Naruto © Mr. M. Kishimoto
Secret Passion
Sasuke. U x Hinata. H
Rate M
Drama/Romance.
Typo(s), OOC, ide pasaran dan banyak kekurangan di fict ini.
Happy reading.
Matahari hampir terbit, waktu menunjukan pukul 05:30, deburan ombak terdengar samar di kamar itu, kamar yang terlihat berantakan, pakaian yang bertebaran, sprei dan selimut juga dalam keadaan yang sama, seorang pria yang tidak berbalut pakaian masih terlelap dalam tidurnya dengan posisi telungkup.
Sasuke membuka perlahan kelopak matanya yang terpejam, cahaya yang masuk melalui jendela kamarnya memantul di wajah tampan tanpa noda miliknya, pria itu membalik posisi tubuhnya menjadi terlentang, selimut yang berantakan hanya menutupi tubuh bagian bawahnya.
Sasuke melirik ke sisi lain tempat tidur di mana sebelumnya ada yang berbaring di sana, wanita itu pasti pergi saat dia terlelap, tapi wanita itu pasti memakai kemeja putih yang di pakainya semalam karena gaun milik wanita itu rusak dan tidak bisa di pakai lagi.
Tatapan Sasuke menerawang mengingat kembali kejadian beberapa jam lalu saat tengah malam, Sasuke menjambak rambutnya, terlihat dia sedang gelisah, Sasuke membuka selimut dan mengarahkan tatapannya pada noda merah di sprei putih yang di pasang di kasurnya.
Noda merah hasil dari selaput dara Hinata yang sudah di robeknya semalam, ya Sasuke menyadarinya bahkan saat dia ingin menyatukan tubuh mereka sejak awal, Sasuke merasakannya, saat Hinata menjerit kesakitan, saat Hinata berusaha menolaknya, saat betapa sulitnya organ intim mereka menyatu, tapi gairah yang di rasakan Sasuke tengah berada di puncak saat itu membuat Sasuke semakin ingin mencicipi rasa dari seorang perawan, bahkan rasa nikmat yang di rasakannya jauh berkali lipat dari biasanya, Sasuke pernah mendengar saat keperawanan seorang gadis diambil, maka mereka akan merasakan sakit luar biasa di orgam intimnya, rasanya seperti tertusuk bambu runcing yang sangat tajam, walaupun mereka menikmati pada akhirnya, lalu itukah yang dirasakan Hinata tadi malam?.
'Jangan, kumohon jangan lakukan ini Sasuke...'
'Ini sakit sekali, aku masih, ...ackhhh...'
Sasuke dengan sadar mendengar ucapan Hinata semalam, tapi rasa baru yang Hinata berikan membuat Sasuke tidak ingin melepasnya, jujur saja Sasuke belum pernah merasakan nikmatnya rasa dari seorang perawan karena selama ini teman ranjang Sasuke adalah wanita yang sudah berpengalaman termasuk kekasihnya saat ini.
Sasuke jelas mengingat desahan Hinata yang membangkitkan gairah di seluruh syaraf intinya, dan pada akhirnya Hinata luluh dan mengalah pada cumbuannya, mereka berdua bergumul menikmati kegiatan panas mereka, wajah polos dan tatapan Hinata yang mendamba tidak bisa Sasuke lupakan, bibir yang sering di ciumnya berubah rasa menjadi bibir termanis yang pernah dia lumat, Sasuke tidak melewatkan satu sentipun kulit Hinata yang sangat lembut, setelah dirinya terjatuh dan terlelap hanya suara deburan ombak dan semilir angin pantai yang Sasuke dengar, juga suara helaan napas halus dari mahluk cantik yang berada dalam dekapannya.
Sasuke menurunkan kedua kakinya pada lantai dan sekarang posisinya duduk di tepi ranjang.
'Kau berlebihan, kakakku suka dengan aktingku, kau tidak perlu malu, lagi pula tubuhmu tidak ada bedanya di tutup ataupun tidak, maksudku tubuhmu sudah di lihat banyak orang.'
'Wanita seperti Hinata?, memangnya dia seperti apa? jangan menilainya sembarangan.'
Sasuke mengingat kembali semua hal yang sudah di lewatinya, semua perkataan yang pernah di ucapkanya, pada Hinata.
'Jangan terlalu naif, kalau kau ingin menangis, ya sudah menangis saja, tidak perlu menghibur diri seperti itu.'
'Aku yakin wanita seperti dia suka jika tubuhnya di gerayangi.'
Sasuke melangkah ke kamar mandi, menyiram tubuhnya dengan guyuran air, Sasuke melihat organ jantannya yang masih terdapat noda merah darah perawan Hinata, dengan perlahan noda itu menghilang bersama aliran air yang melewatinya, Sasuke menundukan kepalanya membiarkan air yang jatuh menghantam kepalanya.
'Lupakan Itachi dan pilihlah salah satu dari mereka.'
'Kau dan Itachi sudah mempermainkanku.'
'Dan kau menawarkan diriku pada kerabatmu seolah aku ini adalah barang dagangan yang akan kau jual, sehingga mereka menganggapku wanita rendahan.'
'Gang bang, beby...'
Sasuke tidak bisa menenangkan pikirannya, Sasuke mengingat mimpi basahnya bersama Hinata beberapa waktu lalu, tapi tadi malam bukanlah mimpi, itu semua adalah kenyataan yang menampar jiwa arogan dan egois seorang Uchiha Sasuke, seorang pria dengan standar dan gengsi yang tinggi, merasa dirinya paling benar, tapi pada kenyataannya dia hanya seorang pecundang yang bahkan termakan ucapan orang lain.
'Utakata Sena dan Otsutsuki Toneri mengatakan mereka pernah menikmati tubuhmu berkali-berkali.
'Toneri, Utakata dan para Uchiha hanyalah kumpulan para pengecut bermulut besar.'
'Ya, kau benar, aku membencimu kau wanita murahan, wanita jalang yang mempermainkan perasaan pria yang menyukaimu.'
Sasuke memukul dinding kamar mandi dengan kepalan tangannya begitu keras, tapi pria itu tidak merasa sakit sama sekali, Sasuke merasa sesak di dadanya.
"Sial,..." Sasuke berteriak dalam batinnya, Sasuke merasa tidak punya muka untuk bertemu dengan Hinata nanti, apa yang ada dalam pikiran wanita itu sekarang, wanita? ya Hinata resmi menjadi seorang wanita semalam karena perbuatannya, karena status perawannya sudah Sasuke miliki.
'Sasuke-san, apa kau mau bersamaku malam ini?'
'One night stand,...just one night and to night'
Sasuke mencoba mengingat yang di katakan Hinata malam itu, saat Hinata mengajaknya bersama selama satu malam, kenapa Hinata menawarinya 'One night stand'? padahal dengan jelas dia masih perawan.
'Alasan Hinata menjadi model majalah pria dewasa adalah karena dia jatuh cinta.'
'Aku sangat mencintaimu,...Sa...suke...'
Sasuke menengadahkan wajahnya, sehingga air mengguyur wajahnya sekarang.
'Wanita sepertimu tidak akan sulit mencari pengganti, jadi lupakan Itachi dan hentikan air mata palsumu itu.'
Sasuke masih enggan keluar kamar, setelah ritual membersihkan diri, Sasuke hanya berdiam diri di kamarnya, matanya tidak luput mengawasi dan melihat kembali tempat tidurnya yang masih berantakan.
Sasuke merasa tertampar, dia sudah salah menilai Hinata selama ini, wanita itu sudah di sakitinya begitu lama, wanita itu sudah dilukainya begitu dalam, lalu apa yang harus di lakukannya sekarang? sepertinya kata 'maaf' sudah terlambat baginya bahkan satu tamparan keraspun tidak cukup untuk membayar kesalahannya pada Hinata dan setiap tetes air mata wanita itu harus dia bayar mahal nantinya, wanita itu sudah terlanjur terluka, sekarang Sasuke mengingat kembali dan menyadari wajah Hinata yang terluka di setiap pertengkaran mereka.
Sasuke beranjak dengan segera dia merapikan kamar dan segera berpakaian, Sasuke akan pergi ke lokasi syuting, Hinata pasti berada di sana, Sasuke tidak ingin berpikir lagi, Sasuke harus bertindak, dia tidak akan menjadi pengecut untuk kedua kalinya.
Secret Passion.
...Pukul 04:00...sebelumnya...
Brakkk.
Hinata membuka pintu dan menutupnya kembali, wanita itu bersandar di pintu tubuhnya merosot ke bawah dan mendarat di lantai yang terbuat dari kayu berwarna coklat yang terlihat kokoh dan mengkilat.
Hinata tersadar dalam keadaan tanpa busana di tempat tidur Sasuke, dia terkejut dan dengan segera dia bangun, menyambar kemeja putih milik Sasuke yang hanya menutupi sampai pertengahan pahanya untuk bagian bawah, setelah itu Hinata segera pergi dari kamar Sasuke tanpa melihat lagi pada pria itu, dan langkahnya terasa begitu menyakitkan.
Hinata merasakan sakit di organ kewanitaanya, napasnya naik turun, Hinata merasakan sesak di dadanya, seluruh pori-pori di kulitnya meremang saat mengingat kejadian yang baru saja dialamimya.
Hinata POV
'Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan ini tidak mungkin terjadi, aku tidak mengerti kenapa semua jadi seperti ini.'
'Dia melakukannya dengan lembut dan aku terlena pada cumbuannya, ciumannya, itu bukan sandiwara.'
'Aku menyukainya, aku menikmatinya, walaupun terasa menyakitkan.'
'Di mataku dia tetaplah seorang yang kucintai, perasaanku tetap utuh hanya untuk dirinya.'
'Aku tidak bisa dan tidak ingin menolaknya, aku menginginkanya, mengharapkanya dan aku mendambakannya.'
'Sentuhannya, cumbuannya, ciumannya, aku,...aku...'
'Oh, Sasuke pergilah,..pergilah dari hidupku,..pergilah...'
'Tekadku hancur, aku ingin membencinya setelah semua yang dia lakukan pada diriku.
'Tapi sekarang apa yang harus kulakukan, apa yang harus kukatakan saat bertemu dengannya nanti.'
'Sejak dulu hanya dia yang kuimpikan, setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik dan setiap saat hanya dirinya yang kuharapkan.'
'Dan sekarang apa aku salah jika aku menikmati semuanya, hanya satu malam dia menjadi milikku, satu malam yang tidak akan pernah aku lupakan.'
'Oh Tuhan, kenapa seorang wanita harus jatuh cinta dengan cara seperti ini?'
Hinata POV end
Hinata menarik rambutnya yang kusut, Hinata memeluk dirinya sendiri, di lantai kayu yang terasa dingin Hinata berbaring dengan tatapan yang kosong.
Flash back.
Hinata ingat dia memang pernah mengajak Sasuke bercinta dengannya dan dia menyesali semua perkataanya, karena setelah itu Sasuke semakin menghina dan merendahkanya, bukan tanpa alasan, waktu itu Hinata mendengar dari Itachi bahwa Sasuke baru saja menjalin hubungan dengan Sakura, seorang wanita yang sudah menjadi temannya sejak dulu, setelah itu Itachi menawarkan sebuah hubungan padanya, Hinata yang merasa cemburu dan putus asa mengambil dan meminum beberapa gelas minuman keras yang sama sekali belum pernah di sesapnya.
Dengan keberanian seorang gadis lugu yang mabuk, Hinata menarik Sasuke yang berada di kerumunan pesta, sebuah pesta peresmian untuk drama 'Beauriful Darkness', Hinata menarik Sasuke ke sebuah lorong sepi di gedung tersebut, Hinata mencium, memagut dan melumat bibir Sasuke, pria itu tidak menolak bahkan membalas ciumannya.
"Sasuke-san, maukah kau bersamaku malam ini?" tanya Hinata, kedua tangan mulusnya melingkar di leher Sasuke, pria itu menatapnya.
"Kau mabuk Hyuga" jawab Sasuke, Hinata menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mabuk."
"One night stand,...just one night and toninght" lanjut Hinata, kemudian mengecup kembali bibir Sasuke, pria itu merangkul pinggangnya hingga perut mereka melekat satu sama lain.
"Aku tidak tertarik padamu." jawab Sasuke dengan seringaiannya setelah ciuman mereka terlepas.
"Apa karena kekasihmu?" tanya Hinata, Sasuke menatap mata Hinata.
"Tidak juga, aku hanya tidak suka wanita yang menawarkan dirinya, mungkin setelah ini kau juga akan mengajak pria lain, lagi pula bukankah kakakku Itachi menginginkanmu jadi kekasihnya, aku tidak suka merebut sesuatu dari kakakku."
"Aku bukan milik Itachi, aku belum menjawab iya padanya."
"Sudahlah Hyuga, kau sedang tidak sadar, jadi sebaiknya kau segera pulang dan istirahatlah." ucap Sasuke, pria itu pergi meninggalkan Hinata yang jatuh terduduk di lorong.
Flash back end.
Sudah pukul 06:00, Hinata membuka mata, mungkin dia tertidur, dengan langkah pelan dia menuju kamar mandi.
Hinata berdiri di depan cermin besar kamar mandi, membuka kemeja putih milik Sasuke, wangi tubuh pria itu tercium di tubuhnya, begitu menyesakan tapi membuatnya merindukan wangi tubuh itu lagi, Hinata menatap tubuhnya yang telanjang ada beberapa bekas ciuman di dada juga perutnya, Hinata menggigit bibirnya, tubuhnya terasa meremang mengingat kembali ciuman itu.
'Oh, aku tak bisa melupakannya.'
Hinata menangis tertahan, rasa malu menyergap di jiwanya bercampur rasa sakit dalam hatinya.
Hinata membasuh tubuhnya, mengoleskan banyak sabun, tidak hanya itu Hinata juga menggosoknya sedikit kasar.
'Apa kau tahu kenapa ayah menceraikan ibumu?, dia wanita jalang, dia menghianati ayah bersama teman ayah sendiri.'
'Itu bohong, ayahmulah yang berseligkuh di belakang ibu, teman ayahmu itu hanya kebetulan bicara dengan ibu.'
Hinata mengingat kejadian 10 tahun lalu saat ayah dan ibunya bertengkar hebat dan akhirnya memutuskan untuk bercerai, ayah dan ibu Hinata bercerai saat usianya 14 tahun waktu itu dan Hanabi adiknya baru berusia 10 tahun, dan Hinata di tinggal sendiri oleh mereka, hidup Hinata sangat kesepian waktu itu, karena Hinata hampir tidak memiliki satu temanpun.
'Kau wanita jalang, kau wanita murahan.'
'Harga diri?, bagiku seorang wanita yang menawarkan tubuhnya pada seorang pria, dia tidak punya harga diri.'
...
Wanita itu masih mengenakan dress putihnya, kali ini dia menghadap ke arah laut, matanya yang terpejam mulai terbuka memperlihatkan ametysnya yang penuh luka, air matanya perlahan menuruni pipi chubbynya yang putih bersih, sinar jingga matahari membuat wajahnya tampak bersinar keemasan, sebentar lagi matahari akan tenggelam, dan gelap menyergap menenggelamkan semua impian dan harapannya akan cinta, semua bayangan yang dia khayalkan juga ikut tenggelam di dalamnya, cinta rahasia.
Cutt...
"Wah, akhirnya selesai juga, Hinataa, aktingmu bagus sekali." Mei Terumi berteriak senang karena akhir adegan dari video musiknya sudah selesai.
"Aktingmu bagus Hinata, terima kasih sudah bekerja sama." sutradara Tanaka juga menjabat tangan Hinata, mereka berjabat tangan kemudian berpelukan.
"Nyonya Mei, dan pak sutradara terima kasih, karena sudah percaya padaku." Hinata membungkukan badanya.
"Malam ini kita akan merayakannya lagi, kau harus ikut Hinata, kami juga akan mengajak Sasuke." ucap Mei.
"Tapi, nyonya aku tidak bisa ikut, aku akan segera kembali, ada urusan yang mendadak." Hinata terpaksa berbohong kepada Mei, sebenarnya Hinata tidak merasa siap untuk bertemu Sasuke.
"Benarkah, sayang sekali, lalu sekarang kau mau kembali?" tanya Mei dengan kecewa.
"Aku akan berkemas dulu setelah itu aku akan segera kembali ke Konoha." ucap Hinata.
"Baiklah, aku tidak bisa memaksamu, produser nanti akan mengirimkan pembayaran melalui rekeningmu." Mei kembali berkata, Hinata hanya menganggukan kepalanya.
"Oh, ya apa Sasuke akan bersamamu?, kalian pulang bersama kan?, tadi dia juga mencarimu dan menanyakanmu." tanya Mei, dan pertanyaan itu membuat Hinata terkejut.
"Apa?, m-tidak, aku akan pulang sendiri, S-Sasuke mungkin masih ingin berada di sini, ...aku permisi nyonya." Hinata segera pergi meninggalkan Mei Terumi, jujur saja Hinata tidak ingin bertemu dengan Sasuke apalagi berbicara dengannya, tanpa Hinata sadari sepasang mata hitam itu lagi-lagi sudah memperhatikannya sejak awal.
Sasuke hanya mampu melihat Hinata dari jauh, ternyata benar dia hanya seorang pengecut, dia tidak punya keberanian untuk bertemu Hinata, seorang Uchiha memang memiliki gengsi dan sikap egois yang tinggi, Sasuke hanya bisa melihat Hinata yang berjalan dengan rasa sakit, terlihat sekali wanita itu tidak nyaman saat berjalan ataupun saat dia duduk.
Sasuke bahkan tidak bisa menghentikan Hinata saat wanita itu kembali lebih dulu seorang diri, Sasuke masih merenung di tepi pantai, memikirkan semua kebodohannya, pemandangan yang indah pun tidak mampu mengobati perasaannya yang sedang kacau, dan Sasuke tidak bisa melupakan percintaannya dengan wanita itu, wanita yang selalu dia rendahkan, dan selalu dia sakiti.
Sasuke kembali setelah dua hari merenung tanpa menemukan jalan keluar, Sasuke memilih menuju apartement kakaknya, mungkin dengan seperti itu dia bisa di hibur oleh kakaknya yang mesum.
"Baka Aniki." Sasuke membuka pintu apartement Itachi dengan mudah, pria itu sudah tau password yang di pakai kakaknya.
Sasuke terkejut saat melihat keadaan Itachi, pria itu mabuk berat, seluruh ruangan di apartement milik pria tersebut begitu berantakan, botol-botol minuman berserakan di setiap sudut, sedangkan tubuh Itachi sendiri terkapar di tengah ruangan.
"Baka otoutou, kau sudah kembali rupanya, bagaimana kabarnya?, wanitaku, Hinataku?" Itachi meracau dengan suara khas orang mabuk.
"Kenapa kau seperti ini Baka?" Sasuke merangkul Itachi kemudian mendudukannya di sofa.
"Aku rindu sekali padanya, apa dia selalu cantik seperti biasanya?"
"Dia tidak menjawab panggilanku, dia tidak mau berbicara denganku, dia,...dia,...hhmm." Itachi jatuh tertidur di sofa dan tak sadarkan diri, Sasuke meremas rambutnya ternyata keadaan Itachi sangat buruk setelah di tinggalkan oleh Hinata.
Sasuke lelah, setelah melewati perjalanan yang jauh di tambah beban berat di pikirannya, Sasuke memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya di kamar Itachi, panggilan dari Sakura selama dua hari ini diabaikan olehnya, Sasuke tidak peduli jika wanita itu akan marah, saat ini Sasuke tidak ingin di ganggu oleh siapapun.
Keesokan paginya Sasuke terbangun dengan rasa pegal di seluruh tubuhnya, saat membuka mata tatapannya terpokus pada sebuah foto besar di dinding, Sasuke baru ingat ini adalah kamar Itachi, Sasuke melihat kembali ke arah foto tersebut, semalam dia tidak terlalu memperhatikan keadaan kamar Itachi karena kelelahan, foto seorang wanita cantik berwajah lembut, Hinata, di foto itu Hinata tersenyum tulus, rambutnya yang panjang terlihat ikal, foto tersebut hanya di ambil setengah badan, kalau tidak salah foto itu di ambil saat Hinata menjadi model iklan produk kecantikan termahal.
Sekarang Sasuke menyadari bahwa dirinya sudah lama bersama dengan Hinata, jauh lebih lama dari siapapun bahkan dari semua wanita yang pernah berkencan dengannya.
Sasuke tahu iklan apa saja yang pernah di bintangi Hinata, Sasuke tahu siapa saja pria yang pernah menyatakan cinta pada wanita itu, apa saja yang di sukai dan tidak di sukai Hinata, Sasuke tau semuanya, Sasuke tidak mengerti bukankah selama ini dia yang paling menjauhi wanita itu, tapi kenapa dia tahu segalanya tentang Hinata.
"Kau sudah bangun?" Sasuke tersadar dari lamunannya, Itachi berada di depan pintu kamar, pria itu terlihat segar, sepertinya kakaknya itu baru saja mandi, itu terlihat dari rambutnya yang masih basah.
"Hn,..." Sasuke bergumam.
"Jangan menatap wanitaku seperti itu, aku tidak suka." ucap Itachi sambil menatap foto Hinata, Sasuke terkejut saat menyadari tangan kirinya tengah menyentuh foto Hinata.
"Sudahlah, cepat mandi, kita sarapan." ucap Itachi, pria itu kemudian keluar dari kamarnya.
Sasuke dan Itachi sarapan bersama, entah kenapa untuk pertama kalinya Sasuke merasa canggung pada kakaknya sendiri, mereka makan dalam diam, makanan seadanya hasil olahan tangan Itachi tapi mampu mengenyangkan perut mereka.
"Bagaimana kabarnya?" Itachi membuka suara, Sasuke mengangkat kepala dan melihat ke arah kakaknya.
"Kau pasti sudah tau kalau dia memutuskanku." Sasuke terdiam.
"Aku memang bodoh, aku sudah melakukan kesalahan, dia melihatku saat bercinta dengan Yugao."
"Aku menyesal sudah menyakitinya, sekarang aku kehilangan dia." wajah Itachi terlihat sendu.
"Itachi,.."
"Aku menginginkannya, katakan padaku apa dia akan memaafkanku kalau aku meminta maaf padanya?" Itachi kembali bertanya, Sasuke tidak bisa menjawab karena sebenarnya Sasuke punya masalah yang sama.
"Bantu aku untuk membujuknya kembali." nada suara Itachi terdengar memohon.
"Aku tidak bisa, maafkan aku." ucap Sasuke terdengar keraguan dalam ucapannya.
"Kau tidak bisa atau tidak mau?, aku tahu kau orang kedua setelah ibu yang tidak menyukai Hinata, kau membencinya tanpa alasan, kau tidak mengenalnya Sasuke, dia wanita terbaik yang pernah kukenal." Itachi berkata dengan emosi yang sedikit naik.
"Oh ya?, bukankah kau juga tak pernah menghargainya, bahkan kau suka sekali melihatnya di sentuh orang lain?" jawab Sasuke juga dengan sedikit emosi.
"Ya,...tapi hanya di depan kamera, dan sudah kubilang itu hanyalah akting, jika ada yang berani menyentuhnya, aku tidak akan sungkan untuk menghabisi pria itu?" Itachi mengepalkan tanganya.
"Cih,...benarkah?, bagaimana kalau akulah yang menginginkanya?, apa kau akan membunuhku juga?." Sasuke tidak percaya kata - kata tersebut keluar dari mulutnya.
"Haha,...leluconmu tidak lucu, kau lupa kekasihmu Haruno adalah wanita posessif?, dia tidak akan membiarkanmu mendekati wanita lain?, dan apa kau juga lupa dia pernah menyerang seorang gadis bernama Alina yang sedang meminta tanda tanganmu?" Sasuke terdiam apa yang di katakan Itachi memang benar, Sakura sering sekali berbuat nekat saat wanita itu merasa cemburu, Sasuke tidak berani mendekati wanita lain karena takut Sakura akan menyakiti wanita tersebut.
"Kau membantu atau tidak, setuju atau tidak, aku akan mendapatkannya kembali." Itachi beranjak dan meninggalkan Sasuke di meja makan, Sasuke menggebrak meja dengan keras, kenapa semua jadi kacau dan berantakan.
Itachi tampak bersiap untuk pergi, penampilan pria itu berbeda dari biasanya, Itachi tampak memakai pakaian formal, entah apa yang akan di lakukanya.
"Aku akan menemuinya, aku tidak bisa menahan diri karena aku merindukannya, berikan dukunganmu padaku." ucap Itachi saat melewati meja makan dan Sasuke masih berada di sana.
"Dan besok adalah syuting terakhirnya di filmku, dia bilang akan menyelesaikanya." lanjut Itachi, kemudian pria itu pergi, Sasuke merasakan dadanya bergemuruh entah karena apa.
"Cih,...kau mengacaukan semuanya." gumam Sasuke, besok Sasuke akan bertemu Hinata untuk syuting adegan film untuk yang terakhir.
"Kita lihat apa kau akan menepati janjimu?." Sasuke kembali bergumam, pria itu tidak tahu harus berbuat apa, Sasuke masih tetap dengan pendiriannya, dia masih meyakini bahwa perasaanya pada Hinata tetap sama, Sasuke yakin masih membenci Hinata, walaupun ada setitik rasa lain jauh di dalam lubuk hatinya, Sasuke hanya membohongi diri tentang yang di rasakanya.
Secret Passion.
Hinata menghela napas panjang, pagi ini dia harus berangkat ke lokasi syuting untuk adegan terakhir, dan itu berarti Hinata akan bertemu dengannya, dengan Sasuke, perasaannya tengah gelisah, bagaimana caranya menghadapi dua orang Uchiha yang sudah mengacaukan hidupnya.
Kemarin Hinata menolak bertemu dengan Itachi saat pria itu memintanya untuk bertemu, Hinata masih merasa belum siap bertemu dengan siapapun.
Hinata memasuki gedung apartement tempat biasa dia beradegan intim dengan Sasuke, para kru menyambutnya dengan hangat, Tenten menyambutnya dengan pelukan yang membuat Hinata merasa sesak.
"Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" tanya Tenten setelah pelukannya terlepas, Hinata tertawa mendengarnya.
"Cuma dua minggu, itu tidaklah lama Tenten, dan seperti yang kau lihat aku baik-baik saja." kedua wanita itu tertawa bersama.
"Ayo bersiaplah, aku akan meriasmu dulu, hari ini adalah pengambilan gambar terakhir untukmu." ucap Tenten.
Hinata dan Tenten pergi ke ruang rias untuk persiapan syuting, saat Tenten meriasnya Hinata menyempatkan diri untuk membaca naskah, dan Hinata sedikit terkejut sepertinya naskahnya di ubah, Itachi yang bertindak sebagai sutradara tapi pria itu juga yang menulis naskahnya.
"Tenten, kenapa naskahnya di ubah?, sebelumnya ditulis kalau aku dan Sasuke hanya akan berbicara, tapi sekarang di tulis bahwa aku akan memohon dan mengemis cinta pada Sasuke?" ucap Hinata, tangan kanannya meremas kertas naskah yang di pegangnya.
"Aku tidak suka ini." lanjut Hinata.
"Oh, aku lupa, naskahnya memang sudah di ubah satu minggu yang lalu, alasannya karena banyaknya surat penggemar yang menyampaikan pendapat mereka tentang ending film ini, mereka berpendapat kalau 'Yumi' tidak pantas bahagia karena sudah merusak kehidupan rumah tangga orang lain." jawab Tenten panjang lebar.
"Ya ampun, kepalaku jadi sakit." ucap Hinata sambil memijit kepalanya yang terasa sakit.
"Baiklah, tugasku selesai, aku akan memanggilmu nanti kalau gilaranmu untuk pengambilan gambar." Hinata hanya menganggukan kepalanya, Tenten pergi meninggalkannya.
Hinata masih menutup matanya, didepan cermin meja rias Hinata masih duduk menyandarkan kepalanya.
"Tenten, bukankah kau akan pergi?, kenapa masih diam disitu?" Hinata merasakan kehadiran seseorang di sampingnya.
"Ini aku, sayangku." Hinata terperanjat karena orang yang di ajak bicara ternyata bukan Tenten.
"Itachi?,..." Hinata beranjak dari duduknya dan menatap ke arah Itachi.
"Aku ingin bicara denganmu." Itachi menggenggam tangan Hinata.
"Kumohon Hinata jangan menolakku kali ini." lanjut Itachi.
"Tapi bukankah kau harus bersiap di kursi sutradaramu?" Hinata terlihat gugup, Itachi menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum.
"Tidak, kali ini aku mempercayakan pada sutradara yang lain, karena hari ini aku hanya akan melihat dirimu saja." Itachi mengecup punggung tangan Hinata, kemudian menatap Hinata dengan kesungguhan hatinya.
"Hinata,...aku,...sudah melakukan kesalahan, aku mengerti jika kau membenciku, tapi harus kau tahu kalau aku hanya mencintaimu, aku ingin kita kembali bersama, aku berjanji akan bersikap lebih baik, aku tidak akan melukaimu lagi, aku,-..."
"Itachiii!, cukup, ...dengarkan aku, dalam hatiku tidak pernah ada perasaan benci untuk dirimu, aku tidak marah padamu."
"Tapi maafkan aku,... karena aku tidak bisa kembali padamu, aku tidak mencintaimu, sungguh aku sangat menghargai cintamu, tapi kau juga tahu kalau aku mencintai orang lain." Hinata memotong ucapan Itachi dan berusaha menjelaskan pada Itachi.
"Aku tahu Hinata, tak bisakah kau melupakannya, dan memulai sesuatu yang baru bersamaku, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, tapi berikan satu kesempatan untukku." terdengar nada memohon pada ucapan Itachi.
"Itachi, jangan membuatku bimbang, kumohon pergilah, aku ingin sendiri." Itachi menghela napas saat ini dia belum bisa membujuk Hinata, ya Itachi tahu sejak awal Hinata sudah mencintai orang lain, Itachi sudah mencari siapa pria yang di sukai Hinata, tapi sampai sekarang dia belum mengetahuinya.
"Berapa lama waktu yang kau butuhkan, aku akan menunggu." ucap Itachi, tanpa mereka sadari ada sepasang mata memperhatikan mereka sejak awal.
Tenten memanggil Hinata untuk bersiap, Hinata merasakan telapak tangannya yang begitu dingin, Hinata akan bertemu dengannya lagi, detak jantungnya kian berpacu dan terasa menyakitkan saat debarannya kian menggila.
Hinata melihatnya, Hinata melihat Sasuke yang sedang membelakanginya, pria itu sedang berbicara dengan sutradara yang menggantikan Itachi, sedangkan Itachi sendiri berada di salah satu sudut ruang lainya.
Sasuke berbalik karena sutradara baru tersebut mendapat panggilan dari Tenten.
"Pak sutradara Hinata sudah siap." ucap Tenten, sutradara yang di panggil dan juga Sasuke berbalik ke arah Hinata.
'Deg...'
Hinata merasakan sakit di dadanya saat matanya bertemu pandang dengan onyx milik Sasuke, Hinata merasa tidak sanggup untuk menatap lebih lama sehingga Hinata memilih mengalihkan tatapan kearah lain, sedangkan Sasuke sendiri untuk pertama kalinya merasakan sakit tak kasat mata di hatinya, Sasuke tidak tahu kenapa perasaan itu muncul karena Hinata berpaling dari tatapanya.
"Oh, Hyuuga Hinata, kau lebih cantik dari yang kubayangkan." ucap sutradara tersebut, seorang pria berwajah mengerikan yang membuat Hinata sedikit takut.
"Namaku Kisame, hari ini aku menggantikan Itachi, senang bisa bekerja sama dengan artis cantik seperti dirimu." lanjut Kisame.
"Pak Kisame, terima kasih atas kerjasamanya." Hinata membungkuk kemudian bersalaman dengan Kisame, Hinata tidak menyadari bahwa semua gerak tubuhnya di amati sepasang mata milik Sasuke.
"Baiklah kalau begitu kita mulai saja, apa kalian sudah siap?" tanya Kisame dan kedua pemeran utama itupun menganggukan kepalanya.
...
Hinata duduk di sofa, pakaiannya sangat berantakan, sedangkan Sasuke berdiri tak jauh dari sofa tersebut, air mata Hinata sudah mengalir sejak lama.
"Jadi kau akan kembali pada istrimu, Reina?" pria itu menganggukan kepalanya.
"Ya itu benar Yumi, aku sangat mencintainya." ucap pria tersebut, wanita itu semakin menangis.
"...Hiks,..aku juga sangat mencintaimu Suke, apa lagi yang harus kulakukan untukmu?"
"Begitu mudahnya bagi dirimu untuk melupakan semua, apa kau tidak tahu bagaimana perasaanku?" wanita itu meremas dadanya.
"Maafkan aku Yumi, kita sudah tidak bisa bersama lagi." pria itu berlutut kemudian menggenggam tangannya.
"Tidak, kumohon jangan tinggalkan aku, aku mengenalmu lebih lama dari Reina, kau bahkan sudah mengambil kehormatanku Suke, demi dirimu aku rela menunggu, aku tidak peduli saat orang lain menghinaku, merendahkanku." Hinata semakin menangis, Sasuke menatapnya, semua perkataan Hinata yang di ucapkan sesuai naskah membuatnya begitu terluka, akting tangisan Hinata seperti bukan sandiwara dan Sasuke merasa perkataan tersebut tertuju pada dirinya.
"Aku tahu, aku tahu Yumi, maafkan aku, maafkan aku, sungguh maafkan aku." Sasuke mencium tangan Hinata, tanpa di sadari air matanya juga menenetes.
"Kita tidak bisa bersama, aku tidak akan pernah melupakanmu, tidak akan pernah." Hinata tertegun, dalam naskah tidak ada adegan Sasuke yang menangis, tapi Hinata kembali sadar, Sasuke memang pintar berakting dan pria itu juga sering mengabaikan naskahnya.
Sasuke dan Hinata saling menatap, semua kru dan sebagian orang yang menyaksikan adegan tersebut juga menitikkan air mata terutama para wanita, mereka terbawa suasana oleh akting Sasuke dan Hinata.
'Cut...'
Kisame menghentikan akting mereka, Hinata segera beranjak dan melepaskan genggaman tangan Sasuke, sedangkan pria tersebut masih menundukan kepalanya.
Hinata kembali kekamar riasnya, di depan cermin Hinata kembali menangis, dia tidak mampu menahan rasa sakit di dadanya.
Lama menundukan kepalanya, Hinata mengangkat kepala dan wanita itu terkejut karena ada bayangan lain di cermin, Sasuke berdiri tepat di belakannya, dengan cepat Hinata mengusap air matanya.
"Hyuuga?" suara Sasuke terdengar berat.
"Untuk apa kau kesini?" ucapan Hinata terdengar dingin bagi Sasuke.
"Aku ingin berbicara denganmu."
"Tidak ada yang perlu di bicarakan, pergilah." Hinata masih enggan untuk berbalik.
"Dengarkan aku, malam itu-..." Sasuke mencoba berbicara, Sasuke berpikir dia harus bicara dengan Hinata dan menjelaskan semuanya, sebenarnya Sasuke ingin menemui Hinata sejak tadi, Sasuke sudah mendatangi kamar rias Hinata, tapi Sasuke mengurungkan niatnya karena Itachi sudah mendahuluinya, bahkan Sasuke mendengar semua yang Itachi katakan pada Hinata.
"Apa?, apa setelah malam itu kau juga ingin menghinaku lagi?, kau ingin mengatakan kalau aku hanya seorang yang amatir?" Sasuke menggelengkan kepalanya, bukan itu yang dia maksud.
"Aku tahu, aku mengerti, kau tidak pernah menyukaiku, kau membenciku, Sasuke." Hinata menjatuhkan air matanya, pertahanan yang dia bangun sudah runtuh.
"Selama ini kau tidak pernah menganggapku ada, kau melihatku seperti sampah yang menjijikan dan dengan bodohnya aku menerima semua perlakuanmu." suara Hinata terdengar menyakitkan di pendengaran Sasuke.
"Di matamu tak ada satupun kebaikan dalam diriku, di matamu aku selalu salah."
"Hinata, maafkan aku, aku-..." Hinata membulatkan matanya, dia terkejut karena untuk pertama kalinya dia mendengar Sasuke menyebut namanya yang justru menambah rasa sakit di hatinya.
"Hinata?, sejak kapan kau memanggil namaku?, aku bahkan ragu kau tahu namaku?." Sasuke terdiam lidahnya terasa kelu, itu benar Sasuke tidak pernah memanggil Hinata dengan nama kecilnya, rasa bersalah menggerogoti relung hati Sasuke, ternyata selama ini Sasuke benar-benar menyakiti Hinata.
"Aku tidak pernah berharap apapun darimu, tapi kali ini aku meminta padamu, pergilah dari hidupku, aku tidak ingin bertemu lagi denganmu." Sasuke mengepalkan tanganya, Hinata berhak marah padanya, membencinya, tapi saat Hinata mengusir dirinya dari hidup wanita itu kenapa rasanya begitu menyakitkan, bukankah selama ini dirinya yang paling menginginkan perpisahan.
Hinata bermaksud untuk meninggalkan Sasuke, tapi langkahnya terhenti karena pria itu mencekal pergelangan tangannya.
"Kau tidak bisa mengusirku dari hidupmu, kita, kita sudah..." Hinata terkejut, dia takut kalau Sasuke akan membahas tentang kejadian malam itu.
"Kita sudah bercinta Hinata, apa kau lupa?, kau memberikan kesucianmu padaku, apakah hal itu tidak berarti untuk dirimu?" Hinata tidak menyangka kalau Sasuke menyadari hal itu, karena saat mereka bercinta Hinata berusaha mengimbangi permainan Sasuke walaupun terasa menyakitkan.
"A-Aku, aku,..." Hinata terdengar gugup, dan mencoba melepaskan tangan Sasuke.
"Aku tahu kau masih-..."
"Aku seorang pria aku bisa merasakannya, apa kau tahu seorang wanita tidak akan mudah melepaskan pria yang sudah mengambil kesucianya?" Sasuke menarik tubuh Hinata untuk berhadapan dengannya.
"Cukup Sasuke, ya kau benar aku masih perawan, lalu kenapa?, apa kau takut aku menuntut pertanggung jawabanmu?, kau boleh merasa tenang karena aku tidak akan melakukan itu"
"Lagi pula bukankah kita tidak akan bertemu lagi, dan tetaplah menganggapku seperti wanita jalang dan murahan, karena itu akan mudah untuk dirimu."
"Selamat tinggal Sasuke." Hinata melepaskan tangan Sasuke dan meninggalkan pria itu, seperti gerakan lambat ada rasa tak rela dalam hati Sasuke saat tangan Hinata terlepas dari genggamannya.
Sasuke tidak tahu apa yang di rasakannya saat ini, yang jelas dia merasa gelisah, marah dan juga kecewa.
GREEB...
Sasuke menarik kembali tubuh Hinata, meraih kemudian memeluk tubuh mungil itu dengan erat, entah apa yang di pikirkan Hinata karena wanita itu hanya terdiam dan berkedip beberapa kali.
Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, Sasuke hanya berharap Hinata bisa memaafkanya walaupun sepertinya itu akan sulit, apakah Hinata akan marah atau luluh Sasuke tidak tahu, karena Sasuke melihat luka, kemarahan dan kebencian di mata Hinata.
To be continue.
Chap 5,...haiihhh...
20 hari fict ini nganggur...gommene reader...
Chap ini aku ngerasa g dapet feelnya jadi maaf kalau ga enak pas kalian baca...hehe...(alasan).
Ok silahkan review, fav and foll yach?...
Thank's to : Rain Ryu, gimana menurut kamu chap ini udah bisa ngejelasin belum?..
Untuk yang nunggu Mada-sama, chap depan aja yach...
Untuk yang udah kirim pesan lewat PM terima kasih banyak..
Dan reviewer yang selalu setia aku ucapin i love u all...i love u so much
Peluk cium dariku dan juga salam sayang selalu...semoga semua urusan kita di lancarkan.
See u my lovely reader...
Salam aisyaeva
