Previous
"Aku rindu kedua orang tuaku."
"huh?"
"Aku ingin menemui mereka Sehun, bawa aku kesana. Aku tidak akan mengelak lagi."
Kini hati Sehun yang dibuat hancur berkeping mendengar penuturan rindu seorang anak pada kedua orang tuanya, tubuhnya memanas karena sesak, namun tetap tersenyum saat membaringkan istrinya di tempat tidur.
Sehun masih berada di atas Luhan, mengecupi seluruh wajah istrinya sebelum menatap dalam kedua mata cantik yang sedang menunjukkan sisi lemahnya, bersusah payah Sehun mengatakan "Baiklah." Dengan tangan yang terus mengusap wajah istrinya dan air mata yang menetes melewati hidungnya dan membasahi wajah Luhan.
Tak tahan dia menyembunyikan wajahnya di pelukan Luhan lalu melanjutkan ucapannya "Kita akan mengunjungi Mama dan Papa Xi, bersama-sama."
.
Je'Te Veux
.
.
.
Main cast : Lu Han as Xi Luhan
Oh Sehun as Oh Sehun
Rate : T-M
.
.
.
.
.
.
.
"Luhan."
Diikuti dua pria tampan yang berjalan dibelakangnya, Baekhyun terlihat tergesa memasuki rumah yang dulu dijadikan mereka sebagai basecamp saat ujian tiba. Alasannya konyol kenapa rumah Sehun yang dijadikan basecamp untuk keenam pria yang sudah berteman sejak kecil hingga masing-masing dari mereka telah menikah dan mempunyai anak.
Itu karena akan selalu ada makanan yang dibuat oleh Mama Oh
Luhan beralasan seperti itu, lalu berbeda lagi dengan alasan Baekhyun yang mengatakan "Ada Yunho hyung disana, aku mau dirumah Sehun saja."
"Aku juga."
Dan saat itu seorang Do Kyungsoo pun juga menyukai kakak dari sahabatnya, membuat ketiga dari mereka menjadi dekat hanya karena seorang Yunho yang memiliki bukan hanya wajah tampan tapi juga senyum mematikan yang membuat jantung mereka berdebar tak menentu.
Usia mereka baru menginjak lima belas tahun saat itu, ketiga pria cantik itu juga belum memiliki keterikatan khusus dengan suami mereka masing-masing, hanya seperti diawasi tanpa memiliki hubungan khusus dengan suami mereka.
"Baek."
Berbeda dengan hari ini, rumah yang pernah menyimpan kenangan manis mereka tiba-tiba berubah menakutkan untuk Luhan, jadilah tak ada yang mengunjungi rumah Sehun sejak tiga tahun lalu sampai hari ini menjadi hari yang begitu membuat tak hanya Sehun tapi juga keempat temannya yang lain yang begitu mencemaskan Luhan.
"Hay Lu…"
Keduanya berpelukan erat sementara tiga yang lain hanya memperhatikan seraya menatap penuh arti satu sama lain "Kau baik-baik saja?" Baekhyun bertanya dan Luhan mengangguk di pelukan istri dari sahabatnya "Terimakasih sudah datang, aku membutuhkan kalian untuk membawa Mama dan Papa ke rumah sakit. Dimana Kyungsoo?" tanyanya menatap Kai sebelum beralih memeluk ayah dari satu anak yang sedang menatap entah iba entah bangga padanya.
"Kyungsoo sedang menyiapkan segalanya di rumah sakit, bagaimana dirimu?"
Tenggelam di pelukan pria terdekatnya selain Chanyeol, Luhan hanya mengangguk dan tersenyum lirih "Aku membuat kalian cemas ya?"
"Saat kau mengatakan ingin membawa Mama dan Papa Oh ke rumah sakit, itulah saat dimana kami semua merasa keajaiban Tuhan benar-benar terjadi."
"Aku tidak sejahat itu kan?"
Kai mengusap sayang punggung Luhan, dipeluknya erat teman kecil yang begitu disayanginya sebelum berbisik "Kau tidak jahat Lu." katanya mencium pucuk kepala Luhan sebelum menyerahkan sesuatu pada si pria cantik "Apa ini?"
"Milik mendiang mama."
Saat liontin kecil itu diberikan padanya Luhan baru menyadari bahwa kalung kecil yang diberikan Kai memang milik ibunya, tapi bagaimana bisa? Membuat Luhan ingin bertanya tapi Kai menjawab rasa bingungnya secepat kilat "Aku ingin memberikannya di hari pemakaman Mama Xi, tapi kau belum siap jadi aku menunggu hingga kau siap dan aku rasa ini adalah hari yang tepat."
"Tapi darimana kau mendapatkannya?"
"Bukan aku, Chanyeol."
Luhan beralih lagi pada pria dengan postur tubuh paling tinggi dari mereka semua, dia sedang tersenyum dan membawa dua buket bunga yang ditebak Luhan harus dibawanya sesaat lagi saat dia berkunjung ke pemakaman kedua orang tuanya.
"Yeol, darimana kau mendapatkannya?"
Chanyeol tersenyum, dia menyerahkan dua buket bunga yang sedang digenggam pada Kai lalu berjalan mendekati Luhan dan menggenggam tangan istrinya "Jangan katakan Baekhyun." Luhan menebak dan Chanyeol memeluk kedua pria cantiknya sebagai jawaban "Tidak penting siapa yang mendapatkannya dan bagaimana cara kami mendapatkannya, yang penting kau sudah mulai menerima kenyataan dan aku lega karena akhirnya kau akan mengunjungi kedua orang tuamu Lu, mereka pasti sangat merindukan putra mereka."
Luhan tersenyum bersama dengan Baekhyun di pelukan Chanyeol, dia bahkan menitikan air mata seolah membenarkan apa yang dikatakan Chanyeol bahwa mama dan papanya mungkin memang merindukan dirinya dan ingin bertemu dengannya.
Hal itu pun membuat Baekhyun menatap iba pada Luhan, dihapusnya air mata teman kecilnya untuk berbisik "Kau akan baik-baik saja setelahnya, percaya padaku."
Luhan mengangguk, membalas pelukan kedua sahabatnya hingga terdengar beberapa suara langkah kaki mendekati ruang utama di kediaman keluarga suaminya "Kalian semua sudah datang?"
Adalah Sehun yang bertanya, pria tampan itu mengenakan kemeja hitam yang membuat dirinya terlihat sangat tampan dan formal, corak kemejanya senada dengan kemeja lengan pendek yang dikenakan Luhan, yang membedakan hanya aura dari keduanya yang terasa sangat berbeda, Sehun tampan dan Luhan terlihat sangat cantik, hanya itu.
Selebihnya mereka akan terlihat sangat serasi saat berdiri bersampingan, seperti saat ini misalnya, saat Luhan menghampiri suaminya dan dirangkul mesra oleh si pria tampan, keduanya akan memancarkan aura yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Hal itu membuat keempat teman mereka tersenyum lega menyadari bahwa mereka telah benar-benar mendapatkan Sehun dan Luhan mereka yang dulu, yang saling mencintai dan akan saling melengkapi satu sama lain, berdampingan, dan tak terpisahkan lagi.
"eoh….Ini dua buket bunga pesanan milikmu."
Chanyeol meletakkannya di meja, dibalas anggukan Sehun tanda mengerti sebelum berbisik di telinga istrinya "Kau siap sayang?"
"mmhhh…."
Melihat istrinya menggenggam sesuatu seperti liontin hanya membuat Sehun bertanya "Apa itu?"
"Ini, ah. Ini liontin milik mama, Chanyeol yang memberikannya padaku."
Sehun melihat sahabat istrinya sekilas sampai suara Luhan bertanya "Indah bukan?" katanya mengagumi liontin permata dengan tulisan L sebagai inisial nama putranya tertera disana.
"Tentu saja sayang."
Tiba-tiba Sehun bergerak mendekat, dilepasnya kalung cincin pernikahan miliknya yang dikenakan Luhan di leher hingga membuat Luhan terkejut dan menolak gerakan Sehun pada kalung berharga miliknya "Aku tidak mau melepasnya."
"Hanya sebentar sayang aku janji."
Luhan pun sedikit merasa tenang, dia membiarkan Sehun melepas kalungnya dan memperhatikan apa yang sedang dilakukan suaminya "Apa yang kau lakukan sayang?" tanyanya, dibalas senyum singkat Sehun yang kini mengeluarkan cincin miliknya untuk disatukan dengan liontin kecil milik ibu mertuanya.
"Selesai." Katanya kembali memakaikan kalung di leher istrinya untuk menatap puas pada leher jenjang yang selalu dikecupnya setiap malam "Sempurna, sekarang aku dan mama akan selalu menjadi pelindungmu."
"menyebalkan."
Mendengar ucapan Sehun hanya membuat nafas Luhan terasa berat dan sesak, tangannya juga refleks mencengkram dada suaminya sebelum kembali bersandar disana "Apa kau tahu kau sangat menyebalkan?"
"Aku tahu sayang, aku menyebalkan dan tampan, benar?"
Lucunya Luhan justru mengangguk tanda membenarkan "Iya benar."
"Astaga baby mungilku kenapa sangat lucu?"
Kemudian kecupan itu diberikan Sehun pada Luhan, kecupan di bibir yang selalu membuat jantung Luhan berdebar tanpa alasan, berjuta-juta kali mungkin Sehun mengecupnya tapi dirinya selalu berbebar seperti pertama kali, hal itu membuatnya benar-benar bahagia hingga membuat cibiran terdengar dari Kai yang sangat disayangkan tidak membawa istrinya pagi ini.
"oh ayolah! Cepat hentikan dan kita harus segera berangkat, aku juga ingin mencium istriku." Sungutnya dibalas pandangan mencibir dari Baekhyun dan kekehan terengah dari Sehun dan Luhan yang baru selesai memagut satu sama lain.
"Aku rasa kita harus segera pergi sayang."
"Aku tahu." Katanya mengangguk sampai suara Kai terdengar lagi bertanya "Lu, mau aku temani juga?" ujar Kai menawarkan diri, Luhan menatap berterimakasih pada sahabatnya sebelum bergumam "Aku dengan Sehun saja."
"Kau yakin?"
Berpindah ke dekapan hangat suaminya Luhan mengangguk, seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sehun "Aku yakin Kai."
"Baiklah."
Lalu suasana hening, tak ada yang berbicara karena mereka masih membiasakan diri di tempat kenangan terbanyak yang menyimpan cerita tentang mereka semua. Kai mulai melihat banyak foto sekolah Sehun yang dipajang oleh Mama Oh sementara Baekhyun dan Chanyeol terlihat saling berpelukan seraya memperhatikan Luhan yang terlihat sangat mungil dipelukan Sehun.
"Dia benar-benar mungil."
"Siapa?" Chanyeol bertanya dibalas Baekhyun dengan wajah yang bersandar di dada suaminya "Luhan, siapa lagi?" katanya puas dibalas bisikan Chanyeol yang menggodanya "Karena aku lebih tinggi dari Sehun dan Kai, aku rasa kaulah yang paling mungil jika sedang dipeluk."
"ish!"
"haha….My baby Bae sangat menggemaskan."
Chanyeol terus menggoda istrinya, berbeda dengan Sehun yang terus menenangkan Luhan dengan berbagai kalimat seperti "kau akan baik-baik saja sayang, aku memelukmu." Atau seperti "setelah kita berkunjung ke makam kedua orang tuamu kau boleh belanja sepuasnya." Yang mana berhasil membuat Luhan membulatkan kedua matanya seraya bertanya manja "Sepuasnya?"
"Ya sayangku, sepuasnya." Balas Sehun mencium gemas bibir istrinya sebelum Luhan memastikan lagi dengan cara yang lebih unik "Kau tidak akan menarik lagi kata-katamu bukan?"
"Tidak akan, untukmu aku selalu menepati apa yang sudah kukatakan."
"yeah!"
Seiring dengan pekikan bahagia Luhan terdengar suara kursi roda di dorong perlahan keluar dari kamar, itu Jaehyun, sedang mendorong kursi roda ayahnya seraya mendekap pinggang ibunya, hal itu membuat naluri Sehun sebagai seorang kakak dan anak bergerak untuk mendekati keluarganya dan mendekap erat ibunya "Nak, apa itu Baek hyun?" Jihyo bertanya, dibalas pekikan Baekhyun yang berteriak "MA, INI PRINCE BAEKHYUN!"
Sontak semua tertawa melihat bagaimana Baekhyun dengan mudah membuat suasana menjadi menyenangkan dan tak ada ketegangan lagi, dia pun berlari dari pelukan suaminya untuk mendekati Mama Oh sebelum Sehun secara menyebalkan menyembunyikan ibunya dan menghalangi Baekhyun untuk memeluk sang mama.
"Oh Sehun, apa yang kau lakukan?" dia mendesis karena Sehun memunggunginya, hal itu membuat Sehun terkekeh sebelum menoleh dan mengingatkan sahabatnya "Katakan dirimu Princess Baekhyun dulu baru kuizinkan bicara dengan Mama."
"Mwo?"
"Princess, cepat katakan Princess Baek-…."
"OH SEHUN!"
"ha ha haa…"
Semua lagi-lagi tertawa, bahkan ayah Sehun yang tak bisa merespon pun diam-diam merasa beban hatinya sedikit berkurang, dia memang tak bisa bergabung dengan keluarganya untuk saat ini, tapi dia tahu hatinya mulai tergerak untuk kembali dan meminta maaf dengan benar pada istrinya, pada ketiga putranya, terutama pada menantunya yang cantik yang kini sedang berada di pelukan kedua sahabatnya.
L-Luhan.
Dia ingin memanggil tapi apa daya seluruh tubuh bahkan suaranya tak bisa melakukan hal yang menjadi kehendaknya, dia hanya bisa menatap, membiarkan tawa itu terlihat karena apapun yang akan dilewatinya nanti, Insung bersumpah bahwa kebahagiaan Luhan akan menjadi prioritasnya tanpa bisa digantikan dengan apapun.
Tunggu papa nak.
"Terkadang aku iri pada Baekhyun dan Kyungsoo."
"huh? Kenapa?"
Masing-masing tangan Luhan merangkul pinggang Kai dan Chanyeol untuk menjawab "Karena tidak seperti aku, mereka terlihat selalu bahagia dan mudah berbaur dengan semua orang. Baekhyun terutama, dia bahkan bisa membuat suasana mengerikan dirumah ini menjadi sangat menyenangkan."
Lalu baik Kai dan Chanyeol tersenyum kecil, dia tidak ingin membuat Luhan merasa dirinya buru hingga tanpa berfikir Kai mengatakan "Tapi jujur saja Lu, jika kau tidak bertemu dengan Sehun saat kita kecil dulu, itu artinya aku tidak akan bertemu dan mengenal Kyungsoo, begitupula Chanyeol. Jadi jika kita bertiga tidak bertemu dengan istri dan suami masing-masing itu artinya aku yang akan menjadi suamimu, bukan Sehun."
Luhan tertawa mendengar lelucon Kai yang ditanggapi serius oleh Chanyeol "Kenapa harus kau yang menjadi suami Luhan? Aku akan lebih dulu menyatakan perasaanku pada si cantik ini, menjadikannya kekasihku dan segera menikahinya, jadi pastilah aku suami Luhan."
"Pikirmu aku akan membiarkannya? Jikalaupun Luhan kekasihmu aku akan tetap berhubungan dengannya, menggodanya dan membuat si mungil ini selingkuh denganku dan berpaling darimu. Bagaimana? Skenario milikku bagus bukan?"
"Kalian berdua kenapa bertengkar?"
Mengabaikan ucapan Luhan, keduanya terus bertengkar hingga sepertinya Chanyeol benar-benar kesal untuk mengatakan "Dan saat itu terjadi, saat kau menggoda si cantik ini, aku akan mendatangimu, mencincangmu dan memberikan dagingmu pada Toben, hmm, bagaimana? Skenario milikku lebih bagus dan horor bukan?"
Kai tak mau kalah, dia juga terpancing emosinya pada ucapan Chanyeol dan tiba-tiba saja menarik Luhan, mendekap pria mungilnya untuk bertanya tegas "Kalau begitu kita tanya langsung pada Luhan. Jika kau tidak bertemu Sehun, antara aku dan Chanyeol siapa yang akan kau suka dan siapa yang akan kau jadikan suamimu?"
"Aku tidak mau memilih."
"Kenapa?"
"Karena mau seperti apapun ceritanya aku akan tetap bertemu dengan Sehun dan menikah dengannya. Jadi aku tidak mau memilih."
Kini Chanyeol yang menarik lengan Luhan, memindahkan tubuh mungil Luhan dengan cepat ke dekapannya untuk memberikan ultimatum "Sayangnya kau harus memilih."
Kedua pria bertubuh tinggi besar itu saling bertatapan sengit, membuat Luhan yang sedang didekap Chanyeol antara kesal dan merasa konyol hanya untuk mengangguk dan mulai memberikan jawaban "Baiklah, aku akan menjawab."
Lalu lihatlah wajah cemas dan tegang milik Kai dan Chanyeol, mereka seperti sedang menunggu pengumuman pemenang bakat idola hanya untuk melihat bibir mungil Luhan terbuka dan memberikan jawaban "Kalau siapa yang aku suka, tentu aku akan menyukai Kai. Dia seksi, tampan dan selalu memuja kekasihnya, jadi aku pilih Kai."
"YEAH! KAU DENGAR DOBBY?"
Sementara Kai memekik maka Luhan merasa pelukan Chanyeol perlahan terlepas, jelas sahabatnya yang memiliki lesung di pipi merasa kecewa, memang itu tujuan Luhan sebelum merangkul lagi kedua tangan Chanyeol di pinggangnya dan memberikan jawaban akhir dari persaingan konyol kedua pria yang sudah menjadi ayah dari Taeoh dan Jiwon.
"Tapi jika aku harus memilih siapa yang akan kujadikan suami, tentu aku pilih Chanyeol."
"huh? / MWO?"
"Yeolie itu sangat perhatian, setia, dia juga tidak pernah tebar pesona pada gadis-gadis, tampan, tubuhnya bagus, dan jika tersenyum hanya akan membuatku merasa sangat beruntung karena dia suamiku, jadi aku pilih Chanyeol sebagai suamiku…"
"LUHAAN SARANGHAAAEEE…."
Lalu lihatlah Chanyeol, merayakan kemenangannya atas Luhan dengan mengatakan kalimat cinta didepan istrinya dan suami Luhan, dia bahkan memeluk, menciumi seluruh wajah Luhan karena terlalu senang memenangkan kompetisi ini dari Kai yang sedang merajuk kesal dan marah.
Hal itu cukup membuat Kai kesal, berniat untuk melakukan sesuatu sampai suara mengerikan dan berat milik Sehun terdengar memenuhi ruangan "PERASAANKU SAJA ATAU HAWA DIRUMAHKU MENJADI PANAS, BENAR BAEK?"
"YA BENAR! RASANYA AKU INGIN MENCINCANG PRIA PALING TINGGI DI RUANGAN INI!"
"a-Aku hyung?"
Baekhyun terkejut menyadari dari Kai, Sehun, Chanyeol dan Jaehyun, rupanya Jaehyun yang paling tinggi hingga membuatnya berteriak mengulang "AKU INGIN MEMBAKAR PRIA BERLESUNG PIPI YANG ADA DI RUANGAN INI!"
"a-Aku lagi hyung? atau Papa?"
"sial!" Baekhyun menggerutu, ternyata ada tiga pria berlesung pipi di ruangan ini, membuatnya semakin panas dan kesal untuk kembali berteriak "AKU INGIN BERCERAI DARI PARK CHANYEOL!"
Uhuk!
Rasanya Chanyeol mendengar suara istrinya berteriak ingin cerai hingga membuatnya bertanya "Lu, apa aku mendengar kalimat bercerai?"
Sama pucatnya dengan Chanyeol, Luhan tidak berani menoleh karena seseorang sedang menatapnya dan itu terasa membakar punggungnya, tebakannya Sehun, lalu Baekhyun juga berteriak ingin bercerai dan Kai memekik
"rasakan kalian berdua!"
Yang artinya memang benar dirinya dan Chanyeol sedang melakukan hal yang membuat Sehun dan Baekhyun marah serta berteriak "Bukan hanya kau yang akan diceraikan Yeol, aku juga."
"Tenang saja, kalau begitu aku benar-benar akan menikahimu."
"mmhh….Tapi aku tidak mau menikah denganmu."
"Mwo? Kau bilang mau menikahiku."
"Kondisinya jika aku tidak mengenal Sehun, tapi aku mengenal suamiku dan hanya ingin menikah dengan-…"
"OH LUHAN!"
Berjengit, Luhan segera menoleh dan membalas "YA!" pada suaminya yang kini sedang melipat tangan di atas dada tanda dia membuat kesalahan besar, sangat besar "Cepat kemari atau seseorang akan menjadi janda dalam hitungan detik!"
Mendelik kesal, Baekhyun juga membalas "Jika kau membunuh suamiku, kupastikan Luhan juga akan menjadi janda dan digoda banyak duda sesaat setelah kematianmu."
"Bahkan jika aku mati Luhan tetap milikku dan aku akan menghantuimu seumur hidup!" ujar Sehun menegaskan, untuk merentangkan tangan dan menangkap istrinya yang sedang berlari terburu ke pelukannya "Sehun aku bisa jelaskan-…."
"Apa? kau ingin menikah dengan Chanyeol."
"whoa Lu, aku tidak tahu kau benar rubah betina berbentuk rusa."
"Aku rubah tapi aku juga rusa maksudmu?"
"huh?
"Ya lalu rubah apa?"
Tak mengerti dengan kalimatnya sendiri, Baekhyun lebih memilih mendelik pada Luhan "Lupakan." Tegasnya sebelum berjalan mendekati suaminya yang kini sedang tertawa seperti orang bodoh dan terus mundur seolah dirinya adalah bom waktu.
"Sayang aku bisa jelaskan."
"ha ha….Berani sekali kau menggoda pria lain, terlebih lagi itu sahabatmu di depan istrimu! Kau benar-benar membuatku murka Park Dobby!"
"B-Baek, mmhhh…Bukankah bagus jika Jiwon memiliki dua ibu? Aku akan tetap menikah denganmu walau Luhan sudah menjadi istriku kok."
"Mwo?" Baekhyun
"AKU TIDAK MAU DIDUAKAN!"
Sempat-sempatnya Luhan menjawab hingga membuat tatapan Sehun semakin dingin dan mengerikan "he he he…Aku kelepasan sayang, tapi aku tidak mau diduakan, apapun alasannya tidak mau. Jadi itu berlaku juga untukmu.."
Sehun menarik pinggang Luhan mendekat, menggigit bibir istrinya untuk memberikan ultimatum terakhir "Cukup jangan membuatku panas lagi, kau dengar?"
"t-tapi—ekhm…Tapi itu hanya Chanyeol." Katanya gugup dibalas kecupan sedikit kasar Sehun di bibirnya "Jadi kau mengerti?"
"Apa?"
"Hanya Chanyeol bisa membuatku sangat marah, apalagi pria yang tidak aku kenal? Jadi jangan terlalu dekat dengan pria lain walau itu kedua sahabat idiotmu."
"Sehun…."
"Tidak ada pengecualian, kau mengerti?"
"menggelikan, aku benar-benar akan menggoda Luhan secara diam-diam dibelakang-…..ARGHH!"
Buru-buru Sehun mengambil botol air mineral yang digenggam adiknya, isi botolnya masih sangat penuh dan tak segan dia lemparkan pada Kai yang sedang meracau gila hingga terdengar suara teriakan "APA YANG KAU LAKUKAN OH SEHUN!"
"Itu gerakan awal untuk pria-pria yang akan mencuri istriku."
"KAU BENAR-BENAR-….."
"BENAR-BENAR APA? BENAR-BENAR TAMPAN?"
"sehun….."
Mati-matian Luhan mencegah suaminya bertengkar dengan Kai, lagipula mereka sudah sering bertengkar sejak pertama kali saling mengenal hingga sekarang saat status mereka sudah menjadi seorang ayah, hal itu membuat Luhan berakhir memeluk erat suaminya seraya mengangguk cemas di pelukan Sehun "AKU MENGERTI! AKU TIDAK AKAN DEKAT DENGAN PRIA MANAPUN TERMASUK KAI DAN CHANYEOL!"
"MWO? / LUHAN AKU TIDAK SETUJU!"
"CHANYEOL!"
"huh?"
Baekhyun benar-benar kesal, mereka sedang berhadapan satu sama lain tapi fokus suaminya hanya pada Luhan, hal itu membuat geramnya bertambah dan dengan senang hati, walau dia harus berjingkat dia menarik telinga caplang suaminya "aaarghh…bee sayangku, sakit—aargghh!"
"HA HA HA HAAAA….."
Suara tawa Kai terdengar sangat bahagia, hal itu sontak membuat Sehun dan Baekhyun mendelik bersamaan untuk berteriak "TUNGGU SAMPAI KAMI MEMBERITAHU KYUNGSOO!"
huh?
Seolah takjub dan dibuat ketakutan dengan kekompakan Sehun-Baekhyun, baik Luhan maupun Chanyeol juga menunjukan kekompakan mereka, keduanya mulai membujuk pasangan masing-masing dimulai dari Luhan yang sedang berjinjit dan menagkup wajah tampan suaminya "Sehunna kau tahu Kyungsoo sangat mengerikan bukan? Dia tidak menerima bentuk perselingkuhan jenis apapun termasuk denganku."
"ara…"
Tak berbeda dengan Chanyeol yang juga terlihat sedang membujuk istrinya "Bagaimana jika Taeoh harus hidup berjauhan lagi dengan ayahnya? Sayang temanmu itu terkadang terlihat sangat mengerikan? Dia seperti seorang psyhco."
"Bicara buruk lagi tentang sahabatku, aku benar-benar akan melayangkan gugatan cerai pada-…mmmhh~"
Satu-satunya cara membekap ancaman Baekhyun hanya dengan mencium bibir yang selalu mengatakan banyak hal, dan disinilah Chanyeol melumat gemas bibir cerewet Baekhyun hingga istrinya melupakan hal-hal seperti bercerai, atau memberitahu Kyungsoo dan hanya luluh dibawahnya, seperti biasa "haaah~Yeol!"
Chanyeol melepas lumatannya dari bibir Baekhyun, membuat Baekhyun ingin berteriak namun lagi-lagi Chanyeol melumat kasar bibirnya, terus seperti itu jika Baekhyun akan mengeluarkan suara, jadilah dia memilih diam dan dengan bangga Chanyeol memberitahu "Ayo pergi, ratuku sudah jinak."
"ish!"
Baekhyun memukul dada Chanyeol, begitupula Sehun yang kin beralih mendorong kursi roda ayahnya untuk diberikan pada Kai "Titip ayahku."
"Tapi jangan beritahu Kyungsoo."
"Tergantung."
Kesal, Kai tetap berdiri dibelakang kursi ayah Sehun, dia membungkuk sesaat untuk berbisik pada ayah sahabatnya "Cepat pulih pa, bantu aku menuntut putramu di pengadilan jika aku dan Kyungsoo sampai bercerai." Katanya kesal membuat Sehun terkekeh dan membiarkan Kai membawa papanya ke dalam mobil.
Kini Sehun beralih pada Jaehyun untuk mengatakan "Jae, aku akan segera menyusul. Kau bawa mama lebih dulu."
"Iya hyung, aku juga sudah menghubungi Yunho hyung, dia dan Jongie hyung akan segera pulang."
Luhan bahkan menyadari raut sedikit cemas di wajah suaminya, membuatnya sedikit merangkul lengan Sehun seraya berbisik "Aku rindu Yunho hyung, Haowen juga, Jongie hyung juga." katanya berkilah dan mau tak mau Sehun tersenyum menyadari sederetan kalimat rindu yang dilontarkan untuk kakak sulungnya hanya untuk membuatnya merasa lebih baik.
"Kalau begitu kau akan segera bertemu dengan mereka."
"yey~"
Katanya berlari pada sang ibu mertua untuk memberitahu "Mama dengar? Cucu mama dan Yunho hyung juga akan pulang, jadi mama harus segera pulih dan harus membuat masakan untuk kami semua."
Tersenyum bahagia, Jihyo mengusap wajah cantik menantunya untuk mengangguk terlihat sangat tak sabar "Mama akan segera pulih nak."
"Janji?"
Luhan membuat pinky promise disambut jari manis ibunya yang bertautan dengan jari manis Luhan "Janji." Dan sebuah kesepakatan telah dibuat, Jihyo sudah berjanji untuk pulih dan Luhan menunggunya, kedua ibu dan anak menantu itu terlihat sudah memperbaiki hubungan mereka secara keseluruhan sampai tiba-tiba Baekhyun menyeruak dan merangkul pinggang ibunya.
"Mama Jihyo harusnya menjadi ibu mertuaku."
"Wae? Kenapa harus menjadi ibu mertuamu?" tanya Luhan protes dibalas cibiran Baekhyun yang menatap kesal suami dan sahabatnya bergantian "Karena jika kau tidak datang dan pindah ke Seoul, itu artinya Sehun tidak mengenalmu, dan jika Sehun tidak mengenalmu maka akulah yang akan menikah dengan Sehun dan-….."
"PARK BAEKHYUN / TIDAK LUCU BAEK!"
Kompak, Luhan dan Chanyeol berteriak kesal, membuat Sehun tertawa sementara Baekhyun hanya menjulurkan lidah untuk menandakan bahwa posisi mereka imbang, satu lawan satu.
"BWEEK! Ayo ma!" tak lama Baekhyun juga membawa Jihyo pergi dari rumah, meninggalkan empat orang didalamnya termasuk Jaehyun yang buru-buru menyusul kemana Baekhyun membawa ibunya "Sampai nanti hyung, bye Luhan hyung."
"Bye Jae."
Luhan membalas, kini tinggalah Chanyeol bersama sepasang suami istri yang sudah bersiap pergi mengunjungi pemakaman. Dia juga mengambilkan buket bunga di atas meja untuk memberikannya pada Sehun "Pastikan Luhan tidak melarikan diri kali ini." pesannya dibalas anggukkan Sehun yang super singkat "Baiklah."
Hingga membuat Chanyeol beralih untuk menatap Luhan yang terlihat cemas dan ragu "Kau yakin tidak ingin aku temani?"
"Tidak yeol. Aku dengan Sehun."
"Baiklah kalau begitu, sampai bertemu di rumah sakit." Katanya memeluk Luhan dibalas anggukan mantap oleh Luhan "Sampai nanti."
"Kau akan baik-baik saja." pesan Chanyeol seraya mengambil kunci mobil dan mulai melangkah lebih dulu meninggalkan rumah "Aku tahu Yeol, sampai nanti."
"Sehun aku pergi, bye Lu."
Pintu rumah tertutup, kini hanya meninggakan Sehun daan Luhan seorang diri, keduanya bertatapan sampai Sehun lebih dulu menggenggam tangan Luhan dan bertanya "Kali terakhir aku bertanya, kau siap?"
Dan membalas genggaman tangan Sehun, Luhan menautkan intim kedua jari mereka untuk mantap mengatakan "Aku selalu siap jika bersamamu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Dimana Doojoon apa dia sudah datang?"
"Belum Presdir Ko, Direktur Yoon belum-….."
"CEPAT HUBUNGI DIA!"
Wajar jika pria bermata satu itu merasa gelisah dan cemas, karena tepat satu minggu setelah kematian Ravi di tangan Taecyeon membuatnya tak bisa tidur dengan tenang, pikirannya selalu dihantui rasa takut mengingat hingga hari ini data kejahatannya masih dimiliki Luhan yang bisa membahayakan nyawanya kapan saja.
BLAM!
Lalu terdengar suara pintu mobil dibuka, menampilkan satu-satunya kaki tangan yang bisa diandalkan Donghoon namun tak sepenuhnya bisa dia percaya seperti Ravi "Direktur Yoon sudah datang."
"Ceoat suruh dia menghadapku."
"Baik Presdir Ko."
Tak lama kaki tangan Donghoon membungkuk, berniat untuk menjemput Doojon namun rasanya tak perlu karena dirinya dan Doojoon bersamaan membuka pintu ruang kerja Donghoon.
"Ada apa?"
"Presdir menunggu anda direktur Yoon."
"Baiklah, kau boleh pergi."
"Saya permisi."
Doojoon masuk bersamaan dengan perginya kaki tangan Donghoon, tak lupa dia menutup pintu sementara mata elangnya menatap kegusaran dan kegelisahan dari tua bangka yang mengalami cacat mata dan kaki namun tetap memiliki aura membunuh yang mengerikan.
"Aku datang." Katanya memecah keheningan, membuat Donghoon sedikit memicingkan matanya dan gusar menatap Doojoon "Kau terlambat."
"Aku tidak menjanjikan datang jam berapa asal kau ingat?"
"Sudahlah jangan menjawabku lagi, dimana usb itu? Apa Luhan sudah memberikannya padamu?"
"Dia akan segera memberikannya padaku, tenang saja."
"Kau tahu aku tidak bisa tenang, aku bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan usb dari tangan Luhan!"
"Dan setelah itu tak hanya Sehun dan Taecyeon, tapi aku juga akan mengincar nyawamu sebagai balasan!"
"KAU-….."
Doojoon mendekati meja kerja Donghoon, meletakkan sebuah dokumen yang berhasil menarik perhatian si pria tua "Apa itu?"
"Baca dan tanda tangan disana, itu surat perjanjian bahwa kau tidak akan mengganggu Luhan setelah kau mendapatkan usb itu."
"Kenapa aku harus melakukannya?"
"Karena aku tidak memberikannya secara gratis, aku butuh diyakinkan bahwa kau benar-benar tidak akan menyentuh Luhan lagi selama status kebal hukum masih menjadi milikmu."
"Ya, dan statu kebal hukumku akan hilang jika pria sialan itu menyerahkannya pada kejaksaan agung."
"Luhan tidak akan melakukannya, kami memiliki perjanjian dan dia mendengarkan aku."
"Bagaimana bisa kau begitu yakin?"
Malas berdebar, Doojoon terlihat geram dan memutuskan untuk menarik dokumen dari meja Donghoon, tak lupa dia mengingatkan "Kenapa kau tidak mengerti juga? Ravi tewas, kau juga sudah membuat Seunghyun dalam kondisi kritis, itu artinya hanya aku yang kau miliki dan jika kau terus membuatku marah, jangan salahkan aku jika suatu hari nanti aku akan berbalik menyerang dan menggigitmu, aboji."
Dia menggertak, berniat pergi sampai Donghoon berteriak "BAIKLAH, BAWA USB ITU DAN AKAN KUTANDATANGANI DOKUMEN SIALAN YANG KAU BUAT! AKU TIDAK AKAN MENGGANGGUNYA LAGI, HANYA PASTIKAN PRIA MENJIJIKAN YANG KAU CINTAI ITU TIDAK BERBUAT NEKAT DAN BALIK MENYERANG DIRIMU! KAU DENGAR?"
Tersenyum puas, Doojoon menatap marah pada bajingan yang membesarkannya seperti membesarkan anjing untuk menyeringai "Serahkan Luhan padaku."
Setelahnya Doojoon benar-benar pergi meninggalkan gudang tua tempat Donghoon bersembunyi, tujuannya rumah sakit karena tanpa sengaja pagi tadi dia mendengar Kyungsoo mendaftarkan nama kedua orang tua Sehun di Seoul hospital dan itu artinya dia bisa melihat Luhan disana.
Menyedihkan memang, tapi melihat Luhan dari jauh saja sudah lebih dari cukup untuknya, beruntung mereka masih memiliki janji mengenai benda kecil yang ada di tangan Luhan hingga membuat kesempatan Doojoon berbicara dengan Luhan masih terbuka lebar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu,
.
.
.
"Kau cemas?"
Luhan terlihat sedang mengepalkan erat kedua tangannya didalam mobil, wajahnya juga terlihat pucat dan sesekali dia menggigit bibirnya, sebenarnya tak perlu ditanya apa dia merasa cemas atau tidak karena pasti cemas adalah jawabannya.
Dia pun menoleh sekilas menatap suaminya yang sedang menyetir, jantungnya berdegup cepat terlebih saat Sehun mulai memarkirkan mobil ke area pemakaman kedua orang tuanya "Sedikit."
Klik…
Sehun lebih dulu melepas seatbelt, diikuti Luhan dan tak lama Sehun keluar dari mobil untuk memutar dan membukakan pintu istrinya "Kau akan baik-baik saja sayang, ayo."
Sehun menawarkan tangannya, disambut Luhan yang cemas tapi tetap menautkan dua jemari mereka, tak lupa Sehun juga mengambil buket bunga yang dibawakan teman-temannya untuk berjalan menyusuri pemakaman yang masih menyisakan luka dan terlalu pedih untuk diingat.
"Ingat terakhir kali kita kesini?"
Luhan tertawa, sedikit mencibir suaminya untuk berkata "Kau membawaku kesini saat aku tidak mengingat apapun, licik."
"Mau bagaimana lagi? kau benar-benar tidak pernah berkunjung sayangku, penjaga makam bahkan mengira aku putra mama dan papa Xi."
"Tapi kau memang putra mama dan papa kan?"
"Aku putra menantu, kau putranya." Katanya tegas dibalas kekehan Luhan "Tapi tetap saja kau licik." Luhan mengingatkan dibalas kecupan hangat Sehun di jemari tangannya "Sekarang aku masih licik?"
"mmhh…Tidak lagi, aku yang ingin datang berkunjung kan?"
"Kau benar, aku senang kau melakukannya sayang."
Hening sesaat, mata Luhan fokus pada satu block terakhir yang sedang mereka lalui, yang akan membawanya ke makam kedua orang tuanya dan itu membuatnya semakin gelisah, terasa ditangan Sehun saat Luhan menggenggam terlalu kuat tangannya, membuat si pria tampan terkekeh untuk berbisik "Omong-omong aku terkadang rindu kau sebagai Rein."
"huh?"
"Saat kau jadi Rein kau terlihat sangat polos, tidak suka berteriak dan itu sangat menggemaskan, kekurangannya hanya satu, kau tidak mudah disentuh dan akan selalu berteriak marah jika aku cium."
"Tentu saja aku marah, mau bagaimanapun kau adalah orang asing untukku."
"Benar lagi dan aku suka saat kau berteriak marah."
"Kenapa?"
"Itu hanya membuatku tenang karena entah kau sebagai Rein atau Luhan, kau akan selalu menjaga dirimu dengan baik, aku bangga padamu sayang."
Luhan tertawa kecil, dia tahu ini hanya obrolan pengalih perhatian yang dilakukan Sehun, mengatakan dia suka saat dirinya menjadi Rein walau kenyataannya suaminya akan banyak menangis dan menderita saat dirinya menjadi Rein.
Mau bagaimanapun Luhan menghargai usaha Sehun, dia kemudian membalas kecupan tangan suaminya seraya bergumam "gomawo, kau benar-benar membuatku mencintaimu berkali-kali, secara berulang dan terus menerus."
"Apa maksudnya?"
"Jujur saja beberapa waktu lalu saat aku tidak mengingat apapun dan saat pertama kali kita bertemu di swalayan, aku sudah jatuh hati padamu, jadi selamat untukmu Oh Sehun, karena siapapun diriku dan dimanapun aku berada, aku hanya akan berakhir mencintaimu dan hanya ingin bersamamu."
"daebak!"
"Ada apa?"
"Apa aku sedang dipuji?"
"sssh….Awas besar kepalamu nanti!"
"ha ha ha ~"
Sehun tertawa, begitupun Luhan, keduanya tanpa terasa menghabiskan banyak percakapan hingga pada akhirnya sampai di tempat tujuan mereka, makam yang bertuliksan Chen, Xi dan Angela, Xi adalah yang paling menyiksa untuk dilihat Luhan.
Tapi itu dulu, saat dirinya mengelak kematian kedua orang tuanya, berbeda dengan saat ini, saat dimana dirinya bersanding dengan pria yang selalu setia disampingnya bahkan dalam keadaan tersulit yang dialami keduanya.
"Kita sampai."
Suara berat Sehun menyadarkan Luhan bahwa semua ini adalah kenyataan hidupnya, membuatnya tersenyum lirih untuk menjawab pernyataan sang suami "mmhh…Aku tahu."
Namun yang membuat Luhan terkejut adalah ketika Sehun melepaskan tautan jemari tangan mereka, Sehun juga memberikan kedua buket bunga padanya hingga membuat tiba-tiba Luhan merasa gelisah tanpa alasan "Sayang apa yang kau lakukan?"
Sehun tersenyum, diusapnya lembut wajah sempurna istrinya untuk mengangkat kedua tangan, tanda dia menyerah seraya memundurkan langkahnya "Aku akan berdiri disini, menjagamu, jadi kau bisa melepas rindumu pada mama dan papa." Katanya berdiri diantara pohon yang terdapat di dekat pemakaman kedua orang tuanya dan mulai bersembunyi dibalik sana.
"Tapi sayang, kenapa kau tidak ikut denganku?"
"Jika aku boleh jujur, aku rutin mengunjungi Mama dan Papa, setidaknya dua kali dalam sebulan, sekarang giliranmu sayang."
"Tapi aku-….Aku tidak bisa."
Sehun terus berdiri menjaga jarak, ingin rasanya dia memeluk Luhan dan menemani istrinya disana, tapi dia tahu Luhan akan terus bergantung dan enggan mengunjungi jika terus seperti ini, setidaknya Luhan harus mencoba untuk dirinya sendiri.
"Aku ingin denganmu." Katanya lagi dan Sehun hanya menatapnya lembut "Sayang kau hanya akan menangis dan merengek manja jika aku disana, jadi tunjukan padaku kau adalah istriku yang terkadang—mmhh, Manly dan bisa melakukannya tanpaku."
"Tapi kau bilang akan menemaniku."
"Aku menemanimu, disini." Katanya meyakinkan Luhan, membiarkan istrinya seorang diri didekat makam kedua orang tuanya sebelum benar-benar bersembunyi dibalik pohon besar "Aku menjagamu sayang, lakukanlah."
Dan rasanya Sehun benar-benar licik saat ini, Luhan mengakui hal itu karena tidak ada yang lebih mendebarkan daripada harus melihat kedua makam dengan tulisan nama kedua orang tuamu disana.
Hal ini baru bagi Luhan tapi Sehun membiarkannya seorang diri, jadilah dia mulai menenangkan diri menyadari bahwa memang ini yang diinginkan suaminya mungkin juga dirinya.
"haaah~"
Dia mengambil banyak nafasnya, mencoba untuk tenang dan memberitahu Sehun "Aku akan berdoa untuk mama dan papa."
"Lakukan sayang, aku melihatmu."
Tak lama Luhan berbalik, rasanya tak semudah beberapa menit lalu jika tidak bersama Sehun, dia membutuhkan suaminya tapi Sehun sedang mengajarkan padanya arti mandiri dan menerima kenyataan paling sulit yang hingga saat ini masih dielaknya.
Matanya lama memandang nisan kedua orang tuanya, nafasnya tiba-tiba menjadi berat tapi sekuat tenaga dia tahan agar tidak ada jeritan dan air mata kali ini, dia pun mulai meletakkan masing-masing buket bunga di makam kedua orang tuanya sebelum berdiri di tengah-tengah makam, memberikan tanda hormatnya sebagai seorang putra dan beralih pada makam ibunya lebih dulu.
"h-Hay Ma…." Paraunya terdengar, sekuat tenaga dia menahan diri untuk tidak menangis dan tidak membuat pria menyebalkan yang sedang mencuri dengar dibalik pohon, dia hanya ingin memberitahu Sehun bahwa dia sudah menerima takdir menyakitkan ini dan hanya akan menerimanya dengan lapang dada.
"Aku putra yang buruk ya?" katanya bertanya, Sehun diam-diam keluar dari persembunyiannya, menatap bangga pada pria cantiknya yang masih mengenakan kaca mata hitam dan sedang berbicara pada kedua orang tuanya.
Adalah benar Sehun menjaga Luhan saat ini, memastikan tak ada lagi jeritan dan air mata dan sepertinya Luhan benar-benar melakukannya.
"Tapi aku sudah datang, bersama Sehun, tapi Sehun tidak mau mengunjunginya bersamaku, dia licik bukan?" katanya mendelik, melihat dari kacamata hitamnya bahwa Sehun sedang kesulitan bersembunyi karena terus memperhatikan dirinya.
Luhan terkekeh, sebenarnya dia tidak fokus setiap kali membaca nama ibunya disana, berkali-kali dia mengusap nisan dengan tulisan nama ibunya disana dan berkali-kali pula rasanya semakin berat hingga membuatnya sulit bernafas.
"Ma, aku rindu…."
Kalimat itu akhirnya dilepaskan Luhan dari kerongkongannya, dia juga tidak memungkiri bahwa sebulir air mata kini jatuh dari matanya, dia membuat beban hatinya sedikit terangkat dengan mengatakan "Tapi aku akan baik-baik saja, aku janji. Aku tidak akan memilih makanan lagi karena sekarang aku adalah seorang istri, aku juga akan hidup bahagia, menghabiskan credit card Sehun dan berbelanja apapun yang aku inginkan." Katanya sedikit keras hingga membuat Sehun tertawa namun menitikkan air mata haru tak menyangka Luhan akan setegar itu berbicara dengan makam ibunya.
"Aku janji akan sering berkunjung…." Katanya tersenyum "Dengan Sehun." dia menambahkan lagi dan terakhir mengatakan "Dengan cucu mama, kami sedang berusaha membuatnya." Bisiknya pelan diiringi tawa Sehun yang terdengar
"Jika tidak ingin menemaniku diam saja!"
"Oke." Sehun membuat gerakan mengunci bibir dan membiarkan Luhan kembali mengatakan apapun yang diinginkannya "Lihatkan? Sehun masih menyebalkan seperti dulu." Katanya mencibir namun tetap mengatakan "Tapi aku sangat mencintainya."
"AKU JUGA MENCINTAIMU SAYANG"
Sehun membalas , dihadiahi tatapan mendelik Luhan hingga membuatnya berpura-pura menggaruk tengkuk "ups, aku harus diam."
Luhan memutar malas bola matanya, menahan tawa karena suaminya sangat menggemaskan untuk sedikit membungkuk, mencium batu nisan milik ibunya "Beristirahatlah dengan tenang Ma, aku mencintaimu." Katanya tak rela namun tetap beralih pada pria pertama yang mengajarkannya tentang bagaimana mencintai seseorang dan mempercayai seseorang yang tulus pada mereka.
"Hay papa tampan." Katanya menyapa sang ayah namun tetap berbisik konyol dengan mengatakan "Walau masih lebih tampan Sehun, tapi kau yang terbaik."
Dibanding dengan ibunya Luhan tak terlalu banyak bicara saat dengan ayahnya, yang dilakukannya hanya terus mengusap batu nisan milik sang ayah seraya menikmati angin yang kerap membuat hatinya sejuk "Papa menyapaku ya?" katanya percaya diri walau lagi-lagi hanya angin yang dirasakannya saat ini.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa pada Papa, semua yang ingin aku katakan sudah kukatakan pada Mama dan aku yakin papa mendengarnya, jadi maafkan aku karena baru berkunjung setelah dua tahun berlalu Pa, aku merasa kesulitan menerima semua ini."
Dan kembali pada kenyataan bahwa Luhan lebih dengan ayahnya adalah hal yang paling menyakitkan, dia memilili banyak kenangan bersama ayahnya dan tak satupun bisa dia lupakan, rasanya baru kemarin mereka membuat roti bersama, tapi detik berikutnya dia harus melaluinya seorang diri dan sulit baginya untuk menerima kenyataan.
"Aku mungkin akan berbuat hal gila jika tidak ingat pesan papa yang mengatakan jangan percaya pada siapapun kecuali Sehun. Aku mengingkari pesan papa pada awalnya, aku tidak mempercayai Sehun, aku membencinya, aku bahkan membuatnya banyak menangis, aku melakukan semua itu semata-mata hanya ingin menunjukkan pada papa bahwa didunia ini, selain papa aku tidak bisa mempercayai siapapun." Katanya tertunduk, mencengkram tanah di makam ayahnya untuk menenangkan diri.
Hal itu membuat Sehun cemas karena sepertinya pertahanan Luhan runtuh saat bicara dengan ayahnya, membuatnya ingin datang menghampiri sampai suara lirih istrinya terdengar "Tapi papa selalu benar dan aku selalu salah." Katanya tersenyum menatap wajah cemas Sehun, memperhatikan wajah tampan itu sebelum beralih lagi pada ayahnya "Sebanyak apapun aku mencoba untuk membenci Sehun aku hanya akan berakhir semakin mencintainya, dan papa tahu? Tak hanya mempercayai Sehun, aku juga bergantung hidup padanya, menyedihkan bukan?"
Hening lagi, Luhan membiarkan rasa sesaknya menghimpit, mencoba menerima apapun jenis rasa sakit yang kini membuat hatinya berdarah hanya untuk menegaskan "Aku sudah bergantung hidup pada pria yang kau pilih untuk menjagaku, jadi papa bisa beristirahat dengan tenang karena aku akan bahagia menjalani hidupku dengan Sehun." katanya tersenyum, sedikit membungkuk untuk mencium batu nisan ayahnya "Aku merindukanmu pa, aku akan sering berkunjung." Katanya mengakhiri segala rasa sesak yang tak kuat lagi dirasakannya untuk berdiri, memberi penghormatan terakhir "Aku akan kembali lagi." katanya pilu sebelum berjalan mendekati suaminya.
Disana, Sehun sedang merentangkan tangan, menyambutnya pulang hingga membuat Luhan merasa begitu bahagia karena akan selalu ada pelukan hangat yang menantinya, dia pun berlari, melompat ke pelukan Sehun dan seperti biasa Sehun akan menangkap si mungil ke pelukannya "Sudah selesai, aku sudah melakukannya Sehunna."
"Aku tahu dan aku bangga padamu sayang."
"Aku Manly bukan?"
"mmh….Mari kita lihat."
Sehun melepas pelukannya, berusaha untuk melepas kacamata hitam yang digunakan Luhan namun dielak oleh istrinya "Jangan."
"Wae? Aku harus memastikan bahwa istriku baik-…."
Sehun terkejut, dia mengira bahwa istrinya baik-baik saja, tapi lihatlah mata sembab yang begitu memilukan yang sedang ditatapnya, itu hanya membuat dirinya merasa buruk karena tak menyangka kepedihan yang dirasakan Luhan masih begitu dalam.
"Dan kau tidak baik-baik saja." lirihnya mengecupi dua mata sembab Luhan dibalas kepala istrinya yang tertunduk seraya mencengkram kemeja hitam yang digunakan suaminya "Aku baik-baik saja, aku hanya belum terbiasa Sehun, aku tidak bisa melihat nama mama dan papa disana, itu menyakitkan dan aku-….."
"Sssshh….tidak apa sayang, aku melihatnya dan aku sangat bangga padamu, kau istriku yang kuat dan sangat tanguh, aku sangat mencintaimu Oh Luhan."
Sehun mendekap erat pria cantik yang berusaha tegar beberapa saat lalu, namun sepertinya ketegaran itu hilang dibawa angin sejuk karena saat ini, seperti tebakannya, Luhan menangis pilu dipelukannya, tak jauh dari makam kedua orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan separuh jiwanya.
"aku tidak ingin menangis, tapi sulit!"
"Menangis saja, buat kotor kemejaku, aku suka."
"ish! Aku sulit mencucinya nanti."
"ha ha ha~ Yasudah nanti aku minta istri keduaku yang mencuci kemejanya."
"SEHUN!"
"Bercanda sayang, kau tidak perlu berteriak nanti mereka semua bisa bangun dan mengejar dan menangkapmu."
Luhan semakin mendekap Sehun, menyembunyikan wajahnya disana seraya mengotori kemeja suaminya dengan air mata dan lendir hidung yang membuatnya terlihat sangat kacau "Nanti kau menangis jika mereka menangkapku."
Tak mengelak, Sehun justru mengatakan "Kau benar." dan memutuskan untuk membawa pergi istrinya dari pemakaman "Aku akan menangis seperti kerasukan iblis jika mereka mengambil istriku."
"Kalau begitu cepat bawa aku kerumah sakit, aku tidak mau disini terlalu lama."
"Baiklah, kita pergi ke rumah sakit, kau juga bisa membelanjakan credit card milikku sampai limit."
Disela isakannya Luhan mengangguk penuh semangat seraya menjawab "OKE!" dengan lantang, hal itu membuat Sehun tertawa dan berakhir mengecupi surai istrinya yang begitu dicintainya "Bisa apa aku tanpamu?" katanya bertanya, namun samar didengar Luhan yang sudah duduk manis didalam mobil.
"Tadi kau bicara apa?"
Sehun mengecup bibir Luhan yang sedikit bengkak, memakaikan seatbelt lalu bergumam "Bukan apa-apa."
.
.
.
.
.
.
.
.
Seoul hospital,
.
.
"Baekhyun bilang mama sudah mendapatkan kamar, hanya tinggal menunggu dokter psikologis datang menemuinya dan aku rasa semuanya akan berjalan lancar sayang."
Sehun membukakan pintu mobil untuk istrinya, membiarkan Luhan berbicara banyak hal tentang apapun yang diinginkan istrinya sebagai pengalihan atas rasa sedih Luhan setelah mengunjungi makam kedua orang tuanya, dia tahu rasanya pasti berat bagi Luhan untuk melakukan beberapa hal yang cukup membuatnya kesulitan bernafas.
Selain karena setelah dua tahun Luhan akhirnya memutuskan untuk menerima kematian kedua orang tuanya, di hari yang sama pula dia harus mengurus dan merawat kedua orang tua suaminya yang menjadi alasan kuat mengapa hidup Luhan hancur berantakan seperti saat ini.
"Dan untuk papa aku rasa temanku yang akan mengurusnya, tapi Kyungsoo belum bisa memastikan karena-….omo!"
Buru-buru Sehun menghimpit tubuh mungil istrinya ke dinding di parkir basement, keduanya bertatapan berbeda dimana Luhan bertanya sementara Sehun menatapnya sendu entah karena apa "Sayang, apa yang terjadi? kenapa kita masuk ke dalam?"
"Nanti dulu, aku ingin bertanya padamu."
"Bertanya apa?"
Diciumnya bibir mungil Luhan yang terlihat bingung, sesaat Luhan ragu untuk membalas kecupan suaminya, mereka berada di keramaian, terlebih ini rumah sakit, jadi rasanya salah jika dia membalas, beruntung Sehun segera mengakhiri ciuman mereka, menatap dalam pada dua mata cantik istrinya untuk bertanya "Aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak menjadikan semua ini beban."
"Apa?"
"Merawat kedua orang tuaku, jangan lakukan jika ini hanya akan membuatmu merasa terbebani."
Luhan tersenyum menyadari kesalahan besar yang telah dibuatnya untuk Sehun, kesalahan dimana dia membuat suaminya merasa semua yang mereka lakukan untuk keluarganya adalah beban, salahnya pula membuat Sehun menanggung rasa bersalahnya pada dirinya di masa lalu.
Hal itu cukup membuat Luhan takjub menyadari cinta kasih yang diberikan Sehun untuknya benar-benar tak terhingga, begitu detail hingga menjadikannya pria paling beruntung yang bisa memiliki pria terbaik seperti suaminya.
Jadilah dia berusaha mencoba untuk meyakinkan Sehun, sekali lagi, dia hanya ingin Sehun tahu bahwa dirinya sudah memaafkan, tak ada lagi hal-hal seperti benci, kecewa dan marah yang disimpannya dalam hati, dia sudah merelakan apa yang telah menjadi takdirnya dan hanya ingin hidup berdua, selamanya, dengan pria yang akan menjadi ayah dari anak-anaknya kelak.
"Hey sayang lihat mataku." Katanya melingkarkan tangan di leher suaminya, meminta si pria tampan menatapnya hingga lagi-lagi pandangan mereka terkunci dan selalu berhasil membuat masing-masing dari mereka berdebar karena terlalu mencintai satu sama lain.
"Kau tahu kenapa aku melakukan semua ini?"
Sehun hanya menggeleng lemah, membalas lingkaran tangan Luhan dengan memeluk pinggang si pria cantik, dia takut menjadi lemah hanya karena mata yang sedang menatapnya lembut saat ini, disatukan kedua dahi mereka seraya bergumam pedih "Karena aku, kau hanya ingin membuatku merasa lebih baik."
"Salah."
"huh?"
Luhan ikut menyatukan kedua dahi mereka, sesekali dia mengecup bibir tampan suaminya untuk mendengar pertanyaan lagi dari Sehun "Lalu apa?"
"Mudah, jawaban hanya karena didalam sana, ada kedua orang tuaku yang kondisinya sedang membutuhkan perawatan, aku tidak bisa membiarkan mereka terus terlihat menyedihkan karena kelak, anak-anakku hanya akan memiliki kakek dan nenek dari kedua orang tua ayahnya. Jadi jika kau mengatakan ini beban untukku berarti kau salah, mereka satu-satunya orang yang bisa kupanggil dengan sebutan Mama dan Papa, yang mencintai suamiku seperti aku mencintaimu dan akan menjadi kakek dan nenek yang luar biasa untuk anak-anak kita kelak, sudah paham?"
Entah bagaimana lagi Sehun harus mengungkapkan rasa cintanya yang begitu dalam untuk Luhan, bagaimana dia sangat memuja istrinya, akan melakukan apapun agar pria cantik ini selalu bahagia tanpa harus merasakan lagi sakit yang sudah dirasakannya secara tak wajar.
"Jadi ayo segera masuk, masih banyak yang harus kita lakukan."
Luhan menautka jemarinya dan jemari Sehun, mengajak suaminya untuk segera masuk kedalam sampai tiba-tiba Sehun mendekapnya erat dan menciumi tengkuknya seraya membanjirinya dengan seribu kata cinta "Aku mencintaimu, aku mencintaimu, Luhan aku sangat mencintaimu sayang, aku mencintaimu, aku mencintaimu."
Dan lagi-lagi Luhan merasa dirinya adalah pria yang sangat beruntung karena dicintai Sehun dengan seluruh jiwa dan raganya, pria yang sangat beruntung karena Tuhan sudah menuliskan nama Sehun yang menjadi takdirnya, cinta dalam hidupnya, separuh jiwanya dan tak ada lagi alasan baginya untuk membuat Sehun merasa dirinya tak berharga di hidupnya.
"Kau tahu Sehun, aku bahkan tidak memiliki kalimat selain aku sangat mencintaimu agar kau mengerti bahwa aku juga memiliki rasa cinta yang sama besar denganmu sayang, aku mencintaimu dan aku tahu kau mencintaiku."
Keduanya saling memeluk dalam rindu, mencoba untuk berterimakasih pada Tuhan karena setelah masa sulit yang baru mereka lalui, bahagia ini terasa sangat nyata, bahkan keduanya sedang memohon kuat jika memang semua ini hanya mimpi maka jangan bangunkan mereka karena tanpa Sehun, Luhan tidak akan bertahan hidup dan tanpa Luhan, Sehun hanya akan berubah menjadi mengerikan.
"Jadi kau sudah percaya padaku?" katanya bertanya, menangkup wajah Sehun seolah memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja mulai saat ini, Sehun pun mengangguk, mencium sekilas bibir menggoda istrinya seraya bergumam "Terimakasih sayang." katanya menautkan kembali jari mereka dan beriringan masuk kedalam rumah sakit untuk mengetahui kondisi kedua orang tua mereka.
"Jaehyun…"
"eoh, hyung sudah datang?" katanya menyambut kedatangan Luhan dan kakaknya. Jaehyun sendiri sedang duduk di ruang tunggu fisioterapi, menunggu ayahnya yang sedang berada didalam sampai kakak iparnya bertanya "Siapa yang menangani papa?"
"Kyungsoo hyung ada didalam sana, tapi aku belum tahu siapa dokter yang bertanggung jawab."
"Tidak apa, nanti kita akan segera tahu." Luhan menepuk pundah adik iparnya, memberitahu Jaehyun sudah melakukan yang terbaik sampai suara suaminya bertanya "Dimana mama."
"Sedang tidur, mama juga baru selesai melakukan terapi, Kai dan Chanyeol hyung ada disana."
Sehun mengangguk, dilepasnya tautan jemarinya dengan Luhan sebelum beralih duduk di samping adiknya, menepuk sayang surai adiknya seraya berkata "Pulanglah, hyung akan menjaga mama dan papa darisini."
Jaehyun pun menggeleng tanda menolak, dia tersenyum menatap kakaknya dan bersikeras mengatakan "Aku ingin disini, berada di rumah hanya membuat hatiku cemas." Lirihnya, membuat sepasang suami istri yang masing-masing duduk disamping kanan dan kirinya bertatapan sampai Luhan mengangguk mengijinkan Jaehyun ikut menjaga kedua orang tuanya "Baiklah kau boleh tinggal, tapi jika lelah kau harus tidur di tempat yang layak."
"mmh…Aku akan melakukannya hyung." katanya tersenyum membuat Luhan dan Sehun merasa lebih baik hingga suara pintu ruang fisioterapi terbuka menampilkan Kyungsoo dan dokter yang diketahui Luhan adalah seorang professor ahli bedah syaraf, yang dikenalnya cukup lama.
"Kalian sudah datang?" Kyungsoo bertanya disambut pelukan singkat Sehun yang terlihat ingin tahu kondisi ayahnya "Bagaimana papa?" katanya bertanya, sementara Luhan terlihat disapa oleh dokter lain yang tak dikenal oleh Sehun
"Dokter Xi?"
Luhan tersenyum, membungkuk pria dengan id card Haejin, Park untuk menyapa dokter kedua yang cukup dikenal masyarakat selain Doojoon "Professor Park."
"Lama tidak melihatmu, kau bekerja lagi disini."
Buru-buru Luhan menggeleng dan menjelaskan "Tidak professor park, sebenarnya pasien yang sedang kau tangani adalah ayah mertuaku."
"ah, begitukah? Jadi kau sudah menikah?"
Luhan mengangguk, sedikit menarik lengan Sehun dan memperkenalkannya pada teman sekaligus rekan kerja Doojoon di Seoul hospital "Dia suamiku." Luhan memperkenalkan Sehun dibalas senyum singkat Sehun yang secara sopan memperkenalkan diri "Oh Sehun."
"Park Haejin." Balas sang professor dan kembali beralih untuk menggoda Luhan "Harusnya aku memanggilmu dokter Oh?" katanya bertanya membuat Luhan sedikit salah tingkah "Apapaun Professor Park, omong-omong bagaiamana kondisi ayahku?"
"Aku masih mempelajari kasusnya, kami juga baru melakukan serangkaian tes awal untuk ayah mertuamu, dan setelah hasilnya keluar aku baru bisa memberitahu apa yang akan kita lakukan selanjutnya."
Mengerti, baik Sehun maupun Luhan kompak menjawab "Baiklah." Hingga membuat sang professor tersenyum untuk berpamitan "Kalau begitu aku pergi dulu, jika ada yang ingin ditanyakan kau bisa mengubungiku dokter Oh, atau mungkin dokter Kim bisa menjelaskan secara detail padamu."
"Baik Professor, terimakasih."
"Kau asisten professor Park?"
Sehun bertanya sementara Luhan masih membungkuk mengantar kepergian professor yang menangani ayahnya. Dan saat Kyungsoo menjawab "Aku yang memintanya." Tak sengaja Luhan melihat sosok yang dicarinya beberapa hari ini, melihat pria yang sedang berbicara dengan keluarga pasien dan terlihat seperti malaikat walau nyatanya dia adalah iblis mengerikan.
"Baiklah terimakasih banyak Professor Yoon."
"Tidak masalah, anda bisa menghubungi asistenku jika terjadi sesuatu."
"Baik terimakasih sekali lagi."
"Aku pergi dulu."
Buru-buru Luhan menatap suami dan sahabatnya, dia mencari alasan namun tak cukup kuat dan berakhir hanya mengatakan "Sayang ada yang perlu aku selesaikan, temui aku lagi dikamar mama."
"huh? Kemana kau akan pergi?"
Luhan berjingkat, mencium dalam bibir Sehun sebelum berlari mengejar kemana Doojoon berada "Sebentar saja, aku akan segera kembali."
Suaranya menjauh, hal itu membuat Sehun tanpa sadar berteriak "LUHAN!" dan refleks mengejar kemana istrinya pergi.
.
.
.
"oh sial! Kemana Luhan pergi?"
Sehun mulai mencari keberadaan istrinya di lingkungan rumah sakit yang begitu luas dan dipenuhi banyak pengunjung, dia yakin Luhan berlari ke arah basement, tapi kemudian dia kehilangan jejak hanya untuk mendengar teriakan
"APA KAU GILA? KITA SUDAH MEMBUAT KESEPAKATAN LU!"
Dia tahu itu suara Doojoon, dia tahu karena mereka sempat menjadi dekat karena sama-sama memiliki keinginan untuk menghabisi Donghoon, tapi itu dulu, saat dia mengira Luhan telah tiada, berbeda dengan saat ini, tujuan mereka kembali bersebrangan dan mendengar nama Luhan diteriakan bajingan itu saja sudah membuat Sehun geram setengah mati.
"Apa yang kau bicarakan? Kau tidak bisa menghindari kesepakatan kita!"
Sehun menemukan dimana asal suara Doojoon, keduanya berada di ruangan kosong yang ditebaknya adalah gudang, istrinya terlihat sedang menunjukkan sesuatu sementara Doojoon entah mengapa terlihat gelisah dan marah dengan apa yang coba dilakukan Luhan.
"Aku sudah bilang padamu, aku tidak akan memberikan usb ini pada Donghoon."
USB?
Sehun mencoba mengingat, mencari tahu usb apa yang dibicarakan Luhan sampai dia mengingat pernah membicarakan benda itu dengan Myungsoo dan terkejut melihat Luhan masih memiliki benda berbahaya itu.
"Tapi apa yang membuat merubah pikiran? Apa karena Sehun?"
"Kau benar, karena Sehun! Kau tahu kenapa? Karena benda kecil ini membuat suamiku menjadi seorang buronan sementara bosmu bersantai dengan status kebal hukum di negara ini, itu tidak adil dan aku muak dengan permainannya."
"Kau tahu itu hanya akan membuat Sehun berada dalam bahaya."
"Dan satu yang kau tidak tahu, aku dan Sehun akan melewatinya bersama."
"OMONG KOSONG! KAU BAHKAN TIDAK TAHU APA YANG BISA DILAKUKAN DOOJOON PADAMU! PADA KALIAN!"
"DIA JUGA TIDAK TAHU APA YANG BISA AKU LAKUKAN PADANYA!"
Luhan membalas, membuat Doojoon mengepalkan erat kedua tangannya sementara Sehun membeku tak percaya Luhan terlalu berani mengambil keputusan seorang diri tanpa memberitahunya lebih dulu.
"Jadi berhenti menghubungiku, kita tidak memiliki alasan untuk berbicara dan bertemu lagi, selamat tinggal!"
Luhan melangkah pergi, menikmati ketakutan yang dibuatnya sampai suara Doojoon kembali bertanya "Kenapa?" hingga membuat Luhan berhenti melangkah "Kenapa kau mengatakan rencanamu padaku? Aku bisa saja berlari dan memberitahu Donghoon apa yang akan kau lakukan."
Menyeringai, Luhan kembali menatap Doojoon dan dengan tegas mengatakan "Karena aku tahu jauh dilubuk hatimu kau masih memiliki sisi manusia yang nyaris hilang dalam dirimu, kau masih peduli padaku dan aku menantangmu untuk mengatakannya pada Donghoon sebelum aku bertindak lusa nanti." Tegasnya, langkahnya kali ini mantap meninggalkan Doojoon sampai lagi-lagi kakinya berhenti berjalan, kali ini bukan karena Doojoon memanggilnya, tapi karena
"S-Sehun?"
Entah mengapa suaminya berada disana, entah seberapa banyak yang didengarkan Sehun, tapi sepertinya bukan hal yang baik karena saat ini wajah Sehun mengeras, terlihat dingin dan tatapannya dipenuhi rasa kecewa saat melihatnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
.
.
*spoiler ; engga Sehun ngga marah, udah ga jaman Cuma karena begituan marah, jadi bisa napaas :*
.
.
.
.
Gue gabisa lebih banyak dari ini karena deadline, sebenernya kalo diterusin bisa jadi chap 34 juga kkkk~ tapi bersambung aja, dan harap bersabar, prediksi gue chapter depan Donghoon beres, dan selebihnya chapter2 menuju ending *akhirnya*, yang dipenuhi fluffy-romace seperti request2 yang gamau ending begitu aja setelh badai berlalu
.
Gais ini gue emang tetep apdet bulan Ramadhan, tapi inget! Tadarusannya harus lebih banyak dari baca ff, inget udah makin tua, jangan beginian mulu yang diurusin *ambil kaca :v
.
Terakhir sampai ketemu di Been Through biar adil
.
Salam 520 *loveee
.
happy fasting buat yang menjalankan, semoga lancar, amiiinn :*
