Azazel, adalah malaikat yang memiliki penampilan seperti pria berumur tiga puluhan yang kini telah ditolak oleh Surga selamanya. Malaikat jatuh yang kini menduduki peringkat paling atas kaumnya ini adalah satu-satunya mantan asisten yang pernah Azriel terima, lalu semenjak dia jatuh itulah, Azazel mengundurkan diri dari jabatan asisten tersebut karena merasa malu menampakkan wajahnya di hadapan malaikat yang menduduki peringkat satu dari malaikat lain di Surga tersebut.
Padahal sebenarnya Azriel tidak terlalu peduli walau Azazel telah menjadi makhluk dengan spesies lain, karena dengan dia, Azriel bisa melakukan tugasnya dengan perasaan bahagia selagi Azazel menjadi pelayan yang disuruh untuk membeli berbagai macam icip-icip dari seluruh belahan dunia saat dirinya sibuk untuk mencabut nyawa manusia.
Dan kali ini, malaikat jatuh yang sedang dibahas sama sekali tidak menghiraukan mantan atasannya yang sedang bersidekap di samping pintu masuk kamar pribadinya, dan terus saja menggenjot tubuh makhluk yang berspesies sama sepertinya namun dengan gender yang berbeda.
"Hoi."
Tenggelam dalam lautan nafsu birahi, Azazel tidak sedikit menggubris panggilan yang ia kira hanya sebuah suara yang menggema dalam kepalanya. Membuat Azriel hanya bisa menyaksikan dengan wajah datar dan tak sedikitpun terpancar sebuah ketertarikan walau yang sedang ia tatap merupakan kegiatan yang memiliki julukan Surga Dunia.
Lain halnya dengan Sirzechs yang tak sedikitpun berkedip menyaksikan hal yang entah mengapa mengingatkannya akan beberapa bulan yang lalu ia lakukan tersebut, bahkan bagi seorang Komandan tertinggi sepertinya hal di depannya ini masih tetap bisa menggugah kembali hasrat yang ia miliki sebagai seorang pria, Sirzechs menahan dengan sekuat tenaga air liur yang siap menetes kapan saja, dan terlihat beberapa kali kalau ia menelan ludah dengan susah payah.
Sebuah pekikan nyaring yang Azazel dengar dari lawan mainnya yang sukses membuatnya terheran, namun malaikat jatuh yang berpenampilan seperti pria yang baru dewasa tersebut segera menyadari kalau ada sosok lain yang kini sedang berdiri di belakangnya, terbukti jelas bahwa lawan mainnya yang kini tatapannya terpaku ke arah tersebut.
Azazel tahu, barang siapa yang masuk kemari tanpa atau dengan menimbulkan keributan, maka dia sudah meyakini kalau makhluk tersebut merupakan makhluk yang sangat superior. Dan semua itu terbukti jelas saat dia melepaskan 'adik kecil'nya yang sedang tegang dan berbalik, dia mendapati bahwa mantan atasan yang sangat-sangat ia hormati kini sedang menatapnya dengan sorot mata sedingin gletser.
"A-Azriel-sama...?!"
Azriel sama sekali tak merubah raut wajahnya yang datar. Dia berjalan ke arah pinggiran kasur dan dengan tenang duduk di sana sembari menatap kedua makhuk yang sudah bertelanjang diri, "Bagaimana kabarmu, Azazel?"
[Second Life: Azriel]
Disclaime: I don't own anything
Warning: Just Spin-off, Just Fiction (not real), not for education, Short Fic, Violence, OC (Main Chara).
Summary: Membahas tentang kehidupan satu-satunya Malaikat yang paling disegani di Surga. Sejarah dimana ia memulai perjalanan dari awal ia membuka mata dan menghembuskan nafas, sampai ia hidup untuk sekarang ini.
Azriel Present
[...]
(Arc I: Civil War of Three Faction)
Malaikat jatuh yang memiliki gender berbeda dengan tiga makhluk lainnya yang berada di kamar itu sebenarnya ingin sekali mengusir sosok yang telah lancang mengganggu kemesraannya dengan petinggi kaumnya, namun semua itu ia indahkan setelah melihat kalau pria yang beberapa menit tadi sedang menggoyang tubuhnya kini sedang terkejut bukan buatan.
Pasalnya, siapapun malaikat tampan yang dipanggil dengan nama Azriel ini bukanlah seperti malaikat pada umumnya. Meskipun sekilas terlihat sama, namun ada perbedaan dengan jumlah sayapnya yang terlihat terlalu berlebihan.
Menunjukkan sebuah kebenaran kalau level malaikat ini sangat berbahaya.
"Ka-Kabarku, baik kok." Setelah menjawab dengan sedemikian rupa, Azazel kemudian terkekeh sembari mengusap belakang kepalanya. Kebiasaan Azazel ketika dia gugup, bahkan kegugupannya membuat apa yang tadi berdiri tegak kini sudah menciut ke ukuran semula.
Azriel tak menggubris kembali, tatapannya kemudian teralih kepada malaikat jatuh yang kini dengan perlahan menarik selimut tebal untuk menutupi seluk beluk tubuhnya.
Dia sedikit berjengit saat Azriel terlalu lama menatapnya dengan kilatan mata yang tak bisa diartikan, namun dia bisa kembali bernafas normal ketika pandangan Azriel jatuh kepada Azazel kembali.
"Ternyata kebiasaan burukmu masih saja sama," Ingin Azriel mendengus saat Azazel kembali terkekeh, "Padahal perang sudah hampir pecah, tapi sepertinya kau sama sekali tidak mengkhawatirkannya."
Wajah Azazel tiba-tiba saja hilang warnanya saat ia kembali harus diingatkan tentang perang yang akan terjadi. Apa yang ia lakukan beberapa menit yang lalu merupakan sebuah pengalihan agar dirinya bisa melupakan sejenak tentang perang itu, namun kenyataan memang terasa sangat menyakitkan, bahkan tak lagi bisa ia sangkal.
Rasa bersalah membuat Azazel menunduk, "Bisakah kita membicarakannya di tempat lain?" untuk terakhir kalinya Azazel menatap malaikat jatuh dengan gender perempuan itu, "Kau boleh pulang."
...
Ketiga pria yang masing-masing berbeda spesies yang tadi sempat sedikit berdebat di dalam kamar, kini sedang berjalan di koridor sepi mansion milik Azazel. Beberapa kali mereka lihat kalau maid yang bekerja di sana terkejut karena melihat penampakan seonggok malaikat yang sama sekali tidak menyembunyikan wujudnya di teritori malaikat jatuh ini, namun mereka segera membungkuk memberi hormat sebelum pada akhirnya membuntuti ketiga pria itu.
Deretan panjang malaikat jatuh yang memakai seragam pelayan, kini berbaris di belakang kursi ruangan kerja majikan mereka. Namun seketika mereka dibuat terkejut karena alih-alih Azazel, yang duduk di kursi itu adalah makhluk suci yang saat ini sedang mereka waspadai.
"Semuanya, tetap diam di posisi kalian!" Azazel memberi perintah kepada para pelayannya. Dia khawatir, karena satu kali melakukan kesalahan, keberadaan mereka akan segera dihapuskan. Lenyap tak bersisa.
"Baiklah," Azriel mengubah posisinya dengan bersandar di punggung kursi dan melipat kakinya selayaknya bos yang paling berkuasa, "Aku akan memulai dengan sesi bertanya, silahkan kalau begitu."
"Azriel-sama," Sirzechs mengangkat satu tangannya, "Bukannya rencana kita hanyalah menyingkirkan jajaran Maou saat ini?"
"Bukan, itu bukan rencana kita, itu adalah rencanamu. Aku hanya setuju untuk membantumu, karena kau menawarkan sebuah gencatan senjata setelah kau resmi menjadi seorang Maou." Azriel menghela nafas sejenak, "Jika kita berbicara tentang rencana, perlu kalian ketahui kalau rencanaku adalah untuk menjaga keseimbangan populasi antara tiga kubu akhirat. Tidak lebih dan tidak kurang. Soal perang, aku sama sekali tidak tertarik selama Tuhan tidak memintaku untuk ikut."
"Azriel-sama," kali ini Azazel yang mengangkat tangan, "Kenapa tiba-tiba Anda datang kemari?"
Tatapan malaikat itu kini beralih ke Azazel, "Aku datang kesini bertujuan untuk menanyakan tentang persiapanmu pasca perang terjadi. Kau mungkin sudah tahu kalau dari tiga kaum akhirat, jumlah populasi malaikat jatuhlah yang paling sedikit. Karena itulah, aku memintamu agar selama perang berlangsung, jangan paksa para prajuritmu untuk maju teratur. Itu hanya akan membuat kelompokmu menjadi incaran empuk bagi kedua kubu lain, kuharap kaupaham."
"T-Tapi, dengan kekuatan suci kami –"
"Apa kaulupa dengan 72 keturunan murni?" Azriel melirik sejenak ke arah Sirzechs sebelum akhirnya kembali ke Azazel, "Yah, mungkin beberapa diantaranya ada yang ikut membelot, tapi tetap saja kekuatan suci tak terlalu berpengaruh pada mereka." Melihat kalau Azazel kembali ingin menyela, cepat-cepat Azriel melanjutkan. "Memangnya siapa yang bisa menjadi kepala pasukan kalau bukan kau sendiri, Kokabiel, dan Barakiel? Apa kau masih punya ujung tombak lain yang belum aku sebut?"
Dengan berat hati, Azazel menggeleng.
Azriel kembali menghela nafas, "Ingat, Azazel. Menang bukanlah segalanya, karena yang bertahan hidup, itulah yang menang."
To be Continued...
.
A/N: Cerita ini memiliki rating M, oke? Jangan terlalu kaget bila menemukan scene intim seperti di awal cerita, namun perlu kalian ketahui kalau saya tidak akan membuat cerita porno, dan ini masih tetap berpusat pada Adventure.
...
Sedikit penjelasan.
AZRIEL di cerita ini adalah OC buatan LOLICON BIJAK, dan NARUTO tetap NARUTO, bukan AZRIEL yang menyamar jadi NARUTO! (ini review memang absurd).
Paham sampai di sini?
'-')b Siip~
Kalau masih ada yang bertanya tentang Naruto, mending tekan tombol [back] di layar masing-masing.
Akhir kata, Salam Lolicon.
