Hari kedua pasca janji suci.

Jam sudah menunjukkan pukul 5am kst, terlihat di salah satu kamar disebuah apartemen nampak seorang 'gadis' sudah terbangun dari tidurnya, gadis itu masih terduduk di ranjang, ia masih mengumpulkan nyawa sambil menguncir rambut panjangnya, matanya masih sayu efek kelelahan sehabis pesta pernikahan kemarin

Gadis itu- Dongsook, ia mengalihkan pandangannya pada wajah damai Mark yang masih setia memeluk gulingnya, bibir tipis Mark sedikit terbuka dan mengeluarkan dengkuran halus, Dongsook tersenyum sambil mengelus-elus rambut hitam Mark dengan sayang, suaminya memang sangat tampan

Daripada berlama-lama memandangi suaminya lebih baik Dongsook memulai aktivitas pertamanya sebagai seorang istri, hal pertama yang dilakukannya adalah membersihkan ruang tamu yang berantakan bekas kerabat-kerabat dekat yang berkunjung setelah acara pernikahan selesai digelar

.

.

.

Kini jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, itu artinya sudah 3 jam lebih Dongsook berkutat dengan pekerjaan rumah tangganya, kini dirinya sedang sibuk dengan urusan dapur, hari ini ia membuat soup ayam karna Chenle akan berkunjung

Ah, Dongsook jadi tersenyum-senyum sendiri membayangkan wajah gemas Chenle, ia sudah tak sabar bertemu dengan makhluk mungil berusia 3tahun itu

Grep~

Sepasang tangan melingkari perut Dongsook, memeluk Dongsook dari belakang

"Kenapa senyum-senyum? Sedang memikirkanku ya?"

"Ih pd banget sih" cibir Dongsook tanpa mengalihkan fokusnya ke Mark, ia lebih tertarik mengaduk-ngaduk soupnya lalu ia cicipi sedikit kuahnya dari sendok sayur, "Mau coba?" tawar Dongsook sambil menyendok lagi kuah soup ke sendok sayur, meniup nya sebentar dan hendak menyuapkannya ke mulut Mark

"Jangan pakai sendok" cegat Mark

Dongsook sudah paham betul dengan sifat Mark, ia tau Mark punya maksud lain, "Jangan macam-macam, ayo cepat coba ini" Dongsook menyodorkan lagi sendok sayur ke mulut Mark, tapi Mark menutup mulutnya rapat, membuat Dongsook berdecak sebal

Dongsook menyesap kuah soup itu ke dalam mulutnya lalu menengadahkan wajahnya ke arah Mark, Mark yang melihatnya tersenyum lebar sambil menundukkan kepalanya, dengan cepat Mark menyambar bibir ranum Dongsook, menikmati kuah soup langsung dari mulut Dongsook, posisi mereka saat ini masih sama dengan Mark yang memeluk Dongsook dari belakang

Dalam cumbuannya Mark mulai melancarkan aksinya, tangannya mulai bergerilya di balik baju tidur Dongsook, ia mengelus perut one pack Dongsook lalu tangannya semakin naik ke atas, sasaran utamanya memang benda favorit Mark yaitu payudara sintal milik Dongsook

"Ahh.." erangan kecil keluar dari bibir Dongsook kala tangan Mark mulai meremas-remas payudaranya, Mark melesakkan lidahnya ke dalam mulut Dongsook, dengan lihai ia mengeksplor seluruh isi mulut Dongsook, lalu mengajak lidah Dongsook bertarung dalam ciuman panas mereka, Dongsook dengan kemampuan seadanya membalas pertarungan lidah itu

"Emhh.. A-ahhm!" tubuh Dongsook menegang seketika, Mark menekan-nekan dan memilin puting susunya, "Ngh.." rasanya kepala Dongsook pening sekali menerima semua serangan Mark di mulut dan payudaranya

Mark melepaskan pagutan mereka, dengan segera Dongsook meraup oksigen sebanyak-banyaknya, ia kehabisan nafas. Mark mematikan kompor, kemudian ia angkat tubuh Dongsook untuk di dudukkan di pantry dekat wastafel, "Kita lakukan sekarang" Mark sudah tidak bisa menahan birahinya, Dongsook yang memang sudah kelimpungan hanya bisa mengangguk lemah

Mark menyingkap baju tidur Dongsook ke atas, tidak sampai melepasnya, membuat kedua payudara sintal Dongsook kini terpampang jelas di depan Mark, ya Dongsook memang tidak pernah memakai bra saat tidur dan tidak akan memakainya sampai ia mandi pagi

Mark masih sibuk memandangi payudara Dongsook, membuat wajah Dongsook memerah, Dongsook merasa Mark seperti sedang menelanjanginya melalui tatapannya, ia menyilangkan kedua tangannya, menutupi payudaranya

Mark menyingkirkan tangan Dongsook lalu mulai menyerang payudara itu dan melahap rakus putingnya, "Mmhhh!" Dongsook menggigit bibir bawahnya berusaha meredam desahannya

Mark tau bahwa Dongsook sedang mati-matian menahan desahannya, dengan gencar ia memainkan jarinya memilin puting susu yang mulai memerah itu dan mencubitnya dengan gemas, "Mark! Aigo-aahhng.." Dongsook mendorong kepala Mark yang sedang menyusu padanya, membuat Mark semakin melahap penuh payudaranya

Mark menarik turun jemarinya, sekarang ia ingin memanjakan vagina Dongsook, jemarinya menyapa klitoris Dongsook menekan-nekan dan mengelus-elus bagian itu dengan gerakan sensual

Ting Nong!

Ting Nong Ting Nong!

"Markh" Dongsook berjengit ketika mendengar suara bell, ia mencoba mendorong pundak Mark menjauh dari payudaranya, "Mark hentikaaan.. Ah!" Mark tidak menggubrisnya sama sekali, ia malah semakin getol mengenyot puting susu Dongsook layaknya bayi yang kelaparan

"Mark aku serius! Itu ada Jinhyung oppa!" Dongsook mendorong Mark dengan sekuat tenaga dan berhasil, kini Mark sudah menjauhkan wajahnya dari payudaranya

"Astaga apalagi sih ini?! Kenapa mau berhubungan seks saja sulit sekali?!" Mark yang sedang dikuasai hawa nafsu menjadi kesal setelah kegiatan menyenangkan bersama istrinya diganggu

Dongsook turun dari pantry dengan segera memperbaiki penampilannya, Dongsook melihat ke arah celana suaminya sudah terdapat gundukan besar disana, ia meringis lalu menepuk pundak Mark dan mengelusnya mencoba memberi pengertian, "Cepat selesaikan itu, sekalian mandi ya? Jangan marah kan semalam aku sudah bilang kalau Jinhyung oppa akan datang berkunjung" ia mengecup pipi Mark sekilas dan berlalu dari situ

"Kau tidak bilang Jinhyung datang pagi-pagi.." Mark mengusap wajahnya kasar sambil melangkah dengan gontai ke arah kamar,

'Sudah punya istri tapi masih bermain solo, nasib nasib' rutuk Mark dalam hati

.

.

.

"Apa?! Kenapa mendadak seperti ini?! Lagipula siapa yang mengizinkanmu menginap disini?!" Mark mengacungkan sumpitnya ke arah wajah Jinhyung

"Dongsook sudah mengizinkan aku dan Chenle menginap disini, jadi aku tak perlu izin darimu" dengan santai Jinhyung kembali melahap makanannya

Mark melempar pandangannya ke arah Dongsook di sebrang meja dengan tatapan penuh selidik, Dongsook hanya bisa nyengir kuda, lalu kembali menyuapi Chenle

.

.

.

"Kenapa kau memutuskan sepihak begini? Lalu kapan kita bisa melakukan hubungan layaknya suami istri kalau ada Jinhyung?"

Dongsook menyikut perut Mark, "Sst.. Pelankan suaramu, nanti Jinhyung oppa dengar"

Mark masih belum terima istrinya ini dengan sepihak mengizinkan kakaknya untuk menginap, Mark yakin kalau ada kakaknya ia tidak akan bisa berdekatan dengan istri montoknya itu karna sang istri akan sibuk dengan Chenle, padahal kan Mark sudah gatal sekali ingin menyentuh Dongsook dari kemarin

"Jinhyung oppa sedang bertengkar dengan Joy eonni, makannya dia menginap disini, katanya kemarin di pesta pernikahan kita Joy eonni kepergok sedang mengobrol dengan Sungjae oppa" sambil membilas piring yang sudah dicucinya Dongsook mulai menjelaskan alasan Jinhyung menginap di apartemen mereka, "Jadinya sekarang mereka sedikit cekcok dan oppa ingin menginap disini"

"Yang benar saja, mereka yang bertengkar, kita yang dilibatkan" Mark mulai sewot "Biar ku hajar si pecundang itu"

Mark berlalu dari sana, Dongsook menggelengkan kepalanya, suaminya kalau sedang kesal malah terlihat lucu dimatanya

.

.

.

7pm kst

Bukannya menghajar, Mark malah terdampar disini, di ruang tamu, bersama dengan kakaknya, bermain PlayStation, sedangkan istrinya sedari tadi momong keponakan lumba-lumbanya di kamar mereka

"Harusnya hyung dengarkan penjelasan Joy noona sebelum kabur kesini"

"Halah tidak penting bagiku, biarkan saja dia" Jinhyung menjawab dengan nada emosi yang kentara

"Memangnya ada apa sih hyung? Bukannya kau hanya memergoki mereka sedang mengobrol?"

"Kau tidak tau Mark rasanya memergoki istrimu sedang mengobrol dengan mantan pacarnya yang dulu sangat ia cintai" Jinhyung mulai memainkan joystick dengan brutal

Mark yang melihatnya langsung saja menahan tangan kakaknya, "Wow bro calm down, kau merusak joystick ku"

"Setelah kejadian ini aku jadi semakin ingin membawa Joy pindah ke Kanada, agar ia jauh dari mantannya itu"

"Hyung, bukankah Joy noona lebih memilih menikah denganmu dan mau melahirkan Chenle? Ingatkan? Lalu kenapa kau masih ragu?"

"Joy mau menikah denganku karna aku menghamilinya, lalu selama 5bulan dengan mati-matian aku mencegahnya agar tidak menggugurkan kandungannya, kau tentu tau itu kan, Mark?" Jinhyung mulai memelankan suaranya, terdengar lirih di telinga Mark

Mark yang mendengarnya ikut prihatin, dan tidak bisa berkata apa-apa selain mengusap-ngusap punggung kakaknya, ia tau persis bagaimana perjuangan kakaknya sampai bisa ke titik sekarang.

.

.

.

Sudah sekitar 4 jam Mark menemani kakaknya minum, hingga kakaknya sekarang tepar dan tertidur di ruang tengah, Mark menyelimuti kakaknya lalu bangkit darisana, sambil meregangkan otot tangannya ia berjalan menuju kamarnya

Diputarnya knop pintu dengan pelan, setelah berhasil masuk ke dalam kamar, pandangannya langsung tertuju pada tubuh Dongsook yang tertidur membelakanginya, ia berjalan mendekat dan melihat Chenle yang tertidur sambil merapatkan tubuh mungilnya pada Dongsook

Mark tersenyum melihat pemandangan itu, membayangkan jika nanti dirinya menjadi seorang Ayah

Mark menundukkan kepalanya, mengecup pipi Dongsook dengan lembut lalu mengusap pipi itu dengan punggung tangannya, ia pandangi wajah istrinya beberapa saat, Mark sempat berpikir akan menggagahi istrinya malam ini karna Jinhyung sedang mabuk berat sudah pasti dia tidak akan ngeh dengan aktivitas mereka, namun di urungkannya ketika melihat wajah cantik istrinya itu terlelap dengan damainya

Ia berjalan ke sisi kasur satunya, naik ke ranjang dan gantian memandangi wajah Chenle, dengan gemas ia jembel pipi itu pelan, membuat Chenle sedikit terusik dalam tidurnya, Mark tertawa tanpa suara, keponakannya ini memang menggemaskan

.

.

.

5am kst

Dongsook merasakan sesak bukan main di dalam tidurnya, ia merasa ada sesuatu sedang menindih tubuhnya, dadanya juga terasa sedikit linu, dengan berat ia membuka matanya, ia mengerjapkan matanya berkali-kali, matanya membulat sempurna ketika ia melihat Mark sedang mengemut-emut puting susunya

"Ahstaga.. Apa yang kau lakukan?" Dongsook berbisik lirih

Mark tidak berminat untuk menjawab pertanyaan Dongsook, ia lebih memilih untuk melanjutkan kegiatannya menyusu pada Dongsook membuat Dongsook mati-matian menahan desahannya, karna Chenle masih disana, batita itu masih tertidur lelap

"Mhh.." Dongsook tak kuasa menahan desahannya ketika merasakan jemari Mark mulai menyapa bagian bawah tubuhnya, lalu mulai bermain-main dengan vaginanya yang masih terbalut celana piyama

"Mark.. Sudah nanti Chenle bangun dan melihat kit-ahhhh" Dongsook melengkungkan tubuhnya ketika Mark dengan sengaja menekan klitorisnya, membuat tubuhnya merinding nikmat

Mark mengecup tulang selangka Dongsook, lalu kecupannya terus berlanjut sampai ke leher, ia gigit dan ia lumat leher itu membuat hickey disana, lalu ia telusuri leher jenjang itu menggunakan lidahnya, menjilati tengkuk lalu belakang telinga dan menjilat cuping telinga Dongsook, memberikan rangsangan kepada Dongsook sebaik mungkin

"Nhh... Mark aku tidak tahan.." Dongsook mengalungkan tangannya ke leher Mark, "Ahh.. Nghh.." dengan nakalnya ia menggesek-gesekan vaginanya ke penis Mark yang sudah meggembung di balik celana piyamanya

"Disini?" Mark menatap Dongsook memastikan tempat dimana mereka akan bercinta

Dongsook mengalihkan pandangannya ke samping, dimana masih terdapat Chenle yang masih terlelap, "Di sofa saja" Dongsook melingkarkan kakinya ke pinggang Mark

Mark dengan segera menggendong tubuh Dongsook, di sepanjang perjalanan menuju sofa mereka melumat bibir satu sama lain, berciuman panas, keduanya sudah diburu hawa nafsu

Baru saja pantat Dongsook mendarat di sofa ia sudah melihat Chenle sedang terduduk di ranjang sambil mengucek-ucek matanya, dengan kuat Dongsook mendorong tubuh Mark yang hendak menindihnya membuat Mark terjungkal ke belakang

"Aw!"

Dongsook tidak memperdulikan pekikan kesakitan Mark, ia berlari menuju ranjangnya dan menghampiri Chenle, "Sayang, kau sudah bangun" Dongsook mengelus-elus rambut Chenle

"Imo.." ucap Chenle lirih sambil naik ke pangkuan Dongsook, "Imo.. Samchon kenapa?" Dongsook mengalihkan pandangannya ke Mark yang kini sedang tidur terlentang di lantai sambil menangis dan menendang-nendangkan kakinya tak beraturan layaknya anak kecil yang sedang merajuk

Membuat Dongsook sweatdrop.

Day 2: Mission Failed

TBC or End?

Mau balas review yaa

Park Youngie: hi kak! Terimakasih kakkk masukannya! Terus review dan ajarin aku ya kak karna aku juga belum jago nulis fanfiction huhu *bow

Ai Selai Strawberry: hi kak! Sudah aku perbaiki ya soal huruf kapital di depan nama, terimakasih udah mau mereview, dan udah aku naikin ratednya xD

Ahnyona: hi kak! Terimakasih sudah mereview ya, udah aku naikin ratednya meskipun rated seadanya :"3

Guest: sudah di lanjut yaa, terimakasih reviewnya! :D