Previous
"Biarkan aku pergi kesana bersama Baekhyun, tunggulah aku disini, aku menyukai tempat ini, bolehkah?"
Samar, Sehun bisa mendengar nada cemas Luhan didalam suaranya, tapi sekuat tenaga istrinya bersikap tenang hingga kembali mengalah adalah hal yang dilakukan Sehun sebelum mengangguk, mengizinkan Luhan kembali ke Seoul seorang diri.
"Baiklah, aku akan menunggumu disini." Katanya tak rela namun dibalas senyum tulus Luhan yang terlihat lega untuk mengatakan "Terimakasih." Seraya memejamkan kedua matanya untuk menyaksikan dengan kedua matanya sendiri seberat apa Doojoon akan membayar segala kesalahan yang telah dilakukannya bersama Donghon.
"Lu, apa kau baik-baik saja?"
Tersenyum dalam tidurnya Luhan menjawab dengan mata terpejam "entahlah." Terdengar lirih namun tak ada kebencian didalamnya "Tapi aku akan baik-baik saja, aku janji."
.
.
.
.
Je'Te Veux
.
.
.
Main cast : Lu Han as Xi Luhan
Oh Sehun as Oh Sehun
Rate : T-M
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Baiklah hubungi aku saat kau sampai dirumah dan jangan bertengkar dengan Myungsoo selama perjalanan, hmhh?"
"Baik sayang, omong-omong, kau sudah mengatakannya ratusan kali."
"Benarkah?"
Yang terlihat semakin cantik dengan kehamilannya terkekeh gemas, sedikit menarik lengan suaminya sebelum memberikan kecupan perpisahan di bibir ayah dari calon bayinya
"Aku akan baik-baik saja."
Posisi saat ini Luhan sudah berada di dalam mobil dengan Myungsoo yang mengambil posisi sebagai pengemudi. Sehun sendiri sedang bersandar di jendela mobil, memberikan pesan sepanjang rel kereta tentang apa yang boleh dan tidak dilakukan oleh istrinya selama perjalanan kembali ke Seoul.
Jangan salahkan dirinya jika terlalu banyak hal yang ingin disampaikannya pada Luhan, pertama dia tetap tak rela dipaksa tinggal sementara istrinya akan kembali ke Seoul menghadiri persidangan pria yang bekerja untuk Donghon, kedua istrinya sedang hamil besar dan itu hanya akan membuatnya resah jika harus menunggu tanpa melakukan apapun.
Malam tadi dirinya masih terus memaksa agar diizinkan pergi, tapi selama prosesnya membujuk sang istri jawabannya tetap tidak hingga membuatnya terpaksa mengalah agar tidak membuat Luhan cemas dan berujung kepanikan.
Beruntung ada sesuatu yang harus dilakukan Myungsoo di Seoul, jadilah Sehun bisa bernafas sedikit lega karena tak perlu membiarkan istrinya berada selama empat jam perjalanan hanya dengan supir taksi.
"Oh ayolah Sehunna! Dia hanya kembali ke Seoul, bukan pergi berperang! Cepat masuk kedalam!"
Tatapan Sehun cukup menggambarkan jika dia kesal dengan ucapan Myungsoo, membuat si pria berlesung pipi mati gaya dan kini berpura-pura menyalakan musik di mobilnya "y-Ya, bicaralah sebanyak yang kau mau, sampai nanti malam juga tidak apa, aku rela bensin mobilku habis hanya karena menunggu Luhan diceramahi sepanjang hari." katanya menggerutu dibalas kekehan Luhan namun diabaikan Sehun yang hanya fokus pada istrinya.
"Aku benar-benar tidak boleh ikut?"
"Nanti setelah semua selesai aku akan segera kembali dan membawamu pulang, itu perjanjian kita, kau ingat?"
Ingin rasanya dia mengelak tapi Luhan sudah memberikan tatapan skak mat yang membuat Sehun terpaksa menarik dalam nafasnya untuk mengatakan "Baiklah, aku kalah." katanya sendu, sekali lagi mencium bibir Luhan sebelum beralih dari mobil Myungsoo.
"Hati-hati dijalan."
Luhan bersiap menutup kaca jendela mobil Myungsoo untuk membalas "Aku akan segera kembali, sampai nanti sayang."
Setelahnya terdengar suara Myungsoo bergumam "akhirnya." Sebelum perlahan menginjak gas mobilnya dan berjalan meninggalkan Sehun yang terus melambaikan tangannya pada Luhan sampai sosoknya terlihat semakin mengecil seiring dengan jarak dan kecepatan mobil yang digunakan Myungsoo agar cepat sampai di Seoul tanpa membuang waktu.
"Aku rasa dia tidak akan tinggal." Myungsoo memberitahu, membuat Luhan menoleh dan bertanya "Apa maksudmu?"
"Jika aku Sehun, aku tidak akan membiarkan istriku pergi ke Seoul untuk menyaksikan sidang hukuman dari pria yang bekerja untuk pembunuh kedua orang tuaku."
"sayangnya kau bukan Sehun."
Santai, Luhan tersenyum meremehkan dan mulai bersiap tidur karena malam tadi Sehun benar-benar mengerjainya dengan seluruh bujuk rayu yang ditolaknya tegas hingga kesal dirasakan sang suami dan berakhir membuat dirinya mendesah setidaknya sampai dinihari sebelum keberangkatannya pulang ke Seoul.
"Suka atau tidak, aku sudah mengenal Sehun dengan baik selama tiga bulan kami bekerja sama, dan tebakanku mungkin mobilnya sedang mengikuti kita saat ini."
Luhan hanya menggeleng seraya memejamkan mata, sebenarnya dia malas merespon ocehan Myungsoo namun bibirnya gatal hanya untuk sekedar mengatakan "Sehun tidak akan melakukannya, dia sudah berjanji padaku."
.
.
.
.
.
.
.
.
BLAM!
.
Dan benar saja tebakan Myungsoo sesaat setelah kepergian Myungsoo dan istrinya, Sehun bergegas masuk kedalam café, dia terlihat terburu-buru mencari sesuatu yang diyakininya sudah diletakkan di atas meja tanda dia memiliki urusan mendesak yang tak bisa ditunda sama sekali.
"Dimana?" Katanya bergumam seraya mencari di laci tempatnya biasa meletakkan barang pribadi namun tak menemukan apa yang sedang dicarinya.
"Apa yang kau cari?"
"…"
Taehyung yang bertanya, dia bersandar malas di salah satu meja pengunjung sementara matanya memperhatikan Sehun yang sedang mencari sesuatu tapi tak menjawab pertanyannya.
"Sehun aku bertanya."
"Diamlah, aku sedang terburu-buru!"
Memutar malas bola matanya Taehyung mengeluarkan sesuatu yang dia tebak sedang dicari oleh Sehun untuk menggoyangkannya hingga menimbulkan suara khas kunci mobil yang bertabrakan dengan gantungan kunci berinisal L yang mewakili nama istrinya dipakaikan sang pemilik di tap holder kunci mobil miliknya.
Tring….
Hal itu sukses menarik perhatian Sehun, dia berhenti mencari untuk menoleh dan sedikit merasa malu karena mengabaikan Taehyung yang sedang memegang kunci mobil miliknya "Kau mencari ini kan?" tanyanya seraya menggoyangkan kunci mobil Sehun dibalas kekehan Sehun yang merasa Taehyung bisa membaca pikirannya "Kau tahu kan? Aku tidak bisa membiarkan Luhan jauh dariku lagi, tidak, terlebih setelah aku tahu dia mengandung anakku."
"Ya aku tahu, aku juga melihatmu memasukkan barang-barang milikmu dini hari tadi, aku rasa kau sudah bersiap pergi meninggalkan café."
"Ya begitulah, aku bisa menitipkan café padamu kan?"
Taehyung diam sesaaat sebelum menaikkan kedua bahunya, dia juga melempar kunci mobil pada Sehun yang dibalas gerakan refleks Sehun menangkap kunci mobil miliknya "Pergilah, aku akan mengurus café untukmu."
Sehun memekik lega, kali ini dia hanya membawa tas pinggang kecil sebelum mengerling Taehyung dan menepuk pundak sahabatnya "Aku tidak tahu kapan kembali, tidak masalah untukmu?"
"Saat kau kembali nanti café ini akan dikunjungi banyak pelanggan, tenang saja aku bisa mengurusnya."
"gomawo V, Aku mengandalkanmu."
Setelahnya Sehun pergi meninggalkan Taehyung seorang diri, bersiap untuk menyusul Luhan ke Seoul dan berharap semua yang dibicarakan Luhan mengenai persidangan berjalan tanpa hambatan dan tak mengusik istrinya sedikit pun.
Setelah menenangkan diri, Sehun mengambil banyak nafasnya seraya menyalakan mesin mobil, merasa gugup namun meyakinkan dirinya dengan bergumam dan menginjak pelan gas mobilnya.
"haah~…Baiklah Oh Sehun, sudah waktunya kau pulang."
.
.
.
.
.
.
.
"AKU PULAAAANG…TAEOH….JIWON-… LULU PULAAANG!"
Sesampainya di Seoul, Luhan langsung menargetkan rumahnya sebagai pemberhentian terakhir Myungsoo mengantarnya, ya, walau harus disertai gerutuan lelah karena selama empat jam mereka harus beberapa kali berhenti di rest area, setidaknya Myungsoo benar-benar bisa diandalkan, terbukti dari kedatangan Luhan kembali kerumahnya.
"Hay Lu, kau sudah pulang?"
"eoh, dimana anakmu Kai?"
"Taeoh mengikuti play group yang didaftarkan Kyungsoo, siapa yang mengantarmu pulang?"
"Myungsoo."
"Lalu dimana dia?"
"Sudah pergi mungkin."
"Kau tidak menyuruhnya masuk?"
"Tidak, dia sangat cerewet."
Dan tanpa menawarkan sekedar kalimat apa kau ingin masuk ke dalam, Luhan hanya turun dari mobil begitu saja meninggalkan Myungsoo tanpa penawaran untuk beristirahat, entahlah, mungkin Myungsoo sedang menggerutu kesal saat ini dan sebenarnya Luhan tidak peduli karena yang dipedulikannya saat ini hanya dirinya sudah berada dirumah dan tak sabar bertemu dengan kedua putra Kai dan Chanyeol.
"Lu, tetap saja kau harus menawarkan pada Myungsoo untuk masuk."
"Kami itu tidak cocok, terus bertengkar dan itu membuatku kesal."
"Tapi tetap saja dia yang mengantarmu pulang, itu tidak sopan Lu."
Kai memperingatkan sahabatnya yang terlihat semakin gemuk seiring dengan kehamilannya, dan melihat Luhan kesulitan hanya untuk sekedar melepas tali sepatunya membuat pria berkulit tan itu menarik dalam nafas untuk menghampiri Luhan dan berjongkok didepannya "Jangan terlalu banyak menunduk, kau bisa sesak, biar aku saja."
Dan pada akhirnya Luhan membiarkan Kai melepas ikatan tali di sepatunya, melihat ke sekeliling rumah sementara kakinya sesekali dipijat oleh ayah satu anak didepannya "Dimana yang lain?"
"Chanyeol dan Baekhyun sedang menjemput Jiwon dirumah Mama Park, mungkin sebentar lagi pulang." Katanya membantu Luhan berdiri seraya merangkul pinggang Luhan agar temannya tak kesulitan berjalan, hal itu membuat Luhan merasa begitu nyaman saat dikelilingi teman-teman yang menjaganya, membuatnya begitu rileks terlebih saat Kai memberikannya massage foot di kakinya yang mulai terlihat bengkak.
"Nyaman?"
Sesaat setelah membawa Luhan berbaring di sofa, Kai ikut duduk di bagian kaki Luhan untuk memangku kaki si pria hamil yang terlihat semakin membesar, memijatnya perlahan lalu melihat mata Luhan terpejam seraya bergumam "mmhh…" tanda dia menikmati pijatan yang dulu diberikannya juga pada Kyungsoo saat hamil putranya.
"Dimana Taeoh?"
"Dia sudah masuk playground minggu lalu, kau lupa? Aku akan menjemputnya nanti sekitar pukul sebelas."
"ah, baiklah, kabari aku jika Taeoh pulang."
"Akan kuberitahu nanti, mungkin sedikit lama karena kami akan makan siang di rumah sakit."
"Tidak apa, aku juga hanya ingin tidur setelah ini."
"Kamarmu sudah dibersihkan Kyungsoo."
"Aku akan menikahi istrimu di masa yang akan datang."
Terkekeh, Kai sengaja menekan kencang kaki Luhan hingga terdengar suara sahabat kecilnya meringis namun diabaikan dan justru bertanya "Dimana Sehun? Dia tidak pulang denganmu?"
"No, aku melarangnya."
"wae?"
"Aku tidak mau dia datang ke persidangan."
"Kau benar-benar melarang semua orang datang ya?"
Luhan membawa tangannya ke belakang tengkuk untuk bersandar disana, menatap Kai yang masih memijat kakinya seraya mengangguk mantap "Kecuali Baekhyun, kalian semua tunggu saja kabar dariku."
"Kenapa pula hanya Baekhyun?"
"Karena Baekhyun dan aku memiliki perjanjian tentang Sehun."
"Apa isinya?"
"Jika aku membiarkan dirinya menemani datang ke persidangan, dia akan membiarkan Sehun pulang kerumah."
"kau tertipu kalau begitu." Kai berbisik pelan dibalas tatapan terkejut Luhan yang bertanya "Apa Baekhyun berbohong padaku?"
"molla."
"Kaaaaaiiii….."
"Jangan merengek, tidak pantas jika mengingat kau akan segera dipanggil mama."
"Tapi aku serius bertanya."
"Aku juga serius bertanya."
"ish! Katakan padaku sekarang! Baekhyun menipuku atau-…"
Klik….
Tak lama terdengar suara pintu rumah mereka terbuka, kali ini menampilkan keluarga kecil Park dengan Chanyeol yang sedang menggendong putranya sementara Baekhyun terlihat melipat kedua tangannya di atas dada seraya menatap Luhan terlalu mengerikan.
"w-Wae? kenapa kau menatapku saat mengerikan seperti itu….Kai."
Dia beralih dari posisinya bersandar menjadi duduk di sofa, diam-diam mendekati Kai lalu menarik baju suami Kyungsoo itu untuk bersembunyi jika Baekhyun menyerangnya tiba-tiba.
"Dia marah padamu." Kai berbisik, dibalas lagi bisikan oleh Luhan "Tapi kenapa? Aku tidak melakukan kesalahan apapun kan?"
"KAU SALAH OH LUHAN! KAU SALAH!"
Luhan tersentak membuat Kai terkekeh gemas lalu merangkul lelaki cantiknya, dia juga tidak akan membiarkan si monster Byun mencakar Luhan hanya karena Luhan tidak pulang selama satu minggu dan berada bersama suaminya di Pyeongchan.
"KaiBaekhyunkenapa?diamengerikan."
Mantap, Kai hanya membalas "Memang." Seraya mendekatkan tubuh Luhan padanya berjaga-jaga jika Baekhyun benar-benar menyerangnya. Hal itu membuat Luhan merasa terlindungi lalu diam-diam berani menantang Baekhyun dengan bertanya "Kenapa kau berteriak sih? Lihat Jiwon dia ketakutan melihatmu seperti itu, dasar monster!"
"KAU-…"
Dan benar saja Baekhyun berjalan cepat mendekati Luhan, matanya mengunci si pria menyebalkan lalu menariknya begitu saja dari pelukan Kai dengan mudah "Kaaaiiii…"
Luhan pasrah saat dirinya sudah berpindah dari pelukan Kai ke genggaman Baekhyun, matanya juga sudah terpejam erat siap menerima pukulan sahabat suaminya sampai memeluk adalah hal yang dilakukan Baekhyun alih-alih memukul kepalanya.
"Baek…"
Dan ya, alih-alih memukul isi kepala Luhan yang bodoh karena begitu saja kembali pada Sehun, Baekhyun lebih memilih memeluk pria manja yang begitu dirindukannya sejak kepergiannya yang begitu tiba-tiba ke Pyeongchan, bersyukur Luhan terlihat sangat sehat dan jauh diluar dugannya, dia terlihat sangat bahagia dilihat dari bertambahnya berat badan sahabatnya yang sedang mengandung darah daging Oh Sehun hanya dalam waktu satu minggu.
"Bodoh, Memangnya aku tega memukul kepala pria yang terlihat gemuk sepertimu?"
"sshhh….Beratku hanya naik enam kilogram, jangan berlebihan."
Baekhyun terkekeh, melepas pelukan Luhan lalu bergumam "itu mengerikan." Katanya mencari ke sekeliling rumah namun tidak menemukan tanda-tanda Sehun ada dirumah mereka "Bajingan itu tidak datang?"
"Dan siapa yang kau sebut bajingan?"
"Seseorang bernama Oh Sehun."
Wajah Luhan seketika berubah menjadi merah seperti kepiting, rasanya dia ingin memiting leher Baekhyun jika tidak melihat Jiwon yang sedang memandangnya harus kehilangan ibu di usianya yang masih sangat kecil, hal itu membuat Luhan benar-benar menahan marah namun tidak dengan Kai dan Chanyeol yang terkikik menahan tawa sedang menertawai Luhan yang memiliki kebiasaan menghentak kaki dan mengatakan "ssshh…ssshh…" setiap kali dia ingin memukul seseorang.
"wae? Kau ingin memukulku? Kemari! Lakukan!" Baekhyun yang juga mengetahui kebiasaan childish Luhan justru menawarkan wajahnya pada Luhan, bersedia untuk dipukul si lelaki manja sebelum terdengar suara hentakan terakhir tanda dia tidak ingin memperpanjang rasa kesalnya.
"Sudahlah aku mau istirahat dikamar, besok kita berangkat pagi ke persidangan, oke?" katanya mengingatkan lalu beralih menuju kamar yang begitu dirindukannya.
Ya, yang Luhan tahu besok dia hanya perlu datang menghadiri persidangan dan mendengar keputusan hakim tanpa tahu bahwa esok pula mungkin dia akan terluka mendengar kebenaran dari apa yang dilakukan Doojoon pada hidupnya.
"aku harus bagaimana?"
Baekhyun bertanya pada Kai dan Chanyeol, namun dua pria yang sudah menjadi ayah didepannya hanya tersenyum singkat untuk kompak mengatakan "Luhan akan baik-baik saja."
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan pagi,
.
"Setidaknya kau harus mendengarkan aku lebih dulu, apapun yang terjadi didalam sana pastikan kau siap mendengarnya berjanjilah padaku!"
"Memangnya apa yang bisa terjadi didalam sana? Aku hanya perlu duduk mendengarkan bukan?"
"Tapi Lu-…."
Yang terlihat frustasi tentu saja Baekhyun, sahabat sekaligus dokter yang selalu bersikap protektif pada Luhan selama masa kehamilannya, lalu perdebatan kecil itu pun terjadi sepanjang perjalanan keduanya menuju kejaksaan tinggi negara untuk mendengarkan hasil putusan hukum untuk Doojoon.
Dan bukan tanpa alasan Baekhyun terlihat cemas, ada sesuatu yang belum Luhan ketahui mengenai rangkaian persidangan Doojoon, ada sesuatu yang belum Baekhyun beritahu karena dirinya tak sampai hati untuk mengatakannya.
Dia cemas, sangat, tapi lihatlah Luhan, sepanjang perjalanan sahabatnya itu terlihat sangat tenang dan yakin bahwa hukuman untuk Doojoon hanya berkisar sampai lima tahun mengingat dirinya hanya kaki tangan Donghon, bukan otak dari semua rencana mengerikan yang dilakukan Donghon selama ini.
Mungkin saja.
Sebelum Baekhyun mengetahui hal yang hingga saat ini belum diketahui Luhan tentang Doojoon, pria yang selalu dikaguminya bahkan setelah semua hal buruk yang coba dilakukan Doojoon pada keluarganya dan keluarga kecilnya saat ini.
"Paling tidak kau harus membiarkan Kyungsoo ikut dengan kita."
Baekhyun bergumam pasrah, memarkirkan mobilnya di tempat yang tersedia sebelum perlahan melepas seatbelt diikuti gerakan yang sama oleh Luhan disampingnya "No, Kyungsoo harus menjaga anak-anak, lagipula persidangan ini tidak terlalu memakan banyak waktu bukan?"
"Ya, tapi aku tidak tahu apa kau akan baik-baik saja setelahnya."
"Baek apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?"
Luhan menoleh, memperhatikan gerak gerik Baekhyun yang mencurigakan hingga suara sahabatnya terdengar "Aku tidak menyembunyikan apapun, aku hanya tidak bisa mengatakannya padamu."
Luhan tak mau memaksa, dia kemudian membuka pintu mobil seraya mengerling istri dari sahabat kecilnya "Baiklah, kau bisa memberitahuku perlahan, kita masuk sekarang." Katanya keluar dari pintu mobil meninggalkan Baekhyun yang terlihat semakin pucat karenanya.
"Kami sampai, datanglah, aku takut dia membutuhkanmu."
Dan setelah mengirim pesan pada seseorang Baekhyun menarik dalam nafasnya, menyusul Luhan yang sedang melangkah masuk ke dalam pengadilan sampai suara Luhan terdengar menyapa seseorang yang tak lain adalah…..
"Taeyong kau datang?"
Ditemani Jaehyun, remaja delapan belas tahun yang sedang berbicara dengan Luhan terlihat menyapa sahabatnya, interaksi keduanya sudah jauh lebih baik mengingat beberapa bulan yang lalu Taeyong masih bersikap canggung pada Luhan mengingat mau bagaimanapun atas perintah Donghon remaja itu nyaris membunuh Sehun di tangannya sendiri.
"Aku ingin melihat Doojoon hyung."
Luhan tersenyum lega menyadari tak ada kebencian dari nada Taeyong untuk Doojoon, membuatnya benar-benar bangga melihat bagaimana Taeyong melanjutkan hidupnya tanpa kebencian didampingi Jaehyun yang selalu ada untuknya "Baiklah, ayo masuk."
Luhan merangkul Jaehyun lebih dulu, memeluknya sekilas sementara adik kandung suaminya itu tersenyum menunjukkan lesung di pipinya untuk bertanya "Aku dengar Sehun hyung sudah bersama denganmu hyung."
"mmhh….Kakakmu akan segera pulang, kau tenang saja."
"Dia tidak datang hari ini?"
Luhan tersenyum kecil, sedikit menyesali keputusannya untuk merangkul Taeyong dan mengerling Baekhyun yang berjalan dibelakangnya "Aku melarangnya datang."
"Wae?"
Dia pun meminta Jaehyun untuk sedikit menunduk seraya berbisik "Karena Baekhyun hyung belum berdamai dengan kakakmu."
"ah, begitukah?"
"mmhh…Tapi nanti mereka akan baik-baik saja, hanya tinggal menghitung hari sampai keponakanmu lahir dan menyatukan keluarga kecil kita." Katanya menghibur Jaehyun hingga dua remaja di samping kanan dan kirinya tersenyum seolah berharap apa yang dikatakan Luhan akan segera menjadi nyata untuk mereka, berkumpul bersama tanpa adalagi yang harus merasa tertekan dan menderita.
"Keponakanku sehat?"
Luhan mengangguk mantap dan menjawab "Sangat." Sampai tak lama Baekhyun menyeruak diantaranya dan Jaehyun untuk mengatakan "Kalian duduklah di sisi kiri, aku dan Luhan akan berada di sisi kanan."
Ketiganya jujur tak mengerti apa yang diinginkan Baekhyun sampai Luhan bertanya "Kenapa kita terpisah?" tanyanya, namun hanya dibalas wajah cemas Baekhyun yang menarik lengan Luhan menjauh dari dua remaja yang sepertinya sudah mengambil tempat di sisi kiri.
"Baek ada apa?"
"Aku gugup."
"Tapi kenapa?"
Buru-buru Baekhyun membawa Luhan duduk di sisi depan tempat para saksi berkumpul, niatnya ingin menjelaskan lebih detail namun sayang perhatian Luhan kini teralihkan saat dua jaksa penuntut umum memasuki ruangan diikuti hakim dan seluruh staff kejaksaan yang tampak bersiap dengan persidangan hari ini.
"Baiklah, persidangan kami mulai, untuk terdakwa Yoon Doojoon-ssi harap segera memasuki ruang sidang."
Tak lama setelah hakim memulai agenda persidangan, Doojoon memasuki ruangan diikuti oleh dua penjaga yang berada di kedua sisinya, tak banyak yang berubah dari penampilan pria yang pernah begitu dihormatinya sebagai seorang professor dan disayanginya sebagai seorang kakak, tubuhnya tetap tegap saat berjalan walau tatapannya sendu terlebih saat kedua mata mereka bertemu pandang.
Entah perasaan Luhan atau memang Doojoon terlihat menyayangkan keberadaannya di persidangan hari ini, yang jelas hati Luhan tersayat melihat kedua tangan yang biasa menolong orang dengan kemampuannya sebagai seorang penyembuh kini harus disatukan dengan borgol yang mengikat disana, Luhan sempat memberi tatapan semangat pada Doojoon namun hanya dibalas senyum kecil penuh arti dan luka disaat bersamaan.
"Lu…"
Lalu disampingnya Baekhyun terlihat semakin cemas, tangannya digenggam erat oleh Baekhyun dan entah mengapa genggaman Baekhyun mendadak berubah menjadi dingin dan berkeringat, membuat Luhan bertanya-tanya namun Baekhyun terus bergumam "Bersiaplah, kau harus baik-baik saja."
Luhan tidak merespon tatkala suara jaksa penuntut kembali terdengar, tegas dan tak bisa dibantah, itu adalah dua penggambaran seorang jaksa yang biasa dilihat Luhan dari sosok ayah mertuanya yang sedang dalam tahap penyembuhan, biasanya dia akan tersenyum bangga melihat para jaksa melakukan tugasnya, namun kali ini berbeda, dirinya cemas dan entah mengapa Luhan terlihat mengkhawatirkan Doojoon yang datang tanpa ditemani oleh pengacara.
"Baek, kenapa tidak ada pengacara yang menemani Doojoon hyung?"
"Dia menolaknya Lu, dia tidak ingi ada yang menemani, dia sudah memutuskan untuk menerima tuntutan yang dibacakan tanpa mengelak."
"Tapi ini tidak adil, harus ada yang menemaninya."
"Aku tahu, tapi ini semua hak terdakwa untuk menerima atau menolak pengacara yang diajukan oleh pihak kejaksaan."
Luhan ingin membalas lagi ucapan Baekhyun, namun saat suara jaksa penuntut umum membacakan tuntutannya dia kembali diam, fokusnya ada pada Doojoon yang terlihat sangat tenang seolah menerima segala jenis hukuman untuknya.
"hyung…"
Luhan bisa melihat wajah Taeyong juga berubah pucat di sisi sebelah kiri, jujur dia juga merasakan gugup yang sama terlebih saat hakim mengizinkan jaksa penuntut umum membacakan tuntutan yang diluar dugaan lebih banyak dari perkiraannya selama ini
Penyelundupan senjata gelap ke tiga negara Hongkong, Beijing dan Seoul
Sebagai kaki tangan Ko Donghon mengedarkan obat terlarang di beberapa rumah sakit besar dan lingkungan kumuh, target adalah anak-anak dan pekerja seks komersil
Baekhyun bisa merasakan Luhan mencengkram kuat tangannya, dia menoleh dan benar saja wajah Luhan sudah begitu tegang dengan pucat menyertai, hal itu membuatnya cemas hingga mengusap tangan Luhan adalah hal yang dilakukan Baekhyun untuk membuat Luhan tenang dan tak merasa tertekan.
"Tenanglah Lu."
Merupakan tersangka untuk kasus penculikan dan jual beli anak dibawah usia sepuluh tahun, dari bukti yang kami dapatkan, anak-anak tersebut akan bekerja dibawah organisasi hitam sebagai pencuri pada awalnya, lalu diajarkan membunuh saat mereka besar nanti.
Taeyong adalah bukti nyata dari kasus penculikan yang sedang dibacakan Jaksa, yang membedakannya hingga saat ini sekalipun Doojoon tidak pernah mengajarkan Taeyong untuk membunuh, dia melindunginya, berharap tak perlu ada darah yang mengotori tangan Taeyong dan itu berhasil hingga hari ini.
Ya, tapi bagaimana dengan anak-anak lain yang tak bisa diselamatkan Doojoon? Hal itu membuat hati Luhan gundah tak menyangka bahwa semua kejahatan yang dilakukan Donghon dan Doojoon sudah berjalan terlalu lama dan terlalu banyak melukai orang lain.
Manipulasi pasar saham di Hongkong
Pemalsuan identitas
"Cukup."
Luhan bergumam cemas, tangannya semakin kuat mencengkram tangan Baekhyun seiring dengan tuntutan yang dibacakan jaksa untuk Doojoon "ini terlalu banyak."
Melakukan malpraktik untuk beberapa pasien yang dilihatnya sebagai ancaman
"tidak, Tidak mungkin Doojoon melakukan itu." katanya tak percaya dengan tuntutan malpraktik mengingat jika menyangkut keselamatan nyawa seseorang Doojoon akan benar-benar serius menyembuhkan "Baek darimana mereka mendapatkan semua bukti yang menjadi tuntutan untuk Doojoon? Beberapa tidak masuk akal untukku!"
Menatap Luhan sendu Baekhyun terpaksa memberitahu dengan mengatakan "Doojoon mengakui semua kesalahannya pada pihak kejaksaan, dia yang memberikan semua buktinya."
Luhan terdiam, tak bisa berkata hanya bergumam "tapi kenapa?" yang mewakili seluruh rasa kecewanya pada Doojoon, dia tak menyangka Doojoon bisa melakukan banyak hal mengerikan selama hidupnya, terlebih saat jaksa membacakan tuntutan terakhir yang berisi
Terakhir, percobaan pembunuhan pada dokter Xi Angela yang berujung kematian akibat kesalahan pengobatan yang disengaja oleh Yoon Doojoon sebagai dokter yang menangani kondisi korban saat itu.
DEG!
Luhan bisa melihat mata Baekhyun terpejam erat saat jaksa membacakan tuntutan terakhir, awalnya dia mengira hanya salah mendengar tapi saat jaksa kembali berbicara "Untuk kasus terakhir kami memiliki saksi yang akan menjelaskan secara detail pembunuhan yang dilakukan oleh terdakwa, kepada dokter Park Baekhyun kami persilahkan untuk maju dan memberi kesaksian."
Luhan tak mengerti mengapa kasus mendiang ibunya kembali dibicarakan, terlebih saat jaksa memanggil Baekhyun sebagai saksi hanya menandakan bahwa ada yang salah dari cara mendiang ibunya menghembuskan nafas terakhir dan itu membuat Luhan begitu sesak nyaris tak bisa bernafas "Baek, ada apa ini?"
Baekhyun tersenyum kecil, hatinya begitu sakit melihat raut terluka di wajah Luhan, namun sebagai sahabat sekaligus dokter yang menangani kondisi mendiang ibu Luhan malam itu, Baekhyun akan tetap memberikan kebenaran sebagai jawaban atas hal yang salah mereka kira selama ini.
"Aku tahu kau kuat, kau hanya perlu mengetahui kebenarannya Lu."
Setelahnya Baekhyun masuk kedalam area persidangan, berdiri di tempat khusus yang disediakan untuk saksi sementara jaksa meminta sumpahnya saat memberi kesaksian "Saudara Park Baekhyun apa anda bersumpah untuk memberi kesaksian tanpa dikurangi atau dilebihkan saat anda katakan?"
Sekilas menatap sendu pada Luhan, Baekhyun mengangguk untuk mengatakan "Saya bersumpah."
Hal itu membuat jaksa mengangguk, bersiap untuk mengajukan pertanyaan sebelum menatap pada Baekhyun dan bertanya "Apa anda mengetahui kronologis yang terjadi pada mendiang Xi Angela malam itu?"
Baekhyun menunduk sesaat sebelum menarik dalam nafasnya untuk mengatakan "Dia ibu sahabat saya, dokter yang selalu memberikan keceriaan pada semua orang, seorang ibu yang hanya ingin melihat satu-satunya putra yang dimilikinya bahagia walau tak sempat melihat betapa bahagia putranya saat ini bersama suami dan calon bayi yang akan dimilikinya."
Luhan tak tahu merespon seperti apa, dia sedang dalam kondisi dimana ingin bertanya banyak hal tapi tak tahu harus bertanya pada siapa, lalu Baekhyun mengatakan hal-hal yang membuat hatinya berat dan sakit, membuatnya tertunduk berusaha untuk mendengarkan kebenaran yang dikatakan Baekhyun, yang akan menyakitinya lagi tapi dia bersumpah apapun yang terjadi itu tidak akan mempengaruhi kondisi bayinya.
"Malam itu , tepatnya dua tahun yang lalu seseorang menabrak mendiang dokter Xi hingga tubuhnya terpental kencang membentur trotoar jalan."
Luhan terpejam erat, bayangan tubuh ibunya terpental dan membentur trotoar jalan masih begitu diingatnya dengan jelas, dia tak berani melihat ke area persidangan, yang dilakukannya hanya tertunduk sementara Baekhyun terus mengatakan hal-hal yang tak dia ketahui sebelumnya.
"Lalu apa yang terjadi?"
"Mereka segera membawanya ke rumah sakit tempatku bekerja saat itu, Seoul hospital."
"Apa anda yang menangani sendiri kondisi pasien saat itu?"
"Tidak, aku terlalu gugup menyadari bahwa pasien saat itu adalah wanita yang juga kupanggil mama sehari-hari, aku tidak bisa berfikir jernih hingga seseorang datang dan mengajukan diri untuk menangani kondisi dokter Xi saat itu?"
"Siapa?"
Baekhyun menatap tegas pada Doojoon, tak ada tatapan benci hanya perasaan kecewa sampai dilihatnya Doojoon mengangguk dan tersenyum kearahanya "Professor Yoon Doojoon, dia yang menangani kondisi mendiang dokter Xi saat itu, bersamaku."
"Dan apa yang terjadi di ruang operasi saat itu?"
"Semua berjalan sesuai prosedur, pasien masih merespon walau tanda vitalnya lemah, tak ada yang mencurigakan hingga detik selanjutnya saat aku berkedip, tubuh pasien kejang dan tanda vital di monitor lurus tak merespon." katanya mengingat kejadian di ruang operasi malam itu dengan mata terpejam saat mengatakan "Hingga Professor Yoon menyebutkan waktu kematian tanpa melakukan prosedur cpr dengan alat kejut jantung malam itu."
"Dan anda tidak menuntut prosedur untuk melakukan cpr?"
"Pasien mengalami pecah pembuluh darah otak disertai kegagalan jantung untuk merespon karena benturan, itu yang dikatakan professor Yoon, kami kehilangan pasien hanya dalam waktu sepuluh menit."
"Lalu apa yang terjadi?"
"Aku tidak memeriksa keadaan lebih lanjut, membiarkan Professor Yoon mengumumkan berita kematian mendiang dokter Xi tanpa melakukan pemeriksaan, sebagai asisten sekaligus dokter yang berada langsung dibawah bimbingannya aku mempercayai professor Yoon sepenuhnya."
Baekhyun diam, kepalanya tertunduk dalam membuat Luhan cemas menyadari cerita yang dia tahu tentang kematian ibunya hanya sampai pada saat Doojoon mengumumkan kematian sang mama, selebihnya dia tidak mengetahui apapun sampai Baekhyun kembali membuka suaranya.
"Tapi aku tahu aku melewatkan sesuatu." Katanya pilu, melihat sekilas kearah Luhan lalu menatap jaksa yang sedang bertanya padanya "Ada sesuatu yang salah dalam prosedur penanganan mendiang dokter Xi malam itu."
"Apa maksud anda?"
"Aku menyadarinya tepat enam bulan setelah kematian mendiang dokter Xi, aku menangani pasien yang sama yang mengalami kecelakaan dengan benturan kencang di kepala, yang membedakan pasien tersebut bertahan walau dalam keadaan koma namun tak pernah mengalami kegagalan jantung untuk merespon, hal itu membuatku mencari tahu, bertanya kepada asisten perawat professor Yoon untuk mendapatkan satu bukti mengejutkan."
"Apa yang anda dapatkan?"
"Kenyataannya Professor Yoon memiliki dua berkas untuk setiap pasien yang gagal ditanganinya, berkas yang bertuliskan untouched tersebut disimpan di tempat khusus dan hanya beliau yang mengetahui keberadaannya, aku terus mencari tahu selama hampir dua tahun berlalu tapi tetap tak menemukan apapun, semuanya terlalu sempurna untuk disembunyikan hingga beberapa hari yang lalu seseorang memberitahukan dan menceritakan semua kebenarannya padaku."
"Apa yang diberitahukan kepada anda?"
Resah, Baekhyun menatap Doojoon dibalas anggukan singkat sang professor, hatinya berdebar kencang menyadari bahwa saat ini Luhan sedang menatapnya intens sesekali terlihat begitu terluka, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk beberapa saat sampai akhirnya bibir kecilnya terbuka dan mengatakan "Bahwa kematian mendiang dokter Xi bukan disebabkan karena kecelakaan yang dialaminya, bahwa kematian mendiang dokter Xi terjadi karena seseorang membunuhnya di ruang operasi dan orang itu tak lain adalah Yoon Doojoon, dokter yang melakukan malpraktik untuk membuat dokter Xi kehilangan nyawanya."
DEG!
Mata Luhan membulat sempurna, hatinya memukul sakit antara ingin berteriak marah dan mengacaukan persidangan atau tetap mendengarkan kenyataan menyakitkan tentang bagaiaman ibunya mengalami kesakitan sebelum akhirnya meregang nyawa.
Perutnya terasa begitu kram, dia tahu dia menyakiti bayinya dan Sehun jika terus bersikap seperti ini, tapi dia tidak bisa mengontrol dirinya saat kenyataaan diungkapkan, saat pria yang duduk terlalu tenang tak jauh darinya benar-benar membunuh ibunya bukan hanya sebagai pelaku yang menabrak tubuh sang mama tapi juga sebagai dokter yang mengakhiri hidup ibunya di ruang operasi.
"Yoon Doojoon…"
Tangan Luhan terkepal erat, bibirnya menggeramkan nama Doojoon penuh kebencian, sekilas tak ada lagi tatapan iba pada Doojoon semuanya berubah menjadi kebencian terlebih saat pertanyaan "Lalu bagaimana cara terdakwa membunuh mendiang dokter Xi saat itu?" ditanyakan pada Baekhyun, membuat kepala Luhan semakin tertunduk dengan kedua telinga yang terpaksa mendengar jawaban
"Disaat yang sama tanpa sepengetahuan kami, injeksi yang seharusnya adalah obat penenang ditukar menjadi morfin dengan dosis berlebih, dia menyuntikkannya tanpa ragu hingga membuat kejang karena kontraksi jantung memicu terlalu cepat terjadi, benar adanya jika pasien mengalami pendarahan di bagian kepala, tapi yang memicu kegagalan jantung merespon adalah karena morfin yang disuntikan bekerja berlawanan dengan kondisi pasien yang saat itu sedang diberikan penghilang rasa sakit dosis tinggi, terjadi komplikasi hingga pasien mengalami kejang karena ketidakmampuan otot jantung dalam memompa aliran darah ke seluruh tubuh disertai dengan berkurangnya aliran darah ke otot jantung dimana aliran darah melalui pembuluh arteri terganggu."
"Dan apa yang terjadi?"
"Satu menit dibiarkan hal itu akan merusak sistem saraf pusat otak, ditandai dengan pecahnya pembuluh darah otak dan itu yang terjadi pada mendiang dokter Xi hingga akhirnya dokter Xi tidak bertahan dan menghembuskan nafas terakhirnya karena seluruh pembuluh organ vitalnya dibuat rusak dengan cara yang begitu sederhana dan hanya bisa dilakukan oleh seseorang sekelas Professor Yoon."
"bajingan….Yoon Doojoon kau bajingan."
Luhan menggeram marah, perutnya terasa begitu kram karena emosi di hatinya, jujur dia tak sanggup mendengar lebih jauh dan memilih untuk menundukkan kepala dengan kedua tangan terkepal di atas paha sebagai tanda dia sedang menenangkan diri untuk tidak mengacaukan jalannya persidangan.
"Lalu darimana anda mengetahui semua hal ini? Apa anda memiliki bukti?"
"Ya, sudah kuserahkan pada pihak kejaksaan beberapa hari yang lalu."
"Baiklah kami akan mempelajarinya, lalu darimana anda mendapatkan bukti? Bukankah anda sendiri yang mengatakan bahwa selama dua tahun anda mencari tidak mendapatkan bukti apapun?"
Baekhyun mengangguk membenarkan sementara jari telunjuknya mengarah pada Doojoon untuk mengatakan "Yoon Doojoon mengatakan semuanya padaku, dia yang memberikan bukti untuk diserahkan kepada kejaksaan."
"Sehun…Sehun…Sehunna.."
Luhan tidak tahan lagi, entah apa yang diinginkan Doojoon, dia membunuh ibunya lalu mengakuinya seolah semua akan baik-baik saja setelah ini, bajingan itu bahkan terlihat sangat tenang berbanding terbalik dengan Luhan yang dibuat hancur dan menangis di tempatnya saat ini.
Dia kesakitan karena perutnya begitu sakit, lalu harus dipaksa mendengarkan pengakuan yang membuatnya benar-benar hancur hingga tak bisa melakukan apapun selain memanggil nama suaminya, dia membutuhkan Sehun, hanya Sehun yang bisa membuatnya tenang saat ini, hanya Sehun, tapi dia tahu untuk mendapatkan pelukan suaminya dia harus menempuh empat jam perjalanan menuju Pyeongchang, hal itu membuatnya begitu marah, mengutuk keputusanna untuk tidak mengizinkan Sehun datang ke persidangan hingga berakhir sangat menyedihkan seorang diri.
"Sehun…."
Dia tetap memanggil nama suaminya, berharap bayinya didalam sedikit lebih tenang saat nama sang ayah disebutkan, semua terasa begitu menyiksa, hal yang coba dia relakan kembali menjadi hal yang membuatnya menyesal karena sebagai seorang putra dirinya tidak bisa melakukan apapun untuk ibunya.
"Saya rasa cukup kesaksian yang diberikan oleh saudara Park Baekhyun, anda bisa kembali ke tempat."
Baekhyun mengangguk kecil, meninggalkan tempatnya memberikan saksi sementara jaksa bertanya langsung pada Doojoon "Apa ada pembelaan yang ingin anda sampaikan?"
Mata Doojoon kini sendu memperhatikan Luhan yang sedang terisak, jelas sekali Luhan kesakitan, ingin berteriak marah namun ditahannya sekuat hati, hal itu membuat hatinya begitu sakit hingga menggeleng adalah jawaban yang diberikan Doojoon pada kejaksaan "Tidak ada."
"Jadi anda membenarkan segala tuduhan?"
Dengan berat hati Doojoon mengatakan "Ya, semua tuduhan yang dibacakan benar saya lakukan, termasuk membunuh mendiang dokter Xi hanya karena aku ingin memiliki putranya seorang diri, membuatku berfikiran pendek untuk melakukan apa yang diperintahkan Donghon agar tidak ada yang menghalangi niatku untuk mendapatkan putranya, aku membunuhnya dengan sadar dan dipenuhi penyesalan serta rasa bersalah hingga saat ini."
"bajingan….aku tidak akan memaafkanmu Yoon Doojoon, aku tidak akan-…."
Mungkin Luhan akan benar-benar berteriak marah jika seseorang tidak menggenggam tangannya saat ini, tangan hangat yang membuat seketika amarahnya sedikit mereda, Luhan merasa begitu familiar dengan tangan besar yang sedang menggenggamnya saat ini, tidak berharap itu milik suaminya namun saat suara berat itu terdengar mengatakan "Aku disini sayang, kau akan baik-baik saja."
Disaat yang sama pula Luhan merasa begitu tertolong karena tangan hangat dan suara yang membuatnya tenang, entah sejak kapan Sehun sudah berada disini, dia tidak peduli karena merasa begitu bahagia melihat keberadaan suaminya datang untuk menemani, bayinya juga mulai merespon tenang namun disaat yang sama hatinya masih begitu sakit melihat Doojoon disana, terlihat tenang sementara hakim membacakan keputusan hukuman untuknya tanpa penolakan karena Doojoon menerima semua putusan hukuman untuknya.
Mempertimbangkan bukti serta keterangan saksi, maka dengan ini hakim memutuskan untuk menjatuhkan hukuman sepuluh tahun penjara kepada saudara Yoon Doojoon.
Terdengar suara palu diketuk tanda keputusan bulat dari hakim dan kejaksaan sudah dibuat untuk Doojoon, sekilas Luhan melihat ke arah Taeyong yang terlihat hancur di pelukan Jaehyun, dia tidak menangis, tapi tatapannya kosong saat mata mereka bertemu.
"Maaf."
Sepertinya Taeyong mengatakan sesuatu, tapi fokus Luhan terbagi saat melihat dua polisi yang membawa masuk Doojoon di awal persidangan datang menjemput Doojoon, keduanya kembali memakaikan borgol di tangan Doojoon sementara Luhan menguatkan diri untuk menatap langsung pembunuh ibunya.
Tak ada suara yang keluar, tatapannya penuh kebencian dan kemarahan namun Doojoon justu menatapnya terluka, Luhan merasa begitu marah, sekilas pandangannya kabur tapi dia bisa merasakan tangan Sehun menggenggamnya erat seiring kepergian Doojoon menuju sel penjara.
Hatinya hancur berkeping, antara menerima dan tidak Luhan tetap terisak disana, menggenggam kuat jemari suaminya hingga tanpa sadar semua berubah menjadi hitam untuknya, pandangannya kabur dan disaat yang sama dia bisa mendengar suara Sehun memanggil namun tak bisa direspon karena tubuhnya terlalu lemas dan jatuh di pelukan suaminya.
"LUHAN!"
Hal terakhir yang bisa dirasakan Luhan adalah tubuhnya sudah berada di dekapan Sehun sementara suaminya terdengar cemas membawanya pergi dari ruang persidangan tanpa tahu bahwa saat ini pikirannya kosong dengan wajah sang mama yang terbayang jelas diingatannya, sedang tersenyum sementara dirinya memohon dengan lirih
"Ma, maafkan aku….."
.
.
.
.
.
.
.
.
"Bagaimana keadaan Luhan?"
Yang bertanya dan terlihat cemas tentu saja Sehun, setidaknya sudah lima belas menit dia menunggu diluar ruangan tempat istrinya ditangani sementara Kyungsoo berada didalam sana sedang melakukan yang terbaik untuk istri dan calon bayinya.
Dia terus menunggu dengan cemas ditemani Baekhyun yang sedari tadi hanya diam tertunduk di tempatnya, jujur Sehun masih belum yakin untuk berbincang dengan sahabatnya mengingat kemarahan Baekhyun padanya tidak main-main, jadilah mereka saling melempar sunyi yang mencekam sampai sosok Kyungsoo yang selalu menjadi penengah diantara mereka datang dan mendekat ke arah mereka.
"Soo? Bagaimana?"
Sehun tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya saat melihat Kyungsoo, berharap semua akan baik-baik saja dan ya, senyum kecil Kyungsoo seolah mewakili harapannya.
"Tenang saja sebentar lagi istrimu akan sadarkan diri, dia hanya mengalami shock ringan."
"syukurlah, bagaimana dengan bayiku?"
"Mereka sehat tentu saja, tidak ada yang salah dengan bayimu."
"mereka."
Sejujurnya Sehun ingin bertanya mengapa Kyungsoo menggunakan kata ganti lebih dari satu orang untuk menyebutkan anaknya, tapi melihat bagaiamana dokter sekaligus sahabatnya fokus pada hal lain membuat Sehun mau tak mau mencari tahu hingga Baekhyun adalah tujuan Kyungsoo saat ini.
"Bee…"
"hmmh?"
"Kau baik-baik saja?"
Sehun bisa melihat yang paling cerewet diantara mereka hanya mengangguk seperlunya, senyumnya juga terlihat dipaksakan jauh dari kepribadian Byun Baekhyun yang mereka kenal, yang selalu membicarakan segala hal dan selalu membuat suasana menjadi lebih hidup dan menyenangkan.
"ya, begitulah."
Kyungsoo tertawa kecil, dirangkulnya pundak Baekhyun yang tak jauh berbeda dari miliknya untuk berbisik "Kau mengerikan jika diam seperti ini, bicarakan sesuatu padaku." Katanya mengusap sayang tengkuk Baekhyun sementara ibu dari Park Jiwon itu bersandar di pundak sahabat kecilnya.
"Ini salahku." Gumamnya,
"Apa?" Kyungsoo bertanya
Baekhyun melingkarkan tangannya di pinggang Kyungsoo untuk bergumam kecil sekali lagi "Luhan."
"Baiklah ada apa dengan Luhan?"
"Aku hampir membuatnya celaka."
"Kenapa kau berkata seperti itu?"
Baekhyun terlihat semakin gundah, terlihat dari caranya memainkan jemari sesekali mengepalnya erat untuk mengakui kesalahannya "Kau benar, harusnya aku memberitahu Luhan lebih dulu agar dia siap, harusnya aku tidak membuat dirinya terkejut dengan pengakuanku sebagai saksi beberapa jam yang lalu, aku membuatnya tak bisa menahan diri hingga jatuh pingsan dan nyaris membahayakan keponakan kita, aku sangat menyesal, aku mencemaskan Luhan, Soo…."
Dan seperti biasa Kyungsoo akan berperan sebagai seorang ibu jika salah satu dari Baekhyun atau Sehun sekalipun merasa tertekan dengan diri mereka sendiri, pundaknya, suara khas Kyungsoo saat menasehati selalu menjadi yang paling menenangkan untuk Baekhyun dan Sehun.
Hal itu yang dirindukan Sehun, merindukan masa kecilnya sebelum bertemu dengan Luhan, Kai, dan Chanyeol. Dulu, mimpinya hanya hidup bertiga dengan Baekhyun dan Kyungsoo hingga rambut mereka memutih, tapi semua itu berubah saat orang tuanya membawa dirinya ke café hari itu, hari dimana lelaki cantiknya masuk dengan portable game yang digenggamnya hingga membuat Sehun jatuh pada pesona Luhan bahkan disaat usianya baru menginjak enam tahun.
Rasanya tak adil kala itu, karena tepat setelah Luhan menyeruak dan memaksa masuk menempati tempat diseluruh hatinya, kedua lelaki cantiknya yang lain sedikit dia abaikan, terkadang Baekhyun dan Kyungsoo hanya menghabiskan waktu berdua dan mulai membiasakan diri tanpa kehadirannya membuat sedikit rasa tak rela menyeruak masuk kedalam hatinya hingga rasa rindu menjadi satu-satunya penjaga Baekhyun dan Kyungsoo kini dirasakan hatinya dengan begitu hebat dan menuntut.
"sshh….Luhan baik-baik saja Bee, keponakan kita juga, mereka baik-baik saja dan ini bukan kesalahanmu, kau dengar? Kau tidak melakukan apapun yang salah, kau hanya mengatakan kebenarannya sayangku."
"Tapi tetap saja kau benar mengenai respon yang akan diberikan Luhan, dia tidak bisa menerima kebenarannya, dan itu semua salahku."
"eyy, bagaimana itu bisa menjadi salahmu Bee? Kau bahkan sama terkejutnya saat mendengar langsung pengakuan Doojoon padamu, sudahlah, berhenti menyalahkan dirimu, Luhan akan baik-baik saja."
"Tapi dia berakhir di rumah sakit, aku takut Soo."
Rasanya seperti melihat Taeoh dan Jiwon berbincang jika melihat Kyungsoo dan Baekhyun berbicara dengan nada manja seperti ini, membuat Sehun benar-benar tak bisa berhenti bersyukur menyadari istrinya dikelilingi dua pria yang begitu baik hati dan pikirannya.
Jadilah dia tersenyum, berjalan mendekati dua lelaki yang selalu bertengkar disaat yang sangat tidak penting namun saling menenangkan dalam keadaan seperti ini, dia tahu Baekhyun akan tetap memaki dirinya, tapi dia tetap akan berusaha dengan menebus kesalahannya agar mereka bisa berkumpul seperti sebelum kejadian bodohnya pergi meninggalkan keluarga yang dicintainya.
"hey…"
Dia berjongkok didepan kedua sahabat kecilnya, satu tangannya menggenggam tangan Kyungsoo sementara tangannya yang lain menggenggam Baekhyun, kedua temannya merespon dengan ekspresi berbeda, Kyungsoo terlihat biasa sementara Baekhyun terlihat tak suka melihatnya, membuat hati Sehun sedikit mencelos namun tetap pada pendiriannya untuk meminta maaf dan memperbaiki kesalahannya.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Sehun tersenyum lirih, menundukkan kepalanya sejenak seraya menahan tangan Baekhyun yang berusaha melepas genggaman tangannya "Aku pulang."
"Setelah meninggalkan Luhan? Setelah meninggalkan rumah? Setelah meninggalkan kami kau masih memiliki wajah untuk kembali?"
"Baek…."
Kyungsoo memperingatkan namun diabaikan si lelaki cantik yang menggunakan sedikit eyeliner di matanya untuk menatap tajam pada Sehun "Biarkan Soo, biarkan bajingan ini tahu betapa menderita istri dan calon bayinya selama kepergiannya, biarkan dia tahu tanpa kehadirannya sekalipun Luhan dan bayinya akan bahagia bersama kita, biar dia tahu dan aku ingin dia tahu!"
Tak mau kalah, Kyungsoo seolah mengingatkan dengan berbisik "Luhan tidak pernah baik-baik saja tanpa Sehun, kita tahu itu."
"Kyungsoo!-…."
Saat keputusannya mengusir Sehun terhalang oleh pembelaan Kyungsoo, Baekhyun terlihat menggeram marah pada sahabatnya, dia juga berusaha melepas genggaman tangan Sehun namun bajingan didepannya terus menggenggamnya semakin erat, tidak merespon apapun hingga kalimat
"Maaf."
Terucap begitu saja dari bibirnya, terdengar dipenuhi penyesalan hingga tak sengaja Baekhyun melihat sebulir air mata jatuh cepat dari mata Sehun dan hal itu adalah hal yang jarang dilihat Baekhyun mengingat jika didepannya dan Kyungsoo, Sehun akan terus bersikap tegar dan kuat, tidak pernah menunjukkan sisi lemahnya kecuali pada Luhan.
"Aku menyesal Baek, sungguh, aku melewatkan banyak hal tentang Luhan, tentang kehamilannya, aku juga membuat kalian marah dan membenciku, aku bersalah, aku tidak bisa dimaafkan, tapi aku—aku ingin pulang."
Sepenggal kalimat itu diucapkan Sehun dengan sangat cepat, dia tak berani menatap salah satu dari Kyungsoo maupun Baekhyun, yang dilakukannya hanya menundukkan kepala seraya mengatakan penyesalan dari kesalahan yang telah dibuatnya.
Hal itu cukup menarik perhatian Baekhyun, saat dimana dirinya untuk kali pertama selama berpuluh tahun berteman dengan Sehun dia bisa melihat sisi lemah Sehun yang sering diceritakan Luhan padanya.
"Aku benar-benar menyesal, maafkan aku Baek, Soo."
Awalnya dia tidak pernah menyangka seorang Oh Sehun bisa terlihat menyedihkan, tapi saat ini, tepat didepannya, kemarahannya dibawa pergi seiring dengan kalimat terbata yang diucapkan Sehun kepadanya dan Kyungsoo.
Dia bisa mendengar nada penyesalan Sehun, dia juga bisa melihat ketulusan dari calon ayah didepannya hingga tanpa sadar tangannya terangkat untuk mengusak surai di kepalanya seraya berkata "Baiklah, berhenti membuatku terlihat sangat jahat."
Sehun mengangkat wajahnya sementara Kyungsoo menoleh dan tersenyum penuh arti, dia tahu jika nada suara Baekhyun terdengar normal itu artinya damai sudah didepan mata dan benar saja, saat ini Baekhyun sedang mengusak surai Sehun sesekali menepuk pundaknya sementara percakapan tanda perdamaian sedang dibicarakan mereka saat ini.
"Aku bersumpah akan membuat Luhan menceraikanmu jika kau pergi meninggalkan kami lagi, kau dengar?"
Sehun hanya mengangguk seraya bergumam "aku dengar."
"Aku akan membuat Luhan menikahi Taecyeon dan membesarkan anak-anakmu, kau paham?"
Merasa tak rela, Sehun kembali mengangguk namun menjawab "Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
"Bagus, kalau begitu selamat datang kembali kerumah."
"huh?"
Diluar dugaan Baekhyun justru sedikit melompat ke pelukan Sehun saat mendengar jawaban sahabat kecilnya, hal itu membuat Sehun terlihat bingung tapi tidak dengan Kyungsoo yang sudah mengetahui sifat dan watak teman kecilnya yang selalu membuat semua orang terkejut.
Sebenarnya bukan hal yang membingungkan saat kalimat selamat datang itu ditujukan Baekhyun pada Sehun saat mendengar jawabannya, justru jika Sehun menjawab aku paham ketika pertanyaan tentang Taecyeon diajukan, kemarahan Baekhyun akan semakin bertambah banyak dan dia akan menandai Sehun sebagai suami dan ayah yang tak bertanggung jawab pada istri dan anaknya.
Jadilah dia hanya tersenyum melihat dua teman kecilnya kembali berdamai dengan keadaan dan saling memaafkan, membiarkan mereka berpelukan tanda perdamaian sampai Baekhyun mengatakan "Aku merindukanmu sialan." Kemudian dibalas kalimat kecil Sehun yang juga mengatakan "Aku juga sangat merindukan kalian, maafkan aku." Katanya tulus sampai akhirnya dia melepas pelukan Baekhyun untuk kembali menggenggam kedua tangan sahabat kecilnya.
"hey, aku tahu ini sangat terlambat tapi terimakasih sudah menjaga Luhan dan bayiku selama aku pergi dengan tidak bertanggung jawab, aku tidak bisa mengungkapkan betapa aku sangat bersyukur memiliki kalian di hidupku."
"Bagaimana maksudmu?"
Baekhyun bertanya tersinggung dibalas kekehan Kyungsoo yang benar-benar tidak bisa menghentikan sifat jahil Baekhyun pada Sehun "Terimakasih sudah menjaga Luhan."
Baekhyun mendengus kesal, dilepasnya genggaman tangan Sehun lalu dilipatnya kedua tangannya diatas dada, dia menatap penuh kobaran api si pria tampan untuk mengatakan "Well, maaf harus meluruskan hal ini Tuan Oh, tapi daripada dirimu kami lebih menyayangi Luhan seribu kali dari seharusnya, jadi seperti yang kukatakan sebelumnya, dengan atau tanpamu Luhan akan selalu bahagia karena kami akan melakukan apapun untuk kebahagiannya, paham?"
Sehun pun hanya bisa tertawa shock mendengar jawaban Baekhyun, kenyataan bahwa kini dirinya tak berarti apapun cukup menyebalkan namun dari penjelasan yang diberikan Baekhyun membuatnya tahu bahwa apapun yang terjadi padanya kelak, hal buruk apa yang akan menimpanya di masa depan, dia bisa menjamin kebahagiaan Luhan dan bayinya karena dikeliling dua pria yang begitu baik hati dan tulus seperti Kyungsoo dan Baekhyun.
"Aku sedih, tapi aku paham." Jawabnya, memasang wajah sedih sebelum kembali mengambil tangan Baekhyun, mengecupnya bergantian dengan tangan Kyungsoo untuk mengucapkan "Terimakasih untuk semuanya." Sebagai ucapan terdalam dan rasa syukurnya pada ikatan yang mereka miliki sebagai sahabat dan keluarga "Aku tidak bisa hidup tanpa kalian."
Merasa Sehun benar-benar sudah disadarkan dari pikiran bodohnya membuat baik Kyungsoo maupun Baekhyun kompak memeluk satu-satunya pria yang pernah menjaga mereka sebelum Kai dan Chanyeol hadir sebagai pengganti, mereka melakukannya dengan rasa rindu karena terakhir berpelukan seperti ini adalah saat mereka lulus dari bangku sekolah dasar, jadi saat mereka melakukannya lagi dengan status ibu dan ayah yang sudah mereka sandang rasanya cukup berbeda namun mendebarkan dan itu adalah sensasi yang tidak akan pernah dilupakan mereka bertiga, selamanya.
"Aku menyayangi kalian."
Kompak, Baekhyun dan Kyungsoo juga membalas "Kami juga menyanyangimu." Sampai suara pintu ruangan Luhan terbuka menampilkan asisten perawat Kyungsoo yang terlihat tergesa dan memanggil dokternya "Dokter Kim."
Hal itu membuat Kyungsoo menoleh, begitupula Sehun dan Baekhyun yang menatap cemas hingga kalimat "Dokter Oh sudah membuka mata, beliau mencari suaminya."
Sontak Sehun berdiri dari posisinya, diiringi hembusan nafas lega kedua sahabatnya dia mantap berjalan untuk sedikit membungkuk pada asisten perawat yang selalu membantu Luhan saat dirinya bekerja di rumah sakit ini beberapa tahun yang lalu "Terimakasih perawat Jang."
"Tidak masalah Tuan Oh, silakan temui istri anda."
Sehun pun mengangguk mantap, sedikit menoleh pada kedua sahabatnya untuk meminta izin "Aku masuk dulu."
"Sampaikan maafku pada Luhan." Baekhyun berpesan dibalas gelengan singkat Sehun untuknya "Kau tidak melakukan kesalahan Baek, kau bisa menemui Luhan setelah kami berbicara, aku masuk dulu." Katanya menegaskan, perlahan dia membuka knop pintu ruang perawatan Luhan untuk berjalan masuk dan menemukan sosok cantiknya yang terbaring dengan slang infus di tangan kirinya.
Dia terlihat pucat namun aura cantiknya tak memudar sedikit pun, membuat Sehun tersenyum bangga terlebih saat kedua mata cantik istrinya sedang menatapnya penuh harap, entah apa yang ada di pikiran istrinya, yang jelas Luhan terlihat sangat menderita disana, membuat langkah Sehun tergesa mendekati sementara istrinya mulai terisak seraya mengatakan.
"sayang, kau datang? Hksss…"
Sontak pikiran Sehun dibuat kacau karena isakan Luhan, tak perlu berfikir dua kali untuk menenangkan istrinya, karena saat satu tangan Luhan yang tidak diinfus terangkat untuk meminta dipeluk, disaat yang sama pula Sehun sedikit mengangkat tubuh istrinya dan memeluk Luhan begitu erat, mengecupi surai lelaki cantiknya sementara Luhan terisak tak tahan mengingat apa yang dilakukan Doojoon pada mendiang ibunya.
"Mama….Dia membunuh mama, aku membencinya Sehunna, aku juga ingin membunuhnya, AKUBENCIDIAAA!"
"ssshhh….Sayang, jangan berbicara mengerikan seperti itu, kita sudah membalasnya dengan hukuman penjara, dia akan membayar segala dosanya pada mama, jangan seperti ini Lu, kau membuatku takut, tenanglah sayangku."
Setelahnya Luhan tak lagi mengatakan apapun, yang dilakukannya hanya menangis tersedu di pelukan sang suami dengan perasaan sesak menghimpit hatinya, terlalu sesak, hingga rasanya tak sudi lagi dia melihat Doojoon dalam hidupnya, tidak akan pernah sekalipun.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sepuluh tahun bahkan waktu yang singkat untuk bajingan sepertinya, kenapa hakim tidak menjatuhkan hukuman seumur hidup padanya? Kenapa ini tidak adil untukku."
Saat ini keadaan sudah berpindah di kediaman Luhan dan Sehun bersama dengan keempat orang sahabat mereka, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam dan itu artinya mereka sedang berkumpul di meja makan menyantap masakan seorang Do Kyungsoo yang tidak pernah mengecewakan dan selalu bisa membuat mood seseorang menjadi lebih baik.
Luhan contohnya, sedari tadi dia hanya mengutuk jangka hukuman yang dijatuhkan pada Doojoon, dan lucunya tidak ada yang berani menegur dirinya saat berbicara kasar, mereka semua cenderung membiarkan si lelaki cantik yang sedang mengandung darah daging Oh Sehun menggerutu sementara yang lain mendengarkan atau hanya menyantap makanan yang ada didepan mereka.
Dan berbeda dengan istrinya yang terus menggerutu, Sehun yang telah selesai menyantap makanan kini sedang menggendong putra menggemaskan Baekhyun-Chanyeol dengan satu tangan kanannya, bermain dengan Jiwon seraya mendengarkan umpatan sang istri sampai Luhan menoleh dan bertanya padanya "Sayang? Bagaimana pendapatmu?"
"huh? Tentang apa?"
"tsk! Kau tidak mendengarkan aku?" tuntutnya dan Sehun sudah melihatnya sebagai tanda bahaya jika Luhan kesal tidak ada yang mendengarkan dirinya, jadilah si calon ayah tersenyum kikuk seraya membawa Jiwon dalam pelukannya untuk mendekat pada Luhan, mengecup surai istrinya lalu menenangkan "Dia sudah mendapatkan hukumannya sayang, dia akan membayar dosanya didalam sana."
"Tapi sepuluh tahun waktu yang singkat."
"Kau benar, apa perlu kita mengajukan banding agar hukuman Doojoon ditambah?"
"huh?"
Kali ini Luhan terlihat bingung menjawab tawaran suaminya, antara ingin mengangguk dan tidak ragu dilakukannya, dia hanya terlihat resah memegang sendok dan garpu miliknya sampai Sehun menangkap kedua tangan mungil itu gemetar karena tawaran asal yang ditujukan untuknya "Nah, kalau begitu sepuluh tahun cukup." Katanya mengakhiri sebelum kembali bermain dengan Jiwon.
"yeah, kau benar, sekarang aku hanya perlu menunggu hingga lusa untuk mengetahui hukuman apa yang dijatuhkan pada Donghon."
"Jangan datang jika kau tidak sanggup mendengar."
"Tentu saja aku akan datang, haah~….bajingan itu, aku sangat membencinya."
"Language Lu."
Kai memperingatkan begitupula Chanyeol yang sedang menatapnya intens hingga membuat Luhan salah tingkah dan mencari cara agar tidak diceramahi hingga matanya tak sengaja melihat Taeyong yang hanya diam dan mengaduk makanannya tanpa suara.
"Taeyong."
"…"
"Tae…."
Menyadari Luhan memanggil kekasihnya membuat Jaehyun yang sedang membawa Taeyong berkunjung kerumah kakak dan kakak iparnya menggenggam satu tangan sang kekasih yang diletakkan di atas paha, hal itu berhasil membuat Taeyong merespon hingga menoleh dan menatap bertanya pada kekasihnya "Ada apa?"
Jaehyun memberi aba-aba dan mengerling kakak iparnya "Luhan hyung."
"ah."
Jujur saja dirinya masih sangat terpukul dengan kenyataan bahwa Doojoon tega membunuh orang terdekat Luhan yang begitu dicintainya, tapi di sisi lain hatinya kacau dan merasa begitu hancur mendengar vonis hukuman yang dijatuhkan kejaksaan untuk pria yang telah menolongnya, melindunginya dan membesarkannya hingga saat ini.
Yang dia tahu Doojoon adalah sosok yang begitu hangat dan rela melakukan apapun untuk orang yang dicintainya, termasuk membunuh orang terdekat dari pria yang diinginkannya, yang kini membawa petaka untuk dirinya sendiri.
"y-ya hyung? Ada apa?"
"Kenapa kau hanya diam? Kau tidak memakan makananmu."
Taeyong tersenyum canggung, memaksakan diri untuk memakan sup lezat buatan Kyungsoo lalu menatap sendu sang kakak dengan tatapan yang dibuat bahagia darinya "Aku memakannya hyung."
"Baguslah, ini makan daging milikku juga."
"Tidak perlu hyung."
"eyy….Lihat tubuhmu yang begitu kecil, kau harus makan yang banyak agar saat menikah dengan Jaehyun kau terlihat ideal."
Kedua remaja yang sudah memutuskan kembali untuk menjadi sepasang kekasih itu hanya tersenyum penuh arti dengan ucapan sang kakak, tak ada yang menjawab hanya menatap Luhan berterimakasih sampai target Luhan kali ini adalah Jaehyun yang juga terlihat memiliki banyak hal dikepalanya.
"Dan kau Oh Jaehyun, bagaimana kuliahmu?"
"huh? Ah, semua lancar hyung."
"Baguslah." Katanya bersyukur namun diam-diam matanya melirik Sehun untuk bertanya dengan nada sedikit kencang dan tegas pada Jaehyun "Lalu bagaimana kondisi papa?" sontak hal itu membuat Sehun menoleh, begitupula dengan Baekhyun dan Kyungsoo yang sedang menyiapkan dessert hingga suasana tegang tak terelakan lagi di kediaman mereka.
"Papa?" Jaehyun mengulang, sedikit menatap tak enak hati pada kakaknya untuk memberi jawaban pada Luhan "Kondisi papa luar biasa mengalami kemajuan hyung, papa sudah merespon, dia juga sudah berbicara banyak hal, dan bukankah pagi tadi hyung baru menjenguk papa? Kenapa bertanya?"
Luhan memejamkan matanya, membuat gerakan memukul kepala Jaehyun sementara matanya mati-matian melirik pada Sehun untuk memberitahu adik iparnya "oh, Sehun hyung?"
"sshh….Lalu apa yang papa lakukan saat ini di rumah sakit?"
"Hanya menjalani serangkaian terapi seperti gerak tubuh dan berjalan, selebihnya semua baik-baik saja."
"syukurlah, aku dan adik bayi akan rutin mengunjungi papa mulai besok, ya kan sayang?"
Merasa ini hanya cara Luhan untuk membuatnya berdamai dengan kedua orang tuanya membuat Sehun tersenyum penuh arti, jujur dia sudah tidak memendam rasa marah pada kedua orang tuanya, jadi ketika istrinya sudah memaafkan sepenuhnya dia tidak memiliki alasan untuk bertahan marah dan menghindari kedua orang tuanya.
"Ya tentu saja sayang."
"yeah…."
Bersamaan dengan pekikan Luhan, ponsel Sehun bergetar dengan nama L tertera disana, membuatnya segera menggeser slide sampai suara teman Luhan yang kini menjadi sahabatnya terdengar panik dan menuntut.
"Temui aku di LV café sekarang, ini penting dan mendesak."
Tak mengerti, Sehun hanya mengangguk "Baiklah." Seraya menutup ponsel dan berjalan mendekati istrinya yang sedang menyantap pudding buatan Kyungsoo dan Baekhyun.
"Bagaimana jika shopping? Sudah lama aku tidak melakukannya?"
"Setuju, lalu kita spa dan terakhir pergi ke club untuk sedikit menggerakan badan dan cuci mata melihat pria tampan, bagaimana?"
"LET'S GOO!"
Tawaran Baekhyun disambut antusias oleh Luhan dan Kyungsoo namun ditentang tegas oleh Kai dan Chanyeol yang kini mengancam "Jika kalian pergi untuk cuci mata kami pastikan kalian tidak akan melihat anak-anak kalian karena kami akan membawa Jiwon dan Taeoh ke wanita cantik, bagaimana?"
"y-YAK!"
Kyungsoo berteriak histeris, nyaris memukul kepala suaminya namun berakhir dihimpit ke dinding di ruang meja makan untuk dilumat habis bibirnya, begitupula dengan Chanyeol kini dia menyeret istrinya ke kamar dan kita tahu bagaimana akhirnya Karena mendesah pasti adalah jawabannya.
"haah~Jangan hiraukan mereka, mereka pasangan mesum." Katanya memberitahu Taeyong dan Jaehyun sampai dirasa suaminya memberikan Jiwon padanya "Halo cutie." Luhan menciumi bibir Jiwon sementara dagu Sehun bertumpu di kepala istrinya "Sayang."
"Ada apa?"
"Aku pergi keluar sebentar, ya?"
Luhan sedikit mendongak seraya bertanya "Kemana?" membuat Sehun tersenyum memegangi wajah cantik istrinya dan mencium telak bibir yang mulai mengerucut tak suka karena dirinya mengatakan ingin keluar sebentar "Hanya sebentar Lu."
"Tapi bertemu dengan siapa? Kemana?"
"Myungsoo ingin bertemu denganku."
"Kenapa?"
"entahlah, tapi dia bilang ini penting dan mendesak, kami membuat janji di café miliknya, boleh ya?"
Luhan menimbang sedikit ragu, berfikir seraya memeluk erat Jiwon untuk kembali mendongak dan bertanya "Tidak lama kan?"
"Hanya sebentar."
"Baiklah, cepat kembali, cium aku."
Sehun bahkan dengan senang hati melakukannya, menyambut bibir istrinya yang sedang mendongakan wajah lalu memberi kecupan singkat yang cukup dalam disana, keduanya saling menghisap cukup lama sampai Luhan merasa Jiwon tak nyaman dan mulai mencakar kecil wajahnya "araseo, maafkan Lulu." Katanya menciumi gemas wajah Jiwon sementara Sehun terkekeh seraya mengambil kunci mobil dan berpamitan pada Luhan serta dua adiknya.
"Sayang aku pergi dulu."
"Jangan terlalu lama."
"Baiklah." Katanya menyanggupi permintaan sang istri seraya menepuk pundak adiknya "Aku pergi dulu."
"eoh, hati-hati dijalan hyung."
Dan setelahnya Sehun pergi meninggalkan rumah diiringi tatapan mengantar dari tiga orang tersisa di meja makan, membuat suasana hening seketika sampai tak lama suara tangisan Jiwon terdengar tanda dia sudah mengantuk tapi miris kedua orang tuanya sedang melakukan olahraga malam dikamarnya.
Kemudian Jaehyun sigap berdiri dari tempat duduknya, buru-buru dia mengambil alih Jiwon melihat kakak iparnya kesulitan berdiri karena terhalang perutnya yang mulai membesar "Biar aku saja hyung."
"Kau bisa?"
"Serahkan padaku."
Lalu setelahnya Jaehyun membawa pergi Jiwon ke halaman belakang, menenangkannya seperti seorang professional sementara Luhan dan Taeyong ditinggalkan berdua dalam keheningan "Jika nanti kalian menikah, hyung rasa Jaehyun akan seribu kali bersikap lebih baik dan manis daripada kakaknya, aku rasa kau sangat beruntung Tae."
Taeyong hanya bisa memperhatikan sosok tinggi berkulit putih pucat yang kini kembali menjadi kekasihnya, tersenyum bangga karena Jaehyun benar-benar pandai memenangkan hati seseorang termasuk balita yang kini sedang tertawa bersamanya.
"Kau benar hyung, aku sangat beruntung."
Rasanya begitu lega karena dia mulai menerima restu dari seluruh keluarga Jaehyun, tapi kembali pada latar belakang yang dimilikinya hanya membuat remaja delapan belas tahun itu terlihat sendu untuk melihat Luhan dan memberanikan diri bertanya "hyung…."
"hmh?"
"Saat kau dibawa ke rumah sakit, aku pergi menemui Doojoon hyung di penjara kejaksaan sebelum dirinya dibawa ke penjara Negara."
Refleks, Luhan berhenti memotong daging di piringnya, dia juga terlihat meletakkan pisau dan garpu miliknya untuk menatap tegas pada Taeyong "Lalu?"
"Dia menyesali seluruh perbuatannya hyung, sungguh, aku bisa melihat seluruh penyesalan dari wajah dan suaranya, dia sudah menjadi Doojoon yang kita kenal, yang menyayangi kita sepenuh hati."
"Apa yang ingin kau katakan Tae?"
Taeyong ragu, dirinya luar bisa begitu gelisah tak berani mengungkapkan apa yang diinginkannya, dia menggigit kencang bibir bawahnya seraya mengepal kedua tangannya, mungkin seharusnya dia tidak bertanya tapi hatinya menolak untuk memendam hingga pertanyaan "Bisakah hyung memaafkan Doojoon? Untukku?" berhasil dikatakan Taeyong namun memancing reaksi marah dari pria cantik yang diberi Tanya.
"Apa maksudmu?"
Luhan berusaha merespon dengan tenang walau kedua tangannya mulai terkepal erat, dia tidak ingin menyakiti hati remaja didepannya dengan ucapan kasar yang merupakan ciri khas nya, namun saat Taeyong mengungkapkan apa yang diinginkannya hanya membuat sakit hatinya mendengar nama pembunuh sang mama diucapkan.
"Maafkan Doojon untukku hyung, jebal."
"CUKUP!"
Habis sudah kesabaran Luhan, dia bahkan sedikit menggebrak meja makan hingga membuat Taeyong tersentak, remaja didepannya kini memilih menunduk menyadari sudah melukai hati pria yang secara tak langsung sudah mengangkatnya sebagai adik dan menjaganya sama baik dengan yang Doojoon lakukan selama ini.
"Bagaimana bisa aku memaafkan bajingan yang membunuh ibuku Tae? Itu tidak masuk akal dan berhenti memintaku melakukannya, kau dengar?" katanya tegas lalu sedikit menyesal melihat bagaimana kini Taeyong terlihat sangat ketakutan, Luhan pun mengambil banyak nafasnya seraya memelankan suara tanda dia sudah bisa mengatur emosinya "Habiskan makananmu lalu pergi tidur, oke?"
Luhan berniat kembali ke kamar, berharap hari ini segera berlalu karena jujur hari ini adalah hari yang sangat membuatnya kecewa dan marah karena seseorang yang dianggapnya hanya sebagai seorang kaki tangan tapi ternyata adalah pembunuh ibunya.
Dia hanya ingin melupakan kejadian pahit di masa lalu, memulai semuanya dari awal bersama Sehun sampai suara lirih Taeyong kembali terdengar "Aku bertemu dengannya saat persidangan selesai."
"huh?"
Luhan kembali terduduk di kursinya, dia mencoba mendengarkan pengakuan Taeyong lalu adiknya itu berkata "Dan dia sangat menyesal melakukan semua kejahatan yang dilakukannya selama ini, membunuh ibumu terutama hyung."
Tangan Luhan kembali terkepal, rasanya dia benar-benar akan membunuh Doojoon jika bajingan itu tidak mendekam di penjara, rasanya dia benar-benar menghabisi bajingan yang secara tidak langsung mengakui hal mengerikan yang dia lakukan pada ibunya.
Hal itu membuat Luhan benar-benar nyaris tak bisa menahan diri sementara Taeyong terus berbicara "Dia tidak bisa menatapmu lagi hyung, dia bilang sekalipun sepuluh tahunnya berlalu, dia akan keluar darisana dan segera mati untuk menebus seluruh dosanya dan dia bersungguh-sungguh."
Tanpa berfikir Luhan terlihat menyeringai puas untuk mengatakan "Kalau begitu katakan padanya untuk segera mati, pastikan aku tidak melihat lagi wajahnya seumur hidupku. Kau dengar?"
Setelahnya Luhan sedikit mendorong kursinya, berjalan menuju kamar dan sepertinya Taeyong belum menyerah karena kali ini dia menggunakan dirinya sebagai alasan.
"Mau bagaimanapun dia kakakku juga, hyung."
Tap!
Luhan berhenti melangkah, bisa saja dia tetap pergi kekamarnya dan hanya mengabaikan celotehan Taeyong, tapi dia tidak bisa, remaja yang sedang memohon padanya terlihat sangat menderita sejak awal mereka bertemu hingga kini mereka tinggal bersama, membuat Luhan selalu memiliki perasaan untuk membahagiakannya bahkan tanpa balasan apapun dari Taeyong.
Jadi setiap hal yang Taeyong lakukan, yang Taeyong katakana akan selalu didengarkannya walau dalam kondisi marah sekalipun.
"Dan aku berhutang hidup padanya, tanpanya mungkin aku sudah dijadikan pembunuh oleh Donghon, mungkin aku akan terus menjadi pecandu jika dia tidak menolongku, aku kecewa padanya, aku ingin membencinya tapi aku tidak bisa karena dia selalu menjagaku, aku tidak bisa hyung, jadi bisakah kau memaafkannya? Katakan padanya untuk tidak mati sekalipun hukumannya berakhir? Bisakah?"
Singkat, Luhan tanpa menoleh hanya bersuara sedikit lirih untuk menegaskan "Jawabanku tetap tidak, aku tidak akan memaafkannya, dan sekalipun dia ingin mati, biarkan!" katanya sedikit keji untuk menambahkan "Dan lupakan Doojoon, saat ini kau hidup denganku jadi aku akan menjagamu lebih baik dari yang dia lakukan."
"hyung…."
Lalu sang dokter kembali berjalan memasuki kamar, hatinya sama hancur dengan hati Taeyong yang kini hanya tertunduk sementara Jaehyun tak bisa melakukan apapun mengingat semua ini diluar kemampuannya untuk ikut campur sebagai seorang kekasih maupun sebagai seorang adik.
"Kalian, bahagialah."
.
.
.
.
.
.
Sementara itu….
.
BLAM
,
Hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai di LV club dan saat kakinya melangkah masuk kedalam café yang kini dikelola oleh orang kepercayaan Myungsoo dan Taehyun hanya membuat Sehun merindukan café kecilnya di Pyeongchang.
Namun mengabaikan semua kerinduan itu dirinya justru merasa sedikit cemas setiap kali mengingat nada suara Myungsoo begitu serius saat memintanya untuk datang dan berbicara, membuat langkah kakinya sedikit cepat memasuki café yang begitu ramai di malam hari untuk bertanya pada salah satu pegawai Myungsoo yang sedang bekerja.
"Dimana aku bisa menemukan bos kalian?" katanya sedikit berteriak mengingat kondisi café begitu ramai dan tak memungkinkan untuknya berbicara dengan nada biasa.
"Apa anda Oh Sehun?" Tanya si pegawai dibalas anggukan singkat Sehun yang kini menutup satu telinganya "Ya, aku Sehun."
"hyungnim ada di lantai dua, langsung saja."
Mengernyit takut dirinya salah mendengar, Sehun bertanya mengulang "Hyungnim? Kau memanggilnya seperti itu?"
"Ada masalah?"
"tidak, lupakan saja."
Tak lama Sehun meninggalkan si pegawai yang tampak tersinggung dengan pertanyannya, kakinya kini melangkah menaiki lantai dua tempat dirinya bisa menemukan Myungsoo hingga terlihat pintu berwarna hitam dengan tulisan "L" terpampang sangat jelas didepan ruangan tersebut.
Klik!
"L, aku masuk."
Yang sedang fokus pada sesuatu tampak terkejut melihat pintu terbuka, dia nyaris membentak siapapun yang berani membuka pintu tanpa mengetuk sampai sosok Sehun terlihat dan hanya membuatnya mendengus seraya menggerutu "Jangan samakan café milikku dengan milikmu! Setidaknya ketuklah pintu lebih dulu."
"wae? Kau juga sering masuk tanpa mengetuk ke ruanganku di café." Katanya berkilah seraya menutup pintu sementara pemilik dari LV café di depannya mendelik ingin membalas namun berakhir menarik dalam nafasnya "Sudahlah lupakan, ada sesuatu yang lebih mendesak dan penting, cepat duduk!" perintahnya, dan kali ini Sehun tak ingin berdebat hanya untuk sekedar cara Myungsoo menyuruhnya duduk.
"Ada apa?"
Karena sesungguhnya Sehun lebih tertarik pada dokumen yang berserakan di meja kerja si pria yang memiliki hobi mengumpat dan menggerutu saat melihat wajah Seunghyun, Doojoon, Taecyeon dan Ko Donghon berada di atas meja.
"Apa yang sedang kau lakukan sebenarnya?"
"Tunggulah sebentar."
Sibuk mencari sesuatu didalam laptop miliknya, Myungsoo tersenyum puas saat meng-klik enter sesaat lalu tatapan horror kembali ditunjukkan kepadanya "sial!"
"L, aku tidak berada di tengah malam seperti ini hanya untuk mendengarkan umpatan dan gerutuan milikmu, cepat katakan apa yang terjadi?"
Kemudian L membalik arah layar laptopnya, menunjukkan pada Sehun dan bertanya "Lusa adalah siding penentuan hukuman Ko Donghon, aku benar?"
"Ya, lalu?"
"Lihat nama dan foto yang aku lingkari dengan bulatan berwarna merah, kau tahu siapa mereka?"
Menggeleng, Sehun bertanya "Siapa?"
"Mereka adalah seluruh anggota kejaksaan yang akan hadir di persidangan Donghon lusa nanti."
"Lalu?"
"Lalu mereka adalah orang-orang yang mungkin akan membuat bajingan itu bebas dengan mudahnya."
Sontak ucapan Myungsoo sukses membuat mata Sehun membulat tak percaya, dia merasa salah mendengar tapi bukankah kalimat bajingan itu, ditujukan untuk Donghon? Membuatnya ragu untuk bertanya tapi tetap dilakukannya karena saat ini, tiba-tiba saja Luhan memenuhi pikirannya.
"Jangan katakan yang kau maksud adalah Donghon."
"Sayangnya aku membicarakan tentang Donghon."
"Tapi bagaimana bisa seluruh anggota kejaksaan yang akan hadir bisa membebaskan Donghon dengan mudah?"
"Bisa saja jika mereka dibayar dengan harga fantastis yang bahkan kau sendiri tidak bisa bermimpi mendapatkannya, sebagai informasi, bisnis gelap Donghon hingga saat ini tidak melemah, justru sebaliknya dia semakin berjaya walau mendekam di penjara satu bulan terakhir."
"Darimana kau mengetahuinya?"
"well, Bukan tanpa alasan aku bersedia mengantar istrimu kembali ke Seoul, ingat aku mengatakan aku memiliki urusan?"
"Ya, Lalu?"
"Urusan yang kumaksud sama dengan yang sedang kalian hadapi saat ini, Donghon." Tiba-tiba suara Myungsoo berubah menjadi berat dipenuhi kebencian, dia pun sedikit tertunduk sebelum mengangkat wajahnya untuk mengatakan "Mungkin kau tidak pernah tahu hal ini, tapi bajingan itu membunuh adikku dan anak buahku kepercayaanku dua tahun yang lalu tepat di hari yang sama dia membunuh detektif dan dokter Xi, tujuannya mengalihkan perhatian tapi anak buahnya benar-benar membuatku geram dengan menyentuh adikku sebagai pengalihan."
Sehun sendiri tidak mengetahui Myungsoo memiliki masa lalu yang mengerikan juga, yang dia tahu Myungsoo selalu menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang tapi melihat bagaimana dirinya begitu marah sebagai seorang kakak hanya membuatnya teringat betapa sering dia mengabaikan Jaehyun tanpa tahu adiknya mungkin menderita dengan seluruh kehidupan keluarga mereka.
"Aku turut menyesal untukmu."
"Lupakan itu, aku sudah merelakan adikku dan berniat membalasnya dengan membuatnya terjerat seumur hidup, tapi di saat yang sama aku begitu marah ketika mengetahui kemungkinannya lolos adalah 90% lusa nanti."
"tidak mungkin."
Kau benar itu mustahil, kita sudah memiliki semua bukti tapi tidak bisa melakukan apapun, lalu aku teringat Luhan dan aku tidak tahu bagaimana reaksinya nanti jika kita membiarkan bajingan itu lolos begitu saja."
"Luhan akan terluka." Geramnya mengepalkan tangan sampai Myungsoo memberi secerah harapan untuknya "Tapi kita masih memiliki 10% tersisa."
"Apa maksudmu?"
"Kecuali hakim utama, seluruhnya sudah berada di pihak Donghon, tapi kita masih memiliki peluang pada satu jaksa penuntut umum yang aku beri lingkaran hitam."
"Siapa dia?"
"Entahlah, profilnya tidak terdaftar di kantor kejaksaan, dia adalah jaksa yang sama yang menangani Doojoon siang tadi, aku mempelajari catatan karirnya dan dia bersih, tapi aku masih belum mendapatkan informasi lengkap tentangnya, jadi kita hanya bisa berharap jika dia berada di pihak kita."
"Dan bagaimana jika dia tidak berpihak pada kita?"
Myungsoo menatap Sehun cukup lama, dia ragu untuk mengatakan hal terakhir yang masih bisa mereka perjuangkan, namun tetap diucapkannya untuk kebaikan mereka bersama "Aku memilki satu cara terakhir, tapi aku tidak yakin ini berhasil."
"Apa? Beritahu aku lebih dulu."
Myungsoo menaikkan kedua bahunya, perlahan dia mencari dokumen lain yang ingin dia berikan lalu melemparnya pada Sehun.
"Bukalah."
Buru-buru Sehun membuka dokumen yang diberikan Myungsoo, mencari tahu apa yang bisa mereka perjuangkan sampai matanya membulat terkejut melihat apa yang ada di dalam dokumen.
"a-Apa ini?"
Tegas, Myungsoo menjawab "Ayahmu." Membuat Sehun merasa ini ide paling gila dan membuatnya menutup seluruh profie papanya yang entah darimana bisa didapatkan Myungsoo.
"Apa maksudmu?"
"Jika jaksa yang akan menangani Donghon lusa nanti tidak berpihak pada kita, maka aku sarankan agar ayahmu menyelesaikan kasus lamanya bersama Donghon, well, suka atau tidak ayahmu adalah pria yang paling mengetahui betapa gelap sisi seorang Ko Donghon dan berapa banyak hal keji yang dilakukannya."
"Ayahku adalah jaksa nonaktif, lagipula dia sedang dalam pemulihan, tidak mungkin untuknya menjadi jaksa di persidangan Donghon nanti."
Sehun merasakan sakit di kepalanya memikirkan bagaimana sidang Donghon berjalan lusa nanti, lalu dengan santainya Myungsoo berjalan mendekat kearahnya untuk menepuk pundak dan mengatakan
"Cobalah, demi Luhan."
Seolah memaksa dirinya untuk melakukan apapun termasuk meminta ayahnya kembali menjadi jaksa yang menangani kasus Donghon persis seperti dua puluh tahun yang lalu, hal itu membuat Sehun begitu frustasi sampai tak tahu harus menjawab apa sekalipun nama Luhan disebutkan Myungsoo saat ini.
"Bagaimana?"
"entahlah L, biarkan aku memikirkan cara lain lebih dulu."
Menepuk pundak Sehun sekali lagi, Myungsoo hanya berpesan "Baiklah, berfikrilah, tapi kuingatkan padamu jika waktu kita tak banyak."
Lirih, Sehun hanya menjawab "aku tahu" sebagai jawaban.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelahnya,
.
Setidaknya waktu sudah menunjukkan pukul dua dinihari, setidaknya pula Sehun sudah menghabiskan waktu sekitar lima jam untuk membahas hari tersisa dan kemungkinan yang bisa mereka lakukan kurang dari dua puluh empat jam tentang Donghon.
Entahlah,
Meminta bantuan ayahnya dan menjadikan sang ayah sebagai jaksa yang menangani Donghon esok hari adalah satu-satunya jalan yang bisa mereka dapatkan untuk menang atas tuntutan bajingan sialan yang masih memiliki kekuasaan bahkan saat dirinya mendekam di penjara.
Membuat kepalanya begitu sakit terlebih saat dia mengingat kondisi ayahnya yang masih dalam masa pemulihan di rumah sakit, lagipula ayahnya sudah terdaftar sebagai jaksa non aktif jadi kecil kemungkinannya sang ayah bisa menjadi jaksa dalam kasus Donghon yang hanya tinggal menghitung menit.
Klik….
Sehun benar-benar merasa begitu gagal menjadi seorang suami hanya untuk membuat istrinya bahagia, dia hanya ingin melihat wajah cantik yang kini sedang tertidur sangat nyaman bahagia tanpa harus menangis terluka karena masa lalu pelik yang ikut serta menyeret mereka hingga saat ini.
Dia hanya ingin melihat lelaki cantiknya merengek, mengeluh, tertawa tanpa harus memendam rasa sakit yang akan membuatnya terluka sangat dalam perasaannya.
Pikirannya kacau, Sehun tidak tahu harus melakukan apa, tidak juga tahu harus bagaimana memberitahu Luhan, yang dia tahu istrinya pasti akan menderita melihat bagaimana Donghon kembali bebas tanpa menerima hukuman dan hal tidak akan dibiarkannya sampai terjadi.
"Sayang…"
Jadilah dia berbisik pilu, berjongkok di depan tempat tidurnya dan Luhan hanya untuk memandang lelaki cantik yang kini sedang membawa darah daging miliknya di tubuh mungil yang kini terlihat semakin berisi.
Tangannya terangkat mengusap pipi istrinya dan direspon sedikit gerakan dari Luhan yang merasa terganggu, dia sepertinya ingin merubah posisi tidurnya, tapi karena perutnya sudah semakin besar membuatnya sulit bergeran hingga dirinya pasrah dan berakhir hanya mengigau "aku ingin milkshake buatan Kyungsoo." Didalam tidurnya.
Sehun sendiri terkekeh gemas melihatnya, karena dari sekian banyak makanan lezat yang dia berikan pada istrinya, tidak akan bisa mengalahkan masakan Kyungsoo yang sudah menjadi favoritnya.
"Baiklah, kau diperbolehkan minum milkshake besok pagi." Katanya berbisik seraya menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya, dia sebenarnya ingin mengecup bibir merah Luhan yang sedikit terbuka, tapi hal itu hanya akan membangunkan Luhan dan dirinya tidak siap jika istrinya bertanya "Apa yang diinginkan Myungsoo" padanya, sungguh tidak siap hingga Sehun menahan diri hanya untuk memandangi wajah istrinya, sesekali dia menyentuh perut yang sedang mengandung darah dagingnya hanya untuk membuat Luhan bergerak dan kembali mengigau, kali ini Luhan mengigau sesuatu yang membuat hatinya sakit tatkala bibir mungilnya menggumamkan "Ma, maafkan aku." Dan terlihat cemas di tidurnya.
Membuat refleks Sehun melepas sentuhan di perut istrinya untuk tertunduk, menyesali ketidakmampuannya untuk membuat Luhan benar-benar melupakan mimpi buruk yang dialaminya bahkan hanya didalam mimpi.
Hatinya penuh sesak, air matanya sedikit terjatuh tak berani membayangkan bagaimana Luhan saat kemungkinan menang itu ada untuk mereka, bagaimana Luhan jika dia mendengar Donghon dibebaskan tanpa syarat, entahlah, memikirkannya saja sudah membuat Sehun nyaris gila karena amarahnya.
Diam-diam tangannya pun terkepal erat, dia berusaha mengatur emosinya hingga dirasa cukup dan kini dia mengangkat wajahnya, menatap dalam wajah istrinya yang sedang tertidur untuk bersumpah akan melakukan segala cara hanya untuk membuat Luhan bahagia tanpa pengecualian.
"Sayang, jangan sampai air matamu membuatku menjadi pria mengerikan, bahagialah, tunjukkan padaku tidak hal yang membuatmu menderita, yang membuatmu kesakitan." Katanya perlahan menyentuh wajah Luhan, mengusap dahi istrinya yang terlihat mengerut karena mimpi buruk hingga raut cemas itu perlahan menghilang dari wajah sang istri yang masih terlelap.
Entah mimpi buruk apa yang masih menghantui Luhan, tapi satu yang pasti sekalipun bajingan itu lolos dari jerat hukum, maka kedua tangannya sendiri yang akan memastikan akan menghukum bajingan yang sudah mengganggu hidup Luhan sejak kecil, menghentikan semua teror yang membuat Luhan menderita dan akan memastikan bajingan itu mati ditangannya.
Tangannya terus mengusap wajah Luhan, wajahnya keras seakan mantap saat mengatakan "Bahagialah, dengan begitu aku tidak perlu menunjukkan sisi gelapku pada semua orang yang membuat air mata itu terlihat di wajahmu." Sumpahnya.
Dan bersamaan dengan sumpah yang diucapkan Sehun, kedua mata cantik istrinya terbuka, menatapnya terlalu innocent setengah tak sadar hanya untuk memanggil "sayang, kau sudah pulang?" Sehun hanya mengangguk, jujur dia merasa tidak nyaman mengingat kondisi wajahnya saat ini masih dipenuhi emosi, jadilah dia mengambil gerakan cepat untuk mengecup bibir Luhan sebelum mengitari tempat tidur dan berbaring memeluk punggung istrinya.
"Maaf membangunkanmu, aku pulang." Katanya mengecup tengkuk Luhan lalu memeluk punggung istrinya dan menyembunyikan wajahnya disana "Kau pulang terlalu larut sayang." Luhan mengingatkan, ingin berbalik arah memeluk suaminya namun ditahan kedua lengan kekar Sehun yang mencegahnya "Jangan, Aku sedang ingin memeluk punggungmu." Katanya beralasan membuat Luhan terkekeh dan membiarkan Sehun memeluknya sementara tangan yang lain dibuat untuk mengusap perutnya yang mulai membesar.
"Ada apa? Apa yang dikatakan Myungsoo?"
Luhan sedikit menoleh sebelum merasakan nyeri di perutnya, membuatnya menyerah dan hanya membiarkan tangan Sehun bermain di dada dan perutnya "Bukan hal yang penting."
"Hal yang tidak penting itu memakan waktu yang cukup lama, hmh?"
Diam-diam Sehun tersenyum miris di belakang punggung Luhan, mengecupi tengkuk istrinya hanya untuk menyudahi percakapan yang akan berakhir membuat Luhan marah dan kesal padanya "Aku lelah, biarkan aku tidur, Mama."
Sehun bersumpah bisa mendengar pekikan Luhan karena memanggilnya mama, dia juga berani bertaruh jika wajah istrinya saat ini sedang berwarna semerah kepiting sampai dirasanya tangan hangat Luhan ikut bertumpu di tangannya dan mereka membuat gerakan seirama saat mengusap perut sang istri yang terlihat besar.
"Jangan menggodaku didepan anak kita."
"wae? Aku berniat menggodamu sepanjang waktu saat dia lahir nanti." Katanya menggigit cuping telinga Luhan sedikit menjilatnya hingga membuat tubuh Luhan merinding karena sensasinya "sayang…."
"Jangan mendesah, kita tidak akan bercinta malam ini."
Refleks, Luhan memukul lengan Sehun karena terus menggodanya, dan alih-alih melanjutkan kegiatannya Sehun benar-benar berbaring mendekapnya erat dengan wajah tersembunyi di punggungnya.
Tangannya kini sudah menyusup masuk ke piyama tidur, kebiasaan yang sudah satu minggu ini dilakukan Sehun semenjak tahu dirinya hamil "aku suka bersentuhan langsung dengan anakku." itu yang dikatakan Sehun tepat saat mereka berdamai beberapa waktu yang lalu.
Dan mengingat mereka pernah kehilangan buah hati mereka dua tahun yang lalu hanya membuat Luhan memaklumi betapa posesif Sehun pada dirinya dan si bayi, awalnya dia tidak pernah terbiasa dengan sikap Sehun yang begitu posesif, tetapi saat suaminya memutuskan pergi hanya membuktikan bahwa tanpa keposesifan Sehun dirinya tidak akan bisa bertahan hidup.
Jadilah Luhan membiarkan Sehun melakukan apapun yang diinginkan pada dirinya, pada tubuhnya, karena selagi itu Sehun dan hanya Sehun, Luhan akan selalu membiarkannya dan melakukan apapun agar lelaki tampannya bahagia tanpa harus merasa bersalah lagi padanya.
"Kau sudah tidur?"
Hening, sesaat Luhan merasa Sehun benar-benar sudah tidur, terbukti dari gerakan tangan Sehun yang sudah tak lagi mengusap perutnya, Sehun hanya meletakkan tangannya di atas perut calon bayi mereka sementara Luhan diam-diam mengecupi tangan Sehun yang kini dibuat menjadi sandaran di kepalanya.
"Baiklah, kau boleh tidur Tuan Oh, selamat malam dan jujur aku masih marah karena kau tidak menepati janji untuk tinggal di Pyeongchang." Katanya menggerutu namun diam-diam tersenyum seraya mengatakan "Tapi aku senang kau pulang, selamat datang kerumah sayangku."
Setelahnya dia membalas erat dekapan Sehun, ikut terpejam karena memang dirinya akhir-akhir ini sering merasa cepat lelah hingga nafasnya menjadi berat dan tak lama benar-benar tertidur menyusul Sehun yang hanya berpura-pura memejamkan mata.
"rrrhh~"
Dan saat memastikan Luhan sudah kembali tertidur dengan nyaman, Sehun membuka matanya, terus mendekap erat punggung mungil Luhan seraya menggeram terisak disana, tak tahu harus melakukan apa lalu diam-diam bertanya dalam hening yang menyiksa.
"apa yang harus kulakukan?"
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
.
.
Selamat membaca chap2 penghujung dari JTV
.
Seeyou di Been Through
.
Doain audit gue lancar biar apdetan minggu depan lancar jadi gaperlu dua mingguan :""
.
Lovelove:*
