.

.

.

September 2016, Manhattan, New York, USA.

.

Oh Sehun baru saja terbangun dari tidur panjangnya seharian. Kepalanya pusing meronta untuk diisi oksigen karena seingatnya terakhir kali ia minum adalah semalam, sepulang dari gedung agensi untuk mengurus beberapa proyek tur dunia-nya. Ia mengerjapkan matanya sejenak untuk membiasakan cahaya lampu masuk ke dalam obsidiannya, lalu menyambar jam di nakas. Pukul 20.18 PM. Great, dia sudah tidur 20 jam dan manajernya pasti bingung mencarinya. Benar spekulasi Sehun, karena ketika lelaki itu mengecek ponsel, 50+ pesan dari sang manajer dan juga 23 missed calls menghiasi laman notifikasinya.

Memutuskan untuk tidak ambil pusing, ia berjalan terhuyung-huyung ke arah dapur untuk menenggak beberapa gelas air sebelum pergi untuk mandi. Setelah menanggalkan seluruh pakaiannya, ia mengucuri seluruh tubuhnya dengan shower, berharap seluruh nasib sialnya selama dua hari ini hilang dan ia bisa pergi dugem dengan lancar hari ini. Well, sedikit mabuk tidak akan membuatnya dipenjara, bukan?

Selepas mandi dan sebagainya, ia membawa kunci mobilnya dan turun ke basement tempat ia memarkirkan mobil─membawa McLaren kuning kesayangannya itu menebas jalanan New York yang selalu padat ke suatu kelab terlupakan di sudut Manhattan. Setibanya di sana, ia merapikan rambut hitam cepaknya singkat lalu menutup pintu mobil dan masuk ke dalam.

Alasan Sehun memilih tempat ini adalah karena Sehun tidak perlu memakai masker atau topi atau alat-alat kamuflase lainnya selama bersenang-senang. Ditambah tempat ini bersih dari pecandu dan pejudi; dua hal yang paling dibenci Sehun. Walau dari luar terlihat seperti kelab kumuh yang tak mungkin didatangi oleh orang menengah ke atas, desain interior yang rapih dan menguarkan aroma tequila yang memabukkan membuat Sehun merasa jauh lebih nyaman di sini alih-alih bar di tengah kota yang menguarkan aroma seks yang membuat Sehun mual.

Tak seperti dugaannya, kelab ini terlihat jauh lebih ramai dari biasanya. Sehun harus mengucapkan permisi berkali-kali sebelum akhirnya tiba di meja bar. Sesosok yang sudah lama dikenalnya, Kris Wu, berdiri dengan kemeja bartender dan senyuman karismatik yang membuat beberapa pelanggan wanita betah untuk berlama-lama. Sehun mendengus ketika Kris memberinya satu kedipan maut sebelum mengumpat kesal.

"Sialan kau! Gadis-gadis di sana mengira aku gay, tahu!"

Kris tertawa renyah. "Sekalipun kau adalah panseksual, tak ada yang berani nyali untuk mendekatimu, Senor (tuan; spanyol). Semua orang tahu kau sudah bertunangan," ujarnya sambil meraih satu botol di rak, menuangnya pada shaker dan mencampurnya dengan sesuatu yang lain sehingga membuat Camino Blanco favorit Sehun yang sudah Kris hapal di luar kepala.

"Tapi tunanganku tidak ada di New York saat ini, jadi setidaknya aku single untuk beberapa saat," tukas Sehun sembari menerima gelas kristal Camino Blanco-nya. Kris mendenguskan tawa nakal sebelum memajukan tubuhnya beberapa inci.

"Aku punya stok gadis-gadis baru, jika kau tertarik. Cinta satu malam tentu bukanlah hal yang berat bagi mereka."

Ucapan Kris dibalas dengan tatapan tak tertarik dari Sehun.

"Aku lebih memilih menonton video porno dan beronani sendiri sambil menunggu Zitao pulang alih-alih mengeluarkan uang untuk pelacur-pelacurmu, Yifan," kata Sehun sebelum menyesap tequila-nya. Kris menggeleng jijik.

"Kau tentu tidak mungkin melakukan onani menjijikkan itu, Oh. Kau artisnya, dan semua orang berani memberikan apapun demi tidur denganmu. Katakan, siapa simpananmu?"

Sehun baru saja akan menonjok pelan kepala Kris jika saja lelaki itu tak beranjak dari tempatnya lalu mengalihkan pandangan ke arah pelanggan yang baru datang di samping kiri Sehun. Sehun memutuskan untuk menyibukkan diri dengan gelas kristalnya─cukup waras untuk tidak ikut campur urusan mereka. Lagipula, raut wajah Kris terlihat kesal.

"Kenapa kau belum pulang juga?" gerutu Kris pada sosok di samping Sehun.

"Beri aku satu gelas Dolcetto lagi, Jon!" seru sosok tersebut. Dari suaranya yang lembut dan melengking tinggi, sudah dipastikan ia perempuan. Perempuan macam apa yang dapat membuat Kris kesal?

"Pertama, namaku Kris bukan Jon. Kedua, kau sudah menenggak satu botol lebih Dolcetto dan aku cukup tahu dari Kai kalau kau tidak kuat mabuk, Luhan."

Seluruh tubuh Sehun menegang. Ia nyaris mematahkan pergelangan kepalanya ketika ia menengok ke arah kiri cepat-cepat, meninggalkan bunyi krek keras yang diabaikan olehnya.

Oh, berhalusinasi kah Sehun? Ia mendapati sosok Luhan berada begitu dekat dengan tempatnya duduk saat ini, menyodorkan gelas wine yang sudah kosong ke arah Kris dengan tatapan sayu khas mabuk. Pipinya kemerahan karena efek alkohol, membuat sosoknya yang dibalut dengan mantel musim gugur coklat terang dan sepatu boots terlihat semakin berkilauan. Sehun tahu Luhan itu cantik, namun ia tak pernah melihat gadis itu semenarik malam ini.

Jantungnya berdegup kencang. Luhan, kini berdiri begitu dekat dengannya. Dan kali ini bukanlah mimpi. Rambut sebahunya yang dicat keperakan menguarkan aroma yang sama seperti aroma yang dulu selalu menyambut paru-paru Sehun tiap kali ia mendekap gadis itu. Tiba-tiba suatu perasaan membuncah dalam dada Sehun, tanpa mengetahui itu apa.

"Aku tidak mabuk. Aku bahkan masih bisa berdiri tegak dan tidak ada orang mabuk yang bisa berbicara selancar ini, Jon."

Sehun dapat melihat Kris memutar bola mata jengah sebelum berbicara pada Sehun, "Bukankah dia ada di agensi yang sama denganmu? Bisa kau antar dia pulang atau pacarnya akan menggorokku jika sampai tahu dia berada di kelab lagi."

Sehun menatap Kris menuntut penjelasan yang segera dipahami oleh Kris. "Ya, aku tahu kau mungkin bertanya-tanya bagaimana bisa aku mengenal artis ini. Well, Kai sering membawanya kemari namun beberapa minggu terakhir dia sering datang sendiri. Dan jika ia sudah memanggilku Jon, maka ia sudah harus pulang."

Sehun mengalihkan pandangannya pada Luhan sebelum berdehem singkat. "Apakah kau keberatan jika aku mengantarmu pulang, Nona?" tawarnya lembut, berharap Luhan tidak mengenalinya dan memberi satu tamparan lalu pergi begitu saja. Namun alih-alih perkataan kasar yang Sehun dapatkan, gadis itu hanya tersenyum menatapnya.

"Tidak usah, aku bisa naik City Subway."

Ratusan rasa campur aduk memenuhi relung dada ketika Luhan menatapnya tepat di mata. Walau ia tahu gadis itu dikuasai alkohol, tatapannya yang masih sama seperti dahulu menyihirnya sampai ke mata kaki. Bolehkah Sehun berharap satu kali saja, Tuhan?

"Aku akan mencarikanmu taksi," ucap Sehun sebelum beranjak dan meraih dompet di saku mantel. Ia mengeluarkan beberapa lembar dolar lalu menyerahkannya pada Kris.

"Ini terlalu banyak, Sehun. Kau butuh kembalian?" tanya Kris heran sembari menatap Camino Blanco yang dibuatnya yang bahkan belum ditenggak setengahnya.

"Aku juga membayar tagihan gadis ini," jawab Sehun singkat sebelum mengangkat bahu Luhan dari kursi bar dan menuntunnya berdiri. Biarlah malam ini terlewat tanpa mabuk, keselamatan gadis ini jauh lebih penting dari kesenangan apapun yang dunia berani tawarkan pada Sehun.

Kris berkerut heran. "Kau serius mau pergi tanpa nomor telfon gadis-gadis bayaran kenalanku?" tanyanya memastikan. Sehun menatap lelaki itu jengah sebelum menggeleng dan melengos pergi bersama Luhan yang tertatih-tatih.

"Jangan kau apa-apakan gadis itu, ya! Dia pacarnya temanmu, lho!"

Sehun dapat mendengar teriakan Yifan dari pintu keluar namun ia mengabaikannya. Persetan dengan Kai atau siapapun yang mengaku menjadi pacar Luhan. Yang terpenting adalah membawa gadis ini pergi dari sana secepat mungkin.

Setelah berhasil memanggil taksi dan menuntun Luhan ke dalamnya, Sehun dengan cepat beranjak menuju mobilnya dan mengikuti taksi tersebut, memastikan ia diantar ke tempat yang tepat.

Taksi itu tiba di suatu gedung di kompleks apartemen di Park Avenue, seperti permintaan Sehun tadi. Setelah melihat Luhan turun dari taksi terhuyung-huyung dan bergerak turun ke arah lobi, Sehun dengan cepat memarkirkan mobilnya dan beranjak turun mengikuti Luhan dari belakang. Begitu melihat gadis itu masuk ke dalam lift, Sehun segera melangkahkan kakinya menyusul ke dalam. Syukurlah Luhan sedang mabuk sehingga ia tidak akan menyadari sosok laki-laki aneh yang mengikutinya dari kelab sampai apartemennya.

Hanya ada beberapa orang di dalam lift saat itu. Keadaan lengang itu memudahkan Sehun untuk mengawasi Luhan yang terantuk-antuk karena efek alkoholnya. Begitu lift terbuka di lantai lima belas, Sehun dengan cepat menuntun Luhan keluar sebelum gadis itu terjerembab jatuh ke depan. Luhan sempat menoleh ke arahnya dan menunduk terimakasih─masih tidak menyadari bahwa laki-laki yang sedari tadi mengikutinya adalah sang mantan kekasih.

Gadis itu berjalan menuju pintu di sudut lorong, lalu masuk ke dalam tanpa menoleh lagi pada Sehun. Lelaki itu menatap cukup lama ke arah pintu sebelum menghela napas panjang.

Sebagian rasa sakitnya yang belum sepenuhnya sembuh kembali berdenyar seperti luka yang terkena cuka ketika melihat sosok yang sudah lama hilang dari hidupnya berdiri begitu baik-baik saja; seolah tak terjadi apa-apa selama ini.

Sepertinya memang hanya Sehun yang hancur dalam cerita ini.

.

.

.

Luhan melenggang masuk ke dalam coffee shop kecil di sudut boroughs yang terlupakan─salah satu tempat favoritnya di City. Ia mendesah puas ketika menghirup aroma kopi yang ia dambakan sejak ia keluar dari apartemennya di Manhattan yang penuh dengan aroma hedonisme yang menyesakkan. Luhan segera berjalan menuju atelir di samping meja kasir dimana seorang gadis berwajah tembam Asia berdiri dengan apron kumal. Gadis di belakang kasir menangkap sosok Luhan masuk ke kafe dan memberi tatapan sinis dibuat-buat.

"Wah, wah, lihatlah siapa yang sedang bekerja paruh waktu," cengir Luhan begitu sampai di depan kasir. Gadis yang diajak bicara memutar bola mata bosan.

"Espresso dan éclairs au chocolat, apa aku benar?"

Xiumin, gadis itu, dengan cekatan mengetik pesanan yang sudah ia hapal di luar kepala pada komputer di depannya.

"Bingo!" tukas Luhan.

Xiumin dengan cekatan menyerahkan pesanan pada pekerja di dapur sebelum keluar dari meja kasir dan mengamit tangan Luhan ke arah meja favoritnya di sudut kafe. Gadis itu mendudukkan Luhan di salah satu kursi kemudian duduk di hadapannya, menatap Luhan dengan pandangan mengintimidasi.

"Kau balikan dengan Oh Sehun?"

Luhan hampir mendapati kedua bola matanya lepas dari kelopaknya ketika mendengar ucapan itu dari Xiumin.

"Apa-apaan kau ini. Berita darimana?" tanya Luhan tidak terima.

"Jawab jujur saja, atau aku akan mengirimkan email ke majalah gosip sekarang juga yang bayarannya dapat menghidupiku sebulan penuh tanpa kerja paruh waktu," kata Xiumin gemas.

"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?"

Xiumin mendesah menyerah, kali ini benar-benar yakin bahwa temannya tidak balikan dan ia tidak bisa mendapatkan uang itu. Gadis tembam itu merogoh-rogoh sesuatu di saku apronnya dan mengeluarkan secarik kertasyang dilipat rapi lalu memberikannya pada Luhan.

"Dua jam yang lalu, Oh Sehun pergi kemari. Ia menitipkan ini untukmu sekaligus mengatakan bahwa ia akan membayar tagihan kopimu jika kau pergi kemari pagi ini. Aku pikir kalian kembali ke masa-masa pendekatan─"

Belum sempat Xiumin menyelesaikan perkataannya, Luhan terlebih dahulu menyambar kertas tersebut dan membukanya dan sekali sentakan. Ia menemukan tulisan latin tidak rapih khas Sehun, dan membacanya lamat-lamat.

Aku tahu kau mungkin bertanya-tanya kenapa aku menitipkan surat ini pada Xiumin. Semalam kau meninggalkan dompetmu di kelab, Kris yang menitipkannya padaku. Dan mungkin sedikit tacos dan perbincangan singkat selagi kau menemuiku untuk mengambil dompetmu terdengar menyenangkan?

Kau bisa menghubungiku kapanpun. Kau tahu nomorku.

Oh Sehun

Hal pertama yang Luhan lakukan setelah membaca notes kecil itu adalah membuka tas tangan; mencari keberadaan dompetnya. Nihil. Itu tandanya benar dompetnya tertinggal ketika ia pergi ke kelab semalam. Luhan tidak bisa untuk tidak mendengus setelah itu.

.

.

.

Oh Sehun baru saja selesai membersihkan badannya ketika ponselnya berbunyi dari ruang tengah. Sekilas ia lirik jam di dinding yang menunjukkan pukul sembilan lebih lima belas. Tidak ada yang pernah meleponnya selarut ini kecuali Zitao, jadi ia bergegas ke ruang tengah. Ia meraih benda kecil berisik itu setibanya di meja ruang tengah, dan harus rela handuk di kepalanya jatuh ke lantai begitu ia membaca nama yang tertera di layar ponsel.

Bukan Zitao.

Tapi Luhan.

Satu senyum ia sunggingkan sebelum meletakkan ponsel ke telinga.

"Hey," sapa Luhan di seberang.

"Hey."

"Sedang sibuk?"

"Sama sekali tidak."

"Baguslah."

Sehun menghempaskan tubuhnya di sofa lalu menyamankan duduknya sebelum berkata, "Jadi kau sudah membutuhkan dompetmu kembali?"

Terdengar dengusan di seberang.

"Hanya orang tolol yang membiarkan dompetnya dibawa oleh orang asing tanpa ada usaha untuk mengambilnya kembali."

Sehun tersenyum semakin lebar.

"Baiklah. Kita bertemu besok?" tanya Sehun seraya mengingat-ingat jadwalnya esok hari─berusaha menemukan jam luang yang sekiranya dapat digunakan untuk bertemu dengan Luhan. Namun belum sempat ia menentukan waktunya, Luhan sudah menjawab di seberang.

"Tidak. Sekarang."

Sehun mengerutkan alisnya. "Selarut ini?"

"Besok pagi-pagi sekali aku sudah harus tiba di bandara. Pemotretan di Los Angeles. Satu minggu," ucap Luhan sesingkat yang ia bisa. Sehun menghelakan satu napas panjang sebelum beranjak dari sofa menuju kamar.

"Baiklah. Kita bertemu dimana?" tanya Sehun sembari meraih mantel rajut asal-asalan. Kaus V-neck panjangnya dan celana jogging hitam ini tidak akan membuat Sehun bertahan satu detik saja berjalan di luar, menerpa angin malam musim gugur seorang diri seperti orang kehilangan akal.

"Tidak perlu repot-repot membawa mobil, aku sudah ada di taman gedung apartemenmu. Kuharap kau masih tinggal di tempat yang sama karena aku menempuh jarak yang tidak dekat untuk sampai kemari."

Sehun meringis setelah mengenakan mantel rajutnya ringkas. "Tidak, aku tidak pindah. Dan oke, aku akan tiba di sana lima menit lagi."

Dan memang tepat lima menit kemudian, setibanya lelaki itu di taman gedung apartemennya, ia mendapati Luhan duduk seorang diri di salah satu pot bunga raksasa. Gadis itu mengenakan leging, jaket khas tahun delapan puluhan, lengkap dengan masker untuk menutupi identitasnya. Rambut perak ikal sepanjang bahunya diikat asal-asalan. Ia tampak mengetuk-ngetukkan kaki pada lantai batu; seperti tak sabar untuk segera enyah dari sana.

"Hey, sudah lama menunggu?"

Luhan menoleh ke arahnya sedetik kemudian, lalu menggumamkan sesuatu yang tidak bisa Sehun dengar dengan jelas. Gadis itu dengan cepat beranjak dari duduknya dan menghampiri Sehun, kemudian melepas maskernya.

"Aku langsung meleponmu begitu tiba di sini tadi, jadi kurasa tidak terlalu lama," ucapnya lugas. Tak ada intonasi dingin dan tidak ramah yang Sehun sempat ekspektasikan. Ia lega untuk itu.

Sehun membawa tungkainya mendekat, membuatnya lebih mudah menyesak paru-parunya dengan aroma parfum yang menguar dari tengkuk si gadis. Luhan tiba-tiba menengadahkan satu tangannya.

"Dompetku?"

Sehun sangat mengerti Luhan tak ingin basa-basi. Namun ia lebih mengerti lagi bagaimana caranya menahan gadis itu untuk tinggal lebih lama.

"Dompetmu masih di atas. Aku tidak membawanya," ucap Sehun ringkas tanpa dosa. Luhan hanya menghela napas pelan. Sepertinya gadis itu ingin marah, namun ia terlalu lelah untuk itu.

"Namun berita baiknya, aku membawa dompetku," tambah Sehun yang dibalas dengan kerutan alis oleh Luhan.

"Apa bagusnya?"

"Bagusnya, kita bisa mendapatkan dua porsi hotdog di dekat sini tanpa perlu kau keluarkan uang sepeserpun. Itu sih, kalau kau mau."

Luhan lagi-lagi menghela napas berat; berusaha mengontrol intonasi suaranya agar tetap kondusif.

"Sehun, aku tidak ada waktu untuk bermain-main. Penerbanganku pagi, dan pulang selarut ini saja tak membuatku yakin dapat bangun tepat waktu esok hari. Jangan membuang waktuku─"

"Kapan terakhir kali kau makan?" sela Sehun yang kemudian membuat Luhan bungkam.

"Tadi pagi, makan éclair di kafe Xiumin," jawab Luhan cepat. Kini giliran Sehun yang menghela napas. Panjang dan berat; menyiratkan kekesalan.

"Ayo makan hotdog sebentar. Aku yakin manajermu tidak akan tega membiarkanmu kesiangan esok hari. Lagipula, pulang tiga puluh menit lebih larut tidak akan membuatmu mati kelelahan. Perutmu juga harus diisi, Lu."

Sehun tahu Luhan tidak bisa menolak ajakannya karena sedetik kemudian suara kruyuk panjang yang berasal dari perut gadis itu memperjelas semuanya.

.

"Jadi, bagaimana keadaanmu? Baik?"

Luhan tidak perlu buru-buru menjawab pertanyaan Sehun karena di detik yang sama mayonais jatuh menetes keluar ke ibu jarinya. Dengan cepat ia menjilat sisa mayonais sebelum menatap Sehun yang masih menanti jawaban.

"Aku baik, kok. Kau sendiri bagaimana?"

Kini mereka sedang menikmati hotdog dan beberapa gelas minuman berkarbonasi yang sebelumnya mereka beli tak jauh dari skate park tempat mereka duduk sekarang. Skate park tampak lengang, hanya ada beberapa anak muda yang bermain atraksi skateboard di tengah area, membuat Luhan cukup berani untuk melepas masker dan menikmati makan malam tidak sehatnya.

Lelaki itu menyesap cola-nya sebelum menjawab, "Ya, seperti yang kau lihat sekarang. Aku baik." Luhan mengangguk-angguk sebagai tanggapan.

Sedetik kemudian mereka kembali disibukkan dengan kegiatan masing-masing sebelum suara Sehun kembali memecah keheningan. "Lalu Kai bagaimana?"

Luhan yang hendak menyuap hotdog-nya, terhenti sejenak, sebelum mengendik bahu ringkas. "Tidak ada yang berbeda. Masih berusaha menempeliku kemanapun aku pergi seperti peniti."

Sehun mendenguskan satu tawa palsu.

Tentu saja.

"Dia mencintaimu, kau tahu itu, Lu," ucap Sehun setelah tawanya menghilang.

"Aku tahu," jawab gadis itu kemudian.

Sehun mendesah tak kentara. Hal terburuk dan yang paling dibenci Sehun dari 'putus' adalah menjadi asing. Terlalu banyak jarak yang terpetak di antara mereka walau kenyataannya Luhan tidak lebih dari beberapa jengkal darinya sekarang. Gadis itu sendiri tampaknya mengalami kegundahan hati yang sama karena ia berkali-kali terusik dalam duduknya, walau ia berusaha mencari kenyamanan.

Keheningan mau tak mau membuat ingatan Sehun terlempar ke masa lalu.

Tidak ada satu hal pun yang Sehun tidak suka dari sosok Luhan, sejujurnya. Ia bahkan tidak tahu keburukan apa yang harus ia katakan tentang Luhan. Gadis ini adalah ibu peri baginya. Dan ia yakin, semua orang juga akan berkata serupa.

Hari-hari bersama Luhan adalah saat paling bahagia bagi Sehun. Semuanya sempurna, sampai suatu malam sahabat terbaiknya, Kim Jongin, mengaku mencintai wanita yang sama. Sehun cukup sadar betapa pentingnya sosok Luhan bagi Jongin yang sebatang kara. Dibandingkan dengan dirinya yang nyaris memiliki semua yang tak dimiliki Jongin─keluarga dan jutaan orang yang mencintai dirinya, Sehun yakin ia akan baik-baik saja tanpa Luhan. Jongin lebih membutuhkan kehadiran gadis itu.

Namun ia salah.

Ia tidak baik-baik saja tanpa Luhan.

Ia nyaris gila ketika ia memaksakan diri untuk tidak menghubungi gadis itu dan menghilang begitu saja dari kehidupannya.

"Pertunanganmu dengan Zitao bagaimana?"

Suara Luhan memecah lamunannya. Sehun melirik gadis itu ringkas sebelum meremas bungkus hotdog-nya yang telah habis. "Tidak ada yang spesial. Sama seperti hubungan pertunangan kebanyakan orang."

Luhan menatap Sehun lamat-lamat sebelum kalimat lain terlontar dari bibirnya, "Pernikahannya kapan?"

Sehun berdehem demi menutupi kegugupannya karena sejujurnya ia dan Zitao tidak pernah merencanakan pernikahan sama sekali.

"Secepatnya," tukas Sehun final.

Luhan lagi-lagi hanya mengangguk. Sial, hanya itu responnya. Apakah memang hanya Sehun yang tidak baik-baik saja tanpa kehadiran gadis itu?

"Luhan."

"Ya?" sahut gadis itu dengan kening berkerut.

Sehun menelan ludah susah payah. Kalimat yang ia susun di pikirannya mendadak hilang ikut tertelan bersama ludahnya. Sungguh, ia tidak ingin malam ini berakhir begini saja. Ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Luhan. Ia ingin gadis itu tinggal lebih lama.

"Mau pergi?"

Hanya kalimat itu yang lolos dari bibirnya. Sehun menanti jawaban, namun yang dinanti semakin mengerutkan kening.

"Pergi?"

Sehun memperbaiki posisi duduknya menghadap ke arah Luhan sebelum menelan ludah untuk yang kesekian kalinya. Sial. Siapa wanita yang berhasil membuat Sehun yang keren ini berubah seketika menjadi kaki gurita dalam panggangan? Hanya Luhan.

"Mau pergi denganku, tidak?"

"Kemana?" tanyanya bingung.

"Keluar dari Manhattan. Kita bisa saja mengambil bus terakhir ke Brooklyn jika kita berlari ke halte terdekat sekarang."

Sehun tahu itu ide gila. Terlebih Luhan memiliki penerbangan pagi esok hari dan Tuhan-pun-tahu jadwal padat macam apa yang siap menanti gadis itu setibanya di L.A nanti. Katakan saja Sehun egois, namun ia tidak peduli. Biarlah rasa rindu dan egoisme ini tumbuh nyaris sebesar dosa-dosanya. Ia ingin Luhan untuk sekarang.

Di detik ketika Sehun merasa harus melontarkan beberapa kalimat bujukan karena ia yakin seratus persen gadis itu akan menolak, Luhan malah tersenyum lebar. Senyum pertamanya untuk Sehun malam ini.

Kenyataannya, Sehun tak perlu membujuknya lebih lanjut karena gadis itu mengerling jenaka padanya; setuju.

.

Lima belas menit di bus mereka habiskan dengan tertawa dan saling mengatur napas karena mereka benar-benar berlari sepanjang perjalanan ke halte terdekat. Sehun dapat merasakan sensasi kram di perutnya yang sudah lama sekali tidak ia rasakan.

Ketika deru napas kembali normal, mereka menyamankan duduknya di kursi ternyaman yang berhasil mereka temukan. Bus cukup lengang larut itu, memudahkan mereka untuk saling menertawakan lelucon sampah yang mereka lontarkan.

Setibanya di Brooklyn, mereka berjalan menyusuri jalanan yang sudah sepi─kontras dengan Manhattan dan segala hiruk pikuknya. Hal pertama yang terlintas dalam benak Sehun adalah pergi ke penyewaan sepeda yang pemiliknya sudah ia kenal sejak pertama kali ia tiba di Brooklyn. Sayang sekali, mereka tiba terlalu larut sehingga Sehun harus puas dengan satu buah sepeda gunung tanpa sedel tambahan.

Dengan kondisi sepeda seperti itu, Luhan terpaksa harus berdiri di belakang sedel dan memegang erat-erat pundak Sehun yang akan mengendarai sepedanya. Syukurlah, mereka tak menemukan adanya ketidaknyamanan berarti dari awal Sehun mulai mengayuh pedal.

"Ini menyenangkan sekali!"

Sehun dapat mendengar suara Luhan begitu dekat dengan telinganya. Seketika hangat merasuk dalam hatinya. Tidak ada lagi asing. Tidak ada penggemar dan kehidupan mereka yang berat. Tidak ada fans. Tidak ada bos mereka yang galak. Tidak ada Jongin. Hanya ada Sehun dan Luhan.

.

"Ini pertama kalinya aku bersenang-senang semenjak aku debut, kalau boleh jujur."

Sehun mengalihkan pandangannya dari pemandangan New York malam hari pada Luhan di sampingnya. Kini keduanya sedang berdiri di atas jembatan Brooklyn yang sepi, bertumpu pada pagar beton jembatan, menikmati angin malam dan night view New York yang seolah baru saja lahir dari peradaban. Gadis itu masih menatap ke depan, ke arah hiruk pikuk Manhattan yang terlihat begitu jelas dari atas Brooklyn Bridge.

"Aku juga. Rasanya sudah lama sekali aku tidak tertawa lepas," sahut Sehun yang dibalas dengan kerlingan kecil dari Luhan.

Satu earphone yang dipakai berdua tersambung pada iPod Sehun, memutar lagu-lagu Sleeping At Last─penyanyi yang senang mereka dengarkan bersama-sama dulu. Playlist tiba di lagu Silhouettes, lagu favorit Luhan.

Sejenak tak ada yang bersuara. Hanya ada alunan lagu, dan suara bising khas Manhattan yang bergaung dari kejauhan.

"Kenapa, ya?" tahu-tahu Luhan bersuara.

"Kenapa?" tanya Sehun bingung.

"Kenapa aku baru tahu Manhattan terlihat begitu indah dari atas sini?"

Sehun terkekeh kecil sebagai tanggapan. "Itu karena selama ini kau melihat Manhattan dari sudut pandang yang berbeda."

Luhan mengernyit bingung. "Apa maksudnya?"

"Kau sekarang melihat Manhattan dari jauh, melihatnya beraktivitas dengan segala kesibukannya. Di hari biasa kau bergabung dengan mereka. Kau tidak akan pernah tahu betapa indah dan berharganya sesuatu jika kau tidak pernah sejenak menjaga jarak lalu menatapnya dari kejauhan."

Ada perih tersirat ketika Sehun mengucapkannya. Tepat setelah ia mengatakan kalimat itu, lagu tiba di bait ketiga.

Maybe distance is the only cure, far away from hurt is where healing occurs.

Benar. Kau tidak akan tahu betapa berharganya seseorang sampai akhirnya orang itu pergi dari hidupmu. Kenyataan itu membuat Sehun ingin membalik apapun yang ada di depannya sekarang.

Seolah tidak mengerti suasana hati Sehun, Luhan malah tertawa geli. "Jadi yang kau maksud aku harus pergi jauh dari Manhattan baru setelah itu mengerti dimana titik indahnya?"

Sehun menyunggingkan satu senyum kecil. "Bukannya semua memang terlihat lebih indah dari kejauhan?"

Luhan mengangguk, lalu tersenyum cerah. "Ya, semua memang terlihat jelek dilihat dari dekat," katanya sembari membenarkan ikatan rambutnya.

"Kau tidak."

Luhan menghentikan gerakannya. Gadis itu melirik Sehun yang sudah menatap kedua netranya dalam-dalam. Sehun sempat berpikir Luhan mungkin akan marah lalu pergi dari sana setelah ia mengucapkan kata itu. Namun gadis itu hanya diam, balas menatapnya. Sedetik kemudian, Luhan tersenyum. Begitu indah. Sehun kehilangan kata-kata.

"Aku tahu itu," gurau Luhan.

Mau tak mau keduanya tertawa, bersamaan dengan lagu yang sudah tiba di bait terakhir. Jika Sehun mampu mendefinisikan Bahagia, maka Bahagia adalah menghabiskan waktu bersama Luhan. Sesederhana itu.

But I promise you
The truth is that you're loved..
so loved.

.

.

.

Oktober 2016, Manhattan, New York, USA.

.

"Aku bertemu dengan Luhan beberapa hari yang lalu."

Sehun meletakkan ponselnya di dada dengan mode loud speaker lalu kembali memejamkan matanya. Waktu masih menunjukkan pukul delapan pagi, dan ini masih terlalu pagi bagi Sehun untuk bangun. Jadi rencananya, ia hanya akan berbincang sebentar dengan tunangannya di telepon sebelum kembali tidur sampai pukul dua belas.

"Benarkah? Apa yang kalian bicarakan?"

Di seberang, Zitao terdengar antusias.

"Banyak hal."

"Salah satunya?"

"Ia bertanya kapan kita akan menikah."

Zitao tergelak. "Eh benar? Wah, aku merasa bersalah!"

Namun tidak ada nada bersalah sama sekali dari suaranya.

"Jadi bagaimana nih? Kubilang pada Papa kalau kita batal tunangan saja, ya?" lanjut Zitao yang diikuti dengan kekehan renyah. Mau tak mau sudut bibir Sehun sedikit terangkat mendengarnya.

"Entahlah. Mungkin kau berhasrat sekali ya melihat kepalaku tergantung di ruang kerja ayahmu?"

Tawa Zitao semakin keras.

Sehun akui ia merindukan kehadiran Zitao. Gadis itu pandai sekali membuat Sehun tersenyum dan sejenak melupakan rasa sakit yang Sehun tampung seorang diri. Walau keduanya sama-sama tahu tidak ada cinta di antara mereka, Sehun paham keduanya memang saling membutuhkan. Sebagai sahabat.

"Omong-omong, apa saja yang kalian lakukan─selain membahas pernikahan bleh kita tentunya─selagi aku pergi?"

Sehun melipat kedua tangannya di belakang kepala sebelum menjawab, "Kita pergi ke Brooklyn naik bus. Menghabiskan satu jam penuh sebelum kembali ke apartemen masing-masing."

Zitao mencibir di seberang. "Tidak ada cerita tidur bersama, nih?"

Sehun berjengit di ranjangnya ketika mendengar ucapan blak-blakan Zitao. "Ya Tuhan Zitao, hubunganku dengan Luhan tidak pernah sampai ke tahap itu," jerit Sehun gusar. Ia jadi tidak mood tidur lagi dibuatnya.

"Lalu? Apa kalian masih berkomunikasi sampai sekarang?" tanya Zitao seusai puas dengan tawanya.

"Tidak."

"Kok tidak?"

"Aku menunggu."

"Menunggu apa?"

Sehun tersenyum tipis. "Menunggunya untuk menghubungiku dulu."

"Aku berani taruhan, Oh Sehun, saat itu tidak akan tiba."

Sehun mendengus. "Kau harus menraktirku di Ramses jika sampai Luhan sungguhan menghubungiku."

Sejenak hanya ada suara berisik khas pemotretan dan tawa melengking Zitao yang terdengar di seberang sana. "Hei Sehun, aku serius tentang membatalkan pertunangan tadi. Kau tahu kau bisa mengatakannya padaku kapanpun kau siap."

Satu helaan napas lolos dari bibir Sehun. Ia memejamkan mata sejenak sebelum berkata, "Ya, Zie. Aku tahu."

Setelah Zitao mengatakan kalau ia baik-baik saja dan akan pulang lusa, Sehun menutup teleponnya. Ia menimang-nimang entah ia turun dan membuat sarapan atau tetap bermalas-malasan di ranjangnya. Setelah mendengar bunyi keroncong dari perutnya yang belum terisi sejak kemarin siang, Sehun memutuskan untuk turun dan membuat sosis panggang atau apalah.

Ketika tungkainya tiba di depan lemari es, pintu apartemennya tahu-tahu terbuka dengan suara yang keras. Tuhan-pun-tahu, di dunia ini, hanya ada empat orang yang tahu password apartemennya selain dirinya sendiri. Ibunya─yang ada di Seoul, manajernya─yang akan selalu menelepon duluan, Zitao─yang sedang di Orlando, dan─

"Kai?"

Kim Jongin, laki-laki berperawakan kurus dengan rambut menawan masuk ke dapur dengan cengiran lebar. Kulitnya yang memang sudah gelap terlihat lebih tan dari terakhir kali Sehun melihatnya.

"Halo juga, temanku sayang," ucap Jongin lempeng dengan satu tangan melambai. Ia melangkah mendekat ke arah Sehun yang masih memegang bungkus sosis di depan lemari es.

"Kau hendak memasak, eh? Kau tidak perlu repot-repot menghanguskan dapurmu sendiri karena aku─yang pengertian ini─sudah membawakanmu sarapan," ucapnya seraya mengacungkan paperbag yang menguarkan aroma kopi dan cinnamon lezat.

Sehun berdecak sebelum membanting pintu lemari es. "Brengsek kau Jongin," umpatnya seraya merampas paperbag di tangan Jongin lalu melengos begitu saja ke sofa di depan tv. Jongin menyusulnya dengan terbahak.

"Aku tahu kau merindukanku, Bajingan Kecil. Tapi mengumpatku alih-alih mengucapkan terimakasih setelah aku membawakanmu makanan bukanlah hal yang imut."

"Persetan dengan imut. Aku belum makan sejak kemarin," gerutu Sehun sembari membuka paperbag dengan beringas. Aroma kue panekuk cinnamon dengan ekstra whipped cream dan juga Americano menghajar hidung Sehun seketika. Sebelum otaknya yang kalut karena lapar jadi lebih berkabut, ia memotong panekuk lalu melahapnya dalam sekali sentakan.

"Kau harus menjaga kesehatanmu, Sehun. Kau pikir jarang makan kemudian hanya makan makanan berkadar gula tinggi itu keren?"

Sehun melirik bengis Jongin yang sudah menyamankan duduk di sampingnya. Lelaki itu meraih remote sebelum menyalakan teve seolah-olah itu memang hal yang harus dilakukan.

"Kau berbicara seolah-olah kau pecandu yang sudah berhenti mengonsumsi ganja."

Jongin terbahak sekali lagi, mengabaikan Sehun yang sudah menghabiskan setengah panekuknya.

"Bagaimana koreografimu? Semua berjalan dengan lancar?" tanya Sehun sesaat setelah mengemasi kotak kertas sisa panekuknya dan bersendawa. Jongin menjawabnya dengan desahan panjang.

"Sedikit berat. Namun aku harap semua berjalan dengan baik kedepannya," ujar Jongin muram. Raut wajahnya yang berubah lesu menjelaskan nyaris semuanya.

Pekerjaan Sehun menjadi aktor dan dancer dalam beberapa film besar membuat ia sedikit banyak tahu seluk beluk proses produksinya. Dimulai dari sekenario sampai ke koreografi, digarap sedetil dan sesempurna mungkin. Terlebih untuk film musikal layar lebar yang diprediksi akan menjadi Box Office, dibutuhkan koreografer-koreografer terbaik seantero Amerika untuk proses penggarapannya. Dan itulah yang sedang dialami Jongin sekarang. Menjadi seorang penata koreo musikal besar bukanlah hal yang mudah. Satu kesalahan saja, namanya akan dicoret dari list koreografer dan digantikan dengan talenta-talenta lain di luar sana.

"Aku yakin kau bisa melakukan yang terbaik. Kau adalah koreografer kesayangan Mr. Clark. Dan Mr. Clark adalah orang paling perfeksionis yang pernah kutahu."

Jongin hanya menatap Sehun dengan senyum masam, membuat Sehun sedikit merasa bersalah telah menghabiskan waktu bersama Luhan beberapa hari yang lalu. Satu malam bersama Luhan tidak semata-mata membuat Sehun menjadi seorang pengkhianat, bukan?

"Kau tidak perlu melankolis begitu, Bajingan. Aku baik-baik saja, sungguh."

Sehun mendenguskan tawa sebelum beranjak dari sofa menuju tempat sampah di dapur. Di detik yang sama ketika ia hendak membuang bungkus sisa sarapannya, suara ponsel Jongin berdering nyaring yang membuat lelaki tan itu melonjak dari sofa. Dilihat dari ekspresi Jongin yang seperti menahan berak selama satu minggu saat melihat layar ponsel, sudah pasti itu pekara pekerjaan.

Jongin menempelkan ponsel ke telinganya sebelum menunjuk pintu kamar Sehun dan berbicara tanpa suara. Sehun seketika paham kemudian mengangguk, setuju meminjami kamarnya pada Jongin sejenak untuk memberikan lelaki itu sedikit privasi.

Memutuskan untuk tidak ikut campur, Sehun berjalan kembali ke ruang tengah lalu menyamankan tubuhnya di sana selagi Jongin tergesa-gesa ke kamar Sehun dan berbicara dengan atasannya yang galak.

.

"Yes, Mr. Clark. I understand."

Jongin mendesah berat ketika panggilan diputus sepihak. Beberapa hari terakhir ini harinya terasa begitu berat, terlebih lagi bosnya yang sedang hobi uring-uringan membuat kepalanya semakin pening.

Setelah memasukkan ponsel ke dalam saku celana, ia berencana kembali bergabung dengan Sehun di ruang tengah jika saja ponsel Sehun tidak berdering dari atas ranjang. Ia hendak mengambil ponsel itu lalu menyerahkannya pada Sehun, namun nama yang tertera pada layar membuat gerakannya terhenti seketika.

Luhan.

Jongin membeku.

Berbagai spekulasi berkecamuk dalam pikirannya. Jongin cukup yakin kekasihnya itu sekarang ada di L.A dengan jadwal yang super sibuk. Namun mengejutkannya, pukul sembilan pagi, yang seharusnya adalah waktu yang digunakan untuk bersiap-siap, Luhan malah menghubungi Oh Sehun yang notabene adalah teman dekatnya. Bukan menghubungi Jongin.

Mengapa?

Sebenarnya.. ada apa?

Genggaman Jongin pada ponsel mengerat sampai buku-buku jarinya memutih ketika satu bayangan terlintas dalam benaknya. Tidak. Ia tidak ingin menuduh dan berpikiran buruk pada sahabatnya sendiri. Tentu saja tidak. Pasti ada penjelasan. Sehun pasti punya alasan.

Ya. Pasti.

.

"Si botak itu menyuruhmu segera kembali, huh, Kim?"

Sehun melirik pada Jongin yang tidak menjawab alih-alih menghempaskan tubuh di sampingnya. Mata lelaki itu terpancang pada layar teve yang menayangkan Nat Geo, namun Sehun yakin pikirannya tidak ada di sana. Memutukan untuk tidak ambil pusing, Sehun kembali memfokuskan matanya pada harimau yang sedang menerkam rusa malang di layar teve.

"Hubunganmu dengan Zitao bagaimana?"

Sehun menaikkan alis bingung ketika tahu-tahu Jongin menatapnya tanpa ekspresi. "Baik. Kenapa?" tanya Sehun kemudian.

"Sudah sampai tahap mana?"

Kali ini Sehun tidak dapat menahan dengusannya. "Kalau kau tidak amnesia, kau jelas tahu aku sudah bertunangan dengannya, Bajingan."

"Kulihat kau tidak mengenakan cincinmu."

Sehun melirik jemarinya. Memang tidak ada cincin di sana. Ia melepas cincin itu ketika ia bertemu dengan Luhan minggu lalu. Ia cukup terkejut Jongin memerhatikan hal tersebut.

"Aku memang melepasnya karena aku tadi berencana mandi. Kenapa?" desak Sehun.

Lama Jongin hanya menatap Sehun tanpa ekspresi, membuat Sehun mau tak mau menjadi resah. Apakah Jongin tengah menginterogasinya? Apakah Jongin sudah tahu mengenai pertemuannya dengan Luhan? Tidak. Tidak mungkin Luhan memberi tahu Jongin mengenai itu, dan ia sendiri juga tidak mengatakan pada siapapun kecuali Zitao.

Sejenak hanya suara debar jantungnya sendirilah yang dapat Sehun dengar, sampai kemudian Jongin melompat berdiri dari sofa.

"Tidak apa-apa," kata Jongin sebelum meraih mantelnya dan beranjak menuju pintu depan apartemen. Sehun mau tak mau turut menyusulnya.

"Demi Tuhan, Kai, ada apa?" tanyanya nyaris berteriak. Jongin yang sudah memegang gagang pintu kemudian berbalik menatap Sehun. Rahangnya bergerak-gerak, hanya itu yang dapat Sehun tangkap dari wajahnya. Tidak ada mimik apapun di sana.

"Entahlah. Hanya takut Zitao marah jika memergoki dirimu berhubungan dengan wanita lain di belakangnya."

Sehun membeku. Ia dapat merasakan jantungnya berhenti berdetak beberapa detik.

"Lebih baik kau bermain aman, kau tahu? Mungkin kau seharusnya membicarakan apa yang mengganggu pikiranmu. Aku yakin pasti ada solusi."

Rahang Sehun mengeras seketika. Sedangkan Jongin sendiri hanya terdiam tanpa ekspresi. Selama beberapa detik mereka tetap begitu sampai kemudian ekspresi Jongin berubah cerah. Ia menepuk pundak Sehun sekali lalu memamerkan cengiran menawannya seperti biasa.

"Aku pergi dulu, ya, Clark bodoh itu tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Jaga kesehatanmu. Akan kuhubungi lagi nanti."

Setelah mengatakan itu, Jongin menghilang di balik pintu, menyisakan kesesakkan yang menjadi-jadi pada dada dan pikiran Sehun. Barusan itu apa? Berhubungan dengan wanita lain di belakang Zitao? Apa yang dimaksud Jongin adalah.. Luhan?

Sehun tidak sempat memikirkannya lebih jauh karena tepat saat itu ponselnya berdering dari kamar. Dengan tergesa ia menuju ke kamarnya sendiri lalu menarik ponselnya di atas ranjang dalam sekali sentakan. Ia tersenyum melihat nama di layar. Sepertinya Zitao harus segera memesan meja di Ramses untuk malam minggu.

"Hey, Xiaolu."

"Hey," sapa Luhan di seberang.

"Sedang sibuk?"

"Sangat sibuk."

"Lalu kenapa menghubungiku?"

"Entahlah, memastikan kau masih hidup atau tidak, mungkin?"

Sehun tertawa kecil, begitu juga Luhan. "Aku akan selalu hidup setiap hari jika kau juga bersedia menghubungiku setiap hari," sahut Sehun di tengah tawanya.

"Akan kupikirkan nanti."

Sehun mengeluarkan suara mengeluh dibuat-buat. "Mengapa harus dipikirkan?"

Luhan mencibir di seberang. "Ya Tuhan, aku bercanda. Aku mana sudi menghubungimu setiap hari hanya demi memastikan kau hidup atau tidak. Aku menelepon karena sepertinya kartu izin mengemudiku tidak ada di dompetku. Apakah kartunya ada bersamamu?"

Sehun tersenyum lebar. "Benarkah? Coba aku periksa dahulu."

"Sehun, aku tidak sedang bercanda."

"Loh, aku tidak bercanda."

"Kau pikir aku bodoh sampai-sampai tidak mengetahui rencana busukmu mengambil kartuku dengan sengaja supaya aku menghubungimu?"

Luhan yang menggerutu dan marah adalah satu dari jutaan hal yang ia rindukan. Ia tidak ingin menyia-nyiakan momen ini.

"Kalau kau ingin kartumu kembali, kita bisa bertemu sepulangmu dari Los Angeles. Apa itu oke?"

"Sialan kau, Oh!"

Lelaki itu tertawa lepas kemudian. Luhan boleh saja menghindarinya seolah ia adalah wabah penyakit; gadis itu mungkin memiliki puluhan ide untuk melancarkan aksinya. Namun nyatanya Sehun memiliki ratusan cara untuk membuat gadis itu selalu berjalan ke arahnya. Sehun itu obsesif kompulsif, Luhan harusnya tahu itu.

.

.

.

To Be Continued