Naruto©Mr Masashi Kishimoto
Secret Passion
Sasuke. U x Hinata. H
Rate M, 18
Romance/Drama
Typo(s), OOC, ide cerita pasaran, dan segala kekurangan pasti ada di fict ini.
Happy reading.
Sore ini Hinata sudah berkemas untuk keperluan syuting video klip musik Mei Terumi, setelah kejadian kemarin malam di pesta keluarga Uchiha, Hinata berpikir untuk tidak berurusan lagi dengan keluarga tersebut, dan tadi siang Hinata sudah bertemu dengan Itachi di restoran tempat biasa mereka bertemu, itupun dengan cara Hinata meminta Itachi menemuinya, tadinya Hinata akan melakukanya setelah selesai syuting untuk Mei Terumi, tapi Hinata berpikir lebih cepat akan lebih baik, ya Hinata sudah mengakhiri hubungannya dengan Itachi.
Flash back
Hinata sedang menunggu Itachi di restoran, sudah sepuluh menit berlalu dan akhirnya pria yang di tunggu muncul juga, seperti biasa pria itu selalu tampak mempesona.
"Hai, sayang?, apa kau lama menunggu?" Itachi menyapa Hinata dan bermaksud mencium pipi Hinata tapi wanita itu memalingkan wajahnya, Itachi mengernyitkan alisnya, tapi kemudian pria itu duduk berhadapan dengan Hinata.
"Ada apa kau memanggilku, bukankah kau harus berkemas nanti sore kau akan berangkat bersama Sasuke?" ucap Itachi.
"Kenapa apa kau keberatan?, atau kau sedang sibuk bersama mantan kekasihmu itu?" ucap Hinata dingin, Itachi menatap Hinata, baru kali ini Hinata bersikap dingin padanya.
"Ada apa sayang?, apa kau sedang marah padaku?, apa karena pesta semalam?,..hm?" tanya Itachi dan Hinata menghela napas.
"Kenapa kau bertanya?, yah,...pria yang bertemu mantan kekasih yang sangat di cintainya pasti ingin bernostalgia tanpa gangguan dari orang lain termasuk kekasihnya saat ini." Hinata terlihat marah.
"Apa kau merajuk Hinata?, ayolah sayang jangan kekanakan seperti ini, aku harus memberi sambutan padanya, dia tamu di rumahku." ucap Itachi dengan menyentuh tangan Hinata, tapi Hinata menjauhkan tangannya.
"Ah,...kau benar, seorang tuan rumah harus menyambut tamu istimewa dengan cara bercinta dengannya, begitu Itachi?" Itachi tampak terkejut dengan ucapan Hinata.
"Dan aku kekanakan itu benar, apa aku harus diam saja saat melihatmu bercinta dengan wanita lain di depan mataku sendiri." Hinata berucap pelan karena bisa saja pengunjung yang lain mendengarnya.
"S-Sayang, i-itu aku-..." Itachi tergagap dan Hinata hanya mendecih.
"Sudahlah Itachi, justru itu yang ingin ku sampaikan padamu." ucap Hinata.
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana, tapi aku sangat berterima kasih selama setahun ini kau sudah menjadi pendampingku."
"Kita berdua sama-sama tahu bahwa hubungan ini tidak akan pernah berhasil, jadi...aku berpikir sebaiknya kita mengakhirinya,.." Itachi membulatkan matanya, pria itu terkejut dengan keputusan Hinata.
"Tapi Hinata, aku tidak pernah berpikir untuk mengakhirinya, tolong jangan lakukan itu, aku tahu aku bersalah dan kau sedang marah padaku, aku sangat menyesal, aku minta maaf."
"Kumohon maafkan aku Hinata, aku seorang pria normal dan aku membutuhkan pelampiasan karena kau tidak pernah memberikannya untukku, aku tahu kau tidak mencintaiku dan kau mengabaikan perasaanku." Itachi berkata panjang lebar.
"Perasaanmu?, aku belajar mencintaimu, tapi kau juga tidak pernah mengatakan cinta padaku Itachi, bagaimana aku bisa tahu?." Hinata memotong ucapan Itachi.
"Dan sebuah hubungan apakah hanya tentang hubungan badan?, tidak, aku tidak berpikir seperti itu, itu hanyalah nafsu bukan cinta." Hinata mulai terpancing emosi, Itachi tidak bisa menjawab pertanyaan Hinata.
"Maafkan aku Itachi, keputusanku sudah bulat, kuharap kau bisa kembali pada cintamu, nona Yugao, dan tentang kontrak kerja, aku akan menyelesaikannya." Hinata beranjak dan pergi meninggalkan Itachi yang menundukan kepalanya.
Setelah kepergian Hinata, tanpa di sadari air mata Itachi menetes, ada yang hilang dalam hidupnya, Itachi menyesal telah mempermainkan Hinata, Itachi tidak menyadari bahwa cintanya untuk Hinata sudah tumbuh sejak lama, sekarang wanita yang di cintainya sudah pergi meninggalkannya, Itachi tergoda nafsu sesaat bersama Yugao, dan telah menyakiti Hinata, sekarang Itachi merasa hampa.
"Aku mencintaimu, Hinata."
Flash back end.
Hinata menghela napasnya, dia sudah selesai berkemas, Hinata mengingat kembali pertemuannya dengan Itachi tadi siang.
"Maafkan aku Itachi, aku tidak marah kepadamu, tapi aku memang harus pergi dari hidupmu, dari Sasuke." air mata Hinata mengalir deras dari matanya, tangisan pilunya tertahan.
"Sasukee,...hiks..." akhirnya Hinata menyebut nama Sasuke, betapa sakitnya saat kita harus pergi dari orang yang kita cintai.
"Aku tidak tahu, apakah aku bisa hidup tanpa dirimu?"
"Tanpa melihatmu?" Hinata jatuh terduduk di lantai kamarnya, untuk hari ini saja bolehkah dirinya menumpahkan segala rasa.
Seandainya Itachi menyatakan cinta, Hinata pasti akan lebih berusaha untuk membalas cinta Itachi dan melupakan Sasuke, tapi semua sudah terlambat, Hinata tidak akan bisa bersama dengan keduanya, tidak Itachi dan tidak Sasuke, biarkan cintanya hanya akan Hinata simpan seumur hidup tanpa ada yang mengetahui selain Karin dan Madara.
Secret Passion.
Ting-tong.
Hinata mengusap air matanya karena mendengar suara bel rumahnya berbunyi, Hinata segera turun ke lantai satu untuk melihat siapa yang datang.
Hinata hanya melihat pada orang yang berada di hadapannya.
"Hyuuga?,.."
"Sasuke?" ya Sasuke yang datang ke rumah Hinata, mereka berdua akan berangkat bersama ke lokasi syuting.
"Apa persiapanmu sudah selesai?" tanya Sasuke dan Hinata hanya menganggukan kepalanya.
"Hey, kenapa matamu bengkak?, apa kau habis menangis.?" tanya Sasuke dan wajahnya lebih mendekat pada wajah Hinata, wajah tanpa cacat yang tidak di poles make up.
Sasuke melihat tampilan Hinata yang terlalu sederhana, skiny jeans dipadu sweater rajutan putih dan tanktop putih di dalamnya, flat shoes putih juga terpasang di kakinya, Sasuke baru ingat kalau Hinata tidak pernah berpakaian minim di luar lokasi syuting, wanita itu berpakaian seksi hanya saat kamera menyala dan untuk rambut Hinata hanya mengikat ponytail saja.
"Ya, itu benar, sepertinya itu biasa jika seorang wanita baru saja putus dengan kekasihnya." ucap Hinata dan Sasuke terlihat sedikit terkejut, tatapan mereka terkunci, Sasuke tidak bisa berkata apapun.
"Aku sudah tidak punya hubungan lagi dengan kakakmu, jadi kalau aku menangis itu tidak masalah kan?" tanya Hinata dan Sasuke hanya bisa diam, bukankah itu yang dia harapkan, tentu saja itu benar.
"Benarkah?, aku,...hanya tidak menyangka akan secepat ini." ucap Sasuke dengan senyum yang di paksakan.
"Lebih cepat lebih baik bukan?" tanya Hinata, dan Sasuke merasakan hal aneh di dadanya, Sasuke merasa canggung pada Hinata.
"Aku akan menyiapkan mobilku dulu." ucap Hinata dan hendak berbalik.
"Tunggu, kita,...akan pakai mobilku saja." Hinata mengernyitkan alisnya.
"Itu akan menghemat waktu, kita juga bisa bergantian menyetir." ucap Sasuke.
"Apa itu tidak akan mengganggumu Sasuke?, aku akan berada lama di dekatmu, perjalanan ke pantai sangat jauh." tanya Hinata, sebenarnya Hinata tidak ingin berada dekat lebih lama dengan Sasuke, karena akan selalu akan berakhir dengan pertengkaran.
"Sudahlah, tidak perlu membahas itu sekarang, kau tidak ingin terlambat bukan?." ucap Sasuke, pria itu masuk ke rumah Hinata dan pergi ke kamarnya, setelah itu Sasuke kembali dengan menyeret koper kecil milik Hinata, sedangkan Hinata sendiri masih mematung di pintu rumahnya.
"Ayo cepat, aku tidak ingin membuang waktu dengan menunggumu melamun seperti itu." ucapan Sasuke membuat Hinata tersadar kembali.
Setelah memastikan pintu rumahnya terkunci, Hinata mengikuti langkah Sasuke di belakangnya, punggung tegap itu Hinata tatap, dadanya terasa berdesir rasa hangat juga mengalir di tubuhnya, Hinata mengusap tengkuknya yang terasa meremang.
'Oh Tuhan, aku tidak bisa menahan diri, perasaan ini selalu muncul'
Hinata bergumam dengan pemikirannya sendiri saat melihat sosok sempurna yang berada di hadapannya, Hinata harus lebih berusaha untuk membunuh perasaannya, Hinata ingin perasaannya itu mati, walaupun hatinya juga akan mati.
Mobil sport hitam Sasuke melaju cepat membelah jalanan yang mulai menggelap, hari memang sudah hampir senja, cahaya matahari yang tenggelam sudah berubah semakin keemasan dan perlahan menghitam dan membuat sebagian belahan bumi bertemu malam dan sebagian lagi bertemu dengan pagi.
Sudah satu jam setelah meninggalkan rumah Hinata, suasana di dalam mobil Sasuke begitu sepi tidak ada yang mulai berbicara, sudah satu jam Hinata hanya mengarahkan tatapanya ke luar dan sudah satu jam juga Sasuke fokus dengan kemudi mobilnya, suasana canggung yang dirasakan sangat menyiksa terutama untuk Hinata, berada di jarak sedekat itu dengan Sasuke membuatnya tersiksa, pria itu tidak menganggapnya ada, sudah tiga kali kekasih pria itu menghubunginya.
"Ya, sayang aku akan kembali 3 hari lagi, sampai jumpa." Sasuke mengakhiri panggilan dari Sakura, pandanganya di alihkan pada Hinata yang masih melihat keluar, Sasuke menyalakan pemutar musiknya dengan suara yang tidak terlalu keras, rasa tidak nyaman juga di rasakannya.
(Musik)
'Cintaku'
'Dengarkanlah laguku'
'adalah suara isi hatiku'
'akan kunyanyikan untukmu'
'ungkapan rasa rinduku'
(Musik)
'tak hanya pertemuan'
'kuinginkan sentuhanmu'
'kumerindu di setiap waktuku'
'kumenanti sepenuh hatiku'
'Just a dream'
'Just a dream'
'I could never make you be mine'
(Musik)
'Cintaku,...'
'Berakhir,... Berakhir...'
'Open my eyes, Open my eyes'
'Just a dream, Just a dream'
'Cause, i could never make you be mine'
(Musik)
'Baby,... good by...'
'Berakhir...'
Satu tetes air mata lolos dari ametys Hinata, Sasuke memutar lagu milik Mei Terumi, Hinata tidak tahu bahwa lagu yang dinyanyikan wanita itu berisi semua perasaannya sekarang, Hinata merasa di permainkan kehidupan.
"Lagu yang menyedihkan, bukan begitu, Hyuuga?" Sasuke bersuara kemudian mematikan kembali pemutar musiknya.
"Aku tidak tahu adegan seperti apa yang dilakukan dengan lagu seperti ini?, seharusnya Mei Terumi mencari artis sinetron bukan artis film dewasa seperti kita." Sasuke mendengus tanpa di sadarinya Hinata tengah mengusap air matanya.
"Secret love?" Sasuke kembali berkata.
"Sepertinya Mei Terumi pernah memendam cintanya, tidak kusangka." ada sedikit tawa dalam ucapan Sasuke.
"Apa kau mendengarku, Hyuga?" Sasuke merasa kesal karena Hinata tidak menjawab pertanyaanya.
"Y-Ya,...hiks..." suara sesenggukan Hinata di dengar Sasuke.
"Apa kau menangis karena lagu Mei Terumi?" Sasuke kembali bertanya, sementara Hinata menutup wajah dengan kedua tangannya, tangisannya pecah, Sasuke menepikan mobilnya di sisi hutan yang gelap, Sasuke berpikir mungkin Hinata masih sedih karena perpisahannya dengan Itachi, dan Sasuke memberikan sedikit waktu kepada Hinata untuk melepaskan semua kesedihannya.
Hutan yang gelap dan Sasuke menjadi saksi bisu tangisan Hinata, pria itu tidak menyadari saat ini Hinata sangat terluka.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Sasuke, pria itu memberikan saputangannya pada Hinata.
"Ya,..." jawab Hinata dengan singkat, wajahnya dia usap dengan saputangan milik Sasuke.
"Sudahlah, lupakan Itachi dan carilah pria yang baru." ucap Sasuke.
"Apa?,..." Hinata terkejut mendengar perkataan Sasuke.
"Wanita sepertimu tidak akan sulit mencari pengganti, bukankah kau tidak mencintai Itachi selama ini, jadi hentikan air mata palsumu itu." Hinata menatap Sasuke tak percaya, tega sekali Sasuke mengucapkannya.
"Cih, kau sungguh perhatian, terima kasih tapi aku tak butuh hiburan darimu, lidahmu benar-benar tajam, mulutmu penuh racun." ucap Hinata dengan menatap tajam Sasuke.
"Inikah alasanmu mengajakku satu mobil denganmu, supaya kau bisa menghinaku?,...Baiklah kita hanya berdua sekarang, dan aku punya banyak waktu untuk mendengar alasan kenapa kau membenciku." ucap Hinata, wanita itu keluar dari mobil, Sasuke terpaksa mengikuti Hinata keluar dari mobilnya.
"Apa yang ingin kau dengar, Hyuga?" Sasuke berjalan mendekati Hinata yang berada di depan mobilnya.
"Dengar aku sudah muak melihat tingkahmu Sasuke, apa kau tahu sikapmu itu seperti seorang pengecut."
"Semua ada alasan, dan kau juga pasti punya alasan untuk membenciku iya kan?" Hinata mulai menaikan suaranya.
"Ya, kau benar, aku sangat membencimu, karena kau adalah wanita murahan kau wanita jalang yang selalu mempermainkan pria yang menyukaimu."
"Utakata Sena dan Otsutsuki Toneri pernah mengatakan padaku, pernah menikmati tubuhmu berkali-kali walaupun saat itu kau berpacaran dengan Itachi, di mana perasaanmu hah?"
"Dulu aku juga tidak suka padamu kau berpura-pura menjadi gadis lugu dan polos tapi kenyataannya kau hanyalah wanita munafik yang menjijikan." Sasuke mengeluarkan emosinya, bahu Hinata di cengkramnya sampai wanita itu kesakitan.
"Kau menyakitiku, Sasuke?" Hinata berusaha melepaskan diri, tapi cengkraman Sasuke semakin terasa menyakitkan.
"Kau pikir aku peduli hah?, kalau aku mau dengan mudah aku bisa membunuhmu." Sasuke menyentak tubuh Hinata sampai punggung Hinata menyentuh kap mobil bagian depan.
"Ackh,..." Hinata merasakan sakit di tubuh dan juga jiwanya.
"Kau berpikir dirimu special?, dan kau ingin di perlakukan istimewa?, jangan kecewa karena aku tidak akan melakukan itu untukmu." Sasuke mengurung tubuh Hinata dengan kedua tangannya.
Sasuke dan Hinata saling menatap dengan penuh kebencian, tapi sebagai seorang perempuan Hinata tidak bisa menahan laju air matanya.
"Toneri, Utakata dan para Uchiha ternyata hanya kumpulan para pengecut yang bermulut besar." napas Hinata terengah menahan amarah.
"Kalianlah yang menjijikan" Hinata mendorong tubuh Sasuke dan berdiri tegak kembali.
"Seharusnya kalian lebih menghargai seorang wanita dan menjaga nama baiknya, bukannya menyebar berita bohong dan merendahkan juga menghancurkan harga dirinya." Hinata memijit kepalanya yang terasa nyeri.
"Apa?, harga diri?, apa kau lupa kalau kau juga pernah mengajaku untuk tidur bersamamu."
"Jangan pernah berbicara tentang harga diri di depanku, Hyuga, bagiku seorang wanita yang menawarkan tubuhnya pada seorang pria adalah perempuan yang tidak punya harga diri." ucap Sasuke dengan senyum meremehkan, air mata Hinata semakin turun tapi itu tidak membuat Sasuke merasa iba.
"Ya, aku menyesal mengatakan itu semua, malam itu aku mabuk, bukankah kau juga tahu itu?" Hinata berkata dengan menahan tangisannya.
"Ya, kau benar, tapi orang mabuk selalu jujur, dan kupikir kau tertarik pada tubuhku, dan kau ingin tidur denganku, apa itu benar Hyuga?" Sasuke semakin tertawa meremehkan.
"Mungkin dari semua pria hanya aku yang belum merasakan tubuhmu, tapi aku benar-benar tidak tertarik."
"Cukup, hentikan semua ucapanmu Uchiha, penghinaanmu tidak akan pernah habis, apa kau mau melakukan semua ini sampai kau mati?" Hinata merasakan hatinya begitu sakit, Hinata tidak menyangka Sasuke begitu tega merendahkan dirinya.
'Aku memang sudah tidak waras, kenapa aku bisa menyukai pria seperti dia, ... Tuhan, tolong bunuh perasaanku ini.'
Hinata berjalan mundur dan berbalik membelakangi Sasuke, air matanya deras berderai, Hinata memeluk tubuhnya sendiri, wanita itu berusaha menahan isak tangisnya, Hinata menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
Sementara Sasuke sendiri, berusaha menurunkan emosinya, Sasuke melihat punggung Hinata yang bergetar, ya dia seorang pengecut yang hanya bisa menyakiti perasaan Hinata, sering sekali dia membuat wanita itu menangis.
"Cepat masuk ke mobil kita harus segera sampai, kau tidak ingin di sebut artis yang tidak profesional bukan?" Sasuke masuk kembali ke dalam mobilnya dengan emosi yang yang tertahan.
Secret Passion.
Pada akhirnya Sasuke dan Hinata sampai di lokasi syuting saat tengah malam, setelah pertengkaran mereka memilih saling diam, Hinata terpaksa menuruti Sasuke untuk segera naik mobil, tapi Hinata memilih untuk duduk di kursi belakang dan Sasuke tidak peduli sama sekali.
"Hinata,..."
"Euh?,..." Hinata mengerjap rupanya dia tertidur perjalanan tadi.
"Ayo bangun, kau baru sampai." seorang wanita cantik membangunkannya, dengan segera Hinata bangun dari tidurnya dan turun dari mobil Sasuke.
"Hai, aku Mei Terumi." ucap wanita tersebut yang berdiri diluar mobil.
"Ah, nyonya maaf sepertinya aku ketiduran." ucap Hinata.
"Tidak apa, ayo ku antar ke kamarmu, kau pasti lelah." ucap Mei wanita itu menggandeng tangan Hinata.
"Iya, maaf sudah merepotkan." ucap Hinata.
"Sasuke kelelahan dia sudah masuk lebih dulu." ucap Mei lagi, Hinata hanya tersenyum.
Hinata di bantu Mei pergi ke kamarnya, ternyata Mei Terumi sangat ramah, mengingatkan Hinata pada sosok seorang ibu yang tidak di jumpainya selama 4 tahun.
"Nah, ini dia kamarmu, kamar Sasuke ada di sebelahmu." ucap Mei sambil menunjuk ke kamar Sasuke.
"Selamat beristirahat besok kita mulai bekerja jadi kau harus semangat." Mei terumi memberikan senyum terbaiknya.
Mendapat jatah tidur selama 5 jam membuat Hinata segar kembali, sudah pukul 5 pagi, Hinata bersiap ke lokasi syuting di pantai untuk pengambilan gambar saat matahari terbit, kalau Sasuke mendapat giliran pengambilan saat siang nanti, dan mungkin pria itu masih tidur sekarang.
Hinata sudah berada di lokasi syuting bersama Mei Terumi, di scene pertama Hinata mengenakan dress putih selutut, konsep video musik tersebut bertemakan hitam putih sesuai keinginan Mei Terumi, para kru sudah bersiap untuk pengambilan gambar terutama kameraman.
"Ayo semua bersiap, sebentar lagi matahari akan terbit." ucap sutradara pria berkaca mata yang sudah tidak lagi muda.
"Hinata bersiaplah, kau sudah membaca naskahnya bukan?" ucap Mei Terumi.
...
Wanita cantik itu menggerai rambut panjangnya yang indah, gaun putihnya mencetak tubuh indah si wanita saat angin pantai menerpa tubuhnya dari belakang, tatapannya terpaku pada cahaya terang di langit, matahari akan segera terbit, si wanita yang membelakangi laut itu memejamkan mata seolah memikirkan atau membayangkan sesuatu dengan perlahan tangan kanan yang dilingkari gelang rantai emas putih itu terangkat menyentuh dada kirinya...
Cut...
Hinata membuka mata, langit sudah berubah terang matahari sudah keluar dari peraduannya, bibirnya melengkung melukiskan senyuman tulus yang terlihat cantik.
Dihadapannya pemandangan alam yang indah memanjakan penglihatannya, resort yang di tempatinya ternyata juga mempunyai design yang unik, air laut yang biru menambah kekagumannya pada tempat itu, saat tiba di tempat ini semalam Hinata tidak memperhatikan keadaan sekitar karena terlalu lelah, tapi saat ini Hinata merasa benar-benar bahagia, rasa lelahnya sudah terbayar.
"Aktingmu bagus sekali, kalau semua berjalan lancar seperti ini, sepertinya akan selesai hari ini juga." ucap Mei Terumi, wanita itu terlihat senang.
"Terima kasih nyonya, aku hanya mengikuti naskahnya saja." jawab Hinata dengan senyuman tulusnya.
"Dua jam lagi kita mulai adegan kedua bersama Sasuke, tadi dia sudah kesini, tapi di mana dia sekarang?." Mei Terumi tampak mencari seseorang, Hinata pikir Sasuke masih tidur tapi ternyata pria itu sudah bangun walaupun Hinata tidak melihatnya.
"Ayo ke restoran dulu kita sarapan!" ajak Mei Terumi, dan mereka pun pergi ke restoran untuk sarapan, tanpa di sadari sepasang mata hitam sudah memperhatikan Hinata sejak awal pengambilan gambar.
...
Dua jam sudah berlalu, setelah selesai sarapan Hinata menghabiskan waktunya untuk menikmati pemandangan di sekitar resort dengan berjalan-jalan dipantai yang indah.
Hinata kembali ke lokasi syuting, kali ini dia sudah berganti kostum dengan memakai hotpant putih dan blouse putih tipis yang menerawang dan memperlihatkan sedikit bra putih yang di pakaianya, di lokasi syuting juga sudah ada Sasuke, pria itu juga mengenakan celana pendek putih, kaos yang dilapisi kemeja putih yang tidak terkancing.
'Deg...'
'Selalu seperti ini.'
Hinata berguman dengan batinya, bagaimana tidak pria yang ada di hadapannya selalu tampak mempesona, Hinata tersiksa dengan perasaannya sendiri.
"Hinata kemarilah, ini naskahmu untuk adegan berikutnya." sang sutradara menyerahkan beberapa lembar kertas putih yang tersusun sesuai halamannya, Hinata melirik ke arah Sasuke yang sedang memegang naskahnya, pria itu terlihat sedang berbicara dengan Mei Terumi, sebenarnya Hinata tidak ingin bertemu dengan Sasuke, setelah pertengkarannya semalam, Hinata benar-benar ingin pergi dari kehidupan pria itu.
"Nyonya bisakah kau ceritakan padaku apa isi dari lagumu ini?." tanya Sasuke.
"Eh?..hm,..lagu ini menceritakan tentang seorang wanita yang sedang jatuh cinta, tapi cintanya itu tidak terbalas, wanita itu tetap menanti suatu saat pria yang dicintainya akan menyadari perasaannya, jadi dia selalu membayangkan kalau dirinya tengah bersama dengan pria itu, setiap saat dia merindukannya, tapi akhirnya, wanita itu patah hati ." jawab Mei Terumi, tatapan wanita itu menerawang kemudin mengalihkan tatapannya pada Sasuke, Hinata yang mendengar perkataan Mei Terumi hanya mampu menepuk dadanya yang terasa sakit.
"Jadi adeganmu dengan Hinata nanti adalah khayalan si wanita yang membayangkan dirinya tengah bersama dengan si pria,...bagaimana apa kau memahaminya Sasuke?" tanya Mei Terumi yang di jawab anggukan oleh Sasuke.
Adegan kedua, Hinata dan Sasuke berjalan di tepi pantai tanpa alas kaki, tangan mereka bergandengan dan saling menggenggam satu sama lain, pakaian mereka yang berwarna putih tampak serasi, tangan kiri Sasuke membawa sepasang sepatu milik Hinata, rambut dan pakaian mereka pun terbang mengikuti arah angin di pantai itu.
Terlihat serasi, Mei Terumi sangat menyukai hasil rekaman akting Sasuke dan Hinata, wanita itu tak hentinya tersenyum saat melihat layar rekaman, saat ini Sasuke dan Hinata tengah berlari kecil, sesekali Hinata cipratkan air laut pada Sasuke, pria itu mengejarnya, tawa mereka terlihat begitu bahagia.
Kedua kaki Hinata berada di atas kaki Sasuke, mereka saling berhadapan dan saling memeluk, tubuh mereka merapat, sesekali Sasuke melangkahkan kakinya dan tentu saja kedua telapak kaki Hinata pun berjalan mundur, mereka saling menatap dan kemudian sebuah kecupan mendarat di bibir Hinata, kamera masih merekam adegan mesra tersebut, sang sutradara pun sangat puas dengan adegan Sasuke dan Hinata, tidak perlu mengulang adegan karena karena kedua model tersebut sudah melakukannya dengan sempurna.
"Kau pintar sekali berakting Hyuga?" ucap Sasuke saat ciumanya sudah terlepas, Hinata tidak menjawab pertanyaan Sasuke, pria itu mengusap rambut Hinata.
"Kau masih marah padaku?, hm..itu hakmu, tapi aku tidak berniat untuk meminta maaf." ucap Sasuke, pria itu tiba-tiba memangku Hinata dan membuat posisi Hinata lebih tinggi darinya, kamera masih merekam dan Hinata jengah, kapan sutradara tua itu akan mengucapkan ' cut '.
'Cut...'
Hinata bernapas lega, akhirnya sandiwara mereka berhenti, dengan segera Hinata meninggalkan Sasuke tanpa sepatah katapun, sedangkan Sasuke hanya menatap kepergian Hinata.
Sasuke berjalan santai menghampiri para kru yang sedang memutar ulang hasil rekaman, Sasuke duduk di sebelah Mei Terumi yang masih menatap layar monitor, dapat Sasuke lihat aktingnya dan Hinata saat berlari di pantai, Hinata tampak begitu cantik dengan rambut panjangnya yang tergerai, senyum manisnya tampak alami.
"Cih, dia memang pintar membohongi semua orang, sandiwaranya sangat senpurna." ucap pelan Sasuke, yang sayangnya di dengar oleh Mei.
"Siapa yang kau bicarakan?" Mei mengalihkan tatapan pada Sasuke yang sedang menatap layar.
"Apa itu Hinata?" Mei kembali bertanya, Sasuke hanya menghela napas.
"Itu artinya dia pintar berakting benar kan?" ucap Mei dengan tersenyum..
"Ya dia pintar dalam segala hal." ucap Sasuke datar.
"Kenapa nada suaramu seperti itu, apa kau ada masalah dengan Hinata?" Mei bertanya dengan penasaran.
"Tidak ada." jawab Sasuke singkat.
"Aku ingin tahu, kenapa anda memilih Hinata sebagai model video musik anda,bukankah banyak model wanita selain dia?" tanya Sasuke, Mei kembali tersenyum.
"Kau ingin tahu?,...aku membaca sebuah artikel tentang Hinata, MMPD yang tengah naik daun bersama rekan kerjanya Uchiha Sasuke."
"Dikatakan alasan Hinata menjadi seorang model adalah karena cinta, dia jatuh cinta pada seorang pemuda yang tidak pernah meliriknya sama sekali." ucap Mei, ya Sasuke juga ingat hal itu, saat audisi Hinata pernah mengatakannya.
"Dan di katakan juga sampai saat ini semua orang tidak tau siapa pemuda yang dimaksud Hinata, dan kupikir Hinata masih menyimpan perasaan itu." Sasuke terdiam mendengar ucapan Mei, mungkin saja itu benar karena nyatanya Hinata tidak mencintai kakaknya, Itachi, dan Sasuke semakin marah dan menganggap Hinata hanya menjadikan Itachi sebagai pelarianya.
"Bukankah itu sangat unik?, menurutku cinta seperti itu patut di hargai, mungkin saja penantiannya masih ada sampai saat ini."
"Itulah alasanku menjadikan Hinata sebagai model videoku, dia mencintai seseorang tanpa mengharap balasan." ucap Mei.
"Cinta seperti itu tidak ada, kurasa nona Hyuga melampiaskan cintanya pada semua pria yang dia kenal." ucap Sasuke dengan wajah datar.
"Ah, Sasuke, usiaku lebih tua darimu, aku lebih berpengalaman, aku tahu hubungan kalian berdua tidak baik, aku akan beri saran padamu." Mei Terumi menyikapi perkataan Sasuke dengan santai.
"Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya, kau tahu apa maksudnya kan?"
"Jangan pernah membenci sesuatu atau seseorang begitu dalam, karena bisa saja sesuatu atau seseorang itu akan menjadi sangat berharga bagimu bahkan jauh lebih berharga dari dirimu sendiri." ucapan seorang wanita yang sudah dewasa memang selalu bijak.
"Ya, kau benar nyonya, tapi bagiku tidak akan seperti itu untuk wanita seperti dia." ucap Sasuke dengan senyum angkuhnya.
"Itu terserah dirimu Sasuke, aku hanya berbagi pengalaman hidup." ucap Mei lagi.
"Hari ini cukup, besok kita lanjutkan sisanya." sutradara pria itu menghampiri Mei dan Sasuke, dan kedua orang tersebut menganggukan kepalanya.
"Tapi nanti malam kita berkumpul di club 99, kita rayakan keberhasilan hasil syuting hari ini, dan jangan lupa beritahu Hinata untuk menghadiri pesta." lanjut pria itu lagi.
...
Sasuke sudah bersiap dengan setelan jasnya, seperti yang di katakan sutradara bernama Tanaka bahwa akan di adakan pesta di sebuah club untuk merayakan keberhasilan mereka syuting hari ini, sejak kembali dari lokasi syuting Sasuke belum bertemu dengan Hinata, tapi Sasuke yakin Mei Terumi sudah memberi tahu wanita itu tentang pestanya.
Club 99 adalah club malam mewah yang terdapat di resort Heaven, di resort ini juga terdapat fasilitas restoran , kolam renang, spa, salon kecantikan, lapangan golf, bahkan wahana permainan anak-anak juga ada, tempat yang sering sekali di datangi para turis ini memang tidak pernah sepi pengunjung.
Sasuke membawa gelas winenya di tangan kanan, para wanita sudah menatap lapar pada dirinya tapi Sasuke tidak berminat sedikitpun pada mereka, di sudut club ada beberapa kru dari Mei Terumi yang sedang berkumpul, sutradara Tanaka pun berada di sana, Sasuke bermaksud menghampiri mereka tapi langkahnya terhenti saat seorang wanita datang dari arah pintu masuk yang akan di lewatinya.
Hinata datang dengan mengenakan gaun backless merah menyala sangat kontras dengan warna kulitnya, sepatu dengan warna yang sama, dan riasan yang sedikit berbeda dari biasanya, bibir Hinata di poles warna merah yang memperlihatkan sisi sensual seorang Hinata, gaun panjang namun memiliki belahan sampai pertengahan paha itu membuat kaki jenjang Hinata terlihat jelas saat wanitanitu berjalan.
Tatapan Sasuke terpaku pada Hinata, sekilas tatapan mereka bertemu tapi Hinata segera memutus kontak matanya dengan Sasuke, dan Sasuke mengalihkan tatapanya ke arah lain.
"Hinata kau sudah datang?, ayo bergabung." Mei Terumi datang dari arah belakang Sasuke dan menyambut kedatangan Hinata.
"Nyonya, maaf aku terlambat." ucap Hinata, rona merah menjalar di pipi chubbynya.
"Tidak apa, wah kau cantik sekali, lihat semua pria melihatmu dan semua wanita iri padamu." ucap Mei dengan suara yang senang.
"A-ah, terima kasih nyonya." ucap Hinata.
"Sasuke ayo bergabung." Mei berkata pada Sasuke yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Di sudut club tersebut Hinata dan Sasuke melewati acara pesta yang membosankan menurut mereka, Sasuke dan Hinata sebenarnya tidak terlalu menyukai keramaian dan mereka memilih diam, namun Sasuke melihat ada dua orang pria yang melihat ke arah Hinata dengan tatapan lapar dan Sasuke tidak menyukainya.
Sasuke menarik tangan Hinata ke lantai dansa saat dua orang pria tersebut terlihat mendekati Hinata.
Hinata terkejut saat tiba-tiba Sasuke menarik tangannya menuju lantai dansa, pria itu juga merangkul pinggangnya dan tubuh mereka merapat.
"Sebenarnya apa isi kepalamu itu hah?" ucap Sasuke saat mereka bendansa.
"Eh?..." Hinata tidak mengerti dengan ucapan Sasuke.
"Pakaianmu, kenapa kau memakai gaun bodoh ini? apa kau sengaja memakainya?, apa kau tidak lihat para pria itu melihatmu dengan tatapan mesum?", senyum Hinata mengembang saat mendengar ucapan Sasuke.
"Kenapa kau tersenyum?, apa aku terlihat bodoh di matamu?" Sasuke sedikit marah melihat tingkah Hinata, tapi wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak aku hanya tidak mengerti dengan dirimu." ucap Hinata
"Terkadang kau begitu peduli padaku, tapi sesaat kemudian kau akan marah lalu menghinaku, sebenarnya apa yang ada dalam pikiranmu?, kuberi tahu sesuatu aku tidak suka gaun ini, tapi nyonya Mei ingin aku memakainya, kau tahu pekerjaan seorang artis adalah berakting, suka atau tidak suka kita harus tetap memerankanya." ucap Hinata panjang lebar.
"Kau benar, pekerjaan seorang artis adalah membohongi semua orang, memberi harapan palsu pada penggemar, membuat mereka berharap dan mempercayai sebuah kebohongan, payah." jawab Sasuke.
"Tapi kebohongan ini akan segera berakhir kan?, aku sudah bosan dengan kepura-puraan ini, aku hanya menunggu kapan pertemuan kita akan berakhir." lanjut Sasuke.
"Hanya menunggu besok dan satu episode drama 'Beautiful Darkness, maka semua berakhir." jawab Hinata dengan senyuman di wajahnya.
"Oh, aku ingat sesuatu, apa kau tahu alasan nyonya Mei Terumi menjadikanmu model video klipnya?" tanya Sasuke dan Hinata hanya menatapnya.
"Dia tertarik dengan kisah cintamu, dulu saat audisi kalau tidak salah kau pernah mengatakannya, alasanmu menjadi seorang model adalah karena seorang laki-laki, katakan padaku apa orang itu benar ada atau hanya karanganmu semata?" tanya Sasuke dengan senyuman penuh arti.
"Ah, itu ya, menurutmu bagaimana tuan Uchiha?, karena sebenarnya pria itu tidak ada, kau benar pria itu hanya fiktif semata, karanganku saja, ya bukankah untuk mendapatkan sesuatu kita harus membuat kesan yang bagus, tapi aku senang ternyata mereka masih percaya sampai saat ini." Hinata tersenyum seolah yang dikatakannya adalah hal yang lucu, bahkan Hinata sedikit tertawa saat mengatakannya.
"Jadi semua itu bohong?" tanya Sasuke, pegangan di pinggang Hinata semakin dieratkan.
"Kenapa apa itu mengganggumu, Sasuke?" Hinata melingkarkan tangannya di leher Sasuke, hari ini Hinata sudah memutuskan bahwa dirinya akan menjadi seorang wanita yang seperti Sasuke katakan, setidaknya Hinata harus tau bagaimana caranya untuk menghadapi semua perkataan Sasuke, pria itu tidak bisa terus menerus menghina dan merendahnya.
Sasuke merasa ada yang aneh dengan Hinata, sikapnya berubah, wanita itu berani menyentuhnya, Sasuke berpikir mungkinkah Hinata sedang menunjukan jati dirinya.
...
Hinata duduk di tepi ranjang tidurnya, pesta sudah usai satu jam yang lalu, dan Hinata segera menuju kamarnya, pikirannya berkecamuk, dia masih memikirkan tindakannya tadi terhadap Sasuke, tapi Hinata berpikir tindakannya sudah benar, Hinata tidak bisa lagi menerima semua perlakuan Sasuke padanya.
'Aku tidak akan menjadi wanita bodoh lagi, akan kuhadapi Uchiha Sasuke, semua rasa cintaku akan kuhapus, dan akan membuat rasa itu menjadi sebuah kebencian yang membuatku menjadi kuat.'
Hinata bergumam dengan pemikiranya, setelah pertengkaran dengan Sasuke kemarin malam, Hinata berpikir untuk menata ulang hatinya yang sudah hancur, cinta yang terbakar hinaan oleh Sasuke akan Hinata ubah menjadi amarah dan kebencian.
Drrt...Drtt...
Ponsel Hinata bergetar, menandakan ada panggilan Hinata yang sedang melamun segera tersadar, seringaian cantik terpatri di bibirnya, nama yang tercantum di ponselnya adalah nama Sasuke.
"Hallo...?"
"H-Hyuuga,...?" Hinata menjawab panggilan Sasuke dan suara di sebrang telpon membuat Hinata terjejut.
"S-Sasuke?,...ada apa?" Hinata sedikit panik, suara Sasuke terdengar aneh di sebrang sana, Hinata melirik jam di dinding kamarnya, pukul 12 tengah malam, ada apa dengan Sasuke.
"Aku, butuh bantuanmu, datanglah ke kamarku, cepatlah!" suara Sasuke terdengar berat dan bergetar, Hinata segera berlari menuju kamar Sasuke yang ada di sebelah kamarnya, wanita itu bahkan belum mengganti pakaiannya, mungkin Hinata memutuskan untuk melupakan Sasuke, tapi hati kecilnya tidak bisa berbohong kalau saat ini Hinata khawatir pada keadaan Sasuke, Hinata masih peduli pada pria itu, mungkinkah pria itu dalam masalah.
Tok-tok-tok
Hinata mengetuk pintu kamar Sasuke dengan tidak sabar, setelah pintu terbuka Hinata lebih terkejut saat Sasuke menarik tangannya masuk kedalam kamar, pria itu menutup dan mengunci pintu kamarnya.
Tubuh Hinata Sasuke hempaskan pada pintu yang tertutup, Sasuke yang bertelanjang dada menghimpit tubuh Hinata tidak hanya itu bibirnya sudah melumat habis bibir merah Hinata.
"L-Lepaskan, apa yang kau lakukan?" Hinata mencoba berontak dan menghentikan Sasuke saat baru menyadari keadaan, tapi pria itu seperti kerasukan, napasnya memburu, mata dan wajahnya sudah memerah.
"Ada denganmu?" Hinata masih berontak, bukannya berhenti Sasuke malah semakin gencar menciumi bibir kemudian turun ke leher Hinata.
"S-Sasukeee..." Hinata mendorong Sasuke sekuat tenaga dan itu berhasil menjauhkan tubuh Sasuke darinya, Hinata bermaksud mencapai pintu, tapi Sasuke merangkul pinggangnya dan menarik Hinata ke kamarnya.
"Ackhh..." tubuh Hinata kembali terhempas kali ini di ranjang Sasuke, bagian bawah gaunya tersingkap tepat pada belahan sehingga kaki kiri Hinata terbuka bebas.
Sasuke menindih tubuh Hinata dan mengusap paha kiri Hinata yang terbuka, Hinata tentu saja takut dengan perlakuan Sasuke padanya.
"Hhh...Hyuga,...bantu aku." Sasuke berbisik di telinga Hinata, dadanya sudah menindih dada Hinata.
"Kedua wanita brengsek itu mencampur sesuatu kedalam minumanku." ucap Sasuke dengan suara yang bergetar.
"A-Apa?"
"Mereka berdua mencampurkan herbal dari tanaman setan itu pada minumanku, dan sekarang aku tersiksa." Sasuke menatap Hinata dengan jarak yang begitu dekat, Hinata mengingat kembali saat meninggalkan club tadi Sasuke sedang bercengkrama dengan dua orang wanita cantik pengunjung club, salah satu dari wanita itu memberikan satu gelas minuman berwarna kuning sepertinya jus pada Sasuke.
"Oh,...haha..." Hinata tertawa saat mengingat kembali hal itu, Hinata menggulingkan tubuh Sasuke yang berada di atasnya kemudian bangun dan berdiri di sisi ranjang.
"Aku tidak menyangka cassanova kelas atas sepertimu bisa terjebak oleh tipuan kuno seperti itu." Hinata kembali tertawa dan membuat Sasuke jengkel.
"Kau mau membantuku atau tidak?" Sasuke yang berkeringat berkata dengan menahan gairah.
"Aku tidak tertarik, maaf sekali tuan Uchiha, apa kau mau kalau aku memanggil kedua wanita itu." Hinata menggoda Sasuke yang mati-matian menahan hasratnya.
"Jangan berani memanggil wanita sialan itu!" Sasuke mulai menaikan amarah yang bercampur nafsu.
"Baiklah, kalau begitu kau bisa melakukannya sendiri." Hinata kembali tertawa, Sasuke merasa di permainkan wanita yang ada di hadapannya.
"Kau membangunkan singa yang kelaparan, Hyuga!"
"Benarkah?, bukankah kau sendiri yang tidak tertarik pada diriku Sasuke, itu masalahmu, jangan jadi pengecut dengan menjilat kembali ludah yang sudah kau buang." Hinata membuat Sasuke kehilangan kata-kata, Hinata melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Sasuke.
GREB...
BRUGH...
Cup...
Sasuke menarik kemudian memeluk tubuh Hinata dan menjatuhkan tubuh mereka berdua di atas ranjang, Sasuke mencium bibir Hinata lebih dalam lagi.
"Jika ludah itu secantik dirimu, jangankan kujilat akan kumakan kembali ludah yang sudah kubuang." ucap Sasuke dengan seringaiannya.
"Kau,...hmmmp..." Sasuke tidak memberikan kesempatan Hinata untuk berbicara.
"Akan kubuat harga dirimu hancur saat ini juga, akan kuruntuhkan kesombonganmu itu Hyuga!" Sasuke menarik kancing gaun merah Hinata yang ada di tengkuknya sampai terlepas, Sasuke juga menurunkan gaun yang di pakai Hinata, dan gairah Sasuke semakin meningkat karena melihat dada Hinata yang sudah terbuka.
Tanpa ragu Sasuke menyentuh dan meremas dada bulat Hinata yang terasa kencang di tanganya, gairah yang Sasuke rasakan berhasil menurunkan gengsi dan ego Sasuke untuk tidak menyentuh Hinata, setiap kali Sasuke meyakinkan diri bahwa dia tidak tergoda sedikitpun pada Hinata tapi pada kenyataanya Sasuke tidak bisa melakukan itu.
Kemolekan tubuh Hinata membuat darah jantannya memanas dan bergejolak, Sasuke tidak peduli penolakan Hinata di bawah sana, yang dia tahu hasrat sedang menguasai raga prianya, seperti predator yang yang memangsa buruannya, Sasuke harus melepaskan nafsu sampai dia merasa puas, seperti primitif yang hanya tahu harus melakukan apa yang mereka inginkan.
"Ackh..." jeritan kesakitan Hinata menjadi pemicu sebuah rasa nikmat yang seperti akan meledak, tubuh Hinata yang tidak lagi berontak mempermudah Sasuke menggerakan tubuh mengikuti rasa surga dunia yang sebentar lagi di capainya.
Sasuke melingkarkan kedua tangan Hinata di pundaknya, Sasuke menatap wajah Hinata yang berkeringat ada air mata juga pada ametysnya.
"Ackh,..." Sasuke kembali menyentak dan jeritan Hinata semakin keras.
"Kau sempit sekali, pantas saja mereka suka sekali pada tubuhmu, kau benar-benar menggoda, kutarik kata-kataku kembali." ucap Sasuke tanpa menghentikan gerakannya.
"Sayang sekali, kau seperti seorang amatir, kau bahkan tidak mengimbangi permainanku, kau hanya pemain yang pasif."
"Tapi untuk saat ini, rasanya nikmat sekali."
"Aaaahhh..." akhirnya Sasuke menuntaskan segala rasa nikmat sampai titik terdalam, belum pernah Sasuke merasakan puncak kenikmatan seperti ini.
Sasuke menjatuhkan tubuhnya di atas Hinata kemudian mencium kening wanita itu, Hinata terpaku saat melihat senyuman tulus di bibir Sasuke, tidak hanya itu Sasuke juga mengusap wajah Hinata dengan punggung tanganya.
Sasuke yang kelelahan akhirnya tertidur setelah cairan khas prianya keluar dengan nikmat luar biasa, senyuman puas terlihat di bibirnya.
Sebelum terlelap Sasuke mencium bibir Hinata sekilas disertai gumaman pelan dari mulutnya.
"Maafkan aku, terima kasih."
To be continue.
Ooalahhhh...chap 4 telat update..gommene ...
Sebelumnya selamat hari natal bagi yang merayakan, dan selamat tahun baru untuk kalian semua.
Reader semua maaf atas keterlambatan ini, aduch ada gangguan di keyboard ku, eror dan typos terus,...klo kalian nemuin typos tolong dimaklumi ya...mau ganti tapi blum ada anggarannya...hehe...
Chap depan dari sudut pandang Hinata saat adegan yang terakhir ya...hehe..
Hari ini adalah ultahnya Hinata Hime, tak ada kata selain ucapan selamat ulang tahun, i love u my favorit anime character ...hm Hinata centric banget yach...
Buat yang suka Madara chap depan bakalan muncul sama Itachi juga, biar Hinata tambah bingung buat milih...wkwk..
Ok, fav sama foll nya di klik donk temen2, terima kasih respon dari reader lewat review melebihi perkiraanku aku seneng banget...
Ada review yang nyebut aku cahya, ya ampun lucu banget awalnya ku kira salah alamat atau salah baca eh tak taunya emang dia pengen nyebut aku cahya,...siapapun dirimu terima kasih...
Reviewer yang lain selalu aku ucapin terima kasih, maaf ga bisa sebut satu2, kalianlah yang buat aku semangat...arigatou...
Special thanks: reviewer setiaku, (siapa yg ngerasa?), yang sudah memfavoritkan dan memfollow fict ini, aku cuma mau bilang aku sayang kalian semua...ini jujur dari dalam hatiku lho...
The Reason segera update, Love in silent juga dalam proyek, jadi tolong sabar buat nunggu yach? Plisssss...
Akhir kata selalu terima kasih atas dukungannya.
Salam aisyaeva...
