Setelah semalaman memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk menyelesaikan masalah yang ditimbulkan oleh mantan ayah Ino, Naruto kini sudah mempunyai keyakinan untuk meminta bantuan kepada beberapa anggota timnya yang berkewarganegaraan sama seperti dirinya.

Setelah Utakata datang, berarti masih kurang tiga orang lagi. Tapi Naruto tidak yakin apakah mereka akan menerimanya atau tidak, terlebih mereka sedang menikmati liburan panjang yang diberi oleh menteri pertahanan Amerika, dan siapapun pastinya tidak akan repot-repot membuang waktu liburannya yang berharga.

Tapi, Naruto berharap sebaliknya.

"Ino, Ino, ayo bangun sayang."

Setelah beberapa kali menepuk pelan pipi anak angkatnya, pria dengan rambut pirang itu hanya bisa tersenyum saat Ino mengerang. Dan pada akhirnya kedua pasang mata berbeda warna iris itu saling bertemu, "Selamat pagi, Papa."

"Selamat pagi, Ino."

Setelah saling menyapa singkat seperti itu, ayah-anak tak sedarah itu saling tatap beberapa saat, sebelum pada akhirnya keheningan itu pecah saat Naruto mulai bicara.

"Kau sangat cantik."

Dan ucapan itu langsung dihadiahi sebuah tamparan pelan yang dilayangkan oleh Ino, "Papa, kau mengigau."

Naruto terkekeh pelan, "Sarapannya sudah aku siapkan di meja makan, kau bisa memilih antara sarapan atau mandi terlebih dahulu."

"Baiklah."

Segera Ino beranjak dari kasur yang berada di kamar Naruto, dan tepat setelah dia berdiri perhatiannya langsung teralihkan oleh suara barang ambruk di kasur. Ino hanya bisa tersenyum saat pria yang kini menjadi nomor satu dihatinya itu sudah melelapkan mata, lalu gadis kecil itu kembali merangkak di atas kasur hanya untuk mencium salah satu sisi pipi Naruto.

"Selamat malam, Papa."

Dan sebelum sempat gadis kecil itu kembali turun dari atas kasur, tiba-tiba saja gerakannya terhenti tatkala sebuah tangan memegang salah satu lengannya. Belum sempat dia menyadari apa yang terjadi, sebuah kecupan hangat langsung bersarang tepat di pipinya.

Dan... sudah pasti itu membuat Ino berteriak, "KYAAA..."

Naruto hanya bisa tersenyum saat Ino berlari keluar kamar, dan dia sedikit berjengit saat Ino menutup satu-satu pintu di kamar itu dengan sangat keras, "Apa... aku sudah terlalu berlebihan, 'ya?"

[My New Papa is Lolicon?]

All character owned by Masashi Kishimoto

Warning: OOC, Typo, Loli Ino, Agent Naruto, Not Lemon but! Huehuehue...

Genre: Romance, Drama, Action, family, Adventure, Humor, and Etc.

Summary: Naruto Uzumaki, seorang agen dengan pangkat operasi Black Ops yang sekarang sedang menikmati liburan panjangnya. Tapi kini dia harus menikmati liburan tersebut dengan seorang gadis kecil berumur 11 tahun yang polos bukan buatan. Apakah yang melatarbelakangi kehidupan mereka berdua?

Azriel Present

[...]

Chapter 5: Normal Day

"Hm~ hm~hm~..." sembari bersenandung riang, Ino dengan semangat mengelap kaca jendela dari dalam rumah yang kini ditinggalinya.

Naruto –selaku ayah angkatnya– masih setia terlelap pagi ini, tak bisa dipungkiri karena dia semalaman sudah begadang menjaga rumah jikalau tiba-tiba saja ada utusan Yagura datang ke rumahnya, meskipun dirasanya mustahil untuk saat ini karena mereka masih belum tahu alamat persinggahannya.

Dan Naruto pikir akan lebih aman jika dirinya tertidur pada pagi hari, dikarenakan jika pada pagi hari banyak petugas keamanan yang selalu berkeliling dan memastikan kalau daerah tempat mereka berjaga aman dari para orang yang mencurigakan.

Seperti halnya Lolicon atau pedopil.

Karena mereka lebih berbahaya dibandingkan dengan pembunuh sekalipun.

Namun meski begitu, Naruto sudah memperingatkan Ino untuk tidak keluar rumah ataupun membukakan pintu saat dirinya masih tertidur.

Pada kemarin malam Naruto sudah memutuskan bahwasanya dirinya akan menghubungi tiga agen lain untuk membantunya dalam menangani masalah kali ini. Karena dia pikir bahwasanya mengeliminasi produsen persenjataan yang membiayai kebutuhan militer negara tidak cukup hanya dirinya dan Utakata, dan Naruto tidak ingin memilih resiko mati konyol karena diserbu ratusan pasukan militer hanya karena ingin mengamankan nyawa anaknya.

Dan pada pagi buta tadi, Naruto juga sempat menerima kabar dari Utakata bahwa ada satu anggota JSDF yang akan mampir ke rumahnya siang nanti –

Ting-tong!

Bel pintu masuk berbunyi. Dan Ino seketika menghentikan tangannya yang masih menempel dipermukaan kaca.

Ting-tong!

Saat Ino masih terdiam dan menatap intens pada pintu masuk rumahnya.

"Anu, permisi Uzumaki-san...!"

Terdengar suara panggilan seorang perempuan, tapi Ino lebih memilih untuk melihat jam dinding yang menunjukkan angka sebelas, ayahnya sudah tidur selama empat jam.

Tak ingin membuang waktu lagi, Ino langsung berlari ke arah kamar berada, dan dengan sangat panik gadis pirang itu segera meloncat ke arah tubuh Naruto yang sedang terlentang di atas permukaan kasur.

Suara tertohok yang luar biasa Naruto keluarkan saat dirasakannya mual pada perutnya yang entah kenapa tiba-tiba saja ia alami.

"Papa! Papa! Ayo cepat bangun!" Ino dengan sangat panik mulai menggoncang tubuh Naruto, meski pada dasarnya tidak tergoncang sama sekali.

Sembari sedikit mengucek matanya, Naruto dengan malas menanggapi. "Ada apa, Ino...?"

"A-Ada yang datang!"

Dengan pandangan yang masih sedikit buram, Naruto menoleh ke kenan dan melihat jam weker kecil yang berdiri tegak di atas laci. "Oh..." dan dengan tanggapan itu, Naruto akhirnya bangkit dari posisinya sembari menurunkan Ino yang tadi menduduki perutnya.

Sebelum sempat keluar dari kamar itu, Naruto berhenti dan menoleh kembali ke kasur. "Ayo kita sambut tamunya, Ino."

...

Beberapa menit telah berselang setelah Naruto mempersilahkan masuk tamu yang dulunya adalah adik kelasnya. Jika Naruto tidak salah, wanita berperawakan seperti gadis SMP di depannya ini sudah berumur dua puluh lima tahun, meskipun tak Naruto sangka bahwasanya fisiknya seperti tidak mengalami perkembangan yang berarti.

"Kenapa kau menatapku seperti itu, Naruto-senpai?"

Naruto tersentak dan sedikit merasa malu karena terlalu lama menatap wanita berambut pirang di depannya ini, "Eh, em... maaf kalau aku tidak sopan, sudah berapa tahun ya kita tidak bertemu, Yugito-chan?" Naruto mencoba untuk mengalihkan perhatian, yah meski sepertinya tidak diindahkan sama sekali.

Setelah mempertahankan ekspresi itu sepersekian detik lebih lama, akhirnya wanita yang memiliki nama lengkap Nii Yugito itu menghela nafas. "Akan kulaporkan pelecehan seksual tadi lain waktu," ucapan itu langsung membuat Naruto sedikit berjengit.

"A-Aku 'kan tadi sudah minta maaf!" pria berambut pirang itu panik.

Yugito tidak segan menuding pria di depannya, "Aku tidak menerima kata maaf tidak ikhlas begitu!" sebelum melanjutkan wanita itu menyeringai licik, "Kalau senpai benar-benar ingin kumaafkan, nikahi aku!"

Prank!

Kedua orang dewasa itu seketika menoleh ketika mendengar suara kaca yang pecah, dan saat itulah mereka menemukan kalau Ino menjatuhkan nampan yang awalnya berisikan dua gelas teh hangat yang menjadi jamuan untuk Yugito.

Tangan gadis itu gemetar hebat, tatapannya tiba-tiba saja berubah kosong, dan wajahnya terperangah karena keterkejutan yang baru saja di dengarnya. "Me-Menikah...?"

Dari ucapan gagap itulah Naruto mulai merasakan suatu yang tidak enak bakal terjadi. Semua itu kemudian terbukti saat Naruto melihat kalau kedua mata anak angkatnya mulai berkaca-kaca, "G-Gawat...!"

"Me-Me-Me...UAAHHHH...!"

Ketenangan Naruto hilang sudah, "I-Ino, tolong jangan menangis!"

"...UAAHHH...UAAAHHHHH..."

Naruto yang bingung harus melakukan apa memilih untuk menatap Yugito yang menjadi penyebab hal ini, "Yugito, bantu aku menenangkan Ino!"

Yang dimintai tolong malah membuang mukanya acuh, "Bodo!"

"...UUAAHHHHH..."

Naruto yang sudah pasrah hanya bisa mengusap wajahnya dan mendesah, "Terserah kalian sajalah."

...

Setelah beberapa belas menit berselang, akhirnya tangis Ino yang membuat ayah angkatnya panik berhenti. Dan kini gadis kecil itu tengah menatap Yugito dengan sangat ganas, meski bagi Yugito itu merupakan tatapan marah seorang anak kecil.

"Jadi, ada keperluan apa sampai kau menemuiku, Yugito-chan?" berbeda dengan tadi, kini Naruto mulai berbicara dengan wibawa seorang ketua dari pasukan pembunuh paling disegani dunia, dan hal itu juga membuat Yugito serius.

"Niat awalku datang ke sini adalah untuk menjumpai senior yang sangat aku sukai dari dulu," Yugito menarik nafas sebelum kembali melanjutkan, "Tapi saat mendengar kalau kau terlibat masalah yang serius dari Kapten Utakata, aku jadi merubah niatku, dan sekarang bolehkah aku ikut membantumu dalam menyelesaikan masalah ini?"

Naruto menutup mata dan terdiam sejenak, tak menghiraukan Ino yang mulai menggertakkan gigi di pangkuannya. Setelah membuka mata kembali Naruto akhirnya bicara, "Sudah seberapa detil Utakata memberitahumu?"

"Semuanya."

Pria berambut pirang itu menghela nafas pelan, "Dasar poni tua itu, tetap saja ember seperti dulu." Naruto menatap Yugito lagi, dan kali ini dengan sorot mata yang lebih santai. "Aku menghargai niatanmu untuk membantuku, namun Yugito-chan, bukannya kau ini anggota dari pasukan keamanan Jepang? Kau harusnya tidak harus memiliki niatan untuk menghianati negara yang kau lindungi ini, kau tahu?"

Kedua alis Yugito mengerut, "Maksud senpai?"

"Semua perlengkapanmu, seragam, rompi, senjata, amunisi, adalah aset yang disediakan oleh targetku saat ini." Jawab Naruto santai.

"Ja-Jadi maksud senpai itu...!?"

Naruto tersenyum. "Benar, targetku adalah orang yang memegang peran penting dalam kontribusi kemiliteran Jepang. Dan dia adalah Yagura Koimura," alis Naruto ikut mengerut heran, "Bukannya tadi kau sudah mendengar semuanya dari Utakata?"

Yugito memalingkan wajahnya dan mulai terkekeh, "Se-Sebenarnya aku pergi sebelum sempat selesai mendengarkan semua informasi yang diberikan oleh kapten Utakata, hehehe..."

Naruto masih tidak membuang wajah herannya, "Kapten?"

"Benar, dulu Utakata-san adalah kaptenku saat aku baru saja diangkat menjadi prajurit. Yah, meskipun itu hanya berjalan beberapa bulan saja sebelum akhirnya kapten pergi dan kemudian diangkat menjadi prajurit khusus internasional." Setelah bicara seperti itu, tatapan dari kedua mata Yugito berbinar saat melihat Naruto lagi. "Oh ya, kalau perjalanan karir senpai sendiri seperti apa!?"

Naruto mencubit dagu, "Hm, sebentar, setelah aku menyelesaikan kuliah kemiliteran, aku diberi rekomendasi oleh mentorku untuk bergabung dengan Navy Seal. Dan setelah diterima aku sempat bertugas beberapa tahun sebelum pada akhirnya diberi misi untuk membebaskan para warga yang menjadi tawanan di Meikarta, misi itu memakan durasi dua minggu, dan yang menjalankan misi itu adalah tujuh orang termasuk aku. Lalu setelah selesai dengan hasil yang hampir mustahil, akhirnya aku dan timku pulang dengan menggenggam kemenangan. Dan setelah diberi waktu untuk beristirahat sebulan, aku dan timku diangkat menjadi pasukan khusus Black Ops."

Kedua mata Yugito terus saja berbinar saat Naruto mengisahkan kisah yang dialaminya, "Terus-terus, siapa saja lima anggota lainnya selain kapten dan senpai?"

Naruto mendengus geli, "Woi-woi, pertanyaan seperti itu menjadi larangan untuk dijawab. Tapi akan aku beri bocoran kalau tiga dari lima anggota lainnya tinggal di negara ini, dan mereka semua punya wajah yang ganteng lho~ hihihi..."

Yugito tersenyum. "Seganteng apapun mereka, di mataku hanya senpai yang paling keren."

Naruto ikut tersenyum, "Jadi, kau belum berubah 'ya?"

To be continued...

Note: untuk pembaca sekalian, maaf kalau setahun belakangan ini saya tidak muncul lagi, yah kalau tidak sibuk apalagi?

Dan setelah melewati masa kritis selama kurang lebih sebelas bulan, akhirnya mulai dari minggu kemarin saya sudah bisa meneruskan apa yang saya mulai dari awal.

Lalu seperti itulah, saya mengucapkan maaf yang sebenar-benarnya jika tulisan saya kali ini hancur-bawur, karena tidak lain saya tidak pernah menulis lagi setelah masuk ke masa kritis saat itu.

Jadi sebagai penjelasan, dari chapter ini adalah untuk pemanasan saja, dan pasti selanjutnya akan saya usahakan menjadi lebih bagus dan lebih panjang lagi.

Hanya seperti itu, sekian dari saya dan SALAM LOLICON.