Di saat rentetan peluru sedang menyerbu permukaan tembok yang menjadi pembatas dirinya dengan pasukan militer yang terus saja menghujani satu-satunya penghalang mereka untuk menangkap dirinya.

Hanya berdiri dan terpaku menatap lantai dingin kamarnya yang sedikit bercahaya dikarenakan kilatan dari senapan yang terus saja meletus tanpa tujuan berhasil menerobos sela bawah pintu. Tatapan dari pria bermata biru itu hampa, seolah jiwanya sudah pergi dari raga yang tak sedikitpun bergerak dari awal mula dia berada.

Dan dari kehampaan yang ia rasakan saat ini, rentetan peluru yang terdengar serta dentingan waktu yang berjalan seolah kini kian melambat. Lalu disaat momen ini berjalan, barulah terlihat sedikit gerakan dari kedua bibirnya.

"...Darah adalah penghubung..."

Dengan satu tarikan kasar, bolt dari senjata Kriss Vector itu berbunyi.

"...Raga adalah perantara..."

Pria berambut pirang itu mulai mengambil nafas panjang seolah ingin menenangkan getaran batin yang dia rasakan.

"...Nyawa adalah peninggalan..."

Kepala yang sekian tadi terus menunduk, kini perlahan mulai terangkat.

"...Hidup dan mati adalah kepalsuan... dan hanya Tuhan yang berhak menentukan."

Dan saat kalimat terakhir itu terucap, kedua mata biru yang tadinya kosong kini seakan bersinar menyiratkan keganasan dari mesin pembunuh yang siap kapanpun melepaskan nyawa dari raga orang-orang yang menjadi musuhnya.

Tanpa ragu pria itu membuka pintu berlapiskan plat baja di depannya dengan cepat, dan tepat saat itu juga seluruh senjata yang dipakai oleh pasukan yang mengincarnya telah kehabisan amunisi.

[My New Papa is Lolicon?]

All character owned by Masashi Kishimoto

Warning: OOC, Typo, Loli Ino, Agent Naruto, Not Lemon but! Huehuehue...

Genre: Romance, Drama, Action, Family, Adventure, Humor, Overpower, and Etc.

Summary: Naruto Uzumaki, seorang agen dengan pangkat operasi Black Ops yang sekarang sedang menikmati liburan panjangnya. Tapi kini dia harus menikmati liburan tersebut dengan seorang gadis kecil berumur 11 tahun yang polos bukan buatan. Apakah yang melatarbelakangi kehidupan mereka berdua?

Azriel Present

[...]

Chapter 6: It's a Long Night

-Sore harinya-

Masih dengan suasana panas yang saat ini terasa di ruang tamu, dua gadis yang sama-sama memiliki rambut pirang di sana masih enggan melepaskan delikan mereka satu sama lain.

Namun tak sampai lima menit kemudian gadis –yang tak bisa disebut gadis juga– mengalihkan pandangannya pada satu-satunya pria yang dengan tenang menyeruput teh hangat yang baru saja dia buat sendiri.

"Senpai, dari tadi aku bertanya-tanya, sebenarnya siapa gadis yang sedang duduk di pangkuanmu itu?" tanya Yugito sambil menunjuk Ino yang tak sedikitpun melepaskan pengawasannya.

Naruto tak langsung menanggapi, dengan santai terlebih dahulu ia letakkan gelas berisikan teh tersebut. Kemudian dengan pelan satu tangannya mengusap puncak kepala Ino dengan lembut, "Bagaimana menjelaskannya 'ya? Hm... dia adalah sosok yang paling berharga dalam hidupku sekarang ini semenjak ayahku sudah tidak menganggapku lagi."

Ada jeda beberapa beberapa menit sebelum pada akhirnya Yugito mulai menangkap kesalapahaman sepihak, "Di-Dia... anak harammu?"

Pertanyaan itu malah membuat Ino semakin cemberut, akan tetapi Naruto menanggapinya dengan tenang. "Dia bukanlah anak haram, dia adalah anak angkatku, dan namanya adalah Ino Yamanaka."

Kembali ada jeda sejenak sebelum mimik muka Yugito sedikit mengerut, "Yamanaka? Senpai bilang Yamanaka?"Naruto terdiam. "Jadi dia ini adalah anak dari Shion Yamanaka yang sangat terkenal itu?"

"Yugito, kau tahu sesuatu tentang Shion?"

"Ini sekedar rahasia umum para prajurit di Jepang, bahwasanya Shion itu adalah –" Ucapan Yugito seketika terhenti tatkala dia mendengar banyak sekali suara mobil yang terhenti di depan rumah Naruto, "Ada kecelakaan?"

Satu pertanyaan itu langsung membuat Naruto tersadar dengan apa yang terjadi di luar rumahnya. Sesegera pria itu menyeret paksa kedua gadis tersebut ke dalam kamar miliknya tanpa sedikitpun menjelaskan apa yang terjadi.

Setelah masuk, Naruto segera membalik kasur yang biasanya dibuat untuk tidur. Hal yang dimaksudkan Naruto adalah untuk membukan sebuah pintu kecil yang berada di lantai di bawah kasur, "Kalian berdua cepat masuk!" suruh Naruto.

Mulai paham dengan situasi yang sedang melandanya, Yugito dengan sigap membawa Ino masuk ke dalam lorong bawah tanah itu. "Senpai, kau tidak ikut masuk?"

Naruto menggeleng singkat sebelum menyodorkan sebuah pistol dengan peredam, "Tolong jaga Ino sebaik mungkin, dan setelah kalian keluar dari sini, pergilah ke hotel di mana ada Utakata di sana, mengerti?"

Yugito mengangguk pelan. "Apa kau akan baik-baik saja?"

"Setelah mengurus ini, secepatnya aku akan menyusul kalian."

"Baiklah, jangan sampai mati."

Setelah tersenyum singkat, Naruto segera menutup pintu lorong tersebut. Yang pertama kali Naruto lakukan adalah mengunci pintu kamar, lalu dengan cepat dia melangkah ke arah lemari pakaian di sana dan mulai mengambil semua peralatan yang diperlukannya.

Malam penuh darahpun akan dimulai.

~o~

Dalam kesunyian pasukan yang sedang berbarengan mengisi amunisi yang entah kenapa bisa-bisa habis tanpa sebab, sebuah flashbang tanpa mereka sadari telah tergelinding tepat di bawah kaki mereka.

Sedetik kemudian kebutaan sementara yang dikarenakan retina yang tidak bisa mengontrol kontras, membuat delapan prajurit terpaksa melepaskan genggaman mereka pada amunisi karena rasa panas yang mereka rasakan pada kedua indera pengelihatan mereka. Namun indera yang mati rasa tak hanya sebatas itu saja saat sebuah ledakan dari bom gas air mata melingkupi seisi ruang tengah yang kini sudah terobrak-abrik perabotannya.

Kedelapan personil bersenjata itu tersedak habis-habisan karena rasa pedas yang mereka rasakan pada kerongkongan mereka saat ini, tapi mereka belum sempat melepaskan apa yang ingin mereka suarakan ketika langkah kaki yang tadi terdengar cepat menghampiri mereka telah lenyap. Hal yang terakhir mereka dengar adalah suara cekikan yang mereka yakin adalah suara dari leher yang tergorok serta suara tembakan yang pastinya adalah sabit dewa kematian yang mencabut nyawa mereka.

Tak sampai lima menit berselang, asap hasil ledakan mulai perlahan pupus oleh angin semilir yang melewati rongga besar pada dinding yang awalnya menjadi penopang dari pintu dan jendela. Yang kemudian terjadi adalah tiga lampu sorot dari mobil pasukan yang menyinari satu sosok berambut pirang yang sedang memegang tameng anti peluru bekas milik pasukan yang di bunuhnya di tangan kiri, tak ada satu sahutanpun yang terdengar sebelum satu orang dari pihak pasukan yang menyerbu kediaman Naruto berbicara.

"Sangat mengesankan, dan bahkan tak bisa dipungkiri lagi bagi salah satu pemburu kelas dunia sepertimu melakukan semua ini tak sampai setengah menit lamanya. Jujur, aku sangat kagum, bahkan mungkin aku tidak akan bisa melakukannya dalam jangka waktu sedimikian rupa."

Naruto menoleh dan menatap sosok bersurai keperakan yang bicara itu dengan dingin, "Bisa tahu dengan siapa saat ini aku berbicara?"

Sosok itu mengukir seulas senyum, "Oh, maaf sudah lupa memperkenalkan diri, namaku adalah Kakashi Hatake, komandan dari pasukan yang ditugaskan untuk menangkapmu saat ini Naruto Uzumaki."

Tatapan dingin Naruto menajam, "Jadi kau yang membunuh Shion?"

Kakashi menutup matanya, "Sangat disayangkan, tapi memang benar, akulah yang membunuh nona Shion, karena aku yang ditugaskan seperti itu."

Naruto membuang nafas sambil menutup mata, dan entah karena alasan apa tiba-tiba saja tempat itu terasa hening sampai pada saat Naruto membuka mata dan berbicara, "Tuhan, tidak ada penyesalan dalam hidup ini."

Tiga ledakan besar langsung nampak di halaman depan kediaman Naruto, dan pada saat itu pula terdengar teriakan, lolongan, serta jeritan nista dari orang-orang yang tak sengaja berdiri di sana.

Pasukan yang masih berdiri tegak di mobil sambil memegang senapan berat yang merupakan satu set perlengkapan mobil tersebut menekan pelatuk bersamaan dan memberondong penuh seisi rumah Naruto.

Dan setelah mereka berhenti untuk mengecek keadaan, yang mereka peroleh hanya dinding-dinding yang berlubang dan tak ada jejak sedikitpun dari target mereka yang entah kenapa bisa lenyap begitu saja, seperti hantu.

~o~

"...diduga seorang teroris telah berhasil kabur dari penyergapan yang dilakukan oleh JSDF. Teroris tersebut juga berhasil melukai beberapa pasukan serta warga sipil yang tidak sengaja ada di sana..."

"Wah-wah, kapten kali ini benar-benar serius ya?" dengan santai, Utakata bersandar di punggung sofa sambil menonton berita yang pastinya menggemparkan seluruh Jepang sambil sesekali memakan camilan yang tadi sempat dia beli di mini market. "Jadi, bagaimana menurutmu, Mitarashi-san?" Utakata melirik wanita yang duduk di samping kirinya sambil menopang kedua aset berharga miliknya yang kelewat besar.

"Jika memang kapten sudah memutuskan seperti ini maka, tidak ada pilihan lagi selain membunuh target secepat mungkin."

"Jadi kau ikut dalam misi ini tanpa dibayar?" Utakata tersenyum.

"Saat kapten sudah memakai baptism, bahkan disuruh membayar untuk mengikuti misi inipun aku rela." Wanita berambut hitam yang bernama Anko Mitarashi itupun berdiri, "Giliranku mandi, dan jika kau mencoba mengintip, maka tak segan tanganmu akan kupatahkan."

Utakata tersenyum dan membuang nafas, "Iya-iya, aku mengerti."

Setelah beranjak dari tempat itu, tak lama kemudian nampak Ino dan Yugito yang sudah memakai piyama yang disediakan oleh Utakata.

Tatapan tajam begitu saja Yugito lemparkan saat Utakata tersenyum ke arahnya, "Tidak kau, tidak juga Naruto-senpai, kalian berdua memang mesum akut. Lain kali, akan kulaporkan hal ini pada polisi."

Dan malam itupun di akhiri dengan terdengarnya kekehan dari Utakata.

.

Chapter 7: Promise, Life, and Ability.

.

Helaan nafas pelan begitu saja terhembus ketika Naruto akhirnya bisa menyandarkan tubuhnya disebuah pohon yang terdapat di pinggiran kota. Dengan nafas yang masih sedikit tersenggal, Naruto meminum air dari botol yang tadi sempat ia persiapkan sebelum masuk ke terowongan tempat melarikan diri yang tadi dipakai oleh Ino dan Yugito.

Setelah isi botol itu kandas setengah, hal yang pertama kali pria pirang itu lakukan adalah mencengkram rambutnya sendiri dengan sangat kuat, hal tersebut dikarenakan oleh rasa sakit yang tiba-tiba saja meledak ketika kesadaran menghantam otaknya dengan keras.

Nafasnya kembali tersenggal, keringat mulai berucucuran, dan jantung yang mulai berdetak kencang adalah pertanda bahwa rasa sakit yang kini ia derita lebih dari sekedar disiksa saat menjadi tawanan perang.

Naruto tahu apa yang kini sedang ia rasakan, adalah sebuah efek jangka pendek yang diakibatkan oleh selesainya upacara yang disebut pembaptisan. Dan jika rasa sakit di kepalanya itu mulai mereda, maka yang selanjutnya Naruto alami adalah tubuh yang tiba-tiba saja kehilangan staminanya.

Efek kelelahan ini hanya bertahan sepuluh sampai lima belas menit sebelum pada akhirnya tubuh yang mati rasa bisa kembali digerakkan secara perlahan. Air minum yang masih tersisa setengah di botol adalah sebuah obat yang memiliki efek luar biasa ketika setiap tegukannya terasa seperti meminum banyak jiwa yang bisa mengembalikan sebuah nyawa.

Tegukan terakhir akhirnya sukses mengalir ke dalam sistem pencernaannya, dengan sembarangan Naruto melemparkan botol kosong itu dan kemudian dia mulai meregangkan tubuhnya yang tadi mati rasa.

Sebelum beranjak dari tempat itu, tergambar sedikit ingatan saat dirinya meledakkan tiga bom yang sengaja ia persiapkan sudah lama sekali alih-alih jika dirinya disergap seperti itu. Namun yang ia perhitungkan hasilnya tidak sampai melukai warga sipil seperti tadi, memang daya ledak bom C5 tidak sebesar C4, tapi paling tidak bom itu bisa membuat satu bagian tubuh hilang dari tempat yang seharusnya.

Menghela nafas sejenak untuk menenangkan pikirannya, Naruto sadar bahwa yang kini harus ia prioritaskan adalah nyawanya yang menjadi buronan nasional, meski pada dasarnya pangkatnya sebagai agen internasional masih tetap kekal.

Pada akhirnya kedua kaki itu mengambil langkah, dan tujuannya kali ini adalah menangantar nyawanya sendiri untuk memenuhi janji yang telah ia buat meski nanti jika dirinya dipaksa kembali menggunakan baptism yang hanya berujung pada rasa sakit.

To be continued...

.

Note: Yah, pada akhirnya inilah kisah yang bisa saya berikan. Tidak panjang, juga tidak mengesankan. Mohon maaf jikalau tidak berkenan, karena saya masih dilanda kesibukan.

Oke, tidak banyak bacot lagi, saya menunggu tanggapan dari kalian semua.

Silahkan kalian melemparkan pertanyaan tentang chapter kali ini.