Previous
"Bahwa selamanya, seluruh lelaki sejati dari keluarga Oh akan terkena kutukan jatuh cinta lebih dulu dan berakhir memuja kekasih berlebihan untuk takut pada istri mereka setelah mereka menikah, itu sudah terbukti." Yunho mengingatkan "Hanya tinggal menunggu giliran." Sehun menambahkan dibalas tawa renyah Jaehyun yang tiba-tiba teringat sikap Taeyong terkadang memang sangat mengerikan namun enggan mempercayai mitos kutukan yang dibicarkan kedua kakaknya.
"Maaf aku tidak percaya kalian, sungguh!"
"Menikahlah." Saran Sehun "Dan buktikan sendiri." Timpal Yunho dibalas tarikan malas nafas Jaehyun untuk tertawa meremehkan "yang benar saja!"
.
.
.
.
Je'Te Veux
.
.
.
Main cast : Lu Han as Xi Luhan
Oh Sehun as Oh Sehun
Rate : T-M
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Warning : Typo (s)
dan ini PANJANG BANGET, 18K words, gue saranin bawa kantong plastik takut mual :"))
.
.
.
.
.
ready?
.
.
.
this is it
.
.
.
FINAL CHAP PART II
.
.
.
.
.
.
HAPPY READING GUYS :)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Klik….
Dan benar saja saat ketiga bersaudara itu memasuki rumah, maka hanya hening dan sepi yang menyapa, tak ada lagi jamuan makan malam untuk mereka, yang ada hanya isak tangis keluarga serta teman terdekat terutama istri dari kedua tersangka yang mengacaukan rencana makan malam indah di rumah ini.
"Aku rasa mereka semua benar-benar marah pada kalian."
Jaehyun bergumam kecil disambut raut wajah Sehun dan Yunho yang semakin memucat lantaran tak bisa menebak apa yang sedang menunggu mereka di kamar masing-masing.
"hahaha….Lucu sekali wajah tegang kalian!"
Alih-alih menghibur, Jaehyun justru sengaja menggoda kedua kakaknya, membuat masing-masing Yunho dan Sehun mendecih kesal sementara si bungsu tetap memapah kedua kakaknya melewati lorong rumah untuk sampai di ruang utama.
"Sudah selesai?"
Tap!
Ketiga pria tampan yang memiliki tinggi di atas rata-rata itu berhenti melangkah tatkala suara seorang wanita terdengar bertanya pada mereka, terdengar marah namun dipenuhi rasa sayang tak terbatas.
"Mama…."
Yang dipanggil dengan sebutan mama adalah Oh Jihyo, ibu kandung dari Yunho, Sehun dan Jaehyun, dia adalah sosok wanita yang sudah melahirkan ketiga pria tampan yang sudah beranjak dewasa namun tetap bersikap kekanakan bahkan saat dua diantara mereka sudah menjadi seorang ayah.
"Kalian benar-benar keterlaluan!"
Wajar jika wanita cantik yang parasnya tidak termakan waktu dan usia itu mengumpat marah, wajar pula tatapan kecewa mendominasi pada kedua putranya mengingat saat ini kedua menantunya dan ketiga cucunya sudah meringsuk ketakutan di kamar masing-masing.
Dia bukan Jihyo ibu dari tiga orang anak lelaki lagi, dia sudah menjadi Jihyo ibu sambung untuk kedua menantunya dan Jihyo nenek dari Haowen, Sehan dan Hanse, jadi sangatlah wajar jika dirinya melakukan apapun untuk melindungi menantu dan cucunya, termasuk memarahi kedua putranya yang bertingkah sangat kekanakan malam ini
"Apa yang sebenarnya kalian lakukan, HAH?"
Alih-alih kemarahan, mereka bisa melihat raut kecewa yang dipenuhi kasih sayang tulus dari wanita cantik yang tak lain adalah ibu kandung mereka, Ya, matanya memang berkaca-kaca terlebih saat Jihyo menatap bergantian ketiga buah hatinya.
Dimulai dari Yunho yang wajahnya dipenuhi memar, lalu si bungsu yang selalu menyejukan hati dengan senyum lembutnya lalu terakhir adalah si pembuat masalah terbanyak dari ketiga pria tampan yang dilahirkannya, karena tak berbeda jauh dari kondisi Yunho maka kondisi si nomor dua juga dipenuhi memar di wajahnya, ada darah terlihat di sudut bibir dan hidung hingga membuat isakan kecil terdengar dari bibir wanita yang terlihat sangat lelah bersabar dengan sikap Sehun dan Yunho.
"Ma… / Maafkan kami."
Lirih suara Yunho bersahutan dengan milik Sehun, keduanya paham dan menyadari bahwa terlalu banyak air mata dan penderitaan yang sudah mereka berikan pada ibu mereka, jadilah keduanya kompak untuk berjalan tertatih mendekati Jihyo, sementara Jaehyun lagi-lagi memandang dari jauh bagaimana keluarganya kembali berkumpul bersama, perlahan tapi pasti, kedua kakaknya bahkan terlihat seperti badut saat berjalan mendekati ibu mereka, Sehun terutama, mungkin kakinya terkilir karena saat ini Yunho membantunya berjalan.
"Setidaknya hargai istri kalian, tidak bisakah kalian menjadi pria dewasa seutuhnya?"
Disaat Jihyo terus memarahi, Sehun dan Yunho hanya membalasnya dengan senyum menggoda hingga akhirnya mereka berada disana, tepat didepan ibu mereka dan Yunho lebih dulu menarik lengan cinta pertamanya, wanita yang selalu dikagumi dan dihormatinya, yang selalu mendoakannya untuk memeluknya erat disusul Sehun yang kini ikut melingkarkan tangannya di tubuh sang mama.
"Kalian benar-benar anak nakal."
"Yunho yang nakal, aku tidak."
"idiot kecil!"
"Sudahlah!"
Terdengar tawa kecil dari kedua kakaknya, namun yang membuat Jaehyun takjub adalah kenyataan bahwa tidak ada lagi umpatan yang terdengar, hanya ada pemandangan hangat dimana akhirnya Sehun dan Yunho benar-benar pulang ke "rumah", kedekapan ibu mereka sementara si bungsu diam-diam menangis haru merasa perjuangannya benar-benar terbayar hanya karena satu pemandangan yang begitu dia rindukan.
"haah~ Kenapa rasanya lama sekali."
Jaehyun bergumam menghapus air matanya, kini kembali lagi pada kenyataan bahwa dirinya akan selalu terbuang jika kedua kakaknya sudah berada dirumah, dia cenderung diabaikan tapi demi Tuhan, dia akan selalu rela diabaikan asalkan keluarganya benar-benar pulang seperti saat ini.
"Ma, kenapa aku merasa mama semakin tua?"
"YUNHO!"
Disana mereka bertiga sedang tertawa membuat Jaehyun ikut tertawa namun tak berani mendekat, si bungsu rupanya tidak ingin mengganggu kerinduan sang mama pada kedua kakaknya, jadilah dia hanya berdiri disana dan menunggu dengan sabar hingga satu tepukan kasar namun terasa hangat kini dirasakan di punggungnya.
Jaehyun menoleh dan wajah tampan menyerupai kakak pertamanya terlihat, entah sejak kapan mantan jaksa yang kini hanya menjadi kakek dari tiga orang cucu mendengarkan, tapi yang jelas saat tangan ayahnya melingkar di pundaknya, Jaehyun merasa bebannya terangkat.
Kepalanya bahkan dipaksa bersandar di pundak sang ayah, lalu tak lama Insung mengatakan hal yang sangat ingin Jaehyun dengar dari kedua orang tuanya "Kau sudah melakukan segalanya untuk keluarga ini, gomawo Jaehyunna."
Sontak air mata lelahnya benar-benar terbayar, kesabarannya berbuah manis dan selamanya, keluarga menyebalkan ini akan menjadi keluarga yang paling dicintainya, dia benar-benar bersyukur terlebih saat ayahnya kembali mengatakan "Papa bangga padamu nak." Hingga membuat suara isakan Jaehyun berubah menjadi tangisan yang memilukan.
Hal itu pula yang membuat ibu dan kedua kakaknya menoleh, dia bisa melihat bagaimana lelaki yang tahun depan akan menyandang predikat dewasa di usianya yang ke dua puluh menangis tersedu di pelukan sang ayah, Jaehyun juga memeluk erat ayahnya hingga seluruh keluarga Oh menitikkan air mata bangga pada Jaehyun.
Mereka semua tahu bagaimana perjuangan Jaehyun untuk keluarga ini, bagaimana remaja itu memiliki kesabaran yang tak terbatas dan selalu tegar menghadapi keras kepala dari kedua kakaknya.
Dia bungsu dari tiga bersaudara, tapi kedewasannya membuat Sehun dan Yunho merasa gagal menjadi kakak, mereka bahkan berniat untuk belajar dari adiknya, setidaknya sampai lima menit yang lalu sebelum adegan menggemaskan ini tersaji didepan kedua matanya.
Adegan dimana Jaehyun menangis layaknya Jaehyun kecil mereka disambut kekehan haru dari Sehun yang kini merangkul pundak mamanya "ah, rupanya Jaehyunnie tetaplah Jaehyunnie."
Sehun bergumam ditimpali tawa kecil Yunho yang mengangguk membenarkan "Kau benar, dia tetap adik kecilku."
"Adikku juga."
Kini Jihyo tertawa, menatap bangga pada kedua putranya lalu melingkarkan tangannya di pinggang Yunho dan Sehun, mengajak mereka untuk mendatangi si bungsu seraya berkata "Anakku, Jaehyun kecil mama."
Jaehyun berhenti menangis, dia melepas pelukan papanya namun tidak tangan yang tetap melingkar disana, dia sebenarnya bingung kenapa ibunya menangis saat memanggilnya, lalu tak lama Jihyo melepas rangkulannya pada kedua kakaknya untuk berjalan mendekatinya, tak tanggung ibunya juga menghapus air mata di wajahnya seraya berjinjit mencium lama keningnya "ma-Ma?"
"Mama sangat bangga padamu nak."
Jihyo memejamkan erat matanya, menatap bangga pada Jaehyun dan stak banyak berkata dia kini meminta Sehun dan Yunho mendekat lalu terwujudlah sudah keinginan Jihyo selama lima tahun terakhir, memeluk ketiga putranya sekaligus suami tercinta untuk tetap dan akan selalu menjadi satu-satunya wanita di keluarga kecil yang sudah memberikannya kebahagiaan tak ternilai
"Mama mencintai kalian, gomawo chagiya, gomawo anak-anak."
Insung yang lebih banyak memeluk istrinya, disusul Yunho dan Sehun, maka Jaehyun adalah orang kedua yang banyak menerima pelukan dari keluarga mereka, tangis haru dan tawa menggoda sudah mulai kembali tanpa adanya rasa canggung.
Bahkan disela tawa mereka, Jaehyun yang banyak menerima kecupan di kepalanya mulai sedikit risih terlebih saat Yunho dan Sehun terus memanggilnya adik kecil, jadilah adik kecil ini mengingatkan bahwa sebenarnya masih ada yang menunggu keduanya didalam kamar
"Sebaiknya kalian cepat masuk kekamar hyung, jangan lupa jika kakak iparku sedang menunggu didalam kamar."
Seketika canda tawa Yunho dan Sehun digantikan raut wajah cemas yang sangat terlihat, keduanya juga kompak menggigit bibir sampai Yunho lebih dulu bertanya "Apa Haowen bersama Jaejoong?"
"Tidak nak, Haowen sudah dikamar Jaehyun."
"matilah aku."
Buru-buru Yunho meninggalkan keluarganya, langkahnya cepat menuju kamar sebelum giliran Sehun yang bertanya "Ma, Luhan dimana?"
"Dikamarmu tentu saja, dimana lagi Luhan bisa berada?"
"Anak-anakku?"
"Sehan dengan Kyungsoo, Hanse dengan Baekhyun."
"ah, jadi hanya Luhan sendiri yang ada dikamarku?"
"Ya, cepat temui istrimu."
Tak berbeda jauh dari kakaknya, maka Sehun menyadari darah di bibirnya sudah mengering untuk bergumam ketakutan "Tamat riwayatku." Katanya pasrah, lalu berjalan tertatih menuju kamar, mungkin jika nanti Luhan mempermasalahkan cara berjalannya dia akan senang hati menyalahkan Yunho karena nyaris mematahkan pergelangan kakinya.
"hyung!"
Jaehyun kini merangkul kedua orang tuanya untuk mengingatkan "Jangan sampai kakak iparku melayangkan surat cerai lagi padamu."
"ish!"
"Jaehyun jaga bicaramu nak."
Sehun kesal, ayahnya memperingatkan dan si bungsu hanya tertawa puas menggoda kakaknya, dia kemudian berbisik "fighting!" lalu Sehun mengepal tangan di udara untuk bergumam lirih "yah, fighting!" dan tak lama berjalan tertatih menuju pintu kamar yang terlihat mengerikan saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
Klik….
.
Dan ya, kali pertama dirinya melangkah masuk ke dalam kamar maka hanya ada gelap dan keheningan yang menyiksa, rupanya kebiasaan Luhan jika marah belum benar-benar berubah, istrinya akan cenderung mengunci diri di kamar dan membiarkan hening serta gelap menemani.
Entah sudah keberapa kali pula selama dua puluh tahun Sehun harus berada dalam situasi seperti ini, saat Luhan marah padanya, saat dia harus meminta maaf dan masuk ke dalam kamar lelaki yang dulu adalah teman dan mantan kekasihnya lalu berujung tangis memilukan si lelaki cantik, terkadang dirinya yang menangis.
Dari hal konyol seperti saat mereka bertengkar hanya karena Sehun tidak memilihnya menjadi teman satu kelompok di grup tari kupu-kupu, lalu saat mereka bertengkar karena lagi-lagi Sehun melupakan kencan di hari jadi mereka, dan terakhir tiga tahun yang lalu saat dirinya harus bersimpuh memohon pengampunan Luhan tepat setelah ibu dan ayah mertuanya adalah hal yang paling berat untuk Sehun.
"Sayang…."
Suara beratnya tentu tidak akan mendapat respon apapun, dia terlalu banyak berharap sepertinya, berharap Luhan melupakan kejadian konyol yang terjadi antara dirinya dengan sang kakak walau kenyataan berkata sebaliknya,
Saat ini sepertinya Luhan sedang mulai memborbardir dirinya dengan serangan bisu, bagaimana tidak, rupanya ibu dari anak-anaknya sedang duduk di atas tempat tidur dengan posisi bersila, menyisakan cahaya temaram didapat dari lampu di samping meja kamar sementara tak ada satu suara pun keluar dari bibir mungilnya.
Sehun juga bisa melihat ada satu kotak dengan lambang palang merah yang di atas tempat tidur, sepertinya Luhan tidak main-main untuk mengobati lukanya bahkan jika harus menjahitnya saat ini, di tempat tidur mereka.
"Aku bisa menjelaskannya, ini cara kami untuk berdamai sayang."
Terkutuklah Oh Sehun karena semakin dia menjelaskan maka Luhan akan semakin banyak menitikkan air matanya, hidung istrinya bahkan terlihat sangat merah, matanya sembab dan itu membuat Sehun direlung rasa bersalah yang teramat banyak pada setengah hidupnya.
"Mianhae…."
Dan akhirnya Sehun menyerah, sebaris ucapan maaf itu diucapkan bersamaan dengan langkah tertatihnya menuju tempat tidur, dia juga bisa melihat bibir istrinya semakin gemetar bersamaan dengan setiap langkah yang dia buat untuk mendekatinya.
"hrhaa-rrhh~"
Luhan mengambil banyak nafasnya, dia ingin memaki tapi kondisi Sehun lebih pantas untuk ditangisi, dia ingin berteriak tapi memeluk suaminya adalah hal yang sangat ingin dilakukannya, terlebih saat Sehun duduk tepat didepannya dengan darah di hampir seluruh wajah menghiasi.
Hati Luhan tergores banyak, benar jika dirinya adalah seorang dokter, yang setiap hari harus melihat bahkan membersihkan darah dengan kedua tangannya sendiri, benar dirinya adalah seorang diri hingga seharusnya dia terbiasa dengan cairan merah kental yang ada pada seseorang.
Ya, dia terbiasa dengan darah, tapi kasus berbeda hanya pada Sehun, dia benar-benar tidak bisa melihat lelakinya terluka dan merintih kesakitan seperti saat ini, lalu lihatlah banyak darah di sudut bibir serta hidungnya hingga membuatnya sulit berbicara.
Terkadang jika sudah seperti ini dia ingin marah walau berakhir menangis banyak hingga membuat Sehun terkejut karena tangisan Luhan pecah dan semakin mengiris hatinya sebagai lelaki yang gagal.
"hkssss—rrhh…"
Bahu Luhan bergetar sangat hebat, refleks Sehun menarik lengan istrinya lalu menahan sakit didada mengingat tendangan sang kakak benar-benar tepat mengenai organ vitalnya, dia hanya tidak ingin membuat masalah semakin besar dan hanya membujuk Luhan seolah dirinya baik-baik saja walau tubuhnya dipenuhi rasa nyeri dari ujung kepala hingga kaki.
"damn you hyung…!"
Dalam hati dia merutuk marah pada Yunho dan bersumpah akan meminta pertanggung jawaban sang kakak jika benar yang dikatakan Jaehyun tentang Luhan melayangkan surat cerai lagi padanya, dia benar-benar akan membuat kakaknya bertanggung jawab hingga tanpa diduga Luhan melepas pelukannya lalu menghapus air matanya persis seperti Taeoh jika mendapatkan lollipop ukuran jumbo di festival malam.
"Apa sangat sakit?"
"huh?"
Luhan menekan dibagian tengkuk, lalu beralih ke tulang rusuk belakang seolah dia bisa meramal rasa sakit terbanyak memang berada pada bagian yang sedang dia tekan "aniya, maksudku—arh!"
Sehun memekik tatkala tangan lihai istrinya menekan tepat pada bagian punggung yang tidak memperlihatkan cideranya sama sekali, Sehun bahkan tidak tahu kalau bagian punggungnya memar juga, sedari tadi dia hanya bertanya-tanya darimana rasa sulit bernafasnya datang sampai Luhan menekan kuat disana, sakit pada awalnya tapi dengan sentuhan tangan penyembuh lelaki cantiknya, dalam sekejap dia merasa bagian dadanya terasa jauh lebih baik saat ini.
"Sudah lebih baik?"
"eoh, bagaimana kau tahu?"
Luhan mendelik tak suka dan hanya membuka kotak andalan putih yang bertuliskan first aids disana, dia pun mulai memilah alat-alat yang akan digunakan sementara Sehun bertanya memastikan "Kau tidak akan menjahit bukan?"
"Tergantung bagaimana moodku."
"Lu….arh"
Luhan sengaja menekan kuat memar di wajah Sehun, membersihkannya kasar untuk mencibir "Jangan berkelahi jika kau tidak bisa, dasar bodoh!"
Walau mengumpat nyatanya Luhan masih membersihkan telaten luka di wajah suaminya, dia terkadang menekan hanya untuk mengurangi radang dan memar yang akan menyebar lalu memberikan antiseptic sebagai tindakan terakhir untuk mencegah infeksi di wajah suaminya.
"Aku bisa berkelahi, kau juga melihatnya tadi."
"Tapi tidak sehebat cinta pertamaku."
"mwo?"
Wajah Sehun tegang hingga warna urat dilehernya terlihat begitu nyata, hal itu membuat Luhan terkekeh geli namun pantang tersenyum untuk mengingatkan "Yunho hyung cinta pertamaku, kau ingat?"
"Apa yang sedang kau bicarakan—rrhh~"
Setiap kali Sehun ingin beradu otot bibir dengannya, Luhan akan lebih dulu menekan luka hingga kalimat tegas itu tidak pernah keluar dari bibir suaminya, dia juga tahu ketakutan terbesar Sehun adalah setiap kali dirinya memuja pria lain selain dirinya, kebiasaan menyebalkan itu tak kunjung hilang dan tak pernah bisa meredakan kecemburuan Sehun hingga membuat Luhan mengambil kesempatan untuk membalas tindakan konyol suaminya belum lama tadi
"Mau bagaimanapun aku sedikit menyesal kenapa tidak gigih mengejar cinta Yunho hyung saat itu, mungkin jika aku terus mengejarnya kau hanya akan menjadi paman dari anak-anakku."
"Tidak lucu Lu."
"Aku hanya mengatakan "mungkin." Jangan berlebihan menanggapinya!"
Sehun memalingkan wajahnya sekilas lalu bertanya penuh kegusaran terlihat di matanya yang terluka "Jadi aku benar-benar bukan cinta pertamamu?"
"Sejujurnya kau bukan urutan pertama cinta di hidupku, aku memiliki banyak cinta tapi tidak pernah menyadari kau ada di urutan berapa."
"MWO?"
Dia berteriak kencang, lalu tiba-tiba meringis kesakitan, sebenarnya Luhan iba tapi lihatlah suaminya terus bertingkah kekanakan hingga membuatnya enggan menenangkan "Setelah semua yang kita lewati aku bahkan tidak ada di list pertama hatimu?"
Meletakkan beberapa peralatan yang sudah selesai digunakannya ke dalam box first aid, Luhan hanya mengangkat bahu lalu asal menjawab "Mau bagaimana lagi? Itu kenyataannya, bahkan setelah anak-anak lahir urutanmu semakin miris di urutan bawah."
"Siapa yang pertama?"
"hmh?"
Luhan menyadari suara Sehun mulai bergetar marah untuk bertanya memastikan "Siapa cinta pertamamu?"
Tak ragu sekaligus ingin menggoda suaminya Luhan mengatakan "Sebenarnya Yunho hyung, tapi kau bertanya urutan maka mendiang papa jawabannya."
Sehun menerimanya walau kesal dan beralih "Lalu yang kedua?"
"Papa Oh."
Sehun masih menerimanya lalu bertanya lagi "Yang ketiga?"
"Mama Oh dan mendiang mama."
Mulai resah, Sehun bertanya tak sampai situ "Yang keempat?"
"Nah, ini bukan cinta untuk orang tua, ini benar-benar cinta pertamaku, Yunho hyung."
Wajah Sehun semakin pucat seiring dengan jawaban yang dilontarkan Luhan, rasanya dia ingin berhenti bertanya tapi salahkan bibirnya yang terlalu ingin tahu dan terus menanyakan "Yang kelima?"
"Chanyeol dan Kai."
"astaga….."
Resahnya seorang Oh Sehun adalah saat dia mencoba untuk menggeram marah namun ditahan sekuat tenaga, dia memilih melampiaskan dengan cara menggigit kencang bibir sementara bagian terkecil bibirnya terus bertanya "Selanjutnya?"
Luhan bahkan tidak berniat menghentikan game ini dengan Sehun lalu menjawab "Baekhyun dan Kyungsoo." Tanpa ragu, membuat Sehun benar-benar kecewa menyadari bahkan dirinya tidak ada di urutan lima besar di hati istrinya, dia pun memalingkan wajah tanda kecewa, berniat menghentikan game yang dibuatnya sendiri lalu beranjak dari tempat tidur.
Singkatnya seperti ini, disaat tubuhnya memar dan terasa sakit dia ingin mendekap tubuh mungil Luhan untuk meredakan rasa sakitnya, tapi kemudian Luhan memilih untuk mengungkap hal yang tak terduga hingga membuat Sehun merasakan sakit tak hanya di tubuh tapi di hatinya.
Kesal jangan ditanya, tapi tampaknya Luhan juga tidak ingin menghibur hingga beranjak adalah hal yang dilakukan Sehun sampai tangan yang lebih hangat dan lembut memegang lengannya, tidak berharap banyak Sehun hanya bertanya "Ada apa?"
"Apa kau sedang memberi punggung dingin padaku?"
"Kau yang sedang melakukannya."
"Aku apa? Aku tidak melakukan apapun sayang."
"Jangan memanggilku sayang jika terpaksa, aku bahkan bukan lelaki pertama yang ada di hatimu!"
"Astaga! Apa kau cemburu? Kenapa hanya karena-…."
"ya—YA AKU CEMBURU! BAGAIMANA JIKA SUATU HARI NANTI KAU BERPALING DAN MENINGGALKAN AKU? MENINGGALKAN ANAK-ANAK? BAGAIMANA JIKA—sudahlah, aku mau tidur."
Melihat bagaimana cara Luhan terkejut karena dibentak membuat Sehun menahan diri lagi, dia juga melepas perlahan jemari Luhan di lengannya sampai Luhan lebih dulu menariknya kuat dan memaksanya berbaring, Sehun cukup terkejut terlebih saat posisi berpindah dan Luhan duduk di atas perutnya, lelaki itu terlihat marah, tapi kemudian mencibir "Kau selalu mencibirku bayi, malam ini terbukti siapa bayi sebenarnya!"
"ssshh…."
Sehun ingin bangun dari posisi tidurnya di tempat tidur, tapi Luhan menekan tak hanya menggunakan bokong, tapi kedua tangan yang menahan bahunya yang memar, dia mendesis lagi dan memperingatkan "Aku belum selesai bicara."
Memalingkan wajah Sehun membalas "Baiklah, aku mendengarkan." Sejujurnya bukan karena Sehun kesal hingga memalingkan wajah, tapi sungguh, pemandangan Luhan diatasnya sudah membuyarkan fokus serta menghilangkan rasa marahnya.
"Memang benar Yunho hyung cinta pertamaku."
"oh ayolah."
"Dan benar aku tidak tahu dimana posisi dirimu dalam hatiku."
Menggeram kesal Sehun menekan suaranya "terserahmu saja."
"Kau tidak bisa menyalahkan aku sayang!"
"ya…ya…ya…"
Luhan kini melonjak di atas perut Sehun, membuat Sehun semakin resah namun sayang hati kesalnya lebih menguasai, dia juga berniat untuk tidak merespon apapun sampai matanya sedikit mengintip dan melihat Luhan melipat kedua tangannya di atas dada untuk mengeluh
"Lagipula bagaimana bisa aku menempatkan setengah jiwaku sendiri ke dalam hati, aku benar-benar tidak bisa disalahkan bukan?"
Membiarkan Luhan bermain di dadanya, Sehun hanya bergumam malas "Apa yang kau bicarakan?" katanya, sampai Luhan sedikit membungkuk dan memaksa kedua mata tajam suaminya melihat hanya padanya "Aku bilang bagaimana bisa aku menempatkan setengah jiwaku kedalam hatiku sendiri, itu hal yang mustahil bukan?"
"Dan siapa setengah jiwa yang sedang kau bicarakan?"
"Suamiku."
"Suami yang mana? Suami yang sah atau lelaki yang harusnya menjadi suamimu? Yunho? Si cinta pertama yang membuatmu-….."
"Oh Sehun."
"huh?"
Disaat mulut besarnya terus menuduh Luhan, dia dibuat diam saat namanya yang dipilih Luhan sebagai setengah jiwanya, sontak hal itu membuat Sehun merona namun tak bisa menyembunyikan senyum bodohnya terlebih saat Luhan menegaskan "Alasan kenapa kau tidak memiliki tempat dihatiku adalah karena kau sudah memiliki seluruh hidupku, jadi berhentilah cemburu untuk sesuatu yang konyol."
"Kau membahas cinta pertamamu dan itu bukan hal yang konyol Lu!"
"Baiklah Yunho hyung adalah cinta pertamaku, tapi biar aku tanya padamu siapa lelaki pertama yang menguasai hatiku, yang "mengambilku" bahkan sebelum aku genap berusia delapan belas tahun? Siapa, hmh?"
Tertawa percaya diri Sehun dengan bangga mengatakan "Tentu saja aku."
"Baiklah pengalaman pertamaku berhubungan intim adalah denganmu, dan jujur itu sudah mengalahkan cinta pertama yang aku rasakan untuk kakakmu."
Setengah bersandar di kepala tempat tidur, Sehun memegang pinggang istrinya untuk memastikan "Kau tidak sedang berbohong kan?" tanyanya bersemangat sampai dirasa Luhan menarik gemas hidungnya "Aku sedang membuatmu merasa lebih baik."
"Itu artinya kau hanya menghiburku!"
"Astaga Oh Sehun harus bagaimana lagi agar kau percaya padaku? Kau bahkan sudah membuatku melahirkan anak-anakmu, jadi berhenti meragukan aku dan kita bersihkan lukamu lebih dulu."
Sehun semakin menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur mereka, tak lupa tangannya meraba sensual pinggan istrinya untuk memberikan tawaran baru "Tidak bercinta lebih dulu."
"ish! Dalam mimpi jika ingin bercinta denganku!"
"WAE?"
Dia bersungut marah, sementara tangannya yang terkilir terus meraba tubuh Luhan sensual "Aku ingin!"
"Tahan keinginanmu karena satu minggu dimulai dari hari ini kau aku hukum dan tidak ada kegiatan intim diantara kita berdua!"
"oh ayolah!"
Sehun berusaha membuat Luhan berbaring di bawahnya, biasanya selalu seperti ini, jika Luhan marah dia hanya perlu sedikit memaksa dan nantinya sang istri akan terbawa suasana terlebih saat tubuh mereka menyatu.
Tapi salahkan Yunho karena menendang bagian tulang rusuknya terlalu banyak hingga setiap dirinya bergerak akan berakhir meringis kesakitan karena rasanya begitu sakit dan memar di seluruh tulangnya "sial kau hyung—sial!"
Dia mengumpat marah namun Luhan mengambil kesempatan ini untuk benar-benar menghukum suaminya, dia membersihkan memar diwajah Sehun, berpura-pura fokus padahal diatas perut Sehun dia membuat gerakan sensual yang membuat Sehun ingin menangis karena tak berdaya disaat Luhan terus menggodanya.
"Lu…."
"Kenapa? Tahan sedikit!"
Bukan, bukan karena rasa sakitnya tapi karena Luhan sengaja menggesekan bongkahan bokongnya yang seksi tepat diatas kejantanannya, hal itu benar-benar membuat harga diri Sehun terinjak manakala dia ingin tapi mati-matian harus menahan dan tak bisa melakukan apapun karena memang seluruh tubuhnya sakit tak tertahankan.
Hal itu membuat Luhan tertawa gemas, dia merasa sangat keterlaluan hingga akhirnya mengalah dan tidak menggoda suaminya lagi, gerakannya kini beralih bersandar didada Sehun seraya menghirup aroma mint yang kini bercampur dengan bau anyir di tubuhnya.
Luhan menikmati bagaimana bunyi detak jantung Sehun yang mulai beraturan dan bersyukur karena masih bisa mendengar alunan detak jantung Sehun yang selalu membuatnya tenang, Sehun memang menyebalkan karena hobinya mendengkur saat tidur, tapi jika tidak mendengar suara dengkuran suaminya Luhan akan menjadi cemas, jadi seperti ini lebih baik, dan ya, Luhan begitu lega bisa mendengar detak jantung suaminya, suara berat nafas yang dihembus serta aroma tubuh yang sudah menjadi candu untuknya.
"Tahanlah, aku akan melayanimu setelah satu minggu, lagipula ini untuk kebaikanmu sendiri sayang."
"Baiklah."
Sehun menerimanya, lagipula baru kemarin malam dia mengambil istrinya, malam sebelumnya juga, jadi satu minggu bukan waktu yang lama mengingat Luhan sendiri berjanji akan melayaninya setelah satu minggu.
Jadilah dia mengusap sayang punggung hangat istrinya, mengecupi surai kepala Luhan untuk mengagumi bahwa setiap hari istrinya tampil begitu cantik dengan harum rambut dan tubuh yang selalu terasa manis di hirup Sehun.
"Aku akan bersabar."
"gomawo."
Setelahnya hening yang menyenangkan dan penuh cinta sedang dirasakan keduanya, untuk Sehun fakta bahwa dirinya dan Yunho tidak lagi bermusuhan adalah yang paling membahagiakan, lalu kenyataan bahwa Luhan tidak marah dan mengusirnya dari kamar adalah bonus yang begitu membuatnya bersemangat.
"Sayang…"
"hmh?"
"Jadi keluargamu sudah kembali seutuhnya, kan? Yunho hyung, Jae hyung, Haowen?"
"eoh, mereka semua sudah kembali kerumah."
Hening sesaat, Sehun tidak mengharapkan Luhan akan baik-baik saja mengenai fakta bahwa pertengkarannya dan Yunho juga menyakiti hati istrinya, jadi wajar jika dirinya merasakan hangat dari tetesan air mata Luhan didadanya, dia tidak mengatakan apapun, hanya membiarkan Luhan terisak sendu sampai terdengar suara istrinya bergumam
"Syukurlah."
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan pagi
.
.
Sehun adalah orang terakhir yang beranjak dari tempat tidur, sebenarnya wajar mengingat Luhan sudah mengasuhnya telaten sejak pagi tadi, sekitar pukul enam lukanya dibersihkan, lalu lima belas menit kemudian Sehun dibangunkan hanya untuk sarapan egg roll serta susu hangat yang disajikan istrinya, setelahnya dia kembali tidur dan waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang saat dia keluar dari kamar.
Klik….
"Ma, mana Luhan?"
"Istrimu shift pagi hari ini nak, apa kau baik-baik saja?"
Saat Jihyo memeriksa memar di wajahnya, Sehun meringis, jadilah dia memalingkan wajah lalu tak sengaja melihat kakak dan adiknya sedang duduk di taman belakang entah sedang melakukan apa.
"Aku baik ma, Luhan sudah merawatku dengan sangat baik."
"sshh! Beruntung istrimu sangat baik hati dan penyabar, jika mama adalah Luhan maka teras belakang adalah tempat tidur untukmu!" katanya memarahi Sehun dibalas tawa putranya yang menunjuk kearah Jaehyun dan Yunho berada "Apa yang sedang mereka lakukan?"
"Menjaga anak-anak, apalagi?"
"ooowh…"
Sehun mengangguk paham, lalu berjalan menuju lemari es untuk mengambil segelas air mineral dan memutuskan untuk bergabung dengan kedua saudaranya "Mau kemana?"
Membalas jawaban sang mama, Sehun meng-copy untuk mengatakan "Menjaga anak-anak, apalagi?" hingga membuat Jihyo membulatkan matanya kesal sementara Sehun berjalan terseok mendekati kedua saudaranya.
"Hey…."
Dia menyapa, baik Jaehyun maupun Yunho mendongak untuk tertawa melihat kondisi memarnya yang semakin buruk "Lihat siapa yang wajahnya bengkak dan terlihat sangat buruk rupa."
"Diam kau!"
Sehun menyeruak di tengah-tengah kakak dan adiknya, sekilas dia menenggak air lalu bertanya seraya melihat bagaimana kelima anak kecil dirumahnya benar-benar membuat suasana hidup dan sangat berisik "Apa yang kalian lakukan disini?"
Kompak, si nomor satu dan nomor tiga menjawab "Menjaga anak-anak, apalagi?"
"Astaga…."
Sehun tersedak airnya sendiri lalu terkekeh menyadari bahwa ibunya hanya mempunyai satu jawaban yang sama dan tak repot-repot mengganti alasannya "hahahaha…."
Mereka tertawa bersama, diam-diam tawa ketiga pria dewasa itu terdengar oleh Jihyo yang sedang menyiapkan cookies untuk semua cucunya, entah mengapa melihat si nomor satu, dua dan tiga duduk berdampingan adalah hal yang sudah tak pernah dilihatnya sejak Sehun menikah dengan Luhan, sejak Yunho meninggalkan Seoul dan ketika Jaehyun menderita karena merawat dirinya dan Insung.
Jadi wajar air mata itu menetes haru tanda rasa sykurnya, dan untuk mengabadikan moment ketiga putranya, Jihyo mengambil ponsel dan memposisikan nyala kameranya, dia mencari angle yang bagus dimana ketiga punggung putranya sengaja dibuat blur, sementara Haowen, Taeoh, Jiwon dengan si kembar yang berada di kereta bayi dibuat sebagai objek utama
Klik….!
Jihyo puas dengan hasilnya, dia mengirim foto tersebut ke sebuah grup chat yang dia beri nama dengan my guardian angel beranggotakan hanya dirinya, Jaejoong, Luhan dan Taeyong sebagai salah satu cara agar dirinya menjadi dekat dengan kedua menantu dan lelaki cantik yang akan segera menjadi menantunya juga.
Ketika si nomor satu, si nomor dua, dan si nomor tiga kompak menjaga anak-anak, mama yang paling bahagia dan terimakasih sudah memberi keluarga indah ini di usia tua mama.
Begitu isi caption dari gambar yang dikirim Jihyo dalam grup, dia meletakkan ponselnya di atas meja sementara dirinya kembali menyiapkan cookies untuk membaca notifikasi yang masuk dari ketiga menantunya bergantian
Daebak! aku tidak pernah melihat pemandangan ini sejak lima tahun yang lalu ma, mereka sangat tampan dari sisi mana pun
"Tentu saja mereka anak-anak mama bukan?"
Jihyo tertawa membaca pesan dari Jaejoong, lalu tak lama nama Taeyongie muncul di notifikasinya dengan kalimat "Ujung sebelah kiri Sold out eomoni, katakan padanya untuk segera menikahi aku agar ada Jaehyun kecil si tampan berlesung pipi yang ikut bermain dengan kakak keponakannya."
Jihyo tertawa membaca pesan Taeyong disusul pesan Luhan yang masuk bersamaan dan tak kalah membuat Jihyo tertawa hebat
Ma kenapa papa-papa dan paman tampan di blur? Ah, tapi terimakasih untuk tidak memposting wajah mereka di media sosial, aku tahu ini tidak adil untuk wanita diluar sana, mereka bertiga sangat tampan bahkan hanya dari punggungnya, mmh-….omong-omong si nomor dua apa dia sudah mandi? Katakan padanya tunggu aku jika belum, aku akan memandikan ketiga bayiku setelah selesai shift, kkkk~
Omong-omong terimakasih juga sudah melahirkan mereka ma, kami mencintaimu, nenek dari anak-anak kami, love, p.s : aku hanya akan memandikan si bayi besar, baca: Oh Sehun, jadi mama yang memandikan Sehan dan Hanse, kkk~
Drrtt!
Lalu bersamaan pesan Taeyong dan Jaehyun masuk untuk menulis
LUHAN KAU SANGAT MESUM / HYUNG! TAHAN DIRIMU!
Sontak hal itu membuat Jihyo tertawa sangat kencang, membuat ketiga putranya menoleh dan menatapnya heran "Mama baik-baik saja?" Jaehyun yang bertanya namun Jihyo sibuk tertawa dan meminta ketiganya untuk tidak mengurusi apa yang sedang dia lakukan.
"Tidak apa, cepat perhatikan anak-anak."
Mengangkat bahu mereka kompak, Yunho, Sehun dan Jaehyun kembali fokus untuk mengawasi anak-anak bermain sampai Jaehyun terdengar menarik dalam nafasnya
"haah~Aku tidak sabar melihat Taeyong kecil ikut bermain dengan Luhan dan Jaejoong kecil."
"Jangan bilang Luhan kecil jika bayiku saja benar-benar masih bayi."
"Ya setidaknya salah satu dari mereka pasti akan tumbuh sperti Luhan hyung."
"Kau tidak lihat Haowen?" Yunho memotong ucapan adiknya lalu terkekeh memukul kepala Sehun, dibalas ringisan Sehun yang kini menggerutu "ish! Kenapa kau memukulku lagi?"
"Itu karena anakku tumbuh semakin mirip denganmu!"
"Wajar saja, mungkin Jae hyung sangat mengidolakan aku waktu mengandung Haowen."
"omong kosong!"
"Hyung sudahlah!"
Jaehyun kini beralih tempat, mencegah pertengkaran dengan menukar posisi menyeruak diantara Sehun dan Yunho, lagipula dia lebih suka berada di tengah-tengah kakaknya, membuatnya merasa terlindungi sementara dengan tegas dia berteriak serta mengatakan
"BAIKLAH SUDAH DIPUTUSKAN! BULAN DEPAN AKU AKAN MENIKAHI TAEYONG, hehehe~ Bagaimana?"
Keputusan gilanya sukses membuat Sehun dan Yunho melongo hebat, kedua kakaknya tidak memberikan respon lalu suara ibunya ikut terdengar dan berteriak "ANDWAE! KAU DENGAR? MAMA TIDAK MENGIZINKANMU MENIKAHI TAEYONG SECEPAT INI! KAU DENGAR OH JAEHYUN?"
"WAE?"
Dia merengek dan dengan tegas Jihyo hanya menjawab "TIDAK ARTINYA TIDAK!"
"hyuuungggg~~~~"
"Sebenarnya aku setuju dengan mama."
Yunho menyuarakan pendapatnya dibalas Sehun yang menggaruk tengkuk untuk mengatakan "Aku juga."
"ISH!"
Hal itu membuat Jaehyun marah dan ingin pergi dari acara mengawasi anak yang tiba-tiba membuatnya menjadi bosan, dia bergegas berdiri tapi kompak Sehun dan Yunho menarik lengan kanan dan kirinya hingga dia kembali duduk dan kini bahunya dirangkul erat oleh kedua kakaknya
"eyy…Jangan merajuk, tidak pantas mengingat kau adalah paman dari tiga keponakan."
"Apa pedulimu, lepas."
"Dengarkan alasan kami dulu."
Sehun membujuknya lagi lalu perlahan menyuarakan pendapatnya dengan tangan yang merangkul pundak adiknya erat "Usiaku dan Yunho terbilang sangat muda saat menikahi Luhan dan Jae hyung."
"Lalu?"
"Lalu kami hanya bisa memberikan penderitaan pada mereka karena sejujurnya kami belum matang secara mental." Timpal Yunho, ikut merangkul Jaehyun hingga membuat si bungsu berkilah "Tapi mereka bahagia dengan kalian."
"Ya, untuk sekarang." Sehun menjawab ditimpali lagi oleh kakaknya "Untuk semua waktu sulit yang sudah kami lewati, aku rasa kebahagiaan mereka belum sebanyak air mata mereka saat bersama kami."
"Luhan terutama."
Sendu suara Sehun membuat Jaehyun melihat bagaimana kakaknya dipenuhi penyesalan tentang bagaimana seharusnya Luhan berbahagia, dia pun hanya diam memperhatikan sampai sorot mata Sehun terkunci pada kedua bayi yang kini ada di stroler pemberian Yunho dan Jaejoong "Untuk mendapatkan mereka." katanya menunjuk Sehan dan Hanse lalu tak lama tersenyum miris menatap Jaehyun "Kami harus mengeluarkan darah dan banyak air mata, saat itu aku bergumam jika bisa memutar waktu, aku akan menikahi Luhan saat aku siap, bukan saat aku merasa harus memiliknya sekarang juga, beruntung kakak iparmu adalah malaikat, jadi tidak perlu waktu lama agar kami benar-benar bahagia."
"Kau dengar cerita Sehun, jadi alasan kami melarangmu menikah terlalu cepat dengan Taeyong adalah karena kami tidak ingin kau melakukan kesalahan seperti kami, mungkin kau yakin bisa membahagiakan Taeyong, tapi saat mentalmu belum sesiap penampilanmu, kau hanya akan membuat Taeyong sedikit menderita."
Tertunduk mencoba untuk mengerti Jaehyun lalu bertanya "Lalu kapan? Kapan menurut kalian siap?"
"Lima tahun lagi mungkin?"
Ketiganya menoleh saat suara lebih berat dan lebih hangat terdengar, itu papa mereka sedang membawa banyak mainan untuk semua cucunya, Haowen adalah yang pertama berlari untuk membagikan mainan pada Taeoh dan Jiwon, dalam sekejap mereka kembali berlari lalu insung beralih pada ketiga putra yang sudah membuatnya menjadi seorang kakek, mengusap perlahan satu persatu surai ketiga putranya, dimulai dari Yunho lalu Jaehyun dan terakhir menatap bangga pada Sehun untuk kembali fokus melihat putra bungsunya.
"Papa baru siap diberikan cucu baru sekitar lima tahun lagi, jadi bersabarlah, hmh?"
Memajukan bibirnya kesal, Jaehyun hanya bergumam "Baiklah." Diiringi tawa dari kedua kakak serta ayahnya yang kini bergantian memeluk, mengusak dan menertawakan dirinya "aigoo, sudah lama sekali tidak melihat adik kecilku merajuk."
"diam hyung!"
"Astaga Oh Jaehyun nomu kiyowo."
Mereka benar-benar menikmati waktu untuk menggoda Jaehyun sementara lai-lagi Jihyo mengabadikan moment langka dimana suaminya yang terkenal tegas ikut terbahak dengan ketiga putra dan semua cucunya.
Lagipula entah perasaannya saja atau tidak, tapi tawa Insung, Yunho, Sehun dan Jaehyun terdengar sangat bahagia bahkan melebihi bahagia bayi dan balita yang sedang bermain saat ini.
Klik~
Setelah mengambil moment langka yang terjadi di keluarganya, buru-buru Jihyo membagikannya di grup chat miliknya dan ketiga menantunya dengan caption
Nah, sekarang pilih bayi kalian, bayi mama yang sudah memiliki rambut putih di kepalanya, kkk~ cepat pulang, mama tidak akan sanggup mengurus sembilan bayi seorang diri, love
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
It's been five years
.
.
.
And spending time with you is so precious, I love you, and I love every minute that we're spend together, only with you and our kids, thankyou
.
.
.
Oh Luhan
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"MAMA!"
Yang berteriak adalah seorang balita yang baru saja merayakan ulang tahunnya bersama adik kembarnya dua minggu yang lalu, dan bukan tanpa alasan si penyuka kucing seperti sang ayah berteriak saat melihat ibunya keluar dari sebuah ruangan yang mengharuskannya menggunakan masker dan sarung tangan.
Dia juga berjingkak heboh di genggaman tangan ayahnya sementara adik kembarnya mulai mendengus tanda kesal jika dirinya mulai bertingkah setiap berada di rumah sakit tempat ibu mereka bekerja.
"Hey nak, tunggu sebentar."
Dokter sekaligus ibu dari kedua putra kembarnya itu terlihat antusias melihat keluarga kecilnya datang mengunjungi, namun sayang dirinya tidak bisa langsung menghampiri dimana suami dan kedua putranya berada dikarenakan tuntutan pekerjaan yang mengharuskan dirinya menyelesaikan beberapa tindakan sebelum jam kerjanya berakhir.
"Pa, kenapa mama tidak langthung datang?"
Oh Hanse, sulung dari si kembar itu menggerutu khas dengan suara cadelnya persis seperti sang ayah sewaktu kecil, membuat Sehun, ayah si kembar, merasa bersalah namun disaat yang sama terkekeh melihat bagaimana cara si kembar tumbuh menyerupai dirinya sewaktu kecil adalah hal menggemaskan sekaligus membanggakan.
"Mama sedang mengobati pasien nak, ayo kita tunggu disana."
Dan ya, terbilang sudah tiga tahun sejak si kembar menginjak usia dua tahun, Luhan kembali bekerja melakukan keahliannya dibidang kesehatan, atas izin Sehun tentu saja, kini dirinya adalah seorang kepala instalasi gawat darurat yang bertanggung jawab untuk pelayanan emergency dan terkadang harus menuntut kehadirannya selama dua puluh empat jam di rumah sakit.
"Tapi mama sudah bekerja dari kemarin."
Kini yang memprotes adalah si adik, dan berbeda dari kakaknya yang gemar merengek, Sehan jauh lebih pengertian untuk kondisi tertentu, dia juga tidak banyak menangis dan cenderung mengalah pada kakaknya walau statusnya adalah "adik."
"haah~"
Disinilah Sehun, mencoba memerankan statusnya sebagai ayah yang baik yang tidak ingin istrinya dilihat buruk oleh kedua putra mereka, dia pun memilih berjongkok didepan si kembar, mencoba untuk menjelaskan entah untuk keberapa kali dan memaklumi kondisi kedua putranya yang sedang dalam masa banyak bertanya dan harus dijawab.
"Anak-anak dengarkan papa."
Sehun mendisiplinkan kedua putranya persis seperti saat ibunya mendisplinkan dirinya dan Yunho ketika mereka mengeluh keberadaan sang ayah bisa dihitung dengan jari selama satu tahun, ibunya menjelaskan bahwa ayahnya harus menangkap orang-orang jahat yang berkeliaran, jadi Sehun melakukan cara yang sama dengan cara ibunya menjelaskan, yang membedakan hanya dirinya harus ekstra sabar karena usia Sehan dan Hanse masih terlalu kecil namun sudah bisa mengeluh tentang bagaimana istrinya jarang menghabiskan waktu bersama.
"Berapa kali papa harus menjelaskan?"
"Apa?"
Sehan bertanya menantang dan itu membuat ayahnya harus benar-benar sabar jika tidak ingin berakhir membuat si kembar menangis di rumah sakit dan dihadiahi tatapan sinis istrinya "Mama sedang menyembuhkan orang-orang yang sakit, jadi kalian harus mengerti bahwa bukan keinginan mama bekerja sampai larut malam, itu tuntutan pekerjaan sayang."
"Tapi mama terlalu thibuk pa, Hanse benci!"
"oh ayolah!"
Sehun menggeram dalam hati, sejujurnya dia tidak pernah bisa mendengar atau melihat istrinya disalahkan oleh siapapun termasuk kedua buah hati mereka, jadi saat si kembar terus mengeluh tentang banyak hal dan menyalahkan pujaan hatinya hanya membuat Sehun gemas hingga tanpa sadar menekan kencang kedua lengan si kembar.
"Mama akan libur jika waktunya libur, jadi kalian harus sabar dan jangan menyalahkan mama! Papa tidak suka jika mama disalahkan, hmhh?"
"Pa-…."
"WAE?"
Terlalu gemas, Sehun bahkan tidak sadar dia sudah berteriak lagi, dan selamat karena dirinya tidak bisa mengontrol emosi hingga wajah Hanse kini sudah berubah semerah tomat sementara adiknya menatap kesal tanda dia sangat marah karena kakaknya dibentak begitu saja olehnya.
"Hanse-, sayang, jangan menangis, papa tidak sengaja, papa-…."
"HUWAAAAA~"
Terlamabat, anak sulung balita itu sudah menjerit heboh, beberapa pasien bahkan dibuat menoleh sementara pegawai yang mengenal suami dan anak-anak dokter Oh hanya dibuat menggelengkan kepala seolah pemandangan ini memang sudah sering terjadi dan itu hal yang wajar.
"Oh tidak, mati aku!"
Dan untuk Sehun, dia tidak peduli jika orang-orang menatapnya dan si kembar, dia juga tidak peduli dikatakan jahat oleh semua yang melihat tanpa tahu ceritanya, sungguh, dia tidak peduli, tapi dia berada dalam masalah jika Luhan mendengar apalagi melihat putra kesayangannya menangis.
Jadilah dia menggendong Hanse, menaik-turunkan tubuh si kecil berharap tangisan super kencangnya itu segera berhenti karena saat ini dirinya berada dalam kondisi emergency, jelas dia akan dimarahi Luhan dan paling buruk tidak bisa bermesraan dengan lelaki cantik yang entah mengapa tidak termakan waktu sedikitpun paras dan kecantikannya.
"HANSE! BERHENTI BERTERIAK!"
HUWAA, MAMA!~~
Sehun berteriak lagi dan semua bujuk rayunya mental tak terselamatkan, rupanya Hanse benar-benar kesal karena bukan hanya sekali, ini sudah berkali-kali papanya membentak jika dirinya menyalahkan sang mama, kasarnya anak bayi saja tahu bagaimana Sehun terlalu memuja Luhan, tapi semua itu tidak ada artinya jika Sehun mulai bersikap menyebalkan pada anak-anak mereka.
"MAMAAA!"
"sshh~Hyung pintar, anak papa, berhenti menangis nak, nanti mama akan marah jika-….."
"Jika papa membuat hyung menangis lagi, ya! Mama memang akan marah lagi sepertinya."
Sehun berhenti di langkahnya, dia tahu cepat atau lambat akan mendengar suara yang benar-benar tidak diharapkannya terdengar saat ini, dia bahkan tidak berani menoleh sementara Sehan berteriak
"MA!"
Glup~
Dan itu artinya Luhan sudah berada dibelakangnya, siap memarahi dan dia pasrah terlebih saat Hanse minta turun dan tak mau digendongnya lagi "HUWA~~ MAMA! PAPA JAHAT!"
"ya…ya Matilah aku, kena lagi sepertinya."
Barulah Sehun menoleh, berharap mendapatkan ciuman namun dirinya cukup tahu diri untuk tidak mengharapkan kontak fisik dengan istrinya jika salah satu dari si kembar, dalam kasus ini selalu Hanse, menangis terlebih berteriak di rumah sakit, karenanya, salahnya.
"Hay sayang." dia mencoba menyapa dan tentu saja diabaikan adalah jawabannya, tak hanya menatap kesal, istrinya kini berpaling dengan satu tangan menggendong Hanse sementara tangan yang lain menggandeng Sehan, meninggalkannya seorang diri seraya berbisik kepada kedua putranya "Kita pulang anak-anak…."
"Tapi papa?"
"Papa sudah besar, pulang sendiri tentu bukan masalah."
Setiap penekanan di suara Luhan dipenuhi rasa kesal, belum lagi saat Hanse menjulurkan lidah tanda 1-0 untuk kemenangan si kembar hari ini, omong-omong, mereka memang selalu bersaing jika itu menyangkut perhatian Luhan, tapi jika diingat-ingat sudah satu minggu Sehun selalu kalah dari anak-anaknya, dia juga tidak mendapat ciuman selamat malam beberapa hari ini hingga membuat ayah dari si kembar meringis seraya tertawa gemas, -setengah kesal- karena selalu kalah bersaing dengan buah hatinya sendiri.
"ha ha~! Tunggu pembalasan papa anak-anak!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BLAM!
.
Dan setelah melewati perdebatan sengit tentang bagaimana cara mereka pulang, Sehun akhirnya berhasil sedikit membujuk istrinya agar setidaknya mereka tidak pulang terpisah mengingat malam ini tujuan mereka adalah rumah keluarga Oh, jadi untuk menghindari pertanyaan seperti apa kalian bertengkar? Membuat Luhan tak memiliki pilihan lain selain pulang bersama lelaki yang sudah menjadi suaminya selama tujuh tahun.
"halmeoni…halmeoni…"
"Lu-…."
Dan saat kedua putranya berlari masuk ke dalam rumah, Sehun menggunakan kesempatan untuk mendekati istrinya, mencoba untuk merangkul pinggang Luhan walau berakhir ditolak karena istrinya lebih memilih untuk masuk kedalam tanpa dirangkul olehnya.
"haah~ Ini sangat gawat."
Dan setelah bergumam pasrah, buru-buru Sehun mengikuti Luhan masuk ke dalam rumah, tak ada yang berbicara sampai Luhan lebih dulu masuk kedalam rumah dan mengincar dapur sebagai tujuannya diikuti Sehun yang terlihat lesu padahal malam nanti akan menjadi malam yang membahagiakan untuk adiknya.
"Kami pulang."
Luhan menyapa dibalas kedatangan sosok wanita cantik yang kini sudah menjadi nenek dari ketiga cucunya "Luhan mama sudah siapkan pakaian untuk malam nanti, jangan terlalu membuat Jaehyun curiga dengan penampilanmu yang berlebihan nak."
"araseo Ma…"
Saat menghampiri dimana anak dan menantunya di dapur, Jihyo menangkap satu keganjalan dimana Luhan terlihat memberikan segelas air pada suaminya tapi tidak ada reaksi menggelikan diantara keduanya, ekhm, biar dijelaskan jika biasanya Luhan akan selalu menyediakan air untuk suaminya dengan cara berlebihan, dia duduk dipangkuan Sehun sebagai contoh lalu ayah dari si kembar akan terlihat sangat bahagia seraya memeluk erat istrinya posesif, selalu seperti itu.
Jadi ketika air yang disedikan Luhan ditenggak habis tanpa kontak antara keduanya, Jihyo hanya bisa terkekeh gemas menyadari bahwa sepertinya perang dingin sedang terjadi diantara keduanya.
"Aku ke kamar."
Kemudian Sehun beranjak dari kursi di dapur dengan wajah ditekuk, Jihyo hafal wajah itu, wajah berpura-pura menderita agar diberikan apa yang diinginkan, mungkin jika itu Insung atau dirinya Sehun akan mendapatkan apa yang dia inginkan, tapi ini Luhan, demi Tuhan ini Xi Luhan, ibu dari dua cucunya yang memiliki sifat serupa dengan putra keduanya, keras dan tegas.
Jadi sekalipun wajah itu ditekuk rasanya Luhan tidak akan luluh begitu saja dan terbukti, putranya berjalan lesu menuju kamar sampai menutup kencang pintu kamar adalah hal yang dia lakukan namun tetap tidak menarik perhatian menantunya.
"hahaha."
Luhan menyadari keberadaan ibu mertuanya, sedikit mengernyit untuk bertanya "Ada yang lucu Ma?"
"hahaha…aniya, Hanya saja sudah lama sekali Mama tidak melihat Sehun merajuk seperti itu nak."
"Percayalah dia sering melakukannya dirumah kami dan biarkan saja, aku kesal."
Rasanya Jihyo kehabisan bahan untuk tertawa, lagipula Luhan terlihat lelah namun tetap menyiapkan snack makan siang untuk si kembar "Biar mama saja Lu, istirahatlah."
"Tidak perlu ma, sebentar lagi selesai." Katanya mengeluarkan jelly dari lemari es lengkap dengan cookies yang disajikannya di piring "Lalu dimana anak-anak?"
"Sedang bersama Haowen mungkin, entahlah."
Luhan terlihat sangat tidak mood menyiapkan snack untuk anak-anaknya, terlihat dari posisi jelly yang tak lagi memiliki bentuk dinasourus karena dia menyiapkannya terlalu kasar, hal itu membuat Jihyo mengambil alih walau dengan cara sedikit memaksa, dia pun sedikit menggeser posisi menantunya seraya bergumam "Bicaralah dengan Sehun, sepertinya kau kesal karena tidak bisa bermesraan dengan suamimu."
Tak menyangkal, Luhan mengunyah satu jelly bergambar ikan untuk bergumam "Memang." Membuat Jihyo terkekeh dan mulai memaksa Luhan "Kalau begitu cepat bicara dengan Sehun."
Mengambil lagi cookies cokelat buatan ibu mertuanya, Luhan menggeleng tegas untuk mengatakan "Tidak, biar dia menyadari kesalahannya."
"haah~ Baiklah, apalagi yang kini dilakukan suamimu?"
"Seperti biasa, mereka membentak anak-anak."
"Mungkin anak-anakmu bertingkah sangat nakal."
"Sekalipun mereka nakal dia tidak bisa membentak anak-anak kami, Demi Tuhan ma, tidak pernah sekali pun Sehun membentakku tapi terus membuat anak-anak menangis karena suara kerasnya."
"…"
Jihyo tak menjawab kali ini, ibu dari tiga anak serta nenek dari tiga cucu itu hanya tersenyum penuh arti seraya menyiapkan tiga gelas milkshake favorit milik si kembar dan Haowen, Luhan menyadari senyum kecil itu hingga membuatnya bertanya "Ada yang membuat mama bahagia?"
"Tidak, hanya saja sifat Sehun sama sekali belum berubah."
"Sifat Sehun yang mana?"
"Yang gemar membentak."
"huh?"
"Mama, Papa, Jaehyun, Yunho dan kini Hanse serta Sehan, kami semua pernah dibentak olehnya, lalu tebak siapa yang tidak pernah Sehun bentak sekali saja dalam hidupnya?"
"Siapa?"
"Hanya dirimu, anak itu benar-benar jatuh cinta padamu, jiwa dan raganya."
Jawaban ibu mertuanya sukses membuat hati Luhan diliputi rasa hangat yang tak bisa dijelaskan karena apa, ah, mungkin karena ibunya mengatakan bahwa Sehun memperlakukannya secara berbeda, tentang bagaimana Sehun begitu mencintainya hingga tak pernah sekalipun dia bersikap kasar padanya, Sehun selalu mencintainya, semakin mencintainya terlebih saat mereka menikah hingga kini mereka memiliki Sehan dan Hanse.
"Wae? Hatimu luluh?"
Luhan berkedip sedikit membuang wajah, menyembunyikan rona merah yang kini membuatnya sedikit panas sampai ibu mertuanya selesai menyajikan snack untuk si kembar "Kau atau mama yang mengantar snack ke kamar Haowen?"
"mmhh…."
Luhan ragu menjawabnya, antara ingin mengantar snack atau pergi ke kamarnya, dia bahkan membutuhkan waktu yang cukup lama hingga akhirnya Jihyo membuat keputusan "Baiklah, mama saja."
Setelahnya nenek dari ketiga cucu yang tumbuh semakin menggemaskan dan tampan itu membawa nampan yang berisikan snack lezat sebelum makan siang, membuat Luhan salah tingkah untuk berteriak "Ma, biar aku saja."
"Tidak perlu, sepertinya kau lebih ingin kembali ke kamar."
"hehehe…."
Hanya sebatas tawa kecil yang bisa dilakukan sebagai jawaban, entah karena apa tapi memang rasanya Luhan tidak adil bersikap kasar hanya pada Sehun, jadi dia tidak ingin melanjutkan perang dingin ini mengingat malam nanti mereka harus menghadiri makan malam keluarga.
"Luhan…"
"Ya, ma?"
Mengerling menantunya, Jihyo memperingatkan dengan tegas "Jangan terlalu lama berada di dalam kamar, ingat malam nanti kita akan pergi makan bersama."
"Kenapa aku harus terlalu lama berada di dalam kamar?" tanyanya tak mengerti, namun dibalas suara ibu suaminya yang bergumam "Mama bertaruh kau tidak akan bisa keluar dengan cepat dari dalam kamar."
"Iya, tapi kenapa?"
"Kau akan tahu kenapa."
Setelah ibunya naik untuk mengantar snack ke lantai dua, Luhan segera bergegas menuju kamarnya, perlahan dia membuka pintu hanya untuk menemukan sosok lelaki tampan yang tampak marah sedang membuka kasar kancing kemejanya.
Dilihat dari jumlah kancing dari kemeja putih Sehun rasanya tidak terlalu sulit hanya untuk sekedar membuka dan mengganti pakaiannya, tapi lihatlah ayah dua anak lelakinya itu benar-benar kesulitan karena biasa dilayani oleh Luhan, jarang dirinya memakai dan melepas kemeja tanpa bantuan istrinya, jadi saat Luhan memutuskan untuk marah maka mengurus dirinya sendiri adalah kesialan yang harus dilakukannya, termasuk mengganti kemeja seperti saat ini.
"Mau sampai kapan kami bertengkar hanya karena aku membentak anak-anak? Lagipula bukankah wajar jika seorang ayah membentak anak-anaknya?"
"Wajar memang, tapi kau salah melakukannya sayang."
Entah darimana Luhan berada, tapi tiba-tiba istrinya itu sudah berada di depannya, menyingkirkan tangannya yang sedang membuka kancing kemeja untuk mengambil alih melepasnya satu persatu, perlahan hingga akhirnya sampai ke kancing terakhir dan dengan mudah Luhan melepas kemeja Sehun dan membuangnya asal ke lantai.
"Kau sudah tidak marah lagi padaku?"
"Sejujurnya masih, tapi salahku jika terus marah tanpa membiarkanmu marah tanpa memberitahu bagaimana cara yang benar jika ingin menegur atau menasehati anak-anak kita, agar mereka mengerti tanpa harus merasa sakit hati."
Luhan masih bermain di dada suaminya yang memiliki tubuh atletis berbentuk di perutnya, dia mengusap perlahan, terkadang beralih ke punggung yang berkeringat milik suaminya untuk menenangkan marahnya lelaki yang sudah menjadi seorang ayah selama lima tahun.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Mudah, tapi biar aku bertanya satu hal dulu padamu."
"Apa?"
"Sekali saja, apa kau ingat kali terakhir membentak diriku?"
"mmhh…."
Sehun tampak berfikir lalu Luhan membantunya dengan jawaban "Tidak pernah, sekalipun kau tidak pernah melakukannya, kau bahkan tidak pernah marah padaku, hanya terus cemburu untuk hal konyol dan aku merasa sangat bersyukur karena itu."
"Benarkah?"
"Lihat kau bahkan tidak menyadarinya."
"Aku rasa karena kau memang tidak melakukan kesalahan apapun."
"Salah, itu karena kau sangat mencintaiku."
"hmh?"
"Apa aku salah?"
"aniya, hanya saja aku sepertinya memang tidak bisa marah padamu."
"Kalau begitu kau akan terbiasa untuk tidak membentak anakmu didepan umum."
"Apa bisa disamakan?"
Rasanya Luhan memang terlalu egois jika terus marah tanpa memberitahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan Sehun pada anak-anak mereka, bagaimana caranya untuk menegur si kembar tanpa harus membuat mereka merasa dipermalukan di depan banyak orang.
Mungkin karena Sehun terbiasa tegas sejak kecil, ya, mengingat ayah mertuanya adalah seorang jaksa sejak mereka kecil hingga mereka menikah rasanya wajar jika Sehun mewarisi beberapa hal tegas yang diajarkan ayahnya pada anak-anak mereka.
Hanya saja ini terlalu cepat untuk Sehan dan Hanse, terlebih perlakuan berbeda diberikan olehnya dan Sehun, terkadang dengannya anak-anak akan merasa menjadi raja, tapi dengan ayah mereka anak-anak akan menjadi prajurit, itu adalah dua hal berbeda dan harus diluruskan mereka sebagai orang tua.
"Tentu saja sama, pasti ada alasan kenapa kau tidak bisa marah padaku, lalu dengan alasan yang sama kau akan terbiasa memarahi anak-anakmu di rumah, bukan di tempat umum."
"Tapi mereka terus merengek dan menyalahkan jam kerjamu sebagai dokter."
"Sekalipun mereka mengeluh tentang aku, kau harus tetap melakukannya sesuai dengan kemampuan mereka untuk dimarahi, lagipula mereka masih anak-anak sayang."
Sedikit memalingkan wajahnya, Sehun bergumam "Tapi aku tidak suka mereka menyalahkanmu." Katanya jujur hingga membuat Luhan tersenyum dan menangkup wajah suaminya yang belum tersenyum sejak dua jam yang lalu "Dan aku merasa sangat tidak keberatan karena mereka anak-anakku."
"Tetap saja-…."
"Sehun, jangan bertingkah seperti mereka, jujur kau sama sekali tidak cocok bertingkah seperti anak-anak."
"Apa maksudnya?"
Kemudian Luhan menarik kencang kedua pipi suaminya, seolah memaksa Sehun tersenyum lalu memekik seraya memuji "aigoo, begini baru tampan suamiku."
"Mana senyumnya yang tampan, yang selalu membuatku berdebar saat melihatnya? Mana suamiku yang selalu tertawa dengan mata bulan sabitnya hmh? Manaa? Aku rindu mau lihat."
Awalnya Sehun meringis kesakitan, tapi karena Luhan terus tertawa seraya memuji bagaimana tampan dirinya jika tersenyum terpaksa membuat Sehun ikut tertawa dan berakhir memeluk istrinya dengan tawa menyertai mereka "ha ha haa….baiklah aku kalah, jangan menggodaku lagi!"
Kini Luhan berakhir di pelukan suaminya, menikmati bau keringat khas bercampur parfume strong mint milik Sehun hingga membuatnya betah berlama-lama hanya untuk sekedar memeluk ayah dari anak-anaknya.
"Aku akan minta maaf pada anak-anak."
"Benarkah?"
"hmhh…Dan aku berjanji untuk tidak membentak mereka didepan umum."
Luhan semakin melingkarkan tangannya di pinggang Sehun seraya bergumam mengecupi lengan tangan suaminya "gomawo."
"Aku tidak akan bersikap kasar lagi pada anak-anak."
"Baiklah."
"Tapi kau harus memberi hadiah untukku."
Sejujurnya perasaan Luhan mulai tidak enak jika Sehun sudah meminta hadiah, pastilah bukan barang yang diinginkannya melainkan sesuatu yang terkadang mengerikan bisa pula sesuatu yang konyol hingga membalas "Apa?" adalah hal yang sangat sulit diucapkan Luhan.
"Kau tidak mau?"
"aniya, bukan itu, hanya saja aku—ASTAGA SEHUN!"
Dan benar saja kondisi Luhan terancam akan baik-baik saja mengingat satu tangan suaminya sudah mengangkatnya seperti memanggul beras, Luhan sempat terkejut dan memekik tapi tentu diabaikan terlebih saat tubuhnya dihempas cukup kasar ke tempat tidur.
"Sehun jangan main-main, ini masih siang sayang."
"Sejak kapan aku memikirkan siang atau malam jika ingin mengambilmu?"
Dan benar saja dugaan Luhan, permintaan Sehun memang tidak akan pernah barang atau sejumlah uang, selalu dirinya, entah ditemani bekerja atau bermesraan pasti semua yang diinginkan Sehun selalu berhubungan dengan dirinya.
Jadi saat kata "mengambil" di ucapkan sensual oleh bibir pemangsa yang kini berada diatasnya, Luhan hanya bisa tertawa pasrah untuk bergumam "Baiklah, lakukan apa yang kau mau." Seraya mengalungkan tangan di sekitar leher suaminya, membalas kecupan singkat Sehun dibibir lalu mendongak, memberi akses saat bibir Sehun mulai menyapu bagian leher dan tengkuknya.
Luhan butuh pemanasan dan Sehun membuatnya panas hanya dengan lidah dan tangan yang terus meraba tubuhnya sensual, pertama dibagian punggungnya, tangan kasar Sehun berhasil mengantarkan sengatan listrik yang begitu hangat dan membuat isi kepala Luhan merespon untuk mendesah "ah~"
Hal itu dianggap sebagai lampu hijau dari Luhan agar dirinya bisa bergerak semakin bebas dan leluasa, perlahan tangan kanan Sehun meraba di balik shirt v-neck yang digunakan Luhan, dari punggung hingga ke perut dengan gerakan memutar, lalu semakin naik ke atas dengan ibu jari dan jari telunjuk yang memelintir nipple Luhan bergantian.
Si lelaki cantik bersumpah bahwa setiap sentuhan Sehun akan membuatnya terangsang dengan cepat, dan benar saja kurang dari lima menit Sehun menguasai dirinya, Luhan sudah sama bernafsu atau bahkan melebihi nafsu Sehun yang masih sibuk menggodanya.
"Lihat siapa yang sudah menggigit cemas bibirnya."
Sehun berbisik sensual di telinga Luhan, menggigit cupingnya gemas hingga membuat pelukan Luhan di leher Sehun semakin erat, dia pun memaksa Sehun untuk menatapnya, lalu tatapannya terlihat sangat bernafsu terlebih saat dia memberi perintah "Cium aku."
Tanpa menunggu Sehun segera mendaratkan bibirnya di bibir mungil istrinya, memagutnya lembut serta mulai terbius rasa manis dari bibir istrinya, dia bisa merasakan bagaimana Luhan membalas ciumannya dengan mata terpejam, membuat Sehun semakin bersemangat dan memilih untuk memejamkan matanya juga, kali ini rasanya luar biasa karena mereka hanya menggunakan insting saat lidah mereka menari di bibir dan mulut pasangan masing-masing.
Sesekali terdengar Luhan melenguh dan mendesah bersamaan dengan tangan Sehun yang mulai melucuti kemejanya tanpa hitungan detik, ayolah! Bayi besarnya kesulitan membuka pakaiannya sendiri tetapi begitu mahir saat melucuti pakaiannya, tak hanya itu gerakannya juga seperti sering berlatih saat membuka celananya, meninggalkan dirinya dengan boxer merah sementara lelakinya mengenakan boxer hitam yang tentunya adalah pilihan Luhan saat mereka berbelanja pakaian.
"Aku tidak sabar."
Mata Luhan membulat lebar saat kata tak sabar itu diucapkan, Sehun tak sabar sama dengan rasa sakit di butt miliknya, tidak hanya tiga hari tapi rasa sakit itu akan teras selama hampir satu bulan dan itu adalah sinyal danger hingga tanpa sadar dia menarik lengan suaminya lalu merubah posisi on top dengan duduk di perut Sehun
"wae?"
Luhan menggigit cemas bibirnya lalu berkilah "Mari kita buat kesepakatan lebih dulu."
"Tentang apa?"
"Tentang tidak membuatku hamil sebelum usia si kembar menginjak sepuluh tahun."
"oh ayolah!"
"Kau juga tidak diizinkan memasukkan pil perangsang kehamilan di minumanku, kau janji?"
"Pil apa?"
"Pil yang diberikan Baekhyun dari nenek Park! Aku melarang keras kau mencampurkan minuman itu karena efeknya akan sangat cepat."
"Tapi itu tidak berlaku pada Baekhyun."
Luhan semakin resah duduk di perut suaminya dan mati-matian menekan nafsu Sehun yang tidak sabar untuk memakannya "Itu karena Baekhyun tidak pernah meminumnya!"
Mengangguk dibuat polos, Sehuh membulatkan bibirnya seraya bergumam "ooh…" sebelum berniat membalikan lagi posisi mereka namun Luhan menekan kencang dadanya "Janji dulu."
Sehun terlihat menggigit cemas bibirnya lalu terkekeh hanya untuk sekedar memberi jawaban "Aku janji."
"Bagus!"
"Sekarang biar aku mulai." Katanya memegang pinggang Luhan namun lagi-lagi istri cantiknya menahan agar dirinya tetap berada dibawah sementara dengan percaya diri dia mengatakan "Biar aku yang memuaskanmu hari ini."
"huh? Kau tidak akan bisa sayang, biar aku langsung masuk saja agar kau-….."
"ANDWAE!"
Luhan berteriak dan Sehun sepersekian detik kehilangan moodnya untuk bertanya "Kenapa berteriak?"
"aniya, kalau begitu biar aku yang bekerja."
Buru-buru Luhan memaksa bibir Sehun membuka, dia mengecup rakus sebagai gerakan awal dan berhasil membuat Sehun terbuai, kesempatan itu tidak dibuangnya tatkala bibir Sehun membalas tautan lidah mereka, jujur Luhan sangat lemas jika lidah mereka sudah saling bertukar saliva seperti ini, dia biasa pada posisi "pasrah" jadi saat dirinya sedang membuat gerakan melindungi butt seksi miliknya, maka dia terpaksa bergairah dan "garang" hanya untuk membuat Sehun percaya bahwa dia bisa.
"nghh~"
Setelahnya ciuman Luhan beranjak ke leher suaminya, Luhan menjilat jakun menggoda Sehun dengan sensual, meninggalkan bekas merah disana lalu beralih pada dada bidang yang selalu membuatnya iri, tak lupa dia juga meninggalkan bekas merah dan gigitan di kulit putih suaminya.
Dia juga menjenguk kedua tonjolan yang meminta perhatian untuk menyesapnya kencang, menggigitnya dan terakhir menjilat sensual hingga terdengar erangan Sehun yang begitu membuatnya bersemangat, Luhan mengintip melihat eskpresi suaminya lalu tersenyum puas melihat bagaimana mata Sehun terpejam erat seraya menggigit bibirnya tanda dia sudah terbuai dengan permainan "pro" Oh Luhan.
"Luhan—nghh~"
Lalu bibir Luhan mencium semakin kebawah, kali ini Luhan bermain di pusar Sehun, memutarkan lidahnya disana hingga tak sengaja matanya menatap gundukan si monster besar yang ada di balik boxer hitam suaminya.
Glup~
Sempat ragu namun tak memiliki pilihan, kini Luhan mencium dan menjilat ke area pangkal paha Sehun, awalnya lembut tapi karena dia cukup resah pada akhirnya Luhan hanya membuka boxer Sehun dan entah untuk ke berapa kali selama puluhan tahun, dia selalu terkejut melihat ukuran si "monster Oh" yang selalu berdiri tegap mengacung seolah menantan dan menyatakan bahwa dirinya kuat dan bisa memuaskan
Ha ha ha~
Walau kenyataannya memang seperti itu, Luhan tidak pernah siap.
Dia bahkan sedang memberi pemanasan pada mulutnya agar terbuka lebar, semakin lebar hingga tak lama
"ah~"
Sehun mengejang tatkala bibir mungil Luhan mulai meraup kejantanannya cukup banyak, tidak keseluruhan hanya sebagian kecil dari penis suaminya yang bisa masuk kedalam mulutnya, Luhan bahkan hampir tersedak jika dirinya tidak mengingat teknik dari Baekhyun yang berbunyi
Jika benda besar itu sudah ada di mulut kita, cepat gerakkan, karena jika kita diam dan tak melakukan apapun, kita bisa mati kehabisan nafas!
Jadilah Luhan mulai bergerak, memaju mundurkan bibirnya, sesekali menjilat si monster gagah yang sudah membuatnya menjadi seorang ibu untuk menunjukkan betapa dia bahagia karena kegagahan ini masih begitu konsisten walau bertahun-tahun sudah terlewati.
Luhan pun berniat mengucapkan terimakasih dengan memasukkan seluruh kejantanan Sehun kedalam mulutnya, dia ingin menunjukkan pada Sehun bahwa dia bisa walau berahir tersedak dan Sehun terkekeh melihatnya.
"Jangan dipaksakan."
"akuwhbiwsa-…" katanya tetap mencoba walau kembali tersedak dan Sehun tertawa karenanya "Sayang sudahlah, aku merasa nyeri jika kau tidak segera bergerak."
"ish! Siapa yang suruh milikmu sangat panjang dan besar." Luhan kesal dan berakhir menjilati kejantanan suaminya, dia memasukkan lagi penis Sehun kedalam mulut lalu mengulum layaknya lolipop kali ini, posisinya sudah sesuai, tapi tiba-tiba saja Sehun menjambak rambutnya dan mengganggu kesenangan Luhan untuk memberi perintah "Naik ke atas tubuhku."
"Tidak mau."
"Cepat."
Naik ke atas tubuh artinya mereka akan berada di posisi 69, dan jika sudah berada di posisi 69 sudah bisa dipastikan siapa yang lebih dulu mencapai klimaks pertama karena Luhan memang tidak pernah menang dari Sehun.
"Cepat sayang."
Tak memilki pilihan lain Luhan bergegas mengganti posisi keatas Sehun, bagian bokongnya ada di depan wajah Sehun sementara dirinya terus mengulum si lolipop besar, dia juga tidak terlalu merasa terganggu mengingat Sehun hanya menurunkan boxernya dan membuangnya asal, lalu memainkan dua bongkahan bokongnya bergantian, terkadang mencubit gemas lalu menamparnya kecil hingga suaranya semakin membuat suasana panas menjadi semakin panas dan terbakar.
Setidaknya Sehun bermain bersih
Itu adalah hal gila yang seharusnya tidak dikatakan Luhan didalam hatinya, karena tepat saat dia bergumam seperti itu maka disaat yang sama pula dia merasakan obor tak bertulang sedang mencari jalan masuk menerobos lubang kecilnya.
"AKH~"
Luhan kewalahan dengan sensasinya, saat ini Sehun memasukkan dua jarinya langsung, lalu dua jari itu akan digantikan lidah panjangnya yang mengoyak masuk, setelah itu dia bermain dengan jari telunjuk membuat gerakan masuk-keluar sesuka hati.
Jelas Luhan tak fokus mengulum "lolipopnya" saat bagian bawahnya sedang dihajar habis-habisan oleh Sehun, jadi dirinya hanya berakhir menundukkan kepalanya di perut Sehun sementara tusukan jari dan lidah Sehun sudah merespon rangsang dinding rektumnya, membuatnya menjadi ketat, semakin ketat hingga Luhan mendongak dan berteriak
"SAYANG—aaaah~"
Terbukti sudah siapa yang mencapai klimaks dan siapa yang diberi pemanasan, Sehun membantu mengocok penis istrinya saat cairan putih itu keluar mengotori perutnya, gerakan sensual Sehun semakin membuat Luhan gila terlebih saat mereka bertukar posisi lagi.
Sehun menindihnya dengan senyum sangat jahat seolah mengejek "siapa yang bilang ingin bermain tapi nyatanya lemas lebih awal?" membuat Luhan memalingkan wajah kesal namun Sehun memaksanya untuk bertatapan lagi "Aku masuk." Katanya melebarkan paha Luhan menggunkan kakinya, memastikan Luhan sudah cukup basah dengan jari tengahnya lalu mengeluarkan bersamaan dengan penis tegang suaminya yang menunggu di pintu lubang rektumnya.
"Aku benar-benar masuk—LU~"
Saat Sehun menggeram, Luhan hanya bisa memejamkan matanya,rasanya tidak sakit hanya saja dia merasa sangat penuh walau dia tahu itu baru bagian kepalanya saja, dia tidak mengharapkan rasa sakit itu hilang terlebih saat Sehun mendorong semakin ke dalam hingga Luhan mencakar leher suaminya sebagai pelampiasan "Sehun, perlahan—nghh~"
Mengabaikan permintaan istrinya, Sehun justru semakin menekan kuat semakin ke dalam, ini bukan sekali dua kali dia mengambil istrinya, ini sudah berkali-kali dan selalu seperti ini jika Luhan ingin merasa lebih baik setelahnya.
Dan benar saja, setelah posisi kejantanannya menyatu sempurna di dalam Luhan, Sehun tersenyum puas, dia menggerakannya perlahan dan Luhan hanya pasrah dengan tangan terlentang menikmati gerakan suaminya.
Sesekali dia mengigit selimut tidurnya, lalu jika bosan dia akan ikut bergerak sampai akhirnya Sehun berbaik hati membuat on top posisinya tanpa melepas penyatuan tubuh mereka, kini mereka berdua berada dalam posisi duduk dimana Luhan ada dipangkuan Sehun, dan jika sudah seperti ini Luhan merasa berkuasa, dia pun melingkarkan tangan di leher Sehun, membalas kecupan panas suaminya untuk bergerak naik dan turun hingga suara penyatuan tubuh mereka terdengar sangat erotis.
"Aku datang—sayang,"
Hanya dalam sekejap Luhan akan mencapai klimaks keduanya, dan berbeda dengan pertama kali ini dia sengaja mengetatkan dinding rektum hingga penis besar suaminya terjepit didalam sana, hal itu membuat Sehun menggila, dia melebarkan kaki Luhan lalu menghentakan penisnya kuat hingga tak lama ikut bergumam "Bersama—aaah~"
Luhan lebih dulu terkulai lemas di pangkuan suaminya sementara Sehun terus melebarka paha Luhan seraya mengeluarkan sperm miliknya, rasanya selalu hangat dan dia sangat menyukainya, terlebih saat lelaki cantiknya terkulai lemas memeluknya, nafasnya terengah dengan keringat dan peluh membasahi hingga membuatnya kembali terangsang hanya karena Luhan menggerakan tak nyaman bokongnya yang masih diisi penuh oleh kejantanan miliknya.
"Lu kau tahu ini masih siang bukan?"
"hmhh~"
"Dan kau tahu apa artinya?"
Sehun membaringkan Luhan di posisinya, tetap berada diatasnya seraya membenarkan anak rambut yang menutupi wajahnya, Luhan yang masih mengatur nafas hanya bisa bertanya "Apa?" sementara Sehun menunduk, menjilat telinganya lalu berbisik "Kita akan bercinta sampai malam."
"oh tidak…."
Setelahnya Sehun benar-benar mewujudkan arti kata "sampai malam" karena saat ini dia sedang mengambil Luhan untuk kedua kalinya, hentakannya terdengar sama kuat dan bersemangat, Sehun bahkan menukar posisi mereka secara random dan mengejutkan sementara yang bisa dilakukan Luhan hanya mendesah dan pasrah.
Ah, jadi ini maksud mama.
Saat bibirnya sedang dilumat dalam dan lembut oleh Sehun, Luhan tiba-tiba terkekeh menydari kalimat "jangan terlalu lama" yang disebutkan ibu mertuanya sebagai pesan memiliki arti terselubung "jangan bercinta terlalu lama."
Dan rasanya tidak mungkin sebentar melihat bagaimana Sehun sangat bersemangat menguasai tubuhnya dan membuatnya gila karena terus mendesah nikmat dibawah suaminya, terkadang saat Sehun melepas penyatuan tubuh mereka, Luhan sesaat akan melihat ke arah pintu kamar seraya memberi pesan konyol dalam hati yang berbunyi
Ma, ketuk pintunya jika hari sudah berganti menjadi malam
.
.
.
.
.
.
.
Malam hari….
.
Hal yang paling membuat Jaehyun resah adalah fakta dimana kakak dan kakak iparnya, Sehun dan Luhan tak kunjung keluar dari kamar mereka, keduanya seperti sedang menikmati waktu sendiri padahal mereka harusnya sudah bersiap untuk acara makan malam yang sudah direncanakan Jaehyun untuk Taeyong.
"Ma, panggil Sehun hyung, kita sudah terlambat."
"Kau tahu kan? Kakakmu jika sudah bersama kakak iparmu adalah pasangan pengantin baru."
"Tapi kita sudah terlambat."
"Kau lakukan saja sendiri, ketuk kamar kakakmu dan rasakan marahnya Sehun jika diganggu saat bersama kakak iparmu!"
"sshh…."
"Samchoon! Ayo pelgi!"
Mendengar suara keponakannya tiba-tiba memberi Jaehyun sebuah ide cemerlang, memang benar jika siapapun tidak bisa mengganggu Sehun jika sudah berdua dengan Luhan, terlebih itu dikamar mereka hingga tiba-tiba dia mengangkat tubuh si sulung membuat Hanse memekik tak suka saat tubuhnya digendong paksa "Samchoon!"
Buru-buru Jaehyun menurunkan Hanse didepan pintu kamar orang tuanya seraya berbisik "Hanse bantu samchoon ya?"
"Apa?"
"Ketuk kamar papa dan teriak MA AYO PELGI HANSE LAPAL!"
"shirheo!"
Yang tidak disukai Hanse pada pamannya adalah cara dia meminta seperti dibuat dirinya cadel R padahal semua orang bahkan pamannya tahu bahwa dirinya dan Sehan kesulitan melafalkan S seperti ayahnya, kecuali menyebut namanya dan nama adiknya, si kembar cenderung kesulitan mengatakan s dalam sebuah kalimat dan menurut Hanse ini adalah sebuah penghinaan hingga membuatnya menolak untuk membantu pamannya.
"Ayolah tampan."
Persis seperti ibunya jika dikatakan tampan, penyuka warna-warna cerah seperti merah muda, pink dan kuning ini kemudia berbinar untuk bertanya "Hanse tampan? Bukan imut?"
Kena kau!
Jaehyun bergumam kecil lalu berbisik "Sejujurnya yang menggemaskan dan imut itu adikmu dan Haowen hyung."
"Nah, apa aku bilang!" katanya berseru heboh lalu bersiap mengetuk pintu kamar ibu dan ayahnya, tangan mungilnya sudah mengudara siap mengetuk lalu diurungkan untuk memastikan sesuatu pada pamannya "Tapi nanti jika mama marah, Samchoon yang tanggung jawab."
"araseo, cepat ketuk pintunya."
"Oke." Katanya setuju diiringi satu kalimat teriakan "MAMA-…."
Klik
Namun pintu sudah terbuka menampilkan Luhan lebih dulu diikuti Sehun yang kini menggendong Hanse dan bertanya-tanya mengapa adiknya berjongkok didepan kamar "Apa yang kau lakukan?"
Menghindari rasa malu, bungsu tiga bersaudara itu mengusap kasar tengkuknya lalu menggunakan Hanse sebagai alasan "Anak kalian lapar, aku hanya membantunya agar kita cepat sampai di restaurant."
"Bohong pa." Hanse berbisik membuat Sehun terkekeh dan mencium gemas putra sulungnya "Hannie lapar?"
"Lapar, tapi tidak terlalu, tadi Sehan kasih cokelatnya."
"Mama sudah bilang jangan makan banyak cokelat Oh Hanse!"
Yang dimarahi seketika menatap kesal pada pamannya, lalu dia bersembunyi di leher sang ayah sementara Luhan yang kini menggunakan kaos panjang berudru berwarna merah dengan model v-neck hingga membuatnya terkesan sangat seksi dan menyala mulai memarahi putra sulungnya sepanjang sungai nil.
"Nanti bagaimana kalau gigimu sakit lagi? atau perutmu sakit? Hanse mau Kyungie atau Baekie atau mama suntik lagi?"
"Pa…."
"Sayang sudahlah."
Luhan sudah membuka mulutnya lagi, tapi lelaki tampan yang kini menggunakan kemeja putih dengan kancing sengaja terbuka dipadu blazer serta celana panjang hitam dan sneaker putih itu menegurnya, membuat Luhan hanya bisa menarik dalam nafasnya sebelum beralih pada adik iparnya.
"Dan kau! Kenapa kau belum siap? Ayo kita pergi, kita sudah terlambat!"
"aku sudah-…"
"CEPAT!"
Jaehyun bahkan tidak bisa mengeluarkan satu kata apapun setiap kali Luhan memarahinya, dia cenderung kehabisan kata-kata menghadapi Luhan, entah dia terhipnotis karena kakak iparnya selalu terlihat cantik, atau karena Taeyong hanya mendengarkan Luhan hingga membuatnya waspada agar tidak terjadi pertengkaran di antara mereka.
"Cepatlah! Kau lihat kakak iparmu sudah kesal!"
Bahkan Sehun ikut memarahinya dan lagi-lagi Jaehyun kehabisan kata sampai sang mama juga tergesa karena Luhan sudah lebih dulu meninggalkan rumah "wae? Mama mau memarahi aku juga?"
"Kau lambat sayang! Ini acaramu!"
"oh ayolah! Aku sudah siap sejak dua jam yang lalu, siapa yang membuatnya terlambat?"
"JAEHYUNNA CEPAT!"
Bahkan dia tidak bisa lebih lama menggerutu saat Luhan berteriak, jadilah dia terkekeh pasrah dan menerima bahwa keterlmabatan malam ini sepenuhnya adalah kesalahan miliknya, bukan karena kakak dan kakak iparnya sibuk bermesraan sepanjang hari di kamar.
Ya, ini salahku.
.
.
.
.
.
.
BLAM!
.
.
Suara pintu mobil suaminya bersahutan dengan suara pintu mobil adik iparnya, keduanya kini sudah tiba di salah satu hotel milik keluarga Kim yang dikelola langsung oleh Jaejoong, terlihat dari cara mereka berjalan dan Luhan yang tidak berhenti menggerutu hanya menandakan bahwa mereka sangat terlambar dan dirinya paling benci jika seseorang tidak on time pada janji yang mereka buat.
"Lu, nanti kau jatuh jika berjalan seperti itu."
Sehun memperingatkan istrinya yang berjalan sangat cepat, sementara di belakang mereka Hanse sedang digendong Jaehyun lalu ibu mereka yang terlihat kepayahan menyamakan speed Luhan dalam berjalan, tak ada satupun yang berani menegur Luhan kecuali Sehun, jadi saat Sehun memperingatkan istrinya Luhan sedikit menyadari wajah lelah ibunya untuk bergumam "Ma, pegang tanganku."
Buru-buru Jihyo mengangguk, dia kemudian menggenggam tangan Luhan sementara kedua lelaki tinggi di belakang mereka menjaga selagi menunggu lift yang terbuka
Ting!
Lalu Luhan dan Jihyo masuk kedalam lift, diikuti Jaehyun, Hanse dan Sehun hingga mereka semua masuk kedalam lift "Lantai 28." Sehun memberitahu istrinya dan Luhan menekan tombol 28.
Sejujurnya suasana menjadi tegang karena Luhan terlalu serius, Sehun hanya berdiri disamping istrinya, merangkul pinggang Luhan sementara Jaehyun tidak bisa melakukan apapun dan hanya menciumi wajah Hanse untuk mengurangi rasa tegangnya
"Samchoon?"
"hmh?"
"Mana Sehan?"
"Sehan sudah berangkat dengan Jiwon hyung dan Taeoh hyung saat kau tidur siang tadi."
"oh, apa Haowen hyung datang juga?"
Ting!
Sepertinya Jaehyun tidak perlu membalas pertanyaan sulung dari si kembar karena saat ini keponakannya sudah memekik "SEHAN!" saat pintu lift terbuka dan meminta turun dari gendongan pamannya.
Begitu pula juga Sehan, saat kembarannya memanggil buru-buru dia datang menghampiri dan menggenggam tangan kakak kembarnya "whoa…kenapa lama? Tadi aku, Taeoh hyung, Jiwon hyung dan Haowen hyung sudah makan-…"
"Jangan banyak makan ice cream dan cokelat anak-anak!"
Tiba-tiba suara Luhan terdengar memperingatkan si kembar, tak lupa dia mencium sekilas Sehan hingga membuat si bungsu sedikit pucat sebelum berbisik takut pada Hanse "Aku tadi makan ice cream thebelum mama datang, banyak, dan enak."
"Curang!"
"Yasudah nanti aku ambilkan untukmu, tapi kita haruth berthembunyi dari mama."
Percakapan terlampau "dewasa" kedua anak-anaknya terdengar oleh Sehun, membuat ayah dari tersangka pemakan ice cream itu terkekeh lalu berjongkon diantara kedua putranya "Nah, jika kalian bicara keras seperti itu mama kalian pasti dengar."
"ssstt…."
Hanse menutup mulut ayahnya sementara Sehan memukul sedikit bahu papanya "Kalau papa yang bicara biasanya mama akan langsung dengar."
"Benarkah? Kenapa kalian bisa bicara seperti itu?"
"Begini pa-…." Tiba-tiba Sehan mendekati ayahnya lalu berbisik "Bagiku dan Hanse, mama itu selalu cari perhatian sama papa, jadi apa yang dilakukan papa pasti akan menarik perhatian mama."
"daebak…"
Sehun tak bisa menahan tawanya, dia benar-benar harus memberi apresiasi pengamatan pada si kembar, hal itu membuat Sehun bangga dan begitu geli namun dibalas tatapan tak suka dari kakak beradik disampingnya "araseo…araseo..Papa tidak akan bicara lagi, tapi ingat! Jangan terlalu banyak makan ice cream, mama nanti marah."
"Oke pa."
Saat peringatannya dijawab kompak oleh si kembar, Sehun mengusap gemas surai kedua putranya, dia pun bergegas berdiri untuk mencari Luhan yang sepertinya sedang melakukan "acting" di tengah-tengah keluarganya.
"MWO? BAGAIMANA BISA TAEYONG PERGI? KITA BAHKAN BELUM MEMULAI MAKAN MALAMNYA!"
"Wajar saja dia segera pergi Lu, kalian terlambat dua jam dan mengingat dirinya bekerja di salah satu agensi ternama sebagai penulis lirik lagu, maka waktunya memang sangat berharga."
Yang menjawab Baekhyun, dia menggunakan pakaian senada warna dengan Luhan, merah mendominasi hingga membuat kedua ibu dari anaknya dan anak Chanyeol terlihat sangat menyala di tengah makan malam keluarga besar mereka.
"Dia menyesal tidak bisa menunggu lebih lama."
Lalu Kyungsoo yang memakai pakaian santai berwarna putih terlihat menjadi penenang yang stabil diantara kedua lelaki berpakaian merah yang selalu emosi di keseharian mereka, itu membuatnya terkekeh lalu berjalan mendekati para lelaki lain yang menyandang status sebagai ayah sepertinya.
"Sudah dimulai?"
Chanyeol dengan lesung pipinya menyeringai kecil sementara Kai dengan kemeja hitam yang sengaja dibuka dua kancing teratas memberikannya segelas wine dan mengajaknya ber-tos ringan "Sepertinya." Jawab keduanya kompak dan tak lama wajah adiknya terlihat pucat disamping Yunho.
Wajar jika Jaehyun direlung rasa kecewa mengingat dua tahun terakhir bertemu Taeyong adalah hal yang sulit untuknya, calon adik iparnya itu adalah seorang composer di SM entertaintment, dia harus mengikuti masa trainee seperti artisnya dan harus tinggal di asrama untuk beberapa waktu.
Jadi rasanya kesempatan malam ini adalah satu-satunya malam yang bisa digunakannya untuk membawa Taeyong pulang kerumah atau bahkan menyeretnya keluar dari agensi yang membuatnya sulit untuk bertemu dengan kekasih hatinya.
"Jika aku jadi Jaehyun, aku akan membakar agensi itu."
"Kalau aku akan mengambil alih jabatan CEO-nya lalu mendebutkan Baekhyun sebagai artis ternama, istriku pasti akan sangat terkenal."
"Ya, lalu banyak pria yang akan datang dan Boom! Dia meninggalkamu dan membawa Jiwon bersamanya."
"ish!"
"Berhenti bicara omong kosong, kita juga harus kesana."
Sehun memutar malas bola matanya lalu berjalan mendekati meja dimana keluarganya berada, dia mengambil alih bagian untuk membuat tenang istrinya lalu menarik kursi Luhan persis disamping Kyungsoo "Tenanglah." Katanya, disusul Kai dan Chanyeol yang juga duduk disamping istri mereka masing-masing.
"Tidak bisa kita mulai? Anak-anak sudah lapar dan hanya menghabiskan cemilan."
Chanyeol memulai bagiannya dibalas tatapan cemas Luhan melihat si kembar benar-benar makan ice cream dalam jumlah banyak "Kenapa kau biarkan anak-anak makan ice cream, mereka bisa-…."
"Bisa manis sepertimu, sudah biarkan saja Lu."
Luhan ingin membalas lagi, tapi menyadari Jaehyun mendorong kursinya hanya membuat mereka semua cemas sementara si bungsu bergumam lirih "Kalian bisa mulai makan malamnya, aku akan datang ke tempat kerja Taeyong sebentar."
"Tidak perlu, duduklah."
Yunho menarik lengan adiknya, memaksa si bungsu duduk dibalas tatapan gusar dari Jaehyun "Aku hanya akan pergi sebentar!"
"Untuk apa kau pergi?"
"hyung!"
"Itu-….Taeyong disana!"
"huh?"
Bersamaan dengan ucapan Yunho terdengar lagu diputar dan memenuhi ruang yang khusus disewa oleh keluarga Oh malam ini, lagu itu seperti lagu yang akan digunakannya untuk melamar Taeyong malam ini.
Tapi lucunya bukan dirinya yang bernyanyi tapi justru dinyanyikan langsung oleh suara khas lembut yang diketahui Jaehyun adalah milik kekasihnya
Pyeongsaeng gyeote isseulge….i do
.
Neol saranghanenun geol….i do
Membuat Jaehyun menoleh dan benar saja disana terlihat kekasih hatinya sedang berjalan masuk kedalam ruangan dengan membawa sebuket bunga seraya bernyanyi lembut ke arahnya, kedua mata mereka sama-sama terkunci, sama-sama berdebar, sama-sama cemas dan sama-sama berharap.
Nungwa biga wado akkyeo jumyeonseo…..i do
.
Neoreul jikyeo julge…..my love
Lalu saat ini Taeyong berhenti tepat berdiri didepannya, Jaehyun menyambutnya, sementara bibir yang terlihat pucat itu kini berhenti bersenandung untuk bertanya "Nawa gyeolhonhae jullae?"
Rasanya nafas Jaehyun tak bisa berhembus saat kalimat yang seharusnya menjadi hal yang ditanyakan Jaehyun kini berbalik ditanyakan oleh kekasihnya, saat tatapan lembut Taeyong bertanya maukah kau menikah denganku? Maka dengan segenap hatinya, dengan seluruh cinta dan pengorbanan yang sudah mereka jalani selama lima tahun, tentu kalimat "AKU AKAN MENIKAH DENGANMU!" adalah jawaban yang membuat seluruh keluarga besarnya menangis haru, Luhan terutama.
Dia sudah membasahi kemeja putih Sehun dengan air matanya, menangis sangat bahagia mengingat bagaimana perjuangan Taeyong hingga ada di posisi yang dihargai oleh banyak orang tidaklah mudah, bagaimana kesabaran Jaehyun yang terus berada di belakangnya adalah kunci bagi Taeyong bisa keluar dari lingkungan hitam yang membesarkannya.
Semua terbayar dan semua bahagia, setidaknya itu yang sangat disyukuri Luhan, hingga bibirnya bergumam "Manis sekali." Saat Jaehyun dan Taeyong bertukar cincin tanda mereka akan setahap lebih dekat dengan pernikahan.
"eoh? Menangisnya sudah berhenti?"
Luhan memukul dada Sehun saat suaminya terus menggoda, dan untuk mempertahankan harga dirinya tak lupa Luhan menyindir suaminya dengan menunjuk bagaimana manis dan indahnya lamaran yang sedang dilakukan kedua adik mereka saat ini "Itu lihat! Milik mereka manis sekali, tidak sepertiku, aku bahkan tidak diberikan cincin lamaran."
"eyy…Cincin yang kau pakai sekarang harganya puluhan juta won jika kau mau tahu."
"Aku tidak mau nominalnya, aku mau momentnya."
"Yasudah biar aku jual dulu cincin yang kau pakai, nanti akan aku buat ulang lamaran untukmu."
Luhan tergoda lalu bibir mungilnya bertanya "Nanti cincinnya akan tetap digantikan yang sama mahal, kan?"
"Aku rasa tidak."
"wae?" sungutnya kesal, dan Sehun mulai berbisik lagi, menggodanya "Karena aku melamar ibu dari dua anak, aku mengalami kerugian karena nanti, dibawah sana tidak seketat saat awal aku memasukinya bukan?"
Mata Luhan membulat sempurna, dia nyaris berteriak namun Sehun buru-buru menarik dagunya, mengecup paksa bibir istrinya dan tidak mempedulikan Kyungsoo yang kini mendesis "Pasangan mesum!" tanpa melihat Luhan sedang meronta dan memukul kencang agar tidak dicium didepan anak-anak dan keluarga besarnya.
"Jika kau berteriak aku tidak hanya akan menciummu sayang."
Tepat setelah peringatan Sehun, Luhan beringsut pasrah dipelukan suaminya, dia kembali bersandar manja disana sementara wajahnya disembunyikan kaena tanpa sengaja mendengar Haowen bertanya pada Baekhyun "Baekie, kenapa samchoon makan bibir Lulu?"
Sontak pertanyaan Haowen membuat tawa satu meja makan pecah tak tertahankan, karena seharusnya yang saling bertukar ciuman adalah Jaehyun dan Taeyong, bukan pasangan suami istri rasa pengantin baru yang selalu menebar kemesraan kapanpun dan dimanapun.
"Mereka akan segera membuat adik baru untuk Sehan dan Hanse."
"daebak! darimana adik bayi dibuat?"
Baekhyun terlihat salah tingkah, meminta bantuan Jaejoong dibalas gelengan singkat kakak ipar Sehun yang ikut menyerah dan memberi sinyal "kau harus menjelaskannya atau dia akan terus menghantuimu."
"mmh…Adik bayi itu dibuat di tempat tidur, saat keadaan gelap dan-….."
Pletak!
Chanyeol yang menjawab, namun jawabannya terlalu frontal hingga membuat naluri Jihyo sebagai seorang nenek datang melindungi cucunya yang polos, kini tatapan kesal khusus diberikan Chanyeol sementara Jongin menertawainya dengan mengatakan "Makan adik bayi!"
Semua tertawa lagi melihat bagaimana Haowen dibawa pergi sementara Chanyeol meringis kesakitan, mereka semua larut dalam bahagia sampai diam-diam mata Sehun melihat Jaehyun yang kini sedang mengecupi surai kepala Taeyong.
Haah~ Anak itu masih bayi terakhir kali dia menggendongnya, kini sudah tumbuh menjadi lelaki dewasa yang akan segera menikah, tiba-tiba aku merindukan Jaehyun kecil.
Begitulah yang ada di dalam pikiran Sehun sampai raut wajahnya tak luput dari pengamatan Luhan yang mulai bergumam "Jangan sedih, Jaehyun tetap akan menjadi adikmu, selamanya dia akan mencintaimu."
Dan tepat seperti ucapan si kembar, Luhan sepertinya cenderung mencari perhatian pada Sehun, karena apapun yang Sehun lakukan, yang Sehun pikirkan, maka Luhan akan disana dan menerobos semuanya, ibarat sistem komputer Luhan sudah berhasil meng-hijacked hidupnya,
Dan Sehun?
Dia tidak keberatan Luhan terus membaca pikiran dan menguasai dirinya karena memang dirinya terlahir hanya untuk dikuasai lelaki cantik yang sudah memberikan dua anak untuknya.
"Aku rasa aku lebih mencintaimu, Oh Luhan."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan tibalah hari ini, hari dimana putra bungsu keluarga Oh akhirnya melepas status lajang di usianya yang kini menginjak dua puluh lima tahun, hal yang membuat ibu mereka menangis semalam penuh lalu berakhir menjadi yang paling bahagia saat mempersiapkan "kesempurnaan" pernikahan si bungsu mengingat kali terakhir putra keduanya menikah, dia tidak bisa hadir dan tidak melakukan apapun untuk membuat suasana pesta menjadi sakral dan dipenuhi tangis haru.
"Sehan sayang."
Wanita yang sudah memakai hanbok bernuansa kuning dan biru itu terlihat memanggil si cucu nomor tiga setelah Haowen dan Hanse, membuat anak lima tahun menggemaskan itu menoleh namun terlihat kesal karena ibunya memaksa untuk memakai tuxedo hitam yang mencekik lehernya.
"ya halmoni?"
Sehan menjawab, berusaha meminta agar tuxedo nya dilepas namun dilarang keras oleh sang nenek "Jangan berulah sayang, nanti mama marah."
"Tapi sesak nek…"
"araseo….araseo, nanti setelah mengantar Jae Samchoon ke altar, Sehan bisa melepasnya, bagaimana?"
Menurut pasrah dan seperti tak memiliki pilihan, si anak balita yang memiliki rahang tegas seperti kakek dan ayahnya itu mengangguk sangat menggemaskan "Baiklah."
"Cucu nenek memang sangat hebat, sekarang panggil mama dan katakan teman dari rumah sakit sudah menunggu, ya?"
"Tapi mama sedang di ruang ganti Yongyong…"
Jihyo tampak kebingungan sampai tak sengaja dirinya melihat Sehun dan memanggil putranya "Sehunna."
Yang dipanggil terlihat sangat tampan dengan rambut klimis disisir ke sebelah kanan, menampilkan aura tegasnya sebagai laki-laki sejati, dia kini mengenakan kemeja putih dibalut jas hitam lengkap dengan tuxedo hitam senada dengan kedua anak-anaknya.
"Ya ma?"
Meskipun sulung dari si kembar ada di gendongan tangan kanannya, tidak mengurangi sama sekali aura tampan Sehun yang begitu menyilaukan, sebaliknya, siapapun yang melihatnya menggendong Hanse hanya akan berdoa dan memohon pada Tuhan agar diberikan satu lelaki tampan seperti Sehun dengan anak-anak menggemaskan seperti Sehan dan Hanse.
"Nak, jangan dilepas nanti mama menangis."
Sehun memperingatkan Sehan yang terlihat risih dengan tuxedonya, balita lima tahun itu memasang wajah tak suka dibalas kekehan singkat Sehun yang kini mengusap gemas surai putranya "Ada apa ma?" tanyanya, dan Jihyo segera mengambil Hanse si manja dari gendongan ayahnya.
"Hannie dengan nenek dulu." Katanya membujuk Hanse untuk beralih pada putranya "Cepat panggil Luhan, banyak yang mencarinya."
Melihat ke sekitar, Sehun bertanya tak suka "Siapa?"
"ish! Hanya panggil istrimu, mama akan menjaga anak-anak, ayo Sehan, kalian belum makan buah hari ini."
Tak lama Jihyo membawa kedua cucunya pergi untuk menyambut tamu, meninggalkan Sehun yang masih mencari dengan mata elangnya siapa yang mencari Luhan, entah pria, entah wanita, remaja, atau tua, siapapun itu harus berhadapan dulu dengannya sebelum berbicara dengan istrinya.
"haah~ Kenapa akhir-akhir ini aku sangat sensitif jika ada yang mendekati Luhan?"
Dia pun bertanya-tanya, lagipula belakangan dirinya selalu mual, namun menyadari acara akan segera dimulai, Sehun mulai mencari dimana istrinya berada, langkah kakinya masuk kedalam rumah dan menuju kamar Jaehyun yang disulap menjadi tempat rias mempelai pria dari pihak menantu, perlahan tapi pasti dia membuka pintu kamar adiknya lalu terdengar percakapan menggemaskan dari istri dan kakak iparnya yang memuji betapa sempurna Taeyong hari ini.
"daebak! Jaehyun akan pingsan melihat kecantikanmu Tae—…"
Sepertinya Jaejoong bertugas untuk mengambil alih tatanan rambut Taeyong yang dibuat sangat imut menggemaskan dengan poni yang sengaja ditampilkan, warna rambutnya tak lagi blonde tapi sudah dirubah menjadi hitam legam yang menampilkan aura yang tak kalah cantik dengan Luhan dan Jaejoong.
"Dan ini sangat sempurna."
"hyung sudahlah…"
Lalu Sehun bisa melihat istrinya sedang memoles bibir Taeyong agar sedikit berwarna peach dan tidak pucat, sesaat keduanya, Jaejoong dan Luhan berdiri di belakang Taeyong lalu mengagumi hasil karya mereka yang sempurna dan berhasil membuat Taeyong sangat berbeda tapi tidak lepas dari kesan manis yang sederhana.
"Aku ingin menangis."
Luhan bergumam mengecup kepala Taeyong dibalas cibiran Jaejoong yang mengatakan "Dan kau akan terlihat seperti monster mengingat terlalu banyak eyeliner yang kau gunakan dibawah mata."
"Salahkan Baekhyun untuk itu."
"hyung, berhentilah bertengkar aku gugup."
Ketegangan di wajah Taeyong memang sangat terlihat, belum lagi calon adik iparnya itu terlihat ingin menangis hingga membuat Jaejoong terkekeh "Wajar jika kau gugup, aku juga menangis terus bahkan lima menit sebelum ayahku mengantar ke altar, rasanya benar-benar menegangkan."
Luhan tersenyum mendengarnya hingga membuat Taeyong bertanya "Lalu bagaimana denganmu hyung?"
"huh?"
Sehun diam sejenak, dia tak mengganggu percakapan ketiga lelaki cantik yang sedang berbagi pengalamannya, lagipula ini adalah satu-satunya kesempatan Sehun untuk mendengar secara langsung bagaimana perasaan sesungguhnya Luhan di hari pernikahan mereka.
"Apa kau tegang di hari pernikahanmu?" tanyanya, hingga membuat senyum kecil ditunjukkan Luhan seraya memegang kedua pundak Taeyong dan menatap cermin menjawabnya "Daripada tegang aku merasa sangat jahat di hari pernikahanku."
"wae?"
Tatapan Luhan kosong saat menatap cermin, dia juga tahu dirinya sedang diperhatikan kakak ipar dan adiknya namun hanya rasa bersalah yang dirasakan setiap ada yang bertanya bagaimana pernikahannya dengan Sehun.
"Mungkin Jaejoong hyung tahu bagaimana jahatnya aku."
"Luhan…."
Merasa akan lebih baik jika dirinya bercerita, Luhan kemudian menatap Taeyong dari cermin untuk mengatakan "Saat itu aku memberikan satu syarat pada Sehun agar bisa menikahi aku, kau tahu apa syarat yang aku berikan?" tanyanya, dibalas gelengan kepala Taeyong yang menyesal karena sepertinya dia mengungkit sesuatu yang tidak seharusnya ditanyakan.
Dia juga harus menikmati wajah sendu dan getaran pilu di suara kakaknya saat mengatakan "Aku tidak ingin melihat keluarganya datang ke pernikahan kami."
Setetes air mata penyesalan itu jatuh membasahi wajah Luhan, namun dihapusnya cepat untuk menggigit kencang bibirnya seraya berkata "Aku melarang satu pun dari keluarga Oh datang ke pernikahanku, tidak mama, tidak papa, Yunho, Jaehyun bahkan Haowen, aku secara egois menjadikan Sehun sebatang kara sepertiku, dia memiliki keluarganya tapi harus rela menderita karena menikahi lelaki egois seperti aku, aku merasa sangat bersalah padanya."
"Luhan cukup, Sehun mencintaimu dan itu sudah keputusannya untuk menikah dengan syarat yang kau berikan."
Mengabaikan fakta bahwa Jaejoong sedang membuatnya tenang, Luhan justru bersikap gila dengan terus mengatakan "Mungkin daripada aku, Sehun merasa sangat hancur di hari pernikahan kami saat itu, aku bersalah padanya."
Tidak, tidak ada yang lebih hancur dan terluka selain dirimu sayang, aku baik-baik saja.
Ingin Sehun datang dan mengatakan itu, tapi dia tahu Luhan akan menatapnya penuh rasa bersalah yang tak seharusnya dia rasakan, dia terlalu mengenal istrinya hingga tak berani datang dan membuat keadaan dipenuhi isak tangis sampai suara pintu kamar Jaehyun kembali terbuka dan kali ini terdengar kakaknya memanggil kakak iparnya.
"BOO! CEPAT BERGEGAS, JAEHYUN AKAN SEGERA MASUK DAN BERJALAN MENUJU ALTAR-…eoh? Sehun?"
Buru-buru Sehun meminta kakaknya diam, dia juga bisa melihat seluruh lelaki cantik disana sedang membenarkan ekspresi mereka yang direlung kesedihan dengan berpura-pura sibuk dan tersenyum, namun yang cukup menghancurkan hati Sehun adalah saat Luhan menghapus air matanya dan memalingkan wajah seolah Yunho bisa masuk kapan saja dan melihatnya menangis.
"Ada apa?"
"Sebentar, biar aku mengambil bagianku juga." Sehun menahan Yunho sesaat lalu ikut berteriak "HYUNG KAU DISINI JUGA? AKU SEDANG MENCARI ISTRIKU!"
Sejujurnya Yunho tidak tahu apa yang sedang dilakukan Sehun, mengapa adiknya berteriak seolah dirinya baru masuk padahal sudah berada disana lebih dulu darinya, hal itu membuatnya sedikit mengintip untuk menyadari bahwa ketiga lelaki cantik disana sedang terlibat percakapan serius dan Sehun tidak sengaja mendengarnya.
"LUHAN!"
Yunho bisa melihat Luhan sedikit berbalik badan sebelum menyambut kedatangan Sehun yang lebih dulu menghampiri mereka bertiga, membuatnya menatap Jaejoong sementara istrinya hanya tersenyum melihat bagaimana Sehun pada akhirnya akan selalu menjadi orang yang bisa menguasai mood bahagia Luhan seutuhnya.
"Astaga Yong-yong! Kau cantik sekali, tapi tetap lebih cantik istriku."
Taeyong yang matanya juga berkaca haru akhirnya hanya tertawa kecil menundukkan kepalanya, segera dia mengusap matanya lembut untuk mengangguk membenarkan, menatap Luhan dari cermin dan mengatakan "Kau benar, selamanya Luhan hyung akan menjadi yang paling cantik dia antara kami."
"oh ayolah!"
Dan seolah tak ingin berlarut dalam banyak pertanyaan, Yunho memilih untuk bergabung bersama orang-orang yang akan menemani masa tuanya kelak, dia pun segera membenarkan tuxedo pilihan Jaejoong untuk menghidupkan suasana dengan suara tepukan yang berlebihan.
"Well…well…Lihat siapa yang akan menikah dan menyandang marga Oh menyusul Jaejoong dan Luhan?"
"hyung…."
Taeyong tersenyum saat kakak tertua calon suaminya ikut bergabung, Yunho seperti biasa akan terlihat sangat tampan dan elegan hanya dengan mengenakan kemeja putih dipadu jas hitam dan tuxedo hitam, belum lagi vibrasi suaranya yang berat menambah kesan seksi dan seolah menunjukkan pada semua orang bahwa dirinya memang terlahir untuk menjadi seksi.
"Aku penasaran bagaimana rupa anak Jaehyun kelak? Maksudku, tanpa alasan anakku malah menyerupai Sehun karena rahang tegasnya, lalu anak-anak Sehun memiliki mata Luhan, Sehan sepertinya agak mirip dengan Sehun, tapi Hanse? Dia sepenuhnya Luhan, jadi aku harap ada keturunan keluarga Oh yang mewarisi rupawan Oh Yunho nan seksi seperti diriku!"
"ish! Berapa usiamu, hah?"
"Wae?"
Yunho memprotes istrinya dibalas tatapan jengah Jaejoong yang mengatakan "Untukku, diantara kalian bertiga jujur saja Jaehyun yang paling sempurna, senyumannya yang paling mematikan, sangat tampan dan bisa membuat siapapun meleleh saat melihatnya, bagaimana denganmu Lu?"
"Apa?"
"Dari tiga bersaudara ini siapa yang menurutmu paling tampan."
Buru-buru Sehun mewakili Luhan untuk menjawab "Oh Sehun tentu saja."
"aniya! Sejujurnya aku berharap kau memiliki lesung pipi seperti Jaehyun, tapi karena kau tidak memilikinya Jaehyun adalah yang paling tampan diantara kalian berdua, aku juga pilih Jaehyun."
"daebak! Aku baru saja dikhianati istriku sendiri."
"apa yang salah?"
"Tentu saja salah! Aku ini suamimu, ayah dari anak-anakmu Oh Luhan!"
"Lantas?"
"Astaga…."
Terlalu gemas Sehun ingin mencubit pipi istrinya walau berakhir menariknya gemas karena rona merah di pipi Luhan benar-benar terlihat seperti bakpau membuatnya gemas hingga rasanya dia ingin menggigit dan menelannya langsung kedalam perut.
"sehunsakit….rrrhh…"
Luhan pada akhirnya harus menanggung akibat dari ucapannya sendiri, dia tidak bisa melakukan apapun sementara Sehun terus menarik pipinya, hal itu membuat Yunho terkekeh lalu merangkul Jaejoong untuk buru-buru menarik Luhan dari suaminya, merangkul juga hingga mereka berdiri tepat dibelakang Taeyong yang tampaknya sangat bahagia melihat bagaimana mereka semua bertengkar didepannya.
"Nah, setelah hari ini kita berenam harus banyak menghabiskan waktu dan liburan bersama."
"Setuju."
Sehun bergabung dengan kerumunan yang sedang berdiri di belakang Taeyong, dia mengambil posisi disamping istrinya lalu merangkul pinggang Luhan yang terus menatap Taeyong dari cermin "Tidak boleh ada yang pergi meninggalkan rumah lagi." Timpal Sehun dibalas kekehan kesal dari Yunho.
"Jika seseorang bertindak lebih rasional aku tidak akan pernah meninggalkan rumah."
"Sudah, sudah, kalian membuat Taeyong tegang."
Satu tangan kanan Jaejoong memijat pundak Taeyong sementara tangan kiri Luhan ikut memijat pundak adiknya di sebelah kiri, mereka semua mencoba untuk mencoba untuk membuat Taeyong semakin rileks walau wajah tegangnya sangat mendominasi.
"Tenang saja, semua akan berjalan lancar." Luhan berbisik dibalas anggukan singkat Taeyong yang menatap keempat kakak dan kakak iparnya dari cermin, entah anugerah apa yang diberikan Tuhan hingga membuatnya memiliki keluarga yang begitu hangat dan menyayanginya, menerima segala kekurangannya hingga dirinya berada di posisi terbaik dalam hidup.
Taeyong bisa saja menangis haru sampai dia menyadari Yunho menggeser posisinya agar Jaejoong dan Luhan berdekatan, sementara dirinya menyingkir, begitupula dengan Sehun yang dipaksa menyingkir hingga tersisa Taeyong, Luhan dan Jaejoong kini dipantulan cermin kamar si bungsu.
"Perasaanku saja atau kalian bertiga memang memiliki feature wajah yang sama?"
Tampak terkejut, Sehun membuka mulutnya lebar untuk mengakui bahwa tampak samping, Luhan, Taeyong, dan Jaejoong seperti kembar tiga karena bentuk wajah mereka, hal itu membuatnya terkekeh lalu membenarkan pertanyaan kakaknya "Mereka seperti Hanse dan Sehan, bedanya jika mereka terlahir kembar akan sulit membedakan mereka, kalian benar-benar cantik dan sempurna." Katanya mengakui hingga membuat ketiga lelaki cantik yang mau tak mau menatap cermin terkekeh untuk mengakui "Terkadang aku merasa seperti Jaejoong hyung memang." Luhan memulai, dan Taeyong menimpali "Aku juga seperti Jaejoong hyung di beberapa angle, paman yang membuat baju pernikahanku yang bilang."
"Kau mirip denganku juga." Luhan tak terima hingga keduanya tertawa lalu yang merasa disamakan ikut tertawa untuk mengatakan "aniya….Kalian berdua versi sempurna dari wajahku, hahahaha, oh astaga, aku bahkan tidak menyadarinya sebelum ini, kau benar-benar tidak ada pekerjaan sayang." Katanya entah menyindir, entah memuji suaminya, yang jelas Yunho ingin membalas tapi suara ayah mereka terdengar memanggil.
"YUNHO, JAEJOONG, CEPAT KELUAR KALIAN ADALAH KELUARGA DARI PIHAK JAEHYUN!"
Keduanya membalas, sedikit terburu-buru "YA PA! KAMI DATANG!"
Yunho sedikit menepuk pundak Taeyong untuk berbisik "Aku tidak sabar memanggilmu adik ipar, cepat selesaikan upacara ini dan jadilah bagian keluarga kami." Katanya tulus membuat Taeyong bergumam "gomawo hyung." Disusul Jaejoong yang ikut berbisik "fighting yong-yong, jangan gugup."
"oke."
Setelahnya Yunho dan Jaejoong meninggalkan Sehun dan Luhan yang mengambil posisi sebagai wali dari pihak menantu, mereka pun mendengarkan dengan seksama susunan acara yang sedang dibacakan Baekhyun dan Kyungsoo sebagai MC pagi ini untuk mendengar.
"Kepada mempelai pria, Oh Jaehyun silakan memasuki tempat upacara untuk mengucap janji suci."
Buru-buru Luhan dan Sehun mengintip dari jendela, mereka bisa melihat si kembar dengan Haowen menjadi pengiring pengantin yang mengantar Jaehyun berjalan kedepan altar, rasanya begitu menegangkan hingga buru-buru Luhan berjalan lagi mendekati Taeyong dan bertanya "Taeyong, kau siap."
Sedikit ragu dan terlihat sangat tegang, remaja yang kini sudah beranjak menjadi lelaki cantik dewasa itu tersenyum canggung untuk mengatakan "Ya, sepertinya."
"Sudah tenang saja aku dan Sehun menemani."
Dan setelahnya Luhan membantu Taeyong berdiri, adiknya mungkin terlalu tegang hingga nyaris terjatuh saat berdiri, beruntung Sehun berada disampingnya hingga Taeyong bertumpu pada lengan suami kakaknya dan canggung bergumam "Mianhae hyung…"
"Tidak apa, kau tidak lebih buruk dari istriku."
"Apa maksudnya?"
Luhan kini memegang lengan Taeyong yang lain, perlahan membenarkan posisi blazer putihnya yang sengaja dipesan sedikit menjuntai ke belakang dan terlihat kerepotan tapi Sehun justru terus menggoda dengan mengatakan "Tangannya sangat dingin waktu kami berjalan menuju altar, aku sampai bertanya pada diri sendiri, sebenarnya siapa yang sedang aku nikahi? Luhan atau zombie cantik?"
"Oh Sehun mulutmu benar-benar-…!"
"hahaha….Pasti wajah Luhan hyung sangat pucat saat itu."
"Sangat, dia terus berbisik Sehun, aku ingin ke toilet, aku gugup."
"Aku tidak pernah mengatakannya."
"Kau mengatakannya sayang."
Keduanya kini bertengkar karena hal konyol, dan terimakasih kepada kakaknya dan kakak iparnya karena setidaknya pertengkaran konyol mereka bisa membuatnya sedikit lebih tenang.
"o…ow…."
Mereka sudah menunggu tepat di ujung pintu menuju altar, menunggu giliran untuk dipanggil namun rupanya Sehun berkeringat lebih banyak dari Taeyong sendiri "Kini terbukti siapa yang lebih gugup saat pernikahan kita." Luhan mencibirnya, dibalas tawa gugup Sehun yang tak menyangka akan ada banyak tamu yang datang dan melihat prosesi sakral adiknya.
"aniya, hanya saja terlalu banyak yang datang, aku tidak suka."
"Saat pernikahanmu tidak sebanyak ini tamu yang datang hyung?"
Sehun bisa melihat Luhan tertunduk disamping kanan Taeyong, membuatnya dengan bangga mengatakan "Tidak, saat itu proses pernikahanku berjalan sangat khidmat, hanya ada sahabat yang datang tanpa harus dilihat banyak pasang mata seperti ini."
"Aku rasa aku lebih memilih suasana seperti itu hyung."
"Kau benar, itu jauh lebih berkesan untukku."
Ucapan Sehun didengarkan dengan baik oleh Luhan, setidaknya dia juga bisa mengetahui bagaimana perasaan Sehun sesungguhnya tentang pernikahan mereka, mungkin Sehun tidak berbohong, tapi akan lebih lengkap jika ada keluarganya yang datang saat itu "haaah~ Aku rasa sudah waktunya."
Dan benar saja ucapan Sehun, tak lama suara Baekhyun kembali terdengar "Dan untuk mempelai lelaki paling cantik hari ini, silakan memasuki tempat upacara untuk mengikat janji suci pernikahan."
Yang membuat Taeyong semakin gugup adalah kenyataan bahwa Sehun beralih dari sisi kirinya menuju ke arah Luhan, dia mengira mereka akan berjalan bertiga menuju altar namun dugaannya salah, karena tidak hanya Sehun tapi Luhan juga melepas genggaman tangannya untuk melangkah mundur meninggalkan Taeyong sendiri.
"hyung…."
Kepanikan jelas terlihat di wajah sang pengantin, Taeyong tidak mungkin bisa mengatasi rasa gugupnya jika harus dipaksa berjalan seorang diri, jadilah dia menoleh ke belakang berharap Sehun dan Luhan menghentikan lelucon mereka saat ini.
"hyung, kenapa kau mundur? Bukankah kau akan mengantarku?"
"Sebenarnya Tae-…." Luhan menggigit bibirnya tanda dia bersalah, dia juga melingkarkan tangannya di pinggang Sehun untuk bergumam "Aku adalah saksi dari keluarga Jaehyun, bukan dari sisimu."
"mwo?"
"Maaf Taeyongie, tapi aku rasa aku bukan orang yang tepat yang bisa mengantarmu ke altar."
Luar biasa pucat, Taeyong melihat Sehun dan berharap kakak iparnya bersedia untuk menghentikan lelucon ini dan hanya mengantarnya ke depan altar "Aku juga bukan orang yang tepat."
"Lee Taeyong—ssi, kau bisa segera berjalan menuju altar."
"hyung…."
"Maaf, tapi kami benar-benar bukan orang yang tepat untuk mengantarmu kesana."
"Jika bukan kalian lalu siapa?" tanyanya hampir menangis, hingga dirasa tangannya digenggam lagi oleh seseorang, kali ini terasa kasar namun rasanya begitu hangat dan nyaman hingga membuat jantung Taeyong berdebar gila saat suara itu mengatakan
"Aku yang akan mengantarmu menuju altar."
Taeyong bisa melihat Luhan sudah menangis lagi dipelukan Sehun, lalu tak lama dia melihat dua lelaki besar yang memegang borgol berdiri tak jauh dari Sehun, entah apa maksudnya, tapi ini adalah hal gila saat suara yang baru saja didengar tak lain adalah milik pria yang membesarkannya, yang memberikannya hidup, yang begitu dia cintai, yang dirindukannya namun kini sedang mendekam didalam penjara.
"Nah Lee Taeyong, sekarang rangkul lenganku."
Genggaman tangannya dilepas, lelaki yang terakhir kali ditemuinya dua hari lalu di rutan penjara itu sudah memotong rambutnya, menjadi sangat tampan dan auranya memancar seperti seorang model, lalu entah darimana setelan jas itu didapatkan yang jelas saat ini Taeyong tak bisa berkata apapun selain menitikkan air mata seraya gugup memanggil, memastikan bahwa lelaki yang sedang menawarkan lengannya adalah
"Do-Doojoonie hyung?"
Si pemilik tatapan tajam itu tersenyum sangat lembut, Taeyong juga bisa merasakan hangat dikepalanya saat tangan kasar kakaknya mengusap dengan lembut, hal itu hanya menyadarkannya bahwa saat ini, yang benar-benar ada disampingnya, yang sedang menawarkan lengan besar yang menawarkan kenyamanan itu adalah benar-benar Doojoon, pria yang membesarkannya.
"Tapi bagaimana bisa?"
"well, berterimakasihlah pada lelaki cantik yang sedang menangis dibelakang kita."
"Luhan hyung?"
"eoh, Luhan yang meyakinkan petugas dan kepala rutan Seoul agar memberiku reward sebagai asisten dokter yang sudah membantu selama lima tahun disana, dan bayaranku selama lima tahun hanya dua jam dan hari ini aku meminta agar bisa menghadiri pernikahan satu-satunya keluarga yang kumiliki."
"keluarga?"
"Anak bodoh, tentu saja kau keluargaku, hanya tunggu lima tahun berikutnya sampai aku benar-benar menebus dosaku dan berjalan dengan bangga sebagai Yoon Doojoon yang baru kearahmu dan Luhan, hmh?"
Taeyong memeluk erat kakaknya, terisak disana bersama dengan isakan Luhan yang terdengar sedang memeluk Sehun dibelakang mereka, kedua lelaki cantik itu menangis tak tahan membayangkan bahwa hanya dua jam selama lima tahun yang sudah terlewati untuk bisa bersama seperti sekarang.
Hal itu membuat Doojoon menoleh, menatap sosok Luhan namun tak sepenuhnya bisa dilihat mengingat wajahnya ada di pelukan pria yang sudah menjadi ayah dari anak-anaknya, mau tak mau matanya dan Sehun bertemu, tak ada lagi tatapan benci, yang ada hanya tatapan saling menghargai dan dalam tahap melupakan luka yang membekas di hati masing-masing.
"gomawo."
Doojoon mengucapkan kalimat sederhana itu dibalas senyum kecil Sehun yang terus mencium surai kepala istrinya seolah menunjukkan Luhan memang tercipta hanya untuknya "tidak masalah."
Doojoon kemudian mengerling dua penjaga yang datang bersamanya untuk meminta izin "Bisakah kalian tidak mengikuti aku saat aku mengantar adikku ke depan altar?"
"Baiklah, bagaimanapun ini adalah hadiahmu."
"Terimakasih."
Setelahnya dia melepas pelukan Taeyong untuk berbisik "Mereka sudah menunggu, apa kau siap?" Seraya mengusap air mata adiknya, Doojoon menawarkan lagi lengannya dan kali ini Taeyong merangkul lengan kakaknya untuk mantap mengatakan "Aku siap." Jawabnya, dan didampingi Doojoon, Taeyong melangkah pasti menuju tempat dimana Jaehyun sedang menunggunya.
Beberapa yang mengenal Doojoon akan terlihat terkejut, tapi tidak pada keluarga intinya termasuk Jaehyun yang sepertinya tahu akan kedatangan Doojoon hari ini.
"Sepertinya hanya aku yang tidak tahu kedatanganmu hyung."
"Kau benar, ini kejutan untukmu."
"Terimakasih hyung."
Taeyong hanya tersenyum menjawab, kemudian langkahnya semakin mendekati Jaehyun hingga dirasa cukup dekat, Jaehyun mengulurkan tangannya tanda bahwa setelah ini akan sulit bagi Taeyong bertemu dengan Doojoon selain di balik sel jeruji.
"Hyung berjanjilah satu hal padaku."
"Katakan."
"Cepatlah kembali dan jalani hidupmu dengan baik didalam sana."
Doojoon tidak menjawab pada awalnya, dia kini menyerahkan Taeyong pada Jaehyun seraya berpesan "Jaga adikku." Dibalas kedua lesung pipi Jaehyun tanda bahwa lelaki tampan itu sedang tersenyum dan memegang jemari Taeyong di genggaman tangannya "Aku akan melakukannya, terimakasih, hyung."
Rasanya memiliki keluarga selain Taeyong dan Luhan adalah hal baru yang sangat menyenangkan untuk hatinya, dia pun merelakan tangan Taeyong berpindah genggaman pada Jaehyun untuk menatap lembut mata yang memancarkan bahagia dan sendu bersamaan miliknya "Aku akan segera pulang, aku janji."
Setelahnya Doojoon beralih ke samping kanan, Jihyo menyambutnya sebagai keluarga walau rasanya tak pantas mengingat hal keji yang sudah dilakukannya "Terimakasih sudah bersedia datang." Katanya, dibalas senyum kecil Doojoon sebagai jawaban "Aku tidak melakukan apapun."
Sementara disana Jaehyun dan Taeyong sudah bersiap mengikat janji, maka kedua pria yang menyaksikan dari dalam rumah sama-sama menangis haru saat kalimat aku bersedia, diucapkan secara bergantian oleh Taeyong dan Jaehyun.
Mereka bisa melihat prosesi tukar cincin dari kejauhan hingga keduanya berciuman lembut diiringi tangisan Luhan yang tak tertahankan, pada dasarnya Luhan adalah seseorang yang begitu sensitif, jadi saat hal-hal seperti pernikahan, kematian atau perpisahan adalah hal yang akan menyerang dan menusuk hatinya terlalu banyak.
Sehun sangat mengetahuinya hingga membiarkan kemeja mahalnya basah oleh air mata Luhan sedari tadi, dia hanya membiarkan Luhan menangis sepuasnya, meluapkan apa yang sedang dirasakan sampai tak lama dia berbisik "Aku mencintaimu."
Bisikan Sehun membuat Luhan mendongak untuk bertanya "Kenapa tiba-tiba mengatakannya?" dibalas kecupan hangat di bibir Luhan yang masih terisak, Sehun dengan tegas memberitahu "Hanya ingin kau tahu bahwa tujuh tahun yang lalu di hari pernikahan kita, aku sangat bahagia."
"huh?"
"Tidak ada yang membuatku terluka dan aku sangat bahagia, jelas?"
Mencerna seluruh ucapan Sehun hanya membuat Luhan menyadari satu hal ayah dari anak-anaknya mendengar seluruh percakapannya dengan Jaejoong dan Taeyong tepat sebelum upacara pernikahan dimulai.
Luhan menangis lagi, namun kali ini karena hatinya begitu lega dan lepas, setidaknya dia sudah mendengar sendiri dari bibir suaminya hingga membuatnya bahagia dan tak bisa berkata, dia hanya terus mendekap Sehun seraya bergumam "Lain kali jangan mencuri dengar percakapanku dengan orang lain."
"Baiklah, aku akan mencuri hatimu saja kalau begitu."
"ish-…."
Keduanya tertawa bahagia bersama, melepas apa yang sudah disimpan hati mereka begitu lama hingga suara kedua mc itu terdengar bersahutan dan tak tahu malu saat memanggil nama mereka
"SEHUN! LUHAN! AYO FOTO BERSAMA PENGANTIN! CEPAAAT!"
"astaga…."
Sehun bergumam malu sementara istrinya tiba-tiba panik dan menarik lengannya "Sayang, ayo kita harus foto bersama mereka."
"Kita bisa melakukannya nanti."
"Tidak, nanti tidak akan sama jika bukan sekarang."
"Apa yang tidak sama?"
Luhan terus menarik Sehun hingga satu tarikan kencang justru dirinya yang berakhir mendekap di pelukan si lelaki tampan, rupanya Sehun enggan berfoto dan justru menangkup wajah istrinya untuk bergumam "Baiklah kita akan berfoto bersama mereka, tapi sebelumnya hapus air matamu dulu, kau terlihat mengerikan asal kau tahu."
"Benarkah?"
Satu usapan di matanya sudah dilakukan Sehun, Luhan juga bisa melihat kemeja putih suaminya benar-benar mengerikan karena air mata dan eyeliner yang membuatnya kotor
"Sayang kemejamu kotor."
"Biar saja, aku tidak keberatan kotor jika yang membuatnya kotor adalah istriku, aku juga tidak keberatan merasa sakit jika rasa sakit itu datangnya dari istriku, nah-…Sudah cantik sekarang." Katanya mencium sekilas bibir Luhan untuk menggenggam tangan istrinya menuju altar, disana keluarga mereka sudah menunggu dan disini lagi-lagi Luhan terisak namun tak ada air mata seperti beberapa saat lalu.
"eyy…Jangan menangis lagi."
"Bagaimana aku tidak menangis jika kau terlalu baik seperti ini?"
Luhan adalah pria paling beruntung didunia ini karena Tuhan memberikan pria sebaik Sehun padanya, yang begitu mencintainya, yang begitu memujanya, yang rela melakukan apapun hanya untuk memastikan bahwa dirinya bahagia, yang selalu mendahulukan kepentingannya hanya untuk memastikan bahwa semua sesuai dan dunia tidak bisa membuatnya terluka.
"Aku tidak terlalu baik, aku hanya terlalu mencintaimu."
Singkat kata, tangis harunya ditahan kuat-kuat, terlebih saat kedua putra mereka duduk di kursi paling depan dan sedang memakan sebuket ice cream besar yang dia tebak pemberian Jongin agar keduanya tidak merengek dan mengganggu suasana pengucapan janji Jaehyun dan Taeyong.
"Sayang, kenapa anak-anak makan ice cream begitu banyak?"
"Biar saja, ibu dan ibu angkatnya adalah dokter, anak-anakku akan baik-baik saja."
"ish! Kau sama saja dengan Jongin dan Chanyeol!"
Selesai menggerutu Luhan dibawa paksa naik ke atas altar menyusul Jongin, Chanyeol, Kyungsoo, Baekhyun, Jaejoong dan Yunho, mereka semua sudah siap berpose lalu tiba-tiba Jiwon berteriak "MAMA JIWON IKUT!"
"andwae nak! Ini foto khusus mama papa dan Samchoon!"
Anak lelaki yang memiliki mata khas Baekhyun itu mengerucutkan bibir persis seperti ibunya, membuat Chanyeol terkekeh gemas tapi berakhir melupakan putranya sejenak untuk mengikuti aturan berpose yang diberikan Baekhyun pada mereka.
"Luhan, Jae hyung, Kyungsoo, cepat merapat dengan suami kalian!"
Posisinya Jaehyun dan Taeyong duduk di kursi pelaminan, Yunho, Sehun, Jaejoong dan Luhan ada persis di belakang mereka sementara Baekhyun-Chanyeol ada di posisi sebelah kiri dengan Kyungsoo-Jongin di sebelah kanan sang pengantin.
Keempat pasang suami istri itu pun berpose formal untuk pemotretan pertama, lalu tak lama terdengar bunyi kamera di klik sampai Baekhyun memberi lagi aba-aba "Sekarang para suami berdiri di belakang kursi." Katanya meminta suaminya bergeser termasuk Jaehyun yang sedang asyik mengagumi kecantikan Taeyong harus dipaksa menyingkir ke bagian belakang "Aku juga."
"Kecuali Taeyong adalah suamimu, kau bisa duduk cantik disana."
"eyy…Tidak lucu hyung." Katanya terkekeh sebelum bergabung dengan keempat kakaknya yang sudah bersiap di belakang para lelaki cantik, mereka berdiri sesuai urutan para istri lalu satu persatu dari mereka memperhatikan istri masing-masing.
Dimulai dari Jaehyun yang terus memandang surai Taeyong yang ada didepannya, beralih pada Yunho yang diam-diam mengusap tengkuk Jaejoong, tak mau kalah Jongin menempelkan dagunya di kepala Kyungsoo, Chanyeol yang terus memaksa istrinya mendongak untuk diciumi keningnya, hingga pemandangan terakhir pada Sehun yang hanya diam menikmati bagaimana senyum Luhan menyilaukan hatinya, sesekali istrinya juga tertawa sangat bahagia hingga membuat Sehun secara refleks bergumam
I'm a lucky husband with a beautiful wife
"Kau salah."
"huh?"
Chanyeol membenarkan, lalu tak lama mereka saling merangkul karena fotografer sudah memberikan aba-aba untuk bergaya, Chanyeol merangkul Sehun, Sehun merangkul Yunho sementara Kai merangkul Jaehyun dan Yunho, keempatnya kini berpose sangat tampan lalu tiba-tiba Chanyeol berteriak
We are a happy husband(s) with a beautiful wife(s)
"MWO?"
Klik….!
Pengambilan pertama gagal, Baekhyun mendongak terkejut karena suaminya berteriak gila, Kyungsoo tertawa sangat lebar sementara Sehun mengambil kesempatan untuk menarik dagu Luhan dan mencium bibir istrinya.
Semua benar-benar menampilkan wajah konyol kecuali Sehun, karena disaat semua tertawa dia akan menjadi satu-satunya pria yang tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya, semua tertawa menyadari kekonyolan mereka namun memutuskan bahwa foto konyol mereka akan menjadi kenangan yang paling manis yang bisa mereka ceritakan kelak kepada anak-anak mereka yang sedang menatap kesal dari tempat duduk mereka saat ini.
"ish! Mama pelit!"
Putra tunggal Chanyeol dan Baekhyun itu kemudian berjalan meninggalkan kursinya, awalnya dia berniat ingin masuk kedalam rumah agar orang tuanya tahu dia marah, tapi salahkan paman tampan yang sedang berbicara dengan kakek Oh saat ini, membuat pipinya bersemu merah tanpa alasan dan diam-diam memetik satu tangkai karangan bunga untuk berjalan ke arah paman tampan yang kini kembali duduk setelah kakek Oh pergi.
"Yoon Doojoon—ssi, aku rasa ini waktunya kembali."
"Baiklah, aku akan-….."
"Samchon!"
Doojoon menoleh saat pinggangnya ditarik oleh seseorang, dia pun menunduk untuk menemukan satu anak lelaki cantik yang kelak akan tumbuh menjadi sangat cantik dan menggemaskan sedang menatapnya dengan mata berbinar.
"eoh? Kau memanggilku? Sebentar…"
Setelah meminta izin kepada dua opsir yang mengawalnya dari penjara, Doojoon berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan Jiwon, sebenarnya hanya dengan melihat bentuk wajah dan mata bulat si anak lelaki cantik didepannya bisa ditebak bahwa ini adalah perpaduan wajah Baekhyun dan suaminya.
Membuatnya benar-benar terkekeh terlebih saat anak lelaki itu bertanya "Siapa nama Samchoon?"
"Aku? Mmh—namaku Yoon Doojoon."
"Pekerjaan Samchoon?"
"Dulu aku seorang dokter, omong-omong apa kau putra dokter Byun?"
"mmh…Aku putra dokter sok cantik itu." Katanya menggerutu hingga membuat Doojoon tertawa untuk kembali bertanya "Lalu ada apa mencariku?"
"ini-…." Jiwon menyerahkan setangkai bunga yang dipetiknya dari karangan dekorasi dan memberikannya pada Doojoon "Untukku?"
"hmh! Jadi Doojoon Samchoon, menikahlah denganku!"
"nde?"
Doojoon tampak terkejut dan hal itu memancing kekesalan Jiwon yang kini menghentak kakinya "Tidak romantis! Harusnya paman seperti Paman Jae yang langsung menerima lamaran Tiway!"
"tiway? Taeyong yang Jiwon bicarakan?"
"Iya yongyong sayang!"
"whoa…Jadi adikku yang melamar paman Jae?"
"IYA! Harusnya paman hanya menjawab TENTU AKU BERSEDIA!"
Ha ha haa….
"Dasar tidak romantis! Aku pergi!"
"Samchoon…."
Dan tepat saat kepergian Jiwon yang sedang patah hati, Doojoon tertawa geli karena terlalu gemas, akhirnya dia berniat pergi sampai dia melihat ada sepasang anak kembar yang menghampirinya, kedua anak lelaki yang lain memiliki mata yang begitu disukainya sejak kecil, jadi jika Doojoon bisa menebak dengan mudah siapa Jiwon, maka tidak heran jika dia bisa langsung mengenali si kembar yang memiliki wajah berbeda
"eoh, Kau pasti Sehan." Katanya pada anak lelaki yang sudah tidak memakai tuxedo lalu beralih pada anak lelaki lain yang memiliki feature wajah Luhan secara keseluruhan "Dan kau Hanse."
"Paman mengenal kami?"
"Paman mengenal ibu kalian."
"oh, pantas saja mama meminta kami untuk memberikan ini."
Sehan menyerahkan sebuah kartu ucapan berwarna putih pada Doojoon, diterima oleh Doojoon lalu dibukanya dan tak lama Doojoon membaca pesan yang tertulis hingga tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata
Gomawo hyung, aku akan terus menunggu anda Professor Yoon
Dua sapaan berbeda tertulis dalam satu ucapan, sontak Doojoon menatap ke arah Luhan yang masih berbagi moment bersama keluarganya, entahlah, bahkan ucapan terimakasih saja tidak cukup hingga tanpa sadar Doojoon merentangkan tangannya untuk memohon "Bisakah aku memeluk kalian?"
Tanpa ragu Sehan dan Hanse memeluk lelaki asing yang baru ditemui mereka, dan lucunya pula mereka tidak merasa canggung, sebaliknya, di pelukan Doojoon mereka merasa hangat hingga entah apa yang diucapkan paman asing ini mereka tidak mendengarnya, terlalu banyak kalimat hingga hanya satu kalimat yang disampaikan Doojoon pada si kembar "gomawo." Katanya sangat tulus hingga tanpa sengaja matanya dan mata Luhan bertemu pandang, keduanya menatap lembut.
Tak lama Luhan menyenggol bahu Sehun dan memberitahu bahwa anak-anak mereka sedang memeluk Doojoon, awalnya Sehun merasa kesal tapi saat anak-anaknya tertawa di pelukan orang asing hanya membuatnya pasrah untuk berujar "Kerja bagus."
Mungkin Sehun dan Luhan sudah memutuskan satu hal, membiarkan Doojoon menebus kesalahannya tanpa harus mengungkit siapa dirinya di masa lalu, tidak pada siapapun termasuk anak-anak mereka, biar yang diingat si kembar adalah paman yang sedang dipeluk mereka adalah pria hangat dengan kemampuan hebat tanpa harus menceritakan cela dari apa yang sudah dilakukan Doojoon di masa lalu.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Terimakasih untuk hari ini, aku sangat bahagia terutama saat bertemu dengan anak-anak kalian."
Saat ini Luhan dan Sehun mengantar kepergian Doojoon yang akan kembali dibawa ke balik sel jeruji, sengaja Luhan meminta mobil mereka di parkir sedikit lebih jauh dari rumah, tujuannya hanya satu agar Doojoon tidak merasa malu dan tidak perlu ada suara mencemooh karena saat ini kedua tangan mantan dokter di Seoul hospital itu sudah kembali di borgol oleh dua penjaga keamanan penjara.
"Anak-anak juga senang bertemu denganmu."
"Boleh aku menemui mereka lagi?"
Kali ini bukan pada Luhan Doojoon bertanya, melainkan Sehun, dan melihat suaminya hanya diam dan menatap dingin membuat Luhan terpaksa memeluk manja suaminya dan membujuknya agar mengizinkan Sehan dan Hanse bertemu dengan Doojoon lagi.
"Baiklah,aku rasa aku tahu jawabannya."
"Asal tidak membelikan terlalu banyak cokelat dan ice cream kau bisa menemui mereka lagi nantinya."
Doojoon tertunduk sesaat, rasanya dia selalu kehilangan wajah jika harus berbicara dengan Sehun dan Luhan, tapi kenyataan berbeda hari ini, keduanya begitu pemaaf dan begitu baik menyambut kedatangannya, mereka juga mengijinkan kedua buah hatinya bertemu dengan lelaki mengerikan sepertinya hingga membuat Doojoon menangis dalam diam untuk menghapusnya cepat dan membungkuk sebagai tanda perpisahan.
"Terimakasih, aku pergi dulu, sampaikan salamku untuk Taeyong."
"Dia akan mengunjungimu besok."
"Tidak perlu sering datang."
Salah satu penjaga membukakan pintu mobil untuk Doojoon sementara Sehun dan Luhan bergerak mundur memberi jalan "Aku juga akan mengunjungimu."
Doojoon bersyukur karena pintu jendela mobil terbuka hingga tersenyum adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukan Doojoon "Gomawo Lu."
"Tidak masalah, hati-hati hyung."
Bersamaan dengan lambaian tangan Luhan, mesin mobil dinyalakan, namun lima detik sebelum mobil berjalan pergi, Doojoon kembali memanggil Luhan dan bertanya "Hey Lu, apa kau sedang hamil?"
"huh?"
"Luhan tidak hamil."
Sehun yang menjawabnya, lalu menambahkan "Tapi aku akan segera membuatnya hamil lagi."
"aniya, aku rasa kau sudah membuatnya hamil lagi."
"Apa yang kau bicarakan?"
Doojoon tidak menjawab lagi, dia hanya mengerling Luhan untuk mengatakan "Luhan tahu apa yang sedang aku bicarakan."
Setelahnya mobil khusus yang membawa Doojoon melaju pergi, meninggalkan Sehun yang tertawa meremehkan sementara keseluruhan wajah Luhan dibuat pucat karena satu kalimat ucapan Doojoon.
"Ayo sayang kita masuk."
"Tunggu!"
Luhan mengelak lalu menatap horror suaminya "Katakan padaku kau tidak memberikan pil itu?"
"Pil apa?—ah, pil perangsang kehamilan? Tidak tentu saja."
"Jangan bohong padaku Oh Sehun!"
"Kenapa aku harus bohong? Lagipula ada apa denganmu sayang? Kenapa hanya karena ucapan Doojoon kau langsung pucat dan percaya seperti ini?"
"Itu karena Doojoon yang mengatakannya, siapapun—Siapapun aku tidak akan percaya, tapi jika dia—JIKA ITU DOOJOON, PROFESSOR YOON DOOJOON YANG BERBICARA MAKA DIPASTIKAN AKU BENAR-BENAR HAMIL!"
"mwo? Bagaimana bisa?"
"Kau tahu apa julukannya? Dia adalah pemilik mata ajaib yang bisa melihat kondisi pasien hanya dengan melihatnya tanpa melakukan pemeriksaan!"
"la-Lalu?"
Kini giliran wajah Sehun yang pucat, dia memang tidak memberikan pil perangsang kehamilan dari nenek Park minggu ini, tapi dua bulan yang lalu, dua bulan yang lalu dia sangat ingin memiliki anak lagi hingga nekat mencampurkan pil itu kedalam makanan dan minuman Luhan tanpa membuahkan hasil apapun, bagaimana ini?
Lalu dia panik, terlalu panik dan tanpa sadar kakinya bergerak mundur menjauhi Luhan dan kemarahan istrinya yang tidak mau hamil lagi sebelum usia si kembar sepuluh tahun.
"Lalu jawab aku, YA atau TIDAK! Kau memasukkan pil itu kedalam makananku."
"mmh…." Sehun mencicit takut, lalu berusaha damai dengan menjelaskan "Sebenarnya aku—" Sehun membuat gerakan siap berlari sebelum berteriak mengakui "YA! DUA BULAN LALU AKU MEMASUKKAN PIL ITU KE DALAM MINUMAN DAN MAKANANMU! MIANHAE SARANGHAE SAYANGKU!"
Luhan lemas, sementara Sehun berlari ketakutan masuk kedalam rumah, lalu mencerna kalimat minuman dan makanan bukankah itu artinya Luhan minum lebih dari dua tablet "oh tidak…" refleks, dia memegang perutnya, memaklumi rasa mual beberapa minggu ini jika dia mencium bau kimchi, dia juga sering memarahi si kembar tanpa alasan akibat swing mood yang sangat berantakan.
Lalu hari ini suaminya mengakui kejahatan yang harus ditanggungnya hingga mereka tua nanti untuk brlari masuk kedalam "oh Sehun kau benar-benar-…."
Mendengar pengakuan suaminya memang membuat Luhan kesal, tapi lucunya dia merasa suka saat membayangkan sensasi akan ada gerakan baru di perutnya, tanpa sadar dia terus mengusap perutnya, meyakini tebakan Doojoon adalah benar karena Doojoon tidak pernah salah dalam mendiagnosa kondisi seseorang.
Dia pun menarik dalam nafasnya untuk menenangkan diri, menarik nafas lagi sebelum mengusap sayang bayi yang diyakininya pula sedang perlahan tumbuh didalam sana. Ini bukan kehamilan pertama Luhan, jika benar dia sedang hamil lagi maka ini adalah kehamilan ketiga setelah kehamilan pertama mengalami keguguran, lalu kehamilan si kembar dan kini kehamilan anak keempatnya.
Semuanya menunjukkan gejala yang sama hanya saja Luhan memungkirinya, dia selalu berkata ah tidak mungkin aku hamil, walau nyatanya sudah hampir dua bulan dia merasa mual, selalu kesal tanpa alasan dan yang paling buruk nafsu makannya bertambah pesat walau dirinya harus muntah setelah makan.
"sshh…"
Bahkan beberapa kali dia merasa kram perut tanpa menyadari bahwa anaknya didalam sana mungkin akan merasa terabaikan karena perbedaan sikap yang diberikannya dari sang kakak, jadilah Luhan membuat gerakan tenang persis seperti saat mengandung Sehan dan Hanse untuk menunduk, melihat perutnya walau hatinya luar biasa kelas pada ayah dari bayinya.
"Nak, mama tidak marah padamu, hanya saja biarkan mama memarahi papa, hmm? Jangan takut-…" katanya menatap perut yang sebentar lagi akan kembali besar untuk menggeram kesal mencari penyebab masalah ini adalah lelaki yag menyebutnya pria sejati tapi melarikan diri saat terbukti menghamili dirinya "Mama mencintaimu nak."
Perubahan ekspresi Luhan sangat mengerikan, dia tersenyum dan menatap lembut pada perutnya tapi berkilat marah dengan satu tujuan, rumahnya, tempat dimana dia bisa menemukan pelaku kejahatan yang sudah membuatnya hamil diluar kesepakatan mereka
"Jangan lari dariku, jangan lari dari anakmu."
Langkah tegasnya berjalan menghampiri masuk kedalam rumah, dia berniat untuk mencari Sehun dan membuat keributan jika diperlukan, ya, dia memang berencana menarik kencang telinga suaminya seraya bergumam "jangan berani-beraninya kau lari—…"
"OH SEHUN!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
NO MORE TO BE CONTINUED
.
.
.
.
.
.
Dan Ini sudah sangat panjang, dimohon tidak meminta lebih walaupun gue sendiri gereget sama hamilnya Luhan yang ini :""
.
Udah ya,
Saranghae
.
Gomawo
.
.
.
.
.
.
btw
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aarghhhhh / anjirr bahagia banget gue ngerampungin ini cerita
.
40 chapter tiap chapternya rata2 8-15K words sendiri, maapin gue yang gabisa ngerem di setiap chapternya, kkk~
.
.
MAKASIH POKOKNYA BERIBU TERIMAKASIH YANG SUDAH BERSABAR DAN SUPPORT GUE SAMPAI KALIMAT
,
,
,
,
,
END / TAMAT / FIN / NO MORE TO BE CONTINUED
.
.
.
INI KETULIS, GUE NGERASA BEBAN GUE BERKURANG BANGET, UTANG GUE KE KALIAN LUNAS!
.
.
AHH LAGII!…..JTV JUJUR PALING MUMET KALO DIPIKIRIN TIAP CHAPNYA, MAAF YA YANG BOSEN. W CINTA KALIAN SETIA ATAU DITINGGALKAN, *asal ga jelek2in Hunhan aja* wkwkwkw
.
.
.
Udah ya terimakasih lagi, sayang kalian :**
.
.
.
bakalkangenJTVkayayangudah2 :)
.
.
.
.
.
Biar syariah, Wassalammualaikum
.
.
"*
SEEYOU DI BEEN THROUGH "*
