Suasana siang itu begitu mencekam, Mark menjadi murung setelah dirinya kembali gagal menggagahi istrinya dini hari tadi, bahkan setelah sarapan pun Mark langsung kembali ke kamarnya dan mengunci diri disana

Dongsook tentu tau kalau suami gantengnya itu sedang melancarkan aksi mogok bicara terhadapnya

"Mark kenapa? Hari ini dia diam sekali" tanya Jinhyung sambil meneguk sekaleng soft drink, ia menempatkan dirinya disamping Dongsook yang sedang memangku Chenle, mereka sedang menonton tv

"Mungkin masih kelelahan oppa" Dongsook berbohong, tidak mungkin juga kan dia memberitahu alasan sebenarnya Mark mendiaminya

"Benar juga" Jinhyung mengangguk-anggukan kepalanya setuju, ia juga pernah merasakan lelahnya pasca resepsi pernikahan

"Imo.. Chenle ingin nonton pororo" celetuk Chenle sambil meraih tangan Dongsook yang sedang memegang remot tv, langsung saja Dongsook mengganti channel tv

Ting nong

Ting nong

"Biar aku saja yang buka pintunya" Jinhyung menghentikan pergerakan Dongsook yang hendak bangkit dari duduknya untuk membuka pintu

Ceklek~

"YA! SUAMI SIALAN! KU CARI-CARI TERNYATA KAU MALAH DISINI!" teriakan nyaring itu langsung menyapa gendang telinga Dongsook

"Y..Yeobo jangan berteriak ini bukan di rumah kita" terdengar suara Jinhyung menimpali dengan pelan

Dongsook mengangkat tubuh Chenle untuk ia dudukan di sofa, "Chenle diam disini sebentar, imo mau ke depan dulu ya" Dongsook mengelus kepala Chenle, yang di elus menganggukkan kepalanya

Setelah sampai di teras depan, Dongsook mendapati pasutri yang sedang bergulat, lebih tepatnya ia melihat Joy sedang mencekik leher Jinhyung

"Astaga eonni jangannn" Dongsook mencoba menjauhkan tangan Joy yang hendak melemparkan vas bunga ke arah Jinhyung

"Jangan cegat aku bear! Biarkan saja lelaki sialan ini mati!" Joy berteriak dengan suara sembernya, Joy menangis

"Yeobo kau menangis.." Jinhyung gelagapan melihat istrinya menangis, ia ingin meraih Joy kedalam pelukannya tapi Joy masih saja memukul-mukul tubuhnya

"Kenapa ribut-ribut? Tidak enak di dengar tetangga" Mark datang setelah sekian lama bermeditasi di dalam kamarnya, membuat Dongsook mengalihkan perhatiannya kepada suaminya itu, "Hyung bawa Joy noona ke ruang tengah, kalian kan bisa bicarakan baik-baik di dalam" Mark berusaha menengahi

Jinhyung menggandeng tangan Joy yang sudah agak tenang ke ruang tengah di ikuti Mark dan Dongsook di belakangnya

"Aigoo anak eomma!" Joy berlari ke arah Chenle yang sedaritadi duduk di sofa, langsung saja ia memeluk Chenle dengan rasa kangen yang membuncah, ia menciumi wajah Chenle sambil menangis tersedu-sedu

"Eomma kenapa menangis?" ucap Chenle sambil menangkup wajah ibunya

"Aniya eomma gwenchana" Joy masih menciumi wajah Chenle

Dongsook yang melihat itu tak sadar sudah menitihkan air matanya, entah kenapa dirinya jadi terbawa suasana

Mark yang melihat itu segera menyodorkan tisu pada Dongsook, ia jadi merasa bersalah sudah mendiami istrinya seharian ini

.

.

.

"Lain kali kalau mau kabur jangan bawa Chenle! Kaburlah sendirian! Kau tidak tau bagaimana tersiksanya aku!" Joy mulai bersungut lagi pada Jinhyung

"Yeobo jangan berteriak seperti itu nanti Chenle kaget" Jinhyung mengelus lengan istrinya yang sedang memberikan asi eksklusif pada Chenle

Satu jam berlalu akhirnya kedua kakak ipar Dongsook berdamai, kedua kakak iparnya itu masih di apartemen mereka

"Ini hanya salah paham, harusnya kalian bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, kalian kan sudah punya Chenle" Mark mencoba memberi masukan pada pasutri tersebut, Dongsook yang berada di samping Mark tersenyum masam

'Menengahi orang lain bisa, tapi dirinya sendiri sedang mendiamiku, cih' cibir Dongsook dalam hati

.

.

.

"Eonni, lebih baik makan siang dulu disini.. Aku hari ini masak banyak"

"Tidak usah bear, aku juga tadi di rumah sudah masak sebelum kesini" mereka sedang berjalan beriringan menuju teras dengan Joy yang merangkul Dongsook

"Aku masih ingin bermain dengan Chenle" Dongsook mempoutkan bibirnya sambil memandangi Chenle yang ada di gendongannya

"Bermain dengan Mark saja, kalau bisa sampai beronde-ronde agar cepat dapat yang seperti Chenle" Joy menanggapinya dengan jawaban ngawur sambil tersenyum jenaka

"Mwoyaaa eonniii" pipi Dongsook memerah mendengarnya, ia mencubit pinggang Joy, dirinya malu digoda seperti itu

"Ahahaha" Joy hanya bisa tertawa puas melihat ekspresi adik iparnya itu

Sedangkan kedua lelaki yang mengekor dibelakangnya hanya memperhatikan kedua wanita itu dengan tatapan bingung

Sesampainya diambang pintu mereka saling berpamitan

"Maaf bro sudah mengganggu quality time kalian"

Mark tersenyum menanggapi perkataan Jinhyung, "Nope bro"

Jinhyung memeluk Mark dan membisikkan sesuatu padanya, "Cek kulkasmu.. Aku sudah menaruh obat kuat khusus untuk wanita, dijamin Dongsook akan brutal di atas ranjang malam ini"

Mark meninju lengan kakaknya sambil tersenyum lebar, "Sial" ucapnya lalu mereka berdua tertawa bersama

"Minhyung-ah, Dongsook tadi bilang padaku ia ingin segera cepat punya anak, kabulkanlah" Joy tiba-tiba berceletuk

"Ah eonniyaaa wae gurae" Dongsook kembali mencoba mencubit pinggang Joy, dia paling tidak tahan digoda seperti ini

"Bisa diatur" jawab Mark sambil melempar smirknya pada Dongsook, "Bye Chenle" Mark melambaikan tangannya pada bayi lumba-lumba itu tidak lupa ia mencubit pipi gembil Chenle

"Eonni sering-seringlah berkunjung sambil membawa Chenle" Dongsook menimpali dan mencium gemas pipi Chenle "Imo akan buatkan sayur tahu kesukaan Chenle nanti"

"Iya imo" ucap Chenle sambil tersenyum lebar membuat pipi chubby nya terangkat dan menampilkan mata bulan sabitnya

"Lucu sekali" Dongsook mencubit gemas pipi Chenle

"Terimakasih ya mau di repotkan oleh bayi kecil dan bayi besar ini, maaf gara-gara si sialan ini honeymoon kalian jadi terganggu" ucap Joy sambil menunjuk Jinhyung

"Tidak apa-apa noona" Mark menjawab sambil tersenyum maklum, Joy memeluk kedua adiknya itu dengan sayang

"Baiklah kami pulang" ucap Jinhyung, ia mengacak surai Dongsook lalu menepuk pelan pundak Mark dan mulai berjalan menjauh dari teras apartemen itu

"Bye Chenle" teriak Mark sekali lagi

"Eung~" jawab Chenle dari kejauhan

.

.

Ketika Mark berbalik ia mendapati Dongsook tengah menatapnya

"Mark-" Dongsook belum sempat menyelesaikan kalimatnya karna Mark kini tengah menciumnya tepat di bibir, Dongsook yang diserang secara tiba-tiba itu membulatkan matanya namun ciuman itu terasa lembut dan hangat di bibir ranumnya

"Jangan berkata apapun" Mark memberi jeda dalam ciuman itu, "Aku akan tunjukkan padamu apa itu ronde tiada akhir, seperti yang pernah ku bilang" setelah melanjutkan kata-katanya langsung saja Mark menggendong Dongsook ala bridal style

.

.

.

"AAAAAH"

"Mark..."

"Kenapa kau tidak bilang daritadi?!"

"Bagaimana aku bisa bilang kalau kau terus menciumku tanpa ampun, itu salahmu main sentuh saja!"

"Setidaknya kau cegat semua pergerakanku untuk tidak menyentuhnya!"

"...habisnya sentuhanmu enak" Dongsook menatap Mark dengan tatapan polosnya, "Cepat cuci tanganmu, pasti lengket"

"Lupakan!" Mark bangkit dari atas tubuh Dongsook dan langsung berjalan ke kamar mandi sambil meremat rambutnya seperti orang frustasi

"Maafkan aku, habisnya kau mendiamiku juga seharian ini, jadi aku tidak bisa bilang kalau sekarang aku sedang menstruasi" Dongsook berteriak saat Mark sudah mencapai gagang pintu kamar mandi

"Iya semua ini memang salahku" Mark berujar dengan nada hampir menangis, untuk kesekian kalinya ia gagal menyentuh istrinya

Dongsook sedih melihat suaminya seperti orang yang frustasi tapi ia tak tahan untuk tidak tertawa

Mark ku Sayang

Mark ku Malang

.

.

.

Hi!

Terimakasih yaaa untuk yang sudah review!

Aku mau balas review untuk Guest, makasih ya udah kasih tau tentang silsilah keluarga di korea, huhu aku gatau soal itu, tapi maaf yaaa karna nasi sudah menjadi bubur jadilah terima aja ffnya begini karna nanggung/? :" Terimakasih banget! Lain kali aku akan koreksi okeee

Maaf ya kalo ffnya mulur soalnya buntu banget wkwkwkwk. Mau END tapi kasian mark belum dapet jatah dari dongsook xD tbc aja dehhh aku janji 1 chapter lagi deh abis itu end wkwkwk..