Sore ini, adalah sore paling menyedihkan bagi Ino Yamanaka. Sudah terlalu buruk dirinya kehilangan seorang Ayah, dan kini Ibunya yang menjadi satu-satunya orang yang harus ia sayang telah meninggalkannya sendiri.

Untuk saat ini, tidak ada obat apapun yang bisa menyembuhkan rasa sakit di hati Ino selain tangis. Dua pria di belakangnya pun tidak bisa memungkiri bahwa mereka memang tidak bisa melakukan apa-apa, hanya memandang gadis kecil yang menangis di depan mereka dalam diam.

Kematian, adalah sebuah kejadian hidup yang sakral, sesuatu yang memang wajib ditempuh oleh setiap makhluk hidup. Mungkin ini memang sebuah takdir, dibunuh masih tetap menjadi kategori dari sebuah kematian. Namun, jika ada kematian yang tidak wajar seperti itu, pasti akan ada orang yang akan menaruh dendam kepada sang pelaku, ataupun akar dari semua permasalahan yang terjadi.

Dan orang yang dendam itu adalah Naruto. Bukan dendam perkara perasaaan, bukan juga hutang, namun karena tindak kriminal yang telah dilakukan.

"Kapten?"

"Dua bulan," Naruto berucap pelan, "Dalam kurun waktu kurang dari dua bulan, kasus ini harus selesai sampai ke akarnya."

Utakata terdiam di tempatnya sambil terus menatap Naruto tajam.

"Sebenarnya, ini adalah masalah internal sebuah keluarga. Namun disaat aku dilibatkan dalam masalah ini, maka mau tidak mau masalah ini harus benar-benar selesai." Tatapan Naruto kemudian terarah ke batu nisan yang bertuliskan nama Shion, "Aku tidak peduli jika pembuat masalah ini adalah seorang yang mempunyai harta selangit, dia tetap harus lenyap, tak peduli meski Tuhan melindunginya, dia tetap harus ke Neraka. Karena dia adalah seorang kriminal dan kepala keluarga yang tidak becus memimpin keluarganya."

"Lalu sekarang, apa tugasku?"

Naruto balas menatap Utakata, "Kuberi kau jangka waktu satu bulan, kumpulkan semua informasi dan data tentang asal-usul Shion Yamanaka, dan temukan siapa pelaku pembunuhan ini sebenarnya. Hindari semua pertikaian yang terjadi kalau bisa, dan kalau tidak bisa, lenyapkan mereka."

"Aku mengerti." Utakata mengangguk.

"Misi ini akan dimulai besok, dan untuk saat ini menginaplah di rumahku."

[My New Papa is Lolicon?]

Disclaime: Owned by Masashi Kishimoto

Warning: OOC, Typo, Loli Ino, Agent Naruto, Not Lemon but! Huehuehue...

Genre: Romance, Drama, Action, family, Adventure, Humor, and Etc.

Summary: Naruto Uzumaki, seorang agen dengan pangkat operasi Black Ops yang sekarang sedang menikmati liburan panjangnya. Tapi kini dia harus menikmati liburan tersebut dengan seorang gadis kecil berumur 11 tahun yang polos bukan buatan. Apakah yang melatarbelakangi kehidupan mereka berdua?

Azriel Present

[...]

Chapter 3: Can I be Your Father?

Suara isakan yang terdengar samar dari dalam kamar membuat Naruto terjaga malam ini, bahkan pria berambut hitam yang datang dari Inamura di depannya pun mengalami hal yang serupa. Dalam kegelapan ruang tengah, kedua pria itu saling pandang dan terus mendengar suara tangisan tersebut dalam diam.

Oh, persetan dengan kasus ini. Sekarang mereka bahkan tidak bisa tidur karena insting kebapak-an mereka terus saja berteriak agar tangisan dari gadis kecil itu bisa segera berhenti, dan pada akhirnya mereka menyerah, mereka menghela nafas bersama.

Lampu ruang tengah menyala kembali, menampakkan kedua raut wajah penuh depresi dari kedua pria yang sebenarnya tidak pernah depresi, kalau saja bukan karena tangisan gadis kecil ini.

"Mau kopi?" tawar Naruto sebelum pria itu pergi ke dapur.

"Tolong, perbanyak gulanya dan susunya juga." Utakata menjawab sambil memijit batang hidungnya, sebuah usaha kecil agar pening di kepalanya bisa sedikit mereda.

Pria dengan rambut hitam berponi itu menoleh ke arah dinding, dimana di sana terdapat sebuah jam yang jarum kecilnya menunjuk angka tiga, dan yang panjang menunjuk angka sepuluh, jam tiga kurang sepuluh menit.

Pria yang sebenarnya berumur dua tahun lebih tua dari Naruto namun masih memiliki paras seperti pria dua puluhan itu menghela nafas. Oh, dia sangat berharap bisa memejamkan mata walau hanya tiga jam, perjalanan dari Inamura ke Konoha telah banyak menguras tenaganya. Dan setelah dia menapak di Konoha, dia harus kembali dipusingkan dengan masalah yang datang dari Kaptennya ini.

Sungguh, hidupnya ini sial atau apes sih?

"Maaf, Utakata. Aku kehabisan sus –" Naruto tak lagi melanjutnya ucapannya ketika kedua indera pengelihatannya menangkap kalau pria berambut hitam yang akan menjadi partner kerjanya kini sedang menarik rambutnya sendiri seperti orang yang kekurangan akal sehat, "...Apa yang sedang kaulakukan?"

[...]

Dua suara desahan begitu saja keluar bersamaan saat dua pria selesai menyesap kopi dari cangkir mereka masing-masing, entah kenapa mereka berdua merasa hidup kembali setelah meminum cairan mengandung kafein ini, dan ada kelegaan tersendiri setelah mereka tidak lagi mendengar isakan samar dari dalam kama –tunggu, apa?!

Setelah beradu pandang sejenak, Naruto dan Utakata menoleh bersamaan ke arah pintu kamar, yang kini terpampang jelas bahwa Ino sudah berdiri di sana.

Matanya terlihat sembab, rambutnya berantakan, pakaiannya lusuh, dan bibirnya mengerucut. Sebuah kebiasaan jika gadis kecil itu merengek dan ingin minta sesuatu. Namun Naruto tidak tahu akan hal itu.

"I-Ino, ada apa?" kedua alis Naruto saling bertautan, merasa tidak enak sendiri saat gadis itu tak kunjung mengeluarkan suara.

Ino tiba-tiba membuang mukanya, tangan kecilnya tersilang di depan tubuhnya. "Bu-Bukannya bermaksud meminta, ta-tapi aku juga tidak suka kopi, hmph!"

Naruto mengernyit tidak mengerti, sementara Utakata mencoba menahan tawa yang hampir saja meledak jika salah satu tangannya tidak menyumpal mulutnya sendiri.

Satu-satunya pria yang memiliki rambut pirang di sana menoleh ke arah rekannya yang sepertinya memang benar-benar sudah kehilangan kewarasannya, Naruto seketika mengganti tatapannya seperti paku yang menusuk. "Jika kau mengerti sesuatu, aku serahkan urusan Ino padamu."

Untuk beberapa saat ekstra, Utakata tetap mempertahankan ekspresi wajah itu, sebelum pada akhirnya dia mengganti tawanya dengan sebuah helaan nafas. "Baik-baik, tidak perlu melototiku sampai seperti itu." Pria yang memiliki poni rambut yang menutupi setengah wajahnya itu berdiri, kemudian dia beranjak ke arah dapur berada.

Hanya berselang sepuluh detik, pria itu kembali ke ruang tengah dengan membawa sebuah cangkir di tangan. Setelah kembali duduk, dia menuangkan kopi dari teko ke cangkir yang ia bawa. "Silahkan dinikmati, nona kecil." Ucapnya sambil tersenyum.

Dan yang Naruto tidak mengerti dari kejadian ini adalah, Ino yang langsung berlari ke arah Utakata, dan kemudian duduk di samping pria tersebut sembari mengambil cangkir yang baru saja terisi oleh kopi.

Sungguh, Naruto merasa bodoh sendiri di sini. Padahal selama dia menjalankan misi sebagai anggota Black Ops, semuanya masih dapat ia pahami, dengan sangat jelas malah.

Naruto bergeleng ria, "Entah aku yang bodoh, atau dunia memang sudah gila?"

[...]

"Mungkin kau memang lebih tua dariku, namun sebagai seorang yang memberimu tugas, maka aku akan tetap memberi peringatan: jangan ceroboh dan tetaplah berhati-hati."

"Aku mengerti, Kapten."

"Kakak, Kakak, Paman ini mau pergi kemana?" Ucap Ino sambil menarik ujung kaos Naruto, yang secara tidak sadar telah melukai hati suci Utakata karena sudah dipanggil dengan sebutan paman.

Naruto menatap Ino, dan kemudian mengelus puncak kepalanya. "Dia sekarang harus pergi bertugas, dan sewaktu-waktu 'Paman' ini akan mampir kok." Naruto tersenyum.

Sementara Utakata yang sudah hancur hatinya, segera beranjak dari sana karena sudah tidak kuat menerima kenyataan bahwa dia benar-benar sudah berumur.

"K-Kalau begitu, aku permisi dulu, Kapten."

Naruto sempat menyeringai di balik punggung Utakata, sebelum pada akhirnya dia menatap Ino kembali. "Berhubung bahan makanan sudah habis, bagaimana kalau kita pesan makanan saja?"

Melihat mata Ino yang berbinar, secara reflek Naruto tersenyum lagi.

"Umh!"

...

Pukul sembilan lebih sepuluh menit, adalah waktu dimana gadis kecil berambut pirang yang kini menjadi prioritas dari salah satu agen terbaik sedunia terlelap dengan sangat tenang, melihat hal ini Naruto harus diingatkan lagi bahwasanya gadis kecil ini sudah tak memiliki siapapun lagi untuk dapat ia sayangi.

Ayahnya pergi, dan Ibunya mati.

Pria itu jadi kembali teringat tentang permohonan Shion untuk mengajak Ino hidup bersamanya. Naruto pikir permohonan itu hanya berlaku saat wanita itu masih terbaring lemah di Rumah Sakit, namun saat wanita itu tiada, Naruto baru menyadari bahwa itu bukanlah sebuah permohonan, melainkan sebuah wasiat.

Wanita itu seperti sudah bisa memprediksi tentang apa yang akan ia alami, dan karena itulah dia menyerahkan Ino sebelum posisinya benar-benar diketahui oleh anjing mantan suaminya.

Dan dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam, wanita itu mati.

Oh, sungguh. Naruto benar-benar ingin memberikan sebuah tepuk tangan yang meriah kepada mantan suami Shion yang berhasil menebak dengan tepat bahwa wanita yang sedang sekarat itu berada di ruangan VIP, yang bahkan nama pasien di ruangan tersebut tidak tercantum di buku resepsionis.

Mantan suami yang sangat berbahaya.

Dan sekarang, yang masih belum terpecahkan adalah sosok Ino Yamanaka ini.

Shion adalah wanita cerdas, dan dia tidak akan hanya memberi alasan 'melindungi' pada Ino. Pasti ada alasan lain yang saat ini Shion sembunyikan, dan Naruto belum tahu hal itu.

Pria itu menghela nafas pelan, dan lagi-lagi memikirkan wanita ini benar-benar membuat kepalanya terasa pening. Ditambah lagi dengan kafein yang membuat pening menjadi berdenyut-denyut, dia benar-benar butuh tidur sekarang.

"Kuharap, semua masalah ini tidak akan berujung buruk."

Dan Naruto pun memejamkan mata, tidur di atas ranjang bersama gadis kecil yang bernama Ino Yamanaka.

[...]

Untuk yang kedua kalinya pria bersurai pirang sedikit jabrik ini hanya bisa terdiam di tempat sambil terus memandangi gadis kecil yang masih terisak di depan makam Ibunya.

Selepas gadis kecil ini bangun tidur tadi, dia langsung meminta untuk diantarkan ke makam Ibunya berada. Melihat wajah sedih Ino, Naruto jadi tak tega untuk menolak permintaannya. Dan akhirnya, dengan terpaksa ia kembali ke singgahsana terakhir Shion Yamanaka ini.

Sungguh, Naruto ingin sekali menghapus jejak air mata itu dari pelupuk mata sang gadis. Namun ia sadar kalau itu adalah sebuah ketikdakmungkinan.

...terkecuali, jika dia menjadi bagian dari hidup Ino.

Benar juga!

Itu menjadi satu-satunya jalan keluar dari masalah ini!

Tapi, apakah Ino akan menerimanya?

Naruto berharap, iya.

Pria itu menghela nafas sembari mendekati sang gadis kecil, "Ino, mungkin kau sudah sadar bahwasanya kau sekarang tidak memiliki siapa-siapa lagi. Jadi..."

"Apa!? Jadi, selama ini Kakak tidak menganggap keberadaanku?!" Ino berdiri sembari mengusap air matanya dengan kasar, "Baiklah kalau begitu, aku akan pergi!"

Baru saja Ino mengambil satu langkah, salah satu tangannya harus tertarik oleh sesuatu.

"Lepaskan aku!"

"Hei, gadis manis, aku belum selesai bicara. Jadi, dengarkan aku sebentar." Naruto berkata dengan kalem sambil terus tersenyum ke arah Ino, "Kau sekarang sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi 'kan? Kalau begitu Kakak punya permintaan, maukah kau menjadi bagian dari keluarga Kakak?"

Pria itu tiba-tiba mengalihkan wajahnya sambil garuk-garuk kepala, "Yah, mungkin lebih tepatnya, maukah kau menjadi anak angkatku?"

Gadis kecil berambut pirang itu diam sejenak, kemudian dia menangis lagi. "Ka-Kalau begitu, bisakah kau berjanji tidak akan meninggalkanku?"

Naruto mengangguk, bibirnya masih tetap tersenyum. "Hm, aku berjanji."

Dan pria tersebut harus dibuat sedikit terkaget saat tiba-tiba saja Ino memeluknya sambil kembali menangis. "Te-Terima kasih, Kakak."

Naruto langsung meraup tubuh kecil yang tingginya hanya sebatas pinggangnya itu, sembari tersenyum pria itu mengelus puncak kepala calon putri angkatnya pelan. "Hei, panggil aku Ayah sekarang."

Ino mendongak dan kemudian menggeleng, "Papa!"

To be Continued...

.

A/N: YESS...! akhirnya Naruto jadi Papa yang Lolicon :v lolz

Baiklah, saya umumkan bahwasanya mulai chapter depan [Arc I] fic ini benar-benar dimulai, perpaduan antara drama dan aksi akan benar-benar tampak mulai chapter depan.

Saya sebenarnya sedikit dilema dengan penentuan siapa karakter yang 'pas' buat mengisi peran [mantan suami] Shion, tapi karena saya sudah bertapa selama satu minggu dengan menonton [Oni ChiChi], dan pada akhirnya saya dapat memutuskan siapa yang tepat mengisi peran tersebut.

Clue -nya adalah, dia pria yang terkadang sering dipanggil chibi di Animenya.

Sudahkah ada bayangan tentang karakter ini?

Ahahaha, selamat menebak.

Baiklah, note yang saya buat di pagi ini adalah hal langka yang dapat saya lakukan saat jangka waktu saya di dunia nyata sangat mepet sekali.

Jadi, sampai jumpa di chapter depan.

Akhir kata, Salam Lolicon.