Previous
"Luhan…"
"SIAPA KAU?"
"Aku?" Dengan elegan Luhan membuka kacamata hitamnya untuk memperkenalkan diri sebagai "Aku Oh Luhan, istri dari bajingan didepanmu."
"Kenapa kau menyebutnya bajingan? Kau sangat tidak sopan!"
Kali ini Luhan menghadap Sehun, menahan kuat-kuat rasa rindunya dengan mati-matian memerintahkan isi kepala dan hatinya untuk tidak berlari ke pelukan pria yang begitu dirindukannya.
"Karena dia memang bajingan, namun sialnya, aku masih mencintai bajingan didepanku."
.
Je'Te Veux
.
.
.
Main cast : Lu Han as Xi Luhan
Oh Sehun as Oh Sehun
Rate : T-M
.
.
.
.
.
.
"Hey sebenarnya siapa dirimu? Aku tidak akan membiarkanmu mendekati Sehun apapun alasannya!"
Well, disaat dirinya dan Sehun sedang bertukar pandangan sengit, tiba-tiba suara jelek wanita yang sedang menggoda suaminya kembali terdengar. Hal itu membuat kedua mata cantik Luhan terpejam menahan kesal, hingga satu hembusan nafas yang panjang yang kasar, dia kembali berbalik arah untuk berhadapan langsung dengan wanita pemilik bibir merah yang memakai lipstick murahan dengan rambut pirang sebahu yang sengaja digerai untuk menggoda suaminya.
"Apa kau tuli? Sudah aku bilang istrinya!" katanya tersenyum namun seluruh suara Luhan sangat mengerikan saat menekankan kalimat istrinya dengan mata berkilat seolah dirinya bisa membunuh wanita penggoda didepannya hanya dengan satu tatapan mengerikan miliknya saat ini.
"Tidak mungkin, kupikir istri Sehun adalah seorang pria cantik bukan pria kasar sepertimu yang terlihat—rrhh, GEMUK!"
"Kau-….!"
Disaat yang sama dengan gerakan kaki Luhan melangkah mendekati si wanita yang mengolok tentang fisiknya, gerakan Sehun tak kalah sigap untuk menarik lengan istrinya, dalam kedipan mata pula dia sudah berada di tengah-tengah antara Luhan dan pelanggan tetap di café kecil miliknya untuk menegaskan satu hal.
"Nona Park sebaiknya anda segera pulang." Katanya memperingatkan, berdiri di depan Luhan dan berjaga-jaga jika Luhan bersiap dalam mode menyerang siapapun yang terlihat menggodanya, itu sudah jadi kebiasaan Luhan sejak remaja, jadi Sehun harus mengantisipasi jika tidak ingin kehilangan pelanggan dalam bisnis baru yang sedang digelutinya selama tiga bulan terakhir.
"Tapi dia mengganggumu! Aku harus membuat pria buruk rupa ini pergi dari café milikmu Sehun-ssi!"
"MWO? BURUK RUPA? KAU SUDAN BOSAN HIDUP?"
Dan benar saja, jika bukan karena tubuh Sehun yang menghalangi mungkin Luhan sudah menjambak wanita di depannya, tak tanggung-tanggung dia juga berniat mematahka heels super tinggi yang dikenakan wanita pirang itu untuk menghancurkan polesan makeup di wajahnya.
"MINGGIR SEHUN! BIAR AKU ACAK-ACAK WAJAHNYA!"
"Lu tenanglah…."
"TENANG BAGAIMANA? DIA MENGGODAMU DAN MENGATAKAN AKU BURUK RUPA? HEOL-…KATAKAN PADANYA SUDAH BERAPA PRIA YANG MENGGODAKU SELAMA PERNIKAHAN KITA! CEPAT!"
"KALIAN TIDAK MENIKAH DAN KAU BUKAN ISTRINYA!"
Lalu Sehun sudah dalam mode siaga tiga saat tak hanya Luhan tapi pelanggannya yang bernama Park Jiyeon juga terlihat murka melihat Luhan, keduanya mungkin bisa melahap satu sama lain hanya dengan tatapan berkilat andalan masing-masing.
Sehun tidak menyentuh wanita itu menghentikannya, tentu saja, keadaan akan semakin buruk jika dia mencoba untuk melerai dengan menyentuh tubuh wanita asing yang tak dikenal Luhan, jadilah dia sibuk menghalangi tubuh mungil Luhan untuk maju ke depan dengan tubuhnya berharap perseteruan mereka berakhir walau rasanya mustahil karena saat ini Luhan juga berteriak tak mau kalah.
"APA YANG KAU TAHU? AKU ISTRINYA DAN DIA SUDAH MEMUJAKU SELAMA HAMPIR TIGA PULUH TAHUN!"
"PEMBUAL! SEHUN-ssi KATAKAN PADANYA KAU BUKAN SUAMI DARI PRIA LIAR SEPERTINYA!"
"DIA SUAMIKU APA KAU TULI JA-LANG!"
"MWO APA KAU BILANG? JALANG-!"
Lalu pelanggannya berusaha menggapai Luhan, melihat kuku panjangnya saja sudah membuat Sehun bergedik ngeri, lalu membayangkan kuku itu menancap tajam di kulit Luhan hanya membuatnya kesal karena itu bisa menyakiti istrinya.
"Baik cukup, kau harus pergi nona Park!"
Sehun semakin menutupi tubuh Luhan dengan tubuhnya berharap tak ada jarak hingga wanita yang biasanya selalu dipenuhi kelembutan dan selalu bersikap sopan kini terlihat seperti monster yang bisa menyerang Luhan kapan saja, itu membuatnya gusar dan cemas jika kuku tajamnya bisa menggores kulit Luhan dan menyakiti istrinya.
"Katakan padaku lebih dulu dia bukan istrimu! Mengerikan sekali memiliki istri monster sepertinya!"
"whoa! Aku benar-benar ingin merobek mulutmu NONA—MINGGIR SEHUN, MINGGIR! BIAR AKU-…."
"LU TENANGLAH DAN NONA PARK—DIA ISTRIKU!"
"Mwo? / yeah!"
Dua respon berbeda kini terdengar dari Luhan dan pelanggan wanita Sehun. Jika Luhan memekik puas maka si nona rambut pirang terlihat shock hingga matanya berkaca-kaca dan Luhan mulai mendesis muak melihatnya.
"dia sedang acting!"
"Lu…"
"hmmh?"
"Bisa kau tunggu aku di dalam?"
"Tidak mau, kau akan memeluknya dan aku benar-benar bisa bertingkah gila jika kau melakukannya."
"Aku tidak akan melakukannya."
"Tapi aku mau disini bersamamu."
"Lima menit, aku akan menyusul dalam lima menit."
"Terlalu lama."
Sehun tertunduk, menenangkan sejenak sederetan kejadian yang begitu mendadak sore ini. Kedatangan Luhan, pertengkarannya dengan pelanggan tetap di café yang sengaja Sehun buat menggunakan inisial istrinya lalu saat ini, saat dimana Luhan merajuk seolah tak terjadi apa-apa diantara hubungan mereka yang ditinggalkan dirinya tiga bulan yang lalu.
Harusnya Luhan marah, menangis atau paling buruk membencinya, bukan menatapnya dengan tatapan manja serta merajuk seolah semua baik-baik saja karena itu yang paling ditakutkan Sehun.
Dia takut ini hanya cara Luhan menunjukkan kebohongan dibalik kenyataan rapuh hati dan tubuh istrinya setelah hari dimana dia memutuskan pergi, membuat dada Sehun sesak karena memikirkan kondisi Luhan namun tak bisa memungkiri rasa bahagia melihat Luhan baik-baik saja terbukti dari caranya berteriak atau menyeringai licik jika menang atas dirinya seperti saat ini.
"Baiklah, dua menit."
"huh?"
Sehun menatap Luhan cukup lama sebelum akhirnya dia memalingkan wajah tak tahan dengan rasa bersalah yang menggerogoti saat melihat wajah Luhab untuk mengulang "Aku akan masuk dalam dua menit, jadi tunggu aku didalam." Katanya meyakinkan dibalas teriakan Luhan yang memekik
"okay!"
Untuk menjulurkan lidah pada Jiyeon sebelum dengan anggun diiringi langkah kemenangan memasuki café yang sudah diketahuinya sejak dua minggu lalu dari Kai dan Chanyeol. Awalnya dia berfikir untuk membiarkan Sehun menenangkan diri sedikit lebih lama dengan tidak menampakan dirinya tapi terimakasih pada si nona berambut pirang karena hari ini adalah hari yang mengakhiri kerinduannya pada sang suami dan ayah dari calon bayinya.
"Katakan kau sedang berbohong, dia bukan istrimu kan?"
Sepertinya dia tidak perlu mencemaskan Sehun dan si wanita penggoda mengingat hal terakhir yang didengarnya sebelum menutup pintu café milik suaminya adalah "Dia istriku nona Park, Oh Luhan."
"Rasakan itu!"
Dan lihatlah wajah Luhan tersenyum penuh kemenangan mutlak atas si nona rambut pirang, dia pun melenggang masuk penuh percaya diri hingga tak sengaja mendengar percakapan dua wanita dengan dua pegawai yang bisa Luhan pastikan adalah L dan V karena memang hanya mereka bertiga yang mengelola café kecil milik suaminya.
Tapi apa kalian berdua yakin Sehun sedang dalam proses perceraiannya.
Percayalah pada kami, Sehun sebentar lagi berstatus duda keren.
Whoaaa…aku tak sabar.
"What the…."
Awalnya dia ingin menyapa dua teman yang sudah membantunya memasukkan Donghon kedalam pelajaran, tapi saat tak sengaja dia mendengar jenis percakapan apa yang sedang L dan V bicarakan dengan pelanggan mereka membuat mood Luhan kembali "panas" hingga tak lupa dia mendekati meja yang harusnya dibuat untuk melakukan pemesanan bukan bergosip dengan pelanggan.
Jadi pastikan kalian membawa teman-teman kalian ke café kami ya, ini demi Sehun dia pasti merasa sedih setelah bercerai.
Tentu oppa, kami akan menghibur Sehun Oppa dengan membawa seluruh teman-teman kampus untuk makan siang atau sekedar berkumpul di CafeLu.
Bagus! Kami akan menaikkan harganya, tidak apa kan?
Tidak apa, demi Sehun oppa.
Kalian benar, Sehun oppa pasti sedih karena baru ditinggalkan istrinya.
"Nak, ingatkan mama untuk menghabisi dua paman disana." Luhan gerah, tangannya tiba-tiba panas jika tidak melakukan sesuatu dan bibirnya gatal jika tidak memaki dua teman yang mulai sekarang sudah resmi menjadi musuhnya.
Lalu apa kalian bertiga akan menetap disini untuk waktu yang lama?
Tentu saja, kami akan membuat café ini menjadi besar, jadi pastikan kalian membawa teman-teman kalian, hmh?
Sehun oppa juga akan tinggal disini?
Luhan mencari sesuatu yang bisa digunakannya untuk membuat mulut besar Myungsoo diam dan tak terus menjual nama suaminya, dia hampir putus asa tidak menemukan apapun sampai dilihatnya satu botol mineral yang masih penuh ditinngalkan di meja pelanggan, membuat Luhan tersenyum jahil dan mengambil entah milik siapa botol mineral penyelamatnya sore ini.
Tentu saja, Sehun oppa akan selalu tinggal di-…
Dengan kekuatan penuh Luhan membidik Myungsoo, memutar penuh semangat si botol mineral lalu
SHOOT!
"ARGH! / OPPA!"
Jangan katakan Luhan seorang mantan kapten dan pemain basket di sekolahnya dulu jika hanya mulut besar Myungsoo tak berhasil dia jadikan target lemparan sempurna miliknya, lagipula didengar dari erangan Myungsoo sudah membuat Luhan tersenyum puas menyadari lemparan air mineralnya tepat mengenai sasaran si "mulut besar" Myungsoo yang tercinta.
"SIAPA YANG MELEMPAR BOTOL KEARAHKU! SIAPA YANG-…..oow.."
Tubuh Myungsoo lunglai hampir jatuh jika tidak bertumpu pada tubuh sepupunya, hal itu membuat Taehyung menggeram tak suka seraya berbisik "Apa yang kau lakukan?"
"ada hantu."
"huh?"
"Maksudku Luhan, ada Luhan-….KENAPA LUHAAAN ADA DISANA!"
Dua gadis remaja serta Taehyung menoleh bersamaan, untuk si pelanggan Luhan bukanlah ancaman, tapi lihatlah wajah dingin V yang sedari tadi diam ikut memucat tatkala "sang ratu" terlihat didepan kedua mata mereka dan sedang memberikan tatapan paling mengerikan yang bisa membunuhnya dalam satu kedipan.
"Lu-…HAY LU!"
Taehyung menyapa gugup diabaikan dua remaja cantik yang kembali fokus pada dua pria didepan mereka "Oppa, siapa dia? Dia mengerikan."
Keringat dingin Myungsoo jatuh melewati pipinya hanya untuk sekedar mengatakan "Memang." Dengan suara terkecil yang pernah dibuatnya, dia sedang mati-matian tersenyum menatap Luhan, berharap tak ada percakapan tentang perceraian lagi namun sial, dua remaja didepannya benar-benar memberikan umur pendek untuknya.
"Lupakan, lalu apa rencana Sehun oppa setelah bercerai? Apa dia akan berkencan lagi?"
Luhan masih mendengarkan, kali ini dia melipat tangan di atas dada seraya mengetukan jemari kaki ke lantai kayu hingga bunyinya seperti membuat L dan V mendengar suara gaib malaikat maut menuju ke arah mereka.
L pun segera menenggak kasar air liurnya sebelum memelas menatap dua remaja yang membuatnya berumur pendek jika terus membicarakan perceraian yang digunakan L untuk menaikkan target marketing café mengingat Sehun memiliki banyak penggemar wanita di Pyeonchan.
Hal itu dimanfaatkan L dengan menjual status Sehun yang selalu terlihat sendiri di café, selama tiga bulan ini berjalan lancar tapi dia tidak menyangka ajal menjemputnya lebih cepat saat melihat istri sah seorang Oh Sehun sedang menatap tak berkedip padanya, tersenyum, tapi senyum itu adalah senyum khas milik "THE QUEEN OF HELL" dari drama thriller yang ditontonnya malam tadi.
"Oppa!"
"…."
"oppa!"
"…."
"OPPA!"
Barulah Myungsoo berkedip untuk berlagak canggung dengan bertanya "y-ya? a-ada Apa?" kataya terbata dan remaja berambut hitam kembali bertanya "Jadi apa rencana Sehun oppa setelah bercerai?"
Gulp~
Myungsoo menenggak lagi air liur terakhir yang membasahi kerongkongannya sebelum menepuk kencang tangannya, mengakhiri seluruh percakapan gila dengan dua remaja cantik didepannya
"y-YAK! OPPA RASA SELESAI SAMPAI DISINI! KALIAN BOLEH PULANG."
Dia berteriak membuat yang berambut pirang terlonjak kaget dan enggan beranjak sebelum pertanyaannya terjawab "Tapi apa Sehun oppa akan kembali berkencang setelah bercerai?"
"huh?...ha ha ha ….Siapa yang bilang Sehun akan bercerai, iya kan V? ha ha ha…."
Kini giliran pelanggan mereka yang dibuat bingung dan bertanya tak suka pada L sebagai salah satu bentuk protes mereka "Apa maksudnya? Oppa bilang Sehun akan bercerai?"
"HA HA HA …..Aku tidak bilang seperti itu, cepat pergi…ayo pergi…."
Myungsoo pun mendorong paksa dua remaja cantik untuk meninggalkan café jika mereka tidak ingin melihat pertumpahan darah, bersumpah untuk memohon ampunan dari Luhan hingga akhirnya dia berhasil membawa dua remaja itu keluar dan meninggalkan hawa mengerikan yang terjadi diantara Luhan dan dirinya.
Klik…
"Tuhan, kuserahkan hidupku padamu."
Myungsoo menutup pintu café dan berdoa kuat-kuat, berharap Luhan memberi belas kasih namun lihatlah disana, si pria cantik yang terlihat semakin cantik itu sedang menyeringai, seperti tidak ada pengampunan untuknya.
"L-Lu, aku bisa jelaskan, sungguh, ya kan V?"
"Ini rencanamu, bukan rencanaku."
Lalu lihatlah saat V berbalik menghianatinya, dia terlihat sangat menikmati suasana ini terlebih saat sepupunya berbaik hati mendekati Luhan untuk memberikan sebilah pisau buah pada sang ratu yang masih tak berkedip saat menatapnya.
"Ini peganglah, berjaga-jaga jika kau ingin mengeluarkan usus dari dalam perutnya."
"KIM TAEHYUNG!"
"wae? Aku harus bertahan hidup dan membantu Sehun menjalankan café kan? Omong-omong Lu, dia sudah menyebarkan rumor perceraian Sehun selama tiga bulan, jadi baiknya kau segera menghabisi mulut besarnya."
"Penghianat!" geram Myungsoo dibalas kekehan V yang sebenarnya juga berkeringat saat harus berhadapan dengan Luhan yang entah mengapa menjadi sangat diam dan berjuta juta kali mengeluarkan aura mengerikan.
"Jadi L….Pilih mana mulut atau tanganmu?"
"huh?"
Luhan berjalan mendekat dengan pisau ditangan sementara Myungsoo mundur ketakutan setengah mati melihat bagaimana Luhan memintanya memilih "Kasihani aku Lu, aku masih perjaka belum pernah bercinta, biarkan aku menikah lebih dulu, ya?"
Luhan mengeluarkan decakan tak peduli tanda apapun yang terjadi dia akan tetap mencincnag mulut Myungsoo hingga pintu café kembali terbuka
Klik…!
Dan menampilkan sang penyelamat Myungsoo yang tak lain adalah suami Luhan yang tak lain pula adalah alasan mengapa Luhan memegang pisau ditangannya saat ini "Ada apa ini?"
"OH TUHANKU TERIMAKASIH MASIH MENGIJINKAN AKU MENIKAH DAN HIDUP LEBIH LAMA!"
Luhan memandang kesal pada Myungsoo lalu tak lama si pembuat ulah berbisik "URUS ISTRIMU DIA SANGAT MENGERIKAN." Dan lari begitu saja membuat Luhan berteriak kesal namun tentu diabaikan Myungsoo yang kini sudah melarikan diri entah kemana.
"Ada apa?"
"Aku baru saja ingin mencincang mulut besarnya."
Sehun dengan wajah datarnya mendekati Luhan, menahan mati-matian keinginan untuk memeluk sosok yang sepertinya memendam rasa kecewa padanya untuk mengambil pisau dari tangan si mungil dan meletakkannya di salah satu meja pelanggan "Jangan berkeliaran dengan benda tajam, berbahaya."
"Lebih berbahaya jika mendengar gosip jika kita akan bercerai."
Sehun tidak menanggapi ucapan Luhan, membuat Luhan kesal dan bertanya "Kenapa kau diam? Kita tidak akan bercerai kan? Aku tidak mau, aku menolaknya!"
"V."
Sehun memanggil dibalas dehaman dari sepupu kandung Myungsoo yang sedang mengelap gelas dan piring serta berpura-pura untuk tidak mendengar apapun "Ada apa?"
"Pergilah dan beri keterangan closed di pintu depan, aku harus bicara dengan Luhan."
Tak banyak membantah, teman sekaligus pria yang bertugas dalam design CaféLu ini mengangguk, melepas apron merahnya untuk mengambil sebungkus rokok di atas meja "Aku pergi." katanya memberitahu, meninggalkan café setelah sebelumnya membalik pengumuman open dengan closed sesuai permintaan Sehun sebagai pemilik dari café tempatnya bekerja saat ini.
"Jangan bertengkar terlalu kencang, seperlunya saja."
Setelah berpesan Taehyung menutup pintu dan meninggalkan Sehun dan Luhan hanya berdua dalam keadaan hening di dalam café "Kau mau minum apa?"
"Apapun." Katanya tak menolak karena memang dirinya haus, dan selagi Sehun mengambilkan sebotol air mineral untuknya, Luhan sengaja memilih tempat duduk yang akan mereka jadikan tempat berbicara nantinya.
"Disini."
Luhan memberitahu suaminya, disambut tatapan datar Sehun yang kini membukakan tutup botol air mineral terlebih dulu sebelum memberikannya pada Luhan "Minumlah lebih dulu."
Luhan mengangguk, menenggak cepat sebotol air mineral yang diberikan Sehun hingga tersisa setengah sebelum dia mengusap kasar sisa air di bibirnya "Aku selesai."
Sehun diam tak merespon, dia juga tak melihat Luhan dan justru memilih pandangan di luar café miliknya, entah apa yang dilihat Sehun tapi itu cukup membuat Luhan kesal dan terpaksa berteriak
"SEHUN!"
"hmmh…"
"Apa yang sedang kau lihat?"
"entahlah…."
"Kalau begitu lihat mataku!"
Merasa bersalah karena sikapnya, Sehun menatap istrinya sedikit ragu, membiasakan diri dengan sensasi rindu yang coba ditahannya hingga dia berpaling tak bisa bertatapan dengan sepasang mata cantik yang selalu berhasil membuat Sehun kehilangan kontrol atas dirinya dan selalu ingin memiliki Luhan untuknya seorang.
"Bagaimana kau menemukan aku?" tanyanya lirih membuat senyum terluka terpahat di wajah Luhan yang mulai lelah menyadari bahwa mungkin alasan Sehun meninggalkan dirinya bukan karena Taecyeon, tapi karena Sehun ingin melakukannya hingga kehadirannya disini seolah menjadi duri di hati suaminya.
"Bukan aku yang menemukanmu, Kai dan Chanyeol yang melakukannya."
"Sejak kapan?" katanya bertanya, terkadang menatap terkadang menundukkan wajah dan terlihat cemas dengan dua tangan yang tampaknya mulai berkeringat seiring dengan percakapan yang mereka lakukan saat ini.
"Tiga minggu, mungkin, entahlah aku tidak terlalu ingat. Yang aku ingat aku terus menahan diri untuk tidak berlari kearahmu saat Kai dan Chanyeol memberitahu dimana kau berada."
"wae?"
Luhan memejamkan erat matanya, entahlah, dari seluruh pertanyaan yang diajukan padanya mungkin ketidaktahuan Sehun yang paling membuat Luhan terluka, jadlah dia menenangkan diri sejenak, menarik dalam nafasnya untuk bertanya tanpa emosi dan berniat menyudahi percakapan yang membuat gusar hatinya "Aku tidak ingin membahasnya lagi."
"Maaf."
Luhan tersenyum tulus seraya menggenggam kedua tangan suaminya yang terasa dingin di jemari tangannya "Lupakan, jadi kapan kau akan kembali?"
"huh?"
"Aku rasa sudah cukup waktumu disini, aku membutuhkanmu dan ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu."
Kini Sehun melihat lagi sepasang mata yang melihatnya penuh harap, percikan bahagia yang sama saat mereka akhirnya memutuskan untuk menikah dua tahun yang lalu hingga lagi-lagi dadanya terhimpit sesak menyadari bahwa sampai kapanpun Luhan akan terus menaruh harapan pada dirinya, pada pria yang mencoba untuk meninggalkannya begitu saja.
"aku tidak bisa."
"huh?"
Luhan tak menyadari apa yang dikatakan Sehun sampai suaminya mengatakan penolakan dengan cara lain "Siapa yang mengantarmu kesini?"
"mmhh…Paman Han."
"Paman Han? Siapa dia?"
Tak menutupi apapun, Luhan menjawab "Dia supir pribadi Taecyeon." Dibalas ekspresi wajah Sehun yang terlihat keras seperti menahan rasa kesal namun ditutupinya dengan nada menyindir yang mengganggu pendengaran Luhan "Aku rasa hubungan kalian berdua semakin dekat."
"Tidak juga, Taecyeon dan Baekhyun yang menjadi dekat, bukan aku."
"omong kosong."
Sehun melepas genggaman tangan Luhan dan tak mau kalah dengan Sehun, Luhan tetap menahan tangan yang terkepal erat itu, hatinya entah mengapa bersorak senanga saat menyadari jika suaminya sedang merasa…..
"Kau cemburu."
"mwo?"
"Kau tidak suka karena aku masih berhubungan dengan Taecyeon."
"Aku tidak mengatakan hal itu."
"Tapi wajah dan suaramu jelas menunjukkan jika kau marah."
Buru-buru Sehun melepas tangan Luhan yang menggenggamnya, dia juga berdiri untuk melakukan aktifitas tak penting seperti mengelap meja sebagai pengalihan atas semua ucapan yang dikatakan istrinya.
"Aku tidak cemburu, sungguh, aku merelakanmu dengan Taecyeon, dia bisa menjagamu lebih baik dari aku."
Dia mengatakan rela tapi tangannya yang sedang mengelap meja terkepal sangat erat, sekilas Luhan juga bisa melihat urat ditangan suaminya terlihat sangat jelas menandakan Sehun sedang menahan rasa marah dan kesalnya berlebih.
Tapi bohong jika Luhan tidak terluka mendengar ucapan rela itu langsung dari bibir suaminya sendiri, dia merasa marah, dia kesal juga hingga rasanya dia benar-benar ingin melarikan diri jika tidak mengingat dua hal, dia mencintai Sehun dan ada buah hati mereka yang sedang tumbuh didalam dirinya.
Dia pun mencoba untuk tidak terpancing, tapi kemudian Sehun terus mengatakan hal gila seperti "Aku rasa kalian sangat cocok, dia juga memiliki keluarga jadi aku rasa kau akan lebih bahagia bersama Taecyeon daripada denganku."
Luhan tertawa miris, tangannya ikut terkepal karena rasanya dia bukan sedang berhadapan dengan Sehun tapi dengan seorang bocah yang sedang menyerah akan cintanya tanpa alasan, jujur saja ini pertama untuk Luhan melihat Sehun seperti ini, biasanya dia yang berulah, yang terus ingin berpisah dan Sehun akan menjadi yang paling bertahan ditengah keegoisan dirinya.
Tapi saat ini keadaan berbalik, Sehun sedang merelakan dan Luhan terpaksa menempati posisi bertahan jika tidak ingin hubungan yang sudah mereka jalin begitu lama berakhir hanya karena rasa tidak percaya diri Sehun yang terus berfikir gagal melindunginya.
Jadilah Luhan memutuskan untuk memberikan waktu pada Sehun, dia tidak ingin terlibat percakapan mengerikan ini lebih lama dan hanya berjalan mendekati suaminya "Aku akan datang lagi besok." Katanya membenarkan posisi mantel sebelum berlalu pergi dan meninggalkan café hingga suara Sehun bertanya "Kau tidak kembali ke Seoul?"
Memegan knop pintu utama café, Luhan kembali menatap sendu pada Sehun serta membuat keputusan "Jika kau disini, aku akan tetap disini, Jika kau di Seoul, aku di Seoul. Dan jika kau pergi ke neraka sekalipun, kupastikan kita bertemu disana. Tenangkan pikiranmu, aku akan datang lagi besok."
"Dimana kau akan tinggal?"
Sehun bertanya lagi, dan Luhan hanya tersenyum untuk menjawab "Kau tahu dimana aku akan tinggal."
Tak lama pintu tertutup, harusnya Sehun mengejar pria yang begitu dirindukannya selama tiga bulan dia melalui neraka di hidupnya, harusnya dia tidak membuang kesempatan mengetahui Luhan sama sekali tidak membencinya, sebaliknya, Luhan terlihat sangat sabar dan begitu tulus mencintainya, harunsnya dia mengajak Luhan tinggal di lantai dua café karena disitulah rumahnya selama tiga bulan ini, bukan membiarkan Luhan pergi ke tempat yang ditebaknya adalah rumah pertama mereka di Pyeonchan yang Sehun berikan sebagai kado pernikahan.
Seharusnya dia memeluk Luhan, memohon maaf, bukan berkata kasar dan menelantarkan.
Seharusnya…
Tapi saat dia mendengar suara mobil melaju pergi, disaat yang sama Sehun baru saja membuat kesalahan dengan membiarkan Luhan merasa tak lagi dicintai seperti dulu, membuat Luhan merasa diabaikan hingga hanya penyesalan tersisa di hatinya saat ini.
"Dan akhirnya aku membuatmu pergi lagi."
Tersenyum pilu, Sehun hanya membiarkan dirinya terlihat bodoh menyadari sampai kapanpun dirinya tidak akan pernah bisa membiarkan Luhan bersama dengan orang lain selain dengannya, hatinya sakit mengetahui Taecyeon benar-benar serius pada ucapannya untuk mendapatkan Luhan, ingin rasanya dia merebut Luhan kedalam pelukannya lagi.
Tapi pikiran bodoh sudah menguasainya hingga yang bisa dilakukan Sehun hanya merelakan tanpa tahu hatinya dan hati Luhan hancur berkeping karena ketidakpercayaan diri yang membuatnya tega meninggalkan Luhan
"Pergilah sayang, biarkan dirimu bahagia."
.
.
.
.
Sementara itu,
.
"Dokter Oh anda baik-baik saja?"
Yang ditanya terlihat sedang menatap kosong ke jendela, hatinya masih tak bisa merasakan hal lain selain sakit, jadi bohong rasanya jika dia mengatakan baik sementara hatinya sedang hancur berkeping nyaris tak bersisa melihat untuk pertama kali Sehun tidak menginginkan dirinya.
"Aku tidak terlalu baik paman." Katanya tetap menatap jendela seraya membiarkan setetes air mata kepedihannya jatuh tak mau ditahannya lagi karena ini memang sungguh membuatnya sesak.
Hal itu sontak membuat supir pribadi Taecyeon merasa gelisah, dia melihat Luhan dari spion dalam mobil dan benar saja Luhan terlihat sangat kelelahan dan dan sesekali terisak melihat pemandangan di luar jendela.
"Dokter Oh apa yang bisa saya lakukan? Apa anda ingin kembali ke Seoul?"
"Tidak paman, tolong bawa aku ketempat ini."
Paman Han membaca seksama alamat yang diberikan Luhan, tak lama dia memasang gps dan menyadari bahwa alamat yang diberikan Luhan hanya berjarak lima belas menit dari tempat mereka saat ini "Baik dokter Oh, aku akan membawamu kesana."
Tersenyum Luhan bergumam "gomawo."
Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sederhana berwarna putih yang terlihat gelap karena memang sudah hampir satu tahun tak dikunjungi Sehun maupun Luhan.
"Anda yakin ini tempatnya?"
"hmmmh…Paman pulanglah, tinggalkan aku disini."
"Mwo? Tapi anda seorang diri disini."
Luhan tersenyum seraya mengambil tas dan beberapa vitamin yang ada di mantelnya untuk meyakinkan sang paman "Sebenarnya suamiku akan segera datang, jadi aku tidak sendiri. Paman boleh pergi."
"Apa kau yakin?"
"Tentu saja, terimakasih untuk hari ini paman, aku akan menghubungi Taecyeon jadi paman tidak perlu menjelaskan apapun padanya."
"Baiklah, terimakasih juga dokter Oh."
Luhan pun mengantar kepergian paman Han sebelum merasa ucapannya adalah omong kosong saat mengatakan suamiku akan segera datang, membuatnya terkekeh dan merutuki dirinya sendiri.
"Jikalaupun dia datang dia hanya akan meminta untuk berpisah, haah~, Aku benar-benar rindu Sehun yang selalu memujaku dan mencintaiku jiwa dan raganya."
Lalu perlahan Luhan melangkah masuk kerumah yang di-design oleh Sehun untuk mereka kelak saat mereka menikah. Sejujurnya Luhan terkejut karena Sehun sudah memiliki design rumah impian yang diinginkannya sejak mereka lulus dari bangku sekolah.
Aku membuat design ini saat aku sekolah di Beijing.
Intinya Luhan merasa bangga pada Sehun karena dimanapun suaminya berada, dia akan selalu memikirkan hal terbaik dan memikirkan cara untuk selalu membuat dirinya bahagia.
"jadi omong kosong jika kau merelakan aku dengan Taecyeon."
Kebiasaan mereka berdua adalah selalu meletakkan kunci cadangan didalam tanah pot tananam kaktus favorit Luhan, jadi saat Luhan tidak memiliki kunci utama dia tidak merasa takut terlantar karena nyatanya kunci itu masih ada disana hingga dengan mudah Luhan membuka pintu utama rumah mereka.
Klik…
Kesan pertama tentu saja gelap, lagipula jika diingat kali terakhir dia menginjakan kaki dirumahnya adalah saat Baekhyun mengatakan dirinya keguguran dan kehilangan calon anak pertama mereka.
Hal itu membuat trauma yang dalam untuk Sehun, untuknya juga, karena tanpa sadar Luhan kini sedang memeluk posesif perutnya, seperti melindungi dan tak ingin hal buruk terjadi lagi pada buah hatinya dan Sehun.
Uhuk…!
Dan saat hidungnya menghirup debu yang membuat kerongkonganya sakit, Luhan memutuskan bahwa rumahnya harus segera dibersihkan karena terlalu banya debu yang membuatnya sesak walau sebenarnya tata letak barang termasuk rapih karena Kyungsoo dan Baekhyun bilang mereka bergantian membersihkan rumah untuk mengenangnya yang dinyatakan tewas dalam kebakaran saat itu.
"Baekhyun pasti membunuhku jika tahu aku ada disini." Katanya terkekeh sebelum menyalakan lampu dan cukup terkejut melihat bagaimana seluruh tata letak rumahnya tak berubah sedikitpun dan terlihat sesuai dari terakhir kali dia meninggalkan rumahnya di Pyeongchan.
Di ruang utama dia bisa melihat foto pernikahannya dan Sehun, disana terlihat Taeoh masih satu-satunya bayi yang mereka miliki, berbeda setelah beberapa bulan nanti, karena selain Taeoh, Jiwon dan adik bayi juga akan menyusul di foto keluarga terbaru yang akan mereka ambil nantinya.
Semoga ayahmu berhenti bersikap menyebalkan.
Luhan menggerutu kecil, menyusuri ruangan demi ruangan di rumah kecilnya yang selalu dipenuhi tawa Sehun atau sekedar kalimat memarahi jika dirinya terlalu banyak makan ramen pedas diawal kehamilannya saat itu.
Rasanya ini semua terlalu manis dilewatinya seorang diri, terlebih ketika tangannya membuka pintu kamar tempat yang paling banyak memiliki cerita tentangnya dan Sehun. Tempat dimana dirinya merajuk jika tak ada ice cream, tempat mereka menonton film, tempat mereka berdebat, dan tempat yang menjadi saksi bahwa di atas tempat tidur mewah miliknya, Sehun begitu memujanya, begitu mencintainya, selalu menggodanya hingga akhirnya Luhan dinyatakan hamil selang dua minggu setelah pernikahan mereka.
Ya, tempat ini terlalu banyak membuat Luhan memutar semua kenangan hingga kepalanya terlalu sakit menyadari bahwa kini dia seorang diri, tak ada Sehun, tak ada pelukan hangatnya, tak ada kecupan yang terasa manis dibibir hingga membuat Luhan merasa mual dan terpaksa bersandar di meja rias tempat dimana Sehun akan melayangkan protes saat Luhan memakai cream malam dan akan terasa pahit ketika Sehun menjilati wajahnya.
"Haah~sial, Kenapa begitu panas?"
Luhan merindukan sentuhan suaminya, dia merindukan semua yang selalu dilakukan Sehun untuk membuatnya menikmati surga dunia, dia membutuhkan Sehun saat ini tapi kemudian hatinya sesak mengingat bahwa perjalanannya mungkin masih berliku untuk menyadarkan prianya yang tidak memiliki rasa percaya diri untuk mendekapnya lagi. Luhan bahkan harus memeluk dirinya sendiri, membayangkan itu adalah tangan Sehun yang melingkar di pinggangnya serta membayangkan bagaiamana nafas Sehun memburu hebat di tengkuknya dan membuat mereka berakhir saling memuja di atas tempat tidur.
Luhan membutuhkan Sehun, tapi kemudian matanya yang terpejam kembali terbuka menyadari bahwa dirinya tidak akan bisa menetap ditempat yang dipenuhi kenangannya bersama Sehun.
Luhan membutuhkan Sehun…
Oleh karena itu dia harus bertahan untuk tidak terjebak dalam kenangannya.
tidak, aku tidak bisa tinggal disini
.
.
.
.
.
.
.
"Ini kunci kamar milik anda, maaf hanya tersedia satu kamar kecil di ujung lorong lantai dua."
Dan disinilah Luhan memutuskan untuk menyewa rumah tak jauh dari rumahnya dan Sehun, dia bisa gila karena merindukan Sehun jika terus berada disana, jadilah dia rela membayar sedikit mahal untuk menyewa rumah yang jauh dari kata layak karena sepertinya kamar yang akan ditempatinya adalah gudang yang dipaksakan menjadi kamar sewa.
"Tidak apa nyonya, terimakasih sudah memberikanku tempat untuk bermalam." Katanya mengambil kunci sebelum membungkuk dan perlahan menaiki tangga lantai dua untuk menuju koridor paling ujung yang menjadi tempatnya menetap sementara waktu.
Deep—aakkhh~ / oppa disitu….DISITU—aaakh~
Katakanlah Luhan baru saja berhasil menetralisir pikirannya dari sentuhan Sehun, dia bahkan harus rela meninggalkan rumah karena rasa panas dan mendamba akan sentuhan Sehun diluar kendalinya.
Dia berfikir disini dirinya akan aman, jauh dari bayangan cumbu Sehun dan sentuhan tangan kasar suaminya, tapi sial! Sepertinya dia justru masuk kedalam lubang sengsara yang semakin mengerikan menyadari tetangga disamping kamarnya tengah memiliki malam panas hingga suara mereka terdengar ke pintu utama dan membuat Luhan semakin panas mendengarnya.
Sekali lagi sayang
Cukup oppa—aku lelah.
Tidak, sekali lagi aku masih ingin—AAAKH~
Lagi-lagi suara desahannya terdengar, membuat langkah kaki Luhan menjadi seribu kali lebih cepat untuk membuka pintu kamarnya dengan gugup sebelum
BLAM!
Luhan membanting kencang pintu kamar yang dia sewa, berharap suara desahan itu tak terdegar walau sepertinya dinding antar kamar tidak kedap suara hingga Luhan masih bisa mendengar suara desahan-desahan yang begitu menyiksa dirinya sebagai seorang pria dewasa yang merindukan sentuhan suaminya.
"ayolah berhenti, berhenti! Aku ingin tidur."
Dan sialnya suara desahan itu tak kunjung berhenti, karena daripada berhenti Luhan bersumpah bisa mendengar suara desahan tetangganya hingga jam tiga pagi dan itu sukses membuat mata panda terlihat di kedua matanya yang kelelahan namun terganggu karena suara desahan di tempatnya menyewa rumah.
.
.
.
.
.
.
.
.
..
Siang hari, 11.00 KST.
.
Seperti biasa menjelang makan siang café sederhana milik Sehun akan dipenuhi oleh karyawan, anak sekoah atau beberapa mahasiswa yang menyempatkan diri untuk makan siang atau sekedar berbincang dengan teman-teman mereka.
Ada yang benar-benar menyukai menu yang ditawarkan caféLu, ada pula yang datang hanya untuk sekedar melihat ketiga pria tampan yang beruntungnya adalah pegawai sekaligus pemilik yang bisa mereka ajak untuk berbincang.
Biasanya V yang akan memiliki banyak pelanggan, lalu terlihat L yang iri dan terakhir Sehun yang selalu membersihkan bagian pojok café untuk menghindari pelanggan yang hanya ingin menanyakan nomor ponselnya.
Tring…!
Dan seperti biasa pula suara bel di pintu café adalah favorit Myungsoo saat berjaga, dia tak sabar menebak siapa yang datang, apakah segerombolan wanita cantik, atau seorang pria cantik yang siap dijinakannya di tempat tidur.
Entahlah, dia selalu berdebar menebak siapa yang datang dan tak sabar untuk berkenalan atau sekedar menggoda pelanggannya.
"SELAMAT DATANG DI-….omo! Mati aku!"
Tapi pengecualian hari ini, sepertinya ini hari sialnya karena selain tak ada yang ingin bicara dengannya, dia juga harus kembali berhadapan dengan pria yang siap mencabik mulutnya dengan pisau kemarin sore.
Membuat Myungsoo buru-buru menarik apron sepupunya dan menggantikan posisinya untuk menyapa pria cantik yang terlihat mengenaskan dengan pakaian yang sama namun terlihat mata panda di kedua matanya.
"Luhan?"
Sontak Sehun berhenti melakukan pekerjaannya, dia mendengar Taehyung memanggil nama istrinya dan benar saja, Luhan sedang berjalan ke arahnya dan menarik kursi persis di depan dirinya, keduanya bertatapan cukup lama sampai Luhan bersandar di atas meja dan mulai berguman "Aku lapar, hu hu hu…."
Dia merajuk tapi untuk Sehun, Luhan terlihat mengantuk daripada lapar, dia ingin bertanya tapi sepertinya menawarkan pelanggan makanan adalah hal terbaik yang bisa dilakukannya sebagai pemilik café.
"Kau ingin makan apa?"
Menyembunyikan kepalanya dimeja, Luhan setengah sadar menjawab "Tidak tahu, tapi aku lapar."
"Bagaimana dengan Sushi?"
"huh?"
Lalu duduknya kembali tegak untuk menatap Sehun berbinar "Sushi? Kau menyediakan sushi di café ini?"
"Walaupun tidak ada dalam daftar tapi aku bisa memasak sushi untukmu."
"Baiklah! Sushi! Aku mau sushi—la la la la~"
Lalu lihatlah Luhan menunggu Sushi buatan Sehun dengan sabar, dia tidak tahu jika suaminya bisa membuat sushi, jadi dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berharga untuk menyantap sushi buatan suaminya dan menunggunya dengan tak sabar.
"h-hay Lu…"
Ditengah waktu tunggunya Luhan bisa mendengar suara Myungsoo memanggil, moodnya memang sedang bagus tapi dia tidak melupakan rasa kesalnya pada penghianat yang sudah menjual status suaminya.
Jadilah dia berjaga-jaga mengambil pisau dari tempat yang bisa dijangkaunya, menunjukkan pada Myungsoo hingga membuat temannya itu terkekeh dan memutuskan untuk melayani pelanggan seperti robot, tidak menggoda pelanggan tidak pula menjual status pernikahan Sehun.
"Maaf menunggu lama, ini makanlah."
"yeey…"
Luhan bersorak bahagia, bukan karena makanan sebenarnya, tapi karena statusnya pelanggan di café ini dan dia memiliki seluruh perhatian Sehun hanya melayaninya, itu membuatnya puas, terkadang dia sengaja meminta Sehun membuka mulut dan menunjukkan pada jalang-jalang yang menatapnya lapar bahwa hanya dirinya yang bisa membuat Sehun melakukan apapun untuknya.
"aaa, satu lagi."
"Aku kenyang Lu, kau saja."
Menatap lapar pada sushi terakhirnya Luhan bergumam "Baiklah." Dan melahap habis sushi buatan Sehun yang rasanya standar tapi karena pelayanan Sehun excelent dan hanya melayaninya, membuat sushi itu terasa lezat mengalahkan sushi hotel bintang lima.
"Aku kenyaaang, Gomawo sayang."
Sehun membereskan piring dan gelas yang digunakan Luhan, mencucinya sekilas lalu kembali lagi ke meja yang membatasi kursi pelanggan dan pegawai untuk melihat Luhan menyembunyikan lagi wajahnya disana.
"Kau masih lapar?" katanya bertanya dan Luhan menggeleng sebagai jawaban "Aku full."
"Lalu kenapa masih bersandar di meja?"
"Aku mengantuk."
Mendengar penuturan Luhan hanya membuat Sehun penasaran dan bertanya "Kau tidur dirumah kita bukan?"
Luhan membuka matanya sejenak, ingin memberitahu kenyataannya pada Sehun tapi dia malu pada alasan bahwa dia tidak bisa tinggal di rumah mereka karena merindukan sentuhan suaminya. Jadilah Luhan mengangguk berbohong dan terpaksa mengatakan "ya, Aku tinggal di rumah kita."
"Lalu kenapa masih kelihatan lelah? Apa tidurmu tidak nyaman?"
Luhan mengangkat wajahnya, berfikir sejenak sebelum berkilah "Aku masih membiasakan diri, kau tahu tiga bulan ini tidurku hampa karena kau tidak ada untuk memelukku."
Dan selalu seperti ini, Sehun akan menunjukkan raut bersalahnya jika menyangkut bagaimana dirinya hidup setelah ditinggalkan, jadilah Luhan memutar otak untuk mengalihkan perhatian dan bertanya "Lalu dimana kau tinggal?"
"Disini, di lantai dua."
"mmhh…Apa aku boleh menumpang tidur? sebentar saja sampai café tutup."
"Kenapa tidak langsung pulang kerumah?"
"Aku tidak suka disana terlalu sepi, aku suka disini, kumohon?'
Luhan menyatukan dua tangannya, mengerjapkan matanya sebagai tanda permohonan dibalas tatapan pasrah Sehun yang akhirnya luluh dan menyetujui "Baiklah." Katanya keluar dari pintu khusus karyawan untuk mendekati Luhan.
Lucunya Luhan memang terlihat sedikit gemuk di bagian tubuhnya, tapi dia menutupinya protektif dengan mantel hingga membuat Sehun maklum jika Luhan berjaga-jaga agar dirinya tidak disentuh.
"Ikut aku."
"Kalian mau kemana?"
Menjawab asal Luhan mengatakan "Tidur." yang mana langsung membuat kedua mata Myungsoo membuka lebar sementara V menanggapinya santai "Yasudah, jangan terlalu berisik."
"Hey, apa mereka tidur yang benar-benar tidur? atau tidur dengan mata terbuka?"
"Apa peduliku? Mereka sudah menikah dan ini café milik Sehun jadi mereka bebas dan bisa melakukan apapun."
"Tapi kan, ah sudahlah….Aku benar-benar akan menikah agar bisa bercinta dimanapun!"
.
.
Klik….!
"Masuklah."
Dan tak ada yang bisa membuat Luhan semakin berdebar tak sabar kecuali kenyataan bahwa dirinya saat ini sedang masuk kedalam kamar suaminya, kamar bernuansa hitam merah itu memang tidak terlalu besar, tapi saat kakinya melangkah masuk dia bisa segera mencium aroma khas parfume milik suaminya dan dia suka, terlalu suka hingga tanpa izin Sehun, Luhan sudah melompat ke tempat tidur yang cukup besar untuk tiga orang dan menyesap bantal, selimut yang mengeluarkan aroma kekar suaminya.
"Whoa….Kamarmu bagus sayang, aku suka!"
"Maaf tidak terlalu besar tapi kau bisa istirahat disini, nanti aku akan mengantarmu pulang."
"Oke!"
Luhan masih menciumi bantal dan selimut Sehun secara berlebihan, membuat mau tak mau Sehun tersenyum kecil sebelum memutuskan untuk meninggalkan Luhan agar bisa tidur dan beristirahat.
"Baiklah aku akan kembali bekerja, kau bisa tidur."
Dan saat Sehun melangkah keluar dari kamar, disaat yang sama pula Luhan menarik lengan suaminya, menutup pintu kamar Sehun dan memojokkan suaminya dibelakang pintu "Lu? ada apa?"
Sudah dikatakan bukan? Luhan sudah tak bisa menahan diri lebih lama lagi agar Sehun menyentuhnya, dia sudah gelisah sejak malam, terlebih alasannya tak bisa tidur adalah karena tetangga di samping kamarnya bercinta tak henti sepanjang malam.
Jadilah dia mencoba untuk menggoda Sehun, menatap suaminya resah dan sengaja menggesekan bagian privatenya ke paha Sehun yang sepertinya juga mulai merespon "sayang…Sebenarnya aku tegang."
"huh?"
"Aku ingin kau menyentuhku."
Luhan membawa tangan besar Sehun ke area private nya, membantu Sehun untuk memijat gundukan yang mulai resah karena tak dibebaskan sementara kedua mata mereka masih berpandangan intens tak saling berpaling.
"Sentuh aku, jebal." Pintanya, dan Sehun masih memakai pikiran sehatnya untuk tidak memperlakukan Luhan seperti pria murahan karena istrinya sangat berharga "Tapi Lu, aku sudah meninggalkanmu, kenapa kau masih terus berharap aku menyentuhmu? Benci diriku seperti yang biasa kau lakukan? Kenapa kau seperti ini?"
Luhan mendekat, dia memberi jarak pada perutnya yang mulai terlihat buncit agar Sehun tak perlu menebak bahwa dirinya sedang hamil atau merasa bersalah karenanya, diam-diam tangan Sehun melingkar di pinggang Sehun, melepas apron merah yang dikenakan suaminya sebelum jari lentiknya menyusuri dada bidang yang selalu membuatnya hangat setiap malam.
"Aku tidak bisa membencimu, aku tidak akan melakukannya lagi, aku menginginkanmu." Katanya melepas seluruh kancing kemeja Sehun dan membuang asal kemeja suaminya, Luhan sengaja menciumi seluruh tubuh Sehun hingga akhirnya Sehun merespon dengan menggendongnya ke kasur dan menindihnya, nafasnya memburu menerpa wajah Luhan dan tak lama bibir mereka menyatu setelah tiga bulan tak saling mencumbu satu sama lain.
"ah~"
Luhan sengaja mendesah saat bibir Sehun semakin dalam mencumbu bibirnya, dia membuka lebar-lebar bibirnya dan tak mau kalah membalas kecupan serta lumatan Sehun yang mulai tak bisa dikuasainya.
"Sehun—nghhh~"
Dan jangan lupakan tangan kasar Sehun yang mulai menyentuh batas sadar Luhan sebagai seorang pria, ketika Sehun memainkan kedua niple nya bergantian hingga satu gerakan cepat Sehun membuang celana dan membuka lebar-lebar kedua pahanya.
"ah-…."
Sehun melakukannya, dia sedang mengulum penis Luhan yang resah sepanjang malam, hal itu dimanfaatkan Luhan untuk mendesah sehebat mungkin untuk menunjukkan pada Sehun betapa dia sangat merindukan sentuhan serta sosoknya dalam hidup.
Terkadang Sehun memutar, menghisap kuat penisnya lalu mengocoknya, membuat Luhan bergerak liar di tempat tidur menggunakan dengan kemeja putih sebagai pertahanan terakhir sebelum dia benar-benar dibuat polos oleh Sehun.
"Sehun….!"
Dia menjambak rambut suaminya, bergerak resah mencengkram selimut milik Sehun sebelum tubuhnya melengkung sebagai respon bahwa dirinya mendapatkan klimaks yang sudah didambanya sejak malam tadi.
Sehun menghapus sisa cairan di bibirnya, di waktu yang masih menunjukkan pukul dua belas siang, keduanya sudah bergumul diatas kasur saling melepas rindu yang menyesakan jiwa dan hati keduanya.
Sehun kembali merangkak hingga posisinya sejajar dengan Luhan, keduanya saling bertatapan dan Luhan membantu membersihkan sisa cairannya di mulut Sehun, tersenyum, sampai Sehun ingin membuka kemeja putihnya namun dihalangi Luhan yang menggeleng membuat Sehun terlihat bingung tak mengerti.
"Tidak perlu membuka kemejaku, aku malu."
"Tapi kau cantik Lu."
Luhan berusaha mengalihkan perhatian Sehun, dia pun sengaja berbalik dan siap dalam posisi menungging untuk menyambut Sehun "Sayang, kau bisa masukkan sekarang."
"Tapi kau paling benci dengan posisi ini."
Luhan menggeleng, matanya memancarkan keinginan untuk disentuh yang sebelumnya tak pernah dilihat Sehun sebelumnya "Posisi ini bisa membuatku merasa gila dan nikmat, lakukan sayang."
Sehun pun tergoda melihat lubang merah istrinya seolah memanggil, membuatnya tak tahan untuk tidak memasukkan dua jarinya sebagai penetrasi sebelum memposisikan diri di belakang Luhan dan mulai menerobos masuk lubang yang selalu berhasil membuatnya melakukan solo selama tiga bulan setiap Sehun mengingat bagaimana sempit, bagaimana nikmat dan sangat memuaskan saat penisnya berada didalam sana.
"Aku masuk."
Luhan mengangguk, bersiap untuk rasa sakitnya dan ya, dia merasakan sakit untuk sesaat sebelum rasa robekan itu dirasakannya lagi karena Sehun sudah tidak menjamahnya cukup lama.
"Aaargh~"
Sehun berhenti bergerak dan Luhan menggeleng, memohon agar Sehun terus masuk "Lanjutkan, sayang…Masukkan sekarang—AGH!"
Dan Sehun selalu tahu cara mengalihkan rasa sakit Luhan, biasanya dengan satu hentakan sekaligus agar Luhan terbiasa, dan saat lubang Luhan tak lagi menjepit kencang penisnya didalam , itu artinya dia bisa melakukan doggy style dengan aba-aba Luhan yang memohon
"Bergerak sayang."
Yeah. Sehun mulai mengeluar masukkan penisnya, awalnya lembut, tapi kemudian rasanya terlalu nikmat jika dia melakukannya perlahan, jadilah dia menghentak sedikit lebih kuat tanpa tahu dibawahnya, Luhan sedang berdoa kuat-kuat agar kegiatan mereka tidak mengusik ketenangan buah hatinya.
"Akh~ Sehun perlahan, aaah~"
Dan jangan katakan dirinya Sehun jika dia bisa mengontrol bagaimana menggoda tubuh Luhan yang sedang bertumpu dengan kedua tangan dan kedua tumitnya untuk menerima setiap hentakan yang mewakili betapa dia sangat merindukan Luhan dan semua tentang istrinya.
"Luhan—haaah~"
Hingga tanpa sadar gerakannya semakin cepat, hentakannya sampai kuat dan Luhan mencapai klimaks keduanya disusul Sehun yang rupanya tak bisa menahan diri lebih lama untuk tidak membasahi lubang seksi yang kini dipenuhi oleh sperm yang kelak akan menjadikan dirinya seorang ayah.
"haah~"
Luhan tak kuat, dia telentang pasrah dengan tubuh Sehun diatasnya, rasanya dia sudah cukup puas karena berhasil menggoda Sehun, namun sepertinya itu bukan akhir permainan karena saat ini, diam-diam tangan besar Sehun menyusup ke bagian bawahnya dan mulai memijat lagi penis istrinya, memberikan sensasi yang tak bisa ditahan Luhan hingga akhirnya mereka berdua kembali terangsang dan kali ini Luhan memimpin agar setiap posisi dia yang menentukan.
Awalnya Sehun tak mengerti, Luhan tak pernah memilih posisi saat mereka bercinta, berbeda dengan siang ini, karena setiap Sehun ingin mengambilnya dengan posisi kaki Luhan membuka lebar dibawahnya, Luhan akan menolak dan meminta dengan posisi lain.
Seperti saat ini, istrinya on top, menaik turunkan tubuhnya dengan seksi sementara tangannya diarahkan untuk mengocok penisnya yang tidak dijamah sementara satu tangan Sehun ingin menjamah tubuh menggoda istrinya namun tidak diizinkan Luhan yang justru membawa tangannya ke dua nipple bergantian.
Entahlah, Luhan tidak bersikap seperti biasanya, dia seperti menghindari bagian tertentu agar tidak dijamah dan hanya bergerak seksi hingga membuat Sehun lupa dan lagi-lagi keduanya mencapai nikmat mereka bersama.
Suara erangan itu, deru nafas yang bersahuta, suara serak Sehun, suara memohon Luhan, hari itu, keduanya melakukan tanpa henti, tidak berniat untuk melepaskan tubuh yang sudah menyatu setelah lama tak saling bergumul.
Siang itu, Luhan membiarkan Sehun mengambilnya sesuka hati, seolah tak ada buah hati yang sepertinya mulai terganggu dengan aktifitas kedua orang tuanya, terbukti dari kram perut yang dirasakan Luhan namun coba ditahannya setiap Sehun menghentak dan mengeluarkan sperm didalam tubuhnya.
.
.
.
.
.
.
Keesokan pagi, 10.00 KST
.
.
"Bagaimana kondisi bayiku dokter Lee?"
Bohong jika Luhan tidak takut akan kondisi bayinya mengingat malam tadi dia bercinta dengan Sehun tanpa henti dan membuatnya beberapa kali merasakan kram di perutnya. Karena alasan itu pula diam-diam saat Sehun tertidur, Luhan sudah pergi meninggalkan café dan mencari dokter kandungan yang praktek di hari minggu.
Beruntung Luhan menemukannya, meski harus menunggu hampir tiga jam lamanya, setidaknya dia sudah diperiksa dan dia tahu raut memperingatkan dari seorang dokter jika pasiennya mulai berulah atau terlalu nakal dan tak memperhatikan kesehatannya.
"Berapa lama kau berhubungan intim dengan suamimu?"
"mhhh…"
Luhan mengingat-ingat dengan rona merah di wajahnya, membayangkan bagaimana Sehun benar-benar lepas tanpa rasa bersalah saat mengambilnya adalah hal yang sangat mendebarkan dan Luhan bisa terangsang lagi mengingat wajah suaminya saat klimaks dan memanggil namanya.
"Sekitar enam jam?"
"Enam jam? Dengan kondisi usia kandunganmu yang baru saja melewati tiga semester pertama? Whoa, kau kuat sekali Luhan."
Lucunya Luhan tidak merasa dirinya sedang disindir oleh dokter yang pernah bekerja di klinik yang sama dengannya saat dia menetap di Pyeongchan dua tahun yang lalu, karena daripada merasa disindir Luhan lebih merasa dia sedang dipuji karena bisa menangani kasus suami yang sudah tidak menyentuh istrinya selama tiga bulan.
"Aku yang menggodanya." Katanya polos, membuat dokter Lee Hyori itu tertawa maklum mengingat usia Luhan memang sedang menggebu jika menyangkut urusan tempat tidur
"Baiklah ini hasil usg terbaru milikmu, bayimu sehat dan dia sama sekali tidak terganggu dengan aktifitas ayah ibunya yang mengganggunya selama enam jam malam tadi."
"eyy…Kami tidak mengganggunya, kami sedang menghiburnya agar dia bisa merasakan ayah dan ibunya masih saling mencintai dan akan melakukan apapun untuk membuatnya senang."
"Baiklah terserahmu saja, tapi lain kali perlahan jika ingin berhubungan intim, kram diperutmu bisa mengganggu aktifitas bayi kalian, jadi minta dia untuk perlahan sangat bergerak, hmmh?"
"Baiklah, tapi bayiku benar-benar sehat kan?"
"Ya, bulan depan kau bisa melihat jenis kelamin bayimu, kau boleh pulang dan jangan lupa kau harus meminum rutin vitamin yang kuberikan."
Luhan memekik senang lalu menyelipkan hasil usg terbarunya di note kecil yang selalu dia bawa kemanapun sejak kedatangannya di Pyeongchan. Itu adalah semacam jurnal tumbuh kembang bayinya dan Luhan selalu menuliskan apapun disana.
"Baiklah, aku akan selalu ingat, terimakasih dokter Lee."
Dan tak lama Luhan keluar dari ruang pemeriksaan, dia menyerahkan resep yang kebagian pengambilan obat dan menuliskan sesuatu dibalik hasil usg nya, dia terlalu fokus menulis sebaris kalimat disana sampai tak sadar jika namanya sudah dipanggil di pengambilan obat
"Oh Luhan."
"ah, Ya."
Dia pun kembali menyelipkan hasil usg nya ke dalam jurnal yang diberi judul our little baby Oh, untuk mengambil obat dan berjalan pulang sebelum kembali mengganggu Sehun di café tempatnya bekerja.
"Nanti kita akan bertemu papa lagi nak, kau harus sabar."
Dia benar-benar bahagia saat ini, setelah puas bercinta dengan Sehun malam tadi, dia juga puas saat mendengar bayinya baik-baik saja. Dia ingin sekali memberitahu Sehun tentang bayinya, tapi dia tahu Sehun belum siap karena daripada bahagia dia hanya akan terus merasa bersalah. Jadi dia memutuskan untuk terus berada di sekeliling Sehun hingga nanti Sehun siap mendengar bahwa dirinya akan menjadi ayah kurang dari lima bulan setelah hari ini.
"yeah, sedikit lagi."
.
.
.
.
.
.
.
.
Sore hari, 17.00 KST
.
Luhan sudah mengganti bajunya, tak lupa dia juga mengenakan mantel tebal yang menutupi perut buncitnya untuk membuka pintu café dan berjalan riang ke tempat Sehun biasanya bekerja.
"Hay V."
"Hay Lu, kau datang terlambat hari ini?"
"eoh, aku ada urusan. Dimana Sehun?" katanya bertanya menyadari bahwa hanya ada V dan café terlihat sepi "Sayangnya kau terlambat Lu, L dan Sehun baru saja pergi ke kota membeli bahan kopi terbaik di tempat langganan kami."
"Begitukah?" tanyanya kecewa namun V menghiburnya dengan mengatakan "Hanya dua jam Lu, tunggulah di kamar Sehun, rasanya dia sedang dalam mood yang baik pagi ini."
"Benarkah?"
"eoh, setelah bertanya kau dimana pagi tadi, dia kecewa kau pergi, tapi sepanjang hari wajahnya bersinar, dia bahkan bersiul tanda bahwa mood nya benar-benar sangat baik."
Luhan pun merona malu, dia mengangguk setuju untuk menunggu Sehun dikamarnya sebelum ponselnya bergetar dan nama Baekhyun tertera disana
"Hay Bee."
"JANGAN KATAKAN KAU SEDANG BERSAMA AYAH DARI BAYIMU!"
Luhan menjauhkan ponselnya, dia menatap miris pada Taehyung sebelum bergerak menjauh dan mulai bercerita heboh pada Baekhyun "Baek, kami bercinta malam tadi."
"MWO? BERANI SEKALI DIA MENYENTUHMU!"
"ish! Berhenti berteriak, aku yang menggodanya."
"Aku tidak percaya kau melakukan itu Lu."
"Wae? aku merindukan suamiku? Sudah lama aku tidak dijamah kan? Hehehe, pokoknya aku bahagia, ada apa menghubungiku?"
"Aku mengkhawtirkanmu bodoh!"
"aww, manis sekali."
"Kapan kau pulang?"
"Lusa, aku ingin datang ke persidangan Doojoon hyung."
"Tidak perlu datang, kau bisa disana lebih lama."
"Setelah dari persidangan aku akan datang kesini lagi."
"Lu…."
"hhmmh?"
"Aku rasa kau tidak akan siap menghadiri persidangan Professor Yoon?"
"Memangnya kenapa?"
Baekhyun tak lagi berbicara, membuat Luhan memutuskan untuk pergi dari café sebelum Sehun datang dan melihatnya sedang berbicara dengan Baekhyun.
"V, aku pulang, besok aku datang lagi."
"Tidak jadi menunggu Sehun?"
"Besok saja, sampai nanti." Katanya berpamitan, mengambil tergesa tasnya hingga tak sadar Luhan menjatuhkan jurnal baby Oh sementara dirinya masih berdebat dengan Baekhyun "Aku akan tetap datang kesana, dengar?"
.
.
.
.
.
.
.
.
Dua jam kemudian
.
Tepat seperti perkiraan Taehyung, Myungsoo dan Sehun kembali dalam dua jam, mereka juga membawa banyak perlengkapan seperti kopi berkualitas dan alat-alat baru yang bisa menjamin cita rasa kopi di café mereka.
Keduanya terlihat lelah, namun lucunya Sehun justru datang menghampiri Taehyung untuk diam-diam bertanya "Luhan tidak datang?"
"ah, dia datang tapi segera pergi setelah menerima panggilan di ponselnya."
"Apa terjadi sesuatu?"
"Sepertinya tidak, tapi dia bilang besok akan datang."
Wajahnya kembali tidak bersemangat untuk menepuk pundak Taehyung dan mengatakan "Aku ingin berada dikamar malam ini, jangan ada yang menggangguku."
"oke…."
Sehun pun meletakkan seluruh barang-barang keperluan café, berniat untuk segera menaiki tangga sampai tak sengaja kakinya menendang sesuatu seperti buku dengan tulisan jurnal baby Oh, sepertinya Sehun familiar dengan jurnal itu, membuatnya memungut buku yang ditebaknya milik Luhan, membaca lembaran pertama dan benar saja, dia tersenyum menyadari bahwa ada hasil usg dua tahun yang lalu bertuliskan "our first baby." Yang selalu ditulis Luhan dalam jurnal tersebut.
Sehun tersenyum menyadari Luhan masih menyimpan jurnal bayi pertama mereka, membuatnya rindu hingga tanpa sadar dia terus membalik halaman demi halaman dan membaca pesan yang ditunjukkan Luhan untuk bayi mereka
Jika pria kau pasti tampan seperti papa
Jika wanita aku rasa kau cantik seperti mama, ya kan sayang?
Dan itu adalah kali pertama Luhan mengakui dirinya cantik, membuat Sehun tersenyum saat menaiki tangga menuju kamarnya untuk membuka lembaran selanjutnya dan tertawa lagi melihat calon nama yang diberikan Luhan untuk bayi mereka.
Tak lupa Sehun juga menulis satu catatan aku sudah memiliki nama untuk bayiku, jadi kau tidak bisa memberi nama untuk bayi kita, maaf sayang.
Sehun ingat hari itu Luhan menangis kesal sekesal-kesalnya, dia bahkan tidak diizinkan tidur dikamar hingga dua jam sampai Luhan diam-diam membawa selimut dan ikut berbaring dengannya dibawah sofa
Baiklah, kau boleh memberikan nama, kau ayahnya, jadi kau berhak memberi nama pada bayi kita.
Rasanya kelu saat Sehun ingin mengucap nama yang sudah disiapkannya, dia bahkan tak berani lagi menyebut nama bayinya dan berencana akan memberikan nama itu untuk bayi mereka selanjutnya sampai
Sret…!
Sesuatu terjatuh dari lembar berikutnya, Sehun memungutnya dan sedikit bertanya-tanya kenapa ada hasil usg lain yang dimiliki Luhan, seingatnya mereka hanya sampai melakukan empat usg dan keempatnya sudah dilihat Sehun dihalaman sebelumnya.
Jadi ketika Sehun melihat lembar usg kelima membuatnya bertanya-tanya dan rasanya asing karena dia belum pernah melihat usg yang sudah menunjukkan bentuk rupa si bayi didalam sana.
"Milik siapa ini?" katanya bertanya, mencari nama pemilik dan jantungnya dibuat berhenti berdetak saat membaca nama
Oh Luhan, June 20, 2018
DEG!
"bukankah, Bukankan itu hari ini?"
Sehun bertanya-tanya, dia membalik halaman selanjutnya dan ada dua usg asing yang tak pernah dilihat seblumnya, dimulai dari bulan April hingga Juni 2018, semua tertera disana dan membuat Sehun sesak, takut dia terlalu berharap hingga berakhir duduk dia anak tangga terakhir untuk menenangkan diri.
"Apa yang terjadi? Dia bayiku?"
Sehun bertanya penuh harap, lalu menyadari bahwa perubahan fisik Luhan yang terjadi di sekitar pinggangnya memang sangat terlihat, dia berfikir istrinya hanya terlalu banyak makan dan tak pernah terbersit sedikit pun jika Luhan sedang mengandung anaknya mengingat dia sangat brutal malam tadi saat mereka bercinta.
"oh tidak…"
Lalu sikap aneh Luhan kembali teringat Sehun saat mereka bercinta malam tadi, Luhan menolak menggunakan posisi yang biasa mereka lakukan, dia juga cenderung menjauhkan tangan Sehun yang memegang pinggangnya seolah dirinya sedang menutupi sesuatu.
Dan sesuatu itu adalah…..
"Bayiku?"
Sehun tak tahan, dia hampir memekik terlalu bahagia lalu tak sengaja matanya menangkap sebaris tulisan di usg hari ini, tulisan yang sepertinya ditunjukkan untuk dirinya melalui buah hati mereka.
Dariku, untukmu "Hay Sehun aku datang lagi, maaf membuatmu terkejut tapi aku mencari suamiku, ingin membawanya pulang kerumah bersamaku dan yang lain."
Hati Sehun sesak membaca baris pertama sampai dia beralih membaca baris berikutnya yang bertuliskan "ah! Satu lagi! aku boleh meminta sesuatu? Hanya satu, jangan berpaling dariku lagi? maukah?"
"nggghhhmpphh…"
Sehun menggigit kuat bibirnya, dia menahan seluruh rasa bersalahnya saat membaca tulisan Luhan, terlebih saat kalimat "Karena aku membutuhkanmu, dan bayi kita membutuhkan ayahnya."
Sontak Sehun berteriak "LUHAAAAAAANN!"
Dan segera menuruni tangga seperti sesuatu yang buruk akan terjadi jika dia tidak segera pergi dan menemui istrinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
"eoh, aku sedang berbelanja, tidak banyak, aku ingin membawakan sarapan untuk Sehun. Bantu aku membuatnya soo."
"apa yang ingin kau buat?"
"Omelete."
"mudah, nanti aku membantumu."
Saat ini Luhan sedang berbelanja di minimarket yang terletak tak jauh dari rumah yang disewanya, lucunya Luhan memiliki banyak kenangan di minimarket ini hingga rasanya dia harus menceritakannya pada Kyungsoo.
"Tebak aku sedang berbelanja dimana?" katanya menyangga ponsel dengan bahunya, dan perlahan meletakkan telur di troley belanja miliknya.
"Minmarket, dimana lagi kau bisa berada?"
"Kau benar, tapi kau tahu Soo?"
"Apa?"
"Minimarket ini adalah minimarket pertama yang mempertemukan aku dengan Sehun saat aku tidak mengingat apapun."
"Benarkah?"
"eoh," katanya tersenyum miris lalu mengatakan "Saat aku menjadi Rein."
.
.
.
.
Sementara itu….
.
BLAM!
Tujuan utama Sehun adalah rumah mereka, jelas disanalah dia bisa menemukan Luhan, tapi melihat rumahnya begitu gelap seperti tidak dihuni hanya membuatnya mengumpat kesal terlebih kunci rumah mereka mastaih berada di tanaman kaktus yang menandakan bahwa tak ada yang menempati rumah mereka.
Tanda bahwa kunci itu adalah harapan jika salah satu dari Sehun atau Luhan kembali kerumah dan tinggal disana, jadi saat menemukan rumahnya gelap dan sepi hanya membuat Sehun terlihat panik menyadari selama ini Luhan berbohong dengan mengatakan tinggal dirumahnya.
"dimana kau Lu…"
Dia gemetar mencari nama Luhan di ponselnya, berharap Luhan mengangkat panggilan darinya namun sial, sepertinya Luhan sedang berada dengan panggilan lain hingga membuat Sehun frustasi dan kembali berjalan memasuki mobil, mencari di semua kemungkinan dimana istrinya berada saat mereka berada di Pyeongchan.
.
.
"eoh, aku sedang mengantri bayar Soo. Temani aku sebentar, apa Baekhyun masih marah pada Sehun."
"ya sepertinya, dia kesal jika ingat kalian bercinta malam tadi."
Luhan terkekeh mendengarnya, mulai mengeluarkan satu persatu barang belanjaannya dari troley sementara dia berbisik pada Kyungsoo "tapi aku sangat senang, maksudku Sehun sangat menakjubkan di tempat tidur."
"OKAY STOP! jangan dilanjutkan…."
"hahahaha… Ini juga." Katanya membayar dua botol gingseng hitam yang akan diberikannya pada Sehun besok pagi.
"Aku rindu Taeoh."
"Dia sudah tidur dengan ayahnya, Kai dan Taeoh merindukan Lulu mereka, cepat kembali."
Luhan tersenyum untuk mengeluarkan susu segar dari troley miliknya dan menjawab "Tunggu aku sampai Sehun ikut pulang denganku."
"Baiklah, kau harus berusaha."
"Aku tahu."
.
.
.
.
Dan saat Luhan terlihat sedang membayar seraya berbicara dengan seseorang di ponselnya, Sehun, entah darimana memiliki firasat bahwa Luhan berada di tempat kali pertama mereka bertemu sebagai orang asing.
Dia tidak terlalu berharap saat berlari memasuki minimarket, tapi saat dia membuka pintu disaat yang sama pula dia bisa mendengar suara yang sudah dicarinya selama dua jam ini sedang tertawa dan terlihat bahagia.
"Baiklah, aku tutup panggilanmu Soo, cepat tidur dan kirimkan cium sayangku pada Taeoh."
Dia juga terlihat berbeda karena tidak memakai mantel besar yang biasa digunakan untuk menutupi perut buncitnya, disana, istrinya hanya menggunakan kemeja putih selutut dipadu celana pendek yang membuatnya terlihat seperti mengenakan dress, Sehun mengumpat marah dengan cara berpakaian Luhan saat jauh darinya, itu hanya seperti menunjukkan betapa sempurna lekuk tubuhnya dan Sehun tak rela harus berbagi pandang tubuh istrinya dengan pria lain.
"eoh, Aku juga menyayangimu Soo, sampai nanti."
Lalu terlihat Luhan menutup ponsel, meletakkannya di sling bag warna hitam yang melingkar di pinggang untuk bertanya "Berapa totalnya?"
"lima puluh ribu won."
Luhan mengeluarkan credit card nya, menyerahkan pada pejaga minimarket seraya menunggu kartunya di proses "Selesai, terimakasih tuan."
"eoh, terimakasih kembali."
Luhan mengambil dua plastik belanja miliknya, berniat untuk segera pergi sampai dirinya dibuat terkejut melihat Sehun berdiri tepat didepan matanya, sedang memandangnya persis dengan tatapan yang pernah diberikan Luhan saat mereka pertama kali bertemu sebagai Rein dan Sehun.
"Sehunna…"
Yang membedakan hanya posisi mereka, saat itu Luhan berada di posisi suaminya, menitikkan air mata karena merasa familiar namun tak bisa mengingat.
Namun malam ini berbeda, Sehun juga menatapnya antara sendu, cemas, bahagia dan marah, dia menitikkan air mata yang sama seperti Luhan saat itu, hanya saja milik Sehun dipenuhi luka dan kecemasan yang begitu besar hingga membuatnya berteriak.
"Kau tidak tinggal dirumah, dimana-…DIMANA KAU TINGGAL?"
Refleks, dua tangan Luhan menjatuhkan dua plastik belanja miliknya, buru-buru dia berlari dan tak mengerti mengapa suaminya menangis seperti ini sebelum menarik lengan Sehun dan memeluknya erat, menenangkan.
"Sayang tenanglah, ssshh….Akan aku beritahu dimana aku tinggal, tenanglah."
Dan setelah memastikan Luhan berada di pelukannya, Sehun jauh lebih tenang, dia hanya membiarkan lengannya melingkar sempurna di pinggang istrinya sebelum mendengar dari bibir Luhan sendiri bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Klik….
.
Disinilah Luhan membawa Sehun ketempatnya menyewa rumah, Sehun sepertinya sudah menunjukkan tanda dia marah mengetahui dirinya tinggal di lingkungan berbahaya seperti tempat ini.
Jadilah Luhan berusaha untuk menjelaskan tapi sepertinya Sehun tak memiliki waktu untuk mendengarkan dan hanya melucuti kemeja Luhan tak sabar "Sayang, tunggu sebentar-…!"
Kali ini gerakan Sehun sangat cepat, Luhan tak bisa menghentikan suaminya hingga satu tarikan kasar kemejanya robek dan Luhan dalam posisi topless dengan perutnya yang terlihat membuncit tak tega melihat ekpresi suaminya saat ini.
"Sehun ada apa? Kenapa kau merobek kemejaku?"
BRAK…!
Sehun berlutut, menatapi kehidupan lain yang diketahuinya dari sebuah ketidaksengajaan, matanya memanas tak bisa menahan bahagia saat melihat perut Luhan membuncit karena mengandung buah hatinya.
Membuatnya tanpa sadar mengangkat satu tangannya dan mulai menempelkannya di perut Luhan "anakku.."
"huh?"
Luhan tak mengerti apa yang dibicarakan Sehun sampai suaminya mendongak dan menatapnya berharap "Kau sedang mengandung anakku bukan?"
"haah~"
Luhan membekap mulutnya erat, entah darimana Sehun mengetahui tentang kehamilannya, yang jelas ini bukan bagian rencana yang Luhan inginkan untuk memberitahu Sehun keadaan bayinya, dia memang akan memberitahu Sehun tapi tidak dengan cara ini, cara yang bisa membuat Sehun terluka dan benar saja, suaminya sedang membuat gerakan melingkar di perutnya tapi enggan mencium karena takut dia bisa menyakiti dirinya dan bayi mereka.
"Sehun…."
"Dia anakku kan?"
Luhan berjongkok, menyamakan posisinya dengan Sehun dan membawa tangan kasar Sehun pada posisi yang tepat, posisi dimana terkadang bayi mereka merespon dari dalam dan benar saja, saat tangan hangat ayahnya terasa bayi mereka menendang dan Luhan tersenyum untuk mengatakan.
"Maafkan aku, seharusnya aku memberitahumu lebih awal, aku hamil, dan dia buah hati kita sayang, buah hati yang kita nantikan bersama."
Sehun tertunduk, merasa takjub dan merasa bersalah, dilihat dari hasil usg Luhan dia memulai semua itu sejak bulan April, artinya bulan dimana dia memutuskan meninggalkan Luhan adalah bulan yang sama buah hati mereka hadir sebagai pelengkap di hidup mereka.
Membayangkan hal itu membuat hati Sehun hancur hingga kemudian dia terisak, tak berani menatap Luhan, menyatukan kedua tangannya, memohon maaf pada istri serta buah hatinya.
"Maafkan aku."
"Sehun jangan seperti ini."
"Maafkan aku sayang…"
Akhirnya dia mendengar Sehun mengatakan sayang lagi padanya, itu sudah lebih dari cukup untuk Luhan, itu sudah mewakili semua penyesalan Sehun hingga akhirnya Luhan memaksa Sehun untuk memangku dirinya agar mudah untuknya melihat sosok pria tampan yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
"Pastikan aku menjadi seorang ibu kali ini." katanya mengangkat dagu Sehun, mengecup bibirnya sayang lalu memeluk pria yang biasanya terlihat tegar dan kini tak berdaya di depan istri dan calon buah hatinya "Karena aku memastikan kau akan menjadi seorang ayah kali ini."
Ucapan Luhan lembut, terlalu lembut hingga menusuk jauh kedalam sanubari Sehun, hatinya kini terketuk karena kelembutan Luhan, terlebih saat bibir Luhan bergerak dibibirnya sedikit menuntut, lalu tak lama Sehun bisa merasakan sesuatu bergerak di perut Luhan dari tangannya adalah suatu keajaiban yang akan dijaga Sehun dalam hidupnya.
"Terimakasih sudah menjadikan aku seorang ayah Lu." katanya membalas ciuman Luhan seraya mengangkat bridal tubuh istrinya ke tempat tidur tidak layak yang membuat Sehun harus menahan geram marahnya, dia pun berusaha fokus pada Luhan sebelum membungkuk, mencium perut buncit istrinya untuk bergumam "Terimakasih sudah bertahan saat papa jauh darimu nak, papa mencintaimu."
.
.
.
.
.
tobencontinued
.
.
.
.
.
He's back….OH SEHUN's back yuhuuuuuu…
.
.
mau bilang ini benar-benar sudah mendekati end pemirsah *proudmommy.
tungguin sampai akhir ya, sabar, sebentar lagi, makasih GENG JTV udah sabar bat sama ini cerita, Lovetothemoonandback :*
.
Segini dulu, nextchap dibales :)
.
See you, selamat beraktifitas buat besok yang udah harus menghadapi paitnya dunia wkwkwkw :**
