Naruto Mr Mk

Secret Passion

Sasuhina

Rate M

Drama/Romance

Typo(s), OOC, EYD, etc.

Happy reading.

Jepang dan London memang berbeda, suasana, kebiasaan, kebudayaan, tradisi, bahkan warna kulit, namun tidak memungkiri, kedua negara tersebut punya popularitas yang hampir sama di mata dunia.

Suasana di rumah Hinata tak lagi sepi, rumah megah itu sudah terisi kembali setelah begitu lama di tinggalkan, keluarga Hyuga memulai kembali hidup baru mereka setelah sebelumnya mengalami keterpurukan dalam rumah tangga kedua orang tua Hinata.

"Hm, rasanya senang sekali bisa kembali." Hanabi merentangkan kedua tanganya saat merasakan angin yang berhembus, suaminya hanya tersenyum.

"Ini sudah satu minggu, kau masih tidak percaya kita sudah kembali?" ucap Neji yang kebetulan sedang bergabung.

"Tentu saja kakak, bahkan rasanya ini seperti mimpi, sebelumnya sangat sulit walaupun hanya untuk membayangkanya saja." jawab Hanabi dengan senyum di bibirnya.

"Ya, tapi sepertinya Hinata belum bisa kembali seperti dulu, dia terus mengurung diri di kamarnya." ucap Neji sambil menghela napas.

Secret Passion.

Tidak akan ada seorangpun yang merasa tenang jika mendapat masalah seperti yang Hinata alami saat ini, hamil di luar nikah di tambah dengan status 'Public figur' yang dia sandang, jangankan seorang selebritis, orang biasa pun pasti akan merasa malu.

Terkadang seseorang yang mementingkan gengsi tanpa mengingat adanya tanggung jawab lebih memilih untuk menggugurkan kandunganya dari pada membuat janin yang tidak berdosa itu hidup.

Lalu kenapa?, jika kita tidak siap menerima konsekwensi dari itu semua, kenapa kita berani melakukannya?, bukankah manusia di takdirkan untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatanya?.

Hinata mengusap tengkuknya yang terasa merinding, membayangkan kehidupan mengerikan di luar sana yang sering dia dengar, banyak ibu muda yang ingin menggugurkan kandungan dan berakhir dengan kematian, tragis sekali.

Terkadang masalah tersebut dialami para wanita yang ada di dunia ini, entahlah semua tahu hal itu dilakukan karena keterpaksaan, tapi jauh di dalam hati Hinata, tidak ada sedikitpun niatan untuk menggugurkan kandungannya.

"Ya Tuhan, aku tidak seperti itu" Hinata mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Wanita muda itu melirik ke atas meja yang berada di dekat tempat tidurnya ada banyak buket bunga yang sangat indah dengan berbagai jenis.

"Sasuke..."

Sudah satu minggu Hinata mendapat kiriman bunga dari Sasuke, tiga kali dalam sehari pria itu akan mengirim bunga cantik untuknya, semua itu dilakukan karena Hinata masih menolak untuk menemuinya.

'Kumohon, maafkan aku...'

'Aku mencintaimu.'

'Aku rindu padamu.'

'Temuilah aku.'

'Untuk dia buah hati yang sedang kau kandung, maafkanlah aku Hinata.'

Kira-kira seperti itulah isi pesan singkat yang selalu Sasuke sampaikan dalam kertas yang terselip didalam bunga yang dia kirimkan.

"Apa yang harus kulakukan?" Hinata bergumam, dia mengusap perutnya yang masih rata, sebenarnya Hinata tidak mau menerima bunga tersebut, tapi ibunya malah menata bunga tersebut di kamarnya.

Ada rasa takut dalam dirinya, tapi Hinata lebih takut lagi saat mengingat tiga hari yang lalu, di mana dia bertemu dengan Uchiha Itachi.

Flashback.

Setelah mendapat pesan singkat dari Itachi, Hinata memberanikan diri untuk keluar rumah, mantan kekasihnya itu meminta untuk bertemu, lagi pula tempat tersebut tidak terlalu jauh dari rumahnya.

Hinata bersedia menemui Itachi karena dia pikir masih ada urusan dengan pria itu, bukan masalah pekerjaan, tapi tentang status mereka, dan saat ini adalah saat yang tepat.

Itachi sudah menunggu beberapa menit lebih dulu dari Hinata, saat mereka bertemu tidak ada senyuman di bibir masing-masing, sejujurnya Hinata merasa takut, apalagi mengingat pertemuan terakhirnya saat Itachi memukuli Sasuke.

"Lama tak bertemu, Hinata." Kata pertama terdengar begitu dingin dan menusuk.

"Jadi apa benar yang dikatakan sibaka itu?, bahwa kau..." Itachi menatap perut Hinata dan itu membuat Hinata risih.

"Itachi, a-aku..." Hinata beucap dengan gugup.

"Ck..ck...hebat sekali." Itachi memotong ucapan Hinata.

"Melihat ekspresi wajah dan juga kegugupanmu, sepertinya itu benar." Itachi melipat tangan didada, Hinata masih terdiam dan tidak ingin menjawab.

"Aku merasa sangat kecewa, kupikir akulah yang kejam, tapi ternyata kau jauh lebih buruk, kau bersama adikku?"

"Apa ini caramu membalasku dan Sasuke?" Hinata menghela napas lelah.

"Bisakah kau berhenti berbicara?, aku bersedia bertemu denganmu, untuk menjelaskan status hubungan kita, dan seperti yang kau tahu, kita sudah berpisah sebelum semua ini terjadi." ucap Hinata.

"Ya itu benar, tapi apa yang akan kau lakukan jika berada di posisiku?"

"Saat kau menjadi kekasihku dan kau mencintai orang lain, setelah itu kau tinggalkan aku dan bersama dengan orang yang kau cintai dan itu adalah adikku sendiri?" Itachi berkata dengan penuh amarah.

"Harga diriku sebagai seorang pria sudah kau lukai." tambah Itachi.

"Satu hal yang kuketahui, kau memang kekanakan Itachi, kau dan Sasuke tidak lebih dari pria egois, jika kau memang pria dewasa, kau akan tahu apa yang harus kau lakukan?"

"Dan jangan bicara tentang harga diri karena kau juga tidak paham arti kata itu, kau dan adikmulah yang membuat harga diriku hancur." ucap Hinata dengan menaikkan amarahnya.

"Aku tidak akan menerima hubunganmu dengan Sasuke, sampai kapanpun." ucap Itachi, Hinata segera pergi, dia tidak mau mendengar apa yang diucapkan Itachi.

Hinata merasa bimbang satu sisi dia mengerti dan menyadari sudah menyakiti banyak orang dan salah satunya adalah Itachi, tapi semua yang terjadi berada di luar kendalinya, jika bisa Hinata ingin memutar waktu, selama delapan tahun hidupnya hanya di penuhi dengan masalah dan penderitaan, dan semua yang sudah terlewati tidak akan terhapus begitu saja.

Flashback end.

Tok-tok...

Hinata mengalihkan perhatian saat pintu kamarnya ada yang mengetuk.

"Masuk..."

Ibu Hinata muncul dari balik pintu dengan senyum hangatnya.

"Sekarang waktunya makan siang, apa kau mau makan bersama atau di sini saja." Hikari menghampiri Hinata yang sedang duduk di sofa dekat tempat tidur.

"Aku tidak lapar." jawab Hinata dengan singkat.

"Hm, mana mungkin kau tidak lapar, tapi mungkin saja." ucap Hikari dengan sedikit bercanda.

"Tapi ibu pikir si kecil kita yang satu ini merasa lapar." ucap Hikari sambil mengusap pelan perut Hinata, wanita muda tersebut terkejut dengan perlakuan ibunya, dan hal itu membuat Hikari juga sedikit merasa tidak enak, mungkin Hinata merasa risih.

"Bagaimana rasanya?, ibu tahu ini tidak mudah tapi akan sangat indah bila kau bersama orang yang kau cintai, dia juga membutuhkan kehadiran dan belaian dari tangan hangat dan kuat, tangan yang akan membuatnya merasa aman." ucap Hikari, Hinata mengerti memang benar semua yang di ucapkan ibunya.

"Cobalah untuk menerima semua dengan tulus." ucap ibu Hinata sambil mengusap pelan kepala Hinata, dan wanita muda itu hanya mengangguk.

"Dan jika kau mau, hal pertama yang kau lakukan adalah menerima ajakan Sasuke untuk makan siang." Hinata membulatkan matanya.

"Sasuke datang kerumah kita, dia memintamu untuk makan siang bersamanya, dia tidak menyerah."

"Dan kau harus bicara lagi dan lagi dengannya." Hikari membujuk Hinata.

"Tapi bu, aku sudah banyak berbicara denganya." akhirnya Hinata mau bersuara.

"Satu kali ini saja beri dia kesempatan." ucap Hikari kembali.

Secret Passion.

Sasuke mengukir senyum dibibirnya, merasa tidak percaya Hinata bersedia pergi keluar bersamanya, Sasuke membutuhkan waktu yang lama untuk menunggu Hinata, tapi pria itu tidak peduli berapa lama waktu yang Hinata butuhkan dia bersedia untuk menunggu.

Akhirnya Hinata pergi dengan terpaksa karena ibunya terus membujuk, tapi perkataan ibunya memang benar, Hinata tidak bisa terus berdiam diri, apakah Hinata harus membuka kembali hatinya untuk pria tersebut?

Setelah sampai di sebuah restoran sederhana, Sasuke dan Hinata duduk kemudian memesan makanan, sejak berangkat dari rumah Hinata enggan berbicara, tapi Sasuke tidak patah semangat dan terus mengajak Hinata untuk berbicara.

Sasuke menatap Hinata yang makan dalam diam dengan suapan yang kecil, Sasuke menatap Hinata yang memakai gaun longgar, Sasuke tersenyum bahagia, menurutnya Hinata terlihat begitu manis, wajahnya tidak berubah sejak terakhir kali dia menyentuhnya.

"Kenapa makanmu sedikit sekali?" Sasuke mulai bertanya.

"Aku tidak berselera." jawab Hinata singkat.

"Kenapa? ..." Sasuke menepuk kepalanya, kenapa dia lupa Hinata sedang hamil muda, mungkin saja wanita muda itu tidak suka dengan makanannya.

Sasuke kembali merasa bersalah, selama ini dia tidak tau bagaimana kesehatan Hinata dan bayinya, selama ini dirinya hanya sibuk untuk membujuk Hinata tanpa memikirkan bagaimana keadaaan wanita muda tersebut.

Apakah Hinata mengidam dan menginginkan sesuatu, tiga bulan usia kehamilan para wanita selalu bermasalah dengan selera makan, muntah di pagi hari, terkadang malas beraktifitas, bahkan tidak jarang mereka pingsan karena kelelahan.

"Menikahlah denganku, Hinata" Sasuke berucap pelan dan tanpa basa-basi, Hinata yang menunduk segera mengangkat kepalanya.

"Kumohon beri aku kesempatan." Sasuke kembali berucap terlihat kesungguhan di wajahnya, pria itu beranjak dan tanpa di duga berlutut didekat kursi yang Hinata duduki, dia juga mengambil kedua tangan Hinata untuk di genggamnya.

"Maaf untuk semua yang sudah kulakukan, aku tidak tau harus mulai dari mana, aku sudah terlalu banyak menyakitimu."

"Tapi kumohon, aku ingin sekali berada disisi kalian berdua, aku ingin menebus semuanya." Sasuke menyentuhkan keningnya di punggung tangan Hinata.

"S-Sasuke berdirilah, kau tidak perlu melakukan ini." Hinata merasa tidak nyaman dengan tingkah Sasuke, karena ada beberapa orang di tempat tersebut yang melihat mereka berdua.

"Tolonglah Hinata, aku mohon." Sasuke kembali berucap.

"Bisakah kau duduk kembali." ucap Hinata dan Sasuke segera menurutinya.

"Aku, ... "

Ada jeda cukup lama tapi Sasuke tetap menunggu apa yang akan Hinata katakan padanya.

"Aku, sudah bicara dengan ibuku, sejujurnya aku tidak tahu harus bagaimana?"

"Aku tidak tahu harus berbuat apa, apakah semua akan membaik jika aku memberi kesempatan untukmu?" ucap Hinata.

"Hinata tolong pikirkan lagi, dia tidak bisa menunggu lebih lama, dia juga membutuhkan diriku." jawab Sasuke, pria itu kembali meremas tangan Hinata yang berada di atas meja.

"Bisakah aku percaya padamu?, hubungan kita tidak pernah membaik." Hinata mulai meneteskan air matanya dan itu membuat Sasuke merasa frustrasi.

"Semua adalah kesalahanku, kau harus percaya padaku, percayalah aku akan mempertanggung jawabkan semuanya."

"Seperti yang kau katakan, aku tidak bisa berjanji, karena mungkin saja aku tidak bisa menepatinya, tapi aku akan berusaha keras memberi yang terbaik untukmu." ucap Sasuke kembali, Hinata mengangguk pelan mendengar ucapan Sasuke.

"Aku akan memikirkanya." senyum Sasuke mengembang mendengar ucapan Hinata, harapan Sasuke selangkah lebih maju.

"Benarkah?" Sasuke bertanya seolah tak percaya dengan ucapan Hinata.

"Untuk saat ini hanya itu yang bisa kulakukan." ucap Hinata, Sasuke hanya mengangguk, saat ini hal itu sudah cukup baginya.

"Aku akan membicarakan hal ini dengan orang tuaku dan juga Itachi." Sasuke berucap dengan yakin.

"Itachi tidak akan mendengarkanmu, sebaiknya kau jangan bicarakan tentang hal ini dulu, beri aku waktu untuk meyakinkan diriku." Sasuke menatap Hinata karena terkejut dengan ucapan wanita itu.

"Aku sudah berbicara dengan Itachi, dan dia tidak suka dengan semua ini." Hinata segera menjawab melihat tatapan bertanya dari Sasuke.

"Kenapa kau menemuinya tanpa sepengetahuanku, dia suka memaksakan kehendaknya pada orang lain." ucap Sasuke, terdengar kekecewaan dalam nada suaranya.

"Aku harus memulainya dari awal lagi, dan kupikir dengan menjelaskan semua pada Itachi mungkin salah satu dari masalahku akan selesai." ucap Hinata berusaha menjelaskan pada Sasuke.

"Tapi kau salah, Itachi, tidak menerimanya kan?" Hinata hanya mengangguk mendengar ucapan Sasuke.

"Dan untuk kali ini aku juga tidak akan bertoleransi padanya, aku tidak peduli dengan apa yang dia pikirkan dan dia inginkan." ucap Sasuke, sejujurnya Hinata merasa senang mendengar ucapan Sasuke yang satu ini, rasa takutnya terhadap Itachi jadi berkurang.

"Tapi Sasuke..."

"Kau hanya perlu percaya padaku, tolong beri kepercayaan padaku, hanya itu yang aku butuhkan saat ini." Hinata merasa percaya dengan apa yang di ucapkan Sasuke, ibunya memang benar, Hinata perlu bicara dan bicara dengan pria itu, dan akan lebih baik jika di antara mereka bisa mengendalikan dan menekan ego yang dimiliki.

Dan sekarang Hinata menyadari Sasuke sudah melakukannya, pria itu mampu mengedalikan dan menekan egonya yang begitu tinggi, pria yang selalu mementingkan gengsinya itu terlihat seperti pejuang yang pantang menyerah untuk mendapatkan haknya.

Sasuke bukan perayu walaupun sudah banyak bermain dengan para wanita, pantang bagi pria itu untuk memohon pada siapapun terutama pada para wanita.

"Aku akan mengantarmu pulang." suara Sasuke kembali terdengar dan membuat Hinata tersadar dari apa yang dipikirkanya.

Hinata menganggukan kepalanya, mereka beranjak dan berjalan berdampingan tentu setelah Sasuke membayar tagihanya.

Secret Passion.

Mungkin Hinata dan Sasuke lupa kalau mereka adalah selebritis, tanpa diduga saat melangkah keluar dari tempat mereka makan siang sudah banyak orang yang berkerumun untuk melihat kejadian yang tidak terduga.

Hinata dan Sasuke terkejut saat melihat pemandangan yang ada di hadapan mereka, mobil milik Sasuke di penuhi kotoran dan bekas lemparan telur dan tomat yang sudah busuk.

"Sasuke, mobilmu?" Hinata berkata sambil menunjuk mobil Sasuke yang sangat kotor, tapi sikap Sasuke terlihat begitu tenang.

"Iya, aku tahu itu mobilku." ucap Sasuke tanpa beban, Hinata merasa tidak mengerti kenapa Sasuke tidak terlihat marah.

"Kita cari taksi saja, aku akan menyuruh orang untuk membawanya ke tempat pencucian." ucap Sasuke dengan sedikit senyuman di wajahnya.

"Hey, kau ini bodoh atau apa?, kenapa kau diam saja diperlakukan seperti itu, itu namanya melanggar hukum, dan lihat sekarang banyak orang yang menjadikan ini tontonan." Hinata berkata panjang lebar dengan cepat, Sasuke tersenyum saat mendengar ucapan Hinata.

"Sudah, ayo kita pulang!" Sasuke menarik tangan Hinata, wanita itu sedikit terkejut namun mengikuti tarikan di tanganya.

Semua orang yang berada di sana terdengar berbisik saat mereka berdua melewati kerumunan yang tengah menyaksikan tontonan gratis tersebut.

Dengan terpaksa Sasuke membawa Hinata dengan taksi, Hinata enggan membuka suara dan terlihat kesal.

"Jadi seperti inikah rasanya punya haters?" Sasuke membuka suara, Hinata mengalihkan tatapan pada Sasuke yang duduk di sampingnya.

"Apa?, itu sangat berbahaya, bagaimana kalau mereka menyerangmu, bagaimana mungkin kau tidak sadar akan hal itu." Sasuke tersenyum kembali.

"Kau pikir ini lelucon?" Hinata kembali bersuara.

"Tentu saja tidak, ini pertama kalinya untukku, dan jika benar mereka menyerangku atau dirimu, maka mereka tidak akan lolos dariku." ucap Sasuke dan Hinata hanya terdiam.

Sikap Sasuke berubah 180 derajat, pria itu terlihat begitu tenang, sejak insiden video mereka beredar dan pengakuan Sasuke pada media, Sasuke memiliki banyak fans yang berubah menjadi haters, dan semua orang berbalik simpati pada Hinata.

Sasuke merasa bahagia, hubunganya dengan Hinata sedikit membaik, wanita itu mulai merubah sikapnya menjadi lebih hangat walaupun hanya sedikit, hampir setiap hari pria itu megunjungi Hinata di rumahnya, tidak hanya itu Sasuke memulai usahanya kembali dalam penjualan properti, beruntung Sasuke masih punya banyak tabungan, Sasuke berpikir hal itu dilakukanya untuk memulai hidup barunya bersama Hinata dan calon bayinya, karena sebentar lagi dia akan melamar Hinata dan menikahi wanita itu.

Untuk sementara Sasuke menyewa gedung untuk usahanya yang baru, paling tidak dia harus menikahi Hinata terlebih dahulu sebelum membuat gedung miliknya sendiri.

Sasuke juga merahasiakan sesuatu dari Hinata, sebenarnya Sakura sering sekali mengunjunginya dan membujuk Sasuke untuk kembali bersamanya, tapi Sasuke tidak pernah mendengarkan wanita itu, Sakura terus memohon dan terpaksa Sasuke mengusir Sakura dari apartement miliknya.

Alasan Sasuke merahasiakan hal itu karena Sasuke tidak ingin hubungannya yang baru saja membaik dengan Hinata akan terganggu, Sasuke takut Hinata akan kembali meragukanya, bahkan pria itu juga merahasiakan pertengkaranya dengan Itachi yang tetap tidak menerima keputusan Sasuke.

Flashback.

Setelah pertemuanya bersama Hinata dengan segera Sasuke menemui kedua orang tuanya dan kebetulan Itachi juga sedang berada di sana, jadi Sasuke tidak perlu repot untuk mencarinya.

Kedua orang tua Sasuke merasa tidak keberatan setelah Sasuke menceritakan semua terutama tentang kehamilan Hinata, Mikoto menutup mulutnya karena merasa tidak percaya, Hinata sudah menderita karena putranya.

Setelah bicara dengan orang tuanya, Sasuke pergi ke kamar Itachi dan di sambut sikap dingin oleh kakaknya tersebut, Sasuke mengatakan semua maksud dari kedatanganya menemui Itachi.

"Cih, kau sungguh bajingan, setelah kau menikamku dari belakang, kau ingin menari di atas penderitaanku?" Itachi membuka suara dengan menahan emosinya.

"Tidak perlu bersandiwara, bukankah kau juga sudah tahu, dan kau juga menemuinya tanpa sepengetahuanku?" jawab Sasuke.

"Apa yang ingin kau rencanakan?, aku tahu siapa dirimu, kau hanya seorang pemaksa Itachi." lanjut Sasuke.

"Aku tidak akan menerima hubungan kalian berdua." Itachi tiba-tiba berdiri dari duduknya kemudian menarik kerah kemeja Sasuke tapi adiknya tidak terlihat gentar sama sekali.

"Aku bisa menerima jika dia meninggalkanku untuk pria lain, tapi aku tidak bisa menerima karena pria itu adalah adikku sendiri." ucap Itachi tanpa melepas tanganya.

"Dan kau juga melupakan Sakura yang sangat mencintaimu, apa kau tahu memohon pada orang yang kau cintai itu sangat memalukan kau sudah mempermalukan wanita itu."

"Hinata tidak pernah melakukan apapun untukmu, ingat itu, dia tidak berkorban apapun." ucap Itachi kembali.

"Penantian Hinata selama 8 tahun adalah pengorbananya Itachi." Sasuke berkata dengan tenang.

"Ini di luar kendaliku Itachi, mungkin ini takdir." ucap Sasuke sambil melepaskan tangan Itachi.

"Cih, kau benar, seharusnya Hinata yang bisa mengendalikan dirinya."

"Mungkin dia memang menginginkan sentuhanmu."

"And take it easy bro, seperti biasa kau bisa meninggalkan para wanita yang pernah bersamamu, setelah kau bosan." ucap Itachi disertai senyum meremehkan.

"Hanya karena dia mengandung kau berpikir kau mencintainya?, sejak kapan kau menjadi naif karena wanita seperti dia, mungkin saja bayi itu milik orang lain, dan bisa saja dia bercinta dengan pria lain." lanjut Itachi.

Buugghh...

"Kau memang brengsek Itachi." Sasuke memukul keras Itachi pria itu tersungkur dengan sudut bibir yang berdarah.

"Pukulan itu untuk Hinata, karena kau berkata buruk tentangnya, dan kau pantas menerimanya."

"Aku pernah pernah menilai buruk Hinata, dan itu kesalahan terbesar dalam hidupku, dan aku menyesal."

"Satu lagi, orang seperti dirimu tidak akan mengerti apa artinya cinta, karena hanya ada nafsu dalam dirimu."

"Aku tidak akan mengubah keputusanku, dan aku tidak peduli dengan apa yang akan kau lakukan." Sasuke segera pergi meninggalkan Itachi yang sedang kesakitan.

Flashback end.

Malam ini terasa sedikit berbeda untuk Sssuke, Sasuke tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan di wajahnya, kali ini pria itu mengajak Hinata untuk makan malam di restoran hotel berbintang, sebenarnya Hinata menolak ajakan Sasuke, sikap wanita itu masih belum menunjukan perkembangan, Hinata tetap saja acuh dan dingin.

Seperti biasa Sasuke tampak sempurna dengan pakaian resminya, dan Hinata tampak begitu cantik dengan riasanya, terima kasih pada ibunya yang sudah membantu Hinata merias diri, gaun putih panjang tanpa lengan, dan rambut yang tersanggul rapi.

Sasuke sengaja memilih restoran yang tidak terlalu ramai, Hinata tidak suka keramaian sama seperti dirinya, terlebih setelah masalah keartisan mereka yang terjadi beberapa bulan lalu.

Hidangan yang terlihat lezat tertata rapi diatas meja, suara musik yang romantis juga mengiringi beberapa pasangan yang sedang berdansa mesra, nuansa ruangan dengan sinar lampu yang tidak terlalu terang membuat suasana semakin terasa nyaman.

"Kau suka tempat ini?" tanya Sasuke, Hinata menganggukan kepalanya, ada yang aneh dengan sikap Hinata, wanita itu kembali bersikap dingin.

Sebenarnya Sasuke sedikit merasa resah, sejak berangkat dari rumah Hinata, sikap wanita itu sedikit berbeda, sejujurnya Sasuke takut Hinata masih membencinya.

"Ada apa?" Sasuke mulai bertanya.

"Eh?.." Hinata mengernyitkan alisnya.

"Apa ada yang kau pikirkan?, kau tampak gelisah, jangan menyembunyikan sesuatu, sebaiknya kau katakan padaku." ucap Sasuke panjang lebar.

"Atau kau tidak suka tempat ini?" Sasuke kembali bertanya.

"Tidak, bukan seperti itu" jawab Hinata dengan sedikit gugup.

"Sebenarnya, .. aku bertemu dengan Sakura tadi siang, dia tampak buruk dan depresi.." Sasuke menghela napas rupanya wanita itu tidak pernah berhenti untuk mengejarnya, seperti yang dikatakan Itachi, Sakura adalah seorang wanita yang possesif.

"Jangan dengarkan apapun yang dia katakan." Sasuke berucap dengan dingin.

"Tidak, tapi kupikir apa yang dia katakan mungkin saja benar." ucap Hinata dengan sedikit emosi dalam perkataanya.

"Apa yang dia katakan?" ucap Sasuke, pria itu terlihat kesal.

"Tentang kau, mungkin yang kau rasakan untukku saat ini bukanlah cinta, tapi... hanya rasa bersalah dan tanggung jawab, aku tidak berniat menyembunyikan apapun." sungguh Sasuke ingin sekali memukul seseorang saat mendengar ucapan Hinata.

"Kau masih tidak percaya padaku?" Sasuke berusaha menahan emosinya.

"Kalau kau bisa mendengar dan memikirkan perkataan orang lain, maka kau juga harus mendengarkanku."

"Aku tahu kau masih membenciku, hanya aku yang tahu apa yang kurasakan, dan aku tahu apa yang kuinginkan, biarkan aku untuk membuktikanya."

"Dan lebih baik jaga kesehatanmu, pikirkan bayi kita, dia membutuhkanmu." ucap Sasuke, Hinata hanya mampu terdiam.

"Aku mengerti saat ini kau sedang kebingungan, tapi apa kau juga memikirkan bagaimana perasaanku, aku ingin bersamamu, aku ingin memperbaiki semua, karena aku mencintaimu."

Tanpa diduga Sasuke menarik pelan tangan Hinata untuk berdiri dan membawanya ke lantai dansa.

Sasuke menarik tubuh Hinata untuk lebih mendekat kepadanya, Hinata hanya bisa mengikuti apa yang Sasuke lakukan kepadanya.

Dengan suara alunan musik yang tenang, Sasuke membawa tubuh Hinata bergerak seirama, kedua tanganya memeluk tubuh Hinata, pria itu juga menempatkan kedua tangan Hinata di atas pundaknya.

Sasuke merasakan desiran diperutnya yang bersentuhan dengan perut Hinata, pria itu merasakan gundukan kecil yang begitu hangat di perut Hinata, ada rasa haru dan bahagia yang menyelinap di hatinya, perasaan baru yang terasa begitu aneh namun menyenangkan.

Hinata merasa tidak nyaman karena Sasuke terus menatapnya, Sasuke memeluknya begitu erat, Hinata merasakan wajahnya memanas karena merasa malu.

"Rasanya berbeda, ini pertama kalinya aku memelukmu dengan rasa cintaku." ucap Sasuke setengah berbisik.

"Belum pernah aku merasakan perasaan aneh ini." Sasuke menyentuhkan keningnya di kening Hinata.

"S-Sasu,..." Hinata berkata dengan ragu, ada sedikit genangan air mata di sudut matanya, untuk pertama kalinya Hinata merasakan tatapan hangat Sasuke, hal yang selalu di harapkanya, ingin sekali Hinata menangis dengan keras dan menyampaikan kerinduan yang dia simpan begitu lama.

"Maafkan aku." Sasuke kembali berbisik dan runtuhlah pertahanan Hinata, air matanya menetes, begitu lama Hinata harus menahan semua perasaanya untuk Sasuke.

"Tidak sayang, jangan tumpahkan air matamu itu." Sasuke mengusap air mata Hinata kemudian mengecup lembut kening Hinata, kemudian pria itu juga memeluknya begitu erat.

Wajah Hinata tenggelam di dada Sasuke, wanita itu menangis sejadinya tanpa suara.

"Aku mencintaimu." Sasuke kembali berbisik, kedua tangannya memeluk punggung Hinata dengan erat.

"Mulai saat ini kau hanya perlu mendengarkanku saja, bukan orang lain." ucap Sasuke di tengah pelukannya bersama Hinata, dia tidak merasakan anggukan atau gelengan kepala Hinata, tapi pria itu tahu Hinata pasti mendengarnya.

Secret Passion

Bergandengan tangan, pernahkah Sasuke dan Hinata melakukannya?, jawabannya, pernah tapi hanya didepan kamera, tapi saat ini tidak ada kamera atau lampu sorot yang menyala.

Sasuke menggenggam tangan Hinata dengan erat tanpa berniat untuk melepaskanya, mereka berjalan pelan menuju pelataran parkir dimana mobil Sasuke berada, ada sedikit senyum di bibir Hinata, tapi tidak masalah untuk Sasuke, mungkin Hinata belum sepenuhnya bisa menerima kembali kehadiran dirinya.

Saat semakin dekat dengan mobil Sasuke, tiba-tiba mereka dikejutkan kehadiran seseorang yang tidak terduga dan membuat Sasuke sedikit cemas.

"Hai, selamat malam, kalian berdua terlihat bahagia?" ucap orang tersebut.

"Sakura?" Sasuke berucap dengan tenang.

"Senpai?" ucap Hinata gugup, tanpa di sadari Hinata menggenggam erat tangan Sasuke dan hal itu dilihat Sakura.

"Kenapa?, apa kau takut padaku?" Sakura berjalan mendekat, tapi langkahnya terhenti saat Sasuke menarik tangan Hinata untuk berada di belakangnya.

"Apa yang kau inginkan?" ucap Sasuke dengan tatapan tajam dan juga dingin.

"Haha, wow Romeo dan Juliet" ucap Sakura dengan tawa sinisnya.

"Pergilah Sakura!!" Sasuke menaikan nada suaranya karena kesal.

"Oh sayang, aku hanya mau bicara dengannya!" Sakura kembali melangkah sambil memegang tas selempang yang dia pakai, suara hak sepatu yang beradu dengan lantai terdengar menggema di tempat parkir yang sepi.

"Cukup, berhentilah mengganggu kami, pergilah karena tidak ada lagi yang perlu dibicarakan." Sasuke menarik tangan Hinata dan melewati Sakura begitu saja.

"BERHENTI...!!!" Sasuke dan Hinata berhenti melangkah mendengar teriakan dari Sakura, saat berbalik mereka terkejut karena Sakura sedang menodongkan pistol.

"Sebaiknya, hentikan langkah kalian atau salah satu dari kalian akan mati." Sakura berkata dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.

Hinata sangat terkejut saat melihat Sakura, ada rasa takut yang menyelinap dalam hatinya, apa yang akan terjadi Hinata tidak tahu.

"Apa ini, kau mengancam kami?" Sasuke berkata dengan amarah, pria itu hendak melangkah tapi Hinata menahan gerakannya.

"Senpai, jangan lakukan itu, kita bisa bicara." Hinata membuka suara dan berusaha membujuk Sakura.

"Diam kau, aku hanya mau bicara dengan Sasuke saja." Sakura menodongkan pistol ke arah Hinata, dan mengalihkan tatapan pada Sasuke.

"Kumohon sayang, kembalilah padaku, aku mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpa dirimu." Sakura menangis sejadinya, Hinata merasa prihatin, dia juga sangat mencintai Sasuke, tapi Hinata masih bisa mengendalikan dirinya.

"Kendalikan dirimu Sakura, dan berhentilah mengemis cinta, aku bosan mendengarnya." ucap Sasuke dengan marah, air mata Sakura semakin jatuh.

"Sasuke, sebaiknya kau tenangkan dia dulu." Hinata berkata pelan dan menatap Sasuke.

"Tidak perlu, sebaiknya kita tinggalkan saja." jawab Sasuke.

"Tapi sepertinya dia sedang mabuk berat." ucap Hinata kembali, tapi Sasuke tidak mendengarnya, pria itu kembali menarik Hinata untuk berjalan.

"Aku tahu, jika aku mati kau akan senang." suara Sakura kembali terdengar.

"Tapi jangan berpikir aku akan bunuh diri, karena kalian akan senang."

"Apa maumu?" Sasuke semakin kesal dengan tingkah Sakura.

"Kalau kau mati, Hinata bisa mencari pria lain dan hidup bahagia."

"Sakura, hentikan semua ini, kita tidak punya masalah apapun, kita sudah lama berteman, kita bisa bicara secara baik-baik, aku tidak bermaksud merebut Sasuke darimu." Hinata mulai mengeluarkan emosinya.

"Diamm!!, aku tidak butuh penjelasanmu" Sakura berteriak pada Hinata.

"Jadi kupilih kau yang MATI, agar Sasuke merasakan apa yang kurasakan."

'Dorr...'

'Aacckkhh...'

'Hentikan...'

'Tidaaakk...'

Di waktu yang bersamaan saat suara tembakan dari pistol Sakura yang memekakan gendang telinga, ketiga orang yang berada di sana juga berteriak, seseorang terjatuh dan bersimbah darah, kejadian tersebut begitu cepat, dan tidak bisa di hindari.

Sakura tampak panik, tubuhnya gontai, dia juga menggelengkan kepalanya, tanpa berpikir lagi, wanita itu pergi meninggalkan kedua orang yang salah satunya sudah dia lukai.

Hinata membulatkan matanya, wanita itu segera meraba perutnya yang terasa begitu nyeri.

"Hinata.."

"Sasuke.." Hinata segera tersadar dari rasa terkejutnya, hatinya terasa begitu sakit, Hinata segera memeluk Sasuke, rasa takut benar-benar di rasakannya saat ini.

"Toloongg..." Hinata mulai berkata dengan pelan.

"Toloonngg..." untuk kedua kalinya Hinata berteriak.

"Hinata,..." Sasuke berucap pelan.

Hinata tidak bisa berpikir dengan jernih, wanita itu panik, dan untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, Hinata takut untuk kehilangan Sasuke.

To be continue.

Fiuuhhhhh...

OMG, haduchhh...nganggur lama...i am sorry my lovely readers...

chap depan last chap ya...

oh ya ada cerita sedikit sebelumnya thank to nisa chan (shirayuki hime)..dan himekazeera, kemarin di wattpad ada yg plagiat story aq, tp semua dah beres...gpp semua orang pasti punya kesalahan, dan aku bukan orang yg suka ngotot atau dendam...hmm...kurang baik gimna coba authormu ini...wkwk...

Aku juga aktif di wattpad sekarang...follow ya..

and follow juga my new instagram...ok...

Selalu terima kasih untuk kalian semua yang selalu mendukung dan setia nungguin semua story dariku...

I love u all my lovely readers...Muaaacchhh...

Wattpad : aisyaeva

Instagram : _eve_queen

see u next chap...

Salam aisyaeva