Naruto © Mr, MK
Secret Passion
Sasuke. U x Hinata. H
Rate M
Drama/Romance
Typo(s), OOC, segala kekurangan ada di fict ini.
Sedikit curcol,...hadeuch...banyak yang kecewa untuk chap kemarin, terutama di bagian akhir,...hehe...(plakk), jujur aja aku ketawa baca review dari kalian, aku suka, kalian jujur banget, empat jempol aku kasih buat kalian readersku yang pintar2, chap ini mungkin akan menjawab rasa penasaran kalian, dan kebetulan chap ini juga udah aku buat, jadi jangan pundung duluan yach?... menurutku bagian ending chap kemarin agak penting buat dapetin feelnya Sasuke, sejujurnya ini semua bikin aku Setressss... :D
Happy reading.
"Suke...?"
"Sasuke...?"
Sasuke terkejut, Hinata berteriak memanggilnya, wanita itu mengibaskan tangan di depan wajahnya, Sasuke mengerjap beberapa kali, apa yang baru saja dia pikirkan.
'Hah, memalukan, sekarang aku bermimpi saat mataku terbuka.'
"Hi-Hinata?..." Sasuke benar-benar merasa gugup, baru saja dia berpikiran kotor tentang Hinata, wanita itu masih berada di depan pintu apartemennya, dengan mengenakan dress hitam dengan model one shoulder yang memperlihatkan bagian bahu kanannya yang mulus, riasannya di sesuaikan dengan warna pakaiannya, cantik dan seksi membuat Sasuke menelan ludahnya, dan di kakinya terpasang stileto hitam yang mengkilat, Sasuke berpikir Hinata akan menyerahkan diri pada dirinya, tidak hanya itu Hinata akan menjatuhkan harga diri didepannya, tapi tidak Hinata bukan wanita seperti itu, cukup satu kali Sasuke salah menilai tentang Hinata dan dia tidak akan mengulanginya, Hinata tidak akan berani untuk menggodanya.
"Ya, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu." ucap Hinata dengan suara yang datar dan juga dingin, berbeda dari bayangan Sasuke saat Hinata menggodanya.
"Masuklah!..." Sasuke berucap lirih, Hinata mengangkat kepala, kemudian mengangguk.
Saat masuk Hinata mencium bau alkohol yang menyengat, mungkin Sasuke sedang minum, selain itu ruangan apartemen Sasuke sangat berantakan, pria itu pergi ke dapurnya dan membawa satu gelas minuman untuk Hinata.
"Duduklah, Hinata, apakah hal yang ingin kau bicarakan adalah tentang video itu?" ucap Sasuke saat melihat Hinata yang masih berdiri, pria itu duduk dan bersandar di sofa yang berhadapan dengan Hinata.
"Ya, itu benar!" jawab Hinata masih dengan suara yang dingin, jauh didalam hatinya Hinata merasa canggung saat berhadapan dengan Sasuke, untuk pertama kalinya Hinata menginjakan kaki di apartemen Sasuke, rasa sesak di rasakannya.
"Katakan padaku, kenapa kau membiarkan Madara untuk ikut campur dalam masalah kita." Sasuke menatap Hinata dengan intimidasi yang menakutkan dan tanpa basa-basi.
"Kita?, tidak pernah ada kata kita, hanya kau dan aku, dan masalah ini adalah masalahku!" ucap Hinata, ada emosi di setiap ucapannya.
"Benarkah?, jika memang seperti itu lalu kenapa kau datang kesini?, kau berpikir bisa menyelesaikannya sendirian begitu?, apapun yang kau katakan kebenaran tidak bisa di sembunyikan, kau tidak bisa mengubah kalau pria yang bersamamu adalah diriku, ternyata semua itu tidak ada artinya bagimu." Sasuke berucap dengan menahan amarah.
"Lalu di mana kau saat aku membutuhkanmu?, saat mereka semua menyudutkan diriku, dan bertanya tentang kebenaran?, kau bahkan tidak berniat untuk menemuiku, kau yang tidak punya niat baik dan menganggap semua tidak ada artinya." Hinata menaikan sedikit nada suaranya.
"Kenapa kau selalu menjadikanku seperti seorang pengecut?, kau menjadikanku seorang pecundang yang tidak berguna?, kau lari dan bersembunyi dan aku kebingungan untuk mencari dirimu, tapi kau sedang bersama pria lain di kamar hotel, kau bahkan tidak memberikanku kesempatan untuk berbicara." Sasuke juga menaikan nada suaranya.
"Aku tidak percaya padamu, karena semua yang kau ucapkan adalah omong kosong!" emosi Hinata semakin naik.
"Ya, kau benar, karena selama delapan tahun kaulah yang membiarkanku menjadi orang yang bodoh, kau membiarkanku berpikiran buruk tentangmu, dan kau membiarkanku mengucapkan semua omong kosong tentang dirimu!"
"Kau sudah berhasil membuat diriku merasa menjadi seorang yang sangat buruk, kau berhasil membuat keburukanku semakin membusuk, apa kau pikir aku masih bisa bicara tentang omong kosong setelah semua yang terjadi." Hinata terdiam.
"Kau tahu Hinata, luka sekecil apapun jika tidak segera di obati maka luka itu akan semakin membesar, dan itulah yang kau lakukan, kau sengaja menyiksa dirimu sendiri, kau membiarkanku terus melukaimu." Sasuke berkata panjang lebar mengeluarkan semua yang ingin di katakannya.
"Tidak ada pembelaan diri saat aku menghinamu, tidak ada pengelakan saat aku merendahkanmu, dan tidak ada penolakan saat aku memaksamu, katakan siapa yang tidak akan berprasangka buruk jika kau diam saja dan membiarkan semua terjadi begitu saja." mata Sasuke memerah, terlihat menggenang di sudut matanya.
Hinata terdiam, semua yang di katakan pria itu memang benar, selama ini Hinata membiarkan Sasuke berpikiran buruk tentang dirinya, padahal jika Hinata mau dia bisa membela diri dan membuktikan bahwa dirinya tidak seburuk yang pria itu pikirkan, dan sekarang siapa yang harus disalahkan.
"Aku kesini bukan untuk mendengar semua keluh kesahmu, tapi untuk memastikan bahwa mulutmu akan selalu terkunci, dan biarkan semua terjadi begitu saja, tidak akan ada yang berubah, kau dan aku akan tetap seperti dulu, semua akan baik-baik saja jika kau tetap bungkam." Hinata beranjak dari sofa berniat pergi meninggalkan Sasuke.
"Cih, kau lupa sesuatu, kau juga sudah menjadi seorang pembohong, kau sudah menyimpan kebohongan besar dalam hidupmu." ucapan Sasuke menghentikan langkah Hinata, wanita itu terdiam.
"Apa maksudmu?, katakan kenapa kau menyebutku seorang pembohong." Hinata berbalik dan kembali berucap, menurutnya Sasuke sudah terlalu banyak bicara.
"Selama delapan tahun kau membohongi semua orang, kau membohongi diri sendiri, dan kau juga membohongiku, Hinata, dan kau tidak lebih baik dariku." Sasuke juga berdiri dan menghampiri Hinata.
"Kau terlalu banyak bicara, aku tidak peduli apa yang akan kau katakan, Sasuke, aku-tidak-peduli." ucap Hinata dengan penekanan di setiap katanya.
"Kau menyembunyikan kebohongan besar tentang cintamu, Hinata." Sasuke berucap lirih, Hinata membulatkan matanya, napasnya tidak teratur, apa yang Sasuke ketahui membuat Hinata takut.
"Aku harus pergi, pastikan kau tidak mengacaukan semuanya." Hinata segera berbalik dan melangkah, perasaannya tidak menentu, jauh sebelum mendatangi Sasuke, wanita itu sudah memantapkan hatinya untuk menghapus apapun yang berhubungan dengan Sasuke, Hinata bertekad untuk tidak lagi berurusan dengan Sasuke, sudah cukup semua penderitaan yang di rasakannya.
GREEB...
Sasuke menarik tangan Hinata dan menghempaskan kembali tubuh Hinata di atas sofa dan membuat Hinata terkejut.
"Aku belum selesai berbicara, kau mau lari lagi?, pintar sekali kau, setelah membuatku melakukan kesalahan kau akan pergi begitu saja?." Sasuke menghimpit tubuh Hinata di sofa.
"Dengarkan aku Hyuga!, bukan kata kau dan aku, tapi kita,...kita berdua akan memperbaiki semuanya, mau atau tidak, suka atau tidak kau akan tetap berada di sisiku, kau mengerti?" seperti biasanya Sasuke melakukan apa yang dia inginkan, keningnya di sentuhkan di kening Hinata, Sasuke sudah kembali pada jati dirinya yang selalu mengintimidasi.
"Tidak ada pilihan untukmu, aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun!" Sasuke melepaskan kembali Hinata, tapi pria itu duduk berlutut di hadapan Hinata.
"Yang aku tidak mengerti dengan dirimu adalah seorang gadis lugu yang jatuh bisa berbuat nekat seperti itu."
"Kali ini dengarkan aku,...apa kau tahu kenapa aku menilai buruk dirimu?." Sasuke berkata dengan menatap langsung pada mata Hinata.
"Dulu kau adalah gadis yang lugu, kau selalu menundukan kepalamu, dan kau sangat pemalu, aku sangat terkejut saat melihatmu berada di tempat audisi model untuk majalah pria dewasa, aku tidak menyangka seorang gadis yang bahkan selalu malu saat berbicara dengan temannya nekat ingin menjadi model yang akan memperlihatkan seluruh tubuhnya pada orang banyak." Hinata menitikkan air matanya.
"Aku tahu aku salah, saat itu untuk pertama kalinya aku berkata kasar padamu karena aku berharap kau mengurungkan niatmu mengikuti audisi." Sasuke berkata lirih.
"Tapi aku salah, kau tetap mengikuti audisi itu, aku bahkan menjahilimu dengan bikini merah, dan aku masih berharap kau mengurungkan niatmu, karena kupikir kau tidak akan berani memakainya, tapi sekali lagi aku salah, dengan berani kau memperlihatkan tubuhmu di hadapan para pria mesum itu." Hinata semakin menangis saat mendengar semua ucapan Sasuke.
"Aku sangat kecewa karena sebelumnya aku lebih menghargai dirimu yang sederhana."
"Dan dari situ aku berpikir bahwa keluguanmu itu palsu, dan aku lebih membencimu saat mendengar alasanmu menjadi model karena kau jatuh cinta, kau ingin menjadi dewasa supaya orang yang kau sukai bisa melihatmu... apa kau tahu menurutku pemikiran itu salah?, aku berpikir kau tidak perlu melakukan itu, jika kau memang mencintai pria itu kau hanya perlu menunjukan cintamu, bukan tubuhmu." Hinata merasakan remasan di hatinya sangat menyakitkan, itukah alasan Sasuke membencinya selama ini.
"Aku tidak percaya padamu, kau seorang gadis yang tidak bisa mengungkapkan perasaanmu, tapi kau bisa memamerkan tubuhmu, dan sejak saat itu aku mulai melihatmu seperti seorang wanita yang munafik."
"Maafkan aku, sungguh maafkan aku, atas sikapku selama ini, katakan padaku apa kau masih mencintai pria itu?, aku tahu pria itu ada walaupun kau menyangkalnya." Sasuke menggenggam tangan Hinata dengan lembut.
"...Hiks..." Hinata mengusap air matanya dan Sasuke masih menatapnya.
"Ya, pria itu ada, pria itu selalu bersamaku selama ini, dia membenciku, dia mengabaikanku, dia tidak bisa merasakan cintaku." Hinata berkata dengan tersendat karena tangisannya, Sasuke memejamkan matanya.
"Aku mencintainya, sangat mencintainya, setiap saat aku merindukannya, aku selalu menatapnya, ... dan pria itu ada di hadapanku saat ini, pria itu adalah Sasuke, Sasuke Uchiha adalah pria yang kucintai...hiks.." Hinata semakin tersedu, Hinata tidak peduli jika nantinya Sasuke akan lebih membencinya setelah dia mengungkapkan cinta pada Sasuke.
"Dan semua itu benar, alasanku menjadi model itu karena dirimu, kau bilang tidak suka gadis lugu dan polos, kau suka gadis agresif dan juga seksi, dan aku berpikir kau tidak akan pernah melihatku jika aku tidak berubah, tapi aku salah karena sampai kapanpun kau tidak akan pernah melihatku." Hinata kembali mengusap air matanya.
"Dan alasanku memintamu untuk bercinta waktu itu adalah karena aku ingin kau jadi yang pertama untukku, bukan Itachi." tangisan Hinata pecah, sungguh Hinata merasa malu pada Sasuke.
"Demi Tuhan, aku tidak pernah mengatakan hal itu, kau salah paham Hinata." Sasuke meremas tangan Hinata.
"Aku mendengarnya sendiri, kau berbicara dengan Naruto senpai waktu itu." Hinata melepas genggaman tangan Sasuke.
"Itu tidak benar!" Sasuke mencoba meyakinkan Hinata.
"Cukup, Sasuke aku tidak ingin membahas ini lagi, aku tidak akan merubah apapun, aku akan mengakhiri semuanya, tidak ada yang perlu di perbaiki, aku sudah membuat keputusan, selamanya tidak akan ada yang berubah."
"Maafkan aku, aku bukan siapa-siapa bagimu, dan kau tidak punya hak untuk mengatur hidupku." Hinata segera pergi dari apartemen Sasuke, meninggalkan tempat itu dan tidak berniat untuk menginjakan kakinya lagi di tempat tersebut.
Sasuke tidak bisa berbuat apa-apa, Hinata pergi lagi seperti sebelumnya, kenapa semua semakin runyam, Sasuke belum bisa memperbaikinya, wanita itu tetap pada pendiriannya, niat baik Sasuke untuk meminta maaf selalu di abaikan Hinata, mungkin dirinya memang pantas untuk menerima semua perlakuan Hinata.
Hinata yang sekarang berbeda dengan Hinata yang dulu, tidak ada lagi cinta di mata ametys itu hanya ada kebencian di sana.
Jika mengingat masa lalu, Sasuke tidak pernah mengatakan kalau dia dia tidak suka gadis lugu dan polos.
Flashback.
"Teme, apa kau sudah bertanya pada Gaara gadis seperti apa yang dia sukai?" Naruto bertanya pada Sasuke yang sedang memainkan ponselnya, saat ini adalah jam istirahat sekolahnya.
"Hn.." jawab Sasuke singkat.
"Lalu apa balasannya?" tanya Naruto penasaran.
"Aku tidak suka gadis lugu dan polos, aku suka gadis yang agresif, sedikit nakal dan juga seksi." jawab Sasuke sambil menggelengkan kepalanya, pemuda itu memperlihatkan pesan singkat Gaara pada Naruto.
"Hah, Teme kalau aku lebih suka yang sedikit galak dan angkuh, seperti Shion." ucap Naruto.
"Lalu kau sendiri suka gadis yang seperti apa?" lanjut Naruto.
"Kalau aku tidak suka gadis yang murahan, aku suka gadis yang sederhana, aku suka gadis yang selalu menjaga sopan santun terutama dalam berpakaian." jawab Sasuke, Naruto menganggukan kepalanya.
"Tapi kau sendiri selalu memperlihatkan tubuhmu itu di majalah, lalu kenapa kau tidak suka pada gadis yang seksi." Sasuke tertawa mendengar ucapan Naruto.
"Menurutku gadis yang sederhana lebih pantas untukku, gadis seksi itu sudah terlalu banyak dan bagiku mereka hanya ingin menarik perhatian para lelaki." jawab Sasuke.
"Baiklah, tapi apa gadismu itu ada?" Naruto menatap Sasuke dengan curiga.
"Tentu saja, dia sangat manis dan tidak bertingkah seperti gadis lainnya." ucap Sasuke tatapannya menerawang.
"Lalu, apa kau akan menyatakan cinta pada gadis itu?" Naruto kembali bertanya.
"Hn, mungkin saja, tapi tidak sekarang." jawab Sasuke dengan senyuman di wajahnya.
"Tapi kupikir dia tidak menyukaiku." ucap Sasuke lagi.
"Eh?, kenapa?."
"Sepertinya dia menganggapku bajingan, dia takut padaku." Naruto mentertawakannya.
"Bagaimana dengan Sakura, sepertinya dia suka sekali padamu?" Sasuke mengedikkan bahunya.
"I don't know and i don't care." jawab Sasuke singkat, tanpa di sadari ada seseorang yang mendengar percakapan mereka di balik pintu kelas.
Flashback end.
"Siap!...1...2...3..."
Suara jepretan kamera mulai terdengar, setelah intruksi dari potographer di ucapkan maka para model harus bergaya dengan sebaik mungkin untuk mendapat gambar terbaik.
Hinata berpose dengan gaya sensualnya yang menggoda, wanita itu sudah kembali ke dunianya sebagai model, kali Hinata sudah mengganti managernya, Mitarashi Anko menggantikan Itachi Uchiha sebagai manager Hinata.
Selama tiga hari Hinata akan berpasangan dengan dua model baru dari managemen berbeda, dua orang model pria yang bernama Shin Kamiya dan Cloud, mereka adalah dua model pendatang baru yang sedang naik daun.
"Hinata, kenalkan mereka adalah partner barumu untuk pemotretan kali ini." Anko menghampiri Hinata bersama dua orang model pria tersebut.
"Hallo, Hinata senang bisa bekerja sama dengan model senior sepertimu." Shin Kamiya berkata dengan raut datar dan dingin, sedangkan satu orang lainya Cloud juga bersikap sama.
'Ya ampun, kenapa aku harus berurusan dengan orang berwajah kaku dan dingin seperti mereka, tidak berbeda dengan ...'
Hinata bergumam, setelah bertemu kemarin dengan Sasuke, wanita itu di hadapkan dengan dua pria yang hampir mirip dengan Sasuke.
Selama tiga hari Hinata di sibukan dengan kegiatan pemotretan bersama dua pria baru tersebut, ada rasa hampa dalam dadanya, Hinata tidak terbiasa dengan sesuatu yang baru, kenangan demi kenangan tergambar kembali, begitu banyak yang sudah di lewatinya bersama Sasuke.
'Tidak, aku tidak boleh terus tenggelam dengan perasaan ini, aku harus melupakannya.'
Secret Passion.
Dua orang pria sedang berdiri di atap bangunan kantor, angin yang berhembus menerbangkan helaian rambut mereka, sinar matahari tidak membuat mereka terganggu, masing-masing dari mereka sama-sama memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Apa kabar saudaraku?, hal apa yang membuatmu ingin menemuiku?" ucap pria muda tersebut.
"Madara kau adalah saudaraku, kita sama-sama tahu, dalam hubungan persaudaraan tidak baik, jika kita saling menikam." jawab pria yang satunya.
"Tentang Hinata?" tanya Madara.
"Itachi, apa yang membuatmu berpikir kalau aku sudah menikam dirimu?" Itachi menghela napas.
"Aku tahu kau tidak terlibat dengan skandal wanita itu, dia sudah menyeretmu dalam jebakannya." jawab Itachi, pria itu berkata dengan santai.
"Entahlah, aku juga tidak tahu, mungkin ini sebuah kebetulan, tapi kau harus percaya, wanita bernama Hinata itu sama sekali tidak menjebaku." jawab Madara tanpa beban.
"Lalu?, " wajah Itachi terlihat penasaran.
"Selama ini kau hanya memikirkan perasaanmu sendiri, kau juga menghianatinya walaupun dia tidak mencintaimu, jadilah pria sejati, usiamu sudah 30 tahun, cobalah berdiri di posisi wanita itu, walaupun kau bukan seorang wanita." ada sedikit tawa dalam ucapan Madara.
"Lihatlah kenyataan di depan matamu yang tidak kau sadari, ada banyak hal tidak kau tidak kau ketahui, cinta Hinata, keegoisan adikmu, dan kenyataan lain yang aku yakin akan membuatmu terkejut." Madara berkata panjang lebar.
"Kenyataan apa yang kau maksud?" Itachi bertanya dengan penasaran.
"Kau akan segera tahu, dan kuharap kau bisa lebih bijak dan tidak kekanak-kanakan." lanjut Madara.
Hari ini Itachi menemui Madara di kantornya yang berada di pusat kota Tokyo, setelah melihat pengakuan Madara di televisi, Itachi sempat marah besar, dan berniat menghajar saudaranya itu.
Itachi berpikir dari awal lagi, Hinata hanyalah korban dari dirinya, sejak awal Hinata sudah menolaknya, dirinyalah yang memaksa wanita itu, menjadikan Hinata objek pelampiasan amarah para penggemar lain, menjadikan Hinata bahan gunjingan para wanita, selain itu Itachi membuat Hinata berada dekat dengan Sasuke yang selalu membencinya.
Madara benar, Itachi memang kekanak-kanakan, tapi untuk mendapat cinta Hinata itu bukanlah hal yang sepele, Itachi tidak main-main dengan perasaanya, mungkin yang akan di lakukannya untuk pertama kali adalah menemui Hinata dan meyakinkan lagi wanita itu, untuk memenangkan hati Hinata Itachi harus berusaha lebih keras, dan Itachi berharap ada kesempatan lagi untuknya.
...
Ting-tong...
Suara bel di rumahnya berbunyi, Hinata sedang berkemas karena besok Hinata akan pergi ke Maldiv untuk menghadiri pernikahan Hanabi, seperti biasa Hinata tidak banyak membawa barang.
"Biar aku saja yang membukanya." Hinata melanjutkan kembali acara berkemasnya karena Karin yang akan membuka pintu untuk tamunya, Karin memang sedang berada di rumah Hinata, wanita itu bertanya banyak hal setelah Hinata kembali.
"Siapa yang datang, Karin?" tanya Hinata setelah Karin masuk kembali ke kamarnya.
"Ini dia,..." Karin menyerahkan sebuket mawar merah yang sangat cantik.
"Seseorang mengirimkan bunga ini untukmu." Karin menyerahkan bunga mawar itu pada Hinata dan sebuah amplop putih.
"Indah sekali!, kira-kira siapa yang mengirimnya?" ucap Hinata saat bunga itu sudah berada di tangannya.
"Kau akan tahu setelah membaca suratnya." ucap Karin, Hinata tersenyum kemudian membuka amplop putih tersebut.
'Ini adalah awal'
' U. Sasuke.'
Hinata terdiam setelah membaca satu kalimat tersebut, Karin melihat isi surat tersebut, Karin tidak mengerti kenapa Sasuke mengirim bunga untuk Hinata, apa karena pria itu tahu kalau Hinata mencintainya, bukankah dirinya yang memberi tahu tentang semua pada Sasuke, Karin menelan ludah, dia takut Hinata marah padanya.
"Sasuke?" tanya Karin.
"Apa yang sebenarnya sibodoh itu inginkan?, apa dia mengganggumu?." tanya Karin lagi, Karin memang tidak tahu apa yang terjadi antara Hinata dan Sasuke.
"Karin, aku,...sebenarnya,..." Karin mengernyitkan alisnya, Hinata tampak begitu gugup.
"Ada apa?, katakan saja, aku ini sahabatmu, tidak perlu ragu." ucap Karin, Hinata menggelenkan kepalanya.
"Kau tidak percaya padaku?" tanya Karin, Hinata menghela napasnya.
Mata Karin membulat, mulutnya dia tutup dengan telapak tangan kanannya, Hinata menceritakan semua yang di alaminya bersama Sasuke, rasanya ingin sekali Karin menghajar Sasuke yang sudah memanfaatkan Hinata, tapi saat mendengar penjelasan Hinata, Karin hanya mampu terdiam.
'Jadi mereka berdua salah paham selama ini, ya ampun'.
Karin bergumam, semua memang sudah terlambat, Karin tidak tahu apa Hinata bisa memaafkan Sasuke atau tidak, semua keputusan berada di tangan Hinata, tapi Karin berpikir alasan Sasuke membenci Hinata selama ini cukup masuk akal, dan mungkin sebenarnya Sasuke merasa kecewa pada Hinata.
"Aku tidak tahu harus berkata apa?, semua keputusan kau yang menentukan, aku hanya berharap yang terbaik untuk dirimu." ucap Karin, wanita itu menghela napas.
"Ya, terima kasih." Hinata tersenyum, wanita itu menaruh bunga mawar merah di atas nakas yang berada di samping tempat tidurnya.
"Berapa lama kau di Maldiv?" tanya Karin sambil membantu Hinata yang kembali mengemas barangnya.
"Satu atau dua minggu, dan sepertinya itu terlalu singkat, kau tahu sudah empat tahun aku tidak bertemu dengan keluargaku?" ucap Hinata wajahnya sedikit sendu.
"Kau pasti rindu sekali pada mereka,..." ucap Karin.
Ting-tong..
Bel kembali berbunyi, Hinata dan Karin saling menatap, kira-kira siapa lagi yang datang ke rumah Hinata.
"Biar aku saja." kali ini Hinata yang membuka pintu karena merasa tidak enak pada Karin.
Hinata membuka pintu dan terkejut melihat tamu yang datang ke rumahnya.
"S-Sakura-senpai?" Hinata berkata dengan gugup, di depannya Sakura berdiri dengan amarah yang terlihat di wajahnya.
"Hinata, kau sudah kembali?,kau pasti sudah tau untuk apa aku ke sini?, katakan padaku, apa maksud dari video itu?" Sakura bertanya tanpa basa-basi.
"Sebaiknya kau masuk dulu dan duduklah!" jawab Hinata tanpa menjawab pertanyaan dari Sakura.
"Ck, membuang waktu tapi baiklah." Sakura masuk kemudian duduk di ikuti Hinata di belakangnya.
"Aku tidak akan lama, aku hanya ingin mengatakan padamu,...jangan libatkan Sasuke dalam skandalmu itu, kau sudah memilih Madara, jadi kau harus tetap diam untuk selamanya." ucap Sakura dengan penuh penekanan.
"Karena aku tahu, pria yang bersamamu adalah Sasuke." Sakura berhenti berbicara dan menatap tajam Hinata.
"Ternyata kau dan kekasihmu itu memang cocok, kau tahu Sakura, aku tidak berminat untuk menjatuhkannya, kau tidak perlu khawatir dan bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan tentang video itu, bukankah masalah itu sudah selesai?" Hinata merasa kesal pada sahabatnya tersebut apa yang diinginkan Sakura sebenarnya.
"Sombong sekali, kau berbicara seolah tidak peduli padanya, tapi pada kenyataanya kau masih mengaharapkannya?, kau bahkan tidak menolak saat dia mengajakmu untuk tidur dan bercinta dengannya."
"Dimana rasa malumu?, kau menggodanya di belakangku." Sakura berteriak tapi Hinata tidak terpengaruh sama sekali dan membiarkan Sakura tetap berbicara.
"Katakan padaku, apa dia membuatmu merasa puas, kau menikmati semuanya bukan?, kau pasti menyukai saat dia menyentuh tubuhmu dan dia,-..." Sakura menangis mengeluarkan amarahnya.
"Cukup Sakura, jangan menghina Hinata karena aku tidak akan membiarkannya." Karin tiba-tiba muncul karena mendengar teriakan Sakura.
"Oh, kau ada di sini rupanya, katakan pada temanmu ini Karin, katakan padanya untuk tidak mengharapkan Sasuke, karena seperti yang kalian tahu kalau Sasuke sangat membenci Hinata." ucap Sakura dan membuat Karin marah.
"Tutup mulutmu itu Sakura, dan kau kenapa diam saja Hinata?." Karin berteriak kepada dua temannya.
"Aku juga temanmu Karin tapi kenapa kau selalu membelanya, apa aku salah karena mencintai Sasuke, aku juga sudah lama mencintainya, tapi kenapa kau tidak mengerti cintaku ini."
"Dan sekarang Sasuke mencampakkan diriku karena Hinata, Sasuke sudah meninggalkanku demi Hinata." Sakura meraung, Karin dan Hinata terdiam melihat Sakura yang menangis.
"Sudahlah, Sakura jangan permalukan dirimu seperti ini." Karin menghampiri Sakura dan merangkulnya.
"Kita sama-sama tahu, Hinata tidak pernah melakukan apa yang kau tuduhkan." Sakura yang bersandar di bahu Karin semakin terisak, sedangkan Hinata masih berdiri tidak jauh dari mereka.
"Dengarkan aku Sakura aku tidak pernah ada niat untuk mengganggu hubunganmu dengan Sasuke." ucap Hinata, sungguh Hinata merasakan sakit yang luar biasa di dadanya.
"Tapi kau sangat mencintainya kan?" Sakura kembali berucap di tengah tangisnya.
"Tanpa bertanyapun kau sudah tahu jawabannya." Karin membuka suara, Hinata menitikkan air matanya, rasanya sangat menyakitkan, selama bertahun-tahun Hinata harus menyembunyikan perasaannya.
"Aku tidak terima ini,..mereka berdua menghianatiku." Sakura menangis sesenggukan.
"Ck, ya ampun kau egois sekali Sakura, apa kau tidak sadar Hinata lebih menderita dari dirimu?, selain memendam cinta, dia juga harus menanggung kebencian dari orang yang dia cintai, selain itu dia juga harus menepati janji pada orang egois seperti dirimu, dan sekarang karena Sasuke dia harus menanggung rasa malunya sendirian." Karin mulai berteriak karena kekeras kepalaan Sakura.
"Kalau kau ingin menyalahkan seseorang maka salahkan kekasihmu itu, jangan menjadikan Hinata sebagai kambing hitam atas penderitaanmu, jika Sasuke meninggalkanmu itu bukan kesalahan Hinata." Karin kembali berkata pada Sakura.
"Karin, jangan katakan itu, Sakura tidak akan mau mendengarnya" Hinata mulai bersuara.
"Pulanglah Sakura, biarkan aku sendiri, aku sudah muak dengan semua ini, kau pikir aku suka dengan semua yang terjadi." lanjut Hinata terlihat sekali wanita itu marah.
"Aku sudah menepati janjiku, apalagi yang kau inginkan?, jika kau begitu takut kehilangan Sasuke, maka kau harus bisa meyakinkannya untuk tetap bersamamu." Sakura terdiam, belum pernah sekalipun dia melihat Hinata seperti itu.
"Sudahlah, aku akan mengantarmu pulang, Sakura, kau perlu menenangkan diri, kau harus berpikir lagi, dan kau Hinata sebaiknya kau beristirahat, besok kau harus berangkat, kita akan bicara lagi setelah kau kembali." Karin merangkul Sakura, Hinata menganggukan kepalanya.
...
Sasuke tengah bersandar di sofa ruang keluarga Uchiha, Fugaku, Mikoto dan Itachi juga sedang berkumpul.
"Baka otoutou?, kenapa kau senyam senyum sendiri?, kau pasti tidak waras?." Itachi menggoda Sasuke dengan candaanya.
"Itachi, adikmu pasti sedang bahagia, jangan mengganggunya!" Mikoto juga menggoda putra bungsunya, sedangkan Fugaku hanya terdiam melihat anak dan istrinya yang sedang bercanda.
Entah kenapa ada hal aneh yang Sasuke rasakan didadanya, jantungnya berdebar kencang saat mengingat nama Hinata, ada rasa bahagia saat mengingat wanita itu mencintainya, ingin sekali Sasuke bertemu dengan Hinata saat ini juga, perasaan yang tidak asing, ya Sasuke pernah merasakannya dulu.
Sasuke menyambar jaket hitamnya dan kunci motor yang tergeletak di meja, Sasuke segera pergi meninggalkan rumah orang tuanya untuk menemui seseorang yang dia rindukan.
"Sasuke, kau mau kemana?" teriakan Mikoto tidak di dengar oleh Sasuke pria itu terus melangkah meninggalkan keluarganya yang sedang berkumpul.
...
Hinata menyandarkan kepalanya di atas bantal tidurnya, rasanya nyaman, tapi itu berbeda dengan perasaannya yang sedang gelisah, banyak hal yang Hinata pikirkan, semuanya terasa sulit, apa yang akan terjadi besok Hinata tidak tahu.
Hinata tidak percaya dengan penglihatannya, Sasuke mendatanginya padahal sekarang sudah pukul 9 malam, baru saja bel rumahnya berbunyi, ternyata orang yang datang benar-benar tidak di duga, Sasuke menatapnya dengan kerinduan yang terlihat dimata hitamnya.
"A-Ada apa kau datang kemari?" Sasuke tersenyum melihat kegugupan Hinata, pria itu baru menyadari wajah Hinata yang begitu polos.
"Aku,... ingin menemuimu!" jawab Sasuke.
"Bolehkah aku masuk?" tanya Sasuke, Hinata menghela napas.
"Tidak ini sudah malam, sebaiknya pulanglah, aku ingin beristirahat." Hinata menolak kedatangan Sasuke.
"Wajahmu sangat pucat, apa kau sedang sakit?" Sasuke bertanya khawatir melihat Hinata, sepertinya wanita itu sedang sakit.
"Bukan urusanmu, pergilah, aku tidak ingin di ganggu." jawab Hinata, sebenarnya Hinata merasakan tubuhnya memang tidak sehat.
"Besok datanglah ke studio, aku akan mengadakan konfrensi pers, aku ingin menjelaskan tentang video itu pada semua orang." ucap Sasuke dengan penuh keyakinan, Hinata menatapnya tidak percaya.
"Apa?, kau sudah gila Sasuke?, kenapa kau selalu berbuat semaumu sendiri?" Hinata menaikan nada suaranya karena emosi.
"Biarkan aku melakukan apa yang seharusnya kulakukan sejak dulu, jangan membuat diriku menjadi seorang pengecut." Sasuke melangkah lebih dekat pada Hinata, wanita itu terpaksa mundur beberapa langkah dan Sasuke semakin masuk kedalam rumah Hinata.
"Aku tidak akan berhenti untuk menemuimu, walaupun kau berlari sejauh mungkin, aku akan mengejarmu, aku tidak akan berhenti sampai kau memaafkanku, Hinata." Sasuke menarik tangan Hinata supaya lebih mendekat kepadanya.
"Kumohon Hinata maafkan aku, maafkan untuk semua luka yang kuberikan, aku tahu pasti sulit untukmu melupakan semua, tapi aku akan menebus itu semua."
"Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan kembali cintamu itu." Sasuke mencium punggung tangan Hinata.
"Kau memang egois, katakan padaku apa yang akan terjadi kalau kau mengakui kebenaran itu?." Hinata melepaskan tangan Sasuke dan berkata dengan penuh penuntutan.
"Aku akan terima semua konsekwensinya, aku akan menanggung semuanya." ucap Sasuke tanpa keraguan.
"Akan ada banyak yang merasa kecewa." Hinata berucap lirih namun tersimpan emosi di dalamnya.
"Siapa?, Itachi?, Madara?, apa mereka yang kau pikirkan?" Sasuke berbicara dengan penuh penekanan.
"Sakura, ibumu, ayahmu, Itachi, mereka akan membencimu dan juga diriku, tak bisakah kau berbuat baik kepadaku, dan biarkan aku hidup dengan tenang." Hinata kembali menangis.
"Hey, apa kau takut pada dunia?, jika kau memang mencintaiku, percayalah padaku." kedua tangan Sasuke merangkum wajah Hinata.
"Ini bukan tentang cinta, Sasuke, ini tentang hidupmu dan hidupku, aku tidak ingin punya urusan apapun lagi denganmu, untuk kali ini saja, tetaplah diam, kumohon." Hinata menurunkan kedua tangan Sasuke yang berada di wajahnya.
"Kenapa aku harus diam?" Sasuke merasa kecewa pada Hinata.
"Dan kenapa aku harus menurutimu?, kau tidak punya alasan untuk melakukan semuanya." Hinata membalas perkataan Sasuke, wanita itu berbalik dan membelakangi Sasuke.
"Ada alasannya, kau tahu kenapa?"
"Karena aku,... mencintaimu, Hinata." Sasuke memeluk Hinata dari belakang, wanita itu terkejut, air matanya meluncur, hatinya terasa begitu sakit.
"Kumohon, berikan kesempatan untukku, percayalah padaku." Hinata merasakan pelukan Sasuke yang semakin mengerat, pria itu menumpukan dagunya di bahu Hinata.
Hinata melepaskan pelukan Sasuke, wanita berbalik dan menatap manik hitam milik Sasuke yang tampak redup.
"Cinta tidak tumbuh secepat itu Sasuke, yang kau rasakan bukanlah cinta tapi rasa bersalah." ucapan Hinata begitu pelan tapi tetap terdengar oleh Sasuke.
Sasuke merasakan sakit di dadanya, Hinata selalu menolaknya, kenapa Hinata tidak mempercayainya, mungkin memang benar cinta tidak tumbuh dengan cepat, tapi Hinata tidak tahu Sasuke juga pernah merasakan cinta yang sedang di rasakannya saat ini.
"Apapun yang kau katakan, aku tidak akan menyerah, sama seperti dirimu yang tidak menyerah pada cintaku, Hinata." Sasuke berucap lirih, pria itu kemudian pergi meninggalkan Hinata, wanita itu menangis, banyak pertanyaan di kepalanya, bukankah selama ini dia menantikan ungkapan cinta dari pria itu, tapi sekarang Hinata bahkan tidak ingin bertemu dengan Sasuke, selama ini Hinata berdoa pada Tuhan supaya rasa cintanya itu mati, dan apakah Tuhan mengabulkan doanya, tapi tetap saja hatinya terasa sakit saat melihat wajah Sasuke yang terluka.
To be continue.
Chap 7 up...
Jujur aja aku jadi ga PD buat update chapter ..hwaaaa...tolongin doonnkkk... Soalnya makin ke sini kayaknya makin gaje nich fict... berantakan...
Gomenne reader kalau ternyata fict ini mengecewakan...hiks... terkadang aku lupa alur cerita yang udh di rencanain sejak awal dan merubah alur baru lagi...ck..
Tentang fict ini ada berapa chap?, seperti biasa sama seperti fict lainya, targetku sampai 10 chap...
Nah gimana setelah baca chap ini, apa masih ngerasa benci sama Sasuke?.
Special thanks: Followers, Favorites, dan readers juga reviewers yang selalu dukung..i love u all, i love u so much... :3
Special thanks to: blnck, ya ampun ko km bsa tau yg lg aku pikirin, semua yang km bilang tuch bener banget, PM aku dong, biar bsa berbagi pengalaman atau km ada masukan buat fict aku boleh aja, jangan sungkan biar aku bisa lebih maksimal lagi dalam membuat fict..makasih reviewnya...
little lily: aku suka lagu yg km rekomendasikan ..keren...ko km tau sich jenis lagu yg aku suka ..thank ya...
Ok, c u next chap...
Salam aisyaeva...
