Previous

"Aku memilki satu cara terakhir, tapi aku tidak yakin ini berhasil."

"Apa? Beritahu aku lebih dulu."

Myungsoo menaikkan kedua bahunya, perlahan dia mencari dokumen lain yang ingin dia berikan lalu melemparnya pada Sehun.

"Bukalah."

Buru-buru Sehun membuka dokumen yang diberikan Myungsoo, mencari tahu apa yang bisa mereka perjuangkan sampai matanya membulat terkejut melihat apa yang ada di dalam dokumen.

"a-Apa ini?"

Tegas, Myungsoo menjawab "Ayahmu." Membuat Sehun merasa ini ide paling gila dan membuatnya menutup seluruh profie papanya yang entah darimana bisa didapatkan Myungsoo.

"Apa maksudmu?"

"Jika jaksa yang akan menangani Donghon lusa nanti tidak berpihak pada kita, maka aku sarankan agar ayahmu menyelesaikan kasus lamanya bersama Donghon, well, suka atau tidak ayahmu adalah pria yang paling mengetahui betapa gelap sisi seorang Ko Donghon dan berapa banyak hal keji yang dilakukannya."

"Ayahku adalah jaksa nonaktif, lagipula dia sedang dalam pemulihan, tidak mungkin untuknya menjadi jaksa di persidangan Donghon nanti."

Sehun merasakan sakit di kepalanya memikirkan bagaimana sidang Donghon berjalan lusa nanti, lalu dengan santainya Myungsoo berjalan mendekat kearahnya untuk menepuk pundak dan mengatakan

"Cobalah, demi Luhan."

.

.

.

.

Je'Te Veux

.

.

.

Main cast : Lu Han as Xi Luhan

Oh Sehun as Oh Sehun

Rate : T-M

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sengaja Sehun bangun lebih awal dan membiarkan Luhan masih terlelap dengan mimpi indahnya, tak ada niatnya sedikit pun untuk membangunkan istri dan anaknya hanya karena dirinya resah dan tak tahu harus melakukan apa untuk persidangan Donghon esok hari.

Ya, Katakanlah semalam penuh isi kepala Sehun hanya dipenuhi oleh kemungkinan terburuk bagaimana jika Luhan mengetahui kelicikan Donghon bahkan saat dirinya berada dibalik sel jeruji, bagaimana jika istrinya menyaksikan dengan kedua matanya sendiri bajingan yang sudah mengganggu hidupnya sejak kecil bebas dengan mudahnya, baiklah, hingga hari ini Luhan bahkan belum puas dengan hukuman sepuluh tahun untuk Doojoon, jadi bagaimana bisa istrinya menerima keputusan bebas Donghon begitu saja?

Membuat lelaki yang akan segera menjadi seorang ayah itu terpaksa berfikir lebih banyak dan lebih menyiksa dirinya hanya untuk menemukan satu solusi, ayahnya.

"eoh, hyung? Kau sudah bangun?"

Lalu terlihat adik bungsunya menyapa, sudah berapa lama, entahlah, tapi perasaannya saja atau memang Jaehyun sudah tumbuh sangat besar nyaris menyamai dirinya, adiknya bahkan memiliki postur tubuh yang lebih besar hingga terkadang membuatnya rindu sosok Jaehyun yang dulu masih sering dia gendong dan diajak bermain saat kecil.

"hmmh….Kau sudah akan pergi?"

Jaehyun mengangguk singkat "Aku baru selesai mengantar Taeyong ke sekolahnya."

"Sekolah?"

"mmhh…atas desakanku dan Luhan hyung kami berhasil memaksa Taeyong kembali ke pendidikannya, memang akan sulit untuknya karena usianya tertinggal jauh dari teman sekelasnya, tapi aku rasa lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali."

Menangkap raut bahagia dan getar bangga di suara adiknya hanya membuat Sehun terkekeh seperti sedang melihat dirinya memuja Luhan pada sang adik, ya, katakanlah kutukan keluarga Oh berlanjut dari Yunho, dirinya hingga Jaehyun, karena saat masing-masing hati mereka telah dicuri, mereka akan mencintai sampai mati dan akan melakukan apapun hanya untuk melindungi setengah jiwa mereka.

Hal itu membuat Sehun tersenyum kecil, dia menatap bangga pada Jaehyun karena setidaknya si bungsu sudah memiliki alasan untuk tumbuh menjadi pria sesungguhnya, dia sudah memiliki seseorang untuk dilindungi dan itu membuat Sehun lega dan cemas karena dirinya tahu benar proses membuat seseorang bahagia tidaklah mudah.

Jadilah dia mengusak kasar surai si bungsu, tersenyum tak rela karena adik kecilnya sudah menjelma menjadi remaja yang begitu tampan, hingga menatap bangga padanya adalah hal yang dilakukan Sehun untuk memberikan pesan "Kau boleh memikirkan Taeyong, tapi jangan lupakan kalau kau juga seorang mahasiswa yang harus memperhatikan masa depanmu."

"Kau tenang saja hyung, aku bisa mengatur semuanya dengan mudah."

"Bagus."

Kedua bersaudara itu saling melempar senyum, terasa canggung memang, tapi seperti apapun kecanggungan itu menyeruak mereka tetaplah saudara sedarah yang begitu dekat sejak kecil, jadi apapun yang Sehun pikirkan terkadang Jaehyun bisa membacanya, begitupula sebaliknya.

"Apa kau ingin mengunjungi papa?"

Dan itu masih berlanjut hingga detik ini, saat dirinya ragu mengatakan ingin menemui ayah mereka, maka Jaehyun dengan mudahnya bertanya, membuat senyum lirih itu terlihat di wajah Sehun untuk bertanya "Bolehkah?"

"oh ayolah hyung! Dia ayahmu juga jadi jangan bertanya menggelikan seperti itu!"

Kemarahan Jaehyun perlahan membuat kecanggungan mereka mencair, Sehun pun tersenyum kecil lalu kembali mengusak surai Jaehyun seraya tertawa "Kau benar, dia ayahku juga, yang aku rindukan."

"Jadi kapan kau akan datang mengunjungi papa?"

Tak memiliki pilihan lain, Sehun harus bertemu dengan ayahnya "Hari ini." Dibalas anggukan mengerti Jaehyun yang menawarkan "Aku akan membawa mama pulang kalau begitu."

"wae?"

"Aku ingin kalian menikmati waktu berdua." Katanya menjelaskan lalu menggenggam kedua tangan kakaknya seraya bergumam penuh harap "hanya kau dan papa."

.

.

.

.

.

.

"J-Jaehyun belum datang?"

Sosok tampan dan berwibawa yang bertanya dengan sedikit tergagap adalah ayah dari tiga anak yang kondisinya masih dalam masa pemulihan setelah mengalami insiden kebakaran dan trauma hebat atas kabar kematian Luhan beberapa waktu lalu.

Yang mengharuskannya berakhir di kursi roda karena kelumpuhan yang dialaminya serta kesulitan merespon karena kesadarannya dibuat menurun akibat trauma yang dialami.

"Sebentar lagi, mungkin bersama Luhan."

Mendengar nama menantu kesayangannya disebut membuat senyum tampan sama persis seperti milik Sehun terlihat, hal itu membuat sang istri, Jihyo, yang tak kalah mempesona ikut tersenyum mengingat setidaknya satu minggu Luhan belum mengunjungi mereka dan memberitahu tentang kondisi calon bayi yang akan segera dilahirkannya.

"Aku akan menghubungi Luhan untukmu sayang."

Jaksa non aktif itu segera menggeleng, yang dia dengar dari putra bungsunya bahwa saat ini sang menantu sedang berada di Pyeongchang bersama putra kesayangannya yang lain, itu artinya Luhan sedang bersama Sehun dengan harapan Luhan bisa membawa pulang Sehun kerumah, berkumpul bersama agar istrinya tidak selalu terisak diam-diam setiap kali merindukan dua putranya yang berada jauh dari sisi mereka.

Hal itu membuat Insung tersenyum kecil untuk menggenggam tangan istrinya, meyakinkan, seolah dirinya akan baik-baik saja menunggu hari bahagia itu datang "t-Tidak perlu sayang, aku baik-baik saja."

"Kau yakin?"

"Tentu saja."

Jihyo membalas genggaman tangan suaminya, diam-diam dirinya duduk di lantai sementara kepalanya bersandar di paha sang suami yang masih harus duduk dengan bantuan kursi roda, berkali-kali dia menghela dalam nafasnya dan bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan putra sulung dan putra keduanya saat ini.

"Ada apa?"

Insung bertanya lemah, mengusap surai cantik sang istri yang terlihat kelelahan untuk memberikannya sedetik rasa nyaman "Aku sedang bertanya-tanya."

"Tentang apa?"

"Yunho dan Sehun, aku bertanya-tanya sedang apa mereka saat ini?"

Bohong jika jawaban Jihyo tidak membuat gemuruh rindu juga dirasakan Insung, terlepas dari kesalahan yang dibuatnya hingga keluarga kecilnya terpecah seperti ini dia hanya seorang ayah, yang begitu mencintai keluarganya, istrinya, ketiga putranya bahkan melebihi rasa cintanya untuk diri sendiri.

Dia melakukan apapun untuk melindungi keluarga kecilnya, lalu harus membayar hal mengerikan yang dilakukannya di masa lalu dengan perpisahan dan pertengkaran kedua putra mereka, semua terjadi begitu cepat dan Insung hanya diam sampai suara Jihyo terdengar menguatkan.

"Aku yakin mereka baik-baik saja karena mereka memiliki Luhan dan Jaejoong, aku benar kan? Sayang?"

Jihyo semakin bersandar di paha suaminya, membuat tangan Insung kembali mengusap surai Jihyo untuk mengangguk membenarkan "k-Kau benar sayang."

Kedua pasangan suami istri yang sudah menikah hampir empat puluh tahun lamanya itu saling menguatkan, membagi cinta mereka yang masih sama besar seraya berdoa kuat didalam hati, supaya nanti, tak lama lagi mereka bisa menghabiskan masa tua bersama dengan suara anak dan cucu mereka terdengar didalam rumah mereka.

Klik….

"Ma…Pa, aku datang—emh, Apa aku mengganggu?"

Keduanya tampak canggung melihat si bungsu masuk kedalam ruangan, begitupula Jaehyun yang terlihat salah tingkah karena nampaknya dia baru saja mengganggu moment romantis kedua orangtuanya, jadilah dia menggaruk tengkuk sampai sang mama tertawa melihat bagaimana satu-satunya putra yang masih bertahan dengan kesalahan mereka di masa lalu terlihat sangat menggemaskan.

"aniya sayang, masuklah."

"Mama yakin?"

Jihyo kemudian beranjak dari tempat paling nyaman yang bisa diberikan Insung saat ini, dia pun sedikit menguncir rambutnya keatas untuk mengangguk dan menghampiri si bungsu "Tentu sayang, ayo masuk, mama sudah membeli bakpau kesukaanmu."

"Tapi ma…"

Jaehyun berubah tidak yakin, menggigiti bibir bawahnya lalu menarik lengan sang mama saat Jihyo sudah berada di jangkaunnya, membuat Jihyo terkejut tapi tidak dengan Jaehyun yang tertawa melihat ibunya memekik terkejut "Ada apa denganmu nak?"

"Aku rindu mamaku, itu saja."

"Tapi kita bertemu setiap hari."

"mmhh…Mama benar, tapi aku tidak memakan masakanmu lagi hampir enam bulan terakhir."

"huh?"

Jaehyun kemudian merangkul pinggang ibunya untuk berbisik "Aku rindu masakan mama, jadi baiknya hari ini kita pulang dan memasak sementara papa menunggu sup buatan mama, bagaimana?"

Disana, Insung tersenyum bangga melihat si bungsu sedang berusaha membuat bahagia ibunya, dia pun mengangguk seraya mengangkat ibu jarinya sebagai jawaban "Tentu nak."

"yosh! Ayo kita pulang ma."

"t-Tapi siapa yang menjaga papamu nak? Mama tidak mau pergi jika papa ditinggal sendiri."

"yeobo, aku akan baik-baik saja, banyak perawat yang menjagaku, lagipula Kyungsoo atau Baekhyun akan datang menjenguk seperti biasa."

"Tapi-…."

"Nah, aku rasa mama tidak perlu cemas karena khusus pagi ini seseorang akan menemani papa hingga kita datang siang nanti."

Melepas pelukan putranya, Jihyo bertanya "Siapa?" dibalas senyum berlesung pipi dari si bungsu yang kini membuka pintu dan mengizinkan seseorang untuk masuk "Masuklah, hyung."

Sebagai bungsu dari tiga bersaudara, Jaehyun memiliki dua orang yang dipanggilnya dengan sebutan hyung, ditambah kakak keduanya memiliki empat sahabat seumuran yang juga menjaganya sejak kecil, dan jika dijumlah dengan Luhan dan Jaejoong, setidaknya Jaehyun memiliki enam pria yang akan dipanggilnya hyung dengan akrab.

Jihyo dan Insung tidak bisa menebak hyung siapa yang dipanggil si bungsu, tapi katakanlah mereka adalah dua orang tua yang membesarkan ketiga anaknya penuh kasih, penuh cinta, jiwa dan raga, jadi saat kaki itu melangkah masuk kedalam, sebelum sosoknya benar-benar jelas terlihat keduanya bisa menebak jika yang sedang datang mengunjungi adalah putra mereka, darah daging mereka, cinta mereka, yang begitu mereka rindukan, yang beberapa bulan lalu terlihat tak sudi mengakui mereka sebagai orang tua lagi namun kini menatap rindu ke arah mereka, sama besar, sama banyak dan sama menyiksa.

"Ma…."

Akan selalu seorang ibu yang membuat hati seorang anak tergerak dipenuhi penyesalan, jadi saat mata ibunya sedang menatap seolah dirinya hantu, Sehun hanya bisa tersenyum lirih mengangkat kedua tangannya, berharap lengannya disambut sang mama dan ya, Jihyo kini berlari kearahnya, memeluknya dengan erat seerat rindu yang ditahannya selama tiga bulan terakhir pada darah dagingnya, cinta dan hidupnya.

"Sehun! Sehun….huwaaaa….Anakku."

Dia menjerit, dia berteriak, dia menangis, dia marah tapi dia terlalu merindukan putranya hanya untuk sekedar membentak atau mengatakan putranya jahat, entahlah, rasa kecewanya pergi kemana, yang jelas melihat Sehun datang ke rumah sakit setelah sekian lama hanya menunjukkan bahwa dia sudah memaafkan kesalahan papanya dan itu membuat Jihyo sangat lega, terlalu lega, dan berakhir menangis terisak dipelukan putra keduanya.

"Jangan pergi lagi anakku, mama tidak bisa, mama rindu, Mama merindukanmu sayang, mama merindukanmu anakku."

Sementara tangannya mengusap lembut surai sang ibu, matanya terkunci pada sang ayah yang sedang menatapnya lembut dan penuh cinta namun berurai air mata rindu sama seperti milik ibunya.

Melihat kedua orang tuanya menangis dan terlihat kehilangan banyak berat badan membuat sesuatu menghimpit sesak dada Sehun, dia pun ikut menitikkan air mata dan menciumi surai mamanya untuk berseru penuh sesal dihatinya.

"Aku pulang Ma, Pa…."

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jadi dokter yang menangani papa adalah Baekhyun dan Kyungsoo?"

Jaehyun segera membawa ibunya pergi sesaat setelah keluarga kecilnya mulai bisa mengatasi rasa haru yang menyesakan, dan kesempatan itu tentu saja tidak dibuang oleh Sehun untuk memperbaiki hubungannya dengan sang ayah sebelum mengutarakan niat seperti yang dikatakan Myungsoo padanya.

Semua akan lebih baik jika kebakaran itu tidak pernah terjadi, ayahnya tidak perlu mengalami trauma dan istrinya tidak perlu kehilangan ingatan, tapi sudahlah, semua sudah berlalu, lagipula istri dan ayahnya sudah terlihat jauh lebih baik dan tak ada yang membuat Sehun bersyukur lebih dari itu.

"b-Bergantian nak, t-terkadang b-Baekhyun dan Kyungsoo hanya datang mengunjungi pa-pa."

Melihat bagaimana sosok yang dulunya begitu tegas dan bijaksana kesulitan dalam berbicara tentu membuat hatinya sebagai seorang anak hancur dan terluka, terlebih ayahnya masih bergantung pada kursi roda yang sudah setia menemaninya hampir enam bulan ini, membuat Sehun tiba-tiba merasa bersalah karena baru datang mengunjungi dan kunjungannya memiliki alasan khusus,

Jadilah Sehun memutuskan, dia sudah membuat keputusan untuk tidak mengatakan rencana Myungsoo, hal yang ingin sekali ditanyakan pada papanya, hanya ingin menikmati waktu berdua dengan pria yang kini memiliki warna putih di rambutnya dan menyesali apa yang sudah dilakukannya sebagai seorang anak.

"Kalau begitu maaf aku menjadi satu-satunya yang tidak mengunjungi papa."

Tertawa kecil sang papa justru menggoda dengan mengatakan "y-Yunho juga."

Sehun diam, nyatanya pertengkaran hebatnya dengan Yunho juga belum selesai begitu saja, kakaknya yang begitu menyayangi juga mengkhwatirkannya mungkin masih memiliki luka dihatinya karena ucapan dan bentakan yang dilakukannya kala itu, lagi-lagi dadanya berdenyut sakit, mau dilihat seperti apapun sepertinya yang membuat hancur keluarga kecil ini sudah dipastikan adalah, dirinya.

"Nanti, setelah anakku lahir mungkin aku akan terbang ke Jepang, mengemis maaf agar si tua itu mau pulang kerumah." Katanya berusaha membuat lelucon walau berakhir merasa mual mengingat esok nasib Luhan dan anaknya ada di tangannya, keputusan tentang hukuman Donghon dan apapun yang berkaitan dengan bajingan itu pastilah tidak akan diterima oleh istrinya.

"Nak."

"hmh?"

"Bawa papa melihat jendela, disana banyak anak seusia Haowen bermain."

Sehun mengangguk, didorongnya kursi roda sang papa menuju jendela di kamar rumah sakit, Sehun sedikit membuka tirainya dan benar saja, banyak anak kecil bermain disana, tertawa dan melempar batu jadi rasanya wajar jika papanya merindukan si cucu pertama putra kandung kakaknya "Papa benar, aku juga rindu Haowen sepertinya."

Dibalas senyum lirih ayahnya, Sehun merasa tangannya hangat digenggam sang papa, rasanya seperti saat dulu dia tidak bisa melakukan apapun, hanya bisa bersembunyi di belakang papa dan hyungnya, selalu merasa aman tanpa harus merasa ketakutan seperti saat ini.

Tiba-tiba dia merindukan masa kecilnya, namun kenyataan saat ini dirinya adalah seorang suami, seorang ayah, yang akan memerankan peran seperti ayahnya untuk melakukan apapun agar istri dan anaknya jauh dari bahaya, selalu bahagia dan ya, dia memang akan melakukan apapun hanya untuk membuat lelaki cantiknya itu bahagia tanpa harus merasa tertekan.

"Apa yang ingin kau bicarakan dengan papa, anakku?"

"huh?"

Seolah bisa membaca pikirannya, sang papa dengan mudah bertanya, membuat keputusannya untuk tidak mengatakan apapun sedikit menjadi ragu terlebih saat papanya tersenyum seraya mengusap lembut tangannya.

"Dulu kau hanya seorang anak kecil menggemaskan seperti mereka dibawah sana, yang kau tahu hanya merengek, menangis, menuntut dan tidak mau kalah dengan hyungmu, kau hanya anak bungsu papa yang menggemaskan sebelum bertemu Luhan dan sebelum resmi menjadi seorang kakak." Katanya mengenang, membuat senyum mereka saat memori itu masuk kedalam ingatan mereka.

Dia bahkan sedikit takjub saat papanya mampu mengingat masa lalu yang sudah berumur hampir dua puluh tahun lamanya, mengingat bagaimana kali pertama dirinya bertemu dengan Luhan, lalu tak lama mendiang ibu mertuanya membantu proses persalinan Jaehyun, rasanya seperti kemarin, tapi semua kenangan indah itu selalu beriringan dengan kejadiah pahit yang harus menyiksa batin dan pikiran mereka.

"Papa menyesal melewatkan pertumbuhanmu menjadi seorang remaja dan pria dewasa karena terlalu sibuk bekerja, tapi terlepas dari semua penyesalan itu aku tetap ayahmu yang bisa membaca pikiranmu hanya dengan melihat raut dan senyum diwajahmu. J-Jadi ada apa nak? Kau bisa mengatakan apapun pada papa."

Sehun menyerah, dia tidak akan menyembunyikan apapun lagi, entah ayahnya bisa membantu atau tidak, dia tidak akan menuntut, yang dia inginkan hanya bercerita dan menjadi anak ayahnya lagi, yang selalu membicarakan hal sulit pada sosok yang selalu dihormatinya sejak kecil.

"Pa…."

Sehun berjongkok, kepalanya tertunduk dengan tangan yang terus digenggam lembut ayahnya, sesaat dia ragu lalu mengutarakan maksudnya tanpa ingin menyembunyikan "Ko Donghon, besok adalah sidang hukuman untuknya."

Sehun bisa merasakan genggaman tangan sang ayah ditangannya menguat, dia tahu membahas Donghon artinya mengungkit masa lalu yang coba dilupakan ayahnya, tapi ini semua memang tentangnya, tentang bajingan yang sudah menghancurkan dua keluarga, miliknya dan milik Luhan bahkan disaat mereka belum mengetahui apapun tentang kekejian seseorang.

"Papa baik-baik saja?" Sehun bertanya, dibalas tatapan kosong ayahnya yang bergumam "Ya," namun terlihat memendam rasa marah yang sama dengannya "Lalu apa yang bisa papa lakukan?"

Sehun diam, sejenak dia tersenyum lalu menggeleng sebagai jawaban "Tidak ada pa, mungkin saat papa masih aktif sebagai seorang jaksa aku akan memohon pada papa agar menangani kasus Donghon, tapi tidak apa, kita masih punya sepuluh persen harapan pada jaksa penuntut yang akan mengungkap kasusnya."

"Hanya sepuluh persen?"

Insung bertanya dibalas senyum lirih Sehun yang menjawab "Kecuali hakim, bajingan itu sudah membayar dengan harga tinggi setengah dari anggotakejaksaan yang terlibat dengan persidangannya esok pagi."

"Semudah itu?"

"haah~"

Sehun bersandar di kedua paha ayahnya, menyembunyikan wajahnya disana seraya bergumam putus asa "Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika dia menyakiti Luhan lagi?"

Rasanya ingin Insung mengusap surai putranya yang sedang bersandar putus asa di pangkuannya, rasanya ingin dia menenangkan hati putranya yang gundah diselimuti rasa cemas, dia ingin, tapi dia tahu kini dirinya tak memiliki kuasa untuk melakukan apapun bahkan hanya untuk sekedar menolong putranya.

Hal itu membuat Insung hanya diam sementara diam-diam Sehun terisak mewakili rasa putus asa yang tak kunjung hilang dirasakan "m-Maafkan papa nak."

Sehun menggeleng disana, mengisyaratkan agar tak perlu ada maaf dan penyesalan lagi di hati mereka "Tidak apa pa aku dan Luhan akan baik-baik saja."

Setelahnya hangat yang menyiksa terasa di sekeliling mereka, Sehun tak bisa melakukan apapun selain beristirahat sejenak di pangkuan ayahnya sementara Insung diam-diam menitikkan air mata penyesalan karena sudah membawa petaka terlalu lama untuk putranya, untuk Luhan sedari kecil hingga saat ini, saat fokus mereka seharusnya hanya untuk kelahiran bayi mereka dan bukan fokus pada bajingan keji yang sudah merusak hidup mereka terlalu lama.

.

.

.

.

.

.

.

"Lusa aku akan membawa Luhan berkunjung bersama, doakan saja kemungkinan terbaik untuk persidangan esok."

Saat ini Sehun masih berada di tengah-tengah keluarganya, kali ini Jihyo sudah membawakan menu lengkap kesukaan Sehun untuk makan siang, ditemani oleh kedua orang tua dan adik bungsunya maka kehadiran si putra sulung adalah satu-satunya yang kurang, membuat Sehun berjanji bahwa setelah kelahiran bayinya dia akan terbang ke Jepang dan menyeret kakaknya kembali ke tengah-tengah keluarga mereka.

"lalu-Lalu jika hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kau dan Luhan harapkan apa yang akan terjadi nak?"

Ibunya bertanya, Sehun hanya menatap sendu pada keluarga yang mencemaskannya dan menguatkan mereka juga dirinya sendiri "Semua akan sesuai."

"Apa kau yakin nak?"

Sehun tersenyum seraya mengangguk "Aku ingat papa selalu bilang di setiap persidangan yang dilakukannya bahwa keadilan akan datang dengan caranya sendiri, aku masih mempercayai hal itu hingga saat ini, dan aku yakin semua akan sesuai Ma."

Kedua orang tuanya termasuk Jaehyun tahu bahwa Sehun sedang menguatkan dirinya sendiri, bahwa hatinya tak berhenti berdenyut sakit setiap kali memikirkan hari esok, mereka tahu bahwa lelaki yang akan menjadi seorang ayah itu terlihat memikirkan banyak hal di kepalanya namun enggan dikatakannya, hal itu membuat kedua orang tua dan adiknya cemas hingga pertanyaan "Seandainya tidak sesuai, apa yang akan hyung lakukan?"

Sehun berhenti mengunyah, senyumnya kecil diiringi tatapan terluka namun dibalasnya sesantai mungkin "Biar itu menjadi urusanku." Jawabnya, dan itu adalah hal paling menakutkan membayangkan kemungkinan Sehun akan melakukan apapun termasuk menghabisi Donghon dengan kedua tangannya sendiri seperti terbayang nyata untuk mereka.

"Kau tidak akan melakukan hal mengerikan bukan?"

"Aku-…."

Drrtt….drrt…

Ingin rasanya dia menjawab aku akan membunuh Donghon dengan kedua tanganku sendiri, mungkin dia memang akan melakukannya jika ponsel tidak bergetar dan nama Luhannie tertera disana, membuat sejumput marahnya hilang digantikan perasaan bahagia setiap kali nama kesayangannya muncul di layar ponsel.

"Ya sayang?"

"Kau ada dimana? Cepat pulang ada yang ingin kuberitahu padamu?"

"Sesuatu yang penting?"

"YA!"

"Baiklah tidak perlu berteriak sayang, katakan kau ada dimana sekarang?"

"Rumah sakit."

"Rumah sakit? Ada apa?"

"ini kejutan untukmu, cepat pulang kerumah."

"Seoul hospital?"

"mmhh…Dengan Baekhyun dan Kyungsoo, cepat pulang, aku tunggu dirumah!"

"Aku juga berada di-…"

Pip!

Begitulah Luhan mengakhiri percakapan mereka, selalu seperti itu bahkan saat mereka sudah menjadi sepasang suami istri saat ini, hal itu berhasil membuat Sehun terkekeh dan menunjukkan ponselnya pada keluarga yang masih memperhatikannya "Well, Aku rasa aku harus segera pergi, Luhan ingin bicara padaku."

"Apa sesuatu yang gawat terjadi?"

Sehun mengecup singkat pipi sang mama sebelum beralih mengerling adik dan ayahnya "Tidak ada yang buruk yang terjadi, sepertinya Luhan juga akan di rumah sakit ini."

"Benarkah? Lalu bawa Luhan kemari nak."

"Nanti saja ma, dia perlu menyiapkan diri untuk esok." Katanya memakai mantel navy yang disiapkan Luhan sebelum mendekati ayahnya "Cepat sembuh pa, rumah menunggu."

Insung mengangguk memegang jemari putranya untuk menyetujui "Ya, papa akan segera pulang."

"Kalau begitu aku pamit, sampai nanti."

Setelahnya Sehun pergi dengan hati sesak tak menemukan jalan keluar, entah apa yang terjadi esok, hal itu masih mengganggu pikirannya, ingin dilupakan tapi tak bisa sampai suara familiar terdengar memekik

"AKU HARUS SEGERA MEMBERITAHU SEHUN!"

Ah, itu suara istrinya, lagipula ketiga sosok mungil itu selalu terlihat lucu dan menggemaskan jika berjalan beriringan, jadilah diam-diam dia mendekati asal suara berharap kegundahan hatinya hilang sejenak setelah melihat keceriaan istrinya.

"Jangan berlarian Lu, kenapa kau gesit sekali bahkan diusia kandunganmu yang sudah sangat tua dan besar seperti itu!"

Sehun bisa melihat bagaimana Baekhyun memarahi istrinya yang terlihat sangat bahagia disana, beberapa kali lelakinya juga terus berlari namun disusul Kyungsoo yang lebih terlihat seperti seorang nanny daripada seorang dokter.

"astaga anak ini!"

Terlihat dari caranya menarik lengan Luhan dengan sabar setiap kali istrinya akan berlari, hal itu membuat Sehun gemas dan berjalan semakin menghampiri tempat dimana ketiga lelaki cantiknya berkumpul sementara Luhan terus mengatakan "Aku tidak sabar memberitahu Sehun!"

"Kau bisa melakukannya saat pulang nanti, bersabarlah!"

"Tapi aku tidak sabar, aku ingin memberitahu-…. Segera memberitahu Sehun dan-….."

"Memberitahuku tentang apa?"

"omo!"

Kyungsoo menggunakan tenaga super ekstra untuk menahan beban tubuh Luhan agar tidak menabrak Sehun, dia terkejut, Sehun juga terkejut karena sebenarnya dia sudah mempersiapkan diri untuk menangkap Luhan jika memang menabrak dirinya.

Sepertinya Kyungsoo meremehkan gerak refleks Sehun hingga berakhir mendelik tajam dan memarahi pria super tinggi yang entah datang darimana "y-Yak! Kenapa kau tiba-tiba berdiri disana? Itu sangat berbahaya dan-…."

"SEHUN!"

Umpatan Kyungsoo langsung tak bermakna saat Luhan tiba-tiba berlari dan memekik saat melihat pria yang sangat ingin ditemuinya saat ini, dan mengabaikan fakta dirinya bertanya-tanya mengapa Sehun ada berada di rumah sakit, Luhan hanya melompat dan tentu Sehun menangkapnya dengan mudah walau satu kakinya harus mundur ke belakang tak menyangka tubuh istrinya sudah menjadi lebih berat hanya dalam beberapa hari.

"Sayang kenapa kau berlari dan melompat seperti itu, berbahaya."

Sehun berpura-pura memarahi istrinya, menyelamatkan diri agar tidak dimarahi Baekhyun dan Kyungsoo namun wajah tegasnya hanya bertahan beberapa saat terlebih saat Luhan memekik, membawa tangannya ke perutnya yang besar untuk berteriak "MEREKA KEMBAR!"

"huh?"

"DAN MEREKA AKAN MENJADI DUA ORANG ANAK LELAKI!"

"mereka?"

Seminggu yang lalu saat Luhan tak sadarkan diri menghadiri persidangan Doojoon, Sehun juga bertanya-tanya ketika Kyungsoo mengatakan "mereka baik-baik saja" saat dirinya bertanya tentang kondisi sang bayi.

Sehun tidak mengerti saat itu, begitupula saat ini melihat istrinya terus mengatakan "MEREKA" namun berakhir meleleh hatinya saat mimic bibir Baekhyun membuat gerakan "anak kalian, kembar." Memberitahu Sehun agar Luhan tak kesal karena suaminya tak kunjung mengerti apa yang coba diberitahukannya.

"astaga…."

Sehun bereaksi, dia melepas pelukan Luhan dan menggenggam bahu mungil istrinya, memastikan "Mereka kembar, anak kita?"

Luhan mengangguk penuh kebahagian, memberitahu suaminya "eoh, dan mereka sehat, Baekhyun yang bilang."

Sehun mengerling sejenak kedua sahabatnya, menatap Luhan penuh cinta untuk menggoda istrinya "Bagaimana ini?"

"Ada apa?"

"Aku hanya menyiapkan satu nama, aku tidak tahu kita akan punya dua anak, apa kita beri satu untuk Myungsoo? Aku rasa dia akan—ouch!"

Wajah Luhan berubah menjadi semerah cabai saat ini, tatapannya berkilat dan bibirnya mungkin akan mengumpat jika Sehun tak segera mendekapnya erat "hahahahaha….Aku bercanda sayang, aku hanya tidak tahu harus bagaimana menunjukkan rasa bahagiaku."

"Tapi tidak dengan memberikan satu anak kita pada Myungsoo juga! Aku benci mendengarnya!"

"oh tidak akan, siapapun tidak akan pernah bisa mendapatkan anak kita, astaga Lu, aku-…terimakasih sayang sudah bertahan dan bersabar dengan kehamilanmu."

Luhan tersenyum kecil, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sehun seraya mengingatkan "Sepertinya sebentar lagi seseorang akan dipanggil Papa oleh anak-anakku."

Rasanya hangat, sangat, Sehun terlalu bahagia menambah statusnya sebagai seorang suami sekaligus menjadi ayah, dia tak sabar bertemu dengan bayinya, tak sabar pula membuat kebahagiaan Luhan lengkap dengan kehadiran buah hati mereka.

Jadilah dia tertawa hangat, mengusap sayang wajah istrinya untuk membalas ucapan ibu dari anak-anaknya "Dan aku akan membuat seseorang dipanggil Mama oleh anak-anakku, gomawo sayang."

Sehun menarik dagu Luhan, mengecup lembut bibir Luhan pada awalnya, keduanya saling menukar rasa bahagia sampai Luhan meminta lebih, dirinya sengaja membuka bibir, menyesap lidah Sehun dibalas lingkaran tangan Sehun di pinggangnya, si lelaki tampan sedang menjaganya agar tidak terjatuh namun rupanya ciuman penuh gairah itu harus terganggu tatkala Kyungsoo menarik lengan Luhan menjauh sementara luapan gairah itu masih dirasakan Sehun menuntut.

"Oke cukup! Ini rumah sakit omong-omong!"

"Kyungsoo!"

Luhan menyuarakan rasa protesnya, tapi kedua mata Kyungsoo bulat lebih mengerikan dan itu membuat nyali Luhan menciut karena takut "Baiklah jangan mendelik seperti itu!"

Pelan-pelan Luhan kembali berjalan ke arah suaminya, kali ini mereka menahan diri setidaknya sampai di tempat sepi dan tidak didepan dua lelaki cantik super menyebalkan jika sudah melihat mereka bermesraan "kita cari tempat lain saja."

Sehun tertawa seraya merangkul pinggang istrinya, mengecupnya singkat lalu bertanya terang-terangan pada Baekhyun dan Kyungsoo "Kami boleh bercinta kan?"

"Sehun!"

"wae? Aku bertanya, aku tidak mau menyakitimu atau bayiku jika memaksa."

"sshh…harus kuberitahu berapa kali aku juga seorang dokter dan aku tahu apa yang baik dan yang tidak untukku!"

"Tetap saja! Jadi boleh atau tidak?"

Dilihat dari nada suaranya Sehun jelas mati-matian sedang menahan gairahnya, jadi sekalipun salah satu dari Baekhyun dan Kyungsoo mengatakan tidak, lelaki itu akan tetap mengambil Luhan dan Luhan pasti akan memekik kesal jika keinginannya untuk disentuh tidak terpenuhi.

Jadilah kedua dokter yang kini menyandang nama Park dan Kim mengambil banyak nafasnya seraya berpesan "Jangan sampai Taeoh dan Jiwon mendengar suara kalian." Kyungsoo memperingatkan ditambah pesan Baekhyun "Dan jangan dengan posisi yang membuat Luhan tak nyaman."

"Mudah, terimakasih."

Sehun kemudian merangkul pinggang Luhan, membawanya pergi sementara diam-diam wajah Luhan merona untuk bertanya "Apa kita akan pulang?"

"Tidak, Taeoh dan Jiwon ada disana, aku tidak bebas menyentuhmu nanti."

"Lalu kemana kita pergi?"

Mencium tak sabar bibir mungil istrinya Sehun bergumam "Nanti kau tahu."

.

.

.

.

.

.

.

.

Entah kemana Sehun akan membawanya, tapi yang jelas ini sudah memakan waktu hampir satu jam perjalanan, biasanya mereka hanya membutuhkan tiga puluh menit jika menuju rumah, tapi rupanya sang suami memiliki rencana lain dan entah apa yang ada di kepalanya karena saat ini mereka sedang masuk kedaerah yang dipenuhi pohon besar disekitarnya.

Sejuk memang, bisa menghilangkan penat, tapi diamnya Sehun seperti pertanda buruk dan Luhan benci jika tidak mengetahui apapun "Sayang kenapa kau hanya diam?"

"Aku tidak diam aku sedang menahan gairahku."

"Tapi wajahmu tegang, apa sesuatu terjadi?"

Seharusnya Sehun memuji ketelitian Luhan saat menganalisa wajahnya, benar pikiran dan hatinya sedang bekerja berlawanan, hatinya meminta beristirahat memikirkan esok tapi pikirannya teguh untuk mencari cara agar hasil yang didapat tidak seburuk yang dibayangkan.

"Kenapa kau bilang wajahku tegang?" Sehun bertanya, dan secara lucu Luhan menirukan apa yang sedang dilakukan suaminya saat ini "Karena kau melakukan ini." Katanya mengerutkan dahi, sontak hal itu membuat Sehun tertawa dan mengambil tangan yang kini memakai cincin pernikahan mereka untuk dikecupi sayang dan penuh cinta.

"Baiklah aku tidak akan mengerutkan dahiku lagi, puas?"

Luhan diam-diam meraba nakal dada suaminya, menggoda seraya berbisik "Puas, kau tidak seksi dengan wajah dingin menyebalkan itu."

"Lalu bagaimana definisi seksi saat aku mengambilmu?"

"mmhh…Saat kau mengatakan aku akan memasukkannya, ini akan sedikit sakit tapi aku janji kau akan menikmatinya."

Itu adalah kalimat yang selalu dikatakan Sehun tiap akan menyatukan tubuh mereka, lalu Luhan mengatakannya terlalu frontal hingga membuat degup jantungnya berkali lebih kencang dipacu gairah yang benar-benar membuatnya tak sabar melucuti seluruh pakaian istrinya.

"Oh ayolah Lu!"

"hahahaha…..Aku bertaruh kini tak hanya wajah tapi Sehun kecil juga sudah tegang bukan?"

Mendesis kesal, Sehun membalas "Ya, tunggu sampai dia melampiaskan rasa tegangnya."

Dan bersamaan dengan kalimat pembalasan Sehun mereka tiba di sebuah tempat yang Luhan kenal seperti sebuah pondok, terbuat dari kayu namun begitu indah karena di sekelilingnya dipenuhi tanaman bunga lengkap dengan kolam ikan serta beberapa mainan anak-anak seperti ayunan, jungkat jungkit dan gawang kecil disudut kanan rumah kayu sederhana namun terlihat sangat indah untuk Luhan.

"Baiklah, kau bisa melakukan apapun saat kita di tempat tidur nanti, tapi ini apa? Rumah siapa?"

Luhan menuntut, antara penasaran dan tergoda ingin berlari kedalamnya disembunyikan kuat-kuat, hal itu membuat Sehun terkekeh gemas dan lebih dulu keluar dari dalam mobil sebelum memutar untuk membukakan pintu si lelaki cantik.

"Baiklah, Cindere-Lu, kau bisa masuk keluar."

"tsk! Apanya yang cindere-Lu."

Dia menggerutu, tapi wajahnya merona, jadi tebak apakah Luhan kesal atau justru dia senang dipanggil sebagai seorang putri kerajaan sama persis dengan poster yang ditempelnya di kamar Jiwon? Mungkin itu keinginan terpendam, membuat seolah-olah Jiwon menyukai karakter Disney Cinderella walau nyatanya itu sepenuhnya keinginan Luhan yang selalu mengelak dan membela diri "Jiwon yang meminta poster itu, bukan aku!"

"Baiklah, Jiwon yang meminta, sekarang cepat keluar sayangku."

Barulah Luhan menyambut tangan Sehun, digenggamnya erat tangan kasar yang selalu memberinya kehangatan untuk bertanya "Jadi katakan dimana kita berada?"

Sehun merubah posisinya berdiri di belakang Luhan, tak lama dia maju mendekat sementara kedua lengannya memeluk erat si lelaki cantik yang selalu dipenuhi rasa ingin tahu, sejujurnya dia senang jika Luhan banyak bertanya, hanya terkadang dirinya takut tak bisa menjawab pertanyaan Luhan dan berakhir hanya akan membuat istrinya kecewa.

"Ini rumah kecil yang aku bangun untuk kita beristirahat jika penat berada di tengah kota."

Terkekeh Luhan mengoreksi "Rumah kecil kau bilang?" katanya menyindir seraya mengukur betapa besar rumah yang dibangun Sehun di belakang hutan dengan tangannya "Ini setengah dari rumah kita berenam di Seoul."

"Tidak sebesar itu sayang."

"Tapi ini memang besar! Sejak kapan kau membangunnya?"

Menggigit cuping telinga Luhan seraya menyelipkan jemari ke dalam pakaian sang istri, Sehun berbisik "Harusnya ini menjadi hadiah pernikahan untukmu, tapi banyak yang terjadi jadi maaf baru bisa menyelesaikannya setelah sekian lama."

Luhan bahkan tidak keberatan menerima segala kecupan dan sensasi gairah Sehun saat meraba tubuhnya, semua itu melebur dengan rasa haru yang tak sungkan dikatakannya pada Sehun "Kalau begitu terimakasih sudah menyelesaikannya."

"Kau menyukainya?"

"Hanya orang bodoh yang tidak menyukai tempat indah ini."

"Dan aku bertaruh kau akan lebih menyukai dekorasi yang kubuat didalam."

Sehun menggenggam jemari mungil Luhan, membawanya masuk kedalam rumah yang sudah disiapkannya sementara Luhan merespon dengan sangat menggemaskan "daebak, Aku tidak tahu seleramu akan sebagus ini."

"Terimakasih karena kau menyukai sesuatu berbau vintage, itu sangat mudah untukku."

"Aku ingin melihat kamar anakku." katanya bergegas, tapi Sehun lebih cepat berdiri dibelakangnya, mengusap sensual perutnya yang membuncit lalu berbisik mesra memberitahu Luhan "Nanti saja, aku sudah tidak tahan."

Luhan terkekeh mendengarnya, dia tahu Sehun sudah tegang sejak tadi, jadi saat suaminya sengaja menggesekan kejantanan miliknya di belahan bokongnya saat ini, Luhan seperti tidak memiliki pilihan lain untuk meladeni gairah suaminya.

"Baiklah, tunjukkan kamar kita kalau begitu—Sehun!"

Wajar jika Luhan memekik jika Sehun tiba-tiba menggendongnya bridal, suaminya itu bahkan tak menatapnya karena yang bisa dirasakan Luhan sepanjang perjalanan mereka kekamar hanya hembusan berat nafas Sehun yang menandakan bahwa dirinya benar-benar sudah tak bisa mengenal kata "sabar" untuknya.

"ngghh…"

Sengaja Luhan mendesah saat Sehun membaringkannya di tempat tidur King size yang begitu lembut dan nyaman, tak lupa dia ikut membuka kancing kemeja suaminya sementara Sehun terus menjilat, menghisap tak sabar lehernya, tangan kanan Sehun juga sudah melucuti celana hamil Luhan yang hanya berbahan karet lembut, menurunkannya paksa sementara paha Sehun sudah berada ditengah selangkang kakinya, menggesekan kejantanannya yang benar-benar menuntut hingga membawa desahan dari bibir mungil Luhan terdengar bahkan saat waktu masih menunjukkan pukul satu siang.

Setelah berhasil melucuti bagian bawah Luhan, kini Sehun menarik paksa kemeja yang dipakai istrinya, tak ada perlindungan selain kemeja putih yang digunakan Luhan, jadi saat kemeja itu dibuang Sehun kebawah lantai, maka terlihatlah tubuh polos Luhan yang begitu seksi dengan perut buncit yang sedang membawa kedua anak-anaknya.

"Cantik."

Satu kata itu meluncur dari bibir Sehun, dibalas dengan dua tangan Luhan yang menutupi dadanya namun tentu tak dibiarkan Sehun yang kini mencium bibirnya panas, turun ke leher, kedua nipple nya bergantian lalu berhenti di perut buncit Luhan yang terlihat semakin membesar setiap harinya.

"Sebentar saja nak, mengalah pada papa sebentar." Katanya mencium sayang perut istrinya lalu beralih lagi setengah menindih Luhan untuk bertanya "on top atau aku bisa mengambilmu seperti biasa?"

Luhan tampak ragu sesaat untuk memilih, lalu dilihatnya Sehun menurunkan celana beserta boxer hitam ketat miliknya, dia bahkan sedikit menenggak air liurnya saat melihat kejantanan suaminya itu untuk ragu memilih posisi mana yang membuatnya nyaman mengingat Sehun sudah begitu tegang entah sejak kapan.

"Sayang jawablah, aku tidak tahan."

Sekali lagi Luhan berkedip, ragu untuk memilih lalu bergumam "Seperti ini saja." yang artinya Sehun bisa mengambilnya secara bebas tapi tetap memikirkan kenyamanan istrinya yang terkadang merasakan kontraksi jika ditekan secara berlebihan.

"Baiklah."

Lalu posisi Sehun sedikit turun agar Luhan merasa nyaman, tak lupa dia membasahi dua jarinya dan memasukkan perlahan kedua jemarinya ke lubang Luhan dibalas ringisan sakit istrinya, dia terus memaksa, lalu wajah kesakitan itu berubah menjadi menuntut hingga dirasa cukup dan Sehun mulai mencoba memasukkan penisnya ke lubang Luhan yang semakin ketat sejak kehamilannya.

"nggh…."

Sehun merasa begitu sempit, jadilah dia memasukkan sedikit, lalu mengeluarkannya lagi, hal itu justru mengganggu Luhan, dia hanya ingin segera merasakan nikmat, jadi saat Sehun memasukkan kepala penisnya, dia sengaja menumbuk kebawah, hingga penyatuan mereka terjadi cukup kasar namun tak memakan waktu sampai Luhan membiasakan rasa sakit dan betapa besar penis suaminya didalam sana.

"Sehunbergerak, sakith~ahhh…."

Sehun pun mengurangi sakit Luhan dengan mengecup bibirnya, awalnya lembut, tapi lama kelamaan tempo gerakan tubuhnya sama kasar dan sama menuntut dengan ciumannya saat ini.

Dia terus menggerakannya sesuai irama, sampai dirasa Luhan cukup kuat menerima sodokannya barulah Sehun berani melepas ciuman di bibir mereka, dia ingin melihat sendiri bagaimana Luhan saat mendesahkan namanya dan benar saja, Luhan terlalu seksi untuk dilewatkan jika sedang berada dibawahnya.

"Sehun, mmmhh~harder baby, sayanghh~~"

"F*ck, you're so hot baby."

Sehun tak tahan, dinaikkan satu kaki Luhan lalu dia mendorongnya lagi semakin dalam, terkadang Luhan merintih sakit, dia berhenti bergerak sampai istrinya menggoyangkan tubuhnya lagi tanda bahwa dia sudah bisa bergerak.

Terus seperti itu, semakin dalam Sehun menumbukkan penisnya, semakin dahsyat pula ketatnya lubang Luhan didalam sana, rasanya seperti menjemput surga terlebih saat Luhan mendapatkan klimaksnya disusul dirinya yang kini menumpahkan seluruh sperm miliknya di lubang Luhan.

"aaah~/ngghh~"

Keduanya tampak menikmati percintaan siang hari ini, namun sepertinya Sehun enggan melepaskan tautan mereka, karena alih-alih melepas tautan penisnya di lubang Luhan, si lelaki tampan lebih memilih menarik lengan Luhan dan membawanya dalam posisi on top saat ini.

"Lagi?"

Luhan bertanya dibalas seringai kecil Sehun saat berbisik "Hari masih panjang, kita akan menghabiskan waktu dengan bercinta."

Sementara dia berbisik di telinga Luhan, istrinya merona malu dan bersembunyi di tengkuk Sehun, membuat Sehun terkekeh sementara tangannya menuntun Luhan agar naik turun di pangkuannya, keduanya menggeram saat penis Sehun kembali tegang dan membesar didalam sana, Luhan terutama, dia begitu bersemangat merasakan sensasi nikmat saat kedua tubuh mereka menyatu, mengeluarkan bunyi khas saat bercinta dan memutuskan pasrah entah harus berapa lama lagi melayani suaminya yang dipenuhi peluh gairah dan keringat yang membuatnya terlihat semakin seksi saat mencapai klimaks dan menunjukkan betapa Sehun hanya tunduk padanya disaat seperti ini.

"Luhan, baby—ngghh~sayangku."

Dan kalimat itulah yang terus Sehun ucapkan sepanjang hari, memuja istrinya di setiap kesempatan saat mereka bercinta hingga tubuh mungil itu kelelahan dan tak berdaya saat waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.

Sehun bukan monster seks, dia mengambil istrinya secara random, memastikan makanan masuk ke perut Luhan sebelum membujuknya untuk bercinta lagi, terus seperti itu, mengambil Luhan tanpa henti dengan harapan Luhan kelelahan dan tak perlu datang ke persidangan esok hari.

"Sayang…."

Terakhir dia mengambil Luhan dua jam lalu, tepat setelah makan malam mereka menghabiskan dua jam terakhir untuk bercinta, posisi on top tentu saja, Sehun tidak ingin membahayakan bayinya namun tetap ingin merasakan nikmat.

Jadi wajar jika Luhan terlentang tak berdaya dengan tubuhnya yang lengket dipenuhi sperm miliknya, dan bukan tidak ingin memberihkan, Sehun hanya menyukai Luhan disaat polos dan berantakan seperti ini.

Berkali-kali terlihat cantik dan damai, walau entah, apa Luhan akan setenang ini esok pagi.

Drtt….drtt….

Sehun mengambil ponselnya yang tergeletak dilantai, bertanya-tanya siapa yang mengirim pesan sampai nama papanya tertera disana, Sehun menggeser pesan yang dikirim ayahnya dan semakin tak mengerti saat pesan itu tertulis.

Esok semua akan baik-baik saja nak, hanya ini yang bisa papa katakan padamu.

Entah apa yang dimaksud dengan semua akan baik-baik saja sementara tak ada satupun yang bisa mereka lakukan, membuat Sehun refleks menjatuhkan ponselnya untuk merangkak, memeluk tubuh polos istrinya, berdoa agar Luhan baik-baik saja jika tidak ingin dirinya melakukan hal mengerikan pada Donghon esok hari.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan pagi

.

Jika bisa melewati hari ini,mungkin Sehun akan sangat berterimakasih pada Tuhan, namun sayang hal itu tidak akan pernah terjadi dan lihatlah Luhan sudah bersiap dan terlihat begitu tak sabar untuk menghadiri persidangan dari pria yang sudah memberinya banyak penderitaan.

"Sayang, kancingkan kemejamu dengan benar, kita berangkat lima menit lagi."

"hhmmh…"

Sementara Luhan sedang bersiap memilah mantel dan syal yang akan digunakannya, Sehun hanya berada disana, dipinggir tempat tidur yang sejak malam tadi sudah menjadi saksi dari percintaan keduanya hampir sepanjang hari.

"Sehunna."

Sehun berkedip sekilas, tersenyum canggung saat Luhan mendekat hanya untuk menerima tatapan jengkel istrinya "Ada apa?" dia bertanya, dan Luhan menarik cepat lengan suaminya, dia sengaja menginjak kedua kaki Sehun agar tinggi mereka sejajar sementara tangannya digunakan untuk membuka kancing kemeja suaminya, lalu memasukkan kancing tersebut ke lubang yang sesuai.

"Apa yang sedang kau pikirkan? Bahkan mengancingkan baju saja kau salah." Luhan menggerutu dan itu hanya terlihat gemas di mata Sehun, jadilah si lelaki tampan tertawa sementara bibirnya mengecupi bibir yang sedang menggerutu menggemaskan "Biarkan aku salah, dengan begitu kau akan selalu ada untuk membenarkan." Gumamnya lirih seraya melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, menarik semakin dekat si lelaki cantik hingga meniadakan jarak diantara mereka "Ya?" tanyanya.

Sesaat Luhan bingung apa yang sedang dibicarakan Sehun, tapi suaminya terlihat cemas dan itu hanya membuat Luhan bertanya namun tetap menenangkan "Tidak ingat siapa yang terakhir pergi meninggalkan siapa? Aku tidak bisa lagi meninggalkanmu, jadi ya, kau boleh melakukan banyak kesalahan karena aku akan selalu ada disana untuk membenarkan."

Mendengar jawaban Luhan membuat Sehun luar biasa bahagia, dia pun tak bisa menahan diri untuk mengecup sayang bibir istrinya, dibalas kecupan lembut dari Luhan keduanya kini sudah kembali merasakan hangat saat lidah mereka bertautan mesra.

Sehun terus menuntut lebih, tapi Luhan membatasi dengan menjauhkan wajahnya hingga raut kecewa dan terengah yang selalu terlihat seksi di matanya terlihat "Nanti, setelah persidangan Donghon kita bisa melakukannya lagi."

"Sebentar saja."

Sehun menuntut tapi Luhan tahu kondisinya setelah bercinta saat mengandung adalah yang paling mengerikan untuknya, dia akan sangat kelelahan dan berakhir tidur untuk waktu yang cukup lama hanya untuk mengembalikan staminanya yang terkuras habis.

"Sehun…!"

Bahkan setelah malam tadi menghabiskan waktu bercinta tetap tak cukup untuk si bayi besar, membuat Luhan harus membujuk sekuat tenaga agar Sehun mengerti dan menunda kegiatan mereka setidaknya sampai perkara Donghon selesai disidangkan.

Kini dia mendorong sedikit tubuh Sehun, menyesal menatap suaminya seraya menggigit lucu bibir yang terus dikecupi Sehun tanpa henti "mmh…Bukan aku menolak, tapi bisakah kau menahan diri?" tanyanya, lalu membujuk suaminya dengan mata berkedip lucu dan kedua tangan disatukan "kumohon."

Jadilah Sehun mengerang frustasi, tujuannya mengajak istrinya bercinta lagi adalah agar Luhan kelelahan dan kehabisan staminanya pagi ini, agar Luhan tidak perlu datang ke tempat sialan itu dan hanya beristirahat dengan bayinya.

Namun rupanya semua tujuan itu dipatahkan hanya dengan kalimat kumohon, yang disuarakan ibu dari anak-anaknya, membuat Sehun terlihat putus asa namun tetap mengangguk sebagai jawaban "Baikah, aku akan menahan diri."

"yey! Kalau begitu ayo berangkat, kita sudah terlambat setengah jam dari jadwal."

"mmhh…Ayo."

Sehun menerima uluran tangan istrinya, digenggam kuat tangan yang begitu mungil di genggamannya hanya untuk menghadapi entah apa yang akan tejadi di persidangan nanti.

.

.

.

.

.

.

.

.

BLAM!

Terburu-buru Luhan dan Sehun bergegas keluar dari mobil mereka, tujuan mereka saat ini ruang nomor tiga yang berada dibelakang ruang utama, Baekhyun menunggu kedatangan mereka dan merasa lega karena keduanya belum terlambat untuk masuk kedalam.

"Sebenarnya kemana kalian pergi malam tadi?"

Baekhyun terlihat kesal dan segera menarik lengan Luhan untuk berjalan mendului Sehun "Sehun dan aku-…."

"Aku tidak ingin dengar saat ini, mereka sudah memulainya."

"Lalu bagaimana? Apa harapan kita besar?"

Baekhyun berhenti melangkah, membuat Luhan bertanya sementara Sehun bisa menebak apapun yang terjadi di dalam sana saat ini, pastilah bukan hal yang menguntungkan mereka.

"entahlah Lu, aku rasa kau harus bersiap lagi."

Klik…!

Perlahan Baekhyun membukakan pintu masuk ke ruang persidangan, dan entah mengapa dibandingkan dengan Doojoon, suasana kali ini begitu mencekam dan sulit membuatnya bernafas, ketakutan itu refleks membuat Luhan mencari sosok suaminya, meminta Sehun memeluknya dan Sehun melakukannya dengan cepat walau dirinya juga merasakan hal yang sama, sesak dan mencekam.

"Keberatan Yang mulia, semua yang dituduhkan jaksa penuntut umum tidak terbukti, terutama mengenai jual-beli anak dibawah umur yang tak terbukti kebenarannya."

Bahkan Taeyong adalah bukti nyata bahwa tempat mengerikan itu ada, lalu pengacara Donghon mengatakan keberatan sementara bukti nyata itu ada di depan mereka, membuat tangan Luhan seketika terkepal sampai Sehun berbisik "Tenanglah sayang, mereka masih memulainya."

Suaranya getir, tapi tidak seperti Luhan, Sehun bisa menyembunyikan rasa marah walau keinginan untuk menghabisi bajingan yang terlihat begitu senang dipenuhi seringai kemenangan di wajah menjijikannya.

"Ayo duduk."

Luhan mengikuti apa yang dikatakan Sehun, mereka duduk di barisan kedua tempat dimana seluruh keluarga mereka ikut menyaksikan persidangan Donghon hari ini "Lu."

"Benarkah? Kalau begitu izinkan saya memanggil saksi pertama Yang mulia."

"Silakan."

"Lee Taeyong."

Bersamaan dengan Luhan yang mengambil tempat disamping Kyungsoo, jaksa penuntut umum yang diketahuinya bernama Kim Haneul memanggil Taeyong disana, membuat mata Luhan membulat terkejut karena tak mengetahui bahwa Taeyong akan menjadi saksi di persidangan ini.

"Apa yang dilakukan Taeyong?"

Luhan bertanya, dibalas tepukan lembut di pundaknya, Luhan menoleh dan mendapati Jaehyun berbisik "Tak hanya dirimu hyung, Taeyong juga akan melakukan segala cara agar pria tua itu dihukum, dia hanya memberi kesaksian."

Jadilah Luhan mencoba mengerti, dia membiarkan Taeyong berdiri disana sebagai saksi sementara jaksa muda itu mulai memberikan pertanyaan "Nama anda."

"Lee Taeyong."

"Bagaimana anda mengenal Ko Donghon?"

Sepertinya Taeyong sudah kehilangan rasa hormat dan takutnya, karena saat jaksa bertanya raut wajahnya terlihat sangat tenang tanpa rasa takut sedikitpun saat matanya bertatapan dengan mata Donghon "Dulu aku pernah bekerja dengannya, tidak, lebih tepatnya aku adalah salah satu dari sekumpulan anak yang dibesarkan secara tak layak."

"Bisa anda jelaskan maksud ucapan anda?"

"Daejeon, district 8"

"Ya?"

"Tempat dimana mereka membawa anak-anak itu adalah Daejeon."

Jaksa Kim segera mencatat tempat yang diberitahukan Taeyong untuk meminta hakim memeriksa tempat tersebut "Saya meminta kepolisian Daejeon untuk memeriksa district 8."

Hakim mengangguk, mengizinkan seraya berkata "Lima menit."

Jaksa Kim kemudian merespon cepat izin dari hakim, dia meminta asisten untuk mencaritahu namun hanya direspon senyum menjijikan Donghon yang terlihat begitu santai.

"Bagaimana jaksa Kim?"

Saat hakim bertanya, Luhan sedang berharap ada kabar baik menyertai, namun sayang dari raut wajahnya hanya menunjukkan bahwa sesuatu yang buruk terjadi dan benar saja jaksa Kim menggeleng "District 8 clean."

"yeah!"

"tidak—TEMPAT ITU ADA! TEMPAT ITU TAK PERNAH BERSIH!"

Jelas Taeyong menunjukkan raut terkejutnya, dia sangat meyakini bahwa hampir lima belas tahun berlalu, markas tempatnya dibawa paksa, dibesarkan dan diajarkan membunuh berada di Daejeon, lalu jaksa Kim mengatakan tempat itu bersih hanya membawa emosinya meluap dan nyaris membuat keributan jika sang jaksa tidak memberi peringatan.

"Saksi Lee, anda boleh meninggalkan tempat."

"Aku bersumpah tempat itu ada!"

Buru-buru Jaehyun berlari, menunggu di sisi kanan tempat dia bisa menjemput kekasihnya sementara Jaksa Kim mulai terlihat ragu seperti bertanya-tanya sejauh apa Donghon "Membersihkan" dirinya.

"Yang mulia, saya rasa Jaksa Kim terlalu memojokkan client saya, karena sejauh yang bisa saya katakan saudara Ko Donghon hanya terlibat kecelakaan kecil pada malam tanggal 02 April satu bulan yang lalu."

"bajingan…"

Luhan sudah berekasi dengan emosinya, membuat Sehun refleks menggenggam kuat tangan yang sudah berkeringat milik istrinya sementara bibirnya terus berbisik "Tenang sayang, aku janji semua akan sesuai dengan hukum."

"Tapi….."

Sehun menggenggam tangannya semakin erat, terlalu erat sebelum menoleh mantap menatap istrinya "Aku janji."

Entah janji apa yang dimaksud Sehun tapi rasanya Luhan bisa memegang janji suaminya hingga membuatnya sedikit lebih tenang walau rasanya luar bisa gundah melihat jalannya persidangan seperti sudah sangat direncanakan.

"Apa anda masih memiliki sesuatu untuk dikatakan Jaksa Kim?"

Kembali ke tengah persidangan, sepertinya posisi jaksa Kim benar-benar terdesak dan kehabisan waktu, setiap yang menjadi tuntutannya dan apapun yang dituduhkannya akan mudah dipatahkan dalam hitungan detik oleh tim yang membela Donghon.

"Dua puluh tahun lalu, pembunuhan atas pemilik yayasan sekaligus perdana menteri Jepang menjabat, Ai Watanabe, dilakukan oleh saudara Ko dengan cara menikam sebanyak delapan tusukan di bagian vital namun dilaporkan sebagai serangan jantung di Beijing hospital saat itu."

"Keberatan Yang mulia, kasus perdana menteri Watanabe sudah expired, kami tidak membaca di daftar tuntutan dari jaksa penuntut umum."

"Anda salah Pengacara Han, itu terdaftar di tuntutan ketiga mengenai "pemalsuan identitas dan kematian beberapa pejabat serta petinggi serta agen rahasia tiga negara, Seoul, Beijing dan Jepang." Aku yakin menulisnya disana."

Sang pengacara membaca ulang daftar tuntutan sang jaksa yang terkenal mematikan karena belum pernah kalah dalam persidangan sejak pertama dirinya membawakan kasuk "Lalu apa bukti yang anda miliki?"

"Bukan bukti, tapi saksi." Jaksa Kim memberitahu sebelum beralih pada sang hakim "Izinkan saya memanggil saksi kedua Yang mulia."

"Diizinkan."

Tak lama Jaksa Kim terlihat berlajan ke ruang tunggu persidangan, entah apa yang dilakukan tapi saat dirinya kembali masuk dia memapah seseorang yang sukses membuat tak hanya Sehun dan Jaehyun, tapi Luhan memekik terkejut melihat siapa yang akan bersaksi melawan Donghon saat ini.

"Papa?"

Terdengar Sehun bergumam, dilihat dari reaksi wajahya dia juga tidak menyangka bahwa ayah kandungnya akan berada disana, memang bukan sebagai jaksa yang melawan tapi seperti menjelaskan pesan yang dikirimkannya pada Sehun malam tadi

Semua akan baik-baik saja

Maka untuk sejenak Sehun seperti bisa merasa begitu dilindungi dengan kesaksian yang coba diberikan ayahnya.

"Keberatan yang mulia, mantan Jaksa Oh Insung tidak bisa dijadikan saksi mengingat kondisi dan status hukumnya menangani klien kami adalah pending."

Hakim memikirkan ucapan pengacara yang membela Donghon untuk menggeleng sebagai jawaban "Keberatan ditolak, Jaksa Kim anda bisa melanjutkan kesaksian yang akan diberikan."

"Terimakasih Yang mulia."

Insung memang masih kesulitan berjalan tanpa bantuan, tapi saat dirinya duduk sebagai saksi didepan hakim, rasanya Sehun bisa melihat punggung tegap itu sedang menjalankan tugasnya sebagai seorang jaksa dan seorang ayah, hal yang tidak bisa dilakukan Sehun tapi akan selalu diberikan sempurna oleh ayahnya.

"Hakim yang agung, biar saya jelaskan alasan mengapa mantan Jaksa seperti Jaksa Oh sayang jadikan saksi pagi ini."

"Silakan."

Kini Sehun juga bisa melihat ketulusan dari jaksa penuntut umum yang membantu ayahnya masuk kedalam persidangan, dan seperti apa yang dikatakan Myungsoo maka benar mereka masih memiliki 10% tersisa untuk memenangkan kasus sialan ini.

"Sayang."

Luhan menggenggam erat tangannya, membuat Sehun tersenyum dan kini mendekap erat istrinya yang terlihat sangat berharap "Papa disana."

"aku tahu, Aku harap semua sesuai dengan apa yang seharusnya."

Luhan mengangguk sementara Jaksa Kim mulai menjelaskan hal-hal yang sebenarnya menyimpang mengingat status ayah Sehun masih terdaftar sebagai jaksa non-aktif di kantor pusat kejaksaan Seoul.

"Pertama, Jaksa Oh adalah jaksa yang menangani kasus Ko Donghon dua puluh tahun yang lalu."

"Keberatan yang mulia, berkas kasus hukum Ko Donghon dua puluh tahun lalu sudah kadaluarsa seperti yang saya sampaikan sebelumnya."

Kali ini hakim sependapat untuk mengatakan "Keberatan diterima, Jaksa Kim sebaiknya anda mengganti fokus dari kesaksian hari ini."

Jaksa Kim mengangguk seraya melanjutkan apa yang belum selesai disampaikan "Sepertinya saya belum selesai yang mulia, kenyataannya kasus dua puluh tahun lalu secara tidak sengaja atau sialnya sengaja kembali dibawa dan di-up langsung oleh terdakwa."

"Bisa jelaskan?"

"Tentu yang mulia."

Luhan bisa melihat sedikit raut cemas dari wajah bajingan yang sedari tadi menyeringai penuh kemenangan, membuatnya seperti memiliki harapan terlebih saat Jaksa Kim mantap bertanya pada ayah mertuanya.

"Menurut kasus yang aku pelajari dari tuntutan Jaksa Oh sebelumnya, disini tertulis bahwa saudara Ko Donghon berhasil membayar beberapa pihak kejaksaan untuk memasukkan pengacara Kim Won-Sik yang gagal mengikuti ujian negara sebagai salah satu pengacara ternama yang bekerja dibawah perintahnya, anda bisa melihat berkas yang dikumpulkan Yang mulia."

Jaksa Kim memberikan berkas tentang Ravi kepada Hakim, dibaca seksama oleh sang hakim sampai pengacara yang diketahui Luhan bernama Yang Seonghon kembali mengajukan keberatan "Keberatan yang mulia, Pengacara Kim sudah lama tiada dan itu tidak bisa dijadikan sebagai pertimbangan."

"Keberatan ditolak."

Hakim Lee menyatakan keberatannya dan mulai mempelajari berkas yang diberikan "Silakan melanjutkan Jaksa Kim."

"Terimakasih Yang mulia, langsung saja inti dari kasus dua puluh tahun ini berlanjut adalah karena dua puluh tahun yang lalu saudara Ko Donghon berusaha untuk membunuh detektif yang mengetahui brankas kotor milik Ko Donghon yang berasal dari tiga negara Hongkong, Beijing dan Seoul, namun tak berhasil dilakukan saat itu."

"Detektif?"

Luhan sudah tahu siapa yang sedang dibicarakan, jadi ketika Jaksa Kim mengatakan "Detektif Xi Chen." Yang adalah mendiang ayahnya, membuat air mata Luhan begitu saja jatuh karena kerinduan itu benar-benar tak bisa lagi disembunyikannya.

"Tidak apa sayang, aku juga rindu papa."

Sehun mencoba menguatkannya namun seluruh suaranya juga terdengar lirih dan itu hanya menambah sesak di dada Luhan membayangkan entah apa yang coba ditanggung suaminya seorang diri "tenanglah…" Luhan berbisik, Sehun mengangguk, keduanya pun coba mendengarkan apa yang akan dijabarkan Jaksa Kim sampai jaksa muda itu melanjutkan.

"Detektif Xi kembali membuka kasus lama untuk menemukan bahwa Donghon masih melanjutkan bisnis yang melibatkan keuangan negara secara kotor."

"Lalu?"

"Yang terjadi adalah Jaksa Oh dan Detektif Xi memiliki rencana untuk memancing Donghon keluar dari tempat persembunyiannya."

"Apa yang dilakukan?"

"Kita bisa mendengarnya langsung dari Jaksa Oh."

Kali ini Insung diberikan kesempatan untuk berbicara, awalnya dia hanya terus menatap penuh kebencian pada Donghon, namun disaat dirinya memberi kesaksian dia mencoba untuk melakukannya dengan benar, berharap kesaksiannya bisa sedikit membuat pembunuh disampingnya membayar hukuman.

"Apa yang anda dan mendiang Detektif Xi lakukan untuk memancing terdakwa dan membuatnya keluar dari tempat persembunyian."

"C-Chen dan aku." Ujarnya terbata, mengepal kedua tangannya seraya melanjutkan "K-Kami membuat rencana agar Chen mendekam di penjara, memancing Donghon yang akan mencarinya bahkan di penjara sekalipun."

"Apa itu berhasil?"

Sendu, Insung menggeleng penuh penyesalan "Tidak."

"Apa yang terjadi?"

Mengingat semua kejadian mengerikan itu, Insung dan Luhan sama-sama merasa sesak terlebih saat kenyataan itu diungkapkan "Diluar dugaan, Donghon tidak datang dengan kedua tangannya sendiri tapi menggunakan pengacara Kim untuk membawa bencana malam itu."

"Apa yang dia lakukan?"

"Seseorang bernama Choi Seunghyun datang mengunjungi Chen malam itu."

"Choi Seunghyun?"

Tangan Luhan terkepal erat sementara Insung sendu mengatakan "Salah satu pria yang dianggap sebagai keluarga oleh Chen, sialnya, dia adalah salah satu tangan kanan Donghon yang datang berkhianat."

"Bagaimana bisa dia mengunjungi di malam hari."

"Pengacara Kim melakukan hacked pada sistem keamanan, membuatnya masuk dengan mudah dan membunuh Detektif Xi bersamaan dengan Yoon Doojoon yang menyerang dokter Xi malam itu."

"rrgghh…."

Selalu seperti ini, setiap persidangan yang dilakukan Donghon dan Doojoon akan membawa mendiang kedua orang tuanya, hal itu benar-benar sulit untuk diterima Luhan hingga sesak dirasakan jika Sehun tidak terus menguatkannya "Luhan…"

"Apa Jaksa Oh memiliki bukti?"

Pengacara Yang bertanya dibalas Jaksa Kim yang mengatakan "Bagaimana bisa ada bukti jika orangmu yang mengendalikan situasi, bukankah itu lucu?"

Merasa bisa menyerang Jaksa Kim, pengacara Yang langsung mengajukan keberatannya "Yang mulia sepertinya anda mengerti maksud yang coba saya sampaikan."

Hakim Lee mengangguk, lalu menegaskan pada Jaksa Kim "Sebaiknya anda mulai mengumpulkan bukti jika ingin persidangan ini berjalan lancar Jaksa Kim."

Tak mau kalah Jaksa Kim mengatakan "Saya memiliki bukti, pertama dokumen palsu pengacara Kim yang menyelinap dengan mudah ke kantor kejaksaan pusat, kedua Ko Donghon melakukan pencucian uang dan meletakkannya di brankas pribadi yang berhasil dipecahkan Jaksa Oh sebelum kebakaran yang membuat Jaksa Oh terpaksa mengalami luka yang serius."

"Buktikan."

Baik Jaksa Kim dan Insung mengangguk, mengeluarkan berkas yang dikumpulkan Insung selama masa penyelidikannya untuk memberitahu "Gangnam bank account, code access 1113366, ketika terbuka akan menunjukkan daftar pencucian uang yang masuk langsung ke rekening Ko Donghon."

Dan seperti tidak merasa takut, Donghon kembali menujukkan seringai sementara pengacaranya menantang "Bisa anda buktikan saat ini juga Jaksa Kim?"

Ragu sesaat, pihak dari Jaksa Kim melakukan pencarian, ditemani dari pihak kejaksaan sampai suara "Yang mulia, pemilik rekening terdaftar atas nama Yoon Doojoon, bukan Ko Donghon."

"TIDAK MUNGKIN!"

Insung terpancing emosinya, berteriak tidak terima karena penyelidikannya juga memakan waktu yang cukup lama dan tidak mungkin meleset.

"Tenang."

Hakim sudah memperingatkan, membuat Jaksa Kim terpaksa menenangkan saksinya dan berbisik mengenai sesuatu sampai Insung terlihat mengangguk dan bersedia meninggalkan ruang persidangan dengan tenang.

"Baiklah Yang mulia hakim mengingat seluruh bukti yang diberikan Jaksa Kim tidak sepenuhnya sesuai, saya mengajukan banding atas tuntutan jaksa penuntut mengenai masa hukuman seumur hidup dengan tiga tahun penjara, dua kali lipat lebih ringan dari tuntutan jaksa."

Beberapa asisten hakim terlihat berbisik, Sehun melihatnya seperti beberapa diantara mereka memaksa dan yang lain mendukung, hal ini membuatnya gugup dan itu tertangkap penglihatan Luhan "Ada apa?"

"huh?"

"Kau terlihat gugup sayang."

Baru Sehun ingin memberi alasan, tapi suara hakim terdengar menyetujui pengurangan hukuman untuk Donghon hingga membuat wajah tegang Luhan terlihat dipenuhi kemarahan

"Akan dipertimbangkan."

"Mwo? apa yang terjadi?"

Dia bertanya dan Sehun segera memeluk Luhan menenangkan istrinya, dia juga terlihat sangat tegang, takut jika pada akhirnya kemenangan Donghon sudah didepan mata.

"Sehun kenapa Jaksa Kim hanya diam?"

Kelihatannya memang Jaksa Kim sudah tidak memiliki lagi hal yang bisa digunakannya untuk melawan Donghon, terlihat dari caranya yang hanya duduk diam seperti memikirkan sesuatu tanpa lagi membacakan tuntutan terhadap Donghon.

"Jaksa Kim apa anda masih memiliki saksi atau bukti yang bisa dipertanggungjawabkan?"

Mengangguk resah, Jaksa Kim tidak menjawab apapun, itu seperti memberi kesempatan pada hakim untuk membacakan putusan lain dan secara refleks pula membuat tangan Sehun terkepal seolah mantap menghabisi Donghon dengan caranya sendiri

"Mempertimbangkan permintaan banding dari Pengacara Kim, kami memutuskan untuk memberikan banding sesuai dengan permintaan-….."

Barulah saat Hakim hampir selesai membacakan putusannya, Jaksa Kim berdiri dari tempatnya, dia terlihat berbisik dengan beberapa saksi hakim lalu diberi anggukan persetujuan untuk meminta izin langsung pada hakim.

"Yang mulia, izinkan saya membawa saksi dari salah seorang tahanan di penjara Seoul."

Sepertinya Donghon tahu siapa yang dimaksud Jaksa Kim, membuatnya segera berbisik pada pengacaranya, dibalas suara sang pengacara yang mengatakan "Keberatan yang mulia, kita tidak bisa mempercayai ucapan seorang tahanan."

Jaksa Kim mengelak "Tahahan yang akan menjadi saksi adalah kaki tangan langsung Ko Donghon, saya bisa memastikan bahwa semuanya akan berjalan sesuai peraturan Yang mulia."

Tampak terlibat percakapan serius, hakim bertanya pada kedua rekan di samping kanan dan kiri sampai membuat keputusan tersendiri "Keberatan ditolak, anda bisa memanggil saksi terakhir anda Jaksa Kim. Siapa yang akan anda panggi?"

Merasa bisa sedikit bernafas, Jaksa Kim memanggil "Yoon Doojoon." Sebagai saksi terakhir direspon terkejut oleh Luhan dan ketakutan itu nyata di wajah Donghon "Kepada Yoon Doojoon kau bisa memasuki ruang persidangan."

Tiga hari yang lalu Doojoon berada di tempat yang sama dengan Donghon, yang membedakan tak ada pengacara yang menemaninya, dia menerima segala putusan tanpa mengelak lalu mendapatkan 10 tahun sebagai hukuman yang harus diterimanya.

Semua terasa kurang adil untuk Luhan, tapi hari ini dia berada di kursi sebagai saksi yang berada di pihak Jaksa Kim, membuat genggaman tangan Luhan di tangan Sehun mencengkram erat, takut jika yang diharapkan Jaksa Kim tidak sesuai dengan apa yang direncakan.

"Sehun…"

"Berdoalah agar dia benar-benar ada disisimu kali ini."

Luhan mengangguk, berharap sangat cemas sementara dia bisa melihat Taeyong begitu emosional saat berada di jarak yang dekat dengan Doojoon tak jauh dari posisinya.

"apa yang terjadi?"

Sepertinya Doojoon menghindari Taeyong, berpura-pura tidak mendengar sampai Jaksa Kim mengajukan pertanyaan pertamanya pada Doojoon "Jadi apa yang bisa anda berikan di persidangan ini?"

"Jaksa Kim, apa saksi kali ini bisa dipercaya?"

Hakim bertanya dan Jaksa Kim menjelaskan "Saya mengunjunginya kemarin di sel penjara, mencari tahu sebanyak apa Tahanan Yoon berkaitan dengan terdakwa sampai saudara Yoon mengajukan diri sebagai saksi, memastikan akan memberikan kesaksian dengan jujur dan menjelaskan sebanyak apa dirinya dan terdakwa berkaitan yang mulia."

"Baiklah, lanjutkan."

Jaksa Kim membungkuk, kembali beralih pada Doojoon dan bertanya "Jadi apa yang bisa anda jelaskan?"

"Tentang seberapa banyak saya berkaitan dengan terdakwa?" katanya melirik Donghon yang terlihat panik, lalu menyeringai sebagai gantinya "Jawabannya aku tahu segala hal tentang terdakwa."

"Dan kenapa anda berbicara sangat yakin seperti itu?"

"Karena jika Choi Seunghyun adalah tangan kanan terdakwa, maka aku adalah matanya, aku jantungnya, dan aku tahu cara membuatnya bertahan hidup atau membuatnya—wush~ Mati seketika."

"Bajingan…."Terlihat Donghon menggeram sementara Doojoon menatap mantap Jaksa Kim untuk meminta "Bisa berikan aku pena dan kertas?"

Jaksa Kim meminta persetujuan hakim lebih dulu, hakim mengangguk, dan segera kertas dan pena diberikan pada Doojoon.

"Apa yang anda lakukan?"

"Mengenai tempatnya menculik dan membesarkan anak terlantar dengan tak layak bukan berada di Daejeon, tapi disini-…."

Sebuah gambaran peta ditunjukkan Doojoon pada Jaksa Kim, denah itu menunjukkan Seoul, district 4, yang mana membuat Jaksa Kim meminta persetujuan Hakim untuk memeriksa, awalnya Hakim menolak, tapi saat Donghon berteriak "TEMPAT ITU TAK ADA!" hanya membuat Hakim curiga dan mengizinkan penyelidikan.

"Lakukan."

Mereka menunggu sampai sepuluh menit, lalu asisten Jaksa Kim terlihat berlari mendekati kursi tim penuntut untuk mendengar jawaban "Yang mulia, pihak kepolisian sedang bergegas ke tempat yang disebutkan saudara Yoon, dan menurut kesaksian warga sekitar tempat itu memang dipenuhi pencuri berusia dibawah 12 tahun."

Hakim terlihat mencatat laporan Jaksa Kim, lalu tak lama menerima panggilang dari kepolisian Seoul dan terlihat mengangguk untuk mencatat lebih banyak di kertas yang akan menentukan nasib Donghon.

"Satu lagi Jaksa Kim."

"Ya?"

"1113366 bukanlah code access yang benar."

"Apa maksudmu?"

Terlihat Doojoon menuliskan sesuatu, lalu menyebutkan satu persatu angka "2" yang mana membuat Donghon merespon dengan memanggil dingin namanya "Yoon Doojoon."

"8 3 5." Dia berhenti sesaat lalu sengaja menyeringai untuk menyebutkan tiga angka terakhir kode akses milik Donghon.

"5"

"Yoon Doojon!"

"3"

"Bajingan…"

Merobek bagian atas kertasnya, Doojoon menunjukkan kepada hakim dan Jaksa angka yang sedang disebutkannya lalu mengatakan "8." Disertai teriakan geram Donghon yang terpancing berteriak.

"YOON DOOJOON!"

"Direktur Ko tenanglah."

" 8"

Sementara pengacara Donghon mulai terlihat panik, Jaksa Kim bergegas memasukkan kode akses yang diberikan Doojoon untuk menekan enter dan terlihatlah semua transaksi yang sengaja dibuat berstatus hide oleh Donghon.

"Yang mulia…."

Hakim Lee mengangguk, meminta asistennya untuk mempelajari hasil dan bukti keluar-masuk di rekening dengan nama Ko Donghon didalamnya.

"Ada lagi yang ingin anda sampaikan?"

Doojoon meletakkan penanya, kini dia menggeleng dan mengerling dua petugas polisi yang sudah siap menunggunya untuk mengatakan "Aku rasa dengan kode akses itu kalian akan menemukan segalanya, cukup denganku saat ini."

Jaksa Kim mengangguk, membiarkan polisi memborgol tangan Doojon dan membawanya pergi, matanya bertemu dengan mata Donghon yang memberi tatapan membunuh padanya dibalas seringai keji Doojoon yang tampaknya masih ingin berbicara.

"ah, Satu lagi yang mulia."

Rupanya dia benar-benar belum berhenti menghancurkan Donghon, terbukti dari caranya membungkuk hormat untuk mengatakan "Tidak perlu video bukti untuk menunjukkan bahwa Ko Donghon adalah dalang dibalik kematian Detektif Xi."

"Apa maksud anda?"

Sempat tertunduk beberapa detik, Doojoon mengangguk, lalu mengatakan "Malam itu Donghon memberi perintah untukku dan Seunghyun, dimana Seunghyun menghabisi Detektif Xi sementara aku-…." Katanya terbata lalu mengangkat wajah untuk mengakui "Sementara aku membunuh Dokter Xi."

"Itu tuduhan yang serius, apa anda mempunyai bukti?"

Dia mengerling pada Taeyong, lalu mengatakan "Loker nomor 9 Seoul Hospital, aku meletakkan segalanya disana, anda bisa memeriksanya setelah mempertimbangkan kesaksianku, terimakasih."

Setelahnya Doojoon kembali dibawa pergi oleh dua polisi, meninggalkan ruang persidangan yang dipenuhi oleh keluarga korban Donghon yang tak berdaya seperti Luhan sementara lelaki cantik yang tiga bulan lagi akan segera melahirkan putra kembarnya terisak disana, di pelukan suaminya bersamaan dengan keputusan hakim yang terdengar.

"Mempertimbangkan bukti dari saudara Lee Taeyong, Jaksa Oh Insung dan tahanan 1627, Yoon Doojoon, dan dengan atau tanpa bukti terakhir yang disebutkan saudara Yoon, kejaksaan memutuskan hukuman SEUMUR HIDUP untuk terdakwa Ko Donghon."

Luhan bisa merasakan keadilan saat ini, saat dimana dia mendengar teriakan tak terima dari Donghon yang mengumpat karena seluruh tim pengacara dan pembelanya hanya diam sementara ketukan palu Hakim Lee terdengar sangat indah di telinga Luhan tanda persidangan berakhir dan Donghon dihukum seumur hidup sebagai ganjarannya.

"Kita berhasil sayang, kita berhasil."

Dan disaat semua orang yang pernah menjadi korban kekejian Donghon sedang merayakan kemenangan atas putusan seumur hidup yang dijatuhkan hakim kepada bajingan itu, Luhan diam, dia hanya terlalu lega hingga rasanya sulit untuk berekspresi, semua terasa seperti mimpi, terlalu membahagiakan hanya karena hakim mengatakan "Seumur hidup." Beberapa saat yang lalu, ah, mungkin jika tidak ada bayi didalam perutnya dia akan melakukan hal yang sama dengan salah satu keluarga korban, mengutuknya dan berteriak, tapi urung dilakukan Luhan walau dirinya juga merupakan salah satu korban dari kejahatan Donghon yang memperoleh kemenangan hari ini "haah~ Aku harap kalian bisa beristirahat dengang tenang, Ma, Pa…." lirihnya pilu namun dipenuhi rasa lega dihatinya..

Dia juga bisa melihat beberapa dari keluarga korban yang datang hari ini ke persidangan Donghon terisak bahagia dipenuhi rasa syukur, semua, tak terkecuali Taeyong yang sedang terisak memohon izin untuk bertemu dengan Doojoon untuk merayakan kemenangan mereka, ya, mungkin cerita berbeda jika Doojoon bukan tersangka, tapi sayang pembunuh ibunya tetap harus menjalani hukuman yang membuat Taeyong tak dapat menemuinya karena Doojoon akan segera kembali dibawa ke sel penjara.

Luhan bisa melihat keduanya hanya bisa melempar pandang rindu sampai akhirnya petugas tidak memberikan izin dan Taeyong berakhir terlihat sangat menyedihkan melihat Doojoon begitu saja dibawa pergi menjauh darinya.

Mau bagaimanapun Taeyong juga korban dari semua kejahatan ini, dirinya diculik sejak kecil, dijadikan alat membunuh oleh Donghon namun beruntung Doojoon melindunginya, jadi wajar jika Taeyong terlihat sangat ingin bertemu dengan pelindungnya, melepas sedikit rindu hanya untuk memastikan Doojoon baik di dalam sana.

"Sayang, kita pulang."

Lalu suara suaminya terdengar, dia juga tergoda dengan kalimat pulang yang ditawarkan, namun rasanya salah jika dia pergi begitu saja tanpa mengucapkan terimakasih pada setiap orang yang memberikan kesaksian melawan Donghon, dia bisa berterimakasih pada ayah mertuanya dan Taeyong nanti dirumah, tapi Doojoon? Dia tidak memiliki banyak kesempatan karena jarak mereka terlalu jauh.

Jadilah di dalam genggaman tangan Sehun, Luhan sedikit menahan suaminya, membuat si lelaki tampan bertanya-tanya namun dibalas lirih oleh Luhan "Aku ingin bertemu dengan Doojoon."

.

.

.

.

.

.

Dan disinilah Luhan di ruang kunjungan tahanan penjaran nasional Seoul, seorang diri tak ada yang menemani, tanpa Sehun, juga tanpa teman-temannya, hanya dirinya karena memang itu yang dirinya inginkan, meyakinkan Sehun agar mengizinkannya dan sang suami dengan berat hati mengatakan ya, hanya untuk membiarkan dirinya menunggu seorang diri di dalam ruang tunggu.

"Waktumu sepuluh menit."

Tampak terdengar suara seseorang memberitahu orang yang dibawanya, disitu Luhan bisa mendengar kalimat "ya." Dengan suara berat khas milik seorang professor yang dikenalnya.

Pintu penghalang pun terbuka, Luhan siap menyambut tapi tidak dengan Doojoon yang terlihat memucat, mata mereka bertemu tapi Doojoon terus berkedip seolah sosok yang sedang berdiri di hadapannya hanya ilusi dan tak pernah menjadi nyata.

"Ini aku."

Luhan membuka suara, sontak hal itu membuat Doojoon sekuat tenaga menyembunyikan kedua tangannya yang diborgol karena malu, sepertinya dia tak tahan berada di ruangan sempit ini hanya berdua dengan Luhan, membuatnya sekuat tenaga meminta untuk dibawa pergi sampai Luhan memanggilnya.

"Bicaralah denganku, hyung."

Barulah Doojoon berhenti terlihat resah, dia kembali menatap Luhan, kali ini sudah lebih tenang walau tetap tak ada suara yang dikeluarkannya.

"Kau sudah membuang waktu sekitar dua menit, duduklah, kumohon."

Permohonan Luhan berbuah hasil, kini Doojoon datang mendekat kearahnya, dia juga sudah menarik kursi hingga kini mereka berdua berhadapan, sesak dan sesal, hal itu dirasakan keduanya saat mereka bertemu.

Luhan masih merasa begitu sesak setiap kali mengingat apa yang dilakukan Doojoon pada ibunya, pada hidupnya, pada kepercayaannya. Semua itu cukup membuat emosi Luhan sesaat meluap jika dua bayinya tidak mengingatkan untuk tenang karena berbeda darinya, penyesalan sangat terlihat diwajah Doojoon hingga pria angkuh dan tegas itu sama sekali tak berani menatapnya lagi dan hanya menundukkan wajah.

"Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku datang disaat seharusnya aku mengutuk, membenci bahkan menghabisi bajingan sepertimu, bukan?"

Hening…

Disana, di tempat yang tak terlihat Luhan, Doojoon sedang mencabik kencang kedua tangannya dibawah meja, terlihat goresan di sekitar pergelangan tangan karena tak sanggup berada hanya berdua dengan pria yang masih begitu dicintainya namun terus dia sakiti dengan keji.

"gomawo."

Tiba-tiba suara menuntut Luhan berubah menjadi sangat lembut, Doojoon juga berhenti mencakar tangannya dan merasa seperti mendengar alunan melodi ketika suara Luhan terdengar sangat menenangkan.

Dia pun perlahan mengangkat wajah, mencari dua manik mata Luhan yang begitu cantik dan bisa melihat sendu, luka namun sedikit rasa bahagia disana, saat matanya menatap mata hitam bulat yang begitu dirindukannya.

"Atas kesaksianmu mengenai Donghon, aku berhutang padamu."

"Aku tidak melakukan apapun."

Barulah Doojoon berbicara, ada sedikit rasa lega dirasakan Luhan karena mau bagaimanapun dia tidak pernah benar-benar bisa membenci Doojon sekalipun bajingan didepannya sudah melakukan banyak hal mengerikan.

"Jelas kau melakukan hal yang benar didalam persidangan tadi, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika dia kembali bebas dengan mudah."

"Kau tidak perlu cemas, aku tidak akan membiarkannya."

"Terimakasih lagi jika seperti itu."

Hening lagi, setelah percakapan singkat tentang apa yang sudah dilakukannya selama persidangan, Doojoon kembali menundukkan kepala, Luhan sepertinya juga tidak tahu harus berkata apa lagi sampai suara berat pria yang merupakan dokter hebat yang dikenalnya terdengar.

"Untuk hal yang telah kulakukan pada ibumu, maafkan aku, aku berjanji akan membayar dosaku."

Sesaat tangan Luhan terkepal erat, karena setiap hal ini diungkit, bayangan wajah ibunya yang kesakitan selalu memenuhi kepala dan pikirannya, dia seorang dokter, yang menyembuhkan dan menghilangkan rasa sakit dari banyak orang asing, tapi saat itu dia benar-benar menyedihkan karena tak bisa melakukan apapun untuk ibunya dan hanya menangis, menyerahkan keselamatan sang mama pada pria yang berakhir membunuhnya di ruang tindakan.

"dengan apa?" Luhan bertanya lirih, sesaat terdengar sangat terluka hingga membuat Doojoon kembali mengangkat wajahnya "Dengan apa kau akan membayar dosamu?" tanyanya, dan Doojoon mantap mengatakan "Nyawaku, kau tidak akan melihatku lagi bahkan setelah sepuluh tahun berlalu."

Luhan tertawa puas tapi air matanya berurai jatuh di kedua matanya, dihapusnya cepat air mata bahagia itu, antara tergoda dan sangat ingin mengatakan YA, KAU HARUS MATI! Walau berakhir terisak pilu disana, tertunduk dalam dan itu membuat hati Doojoon hancur berkeping.

"Luhan? Lu-…."

"JANGAN MEMANGGIL NAMAKU!"

Luhan berteriak, amarahnya sudah di ambang batas dan sangat tergoda untuk memukul pria didepannya, dia terlihat begitu marah dan sulit mengendalikan emosinya sampai tatapannya berkilat menatap Doojoon "jika kau—Jika kau menyesal kau harus hidup, kau harus bernafas dengan penderitaan dan penyesalan di setiap hembusan nafasmu, kau harus bertahan hidup didalam sana, kembali setelah sepuluh tahun dan jangan mati sebelum aku mengijinkan—kau….KAU DENGAR?"

"huh?"

Luhan tertunduk lagi, kali ini sudah lebih tenang sampai dia bergumam "Taeyong…" lalu menatap Doojoon untuk mengalah pada amarahnya dan hanya membiarkan setidaknya remaja itu tahu bahwa pria yang membesarkannya akan baik-baik saja "Bertahanlah untuk Taeyong, dia membutuhkanmu."

Dan bohon jika tidak ada rasa rindu menyelinap masuk kehati Doojoon, rasa yang sudah ditutupnya rapat itu kembali terbuka membayangkan bagaimana kali pertama dia mengangkat Taeyong sebagai adik, membesarkannya dan nyaris menjadikannya seorang pembunuh keji seperti dirinya walau Taeyong terus menolak namun tetap berada disisinya.

"Dia tidak membutuhkan bajingan sepertiku."

"Kau benar, dia tidak membutuhkan bajingan yang nyaris menjadikannya seorang pembunuh juga, dia harusnya hanya hidup denganku dan membiarkanmu mati bukan? Aku ingin sekali dia membencimu, percayalah." Luhan memotong, mengatakan kalimat pahit dan berakhir tertawa lirih saat mengatakan "Tapi sebanyak apapun aku memberikannya tempat perlindungan dan kasih sayang, dia hanya akan terus merindukan pria yang sudah membesarkannya, kau memiliki tempat di hati remaja itu, jadi jangan hancurkan harapannya, kembalilah pada Taeyong karena dia membutuhkanmu."

Doojoon tertunduk lagi, kali ini bahunya bergetar tanda dia sedang terisak, dia lebih memilih mati karena kesalahannya daripada dirindukan seseorang yang bahkan tidak dibesarkannya dengan baik, rasanya begitu sakit seperti jarum sedang menusuk tepat di jantungmu, membuatnya kesulitan bernafas dan hanya diam sementara Luhan terus mengatakan.

"Dia tanggung jawabmu, aku hanya akan membantu menjaganya sampai kau keluar dari penjara." Katanya memberitahu lalu menambahkan sebuah kalimat yang secara tak langsung seperti memberi harapan pada Doojoon "Mendiang mamaku adalah seorang dokter, dia selalu menolong siapapun hingga tetes keringat terakhirnya." Katanya terbata sebelum geram mengatakan "Jadi jika kau menyesal, jadilah berguna didalam sana, tunjukkan jika kau benar seorang dokter bukan seorang pembunuh, bantulah mereka yang membutuhkan dan keluarlah dengan beban dosa di seluruh hidupmu, kau dengar?"

Menatap sangat menyesal pada Luhan, Doojoon mengangguk sebagai persetujuan namun bibirnya terus mengucapkan "Maaf." Yang tidak ditanggapi apapun oleh Luhan "Baiklah, aku rasa kita memiliki perjanjian, aku membiarkanmu hidup hanya untuk Taeyong, jadi jalani hukumanmu dan temui adikmu saat kau bebas nanti."

Luhan mengakhiri perbincangannya dengan Doojoon, meninggalkannya terisak sampai kalimat terakhir "Sampai bertemu sepuluh tahun dari sekarang." Menjadi kalimat penutup sebelum berjalan pergi meninggalkan ruang kunjungan dengan suara isakan berat Doojoon memenuhi ruangan.

"Maafkan aku Luhan—MAAFKAN AKU!"

Mata Luhan terpejam mendengar suara teriakan yang menggema milik Doojoon, hatinya hancur melangkah ke tempat dimana orang-orang yang mencintainya menunggu untuk mendapati wajah Taeyong menatapnya penuh harap.

"hyung…."

Remaja itu terlihat sangat tertekan, dia menangis didepan Luhan dibalas hapusan lembut di wajahnya oleh tangan hangat sang kakak, dia masih menunggu jawaban hingga akhirnya Luhan bersuara "Dia akan segera menemuimu."

"huh?"

"Jadi jangan menangis lagi, kau bisa mengunjunginya mulai sekarang."

"d-Doojoon hyung tidak akan menolak kedatanganku lagi?"

Luhan memeluk Taeyong sekilas, menghapus air mata rindu itu untuk memastikan "Dia akan menemuimu kali ini, kami memiliki perjanjian dan semua itu tentangmu."

"HYUNG!—gomawo hyung!"

Dan saat Taeyong memeluknya erat, Luhan bisa melihat disana, suaminya sedang bersandar di dinding, tangannya terlipat dengan kancing atas kemeja hitamnya terbuka, itu membuat dadanya sedikit terbuka dan Luhan selalu tidak suka jika miliknya dilihat umum secara gratis.

"Jika kau berterimakasih berhenti memasang wajah tertekan, itu menyiksaku melihatmu tidak bahagia denganku."

"hyung…."

Luhan memberi pukulan kecil di kening Taeyong untuk mengerling kekasih si remaja yang tak lain adalah adik iparnya "Jika dia menangis lagi berarti itu salahmu, aku tidak akan membiarkanmu tidur nyenyak Oh Jaehyun."

Jaehyun tertawa menunjukkan lesung di pipinya, dia merasa sangat bersyukur karena Luhan begitu bisa diandalkan hingga membuat pelukan singkat itu terasa begitu hangat pada lelaki cantik yang akan segera melahirkan keponakannya "Aku menerima peringatanmu hyung."

"Bagus."

Setelahnya Luhan menyerahkan Taeyong pada Jaehyun, dan seperti dua remaja itu yang sedang saling melengkapi, maka miliknya juga sudah menunggu, tak menunjukkan ekspresi seperti biasa tapi Luhan bisa merasakan cinta yang begitu dalam hanya dari tatapan tanpa ekspresi milik suaminya.

"Aku tidak tahu lagi harus bagaimana aku memarahimu."

"wae?"

"Aku tidak suka jika kemejamu terlepas."

Luhan kembali mendekat, diraihnya lengan Sehun untuk mengancingkan kemeja yang terbuka, setelah memastikan dada suaminya tak lagi terlihat dia bersandar disana, tanpa dipeluk Sehun hanya menyandarkan keningnya di dada Sehun yang selalu berhasil membawa jenuhnya hilang dengan mudah.

"Aku sudah melakukannya."

Sehun sendiri hanya membiarkan Luhan bersandar didadanya, dia juga tak melingkarkan tangan dan hanya meminjamkan dadanya untuk tempat beristirahat sejenak, membiarkan Luhan merasa lebih baik sementara diam-diam dia bergumam.

"Aku tahu."

"Beri aku hadiah."

Barulah Sehun melingkarkan kedua tangannya ke tubuh yang lebih kecil, mendekap tubuh lelaki cantiknya dengan erat seraya bergumam memberikan hadiah yang diinginkan Luhan, sebuah pernyataan bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan dan Sehun melakukannya dengan mengatakan "Aku bangga padamu sayang, aku mencintaimu."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Love comes to those who still hope after disappointment

Who still believe after betrayal

And who still love after they've been hurt

.

I am

.

.

.

.

.

.

.

Three months later

.

.

Ini sudah tiga bulan berlalu, selama tiga bulan itupula semua terasa begitu indah dan damai, tak ada lagi jerit tangis terlebih simbah darah yang mengerikan, semua terasa begitu normal untuk kali pertama setelah dua puluh tahun Luhan menjalani hidupnya.

Dan selama tiga bulan setelah putusan hukum seumur hidup untuk Donghon, Luhan merasa sesak yang menghimpitnya menghilang, dia merasa tidak perlu menyimpan rasa takut karena apapun yang terjadi, selama dia berada di sekitar orang-orang yang mencintainya dengan tulus, dia akan selalu memiliki kekuatan dan itu terbukti hingga saat ini.

"Kau pasti bisa sayang, aku mencintaimu."

Saat dimana dirinya akan melahirkan dipenuhi rasa sakit tak tertahan yang begitu mencabik jiwanya, dia sedang mengerang kesakitan, menolak semua penghilang rasa sakit yang diberikan sementara disisinya sang suami sedang menggenggam erat tangannya, terlihat panik dan terkadang menangis saat kontraksi yang dirasakan Luhan benar-benar menyiksanya.

"AARGGHH-…."

"Tarik nafasmu sayang, sebentar lagi Kyungsoo akan datang…"

"haaah~"

Kontraksi ini sudah terjadi hampir enam jam lamanya, intens rasa sakitnya selalu berubah dari skala 1-10 dia akan merasakannya dikisaran 6-9, Luhan masih bisa menahannya, terlebih jika kontraksi itu hanya dirasakannya sesaat dan tak berlangsung lama.

Tapi berbeda dengan beberapa jam terakhir, rasa sakitnya membuatnya kesulitan mencari nafas, dia harus diingatkan untuk menarik nafas jika tidak ingin berakhir collapse selama masa menunggu waktu yang tepat.

Hal yang selalu diingatkan Sehun dengan sabar selama enam jam ini berubah mengerikan untuk Luhan saat tim dokter yang diketuai Kyungsoo memasuki ruangan, samar dia bisa mendengar Kyungsoo meminta Sehun untuk menunggu diluar dan hal itu membuat Luhan merasakan depresi ketidakhadiran suaminya didalam ruang persalinan.

"andwae…."

"Luhan, ini sudah waktunya, hanya sebentar kau akan berpisah dari Sehun."

Baekhyun yang mengambil posisi sebagai dokter anestesi sekaligus supporter terbesar yang berstatus keluarga didalam nanti sedang membujuk sahabatnya, meminta Luhan untuk bersabar walau dibalas erangan putus asa antara kesakitan dan marah karena Sehun tak bisa melihatnya.

"Sehun—Sehunna…"

"mmhh…."

Sehun mengecupi tangannya, memberi rasa nyaman terakhir yang bisa dia berikan pada sang istri sebelum berbisik "Nanti saat kau membuka mata aku sudah akan menggenggam tanganmu lagi, bagaimana?"

"Aku mau kau."

"Aku akan selalu menemanimu sayang, hanya sebentar saja aku akan berada di luar."

"nngghh…"

Luhan merasa otot perutnya mencengkram kuat dibawah sana, membuat air matanya turun dan dihapus cepat oleh Sehun yang kini menyatukan kening mereka, menguatkan seraya berbisik "ssshh….Tenang sayang, kau kuat, kau luar biasa, bertahanlah dengan rasa sakitnya."

Luhan mengangguk, rasa sakit ini bahkan terasa bisa membuatnya kehilangan nyawa kapan saja namun tetap kuat dihadapinya saat membayangkan akan melihat tak hanya satu tapi dua putranya yang akan sangat menggemaskan "Akan ada Sehun kecil sebentar lagi."

Sehun tertawa haru, dirinya juga tak sabar bertemu langsung dengan darah dagingnya hanya untuk memberitahu Luhan "Luhan kecil juga, kita akan segera bertemu dengan mereka."

Luhan mengangguk, lalu mengatakan pada suaminya "Aku akan segera membawa mereka bertemu denganmu."

"Gomawo sayang."

"tapi—Tapi jika aku tidak bertahan, kau harus-….."

"Sshhh….Jangan mengatakan hal yang membuatku takut, aku tidak bisa jika itu bukan kau yang membesarkan anak-anak bersamaku, kau harus kuat, kau kuat, aku tahu kau kuat sayang. Bertahan sebentar, hmmh…"

Dalam samar suara Sehun, Luhan pun mengangguk, berjanji akan bertahan sementara genggaman tangan Sehun terasa menghilang dan membuat jemarinya kedinginan disertai rasa sakit dan cemas bersamaan.

"Sehun, tunggu diluar sebentar, obat biusnya mulai bekerja."

Sehun mengecup dalam kening Luhan untuk kali terakhir, dihapusnya air mata ketakutan melihat setiap jerit kesakitan Luhan untuk beralih pada kedua sahabatnya "Tolong Luhan Soo."

Kyungsoo yang sudah memakai pakaian khusus operasi lengkap dengan masker dan gloves tangan hanya mengangguk, bersumpah akan membawa kedua bayi kecil Sehun dan Luhan ke dunia tanpa harus melukai Luhan.

"Aku sudah berpengalaman dalam hal ini, percaya padaku." Katanya menguatkan, sementara Baekhyun memeluk sekilas sahabatnya yang sangat tertekan persis seperti Chanyeol saat dia melahirkan Jiwon "Tunggulah diluar, Kai dan Chanyeol menunggu."

"hmhh…Bawa aku berkumpul dengan keluargaku."

Baekhyun hanya menghapus air mata Sehun sekilas untuk bergumam "Tentu!" Dan satu kalimat itu sukses membuat Sehun merasa begitu lega hingga akhirnya pasrah berjalan meninggalkan ruang operasi tempat Luhan akan berjuang melahirkan kedua bayinya.

"Anestesi total."

Baekhyun kini memakai gloves di kedua tangannya, bersiap menyuntikkan seluruh anestesi di tubuh Luhan sementara Kyungsoo sudah bersiap dengan pisau bedah di tangannya.

"Sayangku, maaf tidak bisa menemani kalian saat ini."

Rasanya hancur saat kau seorang kepala keluarga tapi menjadi tidak berguna disaat seperti ini, hatinya sakit melihat wajah Luhan berubah sangat pucat menahan sakit sementara dirinya hanya bisa menunggu di luar, disambut tatapan cemas dua lelaki Luhan sebelum dirinya, yang tak bisa menghibur namun justru membuatnya semakin tertekan.

"Bagaimana?"

Kai terdengar gugup bertanya dibalas tatapan sendu Sehun yang kini duduk ditengah diantara Kai dan Chanyeol "Mereka sedang berjuang disana, istri dan anak-anakku, mereka akan melewati masa sulit ini bukan?"

Kai dan Chanyeol tahu bagaimana rasanya di posisi Sehun, rasa sesak dan tertekan itu tak ada yang bisa mengalahkan, mereka gugup, tapi Sehun lebih gugup, jadilah kedua lelaki yang sudah lebih dulu menjadi seorang ayah menepuk pundak suami dari sahabat mereka, menguatkan untuk kompak mengatakan "Tentu saja." Sahut keduanya dengan Chanyeol yang menambahkan "Kita semua akan berkumpul lengkap dengan seluruh anak-anak kita."

Sehun tertunduk lesu, bibirnya kelu hanya untuk mengucapkan "terimakasih." Dan lebih memilih berdoa kuat-kuat agar Tuhan melindungi istrinya, hidupnya, dan kedua putranya.

.

.

.

Huwee….Huwee….

.

Dan harapan itu akhirnya terjawab setelah keheningan empat jam menyiksa, Sehun merasa nafasnya dikembalikan mendengar suara tangisan bayi didalam ruang mengerikan itu, dia mengangkat wajah, begitupula Kai dan Chanyeol yang terlihat sama pucat dengannya.

Ketiganya bertatapan hingga lesung pipi di wajah Chanyeol seperti memberi kehangatan di hati Sehun saat dia mengatakan "Welcome to the daddy's club, bro."

Sehun tertawa haru, rasanya seperti alunan melodi mendengar tangisan kedua bayinya bersahutan, tak sabar dia ingin melihat darah dagingnya hingga pintu itu terbuka dan Baekhyun keluar dari dalam sana, terlihat lelah namun senyum lega juga terlihat di wajah cantiknya.

"Mereka sehat, cepat temui anak-anakmu."

Baekhyun memberi instruksi, sesegera mungkin Sehun kembali memakai pakaian khusus menjenguknya lengkap dengan masker yang kini digunakannya, dia mengerling dua sahabatnya dan kembali tertawa saat Kai berpesan "Katakan ayah mereka yang seksi menunggu diluar."

"Oke."

Sehun membiarkan Baekhyun menyapa suaminya sebentar, keduanya terlihat berpelukan sangat bahagia hanya karena kelahiran dua jagoan kecil yang begitu dinantikan Sehun hidupnya, baiklah, Jika Baekhyun sangat bahagia lalu bagaimana dengannya? Rasanya dia bisa menukar nyawanya sekalipun hanya untuk membuat sosok yang masih begitu kecil dan berwarna merah disana bertahan hidup dan tumbuh dengan sehat.

DEG!

Rasanya semakin mendebarkan di setiap langkah kakinya, dia terlalu bahagia dan terlalu gugup, tak sabar melihat kali pertama wajah anak-anaknya sampai Kyungsoo yang sedang menangis haru dan sedang menggendong salah satu putranya datang menghampiri Sehun dan bergumam sangat bahagia.

"Dia kakaknya, terlihat lebih agresif dibanding adiknya."

Dan disinilah Sehun, sedang dibuat tak berkedip menatap sulung dari si kembar, rasanya sungguh tak bisa dijelaskan saat akhirnya dia bertemu dengan darah dagingnya sendiri, rasanya Tuhan begitu baik memberikan dua malaikat kecil ini untuknya hingga air mata haru tak bisa disembunyikan Sehun saat Kyungsoo menyerahkan si sulung ke dalam dekapannya.

"b-Bagaimana caranya?"

Sehun bertanya, dan Kyungsoo memberitahu posisi benar menggendong seorang bayi, dia pun menunjukkan caranya pada Sehun sampai lagi-lagi Sehun seperti dihipnotis melihat bagaimana putra sulungnya menggeliat dan menggerakan bibir mungilnya dengan begitu lucu disana, dipelukannya dengan kedua mata terpejam dan warna kulit yang masih begitu merah.

"Soo, dia anakku, kan?"

"Bodoh." Kyungsoo tertawa lalu membawakan si bayi bungsu agar Sehun terbiasa menggendong dua bayi bersamaan "Mereka anak-anakmu." Timpal Kyungsoo yang kini membuat tangan kiri Sehun juga menggendong si bayi, beberapa saat dia menjaga Sehun, memastikan lelaki yang baru menjadi seorang ayah ini terbiasa sampai akhirnya tawa haru disertai uraian air mata Sehun terlihat ketika melihat dua buah hatinya berada di dekapannya yang erat.

"anakku—Ya Tuhan, anak-anakku…."

Sehun sesekali menyatukan keningnya dengan bayi yang diberi selimut merah muda lalu beralih pada bayinya yang diberi selimut biru, tak henti dia mengucap syukur dan menangis haru sampai dilihat sosok lelaki cantiknya masih tak sadarkan diri disana.

"Luhan? Bagaimana Istriku?"

Kyungsoo mengambil kedua bayi Sehun bergantian, menginstruksikan perawat agar meletakkan keduanya di box bayi lalu meminta mereka membawa ke ruang perawatan dimana Luhan akan dipindahkan setelah ini.

"Istrimu baik-baik saja, kami akan memindahkannya ke ruang perawatan, kau bisa melihat istri dan anak-anakmu dengan nyaman disana."

Menghampiri Luhan yang terlihat sangat kelelahan, Sehun mencium sayang kening istrinya, dia juga menepati janji untuk tak beranjak setelah proses persalinan selesai dan menggenggam erat kedua tangan yang terasa dingin di genggamannya.

"Cepat bangun sayang, anak-anak menunggumu." Sehun berbisik haru, tak henti dia mengecupi kening Luhan hanya untuk memberitahu betapa dia sangat mencintai Luhan dengan hidupnya "Gomawo, Aku berhutang rasa sakit padamu." Katanya mengecupi jemari Luhan lalu membiarkan petugas memindahkan istrinya ke ruang perawatan diikuti kedua bayinya yang terlihat sangat lucu disana.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dua puluh tahun yang lalu hatiku sudah dicuri oleh ibu mereka, tepat kali pertama dirinya melangkah masuk kedalam café, sejak saat itu aku bersumpah hanya akan memuja Luhan dalam hidupku, ya, setidaknya itu dua puluh tahun lalu sebelum tangisan dan kedua tangan mungil ini mencuri sisa hatiku yang lain.

Huwe…huwee

"sshh…sabar anak-anak, sebentar lagi mama akan bangun."

Sehun bersandar di keranjang khusus tempat dimana kedua bayinya tidur dan kadang menangis disana, tangannya bergantian menggenggam tangan mungil darah dagingnya sesekali melirik wajah Luhan, berharap kedua mata cantik itu segera membuka agar mereka benar-benar bisa berkumpul sebagai keluarga kecil.

"Sayang aku sudah merindukanmu, cepat buka matamu."

Tangannya yang lain menggenggam erat tangan Luhan, mengecupinya sayang sementara tangisan entah si sulung atau si bungsu –Sehun belum bisa membedakannya- terdengar dan mencuri perhatiannya lagi.

"haa—Kalian benar-benar mencuri hati papa, lagi."

Sehun diam lagi memperhatikan tiga orang yang melengkapi jiwanya masih terlelap, hatinya dipenuhi kebahagiaan seraya bergumam entah pada siapa

Terdengar gila memang, tapi aku sudah tidak berhak lagi atas hidupku, setengah hatiku sudah kuberikan pada Luhan, aku masih menyimpan setengah yang lain untuk kuberikan pada Luhan sepenuhnya nanti, saat istriku melahirkan buah hati kami.

Lalu dia beralih menatap Luhan, meninggalkan sejenak buah hati mereka hanya untuk bermesraan bersama istrinya, menggodanya, bahkan disaat kedua mata cantik itu belum terbuka,

"Tapi sayang, aku rasa aku berubah pikiran, setengah hatiku yang tersisa tidak akan kuberikan padamu." Katanya mengecupi jemari Luhan seraya melanjutkan apa yang sudah diputuskannya.

"Nanti, saat kau bertanya dimana setengah hatiku yang lain, aku akan menjawab sudah kuberikan pada anak-anak, jadi terima saja kalau posisimu sudah terancam dengan kehadiran mereka."

Entah apa yang sedang dikatakannya, tapi menggoda Luhan adalah hal favoritnya sejak kecil, membayangkan bibir mungil istrinya mengerucut marah, matanya berkaca karena leluconnya berlebihan serta gerutuan yang akan didengarnya adalah hal favorit yang begitu dicintainya dari Luhan.

Jadilah Sehun tertawa dan terisak haru, mengusap bibir mungil Luhan yang tetap menggoda walau sedikit memucat untuk mencium kening istrinya penuh cinta "Cepat buka matamu, aku tidak tahan lagi, aku ingin mengucapkan terimakasih padamu, aku rindu, semua tentangmu, aku rindu."

Dan untukmu Oh Luhan, aku tidak tahu harus memulai darimana tapi terimakasih.

Terimakasih sudah melahirkan buah hati kita tanpa kekurangan satu apapun

Terimakasih sudah menahan rasa sakitnya.

Karena aku Oh Sehun, melihat sendiri bagaimana perjuanganmu membawa buah hati kedunia, aku tidak bisa mengatakan apapun selain aku memang mencintaimu, tapi aku semakin mencintaimu hari ini, aku semakin memujamu karena perjuangan yang telah kau lakukan, rasa sakitnya dan bagaimana kau membawa di dalam tubuhmu yang mungil.

"Terimakasih sayang."

Sekarang tugasmu sudah selesai, biarkan aku menjalankan tugasku kali ini, biarkan aku menjaga kalian seumur hidupku dan memastikan bahwa hanya ada bahagia menyertai hidup kalian, itu janjiku.

.

.

.

.

.


tobecontinued

.


.

.

.

Next chapter, We've got our Last chap for JTV

.

Enjoyed, happy reading ")