Naruto Milik MK

Secret Passion

Sasuhina

Rate M

Romance/Hurt/Comfort

Typo(s), OOC, etc.

Happy reading.

'Arrgghhh...'

'Hiks...'

'Apa yang sudah kulakukan?'

'Aku sudah melukainya...'

'Maafkan aku, maafkan aku Sasuke..'

'Aku sangat mencintaimu, aku tidak sengaja menembakmu...hiks...'

'Aku harus segera pergi dari tempat ini, aku tidak mau di tangkap, aku tidak mau..'

Sakura menjambak rambutnya, merasa frustrasi dengan apa yang sudah di lakukannya, sasarannya meleset karena tiba-tiba Sasuke menghalanginya.

Sakura segera membuang pistol yang digunakan untuk menembak Sasuke, wanita itu melarikan diri karena takut tertangkap pihak kepolisian.

Secret Passion

Hinata duduk gelisah disamping Sasuke, seorang dokter tengah merawat luka Sasuke, daerah perut dan pinggang Sasuke di bebat dengan kain perban yang cukup tebal.

"Lukanya sedikit dalam, memang hanya tergores, tapi ini akan menyulitkanmu untuk beraktifitas." ucap seorang dokter yang merawat Sasuke.

"Kau tidak perlu khawatir, lukanya akan cepat sembuh." ucap dokter itu lagi.

"Hn, terima kasih Kabuto." ucap Sasuke yang sedang duduk di ranjang pasien, Hinata bernapas lega karena ternyata Sasuke baik-baik saja, peluru tersebut hanya menggores pinggang Sasuke di bagian kiri.

Sasuke tersenyum melihat tingkah Hinata yang begitu cemas, wajahnya pucat dan masih ada jejak air mata di pipi putihnya.

"Tidak perlu mencemaskanku, aku baik-baik saja." Sasuke menyentuh dan menggenggam tangan Hinata yang duduk di sampingnya, Hinata terkejut karena sepertinya wanita itu masih trauma.

"A-Aku, aku..." Hinata masih terlihat syok.

"Ini hanya luka kecil, kau dengar penjelasan dokter tadi kan?" wanita itu mengangguk, Sasuke kembali tersenyum.

"Apa yang akan kau lakukan jika aku mati?" tanya Sasuke, Hinata membulatkan matanya.

"Apa yang kau katakan?" suara Hinata terdengar bergetar.

"Saat berada di tempat itu, aku melihatmu begitu ketakutan, apa kau masih merasa benci padaku?, aku..." Sasuke meremas tangan Hinata.

"Kau bodoh!, kenapa kau lakukan hal itu, kau bisa mati!" Hinata memotong ucapan Sasuke.

"Lalu apa aku harus membiarkan peluru itu mengenai dirimu dan juga..." Sasuke menghentikan ucapannya, Hinata terdiam saat melihat tatapan Sasuke yang tertuju pada perutnya.

"Aku sangat terkejut, kejadianya begitu cepat." Hinata berdiri tapi Sasuke malah menariknya sehingga Hinata duduk di pangkuanya.

"Dengarkan aku, tidak akan kubiarkan hal buruk menimpamu dan juga dia." Sasuke mengusap perut Hinata, wajah mereka sangat dekat dan napas mereka juga beradu.

"Sebaiknya kau juga periksa kandunganmu, aku tahu kau kesakitan." ucap Sasuke setengah berbisik, Hinata menatap wajah Sasuke yang begitu dekat dengannya, dan tidak menyadari sebuah ciuman mendarat di pipinya.

Karena terkejut kandungan Hinata sedikit bermasalah tapi semua baik-baik saja karena dokter segera menanganinya, Sasuke juga merasa cemas dengan keadaan Hinata, tapi pria itu juga tidak bisa berbuat banyak karena dirinya tidak tahu perihal kehamilan.

Hal yang terbaik untuk saat ini adalah tidak membiarkan Hinata untuk pergi keluar rumah, selama masa perawatan dia juga tidak bisa menemui Hinata karena luka yang mempersulit aktifitasnya, dan tentang masalah penyerangan Sakura, pria itu menyerahkan semua pada pihak yang berwajib.

Sasuke sangat bahagia walaupun terluka tapi sikap Hinata semakin berubah, wanita muda itu memberikan perhatian lebih padanya, Hinata juga selalu menghubungi untuk menanyakan perkembangan kesehatannya.

Di tempat lain...

Di sebuah rumah kecil di pinggiran kota, tempat ramai dengan orang-orang kelas menengah kebawah, rumah-rumah sewaan dengan harga yang murah dan sedikit kotor.

"Sial,.."

"Sudah satu bulan aku berada di tempat kotor ini." seorang wanita muda tengah mengumpat dengan membanting gelas yang sedang di pegangnya.

"Ohh, apa yang harus kulakukan?"

"Ayo, Sakura berpikirlah!!" Sakura bermonolog di ruangan tersebut, ruangan kecil yang terasa sesak bagi dirinya.

Tok..tok...

Sakura terperanjat saat suara pintu ruangan tersebut di ketuk seseorang, dengan perlahan wanita itu berjalan mendekati pintu dan mengintip dari celah tirai yang berada di sisi pintu.

Sakura segera membuka pintu setelah tahu siapa orang yang mengetuk pintu.

"Hai?" senyuman yang terlihat begitu manis terukir dibibir orang yang mengetuk pintu, seorang pria muda yang membawa beberapa kantong plastik ditangannya.

"Kenapa kau lama sekali...Sasori.." Sakura menatap tajam pria tersebut, Sakura segera menutup dan mengunci pintu setelah pria itu masuk.

"Hh, aku sibuk, dan hari ini aku baru bisa meluangkan waktu, apa kau lupa, setelah Sasuke berhenti menjadi model, para model lain menjadi sedikit sibuk termasuk diriku." ucap Sasori panjang lebar.

"Aku tidak peduli, aku hanya peduli tentang kapan kau membawaku dari tempat busuk ini?" Sasori menghela napas mendengar ucapan Sakura.

"Kau tahu?, di luar sana statusmu adalah buronan saat ini, jadi bersabarlah." ucap Sasori kembali, pria itu meletakan semua barang bawaannya di lantai, pria itu kemudian duduk di sofa hitam yang sedikit lusuh.

"Sampai kapan?, sampai aku mati?" Sakura menaikan emosinya.

"Dan apa kau sudah mencari tahu bagaimana keadaan Sasuke?" ucap Sakura.

"Hm ya, satu bulan yang lalu dia yang yang memberi laporan." jawab Sasori.

"Pria itu hanya tergores, dia masih hidup, jadi kau bisa tenang karena pria pujaanmu itu baik-baik saja." lanjut Sasori.

"Benarkah?, Oh syukurlah!" Sakura menangkupkan kedua tangannya.

"Ck, apa kau lupa karena dia kau jadi buronan saat ini?, tapi kau masih saja mencemaskanya, kau begitu terobsesi padanya." ucap Sasori panjang lebar.

"Diam kau Sasori, itu adalah cinta sejati, kau tidak akan mengerti!!" Sakura menaikkan nada suaranya.

"Cinta sejati? cih... kau hanya terobsesi dan itu adalah kegilaanmu"

"Kuberi saran untukmu, hentikan kegilaanmu itu dan terima kenyataan, kau hanya terlena pada ketampanan"

"Kau mencintainya karena dia tampan, selebihnya tidak ada."

"Kau tidak mencintainya dengan melihat kebaikan dan keburukannya, karena yang kau lihat hanya bagian luar saja."

"Wanita yang berkelas akan menunjukan cintanya dengan cara yang anggun dan tidak memaksakan kehendaknya." Sasori berkata panjang lebar dan membuat Sakura terdiam.

Memang benar, Sakura tertarik pada Sasuke sejak pertama kali melihat karena pria itu berwajah tampan hanya itu, sedangkan hal lain Sakura tidak pernah memikirkanya.

"Aku bicara tentang dirimu, berhentilah berpikir bahwa dirimu istimewa karena kau hanya beruntung tidak lebih."

"Apa kau tahu, kau hanya seorang wanita egois, yang kau pikirkan hanya dirimu sendiri."

"DIAAAMM... kau memang brengsek Sasori, berani sekali kau menghinaku, apa salahku kalau aku sangat memujanya?"

"Kau menyebutku wanita rendahan?, lalu siapa wanita yang kau sebut berkelas?, hahh?" Sakura terdengar begitu marah.

"Cih, aku tidak mengatakan kau rendahan, itu ucapanmu sendiri." ucap Sasori dengan senyum meremehkan dan membuat Sakura kembali terdiam.

Sasori adalah mantan kekasih Sakura, setelah berpisah mereka tetap menjalin hubungan baik, seringkali Sakura meminta bantuan pada pria itu saat mendapat masalah atau membutuhkan teman.

Tapi Sasori sudah muak dengan tingkah Sakura, karena wanita itu hanya memanfaatkan dirinya saat mengalami kesulitan, Sakura lebih peduli dengan semua yang berhubungan dengan Sasuke.

"Kau sangat menyedihkan, memaksa, mengemis dan mempermalukan diri hanya karena seorang pria, pria yang tampan, begitukan?, seandainya Sasuke berwajah jelek, apa kau akan mencintainya?, cih, ...jawabannya tidak!!" ucap Sasori panjang lebar.

"Pergi kau sialan, brengsekk!!" Sakura mulai histeris.

Secret Passion.

Kesehatan Sasuke semakin membaik, pria itu sudah bisa kembali beraktifitas, senyuman selalu terukir dibibirnya saat mengingat perhatian Hinata, usia kehamilan Hinata memasuki bulan ketiga dan Sasuke berpikir untuk mempercepat pernikahannya dengan Hinata.

"Ada apa kau datang kesini?" ucap Hinata, wanita itu membawa teh hangat dan di suguhkan pada tamu yang datang kerumahnya.

"Hn, memangnya tidak boleh?"

"Aku ingin sekali melihatmu dan mengetahui keadaan si kecil." pria itu tersenyum.

"A-Apa??" Hinata terlihat gugup.

Pagi ini Sasuke ingin mengunjungi Hinata sebelum berangkat ke kantor, sepertinya melihat dan bertemu dengan Hinata sudah menjadi kebutuhannya.

"Aku akan mempercepat pernikahan kita, karena aku ingin menjagamu, dengan begitu aku tidak akan cemas karena kau bersamaku." ucap Sasuke, Hinata kehilangan kata.

"Aku tidak ingin mengambil resiko jika suatu saat Sakura akan datang dan melakukan hal yang buruk." lanjut Sasuke.

"Dia melakukan itu karena dia sangat mencintaimu, Sasuke." jawab Hinata.

"Tidak perlu khawatir, kupikir dia tidak akan melakukannya lagi, kita berdua tahu saat itu Sakura sedang mabuk dan terlihat putus asa."

"Dia tidak berniat untuk melukaimu, dan dia pasti tidak sengaja." wajah Hinata terlihat sedih.

"Kau masih tidak sadar juga, itu bukan cinta tapi obsesi, aku tahu bagaimana sifatnya, dan satu hal dia sudah merencanakan semua jika tidak untuk apa dia membawa senjata?" ucap Sasuke dengan penuh penekanan.

"Tapi, dia sahabatku, selama ini dia bersikap baik, setiap orang pasti melakukan kesalahan."

"Iya dia bersikap baik karena kau tidak mengusik kehidupannya, dan aku tidak akan memaafkannya untuk semua kesalahan yang dia buat." Sasuke kembali memotong ucapan Hinata.

"Cintamu dan cinta Sakura berbeda, kau rela menderita demi orang yang kau cintai, apa kau tahu menahan dan menyembunyikan perasaan pada orang yang kau cintai itu sangat sulit?" Sasuke kembali berkata.

"Dan kau melalakukan itu selama 8 tahun!" Hinata terdiam, semua yang dikatakan Sasuke memang benar, 8 tahun adalah waktu yang sangat lama, dan selama itu pula cinta Hinata untuk Sasuke tidak berubah sedikitpun.

"Harga dari sebuah kesetian sangat mahal dan tak ternilai, sepertinya aku tidak bisa membayar itu semua, tapi aku akan berusaha tetap menjaganya." pada akhirnya Sasuke tersenyum setelah kalimatnya selesai.

Hinata tidak menyangka, inikah buah dari kesabarannya menghadapi Sasuke, rasa haru yang dirasakan tidak bisa dikatakan dengan kata-kata, Hinata tidak tahu apa yang harus diucapkan dan jawaban apa yang harus diberikan pada Sasuke.

Wanita muda itu merasa cengeng, karena lagi-lagi dia hanya mampu meneteskan air matanya.

Secret Passion.

Berbagai macam kemasan makanan ringan yang sudah kosong bertebaran di lantai, botol dan kaleng minuman ringan juga bernasib sama, tidak hanya itu beberapa botol kosong minuman keras juga setia menemani seseorang yang bersandar di sofa lusuh dengan keadaannya yang mengerikan.

Layar televisi menyala dengan saluran infotainment selebritis, tatapan kosong namun menyiratkan rasa marah, kecewa, bahkan dendam dengan aura kesedihan yang menyelimutinya.

"Mantan model majalah pria dewasa, Hinata Hyuga dan rekan kerjanya Sasuke Uchiha akan segera menikah"

"Menurut informasi, Sasuke melamar Hinata untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya."

"Seperti yang kita ketahui tentang skandal yang dibuat Sasuke dan Hinata beberapa waktu yang lalu membuat publik sedikit geram dan membuat refutasi mereka memburuk."

"Tapi setelah berita ini diketahui, dukungan publik berbalik dan mereka sangat senang dengan berita ini."

"Semoga kabar berita ini bisa mengembalikan keadaan mereka menjadi jauh lebih baik."

Pyarrr...

Remot kontrol televisi itu hancur setelah di lempar ke dinding dengan kerasnya, sebelumnya wanita itu mematikan siaran televisi yang menayangkan berita tentang rencana pernikahan pria pujaannya dengan wanita lain.

"Brengsek, kalian menari di atas penderitaanku!!" wanita itu berguman sarat dengan kemarahannya yang mendalam.

"Kau memilih wanita tidak berguna itu dibandingkan diriku!!"

"Dan para Uchiha brengsek hanya kumpulan laki-laki pengecut." wanita itu mengingat kembali apa yang dialaminya beberapa hari yang lalu.

Flashback.

Sudah tiga hari setelah pertemuanya dengan Sasori berlalu, wanita itu gelisah setengah mati, pasalnya di televisi ada tayangan tentang rencana pernikahan Sasuke yang cukup ramai diperbincangkan.

Wanita itu marah, karena saat ini justru dirinya terkekang dan tidak bisa berbuat apa-apa, tapi jauh disana orang yang dirindukan sama sekali tidak mengingatnya, bahkan pria itu terlihat begitu bahagia.

"Aku harus mencari bantuan." saat tengah malam tiba suasana di rumah sewaanya terlihat sepi wanita itu keluar dengan cara mengendap supaya tidak ada yang menyadari kehadirannya.

Skyne jeans dan hoody hitam dikenakannya saat ini, flatshoes hitam juga menghiasi kedua kakinya, dia juga menutup helaian mencoloknya dengan hoody supaya tidak ada yang mengenalinya.

Wanita itu tidak peduli dengan penampilannya sekarang, dia juga enggan bercermin, karena sudah pasti terlihat mengerikan dan berantakan.

Itachi membulatkan matanya, tapi kemudian tatapannya berubah biasa dan menatap bosan pada seorang tamu tengah malam yang membunyikan bel apartemen miliknya.

"Untuk apa kau kesini." Itachi berkata malas setengah mengantuk pada wanita tersebut.

"Itachi, tolong aku, ... aku butuh bantuanmu!" wanita itu berkata setengah memohon.

"Sudah kuduga kau akan mendatangiku, Sakura." ucap Itachi dengan menatap Sakura, saat ini mereka berdua duduk di ruang tamu apartemen Itachi.

"Pergilah, aku tidak ingin ikut campur, lagi pula aku tidak mau dituduh berkonsfirasi dengan kriminal sepertimu!!" Itachi segera beranjak dari duduknya.

"Aku tidak sengaja menembaknya, Sasuke menghalangiku!" Sakura juga beranjak, berharap Itachi berbaik hati kepadanya.

"Ohh, jadi kau memang sengaja ingin menyingkirkan Hinata?, begitu?, periksakan kewarasanmu itu Sakura!!" Itachi berteriak pada wanita yang berada didepannya.

"Kumohon Itachi, kau harapanku yang terakhir, hanya kau yang bisa membantuku."

"Dengan begitu kau juga bisa memiliki Hinata kembali, Sasuke hanya pantas bahagia bersamaku!!" Sakura berkata panjang lebar.

"Cukup, ... dimana rasa malumu hahh??... setelah mencoba membunuh Hinata, kau ingin bersama dengan Sasuke?, kau pikir dia ingin bersamamu?" Itachi merasa muak dan menganggap wanita itu benar-benar sudah gila.

"Ya, Sasuke mungkin tidak ingin bersamaku lagi, tapi jika Hinata mati, paling tidak dia merasakan penderitaan yang sama denganku." Itachi menggelengkan kepala mendengar ucapan Sakura.

"Dengar Sakura, terimalah kenyataan, masih banyak pria baik di luar sana yang pantas bersanding denganmu" Itachi merendahkan nada suaranya.

"Siapa??, siapa pria yang bisa melebihi Sasuke?, katakan padaku?" Sakura meraung, wanita itu terlihat putus asa.

"Katakan siapa? kau tidak punya jawaban kan? karena memang tidak ada yang bisa melebihi Sasukeku!!"

"Oh Ya Tuhan, kau sudah buta!, hal baik apa yang pernah si baka itu berikan kepadamu?, dia juga hanya manusia biasa, apa yang kau harapkan?" Itachi mendekat dan mencengkram bahu Sakura dan sedikit mengguncangnya.

"Jangan bertingkah seolah kau peduli pada Sasuke, selama ini kau hanya menjadikan adikmu sebagai alat penghasil pundi-pundi uang di rekeningmu, kau tidak lebih baik dariku."

"Jadi apa salahnya jika kau memanfaatkan adikmu sekali lagi." ucap Sakura dengan bujukan di setiap kata-katanya.

"Pergilah, lakukan apa yang kau inginkan, aku tidak ingin terlibat dengan semua urusanmu!!" Itachi terpaksa menyuruh Sakura pergi dan wanita itu begitu marah padanya.

"Dan sekarang aku mengerti kenapa adikku lebih memilih wanita lain dari pada kau?" tambah Itachi.

Flashback end.

Sakura menjambak rambutnya sendiri, wanita itu frustrasi, gelisah, itu yang dirasakannya saat ini.

"Sialan kau Itachi!!"

"Sepertinya aku memang harus melakukannya sendirian."

Secret Passion.

Sasuke sangat sibuk, tentu saja, pria itu sibuk mempersiapkan pernikahannya, butuh waktu yang lama untuk membuat Hinata menerima lamarannya.

Setelah akhirnya Hinata mengatakan "Ya" pria itu tidak membuang waktu lagi, Sasuke kembali mengadakan konfrensi pers karena ada salah satu media yang menanyakan perihal rencana pernikahannya, gosip cepat sekali menyebar, padahal Sasuke ingin merayakannya dengan sederhana.

Tapi paling tidak refutasi buruk tentang dirinya sedikit berkurang, Sasuke bersyukur respon baik yang diberikan membuat nama Hinata kembali bersih.

Pernikahan sederhana, itu yang Sasuke inginkan, upacara yang hanya dihadiri keluarga atau para sahabat, Sasuke tidak berniat mengundang media hiburan apapun karena Sasuke bukan lagi seorang artis.

"Kau sangat cantik." Karin mencubit kecil pipi Hinata karena gemas, mereka tengah berada di ruang rias pengantin wanita, Hinata mengenakan gaun putih panjang gaun sederhana namun terlihat mewah dengan gaya modern.

"Kenapa kau murung, seharusnya kau bahagia, ini hari pernikahanmu!" Karin kembali bersuara.

"Aku hanya teringat tentang Sakura, bagaimana keadaannya sekarang." ucap Hinata sendu.

"Ya aku tahu, seharusnya kita semua berbagi kebahagiaan, tapi dia pantas mendapatkan hukuman untuk semua yang sudah dilakukannya, cinta membuatnya jadi gila." jawab Karin panjang lebar.

"Aku sangat bingung Karin, satu sisi aku menikah dengan pria yang kucintai, tapi satu sisi rasanya ini bukan waktu yang tepat, Sakura, Itachi mereka tidak suka pernikahan ini." ucap kembali Hinata.

"Apa kau memikirkan perasaan Sasuke?" tanya Karin.

"Eh??"

"Dia sangat bahagia, jangan membuatnya kecewa dengan pemikiranmu itu, jika dia tahu dia akan sedih dan merasa sudah memaksakan kehendaknya." Karin berkata panjang lebar.

"Jika kau memang ragu kenapa kau menerima lamaran Sasuke, kenapa tidak menolaknya saja." tambah Karin.

"Karin!!, aku..."

"Hhh, aku kesal padamu, aku tahu kau memikirkan Sakura dan Itachi, tapi apa kau juga memikirkan tentang Sasuke dan bayimu, paling tidak hargai niat baiknya untuk bertanggung jawab." Karin menghela napas dan mengungkapkan kekesalannya.

"Sasuke berhak memilih dan Sakura tidak bisa memaksa Sasuke untuk bersamanya, sebesar apapun cintanya." Hinata menatap Karin, ucapan Karin memang benar, kenapa Hinata tidak memikirkan hal itu.

"Kau mengerti Hinata?" Hinata mengangguk dan tersenyum.

"Ingatlah tatapan Sasuke kepadamu." ya sekarang Hinata hanya perlu untuk memikirkan kebahagiaan Sasuke, menghargai niat baik pria itu, terlepas dari masalah lainnya Hinata akan menghadapinya bersama dengan Sasuke.

"Terima kasih Karin." mereka berpelukan, akhirnya Hinata mendapat ketenangan dalam hatinya.

"Aku keluar dulu, aku akan memanggil ayahmu, acaranya akan segera dimulai, dan Sasuke pasti sudah menunggumu di altar sana." Karin tertawa dan menggoda Hinata, dan wanita itu segera beranjak.

Hinata menatap dirinya didepan cermin, untuk pertama kalinya senyuman cantik yang menandakan kebahagiaan terukir dibibirnya, setelah begitu lama dia selalu menderita.

Iya dia berhak untuk bahagia begitupun Sasuke, mereka tidak menghianati siapapun, cinta tidak bisa dipaksakan itu benar, dan sudah seharusnya Hinata menghargai semua yang sudah dilakukan oleh Sasuke.

Krieett...

Pintu kembali terbuka secara perlahan, Karin mungkin sudah kembali bersama dengan ayahnya untuk menjemput dirinya.

"Kau sudah siap rupanya."

Secret Passion

Acara pernikahan akan segera di mulai, para anggota keluarga dan kerabat sudah berkumpul, ya pernikahan yang hanya dihadiri orang-orang terdekat, mereka sudah menunggu pengantin wanita karena pengantin pria sudah siap.

Sasuke tidak bisa menyembunyikan senyum bahagia dihadapan para pria Uchiha lainnya, mereka pasti berpikir bagaimana bisa dirinya menikahi Hinata, wanita yang pernah dipermalukan olehnya saat pesta ulang tahun pernikahan ayah dan ibunya.

Madara, Obito, Izuna, Shisui, Sai, dan bahkan Itachi hadir di tempat tersebut.

"Kau lihat karena dirimu mereka memandang iba padaku." ucap Itachi.

"Pasti mereka merasa kasihan padaku, ck menyebalkan."

"Aku tidak peduli." jawab Sasuke singkat.

"Ch, kau memang adik tidak berguna, setelah menikah kau tidak akan bebas lagi, baka." ada sedikit tawa dalam ucapan Itachi.

"Aku tidak ingin berbasa-basi, jadi katakan padaku alasan apa yang membuatmu hadir disini, apa kepalamu terbentur sesuatu?" ucap Sasuke yang ditanggapi dengan tenang oleh Itachi.

"Hn..." Itachi terdiam sejenak namun bibirnya tersenyum tidak lama setelahnya.

"Mungkin karena pukulanmu tempo hari membuatku jadi orang bodoh."

"Atau..."

"Saat aku melihat adikku hampir mati karena tertembak oleh wanita gila mantan kekasihnya." Sasuke menekuk alisnya karena ucapan Itachi.

Flasback

Saat mendengar Sasuke tertembak Mikoto segera memberi tahu Itachi dan suaminya, mungkin Itachi memang egois tapi saat mendengar adiknya celaka diapun merasa khawatir.

Di luar ruang rawat Sasuke, pria itu bisa sedikit melihat dari celah pintu yang terbuka, pakaian Sasuke yang dipenuhi dengan darah membuatnya sedikit merasa ngeri, ditambah pria itu melihat ekspresi Hinata yang begitu panik.

'Jadi dia memang sangat mencintai Sasuke?' dua sisi dalam pikiran pria itu terus bergelut antara merelakan atau tetap tidak menerima hubungan Hinata dan adiknya.

Setelah itu Itachi bisa melihat betapa Hinata dan Sasuke saling mencintai, Sasuke yang mengusap perut Hinata, Sasuke yang mencium lembut pipi Hinata, semua tidak luput dari tatapan Itachi.

'Apakah kau tega untuk tidak merestui mereka?'

'Dengan atau tanpa ijin darimu, mereka tidak akan berpisah, menikah atau tidak mereka akan tetap saling mencintai.'

Itachi memikirkan perkataan ibunya, ya itu memang benar, salah siapa? Hinata sudah menolaknya sejak awal, wanita itu memiliki orang yang dia cintai, dan Hinata tetap menyimpan rahasia itu begitu lama, rahasia cintanya.

Flashback end.

"Aku tidak menyangka cinta membuat semua orang menjadi bodoh." ucap Itachi.

"Jadi kau menerima semua ini?." tanya Sasuke.

"Hhhhh, terpaksa..." ucap Itachi enteng.

"Sekali lagi aku tidak peduli." ucap Sasuke namun ada sedikit senyum dibibirnya.

"Sudah jangan banyak bicara, cepat mulai acaranya sebelum aku berubah pikiran, dan mengacaukan pesta pernikahanmu." lanjut Itachi.

"Aku akan membunuhmu kalau itu terjadi." jawab Sasuke.

"Karin dan paman Hiashi sedang menjemputnya diruang rias." tambah Sasuke, pria itu melihat kesekeliling untuk mencari orang yang sedang dibicarakan.

"Sasukeee, ..." netra Sasuke menemukan sosok Karin yang sedang berlari ke arahnya, dan wanita itu terlihat panik tidak hanya itu Karin juga memegang kepalanya yang berdarah.

"Sasukee,..." Karin kembali berteriak.

"Karin ada apa?" Sasuke dan Itachi segera menghampiri Karin.

"Hinata, ... Hinata..." Karin terlihat begitu ketakutan, suami Karin yang juga hadir disana segera menghampirinya.

"Apa yang terjadi?" Sasuke segera menolong Karin begitupun Itachi dan suaminya, semua orang yang berada disana juga terkejut melihat Karin yang terluka.

"Hinata, ..hh.. dia menghilang." ucap Karin dengan menahan rasa sakit dikepalanya.

"Apa??" Sasuke sangat terkejut.

"Cepat bawa Karin kerumah sakit!" Itachi berkata pada Suigetsu dan pria itu segera menggendong istrinya.

"Tunggu, ..." ucap Karin dengan suara yang bergetar.

"Sasuke..." wanita itu menyerahkan sebuah kertas putih yang terlipat, ada sedikit darah di kertas tersebut.

Sasuke segera mengambil kertas tersebut dengan rasa takut, setelah Karin dibawa kerumah sakit, Sasuke segera membuka lipatan kertas tersebut dan tatapannya terpaku pada pesan singkat didalamnya.

"Ada apa Sasuke?" Itachi bertanya tapi Sasuke tidak menjawabnya, dengan segera Itachi menyambar kertas yang berada di tangan Sasuke, pria itu juga tampak terkejut.

"Sakura!!" ucap Itachi sambil menatap Sasuke.

'Aku ingin kau kembali sayang, aku akan menunggumu, dan aku terpaksa membawa calon pengantinmu untuk jaminan kau akan datang padaku.'

'Salam cinta'

'Sakura'

To be continue.

Haloooo semuaaaa

Ada yg kangen ga sama SP ...

Masih ingat ga sama cerita ini?

Nich aku update tapi biar penasaran chap akhirnya chap depan alias chap 13...

Tetep tunggu ya chap depan ga terlalu panjang kayanya...

See you next chapter

Salam aisyaeva