Naruto Mr MK
Secret Passion
Sasuhina
Rate M
Drama/Romance
Typo(s), AU, OOC, EYD ga sesuai, gajeness, berantakan dan masih banyak lagi.
Curcol lagi, mengingat waktu 8 tahun bukanlah waktu yang singkat jadi fict ini akan ada banyak flashback, secara logika dalam waktu tersebut ada banyak hal yang sudah di lewati jadi jangan berpikiran kalau fict ini maju mundur atau ga maju-maju...ok?...lets cekidot...ow...ow...
"Please, Love me again, Hinata."
( Sasuke )
Happy reading.
Hinata berbaring di atas tempat tidurnya, selimut tebal menutupi tubuhnya sebatas dagu, seluruh tubuhnya juga terasa sakit, sepertinya dia memang sedang sakit, sudah pukul 11 malam, tapi matanya enggan terpejam, pikirannya jauh merawang pada kejadian 2 jam yang lalu, ya, sudah 2 jam setelah Sasuke menemuinya pukul 9 tadi.
Hinata memikirkan semua ucapan Sasuke, apa pria itu bersungguh-sungguh ingin mengklarifikasi semuanya dan menjelaskan tentang video itu?.
Tapi Hinata tidak percaya dengan semua yang Sasuke ucapkan, jika itu benar Sasuke hanya akan mengambil tindakan bodoh, hal itu akan berpengaruh untuk karirnya, selain itu apa yang akan dipikirkan keluarga Sasuke pada dirinya nanti?.
"Kau tidak akan sanggup melakukannya, Sasuke, aku tahu itu." Hinata bergumam kemudian menghela napas.
"Kau tidak akan sanggup menerima hinaan dari para fansmu, kau akan kehilangan semuanya."
Hinata berpikir secara logika, Sasuke tidak akan berani mengungkap kebenaran, karena itu akan sangat berdampak pada Sasuke sendiri, banyak yang dipertaruhkan jika Sasuke tetap bersikeras.
"Oh,...ternyata aku sakit." Hinata menyentuh keningnya yang terasa panas, hidup seorang diri di rumah sebesar itu membuat Hinata begitu kesulitan, terutama jika dia sedang sakit, tidak ada yang membantunya walau hanya mengambilkan air minum untuk dirinya.
Dengan terpaksa Hinata mengambil air minum di dapur yang berada di lantai bawah, kepalanya terasa berdenyut, saat kedua kakinya yang berbalut sandal kelinci itu berjalan, selain itu tubuhnya juga terasa kedinginan karena memakai piyama tipis.
Setelah mengambil air minum Hinata bermaksud untuk meminum obatnya, tapi tiba-tiba ponselnya bergetar, Hinata yang duduk di tepi ranjang segera mengambil ponselnya yang berada di nakas.
"Hallo, Karin?, ada apa?." Hinata segera menjawab setelah mengetahui bahwa Karin yang menghubunginya.
'Hinata?, kau sedang apa?'
'Cepat nyalakan televisimu, di chanel 12!'
Karin terdengar panik di sebrang sana, dengan segera Hinata menyalakan televisi seperti yang di katakan Karin.
Hinata membulatkan matanya, wanita itu terkejut, chanel tersebut sedang menayangkan konfrensi pers yang sedang di lakukan Sasuke, pria itu tidak main-main dengan perkataanya.
"S-Sasuke, dasar bodoh, apa yang kaulakukan?" air mata Hinata jatuh dipipinya yang pucat.
'Besok datanglah ke studio, aku akan mengadakan konfrensi pers.'
Hinata memejamkan mata dan mengingat kembali ucapan Sasuke 2 jam yang lalu, bukankah Sasuke akan melakukannya besok?, tapi yang apa yang sedang terjadi sekarang?.
"Aku mengadakan konfrensi ini, untuk menjelaskan sesuatu."
Suara Sasuke mulai terdengar di televisi, Hinata mengalihkan tatapannya, Sasuke terlihat begitu tenang, pria itu duduk di kursi di depanya ada sebuah meja dengan banyak microfon yang berada diatasnya, beberapa lampu kamera terus menyala dari para wartawan yang sedang meliput, beberapa dari mereka juga mulai bertanya.
'Aku ingin mengklarifikasi tentang video Hinata Hyuga yang sebenarnya.'
'Jika kalian bertanya apakah aku ada kaitanya dengan video itu?, jawabannya tentu saja.'
'Dengan sadar dan tanpa paksakan aku akan mengakui sebuah kebenaran.'
'Ada sebuah kebenaran yang tidak terungkap.'
'Dimana seperti yang kalian tahu, bahwa pria yang bersama dengan Hinata di video itu adalah Uchiha Madara.'
'Perlu kalian tahu, berita itu tidaklah benar, karena yang sebenarnya pria yang bersama dengan Hinata adalah.'
'...Aku...'
'Uchiha Sasuke...'
Suara para wartawan mulai ricuh, tapi Sasuke tetap tenang, pria itu menjawab semua pertanyaan mereka semua, mereka terdengar tidak percaya, kenapa prodigy Uchiha dan bungsu Uchiha bisa terlibat skandal dengan wanita yang sama, selain itu Itachi Uchiha juga masih diketahui sebagai kekasih Hinata.
Hinata memejamkan mata, tanpa berpikir lagi dia segera pergi setelah mengganti pakaiannya, tidak lupa dia juga menyambar sebuah coat berwarna coklat untuk mengurangi rasa dingin, Hinata juga menghiraukan kalau dirinya sedang sakit.
Purple Lamborghini milik Hinata melesat dengan cepat menuju studio tempat biasa dirinya dan Sasuke mengambil gambar untuk majalah, sesampainya di tempat yang di maksud, Hinata segera menepikan mobilnya di tempat parkir yang sudah penuh.
Gedung agensi majalah itu di penuhi wartawan yang meliput konfrensi pers, atau sepertinya mereka semua datang karena di undang oleh Sasuke.
Saat keluar dari mobil, para wartawan yang masih berkumpul di setiap sudut gedung tersebut segera mengerubungi Hinata, tapi beruntung ada petugas keamanan yang dengan segera mendampingi Hinata, banyak pertanyaan yang mereka lontarkan tapi tidak satupun yang dijawab Hinata.
Di aula utama gedung tersebut juga masih banyak dari sebagian jurnalis dari pertelevisian atau media hiburan lainya.
Hinata sudah melewati lobi, di tempat itu Hinata juga bertemu dengan orang tua Sasuke yang sedang duduk di kursi empuk di salah satu sudut, mereka menatapnya dengan tatapan yang tidak terbaca.
"Hinata, cepat kesini." Hinata mengalihkan perhatian pada sumber suara, Tenten sedang menghampirinya, sepertinya Tenten juga hadir di tempat tersebut.
"Tenten, bisakah kau beritahu aku di mana Sasuke?" Hinata mulai bertanya, jujur saja semua kejadian ini membuatnya bingung, tapi yang pasti dia harus bertemu dengan Sasuke terlebih dahulu.
"Dia sedang mendapat masalah, saat ini pihak agensi sedang berdebat dengannya, Itachi juga." jawab Tenten.
"Apa?." Hinata sudah menduganya, Sasuke pasti mendapat banyak masalah.
"Sekarang mereka ada di ruang meeting, apa kau ingin kesana?, dan satu hal lagi Jiraiya-san ingin bicara denganmu diruanganya." Hinata memijat kepalanya yang berdenyut nyeri.
"Ya, Baiklah aku akan menemui Jiraiya-san dulu." Tenten menganggukan kepalanya, setelah itu Hinata segera pergi ke ruangan pria tua tersebut, sedangkan Sasuke, Hinata tidak tahu apa yang tengah dihadapi pria itu, kenapa masalah yang mereka alami semakin rumit.
Tok-tok...
Hinata mengetuk pelan pintu berdaun dua yang terbuat dari kaca, setelah mendengar sahutan dari dalam Hinata segera masuk.
Seorang pria paruh baya sedang duduk di kursi kebesaranya, Hinata menelan ludahnya, jujur saja dia merasakan gugup saat pria itu menatapnya.
"J-Jiraiya-san, anda memanggil saya?" tanya Hinata.
"Hn, duduklah Hinata.!" jawab Jiraiya sambil menggerakan dagu ke arah kursi, Hinata segera duduk.
"Selamat malam, Hinata?" ucap Jiraiya pria itu melihat ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Aku tidak akan berbasa-basi, aku ingin bertanya banyak hal padamu, apa yang dikatakan Sasuke di konfrensi itu benar?" tanya Jiraiya, Hinata ragu untuk menjawab tapi pada akhirnya dia menganggukan kepalanya.
"Apa kau memaksanya mengadakan konfrensi pers?"
"Tentu saja tidak, aku tidak pernah melakukan itu." sergah Hinata.
"Aku tidak tahu dengan apa yang terjadi pada kalian, tapi akibat dari semua ini majalah kita sekarang mendapat banyak masalah, banyak rumah produksi yang membatalkan kontrak dengan para model kita."
"Jadi dengan sangat terpaksa, Sasuke harus di berhentikan, aku akan memecat Sasuke." ucap Jiraiya, Hinata tidak percaya semua bisa terjadi, padahal Hinata tahu Sasuke sangat mencintai pekerjaanya sebagai model.
"Tapi bukankah masalah ini tidak ada hubunganya dengan kinerja Sasuke, dia sangat profesional, dan dia sudah memberikan banyak keuntungan untuk agensi majalah ini." Hinata menjawab panjang lebar.
"Aku mengerti, tapi skandal yang kalian buat membuat banyak rumah produksi merasa sangsi padanya."
"Dan untukmu, kami para pemegang saham tidak memutuskan untuk memecatmu tapi kau akan di berhentikan sampai masalah ini mereda." ucap Jiraiya, Hinata menghela napas.
"Aku mengerti kau punya hubungan khusus dengan Sasuke, tapi masalah ini bukan hanya tentang kalian, masih banyak model yang bernaung di sini, jadi kuharap kalian mengerti dan memberi kesempatan untuk yang lain." ucap Jiraiya.
"Sudah kukatakan masalah ini tidak berhubungan dengan pihak manapun, tapi jika ini sudah keputusan dari semuanya, aku akan menerima."
"Ternyata manusia hanya menilai dari yang mereka lihat, mereka cepat sekali menghakimi orang lain tanpa tahu hal yang sebenarnya." ucap Hinata dengan suaranya yang dingin.
"Kau dan Sasuke adalah model terbaik yang kami miliki, tapi maafkan aku, ini semua sudah di sepakati." Jiraiya tampak menyesal dengan perkataanya, tapi itu benar Hinata dan Sasuke adalah model terbaik di bandingkan model yang lainnya.
Hinata berjalan di lorong studio, pikiranya benar-benar kusut, setelah berbicara dengan Jiraiya dia berniat menemui Sasuke dan meminta penjelasan pada pria itu.
Rasa sakit dikepalanya kembali berdenyut, tapi Hinata menghiraukannya, sudah jam 1 dini hari, sepertinya sebagian wartawan sudah meniggalkan gedung tersebut, tapi masih ada juga yang masih berada di sana.
Hinata berdiri di depan pintu ruang tata rias, berdiam sejenak dan memikirkan semua masalah yang sedang di hadapinya, Hinata tahu Sasuke berada di ruangan tersebut karena salah seorang pegawai yang memberitahukanya.
Bughh...
Prakk...
'Hentikan kau bisa membunuhnya.'
Hinata terkejut di dalam sana ada seorang wanita yang berteriak, ditambah suara gaduh seperti suara benda atau sesuatu yang jatuh, dengan segera Hinata membuka pintu tanpa mengetuknya dulu.
Hinata membulatkan matanya, diruang tersebut ada keluarga Uchiha, Hinata terkejut didepanya Itachi sedang memukuli Sasuke, ayahnya kewalahan saat menghalanginya, sedangkan ibunya merengkuh Sasuke yang sudah terjatuh, pria itu terluka, hidung dan mulutnya sudah berlumuran darah, juga memar di bagian matanya.
"Hentikan Itachi, dia adikmu." Fugaku berteriak sambil mencekal Itachi yang meronta.
"Aku tidak peduli, bukankah sudah kukatakan, aku akan membunuh siapapun yang berani menyentuhnya." Itachi berteriak di hadapan Sasuke.
Itachi akan kembali melayangkan pukulan pada adiknya saat cekalan tangan ayahnya terlepas.
"Hentikaaann..." gerakan tangan Itachi terhenti, pria itu mengalihkan perhatian pada Hinata yang mulai menangis.
"Tolong, hentikan Itachi, kumohon." Hinata berucap di tengah tangisnya.
"Oh, kau tidak rela kekasihmu terluka, Hinata?." Itachi tampak menahan amarahnya.
"Sudah hentikan Itachi!, mau sampai kapan kau bersikap kekanakan seperti ini?" Mikoto mulai berteriak pada Itachi.
"Aku tidak mengerti kenapa kalian jadi seperti ini hanya karena seorang wanita?." Mikoto kembali berkata.
"Dan kau Hinata, kenapa kau kacaukan semuanya?, apa kau senang sekarang?." Mikoto berkata pada Hinata, wanita itu terlihat marah.
Sasuke dan Hinata saling menatap, rasa sakit di rasakan Hinata saat melihat tatapan Sasuke, pria itu menyampaikan kata maafnya melalui mata, Hinata tahu walaupun tidak berkata, Sasuke menatapnya penuh penyesalan.
SET...
Hinata merasakan tarikan di tanganya, sedikit sakit, Itachi mencekal tanganya, Hinata sedikit meringis karena genggaman Itachi.
"Katakan padaku!, apa benar dialah orang yang kau cintai selama ini?" ucap Itachi, rahangnya terlihat mengeras, sedangkan Mikoto menundukan kepalanya.
"Lepaskan dia, kau menyakitinya." suara Sasuke mulai terdengar, pria itu berusaha berdiri kembali.
"Diam, kau menusuku dari belakang, Sasuke!" Itachi berteriak, Hinata berusaha melepaskan cekalan tangan Itachi.
"Dan kau, berani sekali kau membodohiku Hinata, jadi selama ini kau melakukan semua demi dia?, pria yang sudah menyakitimu?."
"Tidak kusangka, selama ini ragamu berada didekatku, tapi pikiran, hati dan juga jiwamu hanya memikirkan orang lain?"
"Pantas saja kau selalu menolakku, kau tidak pernah melihatku karena di matamu hanya ada adikku yang brensek itu, benarkan?."
Itachi berkata dengan amarah yang meledak, Itachi merasa kecewa pada Hinata dan juga adiknya.
"Aku tidak pernah mempermainkanmu, kau juga tahu itu, selama ini aku belajar untuk mencintaimu, tapi,...tapi..." Hinata mencoba menjelaskan.
"Tapi kenapa, huh?, karena kau mencintainya?, ingin bersamanya?."
"Cih, tega sekali, apa kau tahu betapa terhinanya aku, kau tidak menghargaiku, aku selalu bersabar menghadapimu yang selalu menolak diriku, tapi apa balasanmu?, kau melempar kotoran di wajahku, Hinata?." Itachi menaikkan nada suaranya.
"Jangan menyalahkannya, brengsek!, aku yang salah." suara Sasuke kembali terdengar, dengan tertatih Sasuke menghampiri Itachi yang masih menggenggam tangan Hinata.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya." Sasuke menarik kerah kemeja yang dipakai Itachi.
"Kau sudah menipuku, dan aku percaya padamu seperti orang bodoh." Itachi masih menatap Hinata dan tidak mempedulikan tarikan di kerahnya, sedangkan Hinata sedikit panik karena takut kedua pria itu saling memukul.
"Sungguh licik, kau bersikap seperti seorang korban yang teraniaya, dan kupikir kau yang paling tersakiti, tapi kenyataanya kaulah yang paling berbisa, kau meracuni pikiran semua orang." lanjut Itachi.
SET...
Mikoto menarik tangan Hinata dan terlepas dari Itachi, Mikoto juga melepaskan tangan Sasuke yang masih menarik kerah kemeja Itachi.
"Kalian berdua, sudah hentikan ini!" ucap Mikoto, wanita itu berdiri di tengah kedua putranya, sedangkan Fugaku menggandeng Hinata sedikit menjauh dari kedua putranya, Fugaku merasa iba pada Hinata yang gemetaran.
"Ibu benar, dia bukan wanita yang baik, dia hanya wanita murahan." ucap Itachi sambil menatap ibunya.
"Diam..."
"Itachiii..."
Plakk...
Semua orang terdiam, Hinata terkejut sambil menutup mulutnya, Fugaku juga merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Itachi mengusap pipinya yang memerah, Mikoto baru saja menamparnya begitu keras.
"Ibu...?" Sasuke menatap heran pada ibunya.
"Ibu sudah muak dengan semua ini."
"Aku tidak menyangka ternyata kedua putraku sangat pengecut, kau dan kau juga sama." ucap Mikoto sambil menunjuk pada kedua putranya.
"Hinata, aku ingin berbicara denganmu, ikut denganku sekarang, dan suamiku kau jaga dua pria bodoh ini, jika mereka berkelahi lagi jangan ragu untuk melakukan tugasmu." ucap Mikoto pada Hinata dan Fugaku.
Mikoto menarik tangan Hinata secara paksa dan membawanya segera keluar dari ruangan tersebut.
Setelah kepergian Mikoto dan Hinata, ketiga pria tersebut hanya terdiam, Sasuke menyandarkan tubuhnya pada dinding kemudian terduduk di lantai, sedangkan Itachi masih berdiri di tempat semula.
"Memalukan, kalian berdua sudah menyakiti seorang wanita, pengecut sekali." ucap Fugaku sambil menyilangkan tangan di dada, tatapanya juga terlihat tajam, Itachi dan Sasuke tidak menjawab, mereka tahu ayahnya memang jarang berbicara, tapi saat pria paruh baya itu marah, tidak ada yang berani melawannya.
"Baiklah, kalian bukan anak-anak yang harus kuajari lagi, tapi sebagai seorang ayah aku merasa kecewa pada kalian, derajat kalian sebagai pria sangat rendah di mataku." ucap Fugaku dengan suara yang begitu dingin.
"Setelah ini, aku ingin kalian berdua menyelesaikan masalah ini, terutama kau Sasuke, dan kau Itachi berhentilah bersikap kekanakan."
"Apa kalian tidak merasa malu sudah mempermainkan seorang wanita seperti Hinata, pikirkan baik-baik semua perkataanku dan bertanggung jawablah pada perbuatan kalian." Sasuke dan Itachi terdiam mendengar ucapan ayahnya.
Secret Passion.
Hinata memijat kepalanya yang terasa sakit, kejadian yang baru di lewatinya membuatnya ketakutan, tubuhnya terasa lemas dan gemetaran, selama hidupnya Hinata belum pernah melihat perkelahian secara langsung, saat melihat Sasuke yang berdarah Hinata menyadari betapa mengerikanya sesuatu yang dinamakan kekerasan.
"Ini..." Hinata menatap tidak percaya pada Mikoto, wanita itu memberinya secangkir teh hangat.
"Apa?, ini hanya teh, minumlah, wajahmu terlihat pucat." ucap Mikoto dengan nada suara yang tedengar biasa, sekarang mereka berdua duduk di sebuah sofa, di salah satu ruangan.
Hinata bingung, biasanya wanita bernama Mikoto itu tidak pernah bersikap baik padanya, saat ini ibu dari Sasuke itu bersikap biasa dan tidak menunjukan tatapan sinisnya.
Hinata menyesap teh hangatnya, terasa nyaman di tubuhnya yang kedinginan, selama ini Hinata tidak mendapat kasih sayang dari ibunya, dan Mikoto mengingatkan dirinya pada sosok ibunya yang akan di temuinya besok di Maldives.
"Aku hanya seorang ibu yang menginginkan kebahagiaan untuk anaknya." Mikoto membuka suara.
"Mungkin kau berpikir aku adalah seorang wanita angkuh, sombong dan menyebalkan." lanjut Mikoto, dua wanita itu duduk bersisian di sofa panjang tersebut.
"Ny-Nyonya aku,..." Hinata mulai berbicara walaupun terdengar gugup, memang benar selama ini Hinata menganggap Mikoto selalu membencinya.
"Tidak, biarkan aku yang bicara, Kau, Sasuke, Itachi termasuk aku dan suamiku, kita semua sudah salah paham satu sama lain, kau pasti berpikir aku tidak tahu apapun tentangmu dan Sasuke, tapi perlu kau tahu, aku tahu semuanya melebihi orang lain." Mikoto berkata panjang lebar, Hinata menekuk alisnya karena tidak mengerti dengan ucapan Mikoto.
"Kau pasti tidak mengerti, aku memahami itu, kita baru bertemu dua kali dan kali ini adalah yang ketiga, benarkan?" Hinata mengangguk pelan.
"Kau pasti beranggapan kalau kita tidak saling mengenal, tapi kau harus percaya padaku, kalau aku sudah mendengar dan mengetahui namamu sejak 8 tahun yang lalu." Hinata sedikit terkejut dengan ucapan Mikoto.
"Aku ini seorang ibu yang selalu mendengar keluh kesah anak-anakku, saat mereka bahagia, sedih, tersakiti, kecewa dan jatuh cinta." ucap Mikoto, ada senyum kecil di wajahnya, Hinata berusaha mencerna apa yang di katakan Mikoto walau tetap saja dia tidak mengerti, wanita yang selalu menganggap rendah dirinya itu terlihat ramah.
Flashback.
...8 tahun yang lalu...
Senandung kecil terdengar dari bibir seorang wanita yang sedang merapikan rumahnya, sebentar lagi putra bungsunya akan pulang dari sekolah, sedangkan putra sulungnya sedang pergi ke luar kota, untuk pengambilan gambar syuting film pertamanya dan suaminya akan pulang saat makan malam.
Mikoto mendengar suara mesin sepeda motor yang berhenti di depan mansionnya, dari balik jendela kaca dia melihat keluar, senyumnya mengembang saat melihat putra kesayangannya tiba di rumah dengan selamat.
"Aku pulang..." Mikoto mendengar suara anaknya yang sudah membuka pintu, wajah tampan itu di hiasi senyuman indah, pemuda itu juga bersiul seperti sedang bahagia, sudah lebih dari satu minggu Mikoto memperhatikan tingkah putranya itu.
"Selamat datang, hm...sepertinya putraku sedang bahagia." Mikoto berucap tanpa melihat Sasuke, wanita itu sedang duduk di sofa ruang keluarga.
"Eh?,...ibu?, sedang apa ibu disini?." Sasuke menghampiri ibunya kemudian duduk di sisinya.
"Ibu sedang menunggu anak ibu pulang!, dan sepertinya anak ibu tidak menyadarinya." ucap Mikoto dengan suaranya yang penuh canda.
"Ibu lihat akhir-akhir ini kau sepertinya sedang bahagia, apa ada sesuatu yang membuatmu bahagia?" tanya Mikoto, wajah Sasuke sedikit bersemu saat mendengar pertanyaan ibunya.
"Ah, ibu tidak ada apa-apa." jawab Sasuke.
"Benarkah?, jangan-jangan kau sedang memikirkan kekasihmu ya?" tanya Mikoto lagi.
"Tidak, aku belum punya kekasih." jawab Sasuke disertai tawa kecil.
"Belum?, ah berarti kau sudah ada rencana mau punya kekasih ya?" Mikoto merasa senang menggoda putranya.
"Rahasia..." jawab Sasuke, pemuda itu beranjak dan segera pergi kekamarnya.
Mikoto menggelengkan kepala melihat tingkah putranya, hari-hari berikutnya Sasuke terlihat sama pemuda itu terlihat bahagia, mungkin benar pemuda itu sedang jatuh cinta, dan itu membuat Mikoto penasaran gadis seperti apa yang disukai putranya.
"Sasuke, boleh ibu bertanya?."
"Hn, tentu saja, memangnya ibu ingin bertanya apa padaku?." jawab Sasuke, ibu dan anak itu sedang bersantai di paviliun belakang rumahnya.
"Ibu ingin tahu siapa gadis yang kau sukai itu?, dan siapa namanya?" ucap Mikoto dengan tatapan curiga.
"Apa?, i-ibu ini bicara apa aku tidak mengerti."
"Ibu tahu, selama ini kau suka memandang foto seorang gadis di ponselmu, kau tersenyum sendiri, terkadang kau juga melamun,... sudahlah, kau tidak bisa bohong pada ibu, katakan siapa gadis beruntung yang sudah mengambil hatimu?" Sasuke tampak malu, ternyata selama ini dia diawasi ibunya.
"Aku, dia, foto itu, dia teman satu sekolahku, dia adik kelasku." ucap Sasuke dengan ragu.
"Hm?,...siapa namanya?, apa dia cantik?." Mikoto kembali bertanya.
"Iya, dia sangat manis, dia sedikit pemalu, tapi dia juga sangat baik, berbeda dengan gadis lainnya, dia gadis yang sederhana, tidak suka menonjolkan dirinya."
"Dan namanya adalah, ...Hinata, Hyuga Hinata,..." jawab Sasuke dengan senyuman kecil di wajahnya, melihat ekspresi Sasuke, Mikoto tahu bahwa anaknya sangat menyukai gadis bernama Hinata tersebut.
Banyak waktu yang sudah di lewati, Mikoto masih melihat tingkah Sasuke dan tetap sama, sebenarnya Mikoto sangat penasaran dengan gadis bernama Hinata, maka tanpa sepengetahuan Sasuke wanita itu mendatangi sekolah anaknya hanya untuk melihat gadis yang dimaksud.
"Permisi, apa kau mengenal Hinata Hyuga?, dia kelas 2A?." Mikoto bertanya pada salah seorang murid yang lewat di depan gerbang sekolah.
"Ya, nyonya saya tahu,...itu dia, gadis yang rambutnya panjang berponi yang sedang berjalan bersama dua temannya." jawab seorang pemuda dengan model rambutnya yang aneh.
"Terima kasih." ucap Mikoto pada pemuda tersebut.
Setelah pemuda itu pergi, Mikoto memusatkan perhatiannya pada gadis yang di tunjukan tadi, gadis itu berjalan dan lewat di depannya.
"Permisi nyonya." gadis itu berkata pada Mikoto yang menghalangi jalannya, gadis itu memang cantik, saat tersenyum dia terlihat manis dan gadis itu juga sangat sopan, berbeda dengan temannya yang lewat begitu saja.
Mikoto tersenyum kemudian menyingkir dari pintu gerbang sekolah.
'Jadi gadis itu yang di sukai Sasuke?, hm...pantas saja.'
Mikoto bergumam, gadis itu memang sesuai dengan selera anaknya, Sasuke tidak suka gadis yang cerewet, dan sepertinya Hinata tidak seperti itu.
Setelah tahu siapa Hinata, Mikoto sering sekali menggoda Sasuke, seperti bertanya kapan Sasuke akan membawa Hinata kerumahnya atau hal-hal kecil lainya yang berhubungan dengan Hinata.
"Ibu, kakak mendaftarkanku ikut casting model tanpa sepengetahuanku, dan parahnya aku sudah di pilih menjadi model utamanya." ucap Sasuke sambil memijat kepalanya.
"Benarkah?, itu bagus, kau sangat tampan jadi sudah sepantasnya kau menjadi model utama." Mikoto terdengar senang.
"Bukan itu masalahnya, kakak menjadikanku model di agensi majalah pria dewasa." Sasuke terdengar kesal.
"Apa?, Itachi sudah keterlaluan, sudah batalkan saja." ucap Mikoto dengan marah, anak sulungnya Itachi selalu berbuat semaunya.
"Tidak bisa, Baka Itachi sudah menandatangani surat kontraknya, dia bertindak sebagai managerku bu." Mikoto terkejut, selama ini Sasuke selalu mengalah pada kemauan kakaknya.
Sebenarnya Sasuke tidak mau menjadi model, tapi sikap aneh kakaknya membuat Sasuke terpaksa melakukan apa yang pria itu mau, jika tidak di turuti Itachi akan marah dan menganggap Sasuke tidak berguna.
Perlu waktu yang lama untuk Sasuke beradaptasi dengan dunia modeling, walaupun sebenarnya para potografer tidak kesulitan untuk mendapat gambar terbaik dari Sasuke, mereka selalu merasa puas dengan hasil gambarnya.
Pada akhirnya Sasuke terbiasa dengan pekerjaanya, selain mendapat uang banyak Sasuke juga mendapat pengalaman lain, tapi menurut pandangan Sasuke tetap saja mereka yang menjadi model majalah pria dewasa terlihat rendah di matanya, terutama bagi para wanita, menurut Sasuke mereka hanya mempertontonkan aset tubuh yang mereka miliki demi uang dan ketenaran, sangat murahan bukan?.
Brakk...
Mikoto terlonjak mendengar suara pintu yang dibanting keras, Mikoto melihat Sasuke yang terlihat marah, rahangnya terlihat mengeras.
"Ya ampun Sasuke kau membuat ibu terkejut, ada apa?." Mikoto mengikuti Sasuke yang pergi ke kamarnya, pemuda itu membanting jas yang sudah di bukanya tadi, Sasuke juga melempar cermin dengan ponselnya sendiri, napasnya terengah, matanya memerah dan rahangnya mengeras.
"Sasuke ada apa?, kenapa kau seperti ini?." Mikoto berkata lirih, belum pernah sekalipun dia melihat Sasuke semarah itu, Sasuke pemuda yang baik, dia sangat sopan dan menurut pada ibunya.
"Aku kecewa ibu, kecewa sekali, kupikir dia berbeda dengan yang yang lain, tapi ternyata dia sama saja dengan wanita murahan yang lainya." suara Sasuke terdengar bergetar menahan amarah.
"Apa?, siapa yang kau bicarakan?." tanya Mikoto penasaran, Sasuke tidak menjawab pemuda itu meremas rambutnya.
"Hari ini aku berencana untuk menyatakan cintaku, tapi,...aku sungguh tidak percaya, dia..." Sasuke menahan suaranya yang terasa berat, dari sudut matanya yang merah terlihat genangan air mata yang siap meluncur.
Akhirnya Mikoto tahu bahwa yang sedang dibicarakan Sasuke adalah Hinata, Sasuke menceritakan tentang Hinata yang mengikuti audisi model, Mikoto juga terkejut mendengarnya, padahal yang Mikoto lihat sepertinya Hinata bukan gadis yang suka memperlihatkan tubuhnya, gadis itu terlihat sopan dalam berpakaian.
"Apa kau sangat menyukai gadis itu, Sasuke?." Mikoto kembali bertanya, Sasuke terdiam cukup lama, Mikoto tahu jawabanya, Sasuke sangat menyukai gadis bernama Hinata.
"Tidak, aku tidak menyukai siapapun, semua wanita sama saja, di mataku tidak ada yang suci diantara mereka, semuanya munafik, aku benci, aku sangat membencinya." tatapan Sasuke berubah dingin.
Sifat Sasuke berubah sejak saat itu, pemuda itu sering membawa gadis berbeda di setiap minggunya, Sasuke juga mulai tinggal di apartement miliknya, sikap Sasuke tidak berbeda dengan Itachi sekarang, playboy, pembangkang dan Sasuke juga mulai mabuk dan merokok, sebenarnya Mikoto juga kecewa pada gadis bernama Hinata, ucapan Sasuke benar adanya, gambar Hinata sering dia lihat di televisi atau majalah yang memuat artikel yang menjijikan menurutnya.
Mikoto juga sering melihat gambar Hinata yang berpose intim dengan model pria lainya, Mikoto menggelengkan kepalanya karena tidak percaya.
Beberapa tahun berlalu keadaan masih sama, sering sekali Mikoto berbicara dengan suaminya dan meminta pendapat untuk menghadapi masalah anak-anaknya.
"Itachi kapan kau menikah, setelah berpisah dengan Yugao, kau tidak terlihat berpacaran lagi, dan kau Sasuke kapan kau mem,...bawa kekasihmu." Mikoto berucap ragu pada Sasuke.
"Sasuke sudah punya calon bu, seorang dokter, teman sekelasnya dulu, Sakura Haruno, benarkan baka?." ucap Itachi sambil menggoda Sasuke.
"Benarkah?, dia pasti gadis baik-baik iya kan?" Mikoto berucap senang tapi Sasuke masih tidak menjawab.
"Gadis itu yang menyatakan cinta pada si baka ini." ucap Itachi lagi.
"Aku tidak suka padanya." jawab singkat Sasuke, Mikoto menatap Sasuke rupanya putranya itu masih menutup hatinya untuk yang lain.
"Benarkah?, tapi kalau aku,. aku sudah punya calon, aku berencana menjadikannya kekasihku." ucap Itachi dengan senyum penuh artinya.
"Dan kau sangat mengenalnya, dia adalah Hinata salah satu model terbaiku." Sasuke menghentikan gerakan tanganya yang akan menyuap makanan.
"Apa?, kau gila Itachi?, ibu tidak setuju." Mikoto melihat Sasuke yang terdiam.
"Aku tahu ibu tidak akan suka, aku tahu Sasuke juga selalu bersikap buruk padanya, Sasuke sangat membenci Hinata, tapi aku suka padanya, dan tidak ada yang bisa menghalangiku." ucap Itachi tanpa beban.
"Lakukan apa yang kau inginkan, kalau begitu aku juga akan menerima Sakura Haruno sebagai kekasihku." ucap Sasuke, pria itu beranjak dan pergi begitu saja tanpa menghabiskan makanannya.
Mikoto menjadi kesal Hinata sudah menjadi biang masalah untuk kedua putranya.
Mikoto bersyukur akhirnya sikap Sasuke sedikit lebih baik semenjak Sakura menjadi kekasihnya, mungkin putranya itu sudah melupakan perasaanya pada Hinata, wanita bersurai pink itu sering sekali berkunjung kerumahnya walau Sasuke sedang tidak ada, mau tidak mau Mikoto menjadi akrab dengan Sakura, wanita itu pandai berkata manis.
Saat Itachi membawa Hinata kerumahnya untuk pertama kali, entah kenapa Mikoto merasa kesal pada Hinata, saat itu Mikoto mengundang kedua putranya untuk makan malam, kebetulan Sasuke membawa Sakura, sepanjang makan malam Hinata selalu terdiam dan menunduk, Mikoto menganggap Hinata tidak suka berkumpul bersama dengan keluarganya, jadi Mikoto hanya bertanya pada Sakura dan sesekali menyindir Hinata.
Hanya saja ada yang Mikoto khawatirkan, hubungan Itachi dan Sasuke juga memburuk, mereka sering sekali berdebat dan bertengkar saat nama Hinata di sebut, suasana rumah menjadi panas saat mereka ribut karena wanita itu, Hinata membawa pengaruh buruk pada kedua putranya.
Dan puncak dari masalah mereka adalah video skandal Hinata dan Sasuke, Itachi murka saat Sasuke akan mengadakan konfrensi pers.
...Pukul 10 malam...
"Oi, baka Otouto kau dari mana saja?" tanya Itachi yang sedang bersantai di ruang tv bersama ayah dan ibunya.
"Rumah Hinata..." jawab Sasuke singkat, Itachi sangat terkejut mendengarnya.
"Apa?, untuk apa kau kesana?." Itachi kembali bertanya.
"Menemuinya." jawab Sasuke.
"Sasu,.."
"Aku ingin bicarakan hal penting dengan kalian." Sasuke kembali berucap dan memotong perkataan Itachi.
"Pukul 11 nanti datanglah ke studio, kalian akan tahu." ucap Sasuke kemudian pria itu pergi lagi entah kemana.
"Oi, baka, mau kemana lagi?" Itachi berteriak memanggil Sasuke.
"Itachi, sudahlah, apa kau tidak melihat wajah adikmu yang sangat serius?." ucap Fugaku.
"Sepertinya kita memang harus pergi ke sana, tapi entah kenapa aku merasakan firasat buruk." ucap Mikoto sambil mengusap dadanya.
Pukul 11, keluarga Uchiha sudah berada di gedung agensi, banyak wartawan yang di undang, Mikoto merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan Sasuke.
Dan firasatnya benar saat Sasuke mengungkap kenyataan tentang video Hinata, Mikoto dan Fugaku sangat terkejut, terutama Itachi, jujur saja Mikoto merasa takut, apa yang sebenarnya terjadi antara Hinata dan kedua putranya.
Saat konfrensi pers selesai, pihak agensi segera memanggil Sasuke, Itachi juga ikut serta, Mikoto sangat ketakutan saat melihat tatapan kebencian Itachi pada Sasuke.
Mikoto dan Fugaku menunggu Sasuke di lobi, mereka melihat Hinata yang baru saja datang, wanita itu tampak panik, wajahnya pucat, rambutnya juga tampak kusut, untuk pertama kalinya Mikoto merasa iba pada Hinata, jika Hinata mau wanita itu bisa saja mengungkap kebenaran sendiri dan menuntut atas pencemaran nama baik, tapi kenapa Hinata memilih diam?, dan jika Hinata mau dia bisa menuntut pertanggung jawaban dari Sasuke.
Setelah urusan dengan pihak agensi selesai, keluarga Uchiha berkumpul di salah satu ruangan tata rias, Sasuke menceritakan semua dari awal, bagaimana masalah tersebut bisa terjadi, Mikoto melihat keputus asaan di mata Sasuke.
Sasuke juga menceritakan tentang cinta Hinata, Mikoto menutup mulutnya karena tidak menyangka, Hinata berbuat sejauh itu untuk anaknya, gadis yang dinilainya rendah, ternyata begitu mencintai putranya.
"Brengsek, berani sekali kau menghianatiku Sasuke." Itachi tiba-tiba saja menyerang dan memukuli Sasuke.
"Aku dan Hinata tidak menghianatimu, apa kau lupa kau tidak punya hubungan apa-apa lagi dengannya." ucap Sasuke, Itachi semakin marah dan menghajar Sasuke.
"Hentikan..." Mikoto berteriak, Fugaku tidak bisa menahan tubuh Itachi yang sedang mengamuk, Sasuke sudah terluka tapi Itachi belum ingin berhenti memukuli adiknya.
"Biarkan saja ibu, biarkan dia berbuat semaunya, bukankah selama ini Itachi selalu memaksakan kehendaknya padaku." ucap Sasuke sambil mengusap darah di bibirnya.
"Baiklah kau harus menerima hukumanmu, Sasuke." Itachi menarik tubuh Sasuke.
"Hentikan kau bisa membunuhnya." Mikoto berteriak pada Itachi.
Bughh...
Prakk...
Tubuh Sasuke terhempas pada meja rias, barang-barang yang berada di atas mejapun berserakan bersama tubuh Sasuke yang tersungkur, Mikoto segera menghampiri Sasuke, sedangkan Fugaku segera mencekal Itachi.
Brakk...
Pintu terbuka secara kasar, Hinata berdiri di depan pintu dengan tatapan terkejut, Mikoto melihat Hinata yang menangis.
Flashback end.
Teh hangat yang diberikan Mikoto sudah habis, Hinata melihat Mikoto yang masih terdiam dari tadi, Hinata enggan untuk membuka suara karena gugup, jauh di dalam lubuk hatinya Hinata merasa malu, Mikoto pasti menganggapnya sudah menjebak kedua putranya.
"Sasuke, sudah menceritakan semua padaku, tentang alasanmu menjadi model, apa benar itu karena Sasuke?, yang tidak kumengerti kenapa kau menerima Itachi sebagai kekasihmu sementara kau mencintai adiknya." tanya Mikoto, Hinata menelan ludah, air matanya kembali mengalir, rasanya sakit sekali saat mengingat hal itu.
"Apa kau marah karena Sasuke memperlakukanmu dengan buruk?, apa kau ingin membalasnya?." Mikoto bertanya lagi, ingin rasanya Hinata berhenti menangis tapi air matanya terus mengalir.
"Maafkan aku nyonya, tapi aku tidak berniat membalas perbuatan siapapun, aku juga tidak berniat untuk mempermainkan Itachi."
"Memang benar selama ini aku mencintai putra anda yang lain, aku menerima Itachi karena kupikir bisa melupakan Sasuke dan mencintai Itachi, tapi ternyata aku tidak bisa melakukanya walaupun aku sudah belajar untuk mencintai Itachi." Hinata menutup wajahnya dengan kedua tangan, Mikoto mendengar isakan Hinata, betapa menderitanya wanita muda itu selama ini, kedua putranya sudah menyakitinya.
"Waktu itu, aku marah karena Sasuke berkata kasar padaku, aku tidak tahu kalau semua akan berakhir seperti ini."
"Apa kau masih mencintai Sasuke?" Hinata terdiam, betapa menyakitkannya cinta yang dia rasakan, tapi Hinata harus mengakhirinya.
"Aku tahu jawabanya." ucap Mikoto setelah melihat ekspresi di wajah Hinata.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?." tanya Mikoto, Hinata tidak menjawab dan menundukan kepalanya.
"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Sasuke dan Itachi, aku juga tidak tahu harus berbuat apa, aku tidak bisa membela salah satu dari mereka, hanya kau yang bisa melakukannya, semua keputusan ada di tanganmu Hinata." Mikoto kembali berucap.
"Aku mengerti, aku sudah punya rencana sejak awal, bahkan sebelum hal ini terjadi."
"Jadi anda jangan khawatir, keputusanku akan menjadi yang terbaik untuk semua." ucap Hinata sambil mengusap air matanya.
"Terima kasih, dan... sungguh aku meminta maaf atas nama kedua putraku dan juga diriku, kau sudah tersakiti oleh kami semua." Mikoto menggenggam tangan Hinata yang sedikit terasa panas.
Secret Passion.
"Ibu, dimana Hinata?" Sasuke segera beranjak dari duduknya setelah Mikoto datang kembali.
"Dia sudah pergi." jawab Mikoto, Sasuke tampak terkejut.
"Apa?, kenapa ibu membiarkan dia pergi, aku harus bicara dengannya." ucap Sasuke dengan sedikit emosi.
"Aku harus pergi menemuinya." Sasuke bermaksud melangkah tapi tangan ibunya membuat dia berhenti.
"Sasuke, Hinata tidak ingin menemuimu, beri dia waktu, saat ini Hinata ingin sendiri, mengertilah." ucap Mikoto, hatinya terasa sakit melihat Sasuke yang putus asa.
"Dia pasti membencimu." Itachi bersuara dan memperburuk keadaan, Sasuke menundukan kepalanya.
"Tak bisakah kau diam, apa kau tidak mendengar yang kuucapkan tadi." Fugaku menatap tajam Itachi.
"Sebaiknya kita pulang, kau bisa menemui Hinata pagi nanti." Mikoto menggandeng tangan Sasuke, sepertinya pria itu tidak peduli pada luka-lukanya karena yang di pikirkannya hanya Hinata.
Secret Passion.
Itachi berdiri kembali di atap gedung pencakar langit milik Uchiha Corp, dimana sepupunya yang bernama Madara menjadi seorang CEO di tempat tersebut, dasar bodoh bukannya tidak mampu untuk membayar sebuah tempat, tapi Itachi merasa nyaman berada di tempat itu, di mana angin bertiup kencang dan menurutnya itu membuat perasaan menjadi tenang.
"Tak bisakah kita bicara di kantorku saja, aku sibuk." ucap Madara, pria itu baru saja datang menghampiri Itachi.
"Kenapa?, apa lift di gedung ini rusak dan kau kemari dengan naik tangga?." tanya Itachi dengan senyum meremehkan.
"Ck, gedung ini punya fasilitas terbaik, jangan bicara sembarangan." Madara berdecak sambil memutar bosan matanya.
"Perkataanmu yang waktu itu, ternyata semua benar." Itachi membuka suara setelah beberapa saat terdiam, Itachi yakin Madara sudah mengetahui kabar tentang Sasuke.
"Aku yakin kau menghajar adikmu sampai babak belur." ucap Madara penuh sindiran.
"Aku tidak bisa menahan diriku."
"Rasanya aku sangat marah, mereka menginjak harga diriku." Itachi mengusap wajahnya kasar.
"Ada banyak yang tidak kuketahui tentang mereka, cih, bodoh sekali, ... cinta Hinata, cinta Sasuke, semua membingungkan, apa ini balasan untukku?." Madara tertawa mendengar ucapan Itachi.
"Kau menyebutnya balasan, mungkin benar, selama ini kau memaksakan kehendakmu dan sekarang keadaan berbalik, kau yang dipaksa menerima kenyataan."
"Bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya, cinta Hinata yang begitu besar untuk si bodoh itu, dan si bodoh itu juga pernah mencintai Hinata." ucap Itachi dengan senyum kecut.
"Itu rahasia hati mereka, bantulah mereka dengan berlapang dada." Madara menepuk pundak Itachi.
"Aku tidak mau, biarkan si bodoh itu menyelesaikan masalahnya sendiri, dia pasti punya caranya sendiri untuk mendapatkan maaf dari Hinata, dan jika Hinata tidak mau, maka dia harus lebih bekerja keras lagi." ucap Itachi di sertai senyuman mengejek.
"Setelah ini aku akan liburan saja." ucap Itachi lagi.
"Kau memang brengsek, adikmu kena masalah tapi kau malah ingin bersenang-senang, dasar tidak berguna dan kekanakan." ucap Madara, pria itu pergi meninggalkan Itachi.
"Hei, Sasuke sudah dewasa, aku tidak mau ikut campur,...hei..kau mau kemana, aku belum selesai." Itachi berteriak dan menyusul Madara, setelah itu terdengar canda tawa dari mereka saat memasuki pintu atap gedung tersebut.
Mungkin yang di katakan semua orang memang benar, Itachi kekanakan, tapi untuk masalah ini pria itu tidak bisa memaksa, apalagi yang di harapkan, apakah Itachi harus memaksa wanita yang tidak mencintainya, atau dia harus menghajar adiknya lagi karena cemburu dan kemarahan, jika hal tersebut di lakukanya bukankah itu lebih kekanakan?, terkadang pria sejati harus menerima kekalahan walaupun itu sangat memalukan.
...
Sasuke menyendiri di balkon kamarnya, memikirkan semua yang terjadi, Sasuke tidak tahu harus berbuat apa, Hinata sudah pergi meninggalkanya, Sasuke tidak tahu kemana wanita itu pergi, tidak ada yang memberi tahunya, sudah seminggu sejak malam di adakanya konfrensi pers, pagi harinya Sasuke segera menemui Hinata ke rumahnya, tapi wanita itu sudah tidak ada, apa benar Hinata tidak mengharapkannya lagi?.
Sasuke meremas rambutnya, dia tidak menyadari air matanya sudah menetes, sesak yang dia rasakan begitu menyiksa, inikah yang dirasakan Hinata selama ini, menahan rindu, menahan air mata, ingin sekali rasanya menemukan wanita itu dan mengatakan kalau dirinya juga pernah merasakan cinta yang sama.
'Apa kau menghukumku?, di mana kau saat ini?, kenapa kau pergi seperti ini?.'
'Kembalilah, cintai aku lagi, kumohon Hinata.'
'Aku tidak akan bisa seperti dirimu, aku tidak sanggup menahan semua begitu lama.'
'Maafkan aku, maafkan aku.'
Ada begitu banyak kata yang ingin Sasuke katakan, apapun hukumanya akan Sasuke terima, pria itu tidak ingin membuang waktu dengan menunggu, karena menunggu adalah pekerjaan yang paling berat.
'Aku akan menemukanmu, aku tidak akan menunggumu karena aku yang akan datang kepadamu.'
Sasuke beranjak, hari ini Sasuke memutuskan untuk tidak menyerah, Sasuke akan menyalakan kembali pelita harapan yang hampir padam, menjemput kembali apa yang sudah di tinggalkanya, dan berharap semua belum terlambat.
To be continue.
Hai...hai...
Chap 8 nich...
Perasaan makin ga asik banget ff ini ya ampuuunnn..
Ga bakalan banyak ngomong...
Maaf ya reader, aku lagi dalam mood yang benar2 lagi di angka 0... (bungkuk2)
My RL lagi sibuk, bisnisku g lancar, apa yang di rencanakan tidak semudah yang di pikirkan...hwaaaa...
Aku lagi kecewa sama orang2 di sekitarku, malah curcol nich author, klo reader mah g mau tau yg penting cerita lanjut yuuu capsusss...
Gomenee...telat update
Ok,...yosh...aku cuma bisa bilang terima kasih untuk semua pembaca yang sudah mendukung, aku ga tahu harus memberi apa pada kalian sebagai rasa terima kasih...karena dukungan kalian sangat membantu...
Teima kasih banyak... aku sayang kalian semua...
Oh ya kmrin aku sempat ganti penname tapi semenjak itu aku jadi males bka ff, jadi aku balik lagi dech sama yg dulu...hehe...dasar labil...
ternyata ngaruh juga ya?...
Ok...c u next chap...by...
Salam aisyaeva...
