Azriel tanpa ragu menanggalkan semua pakaiannya satu-persatu di depan Grayfia yang kini menatapnya intens, setelah hanya tersisa celana hitam yang menutupi pergelangan kakinya, tanpa segan ia langsung mengeluarkan kesepuluh pasang sayapnya yang bersinar keemasan layaknya malaikat lain.
"Terasa gerah sekali memakai semua pakaian itu." Azriel berbalik menatap Grayfia yang mengalihkan pandangannya, "Kau kenapa? Apa ada yang salah?"
Grayfia menggeleng. "Tidak, hanya saja, apakah tidak apa-apa menunjukkan sosok kita sebenarnya di sini?"
"Tidak perlu khawatir soal itu," Azriel berjalan mendekati jendela, setelah ia sampai barulah ia menatap bulan purnama yang terang benderang. "Aku sudah meletakkan sebuah segel pada pintu masuk kamar ini, dan manusia tidak akan bisa melihat kita setelah menyentuh pintu itu."
Setelah mendapatkan kepastian seperti itu akhirnya Grayfia memberanikan diri mengganti pakaiannya dengan sebuah gaun tidur berwarna hitam dengan sihir miliknya, setelah selesai wanita iblis itu mengeluarkan keempat sayap iblis yang ia punya.
Sebelum benar-benar melelapkan mata untuk malam itu, untuk terakhir kalinya Grayfia menatap punggung bersayap Azriel. "Apakah Anda tidak tidur?"
Azriel mendesah. "Pada saat keadaan seperti ini aku tidak bisa tidur meskipun aku mau, karena pada dasarnya aku juga tidak diberkati untuk menikmati mimpi." Hening sejenak, "Lebih baik kau tidur, karena sebentar lagi aku akan menemui kekasihmu."
[Second Life: Azriel]
Disclaime: I don't own anything
Warning: Just Spin-off, Just Fiction (not real), not for education, Short Fic, Violence, OC (Main Chara).
Summary: Membahas tentang kehidupan satu-satunya Malaikat yang paling disegani di Surga. Sejarah dimana ia memulai perjalanan dari awal ia membuka mata dan menghembuskan nafas, sampai ia hidup untuk sekarang ini.
Azriel Present
[...]
(Arc I: Civil War of Three Faction)
"Eh? Kenapa?"
"Setelah Maou mengetahui apa yang terjadi kepada para anak buahnya yang tidak segera kembali dari tugasnya membuntutimu, satu-satunya target yang selanjutnya ia jadikan incaran adalah Sirzechs." Azriel berbalik menatap Grayfia yang nampak terkejut, "Para Maou mungkin tidak bodoh untuk tidak mengendus apa rencana kalian, karena itulah aku ingin mengantisipasi apapun yang akan terjadi setelah ini."
"Ka-Kalau begitu, bolehkah saya ikut?!" wanita iblis itu berniat berdiri, namun jawaban singkat Azriel segera menghentikannya.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Aku tidak punya alasan khusus untuk mengajakmu, karena jika iya, rencana yang selama ini Sirzechs susun pasti akan berantakan." Azriel mendekati wanita iblis itu, kemudian menyentuhkan jari telunjuknya ke dahi Grayfia. "Meskipun kau adalah klienku, namun aku tidak wajib mengabulkan apa yang kauinginkan."
"[Rettō]"
Dalam sekejab, setelah sinar keputihan muncul dari telunjuk Azriel, Grayfia langsung menutup mata. Wanita iblis yang memiliki rambut keperakan itu segera jatuh keempuknya dataran kasur berlapiskan sprei putih penginapan itu, tanpa berkata apapun Azriel segera membenarkan posisi Grayfia, dan kemudian memakaikan selimut ke badan wanita itu.
"Maafkan aku."
[...]
Sirzechs masih tenang menggarap laporan tertulis dalam ruangannya yang hanya mendapatkan penerangan dari lampu kecil yang berada di ujung meja kerjanya. Pria yang merupakan komandan tertinggi yang sekaligus keturunan dari keluarga ningrat Gremory itu tersentak kala tiba-tiba pintu masuk ruangannya terjerembab, menampilkan sosok Moau yang mempunyai nama belakang Lucifer sedang tersenyum ke arahnya, dan Sirzechs balas tersenyum.
"Apakah ada yang bisa saya bantu, Maou-sama?" Lelaki berambut merah itu berdiri dari kursinya.
Sang Maou mendekati Sirzechs masih dengan senyum di bibirnya, "Terima kasih atas semua kerja kerasmu selama ini," Pria dengan tubuh sedikit subur itu sudah berada di seberang meja kerja Sirzechs, "Tapi kau harus berakhir sekarang."
Sirzechs terkejut saat tiba-tiba ada belasan sosok seperti penjagal berdiri mengelilinginya, belasan sosok tersebut langsung memakai sihir pengekang sebagai media pengikat Sirzechs supaya tidak berontak.
"Apa maksud semua ini, Maou-sama?!"
"Tidak perlu berpura-pura lagi karena aku sudah tahu apa rencanamu, jebloskan dia ke ruang penyiksaan!"
Setelah tercetusnya perintah itu, belasan penjagal yang menutupi wajah sampai tubuhnya dengan jubah hitam menghilang. Sang Maou kemudian berjalan keluar dengan diselingi tawa laknat seolah dia telah memenangkan sebuah pertempuran, "Hahaha, sekarang tinggal mencari kekasih bajingan itu, dan kemudian dia akan kujadikan sebagai budak seks pribadiku."
Pintu masuk ruangan itu tertutup dengan suara debam yang menggema dalam ruangan.
Keheningan meliputi ruangan itu, sampai sebuah decihan terdengar dari sosok yang tiba-tiba tampak dari sudut ruangan di samping pintu masuk.
"Dia benar-benar brengsek!" sosok yang mengumpat marah itu adalah Sirzechs, tapi kini dia ditemani oleh malaikat yang sangat ia hormati yang sudah mau membantunya dalam melaksanakan semua kudeta yang telah ia susun.
Azriel hanya menatap Sirzechs dalam diam. Yah, dirinya tidak peduli walau Sirzechs mulai berteriak-berteriak seperti orang gila, selama penghalang di ruangan ini tidak ia hilangkan, makhluk apapun dari luar tidak akan bisa mendengar suaranya.
Seperti yang Azriel duga, Maou memang bertindak cepat demi menanggulangi rencana ini. Jadi, setelah ia datang dan membuat Sirzechs kaget, cepat-cepat Azriel membuat sebuah tiruan dari teknik yang ia miliki untuk menggantikan posisi Sirzechs.
Sirzechs hanya bisa menatap tidak percaya saat sang Maou sama sekali tidak menyadari kalau yang ia tangkap hanyalah hasil dari sebuah teknik, namun Azriel hanya sedikit mendengus sebagai tanggapan dari tatapan yang Sirzechs lontarkan.
Maou? Apa itu Maou? Bagi Azriel, mereka tidak lebih dari sekedar setan kelas rendahan yang sok memiliki kekuatan, dan kemudian berlagak menjadi raja dari setan lain.
Menggelikan.
"Sampai kapan kau akan terus memberikan umpatan kepada setan tua itu?" Azriel kini sudah duduk di kursi dimana tiruan Sirzechs duduk, malaikat yang memiliki julukan dari tangan kiri Tuhan itu menyangga pipinya pada tangan kanan yang ia tumpukan pada lengan kursi. Entah sudah berapa menit dia sudah mendengarkan umpatan manis yang sudah Sirzechs lontarkan di posisi itu.
Sirzechs tersentak, kemudian dia menatap Azriel yang terlihat mulai kesal. "M-Maaf, saya hanya sedang emosi. Bolehkah saya tahu bagaimana keadaan Grayfia sekarang?"
Azriel menghela nafas, "Dia sekarang sedang tidur, kelelahan karena habis kuperkosa tadi."
Sebulir keringat dingin turun dari pelipis Sirzechs, "A-Anda... sedang bercanda 'kan?"
"Tentu saja!"
Sirzechs sedikit berjengit saat Azirel membentak, pria berambut merah itu kemudian menunduk penuh penyesalan. "Maaf..." ucapnya dengan suara lirih seperti anak kecil.
"Sudahlah, lebih baik kita menjalankan langkah selanjutnya." Azriel berdiri dari posisinya, "Kita akan pergi ke Grigori."
To be Continued...
.
A/N: Alasan saya memasukkan fic ini ke rating M adalah karena mungkin ada beberapa kata yang terdengar sedikit kasar. Saya sebenarnya merasa tidak enak, karena mungkin ada pembaca yang memiliki umur di bawah standar pembuatan KTP.
Bagi pembaca yang merasa, mohon tidak menanamkan kata-kata kotor tersebut ke dalam pikiran.
Akhir kata, Salam Lolicon.
