Naruto Disc Mr, MK
Secret Passion
Sasuke, U dan Hinata, H
Rate M
Drama/Romance.
Typo(s), OOC, AU, EYD yang tidak sesuai, gajeness, dan banyak lagi kekurangan lain di fict ini.
Happy reading.
...setelah satu jam...
'Sasukee...'
'Hinata...'
Sasuke mengusap peluh yang ada di kening Hinata, bibirnya mengecup dan mengecup lagi bibir manis yang membengkak.
'Kita lakukan sekali lagi.' ucap Sasuke, pria itu membelai helaian indigo Hinata yang sedikit basah, wanita itu tidak menjawab, wanita itu hanya menatap penuh damba, tangan lentiknya menyentuh wajah pria yang ada di hadapanya, tidak hanya itu, jemarinya juga menyusuri bibir pria itu dengan lembut, dan dia mendapat balasan berupa kecupan di jari tanganya.
'Aku akan memulainya.' Sasuke memposisikan diri di hadapan Hinata, wanita itu memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya saat Sasuke kembali menyatukan dirinya.
'Aahh...' rintihan pelan di dengar Sasuke, betapa malu-malunya gadis ini, gadis? ya dia masih gadis, dia masih perawan, gadis ini menahan desahannya, dia tidak terbiasa, dia belum pernah melakukanya, Sasuke memahami itu semua.
'Sebutlah namaku Hinataah...' ucap Sasuke menahan gairah, gadis itu menggelengkan kepalanya, Sasuke menciumnya lembut.
'Sebutlah namaku, sayang.' Sasuke menatap Hinata.
'Sukee..'
'Sasu,...keee..'
Sasuke melepas hasrat sampai titik terdalam, betapa nikmat yang dia rasakan, entah ini mimpi rasanya seperti bermimpi kau bercinta dengan orang kau 'benci?' entahlah pemikiranya salah selama ini, gadis wanita yang berada di bawahnya itu bukan wanita yang selalu direndahkanya, gadis wanita itu sangat istimewa dan berharga.
Helaan napas halusnya membuat Sasuke terpana, sebelum terjatuh tidur Sasuke mencium pipi Hinata yang sedikit bulat, betapa lembut permukaan kulit wanita cantik itu.
Secret Passion.
Mata hitam milik Sasuke terbuka, hampir setiap hari Sasuke memimpikan percintaanya itu, ekspresi cantik wajah Hinata tak pernah dia lupakan, sudah satu bulan Hinata pergi dan belum ada kabar tentang wanita itu, hampir setiap hari Sasuke bertanya pada ibunya, karena mungkin wanita itu tau kemana Hinata pergi, Sasuke juga terus mendatangi Karin tapi wanita itu tetap bungkam.
Tok-tok...
Sasuke mengalihkan perhatian saat pintu kamarnya di ketuk.
Kriett...
Pintu itu terbuka dan memperlihatkan sosok seorang ibu yang berdiri di ambang pintu.
"Sasuke, ada Sakura, dia ingin bertemu denganmu." ucap Mikoto, Sasuke tidak menanggapi sama sekali, wanita itu menghela napas, Sasuke menyalahkannya karena kepergian Hinata.
"Paling tidak berikan kepastian untuknya." ucap Mikoto, wanita itu pergi karena tidak mendapat respon dari anaknya.
Sasuke menatap datar Sakura, saat ini mereka berada di ruang tamu keluarga Uchiha.
"Sayang, bagaimana kabarmu?, aku sangat rindu padamu, aku ingin memelukmu, menciumu dan menghabiskan waktu bersamamu, apa kau tidak merindukanku?" Sakura mendekati Sasuke yang berdiri di dekat jendela, Sakura memeluknya dari belakang.
"Apa yang kau bicarakan?" ucap Sasuke dengan melepas pelukan Sakura di punggungnya.
"Bukankah waktu itu sudah begitu jelas untukmu?" Sasuke menaikan nada suaranya, Sakura menitikan air matanya.
"Aku sangat mencintaimu, Sasuke, hanya aku yang memikirkanmu tidak ada yang lain." Sakura meraung.
"Iya, kau benar, dan kau juga memikirkan dirimu sendiri...maafkan aku Sakura, aku tidak bisa bersamamu lagi, karena aku,..." jawab Sasuke dengan emosi yang tertahan.
"Hinata, semua karena dia, kenapa kau memikirkanya, dia meninggalkanmu, dia..."
"Dia mencintaiku Sakura, dia menungguku selama 8 tahun, dan dia juga memendamnya karena dirimu." ucapan Sakura terpotong karena Sasuke.
"Ya, itu benar, tapi aku melakukan semua untukmu."
"Sedangkan dia, apa yang dia lakukan, huh?."
"Dia mungkin mencintaimu, tapi dia tidak pernah melakukan apapun untukmu, selama ini dia hanya diam dan menjadi penonton saja." ucap Sakura panjang lebar.
"Dia tidak pernah berjuang untukmu, dia tidak pernah berusaha untuk mendapatkan cintamu, dan kau berkorban untuknya, kau kehilangan semua yang kau miliki."
"Dan sekarang dia meninggalkanmu saat keadaanmu seperti ini?, kau sakit, depresi, tidak punya pekerjaan, di benci banyak orang, dan di musuhi kakakmu sendiri, itu karena dia, dan apakah kau perlu mengorbankan nyayawamu juga demi dia yang tidak mempedulikanmu." Sakura menangis.
"Diam, ini bukan urusanmu, jika pengorbanan nyawa memang di butuhkan, maka aku akan memberikanya, Sakura." ucap Sasuke sambil mengusap kasar wajahnya yang terlihat pucat.
"Kenapa?, kenapa kau rela melakukannya, dia tidak membutuhkan nyawamu Sasuke, dan dia tidak membutuhkanmu." tangisan Sakura pecah.
"Ini hukumanku, Tuhan sedang menghukumku, aku menerimanya."
"Tak satupun yang memberi tahuku dimana dia, aku bisa mati karena menahan rinduku, jika dia tidak kembali." Sasuke menitikan air matanya.
Kenapa jadi seperti ini, saat Hinata berada di sisinya, Sasuke ingin wanita itu pergi dari kehidupannya, dan sekarang Sasuke tidak bisa hidup tanpa wanita itu.
Secret Passion.
Sasuke tinggal bersama ibunya sekarang, apartement yang di milikinya dia tinggalkan karena ibunya merasa khawatir, Sasuke sering sekali mendapat teror dari hatersnya, ya, sejak konfrensi pers Sasuke di benci fansnya sendiri, pria itu di anggap pengecut dan tidak bertanggung jawab karena tidak mengakui perbuatanya sejak awal.
Apa yang di alami Hinata dulu kini Sasuke merasakannya, tapi Sasuke sama sekali tidak peduli, baginya itu adalah konsekwensi atas semua perbuatanya karena yang jauh lebih menyakitkan adalah bahwa Sasuke tidak bisa melihat Hinata.
Sebuah restoran kecil di pinggir kota, tidak banyak yang berkunjung di sana, suasananya begitu tenang gaya klasik yang kentara.
Sasuke duduk di salah satu meja restoran di bagian sudut, pria itu mengenakan topi supaya tidak ada yang mengenalnya, bukannya takut, Sasuke hanya tidak ingin merasa terganggu oleh para fans yang berubah menjadi haters.
"Lama menunggu?" suara seorang pria membuyarkan lamunan Sasuke, pria itu tersenyum, pria dengan pesona yang luar biasa.
"Hn,..lumayan." jawab Sasuke datar, pria itu tersenyum penuh wibawa saat mendengar jawaban Sasuke, pria itu kemudian duduk berhadapan dengan Sasuke di antara meja di tengahnya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Seperti yang kau lihat Madara." Madara kembali tersenyum melihat Sasuke.
"Kenapa?, apa aku tampak begitu menyedihkan?" Sasuke kembali berkata.
"Ya, itu benar, kau sangat memprihatinkan." jawab Madara masih dengan gayanya yang begitu tenang.
"Ck, jangan mengasihaniku, aku tidak butuh itu." Sasuke berdecak.
"Keras kepala, aku tidak kasihan padamu, aku hanya tidak menyangka orang sepertimu juga bisa hancur seperti ini, dan terlebih lagi semua karena seorang wanita."
"Kau tahu, jika Uchiha lain tahu hal ini, mereka pasti menertawakanmu." ucap Madara seolah mengejek Sasuke.
"Aku tidak peduli anggapan orang lain, kalian tidak mengerti apa yang kurasakan."
"Lagi pula, para Uchiha tidak lebih dari kumpulan hipokrit yang munafik, mereka semua bersikap seolah tegar dan angkuh, tapi pada kenyataanya, para Uchiha hanyalah para pria cengeng yang pintar memanipulasi pemikiran orang lain." ucap Sasuke panjang lebar, Madara tertawa mendengar ucapan Sasuke.
"Baiklah, aku tidak akan berbasa-basi, aku memanggilmu kesini karena ada yang ingin kuberitahukan padamu." tatapan Madara berubah serius, Sasuke memperhatikanya.
"Aku tahu kau putus asa, kau mencarinya bukan?." Sasuke terkejut mendengar ucapan Madara.
"Jangan membuang waktu, katakan yang kau tahu." Sasuke berkata dengan penuh penekanan.
"Wah, kau memang pintar, aku belum mengatakan apapun tapi kau seperti tahu semuanya."
"Sesuatu yang kutahu akan mengubah hidupmu." Madara juga merubah tatapanya.
Secret Passion.
London eye, London tower, Big ben, Katedral Santo Paulus, British Musium, Buckingham palace, adalah beberapa tempat wisata utama di dataran terbesar eropa dan Britania raya, London adalah ibukota negara Inggris, bahasa yang mendunia dan menjadi bahasa internasional.
Seorang wanita tengah bersandar di atas sofa yang menghadap ke kolam renang, punggung kecilnya terlihat begitu nyaman saat bersentuhan dengan sandaran sofa tersebut.
Matanya menatap lembut ke arah depan, terlihat sekali dia sedang memikirkan sesuatu, surai panjangnya sedikit terbang tertiup angin yang terasa menyegarkan, ada sedikit senyum di bibirnya yang berwarna segar.
"Hinata...!" suara seorang pria dewasa membuat tatapan lembut itu teralihkan, seorang pria dengan garis wajah yang sedikit mirip dengan Hinata muncul dari dalam ruangan yang berdinding kaca.
"Kau sedang apa?, ayo masuk sebentar lagi kita makan malam, Hanabi dan suaminya sudah menunggumu dan ibumu juga." ucap pria tersebut sambil mengusap kepala Hinata dengan sayang.
"Ayah,..." Hinata tersenyum kemudian memegang tangan ayahnya yang sedang mengusap kepalanya.
"Aku masih tidak percaya, katakan ini bukan mimpi." Hinata mengangkat kepala untuk melihat sang ayah yang berdiri lebih tinggi darinya.
"Tidak, kau tidak bermimpi, kita tidak bertemu lama sekali dan banyak yang sudah terlewati tanpa kau berada di sanping kami."
"Lagi pula sudah sebulan kau bersama kami, masih tidak percaya juga?" ucap ayah Hinata sambil mencubit pipi gembil putrinya, mereka kemudian tertawa bersama.
Satu bulan yang lalu, Hinata datang ke Maldives untuk menghadiri pesta pernikahan Hanabi, tempat tersebut di pilih Hanabi karena keindahan pantainya, tidak di pungkiri Hinata juga terpesona dengan keindahan pantai negara tersebut.
Seminggu berada di Maldives membuat Hinata melupakan sedikit masalah yang di alaminya, pernikahan Hanabi di adakan secara besar-besaran di sebuah hotel berbintang, sedangkan untuk tempat tinggal sementara Hinata memilih sebuah resort ternama yang terletak di sisi pantai dengan pemandanganya yang sangat indah.
Setelah acara pernikahan Hanabi, Hinata mendapat kejutan dari ayah dan ibunya, kedua orang tua Hinata ternyata sudah memutuskan untuk rujuk kembali, Hinata sangat bahagia mendapat kabar tersebut, ayah dan ibunya sekarang tinggal di London, bahkan Hanabi pun tinggal bersama mereka.
Saat ini Hinata hanya ingin bersama dengan keluarganya, sudah terlalu lama dia hidup sendiri dan kesepian.
Hinata sangat bahagia saat ini wanita itu tengah makan malam bersama keluarganya, mungkin Hinata juga berpikir untuk tinggal dan menetap bersama mereka, tidak ada alasan bagi Hinata untuk kembali ke Jepang.
"Sayang, kau harus banyak makan, itu sangat baik untukmu." Hikari, ibu Hinata berkata di sertai senyuman ramahnya.
"Iya, ibu." jawab Hinata singkat.
"Besok kita belanja semua keperluanmu." lanjut Hikari
Secret Passion.
Suasana kamar khas seorang pria terlihat berantakan, beberapa barang berserakan di atas permadani berwarna merah tua yang terpasang di lantai, pintu lemari yang terbuka dengan pakaian yang tidak tersusun rapi juga terlihat di kamar tersebut.
Sasuke mengambil pakaianya secara acak, juga peralatan khas pria yang di butuhkanya, tidak terlalu banyak tapi itu cukup untuk beberapa hari.
Sasuke memasukan semua barang ke dalam koper yang tidak terlalu besar, Sasuke juga tidak peduli jika isinya tidak rapi, pria itu begitu terburu-buru, dia terlihat tidak sabar ingin menyelesaikan semuanya.
"Sasuke, apa yang kau lakukan?, kenapa kau memasukan pakaian ke dalam koper?." Mikoto terkejut saat memasuki kamar anaknya.
"Aku akan pergi, ibu." jawab Sasuke tanpa mengalihkan perhatian pada ibunya.
"Apa?, kau mau pergi kemana?" Mikoto mendekati Sasuke yang sedang menutup resleting kopernya.
"Aku, akan pergi ke Maldives." jawab Sasuke singkat, Mikoto membulatkan matanya.
"U-untuk apa kau kesana?" Mikoto tampak gugup.
"Kenapa, ibu tahu ada siapa di sana kan?" Sasuke berkata tenang dan menatap ibunya.
"T-tapi,..."
"Aku tahu, dia pasti meminta ibu untuk tidak mengatakanya padaku, tapi aku akan kesana, aku akan membawanya kembali." Mikoto terdiam Sasuke memotong ucapanya.
Tanpa menunggu waktu Sasuke segera mengangkat koper dan membawanya keluar kamar.
"Tunggu, i-ibu akan mengantarmu ke bandara." Sasuke berhenti melangkah kemudian senyum kecil terlihat di wajah tampannya.
Mikoto segera mengambil kunci mobilnya, wanita itu segera menyusul putranya yang menunggu di ruang tamu.
"Wah, kau mau kemana?, melarikan diri ya?" suara seorang pria terdengar oleh Sasuke, tidak perlu mengalihkan perhatian saat orang itu mulai mendekat.
"Tidak menjawab,eh?" tanya Itachi untuk kedua kalinya.
"Sudahlah, Sasuke sedang terburu-buru, jangan mengganggunya Itachi." Mikoto bersuara melihat tingkah anak sulungnya.
"Memangnya dia mau pergi kemana?" Sasuke memutar bosan matanya.
"Bukan urusanmu." jawab singkat Sasuke.
"Baiklah, pergi sana." Itachi berlalu dengan acuh, melewati bahu Sasuke.
Banyak harapan yang Sasuke pikirkan, untuk saat ini dia hanya perlu mengejar apa yang diinginkanya, terlepas dari itu semua Sasuke hanya berharap bisa memulai dan memperbaiki semuanya, dan untuk itu Sasuke membutuhkan pendamping, Hinata, satu-satunya wanita yang Sasuke butuhkan, karena Sasuke sudah banyak melakukan kesalahan pada wanita itu dan Sasuke ingin memperbaikinya.
Secret Passion.
Sebuah mobil mewah terparkir di halaman luas sebuah Mansion dengan gaya modern, di dominasi warna putih dengan banyaknya kaca yang terdapat di bangunan Mansion tersebut.
Hinata keluar dari mobil bersama ibunya, rambut panjangnya yang cantik terbang mengikuti arah angin yang berhembus, seorang maid membantu membawa barang belanjaan mereka, Hinata dan ibunya baru saja pulang berbelanja.
"Kakak, ibu, kalian sudah kembali?" Hanabi tiba-tiba saja datang dari dalam rumah dan menghampiri mereka.
"Kakak, ada tamu untukmu!" Hanabi menggandeng lengan kiri Hinata.
"Ada tamu untuk Hinata?, siapa?" Hikari yang berjalan berdampingan juga bertanya pada Hanabi, sedangkan Hinata mengernyitkan alisnya.
"Ibu tidak tahu ya?, kakak tidak cerita kalau dia punya kekasih yang sangat tampan, dia bahkan lebih tampan dari suamiku, Sammy." ucap Hanabi sambil menyebut nama kesayangan suaminya, Hanabi menikah dengan pria keturunan Inggris yang kebetulan adalah teman kuliahnya.
"A-apa maksudmu, Hanabi?" Hinata semakin tidak mengerti dengan ucapan adiknya.
"Sudahlah, kalian sudah lama tidak bertemu, dia sangat merindukanmu, kalau bertengkar itu jangan terlalu lama, tidak baik." ucap Hanabi dengan sedikit tawa dalam ucapanya.
"Kau punya kekasih?, kenapa tidak mengatakanya pada kami?" Hikari kembali bertanya.
"Ibu, a-aku..."
"Ceritanya nanti saja, ayo kita temui dia." perkataan Hinata terpotong karena Hanabi menyelanya, wanita muda itu menarik tangan kakaknya untuk segera masuk diikuti oleh ibunya.
Tap-tap
Langkah Hinata terasa berat, wanita muda itu ragu untuk melangkah, ruangan tamu yang di tujunya hanya tinggal beberapa langkah.
Siapa?
Siapa tamu yang di maksud Hanabi?, apakah dia orang-orang yang ingin dilupakanya?, ataukah teman lama yang ingin bertemu denganya?, tapi selain Karin tidak ada yang tahu bahwa saat ini Hinata berada di tempat tersebut.
Ruangan terang dengan dinding kaca pada bagian luar, ruangan yang di dominasi warna putih itu tanpak elegan dengan gaya modern.
Siluet seseorang yang begitu di kenal Hinata tertangkap dalam netra ametysnya, seketika mata Hinata membola, detak jantungnya terasa begitu cepat sampai terasa sangat menyakitkan, orang itu belum menyadari kedatangan Hinata, orang itu masih menghadap ke arah cahaya dan membuat tubuhnya seperti bayangan, helaian hitamnya tertiup angin yang berhembus dari pintu kaca yang terbuka.
'Sasuke?'
Suara batin Hinata hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.
"Lama tak bertemu, Hinata." suara yang sudah satu bulan tidak di dengarnya terdengar berat.
Tubuh Hinata terpaku dan tidak bisa bergerak saat pria muda itu memutar tubuhnya, kilatan mata penuh emosi dan juga 'rindu' terlihat dalam netra mutiara hitam milik sang pria muda.
"Atau harus kupanggil, Natasha Hyuga?" pria muda Sasuke melangkah menghampiri Hinata yang terdiam.
"Aku bisa di sini karena panggilan cintamu, hn?" Hinata menatap Sasuke tanpa kata, wajahnya tampak terkejut dan tidak percaya melihat Sasuke berada di hadapanya.
"Sasu-Sasuke, a-apa yang kau lakukan di si-,..."
GREB.
Sebuah dekapan hangat di rasakan Hinata di tubuhnya, Sasuke memeluknya dengan erat, sedangkan Hinata masih tidak menyadari dan hanya terdiam.
"Aku menemukanmu." Hinata mendengar isakan yang begitu pelan, tanpa di sadari air matanya juga mengalir, kedua tangannya terulur pelan merengkuh punggung tegap yang terasa kekar.
Tidak ada kata lagi yang keluar dari mulut Sasuke, pria itu menangis di bahu Hinata.
"Ah, ya ampun, romantis sekali, dan pria itu tampan sekali." Hanabi menangkupkan kedua tangan di depan dada.
"Jenebi, you have a husband remember?" Hikari mencubit kecil tangan Hanabi.
"Ah ibu jangan panggil aku dengan nama baratku, because that just for my husband." ucap Hanabi sambil mengerucutkan bibirnya.
"So why, Natasha have to." ucap Hikari sambil tersenyum.
"Sudah, jangan ganggu mereka, ayo siapkan makan malam." Hikari mendorong bahu Hanabi untuk menuju dapur mereka.
Secret Passion.
"Untuk apa kau berada di sini?, pergilah." Sasuke menatap tak percaya, Hinata baru saja melepaskan pelukanya.
"Aku merindukanmu." jawab Sasuke.
"Kau harus kembali, kau pikir aku ingin menemuimu?" Hinata berkata dengan nada suaranya yang dingin.
"Apapun yang kau katakan aku tidak peduli, aku datang untukmu." Sasuke menatap Hinata.
"Aku akan membawamu kembali bersamaku." Sasuke berkata dengan keyakinan dalam sorot matanya.
"Tidak ada alasan bagiku untuk kembali, tempatku di sini, bersama keluargaku, bersama orang-orang yang mencintaiku." ucap Hinata dengan penuh penekanan.
"Aku mencintaimu, aku tahu kau membenciku, kumohon berikan sisa cintamu padaku, aku akan menanam dan menumbuhkanya kembali, aku berjanji." Sasuke mengambil kedua tangan Hinata dan meremasnya pelan.
"Kembalilah bersamaku." Sasuke mengecup tangan Hinata dengan lembut tapi dengan segera Hinata melepaskan tanganya.
"Sudah kubilang aku tidak punya alasan, aku tidak a-..."
"Aku, aku adalah alasanmu kembali, Hinata." Sasuke meremas bahu Hinata dan memotong ucapan wanita muda itu.
"Kau pikir siapa dirimu?, kenapa aku harus kembali untuk orang sepertimu yang sudah, menghina, merendahkan bahkan menjatuhkan harga diriku?, katakan." Hinata menaikan nada suaranya dan terdengar marah.
"Selama ini aku menanggung semuanya, dan pernahkah kau peduli, karna yang kaulihat hanyalah keburukan tentang diriku."
"Memang benar selama ini aku mencintaimu, dan aku memendamnya, kau tahu kenapa?, kalau aku menyatakan cintaku padamu apa kau akan menghargainya?, kurasa tidak, kau akan semakin merendahkanku Sasukee!!" Hinata semakin terlihat begitu marah dengan emosi yang tertahan.
"Maafkan aku, maafkan aku, kumohon, aku sudah banyak menyakitimu, dan membuatmu menderita." ucap Sasuke sambil meremas kembali tangan Hinata, wanita muda itu terkejut karena Sasuke berlutut di hadapanya.
"Kembalilah Sasuke, aku tidak ingin memulai apapun dengan dirimu, aku ingin sendiri, dulu aku pernah bertanya pada batinku, apa aku bisa hidup tanpa dirimu jika harus berpisah jauh darimu?, dan sekarang aku tahu jawabanya, ya, aku bisa tanpa ada dirimu, tanpa melihatmu." air mata Hinata menetes, tidak berbeda jauh dengan Sasuke sudut matanya terlihat menggenang.
Sasuke kembali berdiri, rasanya begitu berat saat mengangkat lututnya yang lemas.
"Jadi kau sudah tidak punya cinta lagi untuku?" Hinata menundukan kepalanya, tapi Sasuke bisa melihat air mata yang jatuh.
"Kau mungkin bisa menyembunyikan rasa cintamu, atau mungkin kau juga bisa membunuh rasa cintamu." Sasuke berucap dengan emosi yang tertahan, satu tetes air mata meluncur di pipinya.
"Tapi satu hal yang kau lupakan, bahwa kita sudah terikat, kau tidak bisa menyembunyikanya dariku, kau juga tidak akan membunuhnya."
"Buah cintaku yang ada di dalam kandunganmu, benihku, bayiku, bayi kita berdua."
Hinata membulatkan matanya, pijakannya sedikit goyah dan limbung, dengan sigap Sasuke menopang tubuh Hinata yang akan terjatuh.
Flash back.
"Sesuatu yang kutahu akan mengubah hidupmu." Madara juga merubah tatapanya.
"Lebih cepat kau mengatakanya akan lebih baik." Sasuke terdengar tidak sabar.
"Baiklah, sudah lebih dari satu bulan lalu aku bertemu denganya di restorant, waktu itu aku tahu dia sedang menghindarimu." ucap Madara dan Sasuke setia mendengarkanya.
"Saat itu dia mengundangku untuk sarapan bersama di kamar hotelnya, dan pagi itu video kalian di tayangkan di televisi."
"Hinata terkejut dan akhirnya tidak sadarkan diri, saat kupanggil dokter aku lebih terkejut lagi."
"Kau tahu kenapa?" Sasuke menggelengkan kepalanya.
"Aku yakin kau sangat penasaran" Madara menggoda Sasuke dengan ucapanya.
"Jangan membuang waktuku, sebaiknya cepat katakan." Sasuke mulai merasa kesal, Madara menghela napas.
"Baik aku dan Hinata, kami berdua sama-sama terkejut, dokter mengatakan bahwa Hinata..."
"Sedang mengandung, dia hamil..."
Wajah Sasuke berubah, pria muda itu sangat terkejut.
"Apa?..."
"Ya, tapi dia memintaku untuk tidak memberi tahu siapapun."
"Kau harus mengerti dia begitu gugup saat tahu dia sedang hamil."
"Katakan di mana dia, karena aku yakin kau tahu dimana keberadaanya sekarang." Sasuke dengan cepat memotong ucapan Madara.
"Maldives..."
"Adik perempuanya menikah di sana."
Setelah mendapat informasi dari Madara, pria muda Sasuke tanpa membuang waktu segera pulang dan berkemas, dia juga dengan cepat memesan tiket pesawat yang menuju Maldives.
Sasuke sangat berterima kasih pada Madara, karena pria itu juga memberi tahukan secara lengkap di mana keluarga Hinata mengadakan pesta pernikahan.
Sasuke hilang harapan saat tiba di tempat tersebut karena ternyata Hinata dan keluarganya sudah tidak berada di sana, bahkan nama Hinata atau Hanabi tidak terdaftar disetiap hotel yang berada di Maldives.
Dengan susah payah dan tanpa menyerah Sasuke tetap mencari, sudah hampir tiga minggu dia berada di hotel yang di informasikan Madara, selain menginap Sasuke juga mencari sisa jejak keberadaan Hinata.
Kesabaran Sasuke sudah hampir pada batasnya, tega sekali Hinata melakukan itu padanya, Hinata tidak memberitahukan kehamilanya,dan itu membuat Sasuke merasa menjadi seorang pecundang sejati.
"Excume me?"
"Yes Mr, can i helf you."
Sasuke mengalihkan perhatian pada seorang pria yang baru saja mendatangi meja resepsionis, seorang pria kulit putih yang terlihat muda, saat ini Sasuke juga berada di sana, hari ini Sasuke memutuskan untuk kembali ke Jepang, dan Sasuke bermaksud untuk menyelesaikan pembayaranya.
"Yes, i have appoinment with manager this hotel."
"Ok, behalf of whom?"
"Samuel Reiner and Jenebi Hyuga."
"Oh, Mr and Mrs Reiner?"
"Yes,..."
"Yes, you've been waiting for the manager, please"
Sasuke masih mencerna sesuatu yang dibacarakan pria muda tersebut.
'Jenebi Hyuga? Hanabi Hyuga? mungkinkah?'
"Excusme..."
Setelah pria muda itu pergi menemui manager hotel tanpa ragu Sasuke bertanya pada resepsionis tadi, dan Sasuke beruntung karena resepsionis perempuan tersebut bersedia memberitahukan informasi tentang Jenebi Hyuga, Sasuke hanya perlu menarik sudut bibirnya dan membentuk sebuah senyuman dan berhasil membuat resepsionis perempuan itu terpana saat melihatnya.
Jenebi Hyuga, wanita muda yang baru menikah tiga minggu lalu, wanita dengan kelahiran Jepang namun tinggal di inggris, Sasuke beruntung pria itu merasa bersyukur karena alamat rumah Jenebi Hyuga sudah di ketahuinya, wanita itu tinggal bersama kedua orang tuanya di negara Inggris, Sasuke membohongi resepsionis tersebut, Sasuke mengaku bahwa dirinya adalah kerabat dari Jenebi yang tidak sempat menghadiri pesta pernikahanya.
'Yakin.'
Ya Sasuke yakin kalau Jenebi atau Hanabi adalah kerabat Hinata lebih tapatnya adik dan Sasuke lebih yakin lagi saat melihat photo pernikahan Jenebi yang di cetak di salah satu selebaran hotel sebagai media promosi hotel tersebut.
'Natasha.'
Kenapa Sasuke melupakan satu hal, Hinata mempunyai nama barat yang selalu di gunakan saat pergi ke luar negri.
Cahaya harapan Sasuke kembali bersinar, dan hari ini juga Sasuke akan terbang ke negara Inggris untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.
London, great avenue12, sebuah mansion modern yang sangat indah, senyum Sasuke mengembang saat menemukannya.
Debaran jantungnya kian menggila bahkan rasanya bisa terdengar oleh orang lain, seorang wanita muda menyambut kedatangan Sasuke, Jenebi atau Hanabi yang memimiki wajah mirip dengan Hinata, Sasuke mengatakan pada Hanabi bahwa dirinya adalah kekasih Hinata, Sasuke beralasan bahwa dirinya dan Hinata sedang bertengkar, Sasuke sedikit bernapas lega saat Hanabi percaya begitu saja.
Jujur saja ada rasa takut yang menggerogoti perasaanya, apa yang akan terjadi saat pertemuanya nanti dengan Hinata.
Hanabi mengatakan bahwa Hinata sedang pergi bersama ibunya, dan saat Hanabi memberitahukan bahwa Hinata sudah kembali, tak bisa di pungkiri bahwa Sasuke gelisah luar biasa, tapi Sasuke berpikir untuk lebih tegar jika harapan dan keinginanya harus tercapai.
Flasback end.
Kelopak mata Hinata mengerjap dan terbuka, ruangan mewah yang di dominasi warna putih terlihat di netranya.
Hinata memijat kepalanya yang terasa berdenyut, sekarang Hinata ingat kalau dirinya pingsan tapi Hinata belum mengingat penyebab kenapa dirinya bisa pingsan.
"Kau baik-baik saja, sayang?" Hinata mengalihkan perhatian pada sang ibu yang berbicara padanya.
"Hmm,..." Hinata hanya mengangguk dan menggumam pelan.
"Ah, kepalaku sakit sekali, perutku juga mual." Hinata berucap lirih.
"Itu biasa terjadi jika kau sedang hamil muda." ucap Hikari dengan lembut.
Deg...
Hinata terkejut dan mengingat semuanya.
'Sasuke'
Hinata mengingat pertemuanya dengan Sasuke beberapa saat lalu, dan Hinata juga ingat kenapa dirinya bisa pingsan.
"Sudah ibu katakan, seharusnya kau periksakan kandunganmu itu secara rutin, tapi kau tidak mau dengar." Hikari kembali berkata.
Hinata menundukan kepalanya, memang benar keluarga Hinata sudah tahu perihal kehamilanya, dua minggu lalu saat tiba di London, tanpa sengaja Hanabi dan ibunya menemukan tes kehamilan dengan tanda positif, saat itu mereka sedang membantu Hinata menata barang-barangnya.
Hinata terpaksa mengatakan dan mengakui dirinya tengah hamil, dan ibunya bisa mengerti saat Hinata menceritakan semuanya.
Hinata mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar dan Hikari menyadari hal itu.
"Kau mencari sesuatu?, atau seseorang?"
"Eh?, a-aku, .." Hinata tampak gugup mendapat pertanyaan dari ibunya.
"Dia ada di ruang tamu, dia belum pergi." Hikari tersenyum melihat Hinata yang gugup.
"Suruh dia pergi bu, aku tidak ingin menemuinya." Hinata menyandarkan punggungnya di kepala ranjang tidurnya, Hikari menghela napas.
"Kenapa?, kau membencinya?" Hikari segera duduk di tepi ranjang Hinata.
"Aku tidak menginginkan kehadiranya, aku tidak mau apapun darinya." Hinata terdengar kesal dengan ucapanya.
"Bahkan pertanggung jawabanya?" Hikari berkata dengan lembut, wanita itu mengerti saat ini mood putrinya sedang tidak baik, Hinata kehilangan kata mendapat pertanyaan dari ibunya.
"Ibu mengerti, dari semua yang kau ceritakan, setelah semua perlakuanya selama ini, sangat pantas kalau kau membencinya, tapi ibu pikir itu bukan rasa benci, kau hanya terkejut dan tidak terbiasa dengan perasaan baru pria muda itu."
"Kau gugup dan juga bimbang."
"Ibu adalah ibumu, dan kau juga akan menjadi seorang ibu, tidak mudah menjadi orang tua tunggal, percayalah ibu mengalaminya sendiri." tentu saja Hinata tahu, orang tuanya pernah bercerai dulu.
"Kau tidak bisa berkeluh kesah saat anakmu berbuat kenakalan, kau juga tidak bisa berbagi saat anakmu membuatmu kagum,...itulah yang akan terjadi jika tidak memiliki pendamping." Hinata masih setia mendengar ucapan dari ibunya.
"Pikirkan kembali, perutmu tidak bisa menunggu sampai dia besar, lagi pula dengan memaafkan kau tidak akan kehilangan apapapun, harga dirimu tidak akan jatuh, justru kau akan menjadi mulia dan berharga." Hinata mengangkat wajah dan menatap ibunya.
"Dan ibu lihat pria muda itu bersungguh-sungguh." Hikari tersenyum lebar dan mengusap air mata Hinata yang menetes.
"Jangan menangis, kau hanya perlu berbicara dengan tenang dengan pikiran yang jernih."
Apa yang di katakan Hikari memang benar, Hinata tidak bisa berpikir tenang saat berhadapan dengan Sasuke, emosinya selalu naik, entahlah mungkin semua karena Hinata terbiasa dengan sikap seperti itu pada Sasuke, tapi sikap Sasuke tidak lagi sama seperti dulu, sikap pria itu sudah berubah.
Secret Passion.
Suasana di ruang tamu keluarga Hyuga terasa sedikit menegangkan penyebabnya tidak lain adalah kehadiran Sasuke pria muda tersebut tengah berhadapan dengan kepala keluarga Hyuga.
Hikari juga membawa Hinata yang sudah membaik setelah pingsan, Hinata menelan ludah saat melihat mereka berdua, Hiashi menatap dingin pada Sasuke, sedangkan Sasuke tampak begitu tenang, sedangkan Hanabi juga berdiri bersama suaminya di salah satu sudut ruangan tersebut.
"Kau adalah putra pengusaha asal Jepang Uchiha Fugaku, sedang apa kau berada disini, di rumahku." suara Hiashi mulai terdengar, sebenarnya pria itu sudah tahu maksud dari kehadiran Sasuke di rumahnya.
"Saya sudah mengatakanya pada anda sejak awal." Sasuke berkata dengan yakin.
"Hn, baiklah sebenarnya aku merasa tidak berhak untuk ikut campur, karena aku sendiri pernah gagal menjadi seorang ayah, tapi aku ingin yang terbaik untuk putriku, dan jika putriku tidak menginginkanmu maka sebaiknya cepat pergi dari sini dan kembalilah." ucap Hiashi sambil melirik ke arah Hinata dan Hikari.
"Hanya putri anda yang berhak mengusir saya." jawab Sasuke, pria itu juga menatap langsung ke mata Hinata, Sasuke bisa melihat kegugupan di mata Hinata.
"Kenapa kau begitu bersikeras, putriku sudah menolakmu!" ucap Hiashi lagi.
"Saya tidak akan berhenti sampai di sini." Sasuke beranjak kemudian berjalan mendekati Hinata.
"Semua kesalahan yang sudah kuperbuat akan kutebus dengan membahagiakanmu, aku berjanji akan berusaha sepenuh hatiku." Sasuke menggenggam tangan Hinata, wanita itu kehilangan kata dan terlihat gugup.
"Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi, sepupuku tidak akan memilih orang sepertimu."
Semua orang terdiam dan mengalihkan perhatian pada sumber suara yang baru saja terdengar.
Sasuke memutar mata dengan bosan sepertinya akan ada satu lagi batu penghalang dan itu benar-benar merepotkan, Hinata mengerjap sedangkan keluarga lainya tersenyum saat melihat kedatangan salah satu anggota keluarganya.
"Neji-nii.."
"Kakak.."
"Neji-kun.."
"Hyuga Neji.."
Seorang pria tiba-tiba masuk dan menyela ucapan Sasuke, pria dengan tubuh yang proforsional memiliki tampilan mata seperti Hyuga lainya berjalan dengan penuh rasa percayadiri di setiap langkahnya.
"Hn, kau tidak asing bagiku, ...Ck... Uchiha."
To be continue.
Haiiii semuanyaaaaa
Ketemu lagi sama author kece kesayangan kalian.
Maaf udah satu bulan aku ga update, gomene...gomene...
Semua tidak lain karena urusanku di dunia nyata, kayanya cuma HipHipHuraHura yang tahu...wkwk..
Buat yang sudah dukung makasih banyak terutama reviewer di saat2 terakhir...arigatou...
Tapi sayang kayanya chap ini adalah chap paling flat yang pernah kubuat...
fingertip makasih lho km bener banget, tapi jujur lho pas bc tuch review aku pengen ngakak aja g tau kenapa, tp g perlu khawatir hal itu belum ngaruh dan ngena di hati...aku bukan rema
ja labil yg bakalan gampang kepancing emosi...
Mo, Mokoko, atau siapapun kamu terima kasih banyak atas dukungannya aku jadi semangat lagi...
Yoshh...reviewer, favoriter dan follower makasih, maaf aku g bisa sebut satu2...Arigatou...
Silent reader juga terima kasih...
Aku juga semangat karena lihat trafic grafh ff ini...ga nyangka melonjak...
chap depan chap terakhir...tetep setia tungguin ya...
Ok...i love u all..
see u next chap...
Salam aisyaeva...
