Kalau orang awam melihat dengan mata telanjang, mungkin Yoona terlihat seperti seorang ibu yang tak bertanggung jawab karena lebih mementingkan pekerjaan kantornya ketimbang merawat putranya yang sedang sakit. Sejujurnya ia juga ingin, sangat ingin merawat dan menyiapkan semua kebutuhan putranya dengan kedua tangannya sendiri. Namun sayangnya ia tak bisa, karena itulah ia mempekerjakan seorang pelayan untuk merawat putranya itu. Dulu sekali ia pernah mencoba melakukannya, tapi hal itu malah membuatnya selalu ingin menangis setelah melakukannya.

Chanyeol itu punya jiwa dan mental yang rapuh. Dia selalu frustasi dengan penyakitnya namun tak mau orang lain mengasihaninya, termasuk ibunya sekalipun. Ia menjadi sangat sensitif ketika orang lain memperlakukannya dengan lembut atau memberi perhatian lebih padanya. Hal itu hanya akan membuatnya merasa kalau hidupnya tak lama lagi.

Namun akhir-akhir ini Chanyeol mau meminim obatnya lagi tanpa harus di paksa. Ia juga tak pernah lagi membuat pelayan barunya mengundurkan diri. Meskipun belum mau memperlihatkan senyumnya seperti dulu tapi ekspresi wajahnya terlihat lebih hidup dari sebelumnya. Tentu hal itu sangat melegakan bagi Yoona selaku ibunya.

Sebenarnya Yoona penasaran, tapi ia tak mau mencari tahu penyebab dari berubahan sikap putranya itu. Ia lebih memilih menunggu sampai Chanyeol sendiri yang menceritakan padanya.

000

Hari masih pagi, dan seperti biasanya Chanyeol berdiri di taman bunganya dengan selang di tangannya. Dari kejauhan ia melihat seseorang datang dengan sepedanya. Iapun menyunggingkan senyum terbaiknya. Namun sayangnya senyum itu luntur dalam sekejap saat tau Si pengantar susu itu bukanlah Baekhyun melainkan orang lain. Ia ingin bertanya pada pengantar susu itu, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk melakukannya.

Ia pun bertanya-tanya dalam hati. Apa yang membuat Baekhyun tak datang hari ini? Berbagai pemikiran negatif pun bermunculan memenuhi isi kepalanya. Mungkin ia harus memastikannya esok hari. Kalau Baekhyun tak datang lagi, pasti karena terjadi sesuatu pada Baekhyun.

Namun sayangnya Chanyeol harus menelan kekecewaannya lagi dan lagi hingga satu minggu berlalu. Mungkinkah Baekhyun diberhentikan dari pekerjaannya karena terlalu kasar pada pelanggan seperti yang dilakukan padanya? atau karena ia lebih memilih berganti rute karena enggan bertemu dengannya lagi? itu bisa saja terjadi mengingat tinggah kekanakannya yang suka membuat Baekhyun kesal. Berbagai spekulasi negatif pun bermunculan membuat suasana hatinya kembali memburuk.

Keesokan harinya ia lebih memilih berdiam diri di kamarnya. Ia bahkan enggan meminum obatnya karena terlalu memikirkan alasan Baekhyun menghilang dari pandangannya. Hari terus berganti hingga Chanyeol pun kembali kehilangan semangat hidupnya.

Hal yang terjadi sebelumnya pun terulang kembali. Pelayan barunya kembali mengundurkan diri karena mendapat perlakuan kasar dari Chanyeol. Tentu itu membuat Yoona gelisah. Apalagi saat ini Chanyeol mengunci diri dan enggan membuka pintu kamarnya.

"Sayang buka pintunya, hemm? ayo bicara pada mama," bujuk Yoona. Namun Chanyeol tak juga membuka pintu kamarnya.

Yoona takut terjadi sesuatu pada putranya. Maka iapun meminta seorang pelayan mengambilkan kunci cadangan. Tak lama berselang pelayan itu datang tergesa sambil membawa segenggam kunci di tangannya.

"Ini nyonya saya membawa semuanya karena tak tau yang mana," ucap pelayan itu.

"Tolong cobalah satu-satu bibi," pinta Yoona. Ia sudah tak sabar ingin melihat keadaan putranya di dalam.

Pelayan itupun segera menjalankan perintah dari nyonyanya. Dicobanya satu persatu kunci yang dibawanya. Untunglah pelayan itu berhasil menemukannya pada kunci ke 6. Yoona segera masuk ketika pintu itu berhasil dibuka. Ada gundukan selimut di atas ranjang dan ia yakin itu adalah putranya.

"Sayang mama mohon jangan seperti ini, ayo katakan pada mama hal yang mengganggu pikiranmu itu, mungkin mama bisa membantumu," bujuk Yoona.

Namun sayangnya putranya itu tak bergerak sama sekali, bahkan saat ia sudah menggoncang tubuh putranya itu berkali kali. Tiba-tiba ia merasa takut. Maka iapun cepat-cepat membuka selimut yang membungkus tubuh putranya itu.

"Oh ya ampun, Chanyeol bangun nak, Chanyeol!" Yoona pun menguncang bahu Chanyeol. Iapun tak kuasa menahan tengisnya saat melihat wajah pucat putranya yang kini tak sadarkan diri.

"Panggilakan dokter bibi cepat!" pintanya pada pelayan tadi.

Pelayan itupun cepat-cepat keluar dari kamar itu untuk menghubungi dokter yang biasa menangani Chanyeol.

"Sayang bangun nak, jangan membuat mama cemas hik," Yoona benar-benar takut sekarang. Ia harap dokter segera datang dan menyelamatkan putranya.

000

Setelah dua hari tak sadarkan diri akhirnya Chanyeol pun membuka matanya. Yoona senang bukan main melihatnya. Ia sampai menangis bersyukur karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk merawat putranya.

Selang infus masih belum dilepas dan Chanyeol hanya terduduk diam bersandarkan bantal di belakang punggungnya.

"Minum obatnya ya sayang," bujuk Yoona. Namun sayangnya Chanyeol tak memberinya respon sedikitpun. Yoona tentu tak menyerah semudah itu. Sekali lagi ia menawarkan sesuatu yang kiranya membuat Chanyeol mau mengisi perutnya.

"Ah, bagaimana dengan minum susu? bibi Jung baru saja mengambilnya dari depan,"

Kali ini Chanyeol memberi respon dengan menatap gelas berisi susu ditangan ibunya.

Yoona tentu senang melihatnya. Ia mengira putranya menaruh minat pada susu itu. Maka iapun mendekatkan gelasnya pada bibir Chanyeol.

"Nah ini minumlah,"

Namun nyatanya Chanyeol tak mau menerima susu itu dan kembali memalingkan wajahnya. Yoona pun mendesah pelan. Ia menatap sendu putranya lalu segera beranjak meninggalkan putranya itu sendiri dikamarnya.

"Bagaimana nyonya? apa tuan muda mau makan?" tanya bibi Jung.

"Tidak bi, aku tak tau harus dengan cara apa lagi membujuknya makan, ia bahkan tak mau meminum susunya,"

Kesedihan yang sama pun terlihat jelas di wajah pelayan itu. Meskipun tak turun tangan secara langsung merawat tuan mudanya, tapi ia sudah melihat tumbuh kembang tuan mudanya itu sedari tuan mudanya lahir kedunia hingga sekarang. Itu sangat cukup baginya untuk menjadi alasan dari rasa sayangnya pada sang tuan muda. Dan ketika tuan mudanya dalam keadaan yang memprihatinkan maka ia akan merasakan kekhawatiran yang sama seperti yang nyonya besarnya rasakan.

-TBC-

Mungkin cerita ini tak akan berakhir panjang, jadi maaf kalau tak sesuai harapan kalian.

Meskipunn aku mengetiknya dadakan, tapi ini tak seperti cerita-ceritaku sebelumnya yang alurnya mengalir seiring munculnya ide. Ceritaku kali ini sudah terkonsep di kepalaku endingnya bakal gimana, tinggal menuangkannya saja dalam bentuk tulisan.

Oh ya makasih untuk yang sudah review di chap sebelumnya, aku sayang kalian muach hehe, jangan bosan-bosan yaaaa????

-Salam damai inchan88-