Naruto © Mr MK

Secret Passion

Sasuke U x Hinata H

Rate M

Drama/Romance

Typo(s), selalu ada, OOC, EYD yang tidak sesuai dan banyak kekurangan di fict ini.

Happy reading.

Suara musik yang keras sedikit mengganggu pendengaran, tapi membawa setiap tubuh ingin bergoyang dan menghentak sesuai irama musik, lampu yang bersinar temaram namun ada juga yang bersinar berkilauan membuat suasana club malam bertambah meriah dengan banyaknya pasangan yang menari dengan gaya erotis.

Seorang pria tengah duduk di meja bar club malam tersebut, pria itu tampak meneguk cairan berwarna kuning dari gelas yang di genggamnya, entah sudah gelas yang keberapa, tapi yang pasti tenggorokannya sudah terasa panas, kepalanya juga terasa pusing dan sakit, tapi bersamaan dengan itu, semua masalah yang di pikirkannya juga sedikit berkurang.

"Kau terlalu banyak minum , bos!" ucap seorang bartender yang bekerja di club tersebut.

"Hn,..." jawab pria tersebut.

"Kau seorang selebritis, kau harus menjaga nama baikmu!" ucap bartender itu lagi.

"Selebritis?, nama baik?,...hm kau benar Kiba, akting dan akting, orang baik jadi jahat, orang jahat jadi baik, gadis terhormat jadi gadis murahan, dan pria bajingan jadi pria yang bertanggung jawab, semuanya ternyata hanya topeng." jawab pria itu kepada bartender bernama Kiba.

"Sepertinya kau punya masalah senpai?" tanya Kiba.

"Tidak biasanya seorang Uchiha Sasuke sampai mabuk hanya karena satu masalah?" lanjut Kiba, dan Sasuke mendengus.

"Apa kau pernah melakukan kesalahan Kiba?, apa kau pernah salah menilai tentang seseorang, kau menyakitinya, menghina dan merendahkannya?" Sasuke meneguk kembali minumannya sampai tandas.

"Aku sudah mengenalnya begitu lama, tapi aku tidak tahu apapun tentang dirinya." Sasuke menyandarkan kepalanya di atas meja dan menggunakan tangan kirinya sebagai bantal, kemejanya sudah berantakan.

"Kekasihmu nona dokter itu akan segera datang." ucap Kiba, Sasuke menegakan kembali tubuhnya.

"Apa?, kenapa kau menghubunginya?" Sasuke terlihat kesal.

"Kau mabuk berat, dan seseorang harus mengurusmu." lanjut Kiba.

Seperti yang di katakan Kiba, Sakura datang menjemput Sasuke dan membawa kekasihnya itu pulang ke apartement miliknya.

Sakura tidak mengerti dengan sikap Sasuke, sudah satu minggu pria itu terlihat gelisah, Sasuke sering sekali melamun kemudian marah.

"Kenapa kau tidak mengantarkanku ke apartemen milikku." ucap Sasuke, pria itu tidur di atas tempat tidur milik Sakura.

"Kau mabuk berat sayang, jadi aku membawamu kesini." ucap Sakura, wanita itu menghela napas karena Sasuke tidak menjawabnya karena sudah tertidur.

Sasuke merasakan sentuhan di bibirnya, kecupan demi kecupan dirasakannya, tapi rasa bibir tersebut berbeda, rasanya tidak semanis bibir wanita yang sudah bercinta dengannya beberapa waktu yang lalu.

Sasuke membuka mata dan terkejut wajah Sakura begitu dekat, bibir wanita itu juga menyentuh bibirnya, biasanya Sasuke akan menyambut dan membalas ciuman itu, tapi kali ini Sasuke tidak bisa melakukannya, bayangan wanita lain mengganggu pikirannya.

"Apa yang kau lakukan Sakura?" Sasuke beranjak dari tidurnya, dia melihat Sakura yang sudah membuka pakaiannya.

"Aku menciummu." Sakura menghampiri Sasuke menyentuhkan jemari lentiknya di dada kekasihnya, tapi Sasuke menepisnya.

"Kau gelisah sayang, dan kau tahu obat yang baik untuk itu adalah,...bercinta,..." Sakura berbisik di telinga Sasuke.

"Aku tidak bisa melakukannya." ucap Sasuke.

"Aku sedang malas." lanjut Sasuke.

"Kau butuh waktu untuk tidur, dan dengan bercinta akan membantumu untuk tidur lebih nyenyak." ucap Sakura lagi, Sasuke menggelengkan kepalanya.

"Sebenarnya ada masalah apa?, emosimu tidak stabil akhir-akhir ini?, kau tidak menjawab panggilanku, kau juga menolakku?" ucap Sakura, wanita itu terlihat kecewa.

"Aku harus pergi Sakura, aku baik-baik saja jadi jangan khawatirkan aku." Sasuke menyambar jasnya dan juga kunci mobil miliknya, kemudian meninggalkan apartemen Sakura.

"Sebenarnya ada apa denganmu Sasuke?" Sakura bergumam, wanita itu cemas melihat tingkah kekasihnya.

Flashback.

Tubuh mungil Hinata berada di pelukan Sasuke, tapi wanita itu tidak membalas pelukannya.

Sungguh Sasuke tidak tahu kata apa yang harus di ucapkan pada Hinata, Sasuke benar-benar merasa menyesal dengan semua yang pernah di lakukannya.

"Lepaskan aku, Sasuke!" Hinata mendorong dada Sasuke sampai pelukan pria itu terlepas.

"Hinata, beri kesempatan untukku, aku akan memperbaiki semuanya." ucap Sasuke tangannya tidak melepaskan tangan Hinata.

"Lepaskan tanganku, ucapan itu juga kudengar dari kakakmu." Hinata meronta tapi Sasuke tidak mendengarkannya.

"Apa yang ingin kau perbaiki?, semua?, semuanya sudah hancur, biarkan aku pergi, apa kau lupa bukan aku yang mengusirmu dari hidupku, tapi kau yang tidak menginginkan kehadiranku."

"Kaulah yang mengusirku dari hidupmu." Sasuke melihat sudut mata Hinata yang menggenang, dan air mata itu siap meluncur.

"Hinata, aku bersalah, aku tidak tahu, apa yang harus kulakukan?" Sasuke merasa frustasi.

"Tidak ada yang perlu kau lakukan, semua akan berjalan sesuai rencana." suara Hinata terdengar bergetar.

"Sudah cukup aku menerima semua perlakuanmu dan juga Itachi yang mempermainkanku." air mata Hinata meluncur di pipinya, dan Sasuke bisa merasakan betapa sakitnya perasaan Hinata saat ini.

"Kau tahu Sasuke, hidup perlu bernapas, dan kenangan itu seperti napasku yang terasa menyesakkan, tidak mungkin aku melupakan semua, selama aku bernapas, kenangan itu akan selalu ada." ucap Hinata dengan mengusap air matanya.

"Ada ucapan seorang temanku, mudah untuk memaafkan, tapi yang paling sulit adalah melupakan semua." lanjut Hinata.

"Tapi aku akan belajar untuk melupakannya, sesakit apapun itu." Hinata melepaskan genggaman tangan Sasuke.

"Maafkan aku, selama ini aku sudah salah menilaimu." Sasuke kembali berucap berharap Hinata mau mendengarkannya.

"Lucu sekali, hanya karena aku seorang perawan pemikiranmu berubah?" Hinata tertawa dalam tangisnya.

"Katakan padaku di mana kebencianmu selama ini, apa menghilang begitu saja? aku tidak butuh belas kasihanmu, jadi jangan ubah pandanganmu itu, lihat aku seperti kau menilaiku selama ini."

"Biarkan aku pergi, dan itu akan membuatmu merasa senang." Hinata pergi meninggalkan Sasuke tanpa memberi kesempatan pada pria itu untuk berbicara, Sasuke hanya bisa melihat langkah Hinata yang semakin menjauh.

Flashback end.

Praangg...

Suara pecahan gelas yang dilempar terdengar nyaring diruangan apartemen pribadi Sasuke, setelah meninggalkan apartemen Sakura tadi malam, Sasuke memilih pergi ke apartemen miliknya, Sasuke ingin sendiri.

"Sial,...wanita keras kepala." Sasuke meremas kepalanya, sebenarnya ingin sekali Sasuke bersikap seperti seorang bajingan, dia ingin melupakan semua yang berhubungan dengan Hinata, tapi ternyata itu sulit sekali dilakukan, Hinata sudah mengambil kedamaian hidupnya menjadi keresahan yang selalu dirasakannya, lagi pula tidak mudah bagi Hinata untuk memaafkan dirinya, Sasuke menyadari hal itu.

Wajah polos itu selalu tergambar di matanya, bahkan selama dua minggu Sasuke selalu mengingat percintaanya dengan Hinata, dan darahnya terasa berdesir, Sasuke menginginkan lagi kenikmatan itu, Sasuke menginginkan lagi tubuhnya menyatu dengan tubuh wanita itu, sentuhan lembut tangan Hinata di bibirnya Sasuke rindukan.

Sudah satu minggu Sasuke tidak bertemu dengan Hinata, dan itu adalah waktu terlama menurut Sasuke, karena sebelumnya mereka selalu bertemu hampir setiap hari.

'Kau wanita munafik yang menjijikan'

Sasuke menghabiskan minuman yang ada di dalam botol sampai habis.

"Dimana kau wanita sialan, kau menepati janjimu?, huh?" Sasuke berbicara sendiri merasakan kesal tapi juga gelisah.

"Karin, kau pasti bersama Karin." Sasuke berteriak, tidak akan ada yang terganggu dengan teriakannya.

Sasuke hanya berusaha mengenyahkan rasa bersalahnya, tapi bukan hanya itu, ternyata Sasuke tidak biasa tanpa kehadiran Hinata, selama ini Hinata selalu berada dalam pandangannya, kehadiran Hinata selalu tertangkap di indra penglihatannya, wanita itu tidak pernah mengucapkan apapun, Hinata tidak pernah membela diri saat Sasuke menyudutkanya dengan hinaan, Hinata memang bodoh, apa gunanya membela diri, hati Sasuke sudah tertutupi kebencian, apapun yang dikatakan Hinata pria itu tidak akan mempercayainya, tapi sekarang Sasuke tidak bisa berbohong, Sasuke sudah kehilangan Hinata, dan sekarang sama seperti Itachi pria itu merasa 'hampa'.

Secret Passion.

'Aku bisa menahan tetesan air hujan di atap rumahku yang sepi.'

'Itu tidak menggangguku'

'Aku bisa menahan air mataku, yang berkali-kali datang dan kubiarkan menetes.'

'Aku tidak takut untuk menangis, saat melihat kepergianmu yang sangat menyesakkan.'

'Ada hari dimana aku selalu berpura-pura baik-baik saja.'

'Dan itu menyakitkan.'

'Tapi yang paling menyakitkan adalah, kita sudah begitu dekat, ada banyak yang ingin kukatakan, tapi kau pergi dan tidak bisa melihat bahwa aku mencintaimu.'

'Apa yang akan mungkin terjadi?, sangat berat menahan rasa sakit karena kehilanganmu.'

'Tapi lebih berat memaksakan senyum ini.'

'Akan kukatakan, akan kuungkapkan semua kata yang terpendam, dan akan kukatakan aku mencintaimu.'

'Hinata hanya mencintaimu'

'Hinata hanya milikmu.'

'Aku, Hinatamu'

'Sasuke.'

Suasana langit sore yang indah, cahaya jingga setengah menutupi langit dari arah barat ke timur, angin berhembus menerbangkan benda apa saja yang bisa dia terbangkan, dan luka seseorang juga semakin mendalam.

Hinata tengah duduk di balkon sebuah restoran, Hinata sengaja memilih kursi yang terletak di dekat besi pembatas, sebuah kursi dan meja dengan payung besar ditengahnya.

Hinata membiarkan helaian rambutnya mengikuti arah angin, Hinata tidak peduli jika rambutnya yang indah menjadi kusut atau berantakan, tangan mungilnya memainkan ponsel pintarnya dengan lincah, Hinata mengetik password untuk membuka aplikasi galerinya, beberapa file foto Hinata buka dan ratusan foto di tampilkan di layar ponselnya, Hinata melihat kemudian menggeser satu persatu foto tersebut.

"Apa aku harus menghapus semuanya?" gumam Hinata tatapannya masih terpaku pada layar ponselnya, sebuah gambar dirinya yang tengah di peluk Sasuke, tubuhnya berbalut tubuh Sasuke, dan saling memejam mata.

"Tidak baik jika seorang wanita cantik sepertimu duduk sendirian!" Hinata terkejut dan mengalihkan tatapannya pada sumber suara, seorang pria yang terlihat berwibawa menyapa Hinata, pria tersebut menarik kursi kemudian duduk berhadapan dengan Hinata.

"Lama tidak bertemu Hinata, bagaimana kabarmu?" ucap pria tersebut dengan senyumnya yang menawan.

"Madara-san?" Hinata bertanya seolah tidak percaya.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Madara.

"A-Aku sedang berlibur." jawab Hinata entah kenapa dia selalu gugup saat berbicara dengan Madara.

"Anda sendiri, a-apa yang anda lakukan di sini?" Hinata balik bertanya pada Madara.

"Santai saja, tidak perlu terlalu formal, kau lupa aku ini juga temanmu." Hinata tersenyum.

"Kau sendirian saja?, tadi kau bilang sedang liburan?, apa jika tempatnya masih di kota yang sama bisa disebut liburan?" Hinata tertawa lagi, Hinata memang berada di sebuah hotel di kota Tokyo, sedikit jauh dari Konoha.

"Aku memang berencana pergi ke luar negri satu minggu lagi." ucap Hinata.

"Benarkah liburan juga?" tanya Madara lagi.

"Tidak, adikku akan menikah di Maldiv, tapi mungkin itu bisa juga disebut liburan." jawab Hinata.

Hanabi adik Hinata memang akan menikah, tiga minggu lalu Hanabi sudah memberitahukannya, Hanabi sangat mengharapkan kehadiran Hinata, karena sudah lama tidak bertemu, selain itu Hanabi juga ingin berbagi kebahagiaan bersama dengan kakaknya.

"Lalu, Madara-san sedang apa di sini?"

"Urusan bisnis, oh ya bagaimana hubunganmu dengan kedua sepupuku?" Madara kembali bertanya, wajah Hinata berubah sedih dan Madara bisa melihat itu.

"Sudahlah, jangan di bahas, bagaimana kalau kita pesan makanan lezat saja, kau tahu perut yang kenyang, maka hati yang akan senang." ucap Madara, Hinata tertawa kecil, pria di hadapannya ini selalu berhasil menghiburnya.

Setelah memesan makanan, Hinata dan Madara makan bersama, mereka juga saling melemparkan candaan kecil, dan tertawa bersama, sebelumnya Hinata kesepian, tapi karena Madara menginap di hotel yang sama Hinata merasa memiliki teman atau mungkin seorang kakak.

"Bagaimana kalau besok pagi, kita berjalan-jalan, ya sekedar mengisi waktu liburan." ucap Madara dan Hinata hanya menganggukan kepalanya.

"Kalau begitu besok pagi aku akan menjemputmu di kamar.

...

Sudah dua minggu Sasuke tidak bertemu dengan Hinata, wanita itu menghilang entah kemana, dan itu berarti sudah tiga minggu sejak percintaan mereka.

"Sasuke habiskan sarapanmu!." ucap Mikoto saat melihat Sasuke yang mengacuhkan sarapannya, Sasuke dan Itachi kembali menginap di rumah orang tuanya karena Mikoto memaksa mereka, ritual sarapan yang tidak biasanya, Itachi dan Sasuke tidak bercanda atau bertengkar dan membuat Mikoto juga Fugaku merasa heran dengan tingkah kedua putranya.

Mikoto menyalakan televisi karena sarapan paginya terasa seperti di kuburan yang sepi, Mikoto sengaja menambahkan volumenya supaya suara keras dari televisi bisa mengalihkan perhatian ketiga mahluk dingin yang sedang menyantap makanan, setelah itu Mikoto duduk kembali di tempatnya.

...

~Kabar terkini~

~ Ada sebuah video kiriman dari orang yang tidak di kenal~

~Artis dan model majalah pria dewasa Hinata Hyuga terekam sebuah kamera melakukan hal yang tidak baik, kejadiannya sekitar tiga minggu yang lalu, dalam video yang di unggah terlihat Hinata mendatangi kamar seorang pria pada tengah malam dan keluar pada pukul 4 pagi dengan mengenakan pakaian yang berbeda~

~Tapi tidak di ketahui identitas siapa pria penghuni kamar tersebut, mungkinkah Hinata terlibat dengan prostitusi ilegal?.~

...

Sasuke terkejut saat mendengar berita tersebut, televisi itu menayangkan video yang berisi gambar Hinata yang memakai gaun backless merah sedang mengetuk pintu dengan panik, kemudian tangan Hinata ditarik oleh seseorang yang berada di dalam kamar tersebut, setelah itu video tersebut di percepat selama 4 jam dan ditayangkan kembali saat Hinata keluar dengan mengenakan kemeja putih milik seorang pria, dan Hinata berjalan dengan berpegangan pada dinding.

"Ya ampun, dia benar-benar pembuat skandal, memang apalagi yang dilakukan pria dan wanita dalam sebuah kamar selain hal yang tidak baik, dari pakaianya saja sudah terlihat." Mikoto berkomentar tentang video tersebut.

"Ibu senang kau sudah tidak ada hubungan lagi dengan perempuan itu, Itachi." ucap Mikoto, Sasuke mengepalkan tangannya dengan keras, Sasuke mengutuk siapapun orang yang sudah mengirim video tersebut, dan kenapa Sasuke lupa, sudah menjadi kebiasaan dirinya selalu menyewa dua kamar, alasannya untuk mengecoh para penggemar wanita yang selalu mengganggu privasinya, dan di tempat tersebut Sasuke melakukan hal yang sama, hanya Mei Terumi yang tahu dimana kamar Sasuke.

Brakk...

"Wanita brengsek.." Itachi menggebrak meja dengan keras, semua orang termasuk Sasuke terlonjak karena kaget.

"Berani sekali, ..kau menghianatiku wanita sialan!" Itachi berkata dengan kemarahan.

"Jaga mulutmu Itachi, berita itu tidak benar." Sasuke beranjak dan segera berdiri, Itachi menatapnya tajam, tapi kemudian Itachi pergi, namun Sasuke mengejarnya karena perintah dari Mikoto.

"Tunggu, apa yang akan kau lakukan?, baka?." Sasuke berhasil menahan tangan Itachi saat pria itu hendak membuka pintu mobilnya.

"Kau benar Sasuke, dia hanya perempuan jalang dan murahan." ucap Itachi, Sasuke merasa tertohok ucapan dari kakaknya itu menusuk di hatinya.

"Kau tahu dia selalu menolakku saat aku ingin mengajak bercinta denganya, kau tahu apa yang dia katakan?, itu bukan cinta itu hanyalah nafsu." ucapan Itachi sedikit melunak.

"Tapi sekarang lihat dia yang mendustai ucapannya sendiri, dia mengumbar nafsunya pada setiap pria, dia mencurangiku." wajah Itachi terlihat menahan amarah.

"Itu tidak benar Itachi." Sasuke berteriak tapi Itachi tidak peduli.

"Dan kupikir, aku tahu siapa pria itu!" Sasuke membulatkan matanya.

"Pria itu pasti orang yang dicintai Hinata selama ini,...kau tahu Sasuke rasanya dadaku sakit sekali, hanya pria itu yang bisa menyentuhnya, pria sialan yang sudah membutakan hatinya." Itachi membanting pintu mobilnya dengan keras dan pria itu menitikkan air matanya, Sasuke terpaku tapi bukan karena tangisan kakaknya, tapi ucapan Itachi yang terngiang di telinganya.

Semua kesalahan Sasuke, dia yang meracuni pikiran Itachi tentang Hinata selama ini, dan yang lebih tersakiti adalah Hinata, wanita itu harus menanggung kebencian dari Itachi sekarang.

...

Seperti yang dikatakan Madara, pria itu menjemput Hinata di kamar hotelnya, mereka berencana menghabiskan waktu bersama dengan berjalan-jalan, Madara juga ikut sarapan bersama di kamar hotel yang Hinata sewa.

Hinata dan Madara sangat terkejut dengan pemberitaan di televisi tentang video Hinata yang kebetulansedang mereka tonton.

Hinata terlihat gugup, tubuhnya juga gemetaran, Madara merasa iba melihat keadaan Hinata, sepertinya rencana mereka untuk berjalan-jalan dibatalkan.

"Berita itu bohong, aku tidak seperti itu, aku tidak sengaja melakukannya." Hinata menangis di hadapan Madara.

"Mungkin itu perbuatan wartawan yang mengikutimu, tapi video itu benar dirimu kan, Hinata?" Madara bertanya pada Hinata, wanita itu menundukan wajahnya.

"Itu kehidupan pribadimu, kau berhak melakukan apa yang kau inginkan, tapi para pencari berita itu pasti mengejarmu dan terus mencari tahu siapa pria yang bersamamu itu." ucap Madara.

"Dan apa rencanamu?, apa kau akan merahasiakan identitas pria itu?, dan membuatnya menjadi seorang pengecut?." lanjut Madara.

"Aku tidak tahu, apa yang harus kulakukan?" Hinata meremas rambutnya, kepalanya tiba-tiba terasa sakit setelah melihat berita tentang dirinya di televisi.

"Kenapa kau tidak bicarakan hal ini dengan Sasuke?" Hinata membulatkan matanya, dari mana Madara tahu kalau pria itu adalah Sasuke.

"Kupikir itu memang Sasuke, tapi melihat ekspresi wajahmu, aku yakin kalau ucapanku tidak salah, kau masih ingin melindunginya setelah semua yang dia lakukan padamu?" kedua tangan Hinata saling meremas.

"Aku tidak ingin bertemu dengan Sasuke atau siapapun, aku ingin sendiri, tidakkah kau mengerti?" Madara menghela napas.

"Dan kau akan menanggungnya sendirian begitu?, mungkin saat ini Sasuke sedang mencarimu, kau berhak meminta kerjasamanya." Hinata menggelengkan kepalanya, saat ini Hinata ingin menghilang saja dari dunia, Hinata berpikir mungkin Sasuke memang mencarinya, tapi pria itu pasti ingin Hinata supaya tidak mengatakan siapa pria tersebut.

Sasuke pasti tidak ingin rahasianya terungkap, dia egois, kejam, dan untuk saat ini Hinata merasa benci pada pria itu.

Secret Passion.

"Katakan padaku, apa Hinata yang membuatmu mengabaikanku?" Sakura bertanya dengan emosi yang meledak, video Hinata dengan cepat menyebar, saat mengetahui hal itu Sakura segera menemui Sasuke di apartemennya.

"Aku tahu pria itu adalah kau, Sasuke?." Sakura berteriak, selama ini Sakura mengetahui kebiasaan Sasuke yang suka menyewa dua kamar.

"Tega sekali kau melakukan ini padaku, apa dia menggodamu?" tanya Sakura lagi.

"Diam Sakura, Hinata tidak menggodaku, jika ada yang harus di salahkan itu adalah diriku, bukan dia!" Sasuke masih berusaha untuk tenang, setelah berusaha menenangkan Itachi, sekarang Sasuke harus mengurus kemarahan dan kecemburuan Sakura yang tidak terkendali.

"Itu kesalahanku, aku yang memaksanya." ucap Sasuke lagi.

"Kau tidur dengannya?, kau bercinta dengannya?, kau bilang kau membencinya tapi kenyataanya kau menghabiskan waktu bersamanya, di belakangku?." Sasuke terdiam mendengar pertanyaan dari Sakura.

"Ya, dan aku tidak bisa melupakannya, maafkan aku, Sakura!" Sasuke mengatakan yang sebenarnya pada Sakura, tidak ada gunanya membohongi wanita itu, lagi pula Sasuke tidak ingin membohongi dirinya sendiri.

"Brengsek, aku sudah menduganya, dia akan merebutmu dariku, susah payah aku mendapatkanmu, aku melakukan segalanya demi dirimu." Sakura menangis dan berteriak, Sasuke memilih diam dan membiarkan Sakura.

"Dan Hinata dia menghianatiku, dia berbohong padaku, dia sudah melanggar janjinya, walaupun aku sudah memaksanya, tapi tetap saja dia menusukku dari belakang." amarah Sakura semakin memuncak.

"Dia tidak bisa membunuh rasa cintanya untukmu, Sasuke, dia bersedia tidur denganmu karena dia mencintaimu, dia sangat mencintaimu!, sejak dulu dia sudah mencintaimu."

Hening...

Sakura menutup mulutnya setelah menyadari semua yang baru saja dia ucapkan, sedangkan Sasuke yang sedang duduk di sofa segera beranjak dan menatap tajam Sakura.

"Apa yang baru saja kau katakan, huh?, kebenaran apa yang kau sembunyikan?, apa yang Hinata janjikan padamu?," Sasuke mengguncang bahu Sakura, tapi Sakura tidak menjawabnya.

"Baiklah, aku akan mencari tahu sendiri, jangan pernah menghalangiku untuk menemuinya." Sakura jatuh terduduk, Sasuke meninggalkannya sendirian.

Delapan tahun lalu, saat Sakura duduk di bangku kelas 3 SMA, dia menyukai Sasuke yang merupakan teman sekelasnya, Sakura punya dua orang sahabat, Karin dan Hinata, walaupun sebenarnya Hinata adalah adik kelasnya, Sakura juga tahu kalau Hinata juga jatuh cinta pada Sasuke, saat Hinata menjadi model sebenarnya Sakura juga menginginkannya, tapi orang tuanya tidak mengijinkan Sakura menjadi model.

Saat kuliah Sakura menjalin hubungan dengan Akasuna Sasori, hubungan keduanya seperti layaknya orang berpacaran, Sakura juga pernah bercinta dengan Sasori, namun di hatinya tetap ada Sasuke seorang, suatu hari Sakura bertemu lagi dengan Sasuke saat kebetulan waktu itu Karin mengajaknya ke lokasi syuting Hinata, dan Sakura memberanikan diri untuk menyapa pria pujaannya.

Sakura mulai dekat dengan Sasuke dan lupa kalau Hinata juga mencintai pria itu.

"Kau tega sekali Sakura, bukankah kau tahu kalau Hinata sangat mencintai Sasuke sejak dulu?" ucap Karin saat mengetahui hubungan Sakura dengan Sasuke.

"Memangnya kenapa, kalau Sasuke lebih memilih diriku, itu bukan salahku, Karin" ucap Sakura dengan acuh seolah tidak peduli.

"Kau menghianatinya, dia akan terluka, kau sudah menusuknya dari belakang." Karin marah dengan perkataan Sakura.

"Sudahlah Karin jangan berlebihan, Hinata saja tidak keberatan, dia malah berjanji padaku untuk tidak mengungkapkan dan menunjukan cintanya pada Sasuke." jawab Sakura.

"Itu karena kau yang memaksanya untuk berjanji, aku tidak menyangka kau benar-benar egois, kau tidak memikirkan perasaan Hinata, demi kebahagiaanmu kau melukai orang lain."

Sejak saat itu hubungan Karin dan Sakura merenggang, Karin menjaga jarak dengan Sakura karena Karin sangat menyayangi Hinata.

Secret Passion.

Laju mobil Sasuke sangat cepat melewati batas normal, pikiranya hanya terisi tentang semua perkataan Sakura, apakah itu benar bahwa selama ini Hinata,-...?

'Dia mencintaimu, dia sangat mencintaimu, dari dulu dia sudah mencintaimu!'

Kupikir Hinata masih menyimpan perasaan itu.'

'Bukankah itu sangat unik?, menurutku cinta seperti itu patut di hargai.'

'Dan mungkin penantian Hinata masih ada sampai saat ini.'

'Dia mencintai tanpa mengharap balasan.'

Berbagai kilasan memori yang sudah terlewat hinggap dalam pikiran Sasuke, dan semua itu membuat kepalanya terasa sakit, tidak hanya itu, hatinya jauh lebih sakit, jika itu benar kenapa Sasuke tidak menyadarinya, benarkah Sasuke buta selama ini?. Sasuke merasakan perasaan aneh di dalam dadanya, darahnya terasa berdesir, perutnya terasa bergejolak dan rasa bencinya seolah menghilang begitu saja.

'Perasaan aneh apa ini?'

Sasuke menekan bel sebuah apartemen mewah, saat pintu terbuka sang pemilik tampak terkejut melihat kedatangannya.

"Karin,..." ucap Sasuke.

"Uchiha?, ada apa kau datang kemari?." Karin menyilangkan tangannya di dada dan menatap tajam pada Sasuke.

"Aku ingin menanyakan keberadaan Hinata?" ucap Sasuke tanpa basa-basi.

"Apa?, untuk apa kau mencarinya?, aku tidak tahu di mana dia dan kalaupun aku tahu aku tidak akan memberitahumu." ucap Karin, wanita itu mendengus.

"Aku harus bertemu dengannya, ada banyak hal yang ingin kukatakan." ucap Sasuke, Karin hanya menghela napas.

"Aku dan Suigetsu akan pergi sekarang, jadi aku tidak akan memberitahukanmu, lagipula aku memang tidak tahu, terakhir dia kesini adalah saat insiden telur dan tomat busuk itu, dan aku juga belum bertemu lagi dengannya." ucap Karin panjang lebar.

"Apa kau sudah mendengar tentang video Hinata?" Sasuke bertanya, Karin mendengus , tangan kirinya memegang knop pintu dengan keras.

"Aku ingin bertanya, tolong jawab dengan jujur, apa benar kalau selama ini Hinata mencintai seseorang?" Sasuke berharap Karin mau menjawab dengan jujur, semua yang di katakan Sakura terus terngiang dalam pikirannya.

"Sebaiknya kau mempersilahkan tamu kita masuk, sayang,...lagi pula tidak baik membicarakan hal penting di depan pintu." Suigetsu muncul dari dalam, pria itu menyapa Sasuke yang merupakan sahabat lamanya.

Dengan terpaksa Karin mempersilahkan Sasuke masuk karena perintah dari Suigetsu, kedua pria itu duduk di ruang tamu, sedangkan Karin membuatkan minuman untuk mereka berdua.

"Apa kau juga tahu masalah ini, Sui?, apa Karin menceritakan semua padamu?" Sasuke bertanya pada Suigetsu.

"Aku tahu atau tidak, aku tidak berhak untuk ikut campur, Karin bersikap buruk itu karena dia menyayangi Hinata." ucap Suigetsu, Sasuke menganggukan kepalanya.

"Hinata, sahabatku yang paling bodoh, dia menerima semua perlakuan kejam dari pria yang tidak bertanggung jawab." Karin muncul dari arah dapur dengan membawa minuman yang baru saja dibuatnya.

"Tentang video itu, kurasa Hinata juga sudah mengetahuinya, kuharap dia segera kembali karena para wartawan akan mengejarnya." semua ucapan Karin membuat Sasuke terdiam.

"Kau tidak perlu mengasihani Hinata, aku hanya tidak mengerti semua pria yang dikenalnya hanya para pengecut, mereka semua sudah membuat Hinata terhina seumur hidupnya, terutama kau Uchiha Sasuke." Karin masih mengeluarkan amarahnya.

"Yang ingin kutanyakan adalah apa benar Hinata mencintai seseorang dan masih mencintai orang itu sampai saat ini?" tanya Sasuke kembali, sebisa mungkin Sasuke tetap tenang untuk menghadapi wanita seperti Karin.

Suigetsu menyentuh tangan Karin.

"Mungkin ini saatnya Sasuke tau." ucap lembut Suigetsu dan Karin menghela napas lelah.

"Baiklah, kau ingin tahu siapa laki-laki di cintai Hinata?, orang itu adalah,...KAU, sahabatku sudah mencintaimu sejak dulu, sejak dia duduk di kelas 2 SMA." rasa terkejut di rasakan Sasuke, itu tidak mungkin, Hinata tidak mungkin mencintainya, tapi yang di ucapkan Karin sama dengan apa yang di ucapkan Sakura.

Karin menceritakan semua tentang Hinata pada Sasuke, termasuk saat Sakura memaksa Hinata untuk berjanji tidak akan menunjukan rasa cintanya pada Sasuke.

"Hinata ingin kau melihatnya, Hinata ingin kau mengakuinya, tapi apa yang kau berikan padanya?" Karin menitikkan air matanya karena mengingat semua yang di lakukan Hinata.

"Dia bahkan bertingkah bodoh dengan memakai gelang murahan pemberianmu." lanjut Karin.

"Gelang?" kali ini Suigetsu bertanya, sedangkan Sasuke masih memikirkan semua yang diucapkan Karin, karena Sasuke merasa tidak pernah memberi apapun pada Hinata.

"Ya, gelang yang diberikan Itachi, gelang yang di beli Sasuke di luar negri saat liburan, Itachi memberikannya sebagai hadiah." ucap Karin, Sasuke tidak bisa berkata pun, sejauh itukah Hinata mencintainya.

...

Sasuke sudah berada di apartemenya, kali ini Sasuke terlihat gelisah, Sasuke terlentang di atas tempat tidurnya, pria itu memikirkan banyak hal

'Gelang?'

Gelang apa yang di maksud Karin, apakah gelang yang selalu di pakai Hinata, gelang rantai kecil yang terbuat dari emas putih dengan bandul bulat di tengahnya?.

'Bisakah lebih cepat?'

'Tunggu ini sulit sekali, rantainya tersangkut.'

'Kalau begitu putuskan saja.'

'Tidak boleh gelang ini sangat berarti bagiku.'

Sasuke meremas rambutnya, dia sudah menyadari semuanya, cinta Hinata, bisa Sasuke rasakan, delapan tahun bukan waktu yang singkat, tapi kenapa Hinata bisa menerima semua penderitaan yang Sasuke berikan.

"Kenapa kau berbuat sampai sejauh itu, Hinata?, kau pasti menderita selama ini." Sasuke memejamkan matanya, sungguh hatinya terasa di remas, begitu sakit begitu sesak.

Drrtt..drrtt..

Ponsel Sasuke bergetar nama Itachi tertera di sana, sebenarnya Sasuke malas untuk mengangkat panggilan tapi mungkin kakaknya itu ingin mengatakan sesuatu.

"Sasuke kenapa lama mengangkatnya?" Itachi berucap setengah berteriak.

"Aku,-..."

"Cepat nyalakan televisimu!" ucapan Sasuke terpotong karena perintah Itachi, Sasuke mengambil remot kontrol dan menyalakan televisinya dengan malas, Sasuke terkejut melihat pemberitaan baru tentang Hinata, di dalam berita itu di katakan bahwa identitas pria yang bersama Hinata sudah di ketahui, pria itu bahkan tidak mengelak tapi mengakui bahwa dirinya yang bersama Hinata di kamar tersebut, dan pria itu adalah...

'Uchiha Madara'

Sasuke kesal bagaimana Hinata bisa bersama Madara, apa yang sedang mereka lakukan di hotel itu? dan Madara berani sekali dia mengakui sesuatu yang sudah menjadi miliknya, Sasuke berpikir Hinata adalah miliknya, tidak ada yang boleh memiliki Hinata selain dirinya.

"Berani sekali kau mengambil milikku, Madara, aku tidak akan membiarkanmu" ucap Sasuke di tengah kemarahannya.

...

Hinata semakin terpuruk, masalah yang di hadapinya semakin memburuk, nama Madara juga terseret kedalam lingkaran skandalnya bersama Sasuke, semua terjadi tanpa sengaja, beberapa orang wartawan menemukan Madara yang keluar dari kamarnya tempo hari, dengan tenang Madara menjawab pertanyaan para wartawan dan mengakui sesuatu yang bukan menjadi urusannya.

Sebenarnya tujuan Hinata berlibur adalah untuk membunuh rasa rindunya pada Sasuke, walau pada kenyataanya rasa rindu Hinata semakin membuncah, Hinata juga mengakui bahwa dirinya terus mengingat percintaanya dengan Sasuke, kenapa?, apa seorang wanita tidak boleh membayangkan hal itu?, sama seperti laki-laki bahwa perempuan juga membutuhkan hal itu, kebutuhan biologis yang akan terasa sakit bila tidak di tuntaskan, selama ini Hinata merahasiakan hasratnya pada Sasuke, hasrat yang membuat darahnya mendidih dan bergejolak.

"Sasuke?, haruskah kukatakan aku menginginkanmu?"

Secret Passion.

Sasuke terpaku, saat membuka pintu dihadapannya Hinata berdiri dengan tatapannya yang sayu, Hinata tampak cantik dan juga seksi, baru saja wanita itu menekan bel apartemennya, Hinata berjalan mendekati Sasuke yang masih terdiam dengan menatapnya.

"Hallo Sasuke?, lama tidak bertemu!" Sasuke masih menatap Hinata.

"Kenapa menatapku seperti itu apa kau terkejut?eh?" siapa yang tidak terkejut?, wajah Hinata berbeda dari biasanya.

"Apa kau merindukanku, Sasuke?" Hinata semakin mendekati pria itu, tangannya menyentuh dada yang berbalut kemeja biru tua, Sasuke menyentuh tangan Hinata dan itu bereaksi pada tubuhnya.

Sasuke menyudutkan tubuh mungil Hinata pada dinding dekat pintu, sampai tubuh Hinata terhimpit tubuhnya, Sasuke menatap ke mata Hinata, napasnya memburu dan mengenai wajah Hinata.

"Kenapa?, kenapa kau datang ke sini?, apa kau ingin menggangguku?." suara Sasuke terdengar berat, keningnya di sentuhkan pada kening Hinata, wanita itu tertawa renyah.

"Apa kau tidak bisa mengusirku dari ingatanmu?" bibir Hinata hampir bersentuhan dengan bibir Sasuke.

"Kau menyiksaku Hyuga, kau membuatku gila, enyahlah dari pikiranku." ucap Sasuke, tangan kirinya menarik pinggang Hinata supaya tubuhnya lebih merapat lagi.

"Lakukan jika kau bisa." Hinata berbisik di telinga Sasuke yang tentu saja memberikan efek luar biasa pada organ vital Sasuke.

"Apa kau ingin kita mengulanginya lagi, kau ingin kita melakukannya lagi, menyatukan tubuh kita seperti malam itu?." ini benar-benar gila, hanya dengan perkataan saja Hinata mampu membangkitkan gairah terpendam milik Sasuke.

"Katakan untuk apa kau menemuiku, jangan harap kau bisa keluar dari sini dengan mudah, dan jangan harap aku akan membiarkan Madara atau Itachi mengambil tempatku." Hinata merangkul pundak Sasuke.

"Aku punya banyak pilihan, aku tidak punya alasan untuk memilihmu." Hinata kembali berucap, membuat Sasuke putus asa dengan jawaban Hinata, mereka bukan remaja labil yang mengandalkan perasaan, mereka orang dewasa yang penuh perhitungan dalam mengambil keputusan, tapi Sasuke tidak suka penolakan.

"Hyu,-...hmmph" ucapan Sasuke terpotong, Hinata memagut bibirnya, Sasuke terkejut namun menikmati ciuman tersebut, bibir manis itu di lumatnya lagi.

Sasuke tidak ingin bertanya saat ini dia hanya ingin menikmati gairah aneh yang terasa memuncak di tubuhnya, Sasuke mengangkat tubuh Hinata, memagut, mencium dan melumat bibir Hinata dengan perasaan yang tidak puas, Sasuke menginginkan lagi kenikmatan itu.

Tidak perlu waktu lama untuk membuat Hinata seperti bayi yang baru di lahirkan, Sasuke menanggalkan semua benda yang melekat di tubuh wanitanya, dan Sasuke melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri.

Kedua tubuh itu bersentuhan kembali, saling menikmati rasa panas di kulit masing-masing, bibir yang begitu merah itu tidak berhenti untuk mendesah dan mengerang.

Sasuke merasa tidak waras, gairahnya sudah membuat dirinya menjadi gila, gila untuk menikmati lagi kenikmatan yang Hinata berikan, sedangkan Hinata juga mempertanyakan kewarasannya sendiri, tidak ada yang tahu bahwa saat ini Hinata menyingkirkan rasa malunya, tidak hanya itu, Hinata juga menjatuhkan harga dirinya di hadapan Sasuke, memangnya apa lagi?, Hinata sudah tidak memiliki apapun, hanya cinta yang menggebu untuk Sasuke seorang.

To be continue.

Hmm yang udah g sabar pengen cepet update, hayo tunjuk tangan.

Hai readersku yang kusayang semuanya?, apa kabar?.

Duh makin aneh aja, dan kurasa alurnya juga cepet di chap ini..hehe...gomenne ...

Chap depan flashback Hinata kenapa datang dan nemuin Sasu di apartemennya dan malah ngelakuin 'itu' lagi.

Dan mungkin di chap depan ada kejutan baru untuk karir Hinata...wkwk...tunggu aja ya?, myngkin ada penambahan pemaun baru...

anita777 pertanyaan km tentang hinata nyebut nama suke itu karena nama peran Sasuke itu kan sunsuke...hehe...

HipHipHuraHura, review km di ff love in silent, aduch iya nich aku salah ketik, maafkan authormu yang mengecewakan ini...hiks...

sushimakipark, thank ya km g bosen buat ngingetin trus...

Hatsune Miku, i love u my sister.

Nah untuk yang baru masuk review salam kenal dari aku terima kasih atas dukungannya.

reviewer setiaku i love u all, peluk cium selalu...3

see u next chap

Salam aisyaeva...