Malam hari, adalah sebagian waktu dimana biasa digunakan oleh seluruh makhluk hidup untuk mengistirahatkan fisik dan mental yang kelelahan. Namun berbeda halnya dengan pria berambut pirang yang bernama Naruto Uzumaki yang kini masih harus membuat otaknya bekerja pada malam hari.

Pria yang merupakan agen dengan pangkat Operasi Rahasia itu sudah hampir dua jam berturut-turut menatap layar laptopnya yang menampilkan sebuah foto wanita berambut pirang yang bernama Shion Yamanaka. Di samping foto tersebut ada kumpulan data dan info dari wanita tersebut yang berkumpul menjadi sebuah lampiran sederhana, dan dari apa yang membuat Naruto harus memijit pelipisnya kini adalah sebuah data yang mencakup status kehidupan wanita itu saat ini, janda.

Belum lebih dari dua belas jam Naruto mengenal wanita itu, dia langsung dibuat sakit kepala atas permasalahan yang pada dasarnya masih belum jelas ia ketahui penyebabnya. Dan jika ia gabungkan semua ucapan wanita itu dengan data kepolisian yang ia peroleh dari situs resmi saat ini, maka sebenar-benarnya dirinya akan terlibat dalam sebuah kasus yang pastinya akan ditilik oleh publik.

Naruto ingat sebagaimana Shion berkata kalau dia memiliki seorang suami yang kini menjadi seorang mantan suami, lalu setelah dirinya pulang dan membawa Ino untuk ikut bersamanya, data yang diperoleh dari situs resmi kepolisian malah mencantumkan kalau Shion adalah seorang janda.

Lalu, manakah yang benar?

Kebanyakan orang pasti bingung dengan informasi ini, namun sebagai agen yang sudah dilatih agar dapat berimprovisasi dalam keadaan apapun, Naruto kini sudah mendapatkan sebuah kesimpulan. Bahwasanya, siapapun pria yang kini menjadi mantan suami dari wanita bernama Shion Yamanaka, bukanlah pria biasa.

Sebagaimana yang ia ketahui bahwa, orang biasa tidak akan mungkin bisa mengubah status kehidupannya dalam kurun waktu kurang dari dua belas jam. Dan dengan fakta yang baru saja ia peroleh ini, Naruto tahu kalau dirinya akan berhadapan dengan seorang yang memiliki sebagian kekuasaan dari uang.

Seseorang yang pastinya memiliki sebuah pengaruh dalam dunia politik, yang berani menyogok badan keamanan negara dengan sangat mencolok.

Dan itu merupakan sebuah kriminalitas.

[My New Papa is Lolicon?]

Disclaime: Owned by Masashi Kishimoto

Warning: OOC, Typo, Loli Ino, Agent Naruto, Not Lemon but! Huehuehue...

Genre: Romance, Drama, family, Adventure, Humor, and Etc.

Summary: Naruto Uzumaki, seorang agen dengan pangkat operasi Black Ops yang sekarang sedang menikmati liburan panjangnya. Tapi kini dia harus menikmati liburan tersebut dengan seorang gadis kecil berumur 11 tahun yang polos bukan buatan. Apakah yang melatarbelakangi kehidupan mereka berdua?

Azriel Present

[...]

Chapter 2: I'm Failed.

Arah jarum jam yang pendek kini sudah menunjuk angka satu, sedangkan jarum jam yang panjang kini menunjuk angka lima. Jam setengah dua kurang lima menit, itu menandakan kalau Naruto sudah duduk dan menatap layar laptopnya di ruang tamu tepat memakan durasi selama dua jam.

Dengan segenap kelelahan mental yang ia derita, punggung sofa yang empuk adalah salah satu media agar tubuhnya tidak ikut hancur seperti isi kepalanya yang terasa berputar. Pria itu melenguh pelan sembari memejamkan mata, dia sudah terlalu lelah untuk kembali memikirkan masalah tentang wanita bernama Shion itu sekarang.

Saat Naruto mencoba bersantai, suara khas pintu yang terbuka seketika mengalihkan perhatiannya. Pria itu menoleh, dan mendapati kalau gadis kecil yang memiliki rambut pirang sebahu keluar dari kamar sembari mengucek satu matanya. Ditambah dengan kaos kedodoran yang ia pakai, Naruto merasa ingin tertawa.

Sungguh, dia imut.

"Ino, kenapa kaubangun?" Naruto bertanya sembari terus melihat gerak-gerik gadis kecil yang kelihatannya bingung tentang keberadaannya sekarang.

"Kakak, ini di mana?"

Naruto melepaskan sebuah senyuman, "Ini di rumahku, memangnya kenapa?"

Ino membuka mulutnya bersiap untuk menyahut lagi, namun ia tidak jadi melakukannya lantaran ada sebuah tekanan di bagian bawah tubuhnya yang membuat gadis kecil itu merengut. "...Toilet."

Sejenak Naruto terdiam, sebelum pada akhirnya dia menunjuk sebuah pintu. "Di sana," mata pria itu terus mengekor Ino yang sudah berjalan melewatinya, dan saat gadis kecil itu berada di depan pintu masuk Naruto kembali bicara. "Toiletnya ada di pintu di samping bak mandi, jangan sampai terpleset."

Melihat anggukan Ino, Naruto jadi kembali tersenyum.

'Jadi begini ya rasanya jadi orang tua?'

[...]

Rasa sesak yang membuat nafas Naruto menjadi sedikit berat, membuat pria itu terpaksa membuka matanya agar dapat melihat benda apa yang kini berada di atas badannya. Dan seperti yang dapat ia duga, kalau benda itu adalah Ino yang sedang terlelap dengan mulut terbuka dan mengeluarkan liur.

Naruto hanya bisa menghela nafas pelan. Tahu begini, lebih baik tadi malam dia tidur di kasur, dan mungkin Ino akan mengikutinya. Berlama-lama melihat wajah polos itu, Naruto jadi tak tahan ingin tersenyum lantaran wajah gadis kecil ini begitu lucu dan imut. Hatinya tiba-tiba saja tergelitik, dia jadi ingin punya anak sungguhan.

"Papa..."

Renungan batin Naruto seketika pupus saat Ino bergumam dalam tidurnya, pria berambut pirang itu menoleh ke samping untuk melihat jam yang terpasang di dinding. Kedua matanya langsung melebar ketika jarum yang kecil menunjuk angkah sembilan dan yang panjang menunjuk angka lima, sial ini sudah terlalu siang.

"Ino, Ino, ayo cepat bangun!" Goyangan yang Naruto lakukan pada tubuh Ino membuahkan hasil, gadis berambut pirang itu dengan sangat enggan membuka matanya. "Hei, cepat buka matamu, gadis cantik. Kau tidak lupa akan berbelanja hari ini 'kan?"

Suara berat itu seketika menghantam kesadaran Ino, cepat-cepat gadis kecil itu bangkit dari posisinya dan kemudian menutupi wajahnya agar tidak dilihat oleh pria yang sedang ia duduki perutnya itu.

Dengan perlahan, tubuh Ino merosot dan akhirnya dia menapak pada lantai dingin rumah itu. Lalu tiba-tiba saja dia berlari ke arah satu-satunya kamar di rumah itu, dan kemudian menutup kembali pintu itu dengan sangat keras, sampai-sampai suara berdebam yang timbul seperti dapat mengalahkan suara letusan peluru dari shotgun 870S. Dan itu adalah hal kedua yang menjadi satu-satunya hal yang dapat membuat Naruto berjengit.

'Ada apa dengan gadis itu?'

[...]

Naruto ingat-ingat kembali saat dulu dirinya masih menginjak masa remaja, dia terlalu sering tidak peduli pada para gadis dan selalu mendahulukan apa yang sangat ia gemari dulu. Rasa sukanya pada game bergenre FPS bahkan melebihi rasa sukanya pada lawan jenisnya, meskipun dia pernah beberapa kali menjalin hubungan dengan dasar cinta monyet yang ujung-ujungnya berakhir mengenaskan karena dia tidak terlalu memberi perhatian pada sang kekasih.

Dan saat Naruto menerima pesan yang berisikan pernyataan putus, wajahnya sama sekali tidak menampilkan ketidakpedulian yang berarti, dan akhirnya beberapa kali dia juga menjalin hubungan yang berujung sama. Kandas dan menyedihkan.

Kurangnya pengetahuan pada lawan jenisnya itulah yang membuat pria berambut pirang itu kini sedikit kesal. Pasalnya, sudah hampir dua puluh menit berselang dia menunggu Ino yang tak kunjung keluar dari kamar mandi. Oh, betapa malangnya pria yang tidak tahu bahwa kamar mandi adalah tempat ritual paling keramat bagi para gadis, dimana mereka biasa melakukan kegiatan ehem-ehem dan ehem-ehem lainnya.

Apa maksudnya ehem-ehem itu woi!?

Cklek!

Dan pada akhirnya, pintu yang menampilkan Ino membuat perhatian Naruto langsung tetarik padanya. Gadis kecil berambut pirang yang tiba-tiba saja diberi tatapan menusuk seperti itu, langsung saja berjengit di tempatnya.

Ino tiba-tiba saja menyadari sesuatu, dan dengan gugup ia mencoba berbicara. "Anu, a-apa aku terlalu lama membuat Kakak menunggu?"

Melihat wajah Ino saat ini, mengingatkan Naruto akan wajah gadis itu kemarin sore. Sebagai agen yang terkadang memang sering ditugaskan untuk memburu orang-orang yang menjadi buronan dunia, Naruto juga masih memiliki perasaan seperti manusia lain. Dan seperti saat ini, dia jadi tidak tega untuk sekalipun menyentak gadis yang tubuhnya hanya berbalutkan sehelai handuk itu.

Dan sebuah helaan nafas pelan menjadi media untuk melenyapkan rasa kesal dalam hatinya, pria berambut pirang itu kemudian melemparkan senyum. "Tidak, tidak apa-apa. Tapi lain kali, jangan sampai melebihi sepuluh menit, oke?"

Senyum terkembang di bibir ranum gadis berusia sebelas tahun itu, "Umh!" setelah mengangguk penuh antusias, Ino kemudian berlari ke arah kamar dan lagi-lagi menutup pintunya dengan sangat keras.

Untuk yang kedua kalinya di siang hari ini, Naruto dibuat berjengit.

[...]

Trauma adalah sebuah perasaan yang membuat seseorang selalu bisa membayangkan kejadian menyakitkan yang akan terus membekas di dalam benaknya, hal menyakitkan yang selalu membuat penderitanya merasa ketakutan akan sesuatu yang berhubungan dengan traumanya.

Dan trauma itu, kini dapat dengan jelas Naruto lihat di wajah gadis kecil yang kini sedang berjalan dengan memegangi ujung belakang kaosnya. Pengalamannya kemarin sore pasti adalah pengalaman paling buruk selama ia hidup, sampai-sampai mentalnya terhadap orang lain bisa menjadi buruk seperti ini.

Pria berambut pirang itu berhenti, membuat Ino juga secara otomatis ikut berhenti. "Kakak, kenapa berhenti?"

Naruto menanggapi pertanyaan itu dengan sebuah senyuman, kemudian pria itu berjongkok untuk menyetarakan tingginya dengan gadis kecil itu. "Mau Kakak gendong?"

Ino dengan tiba-tiba merengut, "Aku sudah sebelas tahun, dan aku sudah besar!"

"Oh, baiklah kalau begitu." Naruto berdiri, dan kemudian langsung meraup tubuh kecil Ino di dalam gendongannya.

"Kyaah~" teriakan Ino membuat beberapa pejalan kaki menoleh ke arahnya, namun Naruto tidak mempedulikan hal itu dan terus saja tertawa. "Kakak, turunkan aku! Turunkan aku! Kakak! Ini sangat memalukan! Cepat turunkan aku!" sambil berteriak, Ino terus saja memukul dada bidang Naruto dengan tangan kecilnya. Dan bagi Ino, digendong ala putri kerajaan di depan umum menjadi momen yang paling memalukan dalam hidupnya.

...

Sesampainya kedua makhluk yang memiliki rambut pirang namun dengan gender berbeda itu di area VIP, terlihat sebuah kerumunan kecil di tempat dimana salah satu ruangan VIP yang menjadi tujuan mereka.

Sesegeranya Naruto menyuruh salah satu perawat untuk menjaga Ino selagi dia berlari untuk melihat apa yang terjadi pada Shion. Dan kemudian mata biru itu menjadi datar saat indera pengelihatannya menangkap kalau wanita yang Naruto maksud sudah memejamkan mata dengan tubuh yang berlumuran darah, adalah sebuah pistol dengan silencer (peredam) yang tergeletak tepat di perutnya.

Naruto mengusap wajahnya dengan frustrasi.

Ini adalah sebuah kegagalan.

Kegagalan yang menyedihkan.

Namun, kegagalan ini mungkin hanyalah sebuah awal, karena dirinya masih harus melindungi satu sosok lagi, Ino Yamanaka. Pria tersebut menyingkir dari kerumunan dan mengeluarkan ponselnya, setelah mencari nomor yang dituju, ponsel itu segera menempel di salah satu telinganya.

Sebuah suara 'klik' terdengar sebelum ada suara yang menyahut pada speaker ponselnya, "Kapten?"

Naruto menghembuskan nafas, "...Utakata, aku perlu bantuanmu."

To be Continued...

.

A/N: Alamak... saya, saya tidak tahu harus berkata apa tentang ini. Dan pada akhirnya, Shion mati. Sangat tragedi.

Menyedihkan.

Tidak ada kata 'Lolz' untuk ini.

Mengheningkan cipta, mulai.

Wkwkwkwk, bagaimana? Pasti udah bosen lihat fic cinta monyet 'kan? Karena itulah saya memberikan sebuah cerita drama penuh aksi, saya memang sangat Bijak :v Lolz.

Hm... menilik lebih dalam bahwasanya sudah sangat banyak pemeran Sasuke dalam fic-fic yang bertebaran, saya akhirnya memutuskan untuk memakai karakter sampingan seperti Utakata, sebagai karakter yang akan menjadi partner Naruto.

Dan saya pikir, ini unik.

Sebelum saya undur diri, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih sudah berkenan memberikan Fav/Fol pada fic ini. Jujur saja, saya bahkan terkejut setelah melihat bahwa jumlah kedua faktor itu melebihi dugaan saya. Karena saya mengira, fic seperti ini hanya akan diberi 2 Fav/Fol setiap chapternya, dan dalam satu chapter ternyata ada lebih dari 40 Fav.

Saya jadi terharu (T.T) hiks.

Hanya ini yang dapat saya berikan pada chapter kali ini, sampai jumpa pada chapter selanjutnya.

Akhir kata, Salam Lolicon.