mengecup kening yang bermandikan peluh dari istrinya, mengusapnya sekilas sebelum ikut tertidur dengan perasaan takjub tak menyangka bisa bercinta dengan istrinya di tempat yang begitu dia rindukan sejak mereka resmi menjadi sepasang suami dan istri.
Membuatnya tanpa sadar tersenyum dan terus menggumamkan kalimat "Aku mencintaimu Luhan, aku memujamu."
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sehun, sayang, bangunlah sebentar."
"ngghh…."
"Sebentar saja sayang."
Rasanya baru beberapa saat matanya terpejam, tapi lihatlah suara merengek istrinya dan tusukan tusukan di pipinya membuat Sehun dengan sangat terpaksa membuka matanya untuk menemukan Luhan sedang mengigit bibir tanda dia menginginkan sesuatu.
"Ada apa sayang?" tanyanya, dan Luhan memegang kerongkongannya "Aku haus."
"Lalu?"
"MENYEBALKAN!"
Sedikit kesal, Luhan memukul dada Sehun karena matanya kembali terpejam dan hal itu membuat mata Sehun sukses terbuka seratus persen
"Maaf sayang, baiklah, baiklah, aku sudah bangun sekarang, apa yang kau inginkan?"
"Aku haus." Katanya merengek lalu memegang bagian pinggulnya "Tapi pinggangku kram, aku tidak bisa berdiri saat ini."
Antara merasa bersalah dan gemas kini terlihat di wajah Sehun, dia pun mengecup sayang bibir Luhan seraya mengusap lembut surai bayi besarnya "Baiklah, aku ambilkan air untukmu."
Tersenyum senang, Luhan mengangguk cepat "gomawo sayang."
Sehun pun berjalan menuju lemari pakaiannya, memakai asal boxer dan kaos putih miliknya sebelum berjalan keluar kamar dan mengambilkan minum untuk istrinya.
"Tunggu aku sayang."
Perlahan dia menuruni tangga, membiasakan diri dengan gelap rumahnya sebelum mendengar suara mencurigakan yang berasal dari dapur. Buru-buru Sehun menuruni tangga rumahnya, berjalan menuju dapur sebelum bertanya-tanya apa yang dilakukan ibunya disana.
Kenapa mamanya terlihat berkeringat, dia juga terlihat kesakitan dan berusaha mengambil botol yang di letakkan di tempat paling tinggi di dapur, tebakannya Jaehyun yang meletakkan disana, tapi kenapa?
Lalu Sehun memicingkan mata untuk melihat botol obat yang berusaha diambil ibunya sebelum menyadari bahwa itu adalah jenis penenang yang dosisnya sedang diawasi Luhan dengan ketat.
Hanya satu perhari, mama tidak boleh meminum lebih dari satu, aku sedang mengawasi ketat dosis obat yang mama konsumsi
Mama sudah mengkonsumsi satu tablet siang ini
Tiba-tiba dia teringat ucapan Luhan dan Jaehyun saat makan malam beberapa jam lalu, jika ibunya sudah meminum tablet itu siang tadi bukankah ini belum waktunya, Sehun terus mengawasi hingga
"ARRGH!"
Ibunya memekik tertahan, menggunakan segala cara untuk menjatuhkan obatnya dan dia berhasil, botol obat itu terjatuh di bawah meja makan, tubuh mamanya bergerar hebat seraya mengambil obat yang begitu diinginkannya.
"sedikit lagi, sedikit lagi."
Sehun bisa mendengar mamanya bergumam seraya mengeluarkan tidak hanya satu tablet tapi lima tablet sekalipun. Hal itu membuat Sehun terkejut dan refleks berlari mendekati ibunya.
"MA!"
Dia berteriak, menghempas tangan ibunya yang nyaris menenggak lima tablet untuk dihadiahi teriakan "APA YANG KAU LAKUKAN JAE!"
Jaehyun?
Sehun bergumam bingung, jelas ibunya menatap langsung kedua matanya, tapi kenapa dia memanggilnya dengan Jaehyun, terlebih saat mamanya terus memukul dan berteriak "BERIKAN MAMA OBATNYA! MAMA INGIN MELIHAT KAKAKMU, MAMA INGIN SEHUN!"
Tidak,
Barulah Sehun menyadari bahwa ibunya sakit, ibunya membutuhkan dirinya yang sedari tadi terus bersikap dingin, hatinya menangis melihat bagaimana wanita cantik didepannya tidak mengenalinya sebagai Sehun, dia menangis dan membiarkan ibunya memukul seluruh tubuhnya tapi tidak memberikan sedikitpun obat kepadanya.
"BERIKAN PADA MAMA OH JAEHYUN! MAMA INGIN MELIHAT SEHUN DI DALAM MIMPI MAMA INGIN-….."
"AKU BUKAN JAEHYUN, AKU SEHUN!"
"huh?"
Barulah Jihyo mengedipkan matanya beberapa kali, dia selalu mengira putranya yang tersisa hanya Jaehyun, jadi saat putranya yang lain mengatakan dirinya Sehun hanya membuat samar di bayangan wanita yang sudah mengalami depresi dan halusinasi cukup berat seperi mamanya.
Terkadang Jihyo melihat Sehun, tapi tak beberapa lama dia melihat Jaehyun, lalu beberapa menit semuanya hilang dan itu membuatnya sangat ketakutan, dia takut ditinggalkan ketiga putranya dia takut dan hanya menangis.
"Jangan berbohong pada Mama, Sehun tidak akan pulang, dia membenci mama nak."
"Ya, Sehun membenci mama, tapi itu dulu kini tidak lagi." katanya berusaha menyadarkan mamanya dengan menangkup wajah dan memastikan bahwa dirinya adalah Sehun, benar-benar Sehun.
"Aku tidak membenci mama lagi."
Barulah Jihyo merasa sedikit tenang, dia kemudian mengusap wajah Sehun seolah mengenali putranya dengan baik "Sehunna."
"Ini aku ma."
"Apa kau nyata?"
Sehun membawa tangan ibunya ke wajahnya, membawa tangan Jihyo memukulnya kencang hingga meninggalkan warna merah di wajahnya "Aku nyata ma." Ujarnya meyakinkan, dan Jihyo kembali bertanya "Bukan mimpi?"
Sehun tertunduk, menangisi kekejamannya pada kedua orang tuanya untuk menggeleng "Ini bukan mimpi, aku Sehun, putramu."
"Sehun."
"hmh?"
"Sehunna…"
"Ya?"
"Anakku?"
"Tentu saja."
"Sehun…."
Sehun membiarkan ibunya terus memanggil namanya berulang, semakin memanggil suaranya akan semakin kencang hingga panggilan terakhir Jihyo memekik "ANAKKU" sebelum melompat ke pelukan Sehun.
Tubuhnya tak lagi bergetar karena Sehun memeluknya, penglihatannya tak lagi berbayang karena kini tak hanya Sehun, tapi Jaehyun juga sedang berdiri disana bersama Luhan, memperhatikannya dari jauh yang sudah mulai kelelahan karena pikirannya sendiri.
"Luhan."
Jaehyun memeluk kakak iparnya, membiarkan Luhan menangis sementara kini suara ibunya memanggil namanya berulang "Luhan."
"hyung…" Jaehyun berbisik dan kini Luhan menguatkan diri untuk menjawab "y-Ya ma?"
"Maafkan mama nak, maafkan mama."
Luhan menggeleng tak tega, dia bisa melihat bagaimana suaminya dan sang ibu sama-sama menderita karena rasa bersalah "Jangan ma, jangan meminta maaf." Katanya memberitahu, membuat Jihyo menangis di pelukan suaminya sementara Sehun menatapnya dengan tatapan lembut seolah berterimakasih padanya.
"Aku mencintaimu sayang, terimakasih."
Hati Luhan sakit mendengar Sehun mengatakan cinta dan rasa terimakasihnya dengan wajah menderita, dia pun tak ingin mendengar apapun dan hanya memeluk Jaehyun yang juga terus mengatakan "Terimakasih hyung." padanya, hal itu membuat Luhan sedih hingga berakhir menangis terisak di pelukan adiknya.
"cukup, Apa yang kalian lakukan padaku?"
"Jaehyun."
"Ya hyung?"
"Bawa mama kembali ke kamar."
Jaehyun mengerti, dia kemudian menarik kursi untuk Luhan dan membawa kakak iparnya duduk disana, tak lama dia menggendong ibunya, membawanya ke kamar dan meninggalkan kedua hyungnya disana.
Hks…
Luhan terus terisak, kepalanya tertunduk dalam karena hatinya terlalu sakit, dia bahkan tak bisa menatap suaminya, dia tidak ingin melihat mata suaminya yang dipenuhi rasa bersalah, dia tidak bisa dan itu menyakitinya.
"Luhan."
"Jangan…."
Sehun tersenyum, memaksa kedua mata cantik itu melihatnya seraya mengecupi tangan Luhan yang terkepal sangat erat "Maaf..
"Cukup Sehun, aku tidak mau mendengarnya lagi."
"Lalu apa yang ingin kau dengar?"
"Apapun selain maaf."
"Baiklah, aku dan keluargaku bersalah padamu, kami meminta maaf dan aku berjanji akan menjagamu seumur hidupku, tidak akan membuatmu menangis lagi."
Luhan menggeleng, menutup kedua telinganya sampai Sehun menyeruak dan memeluk tubuhnya yang bergetar "Cukup Sehun, cukup sayang."
"Baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi."
Luhan membalas pelukan Sehun, membiarkan Sehun menggendong koala dirinya sementara dirinya terus terisak merasa hatinya hancur berkeping melihat bagaimana dia menghancurkan hati keluarga suaminya.
"Sehun…"
"hmmh?"
"Maaf membuat keluargamu menjadi seperti ini."
Dia anak tangga terakhir Sehun berhenti berpijak, pelukannya semakin erat di pinggang Luhan, dia juga mengecup tengkuk istrinya dipenuhi rasa bersalah seumur hidupnya "Jangan lakukan lagi Lu, kau tidak melakukan apapun sayang, jangan menyakiti hatiku."
Luhan mengangguk, dia bisa merasakan tengkuk lehernya panas karena air mata Sehun, hal itu membuat dekapannya menjadi sangat erat sesekali mengusap punggung kokoh suaminya.
"Aku rindu kedua orang tuaku."
"huh?"
"Aku ingin menemui mereka Sehun, bawa aku kesana. Aku tidak akan mengelak lagi."
Kini hati Sehun yang dibuat hancur berkeping mendengar penuturan rindu seorang anak pada kedua orang tuanya, tubuhnya memanas karena sesak, namun tetap tersenyum saat membaringkan istrinya di tempat tidur.
Sehun masih berada di atas Luhan, mengecupi seluruh wajah istrinya sebelum menatap dalam kedua mata cantik yang sedang menunjukkan sisi lemahnya, bersusah payah Sehun mengatakan "Baiklah." Dengan tangan yang terus mengusap wajah istrinya dan air mata yang menetes melewati hidungnya dan membasahi wajah Luhan.
Tak tahan dia menyembunyikan wajahnya di pelukan Luhan lalu melanjutkan ucapannya "Kita akan mengunjungi Mama dan Papa Xi, bersama-sama."
Keduanya kini menangis, Sehun berada dia atas Luhan, memeluknya erat, terisak pilu bersama dengan cerita yang terlalu menyakitkan untuk mereka kenang tapi tak akan pernah bisa mereka melupakan, selamanya.
.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
Nikmatilah 13 ribu words yang isinya Hunhan semua
.
Lalu bersiaplah untuk chap depan yang satu persatu akan kukuak semua, aku akan menyelesaikannya sedikit demi sedikit,
tergantung jari-jari gue di laptop, terimakasih :*
.
.
dan sampai jumpa
.
.
next " Been Through :*
.
Happy reading gengs :*
