Previous
"Kenapa kau mengatakan rencanamu padaku? Aku bisa saja berlari dan memberitahu Donghoon apa yang akan kau lakukan."
Menyeringai, Luhan kembali menatap Doojoon dan dengan tegas mengatakan "Karena aku tahu jauh dilubuk hatimu kau masih memiliki sisi manusia yang nyaris hilang dalam dirimu, kau masih peduli padaku dan aku menantangmu untuk mengatakannya pada Donghoon sebelum aku bertindak lusa nanti." Tegasnya, langkahnya kali ini mantap meninggalkan Doojoon sampai lagi-lagi kakinya berhenti berjalan, kali ini bukan karena Doojoon memanggilnya, tapi karena
"S-Sehun?"
Entah mengapa suaminya berada disana, entah seberapa banyak yang didengarkan Sehun, tapi sepertinya bukan hal yang baik karena saat ini wajah Sehun mengeras, terlihat dingin dan tatapannya dipenuhi rasa kecewa saat melihatnya.
.
Je'Te Veux
.
.
.
Main cast : Lu Han as Xi Luhan
Oh Sehun as Oh Sehun
Rate : T-M
.
.
.
.
.
.
.
BLAM!
.
Sejujurnya kecewa masih sangat dirasakan Sehun hingga sekarang, terlebih saat istrinya tidak mengatakan apapun dan justru membawanya ke suatu tempat bertuliskan LV club, entah apa tujuan Luhan membawanya ke sebuah club malam, dia ingin bertanya tapi hatinya masih terlalu kerasa untuk diluluhkan mengingat kejadian beberapa jam lalu nyaris membuatnya tak bisa bernafas sama sekali.
Klik…
Lalu terdengar pintu mobilnya dibuka, Sehun yang masih enggan keluar dari mobil cukup dibuat mengumpat karena pertahanannya untuk tetap diam hancur begitu saja saat sang istri mengulurkan tangan dan berbicara lembut seraya mengatakan "Kita sudah sampai, ayo turun sayang."
"Kenapa kita berhenti di club malam? Aku sedang tidak ingin minum dan jangan menggodaku saat aku marah." Katanya konyol membuat Luhan ingin tertawa tapi tak berani saat kedua alis suaminya terangkat dan terlihat sangat menakutkan.
"Kalau kau ingin tahu cepat ikut aku, aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu."
Melirik ragu, Sehun bertanya pada istrinya "Janji?" tanyanya, dan Luhan menjawab jani sang suami seperti menjawab janji pada Taeoh "Janji sayang, cepat ikut aku."
Pria tampan yang kini hanya mengenakan kemeja putihnya itu pun menarik dalam nafas, melirik sejenak pada sang istri sebelum mematikan mesin mobil dan tak lupa melepas seatbelt dan keluar dari mobilnya.
Keduanya memandang club yang cukup ramai pengunjung, Sehun sendiri merasa tidak nyaman berada di tempat menyebalkan seperti ini, terlebih dia bersama istrinya yang bisa menghipnotis siapapun dengan senyum dan paras cantik yang dimilikinya.
Memikirkannya saja sudah membuat Sehun gerah, jadilah dia mengambil nafas berat sampai dirasa jemarinya penuh dan ada tangan Luhan yang kini menggenggamnya "Jika tidak ingin aku digoda oleh lelaki lain, kau harus waspada menjagaku, ayo…"
Oh ayolah! Luhannya benar-benar terlihat sangat sempurna disinari lampu redup khas yang selalu ada di setiap club malam, senyumnya yang paling menggoda hingga membuat Sehun benar-benar harus waspada jika tidak ingin membunuh setiap pria yang berani memandang hanya seujung kuku istrinya sekalipun.
"Sebaiknya kita cepat pergi jika tidak ingin membuatku marah."
Luhan hanya terkekeh mendengar ancaman suaminya, dieratkannya tautan jemari mereka sebelum diam-diam tangannya merangkul pinggang Sehun dan meyakinkan suaminya jika dirinya akan baik-baik saja selama ada pria tampan dengan aura mengerikan yang jika istrinya dilirik oleh pria lain tidak akan tinggal diam "Tuhan sangat baik padaku." Katanya bersandar di pundak suaminya hingga mengundang pertanyaan tak mengerti dari Sehun "Kenapa?"
"Sudah memberikan suami yang begitu mencintaiku dan tidak marah saat aku mulai berulah dan hampir mengecewakannya lagi." katanya membujuk dibalas tatapan mendelik Sehun yang bertanya "Yakin aku tidak marah?"
"huh? Memangnya kau marah?"
"Lihat nanti di tempat tidur, jika aku kasar berarti aku marah." Tegasnya, dan Luhan hanya terkikik geli mengatakan dalam hati "aku yang menguasaimu di tempat tidur Tuan Oh!"
Keduanya kini telah berada di dalam LV club, dan Sehun, pria tampan itu benar-benar tidak menyukai suara bising dengan volume yang bisa memecahkan gendang telinga, terlebih banyak pria dan wanita yang sedang meliukkan tubuh mereka dengan minuman keras yang tak lepas dari tangan.
Kini dia tak lagi menggenggam jemari tangan istrinya, tubuh si mungil dibawanya ke depan sementara dia memeluk dari belakang, tangannya benar-benar memeluk protektif Luhan dan si pria cantik memaklumi ketakutan suaminya saat ini "Sebenarnya siapa yang akan kita temui?" Sehun bertanya dingin, suara beratnya benar-benar menakutkan tanda bahwa Luhan harus bergegas jika tidak ingin bertengkar lagi dengan suaminya.
"mmmhh…" Luhan mencoba mencari, kepalanya menoleh ke segala arah untuk memekik seraya menunjuk "Disana!" dia pun melangkah mendekati meja bartender sementara Sehun sibuk menyingkirkan orang-orang yang menabrak punggung istrinya.
"Sebenarnya siapa orang itu? Kenapa kita harus bertemu dengannya di tempat seperti ini?"
"Nanti kau tahu." Luhan berbisik dan tak lama memekik "L!" yang mana sukses membuat Sehun membulatkan mata menyadari bahwa pria yang sedang membuatkan minum untuk tamu VIP adalah pria yang sama yang banyak membantunya untuk mencari keberadaan Donghoon beberapa bulan yang lalu.
"HAY LU!"
Keduanya saling berteriak, membuat tiba-tiba Sehun menatap tak suka pada teman Luhan yang kini menjadi temannya sebelum menatap dingin lagi pada istrinya "Apalagi salahku kali ini?" katanya bertanya seraya meminta Sehun duduk disampingnya dan tidak berbuat ulah di club milik teman mereka.
"Kenapa? Kalian sedang bertengkar?"
Luhan menutup satu telinganya karena suara musik terlalu kencang, dia pun menggeleng sebagai jawaban seraya merangkul lengan Sehun yang mulai menjaga jarak darinya "Tidak bertengkar, dia hanya kesal padaku." Jawabnya berteriak dibalas sindiran Sehun yang juga berteriak melihat kedekatan Myungsoo dengan istrinya "PERASAANKU SAJA ATAU KALIAN SERING BERTEMU HINGGA AKRAB SEPERTI INI?"
"BIAR AKU BANTU JAWAB, INI SUDAH KETIGA KALINYA LUHAN DATANG KE LV CLUB! JADI YA! KAMI SERING BERTEMU DAN BERBINCANG MESRA! YA KAN LU?!"
"MWO?"
Buru-buru Luhan mendelik kesal pada Myungsoo sebelum beralih dari kursi dan memeluk erat suaminya yang nyaris memukul wajah setengah lebam Myungsoo yang mulai berangsur hilang
"L berbohong."
"Tentang apa?"
"Tentang kami yang sering bertemu dan berbincang, terhitung baru ketiga kali aku bertemu dengannya, termasuk hari ini."
"whoa..Tiga kali tanpa sepengetahuanku adalah jumlah yang banyak sayang."
Mau apapun alasannya Luhan tahu Sehun akan tetap bersikap dingin, dia akan terus diam atau paling buruk akan membuat kacau club lain yang dimiliki Myungsoo setelah club sebelumnya dihancurkan Doojoon tak bersisa.
Jadilah sebisa mungkin Luhan membujuk Sehun, meyakinkan bahwa tidak ada hal yang serius mengenai seberapa sering dirinya dan Myungsoo bertemu untuk menjalankan rencana yang dibuat.
Luhan bahkan mendelik kesal pada Myungsoo, sampai si pemilik club terkekeh dan mulai menunjuk lantai dua tempat dimana ruang kerjanya berada "Jika kau membawa Sehun itu artinya dia harus diberitahu rencana yang kau buat. Aku benar Lu?"
Luhan mengangguk, Sehun bertanya tak suka "Rencana apa?" dibalas tatapan memohon dari istrinya di tengah keramaian yang bisa membuat Sehun tergoda dan kehilangan sedikit akal sehatnya "Myungsoo akan menunjukkannya pada kita." Katanya menjelaskan, sementara Myungsoo mulai menunjukkan tempat dimana mereka harusnya bicara secara rahasia "Ikut aku."
Dan tak lama Sehun dengan hatinya yang masih dipenuhi rasa kesal terpaksa mengikuti kemana Myungsoo pergi, Luhan tidak lepas dari pelukannya, tidak sedikit pun karena setiap dia melepas tubuh mungil istrinya, semua pria sialan akan berpura-pura menabrak bahu dan mengerling sangat menjijikan menatap istrinya.
"Sehun aku bisa jalan sendiri."
Diabaikan suaminya, Luhan hanya bisa menggerutu kecil dan menikmati pelukan posesif Sehun yang terkadang membuatnya sesak tak bisa bernafas sampai akhirnya Myungsoo membuka pintu di lantai dua "Masuklah."
Masih tak melepas istrinya, Sehun kini jauh lebih waspada, Luhan hanya diperbolehkan berjalan dibelakangnya hingga membuat cibiran terdengar dari teman lama Sehun "Aku juga tidak akan membahayakan Luhan tenang saja, dia temanku asal kau tahu."
"Istriku terlalu cantik untuk dijadikan seorang teman."
"Kau benar." timpalnya terkekeh, lalu dihadiahi tatapan super mengerikan dari Sehun "ayolah Oh Sehun! kau tidak ingat betapa indahnya pertemanan kita beberapa bulan yang lalu? Saat masing-masing dari kita tiba-tiba menjadi dekat untuk mencari keberadaan Donghoon? Saat aku rela clubku dihancurkan bajingan cacat itu hanya untuk melindungimu? Apa kau tidak ingat semua itu?"
"L…."
Kini Luhan yang memanggil, entah mengapa si pria cantik itu memberikan tatapan mengerikan di dekapan suaminya, membuat Myungsoo sedikit salah tingkah hanya untuk sekedar menjawab "Ada apa?"
"Kau terdengar menyukai suamiku, hentikan."
"MWO? KENAPA JUGA AKU HARUS MENYUKAI PRIA ALBINO INI? KENAPA AKU HARUS-…."
"Kenapa kalian sangat ribut? Menggangguku saja!"
Lalu pintu kecil di ruang kerja Myungsoo terbuka, menampilkan pria setinggi Myungsoo namun dengan kadar ketampanan sedikit lebih banyak untuk Luhan terlihat memakai kacamata dan tak lepas dari laptop kesayangannya.
"Ternyata kau Lu, ada apa? kau datang lebih cepat?"
"Hei V…"
Lalu suara Luhan tercekat saat tiba-tiba tangan Sehun mencengkram terlalu kuat, dia bahkan belum sempat menjelaskan tapi Sehun sudah bersiap menariknya pergi "Sayang tunggu dulu."
"Tunggu apalagi? Siapa dia?" katanya mendelik pada pria dingin yang menatap istrinya seolah mereka kenal satu sama lain, sangat dekat, "Dia V, Kim Taehyung."
Sehun memutar malas bola matanya sebelum mengatakan "Baiklah kuganti pertanyaannya, apa hubungan pria ini denganmu? Kenapa dia terus menatapmu."
"Karena Luhan memang diciptakan untuk ditatap, bodoh!"
"KAU-…."
"whoa…whoa…easy man, Kau tidak boleh membuat keributan di club milk kami." Kemudian Myungsoo berdiri di tengah-tengah Sehun dan V, mulai berusaha menjelaskan mengingat watak dan sifat dari dua pria yang kini sedang menatap saling ingin membunuh memiliki temperamen sensitif yang sama.
"Tae kenalkan dia adalah suami Luhan yang sering kita bicarakan, Oh Sehun." katanya melirik pada Taehyung lalu beralih pada Sehun "Dan Sehun kenalkan dia adalah Kim Taehyung, kau bisa memanggilnya V, Sepupuku."
"Sepupu?"
"Ya, ayah kami bersaudara."
"Pantas saja!"
Merasa tersinggung V bertanya "Pantas kenapa?" namun diabaikan Sehun yang kini fokus pada nama club "Jadi LV club milik kalian berdua?"
"Sebenarnya milik V, hanya saja saat bajingan tua itu menghancurkan club milikku aku mendonasikan seluruh peralatan dan uang tersisa di brankas, jadi ya, sepupuku yang sangat baik ini bersedia membagi dua keuntungan hinga aku tidak menjadi gelandangan di luar sana, terlebih itu karena dirimu Oh Sehun."
"Aku?"
"Ya! pikirmu atas dasar apa mereka menyerangku? Mereka tahu aku membantumu, memberi kau semua informasi yang dibutuhkan, ah, biar kuingatkan satu hal, mereka ingin membunuhmu asal kau tahu."
Lalu Sehun merasakan cakaran di punggung serta gigitan di dadanya, tidak perlu bertanya siapa yang melakukannya karena saat Sehun tertunduk mencari tahu, tubuh mungil istrinya sedang gemetar ketakutan saat Myungsoo mengatakan hal yang tak sanggup didengar istrinya.
"Aku baik-baik saja sayang." bisiknya, dan Luhan mulai mencakar semakin kuat sebelum melepas pelukan Sehun dengan mata berkobar penuh amarah "Dia tidak akan bisa menyentuh suamiku jika statusnya kembali menjadi tersangka, dan aku pastikan dia akan merasakan hal itu empat puluh delapan jam setelah aku mengatakan ini."
"Apa maksudmu sayang?"
Menatap Sehun cemas dan ketakutan, Luhan kemudian mengerling dua temannya yang bersedia menjalankan rencana bunuh diri yang dia buat untuk mengangguk, dan mulai mengeluarkan usb kecil yang selalu dibawanya pergi kemanapun "Tunjukkan pada suamiku."
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu…
.
BLAM!
Terlihat seseorang membanting kencang pintu mobilnya, dan dilihat dari caranya melempar asal jas putih kehormatan miliknya hanya menandakan bahwa pria tersebut adalah seseorang yang memiliki profesi sebagai dokter.
Mungkin,
Beberapa menit yang lalu dia adalah seorang Professor Yoon, ahli bedah yang begitu dikagumi dan dihormati oleh pasien serta staff di rumah sakit. Tapi semua itu berubah tatkala mobilnya memasuki area gelap dan sepi di pelosok gedung tua.
"AARGGHHH SIAL! BAJINGAAAAAAN HHHAARRGGHHHH!"
Sontak teriakannya membuat beberapa penjaga yang ada di gedung tua itu terdengar mendekati, dia pun segera mengganti pakaiannya dengan jas hitam panjang sebelum seseorang menyapanya dengan "Direktur Yoon?" yang menandakan dia memiliki posisi penting didalam organisasi tempatnya berada saat ini.
Sang direktur terlihat geram namun tatapannya terlihat sangat putus asa, tangannya sudah menghancurkan apapun yang bisa dihancurkan didalam ruangan sampai matanya berkilat bertanya pada seorang penjaganya "Dimana TOP?"
"Direktur Choi sedang berlatih tembak di ruang khusus."
Dan tanpa membuang waktu, pria yang tidak pernah terlihat putus asa sebelumnya segera menghampiri satu-satunya pria yang bisa diajakanya berkhianat tanpa memikirkan resiko yang bisa terjadi pada dirinya sendiri.
DOR!
Terdengar suara tembakan di tempat Taeyong berlatih untuk kali pertama saat usianya masih sepuluh tahun, Doojoon sengaja menyiapkan hal itu agar kelak remaja yang sudah dianggapnya seperti adik benar-benar terbiasa dengan lingkup hidup mereka yang tak jauh dari kata kekerasan.
Dulu, Seunghyun mencibirnya, mengatakan Taeyong bisa saja berlatih langsung menembak seseorang tanpa harus membidik sasaran di papan tembak, namun lucunya kini semua itu bermanfaat untuk pria yang kini mengalami cacat di mata kanan hingga diperlukan penutup mata persis seperti yang dikenakan Donghon.
Sebagai dokternya Doojoon bisa saja mengusahakan kesembuhan untuk Seunghyun, namun secara mengejutkan partner sekaligus rekan kerjanya itu menolak dengan alasan "biarkan, agar aku terus mengingat bahwa ini tanda penyesalanku pada Luhan."
Jadilah dia harus terbiasa menggunakan hanya satu matanya, awalnya Doojoon merasa cemas mengira kemampuan Seunghyun akan berkurang sangat jauh, tapi lagi-lagi kecemasannya tak beralasan saat melihat seluruh bidikan Seunghyun tepat mengenai sasaran terkecil di papan tembak miliknya.
Ckrek!
Terdengar suara Seunghyun mengokang senjata miliknya, bukan tanpa alasan pula dia sedikit memperlambat gerakan karena sesungguhnya dia juga menyadari keberadaan Doojoon di tempatnya berlatih saat ini.
"Ada apa? kau terlihat gusar."
DOR!
Dia menembak lagi, targetnya tercapai lagi dan itu cukup membuat Doojoon benar-benar lega serta mengakui bahwa sampai kapanpun tidak akan ada yang bisa menandingi kekejian dan keakuratan seorang Seunghyun dalam menembak.
Doojoon tak bicara beberapa saat, membuat Seunghyun tak memiliki pilihan lain selain terus berlatih hingga akhirnya suara satu-satunya rekan yang bisa dia percaya terdengar lirih saat mengatakan "Kau benar, Luhan menolaknya."
DOR!
Bersamaan dengan ucapan Doojoon, Seunghyun terlihat menembak, tapi kemudian tembakannya kali ini jauh dan meleset dari sasaran, dia cukup terkejut mendengar nama Luhan terlebih saat Doojoon mengatakan Luhan menolaknya, hingga membuat tanpa sadar Seunghyun mengokang senjatanya cepat lalu mengarahkannya ke papan tembak dan meleset lagi karena fokusnya terganggu.
"sial!" Dia menggeram, lalu bertanya tanpa menatap rekannya "Apa kau yakin?"
"Dia akan membuat sesuatu yang tak terduga kurasa."
Seunghyun juga bisa meramalkan bagaimana Donghon saat mengetahui Luhan menolak menyerahkan seluruh data kejahatannya, bajingan tua itu mungkin hanya akan berfikiran satu, menghabisi Luhan dan siapapun yang mencoba melindunginya.
Membuat Seunghyun sedikit geram seraya melepas kacamata khusus dan penutup telinga yang digunakannya, dia tanpa ragu menunjukkan matanya yang cacar sebelum sekali lagi mengokang, fokus menargetkan papan tembak sebelum melepas pelatuk dari pistol yang digenggamnya saat ini.
Hasilnya?
Dia tersenyum puas ketika pelurunya bersarang di tempat yang tepat, menunjukkan bahwa dia sangat siap untuk hal gila yang akan dilakukannya untuk tertawa puas seraya menatap Doojoon dan mengatakan "Kalau begitu lakukan plan B."
Doojoon cukup terkejut mendengar pernyataan Seunghyun, dia pun bertanya "Apa kau yakin?" dibalas tanpa ragu oleh pria yang dikenal paling setia dan nyaris tak pernah menghianati Donghon selama bekerja untuknya "Tentu saja, lagipula bajingan itu sudah terlalu lama membuatku kesal dengan menargetkan Luhan kita."
Disini, "Luhan kita" yang dimaksud oleh Seunghyun adalah adik kecilnya dan Doojoon, kedua pria yang sudah dianggap kakak oleh pria cantik mereka nyatanya adalah yang paling mengerikan dan terus menghianatinya tanpa henti.
Lalu kini keduanya ingin menebus kesalahan tak termaafkan yang telah mereka lakukan, membuat Doojoon sedikit lebih tenang untuk menyetujui "Baiklah, plan B." untuk melakukan rencana cadangan yang berisi,
Hidup mereka hanya untuk melindungi Luhan, jadi saat mereka harus mati hanya untuk membuat Luhan tetap bertahan hidup, mereka akan melakukannya, melakukan apapun untuk menyingkirkan keparat Donghon dari hidup Luhan, selamanya.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu,
.
"Tidak, aku tidak setuju! Rencanamu terlalu berbahaya Lu."
Terlihat Sehun cukup terkejut saat mendengar hal gila yang akan dilakukan Luhan hanya untuk membuatnya terlepas dari statusnya sebagai tersangka, istrinya bahkan tidak terlihat takut sedikitpun dan hal itu jauh membuat Sehun lebih cemas dan lebih mengkhawatirkan pria cantiknya yang sedari tadi terus mencoba meyakinkan dirinya.
"Resikonya dia kembali datang pada kita, tapi setidaknya posisi kita kembali sama lagi dengannya, dia tidak mendapat perlindungan hukum dan kau tidak menjadi tersangka atas hal yang tidak kau lakukan."
"Tidak, tetap saja menyebarkan itu ke media hanya membuatnya semakin mengincarmu."
Sehun ingin menyudahi pembicaraan mengerikan ini, tangannya juga sudah menarik jemari istrinya namun sial Luhan tak bergeming dan bersikeras melakukan satu-satunya hal yang benar untuknya "Aku tetap akan melakukannya."
"LU!"
Tangannya melepas genggaman tangan Sehun, sekilas tatapannya juga terlihat dipenuhi luka untuk mengatakan "Aku lelah bersembunyi dari bajingan itu, dia sudah mengincarku sejak kecil dan aku tidak akan membuatnya mengincarku lebih lama lagi sayang, aku tidak bisa dan aku tidak akan bersembunyi lagi."
Sekilas keraguan tampak terlihat di getar suara istrinya, tapi disaat yang sama Sehun bisa melihat kedua tangan Luhan terkepal begitu eratnya, hal itu hanya menunjukkan bahwa Luhan benar-benar ingin menyudahi permainan mengerikan yang sudah dilakukannya bersama Donghon sejak kecil.
Membuat Sehun menatap putus asa pada istrinya dan sekilas melirik Myungsoo serta Taehyung sebelum berjongkok dan mengambil kedua tangan istrinya yang terkepal erat "Baiklah." Katanya membuka kepalan tangan Luhan, mengusapnya dan menciumnya penuh cinta sebelum dengan berat hati merelakan "Kita akan melakukan rencanamu, bersama-sama."
"Benarkah?"
Tampaknya Luhan terlihat sangat bahagia, hal itu membuat hati Sehun semakin sesak dan sulit bernafas hanya untuk mengangguk setengah hati "Aku tidak bisa membiarkanmu seorang diri melakukan hal berbahaya bukan?"
Luhan kemudian memeluk erat suaminya, sedikit memekik "Aku senang kau mengambil keputusan menemaniku sayang, gomawo." Katanya mencium sekilas bibir Sehun yang tampak memucat sebelum tangan suaminya mengusap lembut surai wajahnya, terlalu lembut hingga Luhan bisa merasakan hangat dan cemas Sehun dari tangan suaminya yang terasa dingin "Tapi jika kau terluka lagi aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, jadi kumohon jangan terluka lagi." katanya memohon disambut pelukan Luhan yang mengangguk tanpa ragu "Aku janji tidak akan ada yang terluka, tidak dirimu, tidak juga diriku, kita akan baik-baik saja sayang."
Sehun hanya menyambut tubuh mungil Luhan di pelukannya, menciumi tengkuk sang istri dengan perasaan gundah yang tak bisa dijelaskan, dia senang pada akhirnya Luhan tak lagi memiliki trauma dengan bajingan tua itu, tapi rasa beraninya juga tak kalah membuat Sehun cemas hingga hanya senyum tipis yang ditunjukkan seraya mengusap punggung Luhan yang kini memeluknya.
"Semoga." Katanya menciumi dalam tengkuk Luhan sementara hatinya menjerit ketakutan "aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku jika kau terluka lagi karena bajingan itu."
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan bohong jika kecemasan Sehun hilang begitu saja, karena rasanya pula daripada rasa cemas dia lebih memiliki ketakutan akan kemungkinan bahwa Luhan akan kembali terluka, hal itu cukup membuat kepalanya sakit memikirkan banyak hal, terlebih pria cantik yang kini sedang berada dibawahnya benar-benar serius dan akan melakukan rencana yang sudah dipersiapkannya secara matang.
Kenyataannya saat ini mereka sedang bergelut dengan peluh, keringat dan suara rintihan, tapi sesekali pula Sehun kehilangan fokusnya mengingat rencana yang akan mereka lakukan lusa nanti, hal itu tidak disadarinya sampai dua tangan hangat yang selalu membuatnya tenang mengusap lembut wajahnya
"Sayang…"
"hmh?"
Tak hanya tangannya, tapi senyuman pria cantik yang selalu menolongnya dalam keadaan terburuk adalah hal yang paling disukai Sehun, jadi saat istrinya meminta "Hanya fokus padaku." Rasaya pula Sehun tidak memiliki alasan lain untuk mengabaikan betapa menggoda prianya yang sedang berpeluh karena kegiatan mereka.
Membuatnya tersenyum sekilas, sebelum memposisikan kedua kaki istrinya melingkar dipinggang lalu mengambil posisi menghentak kedalam hingga punggung istri cantiknya mengangkat menahan nikmat "rrhhh…sayang…~"
Awalnya perlahan, Sehun juga mulai menikmati irama tubuhnya saat menyatu dengan tubuh Luhan, matanya mengunci dan menikmati raut nikmat yang menahan sakit di wajah sang istri sebelum sesuatu mengganggunya dan Luhan harus tahu bahwa hatinya resah karena mencemaskannya.
Jadilah Sehun sengaja menghentak kuat kejantanan miliknya didalam sana, membuat kedua mata Luhan tiba-tiba terbuka dan menampilkan rintihan nikmat yang diterimanya terlalu tiba-tiba
"sayang, perlahan—rrhh~"
Entahlah ini sudah keberapa kalinya Luhan memohon agar suaminya bergerak lebih lembut saat mengambilnya, berkali-kali pula dia harus mengalami klimaksnya tatkala tubuh Sehun masih menghujamnya kuat dengan tempo yang sangat cepat, terhitung sudah ketiga kali dia menjemput klimaks bersamaan dengan Sehun yang mengeluarkannya di dalam.
Membuatnya sangat lelah terlebih sepertinya Sehun sedang menunjukkan dirinya marah karena bermain kasar di tempat tidur.
"AH~"
Lagi-lagi titik kenikmatan itu dihujam kuat oleh kejantanan suaminya, kali ini Sehun memaksanya untuk sedikit menungging dan mengangkat bokongnya, membuat Luhan terpaksa mencengkram kuat selimut tempat tidur dengan kedua lutut menyangga tubuhnya.
Sehun selalu seperti ini jika sedang kesal, dia tidak ingin melihat wajah memelas dan memohon darinya karena akan berakhir menghentak lembut dan mengalah untuk tidak menunjukkan jika dia sedang marah, jadi untuk memberitahu peringatan mutlak dari suaminya, Luhan harus mati-matian menahan sakit dan nikmat saat kejantanan Sehun terus menghantamnya kuat dan dalam di titik yang sama.
Titik yang membuatnya bisa menjerit kesakitan, mendesah nikmat hingga bisa merasakan betapa hangat klimaks sang suami yang dirasa hingga ke perutnya, Sehun tak lagi menghentak saat klimaks datang menjemput, yang dia lakukan hanya mendongakan wajah ke langit-langit dengan mata terpejam, dia puas karena ini adalah kali keempat dia memenuhi lubang istrinya dengan sperm miliknya.
Dia bahkan merencanakan klimaks kelima malam ini sampai tak sengaja matanya melihat kedua tangan Luhan mencengkram kuat selimut yang selalu mereka gunakan di malam hari, dia juga bisa melihat peluh dan keringat istrinya membasahi tempat tidur mereka walau keadaan ruangan sejuk dan dingin.
Hal itu menganggu Sehun dan membuatnya bertanya "Sayang kau lelah?" tanyanya, dan Luhan menoleh, mengambil kesempatan agar permainan mereka dihentikan karena perutnya terasa kram "Rasanya aku mau mati Sehun, cukupkan hari ini."
"Tapi aku masih marah."
"Aku akan membayarnya lagi esok pagi, ya?" katanya membujuk pria besar dan tampan yang kini mengerucutkan bibir dengan posisi kuda-kuda di belakangnya, hal itu membuat Luhan gemas dan tak tega namun tak ingin berakhir merasakan sakit di bokongnya selama berhari-hari.
"Sayang aku benar-benar sakit." Katanya meyakinkan, membujuk Sehun dengan suara yang dipaksakan serak hingga si pria tampan mengerang, tanda dia kalah dan mulai membuat gerakan mengeluarkan penisnya dari lubang sang istri "Baiklah, kau harus membayarnya esok pagi!"
"gomawo—AKH!"
Luhan menjerit kesakitan karena Sehun bergerak terlalu cepat, hal itu membuat Sehun merasa bersalah terlebih saat tubuh Luhan terbaring pasrah di tempat tidur, dia pun mengusap sisa cairan permainan mereka dengan tisue basah, tak lupa dia juga membersihkan daerah paha dan selangkangan istrinya sebelum membalikan tubuh Luhan dan mendekap erat istrinya.
"Sekarang kau bisa tidur."
Luhan menggerakan tubuhnya, mencari posisi nyaman dan menikmati bau keringat khas suaminya setiap kali mereka selesai bercinya "Tubuhku sangat lengket."
"Besok kita bersihkan tubuhmu."
Melingkarkan satu tangan kanannya memeluk Sehun, Luhan mengangguk dan mulai memejamkan matanya "Oke." Sebelum perlahan benar-benar terlelap meninggalkan Sehun yang masih memiliki banyak hal yang dia pikirkan dibenaknya "Sayang kau sudah tidur?"
"hmmh? Hampir saja, ada apa?"
Luhan menjawab, matanya masih terpejam lalu suara berat suaminya kembali bertanya "Apa kau yakin kita tetap akan menyebarkan isi usb itu langsung pada media?"
Tak ragu, Luhan mengangguk dan menjawab dengan kalimat yang sama yang terus dia ucapkan hampir lima jam berlalu "Sudah berapa kali aku katakan jika aku bosan hidup dibawah bayangan bajingan itu?"
"Walau artinya Doojoon dan Seunghyun akan terseret dalam hal ini?"
Barulah mata Luhan kembali terbuka, sebenarnya dia tidak memikirkan sejauh apa Doojoon dan Seunghyun bisa terlibat, tapi yang dikatakan Sehun adalah kebenaran, nanti saat dia mengekspos siapa Donghoon pada dunia, maka terpaksa Seunghyun dan Doojoon akan terlibat sebagai kaki tangan yang bekerja pada Donghoon selama ini.
Luhan memikirkan matang-matang ucapan suaminya, kemudian tak melihat pilihan lain dia tetap mengangguk dan terpaksa mengatakan "Mau bagaimanapun juga mereka sudah membunuh kedua orang tuaku, aku tidak bisa memaafkan sepenuhnya."
"Luhan…."
"Aku akan tetap melakukannya Sehun, aku ingin kita bahagia tanpa kehadiran mereka."
Sehun pun melihat mata cantik istrinya kembali berkobar dipenuhi dendam, membuatnya segera untuk menenangkan Luhan sebelum pada akhirnya mengangguk, mendekap istrinya dan menyetujui jika mereka akan tetap melakukan hal yang diinginkannya "Baiklah, kita tetap akan melakukannya, hanya jangan terluka lagi, kau dengar?"
"Aku dengar, dan kau juga, pastikan aku tidak perlu melihat darahmu lagi Sehunna."
Sehun pun mengecupi pucuk kepala Luhan dengan senyum tipis menggantung di bibirnya "Itu tergantung bagaimana dirimu Lu."
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan paginya Sehun lebih dulu meninggalkan rumah menuju kerumah sakit sementara Luhan akan bertemu lagi dengan Myungsoo dan Taehyung untuk menjalankan rencana Luhan malam nanti, keduanya akan bertemu di LV club setelah Sehun mengunjungi kedua orang tuanya.
Jadilah dia sedikit terburu-buru memasuki gedung rumah sakit sampai matanya tak sengaja melihat adiknya sedang berbicara dengan seseorang yang ditebaknya adalah Taeyong, remaja yang kali terakhir membuatnya terpaksa harus berbaring di rumah sakit.
"Maaf tapi sebaiknya kau tidak datang untuk menyapaku lagi."
"Taeyong! Sudah berapa kali kukatakan ini hanya salah paham, hyung tidak akan membencimu karena kau adik dari istrinya dan kau kekasih-….."
"Demi Tuhan Oh Jaehyun! Berapa kali harus aku katakan aku bukan kekasihmu HAH!"
Lalu senyum miris terlihat dari bibir Sehun, pria tampan itu seperti melihat Luhan beberapa tahun lalu di diri Taeyong, sifat kerasnya mungkin didapat dari Luhan jika menyangkut hati mereka, jadi bohong jika dia tidak tahu bagaimana perasaan kedua adiknya yang kini saling membantah untuk tidak saling mengakui satu sama lain.
"Bagaimana bisa dia memaafkan orang yang hampir membunuhnya?"
"Kau bukan pembunuh, kau bahkan tidak melakukan apapun!"
"KAU-…"
Sehun berjalan mendekat, lalu remaja dengan rambut blonde itu terlihat ingin menyudahi percakapan dengan adiknya, hal itu membuat Sehun terpaksa menghalau jalan kekasih adiknya hingga mau tak mau Taeyong sedikit menabrak tubuhnya dan situasi kembali menjadi hening.
"hyung…"
Taeyong bisa mendengar suara Jaehyun memanggil hyung, jadi kecemasannya tepat menebak bahwa pria dewasa yang sedang memegang kedua pundaknya ini memang adalah suami dari kakaknya.
Dia pun bergerak resah, berniat pergi tapi tangan yang lebih besar darinya itu memaksa dirinya untuk melihat tepat ke dua bola matanya "Kau menangis?"
"huh?"
Sehun tersenyum, mengerling pada adiknya untuk mengatakan "Jae, antar Taeyong pulang, hyung akan berada disini cukup lama." Katanya memberitahu disambut senyum Jaehyun yang begitu lega menyadari kakaknya benar-benar tidak mempermasalahkan apa yang sudah dilakukan Taeyong padanya.
"Jangan bersikap canggung di depanku, aku tidak mempermasalahkan siapa dirimu asal kau bisa membuat adikku yang menyedihkan menjadi bahagia, hanya itu."
Dia berpesan pada Taeyong sebelum tangan Jaehyun terlihat berani menautkan jemarinya di jemari Taeyong "Ayo pulang." Ujarnya lembut sementara Taeyong masih menatap penuh rasa bersalah pada Sehun "Mianhae…"
Sehun pun merespon dengan senyum kecilnya, dia mengusak surai Taeyong sebelum mengatakan "Jangan meminta maaf, kau tidak melakukan apapun." Katanya memberitahu dan berlalu meninggalkan sepasang kekasih yang sepertinya memiliki kesulitan yang sama dengan dirinya dan Luhan saat usia mereka masih remaja beberapa tahun yang lalu.
"Sesekali datang dan makan malam bersama keluargaku, Luhan merindukanmu."
Barulah hati Taeyong luluh mendengar setiap ucapan yang dikatakan Sehun, hal yang dipikirnya sulit dimaafkan ternyata dengan mudahnya dilupakan Sehun, hal itu membuatnya semakin yakin bahwa sedari awal Sehun memang orang yang tepat yang diciptakan Tuhan untuk membahagiakan Luhan seutuhnya.
"Sekarang kau sudah yakin pada ucapanku?"
Jaehyun bertanya, membuat kecemasan yang sedari tadi ditahan kuat oleh Taeyong tiba-tiba dilepaskan hingga dirinya berakhir terisak pilu di pelukan Jaehyun "Maafkan aku."
"sshh…Aku rasa sekarang semua sudah jelas, tidak perlu ada yang kita takutkan lagi."
Setelahnya Jaehyun membawa Taeyong pergi dari rumah sakit, membawa rasa bersalah kekasihnya pergi tanpa menyadari bahwa ada sepasang mata sedang memperhatikan dan tengah tersenyum melihat mereka.
"Professor Yoon apa anda siap?"
Kemudian Doojoon tersenyum lirih menanggapi pertanyaan asisten perawatnya sebelum mengangguk dan ikut berjalan memasuki ruang operasi pasiennya hari ini. Setidaknya baik Luhan dan Taeyong bahagia dengan pasangan hidup yang mereka pilih hingga membuatnya merasa bahagia dan berterimakasih pada dua bersaudara Oh yang masing-masing memiliki hati kedua adiknya.
Matanya sekali lagi melihat Taeyong dan Jaehyun lalu bergumam "Setidaknya hyung melihatmu bahagia sebelum aku benar-benar pergi." sebelum memasuki ruang operasi mungkin untuk kali terakhir.
.
.
.
.
"Baekhyun…"
"eoh, kau datang?"
Tak lama setelah membiarkan Jaehyun dan Taeyong kembali kerumah, Sehun berjalan lurus menemui Baekhyun, keduanya terlibat pembicaraan serius sampai akhirnya Baekhyun mengatakan "Mama sudah mengalami banyak kemajuan, dan untuk ayahmu aku rasa kau harus sedikit lebih lama bersabar, belum ada perubahan berarti dari papa."
"Tapi dia akan baik-baik saja?"
"Tentu saja, dia merasa tertekan karena mengira Luhan celaka karena dirinya, tapi setelah melihat Luhan dan mengetahui bahwa Luhan tidak menyimpan marah padanya adalah sebuah kabar yang membuatnya sedikit merespon."
"be-Benarkah?"
"hmm…Papa sudah berkedip walau fokusnya masih tidak stabil. Kondisinya akan sangat baik seiring berjalannya waktu."
"haaah~ Gomawo Baek."
"Dia ayah kita bersama, jadi akan kulakukan apapun agar dia bisa kembali ke meja hijau." Katanya tertawa membuat perasaan gundah Sehun menjadi sedikit lebih baik "gomawo."
"Tidak perlu, ah ya, dimana Luhan?"
"Sedang melakukan sesuatu, aku akan kesana setelah ini."
"Pergilah, kalian harus banyak bersama, kau tahu maksudku kan? Istrimu sedikit keras dan terkadang sulit untuk bicara dengannya."
Sehun terkekeh dan membenarkan "Kau benar, aku pergi dulu. Jaehyun akan datang lagi setelah mengantar Taeyong."
"Okay, sampai nanti malam dirumah."
"mmhh…"
Dan sepertinya pikiran Sehun memang sedang tertuju pada Luhan, dia cemas mengingat kurang dari tiga jam lagi Luhan akan menyebarkan isi usb itu ke media luas, membuatnya sangat gugup tak berani membayangkan bagaimana reaksi Donghon jika tahu Luhan berbuat terlalu nekat seperti saat ini.
Ting….!
Pintu lift terbuka, Sehun melangkah masuk hingga kakinya berhenti kaku melihat siapa yang sedang berada di dalam lift yang sama dengannya. Dikelilingi tiga anak buahnya sepertinya bajingan yang pernah menjadikan Luhan sebagai istrinya terlihat memiliki suatu urusan di rumah sakit tempat kedua orang tuanya dirawat.
"Masuklah."
Sehun berniat tidak mempedulikan apapun yang akan dikatakan Taecyeon, yang dia lakukan hanya menekan lantai dasar dan membiarkan lift dari lantai dua puluh ini turun bersama dengan mafia yang terkenal keji melebihi Donghon.
"Kenapa kau ada di rumah sakit? Apa Rein terluka?"
"tsk…Bajingan tidak tahu diri! Kau bahkan masih memanggilnya Rein."
Sepertinya bicara Sehun terlalu kasar, membuat dua anak buah Taecyeon nyaris bertindak namun dihalau olehnya "Biarkan saja, hanya jangan biarkan siapapun masuk ke lift ini."
Keduanya pun mengangguk dan Taecyeon mulai memperbaiki caranya bertanya "Apa Luhan terluka?"
"Sekalipun dia terluka itu bukan urusanmu!"
Gerakan Taecyeon tiba-tiba menjadi sedikit berbahaya, dia menghimpit Sehun ke bagian lift setengah mencekik dan berbisik "Jika Luhan terluka lagi karenamu, aku benar-benar tidak akan membiarkan kalian bersama, camkan itu!"
"Lepas…"
Sehun mendorong balik tubuh yang tidak lebih besar darinya, tatapannya sama sengit untuk balik memperingatkan "Selama aku disampingnya Luhan akan baik-baik saja." katanya tegas membuat senyum mengerikan Taecyeon terlihat seiring dengan pintu lift yang terbuka dan membuat Sehun tak memiliki alasan untuk tinggal lebih lama dengan bajingan yang juga menginginkan istrinya.
"Jadi jangan berharap kau bisa membawa Luhan pergi dariku, TIDAK LAGI!" katanya sengaja menabrak kencang bahu Taecyeon, membuat tangan mafia itu terkepal erat dan terpancing untuk memberi peringatan "OH SEHUN!"
Tap!
Sehun berhenti melangkah, tidak menoleh tapi cukup bisa mendengarkan apa yang ingin dikatakan Taecyeon padanya "Berjanjilah satu hal jika Luhan terluka lagi saat bersamamu, kau akan meninggalkannya dan membiarkan dirinya hidup bahagia dengan orang lain selain denganmu! APA KAU DENGAR PENGECUT?"
Kini tangan Sehun yang terkepal, entah apa yang dibicarakan Taecyeon tapi dia cukup memiliki kepercayaan diri dengan berteriak "BAIKLAH!" katanya menerima tantangan Taecyeon sebelum berjalan pergi, Sehun bahkan tak melihat bahwa saat ini Taecyeon sedang tersenyum penuh kemenangan dengan janji yang telah mereka buat.
.
.
.
.
.
.
BLAM!
Tak lama Sehun sampai di LV club tempat dimana istrinya berada, tujuannya bukan apa yang akan dilakukan Luhan tapi Luhanlan tujuannya datang ke tempat ini, dia berlari masuk ke tempat dimana dia bisa menemukan istrinya hingga samar terdengar suara Luhan terdengar.
Lakukan sekarang!
Kau yakin?
Ya. malam nanti dia hanya akan datang sebagai seorang tersangka, bukan sebagai tamu kebal hukum karena berhasil membuat seorang jaksa dituntut dengan tuduhan menjijikan.
Baiklah, V lakukan
Oke
Tak lama V menekan enter, pintu ruang kerja Myungsoo dibuka kasar oleh Sehun, membuat ketiganya sedikit terkejut namun lega karena Sehun yang datang dan bukan siapa pun yang tak diundang ke pesta siang hari yang sedang dibuat Luhan untuk menghancurkan Donghoon.
"Sayang, kami sudah menyebarkan isi dari usb itu ke media. Kita hanya perlu menunggu waktu dan-….hmmhh~"
Well, jelas sesuatu sedang mengganggu suaminya, terlihat dari nafasnya yang tersengal bukan karena dia berlari dari perjalanan yang cukup jauh, Luhan mengenal Sehun lebih baik dari Sehun mengenal dirinya sendiri, jadi saat bibirnya dikecup tak sabar dan cukup kasar oleh suaminya hanya menandakan bahwa Sehun sedang merasa begitu cemburu dan takut bahwa Luhan mungkin akan berpaling darinya.
"Sehun, sayang apa yang-…rrghh~"
Bibirnya kembali dihisap kencang oleh Sehun, terkadang lidahnya digigit kuat hingga Luhan bisa merasakan anyir di bibirnya, entah apa yang terjadi tapi jika sudah seperti ini Luhan hanya perlu mengimbangi ciuman sang suami agar tidak membuat Sehun lebih marah dan kesal, jadilah dia melingkarkan tangannya di leher Sehun sementara Sehun mulai mengangkat tubuh mungil istrinya ke meja kosong milik L dan V hingga kedua pemilik itu terpaksa berteriak
"HEY! / GET A ROOM PLEASE!"
Tentu saja Sehun mengabaikan peringatan sampah dari dua pemilik club, hatinya sedang panas, pikirannya kacau tidak berani membayangkan bagaimana jika dirinya harus meninggalkan Luhan, bagaimana jika Luhan terluka lagi, membuatnya benar-benar haus akan tubuh dan sentuhan istrinya hingga sesekali Luhan mencuri lihat dan memohon maaf pada dua pria yang baru saja membantunya.
"AYOLAH/ L….Ayo pergi, aku rasa kau juga harus mencari pasangan."
Setelah beberapa media merespon kabar yang disebar secara luas darinya, V menutup komputer miliknya, dia melenggang pergi diikuti Myungsoo sepertinya sangat geram tak tahan melihat tempatnya dijadikan tempat bercumbu oleh Sehun.
"BERSIHKAN TEMPATNYA SETELAH INI!"
BLAM….!
Kini tinggal mereka berdua di ruangan itu, Sehun masih terus melumat kasar, gerakannya bahkan sudah lebih jauh dengan membuka kancing kemeja Luhan, beralih ke celana pendek yang digunakan Luhan dan mulai menurunkannya paksa.
Luhan sudah menatap horor dengan posisi ini, posisi dimana kakinya dibuat mengangkan lebar lalu terdengar bunyi zipper diturunkan yang artinya dia benar-benar akan bermain kasar siang ini "sayang, apa yang terjadi? bicara dulu padaku sebelum—SEHUN!"
Luhan memekik, mencakar pundak suaminya kencang tatkala kejantanan besar itu menerobos masuk kedalam dirinya, Sehun diam pada awalnya, ciumannya menjadi lembut dengan tatapan memohon agar diizinkan bergerak, dan katakan Luhan terhipnotis, jadilah dia mengangguk tanpa banyak bertanya mengapa suaminya bisa marah namun terlihat bernafsu di waktu yang sama.
Dia pun mengangguk, membiarkan Sehun bergerak sementara untuk meredakan rasa kesal suaminya Luhan sebisa mungkin mendesah seksi membiarkan beberapa alat tulis dan gelas Myungsoo serta Taehyun berjatuhan seiring dengan hentakan Sehun didalamnya.
"haah~"
.
.
Dan perlu waktu setengah jam untuk membuat Sehun merasa lebih baik, kini posisinya duduk di pangkuan Sehun setelah sebelumnya Luhan membereskan kekacauan di ruang kerja Myungsoo, dia juga memberikan jus segar pada suaminya sebelum memaksa pujaan hatinya mengatakan apa yang mengganggu.
"Jadi tetap mau diam atau bicara?"
Katanya menyatukan dahi mereka dan mengecupi lembut bibir Sehun, jujur tubuh bagian bawahnya sangat lengket, setidaknya dalam setengah jam dia harus menerima dua tembakan sperm Sehun di lubangnya, jadilah Luhan merasa tidak nyaman ditambah rasa sakit karena Sehun melakukannya tanpa pemanasan.
"Apa yang mengganggumu?"
"…"
Kesal, Luhan mulai berniat mengancam dengan mengatakan "Jika kau tetap diam sebaiknya kita pulang, tubuhku lengket Sehunna."
Dia merajuk, berniat pergi dari pangkuan Sehun namun ditahan kuat oleh suaminya "Taecyeon."
"huh?"
Luhan kembali duduk dipangkuan Sehun dengan tenang, mendengarkan apa yang coba dikatakan suaminya dengan bertanya "Ada apa dengan Taecyeon?"
"Aku bertemu dengannya dan dia bilang akan tetap mengejarmu apapun yang terjadi?"
"Lalu?"
"Aku tidak mau kau kembali padanya?"
"Dan kau berfikir aku akan kembali pada orang asing yang sengaja mengganti identitasku? Jahat sekali pikiranmu." Katanya marah pada Sehun, dia benar-benar tak habis fikir dengan jalan pikiran Sehun hingga terpaksa membuatnya berniat pergi sebelum Sehun memeluknya erat.
"Mianhae, aku hanya tidak ingin kau mengenalnya lagi."
"Kalau begitu kau hanya perlu mengatakan dengan lantang jika aku istrimu dan kau akan melindungiku apapun yang terjadi, mudah bukan?"
Sehun terus mendekapnya erat, dekapannya bahkan semakin kuat seolah dirinya adalah pria tak berguna yang tak bisa melindungi istrinya, Luhan bahkan mengerti situasi ini, situasi dimana Sehun perlu dikuatkan dan dia kembali melakukan perannya sebagai seorang istri.
"Sayang…."
"hmm?"
"Jangan pernah berfikiran kau tidak bisa melindungiku, kau selalu melindungiku dan aku tahu caramu melakukannya. Jadi sekalipun aku terluka itu bukan salahmu, kau dengar?"
Sehun bahkan terlihat semakin tegang, Luhan bisa merasakannya dan terpaksa memberi kecupan lembut di bibir yang selalu mengatakan cinta padanya "Aku mencintaimu, apapun yang terjadi jangan pernah berfikir bahwa aku akan meninggalkanmu untuk pria lain, aku bahkan tidak bisa menenangkan pria lain selain dirimu, kenapa kau berfikiran sempit sayang?"
"Maaf."
"Jangan lakukan lagi, sekarang kita pulang dan tunggu apa yang terjadi setelah berita ini benar-benar tersebar luas? Aku tidak sabar melihatmu bebas dari tuduhan yang diajukan bajingan itu padamu."
Luhan kemudian berdiri dari pangkuan Sehun, menautkan kedua jemari mereka dan beriringan pergi meninggalkan club yang mulai ramai pengunjung dan sepertinya sedang membicarakan berita yang mulai tersebar di media umum.
Luhan puas, dia bahkan tersenyum untuk memberitahu suaminya "Setelah ini aku ingin pergi honeymoon denganmu."
"huh? Ada tempat yang ingin kau kunjungi?"
Mengangguk tanpa ragu, Luhan mengatakan "Beijing! Aku ingin ke Beijing."
Nyatanya ucapan Luhan berhasil membuat Sehun sedikit terpana, sudah banyak yang berubah dari istrinya, dia tak lagi banyak membenci hal-hal yang membuatnya marah dan merasakan trauma di masa lalu.
Pertama kedua orang tuanya, kini tempat yang enggan dikunjunginya selama puluhan tahun yang tiba-tiba ingin dijadikan tempat mereka membuat kenangan manis bersama. Hal itu membuat Sehun benar-benar bangga sebagai seorang suami dan hanya bisa menyanggupi keinginan Luhan dengan mengatakan "Ya, kita bisa menetap disana jika kau mau." Hingga membuat rona bahagia tidak bisa ditutupi Luhan saat Sehun menyanggupi rencana mereka untuk melakukan perjalanan manis bersama.
.
.
.
.
.
Malam hari….
.
Aku rasa malam ini, bersiaplah.
Doojoon segera menutup ponselnya saat Donghoon masuk kedalam mobil yang sama dan dudk disampingnya, dia terlihat bahagia malam ini mengingat rumah sakit tempatnya bekerja setuju untuk membagi saham dengannya.
Beberapa pejabat penting juga datang menyaksikan hingga wajar rasanya dia berpenampilan sedikit berlebihan malam ini "Aku bangga padamu nak, kau benar-benar bisa diandalkan Professor Yoon."
"Jangan memanggilku nak, sangat menjijikan."
"Ayolah, kau akan menjadi putraku malam ini, jalankan mobilnya."
Dia memberi perintah, tak lama mobil yang ditumpangi keduanya pun berjalan pergi meninggalkan markas besar Donghoon tanpa tahu bahwa diluar gerbang sana beberapa polisi sudah menunggu kedatangannya.
"huh? Ada apa? Kenapa banyak polisi di luar sana?"
Doojoon hanya menatap datar pada sekumpulan polisi yang sudah berjaga di depan markas besar Donghon, awalnya dia berfikir itu adalah pengawalan ketat untuknya dan dia merasa bangga sampai membuka jendela mobil dan menyapa seluruh polisi.
"Hay kalian semua, cepat kawal aku dibelakang, jangan menghalangi jalan." Katanya berteriak gila, sampai Doojoon melihat satu polisi mengokang senjata dan membuatnya refleks berpindah ke kursi depan dan menendang keluar supir yang mengendarai mobil.
"DOOJOON APA YANG KAU LAKUKAN?"
"MEREKA INGIN MENANGKAPMU BUKAN MENGAWALMU!"
"MWO?"
Dan benar saja, satu tembakan peringatan diiringi teriakan "KO DONGHOON CEPAT SERAHKAN DIRIMU DAN JANGAN MEMBUAT KAMI TERPAKSA MELUKAIMU!"
SIAL! APA YANG TERJADI?
Lalu dengan sigap Doojoon memutar mobilnya, menginjak kuat gas mobil untuk melewati pagar pembatas, kecepatannya bahkan terlalu gila hingga membuat mata Donghon terpaksa terpejam sementara anak buahnya yang lain sedang terlibat baku tembak dengan polisi yang entah mengapa ada di depan markas besar.
"AWAS!"
Donghoon berteriak saat satu polisi berhasil mengejarnya, tapi nyatanya Doojoon terlihat santai dan hanya menabrakan kencang mobillnya dengan mobil polisi sebelum memutar ara menuju markas lama mereka.
Donghon sepertinya nyaris tak sadarkan diri sementara dahi dan hidung Doojoon mengeluarkan darah karena benturan. Setelahnya mereka berhasil melepaskan diri dan Doojoon mengantar bajingan tua yang terlihat sangat berantakan ke markas awalnya dirinya berasal, gudang tua menyedihkan bukan mansion besar pemberian salah satu pejabat untuknya.
BLAM…!
Dia membanting kencang pintu mobil seraya berteriak tanpa henti "JELASKAN PADAKU APA YANG TERJADI?"
Hingga seseorang muncul dan memberitahu kabar buruk itu pada Donghon "Seseorang menyebarkan catatan kejahatan anda dari Detektif Xi ke media umum."
"Mwo?"
"Dan saat ini anda adalah tersangka dengan lima tuduhan berat yang dicari oleh seluruh kepolisian di Seoul."
"BAJINGAN! SIAPA YANG MENYEBARKAN CATATAN KEJAHATANKU? SIAPA YANG-…"
Saat melihat Doojoon membersihkan lukanya, barulah Donghon teringat bahwa anak kesayangannya telah gagal mendapatkan usb dari bajingan kecil Luhan beberapa waktu lalu, membuat tangannya terkepal dan dengan kaki pincang dia menghampiri Doojoon yang sepertinya terlalu tenang untuk kasus besar seperti ini.
"YOON DOOJOON!"
Doojoon menoleh, lalu membiarkan Donghon mencekiknya seraya bertanya "Apa Luhan yang melakukannya? APA BAJINGAN ITU YANG MENYEBARKAN CATATAN KEJAHATANKU PADA MEDIA?"
Doojoon hanya diam, jujur saja cekikan Donghon bisa membunuhnya kapan saja, dia sudah tidak bisa bernafas sampai bajingan itu melepas cekikan dan membuat Doojoon terbatuk mencari udara
"JAWAB AKU!"
Masih sesak, Doojoon mengatakan "Ya, Luhan melakukannya. Dan aku rasa dia melakukan hal yang benar saat ini."
"BAJINGAAAAAN…."
Doojoon pun membiarkan tongkat Donghon memukuli seluruh tubuhnya, melampiaskan rasa marah dan benci hanya pada tubuhnya sampai dia terkulai lemas tak berdaya. Kemungkinan Donghon membunuhnya sangat besar, tapi sepertinya bajingan tua itu masih berbaik hati membiarkan Doojoon hidup.
Dan sebagai gantinya, dia berjongkok, mengusap keji surai tak berdaya yang sudah mengeluarkan darah di wajah dan tubuhnya untuk berbisik mengerikan "Cepat pulih anakku, kita akan mencari Luhan dan membunuh bajingan itu secepatnya."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"eoh, aku hanya akan pergi sebentar kerumah lama milik kedua orang tuaku sayang, nanti aku akan segera pulang setelahnya, kau hanya perlu memberi keterangan pada pihak kepolisian terkait hal yang dituduhkan padamu."
Satu minggu setelah hal luar biasa yang dilakukan Luhan pada Donghoon berhasil merubah keadaan untuknya terutama untuk Sehun, suaminya tak lagi perlu menyandang status tersangka percobaan pembunuhan atas bajingan tua yang berlindung di balik hukum atas bantuan Ravi sebelumnya.
Kini hidup Luhan rasanya lebih tenang dari sebelumnya, terlebih saat pihak kejaksaan mengatakan akan menuntut hukuman mati pada Donghoon jika ditemukan bukti yang ada di dalam usb dengan tulisan document 3112, yang merupakan berkas milik mendiang ayahnya sebelum keluar dan berhenti menjadi detektif.
"Tapi aku bisa menemanimu."
"Tidak perlu Sehunna, Taeyong akan merasa tak enak hati jika melihatmu saat ini."
"Baiklah, setelah selesai memberi keterangan aku akan datang menjemputmu."
"hmm…Aku menunggumu, baiklah sayang, sampai nanti."
Keduanya mematikan ponsel bersamaan dengan Luhan memarkirkan mobil di depan halaman rumahnya, dia pun sejenak melihat sekeliling rumah sebelum membuka pintu mobil disambut dengan teriakan Taeyong yang sepertinya sudah menunggu sejak lama.
"HYUNG!"
Remaja delapan belas itu pun memeluknya erat, begitupula Luhan yang sangat merindukan Taeyong mengingat sejak kejadian malam itu Taeyong benar-benar bersembunyi dan takut jika harus bertemu dengan Sehun.
"Taeyongaa bagaimana kabarmu?"
"Aku baik hyung, bagaimana denganmu?"
"Aku juga sangat baik, ah, aku dengar dari Sehun kau sudah memperbaiki hubunganmu dengan Jaehyun?" katanya bertanya dibalas rona merah wajah Taeyong yang menjelaskan smeuanya pada Luhan.
"Baiklah, lain kali kita akan makan malam bersama, ayo masuk."
Luhan berjalan lebih dulu masuk kedalam rumahnya, diikuti Taeyong yang menutup pintu sebelum mengejar Luhan dan berjalan beriringan menaiki tangga lantai dua "Lalu bagaimana dengan Sehun hyung?"
"Bagaimana apanya?"
"Aku lihat di televisi, beritanya sedang banyak dibicarakan saat ini."
"ah, kau tenang saja. Hari ini Sehun sedang memberikan keterangan, statusnya akan bersih setelah malam ini."
"syukurlah." Taeyong mengucap syukur dibalas lirikan Luhan yang tersenyum sebelum membuka satu ruangan yang tak pernah disadari Taeyong semenjak menempati rumah Luhan hampir satu tahun yang lalu "hyung ruang apa ini?"
Tersenyum kecil. Luhan menjawab "Ruang kerja ayahku, bantu aku mencari berkas file 3112." Katanya membuka pintu itu sebelum tertegun menyadari bahwa tak ada yang berubah dari ruang pribadi ayahnya disaat tak ingin diganggu.
Dia merindukan saat-saat dimana dia mengganggu ayahnya lalu berakhir memakan ice cream bersama di meja makan, membuat nafasnya menjadi sedikit berat sampai suara Taeyong terdengar "daebak hyung, ayahmu benar-benar seorang detektif? Banyak sekali penghargaan yang didapatkannya."
Luhan kemudian tertawa melihat bagaimana Taeyong mengagumi ayahnya, membuatnya sedikit melupakan kerinduan pada sang ayah sebelum mengusak kasar surai si remaja yang rasanya berlebihan memuja seorang mantan detektif.
"Jangan terlalu kagum, ayahku tidak sehebat itu."
"Tapi tetap saja."
"Sudah cepat bantu aku mencari berkas yang aku maksud."
"Baik hyung!"
Baik Luhan maupun Taeyong kini sibuk mencari berkas ditumpukan berkas, keduanya mencari dalam diam sampai akhirnya Luhan menemukan apa yang dicarinya "Taeyong aku menemukannya."
"eoh…"
Taeyong dengan sigap menghampiri Luhan, ikut membaca berkas yang dicari sampai kedua senyum terlihat di wajah cantik mereka "Aku rasa ini berkas yang kau cari hyung."
"hmmh, Aku akan segera menyerahkan berkas ini pada kejaksaan dan pihak-…."
Klik….
Tiba-tiba lampu di rumahnya padam total, hal itu membuat Taeyong refleks menggenggam tangan kakaknya menyadari bahwa sepertinya hanya rumah Luhan yang padam total mengingat rumah sebelah masih menyala secara normal.
"Taeyong ada apa?"
"Aku rasa ada yang datang."
PRANG!
Suara jendela di rumahnya dihancurkan membuat Luhan berjengit sementara Taeyong tak melepas tangannya dari Luhan, yang lebih muda bahkan terlihat sangat tenang menghadapi situasi mengerikan seperti ini.
"Jangan lepas tanganku hyung."
Luhan masih menggenggam erat dokumen milik ayahnya dan menggenggam erat tangan Taeyong, dia mengikuti kemanapun adiknya pergi sampai Taeyong membawa Luhan ke kamarnya dan menyalakan lampu temaram yang menempel di meja kamarnya.
"Tunggu disini hyung."
PRANG…!
Suara pecahan itu semakin terdengar, tak lama seseorang berteriak "LU-HAAAAN….AKU TAHU KAU DISINI!"
DEG!
Yang mana berhasil membuat Luhan dan Taeyong berjengit takut menyadari bahwa itu adalah suara milik Donghon "sial!"
BUGH!
Tap
Tap
Tap
Buru-buru Taeyong mencari sesuatu di meja kamarnya, dia panik menyadari suara langkah kaki berlari menuju kamarnya hingga bersamaan dia menemukan pistol yang dicari, menarik Luhan kebelakang tubuhnya sementara dia mengokan dan mengarahkan senjata pada siapapun yang kini mendobrak pintu kamarnya.
"DIAM DISANA BAJINGAN!"
Keadaan terlalu gelap untuk semuanya, bisa saja Taeyong asal menembak, tapi saat pria didepannya menyalakan cahaya dari ponsel baik Taeyong maupun Luhan terkejut melihat siapa yang kini berdiri di depan mereka.
"Kau…" Taeyong mengira dia sudah mati, begitupula Luhan yang mengingat terakhir kali pria yang menyelamatkannya dari kebakaran adalah pria yang sama membuangnya ke laut dan kini pria itu sedang berdiri didepannya, terlihat menyedihkan dengan luka bakar di sekujur tubuh dan satu mata yang mengalami cacat seperti Donghon.
"hyung?"
Adalah Choi Seunghyun yang berdiri disana, entah darimana dia datang, tapi sepertinya malam ini dia tidak datang sebagai musuh melainkan datang sebagai seorang…kakak?
"Pergilah, kalian bisa lewat jendela kamar, aku yang akan menghadapi mereka. Hubungi polisi secepatnya."
"LUHAN!"
"Tapi apa yang kau lakukan?"
Taeyong mengerti, dia meletakkan senjatanya ke saku jaket, sebelum menarik Luhan dan berusaha menerobos jendela kamar di lantai dua "Hyung ayo pergi." katanya menarik Luhan tapi sepertinya Luhan enggan melihat seseorang berkorban tanpa alasan untuknya.
"HYUNG! APA YANG KAU LAKUKAN? AYO PERGI BERSAMA?"
Tersenyum miris. Seunghyun berbisik "Bahkan setelah semua hal mengerikan yang aku lakukan kau tetap memanggilku hyung? Apa kau sudah gila?"
"JAWAB AKU!"
"LUHAN HYUNG CEPAT!"
"PERGILAH! SEKARANG!"
"KENAPA KAU DATANG DAN MELINDUNGIKU? KENAPA KAU-….."
"KARENA AYAHMU MENGANGGAPKU SEBAGAI PELINDUNGMU!"
"huh?"
Luhan bersumpah melihat air mata dari cahaya temaram di kamar Taeyong, dia juga bisa melihat gerakan khas seseorang saat menghapus air mata hingga terdengar "Jika ayah tiada kau yang harus menjaga Luhan, kau putraku juga dan itu artinya kau satu-satunya kakak yang dimiliki Luhan." Seunghyun bercerita sebelum mengambil posisi didepan Luhan dan tak berniat menoleh lagi melihat Luhan "Itu yang dikatakan ayahmu, tapi malang sekali nasib ayahmu karena mati di tangan bajingan sepertiku."
"hyung…."
"CEPAT PERGI!"
BRAK….!
Pintu kamar Taeyong didobrak paksa untuk kali kedua, kali ini menampilkan Donghon dan Seunghyun yang berhadapan satu sama lain sementara Taeyong bersiap membawa Luhan pergi.
"Luhan, aku senang kau masih hidup. Berbahagialah mulai hari ini."
Itu adalah kalimat terakhir yang Luhan dari Seunghyun sebelum suara Donghon berteriak "APA YANG KAU LAKUKAN?" Dan terdengar baku tembak di rumah mendiang kedua orang tuanya, rasanya wajar jika Luhan tidak lagi mendengar suara Seunghyun mengingat jumlah Seunghyun tidak sebanding dengan anak buah Donghon.
"LUHAN!"
Dan hal yang ditakutkannya mungkin terjadi saat matanya bertatapan langsung dengan Donghon yang kini menyeringai menatapnya dari lantai dua rumah milik kedua orang tuanya,
"JANGAN BIARKAN MEREKA LOLOS!"
"Hyung cepat masuk!"
Taeyong membawa Luhan ke dalam mobil, menjalankan secepat kilat mobil milik Luhan dengan dua mobil lain mengejar di belakang
"TAEYONG AWAS!"
Remaja itu membanting stir saat menerobos lampu merah, dia juga sengaja membawa dua mobil yang mengikutinya hingga entah darimana Donghon juga sudah terlihat dan terus menembakan senjata ke mobil mereka.
"HYUNG MENUNDUK!"
Luhan terkejut saat bagian belakang mobilnya sudah ditargetkan Donghon, membuat Taeyong berteriak "AMBIL ALIH KEMUDI." Dan mereka bertukar dengan cara mengerikan sebelum Taeyong mulai membalas tembakan Donghon pada mobil mereka.
"Hyung masuk kedalam gang itu."
Luhan menukik tajam, dia menyusuri gang kecil yang tak layak dilewati mobil namun bisa membuatnya aman sementara, jadilah mereka saling mengejar hingga diujung jalan besar Luhan merasa mobilnya ditabrak kuat hingga membuat kepalanya membentur kencang kemudi mobil sementara mobilnya terus berputar hingga akhirnya berhenti saat menabrak pembatas jalan.
"Tae-…taeyonga…"
Hal terakhir yang dilihat Luhan adalah Taeyong tak sadarkan diri, sejujurnya dia juga tidak bisa lebih lama sadar hingga samar dia bisa melihat seseorang yang menabraknya keluar dari mobil diikuti mobil Donghon yang berhenti tepat di belakang mobilnya.
"KERJA BAGUS YOON DOOJOON, KAU MEMANG SELALU MENGECEWAKAN AKU TAPI TERUS MEMBUATKU KAGUM!"
"hyung? Kenapa?"
Setelahnya Luhan tak sadarkan diri, entah apa yang akan terjadi padanya setelah ini tapi hal terakhir yang dilihat Luhan adalah Doojoon yang datang menghampirinya dan nama Sehun yang terlihat di layar ponselnya.
"Sehunna…."
"Keluarkan dia dan bawa dia ke markas, kita akan menyiksa bajingan kecil itu sebelum membunuhnya!"
Doojoon merasa lega karena tabrakan yang dibuatnya hanya membuat Luhan dan Taeyong tak sadarkan diri, tak ada luka serius saat dia meriksa denyut nadi kedua adiknya hingga membuatnya tersenyum sebelum menatap Donghon meremehkan.
"Kenapa bukan kau saja yang mati malam ini?"
"Mwo?"
Doojoon menyeringai, tatapannya kacau menatap pada Donghon, dia juga tak ragu mengokang senjata miliknya walau tahu sepuluh anak buah Donghon sudah mengarahkan senjata ke arahnya dan dia tidak peduli.
"Apa yang kau lakukan?"
"mmhh…Menghianatimu, mungkin?"
"BAJINGAN! APA KAU INGIN BERNASIB SAMA DENGAN SEUNGHYUN!"
Doojoon sedikit terkejut namun rasanya memang inilah yang harus terjadi padanya dan Seunghyun untuk menebus dosa "Jadi kau sudah membunuh Seunghyun?"
"YA! DAN KAU TIDAK AKAN PERNAH MENANG MELAWANKU!"
"Kau benar."
Ckrek!
Doojoon mengokang senjatanya, mengarahkannya tepat pada Donghoon sebelum menyeringai mengatakan "Aku memang tidak akan pernah menang melawanmu, sayangnya bukan aku lawanmu malam ini, tapi dia."
Tak lama terlihat lebih dari dua belas mobil hitam berhenti mengelilingi Donghon dan Doojoon, memberikan ekspresi yang berbeda dimana Doojoon terlihat puas sementara Donghon terpaksa menahan takut tatkala melihat Taecyeon dan seluruh anak buahnya datang lengkap dengan senjata ditangan mereka.
"Kau-….."
"Bukankah sudah pernah kuperingatkan, aku tidak akan menggenggumu lagi jika kau berhenti mengejar Luhan! tapi apa yang kau lakukan? Kau bahkan membuatnya tak sadarkan diri?"
"JANGAN IKUT CAMPUR MASALAHKU!"
"Jika itu berkaitan dengan Luhan, aku akan ikut campur tangan, dan Doojoon sudah membuat keputusan benar dengan menghubungiku." Katanya mengerling Doojoon lalu memberi perintah "Selain bajingan tua itu, bunuh mereka semua."
Dan dalam sekejap, baku tembak terjadi, tapi mengingat jumlah Donghon tidak sebanding dengan Taecyeon maka dalam sekejap pula anak buahnya berjatuhan menyisakan hanya dirinya, Doojoon dan Taecyeon saat ini.
"HA HA HA…BUNUH AKU! CEPAT BUNUH AKU SEBELUM AKU MEMBUNUH KALIAN! BUNUH AKU SEKARANG!"
Donghon sudah bersiap mati, namun sayangnya mati terlalu baik untuknya karena sepertinya Doojoon memiliki rencana lain dengan bajingan yang sudah menjadikannya monster seperti saat ini.
"Pergilah, bawa Luhan dan adikku kerumah sakit, biar aku yang mengurusnya."
Tanpa banyak bertanya, Taecyeon membuka pintu mobil Luhan, membuat pria cantik yang masih dikaguminya kedalam dekapan sementara Taeyong dibawa anak buahnya dan bersama mereka meninggalkan Doojoon dengan Donghoon.
"KEMANA KAU MEMBAWANYA PERGI? CEPAT BUNUH AKU!"
Tentu saja percuma karena saat ini mobil Taecyeon dan anak buahnya sudah pergi menjauh menyisakan dirinya dengan pria favorit yang selalu membuatnya bangga namun terus menghianatinya "Lalu apa rencanamu selanjutnya? Apa kau ingin membunuhku."
"Tidak, aku ingin menghukum kita berdua."
"Apa maksudmu?"
Tak lama terdengar suara sirine polisi, Donghon panik namun tak bisa pergi kemanapun karena dalam sekejap polisi sudah datang mengelilinginya sementara Doojoon tersenyum pasrah mengatakan "Mereka maksudku."
"KO DONGHOON ANGKAT TANGANMU!"
"sial! APA YANG KAU LAKUKAN? JIKA AKU MENDEKAM DI PENJARA KAU JUGA AKAN MENDEKAM DISANA!"
"ara…."
"LEPAS! LEPASKAN AKU! YOON DOOJOON BAJINGAN….KAU BENAR-BENAR BAJINGAN!"
Doojoon hanya tersenyum melihat keadilan akhirnya dia lakukan, dia juga tidak takut tentang apapun yang akan terjadi padanya kelak dan hanya membiarkan satu orang polisi datang menghampirinya.
"Kau siap?"
Menyerahkan senjata dan kedua tangannya, Doojoon mengangguk "Hukum aku seberat-beratnya." Katanya pasrah saat borgol itu melingkar di kedua tangannya, dia pun hanya mengikuti kemana polisi membawanya dan berharap bisa membayar seluruh dosa mengerikan yang telah dibuatnya selama ini, pada Luhan terutama.
Semoga….
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu…
.
.
BLAM..!
Suara pintu kembali ditutup kencang, kali ini menampilkan Sehun yang luar biasa cemas dan panik saat mendapat kabar bahwa istrinya berada di rumah sakit. Wajar jika dia terlihat kacau mengingat orang yang memberitahunya tentang Luhan adalah orang yang sama yang membuat perjanjian dengannya satu minggu yang lalu.
LUHAN….!
Namun bukan Luhan yang dilihatnya, melainkan Taecyeon yang sedang menunggu di luar ruang perawatan dengan tangan terkepal, keduanya bertatapan tajam sementara Sehun masih terengah dan sesak menyadari betapa dia tidak berguna untuk istrinya.
"APA YANG TERJADI?"
Bajingan…
Satu langkah cepat Taecyeon menghampiri Sehun dan memberikannya pukulan telak, Sehun jatuh tersungkur dan Taecyeon kembali memukulnya hingga dalam sekejap keributan terjadi dan teriakan Taecyeon menyadarkan Sehun tentang bagaimana Luhan selalu menderita jika bersamanya.
"SAMPAI KAPAN KAU AKAN TERUS MEMBUATNYA TERLUKA? SAMPAI KAPAN KAU AKAN MEMBUATNYA KESAKITAN HAH!"
"Mwo?"
"Apa kau tahu Donghon mungkin sudah membunuh Luhan jika aku tidak datang? Sampai kapan kau akan mempertahankan seseorang yang tak bisa kau lindungi? Hanya—HANYA BERIKAN LUHAN PADAKU DAN AKU AKAN MENJAGANYA, MELINDUNGINYA!"
Taecyeon kembali memukuli Sehun sementara Sehun hanya diam meresapi setiap ucapan Taecyeon. Dia benar bahwa dirinya tak berguna, dia juga benar selama mereka saling mengenal mungkin hanya rasa sakit yang bisa diberikannya pada Luhan.
Dan malam ini, entah sudah keberapa kalinya Sehun membiarkan Luhan terluka tanpa pengawasannya, membuat rasa pukulan Taecyeon di wajahnya tidak bisa mengalahkan rasa sakit di hatinya.
Dia terus membiarkan Taecyeon memukulinya hingga kalimat itu akhirnya terucap "Baiklah."
Satu kepalan terhenti, Taecyeon berharap lebih dan benar saja Sehun mengatakannya "Aku akan meninggalkan Luhan, hanya biarkan aku melihatnya untuk terakhir kali."
"mwo?"
"Kau mendengarnya." Sehun kacau, dia berjolan gontai ke ruangan tempat Luhan dirawat, duduk disana dengan kepala tertunduk untuk mengatakan sekali lagi, dengan hati menyayat luka didalam sana "Aku akan meninggalkan Luhan."
Hal itu cukup membuat Taecyeon terkejut namun menggeram marah hingga akhirnya dia pergi meninggalkan Sehun tak menyangka bahwa semudah itu menggoyahkan rasa percaya diri bajingan yang begitu dicintai Luhan.
"sial!"
"Aku tidak pantas bersamamu, aku tidak berguna."
Sehun pun tenggelam dalam pikirannya sendiri tanpa tahu hal yang akan dilakukannya akan membuat tak hanya dirinya tapi Luhan menderita karena lagi-lagi mereka membuat keputusan sepihak yang hanya akan menyakiti diri mereka masing-masing.
.
.
.
"rrhh..Sehun…"
Dibawah alam sadarnya Luhan tetap memanggil Sehun, lalu tak lama terdengar suara familiar lain yang memanggil lembut namanya "Luhan, Lu!" membuat Luhan perlahan membuka matanya untuk menemukan Baekhyun yang terlihat lega melihatnya sadarkan diri.
"Baek."
"Hey, syukurlah. Apa yang kau rasakan? Dimana kau merasa sakit?"
"Dimana Taeyong?"
"Dia sudah menjalani perawatan."
"haah~ Syukurlah, lalu siapa yang membawaku ke rumah sakit? Apa Doojoon?"
"Bukan."
"Lalu siapa?"
"Taecyeon."
"Taecyeon? Bagaimana bisa?"
"entahlah, hey, apa kau yakin tidak merasa sakit?"
"Kepalaku sakit."
"Wajar jika kau merasa sakit, kepalamu terbentur cukup keras."
"Aku tidak kehilangan ingatan lagi kan?" katanya mencoba membuat lelucon dibalas cibiran Baekhyun "Beruntung jika ingatanmu yang hilang bukan bayimu!"
"huh? Apa yang kau bicarakan?"
Luhan berusaha berbaring di tempat tidur, bertanya hal yang dibicarakan Baekhyun hingga sahabatnya menatap jengah dan kesal padanya "Apa kau yakin tidak merasakan apapun?"
"Merasakan apa?"
"ayolah! Apa benar kau seorang dokter." katanya tak sabar lalu memberikan hasil lab yang diketahui Luhan adalah usg "Kau lihat? Kau sedang mengandung dan sudah memasuki usia lima minggu. Apa kau tidak merasakannya?"
Mata Luhan melebar sempurna, tangannya gemetar saat memegang hasil usg milikya hingga sekali lagi dia berkedip untuk bertanya memastikan "Baek, apa kau yakin ini milikku?"
"YA! itu milikmu, Perawat Kim yang menemukan detak lain didalam tubuhmu, kami memutuskan untuk melakukan usg dan hasilnya kau sedang mengandung dan usia kandunganmu sudah cukup kuat untuk dirasakan!"
Luhan berkedip lagi, tak menyangka kehamilan keduanya kali ini lebih bersahabat sampai dia tidak merasakan apapun, tangannya pun dibawa untuk mengusap perut hingga refleks dia berteriak "BAEKIE AKU HAMIL! AKU HAMIL!"
Luhan benar-benar tak bisa mengontrol diri, bahkan saat dia dalam kondisi lemas dia tetap memiliki tenaga untuk berteriak dan membuat Baekhyun tertawa haru memeluk sahabatnya "Bodoh, aku tahu. Beruntung kau tidak mengalami luka serius, beritahu Sehun secepatnya, dia terlihat sangat ketakutan diluar sana."
"eoh! Panggilkan Sehun untukku!"
Baekhyun pun mengangguk, dia kemudian meninggalkan Luhan yang sedang kembali bertingkah lemas dan menyembunyikan foto usg nya dibawah bantal, membuat Baekhyun terkekeh hingga tak lama sosok suaminya terlihat dan benar saja Sehunnya terlihat sangat kacau hanya karena dirinya tak sadarkan diri.
Luhan pun tak lagi berniat untuk bertingkah lemas, dia ingin mengeluarkan hasil usg namun tubuh Sehun tiba-tiba memeluknya erat hingga mengganggu pergerakannya "Se-Sehun."
"Sudah kukatakan jangan terluka lagi, tapi kenapa kau terus menerus terluka sayang."
"Aku tidak terluka, aku hanya terbentur dan sekarang baik-baik saja." katanya meyakinkan membuat tatapan Sehun dipenuhi rasa bersalah hingga membuat Luhan cemas setengah mati.
"Sehun jangan merasa bersalah, aku baik-baik saja."
"Kau terluka dan itu salahku."
"Sehun…."
"….."
Sehun hanya tersenyum lirih, diapun menatap Luhan seolah ini adalah kali terakhir dia bisa menatapnya dan itu membuat Luhan benci saat melihat Sehun bertingkah seperti ini, dia pun berniat memberikan hasil usg miliknya dan memberitahu Sehun bahagia
"SEHUN AKU-…."
"Tidurlah, aku akan datang esok lagi."
"Sehun kau mau kemana?"
Mencium kening Luhan cukup lama, Sehun menjawab getir pertanyaan istrinya "Aku pergi sebentar, istirahatlah sayang. Pikiranku kacau."
Dan Luhan, entah mengapa berat melepas kepergian Sehun malam ini, dia hanya ingin bersama Sehun merayakan kebahagiaan mereka namun rupanya Sehun cukup tertekan atas apa yang terjadi padanya.
Jadilah dia memberi waktu pada Sehun, membiarkan suaminya tersenyum sebelum menutup pintu tanpa tahu mungkin itu menjadi senyum terakhir yang dilihat Luhan dari suaminya.
"Datanglah tepat waktu, aku memiliki kabar gembira untukmu."
"araseo….Sampai nanti sayang."
Tak lama pintu tertutup, Luhan memiliki perasaan buruk saat pintu itu tertutup, tapi perasaan itu hilang dalam sekejap saat tahu dirinya kembali mengandung darah daging suaminya, membuatnya bisa terlelap dengan bahagia dan tak sabar untuk memberitahu kabar gembira ini pada Sehun.
.
.
.
.
.
Keesokan pagi
.
"Aku yang akan mengurus Taeyong kau hanya perlu istirahat setelah kembali kerumah."
"Tapi dimana Sehun?"
"Pagi tadi dia masih bersiap, mungkin sedang mengurus sesuatu sebelum kembali kesini."
"Kalau begitu aku kembali saja kerumah, aku akan memberitahu Sehun dirumah."
Baekhyun yang sedang membereskan perlengkapan Luhan menatap tak yakin pada sahabatnya "Kau yakin?"
"Tentu saja, pesankan taksi untukku dan jangan beritahu siapapun sampai malam nanti."
"Kenapa?"
"Aku ingin membuat pengumuman besar."
Baekhyun mengangguk dan menyetujui kebahagiaan Luhan yang berlebihan mengingat dia dan Sehun menantikan cukup panjang kehadiran buah hati mereka.
"Baiklah, akan kuantar sampai ke lobi."
"Oke."
Dan di sepanjang perjalanan menuju lobi, Luhan bisa melihat banyak pemberitaan tentang Donghon dan Doojoon, keduanya sudah resmi menjadi tahanan negara yang berkas hukumnya akan dilimpahkan ke kejaksaan kurang dari tiga bulan.
Dia juga mendengar kematian Seunghyun dan itu cukup membuatnya tertekan mengingat kali terakhir mereka bertemu adalah seperti pertama saat Seunghyun dikenalkan oleh ayahnya.
"Lu, kau baik-baik saja?"
Luhan ingin menghapus ingatan mengerikan malam tadi, tapi banyak hal yang terjadi dan jujur itu membuatnya tertekan, jadi jika Baekhyun bertanya apa dia baik-baik saja maka Luhan akan menjawab "Aku gugup, tapi aku akan baik-baik saja." katanya berniat mengunjungi Doojoon dan mencaritahu dimana Seunghyun dimakamkan bersama Sehun setelah dia memberi kabar gembira tentang kehamilannya pada Sehun.
"Aku pulang."
"Hubungi aku jika sampai dirumah."
"Oke."
"ah ya, Jiwon dan Taeoh ada dirumah kedua orang tuaku dan Kyungsoo, jadi mungkin kau sendiri dirumah."
"Tidak apa, ayo pergi paman, bye Baek."
"Sampai nanti."
Sementara taksinya berjalan pergi menuju kerumahnya, Luhan tak berhenti menghubungi Sehun namun sepertinya Sehun tidak membawa ponselnya dalam keadaan hidup. Membuat Luhan harus menarik dalam nafas karena lagi-lagi dia merasa hatinya sakit tanpa alasan yang tak bisa dijelaskannya.
.
.
.
.
.
.
.
Klik….
.
"Sehun aku pulang."
"…"
Sepertinya benar Sehun memang sedang mengurus sesuatu, rumahnya sepi dan tak ada yang menjawab, jadilah Luhan berjalan menuju kamarnya sebelum berbaring sejenak disana.
Dia masih menghubungi Sehun namun ponselnya tak kunjung aktif, bohong jika dia tidak kesal hingga akhirnya dia mengeluarkan hasil usg dan menciuminya lagi sebagai penghibur hati.
"Kita akan beritahu papa sebentar lagi." katanya berniat meletakkan hasil usg didalam lemari pakaian sampai tak sengaja melihat box kecil berwarna merah disana.
Buru-buru Luhan membukanya dan takjub saat melihat cincin pernikahannya yang sudah dikubur bersama dengan jasad tubuh orang lain kembali dibuat Sehun dan diletakkan di kamarnya.
Luhan pun segera memakainya, mengira ini adalah kejutan dari Sehun dan berniat membaca pesan yang dipikirnya romantis sebelum menjadi tragedi saat dia membacanya.
Maafkan aku Lu, sepertinya cincin pernikahan kita adalah hal terakhir yang bisa aku kembalikan padamu, aku tidak ingin melakukan ini tapi aku harus pergi, hiduplah berbahagia meski itu bukan denganku.
DEG!
Luhan lemas, tangannya gemetar dan tubuhnya seketika jatuh duduk di lantai, dia mencoba untuk menenangkan diri, mengatakan ini hanya lelucon dari suaminya sampai dia menyadari bahwa seluruh pakaian Sehun tidak ada di lemari pakaian mereka.
Luhan benar-benar kacau, perutnya mendadak kram karena ketakutannya sangat berlebihan, ini bahkan lebih mengerikan dari malam tadi saat Donghon berusaha membunuhnya, membuat Luhan kehilangan akal sehat dan mulai memeriksa seluruh barang Sehun.
"Sehun…."
Dia membuka ruang kerja Sehun dan tak ada satupun yang tersisa, itu seperti hanya membenarkan bahwa Sehun sudah pergi meninggalkannya.
"tidak…"
Luhan berlari lagi, kali ini dia membuka laci kerja Sehun dan menemukan ponsel Sehun tergeletak disana dengan satu memo bertuliskan Maaf yang menandakan bahwa sepertinya Sehun benar-benar pergi, meninggalkannya disaat bayi mereka sedang tumbuh didalam perutnya.
"Bajingan, bagaimana bisa kau pergi meninggalkan aku dengan bayimu? Bagaimana bisa kau meninggalkan kami." Luhan terduduk lemas mencengkram ponsel Sehun, seluruh perasaan buruknya kini terjawab dan Luhan sedang menikmati kebodohannya dari ucapan serius Sehun yang mengatakan dia tidak bisa melihatnya terluka lagi.
"Sudah kubilang aku tidak terluka, ini hanya benturan kecil, jadi-….hks, Sehun aku takut, jangan pergi—cepat kembali….SEHUN!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Tiga bulan kemudian….
.
.
.
"KIM TAEOH CEPAT BANGUN SAYANG!"
Anak lelaki yang kemarin baru saja merayakan ulang tahun keempatnya itu jujur selalu terganggu dengan teriakan yang terus memanggilnya setiap pagi, suara teriakan yang berasal dari dapur itu bukan milik ibunya, tapi dari seseorang yang kerap dipanggilnya Lulu atau Mama Lu sesuai dari permintaan si pemilik nama.
"TAEOH…."
Dan katakan usianya saja yang baru berusia empat tahun, tapi sesungguhnya Taeoh sudah sangat ahli jika harus berpura-pura tidak dengar atau tidur sepanjang hari walau gempa terjadi, dia pun lebih memilih menarik selimut hangatnya dan membiarkan Lulunya berteriak terus menerus hingga hal yang ditakutkannya terjadi.
Klik….
Pintu terbuka dan langsung memancarkan aura khas Luhan yang untuk Taeoh sangat mengerikan, bukan karena Lulunya akan memarahi atau menarik telinganya tapi seperti biasa, selama tiga bulan terakhir Lulunya akan melakukan hal yang tak bisa dielaknya sebagai anak kecil yang teraniaya.
"Taeoya belum mau bangun?"
Mata Taeoh terpejam erat, dalam hatinya dia terus bergumam tidak dengar, tidak dengar, sampai Luhan duduk di samping tempat tidurnya dan mulai mengeluarkan jurus andalannya
"hks…Kalau Taeoh tidak berangkat kesekolah adik bayi bisa sedih, kasihan adik bayi."
Dan inilah jurus andalan Luhan yang dimaksud Taeoh, Lulunya akan menangis dan merengek mengatasnamakan adik bayi yang sedang ada didalam perut Lulu, anak empat tahun itu bisa saja mengabaikan rengekan Lulunya tapi malam nanti saat ibunya pulang, Lulu akan merengek pada ibunya dan jatah roboca poli akan dikurangi secara tidak berperkemanusiaan oleh sang ibu.
"Jadi Taeoh tidak mau bangun dan berangkat ke taman bermain? Baiklah, tidak apa." katanya memulai akting dan tak lama Taeoh bisa merasakan tangan Lulunya sedang mengusap perut seraya mengatakan "Jangan sedih adik bayi, Taeoh tidak sayang pada kita, hkss…"
Dia pun berjalan pergi, isakannya semakin kencang hingga membuat Taeoh terpaksa membuka selimut dan berteriak "ALASEO! TAEOH AKAN PELGI KE TAMAN BELMAIN!" katanya berlari mendului Luhan sebelum
BLAM!
Anak empat tahun itu menutup kencang pintu kamar mandi hingga membuat Luhan terkekeh gemas melihatnya.
"haah~ Kau benar-benar putra Kim Jongin, taeoya…"
Luhan mengakui kesamaan Kai dan Taeoh adalah keduanya yang sulit diberitahu, terkadang dia merasa iba pada Kyungsoo yang memiliki kesabaran super extra menghadapi suami dan putranya.
Tapi keduanya juga mempunyai sisi lembut dimana mereka akan mengalah pada keadaan jika itu membuat orang yang mereka sayangi bersedih. Berkali-kali Luhan memberitahu trik nya pada Kyungsoo namun diabaikan walau kesuksesannya seratus persen, seperti saat ini.
Drrtt…drrttt..
Ponselnya bergetar, Luhan yang kini sedang menyiapkan pakaian untuk Taeoh tersenyum melihat nama ibu dari Taeoh itu memanggilnya, dia pun menggeser slide untuk mendapati suara Kyungsoo yang terdengar sibuk.
"Apa Taeoh berulah lagi?"
"Tidak Soo, aku sudah bilang gunakan trik berpura-pura menderita, dia tidak akan tega."
"Aku rasa itu hanya berlaku untukmu, sssh…. Aku rasa Taeoh bukan putraku tapi putramu."
"Oke, dia putraku."
"ish!"
"Ha ha ha…Ada apa? kau cemas padaku atau pada Taeoh?"
Luhan menyadari suara Kyungsoo tiba-tiba diam, lalu tak lama sahabatnya itu mengatakan "Padamu." hingga Luhan berhenti membuat gerakan menyiapkan baju Taeoh dan perlahan duduk mencari kursi seraya mengusap perutnya yang mulai terlihat buncit seiring berlalu harinya.
"Ada apa lagi?"
"Apa kau yakin tidak ingin bertemu dengan Sehun? kita sudah tahu dimana dirinya."
Memang sejak tiga bulan lalu alasan Luhan bertahan hidup dengan baik dan selalu tersenyum hanya karena bayi Sehun sedang ada di dalam perutnya, dia tidak ingin pertumbuhan bayinya terganggu karena dirinya merasa tertekan.
Penyebanya tentu saja keputusan sepihak yang dibuat Sehun saat pergi meninggalkannya begitu saja, dia bahkan tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung dan hal itu membuat senyum getir Luhan terlihat setiap kali memikirkan suaminya.
"Bukan tidak ingin menemuinya, aku hanya memberinya waktu lebih lama untuk lari dariku."
"tapi Sehun bahkan belum tahu jika dirinya seorang ayah saat ini."
Luhan menarik dalam nafasnya, menghembuskannya perlahan karena setiap kali mereka membicarakan Sehun perutnya akan terasa kram sebagai bentuk protes dari calon bayi yang ada didalam perutnya saat ini.
"Nanti dia akan tahu, secepatnya Soo, Aku tutup."
Pip!
Luhan mencengkram kuat ponselnya, kepalanya tertunduk dalam dan berusaha untuk tidak memikirkan dan merindukan suaminya terlalu banyak. Cukup baginya mengetahui Sehun baik-baik saja, jadi saat ini lebih baik untuk mereka untuk tidak saling bertemu sementara waktu.
Klik….
"Lulu aku selesai."
Ya, setidaknya Luhan tidak akan pernah merasa kesepian selama dirinya tinggal dengan keempat sahabat serta kedua putranya, hidupnya akan terus dipenuhi hiburan dan rasa bangga melihat bagaimana Taeoh dan Jiwon tumbuh besar di rumah yang sama dengannya.
"aigooo, Taeoh pintar sekali, kemari Lulu akan pakaikan baju."
Layaknya pria biasa, Taeoh bahkan melilitkan handuknya di sekitar pinggangnya yang kecil, membuat Luhan benar-benar gemas karena Taeoh bertingkah terlalu dewasa dari usianya "Nah, sekarang buka handukumu."
"shilheo! Taeoh bisa sendiri, papa bilang sebagai plia dewasa halus bisa pake baju sendili."
"Tapi…."
"Lulu kelual saja!"
"Kim Jongin kau benar-benar berlebihan mendidik putramu."
Antara kesal dan gemas Luhan akhirnya didorong keluar dari kamar putra sulung Jongin dan Kyungsoo membuat hatinya tak rela mengingat putra kecilnya tumbuh terlalu cepat.
"Taeoh biar Lulu yang ganti pakaian-…."
BLAM!
Kini Luhan berhadapan dengan pintu, wajahnya memelas diiringi suara tawa menggemaskan lainnya yang kini duduk di baby walker miliknya "Jiwonna jangan tertawakan Lulu." Katanya memelas lalu menghampiri putra Baekhyun dan Chanyeol yang bulan depan akan berusia satu tahun "Lihat gigimu nak…bilang aaa…"
Berbeda dengan Taeoh yang bersikap dingin, setidaknya Jiwon terlihat seperti Baekhyun yang banyak tertawa, dia bahkan terus membuat Luhan merasa gemas dengan tingkah dan caranya berkomunikasi dengan orang dewasa.
"iiiiiii…."
Lalu terlihat dua gigi yang baru tumbuh dari si bayi sebelas bulan didepannya, Luhan terlalu gemas dan tak bisa menahan diri untuk tidak menggigit si pipi bakpau kesayangannya "Luhan cepat makan lalu minum vitamin dan ayolah! Berhenti menggigit pipi Jiwon."
Yang memperingatkan tentu saja ibu dari Jiwon, pria cantik yang juga merupakan dokter spesialis bedah itu rupanya sengaja tidak mengambil banyak jadwal praktek, alasannya tentu saja karena Luhan atau lebih tepatnya karena dia benar-benar marah pada suami Luhan yang sialnya adalah temannya sejak kecil.
"Aku akan makan dengan Taeoh."
"Kau lebih dulu, Taeoh sudah kubuatkan bekal." Katanya tegas membuat Luhan tak memiliki pilihan lain selain mencibir pada Baekhyun "Lihat ibumu dia menyebalkan."
"he he he…."
"Jiwon sangat menggemaskan." Katanya mencium telak bibir Jiwon sebelum beralih ke meja makan dan memakan sarapan super sehat buatan Baekhyun yang hanya terdiri dari sayur bayam, telur rebus serta daging merah setengah matang yang sama sekali tidak mengandung unsur gurih didalamnya.
"Baek…."
"Tidak protes, kau sudah makan steak malam tadi."
Lagi-lagi Luhan tidak memiliki pilihan lain, yang dia lakukan hanya mengangguk pasrah dan mengunyah apapun yang ada di meja. Setidaknya sudah tiga bulan selalu seperti ini, sejak kepergian Sehun entah mengapa Baekhyun menjadi sangat protektif padanya, apapun yang dilakukan Luhan selalu terlihat berbahaya dan salah, apapun yang dia makan selalu terlihat tidak sehat hingga akhirnya Baekhyun mengumumkan bahwa selama masa kehamilan Luhan dia akan bertanggung jawab penuh atas makanan yang dikonsumsi Luhan.
"Baekie…"
Disela malasnya Luhan mengunyah suara Taeoh kembali terdengar, anak balita itu sepertinya kesulitan untuk mengancingkan pakaian tapi enggan dibantu Luhan, dia lebih memilih memanggil Baekhyun dan lihatlah tingkahnya, dengan Luhan dia dingin dan tegas, tapi dengan Baekhyun, Taeoh bersikap layaknya anak seusianya yang gemar merengek dan manja.
"Sudah tampan." Baekhyun mengusak gemas kepala Taeoh sebelum menunjuk kearah dimana Luhan berada "Sekarang pergi ke meja makan dan makan bersama Lulu."
"Oke."
Sedetik yang lalu Luhan bersumpah masih melihat Taeoh tersenyum riang, tapi saat datang mendekatinya wajah menyebalkan itu kembali ditujukan bahkan ketika dia kesulitan naik ke meja makan tapi enggan dibantu oleh dirinya.
"Wae? Apa Taeoh sangat membenci Lulu?"
Menusuk sosisnya dengan garpu, Taeoh menggeleng "aniya, Taeoh akan menikahi Lulu jika Samchoon tidak kunjung pulang setelah adik bayi lahil."
"Taeoh apa? Akan menikahi Lulu?"
"eoh! Pokoknya tidak boleh ada yang menggantikan Samchoon selain Taeoh."
Kali ini Luhan benar-benar gemas hingga rasanya dia tidak tahan untuk tidak menggoda Taeoh "Tapi Lulu tidak menyukai Taeoh."
"Nanti juga Lulu suka."
"Lulu tidak suka pria dingin."
"Samchoon dingin." Katanya berkilah hingga membuat Luhan sadar bahwa seluruh tingkah Taeoh sedang meniru Sehun saat bersikap tegas padanya, hal itu membuat Luhan merasa bersalah karena secara tidak langsung sudah membuat Taeoh mencemaskannya.
"Samchoon pasti kembali, jadi Taeoh tidak perlu menikahi Lulu."
"Oke, tapi kalau Samchoon tidak kembali, Taeoh akan-…."
"Bajingan itu tidak perlu kembali, kau bisa hidup dengan kami selamanya."
"Baek, bicaramu terlalu kasar didepan Taeoh."
Dan lihatlah pria yang kerap memakai eyeliner untuk menegaskan tajam matanya, dia menatap tak suka pada Luhan lalu mencibir "Kalaupun dia kembali kau tidak boleh termakan bujuk rayu darinya, kau dengar? Idiot itu sudah meninggalkanmu dan aku tidak bisa memaafkannya."
"Aku juga pernah meninggalkannya dan dia selalu menungguku, aku rasa tidak adil untuknya jika aku tidak melakukan hal yang sama dan menunggunya datang kembali padaku bukan?"
"Luhan!"
Suara Baekhyun terlalu kencang, membuat Taeoh tersentak sementara Luhan kini sibuk mengusap punggung kecil Taeoh yang yang masih terkejut, hal itu membuat Baekhyun sadar bahwa sebanyak apapun dia meminta Luhan untuk melupakan Sehun hanya akan berakhir pertengkaran karena Luhan bersikeras tetap menunggu kedatangan Sehun sampai kapan pun.
"Maafkan Baekie, dia sedang marah pada Lulu."
"Wae?"
"Tidak tahu, dia selalu marah belakangan ini." katanya menghibur Taeoh hingga membuat Baekhyun diliputi rasa bersalah saat ini "Baiklah terserah padamu, tapi yang jelas jika bajingan itu kembali dia harus berhadapan dulu denganku."
"Baek dia suamiku bukan bajingan."
"Terserah! Dia tetap bajingan untukku."
Luhan terpaksa harus menutup telinga Taeoh saat Baekhyun terus menerus berbicara kasar, membuatnya tak memiliki pilihan lain selain membiarkan Baekhyun mencaci hina suaminya sampai suara bel pintu rumah terdengar berbunyi.
"Siapa yang datang sepagi ini?"
Buru-buru Baekhyun menyudahi acara menyuapi Jiwon saat mendengar suara bel, dia terlihat bahagia seolah tahu siapa yang sedang menekan bel saat ini untuk mengerling Luhan "Tunggu disini, ada pria yang lebih baik untukmu." Katanya melepas apron merah muda dari pinggangnya lalu berlari menuju pintu utama.
"Apa maksud Baeki?" dia bertanya pada Taeoh dibalas gelengan kepala dari si anak empat tahun "Molla."
"Yasudah biarkan saja, habiskan sarapanmu nanti Lulu yang mengantar ke taman bermain hari ini."
"Oke."
Kini Luhan sedikit penasaran dengan tamu yang terlihat berbincang heboh dengan Baekhyun, dari suaranya sepertinya Luhan familiar, tapi dia enggan menebak hingga sosok itu benar terlihat dan sedang tersenyum ke arahnya.
"Luhan, Taecyeon sudah datang untuk mengantarmu ke rumah sakit."
"yang benar saja!"
Memang selama tiga bulan ini Taecyeon terus menerus datang kepadanya, dia seolah tahu bahwa Sehun sedang pergi dan berusaha untuk mengambil lagi tempat di hatinya, kali ini bukan sebagai Rein tapi benar-benar sebagai Luhan.
Lucunya sudah ditegaskan sebanyak apapun dia akan tetap kembali, dia juga memilih cara lain dengan mendekati Baekhyun dan sepertinya berhasil karena Baekhyun selalu bersikap hangat dan lembut pada pria yang baru dikenalnya melalui Jinyoung.
"Taec sungguh kau tidak perlu terus menerus datang."
Luhan menyuarakan rasa terganggunya tapi kemudian Baekhyun menjadi pelindung dari pria yang pernah membuatnya dan Sehun saling tak mengenal cukup lama "Setidaknya dia tidak pergi meninggalkanmu Lu!"
"Harus berapa kali kukatakan, alasan Sehun pergi adalah karena Taecyeon mengancamnya!"
"Dan harus berapa kali pula kukatakan, jika Sehun benar-benar mencintaimu dia tidak akan terhasut dan tetap ada di sisimu, di masa sulit tiga semester awal kehamilanmu! Bukan melarikan diri seperti seorang pengecut yang-…."
"BAEK!—rhh…"
Baik Taecyeon maupun Baekhyun berlari menghampiri Luhan, selalu seperti ini jika emosi Luhan tidak stabil, dia akan mengalami kram perut yang hebat atau paling buruk sedikit pendarahan seperti kali pertama dia mengetahui alasan Sehun pergi adalah karena Taecyeon menghasutnya.
"Luhan kau baik-baik saja? / Atur nafasmu Lu."
Luhan mendengarkan Baekhyun dan tetap merespon Taecyeon, dia juga mencengkram lengan Taecyeon hingga dirasa kram nya sedikit lebih baik dan dia bisa bernafas dengan normal "aku, Aku sudah lebih baik."
Keringatnya mulai terlihat namun rupanya tak mengurangi rasa kesalnya melihat bahwa Taecyeon yang sedang menenangkannya bukan Sehun dan dia benci pada kenyataan itu "Pergilah Taec, kumohon."
Taecyeon memasang wajah sendu, begitupula Baekhyun yang terlihat menyesal hingga akhirnya Taecyeon mengangguk dan perlahan melepas tangan Luhan dari lengannya "Baiklah, aku akan pergi."
"Lu…."
Dan entah apa yang ada di pikiran Baekhyun, Luhan juga tidak mengerti alasan sahabatnya menangis seperti dia baru melakukan suatu kejahatan, membuat Luhan seperti tidak memiliki pilihan lain dan berakhir dengan menahan tangan Taecyeon yang hampir menjauh pergi darinya "Aku rasa aku tidak bisa menyetir hari ini, kau bisa mengantarku untuk terakhir kali."
Tersenyum, Taecyeon membantu Luhan berdiri dan mulai mengerling Taeoh yang menatap tak suka padanya "Baiklah, ayo pergi jagoan."
Taeoh mendengus kesal sebelum mengambil kasar tasnya dan memekik "TAEOH DUDUK DI DEPAN! LULU DIBELAKANG!"
Yang mana membuat Baekhyun merasa tak enak hati karena sudah menyakiti perasaan Taeoh dan membuat Luhan terpaksa menerima permintaannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Mama Kyungsoo akan menjemput setelah selesai, sekarang Taeoh boleh bermain dengan teman-teman."
"Oke. Jangan terlalu dengan ahjusii." Katanya protes dan Luhan berjanji "Setelah ini Lulu akan pulang."
"Oke."
"Kiss Lulu."
Taeoh mencium kedua pipi serta bibir Luhan sebelum berlari masuk kedalam taman bermain, membuat baik Luhan maupun Taecyeon tersenyum gemas sampai Luhan akhirnya menatap Taecyeon sedikit tak nyaman.
"Aku rasa aku sudah bisa menyetir sendiri, jadi kau bisa pergi, aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Apa kau ingin pergi ke suatu tempat?"
"hmmh…Sepertinya."
"Kalau begitu biarkan supirku mengantarmu."
"Tidak perlu."
Luhan bersikeras membawa mobilnya sendiri namun sepertinya Taecyeon juga bersikeras memohon agar Luhan tidak melakukannya "Kumohon, aku akan meninggalkanmu sendiri jika kau bersama dengan supirku."
Merasa tak memiliki pilihan lain, Luhan akhirnya mengangguk dan terpaksa menyetujui keinginan Taecyeon "Baiklah." Membuat Taecyeon memanggil supir pribadinya dan membukakan pintu mobil untuk Luhan.
"Jika terjadi sesuatu cepat hubungi aku."
"Taec kau bukan Sehun, jadi jangan bertingkah seperti kau suamiku." Katanya tegas membuat raut tertohok di wajah Taecyeon begitu terlihat, pria tampan itu pun mengangguk sampai akhirnya menjawab "Baiklah." Sebelum menutup pintu dan membiarkan Luhan pergi dengan pengawasannya.
"Baiklah, kemana kita akan pergi dokter Oh."
Luhan tersenyum simpul mendengar sebutan dokter Oh untuknya karena dua hal. Pertama dia bukanlah seorang dokter aktif, kedua dia tidak yakin dirinya masih menyandang marga suaminya atau hanya akan kembali menjadi Xi Luhan.
Entahlah dia tidak ingin terlalu memikirkannya demi sang buah hati, jadilah dia hanya menatap ke jendela untuk mengatakan "Pyeonchang." Sebagai tujuannya saat ini.
.
.
.
.
.
Dan setidaknya butuh waktu hampir empat jam untuk berada di Pyeonchang dengan berkendara mobil, beruntung Taecyeon meminjamkan supirnya karena jika tidak mungkin perlu dua hari untuk Luhan sampai disana jika menyetir seorang diri.
"Kita sampai dokter Oh, kemana tempat yang ingin kau tuju di Pyeonchang."
Luhan tertegun sejenak, matanya tak kunjung bisa terpejam selama di dalam perjalanan, dia terlalu gugup saat ini, matanya terus melihat ke ponsel lalu memberikan nama sebuah tempat "Kafe'Lu." yang mana merupakan kafe yang didirikan suaminya tiga bulan yang lalu.
"Bisa beri aku alamat lengkapnya?"
Luhan pun menyerahkan ponselnya sebelum akhirnya mobil Taecyeon kembali berjalan dan membuatnya sangat gugup karena setelah tiga bulan ini akan menjadi kali pertama dirinya bertemu dengan suami yang begitu dirindukannya.
"Kita sampai."
"Aku tahu."
Luhan hanya memandang dari jauh, kafe itu memang kecil tapi ramai pengunjung karena menurut kabar yang diterima Luhan, Myungsoo dan Taehyung juga bekerja disana membantu Sehun.
Jadi rasanya wajar jika kafe yang menggunakan inisial namanya dengan warna merah mendominasi ramai pengunjung karena dilayani oleh tiga pria tampan yang akan membuat siapapun datang berkunjung sekalipun mereka membenci kopi.
"Selamat datang kembali nona cantik."
"L…"
Luhan tersenyum melihat temannya disana, ingin rasanya dia menyapa namun diurungkannya karena kemungkinan Luhan akan bertemu Sehun sangat besar.
"Apa dia teman anda?"
"hmm…."
"Pantas saja kafe kecil itu ramai. Sepertinya pemilik kafe berparas tampan."
Luhan terkekeh mendengar celotehan supir Taecyeon untuk membenarkan "Kau benar, mereka tiga pria tampan yang bekerja di kafe kecil itu."
Entah apa yang dilakukan kedua pemilik club tersebut hingga berakhir membantu Sehun, tapi justru hal itu membuat Luhan lega karena setidaknya Sehun tidak menghabiskan waktunya menadi Sehun yang dulu saat dia tahu dirinya tiada.
"haaah~"
Dia pun menarik dalam nafas sebelum menginstruksikan "Ayo kembali ke Seoul paman."
"huh? Anda tidak masuk kedalam?"
"Tidak, aku akan masuk setelah vonis hukuman Donghon dibacakan, sekarang bukan waktu yang tepat."
Kai dan Chanyeol memang sudah menemukan Sehun sejak dua minggu yang lalu, tapi untuk Luhan rasanya terlalu cepat jika dia tiba-tiba datang dan menghancurkan ketenangan Sehun, jadilah dia menahan diri sekuat yang dia bisa hingga nanti vonis hukuman untuk Donghon dibacakan minggu depan.
"Baiklah, mohon agar anda tidur selama perjalanan anda pulang."
"Wae?"
"Ini akan menjadi laporanku pada Presdir Ok, jadi pastikan anda tertidur dengan nyaman."
Luhan terkekeh dan mengangguk untuk menyetujui "Baiklah, ayo pergi darisini." Katanya berniat untuk bersandar sampai dirasa dia melihat sosok yang sedari tadi dicarinya namun tak kunjung keluar dari kafe.
"Paman tunggu."
Luhan membuka kacamata hitamnya saat melihat sosok tampan yang memakai apron merah dengan kemeja putih digulung hingga lengan adalah sosok yang sama yang membuatnya tak bisa tidur selama perjalanan datang ke Pyeongchan, air matanya bahkan terjatuh cepat karena rasa rindunya terobati melihat suaminya hidup dengan baik tanpa kekurangan satu apapun.
"Dokter Oh apa anda baik-baik saja?"
Mengabaikan pertanyaan sang paman, Luhan lebih memilih mengusap perutnya seraya mempertemukan untuk kali pertama ayah dan anak yang terpisah karena dirinya "Itu Papa nak." Katanya berbisik dan tak lama mengambil banyak nafas memperhatikan Sehun yang sedang berbicara dengan pelanggan wanita.
Dia mengamati tiap gerak-gerik suamunya sukup lama hingga dia merasa puas dan memberitahu supir Taecyeon "Ayo paman kita pergi."
Mobil pun siap berjalan, Luhan tetap memperhatikan Sehun sampai sesuatu membuatnya terkejut dan menggeram marah tatkala pelanggan wanita itu mencium pipi suaminya namun Sehun hanya diam tanpa terlihat terganggu sedikitpun.
"Whoa….Paman, aku rasa kita harus mencari penginapan di Pyeongchan malam ini."
"Waeyo?"
Luhan memakai kacamata hitamnya lalu bersiap turun dari mobil sebelum memberitahu "Karena tiba-tiba aku ingin menjambak rambut seseorang." Katanya geram dan memutuskan untuk bertemu dengan Sehun dan tidak mempedulikan bagaimana reaksi Sehun saat melihatnya.
Tak lupa dia menyembunyikan perut buncitnya dibalik mantel besar dan tebal milik Jongin sebelum berjalan mendekati dua orang yang sepertinya cukup akrab jika hanya dikatakan sebagai pelanggan dan pemilik kafe.
"Maaf Sehun tapi kau sangat tampan."
"Terimakasih, tapi aku sudah menikah, jadi kau tidak boleh melakukannya lagi nona."
"Tapi dua temanmu bilang kau akan bercerai."
"pastikan mama membunuh L dan V nak." Katanya menggeram mendengar percakapan Sehun dan wanita binal itu hingga dalam jarak yang bisa dijangkau Luhan mulai berkata kencang.
"BAGAIAMANA BISA DIA MENCERAIKAN AKU JIKA DIA MASIH SANGAT MEMUJAKU."
Keduanya pun menoleh, untuk Sehun suara khas yang sedang marah itu terdengar familiar, jadi saat dia menoleh dia dibuat sangat terkejut mendapati Luhan benar-benar berada disana, terlihat menakjubkan seperti biasa dan cantik seperti yang diingat Sehun dalam benaknya.
"Luhan…"
"SIAPA KAU?"
"Aku?" Dengan elegan Luhan memperkenalkan dirinya sebagai "Aku Oh Luhan, istri dari bajingan didepanmu."
"Kenapa kau menyebutnya bajingan? Kau sangat tidak sopan!"
Kali ini Luhan menghadap Sehun, membuka kacamata hitam miliknya hingga kedua mata mereka bertemu pandang, melemparkan rasa rindu yang sama, yang begitu membuat sesak hingga Luhan memalingkan wajah sebelum menyeringai untuk menegaskan
"Karena dia memang bajingan, bajingan yang sangat aku cintai."
.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
.
Alesan gue ga ngeluarin spoiler adalah karena gue gamau kena caci hina dari kalian :"" boongdeng biar marah2nya disini pas tau…..yagitu deh…kissss
,
Sampai nanti
