Azriel kini terpaku melihat bayangan wajahnya sendiri dari pantulan air danau. Selepas peperangan terjadi, dia terus melakukan hal itu hingga lebih dari tiga jam, tak menyadari kalau Gabriel sedari tadi memandang malaikat itu dengan khawatir dari kejauhan.

Gabriel tak sedikitpun mengira kalau malaikat yang selalu ia panggil dengan sebutan 'Onii-sama' itu akan bisa tertekan sampai pada titik ini, padahal Gabriel pikir kejadian semacam ini sudah pernah Azriel perhitungkan pada waktu-waktu lalu, namun ternyata dirinya salah besar.

Ya, memang kejadian seperti itu tidak akan pernah bisa diduga oleh siapapun, karena datangnya dua Naga Surgawi di dimensi itu adalah sebuah kebetulan yang amat sangat kebetulan. Terlebih lagi, yang lebih buruknya adalah karena kedua Naga itu sedang saling bertarung.

Gabriel ingat betul bagaimana Tuhan mengerahkan seluruh energinya untuk membuat kedua Naga itu terdiam dan kemudian mengutuk mereka menjadi sebuah benda yang disebut sebagai Sacred Gear.

Namun selepas dari itu, Gabriel tak akan pernah lupa bagaimana raut wajah Kakaknya yang bernama Azriel itu saat menghabisi empat Maou dalam kurun waktu kurang dari dua menit. Dia bersumpah, tatapan serta ekspresi yang terpancar saat itu melebihi keseraman dari sosok setan paling menakutkan sekalipun.

Dan kalau menilik lebih dalam, sosok yang paling pantas disebut sebagai Maou adalah Kakaknya sendiri.

Tapi walaupun demikian, Azriel tetaplah malaikat terkuat dengan hati yang suci.

[Second Life: Azriel]

Disclaime: I don't own anything

Warning: Just Spin-off, Just Fiction (not real), not for education, Short Fic, Violence, OC (Main Chara).

Summary: Membahas tentang kehidupan satu-satunya Malaikat yang paling disegani di Surga. Sejarah dimana ia memulai perjalanan dari awal ia membuka mata dan menghembuskan nafas, sampai ia hidup untuk sekarang ini.

Azriel Present

[...]

(Arc I: Civil War of Three Faction)
(Final)

"Apa yang kauinginkan, Gabriel? Tolong, tinggalkan aku sendiri sekarang."

Azriel merasa kalau apapun yang ia ucapkan tidak akan berpengaruh kepada gadis malaikat yang kini berdiri di belakangnya, dan kemudian semua itu terbukti, karena pada saat dia menolehkan kepalanya dan melirik, gadis malaikat itu masih setia berdiri di tempatnya.

Saat ia kembalikan arah tatapannya ke danau, dua tangan dengan tiba-tiba saja muncul dari belakang tubuhnya dan kemudian melingkari lehernya dengan sangat pelan. Sebuah dekapan hangat ia rasakan pada permukaan punggungnya yang lebar saat Gabriel kini benar-benar memeluknya dari belakang, Azriel juga dapat merasakan hembusan hangat nafas Gabriel saat gadis malaikat itu menyandarkan kepalanya di tengkuknya.

Kedua malaikat dengan gender yang berbeda itu tetap terdiam dalam posisi itu selama beberapa menit, sebelum pada akhirnya Gabriel menarik lagi kepalanya dari tengkuk malaikat bersurai putih itu. "Onii-sama, tolong hentikan kesedihanmu ini, aku mohon."

Apapun yang dirasakan Gabriel setelah itu, hanyalah sebuah kekecewaan saat dengan perlahan malaikat yang menjadi pusat perhatiannya itu melepaskan kalungan kedua tangannya. Namun saat Azriel berbalik, Gabriel hanya bisa terperangah kala malaikat itu melemparkan senyum kepadanya.

"Air mataku sudah tidak akan bisa keluar lagi untuk menangisi hal seperti ini," dengan iseng, Azriel mengacak puncak kepala malaikat yang selalu bisa menenangkan hatinya itu, "Dan itu semua berkat kau, Gabriel."

Gabriel menunduk dan tersipu malu, "Terima kasih."

Wajah dengan rona itu dapat membuat senyum Azriel bertahan beberapa detik lebih ekstra, sebelum pada akhirnya semua ekspresi di raut wajahnya kembali seperti tembok porselen, bahkan tangannya pun sudah terlepas dari kepala penuh rambut pirang itu. "Aku hanya bisa terheran melihat sifatmu yang seperti ini, terkadang kau bisa sangat manja seperti anak kecil, terkadang kau juga bisa sangat bijak dan kalem seperti sudah menjadi ibu rumah tangga. Sebenarnya sifatmu yang asli itu yang mana?"

Dengan memasang sebuah tatapan polos, Gabriel tersenyum sembari memiringkan kepalanya. "Tergantung."

Dan pada akhirnya Azriel hanya bisa menghela nafas.

[...]

"Sirzechs-sama...!"

Meskipun terlihat sebuah momen kebahagiaan di depannya, malaikat bersurai putih yang menyandang posisi sebagai Tangan Kiri Tuhan itu sama sekali tak menampakkan sebuah senyuman, bahkan pancaran matanyapun sama.

Sedangkan di samping kanannya, Gabriel yang pada dasarnya gampang sekali emosional, kini sudah terhanyut dan terombang-ambing di lautan penuh cinta dua makhluk yang memiliki spesies berbeda dari dirinya. Melihat hal itu, ingin rasanya Azriel mendengus, namun suara panggilan Sirzechs yang tertuju padanya membuatnya menoleh.

"Azriel-sama, terima kasih sudah bersedia menjaga Grayfia selama ini." Sirzechs dengan tiba-tiba menyentuh perut Grayfia dan mengelusnya perlahan, "Dan tentunya juga, momongan saya."

"Yah, itu bukan sebuah masalah, terlebih lagi dia tidak pernah meminta sesuatu yang aneh-aneh."

Sirzechs tersenyum mendengar itu, namun dua detik kemudian senyum itu menghilang dari paras tampannya. "Azriel-sama, saya harus mengatakan sesuatu yang penting kepada Anda." Ada jeda sejenak sebelum Sirzechs melanjutkan, "Perang masih akan terus berlanjut."

Wajah datar Azriel mengeras kala kedua alisnya bertautan, "Apa maksudmu?"

"Bahkan setelah beberapa jam perang antar tiga fraksi selesai, kaum iblis kembali dibuat goyah saat golongan pro Satan masih belum terima dengan terbunuhnya para Maou. Namun dewan yang berpihak pada anti Satan menolak mentah-mentah usulan untuk menyerang koloni malaikat jatuh. Dan dewan yang berpihak dilain sisi, menyutujui usulan tersebut."

"Dan perang yang kau maksudkan kali ini adalah perang antar saudara, begitu?"

Sirzechs mengangguk. "Benar sekali. Namun untuk masalah kali ini, saya akan memenangkan perang ini dengan usaha para anti Satan yang dimana saya termasuk di dalamnya. Dan saya tidak akan membiarkan mereka bertindak lebih dari ini."

"Yah, itu terserah padamu. Karena selama mereka tidak mengusik pihak luar, maka aku tidak akan ikut campur dalam masalah itu." Azriel membuang nafas, "Kelakuan para setan dari dulu tetap saja sama."

Sirzechs hanya bisa menanggapi ucapan itu dengan sebuah kekehan gugup.

"Anu, Azriel-sama..."

Perhatian Azriel teralihkan pada Grayfia yang berjalan mendekatinya dengan kepala tertunduk, dan Gabriel merasakan sebuah firasat ketidakberesan dalam hal ini.

"Apa ada yang kauinginkan, Grayfia?" tanya Azriel.

Grayfia mendongak, kemudian menggeleng dan tersenyum, "Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena Anda sudah bersedia melindungi dan merawat saya," Grayfia menunduk lagi, "Dan..."

Cupp!

"...Ini adalah balasan untuk yang waktu itu."

Sirzechs dan Gabriel kini sudah sama-sama ternganga setelah dengan sangat jelas melihat kalau Grayfia mencium pipi kiri Azriel. Sementara malaikat yang memiliki gender laki-laki itu tak sedikitpun merubah ekspresi bak tembok porselen miliknya, dan hanya sebuah alis terangkat yang menjadi sebuah tanggapan tanya.

Grayfia kemudian kembali ke sisi kekasihnya, dia merangkul salah satu lengan Sirzechs yang kelihatannya sedang mengalami sebuah konslet berat pada otaknya. "Kalau begitu, sampai jumpa Azriel-sama."

Dan akhirnya kedua iblis itu pergi dengan sihir teleportasi, menyisahkan dua malaikat dengan perawakan dan jenis kelamin yang berbeda di kamar penginapan itu.

Azriel kemudian menoleh ke arah Gabriel saat dia merasakan sebuah aura negatif yang terpancar di sekeliling gadis malaikat itu, ingin Azriel menegur, namun Gabriel terlebih dahulu buka suara.

"Onii-sama..." gadis malaikat itu menggeram seperti monster yang sedang marah, dan tiba-tiba dia mendongak. "DASAR MALAIKAT MESUM!"

PLAKK!

AND, CUT!~

.

A/N: YESS... akhirnya Arc I selesai juga, berkat imajinasi tiada batas ini saya berhasil.

Sebenernya radak kasihan sama Sirzechs yang kena tikung tepat di depan matanya hahahaha :v lolz. Hidup Azriel :"v 9 sang Lolicon Bijak :"v 9

Untuk sekedar promosi, jangan lupa membaca fic terbaru yang saya publish berbarengan Upnya fic ini. Fic tersebut memiliki judul [My New Papa is Lolicon?] yang pastinya akan menggugah setiap serat-serat sifat Lolicon yang anda punya :v Loli Epeliwell

Dan untuk selanjutnya, saya akan menghiatuskan fic ini sementara dan diganti dengan menggarap fic [Time Loop] agar Arc I juga bisa selesai seperti fic ini, dan setelah Arc I selesai, saya akan terlebih dahulu menggarap [Second Life: Story of Black Dragon Haku].

Oke, selama saya menggarap fic ini, saya telah merasakan sebuah ketidakpuasan dari pembaca sekalian yang protes tentang ketidakadaannya unsur [Naruto] dalam fic ini. Namun mungkin nanti anda akan tahu bagaimana kentalnya keterkaitan fic ini dengan fic yang memiliki judul [Second Life] lainnya.

Namun jika anda merasa tidak suka dengan fic ini, saya tidak melarang anda sekalian untuk menekan tombol back masing-masing.

Sampai di sini saja, selamat membaca fic terbaru saya.

Dan akhir kata, Salam Lolicon.