"Ah akhirnya aku kembali kemari," tutur pemuda berperawakan mungil yang baru saja turun dari busway. Ya, dia Baekhyun yang baru saja kembali dari kampung halamannya. Saat itu ayahnya tiba-tiba menelpon memberi kabar bahwa ibunya sakit karena terlalu merindukannya. Maka buru-buru sekali ia meminta cuti pada bosnya dan langsung berangkat dihari yang sama. Setelah rindu ibunya terobati, Baekhyun pun memutuskan kembali ke tempat kerjanya. Entah mengapa ia sangat merindukan pekerjaannya itu. Tak tau apa sebabnya, tapi sekarang ia begitu menikmati pekerjaannya itu. Padahal dulu ia hanya setengah hati melakukannya. Ia menerima pekerjaan itu hanya karena faktor kebutuhan dari pada jadi pengangguran.

"Huhh akhirnya kau datang juga Baekhyun, kau tau? aku sangat lelah karena harus menghendel pekerjaanmu juga.

Dia Jongin, rekan kerja Baekhyun. Pria itu pula yang menggantikan shifnya mengirim susu di kompleks perumahan Chanyeol.

Ah bicara tentang Chanyeol, entah mengapa ia jadi merindukan pelanggannya itu. Bagaimana kabarnya ya kira-kira? ia pun tak sabar menanti hari esok tiba dan bertemu pelanggannya yang menyebalkan itu.

000

Di sinilah Baekhyun sekarang. Setelah meletakkan dua kotak susu di bawah lampu di depan rumah Chanyeol. Ia berdiri diam dan menengadah ke atas. Hanya ada bunga-bunga mawar yang cantik dan bermekaran. Ia mencoba menjinjit berharap bisa menemukan pemilik bunga itu, tapi sayangnya ia tak menemukan siapapun. Bahkan pintu gerbang rumah itupun tertutup rapat.

"Tumben dia tak muncul, biasanya juga berdiri di situ dengan senyum bodohnya itu," gerutunya.

Entah mengapa ia merasa kecewa karena tak bisa bertemu Chanyeol hari ini. Padahal ia sudah merindukan perdebatannya dengan manusia tiang berjalan itu. Iapun mempoutkan bibirnya dan segera mengayuh sepedanya. Mungkin aku harus datang lebih pagi besok, pikirnya.

000

Yoona terdiam menatap sendu putranya. Ia takut terjadi sesuatu pada putranya, tapi ia tak bisa berlaku banyak. Kalau saja putranya mau dibawa kerumah sakit mungkin ia akan sedikit lega. Tapi sayangnya putranya itu terlalu keras kepala. Selain itu juga ia tak mau memaksa putranya. Kalau ia memaksakan keegoisannya ia malah takut akan membuat putranya itu tertekan dan semakin memperburuk keadaannya.

"Mah,"

Yoona sempat terkejut ketika tiba-tiba putranya bersuara. Ia pun cepat-cepat menghampiri putranya itu. Saat ini apapun keinginan putranya pasti akan ia kabulkan. Bahkan jika putranya meminta bertemu presiden sekalipun.

"Bisa bantu aku kesana?" tanya Chanyeol sampil menunjuk kearah jendela kamarnya.

Yoona terharu mendengarnya. Setelah sekian lama akhirnya Chanyeol mau mengandalkannya.

"Ah iya sayang, sebentar," ia pun cepat-cepat membantu putranya turun dari ranjang dan mendudukannya dikursi roda. Setelahnya ia segera mendorong kursi roda itu sampai di depan jendela besar itu.

"Sekarang apa ada lagi yang kau inginkan?" tanyanya antusias. Ia hanya terlalu senang karena bisa memenuhi keinginan putranya dengan kedua tangannya sendiri. Kalau hari biasanya mana mau putranya begini. Yang ada ia hanya akan di bentak.

"Aku ingin sendiri," jawab Chanyeol seraya memandang keluar jendela.

"Oh, b-baik, tapi kalau kau butuh sesuatu panggil mama ya?"

Chanyeol hanya menganggukan kepalanya sementara tatapannya fokus pada bunga-bunganya di bawah sana.

Yoona pun bergegas keluar dari kamar itu menuruti keinginan putranya yang ingin sendiri.

Chanyol masih terdiam menatap jalanan di bawah sana. Masih lengang. Biasanya Baekhyun akan datang pada jam-jam pagi seperti ini. Saat ini ia hanya ingin memastikan sekali lagi apakah Baekhyun benar-benar sudah berhenti kerja? atau karena sesuatu yang lain.

Tak lama berselang seseorang datang dengan sepedanya. Maka Chanyeol pun merapat pada kaca dan memfokuskan matanya. Dilihatnya orang itu meletakkan susu dibawah lampu jalan depan rumahnya, Lalu berdiri diam sambil menengadah keatas melihat taman bunganya.

Deg

Itu Baekhyun, tak salah lagi. Baekhyun juga terlihat mencari keberadaannya. Bolehkah ia merasa senang sekarang? Senyum tipis pun tersungging dibibirnya. Maka tanpa menunggu lagi iapun bergegas memanggil mamanya.

"Ma! Mama! Mama!" serunya.

Yoona pun datang dengan terburu-buru.

"Iya sayang ada apa? kau ingin sesuatu? Kau ingin apa? ayo katakan pada mama?" Yoona hanya terlalu senang sampai tanpa sadar menanyakan pertanyaan beruntut itu.

"Aku mau makan dan minum obatku lagi," jawab Chanyeol dengan mata yang berbinar.

"Oh!" Yoona tentu terkejut mendengarnya. Apa yang terjadi saat ia pergi tadi? padahal ia baru sebentar meninggalkan putranya itu.

"Aku merindukan bunga-bungaku mah, aku ingin menyirami mereka lagi," jawab Chanyeol. Tentu ia berbohong soal bunga-bunga itu. Karena alasan sebenarnya tentu karena ia ingin segera bertemu Baekhyun lagi. Dan untuk menemui Baekhyun, tentunya ia harus terlihat lebih sehat. Ia tak akan membiarkan Baekhyun mengetahui kondisinya yang sebenarnya.

"Akan mama ambilkan, tunggu sebentar ya," Yoona pun bergegas keluar untuk mengambilkan makanan untuk putranya. Tapi baru sebentar kepalanya kembali muncul dari balik pintu.

"Mama lupa? makanan apa yang kau inginkan sayang? nanti biar mama masakan atau carikan,"

"Apapun mah," jawab Chanyeol seraya tersenyum tipis.

Yoona pun sempat tertegun sesaat. Karena sudah lama ia tak melihat senyum putranya itu. Rasanya ia ingin menangis saja.

"A-ah, baiklah tunggu sebentar ya sayang, akan mama ambilkan," ucap Yoona sebelum kembali menghilang dibalik pintu.

Chanyeol pun kembali menghadap kejendela, menatap jalanan yang sepi itu dimana Baekhyun sudah tak terlihat lagi.

000

Setelah dua hari lamanya, akhirnya Chanyeol mendapatkan kekuatan tubuhnya kembali. Ia bisa berdiri tegak dengan kedua kakinya sendiri. Namun wajahnya masih pucat. Maka ia menggunakan makeup untuk menutupinya.

Pagi-pagi sekali ia keluar dari rumahnya. Ia menyirami bunga-bunganya dengan suasana hati yang baik. Saat ia melihat kedatangan seseorang dari jauh. Maka iapun cepat bersembunyi di balik kerumunan bunganya yang agak lebat. Chanyeol pun mengintip dari celah-celah dahan itu.

Orang itu terlihat meletakkan susunya di bawah lampu jalan. Dan tentu saja Baekhyun lah orangnya. Setelah mletakkan susu itu Baekhyun berdiri lagi dan kembali terdiam dan menengadah keatas seperti kemarin. Bahkan ia juga melihat Baekhyun yang mencoba berjinjit hanya untuk melihat kemari. Lucu sekali, pikirnya. Iapun tak kuasa menyembunyikan senyumnya. Dilihatnya juga Baekhyun yang akhirnya menyerah dan mempoutkan bibirnya seperti bebek. Lalu membalikan tubuhnya dan menghampiri sepedanya. Maka inilah saatnya bagi dirinya untuk keluar dari persembunyiannya.

"DOR!"

Brusss

"Argg!"

Suara keras dan semburan air pun mengagetkan Baekhyun hingga sepedanya terlepas dari tangannya. Dan hanya satu orang yang selalu membuat bajunya basah dipagi hari. Siapa lagi kalau bukan Chanyeol Si anak sapi pelangannya yang paling menyebalkan tapi ngangenin itu.

"Kamu! tak bisakah kau tidak menyiram dan mengagetkanku? lihat seedaku jatuh karenamu!" protesnya. Bibirnya semakin mengerucut lucu sementara tangannya berusaha mengelap bajunya yang basah.

"Hahaha, iya iya maaf,"

Baekhyun pun mendengus seraya mengangkat sepedanya agar berdiri lagi.

"Jadi, kemana saja kau beberapa hari ini?" tanya Chanyeol kemudian.

"Chh, aku habis pulang kampung, dan aku sudah kembali bekerja tiga hari ini ngomong-ngomong, kau saja yang tak mau keluar rumah," jawabnya dengan nada kesal.

"Hee? bagaimana kau tau aku tak keluar rumah? apa jangan-jangan kau merindukanku ya sampai-sampai mencari keberadaanku?" goda Chanyeol.

"A-apa?" semburat merah pun menghiasi pipi Baekhyun.

"Kulihat kau tadi mencariku sampai berjinjit segala lagi, dasar anak kelinci, sudah kubilang kan? kau itu harus minum susu juga biar cepat tinggi," ucap Chanyeol seraya tersenyum miring.

Wajah Baekhyun pun memerah antara malu dan marah. Ia malu karena ketahuan sedang mencari keberadaan Chanyeol, dan marah karena lagi-lagi Chanyeol menyebutnya anak kelinci.

"D-dasar anak sapi, berhentilah memanggilku anak kelinci, aku tak sekecil itu tau," ucapnya kesal.

"Hahaha, tapi kau itu kecil imut seperti anak kelinci," ucap Chanyeol sembari memperagakan kalau Baekhyun hanya sebesar tangkupan kedua tangannya.

"A-apa?" Baru saja Chanyeol mengatakan aku imut? Blusss rona pipi diwajahnya pun kembali terlihat.

Chanyeol pun seketika menyadari kebodohannnya. Iapun merutuki mulutnya sendiri. Mulut sialan, umpatnya.

"Ah maksudku kau itu kecil jelek seperti anak kelinci," koreksinya.

Tentu Baekhyun kembali menekuk wajahnya. Ia sudah terlalu kesal, jadi sebaiknya ia mengakhiri hari ini sampai disini.

"Dasar anak sapi menyebalkan, sudahlah aku mau melanjutkan pekerjaanku, Daah!"

Baekhyun pun memetuskan pergi dari sana karena susu-susu di sepedanya nenanti untuk segera di antar.

"Baiklah, sampai jumpa lagi anak kelinci," seru Chanyeol seraya melambaikan tangannya dengan semangat.

Baekhyun pura-pura tak mendengar dan semakin mempercepat laju sepedanya.

Setelah Baekhyun menghilang dari pandangannya, Chanyeolpun segera masuk kedalam rumahnya. Begitu ia masuk sang ibu sudang menghadangnya.

"Kau baik-baik saja? wajahmu terlihat pucat?" tanya Yoona. Ia khawatir melihat wajah putranya yang kembali pucat itu.

Tapi Chanyeol hanya diam sembari mengisyaratkan pada ibunya untuk tak menanyakan keadaannya.

Yoona pun membiarkan putranya memasuki kamar dengan tatapan sendu. Tak ada yang bisa ia lakukan meskipun ia tau kalau komdisi putranya yang semakin tak stabil. Ia hanya bisa berdoa semoga Tuhan memperpanjang hidup putranya dan memberikan sebuah keajaiban untuk kesembuhan putranya.

-TBC-

Makasih untuk yang sudah review, Baekhyunnya nggak kemana-mana, hanya pulang kampung karena emak Byun kangen hehe

Masih perlu banyak belajar dalam dunia tulis menulis, jadi mohon maaf kalau ceritanya terlalu garing dan acak-acakan, campur-campur kaya gado-gado.

Sebel, sedih ingin marah rasanya ketika ide ada dikepalamu, tapi kau tak menemukan jalan untuk menuangkannya kedalam sebuah tulisan hingga menghasilkan sebuah maha karya.

-Salam damai inchan88-