Previous

"Terimakasih sudah menjadikan aku seorang ayah Lu." katanya membalas ciuman Luhan seraya mengangkat bridal tubuh istrinya ke tempat tidur tidak layak yang membuat Sehun harus menahan geram marahnya, dia pun berusaha fokus pada Luhan sebelum membungkuk, mencium perut buncit istrinya untuk bergumam "Terimakasih sudah bertahan saat papa jauh darimu nak, papa mencintaimu."

.

Je'Te Veux

.

.

.

Main cast : Lu Han as Xi Luhan

Oh Sehun as Oh Sehun

Rate : T-M

.

.

.

.

.

.

Ngghhh~ / AKH-~ deeep—rrgghh~

Katakanlah ini malam pertama Sehun setelah tiga bulan bisa tidur memeluk Luhan dan calon bayinya, awalnya mereka terpejam dengan nyaman setelah penyesalan mengenai kehamilan Luhan baru diketahuinya saat bayinya berusia empat bulan dikandungan Luhan, berbagai perasaan bersalah menggerogoti hingga akhirnya Luhan berhasil menenangkan dan meminta Sehun menghabiskan malam di rumah yang disewanya beberapa hari yang lalu.

Semua berjalan sesuai keinginan Luhan, Sehun tak lagi menyalahkan diri karena Luhan terus mengingatkan bahwa setidaknya masih ada lima bulan berjalan untuk Sehun mengikuti perkembangan bayi mereka, jadilah suaminya merasa sedikit lebih tenang.

Sehun juga tidak menolak saat Luhan memintanya bermalam di rumah yang disewanya malam ini, mereka tidur berdesakan karena memang kasur tak layak itu hanya cukup ditiduri tubuh mungil Luhan, bukan tubuh kekar Sehun yang mau tak mau akhirnya membawa Luhan tidur di atas tubuhnya agar keduanya bisa tidur dengan nyaman.

Ya, mereka masih saling menyelami mimpi masing-masing, mungkin akan bertahan hinga esok pagi jika Sehun tidak merasa terganggu dengan suara entah darimana yang sukses membuatnya tak nyaman dan sedikit bergerak seraya memeluk tubuh mungil Luhan diatas tubuhnya.

No, no, notheree! No—AKH!

Dan suara teriakan itu sukses membuat kedua mata Sehun terbuka, dia merasa tidak nyaman mendengarnya, kedua telinganya menajamkan pendengaran dan seperti dugaannya itu memang suara desahan yang terdengar tepat dari samping kamar Luhan, membuatnya menggerutu kesal dan ingin memarahi Luhan karena tak habis pikir bagaimana bisa istrinya menyewa tempat semacam ini untuk tidur.

OPPA—aaahhh~

"Oh ayolah!"

Jadilah dia menggeram kesal, membayangkan malam yang harus dilewati Luhan dengan suara tak tahu diri yang sepertinya akan terdengar hingga pagi dan itu tidak baik untuk kesehatan istri dan calon bayinya.

Tubuhnya bergerak resah, berusaha melakukan apapun agar Luhan tidak terganggu namun percuma, mata cantik istrinya sudah terbuka dan kini sedang memandangnya polos untuk bertanya "wae? Kau terganggu ya?"

Merasa kesal, Sehun hanya memalingkan wajah dengan kedua tangan memeluk Luhan posesif berpura-pura tidur namun bibirnya menggerutu "Suara mereka sangat mengganggu!"

Hal itu membuat Luhan tertawa memaklumi sikap kesal suaminya, dia pun kembali bersandar di dada Sehun seraya memejamkan mata untuk menggoda suaminya "eyy…Suaraku juga seperti itu setiap kau mengambilku, jadi jangan salahkan mereka, salahkan tempat ini karena tidak kedap suara."

Tak mau kalah Sehun membalas "Aku menyalahkanmu karena berbohong padaku dan memilih tempat tak layak ini untuk bermalam! Kau tahu ini berbahaya untukmu dan anak-…." Sehun ingin mengucapkan kalimat "anakku." tapi apa daya dirinya terlalu malu dan terlalu senang menyadari bahwa saat ini, dia sedang merasakan perut buncit Luhan menempel di perutnya dan itu membuat jantungnya berdebar cepat setengah mati.

"anakmu." Luhan menimpali dan itu membuat Sehun sedikit gugup untuk membenarkan "y-Ya, tentu saja anakku, jadi aku menyalahkanmu karena memilih tempat tak layak ini untuk bermalam!"

Luhan membalasnya lagi dengan mengatakan "Kalau begitu aku menyalahkan ayahnya anakku karena begitu saja pergi dan tidak menyambutku dengan baik saat aku datang."

"Aku-…."

Katakanlah Sehun kalah telak, karena benar seperti yang dikatakan Luhan dia bahkan tidak mencari tahu dimana istrinya bermalam hari itu, mempercayakan begitu saja Luhan bermalam di rumah mereka saat dirinya tak sanggup tinggal dirumah yang menyimpan banyak kenangan untuk mereka.

Kemudian wajahnya terlihat pucat, mengutuk bagaimana pikiran meninggalkan Luhan masih begitu ingin dilakukan sementara Luhan harus menanggung benih dari perbuatan yang dia lakukan, mengingat hal itu cukup membuat Sehun gusar hingga maaf saja tak sanggup dia katakan.

Jadilah dia memilih diam namun nafasnya cepat membuat Luhan sadar bahwa dirinya terlalu kasar dengan menyinggung keberadaan Sehun sementara suaminya masih menyimpan rasa bersalah karena melewatkan perkembangan bayi mereka selama tiga bulan berlalu.

"Tapi kau sudah tahu, jadi tidak apa."

"Dengan ketidaksengajaan aku tahu, ya, tidak apa." katanya getir membuat Luhan terkekeh menyadari suaminya masih kesal karena tidak diberitahu lebih awal "Padahal kau datang tapi tidak langsung menuntut tanggung jawabku, bagaimana jika aku berulah lagi? Harus bagaimana aku menatap anakku kelak?"

Sehun terus memarahi Luhan tanpa henti saat dirinya membayangkan hal-hal yang bisa saja terjadi jika Luhan terus menutupi kehamilannya, bagaimana jika dia tetap pada niat awalnya untuk membiarkan Luhan bahagia tanpa dirinya, bagaimana jika dia kembali meninggalkan istrinya, kali ini bukan hanya Luhan yang akan membencinya tapi juga anaknya kelak.

Hal itu membuat Sehun benar-benar kesal ditambah suara desahan yang tak kunjung henti dari kamar sebelah "HEY BISAKAH KALI-ANDIAMM—HHMMP~"

Luhan terkejut, dibekapnya bibir Sehun untuk memberi kode dengan mata bahwa tak baik mengganggu privasi seseorang di tempat tidur, mati-matian Luhan membekap bibir Sehun karena dia takut keributan akan terjadi namun beruntung sepertinya tetangga sebelah tidak terganggu karena suara desahan masih terdengar dari samping kamarnya.

"ssstt….Sayang itu tidak sopan."

Sehun menggelengkan kencang kepalanya seraya mengoceh "Mereka yang tidak sopan, jam berapa ini?"

Luhan gemas, dia sedikit merangkak untuk menggigit bibir Sehun dan kembali menggoda suaminya "Bagaimana jika kita melakukannya juga?"

"Apa?"

"Yang mereka lakukan." Katanya berbisik membuat jantung Sehun semakin berdebar cepat untuk menggeleng dan untuk pertama kali menolak Luhan saat mengajaknya bercinta "Tidak, terimakasih."

Sontak hal itu membuat Luhan merasa malu dan kesal hingga tanpa sadar berteriak "WAE?" yang mana membuat posisi berubah karena saat ini Sehun yang membekap bibir mungil istrinya seraya memperingatkan "ssst…Mereka sedang bercinta sayang." Sehun berbisik membuat Luhan mendengus kesal dan menyingkirkan tangan besar suaminya "Tidak peduli! Kenapa kau menolakku?"

"Aku tidak menolak aku hanya-….."

"Hanya apa? whoa, Jangan-jangan kau sudah bosan padaku?!"

"yang benar saja! Aku ini memujamu!"

"Lalu apa? atau jangan-jangan kau benar memiliki orang lain selama kita berpisah."

"Tidak masuk akal! Aku sama sekali tidak bergairah dengan mereka semua."

"Lalu apa? Katakan padaku kenapa kau menolak—Sehun!"

Posisi mereka kini berbalik, di tempat tidur sempit itu Luhan harus membulatkan matanya karena terkejut saat Sehun tiba-tiba menindihnya, pria tampannya juga terlihat frustasi karena semua tuduhan yang dia berikan hanya untuk memperingatkan "jangan!—Jangan pernah meragukan betapa aku mencintaimu, betapa aku memujamu dan jangan! Jangan pernah berfikir aku bisa bercinta selain denganmu, itu menggelikan! Kau dengar?"

Dan lihatlah betapa Luhan merasa dirinya adalah pria yang begitu berkuasa atas pria tampan yang sedang memberi peringatan padanya, karena tak hanya tubuhnya, tapi hati serta pikiran suaminya adalah milik dirinya seorang, hal itu membuatnya sangat bangga hingga rasanya sayang jika Luhan tidak menggunakan kesempatan ini untuk meminta Sehun…

"Buktikan!"

"huh?"

"Buktikan semua yang kau katakan itu benar! Kau memujaku, mencintaiku dan hanya aku! Buktikan!" katanya menantang dibalas kekehan Sehun yang membawa tangannya ke dalam piyama tidur Luhan, mengusap perut buncit yang coba disembunyikan istrinya selama tiga hari ini untuk bergumam "Ini buktinya, kau mengandung anakku."

"sshh…Selain itu! Aku butuh bukti yang lain!"

"Apa yang kau inginkan?"

"Buat aku mendesah seperti wanita disamping kamar kita!"

Sehun menunduk lagi, menyatukan dahi mereka untuk menyuarakan alasannya "Aku takut." Katanya bergumam, bertukar nafas dengan istrinya seraya menikmati wajah cantik yang kerap membuatnya ragu bisa bertahan hidup jika tanpa sosok cantik dibawahnya.

"Takut apa?" tanyanya sementara Sehun mulai mengusap lembut wajahnya, beralih ke bibirnya dan terlihat sedang menahan diri "Aku sudah melakukannya cukup kasar kemarin malam, aku takut itu mengganggu anak kita, aku takut dia membenciku."

"mwo?" Luhan terkejut dan tak lama "HA HA HA ….." Dia tak bisa menahan tawa saat ketakutan Sehun diucapkan sendiri dari bibirnya, dia juga sedang bertanya-tanya apakah dia sedang menikahi pria tiga puluh tahun atau anak lima tahun seusia Taeoh yang juga ingin menikahnya, entahlah, tapi hal itu benar-benar menghiburnya walau wajah Sehun tampak tersinggung karena dia tertawa dan sangat terhibur.

"Apa yang lucu?" katanya kesal dibalas gelengan kepala Luhan yang mulai melingkarkan kedua tangannya di leher Sehun, menekan tengkuk suaminya hingga jarak mereka begitu dekat dan Luhan bisa mencium aroma keringat bercampur aroma parfume milik suaminya "Kau yang lucu sayang, aku dan anak kita baik-baik saja, kau bahkan bisa melihatnya saat ini juga."

"Tapi….."

"Lagipula aku seorang dokter, aku tahu apa yang baik dan tidak untukku atau untuk perkembangan bayiku, ah ya, jangan lupakan Kyungsoo dan Baekhyun serta dokter kandunganku, setidaknya anakmu dijaga empat dokter sekaligus dan dia akan baik-baik saja."

Mengedip tak percaya Sehun memastikan "Benarkah?" dibalas kecupan hangat bibir Luhan di bibirnya "Dia tumbuh dengan baik didalam sana, percaya padaku sayang."

"Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya."

"Aku juga, jadi pastikan ibunya merasa bahagia lebih dulu."

"Bagaimana caranya?" Sehun bertanya lagi dan itu cukup membuat Luhan jengah serta memutar malas bola matanya "Aku sudah mengatakannya tadi! Buat aku mendesah seperti wanita disamping kamar kita."

"Kalau begitu lakukan dengan benar, jangan kesal."

Matanya memicing menatap Sehun dan tak lama tertawa menyadari sedari tadi Sehun hanya menggodanya karena terlalu malu untuk memulai "tsk! Sejak kapan kau menahan diri?" katanya melepas singlet putih suaminya, dan melihat bagaimana kekar tubuh Sehun selalu membuatnya tergoda hingga tak lupa dia bermain di dada bidang Sehun seraya mengusap kasar dua tonjolan kecil yang terkadang menjadi favoritnya saat mereka bercinta.

"Sejak aku tahu kau hamil, mungkin." Balasnya yang kini juga melucuti pakaian Luhan hingga istrinya tidak mengenakan sehelai benang di tubuhnya, sempurna, Sehun mulai pada kebiasaannya memuja Luhan dan tak lama dirinya merasa sangat bodoh karena baru kemarin malam mereka bercinta tapi tidak menyadari bahwa perut Luhan sudah sangat buncit jika tidak memakai penutup apapun.

Membuatnya benar-benar kesal hingga menciumi serta menjilati perut Luhan adalah hal pertama yang dilakukan Sehun sebelum memulai percintaan panas dengan istrinya "sa, Sayang! cukup!" rupanya Luhan dibuat kewalahan dengan panasnya bibir Sehun saat mendarat di tubuhnya, karena tak hanya perut suaminya kini turun semakin ke bawah dan membawa kedua kakinya mengangkan lebar menggunakan tangannya.

Luhan tahu apa yang akan terjadi setelah ini, dan benar saja-…."Akh-….." Sehun menjilati paha dalamnya bergantian, untuk kemudian menyerang lubangnya dan mengoyaknya dengan lidah panjang yang selalu membuatnya memuncak karena sensasi gairah yang berhasil diciptakan "Sehun, sayang—aaah, haaaah~" Luhan merintih, menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan sementara bibirnya memulai desahan yang secara tiba-tiba diberikan Sehun untuknya.

Perutnya terasa digelitik hingga ingin meledak, terlebih saat tak lupa Sehun mengulum penisnya yang sudah dibuat tegang beberapa menit yang lalu, menciptakan suara-suara erotis yang menggoda bibirnya untuk mendesah "oh sayang, itu nikmat, aaah~."

Dan kenikmatannya seolah bertambah saat gerakan Sehun beralih semakin bawah dengan lidah yang kembali menerobos lubangnya, menciuminya, menyesapnya kencang hingga rasa gelitik di perutnya semakin terasa dan tak lama Luhan mengapit kepala Sehun dengan kedua pahanya, menjemput klimaks pertama dengan mata terpejam dan bibir yang memanggil seksi nama suaminya.

"Sehunn—hhmmhh~"

Seketika dia lemas merasakan banyak kupu-kupu terbang dari perutnya, sensasinya sangat nikmat saat kau sedang mengandung dan suamimu membuat gerakan yang memancing respon dari bayimu, membuat Luhan merasa sangat bahagia karena mungkin malam ini mereka bertiga akan menghabiskan malam panas bersama tanpa rasa cemas menutupi atau menjauhkan kedua ayah-anak yang kini sedang berkomunikasi melalui perutnya.

"Papa ambil mama sebentar nak, jangan merasa terganggu." Katanya mengecup sayang perut buncit Luhan sebelum merangkak, dan menatap seksi kedua mata istrinya yang masih ingin disentuh dan dilayani, jadilah Sehun menyingkirkan anak rambut Luhan, mengecup kening istrinya seraya berbisik "Pastikan suara desahanmu terdengar hingga ke kamar tetangga kita." Katanya dengki dipenuhi dendam, hingga berniat membalas desahan dengan desahan dan terbukti

"SEHUN—oh yeah sayang, deep..-aaaahkkk~"

Suara desahan Luhan benar-benar kencang, dia seolah merasakan kenikmatan yang tak bisa dijelaskan setiap Sehun menghentaknya kencang dan tepat mengenai prostatnya, hal itu membuat Sehun sangat bersemangat, dia bahkan sengaja membuat suara penyatuan tubuh mereka terdengar kencang namun tetap memastikan bahwa bayinya didalam perut Luhan tidak akan terganggu dengan ajang percintaan yang diwarnai sedikit balas dendam karena suara desahan tetangga yang membuat tidur Luhan tak nyama selama beberapa hari ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan pagi

.

"Bagaimana bisa kau hanya membawa dua pasang pakaian jika berniat menetap dan tidak tahu kapan kembali ke Seoul?"

"Aku juga tidak berniat menetap pada awalnya, aku hanya ingin melihatmu tapi terimakasih pada si nona pirang karena dia mencium suamiku dan itu membuatku sangat marah hingga akhirnya nekat menemuimu."

"Lalu kenapa kau tidak langsung kembali? Bukankah supir Taecyeon menunggumu dengan setia?"

"Astaga sayang, apa kau sedang menyindirku?"

"Tidak, aku bicara kenyataan, kau memang dekat dengan Taecyeon!"

"Itu aku sebut menyindir sayang."

"Aku bilang tidak."

Oh ayolah, Sehun sedang menyindirnya saat membawa nama Taecyeon di percakapan mereka pagi ini, saat Luhan sedang memasakkan sarapan sementara Sehun memasukkan pakaian istrinya ke dalam tas kecil keduanya terlibat percakapan yang memicu rasa cemburu Sehun pada Taecyeon.

Banyak hal yang mereka bicarakan, dimulai dari kedatangan Luhan ke Pyeongchang bersama supir Taecyeon, lalu kenyataan bahwa keduanya berkomunikasi dengan baik membuatnya kesal tanpa alasan

Karena pada mulanya Sehun sudah merelakan Luhan bahagia bersama pria lain, namun cerita berubah sejak malam tadi, saat Sehun mengetahui kabar kehamilan istrinya, maka disaat yang sama pula dia memutuskan untuk tidak membiarkan Luhan hidup bersama pria selain dirinya.

"Kau memang dekat dengannya."

"Haaah-"

Diletakannya omelete yang berhasil dimasaknya sempurna atas bantuan Kyungsoo ke atas piring sebelum berjalan ke meja kecil yang ada di samping tempat tidur dan mendekati suaminya untuk membujuk agar tak perlu merajuk dan kesal lagi padanya.

Luhan melingkarkan tangan di sekitar leher suaminya untuk berbisik "Baiklah, aku memang sering bertemu dengannya tapi bukan karena aku mau, Baekhyun yang terus membawanya padaku."

"Baekhyun?" Katanya menoleh ke belakang dan melihat bagaimana Luhan mengangguk sangat menggemaskan membuatnya percaya bahwa kedekatannya dengan Taecyeon memang terkesan dipaksakan.

"Hmmh, entah bagaimana ceritanya tapi mereka menjadi dekat dan berteman cukup baik sekarang ini."

Kesal, Sehun kemudian mengumpat "Penghianat!" Dibalas kekehan Luhan mengetahui untuk Baekhyun umpatan yang baru saja diucapkan suaminya "Sebenarnya mungkin karena Jinyoung masih bekerja di Seoul hospital, mereka sering bertemu di ruang operasi dan berakhir menghabiskan waktu bersama untuk melepas lelah."

"Apa hubungannya?"

"Mengingat adik bungsu Jinyoung sekaligus adik dari mendiang Rein masih rutin melakukan pemeriksaan rutin di Seoul Hospital, rasanya wajar jika mereka sering bertemu dan menjadi dekat seperti saat ini."

"Lalu apa perlu Baekhyun menjadi sedekat itu dengan Taceyeon?"

"Well, jika Chanyeol meninggalkan Baekhyun hanya karena berfikir Baekhyun akan bahagia dengan pria lain, aku juga akan melakukan hal yang sama, membenci Chanyeol dan melakukan segala cara agar Baekhyun jauh dari Chanyeol!"

Sehun diam, ini jelas sindiran balik dari Luhan untuknya, mengutip kata-kata meninggalkan yang diucapkan istrinya hanya seperti menggambarkan bagaimana hubungan mereka selama beberapa bulan terakhir.

Hal ini jelas menunjukkan bahwa posisi Sehun kalah telak dari Luhan, dia tak bisa lagi menjadi pihak yang merasa dikhianati sementara penghianat sesungguhnya adalah dirinya sendiri, penghianat yang meninggalkan istrinya begitu saja dan nyaris mengambil jalan pintas dengan berpisah tanpa tahu bahwa darah dagingnya sedang tumbuh di dalam perut pria yang paling dicintainya dalam hidup.

"haah~" Kini Sehun menarik dalam nafasnya, mencium kedua tangan Luhan yang melingkar di lehernya untuk berbisik "Maafkan aku."

Luhan menyeringai menang, jelas Sehun sudah jauh lebih tenang tanpa membawa Taecyeon dalam percakapan mereka pagi ini, membuatnya tersenyum lega dan membalas ciuman Sehun yang mulai terasa lembut seperti biasanya.

"mmhh…Sayang-…"

Dan ini bukan cara mengawali pagi yang baik mengingat bagian bawah tubuhnya masih terlalu sakit akibat permainan mereka malam tadi, jadi Luhan mengakhiri ciuman keduanya untuk lebih dulu duduk melingkari meja makan dan memanggil suaminya.

"Sayang, sarapan lebih dulu." Katanya tertunduk, wajahnya sudah merona karena malu hingga membuat Sehun terkekeh dan mau tak mau meletakkan pakaian Luhan untuk menghabiskan sarapan pertama mereka setelah tiga bulan tak mereka lakukan.

"Baiklah aku tidak akan mengganggumu pagi ini, jadi jangan merona dan membuatku ingin melakukan hal nakal denganmu."

Luhan sempat membulatkan matanya diiringi tawa Sehun yang begitu puas hingga membuatnya kesal dan menggerutu "Tidak lucu!" setelahnya dia juga ikut tertawa menyadari bahwa saat ini dia seperti melihat Sehun kembali menjadi Sehunnya yang dulu secara perlahan, yang selalu menggodanya dan terus melakukan segala cara untuk membuatnya tertawa.

.

.

.

.

.

.

"Kau yakin tidak ada yang tertinggal sayang?"

"Tidak, aku hanya membawa satu ransel kecil ke tempat ini."

"Baiklah."

Sementara Sehun mengunci kamar sewa yang akan dia tinggalkan, Luhan menunggu dengan sabar, sesekali melihat ke lorong yang menjadi jalan utama menuju ke kamarnya sebelum terkekeh memaklumi rasanya wajar jika Sehun marah karena memang tempat ini tak layak untuk dihuni.

Klik…!

Lalu tak sengaja Luhan melihat tetangganya yang selalu mendesah setiap malam membuka pintu kamar mereka, menampilkan seorang wanita yang hanya memakai dress merah diatas lutut diikuti pria yang pastinya adalah pria yang sama yang selalu membuatnya mendesah setiap malam.

"Baiklah aku akan datang lagi malam nanti, pastikan suamimu pergi seperti biasa."

Keduanya bertukar ciuman penuh nafsu didepan pintu, tangan si pria bahkan sudah menelusup kebagian bawah dress wanita tersebut sementara Luhan dengan polosnya bergumam "rupanya si ahjumma berselingkuh?"

Yang sialnya, ucapannya tak sekedar gumaman kecil karena tak hanya Sehun tapi pasangan yang sedang berbagi ciuman panas itu mendengar celotehan polosnya hingga membuat mereka semua menoleh dan si wanita menggeram kesal mendengar ucapan Luhan.

"Siapa yang kau panggil ahjumma?"

"huh?"

Luhan tak menyadari kondisinya terdesak, tapi dia tahu wanita yang dikiranya muda tapi ternyata berusia sekitar empat puluh tahun itu mendengar apa yang dikatakannya

"ah, Maksudku ahju-..nona cantik ternyata bersama dengan kekasihnya, bukan suaminya."

"Mwo? jadi kau pikir aku selingkuh?"

"aniya, aku hanya menebak, tapi ternyata benar anda selingkuh!"

"Kau-…."

Refleks Luhan berlari ke belakang Sehun, mengintip dibelakang tubuh suaminya sementara nyonya tua itu terus mengicarnya kesal "Kemari kau biar kuajari cara bicara yang sopan pada wanita."

"Aku tidak berbicara dengan ahjumma yang setiap malam mendesah karena selingkuhannya."

"Lu…"

Sehun memperingatkan sementara nyonya didepannya mulai terlihat sangat marah dan kini bicara pada Sehun "Hey beritahu temanmu untuk bersikap sopan padaku! Lagipula bukan hanya aku yang mendesah menjijikan, dia juga melakukannya, mendesah sangat menjijikan malam tadi entah dengan siapa!"

"Denganku."

Sontak wanita itu terlihat sangat terkejut sementara dengan lembut Sehun menarik Luhan dan mendekapnya erat untuk mengatakan "Dia memang temanku, tapi itu dulu sewaktu kami kecil, dulu dia kekasihku, tapi sudah menjadi mantan kekasih karena kami sudah menikah, singkatnya, dia istriku, ahjumma!"

Setelahnya Sehun membawa Luhan pergi dari tempat tak layak ini, meninggalkan si ahjumma dan selingkuhannya yang tercengan sementara Luhan menoleh dan menjulurkan lidahnya penuh kemenangan "bye ahjumma!" katanya terkikik dan tak lama melingkarkan tangan kanannya dipinggang Sehun seraya bersandar di pelukan suaminya dipenuhi senyum diseluruh parasnya yang cantik.

.

Tring….

.

"ha ha ha…Tapi kau lihat wajah mereka bukan? Ha ha haaa….Aku puas akhirnya bisa membalas suara aneh si nyonya yang ternyata adalah ahjumma tua , ha ha haaa…."

Keduanya sudah sampai di café milik Sehun setengah jam setelah kejadian memalukan dimana mereka berpapasan dengan tetangga di samping kamar Luhan yang menatap mereka dari atas sampai bawah dengan tatapan tak suka.

Tak perlu ditanya apa alasan mereka menatap tak suka karena pasti desahan Luhan malam tadi adalah jawabannya, dan pria jelek itu, dia bahkan hampir memarahi Luhan jika Sehun tidak lebih dulu menatap galak pada pasangan suami istri yang sudah berhasil membuat istrinya tidur tidak nyaman selama tiga hari.

"Jangan banyak tertawa Lu, nanti perutmu kram."

Mengabaikan nasihat suaminya, Luhan lebih memilih untuk terus tertawa seraya berjalan menuju tempat favoritnya sementara Sehun mengikuti dari belakang dengan seluruh barang Luhan yang ada di tangannya.

Pemandangan ini tentunya merupakan pemandangan baru untuk kedua sepupu yang sedang menatap ke arah pintu masuk, pertama tak biasanya Luhan datang disaat café belum buka, kedua biasanya Sehun hanya akan bicara seperlunya pada Luhan, berbeda dengan pagi ini tak hanya menanggapi apapun yang dikatakan Luhan tapi Sehun juga terlihat sabar dan tenang mendengar ocehan Luhan yang menurut kedua saudara Kim itu sangatlah tidak penting.

"Dan kau lihat wajah suaminya sayang? Dia seperti ingin memukulku tapi takut saat kau berdiri di belakangku!"

"Tidak akan ada yang berani memukulmu selama aku disampingmu."

"Kau benar! Itu yang harus selalu kau ingat-…Hay V, Hay L."

"h-Hay Lu…"

Keduanya membalas sapaan Luhan sedikit canggung sebelum Myungsoo melempar pertanyaan "Kalian rujuk?" tanyanya terlampau polos membuat Luhan ingin menendang wajah tampan menyebalkan itu tapi diurungkan niatnya mengingat suasana hatinya sedang luar biasa bahagia saat ini.

"well, Kami tidak pernah benar-benar akan berpisah jadi sebenarnya kami selalu rujuk, penuh cinta dan-…." Luhan meminta Myungsoo mendekat, lucunya Myungsoo menuruti keinginan Luhan hingga telinganya berada di dekat bibir tipis Luhan yang berbisik "Kami bergairah." Hingga membuat wajah Myungsoo berubah menjadi merah tanda dia muak atau lebih tepatnya dia benar-benar muak melihat lovey-dovey pasangan suami istri yang sudah membuatnya kesal sejak tiga hari yang lalu.

"oh ayolah! Kapan kau pulang ke Seoul?"

Luhan mendelik kesal saat pertanyaan menyebalkan itu terdengar, moodnya seketika hilang saat melihat Sehun membawakan buah-buahan segar di piring kecil sebelum beralih menarik lengan Sehun dan berteriak menegaskan "AKU TIDAK AKAN PULANG SELAMA SUAMIKU BERADA DISINI! KAU DENGAR?"

Awalnya Myungsoo ingin membalas teriakan Luhan, tapi melihat bagaimana Sehun mendelik sangat mengerikan kearahnya, dia hanya berakhir menyedihkan untuk mengelap gelas dan piring sebelum menyadari bahwa sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi dan itu artinya café akan segera buka "Baiklah, terserahmu saja Lu, aku akan membuka café." Katanya mengalah dengan berat hati seraya berjalan menuju pintu dan membalik tulisan closed menjadi open di depan pintu café.

"Myungsoo sudah tidak menganggumu cepat makan buahnya, ini bagus untuk bayi kita."

Tap!

Myungsoo berhenti melangkah, matanya membulat lalu refleks bibirnya berteriak seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya "BAYI SIAPA?" hal itu membuat Luhan tersentak kaget, Taehyung nyaris menjatuhkan gelasnya sementara Sehun memberikan tatapan super mengerikan dari teman Luhan yang sialnya kini juga menjadi teman sekaligus partnernya di café.

"y-YAK! KENAPA KAU TERUS BERTERIAK?"

Luhan tak terima dan Myungsoo, sebenarnya dia takut melihat Sehun terus melihat padanya, tapi peduli pada apa pada Sehun karena saat ini sesuatu yang lebih gawat sepertinya tengah mengancam kesuksesan café yang sudah dibangunnya bersama Sehun susah payah di tengah kota yang jarang menyukai café seperti Pyeongchan ini.

"h-Hey Lu, maaf aku mengagetkanmu, tapi katakan padaku Sehun tidak mengatakan "bayi kita" padamu, ayo! Katakan padaku!" dia berlari mendekati Luhan, menatap temannya menyesal lalu memaksa Luhan untuk mengatakan hal gila yang membuat Sehun semakin kesal melihat tingkah partnernya.

"Sehun mengatakannya."

"mwo? Mengatakan apa?"

Luhan berkedip lucu seraya mengunyah apel yang diberikan Sehun untuknya "Bayi kami, aku hamil, jadi katakan hay pada keponakanmu."

Mata Myungsoo membulat sejadinya, harapannya seolah runtuh untuk menjual status duda Sehun mengingat saat ini sang ratu licik sedang mengusap manja perutnya seolah mencoba mengenalkan Luhan kecil kepada dunia

"matilah aku."

"Wohohoho….Aku tahu ada yang aneh dari cara berjalanmu di hari pertama kau datang, tapi aku benar-benar tidak menyangka kau sedang membawa Sehun kecil di perutmu, selamat menjadi ayah untukmu."

Dan berbeda dengan reaksi Myungsoo yang merana, sepupunya terlihat sangat bahagia mendengar kabar kehamilan Luhan dia bahkan mengucapkan selamat dan sedang memeluk Sehun sebagai ucapan dan rasa bahagianya juga "penghianat kau Kim!" katanya frustasi lalu terlihat Taehyung memeluk Luhan seraya berkata "Selamat atas kehamilanmu Lu, Sehun benar-benar menantikan buah hati kalian."

"ahahahaha…Aku tahu, aku hanya ingin membuatnya bersabar lebih lama, terimakasih kau tidak membuat ekspresi menyebalkan seperti sepupumu."

"Jangan samakan kami, dia itu bukan manusia."

"Kau benar! omong-omong aku melihat kekasihmu datang kemarin sore, saat L dan Sehun berbelanja bahan makanan."

"huh?"

Taehyun terlihat merona sementara wajah Myungsoo semakin sengsara mendengar berita baru yang tak pernah diketahui sebelumnya "Kau melihat kami?"

"Ya, sedang berciuman…ha ha ha …Aku ingat Sehun saat menggodaku dulu, kekasihmu sangat menggemaskan juga."

"gomawo Lu, aku berencana menikahinya tahun depan dan kami akan-…."

"MWO? SEJAK KAPAN KAU MEMILIKI KEKASIH? JANGAN KATAKAN PADAKU AKU SATU-SATUNYA PERJAKA DI CAFÉ INI!"

Lagi-lagi Myungsoo berteriak, membuat Luhan terlonjak kaget sementara Sehun dan Taehyung kompak menyindir "Sayangnya kau bukan perjaka." Yang mana hal itu sungguh menyinggung Myungsoo sementara Luhan terkikik puas menikmati apel segar yang disediakan Sehun untuknya.

"ha ha ha….rasakan! selamanya kau tidak akan pernah mendapatkan pasangan jika terus bertingkah konyol seperti itu, ha ha ha….tenang sayang, ada papa dan paman V, mereka akan melindungi kau dari paman Myungsoo yang menyedihkan, ha ha ha…."

Luhan tampaknya sangat puas, dia juga berbagi rasa puasnya bersama bayinya dan bayi Sehun hingga membuat perasaan hangat menyelinap di hati Sehun melihat bagaimana istrinya terlihat bahagia, begitupula dengan Taehyung, dia seolah bisa merasakan kebahagiaan calon orang tua didepannya hingga rasanya pernikahan yang sudah direncanakannya bersama sang kekasih ingin benar-benar diselenggarkan secepat mungkin.

"Doakan semua rencana pernikahanku lancar."

"Tenang saja V, jika kau sudah memiliki niat semua akan berjalan lancar."

Mengangguk setuju, Taehyung mulai mengambil posisinya di counter pemesanan untuk melempar serbet bersih ke wajah sepupunya "Bersiap, pelanggan sudah ramai." Katanya mengerling pintu masuk dan benar saja, segerombolan pelanggan yang didominasi perempuan berbondong memasuki café hingga membuat Luhan merasa risih dan berpura-pura sibuk di tempat favoritnya saat ini.

"oppaa…..L oppa….V Oppa….Sehun Oppa…..Kami datang lagi!"

"oh ayolah! Berhenti menjual ketampanan kalian! Ini membuatku kesal." Katanya menggerutu melihat bagaimana Myungsoo harus berpura-pura tersenyum saat wajah memelas karena tidak memiliki pasangan mendominasi sementara V sudah harus melayani pelanggan remaja wanita dengan sabar khas dengan suara berat nan seksi yang menjadi andalannya.

"sshhh….Jumlah mereka banyak sekali!"

Luhan menancap kesal apel kecilnya dengan garpu, melahapnya kesal sementara matanya diam-diam melirik kerumunan pelanggan yang benar-benar di dominasi oleh wanita cantik, hal itu membuatnya sangat risih mengingat suaminya adalah salah satu incaran para remaja dan dia membencinya, sangat membencinya sampai suara berat Sehun terdengar membuyarkan kemarahannya.

"Sayang."

"hmh?"

"Kau bisa tunggu dikamarku jika tidak nyaman berada disini!"

Luhan menggeleng, memasang senyum terbaiknya untuk mengatakan "Aku baik-baik saja, lagipula aku ingin mellihatmu, dan mengawasimu." Kalimat terakhirnya diucapkan sangat pelan, Sehun tentu saja tidak mendengarnya dan hanya menatap istrinya sedikit merasa bersalah karena tidak bisa menemaninya sepanjang waktu "Bersabar sebentar, hmm?"

Membuat tanda bulat dengan ibu jari dan jari telunjuknya, Luhan berkedip lucu seraya mengatakan "Oke!" sampai suara manja seseorang terdengar saat memanggil suaminya "Sehun oppa…"

Sontak hal itu membuat Luhan dan Sehun menoleh, mencari asal suara diikuti suara geraman Luhan yang mendengus "oh tidak! Kau lagi!" sementara Sehun hanya bisa tersenyum kaku melihat pelanggan tetapnya sedang berada disana, selalu datang tepat waktu, hanya untuk membawakannya banyak makanan yang dirasanya tidak perlu untuk dibawakan.

"Hay nona Park."

Luhan membulatkan mata, kesal dan kesal, tentu saja! Suaminya terlihat sangat tenang sedang menyapa gadis lain tepat di depan matanya, jadi dia tidak memiliki alasan untuk bersikap tenang walau tangan Sehun sedang menggenggam jemarinya saat ini.

"oh? Kau lagi?"

Lalu si gadis merasa terkejut melihat tangan Sehun menggenggam jemari pria asing yang baru saja bertengkar dengannya sekitar tiga hari yang lalu, dia tidak mengganti bajunya, masih menggunakan mantel serupa hingga nada sinis terdengar dari bibir keji yang kesal melihat tangan pria menyebalkan itu digenggam oleh jemari hangat dan besar milik Sehun.

"Kenapa kau belum kembali ke Seoul?"

Merasa terpancing, Luhan membalas "Bukankah sudah jelas? Suamiku disini jadi aku tidak memiliki alasan untuk pulang!"

"tsk! Sehun oppa bahkan selalu sendiri selama tiga bulan ini, sebelum café ini ramai dia selalu sendiri! Lalu kenapa setelah café ini ramai kau datang dan mengklaim Sehun oppa sebagai suamimu? Dimana rasa malu milikmu? Apa kau tidak memilikinya lagi? HAH!"

"KAU-…."

Luhan sudah berdiri dari kursinya, sangat tergoda untuk menjambak si rambut pirang sampai tangan Sehun menarik lengannya, memaksanya untuk duduk dengan tatapan dingin dan itu membuat Luhan sangat terluka menyadari bahwa saat ini suaminya sedang membela wanita lain, tepat dihadapannya.

"wae? Kau membelanya?"

"….."

"Tentu saja! Sehun oppa selalu melindungiku selama kami saling mengenal, dan setelah resmi bercerai denganmu kami memutuskan untuk berkencan hingga melanjutkan hubungan kami ke jenjang pernikahan, ya kan oppa?"

"….."

Yang membuat Luhan kesal bukan statement gila dari si rambut pirang yang mengatakan akan menikah dengan suaminya, sebenarnya dia kesal, tapi melihat Sehun hanya diam tak memberi jawaban apapun adalah hal yang sangat membuatnya marah, suaminya juga hanya terus memandangnya tanpa berniat memberi penjelasan dan Luhan muak melihat sikapnya.

"LEPAS! KAU MEMBUATKU KESAL!"

Jadilah dia menghempas kasar tangan Sehun, berjalan ke arah pintu utama membuat Myungsoo panik dan berusaha menghentikan Luhan "Lu tenanglah, mereka tidak ada hubungan apapun!" katanya menghalangi jalan Luhan membuat si pria cantik yang tengah mengandung itu semakin murka dan memaki Myungsoo yang sama sekali tak bersalah

"BERISIK! Bukan kau yang harusnya memberiku penjelasan."

"Tapi-.. mau bagaimanapun juga kau mengandung keponakan kecilku!"

"MINGGIR!"

"tsk! beruntung kau akan segera bercerai darinya oppa! Tempramennya sangat buruk dan dia sangat menyebalkan, aku bersyukur kau akan segera berpisah dengan pria seperti-….."

Ucapan Park Jiyeon seketika terhenti saat melihat Sehun terburu-buru keluar dari counter pembayaran, lelaki tampan itu terlihat cemas dan mengejar si pria menyebalkan itu entah untuk apa.

Bukankah mereka akan bercerai?

Itu yang ada di pikiran Jiyeon, tapi melihat bagaimana Sehun panik mengejar si pria menyebalkan hanya membuatnya tersenyum pahit seolah membenarkan bahwa kabar perceraian Sehun memang hanya rumor sampah yang tak terbukti kebenarannya.

"AKU MAU PERGI DAN JANGAN HALANGI-….."

Tiba-tiba saja lengannya ditarik cepat, lalu tengkuk lehernya dicengkram sangat kuat dan tak lama bibirnya sedang dilumat kasar oleh suaminya yang tak melihat keadaan café, Luhan panik, bukannya dia tidak senang dengan pembuktian yang sedang diberikan Sehun, tapi mendengar bisikan dari pelanggan remaja di café milik suaminya hanya membuat Luhan merasa bersalah dan mendorong tubuh Sehun menjauh darinya.

"hmmh—Sayang, cukup…."

Dan Luhan tak banyak berkutik tatkala bibir Sehun terus menuntut, memintanya untuk memberikan akses, dan ya, Luhan tak memiliki pilihan lain selain pasrah membuka bibirnya dan membiarkan Sehun melilitkan dua lidah mereka, membuat Luhan bersumpah ciuman mereka terlalu dalam bahkan melebihi saat mereka bercinta malam tadi.

"sayang-…."

Barulah saat Luhan membujuknya kali ini, Sehun mendengarkan. Dia melepas ciuman panas yang membuat suasana di café menjadi tegang hanya untuk menarik tengkuk Luhan dan menyatukan dua dahi mereka, menatapnya tegas dengan nafas terengah hanya untuk mengatakan "Jangan ragukan aku lagi, jangan-…! Kau dengar?"

Melihat bagaimana Sehun memandangnya putus asa hanya membuat Luhan merasa bersalah untuk mengangguk seraya bergumam "Aku dengar." Berharap agar jawabannya bisa menenangkan Sehun dan benar saja, suaminya tersenyum sangat bahagia dan menariknya kedalam pelukan terhangat yang selalu membuat merasa Luhan terlindungi hanya karena dua lengan suaminya melingkari pinggang dan tubuhnya yang kecil.

"Maaf nona Park, hari ini kami tidak menyediakan salad kesukaanmu, jadi aku rasa kau bisa pergi dan berhenti mengganggu istriku!"

"mwo?"

"Sehun…."

Luhan tahu Sehun marah, tapi bicara kasar pada seorang wanita bukan suatu hal yang biasa dilakukan suaminya hingga membuat Luhan merasa itu sedikit keterlaluan melihat wajah si nona pirang sudah menjadi pucat karena Sehun bekata kasar padanya.

"ah ya, Apapun yang kau dengar tentang rumor perceraianku, lupakan! Aku tidak akan pernah bercerai atau menceraikannya, dan sekalipun kami berpisah aku tidak akan menikah lagi, kau tahu kenapa? Karena aku tidak bisa mencintai orang lain seperti aku mencintai dan menggilai istriku saat ini, apa kita sudah jelas?"

"Kau…."

"Jadi silakan pergi, kau membuat istriku cemas."

"Sehun jangan terlalu kasar pada nona Park." Myungsoo memperingatkan diabaikan Sehun yang justru semakin tegas mengatakan "Sebaiknya jangan datang ke café jika hanya ingin bertemu denganku, terimakasih." Katanya terlalu kasar membuat Luhan sedikit terkejut sementara mata si nona pirang sudah berkaca-kaca sebelum berteriak "TEGA SEKALI KAU!" lalu pergi berlari meninggalkan café setelah sebelumnya menabrak kencang bahu Sehun yang masih memeluk Luhan.

"Sehun…"

"Tidak apa sayang, dia akan baik-baik saja." katanya memberitahu, membiarkan suara pintu café dibanting oleh Jiyeon lalu terdengar lagi suara teriakan wanita cantik yang sepertinya menabrak seseorang di pintu masuk.

"rrghh—MINGGIR KAU!"

Dia memaki seseorang yang sedang berada di pintu masuk, tak sengaja terjatuh di pelukan pria itu dan kembali berteriak dengan mata berkaca-kaca "PAKAI MATAMU SAAT BERJALAN!"

Well, sebenarnya kesalahan sepenuhnya milik Jiyeon, tapi pria yang berdiri di depan pintu masuk rupanya sudah berdiri disana cukup lama, hanya bisa memandang keadaan didalam café dan jujur, hatinya juga terluka melihat bagaimana Sehun dan Luhan saling berpagutan mesra didepan umum dan berakhir mengumumkan tentang bagaimana jenis hubungan yang mereka miliki saat ini.

"Maaf nona."

"MINGGIR KAU!"

"oh tidak, ini gawat."

Dan saat suara pria itu terdengar, Myungsoo tak sengaja menoleh, awalnya dia ingin memastikan pelanggan tetapnya baik-baik saja walau harus berakhir menenggak air liurnya melihat siapa yang sedang berdiri tepat di depan café milik Sehun dan kini melangkah masuk kedalam café.

"Se-Sehun, aku rasa kau harus melihat siapa yang datang."

"Apa yang kau katakan? Siapa yang-…."

Refleks, tangan Sehun menarik Luhan ke belakang tubuhnya, seolah melindunginya dari seseorang hingga membuat Luhan mencari tahu, mengintip dari balik bahu Sehun dan cukup terkejut melihat siapa yang datang ke café milik Sehun, sedang menatapnya dan memancarkan aura yang membuat keadaan di café serta mimik wajah suaminya menjadi tegang seolah kekacauan bisa terjadi kapanpun selama keberadaan pria itu terlihat di sekitar mereka.

"Taecyeon?"

Luhan memanggil, disaat bersamaan tangan Sehun menggenggamnya semakin kuat melihat pria yang memintanya untuk mengakhiri pernikahan mereka berdiri disana, sedang menatap keduanya tanpa sedikitpun rasa bersalah terlihat diwajahnya.

"Hay Lu, aku ingin menjemputmu pulang."

Sehun berdiri semakin menutupi Luhan, matanya bertatapan langsung dengan mata Mafia yang kini memandangnya sangat dingin untuk menegaskan "Luhan akan tetap disini, bersamaku." Katanya dibalas tawa dingin Taecyeon yang menatap Sehun tak percaya "seriously? Setelah kau pergi meninggalkannya kau ingin kembali memilikinya?"

Suara Taecyeon menjadi berat, hal itu membuat Luhan tergerak untuk melakukan sesuatu dan berbisik pada suaminya "Biarkan aku bicara dengannya."

Namun seperti awal saat kedatangan Jiyeon di café miliknya, Sehun hanya diam tak merespon, dia tidak melarang tapi juga tidak mengizinkan istrinya berbicara dengan pria yang hingga saat ini masih begitu terobsesi pada istrinya.

Jadilah Sehun menahan lengan Luhan saat istrinya hendak pergi mendekati pria yang masih menatapnya tak berkedip, dia juga melakukan hal yang sama, tak berkedip menatap bajingan yang sudah membuatnya berfikiran gila untuk meninggalkan Luhan beberapa waktu yang lalu, hatinya memendam rasa kesal dan marah yang tak bisa dijelaskan, sementara raut wajahnya tenang seraya bergumam "Biar aku saja." tanpa menatap pada Luhan yang sontak terkejut mendengar ucapan suaminya.

"a-Apa yang baru saja kau katakan?"

Sehun tersenyum, dikecupnya surai sang istri yang terlihat cemas untuk berbisik "Ada yang harus kami bicarakan, tunggu aku disini."

"TIDAK!" Luhan berteriak tegas, membuat suasana semakin tegang karena membiarkan Sehun bersama dengan Taecyeon adalah sebuah kesalahan, dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi untuk kedua kalinya.

"Luhan…"

"Kau ingat terakhir kali kalian berbicara? Kau pergi meninggalkan aku dan anak kita, pikirmu aku akan membiarkan hal itu terulang lagi?"

"Aku tidak akan melakukannya lagi, aku janji."

"Tidak Oh Sehun, aku bilang tidak! Kau dengar?" katanya cemas, tatapan Luhan sudah tidak fokus terlebih saat Taecyeon terus menatapnya sendu, dia takut pria yang terkenal di dunianya yang mengerikan itu akan melakukan apapun hanya untuk membawanya pergi dari Sehun atau membuat Sehun pergi lagi dirinya.

"Aku tidak akan membiarkan kalian berbicara, tidak akan!"

Buru-buru Sehun menangkup wajah cantik istrinya, segera menyatukan kedua dahi mereka dan meminta Luhan tenang hanya dengan tatapannya, awalnya Luhan mengelak tapi saat Sehun memaksa agar dirinya tenang, perlahan nafasnya mulai teratur dan Luhan membalas tatapan memohon suaminya, dia jelas kalah pada situasi ini, situasi dimana Sehun berhasil menguasainya dan benar saja, hanya dengan kalimat "Percaya padaku kali ini, jika aku pergi aku bersedia dibenci anak kita seumur hidup, hmmh?"

Membuat Luhan ragu seragunya, tapi tak tega jika harus terus menahan suaminya yang terlihat ingin menyelesaikan masalah lama dengan Taecyeon, hal itu membuat Luhan menyerah, tangannya mencengkram kuat leher Sehun, setengah mencekik suaminya untuk mengancam, memastikan bahwa pria didepannya akan kembali tanpa kekuarangan satu apapun.

"Jika kau terluka atau jika kau pergi meninggalkan aku lagi, aku bersumpah, aku bersumpah akan mati bersama anakmu." Katanya berkilat dipenuhi tatapan cemas yang selalu berhasil membuat Sehun merasa begitu dicintai pria cantiknya.

Jadilah lelaki yang akan segera menjadi seorang ayah itu tersenyum, mengecup bibir istrinya cukup lama sebelum beralih memeluk seraya mencium surai Luhan yang terlihat resah melepasnya "Itu tidak akan terjadi, aku akan kembali untuk melihat anakku lahir ke dunia ini, menggenggam tangan mungilnya bersama dengan satu-satunya pria yang selalu aku cintai dalam hidupku." Katanya meyakinkan, mencium kening Luhan lalu menggesekan hidungnya di hidung bangir sang istri "Aku pergi dulu, hanya sebentar." Pintanya dan pada akhirnya Luhan luluh hingga sebuah anggukan diberikan Luhan sebagai tanda persetujuannya "Cepat kembali."

Sekali lagi Sehun mencium kening istrinya seraya mengangguk "Aku akan segera kembali." Balasnya lalu beralih pada dua temannya untuk berpesan "Jaga istriku sampai aku kembali."

Setelahnya Sehun melangkah mendekati pria yang masih begitu terobsesi pada istrinya, dan setiap kali dirinya mengingat hal bodoh yang coba dilakukannya beberapa bulan yang lalu hanya membuat suara geram terdengar dari bibirnya yang terkatup rapat.

"Aku rasa kita perlu bicara."

Sehun memperingatkan, tatapannya sudah dipenuhi emosi namun hanya dibalas senyum Taecyeon yang terasa mengerikan untuk menjawab "Baiklah." Tanpa berkedip menatap Luhan namun mengeluarkan aura mengerikan saat berhadapan dengan Sehun.

Keduanya kini beranjak pergi entah kemana, meninggalkan Luhan yang terlihat cemas namun tak bisa melakukan apapun dan hanya berakhir duduk di tempat favoritnya berharap Sehun segera kembali padanya, secepatnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

BLAM!

.

.

Terdengar pintu mobil dibanting cukup kencang oleh pemiliknya, menampilkan Sehun yang terlihat begitu marah diikuti suara mobil lain yang tak lain adalah milik Taecyeon dan juga berhenti tepat disamping mobil miliknya.

Keduanya kini berada di sebuah tempat dengan pemandangan pantai tak jauh dari tempat mereka, Sehun sengaja membawa Taecyeon jauh dari café miliknya, hanya untuk berjaga-jaga jika pembicaraan mereka akan melebihi sekedar dari pembicaraan yang sewajarnya.

Sehun lebih dulu bersandar di kap mobil miliknya diikuti Taecyeon yang juga bersandar di kap mobil miliknya, keduanya sama-sama menikmati pemandangan pantai untuk sejenak, membiarkan angin mendinginkan kepala mereka yang terasa begitu panas sampai Taecyeon lebih dulu membuka suara yang terasa sama dingin dengan suasana pantai pagi ini.

"Aku tidak menyangka kau masih begitu bodoh membiarkan Luhan berada disekitarmu, haruskah aku mengingatkanmu tentang kesepakatan yang telah kita buat?"

Samar memang, tapi Sehun bisa mendengar dengan jelas pertanyaan sarkas dari pria disampingnya, sekilas dia menoleh pada pria yang mungkin bisa menjaga Luhan lebih baik darinya, tapi melihat bagaimana Luhan menunggunya dengan sabar hanya membuat Sehun bertaruh Taecyeon memang bisa menjaga Luhan dengan baik, tapi tidak bisa memberi rasa bahagia untuk istrinya.

Jadilah dia menarik dalam nafasnya, mempersiapkan kemungkinan terburuk untuk mengatakan "Maaf." Yang mana hal itu sontak membuat perhatian Taecyeon teralihkan dan terlihat wajah berharap dari sang mafia yang sosoknya begitu ditakuti.

"Maaf? Untuk apa?"

"haah~"

Sehun menarik dalam lagi nafasnya, sejenak mendinginkan hatinya yang panas sebelum beralih dan menatap Taecyeon dengan mantap tanpa rasa takut dan menyesal "Aku sudah memutuskan untuk tetap berada di samping Luhan, bersama anak-anak kami kelak, sampai tua."

Taecyeon mendengarkan seluruh pernyataan Sehun, rasanya baru kemarin mereka memiliki perjanjian tentang Luhan, tapi hari ini Sehun melanggarnya, dia bahkan tak menyesal setelah semua hal menyedihkan yang disisakannya untuk Luhan selama hampir tiga bulan berlalu.

"mwo? Kau menginginkan Luhan kembali padamu?"

Menatap tanpa keraguan sedikit pun, Sehun mengangguk membenarkan "Ya, sedari awal Luhan milikku dan akan berakhir menjadi milikku juga."

"HA HA HA….omong kosong!"

Kedua tangan Taecyeon sudah terkepal sempurna, antara marah dan murka mendominasi dirinya saat Sehun mengatakan hal diluar dugaannya mengingat pria disampingnya sudah berjanji untuk menyerahkan bahagia Luhan padanya.

"Kau bahkan melewati banyak air mata Luhan saat kau pergi meninggalkannya! Lantas apa yang membuatmu berfikir bisa kembali pada Luhan dengan mudahnya, HAH?!"

Bohong jika makian Taecyeon tidak berdampak untuk mental Sehun sebagai seorang suami, ya, tentu saja itu banyak menyakitinya terlebih saat mendengar dirinya telah melewati banyak air mata Luhan sejak kepergiannya.

Mungkin, Jika keberadaan bayinya belum dirinya ketahui, dia dengan senang hati akan membiarkan Luhan bersama pria lain, menikmati kehancuran dirinya sendiri kelak, tapi cerita berbeda terjadi malam tadi, malam dimana dirinya tanpa sengaja mengetahui akan menjadi seorang ayah adalah malam yang membuat Sehun membulatkan tekad untuk mempertahankan Luhan bagaimanapun caranya bersama dengan buah hati mereka yang akan segera lahir dalam beberapa bulan.

"Anakku…"

Jadi persetan dengan semua perkataan konfrontasi Taecyeon, dia tidak akan terpengaruh lagi, Luhan memang banyak terluka saat bersama dirinya, tapi bahagia Luhan adalah dirinya, jadi sekalipun Luhan terluka dia akan tetap bahagia jika dirinya tetap tinggal tanpa harus meninggalkan, hal itu yang membuat Sehun mantap untuk tidak meninggalkan Luhan untuk alasan apapun terlebih mereka akan memiliki seorang malaikat kecil dalam beberapa bulan mendatang.

Matanya pun terpejam, menikmati semilir angin sebelum kembali menarik dalam nafasnya dan berucap tegas memberitahu Taecyeon "Aku tinggal karena Luhan mengandung anakku." katanya cukup tenang untuk mengatasi rasa cemasnya, berharap Taecyeon mengerti hingga kalimat "Dan aku akan membesarkan buah hatiku bersama Luhan, sampai kami tua nanti." Berhasil dikatakannya dengan tegas hingga membuat hening menyelimuti suasana pagi yang cukup merdu diiringi suara burung dan suara ombak pantai bersahutan saling memanggil.

"Jadi maaf, aku tidak berbagi Luhan dengan siapapun, tidak keluargaku, tidak teman-temanku, terlebih dirimu! Luhan milikku, selamanya hanya milikku."

Kemungkinan terbesarnya Sehun menebak Taecyeon akan memukul wajahnya, kemungkinan terburuknya mungkin dirinya akan berakhir di rumah sakit ini, dan hal yang paling tidak mungkin terjadi adalah Taecyeon tetap bersikap tenang.

Namun sialnya Taecyeon memang bersikap tenang, terlalu tenang hingga membuat Sehun bertanya-tanya namun tak bersuara, sedetik dia menunggu rasa sakit yang akan dirasakan tubuhnya tapi detik berikutnya justru suara tawa Taecyeon yang terdengar, sangat tulus, dan hal itu sukses membuat Sehun menoleh namun tetap pada pendirian untuk tidak bertanya apapun.

"ha ha ha….baiklah, Baiklah aku rasa aku kalah telak jika itu menyangkut isi hati Luhan."

"huh?"

Tawa sang mafia perlahan kian terdengar sendu, tak ada lagi tawa lepas seperti diawal, membuat Sehun ragu untuk menoleh namun berakhir memperhatikan segala gerak-gerik Taecyeon yang tidak mencerminkan bahwa dirinya adalah seorang pembunuh.

"Entah cinta seperti apa yang kau dan Luhan miliki, entah kesetiaan macam apa yang mengikat kalian berdua, aku tidak peduli, tidak peduli lagi karena aku muak berada di tengah-tengah cinta yang sulit kumasuki."

Sehun tetap tidak merespon, dia cenderung melihat raut luka diwajah yang memiliki banyak goresan luka tersisa, dia juga bisa mendengar sendu suara Taecyeon menunjukkan kehancuran hatinya persis saat Luhan meninggalkannya beberapa tahun yang lalu.

"aku menyerah."

Dan bohong jika Sehun tidak bisa merasakan gemuruh kehancuran dibalik suara lirih yang bersahutan dengan suara ombak, getaran di suaranya cukup menunjukkan bahwa pria yang terkenal keji di dunianya akhirnya menderita hanya karena cintanya yang tak terbalas.

Harusnya Sehun menyorakan kemenangannya, mengatakan banyak hal seperti terimakasih atau keputusan yang bagus, namun semua itu sirna tertahan di kerongkongannya saat mendengar suara itu bergemuruh penuh luka dan kehancuran.

Matanya hanya memperhatikan bagaimana pria disampingnya menyambut kehancuran hidupnya seraya mengatakan hal-hal yang terus membuatnya hancur tak bersisa seolah membiarkan benda tajam menyayat luka di hatinya.

"Dan kau tahu? Dengan atau tanpa bayi kalian, Luhan akan tetap datang mengejar cintamu, dia akan selalu menangis jika merindukanmu dan akan tersenyum saat tahu kau baik-baik saja, dia selalu seperti itu selama tiga bulan ini dan itu membuatku putus asa."

"….."

Ya, sudah dikatakan Sehun sebelumnya, dia mengutuk keputusannya pergi tiga bulan yang lalu, berusaha untuk tidak mempedulikan istrinya atau mencari tahu tentang keadaan pria cantiknya.

Dia baik-baik saja, akan baik-baik saja.

Itulah kemunafikan seorang Oh Sehun, meyakini satu alasan tanpa bisa dibuktikan, menganggap semuanya akan baik-baik saja disaat hatinya sendiri hancur berkeping, sikap tak acuhnya adalah yang paling buruk hingga membuat kekasih hatinya menderita menahan rindu dan rasa sakit melewati kesulitan pada awal kehamilannya.

Sehun memiliki setumpuk rasa bersalah pada Luhan, dia juga memiliki segunung sumpah untuk membayar rasa bersalahnya pada Luhan setelah ini, dia akan melakukan apapun agar Luhan kembali menjadi miliknya, seutuhnya, tanpa harus saling meninggalkan.

"Dia begitu mencintaimu, jiwa dan raganya, pikiran dan hatinya, semua hanya tentangmu."

Ucapan Taecyeon sukses membuat sebaris senyum di bibir tipis Sehun, pengusaha muda itu pun terlihat sendu menatap pantai seraya bergumam "Aku tahu." Lirihnya pilu hingga membuat keadaan kembali canggung diantara dua pria yang begitu mencintai Luhan dalam hidup mereka.

"Tapi apa yang membuatmu seperti ini?" Sehun bertanya dibalas tatapan malas Taecyeon yang bertanya "Wae? pikirmu aku melakukan sesuatu yang mengerikan? Well, mungkin aku memang akan melakukan sesuatu yang mengerikan padamu, itu rencanaku di sepanjang perjalanan menuju café kecil yang menyedihkan milikmu, aku benar-benar akan melakukannya jika Luhan tidak terlihat ketakutan saat melihat padaku."

"Apa maksudmu?"

"Dia tidak takut melihatku, tapi dia ketakutan saat fokusku ada padamu, seperti aku bisa melakukan apa saja untuk membuatmu menderita dan dia benar, aku bisa menyakitimu jika ingin dibenci Luhan, sayangnya aku tidak ingin dia membenciku, aku juga mencintainya sebagai seorang pria."

"tsk! Berhentilah melihat Luhan seperti kau melihat mendiang istrimu, kau menyakiti dirimu sendiri jika terus melakukan hal itu."

Taecyeon menyeringai, dikeluarkannya sebatang rokok dari dalam mantel lalu dinyalakan dengan pemantik merah miliknya, sesekali dia mengepul asap rokoknya lalu tersenyum lirih menjawab ucapan Sehun "Aku tidak mencintainya sebagai mendiang istriku."

"huh?"

Kepulan asap rokoknya melewati wajah Sehun, setelahnya Taecyeon mematikan rokok dengan menginjaknya asal untuk menegaskan "Katakan aku menghianati cinta mendiang istriku, tapi aku juga tidak bisa membohongi hatiku jika aku mencintai Luhan dengan cara yang berbeda."

Refleks kedua tangan Sehun terkepal, wajahnya dibuat setenang mungkin walau hatinya bergemuruh panas mendengar ada orang lain yang juga mencintai istrinya, hal yang dilakukan Sehun untuk mengatasi panas dihatinya hanya diam menikmati angin sejuk yang berhembus bergantian dengan amarah yang mulai sulit dikendalikan dihatinya.

"Jadi kau tidak pernah menganggap Luhan sebagai pengganti sosok mendiang istrimu?"

"Menjadikannya Rein hanya alasanku agar bisa memiliki Luhan seutuhnya."

"Kau-….!"

"haah~ Percuma kau marah, Luhan tetap milikmu."

Dan benar saja, Sehun sedikit lebih tenang mendengar kalimat Luhan miliknya, sekuat tenaga dia mencoba untuk tetap menahan emosi sementara Taecyeon beralih pergi masuk kedalam mobilnya "Sampaikan salamku untuk Luhan."

Tak menoleh ke tempat Taecyeon saat ini, Sehun membalas "Kau tidak berhak memberi salam untuknya."

"Baiklah, kalau begitu katakan padanya untuk menyerah padamu jika dia lelah."

"Dia tidak akan lelah padaku."

"Aku tahu lalu bagaimana jika seperti ini-…." Kalimatnya menggantung, membuat Sehun mau tak mau menoleh dan mendengar ucapan mengancam dari pria yang masih terlihat hancur namun tetap tersenyum saat mengatakan "Jika kau membuatnya terluka atau paling buruk meninggalkannya, aku akan datang untuk menghancurkanmu, tak bersisa kali ini."

Sehun tertawa renyah, menerima tantangan Taecyeon dengan membalas "Pastikan kau menghancurkan aku jika hal itu terjadi."

Menyeringai penuh luka, Taecyeon terlihat sendu saat mengatakan "Pasti, dan aku berharap saat itu terjadi." katanya masuk kedalam mobil, tak lama suara mesin mobilnya terdengar hingga sosok yang terluka itu benar-benar menghilang dari pandangan Sehun juga Luhan, mungkin, karena tanpa disadarinya Sehun tanpa alasan yang pasti seolah bisa merasakan hancur yang kini dirasakan Taecyeon.

Membuat kedua matanya terpejam erat sementara hembusan angin menerpa wajah pucatnya, hatinya yang panas kini memukul sakit, tanpa sadar pula air matanya menetes karena terlalu lega menyadari tak ada lagi yang bisa memisahkan dirinya dengan Luhan selamanya.

Air mata itu dibiarkan menetes mewakili rasa sesaknya, sesekali dia memukul kencang dadanya seraya mengucap janji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama pada Luhan, pada istrinya dan pada anak-anaknya kelak.

"Aku mencintaimu Lu."

.

.

.

Sementara itu…

.

SLURRP!

"Aku tambah lagi!"

Setidaknya ini adalah gelas keempat milkshake strawberry yang diminum habis oleh si pria cantik yang sedang mengandung anak pertamanya. Dia sudah seperti ini sejak kepergian Sehun setengah jam yang lalu, duduk di tempat favoritnya seraya memesan milkshake strawberry.

Lucunya Myungsoo dan Taehyung mengira Luhan akan kehilangan nafsu makan atau mengemil mengingat Sehun sedang berbicara dengan orang yang berbahaya, tapi kenyataan berbeda dilakukan Luhan, dia memakan apapun yang diberikan Taehyung atau Myungsoo, roti gandum, susu dan kini milkshake, awalnya itu tidak membuat kedua teman Sehun lega mengetahui Luhan tidak cemas.

Namun rupanya mereka salah, ini adalah cara Luhan melampiaskan rasa cemasnya, dia tidak lapar, tidak ingin mengemil tapi memaksakan diri untuk membuat mulutnya sibuk karena tidak mau berakhir menangis mencemaskan suaminya.

Taehyung yang menyadari pertama kali tingkah Luhan, dia terus memesan makanan, melahapnya habis namun matanya terus melihat ke pintu utama dan tak mau menoleh sedikitpun melihat apa yang sedang mereka sajikan.

Jadilah dia melarang sepupunya saat gelas keempat milkshake siap diberikan pada Luhan, memberi kode yang dibalas pertanyaan tak mengerti dari Myungsoo "Kenapa?"

"Lihat wajahnya, dia tidak lapar dan justru akan memuntahkan isi perutnya jika kita terus memberikan milkshake."

"Tapi itu satu-satunya cara agar dia tidak berteriak."

"Biar aku yang bicara dengannya."

"Hey! Cepat berikan aku milkshake!"

Luhan meninggikan suaranya, tangannya sudah siap menggenggam gelas milkshake yang tak kunjung datang hingga membuatnya kesal dan tak sabar "Sebentar Lu." Taehyung yang membalas, dia sengaja mengganti segelas milkshake pesanan Luhan dengan air mineral yang diterima Luhan tanpa protes karena matanya masih memandang ke arah pintu utama.

"Gomawo." Balasnya asal dan tak lama menyemburkan air yang sudah berada di mulutnya "y-Yak! aku tidak minta air mineral, mana milkshake milikku?!"

Dia berteriak marah tapi seluruh wajahnya pucat karena cemas, membuat Taehyung mau tak mau menunduk untuk memberi peringatan pada pria yang sedang membawa buah hati Sehun di dalam perutnya "Tidak ada milkshake lagi, perutmu bisa meledak karena sakit."

"Aku baik-baik saja."

"Wajahmu pucat dan kau terlihat mual."

"Aku baik!" katanya bersikeras hingga Taehyung terpaksa mengatakan "Baiklah, tapi itu berbahaya untuk bayimu."

"huh? Kenapa bayiku?"

"oh ayolah! Kau dokternya bukan Taehyung!"

Myungsoo menggerutu dibalas tatapan tajam Taehyung dan muka kesal Luhan saat melihatnya "Kalau begitu aku tahu apa yang baik dan tidak untuk bayiku."

"Kau tidak tahu Lu." timpalnya lagi, membuat Taehyung terpaksa menyela dengan memuji Luhan agar kesalnya hilang pada Myungsoo "Begini, dari yang kubaca jika seseorang yang sedang hamil terlalu banyak mengkonsumsi gula akan berakibat obesitas pada bayi mereka kelak, kau mau hal itu terjadi pada bayimu?" sejujurnya Taehyung sedang merutuki omong kosong tak beralasan yang sedang diucapkan bibirnya, menebak Luhan yang notabene-nya seorang dokter akan memberikan ceramah sepanjang rel kereta karena memberikan informasi yang asal dan tak ada kebenarannya.

"Benarkah?"

Namun diluar dugaan Taehyung, Luhan justru terlihat panik karena ucapannya yang tak beralasan, ditambah Myungsoo yang terus menimpali "Ya! tentu saja dan orang-orang akan mengejek anakmu kelak, kau mau itu terjadi?"

Pucat dan cemas, buru-buru Luhan mendorong gelas milkshake-nya, mengambil segelas air mineral yang diberikan Taehyun dan menenggaknya sampa habis "Tidak akan ada yang mengejek anakku, kau dengar?" katanya mengancam dibalas kekehan Taehyung yang mau tak mau berterimakasih pada mulut besar sepupunya.

"tsk! Aku tidak percaya kau seorang dokter." katanya kembali menggerutu, membuat Luhan hampir terpancing emosinya jika suara pintu café tidak terbuka dan menampilkan seseorang yang kehadirannya sangat dinantikan Luhan.

"SEHUN!"

Si pria cantik pun memekik, berlari menghampiri suaminya dengan mengabaikan kram di perutnya karena terlalu banyak meminum milkshake super lezat buatan Myungsoo, matanya yang cemas kini tertuju menatap sosok yang entah mengapa terlihat sedih dan membuatnya semakin cemas.

Tak lama kedua tangan kekar itu menyambutnya, ada perasaan lega menyelinap masuk kedalam hatinya saat Sehun menyambut dirinya, memeluknya erat seolah semua kesulitannya berakhir hari ini.

Luhan bisa merasakannya, merasakan kegelisahan Sehun hanya dengan memeluknya, tapi entah mengapa saat kedua mereka berdekapan erat Luhan juga bisa merasakan Sehunnya yang lama telah kembali.

Ini Sehunnya

Sehun yang sama yang selalu mencintainya sejak kecil, yang selalu menjaganya, yang selalu melindunginya, yang akan melakukan apapun termasuk meninggalkan keluarganya sendiri hanya untuk membangun keluarga kecil dengannya.

Luhan bisa merasakannya tanpa keraguan hingga membuat sebuah isakan kecil terdengar begitu lega saat Sehun mengatakan "Aku kembali, aku benar-benar sudah kembali."

Sontak hal itu membuat Luhan menangis sejadinya, hatinya yang sempat ragu akan cinta Sehun yang mulai memudar kini tak lagi beralasan, ini Sehunnya, sudah kembali padanya, sepenuhnya kembali, pria yang selalu membisikan kalimat "Aku mencintaimu." Kini benar-benar kembali padanya dan tak akan pernah meninggalkan dirinya lagi, tidak akan pernah.

.

.

.

.

.

.

.

Malam hari….

.

"Jadi Taecyeon pergi begitu saja?"

"wae? Kau kecewa dia tidak memaksamu pergi bersama?"

"eyy…Jangan cemburu aku hanya bercanda."

Saat ini keduanya sudah berada di kamar Sehun di lantai dua café miliknya, kamar yang tidak terlalu besar seperti di rumah mereka tapi tidak terlalu kecil juga seperti di tempat yang Luhan sewa beberapa hari yang lalu.

Seperti biasa mereka tidak mengenakan apapun kecuali selimut yang menutupi tubuh polos mereka dibalik sana, dan seperti biasa pula keringat terlihat di tubuh polos mereka mengingat beberapa menit yang lalu keduanya baru saja selesai melakukan percintaan panas mereka sebagai tanda bahwa keduanya kini sudah benar-benar kembali bersama dan hidup bersama dengan anak-anak mereka kelak.

"Aku memang cemburu."

Yang memiliki tubuh lebih besar baru saja melepas penyatuan tubuh mereka, diiringi suara erangan dari istrinya kini keduanya saling memeluk dengan nafas bersahutan tanda begitu lelah dengan gairah yang sepertinya kembali dirasakan keduanya, Luhan terutama.

Entah mengapa sejak kehamilannya dia selalu merasa rindu dan terus membayangkan sentuhan Sehun, jadilah setiap kali hanya berdua dengan suaminya dia akan melakukan segala cara untuk menggoda Sehun dan berakhir kemenangan untuknya karena Sehun tidak akan pernah bisa menolak pesoanya, malam ini hanya salah satu contoh dari beratus malam yang sudah keduanya lewati bersama.

"Aku senang jika kau cemburu."

"Kenapa?"

Luhan mendongak, mengabaikan rasa sakit di pinggul dan pinggangnya hanya untuk mengecup bibir yang baru saja melumat mesra bibirnya "Itu artinya kau benar-benar Sehunku."

"huh?"

Kemudian Luhan tersenyum, bersandar di pelukan suaminya sementara tangan kanannya sibuk bermain di dada Sehun sesekali mengusap tempat bersandar paling nyaman untuknya "Aku tahu ada yang mengganggumu selama ini, tapi terimakasih pada Taecyeon karena akhirnya kau menemukan keyakinan untuk sepenuhnya kembali padaku."

"Kau benar." katanya tersenyum kecil, mengusap punggung Luhan yang berkeringat seraya mencium surai Luhan untuk sedikit mengoreksi ucapan istrinya "Tapi aku lebih berterimakasih padamu."

"Aku? Kenapa?"

"Karena sudah mengandung anakku lagi dan sudah baik-baik saja bersama anak kita saat aku pergi, kau yang terbaik sayang."

Luhan tertawa puas dan mengangguk penuh kesombongan "Kau benar, aku yang terbaik." Katanya percaya diri, membuat Sehun tertawa dan mengalah untuk membenarkan "Ya, kau yang terbaik." Katanya mencium surai Luhan sementara tangannya mengusap sayang perut Luhan yang terlihat semakin membuncit setiap detiknya "Kau juga yang terbaik nak." Timpalnya menambahkan disambut tawa Luhan menikmati bagaimana Sehun begitu mencintai dan menyayangi dirinya dan anak mereka kelak.

Drtt…drrt…

Tawa keduanya terganggu saat ponsel Luhan bergetar diatas meja, Sehun lebih dulu mengambil ponsel istrinya, mencari tahu siapa yang menghubungi istrinya untuk melihat nama Baekhyun tertera di layar ponsel istrinya "Siapa?" Luhan bertanya sementara Sehun menunjukkan nama Baekhyun di ponselnya "Baekhyun."

Buru-buru Luhan mengambil ponselnya dari tangan Sehun, menggeser slide dan kembali bersandar di tubuh suaminya "Baekhyun? Ada apa?" katanya bertanya, sepertinya mereka membicarakan banyak hal, terdengar serius namun Sehun tak berniat mengganggu percakapan istri dan sahabatnya, dia hanya sabar menunggu sampai Luhan mengatakan.

"Baiklah, besok aku kembali ke Seoul." Katanya menyetujui sebelum menutup ponselnya dan meletakannya lagi ke atas meja "Ada apa?" Sehun bertanya dibalas senyum lembut Luhan yang memberi pengertian pada suaminya "Aku akan kembali ke Seoul selama tiga hari."

"wae?"

Luhan tersenyum, tapi wajahnya sendu untuk memberitahu Sehun "Lusa adalah persidangan Doojoon, aku akan datang kesana."

Dan seolah tidak ingin mengusik Luhan yang terlihat cemas, Sehun hanya mengangguk mengerti dan membuat keputusan "Aku akan menemanimu." Katanya mencium surai Luhan namun dibalas gelengan kepalan Luhan tanda penolakan "Tidak perlu sayang, aku hanya sebentar, setelahnya aku akan kembali kesini lagi."

"Kenapa? Aku tidak boleh mengikuti persidangan Doojoon?"

"Aku hanya tidak ingin kalian semakin membencinya. Bukan hanya kau yang tidak kuizinkan, tapi Kai, Chanyeol dan Kyungsoo juga tidak kuizinkan, aku hanya akan pergi dengan Baekhyun mengingat Baekhyun bisa bersikap netral pada Doojoon."

"Aku tidak akan membencinya."

"Sayang.."

"hmhh?"

"Biarkan aku pergi kesana bersama Baekhyun, tunggulah aku disini, aku menyukai tempat ini, bolehkah?"

Samar, Sehun bisa mendengar nada cemas Luhan didalam suaranya, tapi sekuat tenaga istrinya bersikap tenang hingga kembali mengalah adalah hal yang dilakukan Sehun sebelum mengangguk, mengizinkan Luhan kembali ke Seoul seorang diri.

"Baiklah, aku akan menunggumu disini." Katanya tak rela namun dibalas senyum tulus Luhan yang terlihat lega untuk mengatakan "Terimakasih." Seraya memejamkan kedua matanya untuk menyaksikan dengan kedua matanya sendiri seberat apa Doojoon akan membayar segala kesalahan yang telah dilakukannya bersama Donghon.

"Lu, apa kau baik-baik saja?"

Tersenyum dalam tidurnya Luhan menjawab dengan mata terpejam "entahlah." Terdengar lirih namun tak ada kebencian didalamnya "Tapi aku akan baik-baik saja, aku janji."

.

.

.

.

.

.

.


.

tobecontinued

.


.

.

Target sebelum empat puluh atau mentok empat puluh JTV akan disudahkan, doakan gengss..

.

Next, Been Through,

.

p.s : jangan bilang tumben jam segini please wkwkwk

Update jam segini hanya membuktikan sebenernya gue juga ga suka apdet ngalong, capek mata,

tapi semua jam updet emang tergantung kapan gue bisa rampungin satu chapter, sekian kkkk~

.

happy reading!