Park Yoona adalah seseorang yang disebut sebagai nyonya besar di kediaman keluarga Park ini. Dia seorang janda karena suaminya sudah meninggal saat putra semata wayangnya itu berusia 3 tahun. Suaminya meninggal akibat dari penyakit yang dideritanya. Penyakit yang nyatanya diwariskan pada putranya tercinta.
Awalnya Chanyeol anak yang sehat dan ceria. Dia anak yang hiperaktif dan begitu menyukai hal-hal yang berbau alat musik. Tapi saat usianya menginjak 10 tahun, semuanya pun berubah. Ia jadi sering keluar masuk rumah sakit ketika penyakit yang sama dengan milik ayahnya itu mulai mengerogoti kesehatannya. Keceriaannya pun ikut terenggut dari hidupnya.
Chanyeol adalah satu-satunya keluarga yang Yoona miliki. Karena itulah ia selalu mengusahakan yang terbaik untuk putranya itu. Ketika putranya sudah bosan dengan rumah sakit dan ingin kembali ke rumah meskipun kesehatannya belum membaik, maka Yoona pun menurutinya. Ia bahkan meminta bantuan kepada pihak rumah sakit agar merawat putranya di rumah saja. Sebulan dua kali dokter yang menangani putranya akan datang kerumahnya untuk mengecek kondisi putranya. Ia Janda kaya, ia punya banyak uang tentu ia bisa membayar mahal untuk itu.
Lamunan Yoona buyar ketika putranya masuk ke dalam rumah dengan raut wajah yang lebih cerah dari hari biasanya. Iapun mengeryitkan alisnya? Apa yang membuat putranya terlihat lebih hidup? Ia ingin bertanya tapi segera diurungkan karena takut akan menghancurkan suasana hati putranya yang sedang membaik itu.
Apapun dan siapapun itu, Yoona sangat bersyukur dan berterima kasih. Senyum tipis pun tersungging di bibirnya. Ia hanya bisa berharap agar putranya itu mendapatkan semangat hidupnya kembali.
000
Sejak hari itu Chanyeol selalu menunggu kedatangan Baekhyun. Terkadang ia hanya berbicara dari atas sementara Baekhyun berdiri di tepi jalan, atau menghampiri Baekhyun dan menerima susu pesanannya secara langsung. Itu sudah menjadi rutinitas baginya yang secara tak sadar mengikis keputus asaannya.
Kadang mereka ngobrol ala kadarnya secara normal, namun tak jarang pula mereka saling mengejek selayaknya anak kecil. Semakin hari mereka pun semakin akrap. Baekhyun pun tak lagi melemparkan susu milik Chanyeol dengan kasar. Malahan terkadang Baekhyun lah yang akan lebih dulu memberitahu Chanyeol tentang kedatangannya ketika dilihatnya Chanyeol sibuk menyirami bunga-bunganya.
"Hei anak sapi, aku membawakan susumu," seru Baekhyun sembari menggoyongkan kantung plastik itu kearah Chanyeol.
Ada alasan kenapa Baekhyun menyabut Chanyeol anak sapi. Tentu itu karena Chanyeol selalu memesan dan meminum susu sapi segar yang dibawanya. Karena menurutnya susu sapi hanya diminum oleh anak sapi, mengingat dirinya yang tak menyukai cairan berwarna putih itu.
Chanyeol tentu tak menerima begitu saja ejekan itu. Maka sebagai balasannya, iapun melemparkan ejekan yang tak kalah kekanakannya.
"Hei anak kelinci, harusnya kau juga meminum susu sapi ini biar badanmu cepat tumbuh," serunya seraya menyunggingkan satu sudut bibirnya.
"Hei! tarik kembali kata-katamu anak sapi!" Baekhyun pun tak terima mendengarnya. Iapun bercakak pinggang dan menatap Chanyeol dengan tajam.
"Tak akan sebelum kau berhenti menyebutku anak sapi," jawab Chanyeol.
"Ais dasar anak sapi!" Baekhyun pun menjulurkan lidahnya pada Chanyeol.
Chanyeol terkekeh melihatnya. menurutnya Baekhyun yang tengah merajuk itu sangatlah lucu dan menggemaskan. Apalagi kalau bibirnya sudah mengerutut begitu. Persis seperti anak TK yang marah karena tak dibelikan permen oleh ibunya. Lalu iapun melakukan kejahilan yang sama untuk kesekian kalinya.
Byurrrr
"Arggg! k-kau! bajuku basah, awas kau ya! kemari kau kalau berani, jangan hanya berlindung di atas sana!" hardik Baekhyun sembari mengacungkan jari telunjuknya.
Setelah puas menertawakan Baekhyun, Chanyeolpun bergegas turun menghampiri Baekhyun.
"Siapa takut,"
Iapun berdiri tepat di depan Baekhyun dan melipat tangannya di depan dada.
"Sekarang aku disini kau mau apa?" tantang Chanyeol seraya tersenyum miring.
Hidung Baekhyun pun kembang kempis dan menatap Chanyeol dengan tatapan kesalnya. Ya ampun aku ingin sekali memukul kepalanya, tapi kenapa dia tinggi sekali? keluhnya dalam hati. Ia bahkan harus mengangkat wajahnya tinggi-tinggi hanya untuk menatap wajah menyebalkan yang sayangnya tampan itu. Oh Baekhyun apa ku gila mengatakan dia tampan? ia pun menggelengkan kepalanya berusaha menyangkal atas pengakuan spotannya barusan.
"Hemm?" Chanyeol pun mengeryitkan alisnya melihat tingkah aneh Baekhyun.
"A-aku, aku akan melakukan ini,"
Duagk!
"Arghh!" Chanyeolpun langsung mengaduh kesakitan saat tulang keringnya menjadi sasaran tendangan kuat Baekhyun. Namun saat ia menengadah, pemuda mungil itu sudah melarikan diri menggunakan sepedanya.
"Ais sakit sekali, tak kusangka kaki sekecil itu ternyata kuat juga!" gerutu Chanyeol sembari mengusap tulang keringnya yang saat ini berdenyut nyeri.
-TBC-
Bagaimana? masih ingin lanjut? kalau tak ada yang review aku berhenti sampai disini saja Huhh! (serajuk sembari melipat tangannya di depan dada)
Hehehe peace, aku alay ya? Maaaaaaf!
Terima kasih untuk yang sudah follow, favorid and review di chap sebelumnyaaaaa!
-Salam damal inchan88-
