Previous
"Nanti, saat kau bertanya dimana setengah hatiku yang lain, aku akan menjawab sudah kuberikan pada anak-anak, jadi terima saja kalau posisimu sudah terancam dengan kehadiran mereka."
Entah apa yang sedang dikatakannya, tapi menggoda Luhan adalah hal favoritnya sejak kecil, membayangkan bibir mungil istrinya mengerucut marah, matanya berkaca karena leluconnya berlebihan serta gerutuan yang akan didengarnya adalah hal favorit yang begitu dicintainya dari Luhan.
Jadilah Sehun tertawa dan terisak haru, mengusap bibir mungil Luhan yang tetap menggoda walau sedikit memucat untuk mencium kening istrinya penuh cinta "Cepat buka matamu, aku tidak tahan lagi, aku ingin mengucapkan terimakasih padamu, aku rindu, semua tentangmu, aku rindu."
Dan untukmu Oh Luhan, aku tidak tahu harus memulai darimana tapi terimakasih.
Terimakasih sudah melahirkan buah hati kita tanpa kekurangan satu apapun
Terimakasih sudah menahan rasa sakitnya.
Karena aku Oh Sehun, melihat sendiri bagaimana perjuanganmu membawa buah hati kedunia, aku tidak bisa mengatakan apapun selain aku memang mencintaimu, tapi aku semakin mencintaimu hari ini, aku semakin memujamu karena perjuangan yang telah kau lakukan, rasa sakitnya dan bagaimana kau membawa di dalam tubuhmu yang mungil.
"Terimakasih sayang."
Sekarang tugasmu sudah selesai, biarkan aku menjalankan tugasku kali ini, biarkan aku menjaga kalian seumur hidupku dan memastikan bahwa hanya ada bahagia menyertai hidup kalian, itu janjiku.
.
.
.
.
Je'Te Veux
.
.
.
Main cast : Lu Han as Xi Luhan
Oh Sehun as Oh Sehun
Rate : T-M
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Final chap part I
.
.
.
.
.
.
.
.
Setidaknya perlu waktu hampir dua jam untuk Sehun membiasakan diri melihat kedua putranya bergantian, setidaknya selama dua jam pula dia benar-benar bersikap seperti seorang budak cinta hanya karena suara tangisan entah si bungsu atau si sulung yang menarik perhatiannya lebih,
Dan memaklumi sikap konyol lelaki yang kini sudah resmi menyandang status sebagai seorang ayah, ini sudah tiga jam sejak istrinya dipindahkan ke ruang perawatan namun belum ada tanda-tanda Luhan akan membuka mata, oleh karena itu Sehun memutuskan untuk menghilangkan cemas dengan bermain bersama kedua putranya, sebenarnya dia tahu ini adalah hal konyol mengingat setiap kali dia mengatakan BA!, dan berusaha membuat kaget si kembar yang usianya bahkan belum satu hari tak mendapat respon apapun, kedua bayinya justru kini sedang tertidur pulas sama seperti ibu mereka dan itu membuat Sehun dilanda kebosanan luar biasa.
"haah~ Bangun nak, papa ingin bermain." Dia berbisik, berusaha untuk menciumi si kembar sampai dirasa bantal kecil di sofa melayang mengenai wajahnya, tidak perlu bertanya siapa yang melakukannya karena saat ini wajah buruk rupa Kai dan Chanyeol terlihat sedang mendesis, menatapnya jijik seraya bergumam "Hentikanlah." Sejak dua jam lalu tanpa henti dan itu membuatnya kesal tentu saja.
"Kenapa aku harus berhenti?!"
"Bahkan dia berteriak sekarang."
Chanyeol mencibir malas sementara Kai membuat gerakan untuk tidak berteriak selagi kedua bayi Luhan tertidur pulas disana "Apa kau idiot? Bagaimana jika bayimu menangis lagi? Luhan belum sadarkan diri dan istri kami juga tidak ada di tempat, bagaimana jika bayimu berteriak? Siapa yang akan membuat mereka diam? Memangnya kau bisa?"
Dengan polos tanpa rasa berdosa Sehun hanya menggeleng seraya menjawab "Tidak bisa." Diiringi cibiran lagi dari kedua sahabat istrinya "idiot!"
Jadilah Sehun mencibir balik, jika tidak mengingat statusnya sudah menjadi seorang ayah mungkin dia akan mengajak duel kedua lelaki buruk rupa didepannya, namun sayang dirinya ingat harus menjaga image, jadi dia hanya diam lalu perlahan meninggalkan box bayi untuk beranjak ke samping istrinya "Sayaaang…." Dia merengek seraya menggenggam jemari Luhan, mendelik pada kedua sahabat istrinya untuk melaporkan tindak kekerasan mental yang dilakukan Kai dan Chanyeol terhadapnya.
"Lihatlah dua temanmu, mereka sangat berbahaya untuk kedua putra kita, aku tidak menyukainya."
Bahkan Kai sudah akan beranjak dari tempat duduknya jika Chanyeol tidak menarik lengan dan memaksanya untuk tetap duduk, pria berkulit tan itu jelas tidak terima saat dirinya dikatakan berbahaya untuk kedua keponakannya yang baru saja lahir, ingin rasanya dia melempar si bayi besar cadel itu keluar dari jendela rumah sakit jika tidak ingat hal itu bisa membuat kedua putra dari teman cantiknya akan menjadi yatim karena perbuatannya.
"Cepat buka matamu."
Kemudian Sehun terdengar lesu, dia mencoba untuk bersabar sedari tadi tapi sepertinya dia mulai putus asa, dia hanya ingin melihat kedua mata Luhan terbuka, itulah sebab dia terus membuat ulah hingga dia lelah dan kini menyandarkan kepala di pelukan istrinya "Aku rindu." Lirihnya seraya memejamkan mata.
Sejujurnya dia sangat lelah, kebiasannya sekarang adalah selalu bisa memejamkan mata saat Luhan memeluknya di setiap malam yang mereka lewati, tapi malam ini sepertinya pengecualian karena istrinya masih belum sadarkan diri setelah proses persalinan yang harus dilaluinya, hal itu membuat hati Sehun gundah dan merana tak kunjung merasakan tangan mungil Luhan memeluknya lagi.
"Luhan, Oh Luhan, Mama Lu…."
Sebutan terakhir dia tertawa tak sabar, rasanya menggelitik saat memanggil Luhan dengan sebutan mama sementara dirinya adalah seorang papa, dia pun mencoba untuk membuat lelucon yang bisa membuat hangat hatinya sendiri.
"Bagaimana lelaki manja sepertimu dipanggil mama? Nanti siapa yang jadi bayinya?"
Sehun terus menenggelamkan wajahnya semakin dalam diantara lengan dan ketiak Luhan, memainkan jemari istrinya disana sampai dirasa genggaman tangannya dibalas diiringi suara protes yang serak dari si pemilik suara.
"Danbagaimanabayibesardipanggilpapa—tsk! Kau bahkan masih menangis sayang."
Buru-buru kedua mata Sehun melebar, dia segera duduk tegap untuk mencari kali pertama mata sang istri yang kini perlahan membuka, Luhan masih mengedipkan matanya mencari kesadaran sementara ketiga pria tampan yang menjaganya mulai merespon berlebihan dengan berdiri mengelilingi dirinya.
"Luhan."
Itu suara Chanyeol, yang terdengar berat walau tak seberat suara lelaki berkulit tan yang sudah lebih dulu menjadi ayah daripada suaminya dan Chanyeol "Luhan!" saat Kai memanggilnya dia tahu dia benar-benar sudah melewati rasa sakit luar biasa yang tak berani diingatnya lagi.
Salahkan Baekhyun yang terlalu banyak memberikannya obat bius, jadi saat Sehun terdengar memekik dan menangis ketika berjumpa dengan darah daging mereka, dirinya hanya bisa mendengar tanpa bisa merespon kebahagiaan suaminya beberapa waktu lalu.
Jadi dia memutuskan untuk menikmati rasa lelahnya, membiarkan obat bius menguasai dirinya selama beberapa jam hingga rengekan khas Sehun berhasil menariknya dari tidur panjang yang rasanya terbalas dengan usahanya melahirkan buah hati mereka.
"Sayang…."
Dan suara terakhir adalah suara favoritnya, dulu, sebelum Sehun mengenakan kawat gigi di bagian bawah giginya, dia adalah seorang anak kecil yang sulit melafalkan huruf s selama beberapa tahun mereka saling mengenal.
Dan lucunya pertama kali mereka bertemu dirinya sangat tidak menyukai bagaimana konsonan s dari Sehun terdengar tidak jelas, dia tidak suka saat Sehun kecil mengenalkan dirinya sebagai "thehun" bukan Sehun, dia ingat sekali dia bercerita pada mendiang ibunya bahwa lelaki itu sedang dikutuk oleh dewa karena pasti tidak mendengarkan ibunya, lalu tak lama dia merasakan cubitan di lengan karena tanpa alasan mendiang Mama Xi marah saat dirinya mengejek si anak kecil cadel yang kini menjadi ayah dari anak-anaknya.
Jangan sampai salah satu dari anakku sulit melafalkan huruf s
Itu doa konyol yang dilontarkan Luhan tatkala Sehun menyapa dirinya dengan ciuman hangat di kening, dia sempat tertawa lucu lalu membalas tatapan Sehun yang entah mengapa matanya dipenuhi air mata berlinang, ini pertanda buruk, selalu, hingga membuat Luhan merespon cemas dengan berbisik
"oh tidak, jangan menangis."
Dia ingin mengatakan itu, tapi suaranya terlalu serak dan benar saja, Sehun tiba-tiba histeris seraya memeluknya erat untuk menangis dalam pelukannya.
HUWAAA~~
"KENAPA LAMA SEKALI KAU MEMBUKA MATA! AKU SUDAH BERFIKIRAN BURUK LU! HUWAAA~ RASANYA PASTI SAKIT SEKALI MELAHIRKAN ANAK-ANAKKU, MIANHAE, SARANGHAE, GOMAWO. SAYANGKU! HUWAAAAAAA~"
"tsk!"
"Kau benar-benar bayi Oh Sehun!"
Baik Kai dan Chanyeol mengumpat bergantian, mereka sesekali melirik ke samping kanan Luhan melihat dua malaikat kecil yang semoga tidak terganggu dengan teriakan ayah mereka yang posesif.
Luhan sendiri biasanya memang akan sangat sabar melayani sifat kekanakan dan manja milik suaminya, jadi saat dia merasa lehernya basah karena tangisan Sehun itu hanya membuatnya bahagia karena itu menunjukkan Sehun begitu mencemaskannya, begitu mencintainya dan tidak pernah berkurang sedikit pun sejak mereka kecil hingga kini keduanya resmi menyandang status sebagai orang tua.
"Mianhae, Maaf membuatmu cemas." Jawabnya sabar, tangannya mengusap punggung tegap Sehun seraya tersenyum menyadari bahwa daripada kedua bayinya, Luhan lebih memilih untuk melihat suaminya lebih dulu, dia hanya ingin memastikan Sehun ada disampingnya lebih dulu seraya mempersiapkan diri untuk bertemu dengan kedua buah hatinya.
Awalnya nafas Sehun sudah berangsur normal, lelakinya tidak menangis lagi, setidaknya selama lima detik semua terlihat tenang sampai satu detik berikutnya Luhan terkekeh mendengar bagaimana suaminya kembali berteriak histeris
HUWAA~AKU JANJI TIDAK AKAN MEMBUATMU HAMIL LAGI SAYANG! CUKUP DUA ANAK UNTUKKU!
"aku tidak percaya." Chanyeol kembali mendesis ditimpali Kai "Aku juga." Hingga keduanya mendapat tatapan kesal dari Luhan yang sedang menenangkan suaminya saat ini "Sehun berhenti merengek kau seorang ayah sekarang."
Sontak ucapan Luhan menyadarkan Sehun dalam sekejap, lelaki tampan itu juga segera melepas pelukan istrinya untuk menghapus air mata, hidungnya benar-benar merah lalu tiba-tiba dia menunjuk ke suatu arah diikuti Luhan yang hatinya dibuat berdebar saat Sehun mengatakan.
"Itu, mereka disana, putra kita."
Air mata itu mengalir begitu saja dari mata Luhan, penantiannya, harapannya, semua doanya pada Tuhan terjawab saat matanya melihat box bayi yang kini menjadi satu-satunya penghalang antara dirinya dan buah hatinya.
Luhan menatap Sehun penuh harap, memohon "Aku ingin melihat mereka." Dibalas jawaban polos Sehun yang mau tak mau membuat Luhan gemas namun kesal disaat bersamaan saat dia mengatakan
"Tapi aku belum bisa menggendongnya."
"Mwo?"
"Mereka terlalu kecil dipelukanku sayang, apa kau bisa bangun? Aku akan menggendongmu."
Jelas penawaran gila Sehun dibantah tegas oleh Kai dan Chanyeol, keduanya kini masing-masing memeluk Luhan dan menjaga teman kecil mereka yang terancam diperlakukan sesukanya oleh si posesif Oh Sehun.
"Jangan dengarkan dia, tunggu sebentar sampai istriku datang."
Kai mencium kening Luhan sekilas sebelum duduk di sebelah kanan Luhan sementara Chanyeol bergantian memeluknya seraya berbisik "Selamat untukmu cantik." Katanya membual, menciumi tangan kiri Luhan yang dipakaikan selang infus untuk duduk disebelah kirinya.
"gomawo."
Kali ini Luhan sependapat dengan dua temannya, tubuhnya masih lemas untuk digerakkan jadi percuma saja jikalaupun Sehun menggendongnya melihat putra mereka dia tetap tidak akan bisa menggendongnya seorang diri.
"Sayang aku bisa mengantarmu kesana."
Luhan tertawa melihat bagaimana Sehun sangat bersemangat menunjuk box bayi tempat dimana si kembar tidur, jujur Luhan sudah mendengar tangisan mereka disela ketidaksadaran setelah operasi yang dia lakukan.
Dia juga merindukan bagaimana suara tangisan mereka bersahutan, tapi memaksakan diri saat dirinya masih begitu lemas bukan pilihan bagus mengingat dirinya juga newbie untuk urusan menenangkan dua bayi sekaligus yang baru datang ke dunia.
"Nanti saja." Luhan membalasnya dan itu membuat Sehun bersungut "Tapi mereka ingin bertemu denganmu."
"Sehun bisa kau berhenti bertingkah menyebalkan? Kau bahkan sangat cerewet melebihi Taeoh." Kai mencibir dan bibir Sehun sudah siap membalas sampai semua perhatian mereka teralihkan saat pintu ruang perawatan Luhan terbuka dan menampilkan seluruh keluarga terdekat mereka.
"PAPA!"
Kai menyambut putra kecilnya yang berlari, menciumi wajah yang semakin lama semakin mirip dengannya walau mata si kecil lebih mirip dengan Kyungsoo "Halo jagoan." Dia membalas ciuman Taeoh sementara Chanyeol mengambil alih putra cantiknya dan membiarkan Baekhyun memeriksa keadaan Luhan.
"Kau sudah bangun?" katanya memeriksa nadi Luhan sebelum si pasien mencibir "Aku bisa bangun lebih awal jika seseorang tidak memasukkan obat bius berlebihan."
Memastikan, Baekhyun bertanya "Kau menyindirku?"
"aniya! Aku menyindir dokter anestesi yang menanganiku."
"ha ha…." Baekhyun memeluk Luhan sekilas seraya berbisik "Itu prosedur jika boleh kuingatkan, selamat untukmu."
Luhan mengangguk lalu pintu ruangannya terbuka lagi, kali ini Kyungsoo masuk diikuti oleh Jaehyun dan Taeyong, hal itu membuat Luhan senang melihat satu persatu keluarganya berkumpul terlebih saat Taeyong menghampirinya dan bertanya "Dimana Luhan kecil?" sontak semua yang mendengarnya tertawa, mereka juga bisa mengambil kesimpulan bahwa remaja cantik yang merupakan kekasih Jaehyun itu sudah lebih baik karena bisa mengunjungi Doojoon tanpa penolakan lagi.
"Disana."
Luhan tertawa kecil memeluk Taeyong, mengusap surai remaja didepannya sementara kedua matanya menangkap pemandangan hangat saat melihat Jaehyun dan Sehun berpelukan erat seperti dulu "Hyung, apa aku boleh melihat bayimu?" pertanyaan Taeyong mengalihkan perhatian Sehun, dia pun mengangguk sementara Kyungsoo menghampirinya.
"Kau sudah lebih baik?"
"Masih sakit jika terlalu banyak gerak."
"Wajar saja, bekas operasimu belum sepenuhnya kering."
Setelah memastikan kondisi Luhan lebih baik, Kyungsoo bisa mendengar putranya bertanya histeris "Samchoon siapa nama adik bayi?"
"huh?"
Dan ya, pertanyaan Taeoh berhasil menarik perhatian seluruh keluarga mereka tak terkecuali Luhan mengingat dari semua orang yang berada di ruangan hanya Sehun yang memiliki hak dan sudah menyiapkan nama untuk bayinya dan Luhan.
"Nama adik bayi adalah….."
Sehun meminta bantuan Baekhyun untuk menggendong bayinya, lalu perlahan Baekhyun memberikan satu bayi yang memakai selimut biru pada Sehun sementara selimut merah ada pada Chanyeol yang sudah terbiasa menggendong bayi.
Tak banyak berkata, Luhan begitu takjub melihat kedua bayinya datang mendekat, dia pun meminta bantuan Kyungsoo untuk bersandar sementara hatinya haru menyambut kedatangan bayi yang belum diketahuinya siapa si sulung dan si bungsu.
"Anakku…."
Air mata itu menetes bersamaan dengan bayi pertama yang berada di pelukannya, Luhan memperhatikan wajah merah bayinya yang begitu lucu, lalu tak lama bayi keduanya sampai ke pelukannya, membuat isakan Luhan semakin terdengar terlebih saat bayinya yang memakai selimut merah muda menangis karena terkejut.
Uwaaa…hueeee…
Suara tangisannya nyaring namun segera tenang saat Luhan mengecupnya, tak lama Sehun bergabung duduk disamping istrinya, mengecup surai Luhan sementara istrinya tak henti mengecupi dua bayi mereka bergantian.
"Yang menangis kakaknya."
Luhan mengerti, dia mendongak membalas kecupan Sehun lalu menatap terpana lagi pada kedua bayinya yang masih berwarna merah "Sayang-sayangku." Lagi, Luhan mencium kedua bayinya sampai Taeoh kembali bertanya "Samchoon! Siapa nama adik bayi?"
"ah…Baiklah."
Dengan bersemangat Sehun mulai mengenalkan satu persatu anggota baru keluarga mereka, dia mencium si bungsu untuk berkata "Nama si bungsu adalah namaku dan Luhan. Oh Sehan."
"Lalu nama hyung?"
Jaehyun bertanya dibalas lagi oleh Sehun "Namaku dan nama Luhan juga." Ujarnya terkekeh sementara Kai mencibir "Sangat tidak kreatif." Dibalas tatapan kesal Sehun yang kini mencium si sulung yang selalu menangis untuk memperkenalkan sebagai "Oh Hanse, bagaimana?" dia bertanya pada Luhan, dan terlalu jatuh cinta pada kedua putranya Luhan hanya mengangguk seraya bergumam "Sehan, Hanse, anak-anakku."
Semua tak terkecuali Sehun tersenyum mendengar nama bayi kembar itu disebut pertama kali oleh ibunya, Taeoh bahkan berjingkrak senang dipelukan ayahnya sementara Jiwon sedang berusaha memegang adik bayi namun dilarang oleh ayahnya.
Perasaan mereka hangat melihat Luhan mengecupi kedua bayinya bergantian, ya, bahkan Kyungsoo dan Baekhyun menitikkan air mata mengingat bagaimana perjuangan Luhan untuk bisa sampai pada tahap memeluk buah hatinya seperti saat ini.
"Gomawo sayang."
Luhan mengucapkan terimakasih itu pada suaminya, membuat hati Sehun hangat dan merasa sesak bersamaan, tak mudah untuknya meyakinkan Luhan agar mau menikah dengannya disaat hatinya marah tiga tahun yang lalu, tidak mudah untuknya menjanjikan kebahagiaan yang diinginkan Luhan, tapi melihat bagaimana kedua buah hatinya dipeluk erat oleh Luhan benar-benar membuatnya bahagia hingga tak bisa mengatakan apapun selain meletakkan dagunya di kepala Luhan seraya mengusap lembut kedua buah hatinya bergantian.
"Aku mencintaimu."
Dan saat kalimat cinta itu ditujukan untuk Luhan, pintu ruang perawatan istrinya kembali terbuka, membuat semua menoleh hanya untuk menemukan seorang wanita yang tidak tampak menua tengah mendorong kursi roda suaminya, semua tersenyum lembut, menyapa dua sosok orang tua yang menatap rindu pada semua yang berada di ruangan, anak-anaknya.
"Mama…"
Pertama kali suara yang terdengar adalah milik Sehun, Luhan bisa melihat bagaimana suaminya tak bisa menyembunyikan bahagia saat melihat kedua orang tuanya datang, Sehun juga terlihat ingin datang menghampiri sementara disana ibu mertuanya terlihat canggung tanpa alasan.
Barulah saat Luhan meminta suaminya untuk mendekati kedua orang tuanya, Sehun tersenyum, sekilas dia mengecup surai kepala Luhan sebelum bergegas mendekati ayah dan ibunya yang tampak ragu untuk bergabung.
"Lihat siapa yang sudah menjadi nenek dan kakek dari tiga orang cucu?"
Sehun bertanya renyah, berusaha mencairkan suasana sementara dirinya mengambil alih dorongan di kursi roda sang ayah seraya memeluk ibunya yang terlihat pucat "Ma…"
"hmh?"
Jihyo tampak salah tingkah saat Sehun memergokinya sedang menatap kedua cucunya di pelukan Luhan, dia ingin sekali memeluk cucu kandungnya sampai Sehun menyindir "Kenapa diam saja? Apa mama tidak akan mengakui kedua anakku? Apa hanya Haowen yang akan diakui sebagai cucu?"
"y-YAK! Bicara apa kau? Bagaimana bisa mama membedakan ketiga cucu mama?"
Jihyo terlihat sangat pucat, dia takut Luhan tidak akan mengizinkannya bertemu dengan si kembar karena ucapan asal dari putra keduanya, membuat semua orang di ruangan tak terkecuali Luhan tertawa hingga suara Luhan terdengar mencibir suaminya "Jangan dengarkan Sehun ma, cepat lihat cucu mama."
Buru-buru Jihyo melepas pelukan Sehun, sungguh, semenjak dirinya menjadi seorang nenek sejak kelahiran Haowen, rasanya dia rela kehilangan apapun hanya untuk melihat cucunya tumbuh dengan sehat dan bahagia.
Setidaknya itu yang ada di pikiran ibu tiga orang putra itu sejak dirinya menyadari bahwa dia sudah gagal menjadi seorang ibu yang membanggakan, yang dia lakukan hanya mengecewakan ketiga putranya bergantian hingga terselip doa pada Tuhan agar dirinya tidak melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukannya pada ayah dari ketiga cucunya.
"a-Apa semuanya sehat Lu?"
Luhan mengangguk dan tersenyum hangat, dia juga menggerakan satu tangan kanannya sebagai tanda ibu mertuanya bisa mengambil si sulung, Jihyo pun mengangguk haru, tak sabar dia memindahkan bayi kecil Luhan ke pelukannya untuk bergumam "Cucu nenek, sayangku."
Jihyo menyatukan keningnya dengan kening si sulung yang diberi nama Hanse oleh Sehun, membuat Luhan menitikkan air mata sebagai tanda rindu pada sosok ibu yang secara tak langsung sudah menggantikan posisi mendiang ibu kandungnya.
Semua terasa begitu mengharukan terlebih saat Jihyo menatap Luhan dan mengatakan "Angela pasti bangga padamu nak, kau benar-benar kuat dan membanggakan."
Sontak air mata dan isakan Luhan terdengar memenuhi ruangan, mereka semua yang menyaksikan tahu bagaimana Luhan adalah sosok yang sangat manja pada kedua orang tuanya, mereka adalah saksi hidup bagaimana Luhan keluar dari karakter aslinya dan berubah menjadi sangat dingin tepat di hari kematian kedua orang tuanya.
Rasanya baru kemarin kejadian mengerikan itu terjadi, jadi wajar jika saat ini Luhan banyak menangis sebagai tanda dia rindu dan rasanya terlalu sesak, semua mengerti, hingga tak ada yang meminta Luhan untuk tenang karena mereka tahu menangis adalah cara terbaik untuk menghapus luka dan kenangan buruk.
"maaf-Maafkan papa nak."
Sementara disana Jihyo sedang menenangkan Luhan dan memeluk kedua cucunya, maka tak jauh dari adegan yang memaksa seluruh yang melihat merasa sesak, Insung sedang meminta maaf pada putranya.
Awalnya Sehun tidak mengerti untuk apa maaf yang terucap, tapi melihat ayahnya tak berkedip menatap Luhan yang sedang terisak disana, itu hanya membuat Sehun sadar bahwa jauh di dasar hati ayahnya masih menyimpan rasa bersalah yang teramat dalam atas kejadian yang menimpa mendiang Mama dan Papa Xi.
"Pa, dengarkan aku…"
Lalu disini Sehun mencoba untuk membuat keadaan tidak menjadi semakin menyesakkan, dia pun sedikit menunduk mendekati telinga ayahnya seraya berbisik "Aku dan Luhan sudah melupakan hal mengerikan yang terjadi pada kita, pa, kami memaafkan dan kami meminta maaf karena menyimpan marah yang terlalu lama pada mama dan papa."
Insung menggeleng menolak permintaan maaf putranya, dia tidak ingin disalahkan lagi, tapi rasanya salah jika maaf itu diterimanya terlalu cepat, jadilah dia berusaha mengatakan hal-hal penolakan sampai suara Luhan terdengar menyapanya dengan lembut.
"Sayang bawa papa mendekat, papa juga harus melihat dua cucunya yang baru kan?"
Dan barulah Insung merasa dirinya begitu beruntung menjadi orang tua sekaligus mertua dari pasangan yang sudah berbesar hati melupakan kelicikannya di masa lalu, tak ada lagi tatapan marah dan kecewa untuknya, yang ada hanya tatapan hangat Luhan disertai bisikan lembut putranya "Sekarang waktunya melihat cucu kedua papa."
Sehun pun mendorong kursi roda ayahnya, mendekat ke tempat istrinya berada sementara Kyungsoo membantu Luhan untuk menyerahkan si bungsu pada ayah kandung Sehun dan Jaehyun "Namanya Sehan, tidak kreatif bukan?" Kyungsoo berbisik dibalas cibiran Sehun serta kekehan dari seluruh yang mendengar, kecuali Insung tentu saja, karena daripada menggoda cara pemilihan nama untuk kedua cucunya, sang kakek rasanya dibuat takjub karena Tuhan masih begitu baik mengizinkan dirinya melihat putra kandung Yunho dan Sehun lahir kedunia hingga menjadikannya seorang kakek yang berbahagia.
"Hanya tinggal Jaehyun, bukan?"
Tiba-tiba Insung bertanya saat bayi Luhan merespon dengan menggerakan kecil bibirnya, membuat Sehun bertanya namun dibalas jawaban tegas Jaehyun yang entah mengapa sedang menarik Taeyong dan memeluknya erat, memperkenalkan.
"Papa tenang saja, aku dan Taeyong akan memberikan cucu ketiga untuk papa, iya kan sayang?"
"ish!"
Rasanya lucu melihat Jaehyun remaja bertingkah persis seperti Sehun saat bersikeras menjadikan Luhan istrinya, bahkan Taeyong juga merespon sama seperti Luhan hingga seluruh yang mendengarnya dibuat menggeleng kepala disertai tawa seolah tak percaya akan melihat kisah cinta Sehun-Luhan season dua, yang akan diperankan oleh Jaehyun-Taeyong beberapa tahun dari sekarang.
"Sayang…"
"hmh?"
Baekhyun meminta suaminya untuk sedikit menunduk seraya berbisik "Pastikan kau tidak menjodohkan putra kita dengan salah satu anak dari Kai, Sehun atau Jaehyun sekalipun."
"wae?"
"Pokoknya tidak mau!"
Kai kesal mendengar bisikan Baekhyun pada si tiang listrik, membuatnya memeluk posesif Taeoh seraya bergumam bangga "Dipikir aku mau menjodohkan my precious Taeoh dengan putramu? Dalam mimpi Byun!"
"Hey!"
Chanyeol menegur dan kini harus berhadapan dengan Kyungsoo saat si dokter bermata bulat itu tengah menatap layaknya seorang gangster yang membuatnya tertawa canggung diikuti tawa lain yang terdengar horror, mereka juga terlihat takut seperti Chanyeol, sepakat serta mengakui kemampuan Kyungsoo membuat seseorang diam masih sangat dominant dan efektif hingga detik ini.
"Bagaimana denganmu? Kau ingin menjodohkan anak kita kelak dengan anak-anak mereka?"
Sontak pertanyaan Sehun membuat Luhan mencubit kencang perut suaminya, dan bukan tanpa alasan Luhan merasa kesal dengan pertanyaan Sehun mengingat Sehan dan Hanse baru saja lahir ke dunia tapi sudah dikaitkan dengan perjodohan yang artinya Luhan tak memiliki banyak waktu untuk dihabiskan dengan kedua putanya.
Lagipula ini terlalu dini hingga membuatnya kesal namun suaranya kalah dengan suara Jihyo yang tiba-tiba memanggil mereka bersamaan "Sehun-Luhan!"
Keduanya pun menoleh, menatap ibu mereka seraya bertanya "Ada apa ma?" Luhan yang bertanya sampai wanita cantik itu menatap lirih seraya meminta dengan nada memohon agar tidak ditolak "Pulanglah ke rumah, mama mohon."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dua minggu sudah berlalu sejak Luhan melahirkan kedua putra kembarnya, dan selama dua minggu itu pula bujuk rayu Jihyo untuk meminta Luhan tinggal dirumahnya membuahkan hasil.
Terlihat dari kamar Sehun yang sudah disulap menjadi lebih berwarna, tentu saja ini adalah ulah tangan ibunya dan Luhan yang menjadikan kamarnya dipenuhi dengan stiker bintang dan bulan, belum lagi warna dinding di cat biru laut mendominasi membuat terkadang Sehun merindukan kamarnya yang berwarna gelap dan simpel namun tak pernah diungkapkan jika tidak ingin dituduh tidak mencintai kedua putra mereka.
"Apa yang kulakukan disini?"
Namun sayang hanya kamarnya saja yang dirubah, tetapi tidak dengannya, maksudnya seperti ini, bukankah pemilik kamar harusnya tidur di kamarnya? Ya, tentu saja. Tapi hal berbeda terjadi pada Sehun yang kini harus berdesakan tidur di kamar adiknya yang tidak sebesar kamar miliknya. Kenapa?
"SEHUN CEPAT BERSIAP KAU SUDAH TERLAMBAT!"
Dan teriakan istrinya adalah jawaban mengapa dia berakhir mengenaskan di kamar dengan dominasi warna hijau dan hitam didalamnya, bukan tanpa alasan matanya terpejam, tapi sepertinya Sehun memang harus terbiasa dengan suara teriakan Luhan setiap pagi, bagaimana tidak dia harus terbiasa dan entah karena istrinya masih membiasakan diri menjadi ibu atau karena dirinya memiliki hal lain, yang jelas Luhannya kini memiliki sifat hyper cranky dan enggan disentuh.
Itu sudah terbukti sejak mereka pulang dari rumah sakit, Sehun tidak bisa tidur satu kamar dengan istri dan anak-anaknya, protes dan marah adalah hal yang sia-sia karena Luhan sendiri yang melarang, istrinya bahkan terlalu tegas dan serius hingga terpaksa dia tidur sekamar dengan Jaehyun dan mengendap masuk kedalam kamar di malam hari hanya untuk memastikan istri dan anak-anaknya tidur dengan nyaman.
"Hyung ayo keluar! Luhan hyung sudah berteriak memanggilmu!"
"Biarkan saja, aku keluar sebentar lagi."
Merasa kakaknya tidak bersemangat hanya membuat Jaehyun tersenyum menggoda, dia pun sengaja menarik paksa lengan Sehun dan menyeretnya keluar jika tidak ingin melihat pertengkaran di pagi hari.
"JAE!"
"Ayolah aku tahu kau lapar hyung."
"Lepas! Aku bisa jalan sendiri!"
Keduanya kini berdesakan menuju meja makan, Jaehyun terus memaksa kakaknya sementara Sehun terlihat enggan bertemu istrinya sendiri.
Bukan karena dia tidak mau, tapi karena dia takut pada akhirnya Luhan mengabaikan keberadaannya dan benar saja, tidak ada senyum menggoda lagi saat mata mereka bertemu.
Luhan seperti malas melihatnya, dia hanya sekedar menyajikan sandwich dan segelas teh hangat tanpa sepatah kata pun selain
"Kancingkan kemejamu dengan benar, itu terbuka."
Jangankan membantunya untuk mengancingkan kemeja, bahkan tak ada lagi Luhan yang manja, yang gemar menggerutu saat kancing kemeja kedua dan ketiga miliknya terbuka, entah mengapa rasanya sakit melihat Luhan tidak mempedulikannya hingga Sehun lebih memilih pergi tanpa menyentuh sandwich dan teh hangat yang dibuat Luhan untuknya.
"hyung mau kemana?"
"Aku sarapan dengan Kai di kantor."
Dia hanya memberitahu Jaehyun, dan tanpa berpamitan pada istri serta ibunya Sehun beranjak lesu meninggalkan rumah tanpa kecupan Luhan satu minggu terhitung hari ini "hampa sekali." Dia mengeluh, berharap ada teriakan yang memanggil namun nihil, Luhan benar-benar tidak peduli dan memaklumi adalah hal sulit yang harus dilakukan Sehun saat ini.
BLAM!
Bunyi pintu cukup kencang ditutup, dan bohong jika Luhan tidak bisa menebak jika itu suaminya, dia tahu itu Sehun, tapi entah mengapa dia tidak peduli, satu-satunya yang dia pedulikan kini hanya si kembar dan jauh di lubuk hatinya Luhan tahu sesuatu dalam dirinya memang sedang terganggu karena terus mengabaikan ayah dari anak-anaknya, entah apa itu, sampai Jaehyun sengaja berteriak.
"Hyung!"
"hmh?"
"Sehun hyung demam malam tadi."
Luhan yang sedang memberikan susu formula khusus balita dibawa satu bulan sedikit tergerak hatinya untuk peduli, dia juga menatap Jaehyun cukup lama lalu bertanya mengulang "Demam?"
"eoh, 38,9 saat aku ukur suhu tubuhnya."
Dan setelah merasa cukup memberikan susu pada kedua anaknya, Luhan melepas masing-masing botol yang dipesan khusus oleh Sehun, yang menyerupai bibir mungil kedua putra mereka agar si kembar nyaman saat Luhan memberikannya susu.
"Kenapa?" tanyanya kini mendekati Jaehyun, entah mengapa ketidakpeduliannya hilang kemana saat melihat sandwich dan teh suaminya masih utuh tak tersentuh, dia mulai menatap cemas adik iparnya untuk bertanya "Tapi demamnya sudah turun pagi ini, kan?"
"Entahlah, dia tidak mau di suhu lagi pagi ini."
"Bagaimana jika kakakmu masih demam?"
"Dia bilang begini-…." Jaehyun menenggak rakus segelas susu putihnya untuk menatap Luhan dalam-dalam, mempraktekan seolah dirinya adalah Sehun "Aku lebih baik demam dan dirawat di rumah sakit jika itu bisa membuat istriku peduli dan memperhatikan aku lagi."
"huh?"
"Sepertinya demamnya karena sudah lama tidak memelukmu hyung."
Luhan mulai panik, terlihat dari caranya menggigiti bibir hingga tangan yang mencakar kuat telapaknya, hal itu disadari Jihyo yang kemudian datang mendekati Luhan untuk berbisik "Bukan salahmu, jangan berfikir itu salahmu Lu."
"Tapi Ma-…"
"Dulu saat melahirkan Jaehyun mama juga tidak mau melihat wajah papamu, mama akan menangis jika papa mendekat dan akan muntah jika mencium aroma tubuhnya."
"wah, Kejam sekali ma."
Jaehyun berkomentar dibalas kekehan Jihyo yang masih mengusap punggung menantunya "Itu wajar nak, terkadang sindrom kita memang baru muncul setelah kelahiran bayi, kau menjadi sangat protektif dan tidak mengizinkan siapapun datang mendekat termasuk ayah dari si bayi."
"Tapi Sehun demam ma."
"Anak itu memang ketergantungan padamu, jadi rasanya bukan berita besar jika dia sakit karena kau abaikan."
"Tetap saja…."
"Baiklah begini saja, biar mama bertanya padamu lebih dulu."
Dan saat mamanya menarik kursi di sampingnya, Luhan bertanya lesu memikirkan bagaimana jika Sehun bekerja dalam kondisi demam "Apa?"
"Kenapa kau mengabaikan Sehun? Karena kau ingin atau kau tidak tahu alasannya?"
Luhan bimbang menjawab, tapi sungguh ini bukan keinginannya hingga "Aku tidak tahu." Adalah jawaban sesungguhnya yang dirasakan Luhan "Aku hanya takut Sehun membuat anak-anakku menangis, itu saja ma."
"Itu wajar sayang, semua hanya tinggal menunggu waktu sampai sikap overprotektif yang kau rasakan hilang, Sehun beruntung hanya satu minggu, asal kau tahu papanya hampir satu bulan tidak bisa menyentuh mama." Jihyo mengerling Jaehyun memberitahu, membuat Jaehyun tertawa namun tidak pada Luhan yang masih memikirkan Sehun.
"Kau tenang saja hyung, nanti jika kau peluk demamnya akan hilang."
"Tidak perlu memaksakan diri, tunggu sampai kau peduli lagi pada suamimu."
Bimbang lagi, sekilas Luhan menatap box bayi anak-anaknya lalu menatap keluarga suaminya untuk berakhir tertunduk membuat keputusan "Aku ingin memeluknya juga."
.
.
.
.
Malam hari,
.
Seperti biasa selama satu minggu ini Sehun akan pulang larut malam, sengaja dia melakukannya karena percuma saat kembali ke rumah sekalipun dirinya akan dibatasi oleh berbagai peraturan Luhan seperti
Cuci tanganmu lebih dulu sebelum menggendong anak-anak
Atau
Sehun berhentilah menciumi mereka, kau mengganggu tidur anak-anak
Dan masih banyak lagi peraturan yang harus diikuti Sehun selama masa trainee dirinya sebagai seorang ayah, sebenarnya dia tidak menyalahkan Luhan, dirinya tahu ini semua demi kebaikan si kembar agar steril dari hal-hal yang bisa membuat tubuh rentan mereka terserang penyakit.
Ya, mungkin jika hanya tentang bagaimana dia harus membatasi interaksi dengan kedua putranya bukan masalah yang akan membuatnya gundah dan enggan pulang seperti ini, tapi ini Luhan, bukan hanya kedua putranya, Luhan juga membatasi diri untuk disentuh dan itu membuat dirinya gila serta merana, mereka tidak pernah seperti ini sebelumnya, mereka selalu tidak terpisahkan sejak awal kehamilan Luhan hingga kedua buah hatinya lahir satu minggu yang lalu.
Tapi semua itu berubah satu minggu sejak Luhan pertama kali diperbolehkan menggendong si kembar tanpa bantuan siapapun, dia cenderung menjadi posesif pada kedua putranya, Kyungsoo menyebutnya sebagai baby blues syndrome, hanya saja keadaan berbeda pada Luhan.
Jika kebanyakan kasus sang ibu tidak ingin berada dekat dengan bayinya, maka keadaan sebaliknya terjadi pada Luhan, dia bersikap sangat posesif pada si kembar, tidak mengizinkan siapapun menyentuh bayinya selama lima menit termasuk Sehun.
Awalnya Sehun menerima, tapi perlahan dirinya menyadari bahwa tak hanya si kembar tapi Luhan juga membatasi diri untuk disentuh terutama olehnya, puncaknya terjadi satu minggu lalu saat istrinya meminta dengan tegas untuk tidak berada satu kamar dengannya.
Sehun menolak dan Luhan mengancam akan tinggal di motel jika seperti itu, ancamannya tidak main-main, dia benar-benar sudah mencari motel terdekat hingga membuat Sehun kalah dan terpaksa pindah satu kamar dengan adiknya.
"haah~"
Nafas beratnya terasa begitu sulit dikendalikan setiap harinya, dan setiap malam inilah yang dilakukan Sehun, mengendap layaknya seorang pencuri hanya untuk memastikan istri dan anak-anaknya sudah terlelap.
Langkah kakinya nyaris tidak terdengar saat mendekati tempat tidur Luhan, disana dia bisa melihat istrinya sudah terlelap walau wajah lelahnya masih mendominasi, dia tahu tidaklah mudah merawat bayi mereka seorang diri, tapi karena syndrome yang sedang datang padanya Luhan tetap bersikeras merawat kedua bayinya tanpa bantuan siapapun.
Luhan tidak membiarkan mama mengganti popok anak kalian nak, bicaralah padanya, nanti dia bisa jatuh sakit jika terus memaksakan diri.
Begitu pesan yang dibacanya siang tadi, bagaimana ibunya melaporkan hal-hal yang coba dilakukan Luhan seorang diri untuk menjaga bayi mereka, Sehun tidak mengerti harus melakukan apa lagi hingga berkonsultasi pada psikolog di tempat kerjanya untuk mendapatkan jawaban
Rasanya wajar jika istri anda bersikap posesif pada bayi kalian, dia pernah kehilangan anaknya beberapa tahun lalu, jadi kurasa itu adalah hal wajar dan akan hilang seiring berlalunya waktu.
Lalu apa yang harus aku lakukan selama sindrom ini menguasai hati dan pikiran istriku.
Bersabarlah.
Hanya itu jawabannya, dan sepertinya Sehun memang tidak memiliki hal lain selain bersabar, nyatanya Luhan menikmati peran barunya sebagai ibu, walau sedikit berlebihan tapi Sehun tahu bagaimana setiap hari Luhan berusaha memberikan yang terbaik untuk kedua putranya.
"Gomawo sayang."
Ucapan terimakasih itu tidak bisa mewakili hal yang sudah dilakukan Luhan, perjuangannya untuk mengandung hingga melahirkan dan kini mengurus tanpa bantuan siapapun adalah hal yang membuat Sehun takjub bahwa seorang ibu benar akan melakukan apapun untuk anak mereka.
Hatinya kini lebih tenang, dia juga tidak akan bersikap kekanakan lagi esok hari, jadi ketika surai cantik istrinya terpejam Sehun hanya bisa menikmati dalam diam seraya mengusap lembut wajah yang selalu membuatnya tergila sampai saat ini.
Huee—hkss~
Lalu perhatian Sehun terbagi saat mendengar suara tangisan, membuatnya menoleh ke dua box bayi terpisah untuk mencari siapa yang sedang menangis, buru-buru dia melihat ke box berbeda yang sengaja disiapkan Luhan, menoleh pada si pemilik box merah untuk menyadari bahwa yang menangis adalah Sehan yang berada di box biru.
Hkss…huee~
"Hey jagoan papa."
Setelah memastikan tangannya steril untuk menggendong si bungsu, Sehun perlahan mengambil Sehan kedalam gendongannya, bergerak sediki ke kiri lalu sedikit ke kanan untuk meninak-bobokan malaikat kecil yang sukses membuat perhatian Luhan teralihkan.
Kadang saat menatap Sehan atau Hanse akan ada rasa cemburu pada kedua buah hatinya, tapi jika sedang ditinggal berdua seperti ini rasanya Sehun rela menukar nyawanya hanya untuk membuat anak-anaknya tumbuh dengan baik dan bahagia.
Hksss…huee~
"sssh…Sehannie anak baik, jagoan papa, sshh…"
Sehun terlihat sangat sabar menjaga buah hatinya, sesekali dia menciumi wajah mungil bayinya untuk terkekeh menyadari bahwa wajah si kembar benar-benar berbeda, jika Sehan memiliki rahang yang sedikit runcing sepertinya, maka Hanse adalah bentuk wajah ibunya, mungil dan kecil hingga membuat Sehun tak henti bersyukur dan sangat bahagia karenanya.
"Sekali melahirkan seperti memiliki dua anak bukan?" gumamnya gemas seraya menyatukan dahinya dan dahi Sehan, untuk beberapa saat mereka saling berbagi kontak batin, Sehun benar-benar tenang melihat mata Sehan, sementara si bungsu seketika tenang saat bibir ayahnya menyapu lembut bibirnya yang menangis.
"Anak pintar."
Setelahnya Sehun kembali meletakkan putranya kedalam box, dia juga telaten memasangkan sarung tangan kecil pada Sehan sebelum mengecup sayang kening si bungsu untuk beralih pada Hanse "Jagoan kecil papa." Ujarnya sayang dipenuhi rasa cinta.
Sehun sedikit membungkukan tubuhnya dan mencium kening Hanse terlalu dalam, mungkin bayinya yang satu ini akan menjerit jika ciumannya tidak segera dilepas, beruntung Sehun melepasnya dengan cepat sebelum tertawa gemas melihat bagaimana si kembar tidur dengan nyaman bersama ibu mereka.
"Baiklah, selamat malam untuk kalian sayang." Katanya mencium lagi, lalu kembali berjalan mendekati Luhan, dia hanya ingin menaikkan selimut istrinya, mencium kening Luhan lalu berniat pergi kekamar Jaehyun.
Well, dia butuh tidur dan sepertinya pikiran untuk tidur bersama adiknya tidak buruk, jadi saat kakinya melangkah hendak pergi Sehun sudah pasrah dan mulai terbiasa untuk tidak tidur disamping Luhan.
"Selamat malam sayang, aku akan bersikap lebih baik esok hari." Katanya menatap cukup lama, lalu mematikan lampu di meja kamar untuk bergegas pergi sebelum tangannya digenggam kuat oleh tangan yang lebih kecil darinya dan itu Luhan yang melakukannya.
Sehun kemudian menoleh, dia sudah membuat kesalahan dengan membangunkan Luhan untuk buru-buru menjelaskan "Aku hanya melihat sebentar, maaf mengganggumu sayang."
Luhan tetap menggenggam kuat jemari suaminya tanpa suara, tangan yang lain digunakan untuk menyalakan lampu hias di meja kamar hingga matanya dan mata lelah Sehun kini bertatapan cukup lama tanpa suara.
"Aku akan segera pergi."
Luhan menggigit bibirnya cemas, dan seperti dugaan Sehun istrinya akan melepas genggaman itu dan memintanya pergi, itu pikirannya, tapi diluar dugaan saat dikira Luhan memintanya pergi, lelaki cantik itu justru mengangkat kedua tangannya seraya bergumam manja "Peluk aku."
"nde?"
Kini bibirnya mengerucut, matanya menunjukkan dia merajuk lalu suara manjanya kembali terdengar "Peluk aku."
Rasanya seperti mimpi setelah satu minggu mengerikan harus dilaluinya tanpa Luhan yang manja dan merajuk seperti ini, Sehun bahkan mencerna maksud dari semua ucapan Luhan dengan berhati-hati takut jika dia melakukan tindakan salah yang bisa membuat istrinya marah dan tak mau bicara dengannya.
"Sehun kau tidak mau memelukku?"
"yang benar saja!"
Buru-buru Sehun menggeleng, dia tidak berharap ini nyata, tapi sekalipun ini mimpi dia akan tetap bergegas mendekati Luhan lalu mendekapnya sangat erat, seperti ini, menciumi surai yang begitu dirindukan lalu menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Luhan yang begitu seksi dan menggoda.
"Aku bahkan rela tidak makan hanya untuk memelukmu sayang." Katanya bergumam gila dan Luhan membiarkannya, omong-omong dia juga rindu mengusap punggung kekar yang begitu lebar dan proporsional milik suaminya, jadi saat kesempatan itu ada Luhan tidak membuang kesempatan untuk mengusapnya banyak-banyak dan tanpa rasa gengsi berbisik "Maafkan aku, harusnya aku tidak membiarkan sindrom ini menguasaiku begitu lama."
Sehun menggeleng, dia terus memeluk istrinya sangat lama dan mengecup lehernya hingga Luhan harus mendongak dan memberikan Sehun banyak akses yang bisa membuatnya puas melepas rindu.
"Omong-omong aku belum bisa bercinta sayang."
Sehun kemudian berhenti mengecupi leher istrinya, pelukan itu lepas dengan berat hati hingga tatapannya dibuat sendu untuk bertanya "Kenapa?"
"Masih sakit bekasnya, aku benar-benar tidak bisa bergerak dan tidak bisa menerima hentakan kencang."
"Berapa lama?"
"Satu bulan mungkin, atau lebih, kau bisa bersabar kan?"
Kecewa memang, tapi melihat Luhan sudah mau berbicara bahkan memeluknya saja sudah membuat Sehun sangat bahagia, jadi satu bulan bukanlah masalah besar selama Luhan tidak menolak kehadirannya lagi.
"ya, Asal kau tidak menolakku lagi."
Luhan menyesal tapi disaat yang sama dia juga gemas melihat bagaimana Sehun mencoba melayangkan rasa protesnya, bibirnya sedikit mengerucut dan yang paling menggemaskan puppy eyes Sehun terlihat sama dengan miliknya namun dengan versi sedikit membuat mual.
"Baiklah kemari."
Luhan menarik tengkuk suaminya, dia juga mengecup lembut bibir Sehun dibalas lumatan-lumatan sedikit menuntut dari suaminya, bibir mereka saling menghisap satu sama lain, tak lama kini lidah mereka saling bertautan dan mengakses bibir masing-masing.
Sehun terkadang sedikit kasar menggigiti bibir bawah istrinya, tapi saat Luhan mengerang sakit dia mengalah dan kemudian melembutkan hisapan di bibir Luhan sementara istrinya perlahan mulai memberi jarak dan menyatukan dua dahi mereka, nafas tersengal, bibir sedikit bengkak, sementara Luhan mengusap gemas bibir seksi Sehun yang terbuka "Aku sudah minta maaf dan aku menyesal menolakmu, jadi mulai malam ini kembali tidur denganku dan jangan mengganggu Jaehyun lagi."
"Benarkah? Aku boleh tidur denganmu?"
"Kau pemilik kamar sayang, harusnya aku yang bertanya seperti itu."
Sehun menggeleng cepat seraya mengusap lembut wajah cantik Luhan yang membuatnya sangat bergairah "Berapa kali kubilang milikku adalah milikmu dan-…"
"Milikku tetap milikku." Timpal Luhan membuat Sehun tertawa namun mengangguk membenarkan "Tepat."
Jadilah mereka berdua tertawa, sampai Luhan lebih dulu bergeser dan meminta Sehun untuk berbaring disampingnya "Aku mandi lebih dulu."
"Tidak perlu ini sudah jam satu pagi, lagipula harusnya kau mandi sebelum menggendong anak kita."
Mengernyit, Sehun membuka kemeja dan topless untuk berbaring mengambil alih tubuh Luhan agar bersandar padanya "Kau melihatku menggendong Sehan?"
"Dari awal kau membuka pintu aku tahu."
"Lalu kenapa hanya diam?"
"Aku menunggu sampai anak-anak tidur."
Sehun selalu kalah dengan seribu alasan yang diberikan Luhan, dan karena alasasn itu pula dia lebih memilih diam mengecupi surai kepala istrinya untuk bergumam "Baiklah, kau menang lagi."
Luhan terkekeh membiarkan Sehun memeluknya erat, tak lama dia bertanya "Apa kau sudah lebih baik?"
"Perasaanku? Tentu saja Lu."
"Bukan, kau sudah tidak demam bukan?"
"Demam? Kapan?"
Melihat wajah bingung suaminya Luhan bertanya "Kau tidak demam?"
"Tidak aku baik-baik saja."
"sshh…"
"Kenapa? Kenapa mendesis padaku?"
"Apa kau menyuruh Jaehyun berbohong?"
"Tidak, sayang ada apa?"
Bisa saja Luhan marah karena telah dibohongi, tapi lucunya ini adalah hal yang paling menggemaskan saat Sehun tidak mengetahui apapun yang coba dilakukan Jaehyun untuk membuat mereka berbaikan.
"Lupakan, bukan hal penting."
"Apa kau menyembunyikan sesuatu?"
Dan untuk usaha Jaehyun, Luhan menghargainya dengan tidak marah atau tidak menceritakannya pada Sehun, jadi dia hanya menghirup dalam-dalam aroma khas parfume Sehun di dadanya untuk bergumam "Aku mencintaimu, itu saja."
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelahnya…
.
"Kai! Sebenarnya ada apa? Kenapa kita pulang lebih awal dan kenapa rumahku?"
Saat ini yang berada didalam mobil adalah dua orang ayah yang masing-masih melipat kemeja putih mereka hingga ke lengan siku, dan bukan tanpa alasan kedua pria yang memiliki warna kulit cukup kontras itu melipat kemeja sampai ke lengan siku, pertama mereka adalah seorang pengusaha dengan banyak proyek yang harus diselesaikan secepatnya, kedua mereka juga merupakan seorang suami dan ayah yang harus membagi waktu antara jam kerja dan keluarga jika tidak ingin berakhir bertengkar dengan istri masing-masing.
"Kau ingat? Kita sudah lembur lebih dari tiga hari."
"Lalu?"
"Lalu apa kau lupa jatah lembur kita hanya tiga hari jika tidak ingin masing-masing dari istrimu dan istriku menendang kita dan memaki kita untuk tidur bersama dokumen sialan yang membuatku sakit kepala?"
"ah…."
Sehun mengingatnya, ini sudah tiga bulan berlalu sejak kelahiran anak-anaknya, dan hari ini pula, tepatnya dua bulan lalu kejadian serupa sudah dialami Chanyeol dan mereka berdua tahu bagaimana Baekhyun dengan bengisnya hanya memberikan Chanyeol setumpuk kertas diluar rumah, itu pelajaran untuknya dan Kai, jadi Sehun hanya mengangguk horor setelah diingatkan, sepakat untuk melupakan sejenak dokumen sialan yang harus ditandatangani sampai sahabat istrinya itu menggumamkan sesuatu yang tak asing di telinganya.
"Aku tidak sabar bertemu dengan Haowen."
BLAM!
Setelahnya Kai lebih dulu berlari masuk kedalam rumah orang tuanya, membuat ayah dari si kembar itu mengernyit bertanya seraya mengulang nama terakhir yang disebutkan Kai sebelum keluar dari mobil "Haowen?"
Seingatnya satu-satunya Haowen yang mengikat dirinya dan Kai adalah keponakan mereka, jadi saat Kai mengatakan tidak sabar bertemu Haowen bukankah itu artinya Oh Haowen keponakan mereka, putra tunggal kakaknya dan Kakak Jongin.
Kakaknya?
Sontak hal itu membuat Sehun teringat kakaknya, bajingan tua yang kali terakhir bertengkar dengannya dan pergi dari rumah, entah perasaan macam apa ini, tapi Sehun berharap itu benar-benar Haowen keponakannya, putra dari Jaejoong dan Yunho hingga membuatnya tanpa sadar membuka knop pintu seraya memanggil.
"Yunho! Aku berharap itu benar-benar kau bajingan!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Klik….!
.
.
Tak sabar Sehun membuka pintu, sejujurnya dia cukup terkejut mendapati rumahnya dipenuhi oleh banyak orang yang tak lain adalah keluarga dan teman terdekatnya, hanya saja ini terlalu ramai, dia bahkan bisa melihat ayah mertua Yunho dan Kyungsoo yang tak lain adalah kakek Taeoh dan Haowen juga berada disana entah karena apa.
"Sehun kau tiba lebih awal nak."
Dan saat ibunya datang mendekat, dia masih terlihat mencari lalu mamanya bertanya "Kau mencari Luhan?"
"huh?"
Sejujurnya bukan Luhan yang dicari, dia mencari sosok bajingan tua yang dua tahun lalu bertengkar hebat dengannya, ingin rasanya dia menemukan punggung yang familiar di ingatannya, nihil, jadilah dia mulai berfikir rasional, tidak mungkin juga ibunya akan setenang ini jika putra tertuanya pulang kerumah, sedikit kecewa memang, tapi Sehun tidak ingin membuat ibunya kembali bersedih dan hanya mengangguk sebagai jawaban.
"ah ya, dimana istriku ma?"
"Luhan sedang membeli beberapa perlengkapan bersama Kyungsoo dan Baekhyun."
Tunggu!
Jika istrinya sedang berada diluar, lalu siapa sosok yang menyerupai istrinya yang sedang menggendong kedua putranya, ini tidak masuk akal hingga membuat Sehun tak tahan untuk bertanya "Ma, jika Luhan keluar lalu siapa yang sedang menggendong si kembar disana?"
Senyum lembut Jihyo dipenuhi arti dalam sorot matanya, ini adalah ekspresi ibunya saat bahagia, dan tak ada yang paling mendebarkan untuknya selain berharap ada kabar membahagiakan yang bisa didengarnya malam ini.
"Itu Jaejoong."
"huh?"
"Yang menggendong Sehan dan Hanse, Itu Jaejoong, nak."
Sekilas mata Sehun menatap punggung kecil hampir serupa dengan milik Luhan, memperhatikan bagaimana gerak gerik lelaki itu terlihat mahir dengan bayi yang baru lahir hingga membuat Sehun seolah dipaksa mengingat bahwa sejak kelahiran putra pertamanya dan Yunho, Jaejoong memang sangat menyukai anak kecil mungkin hingga saat ini.
"Mereka pulang, kakakmu."
"HAHAHAHA SAMCHON GELI! HAHAAHAHA…"
Belum selesai rasa syukur itu dirasakan Sehun, kini sosok bayi kecil pertama yang hadir dikeluarga Kim dan Oh terlihat sedang tertawa bersama Jongin, ah, hanya dua tahun tapi keponakannya terlihat sudah sangat besar, dia juga tumbuh memiliki mata sipit khas kakaknya dengan rahang tegas khas milik keluarga Oh.
"i-Itu Haowen ma?"
Dia bertanya haru, rasanya sangat rindu diiringi anggukan sang ibu yang kini beralih memeluknya erat "Itu Haowen nak."
"astaga….."
"Mereka pulang, kakakmu pulang, sepertimu."
Sejenak Sehun mendongak mencegah air matanya jatuh membasahi namun gagal, hatinya terlalu bahagia, terlalu sesak dipenuhi penyesalan hingga rasanya dia tak tahan dan memutuskan untuk melakukan sesuatu.
"Aku ingin bicara dengannya."
Seolah mengerti siapa yang sedang dibicarakan putra keduanya, Jihyo mengangguk seraya melepas pelukan Sehun untuk memberitahu "Hyungmu sedang berbicara dengan papa di taman belakang."
"Baiklah."
Langkahnya mantap mendekat ketempat dimana kakaknya berada, tapi sebelum dirinya terlibat perseteruan dengan Yunho, dia hanya ingin memastikan kakak ipar dan keponakannya bahagia tanpa kekurangan satu apapun setelah dua tahun dibawa pergi oleh kakaknya.
"Kalian lucu sekali sayang, cepat besar dan main dengan Haowen hyung, hmhh?"
Sehun tertawa mendengarnya, rasanya Jaejoong memang akan selalu menjadi pribadi yang ceria dan bahagia, terbukti dari cara bicaranya yang tak pernah berubah hingga parasnya yang masih begitu sempurna sama seperti kali terakhir mereka bertemu.
"Ini Sehan, Ini Hanse, tenang saja Jongie sudah bisa membedakan wajah kalian, hahaaha…"
Dan saat Jaejoong meletakkan satu persatu si kembar kembali ke dalam box kecilnya, disaat yang sama pula tangan Sehun terulur dan mulai menepuk lembut pundak kakak iparnya, sesaat bibirnya kelu, tapi ketika wajah Jaejoong menoleh dan bertemu pandang dengan matanya, maka tak ada kelegaan selain rasa syukur melihat kakak iparnya baik dan sangat baik untuk dikatakan tidak bahagia.
"Se-Sehun?"
"hyung…."
Terlihat Jaejoong masih sedikit takut bertatapan dengan Sehun, wajar saja, mengingat kali terakhir mereka bertemu dirinya bersikap sangat kasar pada Yunho dan mengabaikan fakta bahwa saat itu Jaejoong berada disana, melihat bagaimana dirinya memaki suami tercintanya.
"Aku—hai, tapi Yunho tidak bilang-...Sehun!"
Jaejoong sedikit memekik tatkala lengannya ditarik dan berpindah tempat ke dekapan hangat seorang adik, rasanya seperti memeluk Jongin, itu yang ada di pikiran Jaejoong saat dekapan sebuah keluarga dirasakannya, dia tidak berharap Sehun akan bersikap seperti ini karena memang suaminya sangat keterlaluan saat mereka bertengkar beberapa waktu yang lalu.
"Mianhae hyung…."
Jadi ketika kedua lengan adiknya memeluk hangat, saat suara maaf itu diucapkan Sehun terdengar sangat tulus, maka wajar dalam detik yang sama pula terdengar suara isakan Jaejoong tanda dirinya bahagia, bersyukur, karena pada akhirnya dia bisa membawa Haowen benar-benar pulang dan tinggal bersama nenek, paman serta kedua sepupunya yang baru lahir.
"Sehunna….Sehun! harrghhh~"
Yang mengetahui alasan mengapa pelukan singkat itu terasa memiliki makna yang begitu dalam, itu artinya kalian mengikuti perjalanan hidup seorang Oh Sehun, alasan mengapa dirinya dan sang kakak bertengkar hebat adalah karena dirinya seorang anak dan adik pembangkang di masa lalu.
Saat itu dia terus menyalahkan ayahnya karena Luhan menggantikan posisinya pada kecelakaan mengerikan yang mengharuskannya kehilangan calon buah hati pertamanya dengan Luhan, dia begitu marah tanpa bisa ditenangkan, kalimat kasar, tatapan benci serta caci hina adalah hal yang terus dilontarkannya tanpa memikirkan bagaimana hancur perasaan ayah, ibu serta keluarganya.
Dia adalah lelaki egois yang tidak bisa dimaafkan beberapa tahun yang lalu, karena keegoisannya pula dia membuat keluarga kecilnya terpecah belah, Yunho meninggalkan rumah begitupula dirinya, meninggalkan Jaehyun seorang diri dan memaksa si bungsu untuk menanggung segala keegoisan yang dimiliki oleh keluarganya.
"Terimakasih sudah pulang."
Satu kalimat itu kembali diucapkan Sehun, kali ini dia juga menghapus air mata Jaejoong seraya tersenyum lembut "Dan terimakasih sudah bersabar hidup dengan beruang gilamu hyung." Katanya mengejek sebutan lama Yunho hingga tawa kecil terlihat di paras cantik Jaejoong yang mulai mengangguk dan tak lagi menangis "Dia banyak menangis karena merindukan adik kecilnya."
"Kenapa aku merasa ini omong kosong?"
"Sehun…."
"araseo, mianhae. Aku akan bicara dengannya, dimana Yunho?"
"Disana."
Jaejoong menunjuk ke taman belakang rumahnya, membuat Sehun mau tak mau ikut menoleh dan tiba-tiba tersentak sangat terharu melihat kedua sosok yang begitu dihormatinya sedang bersama di tempat favorit mereka dirumah ini.
Sehun bahkan menitikkan air mata melihat kedua pria tertua di keluarga ini berdiri berdampingan, ayahnya tak lagi menggunakan kursi roda, sementara siluete Yunho masih terlihat sama dari belakang, membuat Sehun tersenyum rindu terlebih saat dia menyadari tinggi keduanya tak jauh berbeda hingga terasa begitu sempurna saat berdampingan "haah~" lelaki ketiga tertua di keluarganya itu pun menarik nafas seraya menghapus air mata, dia kemudian menepuk lembut pundak kakak iparnya seraya berbisik "Aku akan menemui mereka."
"Sehun…"
Baru ingin melangkah Jaejoong kembali memanggilnya, Sehun hanya menoleh sekilas lalu ibu dari keponakannya itu bergumam "Gomawo." Kalimat yang rasanya tak perlu diucapkan mengingat mereka semua memiliki salah yang sama, memiliki keterbatasan emosi yang mengerikan hingga rasa sesal itu sama juga dirasakan, jadilah Sehun tak menjawab apapun, dia hanya tersenyum seraya mengerling kakak iparnya dan berjalan pergi mendekati kedua pria yang begitu dirindukannya.
"Aku rasa Haowen sudah beradaptasi di Jepang, lagipula Jaejoong juga sudah memiliki banyak teman disana. Istri dan anakku terlihat bahagia disana pa."
"Jadi keputusanmu adalah kembali ke Jepang?"
Sontak rasa rindu Sehun digantikan kecewa mendengar percakapan ayah dan kakaknya, rasanya dia tidak ingin datang menghampiri, hanya saja saat Yunho menjawab "Tergantung bagaimana Sehun bersikap."
Membuat Sehun berhenti melangkah, sekilas dia melihat Yunho tersenyum, tapi tak ada raut bahagia disana hanya segurat rasa kecewa yang coba disembunyikan dibalik senyum yang tak terlihat seperti kakaknya.
"Apa maksudmu nak?"
"Papa tahu maksudku."
Hanya sebatas jawaban itu yang dilontarkan Yunho, kakaknya tetap bersikeras untuk tidak mengungkit hal yang terlalu sensitif untuk mereka bicarakan, hanya sekedar harapan tersirat tanpa mau menjelaskan hingga terpaksa Sehun bertanya, menginterupsi percakapan ayah dan kakaknya.
"Apa kau begitu marah padaku? Hingga keputusan untuk tinggal bergantung pada sikapku? Sikap yang seperti apa? jelaskan padaku?!"
Baik Yunho maupun Insung, keduanya cukup terkejut melihat Sehun ada di belakang mereka, entah sejak kapan ayah dari si kembar itu ada disana, sebanyak apa dia mendengarkan tapi melihat bagaimana adiknya menahan emosi hanya membuat Yunho sadar bahwa Sehun mendengarkan dari awal.
"Kau ingat kali terakhir kita bertengkar?"
Tersenyum getir, Sehun menjawab "Tidak pernah kulupakan."
"Begitupula denganku." Balas Yunho sama getir namun tak membiarkan adiknya berbicara sebelum Sehun memahami sesuatu sebelumnya "Tapi apa kau menyadari hal yang membuatku begitu geram saat itu?"
"Karena aku memukul wajahmu!"
Tak percaya, Yunho dibuat tertawa getir dan tegas mengatakan "Salah!" jawabnya dan itu membuat wajah Sehun bertanya namun enggan disuarakan "Itu karena kau membentak papa dan mama! Kau sangat keterlaluan saat itu!"
Hal yang disyukuri Sehun malam ini adalah karena Luhan tidak berada dan mendengar hal-hal sensitif yang menjurus kepada dirinya, malam itu memang Sehun menyalahkan ayahnya tanpa memberinya batas untuk menjelaskan, hanya Luhan yang ada di dalam kepalanya hingga saat Yunho memukulnya, dia bertindak gila dengan memukul balik wajah kakaknya, lebih kencang dan kuat hingga sudut bibir Yunho mengeluarkan darah saat itu.
"Kau tidak sedikit pun berkedip saat menyalahkan papa, hatimu bahkan tidak tergerak walau mama menjerit memohon padamu, kau hanya terus berteriak tanpa tahu bahwa kedua orang tua kita menderita dipenuhi penyesalan padamu dan pada Luhan-…!"
"KAMI PULANG!"
Sedetik suasana tegang itu hilang bersamaan dengan suara Luhan yang menggema di koridor pintu utama, dan disaat yang sama pula Yunho bisa melihat adik iparnya meletakkan banyak barang belanjaan sementara wajah Sehun pucat menyadari situasi mengerikan yang melibatkan dirinya dan sang adik selalu berkaitan dengan Luhan.
Jujur saja dia juga cemas dan bertanya sebanyak apa Luhan mendengar, terlebih saat Luhan menunjukkan wajah cemas seraya berbisik kepada ibunya "Ma, ada apa ini?" tanyanya, dan melihat Sehun terlihat mengusap kasar wajah serta mengumpat tanpa suara hanya membuat nalurinya bekerja untuk mendekat namun tak sampai terjadi saat lengannya dicengkram kuat oleh Baekhyun dan Kyungsoo.
"Wae?"
Terlihat sama pucat dan cemas, kedua sahabat suaminya itu menggeleng untuk bergumam "Biarkan mereka bicara Lu."
"Tapi Sehun-…."
"Biar mereka menyelesaikan masalah mereka Lu, ini sudah terlalu lama."
"Baek-…."
Baekhyun menggeleng memperingatkan, Luhan beralih menatap Kyungsoo dan hal yang sama terjadi, keduanya meminta dirinya untuk membiarkan sementara suaminya terlihat kacau disana.
"Ma…."
Begitu pula Jihyo, ibu mertuanya itu menampilkan senyum lirih sementara tak jauh dari tempatnya berada Jaejoong juga menatapnya memohon, membuat Luhan tak memiliki pilihan hingga berakhir membiarkan Yunho dan Sehun kembali berbicara tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Sehun…."
Tak sedikit pun Sehun menoleh pada istrinya, dia takut Luhan akan menatapnya kecewa, dia juga takut Luhan mendengar bahwa pertengkaran ini terjadi karena selalu berkaitan dengannya, dan dari ketakutan itu pula Yunho mencoba mengerti kondisi adiknya, dia pun sengaja berteriak
"Sayang, bawa Haowen kita akan segera pulang." Untuk membuat keadaan tidak lebih panas dan menegangkan dari ini, namun dari keputusannya itu pula semua orang terkejut mendengarnya, tak terkecuali ayah mereka yang baru saja merasa lebih baik harus dibuat menahan lengan putra sulungnya seraya menggeleng, memohon, agar tidak ada yang perlu pergi lagi dari rumah ini.
"Aku akan mengunjungi papa secepatnya."
Insung tetap menggeleng sementara perlahan Yunho melepas genggaman hangat ayahnya untuk bergegas pergi, menyudahi percakapan adiknya dengan mengatakan "Aku tahu ini selalu berat untukmu jika keluarga kita bertengkar dan Luhan ada disana, aku mengerti dan aku tidak menyalahkanmu untuk itu, aku pergi."
Setelah berpamitan Yunho berjalan melewati Sehun, tujuannya adalah Haowen yang kini ada di gendongan adik iparnya, dia merebut paksa putranya sementara Haowen mulai menangis dan menjerit karena Yunho kembali membawanya pergi, dari keluarganya.
"Hyung!"
Kai mencoba untuk menahan tapi Yunho seolah gelap mata dan hanya ingin membawa keluarganya pergi dari rumahnya sendiri "Haowen diam dan ikut papa!"
"SHIRHEO! HAOWEN INGIN DISINI—HALMONI TOLONG-…."
Anak delapan tahun itu rupanya sudah mengerti apa yang diinginkannya, dia ingin tinggal tapi ayahnya memaksa pergi, jadilah dia meminta pertolongan ke semua orang namun tentu tak ada yang berani mencengah keputusan mutlak Yunho menyangkut keluarga kecilnya.
Tidak ayahnya, tidak ibunya, tidak pula Jaejoong yang kini hanya diam dan pasra saat tangannya dicengkram kuat oleh sang suami "sayang…tidak bisakah kita tinggal lebih lama?"
"Ini bukan keluarga kita dan ini bukan rumah kita lagi."
"bajingan…."
Sehun bisa mendengar dengan jelas semua yang dikatakan Yunho, semua teriakan Haowen dan isakan kakak iparnya, dia juga bisa melihat raut sendu di wajah ayahnya, seakan semua itu sedang menyalahkan dirinya dan hanya dirinya.
Lalu Yunho mengatakan ini bukan ruman dan keluarganya lagi.
Bajingan…..
Dia dengan mudah memutuskan hubungan keluarga hanya karena sakit hatinya, mengabaikan tangisan Haowen hingga Sehun mendengar suara ibunya memohon di situasi yang awalnya dipenuhi tawa kini hening mencekam.
"Nak, tenangkan dirimu."
Menghiraukan permintaan ibunya, Yunho justru hanya tersenyum pahit mengatakan "Aku akan mengunjungi mama sebelum kembali ke Jepang."
"Yunho-…."
"Aku pergi ma." Setelah mencium kening ibunya, kini Yunho harus berpapasan dengan Luhan, adik iparnya yang hanya menundukkan kepala tak berani menatapnya, dia memaklumi sikap Luhan membuatnya tersenyum kecil seraya menyimpan kuat rasa sesalnya hanya untuk sekedar menepuk pundak Luhan dan pergi melewatinya begitu saja.
"LULU!"
Sontak Luhan menoleh saat Haowen menjerit memanggilnya, tangannya bahkan sudah hampir memegang lengan Yunho namun urung dia lakukan saat menyadari bahwa penyebab semua kekacauan ini tak lain adalah dirinya, jadi hanya tatapan sendu dan ketidakberdayaan yang bisa ditunjukkan Luhan sementara Haowen dibawa semakin menjauh darinya.
"Haowen…."
Dan tak ada yang lebih membuat Sehun terluka selain melihat Luhan menangis dalam diam dan menanggung rasa bersalah untuk hal yang tak pernah dia lakukan, hal itu hanya membuatnya semakin geram pada Yunho hingga tanpa sadar langkahnya cepat mendekat untuk mengejar kemana kakaknya pergi.
"Sayang…"
Bahkan Luhan diabaikan saat Sehun melewatinya, dia sedikit menghempas pegangan tangan istrinya hanya untuk mengejar kemana Yunho membawa kakak ipar dan keponakannya pergi.
"YUNHO!"
Dan teriakan Sehun adalah pertanda buruk, refleks Luhan dan Kyungsoo serta kedua orang tua Sehun ikut berlari keluar sementara Baekhyun menjaga anak-anak, memastikan bahwa si kembar tidak terganggu dengan suara teriakan atau Jiwon dan Taeoh tidak ketakutan melihat bagaimana Sehun sedang berteriak memanggil kakaknya.
"Ma, takut."
Baekhyun segera memeluk putranya dan Taeoh, sesekali dirinya melirik ke box si kembar hanya untuk memastikan malaikat kecil mereka tidak perlu melihat kekerasan yang sepertinya akan terjadi "Mama disini nak, kalian akan baik-baik saja."
"Baekie kenapa Samchon berteriak?"
"Samchon tidak berteriak Taeoh, hanya sedang meninggikan suaranya, jadi lebih baik kalian tutup telinga agar tidak mendengar apapun, hmmh?"
Taeoh dan Jiwon bahkan segera menutup telinga mereka sementara tatapan Baekhyun cemas memikirkan apa yang terjadi di luar sana "Sehunna, jebal…"
.
.
.
Sementara itu…
.
.
"Hyung kenapa sudah pergi? Bukankah makan malam belum siap?"
Kini Yunho harus berpapasan dengan si bungsu Saat dia membawa istri dan putranya menuju mobil, jujur, Yunho sudah lelah menjelaskan, jadi saat adiknya bertanya dia lebih memilih diam sementara Jaehyun mulai menyadari situasi dimana Jaejoong terlihat menangis sementara Haowen berteriak
"JAEHYUN SAMCHOON TOLONG HAOWEN! HAOWEN TIDAK MAU KEMBALI KE JEPANG! HUWAAAA~! KAKEEEKK!"
Baik Kakek Kim maupun Kakek Oh miris melihat cucu pertama mereka terlihat sangat ketakutan, mereka ingin mengambil cucu mereka namun Yunho akan melakukan hal lebih mengerikan jika mereka membawa Haowen.
Jadilah mereka hanya diam menyaksikan sementara Jaehyun mulai bertindak dengan menghadang kakaknya saat menyadari situasi yang sama dua tahun lalu kini terulang lagi "Jangan berfikir untuk pergi lagi, JANGAN!"
"Minggir…."
Dua tahun yang lalu Jaehyun melakukan hal yang sama, mencegah kakaknya pergi dan menghadangnya namun gagal, Yunho tetap pergi hingga dua tahun lamanya, jadi malam ini saat mereka memiliki kesempatan untuk berkumpul bersama hanya membuat Jaehyun bersumpah untuk tidak membiarkan Yunho pergi lagi, dia akan melakukan segala cara termasuk kekerasan dalam hal ini.
"Hyung apa kau gila? Kau bahkan belum sehari berada di Seoul!"
"Jaehyun, minggir."
"aniya, Jika ingin pergi kau bisa melewati mayatku lebih dulu."
"OH JAEHYUN! / OH YUNHO!"
Teriakan Yunho bersahutan dengan teriakan seseorang dibelakang sana, Yunho bisa menebak itu Sehun, tapi yang tidak bisa ditebak adalah cara Sehun untuk mengalihkan perhatiannya hingga Haowen berpindah tangan dengan kasar tanpa dia sadari lalu tak lama Yunho merasakan panas di wajahnya saat Sehun menghantamnya kasar tepat di wajah.
"SEHUN! / YUNHO!"
Jaejoong dan Luhan kini bersahutan saling berteriak, namun tak seperti Jaejoong yang memeluk Haowen agar tidak melihat ayah dan pamannya bertengkar, Luhan lebih memilih berlari mendekati suaminya, menghentikan hal gila yang terjadi disana namun langkahnya terhalang Jaehyun yang kini memeluk dan mencegahnya untuk datang mendekat "Jaehyun."
Jaehyun tidak menjawab, yang dia lakukan hanya memeluknya sementara disana sedang terjadi baku hantam antara Yunho dan Sehun "Biarkan mereka hyung."
"Tapi Sehun bisa terluka!"
"Mereka akan baik-baik saja."
BUGH!
Luhan bisa melihat bagaimana Yunho menghajar balik wajah Sehun, membuat suaminya terhuyung dan mengeluarkan darah di sudut bibir hingga refleks dirinya berteriak memanggil nama suaminya.
"SEHUN HENTIKAN!"
Nihil~
Sehun mengabaikan teriakannya lagi, membuat Luhan meraung frustasi namun tetap dicegah Jaehyun yang lucunya tak berkedip melihat kedua kakaknya berkelahi mengerikan seperti ini.
"LAKUKAN SESUATU JAE!"
Alih-alih mendengarkan kakak iparnya, Jaehyun lebih memilih memeluk Luhan seraya berbisik "Mereka akan baik-baik saja hyung, percaya padaku." Katanya menenangkan namun dibalas isakan Luhan yang begitu takut suaminya akan mengalami cidera mengingat pukulan Yunho terus mengenai titik vital tubuhnya.
"Siapapun, hentikan mereka."
Pertengkaran itu terus terjadi dan semakin sengit seiring berlalunya waktu, baik Yunho maupun Sehun sudah babak belur mengeluarkan darah segar dari bibir dan hidung masing-masing.
Luhan tak tahan melihatnya, dia lebih memilih bersembunyi di pelukan Jaehyun sementara baku hantam itu terdengar semakin mengerikan, tak ada yang berteriak, tak ada yang memaki, hanya saling bergantian jatuh bangun hingga bisikan lembut Jaehyun kembali terdengar "Mereka sudah selesai."
"huh?"
"Seperti kataku hyung, mereka akan baik-baik saja, lihatlah."
Awalnya Luhan enggan melihat, tapi dirasa tak ada lagi suara pukulan membuatnya berani menoleh, hal pertama yang ingin dilihatnya adalah keadaan Sehun, dia tak bisa membedakan yang mana suaminya dan yang mana kakak iparnya saat ini.
Saat keduanya berbaring terlentang di rerumputan halaman depan, saat hanya ada Oh Sehun dan Oh Yunho yang terengah dipenuhi lebam dan darah di wajah mereka dan hanya ada nafas bersahutan serta isakan kecil miliknya dan milik Jaejoong melihat suami mereka berkelahi seperti saat ini.
"Ini hanya cara lama yang diajarkan papa pada kami."
"Apa?"
"Berkelahilah, pukul sebanyak mungkin, berteriaklah, pukul sebanyak mungkin, keluarkan semua kemarahan kalian lalu berhentilah jika lelah, lihatlah ke langit, renungkan apa yang terjadi lalu kembalilah menjadi keluarga saat amarah itu hilang bersama dengan darah yang mengalir."
Rasanya Luhan akan memakai cara ayah mertuanya untuk membesarkan si kembar, sungguh, itu cara yang luar biasa untuk membuat sebuah hubungan kembali menjadi baik, mungkin kalian tidak akan percaya jika tidak melihatnya secara langsung.
Tapi saat ini apa yang dikatakan Jaehyun adalah kebenaran, Luhan bisa melihat kedua saudara itu sedang menatap langit dalam diam, sedetik kemudian mereka bertatapan dan entah apa yang mereka bicarakan tapi suara tawa itu nyata, mereka tak lagi berteriak, hanya tertawa bodoh dengan lebam di wajah masing-masing.
"Apa benar-benar sudah selesai?"
Jaehyun mengangguk, melepas pelukan pada Luhan lalu memberitahu kedua kakak ipar serta keluarganya "Masuklah, aku akan mengurus mereka."
"Jae…."
"Sebentar saja, nanti kukembalikan suami kalian, dan Haowen."
"y-Ya Samchon."
Jaehyun mengecup surai keponakan pertamanya untuk berjongkok dan memberitahu "Malam ini kau tidur denganku, seperti dulu, Mau?"
Mengangguk seraya menghapus air matanya, Haowen menjawab tanpa ragu "MAU!"
"Kalau begitu tunggu di dalam."
Haowen pun mengangguk sementara semua yang sedang mengkhwatirkan Yunho dan Sehun perlahan masuk kedalam rumah, begitupula Luhan dan Jaejoong yang kini mempercayakan Sehun dan Yunho pada adik bungsu mereka.
"Cepat masuk nak, diluar dingin."
Ibunya berpesan dan lesung di pipi Jaehyun menjadi jawaban yang menenangkan, semua percaya pada kemampuan Jaehyun bersabar dan mengatasi masalah, membiarkan si bungsu menyatukan kedua kakaknya yang bertindak sangat kekanakan dan memalukan didepan keluarga mereka.
"haah~"
Dan setelah memastikan pintu rumah tertutup, Jaehyun berjalan mendekati tempat dimana kedua kakaknya tergeletak, langkahnya berat namun hatinya yakin bahwa setelah ini keluarganya akan kembali dan tak akan terpisah seperti sebelumnya.
"bajingan kecil, pukulanmu sakit sekali."
"hahaha…kau juga bajingan tua."
Entah sampai kapan umpatan kasar itu akan berakhir, Jaehyun tidak peduli, yang dia pedulikan hanya kenyataan bahwa kini Sehun dan Yunho sudah berbagi tawa walau memakai kata umpatan, ini sudah cukup membuatnya bernafas lega hingga menyeruak ke tengah-tengah kedua kakaknya adalah hal yang dilakukan si bungsu dan memaksa Sehun serta Yunho memberikan space untuk adik bungsu mereka.
"Nyaman sekali."
Baik Yunho dan Sehun sama-sama menatap ke arah Jaehyun yang juga memandang langit, adik lelaki mereka itu bahkan tersenyum sangat tampan dihiasi lesung indah di wajahnya, awalnya hanya tersenyum tapi beberapa saat kemudian keduanya bisa melihat air mata itu membasahi wajah Jaehyun dari samping.
Tak banyak yang dikatakan Jaehyun selain "nyaman." Tapi baik Yunho maupun Sehun mengetahui bahwa nyaman yang dikatakan Jaehyun hanya sebagai pengganti kalimat "Aku senang berada di tengah-tengah kalian." Untuk mewakili rasa kehilangan atas kebersamaan mereka di waktu yang telah terlewati.
"Kalian sudah selesai bukan?"
Jaehyun bertanya, membuat Yunho dan Sehun kembali menatap langit yang sama seraya menelan rasa malu karena sudah membuat kecewa adik kecil mereka yang kini terlihat lebih dewasa bahkan tanpa status ayah seperti mereka berdua.
"mmhh…"
"Aku rasa sudah."
Bergantian Yunho dan Sehun menjawab kompak, membuat Jaehyun tertawa kecil lalu merubah posisi duduk diikuti kedua kakaknya yang kini duduk disamping kanan dan kirinya "Aku senang jika tidak ada yang meninggalkan rumah lagi."
"Hanya Yunho hyung yang melakukannya!"
"Kau juga, idiot!"
Pertengkaran itu terjadi lagi, tapi kali ini hanya sebuah lelucon ringan disertai pelukan hangat Jaehyun yang kini merangkul pundak kedua kakaknya bersamaan "Sudahlah, apa kalian tidak malu pada anak-anak kalian?"
"Si kembar belum mengerti." Sehun mengelak ditimpali Yunho "Haowen juga akan segera melupakannya."
"Terserah, apapun itu jangan pernah berkelahi lagi didepan istri dan anak-anak kalian."
Rasa sesal itu ada, Sehun juga sedang menebak bagaimana Luhan saat mereka bertemu didalam nanti, begitupula Yunho, dirinya kehabisan kalimat maaf pada Jaejoong, membuat kedua bersaudara Oh itu terasa ditampar karena tak bisa mengendalikan emosi bahkan didepan anak dan istri mereka.
"Kau benar, aku bahkan tidak tahu bagaimana cara menatap Luhan setelah ini."
"Apa Luhan hyung akan marah?"
"Dia selalu sensitif jika melihat darahku."
"Jadi?"
Tertawa sambil meringis kesakitan, Sehun bergumam pasrah "Aku dalam masalah."
"Bagaimana dengan Jaejoong hyung?"
"Dia akan banyak menangis di kamarku nanti."
"Jadi?"
Sama seperti Sehun, Yunho hanya bisa tertawa miris seraya bergumam "Aku dalam masalah."
"Senang mendengarnya!"
"hey…"
"Apa maksudmu?"
Diprotes kedua kakaknya, Jaehyun tertawa puas untuk berdiri seraya mengulurkan kedua tangannya menawarkan bantuan pada Yunho dan Sehun tanpa lupa mengingatkan keduanya harus menghadapi kenyataan bahwa bagaimana pun juga mereka hanya suami yang tunduk pada istri masing-masing "Cepat masuk dan hadapi kenyataan, istri kalian menunggu untuk memarahi kalian hyung."
"Mwo?"
"Aku bangga pada kakak iparku, cepat bangun."
Masing-masing dari Sehun serta Yunho meraih tangan Jaehyun lalu berdiri dengan bantuan adiknya, dan setelah menahan rasa sakit di seluruh wajah dan tubuh, keduanya memaksa untuk masuk dengan merangkul pundak Jaehyun seraya kompak mengatakan
"Penghianat kecil!"
"HAHAHAHAHA…."
Meskipun dirinya harus menahan berat kedua tubuh kakaknya, Jaehyun tetap tertawa puas tak sabar menantikan bagaimana Jaejoong dan Luhan menatap suami mereka setelah ini "Kalian pasti habis didalam sana."
"Diam kau!" Sehun terlihat frustasi sementara Yunho mencibir "Cepatlah menikah dan rasakan bagaimana kau harus menghadapi kemarahan istrimu!"
"Aku bukan kalian."
"Tapi kau akan tetap dimarahi."
Tak mengerti, Jaehyun menoleh ke kanan lalu ke kiri, memperhatikan kedua kakaknya seraya bertanya "Kenapa?"
Kompak, baik Sehun dan Yunho menahan tawa hanya untuk mengingatkan Jaehyun bahwa dirinya menyandang nama sebagai Oh Jaehyun "Karena mau bagaimana pun juga kau tetap bagian keluarga Oh."
"huh?"
"Papa, Yunho dan aku-…Kami semua terkena kutukan tiga generasi dari kakek dan mendiang buyut kakek."
"Kutukan?"
"Yap! Bahwa selamanya, seluruh lelaki sejati dari keluarga Oh akan terkena kutukan jatuh cinta lebih dulu dan berakhir memuja kekasih berlebihan untuk takut pada istri mereka setelah mereka menikah, itu sudah terbukti." Yunho mengingatkan "Hanya tinggal menunggu giliran." Sehun menambahkan dibalas tawa renyah Jaehyun yang tiba-tiba teringat sikap Taeyong terkadang memang sangat mengerikan namun enggan mempercayai mitos kutukan yang dibicarkan kedua kakaknya.
"Maaf aku tidak percaya kalian, sungguh!"
"Menikahlah." Saran Sehun "Dan buktikan sendiri." Timpal Yunho dibalas tarikan malas nafas Jaehyun untuk tertawa meremehkan "yang benar saja!"
.
.
.
.
.
.
Final chap, Part I
.
terlalu panjang kalau diabisin, bagi 2 bagian sekalian genap ke 40 :)
.
:*
.
.
next " Been through"
